Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Lagi, Tim TSL BKSDA NTB Amankan TSL Dilindungi dan Tanpa Dokumen

Mataram, 24 Oktober 2019 - Berdasarkan informasi dari masyarakat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melalui Petugas Pos Lembar kembali melakukan pengamanan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Dilindungi dan Tanpa Dokumen (SATS-DN) di Pelabuhan Lembar. Tim menindaklanjuti laporan tersebut dan melakukan kegiatan pengamanan pada Kamis 24 Oktober 2019 sore, tepat 6 hari setelah kegiatan pengamanan terakhir. Target pengamanan adalah Bus "TM" yang tiba di Pelabuhan Lembar pukul 17.00 WITA. Bus berangkat dari Pelabuhan Laut Padang Bai, Bali. Setibanya di dermaga Pelabuhan Lembar, Tim yang terdiri dari petugas BKSDA NTB, KP3 Pelabuhan Lembar, TNI AL Pos Pelabuhan Lembar dan Balai Karantina Pertanian Wilayah Kerja Lembar langsung memberhentikan bus TM dan melakukan pemeriksaan. Dan dari hasil pemeriksaan benar dijumpai sebanyak 4 keranjang yang berisi TSL yang keseluruhan termasuk jenis Aves (Burung) baik dilindungi maupun tidak dilindungi, yakni : - Nuri Bayan 1 (satu) ekor (Dilindungi). - Jalak Suren 3 (tiga) ekor (Tidak dilindungi). - Kolibri 15 (lima belas) ekor (Tidak dilindungi). - Kenari 30 (tiga puluh) ekor (Tidak dilindungi). - Lovebird 5 (lima) ekor (Tidak dilindungi). Hingga berita ini diturunkan, keseluruhan satwa hasil pengamanan telah diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram untuk proses lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Koordinasi Penanggulangan Konflik Antara Manusia dan Satwa Liar

Selasa, 22 Oktober 2019 - Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Bapak Seno Pramudito, S.Hut, ME. bersama dengan Kepala Seksi Konservasi Wilayah III, Alfianto Luat Siregar, S.Hut,M.T,M.PP dan Staff melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar di Labuhan Batu Utara. Salah satunya adalah dengan KPH V Aek Kanopan. Selain itu, koordinasi juga dilakukan ke Bupati Labura yang diwakili oleh Asisten I Setda Kab. Labura, Bapak Rahman. Setelah itu dilanjutkan ke KPH III Kisaran yg ditemui langsung oleh Kepala KPH III Kisaran, Bapak Wahyudi Sp,M.Si dan KPH V Aek Kanopan yg diwakili oleh Plt. KSB TU, Bapak Ferry Andri Siregar. Hasil koordinasi, para pihak sangat mendukung adanya penanganan bersama terkait konflik manusia dengan satwa liar di Provinsi Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Labuhan Batu Utara. Harapannya masyarakat dapat berperan aktif dan membantu Pemerintah setempat jika ada informasi terkait adanya satwa liar yang memasuki area pemukiman masyarakat, sehingga Pemerintah setempat dapat melakukan evakuasi sebelum timbulnya korban jiwa baik dari manusia maupun satwa. Sebagai catatan, dua tahun terakhir ini di Sumatera Utara konflik antara manusia dan satwa liar mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan menimbulkan kerugian ekonomi, material dan bahkan korban (baik manusia maupun satwa), untuk itu memerlukan penanganan serius sejak dini. Masyarakat dan satwa liar sama-sama penting. Perlu solusi yang holistik dalam menangani konflik manusia dan satwa liar. Masyarakat aman dan keanekaragaman hayati tetap lestari. Sumber : Alfianto (SKW III Bidwil II) Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Perlombaan Perahu Bidar Resmi di buka menjelang Festival Danau Sentarum 2019

Putussibau, 24 Oktober 2019 - Semarak Festival Danau Sentarum (FDS) 2019 semakin terasa menjelang acara pembukaan 25 Oktober mendatang. Berbagai perlombaan akan terus menghiasi selama FDS hingga acara puncak, mulai dari Perahu Bidar Tradisional, Festival Minum Madu, Karnaval Budaya, Cross Trobos, Pameran Produk Masyarakat, Lomba Olahraga Tradisional, Pentas Seni dan Hiburan Rakyat. Perahu bidar tradisional mengangkat kebiasaan masyarakat dalam menggunakan perahu untuk berbagai aktivitas di Sungai dan Danau ini menjadi lomba pembuka menyambut hari pembukaan FDS. Masyarakat dan peserta sangat berantusias mengikuti perlombaan yang sebelumnya di jadwalkan di Kawasan Danau Sentarum namun dialihkan ke Sungai Kapuas dikarenakan air danau yang belum mendukung. Semangat peserta tidak tanggung-tanggung, ada 35 buah Perahu Bidar yang berasal dari Kecamatan Suhaid, Embaloh Hilir, Bunut Hulu dan Bunut Hilir, Kalis, Putussibau Selatan dan Putussibau Utara yang turut berpartisipasi dan telah mengikuti technical meeting bersama Panitia Persatuan Olah Raga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Rabu, 23 Oktober lalu. Perlombaan yang memperebutkan hadiah Total Rp.19.000.000 serta Piala resmi di buka oleh Plh. Sekretaris Daerah Kapuas Hulu Bapak Bung Tomo dan Plh. Kepala Balai Besar Tana Bentarum Bapak Gunawan Budi Hartono beserta seluruh peserta dan masyarakat. Lomba Perahu Bidar ini akan berlangsung selama 3 (tiga) hari mulai 24 s.d 26 Oktober 2019 mendatang dengan pembagian waktu lomba pada mulai pukul 09.00 s.d 11.00 Wib dan 13.00 wib s.d selesai. Setelah membuka perlombaan Perahu Bidar, Gunawan menyampaikan harapan “dengan adanya perlombaan yang rutin dilakukan setiap tahunnya ini kami berharap para peserta lebih semangat untuk mempersiapkan diri dalam bertanding dan kegiatan ini dapat menjadi ajang promosi wisata Kapuas Hulu dengan menggangkat kearifan lokal masyarakat”. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penguatan Kapasitas Kelembagaan Masyarakat Mitra Konservasi SM. Kuala Lupak

Tabunganen, 22 Oktober 2019 − Bertempat di Aula Kantor Camat Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala, telah dilaksanakan kegiatan penguatan kapasitas kelembagaan kelompok Masyarakat Mitra Konservasi (MMK). Kegiatan ini bertujuan agar kelompok masyarakat mitra konservasi yang telah dibentuk pada bulan Agustus 2019 itu agar lebih kuat dan solid, memperkuat rasa kebersamaan kelompok serta membangun mimpi bersama untuk kehidupan masyarakat dan lingkungan yang lebih baik. Dalam kegiatan tersebut menghadirkan 2 orang narasumber yaitu Kepala BKSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus, M.Sc dan Camat Tabunganen Khairani, S.AP dengan moderator Kepala SKW II Banjarbaru, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si. Kegiatan ini dihadiri 30 orang peserta dari Kelompok Mitra Konservasi” Mandiri Bersama” Desa Sungai Telan Besar dengan ketua kelompok H. Nurdin dan Kelompok Mitra Konservasi ” Suka Maju ” Desa Kuala Lupak dengan ketua kelompok Jawase. Dalam paparanya Camat Tabunganen sangat berterima kasih kepada BKSDA Kalsel serta mendukung kegiatan kemitraan konservasi di Suaka Margasatwa Kuala Lupak dan meminta kepada kelompok mitra konservasi untuk secara sungguh-sungguh dalam menjalankan kegiatan kemitraan dengan mematuhi segala peraturan perundanganya. Sementara Kepala BKSDA Kalsel dalam paparannya lebih menekankan kepada azas kelembagaan, yaitu: kerja Bersama, saling Memperkuat, saling Memerlukan dan saling Menguntungkan. Keempat azas ini harus dimiliki oleh seluruh anggota kelompok agar tujuan yang ingin dicapai bisa terwujud dan berdampak kepada aspek sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan SM Kuala Lupak. Penguatan kelembagaan memuat norma dan aturan yang disepakati bersama, hak dan kewajiban pengurus dan anggota kelompok serta mekanisme hubungan kerja. Lebih lanjut Dr. Mahrus berharap agar kerjasama yang akan diwujudkan antara BKSDA Kalimantan Selatan dengan kedua Kelompok Mitra Konservasi tersebut harus memegang prinsip kesetaraan, persahabatan, kesetiaan, kejujuran dan saling percaya. Prinsip-prinsip tersebut mesti dipegang teguh oleh kedua belah pihak sehingga keberlanjutan kegiatan akan terjaga dan tujuan bersama dapat tercapai. Kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem yang dilaksanakan di SM Kuala Lupak dengan Model Baparuan sistem silvofisheri dapat menyelesaikan konflik tenurial sekaligus memulihkan ekosistemnya. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Rafflesia arnoldii, sang puspa langka di belantara SM Isau-Isau

Lahat, 23 Oktober 2019 - Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di hutan tropis Sumatera oleh seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles, sehingga tumbuhan ini diberi nama sesuai sejarah penemunya yakni penggabungan antara Raffles dan Arnold. Terdapat 33 spesies Rafflesia di dunia dan 14 jenis diantaranya tumbuh di Indonesia dimana 11 jenis tumbuh di Pulau Sumatra. Banyak orang mengira bahwa Rafflesia arnoldii hanya tumbuh di Provinsi Bengkulu namun kabar gembira datang pada Bulan Agustus 2019 ketika terdeteksi terdapat 9 kuncup bunga Rafflesia muncul di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau . Hal ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan karena penemuan ini merupakan penemuan yang pertama dan membuktikan bahwa kawasan SM Isau-Isau yang merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumatera Selatan ini adalah habitat puspa langka Rafflesia. Setelah beberapa waktu dalam rangkaian observasi, pada Bulan Oktober 2019 dapat dipastikan bahwa Rafflesia yang ditemukan merupakan spesies Rafflesia arnoldii atau padma raksasa yang merupakan tanaman khas dan langka yang endemik Pulau Sumatra. Rafflesia arnoldii memiliki satu bunga terdiri dari lima kelopak besar, tebal dan kasar yang berwarna oranye atau merah cerah pekat dan berbintik-bintik berwarna putih. Pada saat bunga mekar, diameternya dapat mencapai 70 hingga 110 cm dengan tinggi mencapai 50 cm. Padma raksasa atau Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan parasit obligat yang tumbuh pada batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Spesies Raflesia yang lainnya juga memiliki inang yang sama. Apabila inang mati maka Rafflesia juga akan mati. Kuncup-kuncup bunga terbentuk di sepanjang sela-sela batang dengan masa pertumbuhan bunga dapat memakan waktu sampai 9 bulan dan masa mekar sekitar 5-7 hari, kemudian bunga raflesia akan layu dan mati. Tingginya laju deforestasi, kebakaran hutan, serta makin menurunnya area hutan alam di Indonesia menjadi ancaman serius bagi kelestarian species Rafflesia di Indonesia khususnya di Pulau Sumatra. Selain itu, ancaman juga datang dari ketidakpahaman masyarakat tentang Rafflesia yang memicu tidakan pengrusakan maupun pengambilan putik bunga raflesia untuk dimanfaatkan sebagai obat tradisional merupakan ancaman tersendiri yang mempercepat laju kepunahan padahal Rafflesia tidak terbukti memberikan manfaat kesehatan. Sudah selayaknya kita menjaga kelestarian SM Isau-Isau agar Rafflesia arnoldii yang merupakan puspa langka ini terhindar dari kepunahan. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan Penulis & Gambar : Pungky Nanda Pratama (Kader Konservasi BKSDA Sumsel), Ferianto (TPHL BKSDA Sumsel)
Baca Berita

Mengenalkan Satwa Sejak Dini Kepada Anak-anak di Stasiun Flora Fauna Bunder

Yogyakarta, 23 Oktober 2019 - Stasiun Flora Fauna (SFF) Bunder merupakan salah satu lokasi pengembangan indukan (stock center) rusa dan pusat penyelamatan satwa yang berada di sebagian lahan di kawasan Tahura Bunder. Selaku pengelola SFF Bunder, Balai KSDA Yogyakarta juga menggunakannya sebagai media pembelajaran dan edukasi satwa kepada masyarakat. Setelah beberapa waktu yang lalu SFF Bunder menerima kunjungan Siswa SMP dan Santri Pendidikan Santri Adz-Dzikro (PESAD), Kali ini SFF Bunder menerima kunjungan 60 orang siswa dan guru TK & Play Group Kreatif Primagama Cabang Bantul Hari Selasa (22/10/19). Kunjungan Siswa TK dan Play Group Primagama ini disambut hangat para petugas SFF Bunder. Disamping pemberian informasi mengenai profil singkat SFF Bunder, para siswa diberikan tambahan pengetahuan terkait Pengenalan Jenis Flora dan Fauna yang ada di SFF Bunder; Pengetahuan tentang satwa dilindungi; Edukasi tentang Rusa Timor, Raptor, MEP, Paruh Bengkok, dan Mammal; pengenalan dan cara menggunakan binokuler serta melukis dengan menggunakan daun. Mempertimbangkan saat ini SFF Bunder sedang dilakukan renovasi pada kandang paruh bengkok, sehingga kegiatan pengenalan burung paruh bengkok di lakukan di Wanagama Paksi yang masih berada di dekat kawasan SFF Bunder tersebut. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi merespon kunjungan siswa dan guru TK dan Playgroup Kreatif Primagama ini. “SFF Bunder sebagai stock center rusa dan pusat penyelamatan satwa liar juga memiliki potensi sebagai tempat edukasi dan informasi. Anak-anak yang berkunjung hari ini adalah anak-anak yang sedang berada dalam periode emas pertumbuhannya, dimana mereka memiliki daya ingat yang kuat dan mampu menyerap informasi dengan baik. Semoga kunjungan anak-anak di SFF Bunder ini dapat menjadi salah satu modal pembentukan karakter untuk cinta satwa dan peduli lingkungan di masa mendatang” tutur M. Wahyudi. Sumber : Harits Surakhman - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

BKSDA Bengkulu dan Pemkab Kepahiang Tandatangani Kesepakatan Bersama Kemitraan Konservasi di TWA Bukit Kaba

Bengkulu, 21 Oktober 2019 - Kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kaba dengan luas 14.650,51 Ha yang secara administratif berada di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, juga tidak luput dari perambahan, illegal logging maupun perburuan liar. Penyelesaian keterlanjuran perambahan kawasan oleh masyarakat dengan terbitnya Perdirjen No. P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi di KSA dan KPA ditindaklanjuti oleh BKSDA Bengkulu dengan penandatangan kesepakatan bersama Pemerintah Kabupaten Kepahiang dalam hal ini Kepala Balai KSDA Bengkulu dengan Bupati Kepahiang bersepakat dalam upaya pemulihan ekosistem bersama masyarakat dengan skema kemitraan konservasi. Pengelolaan hutan dengan melibatkan masyarakat yang terlanjur merambah dan mengarap kawasan diharapkan bisa menekan dan mengurangi kerusakan hutan dan di satu sisi masyarakat masih mendapatkan keuntungan ekonomi dari hutan. Bertempat di ruang rapat Bupati Kabupaten Kepahiang penandatangan kesepakatan bersama tersebut juga dihadiri Sekretaris Daerah, SKPD, Forkopinda, Para Asisten dan Staf Ahli Bupati, Kapolres Kepahiang, Dandim Kepahiang, Camat serta kepala desa yang secara administratif merupakan lokasi kemitraan, Akar Foundation dan Petani perwakilan dari 4 Kelompok Tani calon kemitraan konservasi. Dari 808 KK petani yang tersebar di 8 Desa di Kecamatan Kabawetan akan di proyeksi untuk Kemitraan Konservasi. Dan saat ini 4 kelompok tani yang mengarap di lahan + 200 Ha telah menyampaikan proposal serta memenuhi syarat untuk ikut skema kemitraan Konservasi dan sisanya akan menyusul dan sedang di siapkan oleh LSM Pendamping yaitu Akar Foundation. Sehingga paradigma pengelolaan hutan yang sudah berubah, dimana dulu masyarakat berkesan dijauhkan dari Kawasan hutan namun sekarang masyarakat dilibatkan perannya dalam pengelolaan hutan untuk terwujudnya hutan lestari dan masyarakat sejahtera. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Selamat Datang Burung Layang-Layang Asia di Yogyakarta

Yogyakarta, 22 Oktober 2019 - Fenomena Burung migran yang salah satunya adalah jenis Layang-layang Asia (Hirundo rustica) merupakan kejadian rutin setiap tahunnya dan biasanya terjadi di Bulan September – Maret tahun berikutnya. Burung migran tersebut bermigrasi melalui jalur yang sama, dan mereka akan pergi di musim dingin selanjutnya akan kembali lagi ke asalnya pada saat udara mulai hangat. Di Yogyakarta, burung layang-layang asia ini akan singgah di beberapa titik seperti Jalan Malioboro, Jl. Ahmad Dahlan, Titik 0 km Yogyakarta dan Jl. Mayor Suryotomo. Personil Resort Konservasi Wilayah Kota Yogyakarta Hari Selasa (22/10/19) melakukan koordinasi terkait keberadaan burung layang-layang asia dengan Pemerintah Kelurahan Ngupasan Kecamatan Gondomanan, Hotel Melia Purosani dan Masyarakat sekitar Jl. Mayor Suryotomo. Sejak pertengahan bulan September hingga saat ini, Burung Layang-layang Asia sudah tiba di Yogyakarta dengan jumlah yang banyak. Kehadiran Burung layang-layang Asia tersebut membawa dampak yang merugikan bagi pemilik toko sepanjang Jl. Mayor Suryotomo akibat kotoran dan bau kotoran burung tersebut. Masyarakat mengharapkan peran pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kepala Resor Konservasi Wilayah Kota, Purwanto, menyampaikan arahan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi terkait penanganan burung layang-layang asia tersebut. “ Sebagaimana arahan Bapak Kepala Balai, fenomena burung migran ini merupakan peristiwa yang terjadi secara rutin setiap tahunnya. Burung layang-layang asia biasanya akan bertengger di kabel listrik sepanjang Jl. Mayor Suryotomo dan berdampak terhadap kotoran burung dan bau yang membuat kurang nyaman. Meskipun demikian, kami tetap menghimbau masyarakat untuk tidak memburu atau menembaki burung layang-layang asia tersebut. Untuk mengatasi permasalahan kotoran burung layang-layang asia ini, kami menghimbau masyarakat dapat melakukan pembersihan secara berkala untuk mengurangi bau dan pencemaran lingkungan” jelasnya. Sumber : Purwanto (Polhut) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kepala BBKSDA Papua Buka Kegiatan Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang Jabatan UPT KLHK Provinsi Papua

Jayapura, 22 Oktober 2019 - Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S. Hut., M. Si., membuka kegiatan Uji Kompetensi Kenaikan Jenjang Jabatan (KJJB) Pejabat Fungsional Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan lingkup Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK Provinsi Papua. Uji Kompetensi berlangsung pada Selasa hingga Kamis (22-24/10) di kantor UPT KLHK Provinsi Papua, Kotaraja, Kota Jayapura. Pelaksanaan Uji Kompetensi ini bekerjasama dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Peserta Uji Kompetensi berasal dari Balai Besar KSDA Papua, Balai Taman Nasional Wasur, Balai Taman Nasional Lorentz, BPHP Wilayah XV Jayapura, dan BPKH Wilayah X Jayapura, dengan jumlah peserta sebanyak 33 orang. Dalam sambutannya, Edward yang didampingi Leader Assessor BP2SDM KLHK, Dian Sri Rejeki, menyampaikan “Peserta Uji Kompetensi kami harapkan agar memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, menunjukkan kompetensi masing-masing, sehingga layak direkomendasikan sebagai ASN yang memiliki kompetensi.” Sumber: Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Wajah Baru Kelola Rafflesia Pricei di TN Kayan Mentarang

Nunukan, 23 Oktober 2019 - Sejak teridentifikasi pada tahun 2003 di Tanah Krayan SPTN I Long Bawan, Pesona Rafflesia pricei semakin memikat Balai Taman Nasional Kayan Mentarang untuk diteliti. Serangkaian kegiatan seperti identifikasi dan monitoring kerap dilakukan. Kegiatan monitoring yang semula dilaksanakan secara internal, kini melalui buah pikir Suwarto, Kepala SPTN Wil I Long Bawan berinovasi menjadi “MASKER CANTIK” atau Masyarakat Kelola Rafflesia Cantik. Sebagai bagian dalam pengelolaan kolaboratif, keterlibatan Masyarakat Adat di penyangga dalam pengelolaan Rafflesia sebagai upaya bersama pelestarian potensi kehati di kawasan TN. Kayan Mentarang” ujar Suwarto “Masker Cantik” disambut baik masyarakat, dukungan stakeholder ditandai dengan penandatangan kesepahaman bersama antara SPTN Wilayah I Long Bawan, Camat dan Ketua Adat Krayan Barat. Sebanyak 15 orang masyarakat adat telah dideklarasi sebagai Tim Monitoring yang diketua oleh Bapak Loter dengan lokus kegiatan berada di tiga desa yakni Desa Pa’ Kidang, Desa Lembada dan Desa Pa’ Butal Kecamatan Krayan Barat. Tak perlu waktu lama, Tim Monitoring langsung mendapat bimbingan personil SPTN Wil. I Long Bawan terkait SOP monitoring, karakteristik, morfologi, habitat serta pengdokumentasian berbasis android (Avenza map dan Open Camera). Tak hanya Tim Monitoring yang memiliki antusias pada saat praktek, tampak ikut serta anggota TNI Pos Pamtas Tanjung Karya, Kepala Desa Pa’ Butal dan Kepala Adat Desa Pa’ Butal yang penasaran dengan Rafflesia pricei. Perjalanan selama 2 jam dengan medan yang menanjak dan licin dari desa menuju plot pengamatan tidak menyurutkan semangat Pak Alex Padan, Kepala Adat Desa Pa’ Butal yang sudah berumur lebih dari 70 Tahun yang mengaku penasaran dan sangat ingin mengabadikan momen bersama si Cantik Rafflesia. Selain monitoring, berbagai agenda ”Masker Cantik” telah disusun oleh Tim Monitoring seperti sosialisasi, perlindungan, penguatan kelembagaan dan tidak menutup kemungkinan lokasi monitoring akan didorong menjadi salah satu destinasi ekowisata bagi pengunjung di Tanah Krayan. Sumber : SPTN I Long Bawan - BTN Kayan Mentarang
Baca Berita

Terima Informasi Penyu Mati, Petugas Balai KSDA Yogyakarta segera Cek ke Lokasi

Yogyakarta 22 Oktober 2019 - Petugas Balai KSDA Yogyakarta terdiri atas personil Polhut, PEH dan Dokter Hewan melakukan pengecekan ke lokasi ditemukannya penyu mati di Pantai Depok, Kabupaten Bantul. Informasi awal diperoleh dari Anggota SAR Pantai Parangtritis, Nugroho dan Dwi Purwanto melalui pesan whatsapp dan telepon yang menginformasikan mengenai penemuan penyu dan lumba-lumba yang mati di Pantai Depok Hari Senin (21/10/19) sekitar pukul 09.30 WIB. Pada hari yang sama personil Resort Konservasi Wilayah Bantul bersama Dokter Hewan Balai KSDA Yogyakarta segera merapat ke lokasi. Setelah dilakukan pengecekan di lapangan hanya ditemukan bangkai penyu, sementara bangkai lumba-lumba sudah tidak ada lagi dan diduga terbawa ombak ke laut. Hasil nekropsi terhadap penyu menunjukkan bangkai penyu yang ditemukan adalah penyu jantan, jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dengan ukuran karapas panjang 113 cm dan lebar 101 cm, sementara panjang penyu dari kepala hingga ujung ekor sekitar 171 cm. Pada bangkai penyu yang ditemukan ini tidak dijumpai adanya bekas luka maupun sampah plastik di ususnya. Bekas makanan yang terdapat di usus berupa rumput laut dan sehelai senar pancing. Melihat kondisi bangkai penyu yang sudah mengeluarkan bau busuk, diperkirakan penyu sudah mati lebih dari 3 hari. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menyatakan keprihatinannya terhadap kejadian ini. “Bangkai penyu yang ditemukan di Pantai Depok ini, dilihat dari ukuran tubuhnya cukup besar, sangat disayangkan karena kita kembali menemukan penyu mati di pesisisr pantai selatan ini, teman-teman di lapangan saya minta untuk segera berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Biologi untuk membantu identifikasi penyebab kematian penyu di Pantai Depok ini, sehingga ke depan dapat diambil langkah yang tepat terkait konservasi penyu di Pesisir Pantai Selatan" tegasnya. Bangkai penyu selanjutnya dikubur oleh petugas Balai KSDA Yogyakarta dengan dibantu personil SAR Pantai Parangtritis yang bertugas di Pantai Depok. Sumber : Sujiyono (Polhut) - BKSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kematian satu Individu Orangutan Sumatera

Selasa, 22 Oktober 2019 - Balai KSDA Aceh hari Senin tanggal 21 Oktober 2019 sekitar pukul 12.00 WIB menerima laporan masyarakat terkait temuan bangkai 1 (satu) individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Lae trep Desa Rantau Gedang, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. Pada hari Selasa tanggal 22 Oktober 2019 sekitar pukul 9.00 WIB Balai KSDA Aceh melalui Seksi Konservasi Wilayah II Subulussalam bersama Satuan Reskrim Polres Aceh Singkil dan Mitra Balai KSDA (YOSL-OIC, WCS-IP, Y’SAN, Pemuda Pencita Alam Singkil) bergerak menuju tempat kejadian perkara untuk melakukan identifikasi, evakuasi dan nekropsi terhadap Bangkai Orangutan Sumatera (Pongo abelii) tersebut. Dari hasil identifikasi dan nekropsi dilapangan diketahui Orangutan Sumatera (Pongo abelii) tersebut berjenis kelamin jantan, umur sekitar 25 tahun dan diperkirakan sudah mati sekitar 2 (dua) minggu yang lalu. Pada bangkai tidak ditemukan adanya bekas luka tembak/ peluru, tidak terdapat frakture tulang dan Kondisi bangkai OU sudah mengalami pembusukan /autolisis sehingga Tim kesulitan untuk menegakkan diagnosa penyebab kematian satwa. Kendati demikian tim BKSDA Aceh dan kepolisian setempat akan melakukan investigasi untuk mengetahui ada tidaknya unsur pidana terkait dengan penyebab kematian satwa OU tsb. Untuk itu dihimbau kepada semua lapisan masyarakat untuk sama sama menjaga kelestarian alam dengan dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat tempat hidup satwa-satwa yang dilindungi serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati, termasuk Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang merupakan satwa liar yang dilindungi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species atau IUCN (2015) memberikan status konservasi Orangutan Sumatera sebagai critically endangered. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) juga merupakan salah satu dari 25 satwa terancam punah prioritas yang ditingkatkan populasinya melalui Surat Keputusan Dirjen KSDAE Nomor: SK. 180/IV-KKH/2015 tanggal 30 Juni 2015. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh sangat berterima kasih kepada seluruh mitra yang terlibat dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama ikut dalam melestarikan satwa liar yang dilindungi Sumber: Balai KSDA Aceh
Baca Berita

EKSATLI Sambangi SMP Negeri 2 Jakarta Pusat

Jakarta, 23 Oktober 2019 - Kelompok EKSATLI (Edukasi Satwa Liar, Tumbuhan, dan Lingkungan) dengan dukungan BKSDA Jakarta dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada hari Rabu melaksanakan kegiatan sambang sekolah di SMP Negeri 2 Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 200 siswa pilihan terbaik mulai dari kelas 7 s/d kelas 9 pada sekolah tersebut. Kegiatan sambang sekolah kali ini mengambil tema “Pelestarian Ekosistem Pesisir”, yaitu mangrove, lamun, dan terumbu karang. Ketiga ecosystem tersebut merupakan ekosistem penyusun pesisir yg memiliki fungsi sangat penting dalam melindungi pantai, penyerap karbon yg luar biasa, habitat berbagai macam fauna, dan kegiatan edu/ekowisata. "Namun ekosistem ini mendapat berbagai macam ancaman baik dr manusia dan alam. Aktivitas pembangunan, pembukaan lahan di sekitar pesisir dan limbah serta sampah menjadi ancaman nyata bagi kelestarian ekosistem tersebut", tutur Richard Penyuluh Kehutanan BKSDA Jakarta. "upaya ade-ade minimal dari lingkngan terkecil yaitu rumah tangga dengan mengelola sampah dengan bijak dan meminimalkan penggunaan sampah plastik serta terlibat aktif dalam aktivitas/komunitas pecinta lingkungan" tambah Sutrisno sebagai ketua dari EKSATLI. Kegiatan ini diselingi dengan kegiatan ice breaking, games dan diskusi interaktif yang membuat suasana menjadi menarik. Ayu Syifa Murid Kelas 9 SMPN 2 Jakarta Pusat, sangat menyambut sekali kegiatan ini sehingga khususnya bagi para remaja semakin mencintai ekosistem mangrove dan juga dapat menambah pengetahuan ekosistem disekitarnya. Saya berharap untuk kedepannya semoga tidak ada lagi kerusakan khususnya ekosistem hutan mangrove. Sayuti, M. Pd (Kepala Sekolah SMPN 2 Jakarata Pusat) sangat menyambut baik kegiatan ini dan berharap para mahasiswa dapat memetik manfaat dari kegiatan ini dan kemudian ikut berperan aktif dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove di Indonesia khususnya di Jakarta. Besar harapan semoga kegiatan ini terus dapat dilanjutkan di sekolah lainnya karena selalu mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Sumber: Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Petugas TN Gunung Leuser Lepasliarkan Trenggiling Temuan Warga Bohorok

Bohorok, Oktober 2019, Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser wilayah V Bohorok melepasliarkan satu individu trenggiling di resor Bukit Lawang pada Senin (21/10), pukul empat sore. Satwa bersisik ini ditemukan warga desa Timbang Lawan kec. Bohorok. Warga mengaku memergoki satwa yang bernama ilmiah Manis javanica ini saat sedang berjaga di persawahan. Mengetahui satwa tersebut dilindungi undang-undang, warga menyerahkan hewan langka ini kepada petugas TN Gunung Leuser pada Sabtu (19/10). Setelah diperiksa volunteer setempat, sang trenggiling dinyatakan dalam keadaan baik serta layak untuk dilepasliarkan. “Ada trend menarik dari proses ini, kami melihat peningkatan kesadaran masyarakat untuk menyerahkan satwa liar kepada kami,” ujar Palber Turnip, Kepala Seksi Pengelolaan TN wilayah V Bohorok. “Ya, mungkin ada korelasi dengan trust yang terbangun di masyarakat setiap release satwa liar ke habitatnya”, jelasnya kemudian. Trenggiling berdasarkan IUCN berstatus kritis. Satwa pemakan semut yang betuk tubuhnya memanjang ini terancam keberadaannya akibat habitatnya terganggu serta menjadi objek perdagangan satwa liar. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Balai TN. Aketajawe Lolobata Latih SWAT dan Pokdarwis Jadi Pemandu Profesional

Tidore Kepulauan, 20 Oktober 2019. Sejak dimulainya promosi potensi keanekaragaman hayati dan potensi wisata alam di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) tahun 2015 melalui pameran tingkat nasional, saat ini kunjungan wisatawan meningkat setiap tahunnya. Alasan tersebut mendorong Balai TNAL melakukan pembentukan dan pembinaan kelompok-kelompok wisata alam. Terdapat beberapa kelompok binaan yang telah di bentuk dan diberikan bantuan baik berupa peralatan maupun pelatihan. Kelompok wisata tersebut terdapat di Resort Tayawi dan Resort Ake Jawi. Hal ini dikarenakan kedua resort tersebut merupakan show window bagi ekowisata di TNAL. Pada tanggal 20 Oktober 2019 Balai TNAL melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan pemandu wisata alam. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Suaka Paruh Bengkok, Desa Koli, Kec.Oba Kota Tidore Kepulauan. Tujuan pelatihan adalah memberikan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat untuk menjadi pemandu wisata yang baik dan pengetahuan tentang ekowisata lebih mendalam. Peserta kegiatan adalah kelompok Sanggar Wisata Alam Tayawi (SWAT) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Koli yang berjumlah 30 orang. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala SPTN Wil. I Weda, Jumrin Said. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi pertama oleh penyuluh kehutanan M. Arif Setiawan. Materi yang dibawakan adalah kemitraan konservasi. Narasumber pelatihan berasal dari praktisi wisata alam yang juga pemilik dari Weda Reef and Rainforest Resort, Linda Mangimbulude dan Pemandu lokal Desa Koli, Sukardi M Saleh. Materi yang disampaikan oleh Linda Mangimbulude adalah dasar-dasar pemandu wisata alam sedangkan Sukardi M. Saleh memberikan materi tentang pengembangan diri bagi pemandu wisata alam dan berbagi pengalaman selama menjadi guide di Resort Tayawi sebagai motivasi bagi para peserta. Setelah pemberian materi, para nara sumber dan peserta diajak mengunjungi Resort Tayawi dan guest house atau Rumah Singgah milik SWAT. Dalam kunjungannya, Linda Mangimbulude pun mengajak masyarakat yang ingin menjadi pemandu untuk belajar di Weda Reef and Rainforest Resort. Sumber : Nadiya Fasha Fawzi, S.Hut (Calon PEH Pertama)
Baca Berita

Pesta Pesona Pulau Suwangi di TWA Pulau Burung dan Pulau Suwangi

Batulicin, 21 Oktober 2019 - TWA Pulau Burung dan Pulau Suwangi yang baru saja mendapat penurunan fungsi dari Cagar Alam (CA) menjadi Taman Wisata Alam (TWA) mengadakan acara Pesona Pulau Burung (Ade Massorong) untuk tahun 2019 ini. Acara Pesona Pulau Suwangi dilaksanakan dengan berbagai kegiatan menarik seperti Perlombaan Balapan Speed Boat dan Ketinting, Bermain Logo dan hiburan. Acara puncak Ade Massorong dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Tanah Bumbu, Danlanal Kotabaru dan Tanah Bumbu, Dinas Pemuda dan Olahraga, TNI AL dan BKSDA Kalimantan Selatan. Menurut Bapak Syarwani selaku Ketua Adat bahwa acara adat ini adalah bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki dan kesehatan bagi warga kampung dan untuk melestarikan budaya suku Bugis yang tinggal di Pulau Suwangi. Dalam acara ini Bapak Syarwani Mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang sudah berhadir dalam acara ini, khususnya kepada Bapak Bupati Mardani H. Maming dan Kepala Balai BKSDA Kalimantan Selatan Bapak Dr. Ir. Mahrus Aryadi M.Sc karena sudah memperjuangkan hak warga yang tinggal di Pulau Suwangi untuk bisa terlibat dalam pengelolaan kawasan ini. Pada kesempatan menyampaikan pidatonya, Dr. Mahrus mengajak masyarakat Pulau Suwangi untuk bergerak bersama berkoordinasi untuk menampilkan pulau Suwangi agar lebih dikenal. Pulau Suwangi sendiri dulunya adalah Cagar Alam dan pada tanggal 11 Oktober 2019 sudah dialih fungsikan menjadi Tanam Wisata Alam. Kepala Dinas Pariwisata Tanah Bumbu Juga menyambut baik rencana Kepala Balai KSDA, dinas pariwisata akan berkoordinasi dengan masyarakat untuk membuat Taman Wisata Alam Pulau Suwangi bisa memiliki ciri khas tertentu sebagaimana hasil dari kajian Tim Terpadu. Kekhasan yang menonjol adalah tumbuhnya tanaman berkayu dan buah2an yang alami dan adanya sumber air yang jadi tumpuan hidup masyarakat setempat. Pada bagian akhir dijelaskan bahwa setelah adanya perubahan fungsi menjadi TWA maka akan ditindak-lanjuti dengan kegiatan sosialisasi, penyusunan rencana termasuk bloking dan desain tampak serta FGD pelibatan masyarakat setempat. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 4.673–4.688 dari 11.140 publikasi