Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Rescue Bekantan di Tanah Bumbu

Batulicin, 26 September 2019, Satu lagi maskot Provinsi Kalimantan Selatan yang berhasil di selamatkan, informasi didapat Bapak Yofi Azhar (Kepala Resort Selat Laut Selat Sebuku) dari Kantor SKW III Batulicin yaitu mendapat laporan dari Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin Wilayah Kerja Batulicin bahwa ada Satwa Bekantan yang Tertabrak yang diserahkan oleh pihak kepolisian Tanah Bumbu, kemudian atas arahan Kepala SKW III Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc menugaskan Tim dari SKW III Batulicin yaitu rellis dan David langsung mendatangi Kantor Karantina untuk mengecek dan berkoordinasi langsung. Menurut keterangan Karantina pihak kepolisian menyatakan bahwa Bekantan ditemukan setelah tertabrak sepeda motor. Kondisi satwa masih belum sehat, terdapat luka-luka dibagian tubuh Bekantan, Bekantan yang ditemukan masih dirawat oleh Dokter Ahmad Syafei paramedik dari dinas pertanian Kabupaten Tanah Bumbu dan dititipkan di Kantor Karantina Batulicin. Setelah kondisi satwa membaik dan dipastikan sudah mampu untuk kembali ke alam, maka akan dilepas liarkan kembali kehabitatnya yaitu di Pulau Suwangi. Tindakan cepat dan terkoordinasi ini sangat diapresiasi oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan dampak negatif bagi satwa dan juga bagi masyarakat. Kedepannya kami selalu akan bersinergi dengan pihak dalam penyelamatan satwa yang terancam punah ini. (ryn) Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kisah Terpotongnya Gading si Robin

Pekanbaru, 26 September 2019 - Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau yang terdiri dari drh. Rini Deswita, paramedis, beberapa perawat satwa dan didampingi Kepala Resort TWA Buluh Cina beserta anggotanya melakukan kegiatan pemotongan gading Gajah yang bernama Robin. Robin adalah salah satu Gajah jinak jantan yang ditempatkan di TWA Buluh Cina bersama satu Gajah jinak betina lainnya bernama Ngatini. Robin yang berumur 20 tahun dengan bobot kurang lebih 3 ton terlihat sehat dan terawat. Namun dengan panjang gading mencapai 87 cm (sebelah kanan) dan 86 cm (sebelah kiri) Tim memutuskan bahwa gading Robin harus dipotong. Pemotongan dilakukan sepanjang 15 cm. Pengen tau kan kenapa sih gading Robin harus dipotong? Pertama agar tidak menyulitkan satwa tersebut saat makan, kedua agar tidak membahayakan bagi perawat satwa (mahout) atau pengunjung yang datang dan ketiga menghindari pihak pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mengambil gadingnya yang memang bernilai tinggi di pasaran.... Tentunya kegiatan ini disertai dengan penandatanganan Berita Acara untuk kelengkapan administrasinya dan gading disimpan di ruang penyimpanan Balai Besar KSDA Riau. Tak lupa Tim juga melakukan pemeriksaan kesehatan fisik kedua satwa yang dilindungi tersebut. Selalu sehat ya Robin dan Ngatini... Salam konservasi dari kami... Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Serah Terima Bibit Desa Hutan Lombang SPTN ilayah III Muarasoma, Desa Penyangga TNBG untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Mandailing Natal, 27 September 2019. Keberadaan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Batang Gadis mempunyai peran strategis yaitu untuk mengamankan dan atau melindungi kawasan taman nasional dari berbagai bentuk ancaman. Peran strategis tersebut tidak akan dapat diimplementasikan apabila sumberdaya manusia masyarakat desa penyangga dalam posisi tawar yang lemah, artinya dimana ekonomi masyarakatnya masih prasejahtera. Sehingga tidaklah heran apabila yang semestinya masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan kawasan justru berbalik menjadi oknum pelaku pengrusakan atau perambah kawasan hutan. Paradigma pengelolaan kawasan saat ini “Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari” mengharuskan pengelola kawasan hutan untuk memberdayakan masyarakat desa-desa penyangga melalui pemberian akses kelola sebagian kawasan hutan dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia terkait usaha-usaha peningkatan ekonomi disektor pertanian, perkebunan, perikanan dan campuran. Dalam hal ini Balai TN Batang Gadis melaksanakan acara serah terima bibit dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan ekonomi masyarat desa penyangga TNBG di desa Huta Lombang Kec. Puncak Sorik Marapi . Acara serah terima bibit ini dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Huta Lombang berupa Durian : 250 batang, dan Petai : 100 batang. Kegiatan ini dihadiri Bapak kepala Balai TNBG,Kepala Seksi SPTN Wilayah III Muarasoma beserta personil SPTN Wilayah III Muarasoma’ Camat Puncak Sorik Marapi, Kepala Desa Huta Lombang, Tokoh masyarakat Huta Lombang, Tokoh Agama, dan Ketua Kelompok Bonca Jaya beserta anggota. Kepala Desa Huta Lombang Bapak Ashar menyampaikan ucapan terimakasih mewakili kelompk dan masyarakat Huta Lombang atas perhatian dan bantuan Balai TNBG, "Kami siap mendukung program TNBG dalam menyelaraskan pembangunan dengan upaya pelestarian kawasan. Serta meminta kepada masyarakat agar bantuan yang diterima di tanam dan dirawat sebaik-baiknya sehingga tujuan peningkatan ekonomi masyarakat tercapai” ucap pak Ashar. Dalam sambutan nya bapak Camat Puncak Sorik Marapi menyampaikan pemerintah hadir di masyarakat bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Semua instansi haru saling bersinergi agar masyarakat sejahtera, alam terjaga. Dalam arahannya Bapak Ir. Sahdin Zunaidi. M. Si selaku Kepala Balai TN Batang Gadis menyampaikan bahwa pemberdayaan masyarakat sebagai upaya peningkatan pendapatan masyarakat di Desa Huta Lombang merupakan bentuk kepedulian dan upaya Taman Nasional Batang Gadis agar masyarakat sejahtera dan juga melestarikan kawasan. Nilai kawasan hutan bukan hanya kayu tetapi juga madu, rotan, tumbuhan obat, satwa dan juga berbagai jenis tumbuhan lainnya menjadi harta yang tak ternilai harganya. Kawasan TNBG juga menjadi hulu sungai dan daerah tangkapan air yang berfungsi untuk menjaga dan mengatur ketersediaan air tanah dan sungai. Acara ini ditutup dengan penyerahan bantuan bibit oleh Bapak Kepala Balai TNBG (Ir. Sahdin Zunaidi. M. Si) kepada kelompok masyarakat Bonca Jaya diwakili oleh Bapak Camat Puncak Sorik Marapi. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Kelompok Penyetaraan Gender di Desa Sekitar TN Matalawa

Waingapu. 26 September 2019. Peningkatan peran perempuan Sumba dalam peningkatan perekonomian masyarakat menjadi target besar kegiatan Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Berbagai kegiatan pun dilakukan guna menyetarakan peran perempuan Sumba di lingkungannya. Salah satunya adalah kegiatan yang baru saja selesai dilakukan yaitu Pelatihan Perbanyakan Bibit dan Pengolahan Pasca Panen Itik Petelur, 30 orang perempuan dari Desa Padiratana yang disebut Rambu Langgaliru menerima pelatihan selama 2 hari yang diberikan oleh tenaga ahli dan para Penyuluh Kehutanan. Pelatihan ini diselenggarakan sebagai sebagai upaya percepatan dalam rangka mendorong peningkatan populasi itik yang ada di Desa Padiratana. Kepala Balai TN Matalawa meyebutkan dengan adanya pelatihan ini diharapakan kelompok Rambu Langgaliru mampu membuka wawasan terhadap upaya perbanyakan dan produksi turunan baik telur maupun itik nya, sehingga mampu memberikan kemandirian dan peningkatan ekonomi rumah tangga kelompok Rambu Langgaliru itu sendiri. Selain pemberian materi di kelas, kelompok juga diberikan materi praktek yaitu pengolahan pakan, pemberian pakan, pembuatan kandang, pengendalian hama dan penyakit itik, serta pembuatan dan penggunaan mesin penetas, pembuatan dan pengemasan telur asin, dan pemasarannya. (akn) Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Pembinaan Pengembangan Karier Pejabat Fungsional

Waingapu. 26 September 2019. Pejabat fungsional memiliki peranan penting dalam suatu unit pengelolaan. Terkadang jumlah pejabat fungsional yang ada pada suatu unit jumlahnya melebihi pejabat non fungsional sehingga harus melakukan rangkap tugas dengan yang bukan termasuk tugas pokok dan fungsinya. Dalam mengantisipasi hal tersebut, bagian kepegawaian Ditjen KSDAE memberikan pembinaan pada kelompok pejabat fungsional di Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Pembinaan diberikan oleh Kepala Sub Bagian Administrasi Jabatan Fungsional, Septi Eka Wardhani, S.Hut, MP. Beliau menyampaikan banyak sekali hal terkait jabatan fungsional termasuk informasi tugas belajar, izin belajar, dan lain-lain. Kegiatan yang sedianya diselenggarakan di Aula Kantor Balai, dipindahkan ke Information Centre sebagai bagian antisipasi dalam menghadapi kebakaran hutan. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, dalam kesempatan ini mengingatkan bahwa pejabat fungsional mempunyai kesempatan besar dalam meningkatkan karier baik pangkat ataupun jabatannya. Kedisplinan dalam mengumpulkan angka kredit menjadi faktor penting untuk peningkatan tersebut. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Provinsi NTB Sebagai Pusat Peringatan Hari Rabies Se-Dunia Tahun 2019 di Indonesia

Mataram, 28 September 2019 - Hari peringatan Hari Rabies Se-Dunia (World Rabies Day) Tahun 2019 di Indonesia kali ini dipusatkan di Provinsi NTB dengan Tema “Vaksinasi Tuntas, Rabies Bebas” yang mengikuti tema global yakni “Vaccinate to Eliminate”. Acara Peringatan diikuti oleh Ditjen PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan) dari Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Provinsi NTB dan mitra dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan didukung oleh Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) serta K-9 Unit dari POLDA NTB. Kegiatan juga didukung oleh Kementerian Lingungan Hidup dan Kehutanan melalui UPT Balai KSDA NTB yang dihadiri langsung oleh Kepala Balai, Ir. ARI SUBIANTORO, M.P. Dalam Pembukaan Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Bapak I Ketut Diarmita menyampaikan “Berbagai program pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan rabies pun menjadi tanggung jawab bersama khususnya instansi yang menangani aspek kesehatan, instansi yang menangani kesehatan hewan dan pemerintah daerah yang mengkoordinir masyarakat,” Lebih lanjut beliau menambahkan, "Melalui sosialisasi dan edukasi diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang rabies dan pentingnya kemitraan dengan melibatkan komunitas, masyarakat sipil, pemerintah dan sektor non pemerintah serta mitra international" Senada dengan Ditjen PKH, dalam pembukaan Wakil Gubernur NTB menyampaikan, "Sebagaimana NTB menghadapi bencana gempa beberapa waktu lalu, Penanganan Rabies Insya Allah akan berhasil jika kita lakukan bersama antara masyarakat dan pemerintah" Sebagai bentuk dukungan melawan wabah rabies di Provinsi NTB, Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH memberikan bantuan vaksin rabies sebanyak 16.000 dosis vaksin Rabies yang menurut rencana akan didistribusikan ke Dompu, Sumbawa, dan Bima Selepas Pembukaan dan penyerahan bantuan vaksin rabies, Wakil Gubernur NTB bersama Ditjen PHK Kementerian Pertanian dan Pejabat terkait secara simbolis melakukan pemukulan Gendang Beleq (Alat musik tradisional suku Sasak Lombok) yang menandakan dimulainya "perang" antara Pemerintah Provinsi NTB melawan wabah Rabies. Tak sampai disitu, dilakukan juga Demo pemberian vaksin rabies kepada seekor anjing yang merupakan hewan peliharaan milik salah seorang peserta kegiatan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB juga ikut memperlihatkan cara pemberian vaksin rabies untuk manusia kepada salah seorang pegawai Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Selepas kegiatan panggung, Wakil Gubernur NTB didampingi pejabat terkait didampingi Kepala Balai KSDA NTB mengunjungi stand-stand di lokasi acara. Beberapa diantaranya, Stand Vaksinasi Hewan yang memberikan layanan vaksin hewan gratis untuk masyarakat yang membawa hewan peliharaan (anjing dan kucing) selama acara berlangsung. Kedua Stand Sterilisasi hewan khusus untuk hewan peliharaan kucing. Termasuk juga stand sosialisasi dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB yang mengkampanyekan mengenai dampak penyakit Rabies terhadap manusia. Dinas Kesehatan Provinsi NTB juga menunjukkan demo mengenai tata cara pertolongan pertama ketika manusia yang tergigit oleh hewan yang terjangkit wabah rabies. Terakhir, kegiatan juga diramaikan oleh siswa-siswi Sekolah Dasar di Mataram beserta wali murid dan guru, masyarakat dan komunitas-komunitas pecinta hewan di NTB. Acara ditutup dengan pertunjukkan dari K-9 Unit dari POLDA NTB. Sebagai informasi, Di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, sekitar 98% kasus Rabies pada manusia berasal dari gigitan anjing dan jika terlambat ditangani, virus rabies akan menginfeksi sistem saraf pusat, yang menyebabkan penyakit pada otak dan ini tentu mematikan bagi manusia. SUMBER : BKSDA NTB
Baca Berita

Implementasi Sinergitas Kolaboratif antara BBKSDA Papua dan Satgas TNI Pamtas RI-PNG Sektor Utara

Jayapura, 30 September 2019. Polisi Kehutanan BBKSDA Papua menerima satwa liar dilindungi dari Dan Pos Bendungan Tami Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 713 Satya Tama pada Minggu (29/9) pukul 16.00 WIT. Serah terima satwa berlangsung di Pos TNI Bendungan Tami Kampung Gambut, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Adapun jenis satwa liar dilindungi yang diserahkan berjumlah tiga ekor dalam keadaan hidup, yaitu satu ekor kakatua raja (Probosciger aterrimus), saru ekor kakatua jambul kuning (Cacatua galerita), dan satu ekor bayan hijau (Eclectus rotatus). Satwa-satwa tersebut merupakan hasil pengamanan petugas Satgas Pamtas dari oknum pemburu/penangkap satwa diwilayah perbatasan. Saat ini, tiga satwa tersebut telah diamankan di kandang transit BBKSDA Papua, yang berlokasi di Buper Waena. sementara pengembangan terhadap pelaku pemburu satwa masih didalami bersama Gakkum LHK Wilayah Maluku Papua. Setelah penandatanganan Berita Acara Serah Terima Satwa, BBKSDA Papua juga menyerahan poster TSL yang dilindungi kepada TNI di Pos Bendungan Tami Satgas Pamtas RI-PNG Sektor Utara. Kepala Satuan Polisi Kehutanan BBKSDA Papua, Purnama Ashari, menyatakan dirinya kembali menyampaikan pesan kepada Satgas Pamtas RI-PNG mengenai pentingnya menjaga wilayah teritorial sekaligus menjaga kekayaan sumber daya alamnya. Sementara Kelapa Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S,Hut., M.Si., menyatakan “Ini merupakan salah satu implementasi dari Deklarasi Bersama yang kita laksanakan tanggal 25 September 2019. Ini membuktikan bahwa sinergitas dan kolaborasi di antara stakeholder bersifat sangat penting. Karena segala sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dilakukan bersama-sama, untuk mencapai tujuan yang sama demi menjaga keutuhan negara, baik dalam hal wilayah teritorial maupun sumber daya alamnya.” Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Tanagupa sebagai Rumah Baru bagi Arang, Bara dan Jerit

Kayong Utara, 27 September 2019. Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) kedatangan 3 penghuni baru bernama Arang, Bara dan Jerit. Mereka adalah Orangutan yang terlibat konflik dengan masyarakat yang diduga disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di luar kawasan TANAGUPA, tepatnya di lanskap Sungai Putri – Gunung Palung. Ketiga Orangutan ini ditranslokasikan ke kawasan Bukit Kubang yang berada di wilayah kerja RPTN Batu Barat, SPTN Wilayah II Teluk Melano, Kec. Simpang Hilir, Kab. Kayong Utara. Arang dan Bara diselamatkan di Desa Sungai Awan Kiri pada tanggal 16 September 2019 sedangkan Jerit diselamatkan di Desa Kuala Satong pada tanggal 21 September 2019. Walaupun diselamatkan di dua lokasi yang berbeda, ketiga Orangutan ini menghadapi masalah yang sama yaitu kehilangan habitat yang diduga akibat kebakaran hutan dan lahan. Sepanjang tahun 2019 sampai dengan 22 September 2019 terdapat 87 Hotspot di sekitar kawasan TANAGUPA. Berdasarkan data Hotspot dan ground check yang sudah dilakukan di lapangan, banyak titik hotspot yang berada di lanskap Sungai Putri – Gunung Palung, dimana pada lanskap ini terdapat jumlah populasi Orangutan yang besar. Berdasarkan dokumen Strategi dan Rencana Aksi (SRAK) Orangutan 2019-2029, terdapat 3.280 individu Orangutan di landskap Sungai Putri – Gunung Palung. Ketiga Orangutan ini ditranslokasikan oleh tim gabungan TANAGUPA, BKSDA Kalimantan Barat dan Yayasan IAR Indonesia. TANAGUPA bersama para pihak sudah mengantisipasi dampak kejadian kebakaran hutan terhadap Orangutan dengan menyiapkan beberapa lokasi yang sudah disurvei daya dukungnya. Salah satu lokasi yang dipilih adalah Bukit Kubang. Hal ini didasarkan pada ketersediaan pakan yang cukup tinggi. “Kami mengundang BKSDA Kalbar dan YIARI untuk rapat bersama membahas antisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap Orangutan. Awalnya translokasi akan dilakukan di Riam Bekinjil, akan tetapi karena beberapa pertimbangan, dilakukan survey ulang dan diputuskan Bukit Kubang sebagai tempat translokasi. Saat ini TANAGUPA adalah rumah bagi ±2.000 Orangutan. Dengan populasi yang besar ini, sangat penting memilih tempat translokasi yang cocok” ujar Kepala Balai TANAGUPA, M. Ari Wibawanto. Direktur Program YIARI, Karmele L. Sanchez menambahkan bahwa YIARI sangat mengapresiasi upaya dari TANAGUPA dalam menjamin kelestarian Orangutan. “Kami sangat apresiasi upaya dari TANAGUPA untuk menjaga biodiversity dan habitat orangutan dan menyelamatkan lokasi TANAGUPA dari kebakaran. Landscape TANAGUPA dan Sungai Putri merupakan suatu metapopulasi Orangutan yang cukup penting dengan jumlah yang diperkirakan 3,280 (PHVA 2016) dengan viabilitas cukup tinggi. Orangutan ini berasal dari metapopulasi tersebut dari lokasi di pinggir habitat yang sedang berada di bawah tekanan dari encroachment, kebakaran dan konflik. Oleh karena itu tempat yang paling tepat untuk translokasi orangutan ini adalah di TANAGUPA, lokasi yang masih aman dan berada dalam metapopulasi yang sama” tambah Karmele. Kepala BKSDA Kalbar menyatakan bahwa keberhasilan penyelamatan 3 Orangutan ini tidak lepas dari kerja sama yang baik dari semua pihak. “Keberhasilan melakukan penyelamatan satwa liar, khususnya Orangutan, dari lokasi lahan/hutan yang terbakar kali ini dilakukan atas kerja sama BKSDA Kalbar, Balai TANAGUPA dan mitra YIARI, di satu sisi ini merupakan sebuah capaian tetapi di sisi lain menggambarkan sebuah keprihatinan yang mendalam. Kegiatan penyelamatan tersebut hanyalah sebuah tindakan kecil, bahkan sangat kecil, dibandingkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yang seharusnya diambil untuk menghentikan dan mencegah bencana yang berkelanjutan dan berulang ini. Sebuah bencana yang berdampak luas dan mematikan bagi kehidupan” kata Sadtata Noor Adirahmanta selaku Kepala Balai KSDA Kalbar. Sepanjang tahun 2018 - 2019 TANAGUPA sudah menerima 7 individu Orangutan dimana dari 7 Orangutan ini, 5 diantaranya ditranslokasikan ke Bukit Kubang. Jika masalah kebakaran hutan tidak bisa diatasi, bukan tidak mungkin Orangutan yang ditranslokasikan ke kawasan TANAGUPA akan terus bertambah. Oleh karena itu perlu alternatif lokasi lain yang cocok untuk tempat translokasi Orangutan. “Untuk di TANAGUPA sendiri kami memiliki 3 alternatif tempat translokasi yang sudah kami survei daya dukungnya yaitu Riam Bekinjil, Bukit Kubang dan Bukit Daun Sandar. Kami sudah menerima 7 individu Orangutan yang ditranslokasikan ke kawasan kami, 5 diantaranya ke Bukit Kubang. Langkah kami ke depan bersama para pihak terkait yaitu BKSDA Kalbar dan YIARI akan melakukan survei lokasi-lokasi lain di luar TANAGUPA yang cocok untuk dijadikan tempat translokasi agar populasi Orangutan tidak menumpuk di satu tempat saja. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup Orangutan. Apabila tempat translokasi hanya terbatas di 3 tempat tadi, kami khawatir justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Translokasi sebenarnya adalah solusi terakhir dalam upaya penyelamatan Orangutan. Seharusnya yang kita lakukan bersama adalah menjaga habitat Orangutan yang tersisa sekarang. Arang, Bara dan Jerit adalah contoh bahwa Orangutan benar-benar berada di dalam ancaman. Oleh karena itu saya mengajak semua masyarakat dan juga semua pihak untuk tidak melakukan pembakaran hutan, tidak menebang hutan dan juga tidak melakukan perburuan liar.” tutup Kepala Balai TANAGUPA Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Direktur Proyek Korespondensi Wallace Berkunjung ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Sofifi, 30 September 2019. Siapa yang tidak kenal dengan "George Beccolonii" seorang ahli zoologi, ahli biologi evolusi dan sejarawan sains Dunia, yang bekerja di Museum Sejarah Alam London sebagai ahli entomologi (mengkhususkan diri untuk mempelajari serangga dan kupu-kupu) selama 20 tahun. Beliau telah mempelajari kehidupan dan pekerjaan Alfred Russel Wallace selama 18 tahun dan dia juga adalah pendiri dan Direktur Proyek Korespondensi Wallace. Pada tahun 1999 George juga mendirikan Wallace Memorial Fund. Pada tahun 2002 dia berperan penting dalam membantu NHM ( Natural History Museum) untuk mendapatkan koleksi dokumen Wallace yang paling penting di dunia dari cucunya. Dia meninggalkan Museum untuk bekerja di Proyek Korespondensi Wallace pada tahun 2016 dan saat ini mengelola tim kecil yang terdiri dari dua staf tetap yang bekerja setiap hari dan tiga pekerja lepas, ditambah dengan para pekerja sukarelawan yang tidak dibayar. George Beccaloni juga adalah seorang penulis buku yang sangat terkenal. Buku-bukunya juga sangat terkenal dan menjadi refrensi bagi para peneliti di Dunia. Hari ini, kami juga berkesempatan bertemu dengan beliau. George Beccaloni menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk mencari informasi tentang keaneka ragaman hayati yang berada di TNAL khususnya serangga dan burung. Ini adalah kunjungan keduanya beliau ke Maluku Utara. Sebelumnya Pada tahun 2018 yang Lalu, dia bersama timnya pergi ke Bacan menggunakan kapal Pinisi guna menelusuri temuan-temuan Alfred Russel Wallace di Bacan. Pada kunjungan yang keduanya Kali ini, (27/9/2019). George bersama timnya ingin berkunjung ke salah satu resort yang berada di Taman Nasional Aketajawe Lolobata yaitu di Resort Akejawi yang berada di Kabupaten Halmahera Timur. Tujuannya hanya ingin melihat beberapa Serangga dan burung yang berada di kawasan Resort Akejawi. "Saya sangat senang berada di Halmahera, Saya seperti merasakan betul apa yang dirasakan Alfred Russel Wallace pada saat itu dan menurut Alfred Pulau Halmahera adalah pusatnya ilmu Biologi". Kata sang ahli Biologi evolusi ini. dia menambahkan, semoga keanekaragan Flora Dan Fauna yang berada kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata ini tetap terjaga dan dilestarikan. Tutup George dalam wawancara singkatnya bersama Sofyan Ansar staf Balai TNAL. Rencananya George dengan timnya akan menelusuri beberapa tempat dan lokasi penting yang pernah disinggahi Oleh Alfred Russel Wallace di Maluku Utara. Sebelum ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata, lelaki pencinta Serangga ini telah mendatangi rumah yang dipercayai oleh beberapa peneliti adalah rumah yang pernah didiami selama 4 tahun oleh Alfred Wallace yang berada di Kelurahan Santiong Ternate. Dari Maluku Utara, George Beccoloni akan melanjutkan perjalanannya ke Sorong, Papua Barat dengan menggunakan kapal Pinisi. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Rawan Konflik Manusia - Satwa Liar, BBKSDA Sumut Gelar Rakor & Sosialisasi di Kab. Tapanuli Tengah

Pandan, 27 September 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Daerah Rawan Konflik Manusia – Satwa Liar di Ruang Rapat Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Tengah Jl. Zainul Basri Hutagulung – Pandan, 27 September 2019. Rapat dipimpin langsung Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Tengah, Kepala Bappeda Tapanuli Tengah, Camat Sorkam Barat, Camat Sorkam, Camat Kolang, Camat Pinangsori dan perwakilan SKPD lingkup Kabupaten Tapanuli Tengah antara lain KPH Unit XI Pandan, Kepolisian Resort Sorkam, Kolang, termasuk TNI Angkatan Laut, PSDKP Sibolga, Kelompok Konservasi Pantai Binasi. Disamping dalam rangka memetakan daerah konflik manusia – satwa liar di Kabupaten Tapanuli Tengah, pada kesempatan kali ini Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M. Sc. For, menyampaikan juga pentingnya konservasi penyu. Penyu adalah satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan Permen LHK No. P. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Pasal 21 ayat (2) Setiap orang dilarang : (a) Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.(b) Menyimpan, memiliki, memlihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan mati. Ancaman pidananya adalah “Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (Seratus Juta Rupiah). Dari 7 spesies penyu yang ada di seluruh dunia, 6 spesies terdapat di Indonesia dan diantaranya spesies tersebut, 4 spesies penyu terdapat di Tapanuli Tengah, yakni Penyu sisik (Eretmochelys imbricate), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Konservasi penyu menjadi mengingat kemampuan keberhasilan reproduksinya yang kecil sementara peranannya dalam menjaga kestabilan ekosistem laut sangatlah tinggi. Seekor penyu dapat menghasilkan 100 – 150 sekali bertelur, dan hanya 1 – 3 % mampu bertahan hidup sampai dewasa. Selain predator alaminya seperti biawak dan elang manusia adalah ancaman serius bagi konservasi penyu. Telurnya diambil dan dijual, penyu ditangkap untuk dikonsumsi, kerapasnya dibuat bahan kerajinan. Apalagi terdapat kebiasaan masyarakat lokal dimana penyu dijadikan tambul sebagai pendamping minuman tradisional tuak (Seperti Desa Muaranauli, Desa Sitiris-sitiris, dan Desa Madani); Daging untuk dimakan, bagian karapas (cangkang) penyu juga dijadikan sebagai hiasan adalah melanggar aturan dan hal ini perlu disosialisasikan secara meluas kepada masyarakat. Selain penyu, kantung semar, trenggiling dan bungai bangkai adalah jenis-jenis TSL dilindungi yang umum dijumpai masyarakat di Tapanuli Tengah di sekitar tempat tinggal mereka. Apabila kondisi seperti ini terus berlangsung maka akan mempercepat proses kepunahan penyu. Kepunahan penyu akan mengganggu rantai makanan di alam karena beberapa alasan yakni mingrasi penyu berperan dalam menyebarkan kesuburan di laut, membantu pertumbuhan terumbu karang dengan memangsa sponge yang merupakan kompetitor terumbu karang, menjaga stok perikanan dengan memangsa ubur-ubur yang adalah predator juvenil benih ikan dan memangkas helai lamun tua untuk memacu pertumbuhan lamun muda. Harapannya setelah dilaksanakan sosialisasi dan koordinasi, tidak ditemukan lagi masyarakat Tapanuli Tengah yang mengkonsumsi penyu dan telur penyu serta perdagangan souvenir dari penyu. Semoga penyu lestari di habitat alaminya. Keberhasilan konservasi satwa liar khususnya yang dilindungi undang-undang memerlukan dukungan semua pihak. Mencegah adalah yang terbaik. Koordinasi dan sosialisasi konservasi satwa liar di tingkat tapak mampu meminimalisir terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar. Sumber : Edina - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Materi oleh Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M. Sc. For
Baca Berita

Cegah Kebakaran Hutan Dengan Kebersamaan Dalam Rapat Siaga Pencegahan Karhut

Sumberklampok, 25 September 2019 - Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dalam rangka melaksanakan instruksi untk siaga karhut, melaksanakan rapat siaga pencegahan kebakaran hutan yang bertempat di kantor SPTN wilayah II Buleleng di Sumberklampok. Rapat ini dihadiri oleh kepala balai TN Bali Barat, Camat Gerokgak, Danramil Gerokgak, Kapolsek Gerokgak, unsur struktural TNBB, Regu Dalkarhut TN Bali Barat dan Masyarakat Peduli Api TN Bali Barat. Kepala Balai TN Bali Barat Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si menyampaikan bahwa rapat ini dilaksanakan untuk membangun komitmen bersama stakeholder terkait dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Penanggulangan kebakaran tidak hanya saat terjadinya kebakaran namun lebih pentingnya pencegahan kebakaran dan tindakan pasca terjadinya kebakaran merupakan tanggung jawab bersama bukan saja yang memiliki kewenangan di lokasi tersebut, sehingga perlu kebersamaan dalam upaya yang dilakukan. Pada kesempatan ini pula dilakukan pemasangan himbauan-himbauan tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan sebagai upaya pre-emtif kepada masyarakat. Salam lestari, Salam konservasi. Sumber: Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Kunjungan KFW di SM Karang Gading Langkat Timur Laut

Tim KFW-Pemerintah Jerman melihat kondisi Tuntong Laut di SM.KGLTL (kiri), Diskusi bersama warga Desa Jaring Halus (kanan) Medan, 27 September 2019 - Tim KFW – Pemerintah Jerman bersama Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan, dan Perubahan Iklim KLHK Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc dan Tim melakukan kunjungan lapang ke beberapa desa penyangga kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut, 24 – 25 September 2019. Kunjungan tim tersebut didampingi oleh Kepala Bidang Teknis BBKSDA Sumatera Utara, Ir. Irzal Azhar, M.Si dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert B.P. Aritonang, S.Sos, M.H. Diskusi tim dengan aparat dan masyarakat Desa Paluh Kurau (kiri), Diskusi Tim bersama Kelompok Tani Indah Bersama (kanan) Kunjungan dilakukan ke beberapa desa penyangga diantaranya Desa Jaring Halus, Desa Paluh Kurau, Desa Karang Gading, dan Desa Tapak Kuda. Selain itu tim juga mengunjungi lokasi areal kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem yaitu Areal Kemitraan Konservasi Kelompok Tani Hutan (KTH) Indah Bersama, KTH Gading Hijau, dan KTH Tumbuh Subur yang didalamnya terdapat demplot penetasan Tuntong Laut (Batagur borneoensis). Tim KFW-Jerman bersama Puslitbang SOSEKPI, dan BBKSDA Sumatera Utara Kunjungan ini dilakukan dalam rangka identifikasi kebutuhan dan pengumpulan informasi terkait bantuan yang akan diberikan KFW- Pemerintah Jerman dalam rangka pemulihan ekosistem mangrove SM.KGLTL, konservasi tuntong laut, pemberdayaan masyarakat desa sekitar SM.KGLTL, dan penanggulangan masalah plastik di Kawasan Mangrove Jaring Halus. Sumber: Balai Besar KSDA Sumater Utara
Baca Berita

Promosi Wisata Berkelanjutan Dalam ISTA Fest 2019

Jakarta, 27 September 2019 - Bertempat di ballroom hotel Ritz Carlton Jakarta, kementerian Pariwisata RI menyelenggarakan ISTA Fest 2019. Acara yang berlangsung sehari pada tanggal 26 September 2019 diisi dengan acara ISTA Forum, ISTA market dan malam penganugerahan ISTA 2019. Balai TNBB diundang untuk mengisi booth di ISTA market bersama pemenang-pemenang ISTA awards mulai tahun 2017-2018. ISTA Fest 2019, dibuka oleh Deputi Kemenpar, bersama dengan perwakilan UNVTO, Sekjen KAN dan ketua Tim percepatan Pariwisata Alam (Valerina Daniel) dengan memukul lesung secara bersamaan. Acara ISTA Fest juga dimeriahkan tarian tradisional, penyerahan sertifikat akreditasi, dan ISTA forum yang dihadiri narasumber yang berkompeten baik unsur pemangku kebijakan, akademisi, lembaga internasional dan praktisi ISTA yang telah berhasil. Partisipan untk ISTA awards tahun ini cenderung meningkat sampai lebih dari 250 pserta baik dari DTW, hingga desa wisata tentunya peran serta Dan pendampingan yang intensif dari seluruh pihak sehingga pengajuan peserta ISTA awards dapat lancar dan mendapatkan hasil yang maksimal. Kunjungan peserta ISTA Fest yang dilangsungkan sehari ini bisa dikatakan ramai karena antusiasnya pengunjung untk mendapatkan informasi tentang destinasi unggulan dan bahkan viral. Salam konservasi. Sumber: Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Workshop Pengembangan Pengelolaan Gajah Sumatera

Parapat, 20 September 2019 - Balai Besar KSDA Sumut bersama Balai Penelitian dan Pengembangan LHK Aek Nauli dan Vesswic (Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation) bertempat di Hotel Patrajasa, Prapat, Kabupaten Simalungun melaksanakan Workshop Pengembangan Pengelolaan Gajah Sumatera Melalui Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Medis Konservasi dan Diseminasi Hasil Penelitian Penyakit pada Gajah Sumatera, selama 2 hari, 18-19 September 2019. Kegiatan ini untuk mendukung konservasi gajah dalam rangka memenuhi prinsip kesejahteraan satwa. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatra. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Ancaman terbesar kelestarian gajah liar adalah hilangnya habitat akibat konversi hutan menjadi peruntukan lain yang tidak memperhitungkan keberadaan gajah, seperti untuk perkebunan kelapa sawit, HTI Akasia, dan pembalakan liar. Ancaman lainnya yang mungkin adalah perburuan liar untuk mendapatkan gading gajah. Keberadaannya yang terancam di alam mendorong untuk melakukan pelestarian secara ex-situ baik di pusat latihan gajah maupun lembaga konservasi yang harus memenuhi prinsip kesejahteraan satwa. Workshop dibuka oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang diwakili oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut, ME. Peserta kegiatan ini adalah Dokter Hewan dari Balai KSDA dan Taman Nasional yang ada di Sumatera, Mahout Balai Besar KSDA Sumatera Utara, PKBSI, IAR, ZSL, SOCP, OIC, dan PRHSD Yayasan Arsari. Usai pembukaan, dilanjutkan dengan penyampaian materi dengan Narasumber Dokter Hewan dari Thailand yaitu Nikorn Thongtip, DVM, PhD, Department of Large Animal and Wildlife Clinical Sciences, Kasetsart University Kampangsean, Thailand dan Supaphen Sripiboon, DVM , MSc, PhD Department of large animal and wildlife clinical sciences, Faculty of Veterinary Medicine, Kasetsart University, Kampangsean, Thailand. Hari kedua Workshop tanggal 19 September 2019 kegiatan dilanjutkan dengan praktek pemeriksaan medis gajah di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Praktek pemeriksaan medis di ANECC ANECC, program wisata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mendukung wisata Danau Toba melalui pengembangan Konservasi Gajah Jinak (Gajah Sumatera) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang merupakan kerjasama 3 (tiga) Pihak yaitu : Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli dan Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic) yang diresmikan tanggal 7 Desember 2017 oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. Hasil workshop secara umum adalah peserta mendapatkan ilmu medis tentang Gajah Sumatera dan harapannya kedepan, pengelolaan Gajah Sumatera akan lebih baik, khususnya dalam memenuhi prinsip kesejahteraan gajah. Sumber: Lisbeth (Penyuluh Kehutanan) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Saka Pramuka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu Ikut Seleksi PERTIKAWAN 2019

Putussibau, 26 September 2019. Satuan Karya (Saka) Pramuka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu di bawah bimbingan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) telah melaksanakan seleksi calon peserta PERTIKAWAN Tahun 2019 yang akan dihelat di Cibubur Jakarta. Kegiatan seleksi tersebut dilaksanakan di Sekretariat Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu Jln. Antasari No 4 Putussibau Utara, dimulai pada tanggal 15 s/d 25 September2019. Seleksi diikuti oleh anggota Saka Wanabakti yang telah memenuhi syarat yaitu paling rendah Penegak Bantara sebanyak 76 orang berasal dari Saka Wanabakti ranting yang ada di Kapuas Hulu. Seleksi merupakan bagian dari tahap penentuan peserta terbaik dari semua anggota, juga sebagai ajang persaingan antar anggota untuk membuktikan bahwa mereka layak dipilih untuk mengikuti kegiatan PERTIKAWAN. Kegiatan seleksi juga diharapkan bisa mengembangkan sumber daya kaum muda agar menjadi warga negara yang berkualitas dan mampu memberikan sumbangan positif bagi masyarakat dan negara. Pada tahap seleksi diuji sejauh mana minat, pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan pengelaman dalam bidang Kesakaan. Seluruh aspek tersebut akan menjadi bekal bagi mereka untuk mengikuti kegiatan PERTIKAWAN. Prinsip utamnya adalah teguh dan kreatif serta berjiwa pancasila, ikatan tali persaudaraan, kesatuan dan persatuan, serta menanamkan rasa cinta seni budaya daerah. Pinsaka Wanabakti Cabang kapuas Hulu , Kak ArdiAndono menyampaikan bahwa kegiatan seleksi harus dilaksanakan karena banyaknya peserta yang berminat mengikuti kegiatan PERTIKAWAN. Untuk menentukan peserta yang ikut harus dilaksanakan proses seleksi supaya adil dan tidak ada intervensi dari pihak manapun, setiap peserta mempunyai kesempatan bersaing secara sehat.“Materi seleksi adalah tes tertulis, wawancara, bintek kesakaan, fisik, Teknik Kepramukaan, mengusai alat musik dan tarian daerah serta keaktifan selama menjadi anggota Saka dan prestasi yang pernah didapat”, pungkas Kak Ardi.Sementara itu Pamong Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu,Kak Mustar selaku panitia seleksi juga mengatakan seleksi ini untuk menentukan peserta yang terpilih dalam kegiatan PERTIKAWAN juga memberikan motivasi kepada peserta yang belum tepilih untuk bisa menunjukan prestasinya di masa yang akan datang demi kemajuan Saka Wanabakti. Setelah dilaksanakan kegiatan seleksi yang sangat ketat karena setiap peserta saling menunjukan kemampuannya,panitia telah memutuskan 16 orang peserta terdiri dari 8 putra dan 8 putri terbaik yang akan mewakili Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu pada Pertikawan Tahun 2019 di Cibubur. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Lepasliar Bekantan ke TWA Pulau Suwangi

Batulicin, 23 September 2019, Satu lagi maskot Kalimantan Selatan berhasil diselamatkan. Pada hari Minggu, 22 September 2019, Kantor SKW III Batulicin BKSDA Kalsel mendapat laporan dari Camat Desa Kuranji Bapak Samsir bahwa terdapat Satwa Bekantan (Nasali larvatus) yang masuk ke perkebunan karet milik masyarakat. Menindaklanjuti laporan tersebut, kemudian atas arahan Kepala SKW III Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc, pihak kecamatan bersama KPH KUSAN dan Polsek Kuranji menyerahkan Satwa ke petugas SKW III Batulicin yang bertugas saat itu, Sdr Muhammad Tejar. Dari hasil pengecekan petugas, Bekantan berjenis kelamin jantan, berumur 3-4 tahun tersebut dalam kondisi sehat dan dapat dilepaskan kembali ke habitatnya. Salah satu lokasi yang akan dijadikan tempat pelepasan adalah Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Suwangi yang lokasinya berdekatan dengan lokasi bekantan ditemukan. TWA Pulau Suwangi merupakan salah satu kawasan konservasi yang bertipe ekosistem mangrove yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu. Tindakan cepat dan terkoordinasi ini sangat diapresiasi oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan dampak negatif bagi satwa dan juga bagi masyarakat. Kedepan kami selalu akan bersinergi dengan para pihak dalam penyelamatan satwa yang terancam punah ini. Bekantan yang diamankan warga Desa Karang Intan, Kuranji, Kab. Tanah Bumbu ini akhirnya dilepaskan (ditranlokasi) ke Pulau Suwangi pada Senin, 23 September 2019. Harapannya semoga bekantan ini mampu beradaptasi di lokasi baru dan berkembangbiak agar kelestariannya tetap terjaga. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 4.833–4.848 dari 11.140 publikasi