Kamis, 30 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Studi Lapangan Smait Al- Fityan School Medan ke TWA Sibolangit

Siswia SMAIT AL-FITYAN SCHOOL study lapangan ke TWA. Sibolangit Sibolangit, 27 September 2019 - Pengetahuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kini sangat penting untuk diketahui bagi kalangan pelajar. Bagaimana tidak, bahwa Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya dibutuhkan mahluk hidup terutama kita manusia dan mahkluk hidup lainya seperti Tumbuhan dan satwa. Hutan sebagai Salah satu Sumber Daya alam menjadi salah satu wahana tempat pendidikan, budidaya, penelitian dan pembelajaran bagi siswi, seperti yang dilakukan Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMA IT AL-FITYAN School Medan) Yayasan AL-FITYAN Medan ketika melaksanakan Studi Lapangan 61 orang siswi Kelas 11 MIA (Matematika Ilmu Alam) di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, pada Rabu 25 September 2019 yang didampingi 4 guru pembimbing yaitu Annisa Triana Yureva, S.Pd, Nopiana, S.Pd, Marliana Nasution, S.Pd dan Elisah. Sahabat Konservasi Kunjungan Studi Lapangan siswi SMAIT AL-FITYAN School Medan yang berkedudukan di Jl. Asam Kumbang Medan menitikberatkan pada pengenalan Flora dan Fauna yang ada di TWA Sibolangit serta fungsi dan manfaatnya sebagaimana tertuang dalam Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) Nomor 4495/BBKSDASU-2/2019 tanggal. Pengenalan Flora dan Fauna khususnya disepanjang Jalur Intepretasi dibagi menjadi 3 kelompok dan dipandu langsung oleh petugas Resort CA/TWA Sibolangit. Arsenus Simbolon dan Edi Sahputra Ginting. Siswi yang dipandu disepanjang 2 km pada Jalur Interpretasi lebih mengenalkan keragaman Jenis tumbuhan (flora). Setiap siswa diberi kesempatan untuk bertanya, mencatat, memphoto berbagai keragaman jenis tumbuhan sebagai bahan presentase nantinya di sekolah. Studi lapangan sudah menjadi agenda tetap setiap tahunnya di setiap sekolah Khususnya Sekolah-sekolah dari Kota Medan dan Luar Kota Medan yang datang ke TWA Sibolangit. Melalui kegiatan pembelajaran konservasi alam ini, setiap siswa dapat langsung melihat keragaman tumbuhan, keunikan alam yang dapat bisa langsung dilihat serta disini pulalah seluruh proses suksesi alam dipelajari. Hutan Konservasi TWA Sibolangit dengan Luas 24, 85 Ha menyediakan semua kebutuhan Pendidikan Konservasi Alam bagi Siswa/Siswi dari Tingkat PAUD, SD,SMP, SMA bahkan Universitas. Ayo mari Belajar Konservasi ke Taman Wisata Alam Sibolangit. Sebagai Wisata Edukasi Konservasi dan Lingkungan. Sumber : Samuel Siahaan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara Photo: Edi Putra Ginting dan Annisa
Baca Berita

Gelar Deklarasi Bersama tentang Pengawasan dan Pengendalian Peredaran TSL Dilindungi

Jayapura, 25 September 2019 - Balai Besar KSDA Papua menggelar Deklarasi Bersama tentang Pengawasan dan Pengendalian Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi di Provinsi Papua. Deklarasi berlangsung pada Rabu di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura. Delapan pihak yang menandatangani deklarasi yaitu: Balai Besar KSDA Papua, Kepolisian Daerah Papua, Kodam XVII Cenderawasih, Lantamal X Jayapura, Lanud Silas Papare, Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Balai Gakkum LHK Wilayah Maluku Papua, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, dan Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Jayapura. Penandatanganan deklarasi disaksikan oleh perwakilan UPT KLHK Lingkup Provinsi Papua, Perwakilan masyarakat adat, Perwakilan LSM di Jayapura, Media Massa dan juga Akademisi. Adapun isi deklarasi memuat empat poin. Pertama, mendukung kegiatan penyadartahuan dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan (stakeholder) tentang peraturan perundang-undangan terkait konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di Provinsi Papua. Kedua, meningkatkan koordinasi dan kerja sama dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Papua. Ketiga, meningkatkan sinergitas secara kolaboratif dalam pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Papua. Keempat, menindak tegas pelaku tindak pidana perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Papua. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyatakan, “Sampai sekarang masih banyak satwa dilindungi dari Papua berada di luar Papua. Setiap instansi tidak dapat bekerja sendiri-sendiri dalam mengatasi persoalan tersebut. Sinergitas kolaboratif stakeholders sangat diperlukan dalam menjaga kekayaan keanekaragaman hayati di Papua.” Pada kesempatan yang sama, Edward juga mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo, bahwa "Ego sektoral yang terkotak-kotak sudah tidak relevan lagi di era sekarang dan harus ditinggalkan. kolaborasi dan sinergi antarlembaga harus ditingkatkan." (djr) Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Giat PSKL di Taman Nasional Taka Bonerate

Kepulauan Selayar, 26 September 2019 - Hari ini (25/09) berlangsung Sosialisasi, Fasilitasi dan Sinkronisasi Kemitraan Kehutanan oleh tim Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Balai TN Taka Bonerate (TNTBR). Bertempat di ruang rapat Balai TNTBR giat ini dibuka oleh Kepala Balai yang dihadiri oleh para Pejabat Struktural, Koordinator Fungsional, Koordinator Pokja, Pejabat Fungsional serta perwakilan Kelompok Nelayan yang sudah ber-PKS Kemitraan Konservasi dengan Balai TNTBR. "Di TN Taka Bonerate sudah 8 Kelompok Nelayan yang sudah melakukan PKS dengan kami dan beberapa hari lalu sudah dilaksanakan penandatanganan" jelas Kepala Balai. Prinsip dari Kemitraan Konservasi ini adalah saling menghargai, saling percaya dan saling menguntungkan. Dalam giat ini dibawakan materi oleh Kasubdit Penyiapan Kemitraan Konservasi Joakim Sagala "Kemitraan Konservasi Kehutanan" "Status PKS Kemitraan Konservasi Kehutanan ini akan ditingkatkan ketingkat menteri, dirjen @pskl_klhk dan dirjen @konservasi_ksdae sudah sepakat tentang hal ini" ucap Joakim Sagala Ada tiga ruang lingkup dalam Kemitraan Konservasi ini, yaitu : kemitraan dalam rangka pemberdayaan masyarakat, Kemitraan Konservasi dalam rangka Pemulihan Ekosistem dan Pembinaan, Pengendalian Monitoring dan evaluasi. Kemudian bentuk Kemitraan Konservasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat setempat berupa pemberian akses serta kerjasama antara pemegang izin pada kawasan konservasi dengan masyarakat setempat. Inti dari kemitraan ini adalah tercapainya kelestarian sumberdaya alam dan kesejahteraan masyarakat serta keikutsertaan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan TN Taka Bonerate. Di akhir sosialiasi dibuka sesi tanya jawab dengan peserta sosialisasi. Sumber : Asri (PEH Penyelia) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Sekditjen KSDAE Hadiri Release Satwa di Hote Melia Purosani Yogyakarta

Yogyakarta 23 September 2019 - Sekretaris Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc hadir dalam acara pelepasliaran Burung Gelatik Jawa (Lonchura oryzivora) di komplek Hotel Melia Purosani Yogyakarta hari Selasa (24/9/19). Pelepasliaran dilaksanakan oleh Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi, bersama-sama dengan General Manager Hotel Melia Purosani Yogyakarta. Turut serta dalam pelepasliaran tersebut, Kepala Seksi Pemasaran Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Manajemen Hotel Melia Purosani, Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 dan fungsional PEH Balai KSDA Yogyakarta. Burung Gelatik Jawa yang dilepasliarkan merupakan anakan yang terjatuh dan selanjutnya dirawat hingga siap untuk direlease. Dalam sambutannya, Ir. Herry subagiadi, M.Sc memberikan apresiasi terhadap Pengelola Hotel Melia Purosani Yogyakarta. “Saya bangga dengan Hotel Melia Purosani Yogyakarta ini yang telah konsisten menyediakan kawasan hotel sebagai habitat bagi Gelatik Jawa. Lokasi Hotel yang berada di tengah kota Yogyakarta nyatanya tidak menyurutkan Hotel Melia Purosani sebagai salah satu icon Kota Yogyakarta yang peduli dengan keberadaan satwa khususnya jenis Gelatik Jawa. tutur mantan Kepala Balai KSDA Yogyakarta periode tahun 2011 – 2013 tersebut. Sementara itu M. Wahyudi, memberikan penjelasan terkait upaya konservasi yang telah dilaksanakan oleh Hotel Melia Purosani Yogyakarta. “Antara Balai KSDA Yogyakarta dan Hotel Melia Purosani Yogyakarta telah terjalin kerjasama yang cukup lama. Sejak tahun 2006 sampai sekarang, Balai KSDA Yogyakarta secara rutin melakukan monitoring populasi Burung Gelatik Jawa di Hotel Melia Purosani. Data monitoring terakhir terdapat 50 ekor Burung Gelatik Jawa di sini.” kata M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi menjelaskan, selaras dengan program Direktorat PJLHK sebagaimana informasi Kepala Seksi Pemasaran Dit PJLHK, saat ini Direktorat PJLHK telah meluncurkan konten aplikasi “Wisata Alam Indonesia” yang didalamnya terdapat menu “agenda tahunan”. Aplikasi ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang promosi bagi Hotel Melia Purosani. “Kita dorong agar Hotel Melia Purosani dapat membuat promosi tahunan terkait konservasi satwa sehingga saat user membuka aplikasi tersebut, mereka bisa melihat event tahunan Hotel Melia Purosani Yogyakarta dan bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk menikmati event tahunan konservasi satwa di Hotel Melia ini.” Jelas M. Wahyudi. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P106 tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, Burung Gelatik Jawa termasuk jenis dilindungi di Indonesia. Hotel Melia Purosani telah menunjukkan eksistensinya untuk turut serta dalam konservasi satwa liar di Yogyakarta. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam mendukung konservasi Gelatik Jawa di Hotel Melia ini antara lain adalah : Pemasangan nest box dan bird feeder di lingkungan hotel bersama Yayasan Kutilang (Nopember 2009); Penandatangan MoU dan Pemberian Piagam Penghargaan kepada Hotel Melia oleh Dirjen PHKA (Oktober 2011); Pendidikan Lingkungan untuk siswa SLTP (Oktober 2012); Pendidikan Lingkungan untuk siswa SLTA (Juni 2013); Sosialisasi dan pengamatan burung, dan lomba lukis Gelatik Jawa untuk siswa tingkat SD Kota Yogyakarta (tahun 2017) dan Sosialisasi Peraturan Perundangan Peraturan Menteri KLHK No.: P.92/menlhk/setjen/kum.1/8/2018 (tahun 2018) “Balai KSDA Yogyakarta Bersama-sama dengan Hotel Melia Purosani akan menyiapkan kegiatan Pendidikan konservasi bagi anak usia dini pada akhir Tahun 2019 ini, dan akan dibuat program kerja bersama untuk tahun-tahun mendatang.” tutup M. Wahyudi. Sumber : Tri Dibyo Sumbogo (PEH) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Membangun Bersama Pariwisata Indonesia

Jakarta, 26 September 2019 - Indonesia Sustainable Tourism Award Festival 2019 (ISTAFest 2019) merupakan selebrasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia yang betujuan untuk mensosialisasikan pemahaman pariwisata berkelanjutan dan mempromosikan destinasi pariwisata yang sudah menerapkan pariwisata berkelanjutan sesuai Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 mengenai “Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan”. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata di Hotel Ritz Carlton - Pacific Place, Jakarta. Peserta ISTAFest tersebut antara lain PENTAHELIX Pemerintah Pusat dan Daerah, Pelaku Industri Pariwisata, Mitra Kementerian Pariwisata (UNWTO, Green Destinations, World Bank, SECO, Uni-Eropa), Mitra Cobranding Kementerian Pariwisata, Akademisi, Komunitas Masyarakat, Media. Pada salah satu rangkaian acara, ada juga Indonesia Sustainable Tourism Mart (ISTAmart) yaitu event yang berguna sebagai wadah promosi dan pemasaran destinasi-destinasi pariwisata yang telah mengimplementasikan konsep pariwisata berkelanjutan. Transaksi dalam ISTAMart dapat berupa business-to-business (B2B) dan/atau business-to-consumer (B2C). Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Asep Sugiharta menyampaikan bahwa pilar utama dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan yaitu Pemanfaatan sumber daya alam/lingkungan secara bijaksana untuk pariwisata alam tanpa mengganggu keberlanjutan sumber daya alam utama seperti air, udara, tanah, kehati, pusaka budaya dan alam sehingga dapat terus menerus menopang dan meningkatkan kehidupan sosial ekonomi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Berita

Enam Kawasan Konservasi di Papua Dinilai dengan Metode METT

Jayapura, 25 September 2019 - Balai Besar KSDA Papua bekerja sama dengan USAID Lestari menyelenggarakan penilaian enam kawasan konservasi menggunakan METT (Management Effectiveness Tracking Tool). Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (24-25/9) di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura. Enam kawasan yang dinilai adalah Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Cagar Alam Yapen Tengah, Cagar Alam Pulau Supiori, Cagar Alam Tanjung Wiay, Taman Wisata Alam Teluk Youtefa, dan Taman Wisata Alam Nabire. Pihak-pihak yang hadir untuk memberikan penilaian antara lain perwakilan masing-masing UPT di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Provinsi Papua, perwakilan Bappeda Kota dan Kabupaten Jayapura, perwakilan masyarakat adat di sekitar kawasan konservasi, perwakilan beberapa LSM di Jayapura, dan akademisi. Sementara fasilitator kegiatan adalah Prihananto Setiadji, S.T., M.T., seorang akademisi dari Universitas Cenderawasih. Dalam sambutannya, Evie Adipati dari USAID Lestari menyampaikan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan BBKSDA Papua dalam kegiatan METT sejak tahun 2015. METT diselenggarakan dalam rentang waktu dua tahun sekali. Artinya, pada tahun 2019 merupakan penyelenggaraan yang ketiga. USAID Lestari senantiasa memberikan dukungan, dan siap melakukan sosialisasi hasil METT kepada para pihak dan masyarakat umum. Sementara Prihananto Setiadji, S.T., M.T., menyampaikan, METT bukan digunakan untuk menilai pengelolanya, dalam hal ini adalah Kepala BBKSDA Papua beserta seluruh jajarannya. METT digunakan untuk menilai bagaimana proses pengelolaan kawasan konservasi yang akan menjadi dasar perencanaan pengelolaan kawasan ke depan yang lebih matang. Selain pihak LSM dan akademisi, masyarakat adat juga menyampaikan pokok pikiran penting. Yehuda Demetouw, Ketua Dewan Adat Suku Tepera Yewena Yosu, mengatakan bahwa tanah adalah ibu. Dengan demikian, masyarakat harus menjaga tanah dengan sebaik-baiknya supaya sang ibu tetap aman dan dapat terus memberikan kehidupan bagi umat manusia. Apabila masyarakat merusak sang ibu dan membuatnya murka, tentu bencana akan datang bertubi-tubi kepada mereka. Pemikiran tersebut merupakan warisan nilai leluhur masyarakat Papua pada umumnya, dan mereka pegang teguh sebagai pola interaksi yang harmoni antara manusia, alam semesta, dan Pencipta. Senyatanya, pola pemikiran tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap keutuhan alam di Papua, yang menjadi bagian dari kawasan konservasi. Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Papua menyampaikan, “METT adalah salah satu metode dalam penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Penilaian harus dilakukan secara obyektif, karena hasilnya akan dijadikan salah satu referensi dalam intervensi pengelolaan. Dengan demikian, pengelolaan ke depan dapat lebih baik, lebih efektif, dan efisien untuk kelestarian kawasan dan kesejahteraan masyarakat”. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Black Bat Flower di Kawasan Hutan TN Batang Gadis

Kamis, 26 September 2019 - Ahmad Yani, calon Polisi Hutan (Polhut) Balai Taman Nasional Batang Gadis menemukan jenis bunga Kalelawar Hitam (Black Bat Flower) di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis di SPTN wilayah II Kotanopan saat melaksanakan kegiatan patroli rutin . Menurut Wikipedia, Bunga Kalelawar Hitam (Black Bat Flower) memiliki nama latin Tacca chantrieri dari keluarga Dioscoreaceae yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang tersebar mulai dari Thailand, Semenanjung Malaysia hingga Sumatera Indonesia. Tanaman ini memiliki dua brachtea yang menyerupai bunga yang berbentuk seperti kelelawar hitam hingga 12 inci, dan panjang "kumis" yang dapat tumbuh hingga 28 inci. Pada umumnya bunga ini hidup di tempat yang teduh dan cenderung lembab sehingga tidak memerlukan sinar matahari langsung. Hanya ada dua species dari genus Tacca ini di dunia yaitu Tacca chantrieri dan Tacca Integrifolia. Bunga ini telah lama dibudidayakan diluar negeri sebagai tanaman hias koleksi kolektor tanaman tropis dunia, di Indonesia sendiri tanaman ini belum terlalu populer. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Peningkatan Mutu dan Pemasaran Produksi UMKM Masyarakat Desa Penyangga TN Kelimutu

Ende, 25 September 2019. Balai Taman Nasional Kelimutu mengadakan kegiatan Sosialisasi dalam upaya Peningkatan Mutu dan Pemasaran Produksi UMKM Masyarakat Desa Penyangga, Selasa (24/9) di Aula Balai TN Kelimutu. Kegiatan ini diikuti oleh beberapa kelompok mitra dari desa penyangga TN Kelimutu dengan produksi Kopi Sokoria dari Koperasi Mitra Kopi Sokoria, Kopi dari Masyarakat Adat Saga, Kopi dari Kelompok Masyarakat Ekoleta Wologai, Kopi Detusoko dari Kelompok RMC, Kopi Exotic dari Wolowaru dan Kopi Kelimutu Manukako. Selain itu ada juga produk pupuk cair dan pestisida organik dari Kelompok Tani Rimbawan Nduaria, produk madu dari Kelompok Kelamenta, produk kripik dari Desa Wologai dan Desa Ndito. Acara ini dibuka oleh Kepala Balai TN Kelimutu dengan pemateri terdiri dari Kepala Badan Pom/Loka POM Ende yang memberi materi mengenai Kualitas dan Kelayakan Produk, Tata Perijinan dan Pemasaran Produk oleh Kabid Dinas Perdagangan dan Industri Ende dan Prospek Bantuan Pembiayaan UMKM dari Bank NTT cabang Ende. Para peserta mengikuti acara ini dengan antusias dan bersemangat dengan baik dalam diskusi dengan narasumber ataupun antar para peserta sendiri atau dengan petugas pendamping dari resort wilayah, seksi wilayah maupun balai dalam bertukar pikiran yang saling bersinergi untuk mengembangkan produk UMKM yang dipandu oleh KasubTU TN Kelimutu. Pada kegiatan ini juga disepakati beberapa hal terkait branding bersama Kopi Kelimutu dan kelompok koordinasi mitra produk kuliner TN Kelimutu, serta kesepakatan kelanjutan acara ini pada tanggal 1 Oktober 2019. Semoga produk dari mitra desa penyangga TN Kelimutu akan terus meningkat baik dalam kualitas maupun pemasaran untuk mendukung wisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Pertama Di Dunia Terlahir Sesar

Acungan jempol, patut kita sampaikan atas dedikasi putra-putri NKRI yang berhasil menyelamatkan bayi dan ibu owa jawa lewat “operasi sesar”, di JGC Bodogol pada Bulan April 2018, demikian juga dengan kesungguhan para perawat selanjutnya, terutama pada masa kritis. Pada masa kritis ini, sekitar tujuh hari paska kelahiran, diperlukan perawatan intensif terhadap bayi, setiap dua jam harus diberi minum susu. Demikian juga terhadap induknya yang perlu perhatian ekstra. Bisa dibayangkan tiga orang perawat satwa di Javan Gibbon Center (JGC) bergiliran menjaga dan merawat ibu dan sang bayi, pagi hingga malam di tengah hutan yang sepi. Tapi untungnya, … bayi ini mau disusui oleh laki-laki. Itulah si Billy Putri yang KENA DI HATI (keanekaragaman dunia hayati) kali ini. Totalitas Ditangan Putra Putri NKRI Ditengah malam yang dingin, di dalam hutan yang sepi, putra-putri NKRI berjuang membantu seekor owa jawa yang tidak bisa melahirkan secara normal. Setelah sekian lama berjuang, akhirnya pada 23.30 WIB tanggal 28 April 2018 lahirlah sang bayi dengan selamat lewat operasi sesar. Itulah si “Billy Putri” anak pasangan Bu Jolly dan Pak Boby. Setelah berhasil membantu kelahiran sang bayi, “crew” masih berharap-harap cemas menghadapi “masa kritis” yang harus dilewati. Tujuh hari sudah, perjuangan dimasa kritispun berhasil dengan baik, kondisi sang bayi sehat dan normal. Sebulan berlalu penampakan owa dewasa sudah mulai muncul, rambut di badan yang semula kemerah-merahan pelan-pelan berubah menjadi abu-abu kehitaman. Meskipun belum stabil, dia mulai bisa mengangkat tangan, dan sudah memperlihatkan keinginan untuk berdiri. Tiga bulan ditinggal, si dede Billy Putri sudah mulai bisa berdiri dan pegangan pada batang kayu. Pada hari ulangtahunnya yang pertama, si Billy sudah lebih pas disebut “anak owa” dari pada disebut bayi. Sang anak kelihatan sehat, aktif bergerak dan berayun di kandang barunya yang lebih luas (kandang individu seluas dua m2). Dia lincah meloncat dari ranting ke ranting dan pandai berayun dari satu ayunan ke ayunan lain. Dengan sabar para perawat satwa menjaga, merawat, dan memantau perkembangan “anak satwa terancam punah” ini, dan sudah mulai melatih untuk naik pohon di luar kandang. Pada umur satu setengah tahun, penampakan satwa langka “ikonik Jawa Barat” ini sudah seperti owa “beneran”, badannya berwarna abu-abu dengan muka hitam dan dan rambut sekitar muka agak terang. Pergerakan mulai memperlihatkan sifat aslinya lincah dan liar, loncat kesana-kemari di kandang introduksi yang cukup luas (ukuran 55 m2). Yang semula senang dengan kehadiran orang, terutama para pengasuhnya, sekarang sudah banyak menghindar. Kembalinya sifat liar satwa “endemik Jawa bagian barat” ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan perawatan satwa untuk dilepasliarkan. Posisi kandang sudah dijauhkan dari kehadiran manusia, lebih masuk ke dalam hutan, komposisi makanan sudah mulai diperbanyak tumbuhan yang berasal dari hutan. Dengan sifatnya yang semakin liar, serta hadirnya si Mowgly (anak owa berkelamin jantan seumuran Billy) di JGC, menjadi teman bermain di usianya saat ini dan siapa tahu kedepannya mereka bisa menjadi pasangan hidup. “Mudah-mudahan saja kelak dikemudian hari, si Billy Putri dan si Mowgly bisa berpasangan dan melanjutkan kehidupannya di alam liar”, kata Radi, pengasuh si Billy. Menurut Agung Gunawan, Kepala Resort PTN Bodogol, keberhasilan upaya penyelamatan satwa liar yang satu ini sungguh membanggakan, karena totalitas dikerjakan oleh anak bangsa, tanpa bantuan “expert asing” . Kelanjutan Pasangan Boby dan Jolly Sang Billy Putri merupakan anak kedua pasangan Boby dan Jolly. Kakanya juga dilahirkan melalui operasi sesar, namun karena bayi teramat lemah sehingga tidak bisa diselamatkan. Menurut drh. Pristiani Nurantika, (drh yang menangani operasi sesar dan penanggungjawab kesehatan owa di JGC), proses kelahiran sesar pada owa rehabilitan merupakan dampak dari pemeliharaan manusia. Sedari kecil Jolly telah direbut dari pelukan ibunya dan diasuh oleh keluarga manusia, di tempat yang bukan seharusnya Jolly berada. Jolly melewati masa-masa dimana dia bisa belajar banyak hal dari kedua orangtuanya, termasuk bagaimana cara melahirkan dan mengasuh anaknya kelak. Melewati dua kali sesar dengan jarak hanya 1 tahun, maka ibu Jolly dan bapak Boby harus bersabar menunggu kesembuhan luka paska operasi hingga keduanya dapat dipertemukan kembali. Saat ini, tiada lagi sekat diantara mereka dan kemesraan keduanya kerap kali terlihat hingga pada waktunya nanti mereka dapat menikmati hidup di alam liar, rumah mereka yang sebenarnya. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks: Hidayat Santosa, Sri Rejeki Mulyani, dan Ai Nani Rohaeni
Baca Berita

Buaya Muara Ditemukan Warga di Sungai Kualo Tanjung Balai

Tanjung Balai, 23 September 2019. Kembali Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar menerima laporan masyarakat, ada warga Tanjung Balai yang menemukan 1 (satu) individu Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Sungai Kualo Selat Lancag, 23 September 2019. Adalah Muklis umur 41 tahun pekerjaan nelayan dan penarik becak yg berdomisili di Kelurahan Perwira Kecamatan Tanjung Balai Selatan Kota Tanjung Balai menemukan buaya yang merupakan anakan berukuruan ±70 cm. Buaya tersebut ditemukannya pada saat sedang memancing di Sungai Kualo Selat Lancang yang jaraknya ± 100m dari pemukiman pada pukul 05.00 WIB dini hari. Selanjutnya anakan buaya tersebut di bawa kerumahnya. Awalnya Muklis melihat 4 (empat) ekor anakan buaya yang sedang berenang di bawah jembatan dimana 3 (tiga) ekor buaya langsung melarikan diri ke sungai dan 1 (satu) ekor buaya lari kearah pemukiman masyarakat dan langsung ditangkap oleh Muklis. Muklis akhirnya melepaskan anak buaya yang ditangkapnya itu pada pukul 13.00 WIB di hari dan tempat yang sama dimana anak buaya ditemukan atas anjuran dari warga lainnya karena dikhawatirkan induk dari buaya akan datang untuk mencari anak buaya. Kepala Resort Konservasi Wilayah Pelabuhan Tanjung Balai dan Tim yang ada di lokasi menghimbau masyarakat agar tetap waspada akan keberadaan buaya muara tersebut. Apabila melihat kemunculan buaya agar langsung melaporkan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Buaya Muara (Crocodylus porosus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Famili Crocodylidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi/ Dalam kategori IUCN Buaya Muara (Crocodylus porosus) berstatus Least Concern/tingkat resiko rendah dengan penyebaran/distribusi hampir seluruh kawasan hutan di Pulau Sumatera. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Kepala Resort Pelabuhan Tanjung Balai sangat berterimakasih atas apa yang telah dilakukan oleh Masyarakat Kelurahan Perwira Kecamatan Tanjung Balai Selatan Kota Tanjung Balai yang telah melepaskan tanpa melukai buaya tersebut ke habitatnya sehingga tidak sampai menimbulkan dampak negatif baik bagi satwa maupun masyarakat. Sumber : Lisbeth - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa di Wilayah Balai Taman Nasional Meru Betiri

Jember, 24 September 2019. Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melakukan pelepasliaran satwa di Resort Bandealit, SPTN Wilayah II Ambulu, TN MerBeti. Pelepasliaran ini dilaksanakan langsung oleh Kepala Balai TN MerBeti, Maman Surahman, S.Hut., M.Si. beserta tim BBKSDA Jatim. Adapun satwa yang dilepaskan terdiri dari seekor Trenggiling (Manis javanica), tiga ekor Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis), seekor Jelarang (Ratufa bicolor) dan dua ekor cangak merah (Ardea sumatrana). Satwa ini berasal dari hasil penyerahan masyarakat dan penitipan dari Distreskrimsus Polda Jatim tanggal 23 Maret 2019. Tujuan pelepasliaran adalah agar satwa liar dapat kembali berada di habitat aslinya sehingga dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik secara alami. Pemilihan lokasi pelepasliaran dipilih pada lokasi dimana pada kawasan hutan tersebut dinilai aman dan memiliki daya dukung yang baik bagi satwa liar serta keberadaan satwa dari jenis tersebut di lokasi pelepasan. “Pelepasliaran satwa ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap satwa. Semoga satwa-satwa ini bisa bertahan hidup di alam liar dan kelestariannya terjaga.” Harap Kabalai TN Merbeti. Sumber: Balai Taman nasional Meru Betiri
Baca Berita

Ingin Melihat Langsung Perkembangan Transplantasi Karang, PT Mars Berkunjung Ke TN Taka Bonerate

Benteng-Kepulauan Selayar, 25 September 2019. Beberpa hari lalu tepatnya pada tanggal 20 September 2019, Saipul Rapi selaku wakil dari PT MARS berkunjung ke Kantor Balai TN Taka Bonerate. Beliau diterima langsung oleh kepala balai Faat Rudhianto di ruang kerjanya serta didampingi koordinator fungsional PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) Saleh Rahman. "Kami sudah melaksanakan restorasi atau pemulihan ekosistem ini dari tahun 2017 dan telah menurunkan seribuan rangka di beberapa lokasi Zona Rehabilitasi dalam kawasan" Ucap Faat Rudhianto memulai pembicaraan Selama berada dalam kawasan, PT MARS akan mengunjungi beberapa lokasi pemulihan ekosistem di Zona Rehabilitasi untuk melihat langsung perkembangan transplantasi karang yanh selama ini dilaksanakan oleh balai. "Hari ini kami akan berkunjung langsung dan melihat sejauh mana perkembangan hasil transplantasi karang yang dibuat teman-teman" ucap Ipul Beliau salut dengan kegiatan pemulihan ekosistem yang dilakukan oleh pihak Balai TN Taka Bonerate karena salah satu instansi yang paling antusias mengadopsi metode yang digunakan oleh PT. Mars Setelah berkeliling selama lima hari dalam kawasan, pria yang akrab disapa Pak Ipul ini mengaku salut dengan pihak Balai TN Taka Bonerate karena salah satu instansi yang paling semangat dan antusias mengadopsi metode MARSS (Mars Assisted Reef Restoration System) rangka Laba-laba yang dikembangkan oleh PT. Mars Perkembangan dan tingkat pertumbuhan anakan karang transplantasi terlihat sehat dan optimal di sebagian besar lokasi transplantasi karang. Kedepan perlu dilakukan monitoring untuk memastikan zona restorasi tersebut tidak rusak akibat aktifitas nelayan yang tidak bertanggung jawab di sekitarnya, ujarnya Sumber Teks : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto : Saleh Rahman - PEH Balai Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi pada BKSDA Sumsel

Palembang, 23 September 2019. Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi terhadap 5 (lima) kawasan yang dikelola yaitu Suaka Margasatwa (SM) Gunung Raya, SM Dangku, SM Isau-Isau, Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu dan Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan (HSA PLG KH) Isau-Isau. Sebelumnya, kelima kawasan tersebut terakhir dilakukan penilaian pada tahun 2017 (SM Dangku, SM Gunung Raya, dan TWA Punti Kayu) dan tahun 2018 (SM Isau-Isau dan HSA PLG KH Isau-Isau). Penilaian dengan perangkat METT dilakukan guna memantau kondisi kawasan konservasi dengan memastikan kesesuaian tujuan pengelolaan dan upaya memperbaiki kelemahan melalui rencana aksi yang dituangkan dalam perencanaan selanjutnya. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19 September 2019 bertempat di kantor Balai KSDA Sumatera Selatan dengan mengundang pihak luar yang terdiri dari masyarakat sekitar kawasan konservasi dan pemangku kepentingan dari dan di sekitar kawasan konservasi yang dinilai. Para pemangku kepentingan yang dilibatkan antara lain Bappeda Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, perwakilan Kepala Desa/ Lurah sekitar kawasan, BPKH Wilayah II, Balitbang LHK Palembang, akademisi (UNSRI, Stiper Sriwigama, dan Universitas Muhammadiyah Palembang), ZSL, dan pemegang IPPA TWA Punti Kayu PT Indosuma Putra Citra. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pertemuan melalui focus group discussion (FGD) dengan didampingi oleh Bapak Dian Risdianto, S.P., M.Si (Direktorat Kawasan Konservasi) dan Ibu Shabiliani Mareti, S.Hut., M.Si (Balai KSDA Sumatera Selatan) sebagai fasilitator METT. Dalam melakukan penilaian, pemangku kawasan menyampaikan pengalaman dalam mengimplementasikan pengelolaan kawasan, sedangkan para pihak luar dapat mengetahui gambaran secara terukur berdasarkan verifikasi terhadap dokumen internal maupun eksternal yang dimiliki. Oleh karena itu, keterlibatan pihak luar diharapkan dapat memperkuat hasil penilaian dan menjaga independensi. Penilaian yang diperoleh pada saat kegiatan yaitu SM Dangku 80%, SM Gunung Raya 61%, SM Isau-Isau 84%, TWA Punti Kayu 84%, dan HSA PLG KH Isau-Isau 66%. Hasil penilaian terhadap kelima kawasan konservasi tersebut akan disusun dalam bentuk laporan dan disampaikan kepada Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem untuk ditelaah dan analisa lebih lanjut sebagai dasar penilaian secara nasional. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi menjadi acuan bagi Balai KSDA Sumatera Selatan untuk kemudian memperbaiki kualitas pengelolaan kawasan konservasi sebagai benteng pelestarian keanekaragaman hayati di Sumatera Selatan. Sumber : Julita Pitria, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Bencana Karhutla di Pulau Sumba

Waingapu, 23 September 2019. Kejadian kebakaran hutan dan lahan yang menghebohkan beberapa hari terakhir ini seperti terjadi di daratan Sumatera dan Kalimantan, juga terjadi di Pulau Sumba. Sudah lebih dari seminggu tim pengendalian kebakaran hutan dan lahan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berjibaku memadamkan api yang berkobar. Tim ini juga memperoleh bantuan dari berbagai pihak, diantaranya adalah personil TNI Angkatan Darat dari Kodim 1601 Sumba Timur, dinas terkait dari Kabupaten Sumba Timur, yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum, serta masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api binaan TN Matalawa. Dengan anggota lebih dari 30 orang, tim ini menyisir dan berusaha memadamkan lokasi titik api yang tersebar di beberapa titik. Dalam kesempatannya ketika meninjau lokasi pemadaman, Komandan Kodim 1601 Sumba Timur, Letkol Inf. Johan A.P. Marpaung, S.Ip cukup terkejut ketika ditunjukkan foto udara kebakaran hutan yang sedang berlangsung. Bersama Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, Dandim juga langsung ikut masuk ke lokasi titik api untuk membantu proses pemadaman. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Sekditjen KSDAE Mengajak Bersama Satukan Langkah, Persepsi dan Semangat dalam Mengemban Tugas Konservasi Di DIY

Yogyakarta 23 September 2019, Sekretaris Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem , Ir. Herry Subagiadi, M.Sc hadir membuka dan memberikan arahan pada kegiatan Sosialiasasi Peraturan Perundang-undangan Bidang KSDAE di Yogyakarta hari Senin (23/9/19). Bertempat di Merbabu Convention Hotel Prima SR, Jl. Magelang Km 10, kegiatan ini dimulai dari pukul 08.00 WIB dengan peserta sebanyak 130 orang terdiri dari unsur Balai KSDA Yogyakarta, Balai TN Gunung Merapi dan UPT Kementerian LHK lingkup DIY. Dalam arahannya, Sekditjen KSDAE menyampaikan pertemuan kali ini sebagai ajang silaturahmi dan melakukan uwur-uwur (pembinaan) bagi UPT Kementerian LHK di DIY. “Kesempatan yang berbahagia ini dapat dimanfaatlkan bersama untuk bersilaturahmi dan membangun kembali spirit jiwa corsa rimbawan untuk bersama-sama menyatukan langkah, menyatukan persepsi dan menyatukan semangat dalam mengemban tugas konservasi di DIY.” urai Ir. Herry Subagiadi. Pada kesempatan ini, Sekditjen KSDAE juga memberikan motivasi untuk memupuk semangat kerja para peserta yang hadir. “Berada dan bekerja di Yogyakarta janganlah kita terperangkap di zona nyaman, terus bekerjalah dengan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Cobalah untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif dan jiwa korsa yang kuat. Serta melatih diri untuk membangun inovasi sesuai tugas masing-masing dalam kerangka meningkatkan mutu kinerja kita” jelas mantan Kepala Balai KSDA Yogyakarta ini. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menampaikan terimakasihnya atas kesediaan Sekditjen KSDAE hadir dalam kegiatan sosialisasi ini.”Kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Sekditjen KSDAE yang telah menyediakan waktu untuk hadir pada kegiatan ini. Semoga momentum kegiatan sosialisasi ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para peserta untuk dapat berdialog langsung dengan Sekditjen KSDAE dan Kabag Kepegawaian dan Ortala Ditjen KSDAE.” tutur nya. Turut hadir pada kesempatan ini Kepala Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana Ditjen KSDAE, Kepala Sub Bagian Administrasi Jabatan Fungsional, Ditjen KSDAE dan Kepala Seksi Pemasaran Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi. Di akhir kegiatan diserahkan Buku Strategi Komunikasi Untuk Konservasi Alam dari Kasie Pemasaran Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Susanti, S.Hut, M.Sc kepada Kepala Balai KSDA Yogyakarta dan Kepala Balai TN Gunung Merapi. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

World Clean Up Day 2019 Taman Wisata Alam di NTB

Mataram, 21 September 2019 - Peringatan World Clean Up Day 2019, sesuai arahan Kepala Balai kepada Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, II dan III Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) untuk melaksanakan aksi Clean Up di masing-masing Taman Wisata Alam (TWA). SKW I Lombok melaksanakan kegiatan clean up di TWA Kerandangan, TWA Suranadi dan TWA Gunung Tunak. Di TWA Kerandangan clean up difokuskan di area gerbang masuk dan jalan trail bersama masyarakat dan berhasil mengumpulkan sekitar 20 kg sampah. Dan untuk TWA Gunung Tunak dipusatkan pada area sekitar Camping Ground dan Sanctuary Rusa dan terkumpul 6 karung sampah atau 15 kg yang terdiri dari sampah plastik dan organik seperti daun dan kayu kering. Sementara di TWA Suranadi pada gorong-gorong saluran air dan pagar batas kawasan dan terkumpul sekitar 90 kg sampah plastik. Kegiatan diikuti PEH, Polhut dan Staf lapangan. Sementara SKW II Sumbawa melaksanakan kegiatan di TWAL Pulau Moyo yang dimana terkumpul sampah plastik, botol, kaleng dan sampah organik sebanyak 5 karung dari area pantai disekitar pos dan gerbang masuk. Dan terakhir di SKW III Bima kegiatan dilaksanakan di TWA Madapangga. Sebagai Taman Wisata Alam yang dibelah oleh jalan antar provinsi Dompu-Bima, kegiatan clean up diutamakan di area sekitar pos dan sepanjang jalan batas kawasan. Bersama POLHUT, Staf lapangan dan MMP tim berhasil mengumpulkan sebanyak kurang lebih 20 karung sampah plastik dan organik. Sebagai informasi, World Clean Up Day merupakan aksi sosial global yang bertujuan untuk mengatasi permasalah sampah. Yang menarik, WCD (World Clean Up Day) merupakan event besar yang dilakukan serentak di 157 negara. Beberapa negara yang berpartisipasi antara lain Amerika Serikat, Meksiko, Inggris, Rusia, China, Pakistan, dan masih banyak lagi. Indonesia tentu tak ketinggalan berkontribusi dalam event penting ini sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah sampah plastik yang menjadi isu internasional. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Menampilkan 4.849–4.864 dari 11.140 publikasi