Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Free Wifi Manjakan Wisatawan ke Bali Barat

Gilimanuk, 14 Oktober 2019. Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu destinasi wisata di Pulau Bali yang ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Oleh karena itu dalam program pemerintah provinsi Bali bekerjasama dengan PT Telkom yaitu Bali Smart Island (BSI), lokasi wisata di TNBB secara bertahap akan menjadi salah satu lokasi Access Point untuk free wifi dimana pengunjung wisata bisa mendapatkan akses wifi gratis seperti di Banyuwedang dan Labuan Lalang. Program ini sudah berlangsung dari awal tahun 2019 dengan menyasar lokasi-lokasi akses publik seperti wantilan desa adat, puskesmas, sekolah dan daerah tujuan wisata. Hari ini dilaksanakan evaluasi program lingkup kecamatan Gerokgak yang dihadiri oleh pihak Dinas kominfo Pemkab Buleleng, vendor PT Telkom, instansi terkait dan pemuka adat. Dalam evaluasi diutarakan beberapa kendala selama program ini berjalan untuk mencari solusi dan sebagai bahan pertimbangan dilanjutkannya program ini di tahun 2020. Balai TNBB berharap dengan keberlanjutan program ini antara lain akses untuk free wifi di lokasi wisata lainnya seperti pulau menjangan dan segara rupek, pengunjung bisa mendapatkan akses internet yang baik sehingga dapat ikut serta dalam penyebaran informasi terkait kawasan TNBB dan sebagai sarana promosi wisata melalui media sosial bagi masyarakat pada umumnya dan menambah wawasan untuk berwisata secara bijak dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan alam. #AyoKeTamanNasional #BaliBarat Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Mengantarkan Kasturi Kepala Hitam, Nuri Bayan, dan Cenderawasih Kuning Besar Pulang ke Rumah

Merauke, 14 Oktober 2019. Balai Besar KSDA Papua Bidang KSDA Wilayah I Merauke bersama Balai Gakkum KLHK Wilayah Maluku Papua Seksi Wilayah III Jayapura, Balai Taman Nasional Wasur, Kejaksaan Negeri Merauke, Balai Karantina Pertanian Merauke, serta Polres Merauke melaksanakan pelepasliaran satwa yang dilindungi Undang-Undang. Momentum pelepasliaran berlangsung Senin (14/10) sekitar pukul 10.00 WIT. Jenis-jenis satwa yang dilepasliarkan adalah 19 ekor kasturi kepala hitam (Lorius lory), lima ekor nuri bayan (Eclectus roratus), dan satu ekor cenderawasih kuning besar (Paradisaea apoda). Jenis-jenis satwa tersebut termasuk dalam daftar satwa dilindungi undang-undang berdasarkan Permen nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Sementara dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), nuri kepala hitam, nuri bayan, dan cenderawasih kuning besar masuk dalam kategori Least Concern (LC). Artinya, jenis-jenis satwa tersebut telah dievaluasi dan dinyatakan berisiko rendah. Adapun CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) menetapkan jenis-jenis satwa tersebut dalam apendiks II, artinya tidak terancam kepunahan, namun kemungkinan dapat terancam apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Dengan mempertimbangkan kesejahteraan satwa, lokasi yang ditetapkan sebagai tempat pelepasliaran adalah Zona Rimba Taman Nasional Wasur. Lokasi tersebut sangat representatif karena merupakan habitat alam bagi jenis-jenis satwa tersebut, memiliki luasan yang cukup dan daya dukung habitat memadai, termasuk ketersediaan pakan alami yang melimpah. Lebih dari itu, Zona Rimba Taman Nasionla Wasir terbebas dari aktivitas ilegal manusia dan jauh dari pemukiman masyarakat. Hal ini sangat penting demi menjaga satwa-satwa agar terbebas dari perburuan. Pada momentum tersebut, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke Irwan Efendi., S.Pi, M.Sc. menjelaskan bahwa proses pelepasliaran berjalan baik sesuai rencana. “Satwa-satwa telah diperiksa oleh dokter, dan dinyatakan semua satwa dalam keadaan sehat, layak dilepasliarkan ke habitat alami,” kata Irwan. Terdapat satu fenomena menarik ketika tersangka tindak pidana pelanggaran undang-undang satwa yang berinisial K, turut serta melakukan proses pelepasliaran satwa di Taman Nasional Wasur. Hal ini menjadi palajaran penting mengenai cara membangun kesadaran dan pemahaman tentang melindungi kekayaan keanekaragaman hayati dalam diri setiap warga negara. Keberhasilan suatu proses konservasi, salah satunya, dicirikan oleh semakin banyaknya warga negara yang sadar dan paham, bahwa menjaga alam bersifat penting dan mereka menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Pada saat yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Papua Edward Sembiring, S.Hut, M.Si menyampaikan, “BBKSDA Papua berkomitmen membangun sinergitas secara kolaboratif dengan seluruh stakeholders, melakukan penyadartahuan, meningkatkan pengawasan dan pengendalian, meningkatkan koordinasi lintas sektor, dan melakukan penegakan hukum bagi pelaku. Hal ini telah tertuang dalam Deklarasi Bersama yang dilakukan pada tanggal 25 September 2019 bersama Polda Papua, Kodam XVII Cenderawasih, Lantamal X, Lanud Silas Papare, Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Balai Karantina Ikan, Balai Karantina Pertanian, dan Balai Gakkum LHK Wilayah Papua – Maluku.” Selanjutnya Edward mengajak masyarakat berperan aktif, bersama-sama menjaga dan meningkatkan pengawasan dari hulu terhadap penangkapan dan perdagangan TSL oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. “Satwa-satwa ini lebih indah bila kita melihatnya di alam daripada di sangkar. Kita jaga satwa liar untuk alam dan anak cucu kita,” ungkapnya. (djr) Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Garap Formulasi Penilaian TPHL & Pramubakti

Long Alango, 14 Oktober 2019. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) telah melakukan kegiatan pembinaan dan Evaluasi Kegiatan Tenaga Pengaman Hutan Lainnya (TPHL) dan Pramubakti. Tim SPTN Wilayah II Long Alango juga telah merancang formulasi penilaian terhadap TPHL dan Pramubakti dengan indikator-indikator penilaian yang dapat terukur. Sehingga dapat memudahkan penilaian yang selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi kinerja TPHL dan Pramubakti yang bertugas di SPTN Wilayah II Long Alango. Pembinaan diberikan langsung oleh Kepala SPTN Wilayah II Long Alango Tamsil, S.Hut.,M.Si dibantu oleh staf fungsional. Dalam kegiatan ini diperoleh beberapa masukan antara lain perlu ditingkatkannya komunikasi yang baik antara TPHL dengan Petugas ataupun antara TPHL dengan TPHL terkait pelaksanaan kegiatan di SPTN Wilayah II Long Alango. Selain itu perlu adanya bimbingan dan arahan secara kontinyu kepada TPHL dan Pramubakti untuk dapat meningkatkan kapasitasnya. Kegiatan dihadiri oleh 7 orang TPHL dan 1 orang Pramubakti dengan tujuan evaluasi seluruh kegiatan TPHL yang telah dilakukan di tahun 2019 sehingga dapat meningkatkan peran dan fungsi TPHL sesuai tugas dan tanggungjawabnya. Sumber : Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Long Alango Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga SM Pelaihari

Sabuhur, 10 Oktober 2019. Balai KSDA Kalimantan Selatan telah melaksanakan kegiatan penyerahan dana bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga kawasan konservasi (Suaka Margasatwa Pelaihari). Pemberian bantuan tersebut sebagai wujud pembinaan dan dukungan kepada kelompok masyarakat di daerah penyangga untuk mengembangkan usaha berdasarkan potensi desa yang ada. Selain itu kegiatan ini bertujuan sebagai peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Suaka Margasatwa Pelaihari. Bantuan diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi oleh Kepala Resort SM Pelaihari Akhmad Fauzan, S.Hut beserta tim. Selain itu turut hadir Babinsa Desa Sabuhur, Serda Sudaryono dan Perwakilan tokoh masyarakat, Nordin. Dalam kegiatan ini ada dua kelompok masyarakat daerah penyangga sebagai penerima bantuan yang diwakili ketua kelompok. Sahrudin mewakili Kelompok Madu Jaya Desa Sabuhur yang bergerak mengembangkan lebah madu Serena dan Kalulut dengan jumlah anggota 20 orang, dan Taibani mewakili Kelompok Laksamana Bahari Desa Swarangan yang bergerak pengemasan ikan laut dengan jumlah anggota 20 orang. Pada kesempatan ini Dr. Mahrus Aryadi, menyampaikan bahwa kondisi sekarang ini untuk dapat mengelolaan kawasan konservasi secara optimal perlu keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan sebagai bentuk menjalin silaturahmi dan membangun jejaring kerja antara pemangku kawasan dengan masyarakat sehingga tercipta kondisi saling menghargai, saling percaya dan saling menguntungkan. Melalui pemberdayaan masyarakat juga diharapkan bermanfaat secara ekonomi dalam peningkatan pendapatan masyarakat serta memberikan manfaat secara sosial budaya dimana ada kekompakan dalam kelompok, saling menghormati dan mendukung antar anggota. Dalam kegiatan ini diserahkan bantuan dana secara simbolis sebesar Rp 22.000.000,- untuk masing-masing kelompok pemberdayaan. Bantuan ini digunakan untuk memperkuat kelembagaan serta pengembangan usaha ekonomi produktif kelompok melalui kegiatan seperti budidaya lebah madu di Desa Sabuhur dan Pengemasan Produk Perikanan (Ikan Asin dan Kerupuk) di Desa Swarangan. Kepala Balai mengharapkan bantuan yang diserahkan harus terukur terkait peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan dan dilakukan evaluasi terhadap permasalahan yang dihadapi. (ryn) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Membangun Jejaring Raptor pada 11th Asian Raptor Research and Conservation Network (ARRCN) International Symposium di Bali

Denpasar, 15 Oktober 2019. Dengan mengusung tema "Strengthening collaboration for supporting research and raptors conservation", acara 11th Asian Raptor Research and Conservation Network (ARRCN) International Symposium dilaksanakan pada tanggal 9-12 Oktober 2019 di Universitas Udayana, Denpasar, Bali. Balai TN. Bali Barat ikut serta dalam acara yang dihadiri sekitar 230 partisipan dari indonesia dan juga 14 negara antara lain : USA, UEA, Jepang, Thailand, Filipina, Malaysia, Mongolia, Taiwan, India, Korea, Singapore, Nepal, dan Australia. Turut hadir juga sebagai keynote speaker Bapak Direktur Jenderal KSDAE bapak Ir. Wiratno, M.Sc yang menyampaikan materi tentang keanekaragaman hayati dan jenis-jenis raptor yang ada di Indonesia yang memegang peranan penting dalam ekosistem hutan-hutan konservasi di Indonesia serta perlunya keberlanjutan acara ARRCN International Symposium bagi pemerhati satwa liar. Balai TN Bali Barat selain menjadi partisipan/ peserta, juga ikut serta berperan aktif dengan membuka booth sebagai sarana pengenalan dan promosi TN Bali Barat kepada para partisipan sambil menawarkan paket-paket tour pengamatan satwa liar di TN. Bali Barat. Selain itu, salah satu delegasi dari TN Bali Barat saudara Hery Kusumanegara (PEH TN. Bali Barat) menjadi salah satu oral presentator pada acara ini dengan membawakan materi tentang raptor yang ada di TN Bali Barat. Rangkaian 11th Asian Raptor Research and Conservation Network (ARRCN) International Symposium ini merupakan agenda penting bagi para peneliti raptor di Asia untuk berbagi pengalaman, update status konservasi raptor di masing-masing negara, membangun jejaring antar peneliti, pemerhati dan ahli khususnya jenis raptor, selain terutama mengajak sebanyak mungkin para pemerhati, peneliti dan ahli muda untuk turut berperan serta secara aktif dalam upaya konservasi raptor. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Balai TNBB “Kembali” menjadi Satker Terbaik dalam Pengelolaan Administrasi Pelaporan di Provinsi Bali.

Gilimanuk, 15 Oktober 2019. Balai TNBB kembali mendapatkan aspresiasi terhadap kinerja dan hasil kerjanya. Kali ini Balai TNBB diganjar dengan piagam penghargaan atas PENYAMPAIAN LAPORAN PNBP SEMESTER I TAHUN 2019 SECARA TEPAT WAKTU oleh Ditjen Perbendaharaan Kanwil Provinsi Bali, Kementerian Keuangan RI. Dalam acara ini, Tim Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bali menyampaikan bahwa terdapat 54 satker yg masuk nominasi untuk dinilai oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bali. Kemudian dilakukan pendalaman dan tersisa sebanyak 30 satker. Dengan parameter dan indikator sesuai kriteria penilaian maka terpilih 12 satker mitra Ditjen Perbendaharaan yang layak mendapat penghargaan. Balai TNBB merupakan satker dengan urutan pertama atau yang terbaik. Kriteria penilaiannya adalah pelaporan semester 1 dengan tepat waktu dan tepat sasaran, serta adanya komunikasi satker dengan kanwil yang baik. Hal ini menunjukkan komitmen TNBB untuk melakukan pertanggungjawaban yang semakin baik dalam memenuhi kewajiban penyetoran penerimaan negara bukan pajak dan pengoptimalan pengelolaan keuangan negara. Data tahun 2019, hingga bulan ini tercatat Balai TNBB telah berkontribusi terhadap penerimaan negara berupa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp4.983.365.500 dari jumlah kunjungan wisatawan hingga bulan ini menunjukkan lebih dari 35.000 wisatawan yang berkunjung di TNBB dan belum termasuk wisatawan religi yang dikenakan tarif nol rupiah (Rp.0). Kedatangan jumlah wisatawan yang cukup tinggi ini untuk menikmati alam dan potensi keanekaragaman hayati berdampak positif secara langsung maupun tidak langsung bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat khususnya yang berada di sekitar kawasan hutan antara lain, makin luasnya kesempatan usaha. lapangan usaha yang berkembang dalam menyediakan jasa maupun prasarana untuk wisatawan antara lain hotel, restoran, biro perjalanan, pramuwisata, tempat rekreasi, pengusaha transportasi, dll. Kebijakan pengelolaan wisata alam di TNBB akan terus dikembangkan dan ditingkatkan, sehingga akan menghasilkan pendapatan negara yang lebih dan bermanfaat secara optimal membangun kesejahteraan rakyat Indonesia pada umumnya. Lestari Alamku lestari Indonesiaku. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Balai TN Kelimutu Partisipasi di Konferensi Internasional Penelitian dan Konservasi Burung Raptor Asia

Denpasar, 13 Oktober 2019. Taman Nasional (TN) Kelimutu mengikuti acara Konferensi Internasional Penelitian dan Konservasi Burung Raptor Asia (Asian Raptor Research and Conservation Network/ARRCN International Symposium) di Universitas Udayana, Provinsi Bali. Acara ini merupakan event internasional yang kali ini dihelat untuk ke 11 kalinya, berlangsung selama dua hari Kamis hingga Jumat (10-11 Oktober 2019) Pada kesempatan ini TN Kelimutu menyampaikan tulisan ilmiah dan paparan yang berjudul "Breeding Records of Flores Hawk-Eagle (Niasetus floris) at Wolojita, Ende, East Nusa Tenggara, Indonesia" ditulis oleh Aditya Kuspriyangga, Oki Hidayat dan Persada A. Sitepu dan dipresentasikan secara oral oleh Aditya Kuspriyangga yang merupakan Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TN Kelimutu dan juga Koordinator Resort Wolojita, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 1. Selain itu pada acara ini TN Kelimutu juga mengikuti pameran dengan booth yang mengangkat tema raptor, birdwatching dan ekowisata konservasi di aula eksebisi Universitas Udayana. Acara simposium Internasional ini diorganisir oleh Indonesian Ornithologist Union (IdOU) dan Museum Burung Frank Williams Universitas Udayana Bali bersama dengan ARRCN dan didukung oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Acara ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Rangkaian acara ARRCN ke 11 ini selain diisi dengan International Conference dan Symposium, juga diisi oleh cultural night dan eksibisi pameran bagi taman nasional atau lembaga yang memiliki fokus raptor sebagai satwa prioritas. Di akhir kegiatan diisi dengan field trip dengan berkunjung ke Gunung Sega untuk bersama-sama melihat migrasi dari burung pemangsa yang ada di Bali Kegiatan ini menjadi trigger Balai TN Kelimutu semakin baik dalam melaksanakan upaya konservasi taman nasional secara umum maupun Raptor (burung pemangsa) khususnya, selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan SDM lapangan khususnya tenaga PEH. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Selamat Jalan Dita, Sekarang Telah Berkhir Penderitaanmu

Pekanbaru, 14 Oktober 2019. Kali ini kabar duka datang dari SM Balai Raja...Seekor Gajah Sumatera liar ditemukan mati di dalam kanal tak jauh dari kebun ubi warga di Kel. Balai Raja, Kec. Pinggir, Kab. Bengkalis, Prov. Riau Kematiannya diperkirakan telah terjadi sekitar lima hari dari penemuan bangkai satwa tersebut oleh warga. Tim medis Balai Besar KSDA Riau diturunkan untuk melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah liar betina berumur sekitar 25 tahun tersebut. drh. Rini dan drh Danang dipimpin Kepala Seksi Wil. 3, Maju Bintang Hutajulu dan tenaga medis segera melaksanakan tugasnya. Sebelumnya sejak tahun 2014 pengobatan telah beberapa kali dilakukan oleh Tim Balai Besar KSDA Riau, Vesswic dan HIPAM terhadap satwa tersebut karena tapak kaki depan kirinya putus terkena jerat sehingga Gajah liar yang lebih dikenal dengan nama Dita sering kesulitan berjalan dan tertinggal dari kelompoknya. Dita merupakan anggota salah satu kelompok Gajah di SM Balai Raja. Nekropsi dilakukan terhadap bangkainya pada 8 Oktober 2019. Tidak ditemukan adanya luka bekas benda tajam atau kekerasan fisik di tubuhnya. Hasil nekropsi secara umum menunjukkan penyebab kematiannya adalah Septikemia/Sepsis (peradangan di seluruh tubuh karena infeksi). Dengan bantuan alat berat dari PT. CPI, hari Rabu, 9 Oktober 2019 Dita dikuburkan. Sekarang tak ada lagi Gajah "Dita" di SM Balai Raja..... Selamat jalan Dita.... Kawan konservasi..., Mari kita jaga dan selamatkan satwa liar Gajah Sumatera yang tersisa.... Jangan ada lagi "Dita- Dita" selanjutnya.... Dan jangan ada lagi jerat di area lintasan Gajah liar karena itu dapat melukai kaki mereka.... Salam konservasi!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Diskusi Jerat di Kemah Konservasi BBKSDA Sumut

Medan, 14 Oktober 2019. Sebagai rangkaian dari kegiatan Kemah Konservasi 2019, pada Jumat, 11 Oktober 2019, dilaksanakan diskusi interaktif di lapangan olahraga Universitas Medan Area (UMA), yang membahas tentang Darurat Jerat di Sumatera Utara. Diskusi interaktif yang dimoderatori Fitri Noor Ch., fungsional PEH pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menampilkan 4 orang narasumber, masing-masing : Rinaldo (Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan pada Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser), Haluanto Ginting (Kepala Seksi Gakkum wilayah Aceh dan Sumatera Utara pada Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera), Amenson Girsang (Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara) dan Adrian (perwakilan dari WCS-IP). Rinaldo dalam paparannya menyampaikan langkah-langkah yang ditempuh oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dalam menyikapi permasalahan jerat adalah dengan melakukan operasi rutin di dalam kawasan untuk menertibkan pemasangan jerat oleh masyarakat. “Operasi ini berhasil mengamankan dan menyita ribuan jerat yang ada di dalam kawasan. Akibat penertiban ini, masyarakat kemudian mengalihkan pemasangan jerat bukan lagi di kawasan, melainkan di luar kawasan, tepatnya daerah penyangga, yang termasuk jalur lintas beberapa satwa dilindungi,” ujar Rinaldo. Penjelasan Rinaldo diamini oleh Adrian, yang menyebutkan dari hasil operasi penertiban bersama yang dilakukan oleh Balai Besar TNGL dan WCS-IP sepanjang tahun 2014 sampai dengan sekarang telah berhasil menyita 1.000 jerat yang dipasang warga dari dalam kawasan. “Lalu apa faktor yang menyebabkan masyarakat memasang jerat ? Dari hasil penelitian kami, ada 4 faktor yang mempengaruhinya, yaitu : untuk memburu satwa jerat dianggap cara yang mudah dan murah, faktor ekonomi dimana menjerat satwa oleh sebagian warga sudah menjadi mata pencaharian, faktor budaya dan sosial yang oleh sebagian tradisi masyarakat diwajibkan untuk mengkonsumsi satwa-satwa tertentu sehingga memaksa masyarakat untuk berburu dan menjerat satwa tersebut, jerat juga dianggap solusi untuk mengatasi konflik warga dengan satwa liar,” papar Adrian. Wawasan peserta diperkaya oleh Amenson Girsang, yang berbagi informasi tentang peristiwa yang belum lama terjadi, dimana satu individu Harimau Sumatera di Kabupaten Padanglawas berkonflik dengan warga dan menyebabkan korban jiwa 1 orang warga tewas mengenaskan, serta 1 orang lagi luka-luka akibat serangan harimau. “Harimau yang diberi nama Palas ini, setelah berhasil diperangkap kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatannya oleh tenaga medis, dan hasilnya pada kakinya ditemukan bekas luka akibat jeratan. Jadi mengapa Palas berkonflik dengan warga ? diperkirakan salah satu faktornya adalah dampak dari jeratan di kakinya sehingga dia turun ke pemukiman warga,” ujar Amenson. Dari aspek hukum terhadap pelaku jerat, Haluanto Ginting melihat ada tantangan bagi penegak hukum, khususnya penyidik pada Balai Gakkum berkaitan dengan pembuktian. Karena dalam aturan hukum ada ketentuan, bahwa untuk menaikkan satu kasus/perkara, maka penyidik harus punya keyakinan yang didasarkan kepada minimal 2 alat bukti. Menurut pasal 184 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, alat bukti yang sah terdiri dari : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Sedangkan untuk mendapatkan minimal 2 alat bukti bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena mengungkap dan membuktikan siapa pelaku pembuat/pemasang jerat yang mengakibatkan satwa dilindungi terjerat butuh kerja ekstra. “Namun kami tidak pesimis dan tetap optimistik. Tantangan menjadi pemacu kami untuk bekerja lebih keras dan lebih baik dalam mengungkap kasus-kasus penjeratan satwa dilindungi,” ujar Haluanto. Diskusi interaktif yang bukan hanya diikuti oleh peserta kemah konservasi, tetapi juga kalangan milenial dari Universitas Medan Area, diakhiri dengan pemberian cinderamata kepada para narasumber oleh Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Ir. Irzal Azhar, M.Si. Sumber & Foto : Sri Rohana K.E. Siahaan, SP. - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Adrian sedang mencontohkan cara bekerjanya jerat Foto bersama narasumber dengan Kepala Bidang Teknis, Ir. Irzal Azhar, M.Si.
Baca Berita

The Dance of Great Argus

Malinau, 12 Oktober 2019. Kuau Raja adalah salah satu burung dalam family Phasianidae yang masuk dalam CITES Appendix II dan dikategorikan Hampir Terancam di dalam IUCN Red List. Persebarannya mulai dari Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaysia dan cukup banyak dijumpai di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Pemberian nama ilmiah Argusianus argus pada satwa ini memiliki makna "Ratusan Mata" yang bisa terlihat saat sang Kuau Jantan mempertontonkan keindahan motif ratusan mata pada bulunya melalui ritual tarian pemikat kepada si Kuau betina dimusim kawin. Pesona sang pejantan saat memikat betinanya ini dibenarkan dengan terekamnya video Trap berdurasi 30 Detik yang dipasang oleh petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Long Alango Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, saat melakukan Patroli Rutin bersama Badan Pengelola Tanah Ulen (BPTU) di lokasi Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) "Lalut Birai" SPTN Wilayah II Long Alango Bulan November 2018. Pada rekaman video lainya dilokasi yang sama selama kurun waktu sekitar 1 bulan juga teramati tingkah laku dari pejantan Kuau yang selalu menjaga dan membersihkan teritorinya dari serasah sehingga terkesan seperti disapu dengan bersih. Hal inilah yang mempermudah petugas untuk menentukan lokasi Pemasangan Kamera ataupun kamera Trap. Burung ini juga kerap mengeluarkan suara " Kuwwaaaii...." yang terkesan seperti memanggil namanya sendiri dan dapat di dengar dari radius yang cukup jauh. Masyarakat Adat di sekitar Bahau Hulu biasa menyebut satwa ini dengan nama Burung Kuwai. Sumber : Ashari Wicaksono - Polhut Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Partisipasi Balai TN Kutai Pada Pekan Raya Kutim Expo 2019

Kutai Timur, 12 Oktober 2019 - Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Kutai Timur ke-20, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur kembali mengadakan event Pekan Raya Kutim Expo sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Kutai Timur ke-20 yang diselenggarakan pada 1-12 Oktober 2019. Pekan Raya Kutim Expo 2019 sendiri dilaksanakan selama 5 (lima) hari yaitu pada 8-12 Oktober 2019. Pada Pekan Raya Kutim Expo 2019 kembali Balai Taman Nasional Kutai turut berpartisipasi menjadi peserta pameran, dimana event ini merupakan ajang pameran terbesar di wilayah Kabupaten Kutai Timur dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat setempat. Sehingga ini juga moment yang tepat untuk mengenalkan dan mempromosikan Taman Nasional Kutai baik potensi wisata maupun potensi sumber daya alam lainnya sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat Kutai Timur. Pada gelaran Kutim Expo 2019 ini stand Balai Taman Nassional Kutai mengambil tema goa yang dimaksudkan untuk mengenalkan kepada masyarakat Kutai Timur bahwa di Taman Nassional Kutai selain terdapat hutan juga terdapat landskap karst yang sangat penting keberadaannya karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan air serta mempunyai banyak fungsi ekologis lainnya. Dan kawasan karst ini juga mempunyai potensi keindahan goa-goanya yang dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata. Keberadaan stand dengan tema goa ini sangat menarik perhatian pengunjung karena berbeda tampilannya dari stand lain dan menarik minat pengunjung untuk berfoto di dalamnya. Berdasarkan catatan pada hari keempat stand Balai Taman Nasional Kutai telah dikunjungi lebih dari seribu orang. Dan hampir sebagian besar pengunjung mengaku baru mengetahui keberadaan goa di kawasan Taman Nasional Kutai, karena pada umumnya masyarakat Kutai Timur mengetahui bahwa yang disebut sebagai Taman Nasional Kutai hanya identik dengan kawasan wisata alam Sangkima Jungle Park. Dalam event Kutim Expo kali ini Balai Taman Nasional Kutai mendapatkan kesempatan untuk on air di radio RPD Kutim 994 FM dalam acara talk show di stand radio RPD Kutim. Hal ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk lebih mengenalkan dan mempromosikan Taman Nasional Kutai kepada masyarakat Kutai Timur dalam skala yang lebih luas. Dalam kegiatan ini Balai Taman Nasional Kutai berkesempatan menjelaskan mengenai kawasan Taman Nasional Kutai beserta potensi-potensinya termasuk obyek wisata apa saja yang ada di dalamnya, termasuk menjelaskan jika Taman Nasional Kutai bukan hanya Sangkima Jungle Park ataupun yang hanya berada di Jalan Poros Sangatta-Bontang sebagaimana yang banyak diketahui masyarakat umum. Hal lain yang dibahas juga adalah mengenai pemilihan tema stand, kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan terkait pengembangan Kutai Timur serta harapan-harapan dalam kebersamaan Balai Taman Nasional Kutai dan Kabupaten Kutai Timur. Dalam kegiatan pameran ini selain menampilkan potensi-potensi yang ada di kawasan Taman Nasional Kutai, di stand pameran juga turut dipromosikan produk-produk dari kelompok masyarakat binaan Balai Taman Nasional Kutai di Desa Kandolo yaitu Kelompok Tani Nyiur Melambai yang memproduksi hasil dari aren genjah yang merupakan tumbuhan asli kawasan Taman Nasional Kutai berupa gula aren padat, gula semut dan serbuk minuman jahe merah gula aren. Kepada masyarakat yang berkunjung juga disediakan sampel gula semut sebagai salah satu souvenir yang dapat dibawa pulang. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Penandatanganan Kesepakatan Bersama untuk Pengembangan Wisata Alam di TN Zamrud

Pekanbaru, 12 Oktober 2019-Di panggung Festival Siak Bermadah 2019 dan Festival Kabupaten Lestari 2019 sekaligus memperingati Hari Jadi Siak ke-20, tepat depan Istana Siak pada Kamis malam, tanggal 10 Oktober 2019 dilakukan penandatanganan MOU Kesepakatan Bersama Pengelolaan Ekowisata Taman Nasional (TN) Zamrud. Penandatanganan dilakukan oleh Bupati Siak, bapak Alfedri dan Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono. Ini merupakan wujud keberhasilan Balai Besar KSDA Riau dalam merangkul berbagai pihak termasuk pemerintah daerah dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi. Dengan dukungan yang kuat dari pemerintah daerah, diharapkan TN Zamrud yang berada di Kab. Siak menjadi salah satu destinasi ekowisata di Prov. Riau. Kesepakatan Bersama ini nantinya akan ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak dengan Perjanjian Kerja Sama. Semoga dengan pembangunan sarana pra sarana wisata dan pemberdayaan masyarakat tempatan yang tercantum dalam kesepakatan bersama ini, akan bermanfaat untuk penguatan fungsi kawasan TN Zamrud, dan tentunya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitarnya ya kawan kawan...... Salam lestari!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kunjungan Kerja Menteri LHK ke Taman Nasional Bali Barat

Labuan Lalang, 12 Oktober 2019. Disela - Sela kunjungan kerja Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MENLHK), Dr. Siti Nurbaya, M.Sc ke Bali, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Dua lokasi yang dikunjungi Ibu Menteri adalah di Unit Pengelolaan Khusus Burung Jalak Bali (UPKPJB) Tegal Bunder dan di kandang habituasi Curik Bali di Labuan Lalang. Ibu Menteri didampingi Bapak Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Ir. Wiratno, M.Sc, Bapak Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) Prof Dr. Ir. Sigit Hardwinarto, M.Agr., Plt. Inspektur Jenderal Kemenlhk, Staf Ahli Menteri (SAM) LHK, Tenaga Ahli Menteri (TAM) LHK, dan pejabat lingkup Kementerian LHK pusat dan Provinsi Bali. Rombongan mengawali kunjungan di UPKPJB, selain melakukan wawancara terkait penanganan pengembangbiakan Curik Bali, juga melihat pemasangan cincin pada kaki burung curik Bali yang baru disapih dari induknya. Selanjutnya ke kandang habituasi Labuan Lalang, Ibu Menteri beserta Dirjen KSDAE, Dirjen PKTL, SAM Dan TAM melepasliarkan 14 ekor burung Curik Bali di Labuan Lalang. Ibu Menteri menyampaikan ucapan terimakasih atas kerja keras dan semangat petugas ditingkat tapak sehingga burung endemik ini dapat meningkat populasinya. Selain itu juga secara simbolis melaksanakan penyerahan Nesting Box (Kotak Sarang) burung Curik Bali yang selanjutnya akan di pasang di pohon yang menjadi sarang di site pelepasliaran. Kunjungan kerja Ibu Menteri LHK, menjadi pendorong giat bekerja dan bekerja lebih semangat bagi petugas TNBB untk pelestarian curik Bali. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Kunjunga Gubernur Riau, Deputi BRG dan Rombongan di Kec. Bukit Batu, Bandar Laksmana, Kab. Bengkalis

Pekanbaru, 11 Oktober 2019 di pagi yang cerah anggota Resort Bukit Batu, Bidang KSDA Wil.2 Balai Besar KSDA Riau dan beberapa pejabat Pemda Bengkalis mendampingi rombongan Gubernur Riau, bapak Syamsuar dan Deputi BRG, bapak Harris meninjau Desa Dompas, Sukajadi, Temiang, Sepahat, Tanjung Leban, Kec. Bukit Batu, Bandar Laksmana Kab. Bengkalis. Rombongan melihat langsung tanaman hutan dan produksi nenas di Desa Dompas, melihat hutan mangrove, meresmikan sentra pembibitan tanaman hutan BRG yang berasal dari SM. Bukit Batu dan berdiskusi dengan masyarakat tentang pengelolaan kawasan hutan yang lestari. Perjalaman dilanjutkan dengan meninjau hutan masyarakat dan posko karhutla MPA di Desa Tanjung Leban, Kec. Bandar Laksmana. Tak lupa rombongan mengunjungi makam Datuk Lakmana Raja di Laut di Desa Sukajadi, Kec. Bukit Batu. Kunjungan berlangsung penuh keakraban sehingga tanpa terasa waktu berjalan hingga menjelang matahari terbenam. Semoga upaya kita bersama untuk membuat Riau lebih hijau dapat terlaksana ya kawan.... Salam lestari!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mbah Mulyono, Penjaga Batas SM. Bukit Batu

Pekanbaru, 11 Oktober 2019. Mbah Mulyono Beliau lahir 63 tahun yang lalu di Sumatera Utara. Sejarah kelam hidup di perantauan sudah banyak beliau lewati...., kini memilih hidup di sebuah pondok kerja ...kurang lebih 600 meter dari batas kawasan SM. Bukit Batu.... Belum lama...., belum sampai 5 tahun di pondok itu. Namun banyak cerita yang ku dapat dari beliau.... Tentang Datuk Belang yang minum di pondoknya...., tentang Datuk Belang yang obesitas...., aaacchhh... ada-ada saja Mbah Mulyono.... tapi nyata... bahwa beliau adalah sahabat petugas kita di lapangan.... Dengan ramah akan melapor saat ada kehadiran Datuk Belang.... atau berhasil mengusir para petualang liar penangkap satwa di kawasan..... Terimakasih Mbah Mulyono.... Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Mengelola Bersama Taman Nasional Kerinci Seblat

Senin, 14 Oktober 2019 - Taman Nasional Kerinci Seblat menyediakan habitat bagi tumbuhan dan satwa penting, antara lain harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis), kelinci sumatera (Nesolagus netscheri), tapir asia (Tapirus indicus), padma raksasa Rafflesia arnoldii, dan cemara sumatera Taxus sumatrana, selain menyimpan sumber air untuk kebutuhan kehidupan mahluk hidup. Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menjadi salah satu dari tiga taman nasional yang masuk dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) sejak 2004 bersama dengan Taman Nasional Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Ketiga kawasan tersebut menjadi bagian dari Warisan Alam Dunia (World Heritage Site) selain Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, dan Taman Nasional Lorentz TNKS memiliki luas hampir 1.4 juta hektar dan berada di empat provinsi yaitu di Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatara Selatan. Kawasan ini memerlukan pengelolaan dalam melindungi keberadaan keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi. Menurut Tamen Sitorus Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat bahwa dalam proses pengelolaan, diperlukan kerjasama multipihak antara lain dengan masyarakat sekitar kawasan, lembaga adat, pemerintah lokal, LSM lokal dan internasional, serta perguruan tinggi. “Selama ini kami berkolaborasi dalam mengelola kawasan TNKS. Kondisi saat ini, di antaranya sudah tersedia data mengenai jumlah harimau dari tahun 2014 hingga 2018, informasi perburuan dan perdagangan Tumbuhan dan Satwa Lindung (TSL), perhitungan laju deforestasi hutan, dan pendataan jenis satwa dan tumbuhan penting lainnya,” jelas Tamen. Untuk menjadikan Taman Nasional Kerinci Seblat sebagai habitat yang nyaman bagi kehidupan harimau sumatra, gajah sumatra, rangkong, raflessia, bunga bangkai dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat di tahun-tahun ke depan, maka dilakukan Konsultasi Publik Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Kerinci Seblat Periode 2020-2029 pada Kamis (3/10/2019). Keikutsertaan berbagai pihak dari Bappeda Provinsi, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Perwakilan Lembaga Adat, Perguruan Tinggi, Balai KSDA Provinsi, Balai GAKKUM, LSM lokal dan internasional, serta perusahaan swasta dapat membantu terwujudnya visi dan misi taman nasional. Perlindungan kawasan taman nasional juga tidak terlepas dari peran masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan. Ada lebih kurang 146 desa yang berada di sekitar kawasan taman nasional yang ada di Jambi, 57 desa di Sumatera Barat, 105 desa di Bengkulu, dan 34 desa di Sumatera Selatan. Menurut Amris Kahar Ketua Lembaga Adat Lekuk Lima Puluh Tumpi Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kerinci yang berjarak sekitar tiga kilometer dari kawasan taman nasional bahwa sedari nenek moyang diwariskan secara turun temurun, bahwa hutan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. “Kami dilarang untuk merusak hutan. Ada hukum adat bila melanggarnya, dan akan dibawa kepada hukum negara bila kedapatan menganggu hutan. Kami merasakan dengan tidak menganggu hutan, air masih berlimpah saat wilayah lain mengalami kekeringan,” jelas Kahar. Kahar menambahkan dengan diikutsertakannya lembaga adat dalam perencanaan pengelolaan kawasan taman nasional, masyarakat di wilayah adat juga berperan serta dalam menjaga hutan dan isinya. Peran serta pemerintah daerah juga penting dalam pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan yang ada di kawasan taman nasional. Menurut Rusman Kepala Bidang Teknis Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, bahwa taman nasional telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Bupati Kerinci mengenai Pengembangan Objek Wisata Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci pada Zona Pemanfaatan. “Perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan objek wisata, serta mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi daerah Kabupaten Kerinci melalui pengembangan pariwisata alam,” jelas Rusman. Rusman menambahkan bahwa diharapkan selama rencana pengelolaan pada sepuluh tahun kedepan, kawasan TNKS menjadi lebih baik sehingga dapat mempertahankan dan mengembangkan potensi yang ada di dalam kawasan, sehingga mendukung kelestarian ekosistem TNKS. Sumber: Fransisca Noni (Peneliti Fauna & Flora International) Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat

Menampilkan 4.737–4.752 dari 11.140 publikasi