Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BKSDA Yogyakarta Gandeng Mitra Atasi Gangguan Monyet di Banaran

Yogyakarta 22 Agustus 2019 - BKSDA Yogyakarta bersama-sama dengan Gembira Loka Zoo (GL Zoo) menindaklanjuti aduan masyarakat terkait gangguan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Banaran, Kulonprogo. Pada hari Senin (19/8/19) anggota SAR Pantai Trisik, Marsudi menginformasikan tentang adanya gangguan satwa di Dusun Sawahan, Desa Banaran yang membuat warga resah. Menindaklanjuti informasi dari masyarakat tersebut, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi segera menugaskan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, untuk berkoordinasi dengan pihak terkait mengatasi permasalahan tersebut. “Laporan gangguan monyet ekor panjang harus segera ditindaklanjuti, masyarakat sudah mulai resah dengan monyet tersebut, segera lakukan tindakan antisipatif jangan sampai masyarakat melakukan tindakan yang berlawanan dengan animal welfare terhadap satwa ini.” tutur M. Wahyudi. Personil BKSDA Yogyakarta bersama mitra GL Zoo segera terjun ke lapangan (21/8/19) untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Dari hasil koordinasi dengan tokoh masyarakat setempat diperoleh informasi kejadian gangguan satwa monyet ekor panjang ini merupakan yang pertama terjadi di Banaran, sebelumnya belum pernah ada kejadian serupa. Bersama-sama personil BKSDA Yogyakarta, GL Zoo, Bhabinkamtibmas dan tokoh masyarakat setempat melakukan penyisiran di sekitar Dusun Sawahan, tetapi tidak dijumpai monyet ekor panjang yang mengganggu masyarakat tersebut. Meskipun demikian, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, diperbolehkan untuk melakukan penangkapan namun diminta untuk tidak membunuh monyet tersebut dan segera melaporkan kepada petugas jika monyet yang meresahkan tersebut muncul lagi. Sumber : Purwanto (Polhut) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Penanggulangan Kebakaran Balai TN Bukit Tigapuluh

Rengat, 23 Agustus 2019. Guna mengantisipasi kebakaran hutan (karhut), Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) telah melakukan langkah nyata pencegahan karhut sedini mungkin sejak bulan Mei 2019 berupa monitoring hotspot (titik panas) setiap hari di kawasan TNBT dan sekitarnya. Kampanye/penyuluhan pencegahan kebakaran yang melibatkan intansi terkait (Polri, TNI dan Aparat desa) dengan sasaran masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNBT terus dilakukan disertai pelaksanaan patroli pencegahan kebakaran hutan bersama masyarakat peduli api (MPA) di daerah rawan terjadinya karhut. Kejadian kebakaran hutan di kawasan TNBT pada umumya terjadi karena adanya pembukaan ladang perpindah - pindah oleh masyarakat tradisional dan pembukaan lahan oleh masyarakat di sekitar kawasan TNBT sehingga api merambat ke dalam kawasan. Kondisi cuaca ekstrim pada musim kemarau mengakibatkan kebakaran di kawasan TNBT dan sekitarnya semakin sulit dikendalikan. Selanjutnya apabila titik hotspot terpantau di kawasan TNBT, maka diturunkan tim groundcheck hotspot ke lapangan dengan melibatkan TNI/Polri dan MPA, karena itu perlu adanya rasa peduli oleh setiap warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Beberapa upaya pemadaman karhut telah dilakukan petugas Balai TNBT bersama-sama dengan Masyarakat /MPA seperti yang terjadi di daerah Simpang Empat Datai resort Keritang Kec. Kemuning Kab. Inhil. Adapun di Desa Sanglap dan Desa Alim 2 Wilayah Kerja Resort Lahai Kec. Batang Cinaku Kab. Inhu dengan melibatkan Polsek Batang Cinaku, Koramil Seberida dan MPA/masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Langkah Pasti Kelompok Tani Hutan Binaan BKSDA Yogyakarta Menuju Kemandirian

Yogyakarta, 22 Agustus 2019 - Salah satu Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan BKSDA Yogyakarta, KTH Manunggal Karya Rabu (21/9/19) mendapat kunjungan dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kulon Progo. Kunjungan tersebut sebagai salah satu bentuk dukungan stakeholders terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat binaan BKSDA Yogyakarta. Menanggapai rencana kunjungan Diskominfo Kabupaten Kulonprogo ke KTH Manunggal Karya, Kepala BKSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menginstruksikan kepada Penyuluh Kehutanan BKSDA Yogyakarta dan personil Resort Konservasi Wilayah Kulonprogo untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. “Dampingi KTH Manunggal Karya, jelaskan awal pembentukan KTH ini, dan seperti apa bentuk pembinaan serta pendampingan yang kita lakukan terhadap KTH Manunggal Karya ini.” tutur M. Wahyudi. Pembentukan KTH Manunggal Karya menjadi cambuk bagi BKSDA Yogyakarta, dimana awalnya BKSDA Yogyakarta dipandang tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap masyarakat sekitar SM Sermo, selanjutnya setelah menggandeng miitra LSM Damar, KTH Manunggal Karya bisa terbentuk dan dalam waktu 4 bulan setelah terbentuk bisa langsung produksi. KTH Manunggal Karya berlokasi di Desa Hargowilis, Kulonprogo dan memiliki potensi kelapa yang cukup melimpah. Potensi tersebut yang dimanfaatkan penyuluh kehutanan BKSDA Yogyakarta untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan SM Sermo. Tidak stabilnya harga kelapa di pasaran, membuat petani harus berpikir untuk menemukan inovasi baru yang dapat meningkatkan “nilai” kelapa tersebut. BKSDA Yogyakarta hadir melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap KTH Manunggal Karya hingga akhirnya muncul produk olahan krispi kelapa yang diberi nama “CRISPA”. Menurut informasi yang diperoleh dari ketua KTH Manunggal Karya, Ari Widiyanto, produk ini telah dipasarkan melalui toko oleh-oleh, toko berjejaring dibawah Pemkab Kulonprogo dan juga melalui media online. Pada kunjungan tersebut, Diskominfo Kabupaten Kulonprogo meliput secara langsung kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembuatan produk CRISPA yang akan digunakan sebagai media promosi produk. Sumber : Siti Rohimah (Penyuluh Kehutanan) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

SKW 2 Terima Kukang dari Masyarakat

Banjarbaru, 20 Agustus 2019 – Pada hari Selasa, tanggal 20 Agustus 2019 sekitar pukul 17.15 WITA, Kordinator Pos Peredaran TSL Bandara Syamsudin Noor menerima laporan melalui telpon dari petugas Karantina Pertanian di bandara dan meneruskan ke petugas piket bandara H. Rizali, adanya anggota Polsek Banjarbaru Barat (Landasan Ulin) mau menyerahkan 1 ekor satwa liar jenis kukang. Pada pukul 18.00 WITA petugas BKSDA Kalsel mendatangi sekaligus mengecek keadaan satwa liar jenis kukang yang mau diserahkan. Setelah diperiksa kemudian dibawa ke kandang transit Kantor SKW 2 Banjarbaru. Menurut Ridwan Effendi Kepala SKW 2 Banjarbaru bahwa penyampaian dari anggota polsek satwa tersebut hasil penyerahan dari masyarakat (an. Ibrahim Mukta Bisma) beralamat di Jalan Angkasa gang Manggis RT.17 RW.04 Landasan Ulin. Temuan ini dilaporkan melalui aplikasi SIHARAT Polres Banjarbaru. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc memberikan apresiasi kepada Polsek Banjarbaru Barat atas kerjasamanya serta ucapan terima kasih kepada Pak Ibrahim yang dengan sukarela menyerahkan satwa dilindungi tersebut. Dr. Mahrus berharap agar langkah Pak Ibrahim dapat diikuti oleh warga yang lain apabila saat ini masih memelihara satwa dilindungi untuk segera menyerahkan kepada negara melalui BKSDA Kalimantan Selatan. (jrz) Sumber : M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kelompok Embun Pagi Kenali dan Atasi Penyakit Ternak Secara Alami

Tanjung Lasa, 21 Agustus 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) adakan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok Desa Binaannya di Desa Tanjung Lasa. Acara yang dilaksanakan Desa Tanjung Lasa selama dua hari dari ini terbagi menjadi dua sesi utama yaitu penyampaian materi dan peninjauan lapangan. Kegiatan yang dihadiiri oleh anggota kelompok beserta staf Kantor Desa Tanjung Lasa ini disambut dengan sangat baik oleh masyarakat. Mereka sadar hal positif seperti ini perlu sering dilakukan selain sebagai wadah silaturahmi antara kelompok dengan pembinanya namun juga sebagai ajang silaturahmi antara Pembina dengan pemangku wilayah tersebut guna mensinergikan program kegiatan. Didalamnya juga terdapat agenda penting yaitu diskusi guna mengatasi penyakit ternak yang sedang dialami oleh sebagian besar sapi mereka. Untuk itu pembina menggandeng pihak Dinas Pertanian dan Pakan Bidang Peternakan dalam kegiatan kali ini. Dalam sambutannya Kepala Desa Tanjung Lasa yang diwakili oleh Sekretaris Desa memberikan apresiasi atas perhatian dan kerjasama yang dijalin oleh pihak mereka dan pihak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum selama ini. Diharapkan dukungan dari pihak Taman Nasional dapat terus berlanjut dan berjalan berkesinambungan sehingga Kelompok tetap termotivasi untuk berkembang. Kepala Seksi PTN II Tanjung Kerja pun memberikan proyeksi ke depan bagi kelompok tersebut, tujuan besar yang harus dicapai terkait multi manfaat yang bisa didapatkan dari kegiatan ternak sapi tersebut. Kelompok Budidaya Sapi “Embun Pagi” di Desa Tanjung Lasa yang sudah menerima bantuan bibit sapi dengan total 13 ekor sapi dalam kurun waktu dua tahun ini diharapkan dapat kembali pada hakikatnya sebagai kelompok budidaya ternak sapi. Upaya pembinaan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum dengan menggandeng pihak Dinas Pertanian dan pangan Bidang peternakan Kabupaten Kapuas Hulu sebagai salah satu respon reaktif terhadap laporan anggota yang mengeluhkan bahwa sapinya sempat terkena penyakit. Dalam paparannya, Drh. Skondi menjelaskan bahwa untuk menjaga kesehatan atau mengobati penyakit yang dialami hewan ternak, kita bisa memanfaatkan tumbuhan yang ada disekitar kita seperti halnya yang digunakan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit yang sama. Seperti Kunyit dan kemangi untuk penyakit hati, daun katuk untuk memperlancar ASI, kencur penambah nafsu makan, daun biji untuk menghentikan mencret / diare dan seterusnya. Ramuan-ramuan tersebut seperti ramuan jamu tradisional yang dimanfaatkan manusia sebagai obat alami namun bisa juga digunakan untuk sapi dengan manfaat yang sama, tentunya dosisnya pun lebih besar daripada yang digunakan manusia tergantung dengan berat badannya. Beliau menambahkan bahwa penanganan medis secara injeksi atau dengan pemberian obat khusus malah dapat mengkontaminasi daging sapi tersebut dengan bahan kimia yang berbahaya apabila dikonsumsi oleh manusia. Sapi yang baru saja diinjeksi atau diberikan obat harus jarak waktu tertentu sebelum disembelih untuk dikonsumsi. Pemeliharaan sapi secara Pasteur Faatening (pemeliharaan dalam kendang) sangat direkomendasikan karena memiliki kemanfaatan yang lebih besar terutama dari segi kesehatan, daripada pemeliharaan dengan di lepas liarkan di lahan terbuka / dry lot faatening. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Kemah Bakti Konservasi Taman Nasional Wakatobi Tahun 2019

Kaledupa, 21 Agustus 2019. Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Balai Taman Nasional Wakatobi melaksanakan kegiatan Kemah Bakti Konservasi Tahun 2019 di Resort Kaledupa Selatan pada Areal Pesisir Pantai Ou Java Desa Peropa. Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang dihadiri oleh Wakil Bupati Wakatobi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, Camat Kaledupa Selatan, Danramil Pulau Kaledupa, Perwakilan Forkani, Kepala Desa Peropa, Kapolsek Kaledupa Selatan, Perwakilan MMP Resort Kaledupa dan Kaledupa Selatan. Pembukaan acara secara simbolis dilakukan oleh Wakil Bupati Wakatobi ditandai dengan pemberian personal use peserta Kemah Bakti Tahun 2019. Kegiatan dilaksanakan selama 3 Hari, mulai dari tanggal 20 – 22 Agustus Tahun 2019. Adapun agenda yang dilaksanakan pada kegiatan kemah bakti tahun 2019 diantaranya adalah upacara pembukaan, pelepasan tukik, bina suasana, outdoor living skills, pemberian materi 8 sumberdaya penting Taman Nasional Wakatobi, recycle chalange, C-Talk (Conservation Talk), lintas alam, phone photography, pembuatan poster konservasi, api unggun, penanaman mangrove dan pemberian materi kebijakan oleh Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi. Kegiatan ini melibatkan Kelompok Pecinta Alam (KPA), anggota SPKP Koncu Patua Wali dan SPKP Benteng Wacu Awa dan mitra konservasi Tondo Palahidhu dari SPTN Wilayah I, II dan III Taman Nasional Wakatobi. Di dalam sambutannya Ibu Ilmiati Daud, selaku Wakil Bupati Wakatobi mengatakan bahwa peserta kemah bakti tahun 2019 merupakan duta konservasi Kabupaten Wakatobi yang diharapkan dapat menjaga kelestarian alam di Wakatobi, Selain itu beliau juga mengatakan pentingnya membuat sebuah branding pariwisata di Kabupaten Wakatobi. Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi menyatakan bahwa kegiatan ini dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman generasi muda dan masyarakat mengenai pentingnya konservasi sumberdaya alam dan ekosistem di Taman Nasional Wakatobi. Sumber : Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kaledupa, Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Peringatan Hari Orangutan Internasional 2019 di Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu

Putussibau, 22 Agustus 2019 - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) bersama dengan WWF Indonesia, TFCA Kalimantan, Forclime dan Putussibau Art Comunity (PAC) menggelar peringatan International Orangutan Day 2019 di Kapuas Hulu. Kegiatan yang diberi tema “International Orangutan Day Campaign 2019” adalah konsep kegiatan penyadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya dengan konsep penyampaian materi di luar ruangan sekaligus menyertakan aspek pendidikan lingkungan hidup dan pendidikan karakter. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah Memberikan dan meningkatkan kesadartahuan tentang konservasi orangutan dan habitatnya. Rangkaian kegiatan telah disiapkan oleh panitia mulai dari Radio talkshow, Kampanye Konservasi Orangutan di beberapa sekolah, talkshow di beberapa cafe di Putussibau dan konser betang. Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari dari tanggal 19 s/d 24 Agustus 2019 di Putussibau dan sekitarnya. Kegiatan pertama yang dilakukan dalam rangka International Orangutan Day Campaign 2019 yaitu Radio talkshow di Rasika milik Pemerintah Daerah Kapuas Hulu gelombang 103.4 Fm yang pembicaranya terdiri dari BBTNBKDS, TFCA Kalimantan, WWF Indonesia, Forclime dan PAC. Talkshow ini membahas tentang potensi, ancaman dan upaya konservasi orangutan di Kalbar. Kepala Balai Besar yang diwakili Sarwono, S.Hut., menyatakan bahwa Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum dan Kapuas Hulu merupakan habitat Orangutan Pongo Pygmaeus Pygmaeus. Data tahun 2018 diperkirakan terdapat 714 individu Orangutan di Taman Nasional Betung Kerihun serta 118 individu di Taman Nasional Danau Sentarum dan masih banyak lagi yang tinggal di hutan lindung dan hutan produksi yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk itu kampanye terhadap perlindungan habitat dan populasi orangutan ini sangat diperlukan dalam mendukung keberadaan Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum dan Kapuas Hulu. Sementara Manajer Landscape Hulu Kapuas WWF-Indonesia Hermas Rintik Maring menambahkan Ancaman yang paling utama saat ini bagi populasi orangutan di Kalimantan Barat (KalBar) adalah degradasi dan fragmentasi habitat. Dimana berdasarkan hasil kajian bahwa kawasan hutan di KalBar terus berkurang sebesar 116.172,77 ha pertahun. Hal ini mengakibatkan beberapa kawasan yang menjadi habitat Orangutan menjadi terpisah-pisah. Berkurangnya luasan hutan juga berdampak pada pakan orangutan. Untuk itu perlu adanya kampanye sebagai bentuk usaha mengajak masyarakat serta memperkenalkan kepada Generasi muda untuk lebih peduli lagi terhadap keberadaan Orangutan dan diharapkan kesadaran masyarakat dunia terhadap lingkungan terutama ekosistem hutan tropis yang merupakan habitat Orangutan, sehingga dapat mendukung peningkatan populasi orangutan. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Antisipasi Kebakaran Hutan, BTN Gunung Merapi Gelar Apel Siaga

Magelang, 22 Agustus 2019. Musim kemarau panjang di tahun 2019 menyebabkan semua pihak waspada adanya kebakaran hutan dan lahan. Hal yang sama juga menjadi perhatian Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) dengan menggelar Apel Siaga Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan secara terpadu bersama para pihak dan masyarakat di Objek Wisata Alam (OWA) Jurangjero, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Gunung Merapi Wilayah 1 (22/8). Diharapkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama. Apel Siaga juga menyepakati pembuatan posko bersama siaga dalkarhut di OWA Jurang Jeromulai hari ini (22/8/2019) sampai dengan berakhirnya musim kemarau dengan melibatkan personil jaga dari petugas BTNGM bersama-sama TNI, Polri, BPBD, PMH, Pokwis, dan relawan lainnya. Apel dihadiri Kabalai TNGM, Dandim 0705 Magelang (selaku Inspektur Apel), Wakapolres Magelang, Kapolsek Srumbung (selaku komandan Apel) pimpinan SKPD terkait, Camat Srumbung, serta kepala desa sekitar. Peserta apel yang terlibat kurang lebih 400 orang, terdiri dari petugas BTNGM, TNI, POLRI, Cabang Dinas Kehutanan – Dinas LHK Jateng, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab Magelang, Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kab Magelang, SAR Kab Magelang, Paguyuban Merapi Hijau (PMH) Srumbung – Magelang, Masyarakat Peduli Api (MPA) Srumbung – TNGM, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pondok Pesantren Nurul Falah Desa Tegalrandu, kelompok pemegang IPA dan Kelompok Wisata (Pokwis) Taman Jurang Jero. Pada amanat apel yang disampaikan oleh Dandim 0705 Magelang, Letkol Arm Kukuh Dwi Antono S.I.P, selaku Inspektur Apel, disampaikan bahwa sesuai perintah dari Presiden RI, kita semua harus siap dan tanggap untuk mengatasi apabila ada kebakaran hutan dan lahan diwilayahnya. Untuk itu kita semua diharapkan senantiasa selalu siap melakukan upaya-upaya untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan serta melakukan tindakan pemadaman agar lahan yang terbakar tidak semakin meluas. Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tidak dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus dilakukan secara sinergis oleh semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta dan masyarakat. Pada kesempatan ini, dihimbau kepada seluruh jajaran, instansi pemerintah, swasta, dan segenap masyarakat untuk lebih peduli kepada lingkungan kita dengan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, karena sebagian besar kondisi lahan hutan di Wilayah Kabupaten Magelang terdapat semak belukar yang potensial menyebabkan kebakaran akan meluas secara cepat. Yang tidak kalah pentingnya adalah penegakan hukum, agar para penegak hukum dapat lebih fokus untuk melakukan penyelidikan, penyidikan dan upaya hukum pada kasus pembakaran hutan dan atau lahan, sehingga dapat memberikan efek jera bagi para pelaku pembakar hutan dan lahan. Pelibatan masyarakat secara menyeluruh termasuk Masyarakat Peduli Api yang telah dibina oleh para pihak BTNGM, untuk selalu melaksanakan patroli dan membantu pemadaman agar dapat menekan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Pada kesempatan Apel ini juga dihimbau untuk seluruh unsur yang hadir, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat agar secara bersama-sama dapat bekerja lebih keras, cerdas, dan tuntas untuk dapat melakukan kegiatan pemadaman, patroli dan mensosialisasikan seruan/larangan kepada seluruh masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan, serta upaya-upaya lain yang produktif yang dapat mengurangi dan mencegah terjadinya pembakaran hutan dan lahan. Selesai Apel, para tamu undangan beserta peserta bersama-sama menuju blok Orok-orok untuk melihat simulasi pembuatan sekat bakar dan melakukan pemeliharaan/penyiraman tanaman jenis asli pada tahun penanaman 2017 yaitu Tesek, Berasan, Trembelu dan Puspa. (tsr)
Baca Berita

Workshop Training Penangkaran Rusa Rakyat Berkelanjutan

Makassar, 22 Agustus 2019 – Workshop Training Penangkaran Rusa Rakyat Berkelanjutan berlangsung dua hari di Hotel MaxOne, Makassar, Selasa, 20 Agustus 2019 sampai dengan 21 Agustus 2019. Workshop training ini dihadiri 45 orang peserta yang terdiri dari Lembaga Konservasi, Calon Penangkar dan 15 Orang undangan antara lain Dinas Kehutanan Provinsi Sulbar, Dinas Peternakan Kabupaten Takalar dan UPT KLHK Lingkup Sulsel. Hari pertama Training Workshop Penangkaran Rusa Rakyat Berkelanjutan ini disi dengan materi dari narasumber Kasubdit Pemanfaatan Jenis Dit. KKH, Program Studi Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Peternakan UNHAS, Balitbang dan Inovasi Bogor dan BBKSDA Sulsel. Acara Training Workhsop ini diakhiri dengan visitasi di penangkaran Rusa Totol yang di kelola Fakultas Peternakan UNHAS. Dadang selaku Kasubdit Pemanfaatan Jenis Dit. KKH yang kali ini datang mewakili direktorat KKH dalam paparannya menjelaskan : Prinsip dasar penangkaran rakyat adalah partnership, sustainability and welfare. Selanjutnya Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Thomas Nifinluri menjelaskan tentang program TALAPARUSI atau Tata kelola penangkaran rusa berbasis masyarakat terintegrasi dan berkelanjutan termasuk peran para pihak yang terlibat, skema hibah dan kerjasamanya program ini dengan EPASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation). Selanjutnya ibu Meriana Takdjandji dari Balai Litbang dan Inovasi bogor menjelaskan dari segi science jika ingin berhasil menangkarkan satwa rusa 3 hal yang perlu dicermati yaitu “Feeding, Breeding dan Management”. Lalu Dr. Peggy Awanti dari Setditjen KSDAE memaparkan hasil penelitiannya terkait penangkaran Rusa Timor di Dalam Negeri dan Luar Negeri yang memiliki nilai ekonomi apabila berhasil dimanfaatkan dengan baik. Dari sisi akademis dan kesehatan penangkaran rusa berbasis masyarakat ini disi oleh Drh. Fahmi yang mewakili Prodi Kedokteran Hewan UNHAS yang menjelaskan Animal Ethic, Jenis-jenis penyakit yang sering terjadi pada Satwa Rusa Timor, Penyebab Penyakit tersebut dan cara mengatasinya. Terakhir Prof Ismartoyo selaku Penanggung jawab Penangkaran Rusa Totol di Fakultas Peternakan UNHAS. Dalam Paparannya Prof Ismartoyo menceritakan pengalamannya selama menangkarkan Rusa Totol di UNHAS. Beliau juga menanmbahkan perlu treatment atau penanganan khusus terkait pakan di musim penghujan dan musim kemarau. Hari kedua 21 Agustus 2019 kegiatan Training Workhsop Penangkaran Rusa Rakyat Berkelanjutan diisi dengan diskusi dari pembelajaran hari pertama dan visitasi di penankaran rusa totol di UNHAS lalu panduan menggunakan aplkasi TALAPARUSI yang dibawakan TIM IT BBKSDA Sulsel terkait pelayanan izin calon penangkaran dan pengelolaan penangkaran berbasis digital. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

BKSDA Yogyakarta Dampingi Kapolda DIY Lepasliarkan Penyu di Pantai Goa Cemara

Yogyakarta, 21 Agustus 2019. Kapolda DIY, Irjen Pol. Drs. Ahmad Dofiri, M.Si beserta jajarannya sebanyak kurang lebih 400 orang, melepaslliarkan 75 ekor penyu yang terdiri atas 2 ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan 73 ekor penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Pelepasliaran dilakukan di Pantai Goa Cemara. Penyu tersebut berasal dari hasil penyelamatan penyu oleh Kelompok Penyelamat Penyu Pantai Goa Cemara dan Pantai Pelangi. Turut hadir pada kegiatan ini Dirpolairud dan Ketua Pengurus Daerah Bhayangkari DIY, Diana Dofiri. Dalam sambutannya, Diana menjelaskan maksud pelaksanaan kegiatan ini. “Pelepasliaran penyu ini merupakan satu rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-67 Polda DIY dan sekaligus untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan ke-74 RI” tutur Diana. Kepala Resort Konservasi Wilayah Bantul, Sujiyono dalam kesempatan tersebut menyampaikan arahan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi terkait upaya konservasi penyu. “Sebagaimana arahan Bapak Kepala Balai, penyelamatan dan konservasi penyu menjadi tanggung jawab kita bersama. Semua orang berhak ikut serta dan berpartisipasi dalam menjaga kelestarian penyu. Semakin banyak yang peduli, semakin sedikit perburuan terhadap telur dan penyu yang terjadi. Pelepasliaran penyu kali ini salah satu bentuk kepedulian terhadap kelestarian penyu dan harapannya proses pelepasliaran dapat dilakukan sesuai dengan prosedur.” Ujar Sujiyono. Kegiatan pelepasliaran penyu di Pantai Goa Cemara ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Pelepasaliaran Penyu yang dilakukan oleh Direktur Polairud, Mansjur, SH, SIK bersama dengan Balai KSDA Yogyakarta dan Kelompok Penyelamat Penyu Pantai Goa Cemara. Sumber : Sujiyono - Polhut Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Brigdalkarhut BTNRAW Berhasil Turunkan Luas dan Kejadian Kebakaran di Wilayah Kab. Bombana dan Konawe Selatan

Konawe Selatan, 22 Agustus 2019. Setiap tahun saat musim kemarau, Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (BTNRAW) selalu dihadapkan pada permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Hal ini tidak terlepas dari tingkat kerawanan kebakaran kawasan TN Rawa Aopa Watumohai yang demikian tinggi. Berdasarkan peta kerawanan kebakaran hutan kawasan TNRAW pada tahun 2018, tingkat kerawanan kebakaran di kawasan ini dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelas kerawanan, yaitu rendah dengan luas 39.637,5 Ha (60,05%), sedang dengan luas 6.559,16 Ha (9,94%), dan sangat tinggi dengan luas 19.806,54 Ha (30,01%). Salah satu upaya pengendalian kebakaran kawasan TN Rawa Aopa Watumohai yang dilakukan yaitu membentuk Brigdalkarhut pada tahun 2018. Secara umum dengan adanya Brigdalkarhut ini, penanganan karhutla di TNRAW dalam satu tahun terakhir dinilai berhasil. Hal ini ditandai dengan menurunnya luas area yang terbakar dan jumlah kejadian kebakaran jika dibandingkan dengan tahun lalu. Berdasarkan data pada agutus 2018 terdapat sekitar 670,94 hektare (ha) yang terbakar dengan 32 kali kejadian kebakaran, selanjutnya menurun menjadi 25 kali kejadian kebakaran dengan total luas 156,82 ha sampai bulan Agustus 2019 (427,8 %) di wilayah Kab. Bombana dan Konawe Selatan. Kepala Balai TNRAW, Ali Bahri, S.Sos, M.Si menyatakan, petugas brigdalkarhut bisa menjadi garda terdepan dalam mencegah api agar tidak meluas. ''Petugas Brigdalkarhut akan segera melakukan pemadaman dini jika menemukan kejadian kebakaran karena mereka terjun langsung ke lokasi dan sudah dibekali diri dengan alat pemadam ringan berupa pompa punggung yang berfungsi untuk pemadaman awal'' imbuhnya. Dalam upaya mengoptimalkan sistem pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (BTNRAW) memperkuat sinergitas bersama TNI, Polri, Pemda dan stakeholder terkait. Adapun upaya dalam pengendalian karhutla ini dituangkan dalam strategi dan rencana aksi yang melibatkan pihak – pihak terkait antara lain Pemda Bombana, Polres Bombana, Pabung 1314 Buton, BNPB kab. Bombana, Damkar kab. Bombana, Manggala Agni Daops Tinanggea dan PT. Jhon Lin Batu Mandiri. Kepala Balai TNRAW menyatakan bahwa dalam upaya pengendalian kebakaran hutan ini, BTNRAW bersama dengan stakeholder terkait telah menyusun dan melakukan Strategi dan Rencana Aksi pengendalian kebakaran hutan antara lain yaitu pemetaan lokasi rawan kebakaran hutan, deteksi dini kebakaran hutan melalui CCTV, sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat, pemasangan media sosialisasi secara berkala seperti baliho, banner, leafleat / pamplet sebagai kampanye larangan membakar ditaman nasional, Apel siaga dan simulasi pengendalian Karhutla, membuat pos pantau untuk memudahkan pemantauan di lokasi rawan kebakaran, membuat embung sebagai sumber air untuk pemadaman kebakaran di musim kemarau dan melakukan patroli terpadu bersama dengan stakeholder terkait. Selain itu, yang tidak kalah penting dalam upaya pengendalian karhutla ini yaitu pelibatan masyarakat sekitar kawasan dengan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA). Pada kesempatan lain, Bupati Bombana H. Tafdil SE, MM. mengapresiasi upaya dalam sinergitas pengendalian Karhutla di Wilayah Kab. Bombana yang rawan kebakaran yang melibatkan stakeholder terkait. "Asap dari kebakaran hutan yang terjadi merupakan salah satu penyebab tergangunya polusi udara kita, bahkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, bukan hanya untuk manusia namun keanekaragaman hayati yang ada dalam hutan, untuk itu keberhasilan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, memerlukan kerjasama yang baik melalui sinergisitas pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, dengan tidak melupakan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat." tutur H.Tafdil SE, MM. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Peningkatan Sistem Pelayanan Pendakian Gunung Nokilalaki Di Taman Nasional Lore Lindu

Palu, 22 Agustus 2019. Jalur pendakian Gunung Nokilalaki sudah lama dikenal oleh para pendaki maupun Kelompok Pencinta Alam se-Sulawesi Tengah sebagai salah satu lokasi pendakian yang cukup menantang dan mempunyai tingkat kesulitan tersendiri dengan medan pendakiannya yang terjal menanjak. Jalur pendakian ini berjarak sekitar 60 Km dan dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Kota Palu. Jalur masuk pendakian ini berbatasan dengan Desa Tongoa, Kecamatan Palolo_Kabupaten Sigi dan berada di wilayah kerja Resort Kadidia-Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Tongoa serta berjarak 8,16 Km dari jalan masuk jalur pendakian Gunung Nokilalaki (Desa Tongoa) untuk sampai ke puncak gunungnya yang berada pada ketinggian 2.355 meter dari permukaan laut (mdpl). Menuju ke puncak Gunung Nokilalaki saat ini baru terdapat 3 (tiga) buah area shelter atau tempat peristirahatan bagi pagi para pendaki gunung untuk sejenak beristirahat dan memulihkan stamina atau bermalam sebelum melaksanakan pendakian di hari berikutnya. Sepanjang tahun, jalur pendakian Gunung Nokilalaki banyak sekali mendapat kunjungan dari para wisatawan minat khusus yaitu para pendaki gunung, tidak terkecuali pada momen-momen seperti peringatan HUT RI dan tahun baru, jumlah pengunjung yang datang ke Gunung Nokilalaki cukup signifikan banyaknya. Melihat kondisi potensial banyaknya pengunjung yang datang dan pengelolaannya yang selama ini belum optimal dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) maka Kepala BBTNLL saat ini, Ir. Jusman melakukan upaya untuk mengembangkan potensi jalur pendakian Gunung Nokilalaki ini menjadi destinasi minat khusus melalui Peningkatan Sistem Pelayanan Pendakian Gunung Nokilalaki secara kolaborasi dan terintegrasi dengan dukungan dari segenap pihak antara lain Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Basarnas Propinsi Sulawesi Tengah, PT. Asuransi Syariah Amanah Githa dan Paguyuban Pelayanan Pendakian Gunung Nokilalaki melalui narasi pernyataan bersama yang telah ditandatangani pada kamis (1/08/2019). Berbagai kegiatan pendakian yang telah berlangsung di Gunung Nokilalaki perlu dilakukan peningkatan pelayanan yang melibatkan pihak-pihak terkait, baik dalam hal promosi, keselamatan para pendaki ataupun hal-hal lain yang terkait pelayanan terhadap para pengunjung yang diselenggarakan secara kolaboratif dan terintegrasi sesuai dengan kapasitas dan kewenangan masing-masing instansi. Komitmen ini yang sedang dibangun BBTNLL agar dukungan peningkatan sistem pelayanan pendakian Gunung Nokilalaki di Propinsi Sulawesi Tengah dapat terlaksana secara kolaboratif dan terintegrasi sehingga jalur pendakian yang akan dikembangkan ini menjadi objek wisata minat khusus unggulan dan berpotensi untuk memberikan nilai ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar kawasan dengan berbagai usaha dan jasa yang muncul dengan adanya jalur pendakian Gunung Nokilalaki ini. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Sosialisasi Pencegahan Karhutla di CA Teluk Kelumpang

Kotabaru, 13 Agustus 2019 – Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan di sekitar Kawasan Konservasi. Sosialisasi bertujuan untuk menjalin dan meningkatkan kerjasama semua pihak terkait, khususnya masyarakat dan aparat desa hingga kecamatan dalam pengendalian kebakaran hutan khususnya di dalam dan sekitar kawasan konservasi. Sosialisasi pencegahan kebakaran hutan ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin, Nikmat Hakim P., S.P, M.Sc., didampingi Kepala Resort CA Teluk Kelumpang Ahmad Nabawi dan tim. Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan di Desa Batang Kulur Kecamatan Kelumpang Barat Kabupaten Kotabaru. Desa ini merupakan salah satu desa yang sebagian wilayahnya masuk ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Kelumpang bagian Barat Laut. Kegiatan ini disambut baik Kepala Desa Batang Kulur, Ahmad Sarikani beserta Sekdesnya. Dalam kesempatan ini hadir pula Camat Sampanahan, Rakhmansyah beserta Kepala Desa Sukamaju. Dalam kegiatan ini, Nikmat menyampaikan bahwa kebakaran hutan saat ini telah menjadi permasalahan internasional. Hampir semua negara ikut berperan aktif dalam memerangi kabut asap sebagai dampak dari terjadinya kebakaran hutan. Indonesia yang merupakan salah satu bagian dari paru-paru dunia, menjadi sorotan khususnya di masa musim panas seperti ini. Untuk itu, sangat diharapkan kerjasama semua pihak dalam melakukan tindakan pencegahan. Khususnya aparat kecamatan dan desa sangat dibutuhkan peranannya dalam menyampaikan kepada warganya agar untuk sementara tidak melakukan pembakaran di musim seperti ini, baik di ladang/kebun maupun di pekarangan rumahnya. “Ayo dangsanak ulun barataan, untuk sementara jangan sampai pian-pian mambakar di lahan, kabun atawa hutan nang cagar meulah kabut asap nang bahaya gasan kita barataan” ujar Nikmat. Kegiatan harus dilaksanakan dengan cepat, tepat dan manfaat (CTM) sesuai dengan slogan BKSDA Kalsel, Tim Pelaksana SKW III mengingatkan kembali agar seluruh komponen untuk saling membantu dan peduli. Arahan Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc., kegiatan pencegahan karhutla bersama masyarakat lebih baik daripada memadamkannya, untuk itu perlu komunikasi yang intens para pihak agar karhutla bisa ditekan sedemikian rupa. (ryn) Sumber : Maulinda, S.Hut - Staff Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Satu Bekantan Dievakuasi

Amuntai, 21 Agustus 2019 – Personel KPH Balangan bergerak menuju Desa Kalumpang Dalam Kecamatan Babirik Kabupaten HSU, Senin (19/8) untuk mengevakuasi Bekantan. Satwa dilindungi yang diamankan warga. Berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Selatan melalui anggota Resort Gunung Kentawan yang terlebih dahulu melakukan pengecekan lokasi, tim mendatangi tempat hewan tersebut diamankan warga di halaman masjid. Setelah berkoordinasi, KPH Balangan bersama personel BKSDA Kalsel yang dipimpin Kepala Resort Gunung Kentawan menuju ke lokasi. Sesampainya di Desa Hambuku Lima, tim melanjutkan perjalanan dengan kendaraan roda dua melalui titian sepanjang kurang lebih 3 km menuju Kalumpang Dalam. Di sana warga sudah menunggu. Setelah dilakukan pengecekan oleh petugas, kondisi Bekantan dinyatakan sehat. Satwa ini kemudian dimasukkan ke dalam kerangkeng. Kasi Perlindungan Hutan KPH Balangan, Emir Faisal mengatakan kondisi bekantan dalam keadaan sehat. “Kita inapkan dulu selama satu malam di kantor untuk selanjutnya akan kita lepasliarkan, mengingat spesies Bekantan yang rentan stres. Secepatnya akan kami kembalikan ke habitat aslinya,” tegasnya. (fanie/kphbalangan) Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

Bersama Masyarakat, Balai Besar TaNa Bentarum Sigap Jaga Hutan dan Lahan dari Kebakaran

Putussibau, 20 Agustus 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) membuka kegiatan penyegaran Masyarakat Peduli Api (MPA) Lingkup Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kedamin yang bertempat di Hotel Merpati Putussibau. Peserta kegiatan ini berasal dari 3 desa yang berada di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun yaitu Desa Bungan Jaya dan Tanjung Lokang yang berada di dalam kawasan, serta Desa Datah Diaan yang berada di luar kawasan. Pelatihan diawali dengan sambutan dari PASI OPS KODIM 1206 Putussibau, Kapolsek Putussibau Selatan, perwakilan FIP ADB BBTNBKDS dan perwakilan Manggala Agni DAOPS Sintang. Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala BPTN Wilayah II Kedamin (Bapak Fery A.M. Liuw) dengan penyematan tanda peserta kepada salah seorang perwakilan peserta. Rangkaian kegiatan akan berlangsung selama 3 hari, mulai dari 20 s/d 22 Agustus 2019. Sebagai materi awal, peserta dikenalkan tentang bagaimana sejarah dan struktur Masyarakat Peduli Api. Selama 2 (dua) hari kedepan masyarakat akan menerima materi tentang Dasar-dasar Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) dan Peranan MPA dalam Dalkarhut (Pengendalian Kebakaran Hutan). Selain itu, masyarakat juga akan melakukan simulasi pemadaman api yang akan dipandu langsung oleh narasumber. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penyegar wawasan masyarakat, sekaligus meningkatkan keterampilan dan kesigapan dalam upaya penanggulangan kebakaran lahan dan hutan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Penilaian METT 2019 Balai TN Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka, 15 Agustus 2019 - Kepala Balai TN kepulauan Seribu yang diwakili oleh Kepala SPTN Wilayah I Pulau Kelapa Dua, Isai Yusidarta membuka kegiatan Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) Taman Nasional Kepulauan Seribu Tahun 2019. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 (dua) hari, yaitu tanggal 15 s.d. 16 Agustus 2019 dan merupakan penilaian akhir METT yang telah tertuang pada Renstra Balai TN Kepulauan Seribu 2015-2019. Pada proses penilaian akhir METT kali ini, pedoman prinsip-prinsip penilaian dijalankan dengan baik, diantaranya dengan terpenuhinya keterlibatan pihak-pihak lain yang terkait dengan pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Seribu, sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih akurat dan objektif. Penilaian Akhir METT Taman Nasional Kepulauan Seribu Tahun 2019 dihadiri dan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari pegawai TN Kepulauan Seribu yang berada di kantor SPTN Wilayah I, II dan III, perwakilan dari Kelurahan Pulau Panggang, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu, Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kepulauan Seribu, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) TNKpS, Sentra Penyuluh Kehutanan dan Pedesaan (SPKP), serta Kelompok Pemandu di Kepulauan Seribu. Pelibatan peserta pada kegiatan penilaian ini bertujuan agar masing-masing perwakilan peserta memiliki keterkaitan, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan kawasan TN Kepulauan Seribu. Penilaian ini dibantu oleh fasilitator dari Direktorat Kawasan Konservasi, KSDAE yang memandu penilaian akhir METT agar proses penilaian berjalan dengan dilakukan secara Objektif, Transparan, Partisipatif, Reguler, Independen, Introspeksi dan Berbagi Pengelahuan (sharing knowledge), Kegiatan berlangsung lancar hingga hari kedua dilakukan skoring penilaian dan penyampaian rekomendasi. Dari hasil fasilitasi penilaian METT TN Kepulauan Seribu tahun 2019 menghasilkan Nilai Efektifitas sebesar 80%, meningkat 10% dari tahun 2017 (70%), namun hasil ini masih nilai awal dan memerlukan pencermatan kembali dengan dilengkapi dokumen pendukung penilaian. Dari kegiatan ini pihak Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu juga memperoleh banyak saran dan masukan dari para peserta, sehingga data dan informasi yang diperoleh tidak hanya terjadi dalam kegiatan penilaian METT, namun juga bisa digunakan sebagai pelaksanaan pengelolaan kegiatan. Sumber : Apen Sukmawijaya - Balai TN Kepulauan Seribu

Menampilkan 5.089–5.104 dari 11.140 publikasi