Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bantuan Program Pemberdayaan Masyarakat Sekitar SM Kuala Lupak dan SM Pulau Kaget

Sungai Telan Besar, 27 Agustus 2019 − Bertempat di rumah dinas Kepala Desa Sungai Telan Besar, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala, telah dilaksanakan penyerahan dana bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Tujuan kegiatan ini dalam rangka pengembangan kegiatan pemberdayan masyarakat sekitar kawasan dan mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan. Penyerahan bantuan ini diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, didampingi Kepala SKW 2 Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si dan Kepala Resort Ahmad Barkati serta penyuluh pendamping desa. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Junaidi selaku Kepala Desa Kuala Lupak beserta Kahirullah selaku Ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Hutan Lestari”. Amberin selaku Kepala Desa Sungai Telan Besar beserta Helmi selaku Ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Maju Bersama”, dan Syarwani selaku Kepala Desa Tabunganen Muara beserta Yakin selaku Sekretaris Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Pulau Kaget Tabunganen”. Paparan yang disampaikan oleh Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu sarana komunikasi dan silaturahmi antara pengelola kawasan dengan masyarakat sekitar kawasan, dengan saling memantau perkembangan kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat membangun komunikasi dan silaturahmi yang lebih intensif. Lebih lanjut dipaparkan, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat akan memberikan kesempatan membuka peluang usaha bagi kelompok dan diharapkan nantinya peluang usaha tersebut akan bergulir pada kegiatan atau kelompok lain di desa tersebut. Peluang usaha yang bergulir nantinya akan berdampak pada seluruh lapisan masyarakat melalui kelompok-kelompok lain dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dalam kegiatan ini diserahkan bantuan dana secara simbolis sebesar 22 juta rupiah untuk masing-masing Kelompok Pemberdayaan Masyarakat. Dana ini digunakan untuk memperkuat kelembagaan kelompok dalam memenuhi kebutuhan kelompok membuka peluang usaha melalui kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kelompok seperti kegiatan budidaya kepiting di desa Kuala Lupak, budidaya itik petelur di desa Sungai Telan Besar dan budidaya lebah madu di desa Tabunganen Muara. Kepala Balai berpesan agar dana dari Pemerintah Republik Indonesia dapat dimanfaatkan secara terencana, efisien, transparan dan manfaat secaraa bergulir serta memberikan peningkatan usaha ekonomi masyarakat sekitar kawasan. (jrz) Sumber : Cecep Budiarto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Ekspedisi Taman Nasional Gunung Maras

Maras, 24 Agustus 2019. Tim PEH Balai KSDA Sumatera Selatan dengan Resort Konservasi Wilayah (RKW) XIV Bangka Belitung melakukan ekspedisi di Taman Nasional Gunung Maras dengan target memetakan jalur pendakian dan menginventarisasi potensi wisata di sekitar jalur pendakian. Pada tahun 2016 melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK. 575/Menlhk/Setjen/Pla.2/7/2016 tanggal 27 Juli 2016 menetapkan fungsi KSA/KPA Gunung Maras menjadi Taman Nasional Gunung Maras di Kabupaten Bangka dan Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seluas 16.806,91 Ha. Meski telah menjadi Taman Nasional akan tetapi pengelolaan Taman Nasional Gunung Maras masih dikelola oleh Balai KSDA Sumatera Selatan. Dengan telah ditetapkannya fungsi kawasan tersebut diatas maka perlu dilakukan kegiatan untuk mendukung data guna perencanaan selanjutnya. Survey jalur pendakian dan potensi wisata menjadi salah satu dasar perencanaan pengelolaan Taman Nasional Gunung Maras. Dengan diketahuinya jalur dan potensi tersebut pengelolaan dapat lebih efektif dan efisien karena data yang diperoleh langsung dari tingkat tapak. Tim ekpedisi berangkat dari Desa Dalil yang direncanakan menjadi pintu awal pendakian TN Gunung Maras. Setelah berjalan ±1,5 km tim melakukan inventarisasi potensi air terjun yang juga merupakan pos 1 pendakian TN Gunung Maras. Tim melanjutkan perjalanan dengan mendaki punggungan bukit. Disekitar jalur pendakian didominasi oleh vegetasi yang cukup rindang yaitu pelawan air (Tristania whiteana Griff.), pelawan sungon (T. obovata), pelawan merah (T. maingayi). Pada bagian lain antar pos 1 ke pos 2 yang berjarak 800 m vegetasi cukup gersang akibat kebakaran da tahun 2015 yang cukup besar. Pada pos 3 merupakan potensi pengamatan burung dan landscape Gunung Maras yang sangat Indah. Pos 4 menuju Pos 5 dengan ketinggian 500 mdpl vegetasi cukup rapat dan banyak potensi perjumpaan satwa seperti musang (Paradoxurus hermaphroditus), ayam hutan (Gallus varius), biawak (Varanus sp.), lutung (Tracypithecus auratus). Sesampainya di Puncak Gunung Maras tim mendirikan tenda dan melakukan pengambilan titik koordinat. Dari Hasil Tracking yang dilakukan oleh tim jalur pendakian TN Gunung Maras memiliki jarak 5,5 kilometer dengan Gunung Maras yaitu 700 mdpl, 5 Pos pendakian dan potensi jasa lingungan air, jungle tracking, bird watching, pengamatan flora dan fauna. Dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dan potensi sumber daya alam yang melimpah maka sudah sepantasnya kita menjaga alam dan hutan bersama demi anak dan cucu kita. Sumber : Taufan Kharis - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Libatkan Masyarakat, Balai Besar KSDA Jawa Timur Adakan Diklat Pemandu Wisata

Banyuwangi, 29 Agustus 2019 - Sebanyak 40 peserta mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar Pemandu Wisata di Hotel Santika, 28 -29 Agustus 2019. Para peserta diklat berasal dari Desa Tamansari – Banyuwangi dan Desa Baderan – Situbondo. Desa Tamansari merupakan desa penyangga Taman Wisata Alam Kawah Ijen, pun demikian dengan Desa Baderan yang menjadi desa penyangga Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Tujuan dari diadakannya diklat ini adalah untuk memberikan pengetahuan dasar bagi calon pemandu wisata di Taman Wisata Alam dan Suaka Margasatwa dilingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur. Sehingga mereka siap untuk menjadi pemandu bagi pengunjung kedua kawasan tersebut. Menurut Sumpena, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi, latar belakang diadakan diklat ini sebagai upaya dalam pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi. “Ini menjadi upaya Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam melibatkan masyarakat untuk berperanserta dalam mengembangkan pariwisata di kawasan konservasi,” imbuhnya. Dalam diklat selama dua hari tersebut, hadir sebagai narasumber dari Dinas Kebudayaan Kab. Banyuwangi, Praktisi bidang kepemanduan dan kepariwisataan, Himpunan Pramuwisata Indonesia, dan Balai Besar KSDA Jawa Timur sendiri. Sumber: Agus Irwanto - Balai Besar KSDAE Jawa Timur
Baca Berita

Menyamakan Persepsi dan Strategi Untuk Menanggulangi Api

Jumat, 30 Agustus 2019 - Upaya penanggulangan kebakaran hutan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) masih jauh dari kabar menggembirakan. Kombinasi berbagai faktor semacam iklim, cuaca, jarak titik api, minimnya sumber air, terbatasnya peralatan dan sumber daya manusia menjadikan usaha penanggulangan kebakaran di darat sangat terkendala. Perkembangan terakhir, konsentrasi titik api dan kebakaran hutan berada di 2 lokasi yaitu Resort Telaga Pulang SPTN Wil I di Pembuang Hulu dan SPTN Wilayah III Tanjung Harapan dengan area terdampak mengalami peningkatan cukup signifikan. “Hingga saat ini, hasil digitasi diatas peta yang dilakukan GIS officer kami menyatakan kurang lebih 239 hektar area TNTP terdampak kebakaran hutan dengan mayoritas tutupan lahan semak belukar. Luasan tersebut belum final mengingat api masih membakar di 2 area yang saat ini jadi konsentrasi munculnya titik api dan kebakaran hutan. Upaya Balai TNTP dalam melakukan penanggulangan sudah sangat optimal dalam seminggu terakhir, akan tetapi karena upaya mandiri belum berhasil maka kami segera akan meminta dukungan personil dan peralatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat dan Manggala Agni Daops Pangkalan Bun, serta tetap mengharapkan dukungan Water Bombing dari Satgaskarhutla Kotawaringin Barat,” demikian pernyataan Eko Susanto,S.Si, M.A, M,Ec.Dev, KSBTU Balai TNTP seusai memimpin rapat internal penanggulangan karhut TNTP pada kamis, (29/08/2019). Kerusakan kawasan yang terjadi pada kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 lalu nampaknya juga berandil dalam kebakaran tahun ini. Sisa-sisa tunggak, dahan dan ranting pepohonan yang tumbang diatas gambut yang kering menjadi bahan bakar sempurna bagi api untuk menjalar. Ditambah alang-alang dan semak belukar yang tumbuh sebagai pionir di lantai hutan bekas terbakar, maka kecepatan api membakar akan sulit untuk ditanggulangi. Sesuai dengan analisis potensi kemudahan terjadinya kebakaran Satgaskarhutla Kalimantan Tengah, bahwa wilayah Taman Nasional Tanjung Puting dan sekitarnya berada pada zona merah, yaitu “Sangat Mudah Terbakar dan Sangat Sulit Pengendaliannya”. Sekali lagi, sangat penting untuk menjaga dan merestorasi fungsi hidrologi kawasan TNTP karena keberadaan air tanah salah satunya berfungsi untuk menjaga kelembaban di lantai hutan, khususnya di areal yang bergambut, utamanya untuk menjadi penghalang terjadinya kebakaran besar disaat kemarau. Prediksi BMKG menyatakan puncak kemarau akan terjadi di bulan september, sehingga jika tidak bijak dalam penggunaannya, api akan sangat merugikan. Masih terbuka kesempatan bagi seluruh otoritas terkait bersama seluruh lapisan masyarakat untuk saling menghimbau dan mengingatkan agar tidak menggunakan api dalam aktifitas-aktifitas pembukaan lahan untuk ladang, kebun, dan pemukiman agar langit menjadi biru, dan bernafas tetap lega. Sumber: Balai TN Tanjung Puting
Baca Berita

Semangat Membangun Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove dari Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Rabu, 28 Agustus 2019. Bertempat di Ruang Rapat Wakil Bupati Bima diadakan Rapat Kordinasi Forum Pelestari Mangrove dan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di Kabupaten Bima yang dibuka oleh Asisten 2 Bupati Bapak H. Ir. Nurdin. Hal ini merupakan titik tolak dukungan Pemerintah Kabupaten Bima, NTB Bersama beberapa komponen SKPD lingkup Kabupaten Bima, Muspika Kec. Sape dan Kec. Lambu, Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) dan Perhimpunan Masyarakat Pesisir membahas tentang Rencana Aksi pengelolaan KEE Mangrove di Desa Soro Kecamatan Lambu Kabupaten Bima. Pertemuan ini diinisiasi oleh Balai KSDA NTB melalui Seksi Konservasi Wilayah III Bima Dompu dan Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Bima juga dihadiri Oleh Kepala Subdit Pemolaan dan Perpetaan Direktorat BPEE Dirjen KSDAE Ir. Yayat Surya, M.M. menyampaikan tentang keadaan umum Kawasan Ekosistem Esensial di Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai KSDA NTB Ir. Ari Subiantoro, M.P. dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Bima Dompu Bambang Dwidarto, SH., menyampaikan gambaran tentang Kawasan Ekosistem esensial yang telah ditetapkan oleh Bupati Bima melalui Surat Keputusan Nomor 188.45/552/07.01 tahun 2019. BKSDA NTB juga sangat mengapresiasi atas dukungan pemerintah Kabupaten Bima dan Masyarakat sekitar dalam upaya pelestarian mangrove, khususnya di Desa Soro, Kecamatan Lambu Kabupaten Bima. Semangat menyelamatkan kekayaan keanekaragaman hayati di luar Kawasan Konservasi harus tetap didukung, karena 80% keanekaragaman hayati terdapat di luar kawasan konservasi. SUMBER: BKSDA NTB
Baca Berita

Belajar Mencintai Lingkungan Dengan Tanaman Hoya

Kamis, 29 Agustus 2019 - “Bodogol Kampung Hoya” Desa Benda, salah satu desa penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mendapat kunjungan dari rombongan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Gagak Rimang Desa Benda. Kegiatan dilaksanakan di Sentra Budidaya Hoya yang didirikan atas dukungan Balai Besar TNGGP, masyarakat sekitar, Conservation International Indonesia, Pemerintah Desa Benda, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kunjungan ini sesuai dengan tujuan pembentukan Sentra Budidaya Hoya, yaitu untuk mewujudkan Kampung Bodogol sebagai pusat tanaman budidaya hoya yang diintegrasikan dengan program wisata alam dan pendidikan lingkungan. Paket kunjungan biasanya terdiri atas belajar budidaya hoya, bermain permainan tradisional, pemutaran film lingkungan, dan kegiatan pendidikan lingkungan lainnya yang dipandu petugas TNGGP, LSM, dan tentunya masyarakat sekitar. Siswa PAUD diajak bermain dan mengenal tanaman hias nan cantik penyerap polutan ini. Kegiatan diawali dengan bermain membentuk lingkaran di depan “Saung Hoya”, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan tanaman hoya melalui kegiatan mewarnai gambar tanaman dan penjelasan singkat tentang tanaman tersebut. Tidak hanya sampai disitu, para siswa juga diajak untuk belajar menanam atau menyetek hoya satu persatu. Kegiatan pada anak usia dini ini merupakan langkah awal dalam rangka menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan dan memberikan pengalaman menanam kepada mereka. “Mari kita tanamkan budaya menanam dan cinta lingkungan sejak dini” Sumber: Nidia Opinta A.Md. (Polhut) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Gerakan Menanam 1000 Pohon Bersama Santri untuk Indonesia

Pancawati, 27 Agustus 2019 - Sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kelestarian kawasan hutan, Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatul Huda (Tarhud) bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan kegiatan penanaman 1.000 pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jenis pohon yang ditanam terdiri atas puspa, rasamala, dan lame yang merupakan jenis asli TNGGP. Kegiatan yang dipimpin oleh Ustadz Ridwan, Ketua Yayasan Tarhud bersama Tugiman, Kepala Resort PTN Wilayah Cimande tersebut dilakukan di Blok Cisarua, Resort PTN Cimande, Seksi Konservasi Wilayah V Bodogol, Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Bogor. Lokasi dipilih pada bagian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang sebelumnya digarap oleh masyarakat dan saat ini telah dilakukan upaya persuasif untuk dihentikan. Acara diikuti oleh para pegawai Resort PTN Cimande, para pegawai Yayasan Tarhud, para santri, dan tokoh masyarakat setempat. Diawal acara Ketua Yayasan, dalam sambutannya, menyatakan Yayasan Tarhud peduli dengan kelestarian hutan TNGGP. Serah terima bibit dilakukan secara simbolis kepada pihak Taman Nasional, yang diterima oleh Kepala Resort PTN Cimande. Tokoh masyarakatpun, diwakili Maman warga Kampung Cimande, menyatakan dukungan pada kegiatan penanaman ini, dia juga mengharapkan kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan. Dalam kesempatan ini, Kepala Resort PTN Cimande, menjelaskan tentang fungsi dan manfaat keberadaan kawasan hutan TNGGP. Para santri yang umumnya masih berusia belia ini sangat antusias melaksanakan sodakoh melalui penanaman pohon, karena seperti yang telah kita ketahui bahwa menanam pohon banyak sekali manfaatnya untuk kebutuhan hidup manusia. Bayangkan, menanam satu pohon saja dapat menyediakan oksigen untuk dua orang, semakin banyak pohon yang ditanam, semakin banyak pula oksigen yang dihasilkan. Pohon dapat mencegah bencana banjir, longsor, dan erosi. Pohon juga dapat berperan sebagai bagian dari habitat satwa liar. Kegiatan penanaman ini merupakan pelaksanaan kegiatan yang tercantum dari Rencana Kerja Tahunan (RKT) Yayasan Tarbiyatul Huda selaku pemegang Izin Pemanfaatan Air (IPA) Non Komersial di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Disamping penanaman, perealisasian RKT yang akan dilaksanakan adalah patroli pengamanan hutan bersama, patroli pengendalian pencegahan kebakaran hutan, dan operasi kebersihan di kawasan hutan. Saat ini terdapat 23 pemegang Izin Pemanfaatan Air Non Komersial pada TNGGP, 19 izin (82,61 %) di antaranya berada pada Bidang PTN Wilayah III Bogor. Masing-masing pemegang izin memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam pemeliharaan kondisi hutan baik melalui kegiatan pengamanan maupun pemulihan ekosistem pada lokasi yang rusak. Ingat! Dengan menanam berarti kita turut serta menjaga kelangsungan ekosistem hutan, yang sangat berperan penting demi kelangsungan makhluk hidup dan lingkungan. Mari kita jaga dan lestarikan hutan dengan gerakan menanam 1.000 pohon, merawat, dan memeliharanya! Sumber: Ike Oktaviany, A.Md. (Polhut) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

In House Training Penanganan Satwa Liar di Balai TN Kutai

Bontang, 28 Agustus 2019. Balai Taman Nasional Kutai melaksanakan kegiatan In House Training Penanganan Satwa Liar kepada 30 orang staf Balai Taman Nasional Kutai, Yayasan Jejak Pulang, mahasiswa UNMUL dan INSTIPER Yogyakarta yang sedang melaksanakan kegiatan magang di Balai TN Kutai. Dibuka oleh Kepala Balai Taman Nasional Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc.. Adapun narasumber dan instruktur dalam kegiatan ini yaitu Kepala Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam Samboja Bapak Dr. Ishak Yassir, Dr. Yaya Rayadin (Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman), drh. Amir Ma’Ruf (Peneliti Balitek KSDA Samboja) dan tim WRU Balai KSDA Kalimantan Timur. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 26 – 28 Agustus 2019 dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan tentang teknik survey satwa liar, memberikan informasi tentang zoonosis pada satwa liar, serta perserta diharapkan dapat melakukan penanganan konflik satwa liar secara tepat. Materi yang disampaikan oleh para instruktur antara lain 1). Teknik survey satwa, 2). Zoonosis pada satwa lair dengan pendekatan one health, 3). Perilaku satwa, 4). Penanganan konflik orangutan, 5). Penanganan konflik buaya, 6). Penggunaan obat bius dan senjata bius. Dalam pelatihan ini, praktek penanganan konflik lebih fokus pada penanganan konflik orangutan dan buaya mengingat di Taman Nasional Kutai, laporan dari masyarakat tentang konflik orangutan dan buaya lebih banyak dibandingkan laporan terkait konflik dengan satwa lainnya. Dengan melakukan penyelamatan satwa liar, diharapkan manusia dan satwa bisa sama-sama selamat sehingga dalam pelaksanaannya perlu adanya regulasi, scientific based, dan teknis. Sumber: Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

BKSDA NTB Selenggarakan Penyegaran dan Pelatihan Menembak POLHUT Tahun 2019

Mataram,23 Agustus 2019 - Dalam rangka meningkatkan wawasan, pengetahuan, kapasitas teknis dan administrasi Polisi Kehutanan (POLHUT) Wilayah NTB, BKSDA selaku Korwil UPT KLHK Wilayah NTB mengadakan Kegiatan Penyegaran POLHUT dan Pelatihan Menembak serta Psikotes pada tanggal 21 s/d 23 Agustus 2019. Kegiatan diikuti oleh 40 Peserta Polhut dari BKSDA NTB melalui SKW I Praya (9 Orang), SKW II Sumbawa (3 Orang), SKW III Bima (4 Orang), Balai TN Rinjani (6 Orang), Balai TN Tambora (4 Orang), Dinas LHK Prov. NTB (2 Orang), KPH Nuraksa Kab. Lombok Barat (2 Orang), KPH Rinjani Barat Kab. Lombok Barat (2 Orang) dan PPHLHK Wilayah Jabal-Nusra (6 Orang). Dalam Sambutan, Kepala BKSDA NTB yang diwakili oleh Kepala SKW I Praya mengatakan, "Kegiatan Penyegaran POLHUT merupakan Forum untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kualitas POLHUT sebagai ujung Tombak pengamanan Hutan dan Satwa, sehingga dalam menjalankan Tugas Polhut harus terus menerus dibina dan ditingkatkan kemampuannya saat menjalankan tugas dilapangan." Rangkaian Kegiatan dimulai pada 21 Agustus 2019 di Hotel Puri Saron, Senggigi Lombok Barat dimana 40 Peserta Polhut mendapat Pemaparan Materi dan Pelajaran Mengenai : 1. Kebijakan BKSDA NTB dalam Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Hutan oleh Kepala Balai KSDA NTB (Diwakili oleh Kepala SKW I Praya, Lalu Muhammad Fadli, S.H.) 2. Kebijakan Pengendalian dan Pengawasan Tumbuhan dan Satwa Liar Tidak Dilindungi UU oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (Diwakili oleh Kepala Seksi Konservasi Insitu Dir KKH, Krismanko Padang) 3. Mekanisme Penerapan Sanksi Administrasi terhadap pelanggaran peredaran TSL yang Tidak Dilindungi UU oleh Krisna Pramono, S.H. Kasi Kamnegtibum dan TPUL Kejaksaan Tinggi NTB. Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Tidak Dilindungi UU memang kerap menjadi permasalahan yang sering dihadapi oleh Polhut Wilayah NTB, terutama bagi Polhut yang bertugas di Pos Pelabuhan dan Bandara, baik untuk satwa yang masuk maupun keluar dari wilayah NTB. Untuk setiap kasus satwa TSL Tidak Dilindungi UU yang berhasil disita memang langsung dilepasliarkan kembali ke alam liar. Namun yang disayangkan, bahwa tidak ada efek jera bagi para pelaku mengingat jumlah TSL Tidak Dilindungi dalam sekali pengiriman tidak sedikit. Dalam sesi diskusi, Para Polhut wilayah NTB menyampaikan keresahan agar ada Peraturan atau UU yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk memberikan efek jera bagi para pelaku. Berlanjut ke hari kedua 22 Agustus 2019 dengan kegiatan Pelatihan Menembak oleh AKP Supriyono, S.Adm di Markas Sat Brimob Polda NTB di Ampenan, Mataram. Dalam sesi latihan kali ini digunakan dua jenis senjata Laras Panjang dan Laras Pendek. Masing-masing Polhut Peserta Pelatihan Menembak mendapat pengarahan dari Anggota Sat Brimob Polda NTB mengenai bagaimana pengamanan senjata, memegang senjata, mengisi peluru, mengarahkan serta menembak dengan baik dan benar sesuai prosedur. Kegiatan ditutup pada hari ketiga, 23 Agustus 2019 dimana Para Polhut yang memegang Senjata Api untuk menjalani tes kelayakan Pemegang Senjata Api melalui Uji Psikotes yang dilaksanakan di Ruang Rapat balai KSDA NTB oleh Tim Psikolog dari Polda NTB. (Sumber : BKSDA NTB)
Baca Berita

Tana Bentarum Goes to International Forum, by participating to International Conference on Tropical Limnology 2019

Bogor, 28 Agustus 2019 - International Conference On Tropical Limnology merupakan konferensi internasional tentang limnologi yang pertama di Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). LIPI bekerjasama dengan beberapa lembaga nasional maupun internasional lainnya menyelenggarakan kegiatan tersebut mulai tanggal 27-30 Agustus 2019 di Hotel Salak The Heritage, Bogor. International Conference On Tropical Limnology merupakan rangkaian kegiatan yang mengambil tema "Revisiting the value of inland aquatic ecosystem for sustainable management". Kegiatan diatas berfokus pada pengelolaan perairan darat, masalah yang dihadapi dan juga tindak lanjut dalam menjaga ekosistem perairan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pengendalian Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) mengikuti konferensi internasional diatas. Tak tanggung-tanggung, Rizqi Akbar selaku fungsional PEH BBTNBKDS dapat lolos sebagai salah satu presenter dalam Conference Programs yang diadakan pada tanggal 28 Agustus 2019 di Hotel Salak The Heritage Bogor. Dengan judul presentasi "The Sibau Sub-Watershed: Significant Value Ecosystem and Effect On Distribution Of Fish", BBTNBKDS mengajak seluruh pihak untuk menjaga potensi ikan yang tersebar di setiap sub DAS yang ada. Selain itu tak ketinggalan juga M. Reka Permana, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan (P2) mengikuti agenda presentasi poster yang dilaksanakan pada tanggal 28-29 Agustus 2019. Judul poster yang dipresentasikan adalah "Optimization of Community Based Wildlife (Fish) Conservation and Utulization in The Danau Sentarum National Park through the Sentarum Fish Base Application". Poster tersebut bercerita mengenai keterlibatan masyarakat dalam melaporkan hasil tangkapan ikan di Taman Nasional Danau Sentarum. Sehingga hal tersebut akan semakin menyempurnakan pelaporan jenis dan hasil tangkapan dilapangan. Ir. Arief Mahmud, MSi, Kepala Balai Besar TNBKDS menyatakan bahwa keikutsertaan fungsional PEH ini adalah suatu langkah besar untuk pengembangan diri utamanya kegiatan Limnologi. Kegiatan ini sangat penting dilakukan karena TNBKDS bukan hanya terbentuk atas daratan saja, melainkan juga terbentuk atas daerah perairan (sungai dan danau). Kedepannya diharapkan keikutsertaan ini dapat terus dilakukan dalam kegiatan lainnya dan menjadikan pengembangan diri bagi setiap fungsional di BBTNBKDS serta untul mengenalkan Tana Bentarum tidak hanya sebagai sebuah taman nasional namun juga sebagai kawasan Cagar Biosfer yang ditetapkan oleh UNESCO dengan nama Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu dalam ajang nasional maupun internasional. Sumber: Balai TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Sinergi dalam Mencapai Hutan TN MerBeti Lestari

Jember, 28 Agustus 2019. Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN Merbeti), Maman Surahman, S.Hut., M.Si melakukan kunjungan Kecamatan Tempurejo dan Resort Wonoasri SPTN Wilayah II Ambulu. Kedatangan Kabalai TN MerBeti disambut baik oleh Camat Tempurejo, Akbar Winasis di Kantor Kecamatan Tempurejo. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka silahturahmi dan perkenalan sekaligus berkoordinasi terkait kegiatan pengelolaan kawasan yang dilakukan di TN Merbeti. Dalam kesempatan ini Kabalai menyampaikan bahwa kegiatan pengelolaan kawasan berbasiskan masyarakat baik yang sedang dan akan dilaksanakan. Ada 10 (sepuluh) desa penyangga di sekitar kawasan, dan 5 (lima) desa diantaranya berada di Kec. Tempurejo. Tentunya TN MerBeti tidak bisa bekerja sendiri. Demi kelancaran dalam pengelolaan kawasan butuh partisipasi aktif dari instansi terkait, stakeholder, tokoh agama, tokoh masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Sehingga sangat perlu untuk berkoordinasi dan berkolaborasi dalam pelaksanaan pembangunan di bidang kehutanan utamanya di kawasan TN Merbeti. Masyarakat di sekitar kawasan terutama yang berlokasi di daerah paling pinggir sudah mulai mengalami pergeseran nilai budaya sebagai akibat dari masuknya budaya dan gaya hidup modern tanpa memperdulikan bagaimana kemampuan diri dengan segala keterbatasan dalam menjalani roda kehidupan. Yang berakibat bahwa ketika sudah terdesak maka kawasan hutanlah sebagai tumpuan akhir mereka. Nah itulah, tantangan TN Merbeti dalam mengoptimalkan pengelolaan kawasan yang lebih mengedepankan humanisme sehingga harapannya masyarakat sejahtera terlebih dahulu baru hutannya bisa lestari. Camat Tempurejo menyatakan siap bersinergi dengan TN Merbeti dalam rangka pelaksanaan pembangunan kehutanan dengan berbasis masyarakat, sehingga keinginan untuk menciptakan kondisi masyarakat sejahtera dan hutannya lestari dapat tercapai. Kunjungan kerja selanjutnya Kabalai ke lokasi Pembibitan yang dikelola kelompok LMDHK Wonomulyo yang dibinaan oleh Resort Wonoasri. Kabalai berpesan kepada ketua kelompoknya, agar kegiatan pembibitan ini tidak berhenti disini saja namun bisa diteruskan dan dikembangkan karena ini dapat dijadikan sebagai ladang bisnis dan pendapatan yang menjanjikan di kemudian hari. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Diklat Lanjutan MPA Khatulistiwa UNEJ di Trans BandeSuka TN MerBeti

Jember, 29 Agustus 2019. Organisasi Pecinta Alam di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember yaitu Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Khatulistiwa mengadakan pendidikan dan latihan lanjutan (Dikjut) di Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti). Diklat ini berlangsung selama 5 (lima) hari dari tanggal 23 s/d 27 Agustus 2019. Kegiatan yang melewati Trans Bandesuka dimulai dari Bandealit menuju Sukamade, diikuti sebanyak 14 (empat belas) peserta dan didampingi oleh seorang Polhut TN MerBeti dan seorang MMP (Masyarakat Mitra Polhut) Resort Bandealit. Rangkaian kegiatan yang dilakukan mencakup: analisis vegetasi, herbarium, tandu, navigasi darat, SAR, PPGD, plaster case, dan interpretasi masyarakat. Di dalam perjalanan, petugas menemukan jejak karnivora besar berupa cakaran pada pohon glintungan. Tak melewatkan kesempatan ini, peserta antusias untuk mengabadikannya dalam foto dan mendengarkan penjelasan petugas dengan seksama. Peserta tiba di Sukamade dengan selamat dan sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Sebelum kembali ke kampus, peserta melakukan pelepasan tukik di Pantai Sukamade dan dilanjutkan dengan aksi bersih pantai. Lestari alamku, lestari hutanku. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Taman Nasional Bukit Tigapuluh Tidak Berdiam Diri.....

Kamis, 29 Agustus 2019 - Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dilakukan secara optimal oleh TNBT. Tak hanya bergerak memadamkan tetapi dari tahap pencegahan yang bersifat preventif. Setiap resort menyiapkan regu pemadam kebakaran didukung oleh Masyarakat Mitra Polhut (MPA) dan selalu siap siaga apabila terdapat titik api. Sampai saat ini kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) masih aman dari kebakaran hutan. Kebakaran yang terjadi sebelumnya berada di daerah penyangga TNBT, baik di wilayah Riau maupun Jambi. Sebelumnya pada 15-20 Agustus 2019, terdapat kebakaran lahan di daerah Simpang Datai di luar kawasan, yang mana api sudah berhasil dipadamkan oleh petugas. Kepala Balai TNBT Darmanto menyatakan, bahwa saat ini kebakaran yang sedang viral dan dishare oleh beberapa publik figur tanah air adalah kebakaran di Jambi. Sekali lagi lokasi kebakaran bukan di dalam kawasan TNBT, tapi berada di areal konsesi PT. ABT (Alam Bukit Tiga puluh yg merupakan HPH restorasi yang selama ini sedang marak perambahan) Lansekap bukit tigapuluh. Kami pihak TNBT selalu membantu memadamkan kebakaran apabila terjadi kebakaran di daerah penyangga. Hendra Koswandi selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Tebo Jambi melakukan koordinasi dengan Direktur Utama PT. ABT Doddy Rukman bahwa pada 22 Agustus 2019 ada 5 Hotspot (HS) di wilayah konsesi PT. ABT yang berada di blok 2 Pemayungan Kab. Tebo, Jambi. Meskipun kebakaran terjadi di luar kawasan, TNBT tidak berdiam diri. Patroli gabungan dengan PT. LAJ dilakukan sejak 19 Agustus dan sampai dengan hari ini petugas masih berada di lapangan. Dari informasi yang diperoleh tim patroli gabungan masih berada di Desa Suo-suo dan Semambu. Tim siaga di posko untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran. Kebakaran yang terjadi pada 20 Agustus 2019 sudah berhasil dipadamkan dan tidak ada kebakaran besar. Kami turut mengklarifikasi bahwa tidak ada pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) di TNBT. Perlu diketahui pula bahwa SAD hanya menjelajah TNBT untuk mencari hasil hutan bukan kayu, bukan bermukim. Mohon dukungan dan doa agar tidak terjadi kebakaran hutan berkepanjangan. Kami pihak TNBT tidak akan berdiam diri membiarkan kebakaran terjadi. Harus siap siaga menanggulangi api meski berhari-hari meninggalkan istri dan buah hati. Sumber: Balai TN Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Refleksi Penegakan Hukum Peredaran Tumbuhan Satwa Liar (TSL) "Forum Pimpinan Daerah Penindakan Peredaran Satwa Liar akan segera dibentuk"

Ternate, 27 Maret 2019. Bertempat di Kantor SKW 1 Ternate, BKSDA Maluku, diadakan kegiatan Refleksi Penegakan Hukum terhadap Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Kegiatan ini diinisiasi oleh LSM Burung Indonesia, turut hadir diantaranya perwakilan dari Balai KSDA Maluku, Balai Gakkum Maluku-Papua, Balai TN Aketajawe Lolobata, Penyidik Polairud dan Reskrimsus Polda Maluku Utara. Pada kegiatan ini Burung Indonesia mnyampaikan hasil investigasinya yang mana sampai dengan bulan Desember 2018, peredaran burung di wilayah Maluku Utara mencapai 9377 ekor per tahun. Burung Indonesia sudah memetakan Lokasi Desa yang rawan peredaran satwa, untuk wilayah yg berdekatan dengan TN Aketajawe Lolobata mencakup 4 Desa. Kegiatan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan yang meliputi pembentukan Forum Pimpinan Daerah dalam hal penindakan peredaran satwa liar terutama burung. Lebih lanjut Balai Gakkum akan menjadi leader dalam pembuatan MoU dengan Forum Pimpinan Daerah beserta stakeholder terkait dalam pemberantasan peredaran satwa. Sebagai perwakilan dari Balai TN Aketajawe Lolobata, Junesly F. Lilipory (Kepala SPTN Wilayah III) sangat mengapresiasi kegiatan refleksi ini, beliau mnyampaikan bahwa untuk memutuskan mata rantai perdagangan TSL di wilayah Kepulauan dibutuhkan kerja sama di tingkat tapak mulai dari hulu hingga hilir. "memutuskan mata rantai perdagangan TSL di wilayah Kepulauan dibutuhkan kerja sama di tingkat tapak mulai dari hulu hingga hilir. Bersama kita selamatkan Kenakeragaman Hayati di wilayah Maluku Utara" ujar Junesly. Sumber: Aris Rafli (PEH Balai TN Aketajawe Lolobata)
Baca Berita

Resort Lolanan Mengajar di SMPN 4 Sangtombolang

Ayong, 29 September 2019. Aula SMP 4 Sangtombolang kedatangan tim dari Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) yang memberikan pendidikan konservasi kepada anak - anak usia dini. Lebih dari 100 peserta murid ikut ambil bagian dalam edukasi konservasi. Pendidikan konservasi usia dini telah menjadi kegiatan rutin Balai TNBNW yang dilaksanakan di sekolah-sekolah sekitar kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Selain itu, juga merupakan wujud nyata keberhasilan pengelolaan kawasan melalui RBM (Resort based Management) sehingga menimbulkan hubungan yang baik dengan stakeholder yang ada di sekitar kawasan TNBNW. Para siswa/i sangat antusias mengikuti kegiatan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan tentang kawasan konservasi. Materi yang disampaikan sebagai bahan edukasi umum tentang manfaat dan keberadaan kawasan taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta tidak lupa diselipkan materi kebakaran hutan sesuai dengan kondisi terkini saat menghadapi musim kemarau seperti yang di sampaikan Kusmayanti, S. Hut (Kasubag Tata Usaha Balai TNBNW). Kegiatan ini sangat positif untuk diterapkan kepada anak - anak usia dini dengan harapan mereka merupakan asset bangsa sebagai generasi penerus yang harus peduli kepada konservasi dan lingkungan. Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Sarongge Kedatangan Tamu dari Kapuas Hulu

Cianjur, 22 Agustus 2019 - Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur kembali dikunjungi rombongan dari Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kunjungan yang dipimpin Wakil Bupati Kapuas Hulu Antonius L. Ain Pamero ini, dilaksanakan dalam rangka studi pengelolaan cagar biosfer. Sehubungan pada tahun 2018 Unesco telah menetapkan Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu sebagai cagar biofer ke-18 di Nusantara ini. Dalam konsep cagar biosfer, Kampung Sarongge yang letaknya berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), masuk sebagai zona penyangga sementara TNGGP merupakan areal inti (core area) nya. Sebagaimana disampaikan Wakil Bupati Kapuas Hulu dalam sambutannya, bahwa kunjungan ini sebagai studi untuk melihat dan merasakan secara langsung program-program pengelolaan Cagar Biosfer Cibodas (CBC) yang selama ini sudah berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Beliau juga mengatakan bahwa penentuan lokasi studi banding ini cukup relevan mengingat CBC merupakan cagar biosfer tertua di Indonesia yang ditetapkan sejak tahun 1977. Dalam kunjungan ini, Wakil Bupati Kapuas Hulu didampingi oleh Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum, GIZ Forcliem, Anggota DPRD Kapuas Hulu, Bappeda Kapuas Hulu, UPTD, perwakilan beberapa Camat Kabupaten Kapuas Hulu dan masyarakat lokal. Acara kunjungan ke Sarongge ini dimulai dengan sambutan Wakil Bupati Kapuas Hulu, sambutan dari GIZ Forclime yang disampaikan oleh Wandojo Siswanto, sambutan ketiga disampaikan Arief Mahmud (Kepala Balai Besar Taman Nasional Bentung Karihun Danau Sentarum), sambutan terakhir disampaikan V. Diah Qurani Kristina (Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur) mewakili Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Selanjutnya, untuk melihat lebih dalam program-program CBC dihadirkan para pelaku usaha yang terlibat program cagar biosfer. Kang Jae (ketua Kelompok Tani Mandiri) dan Teh Entin (pemilik home industri sabun sirih), Ceu Wiwik (pengelola Saung Sarongge dan home stay), serta Mas Dadan Karyo (Komunitas Radio Edelweiss), dengan bangga menyampaikan pengalamannya dalam pensuksesan program-program kegiatan CBC. Pada acara berbagi pendapat ini diketahui bahwa sampai saat ini, produk usaha ekonomi di Kampung Sarongge sudah mulai ada yang mendapat sertifikat/ branding dari CBC sebagai produk ramah lingkungan yaitu sayuran organik (Kelompok Tani Mandiri) dan home industry sabun sirih. Selesai acara berbagi pengalaman, dilanjut dengan kunjungan ke lokasi usaha, seperti lokasi pertanian sayur organik dan proses pengolahannya, usaha ternak kambing, dan beberapa home stay dan Komunitas Radio Edelweiss. Sumber : Asep Hasbilah - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango

Menampilkan 5.041–5.056 dari 11.140 publikasi