Jumat, 2 Jan 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Minim Literasi, Kambing Hutan Sumatera Nyaris Jadi Tambul

Tim Medis Sedang Memeriksa Kondisi Kesehatan Anak Kambing Hutan Sumatera Desa Tangga, 9 Desember 2025 — Peristiwa penyelamatan seekor Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis) betina berusia sekitar tiga bulan di Desa Tangga, kembali menegaskan betapa pentingnya edukasi konservasi kepada masyarakat yang berada di sekitar kawasan penyangga hutan. Peristiwa ini tidak hanya soal menyelamatkan satu individu satwa liar, akan tetapi juga mengenai bagaimana kurangnya pengetahuan masyarakat sehingga mengancam keberlangsungan hidup spesies yang dilindungi. Kisah ini bermula ketika kelompok pemburu memburu induk kambing hutan di sekitar kawasan hutan. Induknya berhasil meloloskan diri, tetapi anaknya justru tertangkap. Mirisnya, anak kambing hutan tersebut direncanakan akan dijadikan tambul – makanan pendamping minuman beralkohol. Perilaku ini menunjukkan masih adanya anggapan bahwa satwa liar dapat dikonsumsi tanpa mempertimbangkan status perlindungannya. Pada Senin (1/12/2025), penjaga kebun durian milik Santa Simanjuntak bersama anak Santa menemukan seekor anak kambing hutan terjebak di area kebun. Mereka kemudian membawanya dan menyerahkannya kepada Santa Simanjuntak. Awalnya Santa belum mengetahui bahwa kambing hutan termasuk satwa yang dilindungi, ia baru mengetahui status perlindungan kambing hutan tersebut setelah anaknya yang kelas 3 SD mengingatkan bahwa menurut gurunya, satwa tersebut tidak boleh dibunuh karena dilindungi negara. Mendengar hal itu, Santa langsung mengambil tindakan untuk melindungi satwa yang masih sangat muda tersebut. Selama beberapa hari berikutnya, Santa merawat satwa tersebut di rumahnya. Ia sempat mempertimbangkan untuk mengembalikannya ke habitat aslinya agar anak kambing hutan itu bisa bertemu kembali dengan induk dan kawanannya. Namun, menurut tetangganya, ada kekhawatiran bahwa kambing hutan tersebut akan dimusuhi atau dikucilkan karena sudah terkontaminasi bau manusia. Meski begitu, Santa juga menyadari besarnya resiko jika satwa itu tetap berada di sekitar permukiman. Karena itulah, ia akhirnya memutuskan untuk menyerahkannya kepada pihak berwenang. Sehingga pada Rabu (3/12/2025), Santa didampingi petugas PT Inalum menyerahkan anak kambing hutan tersebut kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, bersama tim medis dari Taman Hewan Pematangsiantar. Pemeriksaan awal menemukan luka pada kaki belakang kiri. Meski akhirnya terungkap bahwa luka tersebut bukan akibat jerat melainkan akibat rantai sepeda motor saat proses penyelamatan awal, tetapi kondisi itu tetap menunjukkan kerentanan satwa liar ketika berada di luar habitat alaminya. Dari kasus ini, pembelajaran besar dapat dipetik, konservasi tidak dapat berjalan tanpa adanya pemahaman serta keterlibatan masyarakat yang berada di wilayah penyangga hutan. Saat masyarakat tidak mengetahui bahwa Kambing Hutan Sumatera adalah satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK P.106/2018 dan berstatus rentan (vulnerable) menurut IUCN, maka ancaman perburuan dan konsumsi satwa liar akan terus terjadi. Oleh karena itu, memperkuat edukasi terutama di desa-desa sekitar hutan adalah langkah yang sangat krusial. Masyarakat seperti Santa, yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian satwa liar bisa menjadi contoh bagaimana pengetahuan dapat mengubah tindakan serta menyelamatkan kehidupan. Semoga peristiwa ini menjadi momentum untuk meningkatkan literasi konservasi di seluruh wilayah penyangga hutan sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor utama dalam menjaga kelestarian satwa liar dan ekosistem hutan. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut & Indi Okita, A.Md.P – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BBKSDA Sumatera Utara Bantu Desa Paluh Kurau Antisipasi Banjir Rob

Proses Pekerjaan Peningkatan Tanggul di Desa Paluh Kurau Paluh Kurau, 10 Desember 2025 — Pemerintah Desa Paluh Kurau mengambil langkah cepat menghadapi ancaman banjir rob yang diperkirakan terjadi pada 1 hingga 9 Desember 2025. Melalui inisiatif pemerintah desa, peningkatan tanggul di wilayah pesisir Paluh Kurau dilaksanakan bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut I (SM KGLTL I). Pembangunan tanggul ini dipimpin langung Pj Kepala Desa Paluh Kurau, Iskandar, S.T., bersama Kepala Resor SM KGLTL I, Esra Barus. Kegiatan tersebut berlangsung di beberapa titik yang selama ini dikenal sebagai areal yang rawan terdampak pasang tinggi air laut. Iskandar mengatakan bahwa pembangunan tanggul ini merupakan langkah darurat untuk mengurangi dampak banjir rob. “Semoga dengan dibuatnya tanggul ini dapat mengantisipasi adanya banjir rob di wilayah Paluh Kurau,” ujarnya. Sementara itu Kepala Resor SM KGLTL I, Esra Barus, menjelaskan bahwa kolaborasi ini juga merupakan tindak lanjut atas pengumuman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan potensi banjir rob pada awal Desember. “Pembangunan tanggul ini adalah tindak lanjut dari pengumuman BMKG mengenai adanya banjir rob pada 1 sampai dengan 9 Desember 2025,” katanya. Pekerjaan peningkatan tanggul dilaksanakan pada 2 Desember 2025 dengan melibatkan aparatur desa, petugas konservasi, serta warga setempat. Selain memperkuat struktur perlindungan pesisir, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Dengan upaya kolaboratif ini, Pemerintah Desa Paluh Kurau berharap resiko dampak banjir rob dapat ditekan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana di masa mendatang. Sumber: Esra Barus, S. Hut & Eva Suryani Sembiring, S. Hut-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Upaya Penjaga Hutan Melindungi Picis dari Kebakaran

Ponorogo, 9 Desember 2025. Di lereng Cagar Alam Gunung Picis, yang diselimuti hawa lembap awal Desember, para penjaga hutan dari Resort Konservasi Wilayah 06, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menyusuri batas-batas rawan api. Meski hujan mulai turun, pekerjaan pemeliharaan sekat bakar tetap berjalan. Bagi mereka yang memahami ritme ekologis Gunung Picis, awal musim penghujan bukanlah waktu untuk beristirahat, melainkan saat paling ideal memastikan kawasan siap menghadapi musim kering berikutnya. Selama 3 hingga 5 Desember 2025, para petugas bergerak di blok yang berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Produksi BKPH Wilis Barat, zona yang dikenal sebagai jalur potensial rambatan api. Dengan sabit dan cangkul, mereka membersihkan semak belukar dan rumpun rumput kering yang mudah menjadi bahan bakar ketika panas menerpa. Pemeliharaan manual ini memberi kendali penuh kepada petugas untuk membaca kondisi lapangan, ketebalan seresah, kelembapan tanah, hingga pola pertumbuhan vegetasi bawah. Di medan dengan kemiringan 22,2 derajat, sekitar 2.400 meter persegi sekat bakar kembali dirapikan. Hujan memang menurunkan risiko kebakaran dalam jangka pendek, tetapi secara ilmiah justru menghadirkan tantangan baru. Pada awal musim penghujan, vegetasi bawah tumbuh lebih cepat karena nutrisi melimpah dan kelembapan tinggi. Semak yang lebat hari ini akan berubah menjadi massa kering berpotensi terbakar begitu memasuki musim kemarau. Itulah sebabnya sekat bakar harus dipelihara pada periode transisi, untuk mengantisipasi akumulasi bahan bakar alami sebelum menjadi ancaman. Pemeliharaan di musim hujan juga memungkinkan petugas bekerja lebih aman. Tanah yang lembap menekan risiko penyalaan spontan, sekaligus memberi kesempatan untuk memperdalam sekat karena kondisi vegetasi lebih lunak dan mudah dibersihkan. Secara ekologi, periode ini merupakan “jendela kerja” yang jarang dimiliki, ketika risiko rendah, kondisi lapangan mendukung, dan kesiapsiagaan dapat dibangun lebih jauh sebelum periode kering tiba. Di sela pekerjaan, tim memeriksa tanaman Pemulihan Ekosistem (PE) Tahun 2022, memastikan tegakan muda tetap tumbuh. Jenis-jenis seperti Puspa, Morosowo, Tutup, dan Pasang menjadi indikator bahwa regenerasi hutan berjalan. Kelembapan yang merata menunjukkan hutan masih berada dalam kondisi stabil, meski ancaman kebakaran tidak pernah benar-benar lenyap dari lanskap pegunungan Jawa Timur. Upaya perlindungan ini tidak hanya menyangkut pekerjaan fisik. Di sekitar lokasi, Masyarakat Mitra Polhut dan Masyarakat Peduli Api turut diberdayakan untuk menjaga kewaspadaan. Mereka menjadi mata dan telinga hutan, memastikan pengetahuan tentang risiko api tetap dipahami oleh masyarakat sekitar, terutama ketika musim kemarau kembali tiba. Gunung Picis adalah rumah bagi beragam satwa dan flora pegunungan. Setiap tahun, dinamika iklim membuat ancaman kebakaran semakin sulit diprediksi. Karena itu, pemeliharaan sekat bakar di musim penghujan bukan sekadar rutinitas, melainkan strategi ilmiah untuk menjamin kesiapan kawasan jauh sebelum bahaya datang. Di balik kerja diam para penjaga hutan, terbentang komitmen menjaga hutan tetap bernapas. Dan di garis-garis sekat bakar yang mereka rawat, tersimpan upaya menjaga masa depan Picis dari bara yang bisa muncul kapan saja. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Lutung Jawa, Simpul Keanekaragaman Hayati Pulau Sempu

Malang, 8 Desember 2025. Cagar Alam Pulau Sempu merupakan salah satu kawasan konservasi paling penting dan sensitif di Jawa Timur, baik secara ekologis maupun ilmiah. Keberadaannya sebagai pulau karst terisolasi memberikan kesempatan unik untuk mempelajari dinamika ekosistem tropis dataran rendah yang relatif tidak terganggu. Pada tahun 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan kegiatan Survey Monitoring Lima Taksa dengan fokus utama pada Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), salah satu primata endemik yang status konservasinya kini berada dalam kategori Vulnerable menurut IUCN Red List. Pulau Sempu ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1928 dan kini memiliki luas 969,88 hektare. Secara geomorfologis, pulau ini dibentuk oleh bentang karst meosine dengan topografi berbukit, tebing-tebing terjal setinggi 50–100 meter di sisi selatan, serta selat sempit di sisi utara yang memisahkannya dari Pulau Jawa. Kondisi ini menciptakan ekosistem yang terisolasi secara alami, sebuah fenomena penting dalam kajian biogeografi terutama pada dinamika spesies endemik dan kecil-populasi seperti Lutung Jawa. Lima tipe ekosistem besar, yang terdiri dari hutan tropis dataran rendah, hutan mangrove, hutan pantai, danau/telaga air tawar, serta sistem karst, membentuk mosaik ekologis yang kompleks. Hutan tropis dataran rendah mendominasi bagian tengah pulau dan menjadi habitat utama Lutung Jawa. Struktur multi-lapis dengan keberadaan pohon-pohon besar seperti Artocarpus elasticus, Pterospermum javanicum, Garcinia celebica, Vitex pinnata, dan Ficus spp. menyediakan sumber pakan, ruang jelajah, dan pohon tidur yang stabil bagi primata ini. Karakter ekologi pulau yang relatif tertutup menjadikan Sempu sebagai lokasi ideal untuk mempelajari perilaku, struktur sosial, dan dinamika populasi Lutung Jawa tanpa gangguan antropogenik yang dominan, berbeda dari kondisi di daratan Jawa yang mengalami fragmentasi habitat berat. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) adalah primata dari subfamili Colobinae yang dikenal sebagai pemakan daun (folivorous). Adaptasi mereka pada sumber pakan berkualitas protein tinggi tercermin dalam preferensi pada daun muda, pucuk, dan beberapa jenis buah. Studi sebelumnya menunjukkan komposisi pakan terdiri atas 50–53% daun, 30–40% pucuk daun, dan sisanya buah serta bahan tumbuhan lain. Perilaku harian Lutung Jawa yang teramati dalam survey 2025 konsisten dengan literatur klasik: aktivitas dimulai sekitar pukul 05.30 dan berakhir sebelum pukul 18.00. Proporsi aktivitas mencakup istirahat sekitar 42%, makan 23%, bergerak 22%, dan sisanya interaksi sosial serta aktivitas vokalisasi. Pola diurnal dan arboreal ini memperlihatkan ketergantungan tinggi pada stratifikasi tajuk pohon. Secara sosial, Lutung Jawa membentuk kelompok one male–multi female, masing-masing dengan 6–23 individu. Struktur ini stabil selama kondisi lingkungan mendukung. Pada kelompok ini, jantan dominan bertanggung jawab pada pengawasan wilayah, mempertahankan hierarki, dan melindungi betina serta anakan. Perilaku reproduksi juga mengikuti pola primata daun lainnya, anakan lahir dengan warna jingga cerah, berperan sebagai penanda visual bagi anggota kelompok; warna ini berangsur menghilang sekitar umur enam bulan. Fenomena ini memberi indikasi penting terkait keberhasilan reproduksi kelompok lutung di pulau. Pelaksanaan monitoring 2025 menggunakan pendekatan kombinasi line transect dan belt transect, metodologi umum dalam kajian primata liar. Sembilan jalur transek dibangun, mencakup ekosistem utama dalam pulau untuk memastikan representasi spasial yang memadai. Analisis dilakukan dengan mencatat data jumlah individu teramati, komposisi usia dan jenis kelamin, perilaku harian, lokasi perjumpaan menggunakan GPS, vegetasi sekitar lokasi, dan gangguan kawasan yang mungkin berpengaruh. Dengan transek yang tersebar dari Teluk Waru-waru hingga jalur menuju Segara Anakan, tim dapat memetakan secara rinci sebaran lutung, termasuk deteksi kelompok-kelompok yang belum tercatat pada survei sebelumnya. Selain itu, penggunaan GPS dan peta topografi memberikan data keruangan yang akurat mengenai preferensi habitat mikro dan pola jelajah harian. Hasil survei juga dilengkapi analisis kesesuaian habitat yang melibatkan identifikasi pohon pakan dominan dan lokasi pohon tidur. Temuan visual berupa foto lutung memakan buah Ficus variegata muda menegaskan pentingnya genus Ficus sebagai pilar tatanan ekologi lutung. Analisis data transek menunjukkan bahwa keberadaan Lutung Jawa di Cagar Alam Pulau Sempu tidak hanya stabil, tetapi juga menunjukkan persebaran spasial yang konsisten dengan ketersediaan pakan dan struktur vegetasi. Kelompok-kelompok lutung terdeteksi pada banyak sektor pulau, terutama di area hutan tropis dataran rendah yang berkanopi lebat. Kondisi ini mempertegas bahwa pulau memberikan habitat optimal bagi jenis ini. Distribusi spasial lutung yang terkonsentrasi pada jalur-jalur dengan kanopi rapat menunjukkan adanya hubungan langsung antara densitas kelompok dan kualitas habitat. Ketersediaan pohon pakan, terutama dari genus Ficus, Artocarpus, dan Vitex, sangat berperan dalam pola persebaran ini. Pohon-pohon dengan tajuk rimbun yang saling terhubung memfasilitasi pergerakan lutung yang lebih aman dan efisien. Keberadaan kelompok lutung di dekat ekosistem mangrove dan hutan pantai menandakan kemampuan adaptasi spasial, meski habitat inti tetap berada di hutan dataran rendah bagian tengah pulau. Kondisi vegetasi yang relatif tidak terganggu oleh aktivitas manusia menjadi faktor penting yang mendukung kestabilan populasi lutung. Meskipun Pulau Sempu memberikan perlindungan alami yang sangat efektif, ancaman tetap mengintai dari luar kawasan. Isolasi geografis pulau menciptakan populasi lutung yang terpisah secara genetis dari populasi di Pulau Jawa. Tanpa konektivitas habitat, populasi dalam pulau memiliki risiko erosi keragaman genetika, terutama jika jumlah kelompok tidak bertambah secara signifikan. Di sisi lain, tekanan bagi populasi lutung di daratan Jawa lebih berat, fragmentasi hutan, perburuan, perdagangan ilegal, dan konversi lahan yang cepat menggerus ruang gerak mereka. Data nasional menunjukkan penurunan populasi primata folivora ini lebih dari 30% dalam kurun 3 generasi. Kondisi populasi di Sempu yang stabil justru menjadi kontras terhadap dinamika negatif di wilayah daratan. Selain itu, perubahan iklim, potensi kebakaran hutan, dan kerentanan karst terhadap gangguan hidrologis juga menjadi ancaman jangka panjang. Ekologi karst sangat bergantung pada vegetasi penutup untuk fungsi infiltrasi dan kestabilan tanah. Gangguan kecil dapat berdampak signifikan pada ketersediaan air di hutan, yang kemudian mempengaruhi vegetasi dan satwa. Sebagai primata folivora dan frugivora sekunder, Lutung Jawa memainkan peran penting dalam dinamika ekosistem Sempu. Aktivitas makan mereka berkontribusi pada regenerasi vegetasi melalui penyebaran biji, terutama dari buah Ficus dan beberapa spesies pohon lokal lainnya. Pergerakan mereka yang melintasi berbagai strata tajuk memastikan distribusi biji ke area-area yang tidak dapat dijangkau oleh satwa pemakan buah lain. Selain itu, aktivitas jelajah lutung menciptakan jalur-jalur alami dalam tajuk yang membantu cahaya matahari mencapai vegetasi bawah, meningkatkan heterogenitas struktural hutan. Sebagai indikator ekologis, keberadaan mereka juga mencerminkan kesehatan ekosistem: populasi lutung yang stabil mengindikasikan keutuhan vegetasi pakan dan minimnya gangguan langsung manusia. Peran lutung sebagai komponen rantai ekosistem juga penting. Mereka menjadi bagian dari keseimbangan fauna pulau, bersama dengan mamalia lain seperti kijang, kucing hutan, dan berbagai jenis burung pemangsa. Keberadaan lutung menegakkan fungsi ekologis yang jauh lebih besar dari sekadar keberadaan spesies. Hasil monitoring tahun 2025 memberikan kesimpulan kuat bahwa Pulau Sempu adalah refugia penting bagi Lutung Jawa di wilayah Jawa Timur. Kondisi ekologis pulau yang stabil, minim gangguan antropogenik, dan kaya vegetasi pakan menjadikan kawasan ini laboratorium alam yang ideal untuk keberlanjutan jangka panjang populasi lutung. Namun demikian, keberlanjutan ini tidak boleh dianggap permanen. Isolasi pulau, ancaman eksternal dari daratan Jawa, dan dinamika perubahan iklim global perlu diantisipasi melalui strategi konservasi berbasis data jangka panjang. Upaya BBKSDA Jawa Timur melalui monitoring rutin, penguatan perlindungan kawasan, dan kerja sama dengan lembaga akademis serta Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa menjadi pondasi penting dalam menjaga keberlangsungan ekologis Sempu. Dengan pendekatan ilmiah, kolaboratif, dan adaptif, Pulau Sempu dapat terus menjadi benteng terakhir yang melindungi Lutung Jawa serta keanekaragaman hayati lainnya. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Bersama Mitra, BBKSDA Jatim Restocking Koral Transplantasi di Taman Nasional Baluran

Situbondo, 6 Desember 2025. Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Taman Nasional Baluran, Puslatpur Marinir Baluran, beserta 19 mitra binaan melaksanakan kegiatan restocking koral hias hasil transplantasi di Perairan Bilik Merak, kawasan Taman Nasional Baluran, Sabtu (6/12/2025). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memulihkan kesehatan terumbu karang sekaligus mendukung upaya konservasi jangka panjang di perairan Baluran. Restocking ini dilakukan setelah proses transplantasi selama beberapa bulan, dimana 22 jenis koral hias berhasil dibudidayakan hingga mencapai ukuran ideal untuk ditanam kembali ke habitat alaminya. Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Balai TN Baluran, Agus Setyabudi, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Puslatpur Marinir Baluran Mayor Marinir Khairun Andy Sinaga. Terakhir, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur memberikan arahan kepada seluruh peserta restocking karang hias hasil transplantasi. Dalam arahannya, Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bukti nyata keberhasilan kolaborasi multi-pihak dalam menjaga kelestarian sumber daya laut. “Transplantasi dan restocking karang tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga memperkuat ketahanan pesisir serta mendukung keberlanjutan keanekaragaman hayati,” ujarnya. Sebanyak 19 Perusahaan/mitra BBKSDA Jawa Timur ikut berpartisipasi melakukan restocking 2.714 individu dari 22 jenis karang hias hasil transplantasi mereka. Diantaranya CV. Aqua Marindo, CV. Baruna Jaya, CV. Samudra Jaya, CV. Sarana Teknik, CV. Dewa Ruci Aquarium, CV. Samudra Aquatic, PT. Aksara Bahana Agung, PT. Aksara Bahana Abadi Cabang Banyuwangi, PT. Aristocratama Binausaha, PT. Bali Double C, PT. Demonia Perkasa, PT. Dinar Darum Lestari, PT. Dunia Alam Mulia, PT. Inti Putra Pertiwi Persada, PT. Langgeng Jaya Aquarium, PT. Sea Quest Indonesia, PT. Segoro Utomo Abadi, PT. Sri Kandi Aquarium, PT. Sinar Laut Aquatic, dan PT. Surya Mandiri Lestari Sejati. Hal ini merupakan tindak lanjut dari komitmen mitra yang dituangkan dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang mengharuskan mitra mengembalikan 10% dari hasil transplantasi ke alam. Ucapan terimakasih atas komitmen mitra BBKSDA Jawa Timur juga disampaikan dalam bentuk pemberian sertifikat penghargaan dan apresiasi kepada mitra yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Melalui restocking ini, diharapkan terumbu karang di Baluran dapat kembali tumbuh sehat sehingga menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Upaya ini juga berperan dalam meningkatkan potensi wisata bahari sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian laut. Aksi restocking koral ini menjadi momentum penting untuk terus memperkuat sinergi dan komitmen bersama dalam memulihkan ekosistem laut Indonesia. Kolaborasi antara BBKSDA Jawa Timur dan para mitra menjadi teladan bahwa menjaga laut bukan hanya tugas satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama demi keberlanjutan generasi mendatang. Sumber: Ainy Amelya Utami - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Jatim
Baca Berita

Tim Smart Patrol TN Kayan Mentarang Temukan Trenggiling Di Kawasan Perbatasan

Nunukan, 5 Desember 2025 - Tim Balai Taman Nasional Kayan Mentarang berhasil mendokumentasikan keberadaan satwa dilindungi jenis trenggiling (Manis javanica) dalam pelaksanaan kegiatan smart patrol di Resort Krayan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Penemuan ini menjadi bukti nyata fungsi vital kawasan konservasi di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia sebagai habitat penting bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. ‎‎Keberadaan trenggiling, yang merupakan satwa langka dan paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia, terkonfirmasi melalui hasil monitoring tim di lapangan. Kegiatan smart patrol sendiri merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pihak TNKM dalam perlindungan dan pengamanan kawasan hutan dengan melibatkan masyarakat lokal dan stakholder terkait untuk memantau ancaman dan mengidentifikasi potensi kawasan. ‎‎Pernyataan Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang ‎‎Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, S.Hut. M.E., menyatakan apresiasinya atas temuan tersebut dan menekankan pentingnya upaya konservasi berkelanjutan. ‎"Dokumentasi keberadaan trenggiling ini sangat berharga bagi kami. Banyaknya satwa trenggiling yang dijumpai ini menunjukkan bahwa kondisi habitat satwa ini di Taman Nasional Kayan Mentarang masih terjaga dengan baik dan mampu mendukung kehidupan satwa-satwa kunci yang dilindungi," ujar Seno Pramudito, dalam keterangan resminya. ‎‎‎‎"Kami mengucapkan terima kasih kepada petugas yang bertugas di lapangan, masyarakat adat dan stakeholder terkait yang masih berusaha menjaga kelestarian Kawasan TNKM dengan baik sehingga rumah atau habitat bagi satwa-satwa liar dan ekosistem TNKM ini dapat terjaga dengan baik," tambahnya. ‎‎Pernyataan Kepala SPTN Wilayah I ‎‎Sementara itu, Kepala SPTN Wilayah I Balai TNKM, Hery Gunawan, menjelaskan detail operasional tim dilapangan. SPTN Wilayah I sendiri mencakup area konservasi yang sangat luas, mencapai 272.930,01 hektar yang berada daerah krayan dan lumbis disepanjang perbatasan Kabupaten Nunukan. SMART PATROL (Spatial Monitoring and Reporting Tools) merupakan seperangkat alat yang memungkinkan untuk mengumpulkan, menyimpan, analisis dan mengevaluasi data spasial. maksud kegiatan ini yaitu untuk menghinpum data patroli yang terorganisir dalam satu database. dengan tujuan: 1) Melakukan patroli di wilayah kawasan konservasi dengan output luasan; 2)Mengetahui potensi ancaman tipihut; 3)Mengidentifikasi potensi kehati dan fitur alami di sepanjang jalur patroli; ‎‎"Tim Resort Krayan pada SPTN Wilayah I yang bertugas di Kecamatan Krayan, berhasil mengabadikan momen langka ini. Keberadaan satwa liar dilindungi ini kami konfirmasi saat tim melakukan kegiatan Smart Patrol pada malam hari oleh Polhut Balai TNKM," jelas Hery Gunawan. ‎‎"Penemuan ini memotivasi kami untuk semakin gencar melakukan inventarisasi Potensi kawasan. Kolaborasi dengan para stakeholder, masyarakat adat dan aparat setempat seperti TNI Perbatasan juga terus kami perkuat untuk menjaga kawasan TNKM Yang berada di wilayah perbatasan Indonesia- Malaysia," pungkasnya. ‎‎Temuan ini menegaskan kembali peran strategis Taman Nasional Kayan Mentarang dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati di level nasional maupun internasional. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Warga Asahan Serahkan Kambing Hutan Sumatera Ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Kambing Hutan Sumatera yang terluka diserahkan warga ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara Desa Tangga, 5 Desember 2025. Santa Simanjuntak, warga Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, menyerahkan 1 (satu) ekor Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatrensis) kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resor SM. Dolok Surungan I dan SM. Dolok Surungan III, pada Rabu (3/12/2025). Satwa liar yang berjenis kelamin betina dan diperkirakan berumur sekitar 3 bulan ini, sebelumnya diperoleh dari warga yang melakukan perburuan. Saat itu, yang menjadi target perburuan adalah induknya, namun karena induk berhasil lolos, akhirnya yang tertangkap adalah anaknya. Sempat hendak dijadikan tambul (istilah dalam bahasa batak, identik dengan makanan tambahan pendamping minuman beralkohol, seperti tuak), namun berkat perjuangan Santa, si kambing hutan pun berhasil diselamatkan pada Senin (1/12/2025). Setelah beberapa hari dirawatnya. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pada Rabu (3/12/2025) dengan didampingi petugas PT. Inalum, Santa akhirnya menyerahkan Kambing Hutan Sumatera ini kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan lembaga mitra dari Taman Hewan Pematangsiantar (Drh. Siti Kumalasari). Usai penyerahan, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Tim medis dari Taman Hewan Pematangsiantar melakukan pengecekkan kondisi satwa, dan menemukan adanya luka, diduga bekas jeratan di kaki kiri bagian belakang. Namun dari keterangan warga, bekas luka tersebut bukan karena jerat tapi karena terkena rantai motor, saat akan dibawa untuk diselamatkan. Kemudian, untuk pemeriksaan kesehatan serta perawatan luka lebih lanjut, Kambing Hutan Sumatera ini pun dievakuasi ke Taman Hewan Pematangsiantar. Santa menyerahkan Kambing Hutan Sumatera kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara (foto Balai Besar KSDA Sumatera Utara) Kambing Hutan Sumatera merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan kambing hutan ini pada kategori Rentan/Vulnarable punah. Oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk melindungi baik populasi maupun habitatnya. Apresiasi dan penghargaan tentunya disampaikan kepada Santa Simanjuntak, yang dengan kepeduliannya ikut menyelamatkan satwa langka ini. Diharapkan kedepannya, akan lahir lagi Santa Santa lainnya yang memiliki jiwa serta semangat konservasi. Sumber : Indi Okta, A.Md.P. (Penyuluh Kehutanan Terampil) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

10 Tahun Terbelenggu, Momen Dramatis Evakuasi Monyet Ekor Panjang di Kediri

Kediri, 1 Desember 2025. Di sebuah sudut Desa Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) menghabiskan satu dekade hidupnya di balik jeruji besi yang tertanam cor semen keras. Suara logam berderit, denting palu baja, dan percikan api pemotong besi menjadi saksi detik-detik dramatis penyelamatan. Satwa ini dipelihara oleh seorang warga, yang mengaku membelinya karena rasa iba setelah sebelumnya satwa tersebut mengalami penyiksaan. Namun waktu berjalan, tubuh monyet itu tumbuh semakin kuat, naluri liarnya muncul kembali, dan kandang tua yang berkarat mulai keropos, menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan lepas dan membahayakan masyarakat sekitar. Menindaklanjuti laporan warga, Tim Seksi KSDA Wilayah I Kediri Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak cepat (1/12/2025). Namun kondisi lapangan tidak mudah. Kandang sempit dengan kunci berkarat tertanam kuat dalam cor semen membuat evakuasi langsung mustahil dilakukan tanpa risiko tinggi bagi petugas maupun satwa. Untuk menghindari situasi berbahaya, tim berkoordinasi dengan Damkar Kabupaten Kediri yang memiliki peralatan pemotong logam. Ruang gerak satwa dipersempit secara aman, dan melalui proses panjang yang penuh ketegangan, kandang berhasil dibongkar dan satwa tersebut dievakuasi dalam keadaan selamat. Kini satwa tersebut ditampung di Kandang Transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri untuk penanganan lanjutan sesuai prosedur konservasi. Setiap penyelamatan satwa bukan sekadar memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain, tetapi memulihkan martabat bahwa mereka bukan untuk dipenjara, melainkan untuk hidup bebas. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa meskipun Macaca fascicularis tidak termasuk satwa dilindungi, praktik pemeliharaan satwa liar tanpa izin berpotensi membahayakan keselamatan manusia dan satwa itu sendiri. BBKSDA Jawa Timur mengajak masyarakat untuk tidak membeli, memelihara, ataupun memperdagangkan satwa liar, serta segera melapor jika menemukan kasus serupa. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Polda Sumatera Utara Gagalkan Perdagangan Sisik Trenggiling

Petugas Polda Sumatera Utara menitipkan barang bukti ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 4 Desember 2025. Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) berhasil menggagalkan perdagangan organ tubuh satwa liar dilindungi sisik Trenggiling (Manis javanica), pada Rabu (29/10/2025) yang lalu sekitar pukul 15.42 Wib, di sebuah rumah kost di Jln. Limau Manis Gg. Palem Dusun III A, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Selain menangkap pelaku berinisial I, petugas juga berhasil menyita barang bukti sisik trenggiling sebanyak 77,35 (tujuh puluh tujuh koma tiga puluh lima) kilogram, dari tangan pelaku saat akan diperdagangkan. Dalam proses penangkapan, pihak Polda Sumut dibantu petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, M. Ali Iqbal Nasution untuk mengidentifikasi sisik trenggiling dimaksud. Trenggiling merupakan satwa yang dilindungi undang-undang, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/Menlh/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Perbuatan pelaku memperdagangkan bagian tubuh satwa yang dilindungi, dapat dipersangkakan melakukan tindak pidana orang perseorangan yang melakukan mengeluarkan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati, spesimennya, bagian-bagiannya, atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagiannya dari suatu tempat ke tempat lain di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf e Jo Pasal 40 A ayat (2) huruf b Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 77,35 kg sisik trenggiling yang diamankan Sampai saat ini penyidik Polda Sumatera Utara masih terus melakukan pemeriksaan terhadap pelaku. Sedangkan barang bukti berupa 77,35 kg sisik trenggiling dititipkan sementara di Gudang Barang Bukti Balai Besar KSDA Sumatera Utara sambil menunggu proses hukum selanjutnya. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution (Pengolah Data dan Informasi) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Di Garda Terakhir, Kisah Para Penjaga Satwa Liar Jawa Timur

Surabaya, 4 Desember 2025. Di tengah hiruk pikuk kota yang terus tumbuh, di balik suara mesin dan lampu-lampu yang tak pernah padam, ada dunia lain yang berjuang untuk tetap bernapas. Dunia yang senyap, tetapi penuh kehidupan. Dunia satwa liar, yang hari ini perlahan kehilangan tempat berpijak. Hari ini, dunia memperingati Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia. Sebuah peringatan, sekaligus pengingat bahwa tidak ada waktu yang tersisa untuk menunda. Karena di Jawa Timur, kehidupan liar tidak hanya menghadapi ancaman, tetapi bertahan dalam kepungan perubahan zaman. Jawa Timur adalah rumah bagi ekosistem yang tersusun dari keheningan hutan, napas rawa-rawa mangrove, dan gelombang laut yang tak pernah lelah. Di Ujung Pangkah Gresik, ribuan burung air migran menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Siberia, Cina, dan Jepang, hanya untuk singgah di tanah yang kini terus menyempit oleh eksploitasi dan perubahan iklim. Di tengah ancaman itu, tim konservasi terus bergerak, memasang kamera jebak untuk memantau satwa liar, menyelamatkan satwa yang direbut kembali dari perdagangan ilegal, menangani interaksi negatif monyet ekor panjang dengan masyarakat, dan merawat satwa yang terluka hingga siap kembali ke alam. Setiap satwa yang dilepasliarkan adalah secercah harapan. Setiap pelepasan adalah janji bahwa kehidupan belum menyerah. Konservasi bukan sekadar kata-kata. Ia adalah peluh, jejak kaki di tanah basah, dan malam panjang tanpa tidur. Di sana berdiri, para Pengendali Ekosistem Hutan yang menembus rimba dengan kamera jebak dan GPS, menuliskan data yang menjadi nyawa kebijakan konservasi. Polisi Kehutanan yang bertarung di garis depan, menantang jaringan perdagangan satwa liar yang tak mengenal belas kasihan. Penyuluh Kehutanan yang menanam harapan pada hati masyarakat, lebih dalam daripada akar pohon. Manggala Agni yang berdiri di barisan api, menjaga habitat tidak hangus menjadi arang, serta para Tenaga teknis, operator lapangan, dan staf administrasi, yang memastikan roda konservasi berputar setiap hari meski tidak pernah masuk headline. Perguruan tinggi, laboratorium, dan para peneliti, yang mengubah ilmu menjadi senjata penyelamat kehidupan. Mahasiswa dan relawan, generasi yang memilih berjuang daripada berdiam diri. Mereka bukan tokoh dalam film dokumenter bersuara megah. Mereka adalah manusia biasa, yang setiap harinya mempertaruhkan yang luar biasa. “Konservasi satwa liar adalah upaya menjaga keseimbangan kehidupan. Ini bukan perjuangan satu institusi, tetapi gerakan bersama seluruh elemen bangsa, perguruan tinggi, tenaga teknis, aparat penegak hukum, dan masyarakat. Jika satwa liar hilang, manusia kehilangan masa depannya,” tegas Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Karena satwa liar adalah penyerbuk hutan, penyebar benih, pengendali hama, penyeimbang rantai makanan, indikator kesehatan bumi.Karena tanpa mereka, sungai menjadi mati, hutan menjadi bisu, dan langit kehilangan sayapnya. Karena ketika satwa terakhir hilang, manusia akan menyusul tanpa perlu bencana besar. Satwa yang punah tak pernah kembali, mereka tidak meminta banyak, hanya ruang untuk hidup. Hari ini, kita adalah penentu apakah bumi akan terus bernyanyi atau tenggelam dalam sunyi. Selamat Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia! Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

BBKSDA Sumatera Utara Lakukan Tindakan Darurat Selamatkan Warga dan Pembibitan di SM KGLTL

Tim berupaya menjebol benteng di tengah hujan dan angin kencang Karang Gading, 3 Desember 2025 — Bencana hidrometeorologi kembali menghantam wilayah pesisisr Sumatera Utara. Sejak 25 November 2025, siklon tropis Senyar yang menyampu Pantai Timur memicu hujan lebat berhari-hari disertai angin kencang, menyebabkan banjir meluas di Desa Karang Gading dan Paluh Kurau. Pemukiman, persawahan, jalan pertanian, bahkan area pembibitan mangrove yang berada di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL) tidak luput dari genangan air yang terus naik. Di tengah meningkatnya genangan dan ancaman kerusakan, Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Konservasi SM KGLTL I hadir sebagai garda terdepan. Mereka turun ke lapangan, menembus hujan dan angin, mengambil tindakan cepat untuk menyelamatkan apapun yang masih bisa diselamatkan. Dalam kondisi pasang mati dan waktu yang sangat sempit, petugas mengambil langkah yang tidak mudah dengan menjebol tujuh titik benteng air asin untuk membuka aliran agar genangan dapat dipaksa keluar dari area yang terdampak. Langkah ini dilakukan tidak hanya untuk melindungi masyarakat, tetapi juga untuk menyelamatkan 1.089.000 bibit yang telah disiapkan untuk program pemulihan ekosistem di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Penjebolan selebar dua meter dilakukan secara bertahap, disokong oleh alat berat yang siaga penuh di lokasi sejak awal kejadian. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Lumpur tebal, hujan deras dan waktu yang semakin sempit membuat setiap detik terasa begitu berarti. Tantangan itu tidak menyurutkan semangat tim untuk terus menyelesaikan tugas karena genangan semakin mengancam bibit tanaman, persawahan warga, dan akses permukiman. Dengan dibukanya benteng, aliran air dari pembibitan, persawahan, dan area permukiman dapat mengalir ke paluh (sauran air) dan selanjutnya menuju laut. Hasil dari tindakan darurat ini dapat terlihat dalam waktu singkat. Ketinggian air di pembibitan Karang Gading telah normal kembali, di Paluh Kurau, permukaan air menurun hingga 20 cm, membuat daun-daun bibit yang sebelumnya tenggelam kini kembali terlihat. Di beberapa titik lain penurunan mencapai 10 cm, dan seluruh bibit yang sempat terendam berada dalam kondisi baik. Penurunan genangan ini memberikan harapan baru bagi masyarakat dan petugas yang berjibaku siang malam di lapangan bahwa kegiatan penanaman mangrove di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut dapat dilanjutkan kembali. Daun pada bibit mangrove kini sudah terlihat kembali Sumber: Esra Barus, S. Hut & Eva Suryani Sembiring, S. Hut— Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pantai Dibuka, Konflik Monyet-Manusia Tak Terhindarkan di Pacitan

Pacitan, 2 Desember 2025. Ketika garis pantai Desa Widoro dibuka sebagai destinasi wisata baru, tak ada yang menyangka bahwa perubahan lanskap itu akan mengguncang keseimbangan ekologi di pesisir selatan Pacitan. Beberapa tahun kemudian, warga justru menghadapi tamu tak diundang: koloni besar Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang turun ke ladang-ladang, merusak tanaman pangan, dan memicu konflik yang tak lagi bisa dihindari. Laporan terbaru diterima oleh Call Center Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada 2 Desember 2025 dari seorang warga setempat. Menanggapi laporan tersebut, Tim Respon Cepat Resor Konservasi Wilayah (RKW) 06, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro segera bergerak menuju Dusun Serenan. Meskipun para monyet tidak terlihat saat petugas tiba, sisa-sisa kerusakan yang tertinggal di area pertanian berbicara banyak, daun jagung patah, batang singkong tercabut, pisang tercerai-berai, hingga rumput gajah yang tampak seperti habis diserang kawanan besar. Dari wawancara petugas dengan petani dan perangkat desa, terungkap bahwa jumlah monyet yang memasuki area pertanian diperkirakan mencapai sekitar seratusan ekor, terbagi dalam beberapa koloni. Serangan tidak hanya terjadi di Dusun Serenan, tetapi merata ke Talunrejo, Nguluh, Gesing, hingga Tenggar. Bahkan desa terdekat ikut terdampak. Jenis tanaman yang terdampak pun beragam, mulai dari singkong, kelapa, pisang, jagung, kacang tanah, hingga pohon nangka. Bagi petani kecil yang menggantungkan hidup pada panen musiman, kerusakan ini bukan sekadar gangguan. Ini adalah ancaman nyata terhadap ketahanan ekonomi keluarga. Upaya warga menggunakan pengusir manual, seperti bunyi-bunyian, lemparan ringan, dan pengusiran kelompok ternyata tidak banyak membantu. Koloni Monyet Ekor Panjang dikenal cerdas, adaptif, dan mampu belajar dari pengalaman. Ketika sumber makanan di hutan alami berkurang, mereka mencari alternatif di ruang terbuka manusia, terutama lahan pertanian yang menawarkan akses mudah terhadap energi. Serangan Monyet Ekor Panjang bukanlah fenomena mendadak. Menurut warga, gejala ini mulai terlihat beberapa tahun terakhir, dengan puncak kejadian pada 2024 dan 2025. Salah satu penyebab yang diyakini memicu peningkatan frekuensi serangan adalah pembangunan destinasi wisata pantai di kawasan yang sebelumnya merupakan habitat jelajah alami monyet. Ketika ruang hidup berkurang, satwa liar dipaksa untuk menyesuaikan diri. Dalam kasus Widoro, monyet menembus batas ekologi yang dulu memisahkan hutan dan desa. Ruang jelajah yang terfragmentasi membuat mereka lebih sering berinteraksi dengan manusia dan interaksi negatif pun menjadi tak terhindarkan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Pacitan. Di berbagai belahan Asia Tenggara, primata opportunistik seperti Macaca fascicularis memang cenderung bergerak ke area dengan suplai makanan lebih stabil ketika habitatnya tertekan. Dalam beberapa catatan pola ini menjadi indikator penting tentang kesehatan lanskap dan tekanan akibat pembangunan yang kurang terkelola. Disela pengecekan lapangan, Tim RKW 06 berkesempatan memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warga mengenai teknik pengusiran yang lebih efektif, termasuk penggunaan suara yang terstruktur dan pengawasan di titik rawan. Petugas juga menekankan pentingnya dokumentasi setiap kejadian serangan, termasuk waktu, jumlah individu, dan arah pergerakan monyet. Data ini sangat berharga untuk analisis pola interaksi dan penyusunan strategi mitigasi jangka panjang. Di sisi lain, warga didorong untuk melaporkan secara berkala kejadian yang muncul agar Balai Besar KSDA Jawa Timur dapat memantau dinamika populasi satwa dan menyiapkan intervensi yang lebih sistematis. Pendekatan kolaboratif dengan perangkat desa dan pemerintah kecamatan menjadi kunci untuk merumuskan solusi terpadu. Kasus di Widoro memberi pesan ekologis yang kuat, bahwa setiap perubahan lanskap, sekecil apa pun, selalu berdampak pada jaringan kehidupan di sekitarnya. Kehadiran koloni monyet di ladang bukan sekadar peristiwa gangguan. Ini adalah sinyal dari alam bahwa keseimbangan sedang berubah, bahwa ruang liar yang menyusut kini mendesak satwa untuk bertahan di tengah ruang manusia. BBKSDA Jawa Timur berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dalam menghadapi interaksi negatif satwa-manusia melalui mitigasi, edukasi, dan pendekatan ekosistem. Namun, solusi jangka panjang membutuhkan sinergi antara konservasi, pembangunan, dan kesadaran bahwa keberlanjutan hanya bisa terwujud ketika manusia berjalan seiring dengan alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Dua Hari yang Mengubah Cara Kita Menilai Masa Depan Hutan dan Satwa Liar Bawean

Bawean, 2 Desember 2025. Pulau Bawean kembali menjadi panggung utama konservasi Jawa Timur ketika dua kawasan pentingnya, Cagar Alam (CA) Pulau Bawean dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, melalui proses penilaian efektivitas pengelolaan (METT) selama dua hari berturut-turut, 27 – 28 November 2025. Hasilnya membuka jendela baru tentang seberapa tangguh kawasan ini menghadapi ancaman, tekanan ruang, dan perubahan iklim, sekaligus menggambarkan bagaimana masa depan konservasi sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat. Kegiatan METT Versi 4.4 yang digunakan pada kedua kawasan menunjukkan angka yang optimistis namun tetap mengisyaratkan pekerjaan besar di depan mata. CA Pulau Bawean meraih skor 69,30%, sementara SM Pulau Bawean mencatat 67,50%, keduanya masuk dalam kategori pengelolaan efektif. Angka ini menjadi baseline resmi pertama untuk penilaian kawasan pada tahun 2025, sekaligus pijakan strategis bagi rencana peningkatan fungsi kawasan di tahun-tahun berikutnya. Penilaian berlangsung di Kantor Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar Konser dan dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, perguruan tinggi, LSM, kelompok tani hutan, hingga mahasiswa magang yang berkontribusi dalam diskusi terbuka mengenai ancaman kawasan. Sebanyak 62 butir penilaian ancaman dan 38 indikator kinerja pengelolaan dibedah secara kolektif. Fasilitator memandu dinamika yang intens namun produktif, memastikan setiap suara dari desa-desa sekitar kawasan, dari Sukaoneng hingga Diponggo, menjadi bagian dari keputusan akhir. Namun angka-angka itu juga menyingkap beberapa celah yang perlu segera dijembatani. Di CA Pulau Bawean, sejumlah indikator strategis memperoleh skor rendah, prakondosi kawasan yang perlu dipertegas, urgensi adaptasi terhadap perubahan iklim, perlindungan stok karbon, hingga pendidikan konservasi bagi masyarakat yang belum berjalan optimal. Sementara pada SM Pulau Bawean, satu persoalan besar muncul dari masyarakat, ketika tata batas kawasan yang kurang jelas. Banyak pal batas hilang atau rusak, dan hingga kini baru 5 km dari total 120 km batas kawasan yang selesai direkonstruksi. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian ruang dan mempengaruhi hubungan antara kawasan dan lahan masyarakat. Meski demikian, dukungan masyarakat Bawean tetap menjadi fondasi paling kokoh dalam proses ini. Camat, Polsek, Koramil, KTH, hingga LSM Konservasi Bawean hadir bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai mitra yang memahami bahwa masa depan pulau ini hanya dapat dijaga bersama. Dengan ditetapkannya hasil penilaian pada masing-masing kawasan, METT Bawean tidak sekadar menjadi administrasi. Ia adalah cermin, yang memantulkan tantangan, kekuatan, dan peluang. Bawean mengingatkan kita bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga hutan dan satwa liar, tetapi juga merawat harmoni antara alam dan manusia yang hidup berdampingan di dalamnya. Dan justru dari pulau di Tengah Laut Jawa inilah, Jawa Timur mendapatkan kembali pelajaran penting, bahwa efektivitas pengelolaan kawasan bukan sekadar angka, melainkan komitmen yang harus diperbarui setiap hari.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Rakor 2025, Fakta Lapangan yang Mengubah Cara Kita Memandang Hutan Jawa Timur

Sidoarjo, 27 November 2025. Rapat Koordinasi Perlindungan Hutan Provinsi Jawa Timur Tahun 2025 dibuka di RR Tectona, Kantor Dinas Kehutanan. Rapat ini mengusung tema “Kolaborasi untuk Lestarinya Hutan Jawa Timur.” Namun sejak materi pertama dipaparkan, suasana forum berubah menjadi lebih daripada sekadar koordinasi rutin. Rapat itu menjadi ruang yang membuka mata banyak pihak tentang kondisi sebenarnya hutan Jawa Timur. Sebagai narasumber pembuka, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan materi mengenai pelaksanaan perlindungan hutan pada kawasan konservasi. Dalam paparannya, beliau mengingatkan seluruh peserta bahwa tiga prinsip konservasi, perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, dan pemanfaatan lestari, bukanlah sekadar konsep, melainkan fondasi yang menjaga Jawa Timur tetap stabil secara ekologis. Melalui paparan yang tajam dan lugas, Kepala Balai memaparkan kondisi faktual 26 kawasan konservasi BBKSDA Jatim yang terdiri dari suaka margasatwa, taman wisata alam, dan cagar alam. Total luasan 30.760 ha yang menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati ini kini menghadapi tekanan yang semakin meningkat. Pencurian kayu, perambahan, kebakaran, perburuan liar, hingga penggunaan kawasan secara non-prosedural muncul sebagai ancaman yang terus berulang dari tahun ke tahun. Beliau menegaskan bahwa gangguan tersebut tidak hanya mengancam tegakan dan lanskap, tetapi juga fungsi ekologis yang menopang kehidupan masyarakat luas. “Perlindungan kawasan konservasi adalah mandat negara. Tetapi untuk menjaganya, kita membutuhkan kerja bersama, data yang kuat, patroli yang disiplin, dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan,” tegas Nur Patria. Dalam penjelasannya, Kepala Balai juga menyampaikan bagaimana pola gangguan berubah dari tahun ke tahun. Di beberapa kawasan, aktivitas ilegal semakin sulit ditekan karena dilakukan secara terstruktur dan memanfaatkan celah pengawasan. Di kawasan lain, kebakaran dan perambahan menggerus habitat yang sebelumnya stabil. Seluruh dinamika itu menuntut penguatan resor, peningkatan kapasitas SDM, serta patroli berbasis data melalui SMART Patrol yang telah menjadi standar nasional. Paparan pembuka itu memberi dasar kuat bagi materi-materi berikutnya. Ketika kemudian Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta memaparkan kondisi perlindungan hutan di areal perhutanan sosial KHDPK, terlihat jelas bagaimana perlindungan hutan kini tidak hanya menjadi mandat pemerintah, tetapi juga kewajiban kelompok perhutanan sosial sebagai pemegang persetujuan. Penandaan batas, penyusunan rencana kelola, pengawasan berkala, hingga sanksi administratif menjadi titik kritis yang harus diperkuat agar pemanfaatan tidak mengorbankan kelestarian. Paparan terakhir dari Perum Perhutani Divre Jatim melengkapi gambaran umum kondisi hutan Jawa Timur. Kerugian akibat gangguan keamanan hutan, mulai dari pencurian pohon, perusakan tegakan, kebakaran, hingga bencana alam, menunjukkan betapa beratnya tekanan yang dihadapi hutan produksi di Jawa Timur. Beberapa kasus menonjol seperti gangguan di Banyuwangi Selatan, Ambulu, dan wilayah yang terdampak isu KHDPK memberikan gambaran bahwa perlindungan hutan membutuhkan kesiapan taktis, operasi gabungan, serta penguatan integritas seluruh personel. Dari keseluruhan forum, satu benang merah terasa sangat kuat, tanpa komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi lintas lembaga, upaya perlindungan hutan tidak akan berjalan efektif. Sehingga dapat disimpulkan perlunya penegasan untuk penguatan pengawasan, peningkatan patroli bersama, sinergi pemulihan ekosistem, serta keterlibatan masyarakat di sekitar hutan sebagai bagian dari penjaga utama hutan Jawa Timur. Rapat hari itu bukan hanya ajang pertukaran informasi. Ia menjadi ruang refleksi bahwa tugas perlindungan hutan jauh lebih besar daripada sekadar pengamanan fisik kawasan. Ia adalah upaya menjaga hak negara atas kawasan, mempertahankan keberlanjutan ekosistem, dan memastikan bahwa generasi berikutnya masih dapat menikmati hutan yang hidup dan berfungsi penuh. Sebagaimana pernyataan penutup paparan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, “Hutan Jawa Timur tidak hanya menunggu untuk dijaga, tetapi menunggu komitmen kita untuk memastikan ia tetap ada. Perlindungan hutan adalah kerja kolektif, kerja kita semua.” (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tiga Lutung Jawa Kembali ke Rimba Nusa Barung

Jember, 26 November 2025. Tiga individu lutung Jawa (Trachypithecus auratus) akhirnya kembali menjejak rumahnya, Rabu (26/11/2025), dalam sebuah momen yang menandai lembaran baru upaya pemulihan populasi primata endemik Jawa. Di bawah tajuk pepohonan Blok Cambah, Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, tiga sosok itu, satu jantan bernama Deni, dan dua betina Sofia serta Princess, melompat keluar dari kandang angkut, lenyap dalam gerak gesit yang hanya menyisakan daun-daun bergetar. Pelepasliaran ini merupakan kolaborasi penuh antara Balai Besar KSDA Jawa Timur, Javan Langur Centre (JLC), dan Pokmas Pura Lestari, menggunakan metode hard release, sebuah pendekatan yang memungkinkan satwa langsung beradaptasi dengan lingkungan alaminya setelah melalui proses rehabilitasi yang ketat. Lutung Jawa adalah penjaga kanopi hutan, primata folivora yang menghabiskan hidupnya di strata atas rimbun pepohonan. Populasinya di alam terus tergerus oleh fragmentasi habitat, perburuan, dan perdagangan ilegal. Mengembalikan tiga individu ini berarti menghadirkan kembali tiga denyut kehidupan untuk sebuah ekosistem yang bertahun-tahun terus menuntut perhatian. Masing-masing lutung tersebut memiliki rekam jejak penanganan yang jelas, lengkap dengan identitas mikrochip dan asal usul penitipan, sebagai bagian dari prinsip akuntabilitas konservasi modern. Sofia dan Princess merupakan satwa titipan BBKSDA Jawa Timur pada 2024 dan 2025, sementara Deni diserahkan pada Februari 2025 dan menjalani perawatan di bawah supervisi JLC sebelum dinyatakan siap kembali ke alam. Saat pintu kandang terbuka, tidak ada yang tergesa. Sofia sempat menatap rimbunnya pepohonan sebelum akhirnya melompat, seolah memastikan bahwa dunia yang pernah hilang kini benar-benar kembali. Princess menyusul dengan lompatan ringan, sementara Deni, jantan dewasa dengan tubuh lebih kekar, menetapkan jejak terakhir sebelum memimpin arah menuju bukit kecil di sisi utara blok pelepasliaran. Nusa Barung, kembali menerima tiga penghuni lamanya. Vegetasi padat dan minim gangguan manusia menjadikan blok Cambah sebagai salah satu habitat terbaik untuk pelepasliaran primata endemik. Di balik momen dramatis itu, terdapat kerja panjang yang dilakukan banyak pihak. Para ahli primata JLC menilai kondisi fisik, perilaku alami, hingga kemampuan mencari pakan sebelum memastikan ketiganya memenuhi syarat survival di alam liar. Pokmas Pura Lestari, yang selama ini aktif menjaga kawasan Nusa Barung, turut memastikan keamanan lokasi dan meminimalkan interaksi manusia. Pelepasliaran bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari fase yang lebih kritis, monitoring pasca-lepasliar. Tim akan memantau pergerakan, perilaku, serta kemampuan adaptasi ketiga lutung untuk memastikan mereka dapat bertahan dan berkontribusi pada keberlanjutan populasi di pulau tersebut. Di tengah isu hilangnya habitat dan krisis satwa liar yang terus menghantui Jawa, momen pelepasliaran ini menjadi pengingat bahwa harapan masih tumbuh, pelan namun pasti. Setiap individu yang kembali ke alam adalah investasi masa depan, bukan hanya bagi spesiesnya, tetapi bagi seluruh ekosistem yang terhubung di dalamnya. Dan hari ini, di Pulau Nusa Barung, tiga lutung telah kembali. Mereka membawa serta peluang baru bagi kelestarian kehidupan, menguatkan kembali komitmen bahwa konservasi bukan sekadar tugas, tetapi sebuah janji antar-generasi. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Di Pantai Pacar, 50 Tukik Penyu Hijau Menyusuri Kembali Jalan Pulang ke Samudra

Tulungagung, 27 November 2025. Mendung tipis yang menggantung rendah di langit Pantai Pancar tidak mengurangi khidmat sebuah perjalanan hidup yang dimulai kembali. Tepat pukul 11.22 WIB, lima puluh tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas) merayap pelan menuju ombak pertama yang memanggil mereka pulang. Garis-garis kecil yang mereka tinggalkan di pasir adalah rekaman dari harapan yang baru saja dilepaskan ke samudra. Tim Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir memenuhi undangan Badan Perencanaan Daerah Tulungagung bersama Forum Geopark Jawa Timur dan Pokdarwis Pantai Sanggar (27/11/2025). Sejumlah pejabat daerah turut menyaksikan momen ini. Meski kegiatan berlangsung singkat, hanya lima menit, tersapu laju pasang yang cepat, kehangatannya terasa panjang, mengalir jauh melampaui batas garis pantai. Penyu Hijau, sebagai penjaga padang lamun dan keseimbangan ekosistem laut, kini berada di bawah perlindungan yang semakin teguh. Regulasi terbaru, termasuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 yang memperbarui kerangka konservasi nasional, memberikan penegasan terhadap pengelolaan konservasi di wilayah laut dan pesisir. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025 juga memasukkan seluruh jenis penyu sebagai jenis ikan yang dilindungi sepenuhnya. Namun di balik semua pengaturan itu, terdapat satu hal yang tidak berubah, bahwa penyu adalah satwa yang hidup dalam dua dunia, dan konservasinya adalah jembatan yang menghubungkan keduanya. Dalam konteks inilah, kehadiran BBKSDA Jawa Timur tetap menjadi bagian penting dari perjalanan konservasi penyu di wilayah pesisir. Pendampingan terhadap masyarakat, edukasi konservasi, serta pelibatan dalam kegiatan pelepasliaran adalah bagian dari upaya menjaga harmoni antara manusia, pesisir, dan kehidupan laut. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, dan setiap pihak bergerak dalam irama yang saling menguatkan. Setiap tukik yang kembali ke laut adalah pesan bahwa kita tidak bekerja sendiri. Konservasi adalah ruang kolaborasi yang luas, tempat semua pihak saling menopang demi keberlanjutan kehidupan. Laut dan pesisir tidak dapat dipisahkan, begitu pula peran-peran yang mengelilinginya. Pelepasliaran hari ini adalah wujud kebersamaan kita dalam menjaga warisan alam untuk generasi berikutnya. Suara ombak perlahan menelan jejak terakhir para tukik. Mungkin hanya satu dari mereka yang akan kembali, bertahun-tahun mendatang, untuk meneruskan siklus yang sama. Tetapi satu penyu dewasa saja cukup untuk menghidupkan kembali harapan yang dilepas hari itu, bahwa manusia, ketika bergerak bersama alam, mampu menjaga kehidupan yang lebih besar dari dirinya sendiri. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 33–48 dari 11.091 publikasi