Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

SPTN Wilayah II Baserah Ajak Masyarakat Desa Kunjungi dan Belajar Budidaya Lebah Madu Kelulut

Senin, 28 Oktober 2019 – Dalam rangka menumbuhkembangkan potensi budidaya madu kelulut dikawasan TN Tesso Nilo, SPTN Wilayah II Baserah melaksanakan kegiatan “widya karya” dengan memboyong kelompok masyarakat sebanyak 25 orang ke penangkaran lebah madu kelulut di kampung Lalang, Kecamatan Sungai Apit, Siak. Kampung Lalang dipilih petugas menjadi destinasi pilihan widya karya karena telah terkenal dengan madu kelulutnya. Pada kampung Lalang sendiri madu kelulut telah berhasil meningkatan perekonomian desa cukup tinggi (sebagai pendapatan tambahan yang menjanjikan, serta membuat kampung Lalang terkenal dan menjadi inspirasi desa-desa lain. Rombongan SPTN wilayah II Baserah di pimpin oleh Kepala SPTN Bapak Ibram Eddy Candra, S.Hut, M.Sc membawa kelompok masyarakat binaan dari Desa Gunung Melintang dan Desa Rambahan untuk belajar langsung kepada warga Desa Kampung Lalang yang telah menjadi peternak lebah kelulut yang sukses. Berdasarkan keterangan dari Kepala SPTN II Baserah yang ikut serta bersama masyarakat, masyarakat yang mengikuti kegiatan widya karya tersebut merupakan masyarakat yang sudah diberi keterampilan dasar untuk beternak madu kelulut, diantaranya diberikan pelatihan oleh Balai TN Tesso Nilo serta bantuan peralatan budidaya. Selain itu masyarakat tersebut juga telah menjalankan budidaya kelulut sendiri, namun perlu untuk belajar lebih mendalam lagi secara langsung pada pelaku budidaya lebah madu kelulut yang telah berhasil, agar nanti dapat sukses sebagai petani madu kelulut di desa penyangga TN Tesso Nilo. Menurut keterangan Kepala Balai TN Tesso Nilo Bapak Ir. Halasan Tulus, kegiatan widya karya sangat perlu dilaksanakan untuk menambah ilmu pengetahuan kelompok masyarakat dalam menjalankan program kelompok itu sendiri, “widya karya kali ini dilaksanakan oleh TN Tesso Nilo kepada kelompok masyarakat binaan guna membuka wawasan masyarakat tersebut untuk menjalankan budidaya madu kelulut lebih baik lagi, dengan bertambahnya wawasan tersebut Balai TN Tesso Nilo berharap perekonomian masyarakat desa sekitar kawasan dapat meningkat,” terang Kepala Balai. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Semarak

Desa Latondu, 28 Oktober 2019 - Sudah menjadi kegiatan tahunan Balai Taman Nasional Taka Bonerate, tahun ini Bina Cinta Alam dipusatkan di Pulau Latondu. Giat yang bertema "Generasi Milenial Cinta Alam" ini menitikberatkan pada kegiatan aksi konservasi dan pemberian materi-materi tentang lingkungan hidup dan konservasi yang disajikan oleh pemateri yang ahli di bidangnya. Berlangsung selama 4 (empat) hari dari tanggal 24-27 Oktober 2019. Dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate Faat Rudhianto. Turut hadir pula Ocean Defender Greenpeace Indonesia Ria Qorina yang juga Photografer Profesional underwater, Mitra WCS-IP, perwakilan dari UPT. Sulawesi Selatan seperti Balai Diklat LHK Makassar, TN Bantimurung Bulusaraung, Kepala SPTN Wilayah I Tarupa Raduan Parman, Ketua Dharma Wanita Balai TN Taka Bonerate, perangkat Desa Latondu dan kelompok masyarakat PAAP (Pengelolaan Akses Area Perikanan) Latondu serta Babinsa Latondu. "Lokasi BCA (Bina Cinta Alam) tahun ini memilih lokasi Pulau Latondu, diharapkan kedepan pulau lain akan jadi tuan rumah" ucap Faat Rudhianto memulai sambutannya. Bina Cinta Alam ini diharapkan juga menumbuhkan rasa cinta dan menjaga lingkungan hidup untuk generasi muda milenial. BCA Kali ini dirangkaikan dengan kalender event pariwisata pemerintah Kab. Kepulauan Selayar, Festival Taka Bonerate 2019 yang juga dipusatkan di Pulau Latondu. Dengan terlaksananya kegiatan ini masyarakat diharapkan akan lebih mengerti dan paham manfaat dan arti penting pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Pramuka dan Pelajar sebagai komponen generasi muda milenial mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang program kegiatan pelestarian alam dan lingkungan hidup. Selain giat penanaman pohon di Pulau Tinabo dan Pulau Latondu, Bersih Pantai, belajar transplantasi karang, pelepas-liaran tukik, lomba yel-yel, pentas seni dan tentunya banyak games yang melatih kekompakan peserta dengan bermacam-macam hadiah menarik. Di penghujung acara malam penutupan, Kepala Dinas Kepariwisataan Kepulauan Selayar Andi Abdul Rahman menyempatkan hadir dan memberi sambutan sekaligus menutup resmi acara Bina Cinta Alam Tahun 2019. "Harapan saya kepada kepala balai, bapak Faat Rudhianto, bahwa kegiatan Bina Cinta Alam ini ada keberlanjutan dengan kata lain dilaksanakan setiap tahunnya" Ucap Andi Abdul Rahman. Pada kesempatan yang sama kepala dinas juga menyampaikan ucapan terima kasih kepala kepala balai dan panitia pelaksana BCA sehingga acara ini berlangsung dengan semarak dan sukses karena BCA juga event supporting dari Festival Taka Bonerate 2019. Sumber teks & foto : Asri PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Peringati HUT Perwita Wana Kencana ke-73 , Dharma Wanita TN Tesso Nilo Peroleh Juara Umum

Pekanbaru, 26 Oktober 2019 – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Perwita Wana Kencana ke-73 tahun, Dharma Wanita TN Tesso Nilo ikut serta dalam perayaan yang dilaksanakan di kantor BDLHK Pekanbaru. Acara ini diikuti oleh Dharma Wanita seluruh UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau. Ketua Dharma Wanita TN Tesso Nilo bersama anggota mengikuti berbagai kegiatan lomba yang diadakan oleh panitia diantaranya lomba vocal grup , lomba giling cabe sambil goyang dangdut, dan lomba estafet tepung. Dharma Wanita TN Tesso Nilo mengikuti seluruh kegiatan dengan semangat dan antusias yang tinggi. Dengan penuh kerja keras, Dharma Wanita TN Tesso Nilo memperoleh juara I di seluruh cabang lomba yang diadakan. Atas juara-juara yang diperoleh tersebut Dharma Wanita TN Tesso Nilo berhasil mendapatkan predikat juara umum. Selain memenangkan perlombaa, didapatkan juga banyak hadiah doorprize. Ketua Dharma Wanita TN Tesso Nilo Ibu Marsinta Halasan Tulus yang ikut serta mendampingi jalannya kegiatan memberikan dukungan penuh kepada para anggota yang mengikuti berbagai perlombaan yang dilaksanakan. Menurutnya, juara umum yang diperoleh sejalan lurus dengan usaha yang dilakukan para anggota yang latihan dengan konsisten sebelum mengikuti lomba. Atas perolehan juara tersebut Kepala Balai TN Tesso Nilo BapaK Ir. Halasan Tulus menyampaikan kebanggaannya kepada Dharma Wanita TN Tesso Nilo,” Kerja keras dan ikhlas yang saling mendukung serta loyal, itu akan membuahkan hasil. Bravo Dharma Wanita TN Tesso Nilo”, ungkap Kepala Balai. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Peran TNI Kodam II Sriwijaya Dalam Konservasi Gajah Sumatera di SM Padang Sugihan

Gambar 1. Penyampaian materi terkait peran TNI Kodam II Sriwijaya dalam Konservasi Gajah di SM Padang Sugihan oleh Kepala SKW III Balai KSDA Sumatera Selatan Senin, 28 Oktober 2019 - Panglima Kodam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan, S.IP, M.Hum memberikan arahan bahwa “pemikiran untuk menempatkan personil TNI di Desa sekitar Kawasan SM Padang Sugihan pada tahun 2020 dapat dipertimbangkan untuk direalisasikan apabila dapat menekan terjadinya kebakaran hutan pada kawasan konservasi tersebut”. Arahan tersebut disampaikan pada acara pemaparan Peran Kodam II Sriwijaya dalam Konservasi Gajah di Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan yang dilaksanakan di Kantor Kodam II Sriwijaya Palembang. Paparan disampaikan oleh Kepala Seksi Wilayah III Balai KSDA Sumatera Selatan (Azis Abdul Latif MS, S. Hut. T) dengan dihadiri dari jajaran Kodam II Sriwijaya (ASOPS, Pabandya OPS/LAT dan jajaran Kodam Sriwijaya lainnya). Dari Balai KSDA Sumatera Selatan, dihadiri juga oleh KSBTU Balai KSDA Sumatera Selatan (Sunyoto, S.H), Shabiliani Mareti, S.Hut.,M.Si (PEH Muda), Kepala Resort Konservasi Wilayah XII SM Padang Sugihan (Febri Budiman, S.H) dan dihadiri juga oleh awak media cetak Sumatera Ekspres (SUMEKS). Pemaparan materi terkait peran Kodam II Sriwijaya dalam Konservasi Gajah di SM Padang Sugihan merupakan sarana diskusi dan memberi masukan materi keterkaitan Profile SM Padang Sugihan, Kaitan antara TNI Kodam II Sriwijaya dengan Gajah di SM Padang Sugihan, dan Peran TNI dalam penanganan Karhutla di Kawasan Konservasi SM Padang Sugihan. Kawasan Konservasi SM Padang Sugihan ditunjuk berdasarkan SK Menhut No.004/Kpts-II/1983 tgl 19 April 1983 dengan luas 75.000 Ha dan ditetapkan berdasarkan Kepmenhut No.SK.2858/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 16 April 2014 dengan luas 88.148,05 Ha. Kawasan ini merupakan habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan satwa khas Sumatera lainnya seperti beruang, rusa sambar dan berbagai macam jenis burung. Sebelum penunjukan sebagai Suaka Margasatwa, pada Bulan November sampai dengan Desember Tahun 1982 telah dilaksanakan Operasi Ganesha. Operasi ini merupakan operasi dalam rangka relokasi kelompok gajah dari lokasi transmigrasi di Muara Sugihan kelompok hutan di Lebong Hitam yang selanjutnya disebut SM Padang Sugihan dengan mengadopsi nama Sungai Air Padang dan Sungai Air Sugihan yang merupakan batas alam kawasan tersebut. Operasi Ganesha dilaksanakan oleh personil ABRI/TNI dari Kodam II Sriwijaya dengan pimpinan lapangan Kolonel IGK Manila. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, Kawasan Konservasi SM Padang Sugihan termasuk dalam wilayah Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan. SM Padang Sugihan mempunyai ekosistem hutan dataran rendah dan ekosistem gambut dengan kedalaman < 40 cm sampai dengan > 250 cm. Kondisi ini pada musim kemarau menjadi rawan terhadap kebakaran hutan. Sampai dengan bulan Oktober 2019 ini, berdasarkan data Hotspots LAPAN, kawasan ini secara kumulatif telah terdeteksi sebanyak 698 titik HS. Gambar 2. Peran TNI Kodam II Sriwijaya dalam Penanganan Karhutla melalui sosialisasi dan pemasangan spanduk Keterlibatan TNI dari Kodam II Sriwijaya dalam penanganan dan pengendalian kebakaran di SM padang sugihan sangat intens dan sangat membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara teknis, pemadaman dilakukan dengan melibatkan Regu Brigdalkarhut Balai KSDA Sumatera Selatan, BKO Manggala Agni dari Balai PPI Wilayah Sumatera, dan TNI Kodam II Sriwijaya, Kepolisian, perusahaan dan masyarakat. Penanganan kebakaran secara tidak langsung dilakukan melalui patroli bersama, sosialisasi, pemasangan spanduk, koordinasi antar stakeholder. Sekecil apapun upaya dalam rangka penanganan kebakaran di SM Padang Sugihan yang sangat masif, mudah-mudahan mendapat manfaat dalam rangka konservasi habitat Gajah Sumatera. Sumber : Azis Abdul Latif MS.,S.Hut.T - Balai KSDA Sumatera Selatan Foto: Shabiliani Mareti,S.Hut.M.Si. Febri Budiman.,S.H.
Baca Berita

Talkshow Markopi Jolo Warnai Rangkaian Kegiatan Festival Desa Penyangga 2019

Senin, 8 Oktober 2019 - Sebuah ide baru muncul di Festival Desa Penyangga tahun ini. Talk Show “Markopi Jolo“ Markopi jolo itulah pemberian nama dari Talk Show ini diambil dari bahasa daerah Mandailing, jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia mempunyai arti “Ngopi Dulu“ ,bukan berarti isu yang diangkat dari Talk Show ini hanya tentang kopi, tapi berbagai ragam pembahasan antara lain ; Pemberdayaan Masyarakat Desa Penyangga,Flora Fauna, Adat dan Budaya Mandaililng , Lingkungan dan Konservasi Alam . Tema “Melestarikan Lingkungan dengan Falsafah Poda Na Lima“ mengawali di mulainya Talk Show ini dengan pembicara Drs. Askolani NST dan Ibu Syafridah Lubis, Kedua narasumber ini adalah Budayawan dari Mandailing. Menyampaikan materi narasumber tentang “Poda na Lima dalam Kebudayaan Mandailing” ,Selain pendekatan budaya Mandailing, juga pendekatan berbasis lingkungan hidup. Peserta dari acara Talk Show ini yaitu mahasiswa dari STAIM Madina. Dalam penyampaian materi nya sebuah kutipan menarik dari Narasumber bapak Askolani “Poda na Lima tentu bukan hanya pada tataran material saja, jauh lebih penting ranah immaterialnya. Karena untuk “bersih” tidak sesimpel itu, Markopi Jolo bukan sebatas ajakan minum kopi, tetapi tawaran untuk menyuguhkan makan bagi orang yang kita anggap kerabat atau orang yang kita hormati. Kopi menjadi instrumen budaya bagi orang Mandailing” . Talk Show “Markopi Jolo“ akan menjadi sebuah agenda bulanan sebagai wadah diskusi bagi Pegiat Konservasi, Budayawan, Pecinta alam, Mahasiswa dan Masyarakat umum yang ingin menuangkan pikiran nya untuk berdedikasi tentang kepedulian terhadap Lingkungan dan Alam yang terjaga lewat Budaya , Pendidikan Konservasi dan Pemberdayaan Masyarakat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya desa Penyangga TN Batang Gadis. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Pembersihan Hama Lipan Laut di Kawasan Perairan TN Kepulauan Togean

Ampana, 27 Oktober 2019 - Lipan Laut (Acanthaster planci) merupakan salah satu masalah besar yang potensial dihadapi di dalam pengelolaan terumbu karang. A. planci adalah pemangsa karang yang paling berbahaya ketika terjadi peledakan populasi (outbreak) di antara pemangsa karang yang ada, karena hampir seluruh karang hidup dimangsa oleh A. planci. Upaya pengendalian yaitu pengangkatan dan pemusnahan A. planci di kawasan perairan Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) diperlukan sebagai bentuk pencegahan outbreak predator karang tersebut. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean bersama Yayasan Konservasi Kepulauan Togean (YKTT), Komunitas Dive, Black Marlin Resort, Sifa Resort, Fadhila Resort, Togean Boat Trip, Lia Beach, masyarakat lokal, volunteer dan turis mancanegara yang sedang berlibur di TNKT telah melaksanakan Kegiatan Pembersihan Hama Lipan Laut untuk pemulihan ekosistem terumbu karang di kawasan perairan TNKT pada tanggal 1 s/d 21 Oktober 2019. Kegiatan ini merupakan projek YKTT yang disponsori oleh TNKT, Pristine Paradise Resort, Sanctum Dive Resort, Harmony Bay Resort, Kadidiri Paradise Resort, Malenge Indah Resort, Bahia Tomini Resort, Sandy Bay Resort, dan Black Marlin Resort. Kegiatan ini dilakukan di beberapa lokus kegiatan yaitu Pulau Una-una, Pulau Kadidiri dan Pulau Malenge yang merupakan monitoring site lipan laut. Dalam kegiatan ini, sekitar 8000 ekor lipan laut diangkat dari kawasan perairan TNKT, yaitu di Tutturuga, Black Forest, Little India, Wall-E, Abyss, Jackpoint, Coral Garden, Mandiri, Taipi Wall, Trigger Point, Taipi Island, Mini Canyon, Heaven, New reef, Gap, Reef 1, Reef 2, Reef 4, Reef 5, Goa Kila, Sandy Bay House reef, Pangempa. Lipan laut yang diangkat memiliki diameter 8-48 cm. Pelaksanaan kegiatan pembersihan hama lipan laut dilakukan dengan menggunakan metode Fine Scale Survey Method. Tim pembersihan melakukan survei lokus kegiatan yang diduga memiliki populasi lipan laut yang cukup tinggi. Tim pembersihan kemudian dibagi menjadi 3 tim yaitu tim diving yang bertugas membersihkan lipan laut di kedalaman 8-17 m, tim snorkling dan free dive yang bertugas membersihkan lipan laut di kedalaman 1-7 m, serta tim yang berada di atas perahu yang bertugas untuk mengumpulkan lipan laut. Pembersihan dilakukan dengan mengangkat lipan laut menggunakan alat bantu penjepit dari bambu. Pengumpulan lipan laut dilakukan di atas perahu untuk menghindari lipan laut kontak langsung dengan air laut. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah lipan laut mengeluarkan larvanya untuk berregenerasi menjadi utuh kembali. Kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan pembersihan hama lipan laut diantaranya arus air laut yang tidak stabil. Hal tersebut diakibatkan karena adanya pengaruh cuaca di lokus kegiatan. Keberadaan lipan laut merupakan hama karena dapat merusak ekosistem terumbu karang. Menurut Ir. Bustang selaku Kepala Balai TNKT, “Kegiatan pembersihan hama lipan laut merupakan salah satu kegiatan pengendalian dan pencegahan ledakan populasi lipan laut dan wujud nyata dari TNKT yang merupakan bagian dari Cagar Biosfer Tojo Una una dalam rangka melindungi dan menjaga ekosistem terumbu karang. Kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun kerjasama antara TNKT bersama stakeholder seperti Yayasan Konservasi Kepulauan Togean, Pemerintah Daerah, resort di sekitar kawasan TNKT, masyarakat lokal dan mancanegara untuk menjaga keutuhan ekosistem laut”. Diharapkan dengan adanya kegiatan pembersihan lipan laut, kedepannya ekosistem terumbu karang lebih terjaga, ujarnya. Sumber : Khoirum Min Alfiyani (Calon PEH) - Balai TN Kepulauan Togean
Baca Berita

Bekantan Ditranslokasi ke TWA Pulau Bakut

ASTAMBUL, 26 Oktober 2019 − Bekantan ke luar habitat seolah telah menjadi fenomena yang lazim terjadi di Provinsi Kalsel. Baru-baru ini kasus Bekantan keluar habitat terjadi di Astambul, Kabupaten Banjar. Bekantan yang ditemukan warga bernama Muhammad Juanda pada pukul 8 pagi berada di lokasi persawahan matang danau Desa Tambak Danau Kecamatan Astambul Kab. Banjar. Bekantan kemudian dilaporkan ke Balai KSDA Kalimantan Selatan siang harinya. Pada siang hari itu juga petugas Balai KSDA Kalimantan Selatan terdiri dari Ahmad Barkati, Irga Hutama, Gunawan dan Jarot, langsung mendatangi lokasi kejadian. Dari cek lokasi diketahui Bekantan dimaksud posisi sudah diamankan warga. Secara fisik tidak ditemukan luka, hanya tampak kelelahan dan sedikit lemas. Oleh karenanya Bekantan langsung dilepaskan ke TWA Pulau Bakut di Barito Kuala. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi mengatakan Bekantan merupakan salah satu dari 25 satwa prioritas terancam punah yang populasinya terus dipantau dan diharapkan mengalami kenaikan sebesar 10% pada tahun 2015-2019. Satwa ini juga merupakan maskot provinsi Kalsel. Pada tahun 2018 ada sekitar 2.450 Bekantan yg teridentifikasi dalam kawasan konservasi, lebih dari 5.000 ekor berada di kawasan lainnya, katanya. “Ancaman kepunahan tentu akibat konflik pemanfaatan lahan untuk kebutuhan perumahan dan pembangunan yang semula sebagai habitat Bekantan. Usaha-usaha BKSDA bersama para pihak seperti Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Pemkot dan Pemkab serta ormas/ swasta adalah melindungi habitatnya melalui skema Kawasan Ekosistem Esensial (KEE)”. Bekantan jantan berusia lebih dari 15 tahun ini sekitar pukul 17.00 Wita telah dilepaskan di Pulau Bakut. Pulau Bakut sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi Bekantan yang ada di Kalsel. Harapannya Bekantan yang dilepas di kawasan ini mampu beradaptasi dengan habitat yang ada dan bersosialisasi dengan penghuni asli yang jumlahnya sekitar 60 ekor. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Evakuasi Satwa Liar Ular Phyton di Kab. Bengkalis

Pekanbaru, 22 Oktober 2019 - Pada pukul 09.15 WIB, seorang warga bernama mbah Mulyono melaporkan adanya seekor ular Phyton berukuran kurang lebih 7 meter. Saat itu juga anggota Resort Bukit Batu bersama mbah Mulyono menuju TKP dan meminta alat berat yang ada di sekitar kebun untuk membuat embung agar ular tidak kepanasan. Pukul 15.00 WIB, begitu perlengkapan tiba, tim langsung melakukan evakuasi satwa yang ditemukan warga di kebun sawit Desa Api api, Kec. Bandar Laksamana, Kab. Bengkalis dalam keadaan hidup. Diduga satwa tersebut baru memangsa babi hutan. Evakuasi ular Phyton dilakukan bersama warga setempat menggunakan satu unit alat berat EXCAPATOR dari lokasi kebun ke jalan poros. Selanjutnya pada pukul 17.30 WIB, ular yang dievakuasi ke mobil langsung dibawa menuju kantor Bidang Wilayah II Siak untuk dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan karena di tempat tersebut tidak memungkinkan untuk pelepasliaran. Sebelum subuh, ular dilepasliarkan di kawasan konservasi yang jauh dari pemukiman warga dan merupakan habitatnya. Salam konservasi!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Delegasi RI Hadiri Konferensi ke-6 ASEAN Heritage Park

Senin, 28 Oktober 2019 - ASEAN Centre for Biodiversity (ACB) menyelenggarakan konferensi ke-6 ASEAN Heritage Park (AHP) dengan tema "Sustainabilility and Innovation for Park and People." Konferensi ini berlangsung di Champasak Grand Hotel, Pakse, Champasak, Lao PDR. Pertemuan tahunan ini berlangsung dari tanggal 21 s.d 24 Oktober 2019. Saat ini ACB telah menetapkan 44 AHP di sembilan negara anggota ASEAN. Saat ini Indonesia telah memiliki 7 taman nasional yang telah ditetapkan menjadi AHP. Ketujuh taman nasional tersebut di antaranya: Taman Nasional Lorentz, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Wakatobi, dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Pada konferensi kali ini sedikitnya 22 orang Delegasi Republik Indonesia (Delri) hadir yang terdiri dari kepala balai, staf, perwakilan masyarakat lokal taman nasional, Diektorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Kawasan Konservasi, Biro Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta perwakilan LIPI dan NGO. Adalah Dr. Fifin Nopiansyah, Kepala Seksi Satwa Liar, Ditektorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, menjadi pemimpin Delri. Tak hanya menjadi peserta konferensi, beberapa di antara delegasi menjadi moderator, pembahas hingga menjadi pembicara. Para peserta konferensi bertemu, bertukar pengalaman, hingga berdialog tentang pengelolaan efektif kawasan lindung. Hari pertama, dialog terbagi menjadi dua, dialog antar sesama menejer AHP dan dialog kebijakan: sharing pengelolaan kawasan lindung dari beberapa negara. Malamnya, ACB menggelar gala dinner di Restoran Champasak Grand Hotel yang berada tepat di pinggir Sungai Mekong. Hari kedua, pembukaan resmi AHP, diskusi pararel yang terbagi dalam beberapa tema dan pameran. Delri juga turut berpartisipasi pada pameran dengan menampilkan tata kelola AHP di Indonesia. Tak hanya itu delri juga menampilkan produk dan kerajinan tangan masyarakat binaan AHP serta paket ekowisata. Tampak juga Menteri Pertanian dan Kehutanan Lao PDR, mengunjungi setiap stan pameran. Bercengkrama dengan pemandu pameran mengenalkan potensi negaranya. Malamnya, penyelenggara menggelar malam budaya. TN Babul tampil dengan mengenakan pakaian adat Bugis-Makassar. Gelaran cultural night ini cukup meriah dengan menampilkan tarian tradisional Lao PDR. Menampilkan tarian yang menggambarkan budaya keseharian masyarakat Laos: menanam dan panen padi, menjaring ikan, hingga menenun. Lebih meriah lagi saat penari lokal mengajak peserta konferensi menari bersama di depan panggung utama. Pada malam itu, ACB juga menyerahkan piagam penetapan AHP. TN Babul, TN Wakatobi, dan TN Kepulauan Seribu menerima piagam penetapan tersebut bersama kawasan lindung dari negara lain. Hari ketiga, diskusi panel yang terbagi dalam beberapa beberapa tema. Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi pembicara pada tema "Ekowisata: Bisnis dan Konservasi." Pada sesi ini peserta cukup tertarik dengan isi materi yang menerangkan grafik yang menunjukkan penurunan jumlah pengunjung sejak tahu 2015, namun nilai PNBP justru cenderung naik. "Mengapa terjadi penurunan jumlah wisatawan sejak tahun 2015 dan tampak terlihat jumlah pengunjung per tahun cukup besar, apakah di sana mass tourism?" tanya peserta panelis yang berasal dari Jerman. Tamen Sitorus, Kepala Balai Besar Kerinci Seblat, angkat bicara saat diskusi dengan menerangkan bahwa terjadinya penurun jumlah pengunjung di tahun tersebut karena diberlakukannya PP no. 12/2014 tentang PNBP. Ada kenaikan tarif yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi secara nasional. "Kedua, penerapan daya dukung wisata di TN Babul belum berjalan secara efektif. Namun berdasarkan hasil kajian daya dukung wisata yang telah disusun di taman nasional ini, hasilnya menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan belum melampaui batas maksimal," tambah Tamen. Sore hari penutupan konferensi berlangsung. Direktur Eksecutive ACB, Theresa Mundita S. Lim, menutup konferensi secara resmi. Menurut Theresa, AHP bukan hanya tentang bagaimana menjaga kawasan lindung tetapi juga menjadi sarana untuk mencapai harmoni antara manusia dan alam. Ini menyangkut Masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar AHP, mereka bergantung pada sumber daya alam taman nasional untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Beberapa dari mereka memiliki pengetahuan dan praktik tradisional yang membantu melestarikan keanekaragaman hayati di AHP. Di sana keterlibatan masyarakat sangat penting dalam mewujudkan konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan. Hari keempat, peserta konferensi melakukan kunjungan lapangan yang terbagi dua site kawasan wisata. "Saya sampaikan terima kasih kepada peserta delri atas partisipasi dan kontribusinya selama Sixth ASEAN Heritage Park Conference berlangsung. Selamat jalan dan sampai ketemu di lain waktu dan tempat. Khobcai lailai," tulis Fifin Nopiansyah di grup Whatsapp delri. Sumber: Taufiq Ismail (PEH) - Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Sekretaris Daerah Kab. Mandailing Natal membuka acara Festival Desa Penyangga

Kamis, 24 oktober 2019 - Perhelatan Festival Desa Penyangga tahun 2019 yang digelar oleh Balai Taman Nasional Batang Gadis dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kab. Mandailing Natal bapak Bapak Gozali Pulungan, SH, MM. Bapak SekdaKab. Madina mengapresiasi Balai TN Batang Gadis (TNBG) atas terselenggaranya event ini. “ Saya atas nama pemerintahan Mandailing Natal sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini, perlunya ajang promosi bagi desa-desa di Madailing Natal khususnya penyangga TNBG untuk menampilkan produk-produk unggulan nya “ ujar Bapak Gozali Pulungan,SH,MM. Acara pembukaan ini diawali dengan sambutan oleh Kepala Balai TNBG bapak Ir. Sahdin Siregar, M.Si kepala balai menyampaikan event tahunan ini merupakan promosi pengembangan ekonomi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, promosi ekowisata, promosi produk unggulan desa-desa penyangga TNBG. Dalam acara ini turut hadir Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) kab Mandailing Natal, Kadis PMD , Camat-camat sekitar desa penyangga , Kepala Desa penyangga TNBG dan Mitra TNBG. Event tahunan ini mengusung tema “Kelestarian Lingkungan Melalu Falsafah Poda Na Lima “ , beberapa rangkaian acara dalam event ini antara lain; Pameran, Pentas Seni, Talkshow, Lomba Menari, Lomba Menyanyi , Mandailing Coffe Fest , Senam Bersama dan Aksi Bersih Poda Nalima. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Tim Monitoring dan Supervisi SPTN II Baserah Tinjau Progres KTH

Jumat, 18 Oktober 2019 – Tim monitoring dan supervisi Kelompok Tani Hutan (KTH) SPTN Wilayah II Baserah melakukan monitoring untuk memantau perkembangan/kemajuan kelompok binaan desa TN Tesso Nilo. Monitoring dilaksanakan berdasarkan atas pembentukan kelompok masyarakat oleh TN Tesso Nilo di Desa Situgal pada tanggal 09 Juli 2019 bernama KTH "Maju Basamo". Dari monitoring dan pemantauan, diketahui bahwasanya Kelompok ini telah sepakat untuk mengalokasikan dana bantuanya utk mendongkrak ekonomi desa dari sektor budidaya tanaman pinang unggul jenis Pinang Batara. Dari keterangan tim monitoring dan supervisi, kelompok sangat kooperatif dan antusias dalam melaksanakan program kelompok yang telah dirancang. Hal tersebut terbukti dengan kelompok yang berjumlah 20 orang anggota ini membagi mereka menjadi kelompok kecil yg terdiri dari 5 (lima) orang/kelompok, hal ini mereka lakukan untuk memudahkan dalam pengawasan, monitoring serta menghindari kesenjangan antar anggota dalam hal pembagian tugas perawatan selama bibit berada di dalam bedeng persemaian. Kelompok-kelompok kecil ini bertugas dan bertanggung jawab pada benih/bibit yg dibesarkan nantinya sebelum masuk kedalam proses penanaman. Tim monitoring dan supervisi juga mengungkapkan bahwa beberapa proses telah dilaksanakan oleh KTH seperti penyiapan bedeng persemaian, penyiapan media tanam ke polybag, pupuk/kompos, dll, sehingga pada saat kecambah pinang tiba, kelompok-kelompok tadi tinggal bertugas memasukan kecambah ke dalam polybag-polybag yg sudah disiapkan. Kepala Balai TN Tesso Nilo Ir. Halasan Tulus menyampaikan dukungannya atas aktifnya KTH yang telah dibentuk, sesuai dengan pernyataannya, “Balai TN Tesso Nilo sangat senang dengan tanggapan kelompok yang sangat antusias menjalankan program dan bantuan yang telah diberikan pemerintah melalui Balai TN Tesso Nilo. Progres yang dilakukan oleh KTH ini semoga menjadi contoh bagi KTH lain untuk terus maju melaksanakan programnya”, terang Kepala Balai. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Buru Macan di Sempu, Petugas Pasang Camera Trap

Senin, 28 Oktober 2019 - Belakangan kesibukan semakin bertambah pada petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 21 Pulau Sempu, hal ini beriringan dengan mulai dipasangnya beberapa camera trap di cagar alam seluas 877 Ha. Salah satu tujuannya untuk mendapatkan dokumentasi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Sesuai arahan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Cagar Alam Pulau Sempu yang telah direview tahun 2018 yang lalu, salah satu satwa yang akan ditingkat populasinya ialah macan tutul. Dan RPJP tersebut telah dilakukan konsultasi publik pada Nopember 2018. Menurut Hari Purnòmo, Kepala RKW 21, pada pemasangan pertama dilakukan 22 Oktober 2019 sebanyak dua camera trap. Keduanya ditempatkan pada lokasi yang dijumpai bekas cakaran satwa liar. “Namun, hasilnya masih belum memuaskan, karena yang terekam baru Kijang, Kancil, dan Monyet ekor-panjang”, ujarnya. Untuk itu, Hari beserta anggota RKW 21 merubah lokasi camera trap pada 25 Oktober 2019. Dengan harapan, dapat menghasilkan dokumentasi dan lokasi berlalu-lalangnya si kucing besar tersebut. Sebenarnya Cagar Alam Pulau Sempu bukan satu-satunya kawasan konservasi lingkup Balai Besar KSDA Jatim yang dipasangi camera trap. Ada Cagar Alam Gunung Sigogor yang terlebih dahulu secara berkala dipasang camera trap untuk mendokumentasikan satwa yang sama. Serta, Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang lebih dulu menggunakan camera trap dalam memonitor keberadaan Rusa Bawean. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur Penulis & Foto: Agus Irwanto, Hari Purnomo
Baca Berita

Festival Danau Sentarum ke 8 Resmi Dibuka

Lanjak, 25 Oktober 2019. Festival Danau Sentarum 2019 (FDS) resmi dibuka kembali setelah sukses diselenggarakan ke- 8 kali nya. Festival yang masuk kedalam 100 kalender event nasional mengangkat budaya masyarakat setempat ini disambut meriah dan memuaskan. Kementerian Pariwisata, Dinas dan Instansi Daerah, Ketua DPRD, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan TFCA beserta NGO lainnya turut berpartisipasi dalam keberhasilan acara yang berlangsung selama 3 (tiga) hari sejak tanggal 25 Oktober. Pembukaan resmi dibuka oleh Bupati Kapuas Hulu bapak A.M Nasir di lapangan Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Tarian adat turut meramaikan dalam penyambutan para tamu. Festival Danau Sentarum diselenggarakan untuk menarik pengunjung dari luar maupun dalam negeri untuk mengenal wisata yang dimiliki oleh masyarakat Kapuas Hulu juga sebagai sumber ekonomi masyarakat dengan adanya pengunjung yang datang. Berbagai acara yang menghiasi mulai dari Tarian Budaya hingga Gerakan Minum Madu sebanyak 2000 gelas yang sangat unik dan menarik perhatian. Disebutkan dalam sambutannya Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran Kementerian Pariwisata bapak Fahmizal “sekitar 7,7 Triliun pendapatan yang dihasilkan dari bidang pariwisata Indonesia terhitung sampai 2018 lalu”. Ini membuktikan betapa besarnya pengaruh wisata bagi masyarakat. Oleh karenanya pembangunan dan pengelolaan wisata harus lebih konsisten baik dari pemerintah maupun masyarakat. Seluruh pejabat dan staff Balai Besar juga sangat bersemangat dalam mendukung keberhasilan acara mengingat acara berada disekitar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. (25/10) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Christina Aryani, Anggota DPR-RI Fraksi Golkar Bertandang ke BKSDA Jakarta

Jakarta, 25 Oktober 2019. Anggota DPR -RI masa kerja 2019-2024 Christina Aryani dari Fraksi Golkar, mengunjungi Balai KSDA Jakarta karena ingin tahu apa saja yang dikerjakan oleh BKSDA Jakarta terkait perlindungan dan pemanfaatan satwa liar. Disambut oleh Kepala Balai BKSDA Jakarta Ahmad Munawir dia mengungkapkan rasa penasaran dengan apa yang dikerjakan oleh BKSDA Jakarta, terkait konservasi satwa liar. Ungkap Christina membuka pertemuan. “Saya menaruh perhatian kepada kelestarian satwa liar” imbuh perwakilan dapil Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan luar negeri itu. Kepala Balai BKSDA Jakarta Ahmad Munawir memberikan paparan berupa tugas pokok dan fungsi BKSDA Jakarta secara umum dan program program perlindungan dan pemanfaatan satwa liar secara khusus. “3 pilar konservasi yaitu Perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya adalah dasar kami mengelola kawasan konservasi beserta isinya” imbuh Munawir menjelaskan. “Tumbuhan dan satwa liar boleh dimanfaatkan dalam koridor tertentu, dimana kelestariannya menjadi prioritas” pungkasnya. “BKSDA Jakarta membina 45 penangkaran, 122 pemegang ijin edar dalam negeri, 110 pemegang ijin edar luar negeri dan 5 lembaga konservasi. Selain melakukan pembinaan terhadap peredaran tumbuhan dan satwa liar, dalam hal perlindungan satwa liar BKSDA Jakarta melaksanakan kegiatan berupa patroli, penjagaan, penyadartahuan berupa kegiatan Edukasi Tumbuhan dan Satwa Liar (Eksatli), Ngobrol Santai Konservasi (Ngonser), press release, penanganan konflik satwa liar, evakuasi satwa liar, pelepasliaran dan rehabilitasi satwa liar, serta pengelolaan kawasan konservasi” lanjut munawir menjelaskan. Christina Aryani sangat mengapresiasi apa yang telah dikerjakan oleh BKSDA Jakarta. “Saya menaruh perhatian terhadap pengelolaan yang telah dilaksanakan oleh BKSDA Jakarta, semoga kedepan saya bisa membantu” tutup Christina. Christina Aryani adalah advokat dan juga merupakan anggota DPR RI terpilih di Pileg 2019 dari Partai Golkar. Dia maju dari dapil DKI II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar negeri. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Forum Suaka Margasatwa Paliyan, Bersama Mengelola Kawasan Dengan Lebih Baik

Yogyakarta 24 Oktober 2019. Pertemuan Forum Suaka Margasatwa (SM) Paliyan yang beranggotakan stakeholder terkait, kembali digelar Balai KSDA Yogyakarta Hari Selasa (22/10/19). Forum SM Paliyan merupakan wadah komunikasi antara BKSDA Yogyakarta dengan para pihak terkait dalam pengelolaan SM Paliyan. Bertempat di Aula SM Paliyan, kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap 3 bulan ini membahas beberapa isu mengenai pengelolaan SM Paliyan, diantaranya terkait penanganan gangguan Monyet Ekor Panjang (MEP), patroli rutin bersama forum dan laporan pelaksanaan kerjasama pemulihan ekosistem oleh PT Rimba Partikel Indonesia (RPI). Dalam laporannya, PT RPI menyampaikan upaya rehabilitasi tiada henti yang dilakukan untuk memulihkan kawasan SM Paliyan. Di mulai dari tahun 2017, Mitsui Sumitomo Insurance Group (MSIG) mulai menanam tanaman dengan jenis asli (native species karst). Kegiatan pemeliharaan dan penyiraman dilakukan agar pertumbuhan tanaman dapat lebih optimal. Total luas lokasi yang telah ditanami dengan jenis native species karst 16 ha. Tahun 2017 menanam 11 ha dan 2018 menanam 5 ha. Momentum pertemuan Forum SM Paliyan ini juga menjadi ajang perkenalan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi yang sejak Bulan Agustus 2019 menjadi nahkoda baru Balai KSDA Yogyakarta. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai KSDA Yogyakarta mengingatkan kembali bahwa kawasan SM Paliyan merupakan role model pengelolaan kawasan konservasi. “Suaka Margasatwa Paliyan yang dikenal orang kawasan batu bertanah adalah role model dalam rehabilitasi kawasan konservasi yang dapat menjadi salah satu contoh pembelajaran rehabilitasi kawasan. Selain itu, sebagaimana arahan Dirjen KSDAE dalam pelaksanaan 3 pilar konservasi yang meliputi perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan, hendaknya masyarakat mendapatkan manfaat dari pengelolaan kawasan konservasi ini. Untuk mewujudkannya kita bisa memegang konsep Masyarakat Sejahtera, Hutan Lestari.” Tutur M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi menjelaskan “Untuk dapat memayungi kegiatan forum Paliyan ini perlu adanya Surat Keputusan pembentukan forum dan AD ART dalam pengelolaan Forum Paliyan. Surar Keputusan ini tolong segera disusun agar forum memiliki susunan organisasi yang baik dan dapat mendukung tujuan lintas kerjasama dalam pengelolaan SM Paliyan. Saya sangat berharap forum punya peran yang lebih besar nantinya dalam membantu Balai KSDA Yogyakarta di dalam pengelolaan SM Paliyan ini.” Jelasnya. Di sisi lain, Forum SM Paliyan yang sudah berdiri sejak tahun 2011 tersebut menginginkan adanya komunikasi dari Balai KSDA Yogyakarta kepada masyarakat Paliyan sampai di tingkat tapak. Forum juga mengharapkan Balai KSDA Yogyakarta merespon harapan masyarakat terkait pembangunan embung air oleh Dinas PUPR dan jalan dalam kawasan untuk mempersingkat akses antar desa, sehingga masyarakat juga dapat berperan serta dalam menjaga keamanan kawasan SM Paliyan. Kepala Balai KSDA Yogyakarta merespon harapan forum tersebut dengan melakukan komunikasi yang lebih intensif dengan masyarakat Paliyan maupun forum Paliyan sehingga permasalahan yang masih terjadi dapat segera diselesaikan. Respon Kepala Balai ini sesuai dengan arahan Sekretaris Ditjen KSDAE beberapa waktu yang lalu yang meminta kesanggupan Kepala UPT lingkup Ditjen KSDAE untuk membangun komunikasi dan kerjasama para pihak dalam menghadapi tantangan permasalahan pengelolaan kawasan konservasi. Di akhir pertemuan, peserta diajak untuk menyaksikan film singkat terkait Paliyan Wildlife Sanctuary (PWS) Project MSIG. Pesan yang disampaikan dari film tersebut adalah tantangan di Jepang terkait perubahan iklim yang memerlukan adanya komitmen bersama masyarakat untuk menjaga dan melindungi hutan. Prioritas yang diambil meliputi upaya pelestarian secara terus menerus dan upaya menurunkan tingkat pengerusakan lahan. Selanjutnya MSIG akan fokus pada keanekaragaman hayati. Pesan lain yang ingin disampaikan MSIG adalah latar belakang bisnis MSIG yang bergerak dibidang asuransi dengan penggunaan kertas yang banyak dalam penyusunan dokumen kotrak asuransi. Kesadaran bahwa bahan baku kertas yang digunakan berasal dari kayu, sehingga MSIG perlu berkontribusi pada masalah lingkungan seperti deforestasi, dan diputuskan Indonesia sebagai lokasi proyek rehabilitasi MSIG. Sumber : Tessa Rossanda - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Sidang Kedua Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan di Kawasan TaNa Bentarum

Putussibau, 24 Oktober 2019. Persidangan kedua digelar di Kantor Pengadilan Negeri Puttusibau dengan agenda mendengarkan keterangan saksi fakta dalam kasus tindak pidana dibidang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan di Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) atas terdakwa SUKARNA Alias MUK NA. Kasus ini bermula pada hari Jum’at tanggal 2 Agustus 2019 sekitar pukul 15.40 WIB ketika petugas Balai Besar TaNa Bentarum sedang melaksanakan kegiatan Patroli Pengamanan Kawasan dan Peredaran Hasil Hutan TaNa Bentarum. Tim Patroli mendapati Sukarna sedang mengangkut 297 keping Kayu Olahan jenis Kawi ukuran 2,5 cm x 18 cm Panjang 3,2 meter, 64 batang Kayu Olahan jenis Kawi ukuran 5 cm x 8 cm Panjang 3,2 meter, 60 batang Kayu Olahan jenis Kelansau ukuran 5 cm x 8 cm Panjang 4,2 meter, 55 batang Kayu Olahan jenis Kelansau ukuran 4 cm x 6 cm Panjang 4,2 meter yang tidak dilengkapi surat keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) dengan menggunakan 1 unit Kapal Bandong berwarna biru muda dan merah bertuiskan Putri Sella didalam Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum yang terletak di daerah Sungai Belitung Desa Sekulat Kecamatan Suhaid. Terdakwa melanggar Pasal 83 Ayat (1) huruf b Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan atau Pasal 88 Ayat (1) huruf a Undang-undng Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan sehubungan dengan laporan Kejadian Nomor: LK.01/T.4/TU/GKM/8/2019 Tanggal 3 Agustus 2019. Saksi dalam Persidangan ini menghadirkan Saudara Abang Abdul Anam dan Sahpudin sedangkan dari Balai Besar TaNa Bentarum menghadirkan Saudara Ade Arief, S.Hut., Yudha Prasetya, A.Md dan Asri Ali Gessa, A.Md. Dalam sidang ini, terdakwa membenarkan seluruh keterangan saksi dan secara umum persidangan berjalan lancar. Sumber : Daud - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)

Menampilkan 4.657–4.672 dari 11.140 publikasi