Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Penanganan Konflik Manusia dan Satwa Liar

BANJARBARU, 3 September 2019 – Bertempat di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Banjarbaru personil satgas penanganan konflik satwa lingkup BKSDA Kalsel serta beberapa perwakilan dari instansi Dinas Kehutanan Prov. Kalsel, Dinas Pemadam Kebakaran Kab. Kotabaru, perusahaan tambang batubara, LSM lokal Gahipta, dan PLTU pembangkit Asam-Asam menghadiri pelatihan penanganan satgas konflik manuasia dan satwa liar. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan berbagi pengalaman dalam penanganan konflik manusia dan satwa. Paparan materi yang dipandu Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Sc. ini mempanelkan tiga pembicara yaitu Kepala BKSDA Kalsel, Peneliti dari Balitek KSDA, dan dari Yayasan Kalaweit Indonesia. Dalam paparannya, Kepala Balai Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc menyampaikan bahwa dinamika konflik manusia dan satwa liar di Kalsel dari tahun ke tahun mempunyai tren yang semakin meningkat. “Ini perlu dianalisis lebih mendalam.” Imbuhnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa satwa liar tidak semuanya berada di hutan konservasi maupun hutan lindung, tetapi sebagian berada di luar kawasan konservasi yang rentan dikonversi. “Hal inilah yang menuntut peran serta semua pihak dalam penanganan konflik manusia dengan satwa liar ini.” Terang Mahrus. drh. Amir Ma’ruf, M.Sc, peneliti dari Balitek KSDA Samboja menyampaikan bahwa perlu mengubah pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa sebagian besar satwa itu adalah hama. “Satwa liar tidak akan menyerang manusia jika ia tidak merasa terganggu.” imbuhnya. Terkait konflik satwa Owa, pihak Kalaweit membeberkan bahwa perlu waktu yang cukup lama untuk merehabilitasi Owa hasil peliharaan. Yang menjadi kendala di Kalaweit saat ini adalah lokasi realease yang sangat terbatas. Owa memiliki daerah jelajah kurang lebih 50 ha untuk satu keluarga. Ketika ia mendengar suara Owa asing atau Owa baru, instingnya akan mencari dan membunuh Owa baru yang dianggap kompetitornya. “Jangan sekali-kali me-realease Owa di lokasi yang sudah ada Owa lain didalamnya.” pesan drh. Andi Sofyan dari Yayasan Kalaweit Indonesia. Antusias peserta terlihat dari beberapa pertanyaan yang menyampaikan kendala di lapangan terkait penanganan konflik satwa liar. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan praktek handling satwa dan penggunaan senjata bius untuk penanganan satwa. Hal ini dipandang penting karena masih sedikit tenaga ahli yang mampu mengoperasikan senjata bius maupun handling satwa. Pengetahuan baru seputar bagaimana penanganan satwa diharapkan mampu menambah wawasan dan kemampuan anggota satgas sehingga lebih sigap dalam penanganan satwa untuk penyelamatan satwa maupun untuk keamanan anggota tim satgas itu sendiri. Source & Doc. by : Titik Sundari, S.Hut (PEH BKSDA Kalsel)
Baca Berita

BKSDA NTB dan Bupati Bima bersama Aparat dalam Upaya Mengurangi Perburuan Liar di Taman Nasional Komodo

Bima, 5 September 2019 - Mencoba menyelesaikan permasalah dari Hulu dalam menghadapi perburuan liar di Taman Nasional Komodo, BKSDA NTB melalui perwakilan Kepala SKW III Bima didampingi Kepala SPTN 2 Balai Taman Nasional Komodo dan Kapolres Manggarai Barat NTT melanjutkan kegiatan koordinasi dengan Kejaksaan Negeri Bima dan Bupati Bima terkait penanganan perburuan liar di Taman Nasional Komodo. Dalam pertemuan, Kepala Kejari Bima berpendapat bahwa selain proses penegakan hukum terhadap para pemburu liar, perlu juga adanya kegiatan penyadartahuan/sosialisasi secara terpadu kepada masyarakat yang berada di wilayah Sape dan sekitarnya. Senada dengan itu, Bupati Bima juga berencana akan melakukan pendekatan kepada kelompok masyarakat yangg terindikasi dan terdeteksi melakukan perburuan liar di Taman Nasional Komodo melalui Kepala Desa - Kepala Desa yang berada di Kec. Sape dan Kec. Lambu. Juga dengan pertemuan ini, BKSDA NTB melalui Kepala SKW III Bima juga menyampaikan rencana pengembangan penangkaran Rusa Timur di sekitar kecamatan Sape kepada Bupati Bima yang diharapkan mampu mengurangi perburuan liar khususnya di wilayah Bima dan NTT. (Sumber : BKSDA NTB)
Baca Berita

Menuju Pengelolaan Cagar Alam Pedauh yang Lebih Baik bersama OPD Kab. Sumbawa Barat

Sumbawa Barat 2 September 2019 - Bertempat di Aula Rumah Kebun Taliwang Balai KSDA NTB dan BAPPEDA Sumbawa Barat mengadakan Rapat Konsultasi Publik Blok Pengelolaan dan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Cagar Alam Pedauh Tahun 2020-2029. Dalam Kegiatan Konsultasi Publik ini dihadiri oleh Balai KSDA NTB, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (BAPPEDA) Kabupaten Sumbawa Barat serta turut mengundang Asisten Prekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sumbawa Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, BKPH Sejorong Mataiyang Brang Rea, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Pemukiman Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Perhubungan Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dab Desa Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sumbawa Barat, Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumbawa Barat, Camat Sekongkang, Kepala Desa Ai Kangkung, Kepala Desa Sekongkang Atas, Kepala Desa Sekongkang Bawah, Kepala Desa Talonang, Kepala Desa Tatar, Kepala Desa Tongo, Kepala Desa Kemuniang, dan instansi lainnya. Acara ini membahas tentang Blok Pengelolaan di CA Pedauh, Rencana Pengelolaan Jangka Panjang CA Pedauh dan Diskusi hingga Penandatanganan Berita Acara. Adapun Konsultasi publik merupakan Tahap ke tiga setelah dilakukan tahap inventarisasi potensi dan tahap penyusunan dokumen. Kegiatan dibuka oleh Kepala bidang Fisik dan Prasarana bapak Hermansyah, S.T. selaku Perwakilan dari BAPPEDA Kabupaten Sumbawa Barat, sekaligus menjadi narasumber pada kegiatan ini, selanjutnya Kata Sambutan dan pemaparan ringkas Kebijakan Kawasan Konservasi oleh Kepala Balai KSDA NTB yang diwakili Kepala Seksi Konservasi II Sumbawa bapak Arap, S.P.. Pemaparan materi terkait Tema Acara oleh Kurniasih Nur Afifah, S.Hut, M.Si selaku PEH Balai KSDA NTB. Kegiatan ini sangat penting dimana pada kawasan konservasi khususnya CA Pedauh memiliki fungsi dan tempat yang strategis sehingga dilakukan diskusi dengan para pihak dalam pengembangan atau perencanaan Cagar Alam Pedauh. CA Pedauh merupakan tempat yang strategis karena akses ke kawasan terbilang mudah, dan akses dari ibu kota Nusa Tenggara Barat ke CA Pedauh Terbilang Baik dan cepat, selain itu kawasan ini dekat dengan ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat. Sebagai informasi, Cagar alam merupakan kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Dalam pengelolaan kawasan konservasi yang perlu diperhatikan adalah terkait dengan pilar 3P yaitu Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan. Dalam pilar tersebut merupakan satu paket dalam pengelolaan kawasan konservasi dimana perlindungan dilakukan untuk melindungi kawasan, baik itu batas kawasan, tanaman, satwa dan berbagai sumber daya alam di dalamnya. Pengawetan adalah fugsi pokok konservasi yaitu mengawetkan dan terus mempertahankan secara berkesinambungan segala macam sumber daya alam yang ada di kawasan konservasi, sedangkan pemanfaatan merupakan kegiatan yang bisa dilakukan dalam kawasan maupun disekitar kawasan berupa Penelitian atau Pendidikan, rekreasi alam, pemanfaatan air untuk daerah sekitar, serta ketergantungan beberapa masyarakat sekitar dengan keberadaan kawasan konservasi dengan mengadakan ritual atau kepercayaan tertentu. Cagar Alam pedauh memilki berbagai potensi. Potensi yang ada di dalamnya yaitu terdapat Sawo Kecik, sarang burung gosong, dan beberapa satwa yang dilindungi, seperti burung elang, pauk laus, raja udang, ular piton, tempat pendaratan penyu, dan sebagainya. CA Pedauh direncanakan memiliki 3 Blok pengelolaan yaitu Blok Perlindungan, Blok Religi dan Blok Khusus. Pada Blok Religi terdapat 4 (empat) tempat yaitu Makam Borok, Brang Pedauh, Pantai Nanga Polongan, dan Pantai Nanga Memengan. Di beberapa titik sepanjang pantai CA Pedauh terdapat masyarakat adat yang menangkap Nyale seperti yang dilakukan di pantai selatan pulau Lombok. Dengan adanya Kegiatan ini diharapkan pengelolaan Cagar Alam Pedauh lebih maju sehingga bisa tercapainya pembangunan sesuai tiga pilar konservasi yang bekesinambungan dengan memperdayakan masyarakat sejahtera. (SUMBER : BKSDA NTB)
Baca Berita

BUAYA SEPANJANG 2,5 M MASUK KAMPUNG

PEKANBARU-Rabu, 4 September 2019. pagi Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau mendapat laporan dari warga yang melihat seekor Buaya naik ke darat di pemukiman, tepatnya di dekat SD 04 Kampung Merempan Hilir, Kec. Mempura, Kab. Siak. Setelah menerima informasi tersebut, Balai Besar KSDA Riau langsung menurunkan timnya ke lokasi. Ketika sampai di lokasi, Buaya telah ditangkap oleh petugas damkar dan ditempatkan di kantor Dinas Damkar. Akhirnya Dinas Damkar melakukan serah terima kepada petugas Balai Besar KSDA Riau pada hari yang sama. Jenis Buaya tersebut adalah Buaya Muara (Crocodylus porosus) dengan panjang 2,5 meter lebar 50 cm dan jenis kelamin jantan. Kemungkinan besar satwa mengalami dislokasi atau tersesat sehingga naik ke daratan. Habitat umumnya berada di dekat muara sungai yang berbatasan langsung dengan lautan dan jika Buaya terus berenang ke hulu maka biasanya mengalami dislokasi. Satwa langsung diamankan di kantor Bidang KSDA Wil 2 untuk dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya yang jauh dari pemukiman penduduk. Terima kasih kerjasamanya kawan kawan dari Dinas Damkar. Tetap semangat dan tangguh di segala medan... Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sosialisasi Rencana Pemenuhan Komitmen PT. Cibodas Puncak Nirwana Atas IUPSWA di TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 4 September 2019 - PT. Cibodas Puncak Nirwana (PT. CPN) mengadakan sosialisasi rencana kegiatan dalam rangka pemenuhan komitmen atas Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) pada zona pemanfaatan Mandalawangi – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Acara dibuka oleh V. Diah Qurani Kristina (Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur). Dalam sambutannya beliau menyampaikan, bahwa di kawasan TNGGP dimungkinkan adanya Izin Usaha Penyedia Jasa Wisata Alam (IUPJWA) dan Izin Usaha Penyedia Sarana Wisata Alam (IUPSWA). Salah satu calon pemegang IUPSWA adalah PT. CPN yang telah mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) dalam pengembangan wisata alam di TNGGP (Ruang Usaha Zona Pemanfaatan Mandalawangi, SPTN Wilayah I Cibodas, Bidang PTN Wilayah I Cianjur). Aktivitas wisata di Mandalawangi maupun di sekitarnya saat ini sudah berjalan sehingga diharapkan dengan sosialiasi ini didapat harmonisasi antara PT. CPN dengan masyarakat sekitar khususnya masyarakat pelaku usaha wisata, Pemda, dan instansi terkait. Pemaparan sosialiasi dari pihak PT. CPN disampaikan oleh Chrystanto (Direktur Operasional PT Cibodas Puncak Nirwana) dan Roossusetyo (Staf PT. CPN), dalam pemaparannya disampaikan rencana pengembangan wisata alam di Ruang Usaha Zona Pemanfaatan Mandalawangi yang akan dibagi menjadi tiga klaster termasuk di dalamnya untuk area pemberdayaan masyarakat sekitar (community empowerment area). PT. CPN dalam pengembangan usahanya akan menyasar wisatawan yang berbeda (pangsa pasar menengah keatas) yang diharapkan tidak mengganggu terhadap kegiatan usaha wisata masyarakat atau EO yang selama ini telah berjalan. Selain pihak Balai Besar TNGGP dan PT. CPN, turut hadir perwakilan dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cianjur, Vulkanologi dari Pos Pengamatan Gunung Api Gede, Kepolisian Sektor Pacet, Komandan Rayon Militer Cipanas, Babinsa Desa Cimacan, Bhabinkamtibnas Desa Cimacan, Camat Cipanas, Kepala Desa Cimacan, KPRI Edelweis, PT Nuansa Alam Selaras, Ketua RW 04 Rarahan, Ketua RT 06 Rarahan, Event Organizer (EO) Mandalawangi, Kebersihan Keamanan dan Kenyamanan (K3) Cibodas, Komunitas Warung Mandalawangi, pengelola parkir Mandalawangi, dan stake holders terkait lainnya. Dalam sesi diskusi beberapa peserta rapat yang hadir memberikan pertanyaan dan masukan, diantaranya Nanang Suryana perwakilan dari Desa Cimacan, yang menanyakan batas-batas wilayah yang akan dikembangkan oleh PT. CPN. Nanang juga mengusulkan agar setiap aktivitas pengembangan yang dilakukan oleh PT. CPN dikoordinasikan dengan pihak Desa Cimacan. Budiman perwakilan dari Resort Pos Pengamatan Gunung Api Gede, menginformasikan bahwa wilayah Mandalawangi termasuk Zona II Kawasan Rawan Bencana (KRB) sehingga dalam rencana pembangunan sarana agar berkonsultasi/ menggunakan tenaga ahli di bidang terkait. Poppy Oktadiyani perwakilan dari KPRI Edelweis, menanyakan peluang kerjasama usaha dalam pengembangan wisata Mandalawangi dengan PT. CPN. Asep Dulloh (Abah Codet) perwakilan dari Komunitas Warung Mandalawangi, menanyakan perihal keberadaan pohon-pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun apakah akan tetap berdiri dengan adanya IUPSWA PT. CPN. Sirojudin Abas dari EO Mandalawangi, menanyakan apabila ada event di Mandalangi apakah masih bisa menggunakan track maupun fasilitas PT. CPN. Secara umum pihak PT. CPN pun menanggapi pertanyaan dan informasi dalam diskusi, sebagai berikut: Diakhir acara para pihak terkait menyatakan bahwa pada prinsipnya mendukung rencana pengembangan wisata alam yang akan dilakukan oleh PT. Cibodas Puncak Nirwana (PT. CPN) sejauh mengikuti aturan dan ketentuan yang berlaku. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Perempuan Gekbrong Perkuat Ekonomi di Penyangga TNGGP

Cianjur, 4 September 2019 - Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur saat ini dikenal sebagai desa yang peduli gender perempuan dan penghasil produk unggulan pertanian komoditas paprika serta menjadi lokasi favorit pembelajaran budidaya, packaging, dan pemasaran hasil pertanian. Masyarakat Desa Gekbrong yang didominasi petani, memiliki beberapa kendala dalam pengembangan usahanya, seperti harga jual hasil pertanian yang rendah dan pemanfaatan sisa hasil pertanian (rendemen) belum optimal. Permasalahan harga jual biasanya berupa tidak terpenuhinya kuantitas dan standard kualitas pasar, sedangkan untuk pemanfaatan sisa hasil pertanian belum ditemukannya cara pengolahan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi hasil pertanian. Untuk mengatasi hal tersebut, pada awal tahun 2019 dibentuklah Kelompok Perempuan Gekbrong yang didampingi para pendamping dari TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Yayasan Baitul Mal BRI (YBM BRI) dengan tujuan untuk menjawab permasalahan di atas dan dalam rangka peningkatan peran perempuan dalam ketahanan perekonomian desa. Kegiatannya meliputi usaha pengolahan produk olahan pertanian dan sisa hasil pertanian. Awal September (4/9/2019), Kelompok Perempuan Gekbrong mengikuti pelatihan pembuatan manisan sayuran di saung pertemuan kelompok, Kampung Tabrik, Desa Gekbrong. Pelatihan ini diikuti oleh 10 (sepuluh) orang anggota kelompok dengan Instruktur dari YBM BRI dan didampingi oleh Penyuluh Kehutanan dan petugas Resort PTN Tegallega, Bidang PTN Wilayah I Cianjur, TNGGP. Mengapa Manisan Cianjur????.... Desa Gekbrong sudah dikenal sebagai desa penghasil sayuran, namun selama ini produknya belum menuhi standar pasar modern dan masih menghasilkan net profit yang rendah bagi pengrajin, sehingga perlu dilakukan pelatihan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi dan menjaga kandungan gizi dari sayuran. Sementara itu Cianjur terlanjur dikenal sebagai kota manisan, disamping sebagai kota tauco. Untuk itu dibuatlah produk usahatani ibu-ibu Gekbrong, menjadi manisan khas Cianjur. Mbak Rara dari Yayasan Kuntum Indonesia yang bekerjasama dengan YBM BRI selaku instruktur dalam pelatihan menyampaikan bahwa metode pembuatan manisan sayuran ini telah dilakukan oleh beberapa pengrajin manisan di Desa Tegal Waru, Kabupaten Bogor. Produk manisan yang dibuat para pengrajin di Tegal Waru telah dilakukan uji laboratorium dari Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Masyarakat - IPB, dan hasilnya baik untuk dikonsumsi. Selama praktek ibu-ibu diajarkan cara membuat 2 (dua) jenis manisan yaitu manisan kering dan manisan basah, dengan bahan baku sayuran yang ada di desa seperti cabai hijau, paprika, tomat, dan wortel. Pemberian meta benzoat dalam metode pembuatan manisan sayuran yang disampaikan Mba Rara menjadi pengetahuan baru bagi ibu-ibu di Desa Gebrong. Ibu-ibu senang mengikuti pelatihan ini, karena ternyata pembuatan manisan menjadi lebih cepat dan bisa mengurangi biaya gas. Ibu Ela, salah satu peserta pelatihan, baru tahu bahwa nilai gizi manisan menjadi salah satu standar produk untuk memenuhi standar pasar modern. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan anggota kelompok dalam pengembangan usahanya dan Kelompok Perempuan Gekbrong sehingga dapat mendukung kemajuan perekonomian masyarakat di daerah penyangga TNGGP sekaligus zona penyangga Cagar Biosfer Cibodas di Kabupaten cianjur. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks: Febriyani
Baca Berita

AUDIENSI BKSDA BENGKULU DENGAN FORUM PEDULI KONSERVASI BENGKULU

Bengkulu, 5 September 2019. Forum Peduli Konservasi Bengkulu merupakan forum yang terbentuk pada 23 Desember 2018 sebagai tindak lanjut dari Kegiatan Peningkatan Kapasitas Komunitas Peduli Konservasi dengan tema “Bersinergi melestarikan & menjaga alam” yg di fasilitasi oleh BKSDA Bengkulu bekerjasama dengan Kelompok Pecinta Puspa Langka (KPPL) Bengkulu bertempat di ruang pertemuan Kaba Hill Center Jalan Raya Air Sebakul – Betungan Pekan Sabtu Kota Bengkulu. Yang pada awalnya maksud dari kegiatan tersebut diadakan adalah sebagai sarana berkumpul, berbagi informasi dan peningkatan pengetahuan dalam upaya aktif dan penyadartahuan kepada masyarakat akan pentingnya KSDAH & E. Dengan tujuan untuk penguatan SDM dalam hal mengkomunikasikan/mempromosikan kegiatan bidang KSDAHE, ajang silaturahmi antar penggiat konservasi, sharing pengalaman dan penguatan jejaring konservasi dari komunitas/penggiat konservasi dengan latar penggiat konservasi yang berbeda-beda. Disepakatinya pembentukan forum sebagai wadah silaturahmi antar penggiat konservasi yang ada di Provinsi Bengkulu untuk saling bersinergi dan saling support. Forum ini juga nantinya yang akan menginisiasi pertemuan tahunan para penggiat konservasi yang disepakati bernama Jambore Konservasi. Anggota dari forum ini terdiri-dari 17 komunitas/penggiat yang aktif dalam upaya konservasi: Puspa langka (Rafflesia & Amorpophallus), Gajah Sumatera, Penyu, Mangrove, Pendidikan lingkungan, dan kegiatan kepemudaan lainnya dalam rangka perlindungan kelestarian salah satu kawasan konservasi yang ada di Provinsi Bengkulu. Dan pada hari Rabu, 4 September 2019 bertempat di Ruang Rapat Kantor BKSDA Bengkulu perwakilan dari anggota Forum Peduli Konservasi melakukan audiensi dengan BKSDA Bengkulu terkait kegiatan-kegiatan komunitas dalam konservasi. Hasil dari audiensi BKSDA Bengkulu akan melibatkan komunitas yg tergabung dalam forum dalam kegiatan Konservasi dan juga akan menfasilitasi pelaksanaan Jambore/kemah Konservasi tahun 2019 yang nantinya juga diharapkan dapat menghadirkan praktisi bidang ekowisata untuk memberikan tambahan wawasan kepada anggota forum. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

WARGA TEWEH TENGAH SERAHKAN OWA-OWA KE BKSDA KALTENG

Barito Utara 3 September 2019. Wildlife Rescue Unit SKW III BKSDA Kalimantan Tengah menerima serahan satwa dilindungi Undang Undang yaitu Owa-Owa (Hilobactes Muelleri) pada hari selasa, 3 September 2019. Owa-Owa tersebut diserahkan oleh Bapak Oktavianus Panca Ladela Sakti, Warga Desa Malawaken, Kec. Teweh Tengah, Kab. Barito Utara. Berdasarkan informasi dari warga yang menyerahkan, satwa tersebut ditemukan pada Hari senin dan tidak jauh dari rumahnya. Dari perilaku owa-owa tersebut terlihat jinak seperti sudah di pelihara manusia, dan kemungkinan lepas dari kandangnya. Selanjutnya owa-owa jantan berumur 1 tahun tersebut akan menjalani proses rehabilitasi di Yayasan Kalaweit untuk mengembalikan sifat liarnya dan sampai siap untuk kembali ke Hutan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Lakukan Tes Morfometri, BBKSDA Jatim Siapkan Release Elang Jawa

Sidoarjo, 4 September 2019. Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan Tes Morfometri dan pengambilan sampel darah seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), di kantor yang beralamat pada Jalan Raya Bandara Juanda, Sidoarjo. Pelaksanaan tes tersebut turut melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dan Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia. Tes Morfometri sendiri merupakan metode pengukuran terhadap variasi dan perubahan bentuk serta ukuran tubuh dari suatu organisme. Pengukuran morfometri terhadap elang menjadi metode yang mendasar dan penting untuk memperoleh data ukurannya. Seperti untuk mengetahui ukuran antara spesies dan subspesies, untuk mengetahui karakter dari bentuk tubuh elang, dan untuk membedakan jenis kelaminnya. “Adapun yang diukur seperti panjang badan, panjang ekor, rentang sayap, panjang tarsus, panjang paruh, berat badan, dan lain sebagainya,” ujar Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan BBKSDA Jatim. Sedangkan uji sampel darah digunakan untuk menguji Hemaglutinase dan Hemaglutinin atau sering disebut dengan Uji HA-HI. “Uji ini dilakukan untuk mengecek apakah si elang memiliki antibodi terhadap penyakit Avian Influenza atau Flu burung dan Newcastle Disease atau Tetelo,” terang Happy Ferdiansyah dari Kedokteran Hewan UNAIR. Selain itu, Elang Jawa juga dilengkapi dengan tanda (banding) pada kaki kanannya, sebagai penanda bagi satwa yang akan dilepasliarkan. Untuk melakukan pemasangan ring ini diperlukan keahlian dan lisensi dari lembaga yang berkompeten dibidangnya. Pemasangan ring ini dilakukan oleh Iwan Febrianto atau yang lebih akrab dipanggil Iwan Londo. Elang Jawa yang akan dilepasliarkan ini berasal dari penyerahan masyarakat pada 1 Agustus 2019 yang lalu. Adalah Abdul Rozak, warga Kalanganyar - Sidoarjo yang melakukan penyerahan melalui Kepala Desanya kepada Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jatim. Menurut pengakuan Abdul Rozak, ia menemukan satwa tersebut di sekitar tambak miliknya dan saat ditemukan burung tersebut tampak kesulitan untuk terbang. Sumber: Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

TIM WRU SKW II BKSDA KALTENG KEMBALI AMANKAN 2 INDIVIDU ORANGUTAN

Kotawaringin Timur, 4 September 2019. Setelah sebelumnya Tim WRU SKW II BKSDA Kalteng melakukan rescue pada orangutan jantan seberat 90 Kg, selang 2 hari berikutnya tim kembali melakukan rescue terhadap 2 individu orangutan (induk dan betina) di Desa Bagendang Hilir, Kec. Mentaya Hilir Utara, Kab. Kotawaringin Timur. Diawali oleh laporan Bapak Tri Wibowo pada hari Minggu tanggal 01 Agustus 2019 pada pukul 21.40 WIB, yang menyampaikan keberadaan orangutan di Gang Garuda, Desa Bagendang Hilir. Orangutan yang berjumlah 2 individu (induk dan bayi) tersebut berada di di kebun Karet dan Kelapa Sawit milik warga. Di sekitar lokasi juga masih terjadi kebakaran lahan yang mengakibatkan habitat orangutan semakin menyempit. Pada pukul 01.00 WIB, Orangutan berhasil dimasukan direscue dan diamankan di Pos Peredaran Tumbuhan dan Satwa, Sampit dan selanjutnya akan di bawa ke Kantor SKW II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun. Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan dan layak dilepasliarkan, kedua individu orangutan tersebut ditranslokasi ke Suaka Margasatwa Lamandau pada tanggal 4 september 2019. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Yess... ITTO dan TNGGP untuk Masyarakat

Bogor, 4 September 2019 - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bersama International Tropical Timber Organization (ITTO) berkolaborasi melalui kegiatan kerjasama hibah luar negeri ITTO PD 777/15 Rev. 3 (F) “Accelerating the Restoration of Cibodas Biosphere Reserve (CBR) Functions through Proper Management of Landscapes Involving Local Stakeholders”. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah kolaborasi dalam rangka memperkuat model mata pencaharian yang ada pada masyarakat lokal di sekitar wilayah pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Balai Besar TNGGP bersama ITTO menunjuk tim dari Pusat Pengembangan Sumberdaya Alam/ Natural Resource Development Centre (NRDC) sebagai konsultan pelaksana kegiatan. Sebagai salah satu tahapan persiapan, tim konsultan mengadakan identifikasi lokasi kegiatan di 3 wilayah pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Cianjur, Sukabumi, dan Bogor). Masing-masing Bidang PTN Wilayah diusulkan 2 desa (2 Kelompok Tani Hutan/ KTH). Pertemuan pertama tim NRDC didampingi oleh tim Unit Pengelola Proyek melakukan pendekatan dan penggalian informasi calon lokasi kegiatan di Bidang PTN Wilayah III Bogor, yang kemudian diputuskan usulan 2 lokasi yaitu Desa Cileungsi (KTH LBC Lestari) dan Desa Pasir Buncir (KTH Wangun Jaya). Penunjukan kedua desa ini atas pertimbangan beberapa hal terkait dengan alternatif sumber mata pencaharian masyarakat selain pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) secara langsung, potensi dalam pengembangan ekowisata, pemanfaatan sampah, dan ekopertanian mencakup buah-buahan, sayuran, pupuk atau ternak yang mengacu pada dokumen proyek ITTO PD 777/15 Rev. 3 (F). Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang diwakili oleh Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor, menyambut baik rencana kerjasama yang akan dilakukan, mengingat program ini dapat diselaraskan dengan kegiatan yang dilakukan di wilayahnya. Selain itu juga untuk mengurangi tekanan dan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan Cagar Biosfer Cibodas sebagai sumber penghasilan. Pada intinya Balai Besar TNGGP siap untuk bekerjasama, karena proyek kerjasama ini milik bersama dan diharapkan dapat mencarikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Rencana tahap kegiatan selanjutnya, demonstrasi dan pelatihan berkolaborasi dengan masyarakat lokal dan perusahaan/ swasta. Kegiatan ini berlangsung sampai dengan pertengahan tahun 2021, dengan tahapan awal selama 4 bulan melakukan identifikasi terhadap calon lokasi kegiatan. Menurut Kepala Balai Besar TNGGP bahwa proyek kerjasama hibah ITTO PD 777/15 Rev.3 (F) merupakan komitmen Balai Besar TNGGP terhadap pengelolaan Cagar Biosfer Cibodas dimana TNGGP sebagai area inti Cagar Biosfer Cibodas. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks: Ade Bagja Hidayat
Baca Berita

Temu Wicara di Desa “Ramah Burung” Jatimulyo

Yogyakarta 4 September 2019, Balai KSDA Yogyakarta menggelar anjangsana ke kelompok masyarakat di Desa Jatimulyo yang dikemas dalam bentuk "Temu Wicara". Kegiatan yang berlangsung di Omah Suling, Gunung Kelir, Jatimulyo, dihadiri muspika Kecamatan Girimulyo, Pemerintah Desa, dan beberapa Kepala Dusun setempat. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Jatimulyo, Anom Sucondro menceritakan tentang “succes story” Desa Jatimulyo. Awalnya masyarakat masih memperlakukan alam dengan semena-mena. Menangkap ikan dilakukan dengan listrik , serta menembaki burung-burung di alam. “Melihat kondisi alam yang semakin menurun tersebut, di tahun 2014, Pemerintah Desa Jatimulyo membuat Peraturan Desa (Perdes) terkait pelesarian alam. Selanjutnya di tahun 2016, Pemerintah Desa Jatimulyo juga membuat perdes tentang mata air terjun dan pada tahun 2018 dibuat perdes tentang wisata desa.” jelas Anom. Untuk mengembangkan potensi baik keunikan alam, kehati maupun budayanya, pemerintah desa melakukan kerjasama dengan stakeholder terkait. Dengan semakin banyaknya jenis burung di Jatimulyo, menjadikan desa ini terkenal dengan icon “Desa Ramah Burung”. Terkait perlindungan satwa dapat diakui Desa Jatimulyo cukup baik dalam pengelolaanya. Namun demikian, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Desa Jatimulyo yaitu permasalahan sampah menjadi sebuah ancaman bagi keberlangsungan wisata yang sampai saat ini masih dalam proses penyelesaian. Untuk mendukung pelestarian burung secara berkelanjutan, setelah adanya perdes pelestarian alam, dibentuklah Kelompok Tani Hutan Wana Paksi, dengan jenis kegiatan utama pada kegiatan edukasi dan adopsi sarang. Mayoritas anggota kelompok ini adalah mantan pemburu yang kini memiliki kesadaran akan konservasi burung. Seiring berjalannya waktu, kegiatan kelompok semakin beragam. Semula kegiatan kelompok terkait pelestarian burung, kini juga merambah pada budidaya lebah dan wisata alam. Kepala Balai KSDA Yogyakarta,M. Wahyudi mengapresiasi kegiatan kelompok ini. “Saya terkesan dengan kegiatan kelompok Wana Paksi ini terlebih lagi pihak pemerintah Desa Jatimulyo juga telah memberikan dukungan terhadap kegiatan kelompok. Penerbitan tiga perdes di Desa Jatimulyo ini menunjukkan bahwa Pemerintah Desa memiliki awareness yang tinggi terhdap konservasi dan lingkungan. Kedepan untuk lebih mematangkan kelembagaannya, dapat disusun lagi Perdes-perdes pendukung yang berkaitan dengan lingkungan.” ulasnya. Lebih lanjut M. Wahyudi menyoroti permasalahan sampah agar dapat dikelola dengan melibatkan banyak pihak dalam pengolahannya sehingga sampah tersebut dapat memberikan nilai tambah untuk mendukung edukasi wisata. Keberadaan Desa Jatimulyo sebagai Desa “Ramah Burung” ini potensial untuk lebih dikembangkan agar dapat mendukung Borobudur sebagai satu destinasi wisata super prioritas. Kerjasama dengan Balai KSDA Yogyakarta yang sudah terjalin diharapkan dapat terus berlanjut, terlebih lagi kawasan ini telah menjadi lokasi release satwa yang dilakukan Balai KSDA Yogyakarta beberapa waktu lalu, yang dapat memperkaya keanekaragaman hayati,. Dalam kesempatan ini, M. Wahyudi menyampaikan harapannya untuk perkembangan Jatimulyo kedepan. "Sebagai upaya penyebarluasan informasi bidang konservasi, perlu dibentuk “Rumah Baca” baik di tingkat kelompok maupun desa. Untuk mendukung hal tersebut, Balai KSDA Yogyakarta akan mendukung penyusunan Buku “Success Story Desa Jatimulyo”. ujarnya. Pada momen kegiatan ini, Balai KSDA Yogyakarta juga memberikan bantuan beberapa buku terkait bidang konservasi. Sumber : Siti Rohimah (Penyuluh BKSDA Yogyakarta)
Baca Berita

MBSC, Konservasi Sejak Dini, Kini, dan Nanti

Jember, 04 September 2019. Meru Betiri Service Camp (MBSC) kembali diselenggarakan di Resort Bandealit SPTN Wilayah II Ambulu Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti). Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 (lima hari) dari tanggal 30 Agustus hingga 03 September 2019. MBSC XX ini diselenggarakan oleh Wadah Informasi Pecinta Alam Se-Eks Besuki (WIPAB) yang bekerja sama dengan TN MerBeti serta Bidang III Balai Besar KSDA Jawa Timur. Tujuannya yaitu untuk membentuk kader konservasi tingkat pemula TN MerBeti. Kegiatan ini diikuti sebanyak 64 peserta dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Malang, Madura, Bali, dan tentu saja dari Jember, serta daerah-daerah yang lain di Indonesia. Peserta diberangkatkan dari kantor Balai TN MerBeti. “Selamat mengikuti kegiatan MBSC, semoga lancar dan kembali dalam keadaan selamat dan sehat. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengenal TN MerBeti. Kita tunggu peran aktif kader dalam upaya pelestarian TN MerBeti.” Pesan Kepala Balai, Maman Surahman S.Hut.,M.Si. dalam apel pemberangkatan Jumat lalu. Dalam MBSC XX disampaikan bagaimana pentingnya para generasi muda untuk menjaga alam dan lingkungan, minimal untuk dirinya sendiri. Namun demikian, diharapkan dari MBSC ini peserta nantinya setelah kembali ke tempat masing-masing, dapat mengajak saudara, keluarga, teman, atau komunitas yang ada di sekitarnya untuk lebih sadar dan peduli terhadap alam dan lingkungannya. Kegiatan ini selesai dilaksanakan tanggal 3 September 2019. Pesan yang disampaikan oleh panitia adalah agar teman kader konservasi yang baru, dapat menghubungi teman kader yang lain dilingkungan tempat tinggalnya. Sehingga nantinya dapat bergabung dalam kelompok Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) setempat, serta turut serta dalam kampanye lingkungan secara aktif. Harapannya, tahun depan MBSC dapat diselenggarakan kembali, sehingga transfer ilmu tentang pentingnya alam dan lingkungan dapat terus berlanjut di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Salam lestari.... Salam lestari... MBSC...... Masih ada.... Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

SECARA SWADAYA MASYARAKAT 3 DESA MENGELUARKAN JALAN YANG MASUK KAWASAN TWA BUKIT KABA

Bengkulu, 5 September 2019. Upaya-upaya penyelesaian permasalahan dalam pengelolaan kawasan konservasi terus dilakukan oleh BKSDA Bengkulu. Upaya penyelesaian dengan metode pendekatan, sosialisasi dan penyadartahuan terhadap masyarakat merupakan prioritas yang dilakukan oleh petugas resort di tingkat tapak. Dan upaya tersebut membuahkan hasil, pada hari jum’at 23 Agustus 2019 BKSDA Bengkulu yang diwakili oleh petugas Resort KSDA Bukit Kaba 1 mendampingi masyarakat yang akan melakukan pemindahan jalan yang dibuat masyarakat berada/melintas di dalam kawasan Taman Wisata Bukit Kaba menjadi ke luar kawasan. Dimana selama ini jalan tersebut digunakan masyarakat sebagai akses menuju lahan perkebunannya yang sebenarnya berada di luar kawasan. Pemindahan jalan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan didukung juga Pemerintah Desa dari 3 Desa yang memanfaatkan yaitu Desa Suban Ayam, Desa Air Meles dan Desa Kali Padang Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Pemindahan jalan sepanjang 500 meter ke luar kawasan merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk mentaati aturan dan ikut berparan aktif dalam menjaga kawasan TWA Bukit Kaba. Manfaat kawasan yang sudah dirasakan masyarakat sebagai sistem penyangga kehidupan dalam mengatur tata air dan mencegah bencana banjir merupakan faktor penting yang mendorong masyarakat untuk dapat terlaksananya kegiatan ini. Sedangkan bekas jalan lama yang ditinggalkan akan dilakukan pemulihan ekosistem dengan melakukan penanaman kembali tanaman kehutanan bersama masyarakat. Semoga dengan bersinergi antara Pemerintah dalam hal ini BKSDA Bengkulu dan masyarakat desa penyangga, pesan-pesan konservasi dalam menjaga eksistensi kawasan dapat terus ditingkatkan dan dirasakan manfaatnya. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Jangan Biarkan Kami Dijerat

Sukabumi, 3 September 2019 - Belakangan ini perburuan liar khususnya untuk jenis burung sudah sangat mengkhawatirkan. Diperlukan edukasi yang lebih intensif kepada masyarakat sekitar kawasan tentang keseimbangan populasi burung dalam ekosistem, karena dengan menurunnya populasi burung sebagai pemangsa dapat menimbulkan wabah ulat bulu dan hama bagi pertanian masyarakat sekitar kawasan hutan. Dan tugas berat pun menanti kita saat ini, untuk tetap menjaga agar kawasan hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango beserta isinya tetap lestari. Resort PTN Situgunung yang berada di Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, melakukan patroli rutin di area Blok Panel - Resort PTN Situgunung. Pukul 08:00 WIB, tim patroli yang terdiri dari Fungsional Polhut, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), dan Volunteer Situgunung mulai bergerak memasuki kawasan. Dalam perjalanan menuju Blok Panel. Pukul 13:37 WIB, tim patroli berhasil menggagalkan perburuan ilegal, dengan barang bukti jerat burung berupa dua buah jaring kabut yang masing masing berukuran 2 m x 20 m dan 2 dua buah sangkar beserta dua ekor burung (burung jambul/ cicak jenggot ) didalamnya. Setelah tim mengamankan barang bukti, upaya pencarian pelaku perburuan juga dilakukan, dengan menyusuri setiap sudut yang disinyalir bisa dijadikan untuk tempat persembunyian para pelaku perburuan ilegal. Hampir dua jam berselang setelah penelusuran dinyatakan aman, pencarianpun dihentikan. Selanjutnya tim patroli melakukan pelepasan dua ekor burung hasil perburuan liar di sekitar lokasi pemasangan jerat, dengan harapan ekosistem kawasan hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tetap terjaga. Salam Konservasi!! Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks : Purnama Pani S. Foto : Bangkit Tri Baktiputra, A.Md.
Baca Berita

Pesanggrahan Sondaken, Destinasi Ekowisata Mangrove di Minahasa Selatan

Sondaken, 4 September 2019. Ekowisata mangrove di Desa Sondaken, Kab. Minahasa Selatan tidak hanya sekedar menawarkan pemandangan menarik namun pengalaman baru yaitu menginap di rumah kayu tradisional di tengah hutan mangrove yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Bunaken. Di area ekowisata ini tumbuh jenis mangrove Sonneratia alba (Posi-posi) dan Rhizopora apiculata (Lolaro). Tentunya hal tersebut menjadikan ekowisata mangrove ini bernilai edukasi. Untuk mencapai ke rumah kayu tersebut, wisatawan melintasi jembatan sepanjang kurang lebih 200 meter. Selama melewati jembatan, wisatawan akan disuguhi pemandangan hutan mangrove yang lebat dan sejuk. Jika beruntung, wisatawan dapat berjumpa dengan burung dan satwa penghuni mangrove seperti burung Dara Laut. Selain itu, terdapat padang lamun habitat Dugong (Dugong dugon) didekat ekowisata mangrove ini. di Saat-saat tertentu, mamalia ini akan muncul ke permukaan untuk bernafas. Dugong termasuk ke dalam satwa langka sehingga apabila menjumpainya akan menjadi momen yang tak terlupakan. Akses menuju ekowisata mangrove ini tidaklah sulit. Lokasi dapat dijangkau dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4. Sebelum menuju ke lokasi ada baiknya wisatawan menyediakan perbekalan makanan ringan dan minuman karena di Ekowisata Mangrove Desa Sondaken belum tersedia pedagang penjual makanan ataupun minuman. Sumber : Stella A. Puteri, S.Pi (Calon Penyuluh Kehutanan pada Balai Taman Nasional Bunaken)

Menampilkan 4.993–5.008 dari 11.140 publikasi