Rabu, 29 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Lepas Liar Satwa Peringati HKAN 2019

Sibolangit, 9 Agustus 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara, melepasliarkan beberapa satwa liar dilindungi ke habitatnya, pada Rabu 7 Agustus 2019. Pelepasliaran 8 (delapan) individu satwa liar ini dilakukan di 2 kawasan konservasi yang berbeda, masing-masing : 3 individu Elang Bondol (Haliastur indus) dan 1 individu Elang Laut Perut Putih (Haliaetus leuogaster) dilepasliarkan di SM. Karanggading dan Langkat Timur Laut. Sedangkan 2 individu Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) dan 2 individu Kucing Hutan (Felis bengalensis) dilepasliarkan di TWA Danau Sicike-cike. Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) Ke 8 satwa liar ini merupakan hasil penyerahan masyarakat ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara kurun waktu 2017-2019 dan hasil Patroli Pengendalian Tumbuhan dan Satwa Liar. Setelah menjalani masa rehabilitasi, sosialisasi dan habituasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, sampai akhirnya din yatakan layak untuk dilepasliarkan Kucing Hutan (Felis bengalensis) Ke 8 satwa liar ini merupakan hasil penyerahan masyarakat ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara kurun waktu 2017-2019 dan hasil Patroli Pengendalian Tumbuhan dan Satwa Liar. Setelah menjalani masa rehabilitasi, sosialisasi dan habituasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, sampai akhirnya din yatakan layak untuk dilepasliarkan. Elang Bondol (Haliastur indus) Pelepasliaran Kukang Sumatera dan Kucing Hutan di TWA Danau Sicike-cike, dipimpin Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP. didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, S.Sos., team medis PPS Sibolangit, petugas Resort CA/TWA Sibolangit, staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan lembaga mitra kerjasama Yayasan Program Konservasi Species Indonesia/ISCP Rudianto Sembiring. Sebelum dilepasliarkan terlebih dahulu dipasang mikrochip dibagian tubuh ke 4 individu satwa tersebut Sedangkan pelepasliaran Elang Bondol dan Elang Laut Perut Putih di SM. Karanggading dan Langkat Timur Laut, dipimpin Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Amenson Girsang, SP. didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH, tim medis PPS Sibolangit beserta staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Bidang Konservasi Wilayah I kabanjahe berharap semua satwa yang dilepasliarkan dapat bebas hidup dan berkembangbiak dengan baik di habitat aslinya. Dan mengajak masyarakat untuk tidak memburu, memasang jerat satwa serta menebang pohon dan membuka kawasan hutan secara liar. Sumber: Samuel Siahaan, SP./PEH Pertama BBKSDA Suatera Utara
Baca Berita

Serunya Hari Konservasi Alam Nasional di TWA Sibolangit

Sibolangit, 15 Agustus 2019. “Muatan lokal, citra global”, itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan kemeriahan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2019 Sumatera Utara yang dilaksanakan pada Rabu 14 Agustus 2019, di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Meski dilakukan secara sederhana, hanya ditingkat Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, namun tidak mengurangi kemeriahannya, dan pesannya pun tersampaikan baik kepada peserta maupun tamu/undangan yang berasal dari berbagai daerah, profesi dan dan beragam latar belakang lainnya. Sejumlah awak media yang meliput acara ini, baik dari media cetak Harian Analisa dan Waspada, media elektronik Metro TV dan DAAI TV maupun media on-line, mengungkapkan kekagumannya atas kemasan acara yang tersusun dan tertata apik, sehingga menarik dan layak untuk dipublikasikan melalui medianya masing-masing. Tampilan teatrikal musikal dari generasi milenial SMP Negeri 2 Sibolangit dan lagu-lagu konservasi alam baik dari generasi milenial SMP Negeri 2 Sunggal serta kelompok Sadar Wisata Alam Sibolangit Berseri, bukan hanya sekedar menghibur tetapi juga mengedukasi dan menginspirasi pengunjung agar tetap konsisten berjuang dan berbuat untuk upaya konservasi alam. Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP., dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan HKAN Tahun 2019, mengusung thema Spirit Konservasi Alam Milenial. Peringatan HKAN merupakan momen strategis sebagai media penyadartahuan masyarakat tentang pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat. “Kepada generasi milenial masa depan bangsa, saya berpesan, tekunlah belajar dan persiapkan diri menghadapi persaingan, jangan mudah menyerah ketika menghadapi tantangan dan tetap semangat meraih cita-cita masa depan yang lebih baik,” ujar Mustafa. Lebih lanjut Mustafa menyampaikan, bahwa momentum HKAN Tahun 2019 juga diharapkan menumbuhkan kepedulian masyarakat kepada kawasan konservasi, khususnya kawasan TWA Sibolangit yang telah ditetapkan sebagai salah satu Role Model pengembangan kawasan konservasi di Propinsi Sumatera Utara untuk tujuan wisata Edukasi Konservasi dan Lingkungan (Ekoling). Selain itu, dalam laporannya Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe menguraikan bahwa puncak acara peringatan HKAN Tahun 2019 Sumatera Utara dihadiri lebih dari 100 orang yang berasal dari generasi milenial pelajar SMP Negeri 2 Sibolangit, SMP Negeri 2 Sunggal, SMA Negeri 2 Medan, Mahasiswa Pencinta Alam Genetika Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, kelompok Sadar Wisata Alam Sibolangit Berseri, Kader Konservasi Alam Deli Serdang, Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi, Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Masyarakat Mitra Polhut Amorphophallus Titanum, lembaga mitra kerjasama BBKSDA Sumatera Utara : WCS-IP, YEL-SOCP, YPKSI/ISCP, Scorpion, Hets Bio Lestari,Komunitas Relawan Sumut Mengajar dan PDAM Tirtanadi Cabang Sibolangit. Mustafa juga memaparkan, bahwa sebelum puncak acara peringatan, telah dilakukan serangkain kegiatan road to HKAN, berupa : kegiatan aksi bersih, edukasi dan kampanye dalam memperingati Hari Sungai Nasional Tahun 2019 di SMP Negeri 2 Sibolangit, CA/TWA Sibolangit dan Desa Kuala, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang bekerjasama dengan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Koordinator Cabang Deli Serdang pada tanggal 26-27 Juli 2019. Selanjutnya kegiatan pelepasliaran satwa liar dilindungi pada tanggal 7 Agustus 2019, masing-masing : 3 individu Elang Bondol dan 1 individu Elang Laut Perut Putih di kawasan SM. Karanggading/Langkat Timur Laut, serta 2 individu Kukang dan 2 individu Kucing Hutan di kawasan TWA Danau Sicike-cike, dan kegiatan Sosialisasi Mitigasi Konflik Satwa Harimau Sumatera di Desa Durin Serugun, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang yang bekerjasama dengan lembaga mitra WCS-IP pada tanggal 9 Agustus 2019. Khusus untuk puncak acara Peringatan HKAN pada tanggal 14 Agustus 2019, beberapa rangkaian kegiatan dilaksanakan, seperti : aksi bersih pungut sampah disekitar kawasan TWA Sibolangit, penyerahan hadiah kepada peserta terbaik Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA, Launching Program Pendidikan dan Penyuluhan KSDA Tahun III, penyerahan satwa liar dilindungi oleh masyarakat kepada Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe untuk direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, berupa 1 individu Elang Bondol, serta penanaman pohon di kawasan TWA Sibolangit. Camat Kecamatan Sibolangit, Febri Gurusinga, merespon positif kegiatan konservasi alam yang melibatkan generasi milenial dan menghimbau seluruh yang hadir untuk terus meningkatkan pedulian terhadap alam dan lingkungan hidup serta menyebarluaskannya kepada masyarakat lainnya. Usai sudah kemeriahan puncak acara Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2019 Propinsi Sumatera Utara. Dinda Ayu Ningsih, salah seorang pelajar yang mengikuti kegiatan ini merasa senang sekaligus sedih karena begitu cepatnya acara ini berakhir. Seperti harapan banyak peserta, tamu dan undangan, Dinda juga berharap kegiatan ini dapat rutin dilakukan sehingga kesadaran dan kepedulian akan konservasi alam semakin tumbuh dengan baik dan tersosialisasikan lebih luas lagi. Sayonara … sampai jumpa lagi di HKAN tahun 2020, sukses buat penyelenggara…… Sumber: Evansus Renandi Manalu, Analis Data BBKSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Semarak Kemerdekaan Pulau Sumba

Waingapu, 13 Agustus 2019. Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia sudah di depan mata. Berbagai macam kegiatan diselenggarakan untuk memeriahkan hari nasional ini. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang kawasannya terletak di 3 kabupaten, turut andil dengan mengikuti pameran dan karnaval yang diselenggarakan di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur. Berbeda dengan pameran di Sumba Timur, pameran pembangunan di Sumba Barat baru saja dibuka tanggal 13 Agustus. Pameran diselenggarakan di Gelora Pada Eweta dan dibuka oleh Bupati setelah sebelumnya menerima iring-iringan karnaval dari para SKPD, BUMN, BUMD, serta organisasi kemasyarakatan. Setelah membuka, Bupati melanjutkan dengan mengunjungi booth-booth peserta pameran termasuk TN Matalawa yang bergabung dengan Dinas Lingkungan Hidup. Bupati, Wakil Bupati beserta jajarannya diterima Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Abdul Basti Nasriyanto, S.Hut, M.Sc, dan diberikan souvenir ramah lingkungan yaitu tas kanvas, botol minum, topi, dan buku. Bupati sangat berterimakasih kepada TN Matalawa yang telah aktif menggerakkan semangat konservasi dan cinta lingkungan di Kabupaten Sumba Barat. Tidak kalah meriah, pada tanggal yang sama, Kabupaten Sumba Timur juga menyelenggarakan karnaval. Balai TN Matalawa beserta ibu anggota Darma Wanita dengan jumlah peserta lebih dari 50 orang, mengikuti pawai kemerdekaan. Sepanjang perjalanan kurang lebih 3 kilometer, ornamen burung kakatua jambul jingga yang dihias di salah satu mobil dinas menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton di pinggir jalan. Dengan misi khusus menyebarkan virus konservasi, para peserta pawai membagikan souvenir kepada para penonton. Pawai ini berakhir di pendopo rumah jabatan Bupati Sumba Timur dan seluruh peserta diterima oleh Bupati dan jajarannya. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Pelepasan Tim Ekspedisi Merah Putih Puncak Bukit Raya 2019

Sintang, 13 Agustus 2019. Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) memberangkatkan Tim Ekspedisi Merah Putih Puncak Bukit Raya yang membawa mandat pelaksanaan Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada Puncak Kakam, Bukit Raya – 2.278 m.dpl. Ekspedisi Merah Putih Puncak Raya dibagi dalam dua tim pendakian yaitu tim yang bertolak dari jalur pendakian Kalimantan Barat dan jalur pendakian Kalimantan Tengah. Puncak Bukit Raya dikenal dikalangan pendaki sebagai salah satu puncak tertinggi di Indonesia wilayah Kalimantan dan menjadi agenda Seven Summit Indonesia. Tim ekspedisi jalur Kalimantan Barat beranggotakan 8 (delapan) orang yang terdiri dari personil Balai TNBBBBR, Akademisi dan Perwakilan Mitra Pengelolaan TNBBBR. Dengan jumlah anggota 6 (enam) orang tim ekspedisi dari jalur pendakian Kalimantan Tengah seluruhnya diikuti oleh personil BTNBBBR. Rencananya Kepala balai TNBBBR akan melintasi jalur pendakian Kalimantan Barat sampai Puncak Kakam dan turun melalui jalur pendakian Kalimantan Tengah. Ekspedisi ini menjadi momentum penting bagi pengelolaan TNBBBR terutama sebagai wahana promosi wisata pendakian dan uji coba rute pendakian lintas provinsi. Upacara pelepasan Tim Ekspedisi Merah Putih dilaksanakan di halaman kantor Balai TNBBBR. Membuka kegiatan tersebut, Kepala Balai menyampaikan laporan singkat kepada Bupati Sintang perihal pemberdayaan masyarakat desa binaan TNBBBR yang selama ini telah dilaksanakan di Desa Rantau Malam; Kabupaten Sintang. Pemberdayaan yang telah dilaksanakan berupa penguatan kapasitas dan kelembagaan kelompok jasa pelayanan wisata, homestay, transportasi dan kerajinan. Pada kesempatan ini Kepala Balai TNBBBR, Agung Nugroho, S.Si., M.A. memperkenalkan teknologi paperless promotion yang selama ini telah dimanfaatkan oleh Balai TNBBBR untuk penyebaran informasi pengelolaan secara ramah lingkungan berbasis QR code tanpa kertas. Bupati Sintang, dr. H. Jarot Winarno, M.Med.Ph. berkenan hadir dan secara simbolis mengantar keberangkatan tim ekspedisi dalam upacara pelepasan tersebut. Bupati Sintang merasa bangga bahwa tim ekspedisi yang diketuai langsung oleh Kepala Balai TNBBBR, Agung Nugroho, S.Si., M.A. memiliki inisiatif untuk menaklukan salah satu puncak tertinggi Indonesia di Pulau Kalimantan. Apresiasi terhadap pengelolaan TNBBBR disampaikan Bapak Bupati Sintang atas capaian dalam hal pemberdayaan masyarakat, yang secara nyata mampu menghidupkan aktifitas wisata pendakian sebagai salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat di Desa Rantau Malam. Dalam sambutannya, Bupati Sintang menyampaikan pesan bahwa alam semesta adalah ibarat ibu bagi kita semua oleh karenanya harus kita jaga kelestariannya. Pada kesempatan tersebut Bupati Sintang juga menyampaikan perihal perubahan paradigma dalam pengelolaan sumberdaya alam. Aktifitas-aktifitas yang pada mulanya bertumpu pada kegiatan ekstraktif harus secara perlahan didorong pada kegiatan ekonomi kreatif, seperti pelayanan ekoturisme, jasa interpretasi dan industri kerajinan. Pelepasan Tim Ekspedisi Puncak Raya 2019 dilaksanakan secara seremonial dengan penyematan slayer langsung oleh Bupati Sintang Bapak dr. Jarot Winarno, M.Med.Ph. kepada Bapak Agung Nugroho, S.Si., M.A. selaku Ketua Tim Ekspedisi sekaligus Kepala Balai TN. Bukit Baka Bukit Raya. Bupati Sintang berharap agar kegiatan ekspedisi dapat berjalan dengan lancar dan keseluruhan anggota tim dapat kembali dengan selamat. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Nahkoda Baru Balai KSDA Yogyakarta

Yogyakarta 13 Agustus 2019. Jajaran struktural dan seluruh pegawai Balai KSDA Yogyakarta meliputi pegawai ASN dan tenaga kontrak berbaur bersama di Aula Balai KSDA Yogyakarta Jl. Dr. Rajiman Tridadi Sleman. Agenda hari ini ditujukan untuk perkenalan Nahkoda baru Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi, SP, M.Sc menggantikan Kepala Balai KSDA Yogyakarta sebelumnya Ir. Junita Parjanti,MT. Momentum berkumpulnya seluruh pegawai lingkup Balai KSDA Yogyakarta ini dimanfaatkan untuk kegiatan perkenalan lebih dekat dengan pimpinan baru nya dan sekaligus dilakukan pembinaan pegawai untuk bersama-sama menyatukan langkah, menyamakan visi dan presepsi dalam mewujudkan tujuan kinerja organisasi Balai KSDA Yogyakarta. Kegiatan pembinaan pegawai ini dimulai pukul 09.00 WIB dan diikuti hampir seluruh pegawai yang berjumlah 96 orang. Dalam acara tersebut, Bapak M. Wahyudi menyampaikan agar seluruh pegawai BKSDA Yogyakarta dapat bahu membahu bekerjasama menjalankan tujuan organisasi. “Penting bagi staf untuk terus mengembangkan inovasi dan terus berkarya dalam melaksanakan pekerjaannya.” Tutur M. Wahyudi dalam kesempatan tersebut. Lebih lanjut Kepala Balai menyampaikan bahwa masing-masing pegawai harus mau berusaha menemukan passionnya sehingga akan memudahkan untuk mengetahui apa yang menjadi keahlian masing-masing dan dapat mencintai pekerjaannya dengan baik. Hal ini dapat sejalan dengan arahan Dirjen KSDAE untuk senantiasa melaksanakan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas dalam pengelolaan konservasi. Sebagaimana agenda yang telah disusun, diakhir kegiatan disampaikan paparan masing-masing kepala resort serta paparan rencana kegiatan tahun 2020 oleh tim perencana Balai KSDA Yogyakarta dan ditutup dengan diskusi bersama memantapkan kegiatan tahun 2020. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

HKAN Milenial 2019 di TWA Pulau Bakut

Batola, 12 Agustus 2019 – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2019 dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, tanggal 12 Agustus 2019 Balai KSDA Kalimantan Selatan bersama dengan Ikatan Alumni Sekolah Kehutanan Menengah Atas (IKA SKMA) Pengurus Daerah Kalimantan Selatan mengadakan Acara Bersih sampah dan Pelepasliaran satwa liar dilindungi di Kawasan TWA Pulau Bakut. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., Dinas instansi terkait lingkup Kab. Batola, camat, kepala desa, LSM dan unsur masyarakat serta peserta dari IKA SKMA Pengda Kalsel. Menurut Ketua IKA SKMA Pengda Kalsel Benny, kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan kebersamaan dalam perlindungan kawasan konservasi. Dalam sambutannya Dr. Mahrus mengajak untuk membangun dan meningkatkan semangat konservasi alam untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari , mulai dari kita sendiri dalam setiap aktivitas. Konservasi alam bukan hanya dikawasan konservasi tetapi di seluruh lingkungan kita. Konservasi bukan hanya pekerjaan rimbawan, tetapi seluruh warga masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan. Spirit Konservasi Alam Milenial yang menjadi tagline HKAN 2019 menjadi tonggak bahwa milenial harus terlibat disegala tahapan konservasi. Kami menyambut baik kehadiran milenial dari IKA SKMA yang bersih-bersih sampah dalam kawasan TWA Pulau Bakut sekaligus pelepas-liaran burung. (ryn) Selamat Hari Konservasi Alam Sumber : M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

6 Tahun Mencari, Akhirnya Lokasi Gua Misteri ini Berhasil Ditemukan (Bagian 1)

Sofifi, 12 Agustus 2019. Pertama kali di lihat dan didokumentasikan oleh tim patroli udara Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) bersama PT Weda Bay Nickel, gua “misteri” ini menjadi salah satu target pencarian dalam penggalian potensi kawasan TNAL. Patroli udara tersebut dilaksanakan menggunakan helikopter sekitar bulan Januari tahun 2013 silam. Setelah temuan penampakan goa tersebut, Balai TNAL memutuskan untuk melakukan pencarian lokasinya. Pencarian di mulai pada tahun Penelusuran gua “misteri” juga dilaksanakan pada tahun 2015 melalui ekspedisi gua oleh mahasiswa pecinta alam Rimpala dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Kemudian di susul dengan ekspedisi gua oleh ASC, dari Yogyakarta pada tahun 2016 dan tahun 2017. Ketiga ekspedisi tersebut masih belum berhasil mendapatkan titik koordinat gua “misteri” karena berbagai tantangan di lapangan. Tahun 2019, tepatnya awal bulan Agustus lalu, ekspedisi gua “misteri” kembali dilaksanakan. Ekspedisi kali ini oleh mahasiswa pecinta alam Mahitala dari Universitas Parahyangan. Ekspedisi yang bertajuk “Penelusuran Gua Wandering Season 2019”ini berhasil menemukan sinkhole atau pintu masuk gua “misteri” yang dimulai tanggal 31 Juli s.d 8 Agustus 2019. Rute perjalanan di mulai dari Desa Kobe, Halmahera Tengah dengan berjalan kaki. Setelah sampai di titik awal, tim mulai bergerak menuju titik yang di duga sebagai titik gua “misteri”. Dua hari kemudian (02/08), tim yang terdiri dari 5 orang dari Unpar dan 2 pendamping dari Balai TNAL, Atiti Kotango (Polhut) dan Faisal (Tenaga Teknis) berhasil sampai di titik terdekat gua “misteri”. Setelah pencarian beberapa hari, tepatnya tanggal 4 Agustus tim berhasil menemukan singhole gua “misteri” tersebut. “Perjalanannya sangat menantang, gua yang ditemukan sungguh sangat besar. Teman-teman sampai ada yang terkilir dan hampir semuanya terkena kutu air”, kata Atiti Kotango. Untuk menuju gua “misteri”, terlebih dulu tim masuk ke gua vertikal yang sangat besar berdiameter sekitar 165 meter dengan ketinggian 106 meter. Pada dinding gua vertikal itulah terdapat mulut gua “misteri”. Jadi gua di dalam gua. Di dalam gua “misteri” terdapat aliran sungai yang sangat deras dan besar. Sampai tanggal 8 Agustus 2019, tim ekspedisi gua telah berhasil memetakan gua “misteri” tersebut. Sampai gua “misteri” ini ditemukan, belum terdapat nama yang disematkan untuk gua tersebut. “Saya tanya ke masyarakat sekitar, mereka juga tidak tahu nama gua itu (gua “misteri”), masyarkat hanya bilang itu gua belakan Desa Sidanga dengan aliran sungai Fidi”, tutup Atiti Kotango. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Konflik Antara Satwa dan Manusia, Berujung Pada Kematian Satwa

Jambi, 10 Agustus 2019 - Sudah selama satu minggu masyarakat Desa Lubuk Benteng merasa diresahkan oleh kemunculan buaya di aliran Sungai Batanghari Desa Lubuk Benteng. Beberapa penyebab seringnya kemunculan satwa tersebut salah satunya adalah musim kemarau yang sedang melanda sehingga debit air di Sungai Batanghari pun berkurang, selain dari ukuran satwa buaya tersebut yang cukup besar. Keberadaan buaya tersebut dianggap mengganggu aktivitas warga baik mencari nafkah maupun untuk mandi di sungai. Sebagian besar warga di lokasi masih menggunakan sungai sebagai sarana mandi,cuci,kakus (MCK). Berdasarkan pengakuan dari masyarakat, sebelum buaya tersebut ditangkap buaya tersebut pernah menggigit seorang warga desa sehingga mengakibatkan luka pada lengan sebelah kanan. Berdasarkan kejadian tersebut warga mulai resah dan melakukan pengintaian untuk menangkap buaya tersebut hingga akhirnya buaya bisa didapatkan. Balai KSDA Jambi mendapatkan informasi yang diterima dari call center bahwasanya ada seekor buaya jenis sinyulong (Tomistoma Schlegeli) yang ditangkap oleh masyarakat di Desa Lubuk Benteng, Kecamatan Tebo Ulu, Kabupaten Tebo. Buaya Sinyulong tersebut kurang lebih memiliki panjang sekitar 6 meter dan berat antara 150 – 250 kg. Kasus Buaya Sinyulong menyerang manusia baru kali ini tejadi. Buaya Sinyulong dikenal jarang sekali menyerang apalagi memangsa manusia, Buaya Sinyulong biasanya memangsa jenis ikan sungai sebagai pakannya. Pada tanggal 11 Agustus tim Balai KSDA berkoordinasi dengan Polsek Tebo Ulu mendatangi lokasi dan mendapati satwa buaya tersebut sudah dalam keadaan mati berada di tebing sungai dan dikubur bersama oleh petugas dan disaksikan oleh masyarakat. Petugas menemukan banyak bagian satwa yang hilang diantaranya gigi, kulit, kuku kaki depan dan belakang, dan bagian ujung ekor. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengungkapkan “Untuk kedepannya kami akan lakukan sosialisasi terkait satwa buaya di tempat tersebut dan akan memasang papan informasi atau papan larangan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi”. Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Balai TN Kepulauan Togean Serahkan Bantuan Kepada Kelompok Pemberdayaan Masyarakat

Ampana, 13 Agustus 2019 - Tepat pada pukul 10.30 Balai Taman Nasional Kepulauan Togean melaksanakan kegiatan penandatanganan PKS dengan kelompok Pemberdayaan Masyarakat yang berada di sekitar Kawasan. PKS yang ditandatangani tentang Pelaksanaan Fasilitasi Di Daerah Penyangga Kawasan Suaka Alam/Kawasan Perlindungan Alam sebanyak 4 (empat) PKS yang berasal dari kelompok dan desa yang berbeda. Desa penerima bantuan pemberdayaan masyarakat antara lain Desa Taningkola, Desa Wakai, Desa Loe dan Desa Popolii. Tujuan kerjasama adalah dalam rangka memfasilitasi kegiatan pemberdayaan masyarakat di Daerah Penyangga Balai Taman Nasional Kepulauan Togean. Kelompok Penerima Bantuan antaralain: Nilai Bantuan yang diberikan kepada kelompok binaan adalah 45 juta per kelompok. Pemberian bantuan dihadiri oleh Kepala Balai, Kepala Seksi Wilayah TN dan Kepala Subbagian Tata Usaha TNKT serta ketua dan bendahara kelompok. “Pemberian Bantuan dalam bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan usaha ekonomi masyarakat serta mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap alam sehingga harapannya kegiatan Illegal Logging dan Illegal fishing dapat berkurang kedepannya”, ujar Ir. Bustang. Sumber: Mega Putri Armanesa - Balai TN Kepulauan Togean
Baca Berita

Lagi, Upaya Penyelundupan Satwa Liar Digagalkan Di Bandara Internasional Banyuwangi

Banyuwangi, 13 Agustus 2019. Nampaknya pilihan untuk menggunakan bandara kecil seperti Bandara Internasional Banyuwangi sebagai pintu mengeluarkan satwa liar atau bagian-bagiannya mulai menjadi opsi para pelaku tak bertanggungjawab ini. Seperti kejadian penggagalan penyelundupan 142 lembar kulit reptil jenis Sanca Kembang (python reticulatus) kemarin petang, 12 Agustus 2019. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah 14 Banyuwangi bersama AVSEC Angkasa Pura II Bandara Internasional Banyuwangi, mengamankan kulit-kulit ular tersebut dari 2 Warga Negara Asing (WNA) asal Turki. Rencananya kulit-kulit tersebut akan dibawa ke Turki dengan penerbangan Garuda terakhir dan transit terlebih dahulu di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang - Banten. “Mereka tidak melengkapi barang-barang bawaannya dengan dokumen yang legal, namun hanya berupa nota pembelian,” Ujar Vivi Primayanti, Kepala Resort Konservasi Wilayah 14 Banyuwangi. Menurut pengakuan mereka, keseluruhan kulit ular yang bernilai diatas 100 juta rupiah itu didapatkan dari sebuah toko di Kota Denpasar – Bali. Appendix II Ular Sanca Kembang sendiri termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun. Sekali bertelur, ia dapat menghasilkan antara 10 hingga sekitar 100 butir. Dan telur-telur ini ‘dapat menetas setelah 80-90 hari dierami induknya. Sebarannya mulai dari dhutan-hutan di Asia Tenggara, meliputi Kep. Nikobar, Burma, Indochina, Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara hingga Timor, Sulawesi, dan Filipina. Meski tidak dilindungi, Sanca Kembang masuk dalam Appendix II CITES, artinya spesies ini belum terancam kepunahan, namun dapat terancam punah jika perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Sehingga untuk memperdagangkannya diperlukan izin pengedar dalam atau luar negeri. Pun demikian dengan mengangkutnya harus disertai surat angkut tumbuhan dan satwa liar dalam negeri (SATS-DN) atau luar negeri (SATS-LN/CITES). CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) sendiri merupakan perjanjian internasional antar negara yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union (IUCN) tahun 1963. Konvensi ini memiliki tujuan untuk melindungi tumbuhan dan satwa liar dari perdagangan internasional yang dapat mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam. Saat ini seluruh barang bukti telah diamankan di kantor Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi. Selanjutnya, pihak BBKSDA Jatim akan melakukan koordinasi dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Balai KSDA Bali untuk menindaklanjuti asal usul ke 142 lembar kulit ular tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur Penulis dan Foto : Vivi Primayanti, SH. Polhut Penyelia, Kepala RKW 14 Banyuwangi. Penyunting : Agus Irwanto
Baca Berita

InHouse Training Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) Patrol Lingkup Balai TN Sebangau

Palangkaraya, 8 Agustus 2019. Pada tanggal 07 s.d. 08 Agustus 2019 Taman Nasional Sebangau (TNS) menyelenggarakan InHouse Training Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) Patrol. Peserta inhouse training ini adalah para polhut sejumlah 9 (sembilan) orang yang merupakan perwakilan dari tiga SPTN yang ada di TNS. Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang kegiatan ini yaitu TNS mendapatkan pelatihan SMART terakhir pada tahun 2016 yang diadakan oleh USAID Lestari sehingga perlu dilakukan penyegaran kembali mengingat adanya updating data model, fitur-fitur yang terdapat pada aplikasi, serta untuk menghindari human error pada pengambilan data di lapangan. Inhouse training dibuka secara resmi oleh KSBTU TNS, Bapak Uun Gumilar, S.Hut kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh instruktur yang berasal dari intern TNS. Materi-materi yang dipelajari oleh para peserta antara lain: 1) Pengantar SMART dalam ruang lingkup pengelolaan kawasan konservasi, 2) Setting up/ Konfigurasi Conservation Area, 3) Pengenalan dan penjelasan data model, 4) Input data model ke dalam conservation area, 5) Editing data model, Penjelasan plugin patrol, 6) Konfigurasi dan instal Cyber Tracker, 7) Export dan import data patrol, 8) Pengumpulan dan perekaman data menggunakan GPS, Tally Sheet, Cyber Tracker/smart phone, 9) Input data lapangan (GPS), import dan backup data menggunakan Cyber Tracker, 10) Analisa data/query, export dan import query, 11) Simulasi pengiriman data dari pelaksana lapangan ke resort, seksi dan balai, 12) Reporting dan cara melakukan eksport dan import laporan. Pada inhouse training SMART kali ini, selain materi yang diberikan di kelas, para peserta juga melakukan praktek yaitu dengan simulasi pengambilan data dengan cyber tracker maupun GPS. Sumber: Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Komitmen Kodam XVII/Cenderawasih, Panglima Kodam Larang Anggota Bawa TSL Dilindungi

Jayapura, 12 Agustus 2019. Balai Besar KSDA Papua mengikuti Upacara Pelepasan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG pada hari Senin di Lapangan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Bumi Perkemahan Jayapura. Para undangan yang hadir dalam pelaksanaan upacara tersebut, di antaranya, Wakil Walikota Jayapura, Kepala Kepolisian Daerah Papua, Danlantamal X Jayapura, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Kepala Imigrasi Kelas 1 Jayapura, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Jayapura, dan jajaran pejabat struktural di lingkungan IPDN. Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Yosua Pandit Sembiring, S.IP., memberikan apresiasi kepada Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan atas dedikasi dan pengabdiannya selama bertugas di wilayahnya. Dalam kesempatan itu, Pangdam juga mengingatkan kepada seluruh prajurit untuk tidak membawa flora dan fauna yang dilindungi keluar dari tanah Papua. "Hal ini merupakan bentuk komitmen Kodam XVII/Cenderawasih untuk turut serta menjaga kelestarian alam Papua,” tegasnya. Lebih lanjut Pangdam XVII/Cenderawasih menyampaikan agar semua prajurit tidak mudah terprovokasi, melakukan kegiatan di luar prosedur dan tidak bertindak sendiri, yang dapat berakibat fatal. Pangdam menegaskan juga bahwa semua prajurit harus senantiasa menjalin hubungan baik dengan siapa pun, mulai dari kalangan pemerintah, masyarakat, tokoh adat, sampai tokoh agama, dengan memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal yang berkaitan dengan budaya dan keadaan sosial di lingkungan tempat bertugas. Pada kesempatan yang sama Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., mengucapkan terima kasih dan memberikan piagam penghargaan atas ketaatan hukum para prajurit yang telah bertugas dengan baik, sehingga dapat menghindari segala bentuk pelanggaran khususnya yang berkaitan dengan peredaran tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Melindungi sumber daya alam juga merupakan implementasi dari menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia. Upacara pelepasan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan ini merupakan momentum yang sangat baik untuk berkolaborasi dan saling bersinergi antar pihak. Hal ini dapat merepresentasikan bahwa sumber daya alam Papua adalah kekayaan alam sebagai titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk menjaga dan melestarikannya. Sumber : I Ketut Diarta Putra, S. Si. - Kasubbag Data, Evaluasi, Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Aksi Bersih Ruas Jalan Nasional “Sanggi-Bengkunat” Rangkaian Peringatan HKAN Dan HUT RI Ke 74

Kotaagung, 13 Agustus 2019 - Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bersama Mitra Kerja Strategis yang terdiri dari RPU YABI, WCS-IP, WWF, dan PT. Adhiniaga Kreasi Nusa, melaksanakan rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2019 dan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 74 berupa aksi bersih ruas jalan Sanggi-Bengkunat, Selasa 13 Agustus 2019. Ruas Jalan Sanggi-Bengkunat merupakan Jalan Nasional yang berada di kawasan TNBBS, membentang sepanjang 11,5 Km di wilayah SPTN II Bengkunat BPTN I Semaka. “Ruas jalan Sanggi-Bengkunat yang berada di kawasan TNBBS merupakan bagian dari ruas jalan penghubung antara Provinsi Lampung dengan Provinsi Bengkulu. Status jalan ini merupakan jalan nasional dengan Kementerian PUPR sebagai pengelolanya bersama Balai Besar TNBBS, yang dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS). Sebagai jalan penghubung Provinsi Lampung dengan Bengkulu, tentunya intensitas lalu lintas di ruas jalan ini dapat dikatakan tinggi. Masyarakat pengguna jalan diharapkan tidak melakukan aktivitas illegal saat melintasi jalan. Sejauh pengamatan kami di lapangan, kesadaran pengguna jalan dalam menjaga kebersihan ruas jalan ini masih tergolong rendah, dimana masih dijumpai sampah pada beberapa titik di kanan kiri ruas jalan ini. Kegiatan aksi bersih ini merupakan kampanye Balai Besar TNBBS bersama Mitra Strategis untuk meningkatkan kepedulian kita menjaga kebersihan lingkungan, setidaknya dengan tidak membuang sampah saat melintasi jalan ini.” papar Kepala Bidang Teknis Konservasi selaku Plh. Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.P. Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBBS Heru Rudiharto, S.Si.,M.P. menyampaikan bahwa aksi bersih ruas jalan Sanggi-Bengkunat telah menjadi agenda tahunan Balai Besar TNBBS bersama Mitra Kerja. “kedepan kita ingin agar aksi bersih ini tidak hanya menjadi seremonial tahunan. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan perlu edukasi yang dilakukan oleh semua pihak secara terus menerus”, tambah Heru. Ketua pelaksana kegiatan aksi bersih ruas jalan Sanggi-Bengkunat Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama Balai Besar TNBBS Dedi Irvansyah, S.P menyampaikan bahwa aksi ini melibatkan 152 orang (RPU YABI; WCS-IP; WWF; Saka Wanabakti TNBBS; PILI; PT. Adhiniaga Kreasi Nusa; Bank Rakyat Indonesia; UNDP; Tiger Project) dan berhasil mengumpulkan sampah dari ruas jalan Sanggi-Bengkunat seberat ± 568,8 Kg. Sampah yang telah dikumpulkan, kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang ada di Kotaagung. Selain ruas jalan Sanggi-Bengkunat, Balai Besar TNBBS juga bersama mitra strategis melaksanakan aksi bersih sampah pada ruas jalan Liwa-Krui di wilayah SPTN III Krui BPTN II Liwa. Aksi bersih lingkungan pada ruas jalan Sanggi-Bengkunat dan ruas jalan Liwa-Krui merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan HKAN tahun 2019 dan HUT RI ke 74 yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNBBS bersama Mitra Strategis. Direncanakan pada hari Kamis dan Jumat tanggal 15-16 Agustus 2019, akan diadakan perlombaan-perlombaan dalam rangka memperingati HKAN tahun 2019 dan HUT RI ke 74 antara lain : “Dengan adanya kegiatan perlombaan-perlombaan yang diadakan, diharapkan dapat menambah keakraban dan kekompakan antara pegawai dan Mitra Strategis, serta meningkatkan jiwa korsa lingkup Balai Besar TNBBS, sehingga dapat kerja bersama dalam mengemban tugas melaksanakan program-program kegiatan konservasi di TNBBS, menjaga kelestarian keanekaragaman hayati TNBBS untuk hidup yang lebih baik”, ujar Kepala Sub Bagian Umum Balai Besar TNBBS selaku sekretaris peringatan HKAN dan HUT RI Dani Darmawan, S.H.,M.Sc. Sumber: Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Sultan Tidore Terima Apresiasi Menteri LHK di Hari Konservasi Alam Nasional 2019

Sofifi, 10 Agustus 2019. Puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus telah selesai dilaksanakan di Batam beberapa hari yang lalu. Pada acara tersebut terkumpul para kader-kader konservasi dan penggiat lingkungan seluruh nusantara serta menampilkan pameran Taman Nasional. Selain kegiatan tersebut, terdapat juga talkshow-talkshow tentang kegiatan-kegiatan yang mendukung kelestarian lingkungan serta pemberian apresiasi kepada tokoh-tokoh yang berperan dalam konservasi. Apresiasi tersebut diberikan kepada 14 tokoh penggiat lingkungan dan konservasi yang tentu saja dengan seleksi yang ketat dari peserta seluruh Indonesia. Salah satu tokoh penerima apresiasi adalah H. Husain Alting Sjah, SE., MM, Sultan Tidore ke-37. Sultan Tidore menerima apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kategori Mitra KSDAE dalam Penguatan KSA dan KPA Unsur Kesultanan yang diusulkan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Tak dipungkiri unsur adat kesultanan sangat berperan penting dalam pengelolaan kawaan TNAL, karena kawasan TNAL berada pada wilayah adat kesultanan Tidore. “Dalam 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi, kita harus melibatkan seluruh golongan masyarakat, termasuk adat Kesultanan Tidore”, kata Wahyudi, Kepala Balai TNAL (sekarang Kepala Balai BKSDA Yogyakarta). Sultan Tidore menyambut baik apresiasi tersebut, beliau menulis dalam laman media sosial Facebook bahwa, “Pagi ini saya mendapat kehormatan di undang oleh Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya untuk menerima penghargaan sebagai Mitra KSDAE dan menghadiri peringatan HKAN di Batam”. Beliau juga berpesan agar semua dapat menjaga dan merawat alam ini agar generasi penerus dapat tetap menikmatinya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Foto : Facebook Sultan Tidore
Baca Berita

Yuk Ikuti Ritual "Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata" di TN Kelimutu

Ende, 10 Agustus 2019. Taman Nasional Kelimutu tidak lepas akan harmonisasi alam dan budaya yang saling bersinergi, selain menikmati pesona alam yang memukau para wisatawan akan disuguhi interaksi para komunitas adat yang masih sangat utuh budaya lokalnya. Tepat pada tanggal 14 Agustus pengunjung pasti akan menyaksikan ritual adat budaya lokal yang akan diselenggarakan di Situs Pati Ka areal danau tiga warna pada setiap tahunnya, ritual tersebut dikenal sebagai ritual "Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata". Ritual ini merupakan upacara memberi makan arwah leluhur di danau Kelimutu yang dilanjutkan makan bersama dan tarian gawi di Mesbah oleh ketua adat bersama 21 Komunitas adat dan pengunjung yang sedang berada di TN Kelimutu. Sobat Kelimutu mari kita saksikan bersama serimonial ritual adat yang masih utuh adat budaya lokalnya. jadilah saksi akan sejarah budaya etnis Lio kabupaten Ende, karena pada tahun ini (2019) Ritual adat Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata akan diselenggarakan bersama Bapak Gubernur NTT. Mari ke TN Kelimutu ikuti serimonial upacara adat pada Tanggal 14 Agustus 2019, mari lestarikan budaya Ende-Lio. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Peringati HKAN 2019, BBKSDA Papua Pelepasliaran Satwa dan Penanaman Pohon

Jayapura, 12 Agustus 2019. Balai Besar KSDA Papua dan IKA SKMA Pengda Papua berkolaborasi dalam kegiatan pelepasliaran satwa, dirangkai dg penanaman pohon yang berlangsung Sabtu, 10 Agustus 2019. Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2019. Seremonial penandatanganan BAP satwa dilaksanakan di Balai Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Pihak-pihak yang hadir antara lain Kepala Kampung Dosay, Kepala CDK Jayapura, Polsek Sentani Barat, Pemerintah Distrik Sentani Barat, BPDAS Memberamo, BPHP Wilayah XV Jayapura, Gakkum Jayapura, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, tokoh adat, komunitas, wartawan, dan stakeholder lainnya. Usai penandatanganan BAP satwa, dilaksanakan penanaman pohon di sekitar Balai Kampung Dosay. Selanjutnya, semua hadirin menuju ke lokasi lepas liar di kaki Pegunungan Cycloop, wilayah kerja Resort Moy, BBKSDA Papua. Jenis satwa yang dilepasliarkan yaitu, 230 ekor kadal duri mata merah (Tribolonotus gracilis), 2 ekor kadal panana (Tilliqua scincoides), 1 ekor kakatua jambul kuning (Cacatua galerita), dan 1 ekor nuri bayan (Eclectus rotates). Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampaikan, "Pesan moral kegiatan ini adalah edukasi kepada masyarakat, bahwa satwa liar itu hidupnya di alam. Meskipun satwa liar bukan barang terlarang, tetapi ada mekanisme-mekanisme yg harus dilakukan terkait satwa liar ini. Jadi perlu edukasi ke publik. Misalnya, mengapa buaya bisa dimanfaatkan? Caranya bagaimana? Harus ada izin penangkarannya, dan sebagainya. Melalui momen ini kami menghimbau ke publik, mengajak semua stakeholder, mari kita bersama-sama bersinergi, berkolaborasi, kita saling melengkapi untuk melaksanakan tugas konservasi alam ini." Peringatan HKAN 2019 di lingkup Balai Besar KSDA Papua, yang berkolaborasi dengan masyarakat dan stakeholder terkait, sejalan dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc., yang disampaikan pada puncak peringatan HKAN 2019 di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam. Konservasi alam diharapkan dapat menjadi sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia. Dengan demikian, berbagai aksi nyata dan keteladanan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan. Diharapkan bangsa Indonesia dapat berkomitmen dalam mewujudkan konservasi alam, hidup harmoni dengan alam. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978

Menampilkan 5.169–5.184 dari 11.140 publikasi