Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

74 Meter Merah Putih Membentang di Pulau Sidu, Bentang Alam Rimbang Baling

Kampar, 21 Agustus 2019 - 17 Agustus adalah tanggal bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai wujud kecintaan kepada NKRI dan penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan, Balai Besar KSDA Riau bersama Laskar Penggiat Ekowisata Riau mengajak kawula muda peduli lingkungan bersama membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 74 meter di pulau Sidu yang berada di persimpangan sungai Subayang dan sungai Sidu bentang alam Rimbang Baling, Kec. Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar, Prov. Riau. Lebih dari 70 kawula muda bersama sama membentangkan bendera tersebut di daratan kemudian mengangkatnya dan mengibar kibarkan bendera tersebut, lalu secara berlahan menuju ke sungai dengan merah putih tetap membentang. Bintang Hutajulu, sebagai koordinator di lapangan menyampaikan bahwa tujuan dari yang dilakukan para kawula muda adalah untuk memberi pemahaman kepada mereka bahwa kemerdekaan mempunyai kewajiban mengisi, termasuk mengisi diri dengan mengetahui arti pentingnya konservasi alam sehingga kegiatan tersebut dilakukan di bentang alam rimbang baling. Merah putihku.... Telah kami bentangkan engkau sepanjang pulau Sidu sebagai wujud kecintaanku kepadamu.... Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera SelatanGelar Workshop Pengelolaan Area Bernilai Konservasi Tinggi

Palembang, 21 Agustus 2019. Balai KSDA Sumatera Selatan gelar Workshop Pengelolaan Area Bernilai Konservasi Tinggi di kantor Balai KSDA Sumatera Selatan (14/8). Peserta workshop datang dari instansi Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, perusahaan perkebunan kelapa sawit, perusahaan hutan tanaman industri dan perusahaan di bidang restorasi ekosistem. Workshop digelar guna memberikan pemahaman kepada peserta dalam mengidentifikasi dan mengelola area bernilai konservasi tinggi yang berada di area HGU dan konsesi perusahaan. Bapak Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial, Ir Tandya Tjahjana,M.Si. membuka workshop secara langsung yang kemudian dilanjutkan dengan materi dari narasumber kompeten. Narasumber workshop yaitu Kepala Sub Direktorat Koridor dan Area Bernilai Konservasi Tinggi, Ibu Ir Mirawati Soedjono,M.A, Kepala Seksi Pengawetan Eksitu, Ibu Desy Satya Chandradewi,S.P,M.P serta dari NGO Zoological Society of London (ZSL) Bapak Edwin Wira Pradana. Kegiatan ini menghasilkan beberapa rumusan yakni menyepakati dalam memonitor tumbuhan dan satwa liar di area konsesi dan HGU perusahaan, perusahaan akan menyampaikan laporan kepada Balai KSDA Sumatera Selatan setiap semester (6 bulan), species terancam punah yang dilaporkan akan ditindaklanjuti dengan pengecekan bersama tim dari Balai KSDA Sumatera Selatan, kemudian secara bertahap akan disusun peta area HCV seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri se-Sumatera Selatan, serta satwa yang berpotensi menimbulkan konflik dengan manusia seperti gajah sumatera, harimau sumatera, beruang madu, buaya muara yang berada di area konsesi atau HGU perusahaan, maka pihak perusahaan akan melakukan penanganan awal secara mandiri dan Balai KSDA Sumatera Selatan akan membantu dalam penanganan lanjutan. Sumber : Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Haru Mewarnai Pisah Sambut di Aketajawe Lolobata

Sofifi, 20 Agustus 2019 - Perpisahan itu akan selalu ada, karena kita pernah berjumpa, bersama, dalam canda, tawa dan bahagia. Setiap tetes air mata yang tertumpah di hari ini, akan menjadi saksi atas jalinan erat yang selama ini kita simpul seerat-eratnya. Mungkin kalimat tersebut adalah kalimat yang cocok untuk menggambarkan suasana yang sedang dialami keluarga besar Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata pada acara pisah sambut hari ini yang merupakan serangkaian acara serah terima jabatan sebelumnya di Batam pada perayaan HKAN tepatnya tanggal 8 Agustus 2019. Acara pisah sambut Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Muhammad Wahyudi, S.P., M.Sc kepada Kepala Balai yang baru Tutut Heri Wibowo, S.Hut., M.Eng berlangsung dengan lancar. Bapak Wahyudi menjabat sebagai Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata sejak tahun 2017 hingga tahun 2019. Dalam menyampaikan sambutan yang dilakukan selama kurang lebih 15 menit tersebut seketika membuat para tamu dan stafyang hadir tampak haru, mengingat keakraban selama kurang lebih 1 tahun 10 bulan silam. Ditambah lagi ketika agenda masuk pada pemutaran film dokumenter mengenai perjalanan serta pencapaian Bapak Wahyudi selama menjabat sebagai Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Banyak pelajaran berharga yang diperoleh selama beliau menjabat. “Beliau bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi beliau sejatinya seperti kakak bagi kami.” ujar Pak Fidin selau staf di kantor Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Acara pisah sambut yang dihadiri oleh Pemda,TNI Polri, NGO dan staf Taman Nasional tersebut diakhiri dengan penyerahan cinderamata dari staf dan tamu undangan yang dilanjutkan dengan melakukan goyang tobelo, goyang bunga rampe, goyang wayase serta goyang metikei untuk mempererat persaudaraan dan sebagai wujud pelestarian budaya di Maluku Utara. Selamat jalan serta sukses selalu ditempat yang baru untuk Bapak dan Ibu Wahyudi, Selamat datang dan selamat bergabung Bapak dan Ibu Heri di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata… Sumber: Nur Indah Apriliyani (CPNS Calon Polhut) - Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Sang Merah Putih Raksasa Muncul Dari Laut Berkibar di Bukit Bendera TN Karimunjawa

Karimunjawa, 17 Agustus 2019. Pengibaran Sang Merah Putih yang biasanya dilakukan di lapangan upacara, berbeda jika di Taman Nasional Karimunjawa. Kawasan konservasi yang meliputi perbukitan dan lautan ini mempunyai cara yang unik untuk memperingati HUT RI Ke-74 dengan cara pengibaran sang merah putih di laut dan bukit. Pengibaran bendera merah putih di bukit dilaksanakan di Bukit Bendera Zona Rimba Taman Nasional Karimunjawa. Apel pengibaran bendera ini diikuti oleh Petugas Balai Taman Nasional Karimunjawa, anggota MMP, MPA, SPKP Karya Bhakti, WCS IP, SMK, Pemuda Ansor dan staf Pelabuhan Perikanan Pantai Karimunjawa. Kegiatan dimulai dengan pengarahan peserta patroli di halaman kantor SPTNW II Karimunjawa. Selanjutnya Peserta berjalan kaki sampai ke Bukit Joko Tuwo untuk mengikuti Apel Pengibaran Bendera Merah Putih berukuran 2,5 x 5 meter dengan acara hormat bendera diiringi lagu Indonesia Raya dilanjutkan mengheningkan cipta. Kemudian bendera dibawa ke Puncak Bukit Bendera untuk dikibarkan pada ketinggian 156,8 mdpl. Di lokasi lain, para penyelam dari Balai TNKj, WCS IP, DPC HPI Karimunjawa dan pelaku wisata di Karimunjawa melakukan pengibaran bendera merah putih dari dasar laut untuk dikibarkan di atas permukaan laut. Sebelum upacara didahului dengan penyerahan Bendera Merah Putih oleh Camat Karimunjawa kepada tim penyelam, dilanjutkan dengan penyelaman dan pengibaran Bendera Merah Putih di bawah air dengan kedalaman sekitar 5-7 meter kemudian bendera muncul ke permukaan air dan berkibar pada tiang bendera dengan ketinggian sekitar 8 meter di atas air. Selama pengibaran diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh peserta upacara. Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Kecamatan Karimunjawa, Balai Taman Nasional Karimunjawa, Koramil 10 Karimunjawa, Pos TNI AL Karimunjawa, UPP Klas III Karimunjawa, WCS IP, DPC HPI Karimunjawa, BRI dan para pelaku wisata di Karimunjawa (Salma Dive Shop, Omah Krimun, Karimunesia, Bunga Jabe dan Laendra Sunset Beach). Sumber : Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Berita

Dongeng dan Lomba Mewarnai Meriahkan HKAN di Sumba Timur

Waingapu, 18 Agustus 2019. Rangkaian kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) di sekitar kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) masih terus berlangsung. Kegiatan terbaru adalah dongeng bertemakan konservasi serta lomba mewarnai bagi anak-anak TK dan sekolah dasar. Dibantu oleh guru-guru sekolah dasar serta bekerjasama dengan anggota Darma Wanita Persatuan (DWP) Balai TN Matalawa, dongeng dan lomba yang diselenggarakan di areal pameran pembangunan Kabupaten Sumba Timur berlangsung meriah. 100 peserta yang hadir juga sangat antusias mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh ibu guru. Anak-anak diajak memahami pentingnya keberadaan hutan sebagai habitat burung di TN Matalawa. Tidak hanya dongeng, lomba mewarnai burung endemik TN Matalawa pun juga diikuti dengan antusias oleh para peserta. Peserta yang juara mendapatkan hadiah berupa skuter dan alat-alat tulis. Dari kegiatan ini, diharapkan bahwa anak-anak sebagai generasi penerus dapat lebih memahami pentingnya kawasan hutan untuk kelestarian burung endemik yang hidup di Pulau Sumba. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Kerjasama Kemitraan Konservasi di SM Karang Gading Langkat Timur Laut

Medan, 19 Agustus 2019. Bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara dilaksanakan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi Antara Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Ketua Kelompok Tani Hutan Indah Bersama dan Ketua Kelompok Tani Hutan Gading Hijau kamis silam (15/8). Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dalam arahannya menyampaikan, bahwa Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi dilatarbelakangi oleh perubahan paradigma di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam hal pengelolaan hutan. Kawasan konservasi lestari masyarakat sejahtera. Artinya bahwa kawasan konservasi bukan tabu untuk dikelola tetapi pengelolaannya harus bijak dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Masyarakat harus dilibatkan dan masyarakat sekitar kawasan harus mendapatkan manfaat langsung dari kawasan konservasi. Ketika manfaat didapat maka masyarakat akan menjaga kelestarian kawasan. Sehingga kemitraan atau kerjasama dengan para pihak, terutama dengan masyarakat yang berada di dalam dan sekitar kawasan konservasi, termasuk masyarakat adat menjadi suatu keniscayaan. Salah satu contoh adalah SM Karang Gading Langkat Timur Laut, harus mampu memberikan manfaat ke masyarakat sekitar. Kawasan lestari masyarakat sejahtera. Salah satu upaya yang dilakukan adalah kemitraan melalui kegiatan pemulihan ekosistem. Kawasan konservasi yang didominasi tanaman bakau ketika pulih memiliki fungsi tersendiri sebagai ekosistem bakau. Seperti menahan abrasi, menahan intrusi air laut, tempat berpijahnya biota laut (kepiting dan ikan), wind break, carbon stock dan sebagai habitat satwa liar (primate, reptil dan aves). Tentu saja masyarakat bisa mengambil manfaat dari kawasan SM seperti mencari ikan dan kepiting. Pelibatan masyarakat dalam mengelola kawasan SM Karang Gading Langkat Timur Laut akhirnya terealisasi melalui penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan. Hal ini didasarkan pada surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : S.375/KSDAE/KK/ KSA.1/5/2019 tanggal 20 Mei 2019 perihal Persetujuan Kerjasama Penguatan Fungsi Kawasan Melalui Kemitraan Konservasi Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (Kelompok Tani Hutan Gading Hijau dan Kelompok Tani Hutan Indah Bersama). Tujuan Perjanjian Kerjasama ini adalah untuk memulihkan ekosistem yang rusak secara bertahap mendekati kondisi aslinya, serta peningkatan peranserta masyarakat dalam pemulihan ekosistem di SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi dengan Kelompok Tani Hutan Indah Bersama di Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, dilaksanakan di kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut seluas ± 207 Ha. Sedangkan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi dengan Kelompok Tani Hutan Gading Hijau di Desa Karang Gading, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, dilaksanakan di Kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut seluas ± 125 Ha. Selanjutnya, Hotmauli berharap dengan telah ditandatanganinya Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem di SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut, para pihak dapat melaksanakan kewajiban sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kerjasama, termasuk salah satunya menyusun Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) serta mengimplementasikannya. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi, dihadiri masing-masing Ketua Kelompok Tani Hutan, Wakil Ketua DPRD Langkat, yang mewakili Bupati Langkat, Bupati Deli Serdang diwakili Kabag Tata Pemerintahan, Camat Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Camat Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang, Kepala Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Kepala Desa Karanggading Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang, Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, Kepala Bagian Tata Usaha Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama, serta Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan. Sumber : Nofri Yeni - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto bersama usai penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan Kelompok Tani Hutan Indah Bersama yang disaksikan Wakil Ketua DPRD Langkat (gambar kiri) serta dengan Kelompok Tani Hutan Gading Hijau disaksikan Kabag Tata Pemerintahan Pemkab Deli Serdang mewakili Bupati Deli Serdang (gambar kanan) Foto bersama dengan seluruh tamu dan undangan usai penandatanganan Perjanjian KerjasamaA
Baca Berita

Balai Karantina Yogyakarta Serahkan Satwa Tanpa Dokumen ke Polhut Balai KSDA Yogyakarta

Yogyakarta, 20 Agustus 2019 - Balai Karantina Pertanian Yogayakarta pada hari Senin (19/8/19) menyerahkan tiga ekor satwa yang terdiri atas satu ekor burung Kacer (Copsychus saularis) dan dua ekor burung Jalak kebo (Acridotheres javanicus). Ketiga ekor satwa tersbut merupakan satwa hasil sitaan Balai Karantina Pertanian Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus 2019 yang lalu. Satwa berasal dari penumpang Maskapai Air Asia dari Malaysia yang landing di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Satwa sitaan tersebut selanjutnya diserahkan kepada Balai KSDA Yogyakarta melalui Koordinator Polhutnya, Purwanto, S.H, untuk dapat dilakukan penanganan selanjutnya. Komunikasi dan koordinasi antara Balai KSDA Yogyakarta dengan Balai Karantina Pertanian telah dilakukan secara intensif. Salah satu kebijakan yang diambil dari Balai Karantina Pertanian Yogyakarta adalah akan mengeluarkan surat keterangan sehat untuk jenis-jenis satwa yang dilindungi sepanjang dilengkapi dengan dokumen SATS DN, maupun untuk jenis-jenis yang tidak dilindungi yang akan dibawa keluar dari Yogyakarta, sementara untuk satwa yang berasal dari luar Yogyakarta akan disita apabila tidak dilengkapi dengan dokumen pendukungnya. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M.Wahyudi melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah I memerintahkan Polhut BKSDA Yogyakarta untuk mengamankan satwa serahan tersebut. “Satwa serahan dari Balai Karantina harus dilengkapi dengan Berita Acara dan segera lakukan evakuasi ke Stasiun Flora Fauna Bunder” demikian arahan M.Wahyudi. Saat ini satwa serahan tersebut diamankan di Kantor Seksi Konservasi Wilayah I untuk sementara waktu sambil menunggu kesiapan pengelola Stasiun Flora Fauna Bunder untuk perawatan selanjutnya. Sumber : Purwanto (Polhut) Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Bersatu Memerangi Sampah Di Pantai Dan Laut Karimunjawa

Karimunjawa, 19 Agustus 2019. Balai Taman Nasional Karimunjawa SPTN Wilayah II Karimunjawa mengajak siswa siswi SDN 6 Karimunjawa dan SDN 1 Kemujan melakukan aksi bersih pantai di Pantai Anora, Dusun Kemloko, Desa Karimunjawa, Kec. Karimunjawa, Kab. Jepara. Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk semangat pelestarian alam dan lingkungan hidup khususnya bagi generasi milenial. Aksi bersih pantai yang dilaksanakan tanggal 16 Agustus 2019 mulai pukul 08.00 s/d 10.30 Wib ini didahului dengan materi kelas mengenai sampah laut dan bersih pantai. Selanjutnya peserta praktek bersih pantai mengumpulkan sampah berdasarkan kategori sampah plastik, logam, kaca dan non organik lainnya. Sampah dikumpulkan dan ditimbang, dengan hasil sekitar 200 kg sampah dari berbagai kategori. Di Pantai Legon Lele juga diadakan kegiatan bersih pantai pada tanggal 18 Agustus 2019 yang diikuti oleh para stakeholder di Karimunjawa, yaitu WCS IP, Balai TNKj, Kecamatan Karimunjawa, Koramil 10 Karimunjawa, Pelabuhan Perikanan Pantai Karimunjawa, DPC HPI Karimunjawa, Pemuda Ansor dan Banser Karimunjawa. Sampah organik dikumpulkan di pinggir pantai sedangkan sampah anorganik (plastik) dikumpulkan dalam kantong sampah sesuai kategori plastik, logam atau kaca. Sebagian besar sampah merupakan sampah organik yang berupa krangkam dan lamun. Tidak hanya pantai, laut juga menjadi sasaran para pecinta lingkungan untuk ikut melakukan aksi bersih-bersih. Di Perairan Zona Inti Legon Janten TN. Karimunjawa oleh para penyelam dari Balai TNKj SPTN Wilayah II Karimunjawa dan WCS IP dilaksanakan bersih laut yang dimulai pukul 14.00 s/d 16.00 Wib. Hasil dari kegiatan tersebut ditemukan sampah laut berupa sisa sisa jaring/tali cantrang, bambu, botol plastik dan sampah laut lainnya yang terkait di terumbu karang. Terumbu karang dibebaskan dari jaring, kemudian jaring sampah di tarik ke daratan. Sampah laut berbobot sekitar 200 kg. Sejak Tahun 2018 sudah 6 kali aksi bersih pantai dan laut dilaksanakan di Karimunjawa yang didukung oleh para pihak baik dari MUSPIKA Karimunjawa, WCS IP, masyarakat, Pelaku Usaha Pariwisata maupun Ormas. Sedikitnya ada 2 ton lebih sampah yang terdiri dari plastik, styrofoam, kaca, tali, jarring, spon, karet, seng berhasil dibersihkan dari pantai dan laut. Semoga komitmen memerangi sampah di pantai dan laut menjadi budaya hidup seluruh masyarakat Karimunjawa dan para wisatawannya. Sumber : Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Berita

Mengenal Operasi Sapu Jerat di Provinsi Sumatera Utara

Medan, 19 Agustus 2019. Menindaklanjuti instruksi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) pada saat Konferensi Pers dan Sosialisasi Operasi Sapu Jerat pada tanggal 31 Juli 2019 di Manggala Wanabakti Jakarta dan dalam rangka memenuhi Target Survey Okupansi Harimau Sumatera Tahun 2019, pada Jumat, 16 Agustus 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan kegiatan Sosialisasi Operasi Jerat dan Survey Okupansi Harimau Sumatera Lingkup Provinsi Sumatera Utara, bertempat di di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sosialisasi ini dihadiri Kepala Balai Besar Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Batang Gadis, Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LHK Aek Nauli, Fakultas Kehutanan USU, Fakultas MIPA USU, Bidang Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Kepala-kepala KPH lingkup Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, UPT Pengelolaan Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, serta lembaga mitra kerjasama (WCS-IP, PIU Sumatran Tiger Project/Leuser, SINTAS, YEL-SOCP, Konsorsium Barumun dan YOSL-OIC). Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi, menjelaskan bahwa ancaman nyata bagi upaya konservasi Harimau Sumatera, Gajah Sumatera serta satwa liar lainnya, yang dirasakan saat ini adalah : deforestasi, kegiatan perburuan dan perdagangan, konflik dengan manusia serta masalah kemiskinan masyarakat. Ada sejumlah daerah di Propinsi Sumatera Utara, yang menurut Hotmauli patut diawasi karena merupakan daerah yang rawan konflik yang ditandai dengan pemunculan Harimau Sumatera, seperti : di Gunung Tua, Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Simalungun, dan daerah-daerah lainnya. Daerah/lokasi tersebut bukan hanya di kawasan konservasi, melainkan juga di kawasan hutan lindung, hutan produksi dan Areal Peruntukan Lainnya (APL). “Untuk mengatasi, menangani dan menanggulangi ancaman tersebut khususnya permasalahan konflik manusia dengan satwa liar, tidak bisa hanya dilakukan dan dibebankan kepada satu pihak saja, dalam hal ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara, melainkan harus berkolaborasi dengan berbagai pihak agar hasilnya optimal dan maksimal,” ujar Hotmauli. Sosialisasi ini menjadi menarik, ketika Harai Samude dari Yayasan Alam Liar Sumatera, berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang jerat dan Harimau Sumatera. Bertahun-tahun hidup berdampingan dengan satwa liar, khususnya Harimau Sumatera, membuatnya mengenal dengan baik perilaku dari Harimau Sumatera. Harai Samude menekankan, sangat mustahil bila berbicara tentang penyelamatan Harimau Sumatera tanpa mengetahui dan memahami perilakunya terlebih dahulu. Dan sejatinya, menurutnya, Harimau Sumatera merupakan satwa liar yang berbudi baik. Hanya manusia saja yang mengganggu habitatnya dan menjeratnya untuk mendapatkan keuntungan dari seluruh organ tubuhnya. Harai sependapat dengan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, bahwa dalam mengatasi dan menyelesaikan permasalahan konflik dengan satwa liar termasuk Harimau Sumatera dibutuhkan kerja bersama seluruh pihak dan komponen yang peduli terhadap keberlangsungan hidup satwa liar, karena dengan gerakan masal dampak dan manfaatnya akan lebih terasa, daripada masing-masing jalan sendiri-sendiri. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Harai Samude pegiat Harimau Sumatera berbagi pengalaman kepada peserta Sosialisasi
Baca Berita

Lokakarya Pengelolaan Cagar Biosfer Untuk Pembangunan Berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu

Bogor, 20 Agustus 2019. Untuk menindaklanjuti penetapan Cagar Biosfer (CB), GIZ Forclime mendukung Lokakarya Pengelolaan Cagar Biosfer di Bogor dengan mengundang sebanyak 25 orang para pihak dari Anggota DPRD Kapuas Hulu, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Tokoh Masyarakat Kapuas Hulu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Akademisi, Swasta dari Kalimantan dan kunjungan lapangan ke Cagar Biosfer Cibodas Jawa Barat. Lokakarya ini bertujuan terbangunnya pemahaman yang lebih komprehensif dan progresif tentang cagar biosfer sehingga terjadi peningkatan dukungan para pihak terhadap eksistensi dan pengelolaan CB Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu sebagai pemicu dan wadah kerja multi pihak bagi percepatan pembangunan berkelanjutan Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu diharapkan para pihak tersebut dapat menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan agar keberadaan CB tersebut bermanfaat bagi pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain para pihak dari Kalimantan Barat, hadir juga para pihak dari lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), MAB Indonesian Program, juga dari Taman Nasional Gn Gede Pangrango (TNGGP) yang membagikan pengalaman pengelolaan Cagar Biosfer Cibodas. Pesan dan arahan dari Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) melalui video call “perlu sinergitas para pihak dalam pengelolaan cagar biosfer sehingga terjadi pembangunan yang berkelanjutan sehingga hutan lestari, masyarakat berdaya, pembangunan di daerah semakin maju”. Selain itu Wakil Bupati Kapuas Hulu menyampaikan “Kabupaten Kapuas Hulu sudah mencoba mengadopsi pembangunan berkelanjutan selama 24 tahun ini dari ditetapkannya Ramsar di Danau Sentarum pada tahun 1994, Kabupaten Konservasi 2003, Heart of Borneo (HOB) 2007 hingga Cagar Biosfer pada tahun 2018. Perjalanan pajang ini diharapkan dapat didukung oleh pendanaan oleh pemerintahan pusat seperti pendanaan khusus atau menjadi bahan pertimbangan dalam pembagian Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK). Selain itu masyarakat Kapuas Hulu juga sangat tergantung Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yakni kratom yang menunjang perekonomian, diharapkan HHBK tersebut dapat menjadi bagian HHBK Bidang Kehutanan kedepannya”. Dengan harapan satu Visi para pihak di Kapuas Hulu terkait pengelolaan Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu (CBBKDSKH), dapat terbangun forum pengelola cagar biosfer dan dapat mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dimana masyarakat sejahtera dan hutan pun lestari. Man and The Biosphere Programme (MAB) merupakan sebuah program sains antar pemerintah UNESCO, yang bertujuan untuk membangun dasar ilmiah untuk peningkatan hubungan antara manusia dan lingkungannya. Kegiatan MAB sepenuhnya berkaitan dengan agenda pembangunan internasional, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs), melalui pendekatan pembangunan cagar biosfer. Sampai Desember 2018, jumlah cagar biosfer dunia yang masuk dalam Jaringan Cagar Biosfer Dunia (the World Network of Biosphere Reserves) sebanyak 688 yang tersebar di 122 negara, termasuk 16 cagar biosfer di Indonesia, salah satunya Cagar Biosfer Betung Kerihun Danas Sentarum Kapuas Hulu (CBBKDS). Cagar biosfer merupakan laboratorium hidup pembangunan berkelanjutan untuk promosi dan mendemonstrasikan hubungan yang seimbang antara manusia dengan alam dan kehidupannya. Dalam pertemuan yang ke 30 International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (ICC-MAB) UNESCO tanggal 25 Juli 2018 di Palembang menetapkan Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu sebagai cagar biosfer, sehingga menjadi bagian dari Jejaring Cagar Biosfer Dunia. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Zoonosis di Balik Atraksi Topeng Monyet

Yogyakarta, 20 Agustus 2019 - Personil Polisi Kehutanan Balai KSDA Yogyakarta melakukan pengamanan satwa Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang dimanfaatkan oleh warga untuk atraksi topeng monyet. Info awal diperoleh dari rekan-rekan LSM JAAN yang melaporkan hal tersebut ke Balai KSDA Yogyakarta. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M.Wahyudi menugaskan tim yang terdiri dari Polhut Balai KSDA Yogyakarta untuk segera menindaklanjuti informasi tersebut. “Segera lakukan penanganan terhadap atraksi topeng monyet tersebut, masyarakat perlu diedukasi mengenai bahaya zoonosis yang mungkin ditimbulkan dari atraksi topeng monyet ini. Kita tidak tahu asal monyet yang digunakan untuk atraksi ini, dan perlu disadari juga bahwa monyet ini dapat menjadi agen pembawa penyakit, sehingga sosialisasi terhadap masyarakat harus dilakukan” demikian arahan M.Wahyudi. Selanjutnya pada Senin (19/8/19) personil BKSDA Yogyakarta bersama-sama dengan Kanit Tipiter Polres Sleman dan LSM JAAN segera bergerak ke lokasi di Krapyak, Sidoarum, Godean, Yogyakarta. Hasil kegiatan ini dilakukan penyerahan 4 ekor Monyet Ekor Panjang dari 4 orang pemilik SPJ, HS alias W, DW dan NHD. Terhadap keempat orang pemilik monyet ekor panjang tersebut dilakukan pemberkasan berita acara dan sekaligus dilakukan sosialisasi mengenai dampak dan bahaya zoonosis yang dapat ditimbulkan dari atraksi topeng monyet yang selama ini mereka lakukan. Selain itu, lebih lanjut dijelaskan bahwa atraksi topeng monyet juga berpotensi menyiksa dan menyakiti satwa tersebut. Topeng Monyet bisa memberikan dampak terhadap zoonosis, atau perpindahan penyakit dari satwa ke manusia dan sebaliknya dari manusia yang sakit kepada satwa yang digunakan atraksi tersebut. Secara umun perpindahan penyakit dari monyet ke manusia taupun sebaliknya dapat terjadi melalui gigitan, cakaran, percikan ludah, cairan tubuh dan kontak dengan benda yang sudah terkontaminasi dengan penyakit. Beberapa penyakit yang bisa ditularkan adalah TBC dan Campak. Saat ini satwa serahan tersebut dititipkan kepada LSM JAAN untuk selanjutnya diarahkan pada proses rehabilitasi satwa eks topeng monyet. Sumber : Widodo (Polhut) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

74 Merah Putih Berkibar di Sungai Subayang

Pekanbaru, 20 Agusutus 2019 -Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan peringatan 74 Tahun Indonesia Merdeka di Sungai Subayang, Bukit Rimbang Bukit Baling, Kab. Kampar Kiri Hulu, Prov. Riau. Peserta yang terdiri dari komunitas pencinta alam, mapala dari berbagai kampus dan masyarakat setempat mengikuti kegiatan yang dimotori oleh Balai Besar KSDA Riau bekerjasama dengan Laskar Penggiat Ekowisata Riau. Peserta terlihat sangat antusias mengibarkan bendera di atas 6 piau (sampan kayu panjang bermesin khas Rimbang Baling) yang membawa mereka dari Tanjung Belit menuju Pulau Sidu dimana mereka melakukan upacara memperingati Hari Kemerdekaan RI yang ke-74. Pulau Sidu berada dipersimpangan Sungai Subayang dan Sungai Sidu, dimana aliran di sungai tersebut cukup deras. Pengibaran bendera dilakukan dengan khidmat diikuti nyanyian Indonesia Raya dari para peserta upacara yang masing masing membawa satu bendera merah putih. Setelah itu peserta melakukan formasi dengan mengibarkan bendera merah putih sepanjang 74 meter mengelilingi pulau tersebut dan secara bersama sama membawanya turun ke sungai yang airnya sangat jernih. Menjelang senja para peserta meninggalkan pulau untuk menginap di stasiun lapangan WWF. Malam harinya diadakan bincang santai konservasi dan keesokan harinya secara bersama sama menyaksikan acara adat pembukaan Lubuk Larangan Desa Tanjung Belit. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Bapak Suharyono sebagai penggagas kegiatan tersebut sangat berharap kegiatan yang diadakan akan menambah kecintaan generasi muda kepada NKRI. Hidup Indonesiaku!! Jayalah Negeriku!! NKRI HARGA MATI!!! MERDEKA!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Aksi UPT KLHK Provinsi Papua Peringati 74 Tahun Indonesia Merdeka

Jayapura, 16 Agustus 2019. Balai Besar KSDA Papua bersama seluruh UPT KLHK Provinsi Papua, yaitu BPHP Wilayah XV Jayapura, BPKH Wilayah X Jayapura, BPDASHL Memberamo, dan Seksi Wilayah III Gakkum Jayapura, melakukan senam pagi, jalan sehat, dan bersih sampah di sepanjang Kali Acai, Kotaraja, Kota Jayapura. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Dalam sambutan singkatnya, Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut. M.Si., menyampaikan bahwa melalui aksi-aksi nyata UPT KLHK Provinsi Papua sepenuhnya dilakukan untuk mengimplemetasikan tema peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74, menuju Indonesia unggul. Tampak jalinan kekeluargaan yang kompak dan hangat di antara semua pegawai di lingkup UPT KLHK Provinsi Papua. Lebih dari itu, aksi bersih sampah di sepanjang Kali Acai diharapkan dapat menginspirasi warga untuk lebih menjaga lingkungan tempat tinggal. Berbagai upaya memulihkan kebersihan lingkungan di Kali Acai telah dilakukan. Misalnya, plang-plang bertuliskan imbauan menjaga kebersihan dan larangan membuang sampah ke dalam kali, terpajang di beberapa titik sepanjang tepi Kali Acai. Namun tak dapat dibantah, faktanya masih terdapat sampah rumah tangga di dalam Kali Acai, meski frekuensinya telah jauh berkurang. Hal ini memerlukan upaya terus-menerus, terutama memberikan kesadaran kepada warga di sekitar Kali Acai mengenai berbagai dampak lingkungan yang dapat timbul akibat perilaku negatif membuang sampah ke dalam kali. Terlebih muara Kali Acai berada di Taman Wisata Alam Teluk Youtefa. Harapannya, dengan semangat kemerdekaan, masyarakat sekitar semakin memahami pola hidup bersih dan sehat dengan menjaga lingkungan, demi mencapai generani Indonesia unggul di masa mendatang. (djr) Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

BKSDA Kalimantan Selatan Menerima Penyerahan Owa-Owa

Kotabaru, 15 AGUSTUS 2019 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan pada Hari Kamis 15 Agustus 2019 melakukan evakuasi terhadap 1 ekor satwa liar yang dilindungi undang-undang jenis Owa-Owa (Hylobates albibarbis). Tim penanganan konflik satwa Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin yang terdiri dari Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc, Ahmad Nabawi, Arsy Badarudin, Eddy Kurniawan Astanto dan Agus Eko bergerak untuk melakukan evakuasi satwa. Informasi yang didapat satwa telah berada di KPH Cantung yang didapat dari penyerahan sukarela dari warga Desa Mangkirana, owa-owa dalam keadaan sehat setelah di evakuasi Owa-Owa diserahkan ke pusat penangkaran P3M ITP Tarjun. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Mahrus Aryadi Menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada warga dan pihak terkait lainnya yang telah berusaha bekerja bersama untuk konservasi dengan menyelamatkan satwa yang dilindungi. Saat ini BKSDA Kalsel telah menerima 3 ekor Owa-Owa dan pada saatnya akan dilepas-liar dihabitatnya. (ryn) Sumber : Maulinda, S.Hut - Staff Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kebakaran Lahan di Sekitar SM Sermo, BKSDA Yogyakarta Pastikan Itu Bukan di Kawasan

Yogyakarta, 20 Agustus 2019 - Personil Resort Konservasi Wilayah (RKW) Kulonprogo dipimpin Kepala Resort nya Gunadi, melakukan pengecekan lapangan di kawasan SM Sermo. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti pemberitaan di media online terkait 1 hektar lahan di dekat SM Sermo terbakar. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi langsung menginstruksikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I untuk melakukan pengecekan di lapangan. “Perintahkan personil RKW untuk mengecek lapangan dan mencari informasi penyebab terjadinya kebakaran tersebut.” demikian instruksi M.Wahyudi. Menindaklanjuti perintah tersebut, personil RKW Kulonprogo bersama-sama dengan personil Masyarakat Mitra Polhut (MMP) SM Sermo segera melakukan pengecekan lapangan dan diperoleh hasil telah terjadi kebakaran lahan milik masyarakat pada hari Minggu (18/9/19) seluas ± 1.000 m2 (dalam berita online disebutkan 1 Ha) pada titik koordinat S 07°51'53.9" dan E 110°06'39.1" dengan lokasi Dusun Selo Timur, Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. tepatnya di Dusun Kliripan, Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Vegetasi yang terbakar meliputi Akasia, Jati, Duwet, Mahoni, Manding, Melinjo, Cikal (pohon kelapa yang masih kecil), Krinyu dan Lantana Camara. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Ganjar, anggota Polsek Kokap, kronologi terjadinya kebakaran berawal dari aktifitas pemilik lahan yang pergi ke ladang untuk memetik melinjo, dan sesampainya di sana melakukan kegiatan pembakaran sampah sebelum memetik melinjo. Merasa api pembakaran sampah telah mati, pemilik lahan lalu memetik melinjo dan kembali melakukan pembakaran di tumpukan sampah lainnya. Tanpa disadari api dari pembakaran sampah tersebut membesar dan secara spontan pemilik lahan melakukan pemadaman mandiri dengan memukul api menggunakan ranting dan dedaunan. Warga sekitar kurang lebih berjumlah 15 orang yang mengetahui kejadian tersebut segera membantu memadamkan dengan menggunakan ranting dan dedaunan yang ada di sekitar lokasi kejadian hingga api berhasil dipadamkan. Mobil pemadam kebarakan juga telah diterjunkan ke lokasi, namun karena lahan yang terbakar cukup jauh dari jalan dan lokasinya berada di lereng yang cukup tinggi sehingga selang pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau lokasi. Lokasi kebakaran lahan ini berjarak ±5 Km dari kawasan SM Sermo, dengan demikian kebakaran tersebut tidak berbatasan langsung dengan kawasan. Meskipun demikian perlu dilakukan upaya sosialisasi dan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan tersebut. Setelah mendapatkan laporan dari petugas di lapangan, Kepala Balai KSDA Yogyakarta segera meminta petugas untuk sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Terus lakukan sosialisasi dan ingatkan masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan yang dapat memicu terjadinya kebakaran. Segera pasang papan himbauan dan peringatan kebakaran hutan sebagai salah satu media sosialisasi dan pengingat bagi masyarakat.” tegas M.Wahyudi. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Ini Hasil Road Show Nahkoda Baru Balai KSDA Yogyakarta

Yogyakarta, 20 Agustus 2019 - Setelah proses serah terima jabatan dari Ir. Junita Parjanti, M.T, Kepala Balai KSDA Yogyakarta yang lama kepada Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc, Kepala Balai KSDA Yogyakarta yang baru, resmi dilaksanakan, segera ditindaklanjuti dengan melakukan road show kunjungan ke wilayah kerja Balai KSDA Yogyakarta. Sebagai nahkoda baru di Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi ingin mengetahui secara langsung seperti apa kondisi wilayah kerjanya. Kegiatan pengenalan atau orientasi lapangan dilakukan selama tiga hari dari tanggal 14 – 16 Agustus 2019 dengan mengunjungi seluruh Resort Konservasi Wilayah (RKW) lingkup Balai KSDA Yogyakarta. Orientasi lapangan hari pertama dengan agenda road show ke Stasiun Flora Fauna (SFF) dan Dome Wanagama Paksi di kawasan Bunder, RKW Gunungkidul di Playen dan Resort SM Paliyan. Agenda hari kedua diisi dengan melakukan Aksi bersih kawasan SM Sermo dilanjutkan dengan kunjungan ke Hutan Kemasyarakatan (HKm) Kali Biru dan kunjungan ke RKW Sleman di Gamping. Untuk hari ketiga sebelum dilakukan road show ke RKW Kota Yogyakarta, RKW Bantul dan Pos Jaga CA Imogiri serta peninjauan Rumah Dinas Kepala Balai KSDA Yogyakarta, terlebih dahulu Kepala Balai KSDA Yogyakarta mengikuti rangkaian acara peringatan HUT ke 74 RI dengan melakukan senam bersama seluruh pegawai dan penanaman oleh pejabat struktural Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di halaman kantor Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta. Kegiatan Hari Pertama Kegiatan orientasi lapangan Kepala Balai KSDA Yogyakarta ini dimaksudkan untuk mengenal wilayah kerja BKSDA Yogyakarta yang meliputi Seksi Konservasi Wilayah I dan II. Di samping itu juga sebagai proses akselerasi pergantian kepemimpinan dari Kepala Balai yang terdahulu kepada Kepala Balai yang baru serta memberikan kesempatan Kepala Balai yang baru untuk mengetahui secara langsung seperti apa permasalahan di lapangan yang dihadapi Balai KSDA Yogyakarta. Beberapa poin penting yang berhasil dipetakan dari pelaksanaan road show ini antara lain : Terkait pengelolaan SFF Bunder perlu dilakukan perbaikan pada sarana prasarana yang rusak. “Melihat kondisi lapangan SFF Bunder ini, tampaknya ada beberapa sarana prasarana yang sudah rusak dan tidak dapat digunakan. Nanti akan coba dilihat, jika memungkinkan untuk diperbaiki, segera dilakukan perbaikan. Untuk ke depan perlu segera disusun master plan pengelolaan SFF Bunder dan Wanagama Paksi. Melalui dokumen master plan tersebut, akan kelihatan kemana sebenarnya arah pengelolaan SFF Bunder ini.” demikian M. Wahyudi menjelaskan. Kegiatan Hari Kedua Sementara itu pada kunjungan di kantor RKW Gunungkidul, akan diambil langkah pembongkaran stasiun radio (HT) di RKW Gunungkidul. Langkah tersebut diambil dengan pertimbangan penggunaan HT sudah tidak dilakukan lagi dan kondisi DIY secara umum yang ramah sinyal seluler sehingga penggunaan HT dapat digantikan dengan komunikasi menggunakan telepon seluler. Kegiatan Hari Ketiga Untuk kunjungan di Resort SM Paliyan, M. Wahyudi melihat secara langsung permasalahan kawasan yang terjadi. “Permasalahan petani penggarap di SM Paliyan akan coba diselesaikan dengan melibatkan masyarakat dan tokoh-tokoh kuncinya. Hal ini berkaitan dengan tipologi dan karakter masyarakat penggarap yang ada di sekitar SM Paliyan. Dengan pelibatan tokoh-tokoh kunci di dalamnya, kita dapat duduk bersama dan membuat komitmen bersama untuk penyelesaian persoalan petani penggarap tersebut.” tutur M. Wahyudi. “Pengelaan resort konservasi wilayah akan saya tata kembali agar implementasi Resort Based Management dapat berjalan seperti yang diharapkan. Saya instruksikan setiap resort untuk mempunyai peta wilayah kerja dan peta kawasan yang seragam, juga untuk menyiapkan poster-poster pendukung sebagai media informasi kepada masyarakat umum.” lanjutnya. Sumber : Elpramit (Pengolah Data) - Balai KSDA Yogyakarta

Menampilkan 5.105–5.120 dari 11.140 publikasi