Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pemantapan Giat Bina Cinta Alam dan Festival Taka Bonerate 2019

Kepulauan Selayar, 22 Oktober 2019 - Dalam rangka mensukseskan kegiatan, Tim Bina Cinta Alam Balai Taman Nasional Taka Bonerate didampingi oleh Kepala SPTN Wilayah I Tarupa Raduan berkunjung ke kantor Dinas Kepariwisataan Kab.Kepulauan Selayar guna melakukan koordinasi terkait pemantapan pelaksanaan dua event tahunan yaitu Festival Taka Bonerate dan Bina Cinta Alam. Kolaborasi kegiatan yang akan berlangsung pada tanggal 24-27 Oktober 2019 ini diharapkan akan meramaikan event wisata tahunan yang termasuk dalam kalender wisata nasional. "Dalam giat Festival Taka Bonerate ada dua kegiatan utama buat peserta yaitu menyelam dan landtour yang itenarinya sudah disusun oleh panitia festival" jelas Sri Nurnaningsih Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Kepariwisataan Kepulauan Selayar Disisi lain giat Bina Cinta Alam akan menitik beratkan pada kegiatan aksi konservasi dan pemberian materi-materi tentang lingkungan dan konservasi. Selain itu adapun giat penanaman pohon, transplantasi karang dan pelepasan tukik. "Ada beberapa materi-materi lingkungan yang akan kita sampaikan, seperti pengenalan dan penyelamatan terhadap satwa yang dilindungi, peran generasi muda dalam mencegah perdagangan satwa liar dan dilindungi serta aksi konservasi bersama peserta" jelas Faat Rudhianto kepala balai TN Taka Bonerate. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini dua event tersebut akan dilaksanakan di Pulau Latondu Taman Nasional Taka Bonerate dengan teman "Generasi Milenial Cinta Alam" Adapun materi kegiatan ini adalah sebagai berikut : Dengan Aksi Konservasi : Sumber : Asri (PEH) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Rapat Persiapan Pemantapan Kegiatan Festival Desa Penyangga Tahun 2019

Panyabungan , 21 oktober 2019 . Balai TNBG melaksanakan rapat persiapan kegiatan Festival Desa Penyangga Tahun 2019 . Dalam rangkaian rapat ini Kepala Balai TNBG memonitoring sejauh mana kesiapan panitia dalam melaksanakan kegiatan Festival ini. Kegiatan Festival ini sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 24 s.d 26 oktober 2019 di Lapangan Futsal Jl. Abri Kota Panyabungan . Festival Desa Penyangga merupakan Event Tahunan yang diselenggarakan oleh Balai TN Batang Gadis sebagai wadah promosi pengembangan ekonomi masyarakat, promosi produk unggulan , dan promosi ekowisata desa-desa penyangga TNBG. Tahun ini Balai TNBG mengusung tema “ Melestarikan Lingkungan Melalui Falsafah Poda Na lima”. Pengusungan tema ini diambil dari falsafah masyarakat Mandailing Natal yang terdiri dari 5 unsur yaitu : Paias Rohamu (Bersihkan Jiwamu), Paias Pamatangmu (Bersihkan Badanmu), Paias Parabitonmu (Bersihkan Pakaianmu), Paias Pakaranganmu (Bersihkan Lingkunganmu). Dalam Rapat ini Kepala Balai menyampaikan “ Kegiatan Festival ini merupakan kegiatan kita bersama, mari saling bekerja sama untuk menyukseskan kegiatan ini, kita persiapkan sebaik mungkin, segala bentuk kekurangan dilapangan silahkan koordinasikan ke saya , dan kita selesaikan sama-sama untuk kelancaran kegiatan ini “. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

BBKSDA Papua Berikan Wawasan Konservasi dalam Rapat Kerja III Klasis Tanah Merah

Jayapura, 22 Okrober 2019. BBKSDA Papua menghadiri Rapat Kerja III Klasis Tanah Merah Tahun 2019, yang bertempat di GKI Mispa, Kampung Yongsu Desoyo, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura pada Senin (21/10). Yongsu Desoyo merupakan salah satu kampung di daerah penyangga Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, wilayah kerja Resort Tepera Yewena Yosu. Pihak-pihak yang hadir dalam Rapat Kerja III Klasis Tanah Merah Tahun 2019 adalah delegasi Sinode, KPKC Sinode, panitia Pentakosta II Klasis, dan perwakilan 13 GKI yang tergabung di GKI Klasis Tanah Merah. Masing-masing GKI mengirimkan perwakilan masing-masing lima jemaat. Rapat Kerja tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Klasis GKI Tanah Merah Timur, Bapak Lumintang. Kehadiran tim BBKSDA Papua dalam Rapat Kerja tersebut bertujuan memberikan wawasan konservasi bagi para jemaat, khususnya mengenai Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Melalui gereja, BBKSDA Papua mengharapkan aksi-aksi nyata dalam kegiatan konservasi, seperti melindungi tumbuhan dan satwa liar, menjauhkan masyarakat dari aktivitas perambahan dan berkebun di dalam kawasan konservasi, dan secara umum menjaga kelestarian Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Pada kesempatan tersebut, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan BBKSDA Papua, Yulius Palita, S. Hut. T., menyampaikan, “Kita selaku warga jemaat yang baik dan taat akan perintah-Nya mesti mampu menjaga dan mencintai kawasan ini, dimulai dari organisasi terkecil, yaitu keluarga kita masing-masing, sampai organisasi yang besar di GKI Klasis Tanah Merah ini. Pendidikan konservasi sumber daya alam, atau pendidikan lingkungan hidup dan kehutanan sangat baik dihadirkan di gereja melalui anak-anak Sekolah Minggu dan kegiatan para pemuda. Salah satu contoh programnya dapat berbentuk Sekolah Alam.” Lebih lanjut Yulius menyampaikan bahwa pengenalan tentang konservasi alam sejak usia dini akan mampu mengubah konsep pemahaman mereka tentang kecintaan terhadap alam. Menanggapi gagasan tersebut, para peserta Rapat Kerja III GKI Klasis Tanah Merah memberikan apresiasi kepada BBKSDA Papua. KPKC Sinode menyampaikan pesan mewakili semua jemaat yang hadir, bahwa mereka berkomitmen untuk ikut ambil bagian menjadi pelaku dalam menjaga keutuhan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. “Biarlah banjir bandang yang terjadi di bulan Maret 2019 lalu menjadi pengingat untuk kita bersama, bahwasanya alam akan marah dan menangis bila kita tidak mencintai dan menjaga Pegunungan Cycloop sebagai ibu kita,” ungkap KPKC Sinode. Sementara Kepala BBKSDA Papua, Edward Sembiring, S. Hut., M. Si., menyampaikan, “Ini merupakan satu langkah yang sangat baik dalam merajut kebersamaan untuk menjaga Cycloop. Dapat dikatakan, inilah contoh sinergi tiga tungku yang kita harapkan dapat saling mendukung dalam tugas-tugas menjaga keutuhan negara dan semua sumber daya alamnya, yaitu agama, adat, dan pemerintah. Kami mewakili pemerintah hadir bersama masyarakat, kemudian para jemaat geraja yang juga bagian dari masyarakat adat turut mendukung kerja pemerintah, menjaga alam dalam praktik kehidupan sehari-hari. Saya rasa ini sangat baik, dan ke depan harus terus ditingkatkan.” (djr) Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Temukan Elang Dalam Kondisi Lemas, Mahasiswa Sanata Dharma Segera Menyerahkannya ke Balai KSDA Yogyakarta

Yogyakarta 19 Oktober 2019. Mahasiswa Sanata Dharma yang tergabung dalam kelompok Relawan Grigak, Girikarto, Panggang, Gunungkidul menyerahkan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) kepada petugas Balai KSDA Yogyakarta (14/10/19). Elang tersebut ditemukan Relawan Grigak saat sedang melaksanakan kegiatan pembersihan lahan untuk pembuatan Prasasti wisata Religi Katolik. Burung ditemukan di kolam ikan warga setempat dalam kondisi lemas tidak bisa terbang Hari Sabtu (12/10/19). Sebagai pertolongan pertama, Elang dirawat kelompok Grigak di Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma. Selanjutnya dengan didampingi Rian yang merupakan salah satu penangkar Burung dari Andhini Rejeki, para mahasiswa Sanata Dharma menyerahkan Elang Ular Bido yang masih dalam kondisi lemas tersebut kepada petugas Balai KSDA Yogyakarta, Tri Hardono. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi segera memerintahkan stafnya untuk menindaklanjuti penyerahan satwa tersebut dan segera melakukan tindakan lebih lanjut. “Elang ini merupakan salah satu jenis satwa yang digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan. Posisinya sebagai top predator mampu mengendalikan populasi mangsanya. Rekan-rekan saya minta segera melakukan tindakan perawatan terhadap elang yang ditemukan oleh adik-adik mahasiswa Sanata Dharma ini. Stasiun Flora Fauna Bunder menjadi tempat yang tepat untuk pemulihan kondisi elang ini.” jelas M. Wahyudi. Sumber : Dyahning - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Bappeda lebong belajar wisata berkelanjutan ke TNBB.

Gili Manuk, 18 oktober 2019. Kabupaten lebong, merupakan salah satu kabupaten di prov.Bengkulu, hampir 75% berbatasan dengan hutan, yaitu Hutan Taman Nasional kerinci seblat (TNKS),. Kunjungan studi ke TNBB, cukup spesial karena merupakan kunjungan ke 2 setelah tahun lalu juga berkunjung ke TNBB., Saat ekspos yg disampaikan, beberapa pembelajaran yg diambil dari TNBB tahun lalu sdh mulai dilakukan antara lain upaya promosi dan pendampingan ke masyarakat khususnya di sekitar hutan untk melakukan pemanfaatan wisata. Pada tahun ini, pembelajaran yg Diinisiasi antara lain membangun pertemanan atau kolaborasi dengan pihak pengelola kawasan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku antara lain dengan kerjasama dan pengajuan permohonan izin Usaha. Selain melakukan diskusi/sharing, Tim juga mengunjungi lokasi wisata yg dilakukan pihak swasta dan yang telah memberdayakan masyarakat sebagai pelaku wisata alam yang dapat merasakan manfaat langsung dari keberadaan kunjungan wisatawan.. tidak hanya sekedar berdampak pada peningkatan kesejahtraan masyarakat, namun sebaiknya ekowisata juga tetap memperhatikan keseimbangan dari ekosistemnya..maka bijaklah Berwisata alam.. Salam lestari Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Saung Membangun Penggiat Konservasi di Ujung Negeri

Malinau, 21 Oktober 2019 - Mengimplementasikan efektifitas pengelolaan kawasan dalam mewujudkan Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai role model pengelolaan kolaboratif dan destinasi utama wisata perbatasan adalah melibatkan masyarakat penyangga sebagai pengelola terutama generasi muda. Pendidikan konservasi dalam rangka peningkatan kualitas SDM generasi muda sebagai investasi menciptakan calon-calon unggul baik secara akademis maupun secara praktik untuk menjadi bagian dari pengelola Taman Nasional Kayan Mentarang Salah satu inovasi Balai Taman Nasional Kayan Mentarang adalah dengan menginisiasi “SAUNG” (Sekolah Alam Ujung Negeri). Dibentuk secara swadaya oleh personil SPTN Wilayah II Long Alango, Sekolah non formal ini fokus untuk mengembangkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap konservasi dan lingkungan hidup serta memiliki pengetahuan, sikap, keahlian, motivasi dan komitmen menjaga kelestarian alam. Di SAUNG, para peserta akan diberikan pengetahuan terkait pengelolaan Sumber Daya Alam yang mengkombinasikan antara pendidikan sains dan kearifan lokal masyarakat. Selain itu, beragam keterampilan seperti menulis, fotografi, teknik komputer, budidaya menjadi fitur kurikulum yang akan dikembangkan agar peserta turut menggali potensi alam dan budaya Taman Nasional Kayan Mentarang terutama di wilayah desanya. Launching pada tanggal 15 Oktober 2019 di Desa Long Alango, Inisiatif "SAUNG" disambut baik oleh berbagai pihak, sekolah dan masyarakat setempat. Mereka berharap, SAUNG dapat menjadi ruang diskusi dan belajar untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda di desanya. Sumber : SPTN II Long Alango - Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Penanganan Karhut di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani

Sembalun, 21 Oktober 2019. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berupaya melakukan pemadaman Kebakaran yang terjadi sejak hari Sabtu (19/10/2019) di dalam kawasan, dari beberapa titik hotspot yang berada di Jempong Borok, wilayah kerja Resort Sembalun, Seksi Pengeloaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II pada koordinat S 08°20'20.4 E 116°28'35.5 telah dapat dikendalikan pada hari Minggu (20/10/19) pukul 16.15 WITA dan luas area yang terbakar diperkirakan 8 Hektare. Kemudian pukul 16.30 WITA, tim bergerak ke arah hotspot lain yang berada di dekat Pos II Jalur Pendakian Sembalun pada koordinat S 08°21'02.0 E 116°28'17.6. Hingga pukul 21.38 WITA, tim masih melakukan upaya pemadaman yang dibantu oleh 6 orang masyarakat. Luas area yang terbakar belum bisa di ketahui. Dari pemantauan visual terpantau lokasi hotspot yang berada di dekat pelawangan Sembalun pada koordinat S 08°23'29.5 E 116°26'31.0 berada pada jarak yg cukup jauh dan lokasi yangg terjal. Rencana selanjutnya tim akan melakukan Moping Up pada karhut lokasi Jempong Borok dan tetap melakukan upaya pengendalian pada karhut dekat Pos II Sembalun. Jumlah pengunjung yang registrasi/cek in pada tanggal 20 Oktober 2019 adalah 29 orang (25 orang WNA dan 4 orang WNI) pada jalur pendakian Sembalun, 10 orang (7 orang WNI dan 3 orang WNA) pada jalur pendakian Timbanuh, dan 22 orang WNI pada jalur pendakian Aik berik. Semua pengunjung tersebut dalam keadaan aman dan telah diberikan himbauan agar besok segera turun dan keluar dari jalur pendakian. Berdasarkan data cek in-cek out pengunjung, sudah tidak terdapat pengunjung pada jalur pendakian Senaru. Pada hari Senin/ 21 Oktober 2019 pukul 07.45 WITA, telah dilaksanakan Apel persiapan pemadaman di jalur pendakian Senaru. Personel gabungan yang akan melakukan pemadaman hari ini terdiri dari Polda NTB : 40 personel, Polres KLU 20 personel, TNI 30 personel, Brimob 27 personel, TNGR 8 anggota dan Asosiasi TO Senaru 5 orang. Berdasarkan informasi dari warga Desa Timbanuh terlihat asap kebakaran hutan yang diperkirakan berlokasi di jarankukus, timbaturis, gunungsambil sebelah timur masuk wilayah resort aikmel. Petugas segera melakukan koordinasi dan persiapan tim pemadaman. Rencananya tim akan berangkat dari jalur pendakian Timbanuh dikarenakan arah angin ke barat. Berdasarkan informasi iklim dasarian provinsi NTB dari BMKG, pada periode dasarian II bulan Oktober masih berada dalam periode musim kemarau hingga bulan November 2019. Adapun perkiraan luas kebakaran hutan di wilayah kerja Senaru dan Sembalun TN Gunung Rinjani yang terjadi pada tanggal 19 Oktober 2019 sampai dengan hari senin, 21 Oktober 2019 adalah 3.066 Ha. Pantauan hotspot dari aplikasi LAPAN FIRE HOTSPOT pada tanggal 21 Oktober 2019, jumlah hotspot di kawasan TN Gunung Rinjani mengalami penurunan dari 36 hotspot menjadi 15 hotspot di kawasan TN Gunung Rinjani dan arah sebaran kebakaran menuju barat selatan dari Gunung Rinjani. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Desa Ramah Konflik Satwa Liar

Pekanbaru, 21 Oktober 2019. Kontribusi sekecil apapun bentuknya untuk pelestarian dan konservasi satwa liar sebagai wujud kepedulian dan peran aktif kita secara nyata sangat penting. Untuk itu, Balai Besar KSDA Riau bersama mitra TFCA dan YTNTN mendorong masyarakat desa rawan konflik satwa liar untuk berperan nyata. Saat ini ada 3 desa dari puluhan desa yang menjadi target sudah terbentuk tim pencegahan dan penanggulangan konflik satwa liar tingkat desa. Desa tersebut adalah Desa Bencah Kelubi, Desa Karya Indah, Kec. Tapung dan Fesa Minas Jaya, Kec. Minas. Selain mendapatkan pengetahuan terkait penanganan konflik satwa, Tim didorong untuk memiliki program yang dikemas dalam program DESA RAMAH KONFLIK SATWA LIAR. Diharapkan dalam jangka panjang desa desa ini akan mampu mensikapi setiap kejadian konflik satwa liar dengan arif dan bijaksana, baik masyarakat maupun satwa selamat. Balai Besar KSDA Riau dengan para mitra terkait akan terus mengajak seluruh warga Prov. Riau untuk bisa berperan aktif dalam pelestarian satwa liar yang terancam punah, salah satunya melalui program desa ramah konflik satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pengamanan TSL Tanpa Dokumen di Pelabuhan Lembar

Mataram, 21 Oktober 2019 - Berdasarkan informasi dari masyarakat, Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melalui Petugas Pos Lembar kembali melakukan pengamanan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Dilindungi dan Tanpa Dokumen (SATS-DN) di Pelabuhan Lembar. Tim-pun bergerak cepat menindaklanjuti laporan tersebut dan melakukan kegiatan pengamanan pada Jumat 18 Oktober 2019 sore. Target pengamanan adalah Bus "SDR" yang berangkat dari Pelabuhan Laut Padang Bai Bali dihari yang sama. Turun dari kapal, Tim yang terdiri dari petugas BKSDA NTB, KP3 Pelabuhan Lembar, TNI AL Pos Pelabuhan Lembar dan Balai Karantina Pertanian Wilayah Kerja Lembar langsung memberhentikan bus dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, baik bagasi penumpang maupun bagasi bus. Dari hasil pemeriksaan benar dijumpai sebanyak 1 kotak dan 9 keranjang didalam bagasi bus yang berisi TSL yang keseluruhan termasuk jenis Aves (Burung) baik dilindungi maupun tidak dilindungi, yakni : - Jalak Bali 2 (dua) ekor (Dilindungi). - Jalak Nusa 8 (delapan) ekor (Dilindungi). - Cucak Hijau 2 (dua) ekor (Tidak dilindungi). - Kenari 2 (dua) ekor (Tidak dilindungi). - Jalak Suren 10 (sepuluh) ekor (Tidak dilindungi). - Kacer 15 (lima belas) ekor (Tidak dilindungi). - Parkit 50 (lima puluh) ekor (Tidak dilindungi). - Lovebird 50 (lima puluh) ekor (Tidak dilindungi). - Jalak Kebo 20 (dua puluh) ekor (Tidak dilindungi). Hingga berita ini diturunkan, sebanyak total 150 an lebih ekor satwa hasil pengamanan telah diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Petugas Balai KSDA Yogyakarta Respon Keresahan Masyarakat Yang Warganya Memelihara Ular Phyton

Yogyakarta 19 Oktober 2019, Petugas Balai KSDA Yogyakarta berhasil menenangkan masyarakat Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul yang resah karena adanya salah satu warga mereka yang memelihara ular jenis Sanca Kembang (Phyton Reticulatus). Warga sekitar yang merasa terganggu dengan keberadaan ular tersebut, segera menghubung petugas Balai KSDA Yogyakarta dan menginformasikan mengenai kepemilikan ular tersebut. Laporan masyarakat segera ditindaklanjuti oleh personil Balai KSDA Yogyakarta yang terdiri atas Bagian Perlindungan, Kepala Unit SKW II dan Dokter hewan yang segera melakukan cek lokasi pada hari Jumat (11/10/19). Dari hasil identifikasi diperoleh keterangan satwa yang dimaksudkan adalah jenis Ular Sanca Kembang dengan panjang 3,75 m. Jenis ular tersebut belum dilindungi undang-undang. Meskipun demikian, ular yang diketahui ditangkap di sekitar pemukiman penduduk sekitar 1 bulan yang lalu telah menimbulkan keresahan masyarakat sekitar. Setelah dilakukan pendekatan kepada masyarakat yang memeliharanya, satwa tersebut akhirnya diserahkan kepada petugas Balai KSDA Yogyakarta yang selanjutnya dievakuasi ke Stasiun Flora Fauna Bunder untuk dilepasliarkan ke alam. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi mengapresiasi kinerja jajarannya. “Respon yang diberikan petugas Balai KSDA Yogyakarta menunjukkan kepedulian petugas terhadap masyarakat. Petugas mampu menerjemahkan instruksi pimpinan dengan baik. Dengan melakukan tindakan evakuasi satwa ke SFF Bunder dan melepasliarkannya di alam, teman-teman personil BKSDA Yogyakarta telah melakukan dua tindakan sekaligus. Yang pertama mereka berhasil menenangkan masyarakat yang resah dan disisi lainnya mereka berhasil menyelamatkan satwa dan mengembalikannya ke alam. Ke depan semoga kinerja personil Balai KSDA Yogyakarta ini dapat berjalan dengan lebih baik lagi. Ujar M. Wahyudi. Sumber : Sujiyono - Polhut Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Lestarikan Tradisi Upacara Adat Saparan Bekakak, Warga Padati TWA Batu Gamping

Yogyakarta 19 Oktober 2019. Taman Wisata Alam Batu Gamping menjadi lokasi penting dalam perhelatan tradisi “Saparan Bekakak” yang digelar setiap tahunnya oleh Pemerintah Desa Ambarketawang yang didukung Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Pada tahun 2019 ini tradisi Saparan Bekakak dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2019. Upacara Adat Saparan Bekakak yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Ambarketawang sekali dalam setahun pada bulan Sapar (kalender Jawa) merupakan upacara adat yang dilaksanakan dengan penyembelihan BEKAKAK yaitu sepasang boneka pengantin Jawa terbuat dari tepung ketan yang diisi gula merah di altar TWA Batu Gamping. Kegiatan diawali denga ritual pengambilan air di Gunung Gamping pada Rabu Malam (16/10/19) dilanjutkan dengan acara Macapatan di Pendopo TWA Batu Gamping pada Kamis malam (17/10/19). Puncak prosesi Bekakak dilaksanakan pada hari Jumat (18/10/19) diawali dengan Karawitan di Pendopo TWA Batu Gamping dan kirab Bekakak yang diberangkatkan dari kantor Desa Ambarketawang. Iring-iringan Bekakak tersebut diikuti oleh 37 Bergada (pasukan prajurit) dan 47 ogoh-ogoh (boneka berukuran besar). Turut hadir pada pelaksanaan Upacara adat Saparan Bekakak Kepala Balai KSDA Jogjakarta, M. Wahyudi dan Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun M.Kes. Di sela-sela pelaksanaan upacara adat Saparan Bekaka, M. Wahyudi menyampaikan mengenai keberadaan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Batu Gamping yang tidak lepas dari saksi sejarah asal mula berdirinya Kraton Yogyakarta yang pada saat itu dirintis oleh Sultan Hamengku Buwono I. Selanjutnya M. Wahyudi menyampaikan mengenai pengembangan TWA Batu Gamping ke depan. “Kawasan TWA Batu Gamping ke depan dapat diarahkan sebagai destinasi minat khusus sejarah dan budaya dengan konsep eco edu wisata” tutup M. Wahyudi. Sumber : Dwi Nuryan Dani - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Bekali Masyarakat Gilimanuk, Membuka Peluang Ekowisata.

Gilimanuk, 17 Oktober 2019. Balai Taman Nasional Bali Barat, menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat yang berada di Gilimanuk, bertempat di Plataran Bajul Ecolodge PT. Trimbawan Swastama Sejati yang merupakan salah satu Pengusahaan Pariwisata Alam di TN Bali Barat. Peserta kegiatan sebanyak 30 orang adalah masyarakat desa penyangga dari Gilimanuk yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kelompok Swadaya Masyarakat GIlimanuk (FKK SMG) binaan Balai TNBB dan Kelurahan Gilimanuk . Acara ini dibuka oleh Gebyar Andyono,S.Si, M.Si (KSBTU) yang mewakili Kepala Balai TN Bali Barat. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat ini merupakan wujud nyata TN Bali Barat dalam meningkatkan SDM untuk pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat. Sebagai pemateri yaitu Ali Purwanto, S.Hut,M.Sc. (Kepala SPTN Wilayah I) yang menyampaikan tentang role model ekowisata berbasis masyarakat dan Yusuf Arif Rahman (manager site the Palataran Harmony) dengan materi yang disampaikan tentang Pengelolaan operator ekowisata Dan Pengemasan pemaketan dan pemasaran ekowisata. Kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat bertujuan menambah pengetahuan masyarakat khususnya dalam mengelola objek wisata sehingga mampu berperan aktif dalam pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat. Selama berlangsung kegiatan terjadi diskusi interaktif antara peserta dengan narasumber. Diskusi tersebut dapat menciptakan peluang bisnis baru sebagai wujud nyata dan implementasi dalam pengelolaan ekowisata. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Terima Kasih Menteri LHK Siti Nurbaya

Setelah lima tahun mengabdi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Menteri LHK Siti Nurbaya menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada seluruh jajaran KLHK. “Terima kasih atas dukungan semua dan hasil-hasil kerja yang begitu banyak, dengan kendala yang begitu berat. Saya juga mau meminta maaf atas ucapan atau tindakan dari diri saya, yang terkadang saya terlalu keras,” ujar Menteri Siti Nurbaya. “Selamat bertugas semuanya, bantu seluruh rakyat Indonesia. Jangan lupa untuk berani ekstraktif, mengambil langkah yang harus dilakukan, dan aspek regulasinya terus ditingkatkan,” tutupnya. Terima kasih banyak Bu Siti, pengabdianmu terhadap negara akan terukir dalam sejarah Indonesia. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Sadar Satwa Peliharaannya Termasuk Dilindungi, Pemuda Bantul Serahkan Buaya Muara Ke Balai KSDA Yogyakarta

Yogyakarta, 19 Oktober 2019. Tim Quick Response Balai KSDA Yogyakarta berhasil mengevakuasi Buaya Muara (Crocodilus porosus) dari pemiliknya warga Pendowoharjo, Sewon, Bantul pada Hari Sabtu (19/10/19). Berawal dari laporan Angga Dian Pratama, warga Bakalan, Pendowo harjo ,Sewon, Bantul pada hari Kamis (17/10/19) yang menginformasikan mengenai kepemilikan satwa liar jenis Buaya Muara, Kepala Resort Konservasi Wilayah Bantul, Sujiyono, segera melakukan koordinasi dengan pelapor. Dari informasi yang berhasil dihimpun, Angga memperoleh Buaya tersebut dari seseorang sekira 4 tahun yang lalu dan kemudian dipeliharanya. Saat itu Buaya Muara masih berukuran kecil lebih kurang 30 cm dan setelah 4 tahun pemeliharaan, panjangnya mencapai 190 cm. Setelah membaca peraturan perundang-undangan terkait Tumbuhan dan Satwa Liar, Angga baru mengetahui jika Buaya yang dipeliharanaya termasuk jenis satwa yang dilindungi. Selain itu, dengan pertimbangan segi keamanan dimana lingkungan sekitar rumahnya yang banyak anak kecil dan khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Angga pun segera menghubungi Call Center Quick Response Balai KSDA Yogyakarta dan menyampaikan keinginannya untuk menyerahkan buaya yang dimilikinya tersebut kepada petugas. Setelah dilakukan persiapan, petugas melaksanakan evakuasi Buaya Muara dari rumah Angga pada Hari Sabtu (19/10/19). Dengan menggunakan peralatan seperti tambang, karung goni, lakban dan tongkat, Buaya muara tersebut berhasil dievakuasi tanpa terluka sedikitpun. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi merespon positif penyerahan satwa dari masyarakat tersebut. “Adanya masyarakat yang menyerahkan satwa liar dilindungi setelah membaca peraturan perundang-undanagan mengindikasikan bahwa sosialisasi di masyarakat sudah mulai berjalan dan memberikan feed back positif. Penyerahan satwa tersebut merupakan salah satu bukti berhasilnya sosialisasi terkait Tumbuhan dan Satwa Liar di masyarakat. Meskipun demikian, Saya tetap menginstruksikan kepada personil Balai KSDA Yogyakarta untuk terus memberikan sosialisasi terkait TSL agar semakin banyak masyarakat yang punya kesadaran terhadap pengelolaan TSL yang benar. tutur M. Wahyudi. Buaya muara selanjutnya dibawa ke Resort Konservasi Wilayah Sleman untuk dilakukan pemeliharaan dan penanganan selanjutnya. Sumber : Widodo - Polhut Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Jaga kawasan, TNBB Ajak Pemegang IPPA Ikut Berkontribusi Aktif.

Gilimanuk, 21 Oktober 2019. Di zona pemanfaatan TNBB, terdapat 3 pemegang izin IUPSWA untuk melakukan kegiatan Pengusahaan wisata di TNBB, antara lain PT. Trimbawan Swastama Sejati ( PT. TSS). PT. TSS memiliki kewajiban untuk melaksanakan pengamanan kawasan dan potensinya serta pengamanan pengunjung khususnya pada areal pengusahaan wisata alam. Aktivitas patroli bersama oleh petugas resort dengan keamanan area IPPA rutin dilakukan seperti pada tanggal 16-17 Oktober 2019, anggota polhut Resort Teluk Terima di kawasan hutan musim dan hutan mangrove Banyuwedang. Patroli dilakukan bertujuan untuk pencegahan kebakaran , mengurangi tindak pelanggaran dan memantau penyebaran (jelajah terbang) burung curik bali. Hal lain, dilakukan oleh tim dari PT Shorea Barito wisata bersama petugas di SPTN 1 yang melakukan kegiatan Pendidikan lingkungan kepada pelajar sekolah dasar di sekitar kawasan, di Gilimanuk. Tentunya peran serta stakeholders dalam rangka pelestarian potensi keanekaragaman hayati TNBB perlu terus ditingkatkan., kolaborasi dan koordinasi yang baik akan mampu mewujudkan visi pengelolaan TNBB. Salam konservasi.. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Urun Rembuk Kegiatan Kemitraan Konservasi di TWA Pelaihari Pantai Batakan

Batakan, 16 Oktober 2019, Kegiatan Kemitraan konservasi yang dilaksanakan di Desa Batakan yang sebagian desanya berada pada kawasan konservasi TWA Pelaihari terus dilakukan. Salah satunya kegiatan Urun Rembuk mencari solusi terbaik dalam kelompok kemitraan konservasi untuk pengembangan kedepannya bagi Kemitraan Konservasi untuk pemberdayaan masyarakat yaitu kelompok Jasa Usaha Wisata “Maju Bersama” Desa Batakan. Kegiatan ini dilaksanakan disalah satu warung anggota kelompok, dihadiri pengurus inti dan perwakilan dari kelompok usaha-kelompok usaha yang ada di Pantai Batakan tersebut. Kegiatan urun rembuk merupakan kegiatan tahapan sebelumnya sudah dilaksanakan baik itu pembentukan kelompok ataupun penandatangan BAP Pengukuhan kelompok, dan segera akan dilakukan perjanjian kerja antara Kepala Balai KSDA Kalimatan Selatan Dr.Ir.Mahrus Aryadi, M.Sc dengan Kelompok Jasa Usaha Wisata “Maju Bersama”desa Batakan. Kelompok Jasa Usaha Wisata ini terbagi beberapa sub seksi pelaksana antara lain: Didalam pertemuan ini ada beberapa usulan ataupun permintaan dari beberapa sub seksi kelompok antara lain: Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir.Mahrus Aryadi, M.Sc juga menambahkan akan dibuatnya papan informasi, seperti Peta wisata agar memudahkan para pengunjung melihat kondisi tempat wisata yang ada di TWA Pelaihari. Terkait beberapa permintaan anggota kelompok, beliau mengatakan akan segera melakukan beberapa tahapan baik itu berkoordinasi kepada pihak-pihak terkait, Pemerintah Desa Batakan, Pihak 3 atau sponsor yang siap membantu dalam mengakomodir permintaan kelompok. Juga akan segera berkoordinasi dengan Bupati Tanah Laut terkait kerjasama untuk pungutan karcis masuk. (ryn) Sumber : Muhammad Arifin - Staf Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 4.689–4.704 dari 11.140 publikasi