Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

POLHUT SPTN II BASERAH BEKERJASAMA DENGAN TIM BALAI GAKKUM KLHK SUMATERA SEGEL DAN PASANG PLANG DI LOKASI KARHUTLA

Baserah, 27 Agustus 2019 – Polhut SPTN Wilayah II Baserah bekerjasama dengan tim Gakkum KLHK Sumatera dalam rangka menyegel dan memasang plang lokasi kebakaran hutan dan lahan di Resort Onangan Nilo. Polhut dan tim Gakkum KLHK Sumatera juga didampingi oleh perangkat Desa Lubuk Kembang Bunga terdiri dari Kepala Dusun, RT dan RW. Berdasarkan keterangan Kepala Resort Onangan Nilo Bapak Joni Putra Siregar yang ikut dalam penyegelan dan pemasangan plang, plang yang dibawa tim Gakkum KLHK Sumatera berjumlah 6 unit. Kegiatan pemasangan plang dan penyegelan telah selesai dipasang di beberapa areal karhutla di Resort Onangan Nilo SPTN Wilayah II Baserah. Kepala Resort Onangan Nilo juga menyampaikan bahwa selama kegiatan, petugas dan tim Gakkum KLHK Sumatera sudah tidak menemukan titik api dan dipastikan padam keseluruhan, dan kondisi area tengah mengalami hujan ringan. Maksud dari penyegelan dan pemasangan plang ini merupakan bagian dari proses hukum terhadap kejadian karhutla yang terjadi di kawasan TN Tesso Nilo. Kepala Balai TN Tesso Nilo Ir. Halasan Tulus menyampaikan, “melalui aparat penegak hukum kita akan selidiki, telusuri dan menindak tegas pelaku pembakaran. TN Tesso Nilo akan bekerja sama dengan Balai Gakkum KLHK Sumatera dan pihak Kepolisian dan di bantu TNI untuk bersama-sama mengejar pelaku karhutla”, Ujar Kepala Balai. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Ayo Berpetualang ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Rabu, 28 Agustus 2019 - Taman Nasional Aketajawe Lolobata, kini bukan lagi nama kawasan konservasi yang asing di telinga kita. Keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini tak perlu diragukan lagi. Sebagai wilayah yang masuk dalam garis Wallacea, taman nasional ini menjadi incaran bagi para peneliti dari berbagai belahan dunia. Kawasan konservasi yang terletak di Pulau Halmahera, Maluku Utara ini, juga tercatat memiliki sejumlah wisata alam terekstrim di Indonesia versi Tempo.co. Bagi para petualang dan pencinta wisata alam di Indonesia, Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan kawasan yang masuk dalam daftar prioritas kunjungan mereka. Dalam Taman Nasional ini, masih banyak tempat indah dan unik yang belum terjamah dan terindentifikasi. Bagi para peneliti dan petualang, ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk tetap mencari, menemukan dan mengidentifikasi sesuatu hal yang dianggap belum pernah ditemukan oleh orang lain di dalam kawasan ini. Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga tercatat beberapa temuan-temuan besar pada abad ini yang menggegerkan dunia pengetahuan diketahui ditemukan disini (kawasan TNAL). Catatan "Alfred Russel Wallace" juga menyebutkan bahwa kawasan ini masih menyimpan berjuta misteri yang belum terkuak. Dari catatan inilah sehingga mendorong banyak peneliti, petualang dan para pemburu berita untuk datang dan mengeksplorasi kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Untuk mengunjungi kawasan ini, anda harus benar-benar membuat rencana yang matang dan mempersiapkan segala keperluan anda selama berada didalam hutan taman nasional ini. Bila anda berniat untuk berkunjung ke Aketajawe Lolobata, berikut ini rute yang harus ditempuh untuk menuju ke kawasan TNAL ; Dari Jakarta, anda bisa menggunakan penerbangan langsung Jakarta - Ternate. Tiba di Bandara Sultan Babullah Ternate, anda harus menuju ke Pelabuhan Semut Mangga Dua Ternate untuk menumpangi Spid boat reguler yang selalu tersedia selama 24 jam. Dengan menumpangi Spid boat selama 30 menit, anda tiba di Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Untuk menuju ke kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata, terdapat dua resort yang merupakan tempat favorit bagi wisatawan yaitu resort Akejawi dan resort Tayawi. Jarak dan waktu tempuh dua resort ini sama berkisar 1,5 jam perjalanan. Sebelum memutuskan perjalanan anda, sebaiknya kami sarankan untuk singgah ke Kantor Balai TNAL yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan Spid boat Sofifi. Tujuannya agar mengetahui potensi dan daya tarik apa saja yang ada di 2 resort ini. Gimana Sobat wisata, apakah cukup jelas penjelasannya?? Nah, kalau sudah jelas! Tunggu apa lagi? Ayo datang dan nikmati keindahan alamnya serta rasakan sensasi berpetualang di Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber: Balai TN Aketajawe Lolobata #ayoketamannasional #kementerianlhk #aketajawelolobatanationalpark
Baca Berita

Koordinasi untuk Mengatasi Bencana Kekeringan di Pulau Sumba

Waingapu, 27 Agustus 2019. Musim kemarau tahun ini dirasakan cukup lama di seluruh kawasan Indonesia termasuk Pulau Sumba. Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) sebagai penganggung jawab dalam mengatasi permasalahan tersebut melakukan berbagai macam cara agar masyarakat dapat memperoleh air bersih untuk penghidupannya. Termasuk berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M., menerima langsung kunjungan Kepala Pelaksana BPBD Kab. Sumba Timur di ruang kerjanya. Dalam pertemuan itu dibahas mengenai pemanfaatan air non komersial dari dalam kawasan TN Matalawa. Kepala BPBD mengungkapkan bahwa kawasan TN Matalawa mempunyai peran penting sebagai catchment area di Pulau Sumba, oleh karena itu TN Matalawa dapat berperan dalam mitigasi bencana khususnya bencana kekeringan. Kepala Balai menyambut baik ajakan Kepala BPBD untuk memanfaatkan air dari dalam kawasan untuk mitigasi bencana. Balai TN Matalawa akan memproses usulan tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku demi mengatasi bencana kekeringan serta kesejahteraan masyarakat di Pulau Sumba. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Orangutan Goes to School di CB Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu

Putussibau, 28 Agustus 2019. Cagar Biosfer (CB) Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu turut memperingati “International Orangutans Day 2019” melalui beberapa rangkaian kegiatan seperti Talkshhow di Radio, Konser Di Rumah Betang untuk Konservasi Orangutan, Orangutan Goes to School, Talkshow di Cafe yang mulai dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2019 – 31 Agustus 2019 di Putussibau dan sekitarnya. Aripin, Koordinator PEH Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BB TaNa Bentarum) menyatakan bahwa kegiatan peringatan orangutan di Kapuas Hulu ini adalah kerjasama antara BB TaNa Bentarum dengan WWF Indonesia, TFCA Kalimantan, Putussibau Art Comunity (PAC) dan Pramuka Kwarcab Kapuas Hulu. Kegiatan ini sangat penting dilakukan, dimana Kabupaten Kapuas Hulu telah ditetapkan sebagai cagar biosfer merupakan habitat alami dari orangutan kalimantan (Pongo pymaeus pygmaeus) yang tersebar di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan hutan lindung di sekitarnya. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan penyadartahuan masyarakat umum dan pelajar tentang pentingnya upaya konservasi orangutan dan habitatnya yang di ada Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu. Sementara Ismu selaku koordinator kegiatan yang juga staf WWF Hulu Kapuas Landscape menambahkan bahwa kegiatan kegiatan kampanye perlindungan orangutan di sekolah ini diberi tema “Orangutan Goes to School” bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta dan bangga terhadap kekayaan sumberdaya alam Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu dan membentuk serta mengembangkan jiwa konservasionis pada siswa, generasi muda serta masyarakat umum. Kegiatan Orangutan Goes to School dilaksanakan mulai tanggal 26 s/d 28 Agustus 2019 di SD dan SMP Karya Budi, SDIT Insan Mulia Putussibau, SMPN 7 Putussibau, MIN Putussibau dan SMPN 1 Putussibau. Kegiatan tersebut berisi tentang paparan konservasi orangutan, pemutaran film dan game edukatif lainnya yang terkait dengan konservasi orangutan. Peringatan International Orangutans Day rutin dilaksanakan setiap tahunnya ditingkat internasional untuk mengkampanyekan perlindungan terhadap orangutan. Sebagai habitat orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) terluas, Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu sudah seharusnya menjadikan event ini sebagai kegiatan rutin yang harus dilaksanakan setiap tahunnya untuk meningkatkan kepedulian terhadap konservasi orangutan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sumber : PEH Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

KEPALA RESORT AIR HIAM BAGAN LIMAU MONITORING PERKEMBANGAN PROGRAM PE DI DESA AIR HITAM

Air Hitam Bagan Limau, 28 Agustus 2019. –Program Pemulihan Ekosistem (PE) TN Tesso Nilo, terus dipantau dan dimonitoring perkembangannya oleh Kepala Resort Air Hitam Bagan Limau. Kegiatan monitoring ini dilaksanakan bersama staf SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga dan anggota TNI sebagai mitra kerja. Kegiatan monitoring ini adalah kegiatan rutin untuk mengawasi pelaksanakan kegiatan PE. Kegiatan kegiatan yang tengah dilakukan oleh kelompok tani Desa Air Hitam diantaranya adalah kegiatan pembibitan tanaman hutan dan MPTS. Kegiatan tersebut diantaranya penyiapan lokasi pembibitan, pemasangan jarring, pemasangan paranet,pengisian tanah ke polibag. Selain ini juga dilakukan perawatan rutin terhadap bibit-bibit yang telah ditanam sebelumnya. Kepala Resort Air Hitam Bagan Limau Bapak Ahmad Gunawan S.Hut beserta tim juga berdiskusi dengan kelompok tani hutan Desa Air Hitam. Kegiatan diskusi ini untuk menggali informasi terkait kendala permasalahan yang dihadapi oleh kelompok petani hutan. Diharapkan dengan kegiatan monitoring secara rutin dapat membantu kelompok tani hutan untuk terus bersemangat berkarya sehingga mendorong kesuksesan program PE ini. Sesuai dengan pernyataan Kepala Balai TN Tesso Nilo Ir. Halasan Tulus,”kegiatan monitoring akan terus kita laksanakan untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi kelompok masyarakat dan segera kita atasi permasalahan tersebut secara bersama sehingga mempercepat dan memperlancar kesuksesan promram PE ini di TN Tesso Nilo” ungkap Kepala Balai. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Menjelang Hari Orangutan Internasional, BKSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia Selamatkan Orangutan

Pangkalan Bun, 26 Agustus 2019 - Balai KSDA Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) bersama OF-UK Indonesia dalam waktu berurutan melakukan penyelamatan Orangutan yang dipelihara oleh warga dan Orangutan yang berada di area kebun sawit warga. Orangutan peliharaan tersebut diserahkan secara sukarela kepada Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) SKW II BKSDA Kalteng oleh warga Desa Bejarum, Kecamatan Besi, Sampit, Kalteng, Kamis (15/08) siang. Keesokan harinya, Jumat (16/08), Tim WRU SKW II BKSDA Kalteng bersama Tim Rescue OF-UK Indonesia menyelamatkan 2 individu Orangutan yang terjebak di pepohonan yang masih tersisa dalam area kebun sawit milik warga Desa Sungai Tendang Tempenek, Kecamatan Kumai, Kotawaringin Barat. Kedua kejadian tersebut bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia dan menandai peringatan Hari Orangutan Internasional 2019 yang setiap tahunnya diperingati setiap tanggal 19 Agustus. Penyerahan orangutan berawal dari laporan yang diterima oleh Petugas SKW 2 BKSDA Kalteng terkait adanya warga yang ingin menyerahkan Orangutan peliharaan di Kota Sampit. Tim WRU bersama Tim Rescue OF-UK Indonesia berangkat menuju Kota Sampit melalui jalan darat yang ditempuh sekitar 5 jam dari Kota Pangkalan Bun. Warga bernama Anang Ariansyah, pemilik Orangutan menyambut kedatangan tim dengan baik dan memberikan informasi tentang latar belakang kepemilikan satwa dilindungi tersebut. Menurut Pak Anang, awal mulanya ketika pada tahun 2012 PT. NSP membuka lahan untuk perkebunan sawit, Pak Anang yang bekerja sebagai buruh lokal pemungut sisa-sisa pohon di lahan milik PT. NSP menemukan anak Orangutan tanpa induk. Saat itu, karena kurangnya informasi mengenai larangan memelihara satwa liar dilindungi, dia memelihara Orangutan betina tersebut yang diberi nama Pegi dan disimpan dalam kandang di bantaran sungai dekat rumahnya. Setelah 7 tahun memelihara Orangutan Pegi, Pak Anang yang sadar akan peraturan mengenai larangan memelihara Orangutan, dia melaporkan dan ingin menyerahkan Orangutan Pegi ke BKSDA. Pada kesempatan tersebut, Muriansyah, Polisi Kehutanan SKW II BKSDA Kalteng, memberikan penjelasan kepada Pak Anang tentang larangan dan bahaya memelihara satwa liar dilindungi. Pak Muri menyampaikan bahwa memelihara Orangutan merupakan tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang No. 5 Tahun 1990. Selain itu, memelihara Orangutan juga rawan terhadap beberapa penyakit zoonosis yang dapat menjangkit dan menular antara manusia dan orangutan, seperti Hepatitis dan TBC. Setelah penjelasan selesai, proses selanjutnya dilakukan penandatangan berita acara penyerahan Orangutan oleh Pak Anang dan petugas BKSDA Kalteng. Sementara itu pada hari Jum’at (16/08), BKSDA SKW 2 Kalteng mendapat laporan adanya Orangutan liar di kebun sawit warga atas nama Haji Samsu. Setelah staf BKSDA berada di lokasi untuk mengonfirmasi keberadaan Orangutan, Tim WRU dan Tim Rescue berangkat menuju lokasi. Di lokasi kejadian terlihat adanya sarang yang sudah lama di satu pohon serta Orangutan berjenis kelamin betina terpantau sehat dan aktif sedang berada di atas pohon bersama anaknya. Orangutan tersebut berada di lokasi hutan yang terfragmentasi dengan ukuran 10 x 20 meter yang sekelilingnya merupakan kebun sawit dan tidak ada hutan yang tersambung di area kebun sawit tersebut. Selain itu, hutan terdekat yang cocok dianggap terlalu jauh untuk dilalui oleh pasangan orangutan tersebut, maka demi keselamatannya, tim memutuskan untuk melakukan penyelamatan (rescue) orangutan tersebut. Ketika akan dilakukan pembiusan, tim terkendala posisi Orangutan yang berada di atas pohon yang tingginya sekitar 25 meter dan selalu berpindah pohon, seperti menghindar dari jangkauan penembak bius. Selain itu, angin juga berhembus cukup kencang, sehingga tembakan bius sempat meleset 4 kali. Setelah 7 jam percobaan rescue, akhirnya Orangutan berhasil dibius pukul 18:00 WIB, karena kondisi lapangan sudah gelap maka pemeriksaan fisik dilakukan dengan cepat. Setelah itu, Orangutan dimasukkan ke dalam kandang transport untuk dievakuasi sementara ke kantor SKW 2 Pangkalan Bun, BKSDA Kalteng. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada keesokan harinya, orangutan betina diberi nama Augustin dan anaknya yang telah diidentifikasi sebagai jantan diberi nama Augusta. Orangutan hasil penyerahan dan penyelamatan tersebut telah dilakukan pemeriksaan kesehatan secara maraton dan komprehensif oleh Tim yang dipimpin oleh dokter hewan OF-UK Indonesia, drh. Dimas Yuzrifar. Pada hari Sabtu (17/08) tim melakukan pengecekan kesehatan kepada Orangutan Pegi meliputi pemeriksaan fisik, penimbangan berat badan, dan pengambilan sample darah. Orangutan Pegi memiliki berat badan 15 kg dengan umur sekitar 8 tahun. Menurut drh. Dimas, Orangutan Pegi tidak terdapat tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya serta rambutnya cukup bagus dan panjang. Selain itu, hasil tes kesehatan kepada Orangutan Pegi tidak menunjukan adanya penyakit infeksius. Selanjutnya, hari minggu (18/08), tim melakukan pemeriksaan kesehatan kepada Orangutan Augustin dan Augusta. Tim memutuskan melakukan rontgen kepada Orangutan Augustin untuk memastikan posisi dan jumlah peluru senapan angin yang ada di badan Orangutan tersebut. Berdasarkan hasil rontgen, terdapat 7 buah peluru senapan angin pada tubuh Orangutan Augustine. Selanjutnya tim melakukan operasi kecil pengambilan peluru senapan angin, tim berhasil mengeluarkan 5 dari 7 peluru dari tubuh Orangutan tersebut. Menurut drh. Dimas, karena posisi 2 peluru sisanya berada jauh di dalam otot sehingga dibutuhkan operasi yang lebih besar dan alat yang memadai, maka tim memutuskan untuk tidak mengambilnya. Drh. Dimas juga telah mengidentifikasi umur Orangutan Augustine dan menimbang berat badannya, Augustine berumur 16 tahun dengan berat badan 37 kg, sementara anaknya Augusta berumur sekitar 2-3 tahun dengan berat badan 8 kg. Pada hari Senin (19/08), karena prosedur medis hari sebelumnya telah berjalan lancar dan setelah pemeriksaan terakhir dari tim, Orangutan Augustine dan Augusta akhirnya dilepaskan kembali ke alam liar bertepatan dengan Hari Orangutan Internasional. Tim OF-UK Indonesia bersama BKSDA Kalteng berangkat ke Suaka Margasatwa Lamandau untuk melakukan translokasi Orangutan Augustine dan Augusta. Setelah sekitar satu jam perjalanan, tim sampai di lokasi translokasi, yaitu di sekitar Camp Gemini, Suaka Margasatwa Lamandau, ketika kandang dibuka kedua Orangutan tersebut terlihat gembira langsung memanjat pohon terdekat. Manajer Reintroduksi OF-UK Indonesia, Azhari Purbatapsila yang memimpin proses rescue dan translokasi orangutan menyatakan bahwa Suaka Margasatwa Lamandau merupakan lokasi yang ideal karena wilayah ini aman yang dijaga secara intensif staf lapangan OF-UK Indonesia dan BKSDA Kalteng dengan menempati beberapa pos jaga di titik strategis. Azhari juga mengungkapkan bahwa Tim OF-UK Indonesia bersama tim BKSDA Kalteng merasa bangga telah berhasil melepaskan kembali induk Orangutan beserta anaknya ke alam liar yang diharapkan dapat berkembang di habitat baru yang dilindungi. Sementara itu, Rabu (21/08), Orangutan Pegi dibawa menuju Camp Pelepasliaran Orangutan di Camp Buluh, Suaka Margasatwa Lamandau untuk mengikuti program soft release. Di Camp Buluh, setiap hari Orangutan Pegi akan menjalani latihan kemampuan bertahan hidup di Suaka Margasatwa Lamandau. Program Manager OF-UK Indonesia, Hendra Gunawan, menyatakan dengan kehadiran Pegi, Orangutan soft-release yang ada di Camp Buluh menjadi 2 individu, kedua Orangutan tersebut diharapkan segera mampu mempelajari kemampuan bertahan hidup dan akhirnya dapat kembali liar di alam. Hendra juga menegaskan dengan memperhatikan peristiwa penyerahan dan penyelamatan Orangutan tersebut, menunjukan bahwa Orangutan tetap masih terancam dari hilangnya habitat, baik dari alih fungsi hutan maupun kebakaran hutan. Sementara itu Kepala Balai KSDA Kalteng, Ir. Adib Gunawan menyampaikan bahwa dua kejadian tersebut mengingatkan kembali kepada semua pihak untuk terus meningkatkan kesadaran, partisipasi, kerjasama, dan sinergi dalam upaya konservasi orangutan dan habitatnya (htg). Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah dan OF-UK Indonesia ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah Ir. Adib Gunawan – 08115451118 Head of Indonesia Country Office/Program Manager OF-UK Indonesia, Hendra Gunawan – 081352262870
Baca Berita

Meriah! Pelepasan Tukik di Kawasan Pantai TN Gunung Leuser

Tapaktuan, 27 Agustus 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser kembali menggelar kegiatan pelepasliaran tukik di kawasan pantai Singgah Mata Rantau Sialang, Seksi Pengelolaan TN Wilayah II Kluet Utara, Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Tapaktuan, kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh pada Senin (26/8) pagi. Puluhan tukik dengan jenis penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea) berusia 3-5 bulan dilepas ke lautan lepas. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke – 74 tahun 2019, mengusung tema “Ayo gali spirit konservasi alam milenial menuju Indonesia unggul”. Gelaran acara dirangkai dengan berbagai kegiatan diantaranya ; pertunjukan tari tradisonal, pesta rakyat dalam bentuk perlombaan, pelepasan tukik penyu dan pembagian door prize. Hadir dalam agenda ini FORKOPIMDA Kabupaten Aceh Selatan, SKPK, MUSPIKA Kecamatan Kluet Selatan, Kluet Timur, Bakongan, KPH Wilayah IV Aceh, BKSDA Aceh, PERS, Mitra TN. Gunung Leuser dan masyarakat umum. Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan, Agung Widodo, S.H, M.H, mengatakan bahwa, kegiatan pelepasliaran tukik penyu laut ini diinisiasi melalui program BCCPGLE – (KFW) – BBTNGL dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tujuannya adalah mensosialisasikan tentang pentingnya menjaga, mempertahankan dan melestarikan penyu, sebagai salah satu pengontrol laju ekosistem laut. “Kegiatan ini juga sebagai ajang promosi wisata edukasi terhadap masyarakat yang berada di sekitar kawasan TN. Gunung Leuser”, jelasnya. Dalam sambutannya, Bupati Aceh Selatan yang diwakilkan oleh Bapak H. Nasjuddin, SH. MM, memberikan apresiasi kepada petugas TN. Gunung Leuser atas keberhasilannya dalam pelestarian penyu laut. Disamping itu Nasjuddin menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah dibawah jajarannya untuk bersama melindungi dan melestarikan penyu laut demi generasi yang akan datang. [teks&foto©bbtngl/efa/ulul|27082019] Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Warga Menyerahkan Orangutan Sumatera di Peurlak Kabupaten Aceh Timur

Aceh Timur, 27 Agustus 2019. Personil Seksi Konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe Resor Wilayah 12 Langsa bersama Tim Orangutan Information Center (OIC) didampingi anggota Sub Denpom IM/1-2 Langsa melakukan Penyelamatan Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) yang diserahkan oleh seorang Warga Gampong Kabu Kecamatan Peurlak Kabupaten Aceh Timur. Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) yang diserahkan berjenis kelamin betina dengan perkiraan usia ± 5 (Lima) Tahun dengan kondisi sehat (hasil pemeriksaan tim dokter hewan OIC) yang menurut keterangan masyarakat yang menyerahkan didapatkan di areal kebunnya saat dia sedang beraktifitas berladang. Selanjutnya Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) akan di Karantina di Pusat Karantina-Rehabilitasi Orangutan Sumatera YEL-SOCP Batu Mbelin Sibolangit Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2. Habitat Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berada di hutan dataran rendah yang lembab, hutan pegunungan, dan rawa gambut. Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) termasuk satwa liar yang memiliki perilaku aktif pada siang hari (diurnal) dan lebih banyak beraktifitas di atas pepohonan (aroboreal). Usia Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) di alam liar dapat mencapai kisaran 53 tahun pada betina dan 58 tahun pada jantan. Secara umum, Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) termasuk satwa liar pemakan buah-buahan, yang juga memakan daun-daunan, tunas, biji, bunga, beberapa serangga seperti semut dan rayap. Masa kehamilan pada betina dari Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) ini yaitu sekitar 254 hari. Kelangsungan hidup dan populasi Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) kini sudah mulai terancam menurun akibat habitat yang mulai berkurang dan populasi satwa yang terfragmentasi. Penebangan kayu, pelebaran akses jalan, banyaknya hutan yang menjadi area perkebunan industri, dan perburuan satwa liar menjadi ancaman terbesar terhadap populasi Orangutan Sumatera ini. Semoga apa yang telah dilakukan oleh Warga Gampong Kabu Kecamatan Peurlak Kabupaten Aceh Timur dapat diikuti oleh masyarakat lainnya demi keberlanjutan Keanekaragaman Hayati. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Penanggung Jawab : Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe - Kamarudzaman, S.Hut (085359997552)
Baca Berita

PEH Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Mengejar Sosok AVATAR

Satu aspek strategis dalam pelaksanaan tupoksi Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) yaitu pengelolaan keanekaragaman hayati yang harus tetap terjaga kelestariannya baik flora maupun fauna dalam satu kesatuan ekosistem. Pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) merupakan sumber daya internal yang memperoleh mandat khusus untuk melaksanakan tugas tersebut. Fungsional PEH memang sakti mereka adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengendalian ekosistem hutan. Didalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya fungsional PEH berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.10/MENHUT-II/2014 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan dan Angka Kreditnya. Menjadi pejabat fungsional PEH merupakan sesuatu kebanggaan tersendiri, karena dari namanya sudah terlintas sosok “AVATAR” yaitu seorang pengendali yang memiliki tugas begitu komprehensif di bidang kehutanan. Mulai dari perencanaan hutan, pemantapan kawasan hutan sampai pemanfaatan hasil hutan. Termasuk juga menangani rehabilitasi hutan dan lahan, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) serta konservasi sumberdaya hutan secara efektif dan efisien menuju pengelolaan hutan berkelanjutan. Tidak dapat dipungkiri lagi, pada kenyataannya saat ini pejabat fungsional PEH dapat mengerjakan berbagai tugas dan keahlian yang terkadang menjadi dilema karena di luar Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi). Dengan kondisi demikian dapat dinyatakan seorang PEH adalah pegawai yang “multytalented” yang dapat mengerjakan berbagai tugas. Dalam rangka optimalisasi tupoksi tersebut perlu selalu ditingkatkan kemampuan, wawasan, dan pengetahuan para fungsional PEH. Kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM PEH Lingkup BBTNGGP menjadi hal yang perlu dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Tanggal 27 sampai 28 Agustus 2018 dilaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM PEH lingkup BBTNGGP di Talaga Saat Cibulao Puncak-Bogor, diikuti oleh seluruh Fungsional PEH dan Pejabat Struktural lingkup BBTNGGP berjumlah 50 orang. Kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM PEH lingkup BBTNGGP kali ini mengambil materi dalam bidang fotografi dan membangun tim kerja yang solid. Maksud dari kegiatan ini yaitu mempertemukan seluruh fungsional PEH dan Pajabat Struktural lingkup BBTNGGP dalam suatu acara dalam rangka menerima materi dan berdiskusi serta bermain bersama. Dengan tujuan meningkatkan pemahaman, wawasan serta keterampilan para Pejabat Fungsional PEH lingkup Balai Besar TNGGP tentang fotografi pada alam terbuka dan membangun tim kerja yang solid. Kegiatan dilaksanakan melalui metode belajar dalam ruangan (in-class) untuk materi teori dan diskusi. Metode praktik untuk mengaplikasikan materi yang sudah didapat secara langsung di lapangan. Metode permainan digunakan pada saat membangun tim kerja yang solid. Output yang diharapakan dari kegiatan ini agar para pejabat PEH mendapat bekal berharga dalam pelaksanaan tupoksi dimanapun dan situasi apapun dalam bertugas. Bulan ini merupakan bulan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia, untuk itu seiring dengan tema Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU”, melalui momentum kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM PEH Lingkup BBTNGGP, ke depan diharapkan fungsional PEH menjadi “Professional, Exist dan Helpful” dalam rangka mewujudkan ”PEH UNGGUL TNGGP MAJU”. Sumber: I Made Artawan (Koordinator PEH) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pemberantasan Jerat Satwaliar dalam Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat

Sungai Penuh, 24 Agustus 2019. Sebagai tindak lanjut dalam upaya pemberantasan jerat satwaliar dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, serta ditemukannya 2 (dua) ekor bangkai kambing hutan hasil perburuan liar pada awal bulan Agustus di wilayah Resort Kerinci Utara, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, tim Patroli Polhut Balai Besar TNKS bersama tim TPCU kembali melakukan patroli pengamanan hutan di wilayah Resort Kerinci Utara SPTN Wilayah I tepatnya di sekitar wilayah Gunung Tujuh. Patroli ini dilakukan selama 7 hari melewati jalur perbukitan yang terdiri dari beberapa anak gunung. Tim melakukan penyisiran pada jalur-jalur yang diduga masih terdapat banyak jerat. Pada patroli ini tim berhasil menemukan 7 (tujuh) buah jerat. Jerat satwa tersebut dipasang di kanan kiri sepanjang jalur aktif. Pada salah satu jerat yang terpasang tersebut ditemukan bangkai anak kijang yang diperkirakan masih berumur 3-4 bulan. Selanjutnya, tim melakukan pengintaian selama 2 hari di lokasi tersebut namun tidak ditemukan pelaku. Terhadap bangkai kijang dilakukan pemusnahan di tempat karena tidak memungkinkan untuk dibawa ke kantor karena kondisi yang sudah mulai membusuk dan berulat. Sedangkan jerat yang ditemukan diamankan di kantor Balai Besar TNKS untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Suber: Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

SEMARAKKAN HUT KEMERDEKAAN KE-74 REPUBLIK INDONESIA BALAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA MENYELENGGARAKAN LOMBA MEWARNAI, MENGGAMBAR, MEMBUAT POSTER, DAN MEMBUAT VIDEO PENDEK

Sintang, 24 Agustus 2019. Lomba yang berlangsung dengan suasana yang penuh semangat sportifitas dalam atmosfer nasionalisme ini melibatkan ratusan peserta. Lomba Mewarnai diikuti oleh 42 orang peserta dari 10 TK/RA dan 2 PAUD di Sintang, Lomba Menggambar kategori SD Kelas 1-3 diikuti oleh 57 orang peserta dari 16 SD/MI/sederajat di Sintang. Lomba Menggambar kategori SD Kelas 4-6 diikuti oleh 56 orang peserta dari 18 SD/MI/sederajat di Sintang. Lomba Mewarnai dan Menggambar juga diikuti oleh putra-putri DWP TNBBBR. Sedangkan Lomba Membuat Poster Konservasi diikuti oleh sebanyak 49 orang peserta dari SMP/MTs sederajat di Sintang dan Lomba Membuat Video Pendek Konservasi sebanyak 7 video dari SMA/sederajat di Kecamatan Sintang dan Kelam Permai. Selama lomba berlangsung, kepada Bapak dan Ibu Guru pendamping dan orang tua siswa, panitia melibatkan mereka dalam pendidikan lingkungan. Beberapa materi yang diberikan meliputi Pengenalan Pengelolaan TNBBBR, Pengenalan Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan, dan Pengelolaan Sampah Plastik. Disela pemberian materi panitia juga memberikan beberapa game/permainan dan mengganjar merchandise menarik bagi audiens yang mempu menjawab pertanyaan kuis dan mengikuti permainan dengan baik. Permaianan mengenali, menebak dan menirukan suara burung dari jenis-jenis Bucerotidae salah satu yang sangat menarik perhatian audiens. Beberapa audiens yang sebagian besar adalah tenaga pendidik mengatakan bahwa mereka baru mengetahui ciri-ciri dan suara burung jenis Enggang Gading (Rhinoplax vigil) yang merupakan maskot Provinsi Kalimantan Barat. Sambil menunggu penjurian dan acara pengumuman pemenang lomba, panitia memberikan materi edukasi pendidikan lingkungan kepada peserta lomba mewarnai dan menggambar yang sebagian besar adalah siswa/siswi PAUD – TK dan SD di Sintang. Pendidikan lingkungan pada dasarnya adalah untuk mengubah perilaku individu menjadi perilaku yang positif terhadap lingkungan (perilaku ramah lingkungan). Untuk membangkitkan kesadaran manusia terhadap lingkungan hidup di sekitarnya, proses yang paling penting dan harus dilakukan adalah dengan menyentuh hati. Jika proses penyadaran telah terjadi dan perubahan sikap dan pola pikir terhadap lingkungan telah terjadi, maka dapat dilakukan peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan, serta peningkatan keterampilan dalam mengelola lingkungan. Melalui kegiatan ini Balai TNBBBR ingin ikut berperan serta dalam mencerdaskan anak bangsa dan ikut serta dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas terutama generasi yang peduli dan mecintai alam dan lingkungan di sekitarnya. Melalui pendekatan penyebarluasan pendidikan lingkungan yang sistematis terutama pada generasi muda diharapkan dapat membentuk karakter millenial yang peduli lingkungan dan tanggap perubahan. Nilai penting kelestarian dan keberlanjutan tidak hanya untuk diresapi namun juga digaungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Peran serta berbagai pihak dibutuhkan dalam upaya penyebarluasan pesan-pesan pelestarian kepada masyarakat untuk menggiatkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Dalam kegiatan ini pihak Balai TNBBBR didukung oleh para mitra pengelolaan, diantaranya Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Penyelamatan Orangutan Kalimantan (BOSF), WWF Indonesia, dan BPDASHL Kapuas. Kegiatan Lomba Mewarnai, Menggambar, Membuat Poster, dan Membuat Video Pendek Konservasi ditutup oleh Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Bapak Agung Nugroho, S.Si., M.A., beliau berpesan bahwa “Dalam perlombaan ini bukan hanya tentang siapa yang menang, tapi bagaimana setelah lomba ini kita dapat menjadi anak bangsa yang lebih mencintai Indonesia, mencintai alam dan siap menjadi generasi unggul penerus pembangunan”. Dalam rangka peringatan HUT RI ke-74 tahun, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) pada Hari Sabtu, tanggal 24 Agustus 2019 menyelenggarakan rangkaian kegiatan lomba – lomba, diantaranya Lomba Mewarnai untuk Tingkat PAUD –TK/RA, Lomba Menggambar untuk Tingkat SD/MI kelas 1 – 3, Lomba Menggambar untuk Tingkat SD/MI kelas 4 – 6, Lomba Membuat Poster Konservasi untuk Tingkat SMP/MTs, dan Lomba Membuat Video Pendek Konservasi untuk Tingkat SMA/SMK/sederajat di Kota Sintang. Lomba dilaksanakan di Kantor Balai TNBBBR ditengah cuaca yang sangat bersahabat. Tema yang diangkat pada Lomba Mewarnai dan Menggambar adalah “Aku Cinta Alam Indonesia, Akan Aku Jaga Sepanjang Masa”, sedangkan tema yang diangkat pada Lomba Membuat Poster dan Membuat Video Pendek Konservasi adalah “Peduli Lingkungan Hidup dan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati”, sangat relevan dengan tag line HUT Kemerdekaan RI tahun ini “SDM Unggul Indonesia Maju”. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNBBBR, Bapak Doni Maja Perdana, S.Hut yang mewakili Kepala Balai TNBBBR. Dalam sambutannya Bapak Doni Maja Perdana, S.Hut berpesan bahwa “Kegiatan yang bertujuan untuk menanamkan kesadaran, kecintaan dan kepedulian generasi muda pada lingkungan hidup dan konservasi sumberdaya alam hayati ini dapat mendorong terwujudnya Indonesia Maju”. Sumber: Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

TERJERAT JARING NELAYAN, 2 EKOR PENYU DIEVAKUASI KE HABITATNYA

Tombariri, 26 Agustus 2019. Dua ekor penyu yang terjerat di jaring nelayan berhasil dievakuasi kembali ke habitatnya. Adalah Bapak Apolos Bungkaesang seorang nelayan dari Desa Teling, Kecamatan Tombariri menemui kejadian tersebut pada Sabtu 24 Agustus 2019 sekitar pukul 07.00 pagi, menyadari ada 2 ekor penyu yang terjerat di jaring sero miliknya, selanjutnya langsung menghubungi anggota MMP Resort Poopoh dan kemudian dilanjutkan informasinya ke Koordinator Resort. Selanjutnya pada hari Senin 26 Agustus 2019, dengan dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Hendrieks Rundengan SP, penyu tersebut kemudian dievakuasi bersama Polisi Kehutanan, staf SPTN Wilayah II dan petugas MMP beserta nelayan setempat. Kepala Seksi menyampaikan bahwa penyu merupakan satwa prioritas yang ditingkatkan populasinya. Satwa ini dilindungi berdasarkan PP 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar jo Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri LHK No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Jenis Tumbuhan Satwa Yang Dilindungi. Keberadaan penyu sangat penting dari sisi ekologi, yakni sebagai salah satu indikator keseimbangan biologis, menjaga kondisi hamparan lamun serta memungkinkan karang berkoloni dan terumbu karang menjadi sehat kembali. Kita tahu bersama bahwa terumbu karang merupakan ekosistem kompleks tempat dimana ikan berkembang biak, sehingga dapat mendukung manfaat ekonomi bagi nelayan dalam hal suplay ikan di perairan sekaligus karang yang bagus memberikan nilai intrinsik wisata alam, tutur Hendrieks. Dari hasil identifikasi diketahui bahwa penyu tersebut adalah jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas) dengan ukuran karapas P : 65 cm dan L : 45 cm dan bobot kurang lebih 55 kg, adapun penyu lainnya adalah Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) atau yg lebih dikenal sebagai hawksbill turtle dengan ukuran karapas P : 100 cm dn L : 50 cm dan bobot kurang lebih diatas 100 kg. Sumber: Balai TN Bunaken
Baca Berita

Membangun Pedesaan Melalui Semangat Pemberdayaan Masyarakat Desa Sekitar Kawasan Hutan

Waibakul, 23 Agustus 2019. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan merupakan kegiatan penting yang dilaksanakan dalam rangka menjaga kelestarian kawasan hutan. Kegiatan ini pun juga rutin dilakukan oleh para petugas Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) terutama para Penyuluh Kehutanan. Para penyuluh di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul, Bayu Kurniawan, S.Hut dan Ferdinand Dapadeda, S.Hut secara rutin melakukan pendampingan terhadap kelompok masyarakat desa binaan di Desa Katikuloku, Kec. Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang mempunyai nama Mata Morik ini terbentuk pada tahun 2009 dengan jumlah anggota 43 (empat puluh tiga) orang. Para penyuluh mendampingi masyarakat dalam melakukan budidaya ikan nila hasil bantuan pengembangan usaha ekonomi produktif di tahun 2017. Berdasarkan hasil pendampingan ini, kelompok telah berhasil melakukan budidaya ikan nila ini, dilihat dari hasil regenerasi ikan nila yang ketiga dari awal pemberian bibit ikan. Hasil panen ikan nila ini, menurut ketua kelompok, sebagian telah dijual dan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak hanya itu, tim penyuluh bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat juga melakukan pendampingan tehadap pengembangan tanaman holtikultura organik berupa kol, bawang merah, tomat dan Lombok. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M. yang melihat hasil laporan perkembangan pemberdayaan ini mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh dari bantuan ini dapat terus memberikan kontribusi bagi masyarakat serta membangkitkan semangat untuk menjaga kawasan hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Menghantarkan TARA Kembali Menikmati Kebebasannya

Yogyakarta 24 Agustus 2019, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta melepasliarkan seekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela) di komplek Stasiun Flora Fauna (SFF) yang termasuk bagian kawasan Taman Hutan Raya Bunder Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Sabtu (24/8/19). Asal usul dari elang bido tersebut dari penyerahan masyarakat pada tahun 2017 silam. Raptor berjenis kelamin betina ini sebelumnya direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Raptor SFF Bunder milik Balai KSDA Yogyakarta kurang lebih dua tahun. Setelah sekian lama direhabilitasi dan diobservasi baik kesehatan maupun perilaku sosial, perilaku berburu serta perilaku umum yang dilakukan oleh Resort Gunungkidul, akhirnya satwa tersebut dinyatakan telah siap dan direkomendasikan untuk bisa dikembalikan ke alam. Penyelenggaraan kegiatan ini didukung oleh Hotel Tara Yogyakarta, Gembira Loka Zoo, Fak.Biologi UGM dan Kader Konservasi yang ikut berpartisipasi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Si Tara cantik, begitu elang ular bido tersebut diberikan nama, bisa mengepakkan sayap di Angkasa SFF Bunder setelah dilepaskan secara bersama-sama dengan Mitra Hotel Tara, Gembira Loka Zoo, Dinas LHK D.I.Yogyakarta, BPDASHL SOP, BPKH Wil XI, Balai TNGM, P3EJ, Fak.Biologi UGM, Polsek Playen, Pemerintah Desa Gading Dan Bunder, dan Kader Konservasi. Kepala BKSDA Yogyakarta, M. Wahyudi sangat mengapresiasi kerjasama dengan Hotel Tara Yogyakarta dan para mitra dalam upaya konservasi satwa dilindungi sekaligus ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Selain itu salah satu tujuan utama dari rehabilitasi satwa adalah pengembalian satwa liar ke alam. “Ini merupakan wujud pencapaian salah satu harapan kegiatan konservasi satwa liar, dimana satwa dapat kembali lagi ke alam”, tuturnya. Lebih lanjut M. Wahyudi mengatakan bahwa kegiatan pelepasliaran merupakan upaya pengawetan satwa. Selain itu raptor merupakan top predator sehingga diharapkan akan membantu keseimbangan ekosistem. Pada kesempatan ini, juga ikut dilepasliarkan jenis burung Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) Merbah Terucuk (Pycnonotus goiavier) dan Dederuk Jawa (Streptopelia bitorquata). Selanjutnya di Sungai Oyo masih di dalam Tahura bunder, juga dilepaskan Jenis Ikan Wader dimana ikan tersebut termasuk jenis lokal Sungai Oya, masing-masing 108 ekor; serta 1 ekor Ular Sanca Kembang (Python reticulatus). BKSDA Yogyakarta - Hamemayu Hayuning Bawono Sumber : Y. Andie Chandra H. (PEH Balai KSDA Yogyakarta)
Baca Berita

SMK Kehutanan Negeri Manokwari Meningkatkan Kompetensi Keahlian Peserta Didik di TN Gunung Merbabu

Boyolali, 26 Agustus 2019. Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Ir. Junita Parjanti, MT menerima kedatangan 32 siswa kelas XVII SMK Kehutanan Negeri Manokwari. Siswa SMK Kehutanan Negeri manokwari akan mengadakan Kegiatan Praktek Kerja Lapangan selama 2 bulan di Kawasan TN Gunung Merbabu, setelah sebelumnya berlayar dari Manokwai menuju Kantor BTNGMb selama 5 hari. Pagi ini (26/8) siswa-siswi SMK Kehutanan Negeri Manokwari mengikuti apel pagi di halaman kantor Balai TN Gunung Merbabu. Dalam apel pagi ini Kepala Balai mengucapkan selamat datang di Balai TN Gunung Merbabu. Kepada seluruh siswa didik SMK Kehutanan Negeri Manokwari, Ibu Kepala Balai berpesan kepada semua adek-adek untuk selalu menjaga kesehatan, supaya kegiatan PKL dapat berjalan lancer dan dapat selesai sesuai dengan target, mengingat waktu pelaksanaan PKL cukup lama dan membutuhkan kondisi tubuh yang fit. Ibu Kepala Balai sekaligus memberikan arahan secara umum dalam kegiatan PKL. Kepala Balai TN Gunung Merbabu menyambut baik kegiatan PKL ini dan mendukung sepenuhnya. Harapan besarnya data-data yang diperoleh dari kegiatan PKL ini bisa memperkaya koleksi bank data di Balai TN Gunung Merbabu. Petugas-petugas Resort juga sudah mempersiapkan tempat untuk tinggal selama siswa melakukan praktek di lapangan. Kepala Balai juga menekankan kepada siswa-siwi untuk bisa menghormati kearifan lokal setempat, sehingga bisa menyatu dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Kegiatan PKL merupakan bagian dari rangkaian kurikulum pendidikan di SMK Kehutanan Negeri Manokwari yang bertujuan untuk memantapkan dan meningkatkan kompetensi keahlian peserta didik, memberikan wawasan dan pengalaman dunia kerja sekaligus melatih sikap mental (softskill) peserta didik sebagai bekal persiapan memasuki dunia kerja. Kegiatan PKL ini juga sebagai sarana untuk menghasilkan lulusan SMK Kehutanan yang memiliki Kompetensi Keahlian Teknik Konservasi Sumber Daya Hutan (TKSDH). Teknis pelaksanaan PKL ini dilakukan dengan menempatkan siswa-siswi ke lapangan dan menginap di sekitar kantor resort TN Gunung Merbabu. 32 siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok tinggal dan melakukan praktek di empat wilayah kerja Resort selama 10 hari dan jika sudah selesai target kegiatan PKL nya dilakukan rotasi ke resort yang lain. Resort yang digunakan Praktek yaitu Resort Kopeng, Resort Pakis (Wilayah kerja SPTN Wilayah I), Resort Selo dan Resort Wonolelo (Wilayah SPTN Wilayah II). Rangkaian Kegiatan PKL yang akan dilakukan oleh siswa-siswi SMK Kehutanan Negeri Manokwari ini antara lain kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan, inventarisasi tumbuhan, inventarisasi hewan, pembinaan habitat dan populasi, ekowisata serta pendakian terukur. Penyerahan siswa-siswi SMK Kehutanan Negeri Manokwari ini dilakukan oleh Bapak Drs. Rizard M.H, Waas dan didampingi oleh Farid Gian Cinda, S.Hut dan Niken A. Wardani, S.Pd, Guru jurusan Konservasi di SMK Kehutanan Negeri Manokwari. Sumber : Muhibbudin Danan Jaya, SP - Penyuluh Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Kesepakatan Balai KSDA Sulteng dengan Masyarakat Berkebun di dalam KK

Pangi, 23 Agustus 2019. Balai KSDA Sulawesi Tengah yang diwakili Kepala Seksi Wilayah Konservasi I Pangi (Haruna, SP., M.Sc) bersama-sama dengan Sekretaris Camat Tolitoli Utara, Wakapolsek Tolitoli Utara dan Kepala Desa Gio melaksanakan pertemuan dengan masyarakat yang berkebun di dalam kawasan konservasi SM Pinjan Tanjung Matop (22/8) di Desa Gio Kecamatan Tolitoli Utara Kabupaten Tolitoli. Diharapkan akan adanaya hasil kesepakatan maka dapat mengurangi tekanan terhadap kawasan, memberikan pelajaran/pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya konservasi dan juga pembelajaran multilevel leadership sebagaimana tertuang dalam 10 cara baru kelola kawasan. Adapun hasil kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut antara lain bahwa masyarakat yang terlanjur berkebun dalam kawasan SM Pinjan Tanjung Matop bersepakat untuk mempertahankan fungsi kawasan seluas 1.758,73 Ha. Selain itu terhadap masyarakat yang terlanjur berkebun di dalam kawasan SM Pinjan Tanjung Matop, diakui keberadaannya oleh Balai KSDA Sulawesi Tengah untuk berkebun dengan ketentuan tidak akan menambah luasan kebun dan memperjualbelikannya. Selanjutnya masyarakat yang berkebun di dalam SM Pinjan Tanjung Matop, sepakat untuk melakukan penanaman (pemulihan ekosistem) di luar kebun garapannya. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah

Menampilkan 5.057–5.072 dari 11.140 publikasi