Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kader Konservasi Mitra Membangun Konservasi di Masyarakat

Yogyakarta 9 September 2019, Sebanyak 10 orang kader konservasi binaan Balai KSDA Yogyakarta turut serta dalam kegiatan pembinaan kader konservasi yang dilaksanakan Hari Minggu (8/9/19) bertempat di Omah Setra Gondo Mayit, Pleret, Bantul. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan pembentukan kader konservasi tahun 2018 lalu. Dipandu oleh PEH dan Penyuluh Balai KSDA Yogyakarta, pada kesempatan ini dibahas mengenai peran kader konservasi terhadap kegiatan konservasi di DIY. Saat ini beberapa kader konservasi sudah aktif dalam kegiatan konservasi secara mandiri, namun demikian tetap diperlukan adanya pembinaan dan dukungan secara kontinyu dari Balai KSDA Yogyakarta. Pada acara pembinaan kader tersebut muncul usulan pembentukan Forum Komunikasi Kader Konservasi (FK3I) yang baru untuk menggantikan kepengurusan yang lama yang telah berakhir periode kepengurusannya. FK3I ini merupakan wadah bagi anggota kader konservasi dalam berkoordinasi dan menyusun serta melaksanakan program kerja. Beberapa program kerja yang disusun kader konservasi ini antara lain program edukasi satwa ke sekolah yang dipandang sebagai salah satu media untuk pendidikan lingkungan khususnya memperkenalkan keragaman satwa kepada siswa. Program edukasi satwa di sekolah dipilih mengingat di kader konservasi ini terdapat komunitas pecinta satwa reptil yang tidak dilindungi. Reptil yang mereka miliki tersebut yang akan digunakan sebagai pengenalan satwa kepada para siswa di sekolah. Untuk mendukung program ini, diperlukan adanya bantuan mobilisasi satwa dari Balai KSDA Yogyakarta yang akan membawa satwa mereka ke sekolah dan memandu dalam pengurusan surat ijin angkut satwa apabila diperlukan. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi mengapresiasi kegiatan kader konservasi tersebut. “Dengan terus melakukan pembinaan dan pendampingan akan muncul kader-kader konservasi yang proaktif dan siap berperan dalam menyuarakan pesan-pesan konservasi. Keberadaan mereka yang ada di tengah-tengah masyarakat merupakan peluang yang bagus tersampaikannya pesan-pesan konservasi tersebut langsung kepada masyarakat.” katanya. Sumber : Tri Dibyo S (PEH Balai KSDA Yogyakarta)
Baca Berita

Balai KSDA Yogyakarta Terima Penyerahan Monyet Ekor Panjang

Yogyakarta 9 September 2019, Balai KSDA Yogyakarta melakukan evakuasi satu ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dari seorang warga Kalimanjung, Ambarketawang, Gamping, Sleman pada Hari Senin (9/9/19). Kronologi penyerahan satwa ini berawal dari laporan masyarakat Kalimanjung yang telah menangkap monyet ekor panjang yang masuk ke dalam rumahnya pada Hari Sabtu (7/9/19). Sebelumnya monyet tersebut diduga hewan peliharaan salah seorang warga, namun setelah beberapa hari dari penangkapan, tidak ada warga yang mengaku memelihara monyet tersebut, sehingga diputuskan monyet diserahkan ke Balai KSDA Yogyakarta melalui petugas yang ada di Resort Sleman. Kepala Resot Sleman, Suharmanto melaporkan kejadian tersebut. “Warga khawatir apabila monyet ekor panjang ini lepas dan dapat mengganggu warga lainnya lagi. Sehingga pagi ini diserahkan ke Resort Sleman.” jelasnya. Kejadian gangguan satwa jenis monyet ekor panjang beberapa kali terjadi di wilayah Sleman. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M.Wahyudi segera menugaskan jajarannya untuk melakukan penanganan yang tepat “Kawan-kawan dari Tim Quick Response Balai KSDA Yogyakarta saya minta dapat cepat bertindak. Yang pertama, satwa monyet ekor panjang yang diserahkan masyarakat tersebut dapat segera dievakuasi ke Stasiun Flora Fauna Bunder untuk penanganan selanjutnya. Yang kedua dapat meningkatkan komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengingat sudah terjadi beberapa kali kejadian monyet ekor panjang yang masuk ke pemukiman warga, apakah monyet ini peliharaan seseorang, ataukah karena permasalahan tidak tersedianya pakan di alam, coba dicermati lagi” ujarnya. Kelengkapan administrasi penyerahan monyet ekor panjang ini disertai dengan berita acara serah terima satwa yang ditandatangani oleh petugas Balai KSDA Yogyakarta dan masyarakat yang menyerahkan. Sumber : Suharmanto (Polhut Balai KSDA Yogyakarta)
Baca Berita

Himbauan Untuk Bijak Berwisata Alam di TN Bali Barat

Gilimanuk, 9 September 2019 - Taman Nasional Bali Barat seluas 19.026,97 Ha di provinsi Bali merupakan kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati baik itu flora dan fauna. Di kawasan TN Bali Barat, banyak dijumpai satwa mulai dari jenis mamalia, reptil, herpetofauna, burung dan biota laut. TN Bali Barat juga merupakan destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untk menikmati kelestarian alam dan potensinya. Untuk para pengunjung TN Bali Barat, marilah #bijakberwisataalam. kami mengingatkan bahwa memberi makan/minum kepada satwa liar di kawasan TN Bali Barat merupakan suatu tindakan yg tidak sesuai ketentuan dan kaidah konservasi! Tindakan tersebut dapat menyebabkan hal-hal sebagai berikut: Jadilah pengunjung yang bijak dalam berwisata di kawasan konservasi, pahami dan ikuti aturan yang berlaku. Mari kita jaga terus keanekaragaman hayati di TN Bali Barat dan selalu ingat untuk tidak membuang sampah sembarangan saat berkunjung maupun saat melintas di kawasan TN Bali Barat. Salam Konservasi! Sumber: Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Bersama Ditreskrimsus Polda DIY, BKSDA Yogyakarta Lakukan Pengamanan dan Penertiban Kepemilikan Satwa Liar

Yogyakarta 6 September 2019, Petugas Balai KSDA Yogyakarta bersama-sama dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIY berhasil mengamankan satwa liar dilindungi dan pemiliknya warga Plesedan, Srimulyo, Piyungan Bantul hari Rabu 4 September 2019. Diawali dari laporan masyarakat mengenai keberadaan satwa liar dilindungi di Piyungan, Petugas dari Ditreskrimsus Polda DIY menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan pengecekan ke lokasi, dan berhasil berhasil mengamankan tiga ekor satwa beserta pemiliknya ke Polda DIY. Selanjutnya tim Polda DIY berkoordinasi dengan Balai KSDA Yogyakarta untuk proses identifikasi satwa dimaksud. Setelah dilakukan penelusuran lebih mendalam, diperoleh informasi masih ada beberapa satwa dilindungi yang belum dievakuasi dari rumah pemilik. Tim Ditreskrimsus Polda DIY bersama-sama petugas Balai KSDA Yogyakarta (Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan), bergegas ke lokasi di Piyungan untuk mengevakuasi satwa dilindungi lainnya. Kepala Balai KSDA Yogyakarta M. Wahyudi memantau terus perkembangan kasus ini. “Setelah dilakukan identifikasi di lapangan oleh kawan-kawan Balai KSDA Yogyarta, satwa-satwa yang berhasil diamankan adalah 1 (satu) ekor Elang Bido (Spilornis cheela), 1 (satu) ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), 1 (satu) ekor Elang Bondol (Haliastur indus), 1 (satu) ekor Kukang (Nycticebus javanicus), 4 (empat) ekor Tiong mas (Gracula religiosa) dan 2 (dua) ekor Nuri Merah Maluku (Eos bornea).” kata Wahyudi. Karena sulitnya medan dan kondisi malam hari yang gelap, evakuasi Tiong mas dan Nuri Merah Maluku baru dilakukan hari Kamis (5/9/19). Dari hasil pemeriksaan diketahui pemilik satwa liar dilindungi ini merupakan pengusaha kuliner di kawasan Bukit Bintang, Piyungan, Bantul yang mengoleksi satwa dilindungi sebagai klangenan (hobi). Polda DIY selanjutnya menyerahkan satwa kepada Balai KSDA Yogyakarta untuk dilakukan tindakan selanjutnya, sementara terhadap pemilik satwa diserahkan kepada Ditreskrimsus Polda DIY untuk penanganan lebih lanjut. Satwa-satwa yang berhasil diamankan kemudian dievakuasi ke Stasiun Flora Fauna Bunder di Gunungkidul untuk dilakukan perawatan. “Kepemilikan satwa di lindungi untuk tujuan hobi jika dibiarkan akan berdampak pada meningkatnya perdagangan satwa di pasaran. Untuk menyikapinya, penting untuk melakukan sosialisasi sesering mungkin baik ke masyarakat maupun ke pedagang satwa mengenai jenis-jenis satwa yang dilindungi sebagaimana peraturan perundangan yang berlaku.” jelas Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi juga mengapresiasi koordinasi yang dilakukan oleh Polda DIY dan menegaskan bahwa penanganan kasus pelanggaran di bidang kehutanan dapat diselesaikan karena adanya koordinasi yang baik antara semua pihak terkait. Pihaknya berterimakasih kepada Direktorat Kriminal Khusus Polda DIY yang selama ini mendukung kegiatan pengamanan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) bersama Balai KSDA Yogakarta. Sumber : Purwanto (Polhut Balai KSDA Yogyakarta).
Baca Berita

Aksi bersih sampah an-organik di kawasan TN Bali Barat, bersama stakeholders

Minggu, 8 September 2019 - Kawasan TN Bali Barat (TNBB) seluas 19.026,96 ha yang berada di sisi Barat pulau Bali, menghadapi tantangan tersendiri dgn terbukanya akses baik darat maupun perairan.. berbagai upaya pre-emtif, koordinasi para pihak, hingga menjadikan penanganan sampah sbg salah satu role model telah dilakukan.. namun, Hal ini belum lah cukup untk menjangkau Alam sadar manusia untk dapat hidup harmonis dgn lingkungannya.. Hingga Juni 2019, sampah an-organik yg terkumpul mencapai lebih dari 9 ton., Namun, semangat Tak knal lelah trus digalakkkan oleh Kepala Balai TN Bali Barat Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si untk lebih giat lagi dalam rangka penanganan sampah plastik dgn aksi yang nyata dan jg penyadartahuan.. salah satunya dengan aksi clean up bersama di kawasan TNBB. Pada aksi yg dilakukan setiap jumat selama Sekitar 1 jam yg dilakukan oleh seluruh staf TNBB, MMP, MPA, pelaku jasa wisata, pelajar dan masyarakat desa penyangga, diangkut sampah lebih dari 190 kg. Kesan yg ingin disampaikan khususnya kepada masyarakat luas adalah agar sadar dan lebih peduli terhadap lingkungannya..karena kebersihan jg sebagian dari Iman dan dengan Alam yg bersih, sehat serta lestari maka hubungan harmonis antara manusia dengan pencipta, sesama Dan Alam lingkungannya benar2 berjalan selaras.. Salam konservasi. Sumber: Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Aktualisasi Latihan Dasar Dengan Sosialisasikan Mangrove Park Mantehage

Kamis, 5 Agustus 2019 - Pelaksanaan tugas aktualisasi Latihan Dasar (Latsar) ASN - Kementerian HK angkatan 7 tahun 2019 salah satunya dilakukan dengan mensosialisasikan destinasi baru wisata di Pulau Mantehage. Sosialisasi dilaksanakan pada 4 desa yang berada di Pulau Mantehage yaitu Desa Tinongko, Desa Bango, Desa Tangkasi, dan Desa Buhias. Tujuannya selain dari promosi mengajak masyarakat menangkap peluang usaha apabila sarana prasarana mangrove park telah tersedia, dimana saat ini dalam tahap penyelesaian. Peluang usaha masyarakat dapat berupa wisata keliling pulau menggunakan katinting, ojek motor, interpreter, pemandu wisata, homestay, pengembangan cinderamata dan kuliner khas. Masyarakat dapat membentuk kelompok yang disahkan oleh Kepala Desa sebagai pengakuan hukum. Metode promosi menggunakan media sosial, hal ini untuk menarik wisatawan sekaligus mengimbangi masyarakat di Pulau Mantehage selaku tuan rumah untuk menyiapkan diri dalam menyambut destinasi wisata. Menurut Vola Harindah selaku warga Desa Tinongko menyambut dengan baik pengembangan destinasi dengan pembangunan Mangrove Park di Mantehage, salah satu berpartisipasi yang akan diikuti adalah penyiapan homestay. Vola juga menggerakan masyarakat Desa Tinongko agar dapat peluang usaha jasa wisata yang sama atau jasa lainnya. Sosialisasi dan pendampingan serta dukungan dari berbagai pihak tentunya sangat diharapkan untuk menjadikan destinasi wisata di Pulau Mantehage, sehingga hal ini akan berlanjut sebagai pemberdayaan masyarakat di desa penyangga, tutup Vola. Sumber: Heni Sulastri (Calon PEH Pertama) - Balai TN Bunaken
Baca Berita

Pengecekan Lokasi Konflik Gajah dengan Manusia di Kabupaten Pidie

Pidie, 03 September 2019 - Menindaklanjuti laporan masyarakat Gampong Amud Mesjid Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie kepada personil Resor Konservasi Wilayah 5 Sigli Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe BKSDA Aceh. Petugas Resor bersama masyarakat turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan lokasi konflik gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus) yang dilaporkan. Adapun lokasi konflik yang dilaporkan merupakan areal perkebunan masyarakat dengan status Areal Penggunaan Lain. Hasil pengecekan dijumpai adanya jejak tapak kaki kawanan gajah liar serta beberapa tanaman Pinang (Arenga pinnata) yang dirusak di lokasi konflik. Jumlah kawanan gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus) tersebut diperkirakan terdiri dari 2 ekor gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus) dengan jenis kelamin jantan. Wilayah tersebut merupakan salah satu wilayah rawan terjadi konflik gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus) dengan manusia di Kabupaten Pidie yang dimana hampir setiap tahun dipastikan adanya laporan masyarakat terkait konflik gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus), baik itu kawanan gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus) yang masuk ke areal pemukiman ataupun ke areal perkebunan masyarakat. Pada kegiatan tersebut personil Resor Konservasi Wilayah 5 Sigli memberikan arahan kepada masyarakat setempat agar tetap waspada apabila sedang berkebun dan segera memberikan informasi kepada petugas jika kawanan gajah liar memasuki area pemukimam ataupun area perkebunan masyarakat. Secara taksonomi, Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) termasuk kelompok Mammalia dengan Famili Elephantidae. Berdasarkan IUCN, jenis satwa ini berstatus Kritis/critically endangered. Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Habitat dari satwa liar Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) ini yaitu pada hutan dataran rendah. Penanganan konflik gajah liar (Elephas maximus ssp. Sumatranus) dengan manusia dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar jo Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/Menhut-II/2014 Tanggal 28 Agustus 2014. Balai Konservasi Daya Alam Aceh memberikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya keterlibatan masyarakat Gampong Amud Mesjid Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie beserta jajaran Pemerintah Kecamatan Glumpang Tiga dalam upaya penanganan konflik gajah dengan manusia di wilayah tersebut. Sumber: Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Balai KSDA Aceh Selenggarakan Lokakarya Fasilitasi Dialog dan Pelibatan Masyarakat

Banda Aceh, 7 September 2019 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh didukung US Department of The Interior – International Technical Assistance Program (DOI – ITAP) menyelenggarakan Lokakarya dengan judul Fasilitasi Dialog dan Pelibatan Masyarakat dalam Mendukung Wisata Berkelanjutan untuk Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh (Facilitating Community Conversations and Engagement to Support Sustainable Ecotourism for the Nature Conservation Agencies of Aceh) bertempat di Hotel The Pade dan Taman Wisata Alam Jantho, mulai tanggal 7 – 10 September 2019. Lokakarya ini diikuti 30 peserta yang terdiri dari BKSDA Aceh, BBKSDA Papua, dibantu staf dari BTN Sebangau dan BTN Tanjung Puting, serta 3 orang trainer dari US National Park Service, yaitu James Rick Kendall, Rebecca Stanfield Mc Cown dan Delia Clark. Lokakarya bertujuan melatih staf untuk dapat berkomunikasi yang efektif dalam rangka pelibatan masyarakat untuk mendukung pengelolaan wisata alam yang lestari. Lokakarya ini direncanakan selama 4 hari, terbagi dalam sesi kelas selama 2 hari dan praktek lapangan di TWA Jantho serta di Desa Bueng, Jantho, selama 2 hari. Pelibatan masyarakat dalan pengelolaan wisata alam di kawasan konservasi selaras dengan salah satu dari 10 cara baru kelola konservasi, yaitu menjadikan masyarakat sebagai subyek pengelolaan kawasan konservasi. Selain itu, wisata alam yang berbasis masyarakat, akan bisa mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. Sumber: Balai KSDA Aceh
Baca Berita

US-DOI Menikmati Hutan Hujan Tropis Pegunungan

Kamis, 5 September 2019 - Tim U.S Departement of the Interior’s (US-DOI) International Technical Assistance Program yang didampingi staf Direktorat Kawasan Konservasi berkunjung ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tepatnya di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) yang merupakan bagian dari area inti Cagar Biosfer Cibodas. Kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh alternatif referensi pengelolaan wisata berbasis masyarakat setempat. Hal ini akan digunakan sebagai pengembangan program pemberdayaan masyarakat pada beberapa kawasan hutan konservasi yang merupakan ruang lingkup kerjasama US-DOI dengan pemerintah Indonesia khususnya beberapa taman nasional yang menjalin persaudaraan melalui sister park. PPKAB layak ditawarkan sebagai obyek pembanding mengingat beberapa kriteria: proses pengembangan dan pengelolaan secara kolaboratif bersama masyarakat sekitar (Forum Interpreter dan Bodogol Kampung Hoya); segmen pasar yang fokus pada pelajar, mahasiswa, pramuka, peneliti, wisatawan minat khusus; serta aktivitas wisata berupa pendidikan konservasi, penelitian, dan pengamatan satwa liar. Sebelum menempuh perjalanan ke PPKAB, tim US-DOI menyempatkan hadir dan berbincang tentang tanaman hoya di Sentra Budidaya Hoya Bodogol – “Bodogol Kampung Hoya” (BKH) salah satu kampung di Desa Benda, desa penyangga TNGGP. Pengurus Bodogol Kampung Hoya menjelaskan tentang manfaat dari tanaman hoya, keragaman hoya di TNGGP, program pendidikan lingkungan, kolaborasi dengan para pihak, serta upaya peningkatan ekonomi masyarakat sekitar yang terintegrasi dengan upaya konservasi di TNGGP. “Very Cool” ucap Mr. Rick (leaders tim US-DOI) setelah mendengarkan penjelasan tersebut. Selanjutnya tim melanjutkan perjalanan menuju PPKAB. Sesampainya di PPKAB tim menuju galeri foto keanekeragaman hayati di TNGGP dan dilanjutkan dengan menikmati hidangan tradisional bandrek dan goreng singkong Bodogol. Sebagai pengantar diskusi, Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor, Dadang Suryana, Senior Manager Terrestrial Program CI Indonesia Anton Ario, serta Koordinator Forum Interpreter PPKAB Andriansyah memaparkan kondisi umum TNGGP, sejarah, dan pola pengelolaan PPKAB. Ditemani desiran dedaunan hutan hujan tropis pegunungan membuat diskusi semakin nyaman. Tiba saatnya tim melanjutkan perjalanan menuju “canopy trail” dengan didampingi interpreter yang menjelaskan tentang flora fauna yang ditemukan saat perjalanan di jalur interpretasi. Menapaki jembatan gantung di tengah lembah diantara pepohonan sambil melihat pemandangan khas pegunungan tropis merupakan pengalaman luar biasa. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Workshop Penyelesaian Permasalahan di Zona Khusus Labuhan Merak (Eks HGU PT Gunung Gumitir) Taman Nasional Baluran

Situbondo, 6 September 2019. Bertempat di Intellegence Room Kabupaten Situbondo, Kamis 05/09/2019 Balai Taman Nasional Baluran bersama Pemerintah Kabupaten SItubondo melaksanakan Workshop Penyelesaian Permasalahan di Zona Khusus Labuhan Merak (Eks HGU PT Gunung Gumitir) Taman Nasional Baluran. Workshop ini dilaksanakan dalam upaya mencari penyelesaian permasalahan masyarakat yang masih tinggal di Labuhan Merak yang merupakan bagian dari wilayah konservasi Balai Taman Nasional Baluran. Acara yang dipimpin langsung oleh Bupati Situbondo H.Dadang Wigiarto, SH dihadiri oleh Direktur Kawasan Konservasi Dirjen KSDAE , beberapa UPT KLHK, DPRD Kab Situbondo, Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah, Pondok Pesantren Assalam, Akademisi, perwakilan masyarakat Labuhan Merak serta tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya. Dalam paparannya, Ir. Dyah Murtiningsih , M.Hum selaku Direktur Kawasan konservasi menyampaikan bahwa secara pengelolaan kawasan TN Baluran masyarakat Merak telah mendapat “pengakuan” dengan telah di tetapkannya dusun Merak menjadi Zona Khusus yang salah satu fungsinya adalah untuk mengakomodir keberadaan masyarakat yang ada di dalam kawasan. Kemitraan konservasi diyakini dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan kepentingan pengelolaan kawasan konservasi dengan kepentingan masyarakat untuk tetap tinggal di Labuhan Merak, demikian yang disampaikan oleh Kepala Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Jabalnusra Ojom Sumantri, S.Hut,.M.Sc . Hal ini juga dapat menjadi landasan bagi pemerintah kabupaten Situbondo untuk bisa lebih optimal dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Labuhan Merak seperti pendidikan, kesehatan sebagai contoh belum dapat membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial karena masih terkendala aturan. Salah satu hasil rumusan workshop menyebutkan perlu dibentuk forum multi pihak dalam rangka penyelsaian masalah dan akan mengawal implementasi Nota Kesepahaman yang akan disusun antara Bupati Situbondo dengan Direktur Jenderal KSDAE, selain itu forum workshop memberikan amanah agar segera diwujudkan perjanjian kerjasama antara masyarakat Labuhan Merak dengan Balai Taman Nasional Baluran dalam bentuk kemitraan konservasi. Sumber: Balai Taman Nasional Baluran
Baca Berita

Kepulan Asap masih Terlihat dari Lereng Ciremai

Kuningan, 6 September 2019. Sekitar pukul empat sore kemarin (5/9), Pengelola Pendakian Gunung Ciremai (PPGC) Palutungan melaporkan kepulan asap di sekitar lereng gunung Ciremai. Prakiraan lokasi asap tersebut berada di sekitar pos singgah Sanghyang Ropoh, jalur pendakian Palutungan, desa Cisantana, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Area pada ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut merupakan batas antara hutan yang telah terbakar dengan hutan yang tak terbakar. Praduga kemunculan asap tersebut akibat faktor alam seperti cuaca panas dan angin kencang. Karena tak ada aktivitas manusia di jalur pendakian yang memang masih ditutup sampai batas waktu yang belum ditentukan. Diduga kuat, bara sisa kebakaran hebat beberapa pekan lalu masih menyala pada batang, dahan, dan ranting pohon yang tertutup tanah. Hasil pantauan visual hingga kemarin petang (5/9), kepulan asap secara perlahan mulai mengecil, ditunjukkan dengan tidak terlihat kobaran api yang menyala. Untuk memastikan situasi dan kondisi, tim PPGC Palutungan naik untuk melakukan "ground check" tadi malam (5/9) sekaligus melakukan pemadaman dini. Menyikapi hal itu, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) meningkatkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kuningan, BPBD Majalengka, mitra masyarakat, dan pihak terkait lainnya. Pasca kebakaran area puncak dinyatakan padam oleh BPBD beberapa hari lalu, Balai TNGC tetap melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Patroli dan posko pencegahan bersama masyarakat tetap dilakukan secara rutin di kawasan rawan karhutla terutama kaki gunung Ciremai wilayah utara Kuningan seperti Lambosir, Bintangot, Pajaten serta Batu Luhur dan sekitarnya. Sedangkan di wilayah Majalengka, patroli pencegahan karhutla rutin dilakukan di Bantaragung, Cikaracak, Argalingga, dan Apuy. sampai saat informasi ini ditayangkan, tim PPGC Palutungan masih berupaya mengendalikan kepulan asap tersebut. Sedangkan tim yang berada di bawah terus memonitor perkembangan dan menyiapkan yang diperlukan. Sumber: Tim Gabungan-Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Taman Nasional Kelimutu Raih Gold Winner pada Planet Tourism Indonesia Awards 2019

Jakarta, 6 September 2019. Taman Nasional Kelimutu terpilih sebagai pemenang Gold Winner pada Planet Tourism Indonesia Awards 2019 dalam kategori NATURE. Penganugrahan ini dilakukan di Hotel Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta pada hari Kamis (5/9). Penyerahan award dilakukan oleh Ketua Asosiasi Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) kepada Agus Sitepu Kepala Balai TN Kelimutu disaksikan oleh Chairman MarkPlus Center for Tourism and Hospitality (MPTH) Hermawan Karyajaya, Direktur PLJHK KLHK, Bupati Kotawaringin Barat, Ketua DPRD Sulawesi Utara dan Ibu Julie Laiskodat Istri Gubernur NTT . Acara ini adalah kolaborasi antara MarkPlus Center for Tourism and Hospitality dan Asosiasi Industri Pariwisata Indonesia yang melakukan penilaian atas beberapa subjek pelaku wisata pada beberapa kategori. Adapun kategori NATURE (Attraction) yang dimenangkan TN Kelimutu adalah pengakuan atas kontribusi Taman Nasional Kelimutu kepada industri pariwisata Indonesia tidak hanya dalam dampak ekonomi tetapi juga komitmen dalam memberdayakan masyarakat setempat serta melestarikan lingkungan yang juga mengacu pada Sustainable Development Goals TN Tanjung Puting mendapatkan Silver Award kategori yang sama dan pada kesempatan ini penghargaan khusus diberikan kepada Prof. Birute Gladikas yang mendapatkan Activities Award atas pengabdiannya selama hampir 50 tahun dalam pelestarian orangutan di TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. TN Kelimutu berterimakasih kepada semua masyarakat dan stakeholder yang telah mendukung TN Kelimutu baik dalam pengelolaan di lapangan maupun di dukungan di dunia maya. Penghargaan ini adalah buah dari hasil kerja bersama TN Kelimutu, masyrakat dan semua stakeholder terkait. Kelimutu akan terus berjalan demi lestarinya kawasan taman nasional, sejahteranya masyarakat sekitar dan tercerahkannya pengunjung. Sumber: Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

PENANDATANGANAN PERJANJIAN KERJASAMA KEMITRAAN KONSERVASI ANTARA BALAI TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE DENGAN 5 KELOMPOK MASYARAKAT KONSERVASI

Kotamobagu, 5 September 2019. Bertempat di Kantor Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), digelar acara penandatanganan perjanjian kerjasama kemitraan konservasi antara Balai TNBNW dengan 5 kelompok masyarakat konservasi yang berada di sekitar kawasan TNBNW. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TNBNW, drh. Supriyanto dan didampingi oleh tim E-PASS selaku mitra yang memfasilitasi terlaksananya acara ini. Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Kepala Resort untuk masing-masing lokasi kemitraan, Ketua kelompok, Kepala Desa dari masing-masing kelompok serta para pendamping desa. Kerjasama Kemitraan Konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem ini merupakan salah satu bentuk dari kerjasama penguatan fungsi kawasan, yang dapat dikatakan adalah kali pertama di TNBNW, meskipun sebelumnya juga telah dilakukan kerjasama dengan beberapa kelompok masyarakat, namun kerjasama tersebut merupakan kerjasama dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Penandatangan kerjasama ini adalah tindak lanjut dari Surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor S. 631/KSDAE/KK/KSA.1/8/2019 tanggal 23 Agustus 2019 perihal Persetujuan Kerja Sama Kemitraan Konservasi dalam rangka Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 tahun ini melibatkan 5 (lima) kelompok masyarakat yang terdiri dari Kelompok Buana Hijau Desa Mengkang, Kelompok Lestari Desa Kinomaligan, Kelompok Boliogot Desa Doloduo Dua, Kelompok Gunung Lanying Desa Werdhi Agung Selatan dan Kelompok Podarwis Desa Poduwoma, dengan jumlah anggota secara keseluruhan 116 orang dan luasan areal kemitraan 147, 50 hektar. Dalam sambutannya Kepala Balai TNBNW drh. Supriyanto menyampaikan bahwa kerjasama kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem ini menjadi salah satu solusi yang ditempuh dalam menyelesaikan masalah keterlanjuran pemanfaatan kawasan di TNBNW. Harapannya kerjasama ini dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya penjagaan dan pengelolaan kawasan TNBNW, dengan tidak lagi menambah areal untuk berkebun di dalam kawasan, namun menjaganya dengan melakukan penanaman tanaman kayu dan non kayu seperti Cempaka, Nantu, Pala dan Kemiri. Dengan kerjasama ini pula diharapkan apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat kedepannya dapat memberikan hasil yang optimal, tidak hanya bagi kawasan TNBNW namun juga bagi kelompok masyarakat itu sendiri yaitu dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu sebagai alternatif dalam menambah penghasilan/pendapatan masyarakat. Sebagaimana analisis dari masyarakat yang sudah menanam kemiri bahwa dalam setahun dapat menghasilkan sekitar 100 – 200 kg per pohon, yang jika di hitung dengan harga terendah saat ini sekitar Rp. 6.000 per kg dapat menghasilkan Rp. 600.000 – 1.200.000 per pohon per tahun. Dapat dibayangkan jika setiap orang menanam sekitar minimal 50 pohon. Di akhir sambutannya Kepala Balai menyampaikan agar kelompok masyarakat dapat menyusun teknis pelaksanaan kegiatan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai tindak lanjut dari kerjasama ini. Disamping itu diharapkan pula kepada Kepala Desa agar dapat bersama-sama melakukan penjagaan kawasan termasuk pencegahan kebakaran hutan maupun penambahan luas perambahan kawasan. Sumber : Nuraini – Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Pembinaan Masyarakat Desa Penyangga Taman Nasional Batang Gadis

Mandailing Natal, 6 September 2019. Kegiatan Pembinaan Masyarakat Desa di Daerah Penyangga TN. Batang Gadis merupakan salah satu kegiatan dari Balai TN. Batang Gadis dalam meningkatkan, mengelola kelompok dan sumber daya manusia agar lebih baik dan berkelompok sesuai dengan harapan. Pembinaan masyarakat dilakukan melalui rapat dan pelatihan dengan kelompok masyarakat. Kegiatan dilaksanakan di Desa Pastap Julu, Seksi PTN Wilayah II Resort 3 Pagar Gunung. Tahap-tahap yang harus dilakukan tersebut adalah meliputi : Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri. Tahap transformasi dilakukan dengan penambahan wawasan pengetahuan, kecakapan, keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam kelompok. Dengan peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan, keterampilan terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif yang dapat mengantarkan pada kemandirian. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

RSUD Semitau bersama Manggala Agni Brigdalkarhut Daops Semitau Balai Besar Bentarum Gelar Pelatihan Safety Briefing dan Pelatihan APAR

Semitau, 5 September 2019. Keadaan darurat merupakan suatu keadaan/kondisi/kejadian yang tidak normal dimana keadaaan ini terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan dampak negative bagi lingkungan maupun mengganggu kegiatan yang ada. Keaadaan darurat harus segera dilakukan penanggulangan karena dapat berubah menjadi bencana yang mengakibatkan banyak korban dan kerusakan. keadaan darurat meliputi kebakaran, gempa bumi, banjir. Sebagai bagian dari Standar Operasional Proseur (SOP), Rumah Sakit Umum Daerah Semitau bekerjasama dengan Manggala Agni Brigdalkarhut Daops Semitau Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum menyelenggarakan Pelatihan Safety Briefing dan Pelatihan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan selama 1 hari tanggal 3 September 2019 bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah Semitau. Ruang lingkup kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi kelas dan simulasi tanggap darurat yang meliputi evakuasi pasien, evakuasi aset berharga, pemadaman dini oleh pemadam internal dan pemadaman oleh regu pemadam dari Manggala Agni Brigdalkarhut Daops Semitau TNBKDS. Kegiatan pelatihan diawali dengan sambutan dari Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Semitau dr. Yuliana Yulhelmin Tjawan. Dalam sambutannya disampaikan bahwa kegiatan Pelatihan Safety Briefing dan Pelatihan APAR bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis dan atau paramedis di RSUD Semitau dalam rangka penanggulangan kondisi darurat. Kegaitan kemudian dilanjutkan dengan sesi pemberian materi kelas. Materi yang pertama yaitu Kelas Kebakaran yang disampaikan oleh Kepala Brigdalkarhut Daops Semitau TNBKDS Ade Arief, S.Hut. Pada materi ini disampaikan pengetahuan dasar tentang unsu-unsur yang menyebabkan timbulnya api serta pengelompokan kelas kebakaran. Dalam penyampaian materi ini, Ade menuturkan bahwa tujuan dari klasifikasi/kelas kebakaran yaitu sebagai acuan dalam mengantisipasi kebakaran sedini mungkin sehingga dalam penanganannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Materi kedua yang disampaikan adalah tentang Safety Breafing yang disampaiakn oleh Adi Sucipto selaku Koordinator Pencegahan di Brigdalkarhut Daops Semitau TNBKDS. Dalam materi ini peserta diberikan pengetahuan tentang prosedur kelengkapan bangunan, prosedur tim tanggap darurat, tahapan dalam menghadapi keadaan darurat, dan cara evakuasi. Materi berikutnya adalah Posedur Tetap Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang disampaikan oleh AB. Rasidi selaku Wakil Kepala Regu Brigdalkarhut. Materi yang disampaikan meliputi prosedur pemasangan APAR dan cara-cara penggunaan APAR. Materi terakhir yang disampaikan adalah Simulasi Code Red yang disampaikan oleh dr. Robert dari RSUD Semitau. Sesi berikutnya adalah praktek Penggunaan APAR dan Simulasi Tanggap Darurat. Sebelum kegiatan simulasi tanggap darurat, peserta mendapatkan briefing berupa safety induction yaitu prosedur evakuasi dari ruang pelatihan menuju titik kumpul (assembly point). Jika terjadi kondisi darurat atau bencana. Pada kegiatan simulasi tanggap darurat dibagi menjadi 4 regu dengan masing-masing regu terdiri dari 10 orang. Adapun regu-regu antara lain Regu Merah (Regu Pemadam), Regu Biru (Regu Evakuasi Jiwa), Regu Kuning (Regu Evakuasi Aset berharga), Regu Putih (Regu Pengamanan Jalur Evakuasi). Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak Gunawan Budi Hartono, S.Hut, M.Si menuturkan program pelatihan safety briefing dan pelalithan APAR ini diharapkan dapat memberikan pendidikan, pemahaman dan pengetahuan tentang dasar-dasar penanggulangan bahaya kebakaran dan berbagai kondisi darurat lainnya khususnya bagi RSUD Semitau. Sehingga bila terjadi kondisi darurat terutama di RSUD Semitau, diharapkan peserta pelatihan mampu melakukan evakuasi dan meminimalkan serta menangani dampak bencana. Sumber: Balai Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum
Baca Berita

Korban Konflik Satwa Liar masih Dirawat di Rumah Sakit

Pekanbaru, 6 September 2019. Kepala Bidang Teknis KSDA Riau, bapak Mahfud dan beberapa stafnya mewakili Balai Besar KSDA Riau berkunjung ke korban konflik satwa Beruang dan manusia di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru pada Kamis, 5 September 2019. Warga Desa Tanjung Karang, Kec. Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar Riau tersebut terluka akibat ketidaksengajaannya berjumpa dengan satwa Beruang pada saat yang bersangkutan dan temannya mencari ikan di sungai Batang Ulak, Desa Sungai Serik Kec. Kampar Kiri, Riau. Saat itu, Rabu sore (4/9/2019) korban yang bernama Anisman (45) dan temannya berlari untuk menyelamatkan diri. Namun naas, Satwa yang diduga terkejut dan mengamuk tersebut sempat melukai Anis yang lari ke atas bukit dan meninggalkannya. Anis segera dilarikan ke Puskesmas Lipatkain dan kemudian dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru untuk mendapat penanganan intensif. Mendengar kabar tersebut, Balai Besar KSDA Riau segera menurunkan timnya untuk melakukan identifikasi lapangan. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian tersebut dan berharap ke depannya agar masyarakat lebih waspada apabila melakukan aktivitas di sekitar kawasan habitat satwa liar. Sumber: Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 4.977–4.992 dari 11.140 publikasi