Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BKSDA Kalsel Bersama BKSDA Kalteng Rehabilitasi Satwa Owa- Owa

Banjarbaru, 1 Oktober 2019. Dalam upaya rehabilitasi satwa hasil penyerahan masyarakat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan telah menyerahkan 5 ekor satwa liar dilindungi berupa Owa-owa (Hylobathes muellerii) dengan jenis kelamin 3 ekor jantan dan 2 ekor betina kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah. Penyerahan dilaksanakan pada hari Selasa 1 Oktober 2019 oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru M Ridwan Effendi, S.Hut., M.Si kepada Ettie Ratiana PEH BKSDA Kalimantan Tengah. Menurut Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc bahwa penyerahan satwa Owa-owa kepada Balai KSDA Kalimantan Tengah sebagai langkah untuk rehabilitasi satwa dimaksud yang akan dilakukan oleh Yayasan Kalaweit Kalteng dengan harapan agar perawatan dan penanganan kesehatan kepada ahlinya untuk dapat mengembalikan sifat liar dari satwa tersebut. Lebih lanjut Dr. Mahrus menjelaskan bahwa diperlukan waktu 3-5 tahun lamanya untuk dilakukan rehabilitasi satwa Owa-owa agar bisa mengembalikan sifat liarnya sebelum dilepasliarkan pada habitat aslinya. (ryn) Sumber : M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Potensi Fauna Burung di area Pemetaan Grid wilayah Resort Ampel Taman Nasional Gunung Merbabu

Boyolali, 8 Oktober 2019. Data dan informasi mengenai persebaran tumbuhan dan satwa liar serta fitur alam lainnya dalam kawasan taman nasional merupakan unsur yang penting dalam pengembangan kebijakan konservasi dan sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Kelengkapan informasi merupakan faktor penting dalam menyusun rencana konservasi dan strategi pengelolaan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan konservasi, dalam hal ini Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb). Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.7/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional, Pasal 3 menyebutkan bahwa salah satu fungsi Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional di wilayah kerjanya adalah penyediaan data dan informasi, promosi dan pemasaran konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya. Tindak lanjut yang dilakukan Balai TNGMb dalam penyediaan data dan informasi kawasan pada tingkat tapak yaitu melalui kegiatan pemetaan potensi kawasan dalam Grid atau Petak. Tujuan kegiatan pemetaan potensi kawasan TNGMb dalam grid adalah memperoleh : Kegiatan pemetaan pada grid/petak I16 telah dilaksanakan di wilayah Resort Ampel pada tanggal 2 – 5 Oktober 2019 dengan hasil sementara sebagai berikut : Data potensi kawasan Grid I16 merupakan blok Kesowo Ngagrong yang tidak terdampak kejadian kebakaran hutan TNGMb yang terjadi sebelumnya. Secara umum, lokasi grid berada di sebelah timur blok Pandean atau blok Nglorok atau blok Tulangan yang dipetakan berupa lereng dengan topografi curam dan sebagian datar, beberapa punggungan yang bergelombang, dan terdapat jurang (sungai) Sabrangan dan berbatasan dengan jurang Sipendok (sisi utara). Tipe tutupan vegetasi berupa hutan campuran berbagai jenis pohon dan tumbuhan bawah, serta jenis rumput/alang-alang. Jenis-jenis pohon yang mendominasi yaitu kesowo (Engelhardia serrata), pampung (Macropanax dispermus), krembi / waru gunung (Homalanthus gegantheus), pasang (Quercus spicata) dan wilodo (Ficus fistulosa). Jenis tumbuhan bawah meliputi kerinyu (Eupatorium inulifolium), candi, kerisan (Carex baccans), kremah, sengganen (Melastoma affine), pakisan, cakar ayam (Selaginella spp), meniran, rumput blabakan (Brachiaria mutica), alang-alang, bitingan, kadut, murbei, kerisan, dll. Jenis satwa yang dijumpai umumnya adalah jenis-jenis burung (Elang hitam, Uncal loreng, Sepah hutan, Bentet kelabu, Cica koreng jawa, Sikatan belang, Kutilang, dll) serta menjadi habitat bagi Lutung budeng (Trachypithecus auratus) dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Fitur alami yang ada berupa jurang dan badan sungai Sabrangan yang mengalir ke arah Pesanggrahan (wisata religi). Dokumentasi perjumpaan satwa di Grid I16 berupa perjumpaan langsung dapat terlihat ketika burung yang diamati terbang maupun bertengger, sedangkan perjumpaan tidak langsung melalui suara atau feses. Perjumpaan langsung dibantu a lat kamera digital/prosumer yang digunakan oleh petugas survei/pemetaan grid. Potensi fauna burung di Grid I16 berada pada ketinggian antara 1900 s/d 2250 mdpl antara lain : No Nama Indonesia No Nama Indonesia 1 Anis gunung 15 Gelatik batu-kelabu 2 Ayam-hutan Hijau 16 Kacamata biasa 3 Bentet kelabu 17 Kacamata gunung 4 Caladi tilik 18 Kekep babi 5 Ceret gunung 19 Kepudang-sungu jawa 6 Ceret jawa 20 Kenari Melayu 7 Cica-kopi melayu 21 Kipasan ekor-merah 8 Cica-koreng jawa 22 Sepah gunung 9 Cikrak muda 23 Sikatan belang 10 Ciu besar / jawa 24 Sikatan bodoh 11 Cucak gunung 25 Sikatan ninon 12 Cucak kutilang 26 Srigunting kelabu 13 Elang hitam 27 Tekukur biasa 14 Elang jawa* 28 Uncal loreng Total perjumpaan : 28 jenis Perjumpaan jenis burung yang menarik perhatian adalah jenis Kenari melayu. Kenari melayu atau kenari gunung ini berukuran kecil (11 cm), warna kuning dan abu-abu. Burung jantan berdahi dan dada berpita kuning dan bercoret hitam, tunggir kuning terang, sayap hitam dengan mantel abu-abu, tenggorokan hitam, perut putih bercoret hitam. Sedangkan burung betina hampir mirip jantan tetapi tunggir kuning lebih suram dan dada kurang berbintik. Suara kicauannya bergemerencing pendek yang dikeluarkan sewaktu terbang dan juga punya cicitan metalik. Data persebaran burung Kenari melayu di Pulau Jawa ditemukan di Gunung Gede Pangrango, Papandayan, Gunung Slamet, Dieng, Gunung Lawu dan pegunungan Tengger. Tidak banyak informasi penelitian jenis burung ini, sehingga sangat potensi akan perjumpaannya di wilayah Taman Nasional Gunung Merbabu. Burung ini mempunyai kebiasaan sendiri dan berkelompok kecil, mereka bergerombol di puncak semak-semak hutan, di padang rumput alpin juga hinggap di tanah. Data (baseline) perjumpaan satwa (khusus burung) di Grid I16 ini sangat penting dan bermanfaat bagi pengelolaan kawasan taman nasional dan memberikan input perencanaan TNGMb selanjutnya. Disisi lain peran serta lembaga penelitian (baik pemerintah, swasta dan lembaga masyarakat) perlu ditingkatkan guna memberikan input yang lebih detail dan luas lagi, bahkan dimungkinkan ke arah perkembangbiakan eksitu dan insitu (penangkaran) yang diikuti pemberdayaan masyarakat setempat. Sumber: Jarot Wahyudi, S.Hut, M.URP (PEH Pertama)
Baca Berita

Latsar Biologi Pencinta Alam Sumatera Utara di TWA Sibolangit

Sibolangit, 7 Oktober 2019. Biologi Pecinta Alam (Biota) melaksanakan kegiatan pelatihan dasar angkatan XVIII di TWA Sibolangit, tanggal 5-6 Oktober 2019. Kegiatan ini diikuti 25 orang yang terdiri dari 13 calon anggota baru biasa dan 12 anggota biasa. peserta anggota biota merupakan gabungan dari mahasiswa Universitas Medan (UNIMED), Universitas Medan Area (UMA) dan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). Kegiatan pelatihan dasar berupa materi praktek lapangan seperti pembuatan bivak, navigasi, tracking (jelajah) hutan, dasar-dasar konservasi dan lainnya yang disampaikan oleh panitia pelaksana. Kegiatan pelatihan dasar kali ini ini adalah pelatihan dasar yang ketiga dilaksanakan bagi anggota baru untuk menjadi anggota biasa, dimana pelatihan sebelumnya adalah Pelatihan Dasar I (DIKSAR I) dan Pelatihan Dasar II (DIKSAR II). Biota ujar ketua umum Biota Elza Natasya Balgis Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit sebagai salah satu kawasan konservasi dibawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dengan Luas 24, 85 Ha sudah menjadi lokasi pilihan bagi masyarakat umum khususnya sahabat mahasiswa Pecinta Alam dalam melaksanakan kegiatan Pelatihan Dasar Kepencintaan Alam dan kegiatan alam bebas lainya. TWA Sibolangit dipilih oleh kelompok pecinta alam dalam pelatihan dasar karena dukungan sarana prasarana yang sudah cukup tersedia dan pelatihannya langsung beradaptasi dengan hutan menjadi salah satu obyek pelatihan. Biota berdiri sejak Tahun 2000, setiap tahunnya Biota merekrut anggota sebanyak 20 orang. Pelatihan Dasar III Biota dengan mengambil salah satu lokasi perkemahan di TWA Sibolangit yaitu Camp Duku. Untuk sahabat pecinta alam disebut Camp Duku karena lokasi perkemahanya berada dibawah dan dikeliling pohon duku yang telah berumur ratusan tahun. Dan bagi masyarakat Sibolangit dan sekitarnya sudah tidak asing lagi dengan pohon duku dari TWA Sibolangit karena sudah terkenal dengan manisnya dan banyak dijadikan bibit dari pohon duku ini. kegiatan pelatihan dasar Biota ini, Resort CA/TWA Sibolangit ikut berperan serta dalam mengisi materi pelatihan yaitu materi konservasi dan tracking (Jelajah) hutan. Pada hari pertama materi konservasi yang disampaikan menitiberatkan pada dasar-dasar konservasi serta kegiatannya dan dilanjutkan pemutaran film konservasi berupa kawasan konservasi TWA Sibolangit dan video kawasan konservasi lainnya yang ada di Indonesia. Pada paparanya Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP memberi semangat bagi generasi biota ikut serta dalam kegiatan konservasi dan dapat membuat perubahan dalam perkembangan konsep penyebaran luasan informasi konservasi dengan teknologi digital generasi ke 4. Perlu secara cepat dan tepat informasi konservasi agar semakin diketahui masyarakat umum dan tingkat penyadartahuan konservasi juga meningkat. tidak bisa dihalangi lagi arus informasi sudah serba digital dan diharapkan informasi konservasi yang tersaji secara digital yang tidak dibatasi waktu dan tempat yang bisa diakses kapanpun. Pada hari kedua dipagi hari diawali olahraga senam bersama di halaman kantor Resort CA/TWA Sibolangit dilanjutkan tracking yang dipimpin kepala resort dibantu staf resort tenaga pengaman hutan lainnya Netty Simanjuntak. Tracking (Menjelah) hutan twa sibolangit, sebelumnya dilakukan petunjuk pelaksanaan standar yang diterapkan di resort CA/TWA sibolangit yaitu metoda SMART Patrol dengan dukungan perlengkapan yang harus dibawa ke hutan seperti GPS, kompas, alat tulis, peta, kamera, ATK, dll sebagai Standar Operasional Prosedur (SOP). Selama penjelajahan setiap anggota, sambil membersihkan sepanjang jalur jelajah juga dikenali potensi yang ada seperti tumbuhan, jejak satwa. Setiap yang ditemukan dilapangan dicatat dan didokumentasikan. Dan sebelum acara penutupan kepala resort menyampaikan kepada ketua umum Biota Sumut berupa buku buletin beo nias dari berbagai edisi, stiker dan video kawasan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara sebagai pengelola dan pemangku kawasan TWA Sibolangit menerima pembekalan sekaligus penyadartahuan tentang konservasi bagi kamu Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) ataupun Siswa Pencinta Alam (SISPALA) yang baru merekrut anggota baru. Karena apapun yang dibutuhkan tersedia disini, untuk itu jadi tunggu apalagi, silahkan datang ke TWA Sibolangit sobat konservasi. Bagi Kamu Kelompok Pencinta Alam Yang cinta Alam yang belum Kenal banget tentang Konservasi, Silahkan datang Ke TWA Sibolangit. Sumber: Samuel Siahaan, SP- PEH Pertama BBKSDASUMUT
Baca Berita

Tanamkan Nilai Konservasi Sejak Dini, Staf Fungsional Balai TNKM Berikan Pendidikan Lingkungan Hidup di SMA Negeri 9 Malinau

Malinau, 7 oktober 2019 – Pendidikan Lingkungan Hidup harus ditanamkan sejak dini kepada masyarakat, utamanya bagi para pelajar yang mengemban Pendidikan mulai dari jenjang Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Atas (SMA/Sederajat). Hal ini erat kaitannya dengan menjaga keberlangsungan hidup bagi orang banyak yang sumber penghidupannya beserta keluarga berasal dari hutan dengan keanekaragaman hayati yang tersedia dan dapat dimanfaatkan di kawasan TN Kayan Mentarang. Seperti yang dilakukan oleh Staf Fungsional SPTN Wilayah III Long Ampung Balai Taman Nasional Kayan Mentarang yang baru saja usai melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Malinau di SPTN III Long Ampung dengan materi "Mengenal TNKM, Konservasi dan Peduli Terhadap Lingkungan Hidup". Pendidikan lingkungan hidup yang dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2019 kemarin mendapat respon yang baik dari 54 siswa yang hadir. Hal itu terlihat berdasarkan interaksi yang terus berkembang dari tanya jawab yang berlangsung sebagai bentuk keingintahuan siswa tentang konservasi dan kekayaan alam yang harus dijaga, Terutama di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Pihak Sekolah SMA Negeri 9 yang diwakili oleh Markus Lubin dalam pembukaan acara berpesan agar materi yang disampaikan dapat diresapi dengan baik sehingga ada kepedulian terhadap nilai-nilai konservasi dan TNKM dalam kehidupan sehari-hari. "kami sangat menyambut baik kegiatan PLH dari instansi kehutanan dan semoga materi yang akan disampaikan memberikan pemahaman yang baik tentang konservasi." ungkap Markus Lubin mewakili Kepala Sekolah. Disamping itu Markus Lubin berharap agar kegiatan pendidikan lingkungan hidup dapat dilaksanakan secara berkesinambungan untuk menjaga semangat para siswa dalam menerapkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini. Sumber : SPTN III Long Ampung Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Efektivitas Pengelolaan Kawasan TN Matalawa Dinilai

Waingapu, 4 Oktober 2019. Metode penilaian pengelolaan kawasan konservasi berdasar pada Peraturan Direktur Jenderal KSDAE Nomor: P.15/KSDAE-SET/2015 tentang Pedoman Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia atau biasa disebut dengan Management Effectiveness Tracking Tools (METT). Dihadiri lebih dari 50 orang dari berbagai macam stakeholders terkait, proses penilaian berlangsung lancar dan tepat sasaran. Peserta diskusi yang hadir dibagi 2 kelompok untuk menilai masing-masing kawasan Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti. Dua kelompok ini berisi pegawai Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) beserta stakeholders terkait seperti Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dari 3 Kabupaten, perwakilan Kecamatan serta perangkat Desa sekitar kawasan, juga Lembaga Swadaya Masyarakat. Hal ini dilakukan guna menjaga objektifitas penilaian sehingga menghasilkan nilai yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah berdiskusi sejak pukul 10.00 hingga pukul 16.30, para peserta diskusi berhasil menyepakati nilai yang sudah diperoleh. Kawasan Manupeu Tanah Daru pada tahun ini memperoleh nilai 81 dan Laiwangi Wanggameti memperoleh nilai 85. Kedua nilai ini mengalami pengingkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 80 untuk Manupeu Tanah Daru dan 70 untuk Laiwangi Wanggameti. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, mengungkapkan bahwa nilai yang naik ini menandakan bahwa pengelolaan sudah dilaksanakan dengan baik. Pekerjaan berat kita untuk mempertahankan nilai ini dan bila perlu ditingkatkan sehingga manfaat lain dari pengelolaan kawasan akan lebih terasa untuk masyarakat. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

HUT TNI 74 Tanam Bibit Mangrove di Pantai Takisung SKW I

Takisung, 7 Oktober 2019. Sebanyak 4.500 bibit mangrove telah ditanam di pesisir Pantai Takisung, Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut. Penanaman mangrove yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT TNI ke 74 Tahun 2019 dengan Tema TNI Profesional Kebanggaan Rakyat. Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan dipimpin Mirta Sari, S.Hut., M.P beserta staf mengikuti kegiatan penanaman mangrove sebagai bentuk dukungan dan ikut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan Karya Bakti TNI. Dalam acara penanaman ini, seluruh komponen masyarakat berjumlah 350 orang diajak ikut serta. Kegiatan diikuti oleh TNI AL, TNI AD, Polsek Takisung, KPH Tanah Laut, Pelindo 3, Camat Takisung, Jalasenastri (Dharma Wanita TNI AL) dan Pramuka SMP dan SMA di Kecamatan Takisung. Bupati Tanah Laut dalam sambutannya yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir. Akhmad Mustahdi, MM turut mendukung kegiatan penanaman mangrove. Danlanal Kolonel Laut (P) Sandharianto selaku Komandan Lanan Banjarmasin dalam sambutannya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan Karya Bakti TNI AL dalam rangka penanaman mangrove serentak di seluruh Indonesia guna kemanunggalan TNI AL dengan masyarakat. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., menyambut baik kegiatan kolaborasi para pihak dalam rangka pemulihan ekosistem sebagai habitat bagi satwa dan tumbuhan. Penanaman mangrove dapat memperkaya biodiversitas satwa dan tumbuhan, terutama Bekantan sebagai kebanggaan masyarakat Kalsel. (ryn) Sumber : Nadya Arta Uly Siagian, S.H - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Inisiasi Gerakan Nasional

Mataram, 6 Oktober 2019 - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi lokasi ke-3 untuk Gerakan Nasional "Pilah Sampah Dari Rumah" yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaui Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3). Kegiatan dilaksakan pada hari Minggu 6 Oktober 2019 di Monumen Bumi Gora Taman Udayana Mataram yang bertepatan dengan program mingguan Pemerintah Kota Mataram "Car Free Day" di Jalan Udayana. Rosa Vivien Ratnawati, S.H., M.Sc. selaku Dirjen PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hadir dalam kegiatan yang juga turut didampingi rombongan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan antara lain Novrizal Tahar, S.T., M.Si. (Direktur Pengelolaan Sampah), Dr. Ir Haruki Agustina, M.Sc (Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3) dan Drs. Rijaluzzaman (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali & NusaTenggara). Tak ketinggalan juga UPT KLHK di Provinsi NTB yakni Balai KSDA NTB oleh Ir. Ari Subiantoro, M.P., Balai TN Rinjani dan BPDAS HL Dodokan Moyosari melalui Kepala Balai, KSBTU dan staf juga turut hadir memeriahkan kegiatan. Sementara itu dari Pemerintah Provinsi NTB dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB Ir. MADANI MUKAROM B.SC.F, M.SI. beserta OPD terkait. Tak lupa para siswa-siswi SMP di Kota Mataram beserta guru dan wali murid. "Pagi ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Ibu Wakil Gubernur (Provinsi NTB) mengajak seluruh Warga Provinsi NTB terutama Warga Kota Mataram untuk sama-sama kita pilah sampah, Setuju?" ujar Rosa Vivien Ratnawati, S.H., M.Sc. dalam pembukaan dihadapan peserta kegiatan. Lokasi acara juga diadakan "Pameran Sampah" yang dipenuhi stand-stand para pelopor pengelola sampah di Provinsi NTB, khususnya Kota Mataram. Dengan Prinsip "Reduce, Reuse and Recycle", peserta pameran mencoba memamerkan kreatifitas hasil kerajinan dari sampah yang bisa kembali digunakan, bahkan beberapa bernilai ekonomi untuk bisa dijual kembali. Seperti contohnya hiasan untuk dekorasi ruangan berbentuk bunga yang dibuat dari rangkaian botol plastik bekas minuman, celemek yang dibuat dari rangkaian bungkus bekas sabun cuci, termasuk juga bagaimana cara menumbuhkan bakteri kompos yang mampu "memakan" dan menguraikan sampah organik rumah tangga dalam waktu singkat untuk kemudian hasilnya bisa kembali dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Pada prinsipnya, Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah menekankan konsep reuse (gunakan kembali), reduce (kurangi) dan recycle (daur ulang). Dan ini menghasilkan ide bahwa sampah rumah tangga masih memiliki manfaat, tidak semua harus berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Sebagai beberapa contoh, pertama Reuse (gunakan kembali) dimana dimulai menggunakan botol minum isi ulang, wadah makanan dan tas belanja untuk mengurangi sampah plastik sehingga paling tidak dapat meminimalkan atau mengurangi (Reduce) potensi sampah. Kemudian daur ulang (Recycle), sampah organik seperti bungkus daun pisang, potongan kulit buah dan sisa lauk masih bisa digunakan untuk sebagai pupuk tanaman dengan menggunakan bakteri kompos. Selanjutnya sampah anorganik seperti kertas dan botol plastik bekas masih dibutuhkan oleh industri untuk kembali digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas dan botol plastik baru. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Geliat Edukasi Satwa di SFF Bunder

Yogyakarta 6 Oktober 2019. Stasiun Flora Fauna (SFF) Bunder merupakan salah satu lokasi pengembangan indukan (stock center) rusa dan pusat penyelamatan satwa yang berada di sebagian lahan di kawasan Tahura Bunder. Selaku pengelola SFF Bunder, Balai KSDA Yogyakarta juga menggunakannya sebagai media pembelajaran dan edukasi satwa kepada masyarakat. Selama dua hari berturut-turut petugas di SFF Bunder menerima kunjungan siswa yang terdiri atas 165 orang pelajar dan guru MTsN 3 Gunungkidul (5/10/19) dan 75 orang santri dari Pendidikan Santri Adz-Dzikro (PESAD) yang didampingi wali murid dan guru pembimbingnya. Kunjungan siswa MTsN 3 Gunungkidul dan Santri PESAD ini diterima dengan baik oleh personil Balai KSDA Yogyakarta yang sehari-hari bertugas di SFF Bunder. Disamping pemberian informasi mengenai profil singkat SFF Bunder, para siswa dan santri ini diberikan tambahan pengetahuan terkait Pengenalan Jenis Flora dan Fauna yang ada di SFF Bunder; Pengetahuan umum tentang satwa dilindungi; Edukasi tentang Rusa Timor, Raptor, MEP, Paruh Bengkok, dan Mammal; serta Pengetahuan tentang upaya konservasi yang ada di SFF Bunder. Tambahan materi yang diberikan dalam kegiatan ini adalah melukis dengan menggunakan daun yang disambut dengan antusias oleh para santri dari PESAD. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi merespon kunjungan siswa MTsN 3 Gunungkidul dan Santri PESAD ini. “Langkah ke depan yang diambil Balai KSDA Yogyakarta adalah selain tetap memproyeksikan SFF Bunder sebagai stock center rusa dan pusat penyelamatan berbagai jenis satwa liar, kawasan ini akan ditata kembali sehingga dapat mendukung sarana edukasi yang akan dilengkapi dengan pusat informasi. Dengan demikian saat menerima kunjungan seperti ini transfer informasi bisa dilakukan dengan lebih baik didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. jelas M. Wahyudi. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Wujud Kolaboratif, Balai TN Kayan Mentarang dan Desa Data Dian Tandatangani PKS

Malinau, 7 Oktober 2019 – Hari ini (7/10), Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dan Kepala Desa Data Dian tandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait Pemberian Akses dan Penguatan Peran Masyarakat Adat dalam skema kolaboratif. Sejauh ini sebanyak 3 (tiga) PKS telah ditandatangani oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bersama Masyarakat Adat dan Desa Penyangga baik terkait kemitraan konservasi dan penguatan fungsi. Trim Ifung, Kepala Desa Data Dian menyambut baik adanya perjanjian kerjasama ini karena merupakan reward bagi masyarakat penyangga yang mengangkat kearifan lokal dalam pemanfaatan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang secara lestari dalam skema kolaboratif khususnya di Desa Data Dian Kecamatan Kayan Hilir Kabupaten Malinau. “PKS ini adalah salah satu hal yang diharapkan oleh masyarakat sebagai reward bagi masyarakat dalam pengelolaan kolaboratif, kami harap Balai TNKM terus bersemangat melakukan sosialisasi agar masyarakat lebih memahami manfaat keberadaan TNKM sebagai penopang kehidupan lintas generasi bukan sebagai pembatas ruang gerak masyarakat dalam pemanfaatan hutan.” Ungkap Trim ifung yang didampingi Plt. Camat Kayan Hilir Robert Kristrian Albert. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Metode MARRS : Upaya Pemulihan Ekosistem Terumbu Karang di TN Bunaken

Manado, 5 Oktober 2019. Bertempat di perairan Pulau Bunaken, tepatnya Dermaga Alung Banua, Kelurahan Alung Banua, Kecamatan Bunaken Kepulauan, dilaksanakan kegiatan transplantasi karang sebagai upaya pemulihan ekosistem. Balai Taman Nasional Bunaken mengimplementasikan dengan pendekatan Metode MARS, yakni pemulihan ekosistem karang dengan menggunakan Metode Mars Accelerated Coral Reef Restoration System (MARRS), metode ini mengembangkan struktur koral melalui rangka laba-laba yang digunakan untuk mencangkok terumbu karang yang dinilai mampu mengembalikan fungsi dan struktur terumbu karang, sekaligus menyediakan dasar untuk pemulihan habitat. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan di Dermaga Alung Banua, Pulau Bunaken dengan mengajak mitra seperti Pemerintah Kota Manado yang diwakili oleh Pemerintah Kecamatan Bunaken Kepulauan, dive center, masyarakat, bahkan anak-anak Sekolah Dasar di Alung Banua antusias mengikuti dan terlibat menanam karang. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa kita berkomitmen dan mengajak para pihak untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan karang. Kita sama-sama ketahui, karang tidak hanya menyajikan keindahan, tetapi juga sebagai habitat ikan berkembang dan memijah. Walikota Manado dalam sambutan yang disampaikan oleh Camat Bunaken Kepulauan Robert Dauhan menyampaikan, Pemerintah Kota Manado sangat mengapresiasi kegiatan ini, potensi kekayaan alam ini tidak hanya dimiliki oleh Kota Manado atau Sulawesi Utara tetapi juga Indonesia, bahkan Dunia. Menjaga dan melestarikan ekosistem Taman Nasional Bunaken bukan hanya kewajiban tetapi menjadi kebutuhan kita semua, karena sejatinya kekayaan alam ini diciptakan untuk kemaslahatan kita semua dan generasi yang akan datang. Kegiatan ini adalah wujud nyata kesadaran kita akan pentingnya menjaga ekosistem secara berkelanjutan, khususnya menjaga kelestarian Taman Nasional Bunaken, melalui pemulihan ekosistem terumbu karang, sebagai keseimbangan ekosistem laut. Kiranya kegiatan ini menjadi stimulan untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian Taman Nasional Bunaken sebagai aset bangsa dan bagian integral dari kehidupan kita, tutup Robert. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

900 Fragment Karang Ditanam Pada Pemulihan Ekosistem Di Pulau Bunaken

Manado - Bertempat di Dermaga Alung Banua, Pulau Bunaken, Kecamatan Bunaken Kepulauan dilaksanakan kegiatan pemulihan ekosistem terumbu karang. Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Bunaken dengan mengajak mitra yakni Pemerintah Kota Manado, Dive Center dan Resort, serta Masyarakat (5/10). Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si dengan didampingi oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Nikolas Loli, SP serta Camat Bunaken Kepulauan Robert Dauhan terlibat langsung dalam penanaman karang di media rangka transplan. "Sebanyak 900 fragment karang ditanam dengan menggunakan rangka laba-laba. Bibit fragment karang diperoleh dengan memanfaatkan patahan-patahan karang diperairan yang dinilai stabil dan mampu untuk tumbuh. Pendekatan pemulihan ekosistem karang ini menggunakan metode MARS (Mars Accelerated Coral Reef Restoration System) yakni transplantasi karang dengan penyediaan habitat terumbu yang didesain dan disusun menyerupai rangka laba-laba" kata Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Fariana Prabandari. Media yang digunakan dalam pemulihan ekosistem karang di perairan Pulau Bunaken diletakan pada Zona Rehabilitasi di Tawara, serta sebagian diletakan di Alung Banua untuk pembanding pertumbuhan. "Upaya pemulihan ekosistem terumbu karang menjadi komitmen para pihak dan stimulan untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga lingkungan dan kelestarian Taman Nasional Bunaken sebagai aset bangsa dan bagian integral dari alam tempat kita tinggal" ujar Fariana. Sumber: Balai TN Bunaken
Baca Berita

Dukungan Multipihak pada Penanganan Kebakaran Hutan di Srumbung, Kabupaten Magelang

Magelang, 7 Oktober 2019. Kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Srumbung, kabupaten Magelang, pada hari Jumat, 4 Oktober 2019 masih terjadi hingga hari Minggu, 6 Oktober 2019. Selain pemadaman juga dilakukan pembuatan sekat bakar serta mop up (pengecekan lokasi kebakaran). Penanganan kebakaran hutan dibagi dalam tiga tim, yaitu tim I fokus di Blok Gentong s.d PUD5, tim II fokus di area Kandang Macan (area zona rimba) serta tim III fokus di area Bokong Semar. Hingga sore hari (6/10), setelah penanganan kebakaran direncanakan tindak lanjut dengan pemantauan pada malam harinya serta mop up pada Senin, 7 Oktober 2019 pagi yang disertai koordinasi dengan pihak terkait. Untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan, kali ini Tim didukung dengan peralatan yang dimiliki oleh Brigdalkarhut dibantu dengan adanya Mobil Tanki Damkar Magelang 1 unit, Drone dari BPBD kabupaten Magelang 1 unit, serta mobil operasional Dapur Umum BPBD Magelang 1 unit. Jenis kebakaran melanda permukaan dan tajuk dengan vegetasi/bahan bakar yang terbakar berupa hutan pinus, semak belukar, anggring, anggrung, alang-alang dan glagah. Sedangkan untuk sumber air yang digunakan berasal dari sungai Kaliputih dan droping mobil tangki air Damkar. Lokasi kebakaran seluas 322 ha, pada titik koordinat UTM 431883; 9163144 (PUD 3), 432142; 9163332 (PUD 4), 432452; 9163581 (PUD 5), serta 432892; 9163431 (Pos Sumitomo). Tim didukung kekuatan penanganan kebakaran sebanyak 828 orang dengan rincian anggota brigdalkarhut Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) 30 orang, Koramil Srumbung 30 orang, Polsek Srumbung 10 orang, Paguyuban Merapi Hijau (PMH) 500 orang, Damkar Kabupaten Magelang 15 orang, BPBD kabupaten Magelang 18 orang, LPBD Gantang 3 orang, Guruh Merapi 26 orang, Bagana Srumbung 25 orang, OPRB Lahara 10 orang, Warga Ngargomulyo 15 orang, Pokwis Taman Jurang Jero 15 orang, PKK Ngargosoko 11 orang, OPRB Surya Buana Mranggen 25 orang, Kelompok IPA Ngargosoko 15 orang, serta relawan lainnya 70 orang (Korca Candi Mulyo, TMP/ Magelang, Gegama UGM, SAR MTA, Silvagama UGM, Ubalora Pramuka, Krodit 45, MDMC). Dalam kesempatan ini, Kepala Balai TNGM, Ir Pujiati, menyatakan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu penanganan kebakaran hutan, terutama masyarakat sekitar TNGM serta instansi terkait. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Menuju Misi Efektivitas Pengelolaan TNBB dengan Kajian DDDT LH.

Gilimanuk, 4 Oktober 2019. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali dan Nusa Tenggara melaksanakan pembahasan hasil kajian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDT LH) Taman Nasional Bali Barat (TNBB) di aula kantor Balai TNBB. Hal ini bertujuan untuk sosialisasi dan mendapatkan masukan terhadap hasil kajian karena hasil kajian menunjukkan bahwa jumlah pengunjung TNBB pada site yang menjadi Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) masih di bawah DDDT sehingga masih dapat dikembangkan. Di Pulau Menjangan misalnya dengan jumlah kunjungan setahun rata-rata 60.000 orang masih dibawah hasil Kajian DDDT LH sebanyak 81.000 orang setahun. Tetapi tetap diperlukan manajemen pengunjung yang mengatur seperti distribusi pengunjung, waktu dan kondisi lingkungan dari spot-spot wisata yang ada. Acara dibuka dengan sambutan Kepala P3E Bali dan Nusa Tenggara dilanjutkan pemaparan Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si. narasumber dari WWF Indonesia serta akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Peserta yang hadir antara lain Pejabat Struktural dan Fungsional Balai TNBB, Kadis LH Kabupaten Jembrana dan Buleleng, perwakilan Dinas LH Prov Bali, Bappeda, perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Bali, Pelaku Pariwisata setempat dan kelompok masyarakat. Dlm diskusi yang berkembang didapatkan beberapa masukan seperti penerapan e-ticketing, perilaku/code of conduct berwisata, dan penguatan kolaborasi pengelolaan sampah. Harapan semua stakeholder, bahwa kajian DDDT dapat menjadi salah satu instrumen dalam implementasi pemanfaatan potensi biodiversity melalui pengelolaan wisata alam yang berkelanjutan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Jumat Bersih Menuju Kawasan TNBB Bebas Sampah

Gilimanuk, 4 Oktober 2019. Jumat bersih menjadi agenda rutin Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Semua pegawai di kantor Balai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN), maupun resort melaksanakan kegiatan clean up di sekitar lokasi masing-masing. Clean up/bersih-bersih di kawasan TNBB juga melibatkan masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Sampah an- organik terangkut sampai 500 kg dari aksi yang dilaksanakan serentak ini. Meskipun rutin melaksanakan clean up, namun sampah tetap ada karena kepedulian para pengendara yang melintas terhadap kebersihan lingkungan sangatlah kurang. Ditambah dengan aksesibilitas yang terbuka, khususnya jalan Nasional Gilimanuk-Denpasar maupun Gilimanuk-Singaraja, sampah banyak berserakan karena aktivitas pelintas jalan tidak pernah habis. Beberapa kali petugas Balai TN Bali Barat mendapati orang yang membuang sampah di kawasan TNBB dan langsung ditegur serta dimintai identitas agar kedepannya apabila masih membuang sampah di kawasan akan dikenakan sanksi. Upaya edukasi dengan papan himbauan maupun kampanye juga belum cukup ampuh. Tidak ada kata menyerah. Ayo, peduli dengan kebersihan lingkungan! Jangan pernah membuang sampah sembarangan dan tegur apabila melihat orang lain membuang sampah sembarangan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

WCS-IP : Training dan Survey Ekologi TN Taka Bonerate

Kepulauan Selayar, 4 Oktober 2019 - Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari kedepan, sejak kemarin (29/09) dilaksanakan giat "Training Ecological Survey and Ecological - Socioeconomic Monitoring Taka Bonerate" oleh mitra WCS-IP. Giat training ini sekaligus memberikan pembekalan untuk Tim Survey sebelum terjun ke lapangan melaksanakan monitoring ekologi dan sosial ekonomi TN.TBR. Bertempat di Sunari Resort dengan dihadiri oleh para pejabat Fungsional PEH Balai TN Taka Bonerate dan Tim Survey dari WCS. Setelah dibuka, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi kondisi TN Taka Bonerate data awal tahun 2015 oleh Muhidin - Coral Reef Science Officer WCS. "Tahun 2015 ada 46 titik monitoring yang WCS ambil, hasilnya ada 79 genera karang dari 19 family ikan, lumayan bagus untuk kekayaan biodiversitas di wilayah paparan Laut Flores, dan monitoring ini merupakan updating data tahun 2015" ucap Muhidin memaparkan materi. Kemudian dilanjutkan dengan materi Pengantar Terumbu Karang, Ikan dan Ikan Terumbu Karang oleh Muhidin dan Sukmaraharja dari WCS. Setelah sesi tanya jawab juga dilakukan tes diakhir materi untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Giat Hari Kedua "Training Ecological Survey and Ecological - Socioeconomic Monitoring Taka Bonerate National Park" Pemberian materi "Life Form dan Genus Karang" oleh Muhidin kemudian dilanjutkan dengan materi "Identifikasi Family Ikan Karang" oleh Sukmaraharja dari tim mitra WCS Seperti halnya hari pertama, sebelum mengakhiri giat diadakan pre test untuk mengetahui sejauh mana penyerapan materi yg dipahami oleh peserta. Giat Hari Ketiga atau terakhir dari "Training Ecological Survey and Ecological - Socioeconomic Monitoring Taka Bonerate National Park". Di hari terakhir ini adalah materi analisis data dan penyajian oleh Tim WCS. Diakhir acara dihadiri oleh kepala balai dan sekaligus menutup acara training ini. Kepala balai mengucapkan terima kasih kepada WCS-IP atas terselenggaranya kegiatan peningkatan kapasitas dan pembekalan bagi SDM TN Taka Bonerate ini. Sumber : Asri (PEH) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Bantuan Messin Huller Kupas Kopi Kepada Kelompok Tani Harapan Baru Desa Habincaran

Jumat, 4 Oktober 2019 - Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) mempunyai tugas penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas tersebut Balai Taman Nasional Batang Gadis melaksanakan fungsi “pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan”. untuk terciptanya usaha ekonomi produktif di desa sekitar Taman Nasional maka dibutuhkan pengembangan usaha ekonomi kelompok masyarakat. Mewujudkan desa konservasi dengan pengembangan kopi berbasis konservasi. Hal ini merupakan peningkatan pengetahuan masyarakat di bidang komoditi kopi arabika dan meningkatkan pendapatan masyarakat dengan usaha ekonomi produktif yang terbarukan berbasis konservatif. Untuk peningkatan komoditi kopi desa Habincara khususnya kelompok Tani Harapan Baru, Balai TNBG memberikan bantuan mesin huller kopi kering dengan kapasitas 250 kg/jam sebanyak 2 (dua) unit. Bantuan ini diserahkan langsung oleh Kepala Balai TNBG Bapak Ir.Sahdin Zunaidi, M.Si kepada Ketua kelompok Tani Harapan Baru. Kepala Balai menyampaikan “semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa penyangga khususnya Desa Habincaran dan mengharapkan untuk bersama-sama untuk menjaga kawasan hutan khususnya kawasan Taman Nasional Batang Gadis”. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai TN Batang Gadis, Camat Ulu Pungkut yang diwakili oleh bapak sekcam, ketua dan anggota kelompok tani Harapan Baru. Kelompok Tani Harapan Baru melalui ketua kelompok menyampaikan “ kami dari kelompok tani akan memanfaatkan bantuan mesin huller kopi kering dengan baik , dan berterimakasih kepada pihak TNBG sudah peduli dan membantu kami untuk peningkatan ekonomi masyarakat desa Habincaran , semoga dengan bantuan ini bisa meningkatkan kualitas kopi dari desa ini, dan akan membuat kopi mandailing semakin jaya." Sumber: Balai TN Batang Gadis

Menampilkan 4.785–4.800 dari 11.140 publikasi