Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai TN Kepulauan Togean Gelar Serah Terima Jabatan dan Alih Tugas Pegawai

Ampana, 17 Oktober 2019. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean mengadakan kegiatan serah terima jabatan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (KSPTN) Wil. I Wakai dan SPTN Wil. II Lebiti serta perpisahan alih tugas pegawai atas nama Mega Putri Armanesa, S.Pi, M.I.L dan Ardiyansyah Putra, A.Md. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2019, bertempat di aula kantor Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dipimpin langsung oleh Ir. Bustang selaku Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dan dihadiri oleh Kasubbag TU, KSPTN Wil. III Popolii, ASN Lingkup Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, Kepala KPH Sivia Patuju serta Perwita Balai Taman Nasional Kepulaun Togean. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars Rimbawan yang dilanjutkan dengan kesan dan pesan dari KSPTN Wil. I Wakai Iksan Tengkow, SH, KSPTN Wil. II Lebiti Mustaming Syahrul dan pegawai yang akan alih tugas serta dilanjutkan dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan. Kepala SPTN Wil. I Wakai yang sebelumnya dijabat oleh Iksan Tengkow, SH digantikan oleh Suhabrianto Tondau, S.Hut. Mustaming Syahrul selaku Kepala SPTN Wil. II Lebiti yang lama digantikan oleh Irvan Dali, S.Hut., M.Si. Adapun Suhabrianto Tondau, S.Hut sebelumnya menjabat sebagai fungsional PEH Pertama di SPTN Wil. II Lebiti dan Irvan Dali, S.Hut., M.Si sebelumnya menjabat sebagai fungsional PEH Muda di SPTN Wil. III Popolii. Sementara itu, Mega Putri Armanesa, S.Pi, M.I.L akan alih tugas ke Balai Taman Nasional Berbak Sembilang dan Ardiyansyah Putra, A.Md. akan alih tugas ke Balai Taman Nasional Bukit Dua Belas, dalam sambutannya Ir. Bustang menyampaikan bahwa selamat bertugas ditempat yang baru, tetap semangat serta tetap menjadi dan berbuat yang terbaik di tempat bertugas selanjutnya, serta kepada pejabat baru yang terpilih agar dapat mengemban dan menjalankan amanah yang telah diberikan dengan penuh tanggung jawab dan terus melakukan inovasi yang terbaik sehingga dapat mendukung pengelolaan Taman Nasional Kepulaun Togean. Sumber : Puteri Andrini - Calon Polhut Pertama Balai Taman Nasional
Baca Berita

Giat Pengamanan Resort Kampat

Pekanbaru,16 Oktober 2019. Di pagi nan cerah, dua anggota Resort Kampar Dino dan Yogi Pramana bergegas melakukan patroli di sekitar kawasan Cagar Alam (CA) Bukit Bungkuk yang berada di Desa Bukit Melintang, Kec. Kuok, Kab. Kampar. Dengan ramah mereka menyapa warga yang mereka jumpai disepanjang jalan disertai sedikit obrolan ringan yang berisi himbauan kepada warga sekitar hutan untuk tidak melakukan aktivitas illegal loging dan pembakaran hutan. Ketika sampai di plang batas kawasan, rumbut belukar telah menutupi plang tersebut sehingga mereka harus membersihkannya agar terlihat dan terbaca oleh masyarakat yang melewatinya. Kedua petugas Resortpun meneruskan perjalanan memasuki kawasan CA Bukit Bungkuk untuk melakukan patroli pengamanan kawasan. Semangat terus kawan kawan!!! Jaga selalu kesehatan dan utamakan keselamatan....... Balai Besar KSDA Riau Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Gali Potensi Ikan Sungai Bahau Hulu

Malinau, 16 Oktober 2019 – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) terus berupaya mengekplorasi Potensi Kehati yang ada di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Kali ini, giliran ikan-ikan di Sungai Bahau Hulu tepatnya di Resort Apau Ping Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN)Wilayah II Long Alango yang di "obok-obok". Selama hampir 2 pekan meneliti pada 12 titik dari 3 stasiun penelitian, tim ekplorasi telah mengidentifikasi sebanyak 21 spesies ikan dari 10 Family dengan total 727 individu. Sebagian besar potensi ikan pada Sungai Bahau Hulu merupakan family Cyprinidae dengan persentase 57,1 % atau 12 spesies, sementara Family Bagridae, Osphronemidae, Balitoridae, Sisoridae, Channidae, Lutjanidae, Siluridae, Mastacembelidae, dan Anguilidae masing-masing memiliki 1 spesies. Nilai Indeks Biologi menunjukan bahwa keanekaragaman spesies bernilai 1,875 – 2,602, sementara keseragamannya bernilai 0,884 – 0,907. Dominasi pun lebih mendekati angka 0 (nol) yakni berada pada nilai 0,065 – 0,172. Dengan demikian kekayaan individu dan keseragaman yang dimiliki masing-masing spesies relatif sama dan merata. Dalam status konservasi, sebanyak 1 jenis ikan termasuk dalam kategori dilindungi berdasarkan PermenLHK Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 yakni jenis Schismatorhynchos heterorhynchos atau yang dikenal masyarakat lokal dengan nama Ikan Pasa. Selain itu, ikan Kuyut (Bagrius yarrelli) dari Family Sisoridae masuk dalam kategori Near Threatened (NT) berdasarkan data IUCN Red List yang berarti mendekati terancam punah. Eksistensi sungai Bahau Hulu yang menyimpan tingginya potensi ikan tak terlepas dari peranan masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Kearifan lokal dalam memanfaatkan potensi ikan serta dan menjaga kualitas sungai. Dengan tetap memperhatikan aspek konservasi, potensi ini dapat menjadi sumber peningkatan ekonomi masyarakat dan mendorong ekowisata aquatik. Sumber : Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Long Alango Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Empat Kemitraan Konservasi TN Kelimutu Sudah Diverifikasi

Ende, 17 Oktober 2019. Danau Kelimutu dan Desa Adat Wologai mendapat kunjungan dari rombongan Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS), Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL) bersama Tim Verifikasi Teknis Perhutanan Sosial dan Tim kreatif yang melibatkan artis Nugie, Tanita (youtuber millenial) dan Mbak Nina, pada hari Selasa (15/10/2019). Rombongan juga melakukan kegiatan sosialisasi di Hotel Grand Wisata, Ende yang diikuti oleh seluruh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) dan beberapa LSM pendamping di Flores. Khusus di Taman Nasional Kelimutu telah diusulkan dan sudah diverifikasi sebanyak empat Kemitraan Konservasi yaitu Kelompok Adat Saga, Kelompok Adat Niowula, Sentra Penyuluh Kehutanan Pedesaan Wologai dan Kelompok Tani Rimbawan Nduaria. Sore harinya rombongan (16/10) tim kreatif melanjutkan perjalanan menuju Riung Kabupaten Ngada sementara tim verifikasi teknis menindaklanjuti verifikasi di beberapa area calon perhutanan sosial lainnya. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

“Penyuluh BKSDA Jakarta melalui Program Kelas Konservasi Kenalkan Satwa Dilindungi kepada Guru-Guru”

Jakarta, 16 Oktober 2019. Bertempat di Taman Mini Indonesia Indah, BKSDA Jakarta menyelenggarakan kegiatan kelas konservasi bagi Kelompok Edukasi kawasan konservasi satwa, tumbuhan lingkungan (EKSATLI). Kegiatan yang diikuti 20 orang yang berasal dari Guru-Guru Sekolah di wilayah Jakarta ini mengikuti program dengan tujuan agar guru-guru tersebut mengenal tentang Lembaga konservasi (LK) TMII yang menjadi binaan BKSDA Jakarta dan program yang dilaksanakan oleh LK TMII, serta memperkenalkan beberapa jenis reptil dan burung yang dilindungi. Sri Mulyani, penyuluh Balai KSDA Jakarta menyampaikan bahwa dari kegiatan ini dapat tumbuh kesadaran dan pengetahuan mengenai pengelolaan satwa liar yang selama ini telah dilakukan. “Kami sangat berharap para Guru yang kami ajak bisa menyampaikan pengetahuan ini kepada anak didiknya dan bahkan kepada lingkungan sekitar mereka” imbuh ibu 1 orang anak ini. Narasumber dalam kegiatan ini adalah drh. M. Piter Kombo selaku Bird dan Reptil Park Manager. “Kami TMII menyambut baik program EKSATLI ini, karena program ini merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian satwa liar melalui upaya penyadartahuan” ungkap Dokter hewan Kombo. Dalam diskusi yang berkembang para peserta Eksatli berharap ada dukungan dan kerja sama dengan pihak TMII dalam memperkenalkan/ mengedukasi siswa-siswa di sekolah khususnya sekolah tempat para peserta kegiatan ini mengajar. Salah satu peserta yaitu pak Sutrisno yang berasal dari sekolah SDN Kampung Rawa 01 menyampaikan dengan antusias “ kegiatan seperti ini harus dirutinkan, dan harus menjangkau sekolah dan guru yang lebih luas lagi”. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan dan pengamatan satwa dan burung di Taman Reptil dan Taman Burung. EKSATLI sendiri merupakan kependekan dari kelompok Edukasi kawasan konservasi, satwa, tumbuhan, dan lingkungan yang merupakan kelompok binaan BKSDA Jakarta yang beranggotakan guru/pengajar dan mahasiswa. Kelompok ini dibentuk pada akhir tahun 2018 dan memiliki program rutin berupa Sambang Sekolah. Sumber: Richard M Sirait (Penyuluh Kehutanan BKSDA Jakarta)
Baca Berita

Jecky Kini Harus Terpisah dari yang Disayangi

Pekanbaru, 17 Oktober 2019. Jecky, seekor Siamang (Symphalangus syndactylus) jantan, berumur sekitar 6 tahun, Senin, 14 Oktober 2019 telah diserahkan oleh pengasuhnya Agus Salim Batubara ke klinik satwa Balai Besar KSDA Riau dan diterima oleh Surono, seorang perawat satwa di klinik tersebut. Warga, Bukit Barisan Tangkerang, Pekanbaru ini menyerahkan Jecky secara sukarela setelah mengetahui bahwa Siamang yang telah dipeliharanya sejak kecil adalah merupakan salah satu satwa yang dilindungi. Walaupun dia sangat menyayangi Jecky, namun dengan berat hati dia harus melepaskan Jecky yang selalu bergelayut manja dalam gendongan tuannya.... Saat ini Jecky berada di kandang transit satwa untuk diobservasi sebelum dilakukan tindakan konservasi selanjutnya demi kelestariannya. Salam konservasi!!! Salam lestari!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

FGD Desain Tapak Dolok Tinggi Raja

Dolok Tinggi Raja, 17 Oktober 2019. Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja pada awalnya merupakan bagian dari CA Dolok Tinggi Raja, yang diubah sebagian fungsinya menjadi TWA dengan pertimbangan bentang alam yang unik dan menarik untuk dijadikan obyek wisata alam. Sebagian kawasan CA. Dolok Tinggi Raja ini kemudian ditetapkan menjadi Taman Wisata Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.397/Menlhk/Setjen/ Pla.2/9/2018 tanggal 18 September 2018 tentang Perubahan Fungsi Dalam Cagar Alam Dolok Tinggi Raja Menjadi Taman Wisata Alam di Ka bupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Seluas ± 60,94 Ha. Sejalan dengan pengelolaan kawasan di tingkat tapak, diperlukan perencanaan pengelolaan kawasan yang terintegrasi, mengingat kawasan TWA Dolok Tinggi Raja yang berbatasan langsung dengan CA Dolok Tinggi Raja masih memiliki ekosistem rentan dan muda, yang perlu dijaga kelestarian dan keberadaannya. Setelah dokumen Blok Pengelolaan kawasan disusun, langkah selanjutnya perlu segera menyusun pembagian ruang pada kawasan Dolok Tinggi Raja untuk tujuan pemanfaatan pariwisata di dalam kawasan TWA Dolok Tinggi Raja. Untuk menampung masukan dan saran dari masyarakat sekitar kawasan Dolok Tinggi Raja dalam penyusunan dokumen rencana pengelolaan dan Desain Tapak kawasan, pada Selasa 15 Oktober 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan Fokus Grup Diskusi (FGD) di Nagori (Desa) Dolok Marawa. Acara ini dihadiri oleh Kepala Desa/Pangulu dan masyarakat dari 4 Desa / Nagori yang berkepentingan langsung dengan Dolok Tinggi Raja. Dalam FGD terungkap adanya keinginan masyarakat untuk membuka usaha perorangan seperti warung makan, jual suvenir dan pemandu wisata guna mendukung kegiatan wisata di TWA Dolok Tinggi Raja, selain dari pengelolaan bersama melalui Badan Usaha Milik Desa. Masyarakat dari 4 desa/nagori tersebut mengharapkan agar kawasan TWA Dolok Tinggi Raja yang memberi manfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan, mendapat dukungan dari instansi pemerintah terkait baik di daerah maupun di pusat. Sekalipun TWA Dolok Tinggi Raja hanya melingkupi wilayah administratif 1 nagori, namun 3 nagori lainnya juga berperan penting dalam mendukung kegiatan wisata di TWA Dolok Tinggi Raja. Segala masukan dan usulan masyarakat sekitar untuk difasilitasi kepada Pemerintah Kabupaten Simalungun, terutama terkait dengan keinginan dalam pengelolaan pariwisata alam Dolok Tinggi Raja, menjadi catatan penting bagi tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara sebagai bahan Konsultasi Publik yang direncanakan akan dilaksanakan pada Bulan November 2019. Sumber : Edina Ginting - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Suasana diskusi saat FGD berlangsung
Baca Berita

Penyelamatan Gajah yang Terjerat di Desa Lubuk Umbut

Pekanbaru,15 Oktober 2019. Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau mendapat laporan dari masyarakat bahwa telah ditemukan seekor Gajah (Elephas maximus) yang terjerat nilon di Distrik Melibur, Desa Lubuk Umbut Kec. Sungai Mandau, Kab. Siak. Tanpa menunggu waktu, Balai Besar KSDA Riau segera menurunkan Tim Rescue ke lokasi. Informasi yang di dapatkan Gajah sedang berendam di sungai dan sudah ditinggalkan kelompoknya. Masyarakat membantu dengan mengawasi posisi satwa tersebut agar selalu terpantau. Sesampainya di lokasi yang merupakan konsesi PT. Arara Abadi, Tim segera melakukan pelepasan jerat yang kuat mengikat Gajah berjenis kelamin jantan, berumur sekitar 1 tahun tersebut. Pelepasan jerat selesai dilakukan sekitar jam 6 sore. Dikarenakan kondisi Gajah yang mulai melemah dengan luka jerat parah, maka Tim memutuskan untuk dilakukan tindakan medis darurat di lokasi. Mengingat usianya yang masih tergolong sangat muda dengan daya survive yang masih sangat rendah, maka Gajah tersebut akan menjalani perawatan/pemulihan intensif di Pusat Latihan Gajah ( PLG) Riau di Minas. Saat ini, upaya evakuasi masih dilakukan dengan pengawalan 2 Gajah jinak Bankin dan Indah. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Elang Perut Karat Akhirnya Kembali Bebas

Jumat, 11 Oktober 2019. Berlokasi di Danau Tolire, Ternate, Seksi Konservasi Wilayah I Ternate telah melakukan pelepasliaran satu ekor Elang Perut Karat (Lophotriorchis kienerii). Pelepasliaran dilakukan oleh Kepala SKW I Ternate, didampingi oleh personil SKW I Ternate serta Mehd Halaouate dari World Parrot Trust. Satwa tersebut merupakan hasil penyerahan dari masyarakat, yang diserahkan di Kantor SKW I Ternate. Selama kurang lebih 2 minggu untuk di observasi oleh dokter hewan dan menjalani masa karantina. Selamat kembali bebas Bento! Sumber : Balai KSDA Maluku Burung Elang Perut Karat akhirnya kembali bebas di alam. Video: Istimewa
Baca Berita

Menggali Potensi Data Burung Melalui Event Birdwatching Competition

Boyolali, 17 Oktober 2019. Lomba pengamatan burung yang diberi nama Lawu Birdwatching Competition 2019 (LBC) diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi “BIOSFER” FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS ), kelompok Studi Kepak Sayap UNS dan Balai Tahura KGPAA Mangkunagoro I pada tanggal 11 – 13 Oktober 2019 di kawasan tahura tersebut. Ada 3 kriteria burung yang dapat dijadikan sebagai objek daya tarik avitourism (birdwatching). Pertama adalah burung endemik yaitu burung yang persebaranya terbatas dalam suatu tempat sehingga kecenderungan wisatawan asing dan luar daerah tertarik untuk melihat burung tersebut. Kedua adalah burung migran (melakukan migrasi antar benua/negara) merupakan ‘satwa milik bersama’ dari wilayah yang dilalui burung selama hidupnya yang merupakan lintas negara. Ketiga adalah burung berstatus konservasi tinggi yaitu yang dilindungi oleh otoritas terkait (Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999, Peraturan Menteri LHK No. 92 Tahun 2018, RedList IUCN dan Appendix CITES). Namun dari segi daya tarik, burung langka terkadang menarik bagi turis untuk mencari tahu, karena jarang ditemukan. Wisata pengamatan burung memiliki tantangan dan nilai konservasi cukup tinggi bagi kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) maupun masyarakat sekitar hutan. Kegiatan birdwatching sangat potensial dilaksanakan di kawasanTNGMb yang didukung oleh potensi satwa burung cukup tinggi (terdiri atas 81 jenis kedalam 27 famili) dan sebagian besar memenuhi 3 kriteria sebagai objek daya tarik avitourism (birdwatching). Selengkapnya : Menggali Potensi Data Burung Melalui Event Birdwatching Sumber : Jarot Wahyudi, S.Hut, M.URP - Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Tingkatkan Kualitas SDM Pemandu, TNKS dan APGI mengadakan Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Wisata Gunung.

Sungai Penuh,14 Oktober 2019. bertempat di Aula Pemerintah Kabupaten Kerinci, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) bekerjasama dengan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), mengadakan Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata Gunung. Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari dan Hibah Luar Negeri (HLN) proyek "Forest Programme II (REDD +)". Dalam laporannya, Rahman Mukhlis, selaku Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat APGI, menjelaskan bahwa program ini dapat terlaksana atas kerjasama BBTNKS dengan APGI. Kegiatan pelatihan dan sertifikasi ini merupakan bagian dari program pendidikan non formal untuk para pemandu gunung di Indonesia. Dalam kurun waktu 3 tahun sejak didirikan pada tahun 2016, APGI telah melakukan berbagai langkah agar profesi pemandu gunung Indonesia menjadi profesional, beberapa langkah tersebut telah berhasil dilakukan melalui program pelatihan dan sertifikasi berbasis kompetensi sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) kepada 1.004 pemandu gunung yang telah tersebar pada 22 Provinsi di Indonesia. Untuk kegiatan kali ini diikuti oleh 30 peserta dari berbagai wilayah di kawasan TNKS. Kegiatan ini dilaksanakan selama 6 hari, tanggal 14-19 Oktober 2019 yang terdiri dari rangkaian materi kelas selama 2 hari, aplikasi lapangan 2 hari , bimbingan teknis 1 hari dan uji kompetensi 1 hari. Untuk materi kelas diadakan di Aula Kabupaten Kerinci dan aplikasi lapangan di rute trekking Danau Gunung Tujuh. Sementara itu, pihak Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, yang diwakili oleh Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Bapak Adrinaldi Adnan dalam sambutannya menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen dan tanggung jawab BBTNKS dalam menyiapkan SDM pemandu dan meningkatkan kualitas layanan wisata di kawasan TNKS. Seperti diketahui bahwa BBTNKS sudah memiliki SOP bahwa untuk wisata pendakian gunung harus didampingi pemandu yang kompeten, oleh karena itu ketersediaan SDM Pemandu yang kompeten menjadi hal yang sangat penting. Pada tahun lalu, kawasan TNKS sudah memiliki 50 orang pemandu yang sudah tersertifikasi dan tahun ini kita fasilitasi lagi sebanyak 30 orang, semoga dengan pelatihan dan sertifikasi ini BBTNKS semakin siap melayani kebutuhan wisata yang aman dan nyaman. Program Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Pemandu Gunung ini dibuka secara resmi oleh Sekda Kabupaten Kerinci, Bapak Ir. Gusdinul Gazam, dengan memberikan penyematan atribut pelatihan kepada salah satu peserta. Dalam sambutannya, beliau mengatakan sangat mendukung program ini, karena sangat bermanfaat sebagai bekal dasar kepada para pemandu gunung agar kompeten dan profesional, hal ini sejalan dengan program Kabupaten Kerinci yang menjadikan sektor pariwisata menjadi sektor prioritas dengan Gunung Kerinci sebagai destinasi utamanya. Semoga seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik sampai selesai dan dapat dinyatakan lulus kompeten sebagai pemandu gunung profesional. Sumber: 1. Kasie Pemanfaatan dan Pelayanan BBTNKS 2. Humas BBTNKS
Baca Berita

Kababes Pimpin Serah Terima Jabatan Pengawas Lingkup BBKSDA Jatim

Sidoarjo, 16 Oktober 2019. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Dr. Nandang Prihadi, S. Hut., M.Sc. memimpin langsung kegiatan Serah Terima Jabatan Pengawas (Pejabat Struktural Eselon IV) dan Pisah Sambut lingkup BBKSDA Jatim. Kegiatan tersebut berlangsung di D’Bandara Resto, Jalan Bandara Juanda, Sidoarjo, Kamis (15/10/2019). Pada acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tersebut, juga dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan. Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama yang sebelumnya dijabat oleh Th. Patty Novianti, S.P., M.Vet. digantikan oleh I Ketut Diarta Putra, S.Si. Sebelumnya I Ketut Diarta menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan dan Kehumasan Pada Bagian Tata Usaha, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua. Sedangkan Th. Patty Novianti selanjutnya akan menempati jabatan baru sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha Pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta. Selanjutnya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Pamekasan yang dijabat Joko Widodo, S.H., M.Hum., digantikan oleh Sumpena, S.P., yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi. Sedangkan Joko Widodo akan menempati tempat kerja baru sebagai Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Pada Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Untuk Posisi Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi yang dijabat Sumpena S.P., digantikan oleh Purwantono, S.Hut, M.P yang sebelumnya menjabat Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Sementara itu, Vivi Primayanti, S.H. yang sebelumnya menjabat sebagai Polisi Kehutanan Penyelia Pada Seksi Konservasi Wilayah V promosi menjadi Kepala Sub Bagian Tata Usaha Pada Balai Taman Nasional Alas Purwo. Kepada pejabat yang pindah tugas keluar BBKSDA Jatim, Nandang mengucapkan selamat melaksanakan tugas di tempat yang baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan tantangan yang baru. “Kepada pejabat baru, saya ucapkan selamat bergabung, dan segera bersiap dengan suasana kerja seperti balapan formula one,” imbuhnya. Dalam kesempatan yang sama juga disampaikan kepada 8 pegawai yang menerima Satya Lancana Karya Satya XX tahun dan 2 pegawai penerima Satya Lancana Karya Satya X tahun. Serta pelepasan pegawai purna tugas kepada Sigit Sucahyadi. Sumber: Penulis dan foto Agus Irwanto
Baca Berita

Patroli Fungsional sebagai Upaya Preventif Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu

Jakarta, 16 Oktober 2019. Pada tanggal 10 s.d. 13 Oktober 2019 Polhut TN Kepulauan Seribu dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I, II dan III sebanyak 9 orang melakukan kegiatan Patroli Fungsional di wilayah SPTN Wilayah I Pulau Kelapa, dengan target pelaksanaan antara lain : kegiatan reklamasi, penambangan pasir laut dan batu karang serta aktivitas lain yang dapat menggangu keutuhan dan kelestarian ekosistem Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatan Patroli Fungsional merupakan salah satu strategi dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan yang besifat preventif sebagai upaya pencegahan terjadinya tindak pidana perusakan dan pelanggaran yang mungkin terjadi di wilayah Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kegiatan Patroli Fungsional kali ini dibekali perangkat teknologi berupa drone sebagai sarana dalam memetakan reklamasi yang dilakukan oleh pengelola pulau yang ada didalam kawasan. Penggunaan drone merupakan cara yang efektif guna mengatasi keterbatasan individu dalam mengawasi luasnya kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu sebesar 107.489 Ha . Hasil pelaksanaan kegiatan Patroli Fungsional kali ini diantaranya diperoleh peta luasan reklamasi yang dilakukan oleh pengelola Pulau Kayu Angin Putri, Pulau Panjang Putri dan Pulau Matahari. Selain kegiatan reklamasi, ditemukan juga pelanggaran terhadap area zona inti I di perairan Gosong Rengat sebelah Timur yang dilakukan oleh nelayan dari Tanjung Pasir Tangerang, dengan nama kapal KM . BENGGALI yang dinahkodai oleh Usman Suhanta dengan 4 orang ABK dan 6 orang tamu yang sedang melakukan kegiatan memancing. Kegiatan menangkap ikan dilarang dilakukan di zona inti sehingga petugas kemudian melakukan pemeriksaan muatan kapal, pendataan dan peringatan agar tidak melakukan kegiatan menangkap ikan di zona inti.Hasil pemeriksaan muatan kapal ditemukan satu ekor ikan kuwe/ Giant Travelly seberat 5 kg dan pemeriksaan alat tangkap berupa 6 buah joran pancing. Selain itu, tim Patroli Fungsional melakukan pembinaan dan pemeriksaan terhadap nelayan yang berasal dari luar kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, yaitu dari Madura yang melakukan pengambilan biota laut berupa teripang di sebelah Timur Pulau Melintang dengan nama kapal KM. BINTANG PURNAMA yang dinahkodai oleh Sahabu yang beralamat di Dusun Banlindur, Desa Ketupat Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep Madura, ditemukan biota laut berupa teripang kering dari jenis campuran. Berdasarkan keterangan nahkoda kapal, teripang tersebut akan dijual ke industri kosmetik dan medis dengan harga pasaran Rp. 250.000 – Rp. 3.000.000 *(mohon ditambahkan apakah ini harganya per kg ato per berapa?)*. Selain itu, ditemukan pula 2 ekor udang lobster dengan ukuran badan 20 cm dan 45 cm yang didapat dari perairan Pulau Semut. Tim kemudian membeli 2 (dua) ekor lobster dari nelayan untuk dimasukkan kedalam kolam biota laut di perairan Pulau Kelapa dua sebagai objek dan daya tarik wisata edukasi bagi pengunjung. Pada setiap nelayan yang ditemui dilakukan penjelasan mengenai aturan di kawasan Taman Nasional Kepulauan seribu dan lokasi zona inti taman nasional. Semoga dengan adanya kegiatan Patroli Fungsional yang dilakukan oleh Polisi Kehutanan sebagai upaya perlindungan dan pengamanan ekosistem di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, oknum masyarakat yang akan melakukan perusakan dapat mengurungkan niatnya dan menyadari arti penting menjaga kelestarian alam sebagai warisan yang berkelanjutan bagi anak cucunya kelak. Sumber: M. Firdiansyah, Polisi Kehutabanan pada Balai TN Kepulauan Seribu
Baca Berita

Proses Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Biawak Komodo

Kupang, 16 Oktober 2019—Pada tanggal 15 Oktober 2019 Balai Besar KSDA NTT bersama dengan Yayasan Komodo Survival Program (KSP) dan PILI melaksanakan pembahasan Proses Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Biawak Komodo (Varanus komodoensis). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT, Balai TN Komodo, Balai Penelitian dan Pengembangan LHK Kupang, Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XIV, Universitas Nusa Cendana, Staf Khusus Gubernur Provinsi NTT, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar, dan WCS-IP. Kegiatan tersebut dilatarbelakangi bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya dengan keanekaragaman hayati, termasuk spesies dari kelompok reptil. Salah satunya adalah biawak komodo (Varanus komodoensis), reptil endemik Nusa Tenggara (Sunda Kecil). Biawak komodo merupakan spesies terancam punah karena populasinya diperkirakan tidak melebihi 5.000 ekor sehingga masuk dalam daftar merah IUCN (International Union for conservation of Nature) dengan kategori rentan (Vulnerable). Biawak komodo juga ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi di Indonesia. Kadal terbesar yang habitatnya hanya terdapat di lima pulau di Indonesia bagian timur. Empat pulau terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu: pulau Komodo, Rinca, Nusa Kode (Gili Dasami) dan Gili Motang. Pulau yang terakhir sekaligus merupakan pulau yang terbesar yaitu Flores. Di Flores terdapat tiga kawasan Cagar alam yang didalamnya masih terdapat populasi biawak komodo, yaitu Wae Wuul, Wolo Tado, dan Riung. Berdasarkan kajian yang terbaru, sebaran biawak komodo di Flores menunjukan bahwa sekitar 90% populasi dan wilayah sebarannya berada di luar kawasan konservasi. Habitat biawak komodo yang sangat terbatas masih mendapatkan ancaman dari kegiatan pengembangan wilayah. Bentuk ancaman lainnya adalah perburuan mangsa rusa yang berlebihan, pembakaran dan alih fungsi lahan, serta kompetisi dengan anjing liar yang diintroduksi oleh manusia. Hal-hal ini menyebabkan populasi komodo menurun dan terpojokkan, sehingga konflik antara manusia dengan biawak komodo yang memakan hewan ternak tidak dapat terhindarkan. Tekanan tersebut berdampak pada populasi komodo pada wilayah persebarannya. Hal ini mendesak untuk segera terbangun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Biawak Komodo. Penyusunan dokumen SRAK biawak komodo ini ditujukan untuk mengintegrasikan seluruh kegiatan penelitian dan konservasi biawak komodo yang akan dilakukan oleh pemangku kepentingan sehingga dapat terlaksana secara terpadu dan berkontribusi terhadap peningkatan populasi biawak komodo di alam. Selanjutnya Dokumen SRAK ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (SK MenLHK) dan akan diadopsi ke dalam rencana kerja UPT-UPT di lingkup KLHK serta pemerintah daerah di mana wilayahnya merupakan sebaran habitat biawak komodo. Sedangkan untuk menjaga kelestarian satwa biawak komodo di luar kawasan konservasi perlu adanya Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). KEE merupakan Kawasan yang dikelola dengan prinsip-prinsip konservasi. KEE dapat berupa ekosistem lahan basah, koridor hidupan liar, areal bernilai konservasi tinggi dan taman keanekaragaman hayati. Tahapan perencanaan KEE diawali dari kegiatan inventarisasi dan identifikasi, pembentukan forum kolaborasi, pengusulan dan penetapan. Areal yang menjadi cakupan dalam SRAK Biawak Komodo 2020-2030 yang diluar kawasan konservasi perlu diakomodir melalui penetapan KEE. Untuk itu dalam rapat penyusunan SRAK biawak komodo, disepakati usulan tim penyusunan SRAK biawak komodo 2020-2030 melalui penetapan oleh Direktorat Jenderal KSDAE serta usulan Tim pra kondisi penilaian dan pengusulan KEE di pulau Flores melalui penetapan dinas LHK Provinsi NTT. Keluaran dari pelaksanaan kegiatan sebagai berikut: Sumber: Kehumasan BBKSDA NTT
Baca Berita

Balai Besar KSDA NTT Menuju Festival Menipo 2019

Kupang, 15 Oktober 2019. Pada Senin (14 Oktober 2019), Balai Besar KSDA NTT melangsungkan audiensi dengan para jurnalis untuk menyampaikan informasi mengenai Festival Menipo 2019, yang merupakan bagian dari Role Model Pengembangan Ekowisata TWA Menipo Berbasis Tiga Pilar (adat, agama dan pemerintah). Di depan para rekan media, Kepala Balai Besar KSDA NTT (Ir. Timbul Batubara, M.Si) menyampaikan bahwa guna meningkatkan pengelolaan TWA Menipo, pada tahun 2019 ini Balai Besar KSDA NTT melaksanakan Pengembangan Ekowisata TWA Menipo Berbasis Tiga Pilar (adat, agama dan pemerintah). Tujuan Role Model ini adalah untuk menggugah kesadaran sikap, perilaku dan partisipasi masyarakat serta peran kelompok adat, agama dan pemerintah dalam peningkatan pengelolaan ekowisata di TWA Menipo dengan dilengkapi sarana dan prasarana pendukung sehingga berdampak pada adanya kunjungan wisata domestik maupun asing yang berkunjung ke TWA Menipo secara berkesinambungan. Pengembangan ekowisata ini berbasis tiga pilar, artinya dalam peranan/tindakan, SOP dan sumber dayanya berasal dari tiga pilar. Kelompok adat berperan dengan mengeluarkan aturan adat yang mendukung pengelolaan ekowisata TWA Menipo. Pemerintah desa Enoraen telah memberikan dukungan pengembangan ekowisata dengan pembangunan pondok wisata yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Dukungan dari kelompok agama adalah dukungan secara keimanan yang akan terus mengingatkan untuk melestarikan TWA Menipo sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan. Salah satu implementasinya adalah pada akhir bulan Oktober ini rencananya akan dibentuk “keluarga ekologis”. Keluarga ekologis ini bertujuan sebagai wadah bagi kelompok agama di Menipo dalam berperan melestarikan TWA Menipo melalui berbagai aksi konservasi dalam rangkaian ibadah. Pada Bulan Oktober ini juga akan diadakan pertemuan SKPD terkait di Pulau Menipo untuk membahas mengenai peranan berbagai stakeholder dalam pengembangan ekowisata di Menipo. Puncak acara dari role model ini adalah akan digelarnya Festival Menipo yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, sikap, perilaku dan partisipasi masyarakat serta peran kelompok tiga pilar dalam pengembangan ekowisata di Menipo. Acara tersebut akan berlangsung pada bulan November 2019, yang rangkaian kegiatannya telah dimulai sebelumnya dengan pelaksanaan agenda, yaitu : Taman Wisata Alam (TWA) Menipo-Kabupaten Kupang memiliki luas 2.449,50 hektar, persisnya berlokasi di tepi timur bagian selatan wilayah Kabupaten Kupang. Jaraknya dari Kota Kupang sekitar 119 km bila melalui jalur Oesao-Oekabiti-Ponain-Tesbatan-Bikoen atau 124 km bila melewati Batuputih di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pada wilayah utara Pulau Menipo merupakan pulau utama, yaitu Pulau Timor, yang secara administratif merupakan bagian dari wilayah Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang. Sebelum menjadi TWA, status Menipo ditunjuk sebagai suaka margasatwa (SM) dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 749/Kpts/Um/12/1997 tanggal 30 Desember 1977. Penunjukkan ini dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa wilayah Menipo merupakan habitat satwa liar seperti: rusa, dara laut, angsa laut, dll. TWA Menipo merupakan miniatur ekosistem yang ada di Pulau Timor yang meliputi beberapa ekosistem, yaitu hutan Mangrove, padang savana dengan pohon lontar, pantai pendaratan penyu, habitat buaya muara dan hutan tropika kering. Sebagian wilayah merupakan pulau kecil seluas 571 hektar, dengan panjang 7328 meter dan lebar 700 meter. Wilayah ini penting secara konservasi karena merupakan habitat satwa langka yang hidup di pulau kecil yang terisolir dari daratan utama Pulau Timor dan merupakan habitat satwa dan burung-burung laut pada pasang surut. Satwa langka yang hidup di wilayah daratan pulau ini adalah kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea parvula) dan rusa timor (Rusa timorensis). Pada wilayah perairan di sekitarnya, Pulau Menipo hidup buaya muara (Crocodylus porosus) dan pada wilayah pantai merupakan nesting site dari penyu lekang (Lephidochelys olivacea), penyu sisik (Erecmohelys imbricata) dan penyu hijau (chelonia mydas). Sumber : Kehumasan BBKSDA NTT
Baca Berita

Antusias Tim TV NHK Jepang di SM Bukit Batu

PEKANBARU - 14 Oktober 2019, di kantor Resort Bukit Batu, Kec. Bandar Laksmana, Kab. Bengkalis cuaca terlihat mendung. Namun petugas Resort bersemangat karena mereka akan mengantar rombongan TV NHK Jepang melakukan pengambilan gambar untuk pembuatan film dokumenter. Tim berkumpul di Resort Bukit Batu dan memberikan penjelasan sesuai aturan yang berlaku sebelum masuk ke dalam kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) tersebut. Tak lama, Tim yang berjumlah 10 orang segera berangkat dengan menggunakan 2 unit speed boad masuk ke dalam kawasan. Kru TV NHK terlihat antusias dalam mengambil gambar kawasan hutan SM Bukit Batu. Dari awal berangkat di sungai Bukit Batu, menembus pepohonan, rawa dan tutupan hutan kawasan tersebut. Walaupun dari siang di guyur hujan deras, namun seluruh Tim terlihat cukup puas dan senang melakukan tugasnya. Mereka sangat menikmati alam rawa gambut beserta keindahannya. Untuk keamanan dan kelestarian secara umum dari kawasan konservasi selama kegiatan tim NHK jepang di kawal oleh POLHUT dan PEH BBKSDA Riau . Yuuk kita jaga kelestarian alam kita....karena Indonesia punya alam yang sangat mempesona .... Siapa lagi yang akan menjaganya kalo bukan kita kita.... Coba apa yang sudah kamu lakukan untuk tetap terjaganya paru paru dunia? Sumber: Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 4.721–4.736 dari 11.140 publikasi