Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penanganan Orangutan Terisolir di Tapaktuan Aceh Selatan

Aceh Selatan, 3 Oktober 2019 - Personil BKSDA Aceh Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam Resor 15 Tapaktuan bersama Personil Orangutan Information Center (OIC) Mitra Kerja BKSDA Aceh melakukan upaya penyelamatan seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang berada di areal perkebunan cokelat milik masyarakat di Desa Air Pinang Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Upaya penyelamatan dilakukan dengan pembiusan.Orangutan yang berhasil diselamatkan oleh tim berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia ± 20 (Dua Puluh) tahun dengan kondisi sehat dan layak untuk dilepasliarkan kembali berdasarkan rekomendasi tim medis Orangutan Information Center (OIC) drh. Zulhelmi. Selanjutnya Orangutan tersebut direncanakan akan direlokasi ke Stasiun Reintroduksi Orangutan SOCP yang berada di TWA Jantho Kabupaten Aceh Besar. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi jo Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2. Upaya Penyelamatan Orangutan Sumatera yang terisolir dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/MENHUT-II/2014 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar dalam upaya mewujudkan tujuan dan target yang tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK.308/MENLHK/KSDAE/KSA.2/4/2019 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia Tahun 2019-2029, Tanggal 26 April 2019. Kami sangat mengapresiasi upaya masyarakat yang melaporkan kejadian ke petugas BKSDA Aceh di Aceh Selatan agar dapat diambil upaya penaganan yang tepat sehingga tidak menimbulkan dampak yang negatif baik bagi Orangutan Sumatera itu sendiri maupun masyarakat pemilik kebun kebun kelapa sawit. Sumber: Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Kegiatan Operasi Sapu Jerat Kawasan Hutan Kabupaten Aceh Timur, Pidie dan Aceh Besar

Banda Aceh, 4 Oktober 2019 - BKSDA Aceh dibantu KPH Wilayah I Aceh pada tanggal 21 s/d 30 September 2019 telah melaksanakan Operasi Sapu Jerat di beberapa wilayah di Propinsi Aceh yaitu di Kabupaten Aceh Besar sebanyak 1 Tim sedangkan wilayah Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Pidie masing-masing 2 tim, dimana masing-masing tim terdiri dari 5 orang personil. Operasi selama sepuluh hari ini di laksanakan atas dukungan proyek CIWT (Kerjasama Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Global Enviromental Facilty (gef) dan United Nation Development Program (UNDP) Indonesia Program ). Dari hasil pelaksanaan operasi jerat yang dilakukan oleh tim dilapangan diperoleh jerat sebanyak 63 ( enam puluh tiga ) jerat dari berbagai jenis ukuran dan bahan, mulai dari bahan senar pancing, kawat/dawai dan tali PE, bahkan ada jerat kombinasi antara tali PE dengan dawai/kawat tergantung dari jenis hewan yang menjadi sasaran buruan, penggunaan tali PE ini bertujuan agar hewan buruan tidak mudah terluka atau mati pada saat terkena jerat dan jenis ini umumnya digunakan untuk memburu rusa, sedangkan jerat berbahan kawat baik itu tunggal maupun berjumlah banyak umumnya digunakan untuk berburu babi walaupun pada beberapa kasus dilapangan yang terjerat bukan hanya babi akan tetapi menjerat beruang, harimau bahkan gajah. Murahnya harga dan kemudahan memperoleh bahan untuk pembuatan jerat tentunya menjadi faktor utama didalam penggunaan jerat oleh para pemburu. Tim dilapangan juga menjumpai pondok yang sengaja dibuat oleh pemburu artinya pemburuan terhadap satwa ini dilakukan selama berhari-hari sehingga para pelaku ini harus bermalam di hutan. Tim yang berkonsentrasi di Kawasan Konservasi TWA dan CA Jantho juga mendapati 2 (dua) bangkai rusa yang terkena jerat akan tetapi tidak sempat diambil oleh pemburu diduga akibat adanya Pelaksanaan Kegiatan Penjagaan di Pos Pengamanan Kawasan Hutan TWA dan CA Pinus Jantho selama 2 (dua) bulan terakhir yang dilaksanakan oleh petugas dari Balai KSDA Aceh, Polsek Jantho, Ranger Jantho dan masyarakat setempat. Selain melakukan operasi sapu jerat, tim juga melakukan sosialisasi terhadap masyarakat yang dijumpai di lapangan untuk tidak menggunakan jerat karena sangat membahayakan, baik satwa penggunaan jerat juga mengancam keselamatan manusia. Operasi ini merupakan wujud komitmen "PERANG TERHADAP JERAT" yang telah dicanangkan oleh Dirjen KSDAE dan Dirjen GAKKUM LHK pada bulan Juli 2019. Operasi sapu jerat dan penyadartahuan tentang bahaya jerat yang mengancam kelestarian satwa liar dilindungi, akan terus dilakukan dengan dukungan para pihak. Sumber: Balai KSDA Aceh
Baca Berita

Patroli SambilL Berwisata Ekstrim Ala Polhut TN Kayan Mentarang

Malinau, 4 Oktober 2019 – Patroli di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang sejatinya merupakan monitoring dan pengamanan untuk menjaga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang dari segala gangguan dan ancaman tindak pidana kehutanan. Tapi tahukah anda bahwa patroli di kawasan TN Kayan Mentarang seluas 1,27 juta hektar ini, layaknya menantang maut yang memacu adrenalin, dengan nilai wisata ekstrim yang sangat berbeda dari Taman Nasional lain yang ada di Indonesia saat ini ? Perjalanan yang sulit dengan riam giram merupakan tantangan utama dalam setiap pelaksanaan kegiatan di kawasan. Terlebih bila kondisi kemarau panjang seperti saat ini, Riam giram semakin sulit ditaklukan. Seperti perjalanan Tim Patroli Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah III Long Ampung yang baru saja usai melaksanakan kegiatan Patroli di kawasan TN Kayan Mentarang Resort Long Nawang wilayah Sungai Kihan. Untuk menuju Sungai Kihan sebagai target Patroli, tim harus melewati 2 sungai terlebih dahulu dengan waktu tempuh 2 hari menggunakan perahu/ketinting. Yakni Sungai Kayan saat memulai perjalanan dari Long Ampung Ke Data Dian pada hari pertama dan Sungai Iwan saat menempuh perjalanan dari Data Dian ke Sungai Kihan. Tak jarang, tim patroli harus turun dari ketinting dan berjalan kaki untuk mendorong perahu mengarungi sisi sungai saat riam giram tak mungkin dilewati. Disepanjang perjalanan menunaikan tugas patroli, selain “Bermain” dengan riam giram yang beringas saat musim kemarau panjang, tim disuguhkan dengan hijaunya alam yang terbentang disepanjang perjalanan hingga pontensi keanekaragaman hayati yang tumbuh lestari di wilayah Sungai Kihan. Dalam kegiatan patroli ini, tidak ditemukan adanya gangguan atau ancaman tindak pidana kehuatanan di kawasan Sungai Kihan dan sekitarnya. Sebaliknya banyak ditemukan bekas cakar Beruang dan bulu burung Kuau pada grid 3014 hingga Buah Rotan dan Burung Enggang pada grid 3013. Sumber : Tim Patroli SPTN III Long Ampung - Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Bersama Para Pihak, Balai KSDA Yogyakarta Lakukan Penilaian METT

Yogyakarta, 4 Oktober 2019 - Balai KSDA Yogyakarta selama dua hari (tanggal 2 – 3 Oktober 2019) menyelenggarakan Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi lingkup Balai KSDA Yogyakarta menggunakan framework Management Effectiveness Tracking Tool (METT). Fakta menunjukkan bahwa banyak kendala dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Kondisi internal dimana status dan kondisi kawasan yang tidak clear and clean, belum dilakukannya tata batas, serta pengelolaan yang belum optimal, serta kondisi eksternal seperti kebutuhan lahan karena dinamika demografi, pemekaran wilayah yang diikuti kebutuhan infrastruktur, mobilitas, pertambangan, perkebunan skala besar, permintaan pasar terhadap komoditi tertentu menjadi faktor pemicu kendala pengelolaan kawasan konservasi. Kepala Balai KSDA Yogyakarta M. Wahyudi dalam sambutan pembukaan acara mengatakan bahwa "Pihak pengelola pada umumnya menyadari permasalahan yang dihadapi dalam mengelola kawasan konservasinya, namun kesulitan untuk mengidentifikasi prioritas permasalahan, prioritas alokasi sumber daya, serta mengetahui apakah pengelolaan yang mereka jalankan sudah cukup efektif dalam mencapai tujuan pengelolaan. Untuk itu perlu dilakukan penilaian terhadap efektivitas pengelolaan kawasan konservasi." Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi selain penting untuk mengidentifikasi prioritas dan alokasi sumberdaya untuk mencapai tujuan pengelolaan juga dapat mendukung terlaksananya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan kawasan konservasi kepada publik, lanjut Wahyudi. Kegiatan Penilaian METT hari pertama dilaksanakan di Hotel Prima SR Jalan Magelang Km 11 dengan agenda penilaian METT Kawasan CA/TWA Batu Gamping dan SM Sermo. Sedangkan kegiatan hari kedua dilaksanakan di Goebog Resto Bantul dengan agenda penilaian METT kawasan CA Imogiri dan SM Paliyan. Stakeholder terkait dalam kegiatan penilaian METT ini berasal dari unsur akademisi, pemda, LSM dan para pihak yang terlibat dalam kegiatan Balai KSDA Yogyakarta. Sebagai fasilitator kegiatan ini Dr. M. Taufik Tri Hermawan dari Fakultas Kehutanan UGM dan Tessa Rossanda, S.Hut dari Balai KSDA Yogyakarta. Hasil akhir penilaian METT tahun 2019 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dengan penilaian METT tahun 2017 dan 2018 yang juga dilakukan Balai KSDA Yogyakarta bersama-sama dengan para pihak terkait. Kawasan 2017 2018 2019 SM Sermo 71% - 83% SM Paliyan 70% - 85% CA /TWA Batu Gamping 70% - 77% CA Imogiri 69% 74% 77% Peningkatan nilai METT secara signifikan tersebut dipengaruhi oleh aspek perencanaan sesuai RPJP yang telah disahkannya, adanya dokumen penataan blok pengelolaan dan rencana pengelolaan kawasan konservasi Balai KSDA Yogyakarta serta aspek pemberdayaan masyarakat yang sudah dirasakan oleh masyarakat. Sumber :Dyahninng R (PEH) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Ketika Kepala Balai KSDA Yogyakarta Merespon Kelompok Tani di Karangasem Paliyan

Yogyakarta 4 Oktober 2019 - Suaka Margasatwa (SM) Paliyan, salah satu kawasan konservasi yang berada di ujung selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagi yang sudah mengenal SM Paliyan, tentu akan membayangkan bagaimana batu bertanah yang berhasil direstorasi hingga menjadi hutan kembali. Untuk mewujudkan Paliyan berhutan kembali diperlukan adanya sinergisitas antara Pemerintah, Swasta dan Masyarakat. Balai KSDA Yogyakarta selaku pemegang mandat pengelolaan kawasan konservasi SM Paliyan menyadari keberadaan masyarakat sekitar kawasan ini. Beberapa program pemberdayaan masyarakat telah diupayakan untuk mendorong kemandirian masyarakat melalui pendampingan dan pembinaan 4 (empat) Kelompok Tani Hutan (KTH) Binaan Balai KSDA Yogyakarta di SM Paliyan yakni KTH Sodong Makmur, KTH Ngudi Lestari, KTH Petak 136 dan KTH Wana Raharja. Pada tahun 2019 ini salah satu kelompok tani tersebut terpilih sebagai KTH yang menerima peningkatan kelas yakni KTH Sodong Makmur Desa Karangasem Kecamatan Paliyan Gunung Kidul. Kepala Balai KSDA Yogyakarta M. Wahyudi, secara khusus menjadwalkan hadir di kegiatan pertemuan rutin kelompok Sodong Makmur yang bertempat di Sekretariat Kelompok, Dusun Karangasem A, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, hari Senin (30/9/19). Dikemas dalam suasana santai, Kepala Balai KSDA Yogyakarta meniadakan jarak dengan masyarakat, bercengkrama dan duduk bersama menggali lebih detil potensi dan permasalahan di tingkat kelompok. Kepala Balai KSDA Yogyakarta memahami keresahan masyarakat Desa Karangasem yang bersemangat dalam budidaya tanaman hortikultura namun terkendala ketersediaan air untuk pengembangan hortikultura tersebut dan meminta bantuan Balai KSDA Yogyakarta untuk membantu memenuhi kebutuhan sumur bor. Permintaan tersebut tidak serta merta langsung dipenuhi, dengan cermat Kepala Balai KSDA Yogyakarta mengajak kelompok tani untuk ground check di lapangan dan melihat secara langsung seperti apa kondisi yang ada di lapangan. Melalui ground check tersebut, M. Wahyudi melihat langsung bagaimana masyarakat Karangasem yang kesulitan air mampu menerapkan sistem “PAM Desa” yang sumber airnya berasal dari sumur bor desa, sehingga semua masyarakatnya bisa mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Sistem “PAM Desa” ini sudah berlangsung sejak lima tahun yang lalu dan masih berjalan dengan tertib hingga saat ini. Kepala Dusun Karang Asem A, Sarjono sangat antusias menanggapi keinginan ground check Kepala Balai KSDA Yogyakarta. “Baru Bapak yang bersedia turun langsung ke lapangan sejak Kelompok Tani Sodong Makmur ini berdiri.” tuturnya. “Untuk ketersediaan air minum dan kebutuhan sehari-hari sudah bisa terpenuhi dari sumur bor desa, namun untuk mendukung pertanian kami kesulitan karena tidak ada airnya” lanjut Sarjono. Membaca keinginan yang kuat dari masyarakat Desa Karangasem dan belajar dari pengalaman mereka menjalankan “PAM Desa”, menjadi salah satu pertimbangan untuk melakukan pembahasan terkait rencana penyediaan sumur bor di Karangasem. Selain permasalahan sumur bor, kelompok tani juga menyampaikan mengenai kendala keterbatasan akses pupuk kimia bersubsidi. Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Balai KSDA Yogyakarta memberikan arahan masyarakat agar dapat memanfaatkan kotoran ternak yang diolah menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan. Untuk kedepan dapat ditindaklanjuti dengan koordinasi ke Gembira Loka Zoo yang telah mampu memproduksi pupuk organik dari kotoran gajah dan satwa lainnya. Balai KSDA Yogyakarta akan mengajak Sumitomo forestry yang selama ini melakukan restorasi di SM Paliyan untuk mendukung rencana pembuatan sumur bor dan bak penampungan air untuk pertanian, dan untuk pengolahan pupuk kandang akan mengajak Gembira Loka Zoo dengan program CSR nya yang sudah memproduksi pupuk kandang. "Saya sudah sampaikan ke Pak Gunawan dari pihak Sumitomo Forestry dan beliau merespon positif akan membantu kita. Begitu juga saya sudah sampaikan kepada Pak Direktur Gembira Loka Zoo, dan disanggupi untuk membantu kita. Kedepannya diharapkan beberapa hasil pertanian dari Karangasem ini bisa di ambil oleh Gembira Loka Zoo." lanjut Wahyudi. Lebih lanjut dijelaskan dengan menempatkan masyarakat sebagai subyek pengelolaan diharapkan bisa dicari solusi permasalahan yang selama ini belum bisa diselesaikan. “Penghormatan terhadap masyarakat sekitar kawasan jika diwujudkan dengan cara yang tepat akan menjadi kekuatan eksternal yang siap bahu membahu memelihara kawasan SM Paliyan, itu yang disebut pak Dirjen KSDAE dengan nguwongke uwong. Masalah itu penyelesaiannya ada di tempat masalah itu, bukan di kantor, di kampus atau di acara seminar-seminar, tutup Wahyudi. Sumber : Siti Rohimah (Penyuluh Balai) - KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Monitoring Satwa Prioritas, Rutinitas Untuk Peningkatan Kualitas Populasi

Kamis, 3 Oktober 2019 - Monitoring mingguan burung Curik Bali dilaksanakan oleh para petugas resort di site pelepasliaran Teluk Terima, Cekik dan Teluk brumbun pada pagi hari dan sore hari di titik pengamatan yang merupakan lokasi tidur burung Curik Bali. Pada monitoring hari ini terhitung ada 123-125 ekor burung Curik Bali di labuan lalang, 24-25 ekor di Teluk brumbun dan 64-65 ekor di Cekik, total 215 ekor mereka terbang bebas di alam, jumlah ini belum termasuk di site monitoring lampu merah dan tanjung gelap. Walaupun kondisi vegetasi masih cukup kering, beberapa pasangan burung bahkan sedang dalam masa-masa pengeraman telur di sarang dan mulai mengangkut bahan sarang di gowok buatan/nest box yang ada di site pelepasliaran. Dalam 5 tahun terakhir, populasi burung Curik Bali terus bertambah, dengan kualitas hasil pembiakan di alam yang cukup tangguh dan bisa menjadi induk yang produktif, termasuk juga di Labuan Lalang yang menjadi lokasi dengan jumlah burung Curik Bali terbanyak dibandingkan lokasi lainnya. Upaya pengamanan dan pembinaan populasi intensif dilaksanakan agar secara kuantitas populasi burung Curik Bali terus bertambah dan kualitas individu hasil pembiakan dialam juga meningkat. Ayo! Kita terus jaga habitat asli burung Curik Bali yang merupakan satwa icon Pulau Bali. Semoga di masa yang akan datang burung Curik Bali mudah kita jumpai dan persebarannya terus meluas menghiasi langit Pulai Bali. Salam Lestari! Sumber: Balai TN Bali Barat
Baca Berita

Road Show Moli Telsi Di Sekolah Dasar Wilayah Bidang PTN Wilayah III Bogor

Jumat, 4 Oktober 2019 - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bekerjasama dengan Yayasan Owa Jawa dalam Konservasi Owa Jawa dengan beberapa program yang meliputi Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa, Pendidikan Konservasi, Pengamanan dan Pemantauan, serta Pendataan dan Publikasi Informasi Konservasi Owa Jawa. Indonesia memiliki satu-satunya Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa atau dikenal dengan Javan Gibbon Centre (JGC) yang berlokasi di wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Resort PTN Bodogol. Saat ini terdapat 16 individu owa jawa yang sedang direhabilitasi di lokasi tersebut. Komitmen TNGGP dan Yayasan Owa Jawa dalam pelestarian owa jawa mengingat kondisi populasi satwa ini tergolong ke dalam status terancam punah (Endangered Species) berdasarkan IUCN Redlist dalam kehidupan liarnya sehingga dikategorikan ke dalam 3 Satwa Prioritas TNGGP (selain Macan Tutul dan Elang Jawa). Bentuk kegiatan lainnya sebagai tindaklanjut dalam kerjasama dengan Yayasan Owa Jawa melalui pendidikan konservasi, dilaksanakan kegiatan penyuluhan kepada sekolah tingkat Sekolah Dasar. Tim penyuluhan yang dibentuk melaksanakan kegiatan tersebut dinamakan Moli Telsi yang merupakan kolaborasi petugas TNGGP dengan staf dari Yayasan Owa Jawa. Istilah “Moli” berasal dari Hylobates moloch dan “Telsi” dari Nisaetus bartelsi yang merupakan nama ilmiah dari satwa Elang Jawa. Pada bulan September-Oktober 2019, tim Moli Telsi melakukan penyuluhan di 3 Sekolah Dasar yang tersebar di Resort PTN Cimande yaitu SDN Cinagara 02, Resort PTN Tapos pada SDN Citapen 02, dan Resort PTN Cisarua pada SDN Sukagalih 02 selama 3 hari (satu sekolah, satu hari). Pada tanggal 30 September 2019, kunjungan ke SDN Cinagara 02 disambut dengan ceria oleh para siswa kelas VI. Kegiatan diawali dengan siswa mengisi soal pre test untuk mengetahui berapa jauh pengetahuan siswa tentang pengenalan taman nasional sebagai bagian dari hutan konservasi. Kemudian dilanjutkan pengetahuan/ wawasan mengenai peranan/ fungsi hutan konservasi/ taman nasional secara umum dengan bahasa dan istilah yang sederhana. Tentunya untuk menghidupakan suasana dalam ruangan tetap ceria sesekali diisi dengan games. Penyampaian materi juga dilakukan secara kolaborasi dari TNGGP dan YOJ. Terkadang dikeluarkan celoteh dan gambar lucu sehingga membuat siswa tertarik. Setelah diberikan materi, siswa diajak untuk bermain games secara interaktif dengan games atau permainan yang mengandung pesan moral untuk diingat dan dipahami oleh para siswa. Strategi tersebut membuat para siswa terus semangat dalam menerima apa yang disampaikan kemudian dilajutkan dengan pemutaran film bertemakan konservasi. Seperti yang dituturkan oleh salah satu siswa SDN Cinagara 02, pesan yang dikandung dalam Film “Turtle World” bercerita bahwa kita harus menjaga hutan dan jangan menebang pohon di hutan karena alam bisa rusak,” ujarnya. Kegiatan ditutup dengan pemberian hadiah bagi siswa yang interaktif selama kegiatan pemberian materi dan metode yang dilakukan pada ketiga sekolah tersebut sama, untuk SDN Citapen dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2019 kemudian tanggal 2 Oktober 2019 di SDN Sukagalih 02. Sekolah yang dijadikan sasaran dari kegiatan ini karena lokasi sekolah berada di wilayah desa penyangga dan berdekatan dengan lokasi habitat owa jawa di TNGGP. Ada hal yang berbeda dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dibandingkan kegiatan penyuluhan yang sebelumnya dilaksanakan yaitu tema khusus owa jawa yang diangkat. Harapan dengan dilakukan kegiatan ini, seluruh lapisan masyarakat mengetahui keberadaan owa jawa di TNGGP dan terlibat dalam upaya pelestarian minimal dengan melaporkan jika terdapat pencurian satwa liar ini di masyarakat. Siswa dapat menyampaikan kepada orang tua, tetangga, dan teman-temanya yang ditemui di sekitar tempat tinggalnya. Save our Gibbon..... Salam Lestari....... Sumber: Ratih Mayangsari (Penyuluh Kehutanan) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kerjasama Terus Berjalan Meski Pks Telah Berakhir

Jumat, 4 Oktober 2019 - Pengelolaan Taman Nasional begitu kompleks, terkait pengelolaan tumbuhan, satwa, hidrologi, wisata, lingkungan hidup, bangunan, kepolisian, dan lain-lain, sampai ekonomi masyarakat. Volume dan ragam jenis pekerjaan yang tinggi itu secara logika tidak mungkin dilakukan oleh satu lembaga saja, namun hal itu sudah menjadi tugasnya taman nasional dan harus berhasil. Nah, … MERAH DARAHKU (Menanam untuk masa depan yang cerah dengan penuh gairah, ini baku) kali ini mengalir untuk mengatasi mission yang impossible itu bersama PT Tirta Investama qq Plant Cianjur. Selamat menyimak ! Kontrol Sisa Kegiatan Salah satu strategi untuk merealisasikan “misi yang imposibel” itu adalah melali kerjasama dengan mitra yang kompeten dalam bidangnya. Salah satunya kerjasama bidang pemulihan ekosistem melalui penanaman pohon asli setempat. Kerjasama dijalin dengan berbagai lembaga, antara lain dengan PT Tirta Investama qq Plant Cianjur untuk memulihkan ekosistem yang terdegradasi di Resort PTN Tegallega. Kerjasama yang telah dilakukan sejak tahun 2015 dan akan berakhir bulan Desember 2019, antara Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan PT Tirta Investama qq Plant Cianjur ini, dievaluasi bersama pada hari Kamis tanggal 03 Nopember 2019, di kantor Balai Besar TNGGP. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa secara umum kegiatan kerjasama berjalan dengan baik dan berhasil memulihkan eksosistem yang mengalami kerusakan seluas 32 ha. Pada acara evaluasi yang dipimpin oleh Wasja, ketua tim evaluator Balai Besar TNGGP, dihadiri tim Evaluator Balai Besar TNGGP, PT Tirta Investama qq Plant Cianjur, Yayasan Gamelina (sebagai operator kegiatan), pemangku wilayah (Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur dan Kepala Resort Tegalega). Jarot, kepala divisi Konservasi PT Tirta Investama qq Plant Cianjur menyatakan bahwa mulai tahun 2020 perusahaannya akan focus pada “recharge area”, diluar kawasan TNGGP. Jadi perjanjian kerjasama (PKS) yang telah berjalan belum berencana untuk diperpanjang. Lebih lanjut Jarot meminta masukan agar bisa memanfaatkan waktu yang tersisa sampai akhir PKS, serta masukan untuk perbaikan kegiatan yang masih kurang optimal. Pihak TNGGP, mengapresiasi kerjasama yang telah dilakukan PT Tirta Investama qq Plant Cianjur dan berharaf agar kerjasama terus terjalin meskipun tidak diikat dengan perjanjian formal. 14.000 Batang Plus 3.500 Plances Dari hasil evaluasi kali ini, diketahui telah berhasil ditanam sebanyak 14.000 batang pohon jenis asli TNGGP terdiri atas rasamala, manglid, puspa, huru, suren, salam hutan, pada areal seluas 32 ha, dan rencana akan ditanam lagi sebanyak 3.500 batang untuk program tahun 2019, pada lahan seluas 8 ha. Penanaman tahun 2019 akan dilakukan setelah turun hujan. Bagi masyarakat yang bersungguh-sungguh dan berhasil menanam serta memelihara tanamannya, diberikan “reword”, berupa bibit kambing sebanyak 13 ekor pada tahun 2015 dan 2016, pelatihan wisata, pembuatan demplot pembibitan ditahun 2017 serta budidaya jambu kristal pada tahun 2018. Sedangkan untuk “reword” di tahun 2019 direncanakan satu paket budidaya jambu Kristal. Dengan dijalinnya kerjasama seperti ini mudah-mudahan misi yang “imposibel” jadi “posibel” dan era tinggal landa bidang konservasi sumber daya alam bisa segera terwujud. “Dengan adanya hutan masyarakat sejahtera dan karena masyarakat hutan terawat” atau bahasa Cibodasnya “leuweung hejo masyarakat ngejo”. Semoga ! Sumber: Agus Mulyana - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Ada Curik Bali di Batik Balai TN Bali Barat

Cekik, 2 Oktober 2019. Sebagai wujud kebanggaan kita akan Batik, dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional di Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Seluruh karyawan dan karyawatinya kompak menggunakan batik. Batik yang digunakan juga beragam corak seperti: Batik Solo, Batik Jogja, Batik Pekalongan, Batik Bali (kain endeg), dll. Yang lebih menarik lagi adalah batik dengan corak Burung Curik Bali yang dikenakan oleh beberapa rekan karyawan TNBB. Dengan kita pakai batik berarti kita sudah mendukung roda perekonomian lokal untuk terus berkembang dan dapat bersaing dengan berbagai macam tekstil dari berbagai negara. Selain menggunakan batik, setiap kamis pun para pegawai TNBB menggunakan pakaian adat budaya nusantara. Tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari Batik Nasional karena Batik merupakan identitas Bangsa Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya dan merupakan ikon budaya yang memiliki keunikan serta filosofi yang mendalam. Hampir di seluruh daerah di Indonesia memiliki ciri dan corak batik sebagai kebanggaan daerah. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Peran MMP dan MPA Desa Klakah, Kecamatan Selo dalam Penanganan Kebakaran Hutan di Lereng Utara Gunung Merapi

Boyolali, 2 Oktober 2019. Musim kemarau yang panjang ini, semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Pada tanggal 1 Oktober 2019 pukul 19.31 terpantau adanya kebakaran hutan dan lahan di Dukuh Bakalan, Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Area ini merupakan lereng utara Gunung Merapi, masuk wilayah kerja Resort Selo, SPTN Wilayah II Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Kejadian ini diketahui awalnya dari informasi masyarakat, dan diteruskan kepada petugas Resort Selo. Kemudian petugas Resort Selo menghubungi para anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) di sekitar lokasi kejadian, untuk dapat segera memadamkan kebakaran. Kemudian petugas Resort Selo BTNGM beserta anggota Polsek Selo menyusul ke lokasi pada pukul 21.00, dan sekitar pukul 21.43 berkumpul di rumah pak Parno, untuk dilakukan koordinasi. Dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan ini, masyarakat Desa Klakah (Dukuh Bakalan dan Dukuh Sumber) dan Desa Jrakah (Dukuh Sepi), serta kepala desa berikut aparat desa Klakah juga turut berperan langsung dalam proses pemadaman, hingga dapat dipastikan 99% aman terkendali. Sebagai informasi, para anggota MMP dan MPA ini awalnya kepeduliannya terhadap lingkungan rendah, akan tetapi dengan hubungan erat dan koordinasi petugas Resort Selo SPTN Wilayah II BTNGM, maka timbul semangat untuk bersama-sama melindungi alam maupun hutan konservasi. Sedangkan untuk pengecekan (mop up) akan dilaksanakan esok hari, mengingat waktu telah larut malam. Selanjutnya petugas Resort Selo tetap berjaga di kantor resort. Keesokan harinya, Rabu, 2 Oktober 2019 dilakukan pengecekan (mop up) ke wilayah bekas kebakaran, oleh para petugas SPTN Wilayah II BTNGM sebanyak 15 orang beserta anggota MMP Bakalan – Sumber, Desa Klakah sebanyak 15 orang. Dari hasil pengecekan, dapat diperoleh data bahwa luasan kebakaran sekitar 378 m2, pada titik koordinat UTM X 0438451, Y 9168487, blok Semenan. Dalam kesempatan ini, besar apresiasi dari BTNGM terhadap masyarakat sekitar kawasan hutan konservasi TNGM, terutama anggota MMP, MPA, aparat desa Klakah, serta masyarakat daerah penyangga sekitar kawasan yang telah sigap melakukan pemadaman. Semoga tidak ada kebakaran hutan lagi di masa yang akan datang. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

WCS-IP : Training dan Pembekalan Survey Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir TNTBR

Benteng - Kepulauan Selayar, 3 Oktober 2019. Selesai Training Survey Ekologi oleh mitra WCS-IP (2/10), Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) lanjut menggelar Pelatihan Survey Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir Taman Nasional Taka Bonerate pada hari ini (3/10) di ruang rapat Balai TNTBR. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Usman, membuka kegiatan yang dihadiri pejabat Struktural, Koordinator WCS-IP untuk TN Taka Bonerate Sudarman, Koordinator Fungsional dan Tim Survey bertempat . "Mewakili kepala balai saya mengucapkan banyak terima kasih kepada mitra WCS-IP karena dengan waktu berdekatan dua pelatihan yang sangat membantu kami dalam pengelolaan TN Taka Bonerate lebih baik" ucap Usman. Setelah dibuka materi dilanjutkan dengan pemaparan gambaran dan metode yang digunakan. "Metode yang digunakan dalam survey ini adalah survey rumah tangga dengan system sampling" jelas Peni sebagai koordinator tim Survey Sosek WCS-IP. Peni juga menyampaikan bahwa salah satu tujuan dari giat pelatihan ini adalah sebagai pembekalan bagi Tim Survey Sosek. "Survey kali ini sedikit berdeda karena data entry-nya memakai aplikasi berbasis Android "KoBo Collect". Selama tiga hari kedepan akan dilaksanakan kegiatan pelatihan ini dengan materi sehari dan dua hari praktik, kemudian dilanjutkan kegiatan pengambilan data di dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. Sumber: Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Tanamkan Jiwa Konservasi, BBTN GGP Gelar Pembinaan Saka Wanabhakti

Tapos, 30 September 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah melaksanakan kegiatan pembinaan Saka Wanabhakti lingkup Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan di bumi perkemahan LBC Resort PTN Tapos, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah VI Tapos yang diikuti 32 orang anggota Pramuka Saka Wanabhakti yang berasal dari Kwartir Ranting (kwarran) Cigombong, Caringin, Ciawi, dan Megamendung. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki konsentrasi khusus terhadap pembentukan generasi muda yang tangguh dan berkualitas. Dimana salah satunya dilakukan dengan pelaksanaan program-program pendidikan lingkungan dan konservasi bagi pemuda baik yang berada di zona penyangga sekitar kawasan TNGGP maupun zona transisi Cagar Biofer Cibodas. Kegiatan ini bermaksud untuk menanamkan jiwa konservasi, sehingga tumbuh kepedulian para generasi muda terhadap kelestarian lingkungan. Pada akhirnya di masa depan ketika mereka telah tumbuh menjadi anggota masyarakat dapat bersikap bijak terhadap alam dan lingkungan. “Saya senang sekali mengikuti kegiatan ini banyak ilmunya dan harusnya peserta lebih banyak, jadi acaranya akan lebih seru” ujar Risdan salah satu peserta yang berasal dari Kwarran Ciawi. Pembina anggota Pramuka diisi dengan penyampaian materi dengan tema "Jelajah Hutan Hujan Tropis Jawa Barat". Kegiatan disajikan dalam bentuk simulasi/ praktek dan demontrasi. Berdasarkan tema yang diangkat, materi yang diberikan yaitu Pengelolaan keanekaragaman hayati (monitoring satwa dengan kamera trap dan pengenalan flora TNGGP dengan analisis vegetasi), eksplorasi sungai dengan simulasi pengukuran debit air dan pengenalan biota air sebagai indikator kesehatan suatu sumber air, pengendalian kebakaran hutan dengan metode sedarhana. Dalam pelaksanaan pembinaan Saka Wanabhakti kali ini, panitia juga melibatkan peran serta dari anggota KTH LBC Lestari yang merupakan mitra Balai Besar TNGGP. Diharapkan dengan pelibatan ini kegiatan dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan memberikan hasil yang optimal. Selain itu juga untuk meningkatkan kepedulian dan apresiasi anggota KTH terhadap program-program yang dilaksanakan oleh Balai Besar TNGGP. Penanaman rasa cinta dan peduli terhadap hutan dan lingkungan ini dilaksanakan dengan metode belajar langsung di alam. Peserta yang dipandu oleh mentor diajarkan tentang kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis aplikatif. Jenis-jenis kegiatan tersebut dikorelasikan dengan kecakapan – kecakapan yang terdapat pada setiap Krida Saka Wanabhakti yaitu Krida Tatawana, Krida Gunawana, Krida Binawana, dan Krida Reksawana. Pamong Kwarran Cigombong menyampaikan bahwa mereka mengharapkan agar kegiatan ini ditindaklanjuti dengan program lanjutan diantaranya penyusunan program kerjasama pembinaan Saka Wanabhakti antara Balai Besar TNGGP dengan Kwarran peserta. Pesan moral juga disampaikan selama proses pelaksanaan kegiatan seperti peserta diwajibkan membawa botol minum masing-masing serta bersama-sama melakukan operasi bersih di dalam kawasan hutan sebagai penutup kegiatan. Dari pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan/ wawasan mengenai fungsi/ peranan hutan konservasi sebagai sistem penyangga kehidupan dan menanamkan rasa cinta terhadap alam dan hutan khususnya yang berada di sekitarnya. Selain itu jugà, mengajak peserta berperan serta dalam upaya pelestarian hutan yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Generasi muda menjadi sasaran dari kegiatan ini yang berasal dari berbagai latar belakang, baik pelajar (tingkat SD – mahasiswa), santri dan Pramuka. Anggota Pramuka merupakan bagian dari kelompok generasi muda yang secara militan dididik oleh organisasi untuk menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki jiwa patriotisme dan berbudi luhur. Generasi muda juga merupakan tumpuan dan harapan bangsa, peran pemuda menentukan masa depan negara karena mereka yang akan memegang peran di masa depan. Baiknya pemuda di masa kini maka baik pula lah bangsa di masa depan. Membekali pemuda dengan pendidikan, pengetahuan, dan moral yang baik merupakan tabungan kita untuk masa depan bangsa dan negara. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Ratih Mayangsari (Penyuluh Kehutanan) dan Woro Hindrayani (PEH) Foto : Edi Subandi (Polhut) dan Ayi Rustiadi (PEH)
Baca Berita

Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) Tahun 2019 Lingkup BKSDA Aceh

Banda Aceh, 03 Oktober 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh didukung oleh WCS – IP melalui pendanaan dari USAID Lestari menyelenggarakan kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) Lingkup Balai KSDA Aceh yang bertempat di The Pade Hotel Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 26-27 September 2019. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) serta beberapa mitra antara lain WCS – IP, FKL, OIC, YLI, dan akademisi Universitas Syiah Kuala. Dari hasil self assesment tersebut didapatkan adanya peningkatan nilai di setiap kawasan konservasi dibandingkan dengan tahun sebelumnya antara lain TWA Jantho 74% menjadi 81%, TWA Kepulauan Banyak 72% menjadi 81%, TWA Pulau Weh 73 menjadi 80%, TWA Kuta Malaka 46 % menjadi 52%, SM Rawa Singkil 80% menjadi 81%, CA Hutan Pinus Janthoi 70% menjadi 87%, CA Serbojadi 67% menjadi 77%, dan TB Lingga Isaq 67% menjadi 80%. Kegiatan penilaian efektivitas pengelolaan ini merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan untuk melihat sejauh mana pengelolaan telah dilakukan dalam rangka mencapai tujuan pebgelolaan kawasan yang telah ditetapkan. Hasil dari kegiatan penilaian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai perbaikan yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Metode penilaian yang digunakan pada kegiatan ini yaitu menggunakan METT (Management Effectiveness Tracking Tool) dimana terdapat 6 elemen penilaian yang dievaluasi yaitu konteks, perencanaan, input, proses-proses, output, dan hasil akhir sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : P.12/KSDAE/SET/KUM.1/12/2017 tentang Pedoman Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi. Sumber : Balai KSDA Aceh Penanggung Jawab Berita : Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh - Sapto Aji Prabowo, S.Hut. M.Si (08125006527) Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Aceh - Erwan Candra Jaya, SE (0813-6768-7395)
Baca Berita

Waspada, Angin Kencang Melanda Kawah Ijen

Banyuwangi, 3 Oktober 2019. Beberapa hari ini Taman Wisata Alam Kawah Ijen dilanda angin kencang. Dan puncaknya terjadi semalam (2/10/2019) sekitar pukul 19.00 WIB, angin yang menghembus cukup kencang di Paltuding – Banyuwangi, semakin kencang hingga terdengar suarah gemuruh. Sesaat kemudian beberapa pohon rubuh dan aliran listrik-pun terputus. Dalam suasana yang gelap, segera petugas Resort Konservasi Wilayah 18 Kawah Ijen melakukan pembersihan pohon-pohon roboh di sekitar Paltuding. Dibantu penerangan senter dan lampu mobil, mereka memotong-motong batang pohon yang menimpa saluran listrik serta yang melintang di jalur pengunjung menuju Kawah Ijen. Setidaknya ada 9 pohon yang roboh di Paltuding, sedangkan pada jalur pendakian hanya dijumpai ranting-ranting pohon yang berserakan akibat angin kencang tersebut. Meski listrik telah kembali normal di Paltuding, namun pengelola kawasan tetap berharap pengunjung untuk berhati-hati dan tetap waspada dengan adanya angin kencang yang melanda Kawah Ijen belakangan ini. Namun, jika angin kencang terus berlanjut dan membahayakan keselamatan pengunjung, pengelola kawasan akan mempertimbangkan untuk menutup kawasan sementara. Penulis dan Foto : Sumpena, SP. Kepala Seksi Konservasi Wilayah V, Banyuwangi. Penyunting : Agus Irwanto
Baca Berita

85 Ekor Satwa Dilindungi Diamankan Balai Gakkum KLHK Wilayah Maluku Papua

Ternate, 1 Oktober 2019. Operasi Gabungan Penindakan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilakukan oleh Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Maluku Papua bersama dengan BKSDA Maluku Seksi Konservasi Wilayah I Ternate dan Polairud Polda Maluku Utara pada tanggal 20 sampai dengan 29 September 2019 mengamankan 4 pelaku berinisial IU (34 tahun), AS (29 tahun), IS (40 tahun) dan RW (58 tahun) serta Barang Bukti Satwa Liar Dilindungi sebanyak 85 ekor, yang terdiri dari : Penangkapan ini berawal dari operasi Intelijen Balai Gakkum Maluku Papua bersama Balai KSDA Maluku Seksi Wilayah I Ternate yang dilakukan dengan cara menyamar sebagai pembeli burung di 4 kabupaten di Provinsi Maluku Utara yaitu Desa Dehegila Kecamatan Morotai Selatan Kabupaten Morotai; Desa Kalipitu Kecamatan Tobelo Tengah Kabupaten Halmahera Utara; Desa Cemara Jaya Kecamatan Wasile Utara Kabupaten Halmahera Timur dan Desa Sailal Kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur. Pelaku diduga merupakan sindikat mata rantai jaringan perdagangan Tumbuhan Satwa Liar di Maluku Utara. Berdasarkan keterangan para pelaku modus penangkapan burung dilakukan menggunakan lem getah/teru pohon sukun yang diletakan di cabang/ranting kayu bersama dengan burung pancing dimana burung pancing ini akan bersuara atau berkicau memancing burung lainnya. Saat ini 4 pelaku telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh penyidik KLHK dan menjalani proses penyidikan untuk mengungkap keterlibatan pihak lain yang masuk dalam mata rantai jaringan perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, sementara barang bukti dilakukan titip rawat ke Kantor Seksi Wilayah I Balai KSDA Maluku di Ternate. Penyidik menjerat para pelaku dengan Pasal 21 ayat 2 huruf a dan c jo Pasal 40 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. Yosef Nong selaku Kepala Seksi Wilayah II Ambon Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Wilayah Maluku Papua menjelaskan bahwa “Provinsi Maluku Utara adalah salah satu simpul perdagangan satwa burung paruh bengkok, lokasinya yang strategis dan tipe kepulauan yang memiliki banyaknya pintu keluar berupa pelabuhan rakyat sehingga petugas mengalami kesulitan dalam pengawasan, untuk itu dibutuhkan sinergirtas antar penegak hukum dalam penanganan perdagangan satwa liar yang dilindungi khususnya paruh bengkok di sekitar wilayah Maluku Utara.” Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Pelatihan Pembuatan Gula Semut Desa Hutapuli Penyangga TN Batang Gadis

Kotanopan, 2 Oktober 2019. Desa Hutapuli kecamatan kotanopan berada pada kawasan hutan lindung, dimana memilki kontur yang miring dan sulit untuk dibuka sebagai lahan pertanian/perkebunan. Hal ini berdampak pada lahan pekarangan masyarakat desa yang sempit, dikarenakan kesulitan mendapatkan area yang datar. Potensi sumber air yang baik didukung dengan suhu udara yang sejuk mendukung untuk bertanam jenis sayur-sayuran. Keinginan masyarakat desa mendapatkan ilmu pengetahuan di bidang pertanian/perkebunan dan meningkatkan pendapatan masyarakat desa dengan usaha ekonomi produktif, oleh sebab itu kebutuhan akan pelatihan dan praktek lapangan dibutuhkan oleh masyarakat. Maka dari latar belakang tersebut dipandang perlu adanya penyelenggaran kegiatan Pelatihan Gula Semut. Pengelolaan dan perlindungan kawasan Taman Nasional Batang Gadis didukung oleh pemerintahan daerah Kabupaten Mandailing Natal, Polsek Kotanopan dan Koramil 14 Kotanopan. Kegiatan ini sebagai bentuk pertanggung jawaban dan evaluasi kinerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kotanopan di dalam pengelolaan kawasan dan penegakan hukum kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Pelatihan Pembuatan Gula Semut dilaksanakan yaitu untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pembuatan gula semut kepada masyarakat Desa Huta Puli Kec. Kotanopan sebagai upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan pendapatan ekonomi masyarakat Desa Huta Puli Kec. Kotanopan. Pelatihan gula semut ini dilaksanakan di Desa Bulu Mario Sipirok. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 4.801–4.816 dari 11.140 publikasi