Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Review Zonasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Gorontalo, 29 Oktober 2019. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone mengadakan konsultasi publik “Review Zonasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone”. Acara yang digelar di ruang rapat kantor Bappeda Provinsi Gorontalo dihadiri para pihak antara lain Perguruan Tinggi dari Fakultas Kehutanan Universitas Gorontalo, Bappeda Provinsi Gorontalo, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Gorontalo, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, BWS II Sulawesi, Dinas Pertanian, Dinas Penanaman Modal, ESDM dan Transmigrasi Prov. Gorontalo, BPKH Wilayah XV, WCS-IP Sulawesi, EPASS BTNBNW, KPH VII Kabupaten Bone Bolango, BIOTA, AJI Gorontalo, Bappeda Kabupaten Bone Bolango, Dinas Pariwisata Kab Bone Bolango, Dinas Pertanian Kab. Bone Bolango, Dinas PU Kab. Bone Bolango, dan Seluruh Camat di Kabupaten Bone Bolango. Review Zonasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ditekankan kepada tuntutan tata kelola kawasan yang lebih adaptif dengan mengakomodir potensi, perubahan, permasalahan fisik dan bioekologi dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, perubahan pola pemanfatan masyarakat, pengembangan insfrastruktur, pertahanan dan keamanan negara, pengkajian kembali zonasi serta pengembangan kebutuhan wisata di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Dari hasil konsultasi publik ini juga dihasilkan poin–poin kesepakatan sebagai berikut: a) zonasi tetap memperhatikan dan mempertimbangkan isu lingkungan. b) mensetujui buffer zone 15 meter dari zona khusus jalan tulabolo–pinogu sebagai zona pemanfaatan. c) mengkaji usulan dari BWS terkait intek air baku (SPAM REGIONAL) yang akan dibangun tahun 2023. d) data lokasi pembangunan PAM SIMAS ditunggu usulannya sampai tanggal 5 November 2019 (PU). e) perlu Kajian lebih lanjut terkait perubahan zona , dari zona inti ke zona rimba di site Mainunggu, hasil diskusi tanggal 5 November 2019. Paradigma baru pengelolaan kawasan konservasi menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dan pemulihan ekosistem, sehingga dalam review zonasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone harus dapat melihat perkembangan investasi, proyeksi dan ekologi lingkungan hidup dengan mempertimbangkan kajian daya dukung dan daya tampung serta mengacu pada peraturan dan perundang-udangan yang berlaku, drh. Supriyanto, Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dalam sambutannya. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya disebutkan bahwa Taman Nasional merupakan Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Tata kelola yang baik akan memberikan hasil yang optimal. Kegiatan konsultasi publik review zonasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone bertujuan dalam rangka efektivitas pengelolaan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta menilai perkembangan penerapan zonasi antara masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) dalam pengelolaan kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Evaluasi dan Strategi Serapan DIPA 2019

Banjarbaru, 31 Oktober 2019 − Dalam rangka pencapaian target untuk tahun anggaran 2019, Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan rapat evaluasi anggaran pada hari Kamis tanggal 31 Oktober 2019 di ruang rapat kantor Balai KSDA Kalimantan Selatan. Rapat dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc dengan peserta rapat KSBTU, Kepala SKW I,II, III, pengelola DIPA, koordinator urusan dan urusan evaluasi. Dari hasil evaluasi anggaran sampai tanggal 31 Oktober 2019, realisasi anggaran adalah sebesar 80%, kata koordinator urusan evaluasi Balai KSDA Kalimantan Selatan Franscisca SJM, akan tetapi masih terdapat kegiatan yang realisasinya masih di bawah 50% seperti Evaluasi Kesesuaian Fungsi, tambahnya. Kegiatan evaluasi ini juga sebagai implementasi arahan dari Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc untuk mengoptimalkan sisa waktu yang tersedia dalam memaksimalkan serapan dan kegiatan. Target realisasi anggaran untuk tahun 2019 yang saya tetapkan adalah sebesar 98%, kata Mahrus. Dalam arahannya Mahrus juga memerintahkan KSBTU dan Para Kepala SKW meneliti kembali seluruh kegiatan dan apabila dirasa tidak dapat terlaksana, agar segera menginformasikannya sehingga dapat dilakukan revisi ke kegiatan lainnya mengingat batas waktu revisi anggaran adalah pertengahan November 2019. Selain evaluasi anggaran, rapat ini juga untuk menyusun strategi dalam pencapaian target-target yang telah ditetapkan baik berupa target anggaran maupun target output. Sebagai penutup, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan mengajak seluruh pegawai untuk selalu menjalin, menjaga dan mempertahankan kekompakan dalam bekerja. Gerak CTM (Cepat, Tepat dan Manfaat) sebagai spirit kerja BKSDA Kalsel harus selalu diingatkan. Selain output, maka outcome harus jelas bisa dirasakan para pihak. (ryn) Sumber : Prawira Aditya Rahman, SE - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

FGD Zonasi demi Optimalisasi Pengelolaan TN Kelimutu

Ende, 31 Oktober 2019. Balai Taman Nasional (TN) Kelimutu mengadakan acara Focus Group Discussion (FGD) Review Zonasi dalam rangka Revisi Zonasi Taman Nasional Kelimutu yang bertempat di Aula Balai Taman Nasional Kelimutu (31/10/19). Dalam acara ini, dilakukan diskusi terkait hasil analisis review zonasi terkait pengelolaan terhadap Zonasi TN 2016. Beberapa poin penting yang menjadi diskusi dalam FGD ini adalah penambahan zona baru yaitu Zona Tradisional sebagai solusi konflik tenurial, penambahan areal Zona Rehabilitasi untuk wilayah yang terserang IAS serta Zona Pemanfaatan untuk jalur trekking, pengembangan wisata alam dan jasa lingkungan Acara ini dihadiri oleh Bappeda Kab. Ende, KPH Wilayah Kab. Ende, Dinas Pariwisata Kab. Ende, Yayasan Tananua Flores, DMO Flores, Camat (Kelimutu, Detusoko, Ndona, Ndona Timur, Wolojita), Kepala Desa (Nduaria, Wologai Tengah, Saga, Roga, Sokoria), Mosalaki (Saga, Niowula, Nduaria, Wologai Tengah), Forum Adat Kelimutu, Kelompok Tani Rimbawan (Desa Nduaria), Kelompok SPKP Desa Wologai Tengah, Kelompok Masyarakat Saga, Kelompok Swadaya Wolomoni Desa Niowula, Koperasi Sokoria Daya Mandiri, Ketua Komunitas Adat Kelimutu, Universitas Flores, Pusat Studi Pariwisata Universitas Flores, KSBTU BTN Kelimutu, KSPTN 1 TN Kelimutu, KSPTN 2 Detusoko, dan Koordinator Resort (Kelimutu, Wolojita, Nduaria, Wologai, Niowula, Sokoria, Unit Pelayanan Wisata). Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai TN Kelimutu dan dilanjutkan paparan yang dimoderatori oleh Kepala KPH wilayah Kab. Ende (Yos Dasi Muda) dengan narasumber Bappeda Kab. Ende (Aloysius M.O Dasa), Kepala Balai TN Kelimutu (Persada A. Sitepu) dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 2 Wilayah Detusoko (Yohanes Berchmans Fua) selaku Ketua Tim Review Zonasi. Proses diskusi berjalan dengan lancar para peserta yang mengikuti FGD dengan antusias dan bersemangat, sehingga menghasilkan pembahasan yang cukup dalam dan seperti yang diharapkan. Pada kegiatan ini juga dilakukan penandatangan Berita Acara Hasil Kesepakatan bersama Review zonasi TN Kelimutu. Semoga kegiatan FGD dapat makin mengoptimalkan dalam pengelolaan TN Kelimutu. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Agenda AIS Di Manado dan Kunjungan Kemenko Maritim di Taman Nasional Bunaken

Manado, 31 Oktober 2019. Disela agenda pada kegiatan Archipelagic and States (AIS) Forum 2019 di Manado (31 Okt 2019), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Panjaitan, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan Komandan Lantamal VIII dengan delegasi Menteri negara-negara sahabat mengunjungi Pulau Bunaken. Dalam kesempatan tersebut Kepala Balai Taman Nasional Bunaken menerangkan tentang potensi ekowisata wisata bahari serta pengembangan wisata alam yang ada di Taman Nasional Bunaken, termasuk pelibatan para pihak, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi serta Masyarakat. Farianna Prabandari dalam penyampaiannya mengatakan bahwa, sebagaimana Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Terpadu Taman Nasional dan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Tahun 2018 - 2025, pengembangan Taman Nasional Bunaken dalam mendukung pariwisata antara lain dengan mengembangkan potensi wisata di Pulau Mantehage melalui Mangrove Park dan Jalur pendakian di Pulau Manado Tua. Interkoneksi wisata alam di Taman Nasional Bunaken dari kegiatan selam dan snorkelling dengan wisata daratan diharapkan akan mampu meningkatkan peran masyarakat dalam mendapatkan manfaat dan peningkatan kapasitas dari kegiatan wisata, serta para pihak seperti Pemerintah Daerah untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan dan pelaku usaha dari aspek branding. Peluang-peluang pengembangan potensi wisata alam di Taman Nasional Bunaken akan memberikan nilai tambah dan pengakuan keunggulan destinasi wisata yang unik dan spesifik di Sulawesi Utara, tutur Farianna. Setelah menanyakan terkait hal-hal yang dibutuhkan dalam pengembangan potensi wisata, Menko Maritim dan Investasi Luhut, langsung menghubungi Kementerian terkait untuk pemenuhannya. Rasa takjub dan apresiasi rombongan saat melihat keindahan bawah laut, dengan menaiki Subsea di area Likuan I dan Likuan II divespot perairan Pulau Bunaken, dimana yang sebelumnya singgah di Pantai Liang dan makan siang bersama di OASIS Dive Resort. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Kabar Gembira, Pulau Tinabo Kembali Dikunjungi Hewan Purba Laut, Si Penyu

Pulau Tinabo - Taman Nasional Taka Bonerate, 1 November 2019. Kabar gembira hadir pada kegiatan Bina Cina Alam kemarin (24-27/10). Alhamdulillah, Pulau Tinabo kembali dikunjungi Hewan Purba Laut, Si Penyu. Suasana masih pagi di Pulau Tinabo, teman-teman bergegas ke lokasi ditemukannya sarang Penyu oleh Muha petugas kontrak Balai Taman Nasional Taka Bonerate. "Telurnya dia simpan kurang lebih 150 meter dari demplot peneluran di sebelah timur pulau Tinabo" jelas Kepala Balai Faat Rudhianto yang langsung mendokumentasikan penemuan telur penyu ini. Lanjut beliau menyampaikan bahwa ada dua sarang yang ditemukan oleh teman-teman resort Tinabo dan jaraknya berdekatan. Hadir dan turut pula ketua Dharma Wanita, Thabita. Seumur-umur baru kali ini melihat langsung telur dilindungi digali, ini hari keberuntungan katanya. "Ada tiga lubang yang ditemukan namun lubang yang satu isinya kosong" jelas Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Raduan yang didampingi oleh petugas resort Tinabo Junaidi dan Muha. Isi dua lubang sarang binatang yang dilindungi ini kemudian diamankan dengan cara diberi pagar dan dibawa ke demplot untuk memaksimalkan persentase tetas dan menghindari predator. Semoga dengan kembalinya bertelur si Hewan Unyuk ini, bisa memancing Penyu-penyu yang lain untuk mendarat dan bertelur. Selain itu juga bisa meningkatkan jumlah populasinya. Kemudian rombongan melanjutkan dengan giat pelepasan tukik di Bungin Tinabo. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Status Mamalia di Taman Nasional Batang Gadis

Kamis, 31 Oktober 2019 - Di Taman Nasional Batang Gadis tercatat sebanyak 43 jenis mamalia yang menghuni kawasan berdasarkan data terkini yang berasal dari hasil laporan kegiatan yang berhubungan dengan kenekaragaman hayati khususnya mamalia yang dilakukan oleh petugas selama ini serta digabung dengan hasil data pengamatan yang pernah dilakukan oleh Conservation International (CI). Tercatat sebanyak 23 dari 43 jenis mamalia yang berada di Taman Nasional Batang Gadis tersebut masuk ke dalam daftar jenis yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Dari 43 jenis mamalia tersebut, semuanya masuk kedalam daftar IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan status keterancaman yang bervariasi termasuk 2 jenis dengan status kritis (critical endangered) yaitu Harimau Sumatera dan Trenggiling Sebanyak 24 jenis mamalia masuk kedalam Apendix CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dengan kategori yang berbeda (Apendix I,II & III). Kategori dari CITES ini sendiri berisi daftar jenis yang perdagangannya perlu diawasi. Negara- negara anggota telah setuju untuk membatasi perdagangan dan menghentikan eksploitasi terhadap jenis yang terancam punah. Untuk jenis mamalia dengan sebaran endemik tercatat sebanyak 5 jenis dimana status endemiknya tidak hanya endemik Indonesia melainkan juga endemik di Sumatera. Kelima jenis mamalia tersebut adalah: Sumber: Zulfan (PEH) - Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Siamang Dari Taman Nasional Batang Gadis

Kamis, 31 Oktober 2019 - Ketika berada di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis salah satu suara rimba alam yang sering terdengar selain kicauan burung adalah suara salah satu primata yang kita kenal dengan nama Siamang, masyarakat mancanegara juga mengenalnya dengan nama yang sama. Suara yang melengking keras bagai “lagu-lagu” berirama ini terkadang seperti dilakukan oleh sekelompok kawanan besar. Namun umumnya merupakan duet antara pasangan jantan dan betina yang terkadang juga bersama anak mereka yang masih muda. Siamang adalah salah satu spesies primata dari family Hylobatidae atau yang dikenal dengan keluarga Owa. Di Indonesia terdapat 7 jenis Owa yang seluruhnya merupakan jenis yang dilindungi oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Daftar Merah IUCN menempatkannya ke dalam satatus Endangered (Genting) dan Daftar CITES memasukkannya ke daftar Apendix I yang artinya segala jenis perdagangan internasional untuk jenis primata ini dilarang atau ilegal. Siamang memainkan peran penting secara ekologis di hutan tropis sebagai penyebar biji. Dimana saat buang air besar beberapa biji disebarkan secara utuh beratus-ratus meter dari pohon induknya. Dengan demikian jenis-jenis vegetasi tumbuhan di hutan dapat beregenerasi secara alami dan merata. Meskipun peranannya penting secara ekologis, namun tampaknya Siamang ini masih kalah pamor dengan kerabatnya dari primata yang lain yaitu Orangutan. Sumber: Zulfan (PEH) - Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Barat Adakan Pelatihan Penggunaan Sumpit

Padang, 30 oktober 2019 - Dalam rangka meningkatkan kapasitas personil dalam penanganan konflik antara manusia dan satwa liar, Balai KSDA Sumatera Barat selenggarakan Pelatihan Penggunaan Sumpit Dalam Rangka Immobilisasi Satwa Liar. Pelatihan yang diikuti oleh personil yang terdiri dari petugas resor, staf penanganan konflik satwa dan bakti rimbawan dengan jumlah peserta 30 (tiga puluh) orang. Pelatihan berlangsung selama 1 hari dengan materi pembuatan alat sumpit sederhana, penggunaan sumpit dan penanganan satwa dengan sumpit. Dalam pelatihan tersebut peserta dilatih untuk membuat alat sumpit dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh mengingat keterbatasan ketersediaan alat/senjata bius yang ada di Balai KSDA Sumatera Barat. Selanjutnya peserta juga dilatih teknik penggunaan dan penanganan satwa dengan sumpit dengan menggunakan sarana latih berupa papan target. Dalam amanatnya, Kepala Balai KSDA Sumatera Barat yang diwakili oleh Kepala Subbag Tata Usaha, Wawan Sukawan, S.Hut menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat penting diadakan dan dilaksanakan mengingat keterbatasan ketersediaan tenaga medis/ paramedis selain itu juga diharapkan ketika terjadi konflik antara manusia dan satwa liar keterbatasan sarana alat untuk pembiusan dapat diatasi dengan cepat dan tepat. Sumber: Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Puluhan Pegawai Balai Besar KSDA Jawa Timur Dites HIV - AIDS

Sidoarjo, 31 Oktober 2019 - Kamis manis ini kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur sedikit dihebohkan dengan kehadiran beberapa petugas berseragam coklat muda. Mereka terdiri dari beberapa dokter dan staf Kantor Kesehatan Pelabuhan yang letaknya tak jauh dari Komplek Kehutanan Jawa Timur, yaitu akan dilaksanakan sosialisasi HIV- AIDS sekaligus pemeriksaan antibodi HIV. Dengan dipimpin oleh dr. Deni Afriadi, tim yang terdiri dari 5 dokter dan 2 staf tersebut melakukan sosialisasi terkait HIV –AIDS kepada sekitar 30 pejabat dan staf lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur di ruang rapat lantai 2. Menurut Deni, HIV dan AIDS telah menular ke banyak orang di Indonesia, untuk itu ia mengajak agar lebih menjaga diri, keluarga dan orang-orang terdekat dari penularannya. “Pemerintah memiliki program kedepan sebanyak 90% penduduk Indonesia mengetahui status HIV-nya masing-masing,” ujar ibu berkacamata ini. Deni juga menambahkan bahwa pemerintah telah mempersiapkan pengobatan bagi penderita HIV hingga ke setiap Puskesmas. Namun, antivirus yang disediakan hanya bersifat menekan dan belum menghilangkannya. Setelah pelaksanaan sosialisasi, setiap pegawai yang hadir diberikan 2 jenis formulir untuk diisi. Yakni formulir persetujuan untuk tes pemeriksaan antibodi HIV dan formulir penemuan kasus TB. Setelah mengisi formulir-formulir tersebut, setiap pegawai diambil darahnya guna tes pemeriksaan antibodi HIV. Selanjutnya secara bergilir dilakukan konseling terkait HIV-AIDS dan TB. Diakhir kegiatan, setiap pegawai menerima Laporan Hasil Pemeriksaan Antibodi HIV. Namun, menurut dr. Deni Afriadi bagi hasil non reaktif tidak termasuk pemaparan terhadap HIV, hal ini mungkin sedang dalam masa jendela dari infeksi HIV. Untuk ia memintau masing-masing untuk kembali memantau pemeriksaan 3 bulan lagi. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Nata Desa Demi Nata Leuweung Konservasi TN Gunung Gede Pangrango

Cileungsi, 28 Oktober 2019 bertepatan dengan Peringatan Sumpah Pemuda ke-91 dilaksanakan kegiatan Pelatihan Pengembangan Wisata Alam Lebak Ciherang Terintegrasi Desa Wisata Cileungsi. Pelatihan ini diikuti oleh 15 orang peserta dari anggota KTH LBC Lestari, BUMDES Desa Cileungsi, dan petugas dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango khususnya Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Resort PTN Tapos. Tema “ Bersatu Kita Maju” merupakan kalimat pembangkit semangat tepat untuk menggambarkan kolaborasi Desa dengan taman nasional dalam pengelolaan hutan. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan wisata alam di Lebak Ciherang dan Desa Wisata Cileungsi. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi dari salah satu ruang lingkup perjanjian kerjasama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan PT. Tirta Investama-Plant Ciherang dalam ranah pemberdayaan masyarakat sekitar hutan selain kegiatan pemulihan ekosistem sebagai inti kerjasamanya. Alhamdulillaah pada kesempatan tersebut, pihak PT. Tirta Investama-Plant Ciherang juga turut hadir. Istilah “Nata Desa demi Nata Leuweung“ merupakan bahasa Sunda yang memiliki arti bahwa pengelolaan hutan dapat berhasil jika kesejahteraan masyarakat desa sekitar kawasan hutan sudah sejahtera. Pelatihan ini merupakan langkah nyata pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang mengedepankan pelibatan masyarakat dalam pengembangan wisata alam sebagai alternatif peningkatan pendapatannya. Hutan Lebak Ciherang merupakan salah satu bagian dari hutan konservasi yang mengemban peran sebagai penyangga kehidupan baik hayati dan non hayati sekitarnya. Tetapi peran tersebut tidak membatasi masyarakat untuk berperan lebih dengan tetap menjaga kelestarian alam sebagai tujuan utamanya. Tidak diragukan lagi keberadaan pesona taman nasional sebagai potensi daya tarik wisata alam namun yang menjadi catatan bagaimana menyatu potensi daya tarik wisata sebagai agen dalam penelitian, pendidikan, dan rekreasi alam dengan wisata alam pedesaan yang mengangkat kealamian/ kearifan budaya lokal setempat. Penggalian potensi desa menjadi bagian penting sebagaai tahapan dalam perencanaan pengembangan desa wisata. Indonesia merupakan negara yang dikenal kaya akan potensi sumberdaya alam, berbagai suku bangsa, agama, dan kebudayaannya. Hal ini membuktikan bahwa setiap daerah memiliki kekhasan budaya yang berbeda begitu halnya dengan Desa Cileungsi. Untuk itu, melalui pelatihan ini, diharapkan nantinya perserta dapat mengeksplore kekhasan budaya dan kebiasaan masyarakat yang dapat dijadikan daya tarik Desa Wisata. Pelatihan ini dibuka dengan sambutan dari pihak TNGGP yang disampaikan oleh Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan upaya peningkatan kapasitas masyarakat merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mempersiapkan dan membekali masyarakat dalam melakukan perencanaan aktivitas wisata karena tidak mudah merubah kebiasaan masyarakat sebelumnya beraktifitas sebagai petani/buruh tani beralih pada aktifitas penggerak wisata. Pihak PT. Tirta Investama-Plant Ciherang yang diwakili oleh CSR Manager, Heri Yunasrso menyampaikan, PT. Tirta Investama-Plant Ciherang sangat konsen dalam mendukung program pemerintah untuk mengelola sampah plastik melalui pemanfaatan plastik yang ada secara bijak dan diharapkan juga pengembangan wisata ini juga lebih ramah lingkungan dimana pengembangan wisata selaras dengan pengelolaan sampah. Sambutan terakhir sekaligus pembuka pelaksanaan pelatihan dari Kepala Desa Cileungsi menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak TNGGP dan mitra PT. Tirta Investama-Plant Ciherang sehingga terselenggaranya pelatihan ini dan harapannya pelatihan ini akan memberikan dampak signifikan dalam menumbuhkan semangat dan wawasan masyarakat Desa Cileungsi. Acara dibuka dan dilanjutkan kegiatan pemberian materi. Inti materi yang disampaikan yaitu membangkitkan semangat social enterpreneur, memetakan potensi (social mapping), dan bagaimana mempromosi produk wisata secara online. Social enterpreneur atau dikenal dengan wirausaha sosial menitikberatkan bagaimana memecahkan permasalahan berbasis masyarakat dengan memunculkan potensi yang ada di masyarakat. “Untuk mewujudkan social entrepreneur tidak membutuhkan dana yang besar tetapi mengandalkan modal sosial di masyarakat yaitu semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama”, tutur Tatiek Kancaniati, selaku narasumber yang memiliki Pelopor Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru yang berada di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pendapatan masyarakat Desa Tegalwaru dari wisata yang memberikan dampak terhadap peningkatan status desa dari desa tertinggal menjadi desa maju, menginspirasi desa lainnya termasuk Desa Cileungsi untuk bergerak memberdayakan potensi desa dan masyarakat sehingga kesejateraan masyarakat meningkat. Peserta tidak hanya diberikan materi tetapi secara partisispatif diajak menggali potensi desanya melalui Particiaptory Rural Apprasial (PRA) yaitu pendekatan partisipatif penggalian potensi masyarakat dengan menggunakan 7 alat analisa. Hasil peggalian potensi desa tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi desa dalam pengembangan wisata. Selain pemberian materi, peserta diarahkan melakukan praktek melalui transek desa. Kesan yang dituturkan oleh Tatiek dan Herman saat melakukan transek desa dari Kampung Loji sampai dengan Lebak Ciherang ”Potensi sumber daya dan bentang di Desa Cileungsi memiliki banyak daya tarik yang kuat sebagai modal dalam pengembangan wisata dan kemudahan meraih pengunjung yang menuju Puncak lebih besar karena dilewati jalan alternatif menuju Puncak” ujar keduanya. Sedangkan kesan dilontarkan oleh salah satu peserta dari pihak BUMDES Cileungsi, Cicah. “Pelatihan kali ini seru menambah ilmu, teman baru, dan bermanfaat bagi kami untuk menggali desa tercinta kami” ujarnya seusai pelatihan. Peningkatan kapasitas masyarakat dengan pelatihan pengembangan wisata ini menjadi solusi dalam penentuan tahapan yang akan dilakukan Desa Cileungsi untuk pengembangan wisata, tentunya terintegrasi dengan pengembangan wisata alam di Lebak Ciherang. Jika hal tersebut berhasil, akan menjadi kolaborasi dua institusi yang rela melepaskan segala kepentingan golongan tertentu demi kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan hutan secara lestari. Salam konservasi…. Sumber : Ratih Mayangsari - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kekayaan Flora Anggrek di Taman Nasional Gunung Merbabu

Kamis, 31 Oktober 2019 - Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) memiliki 3 tipe ekosistem/habitat, yakni : ekosistem pegunungan rendah (1000-1500 m dpl); pegunungan atas (1500-2400 m dpl); dan pegunungan sub alpins (diatas 2400 m dpl). Merupakan habitat dari beraneka ragam flora maupun fauna. Total jenis tumbuhan di TNGMb tingkat pohon sebanyak 35 spesies, 8 spesies Perdu, dan 28 spesies Semak, serta 23 spesies Tumbuhan Bawah (Statistik TNGMb, 2017). Beberapa flora yang belum banyak diketahui adalah kelompok anggrek. Anggrek termasuk di dalam suku Orchidaceae, yang memiliki jumlah jenis terbesar di Dunia yaitu 25.000 jenis, sedangkan di Indonesia memiliki kurang lebih 5.000 jenis. Keanekaragaman flora anggrek beradasarkan Inventarisasi Anggrek di kawasan TNGMb pada awal tahun 2015 telah dijumpai 15 (lima belas) jenis, yaitu :Arundina graminifolia (D.Don.) Hochr, Appendicula alba Bl, Appendicula angustifolia Bl, Bulbophyllum flavescens (Bl.) Lindl, Coelogyne miniata (Bl) Lindl, Dendrobium saggitatum J.J.Sm, Dendrobium crumenatum Sw, Flickingeria grandiflora, Habenaria multipartita Bl, Liparis pallida (Bl) Lindl, Maloxis khobi J.B.Comber, Oberonia similis (Bl.) Lindl, Paphiopedilum javanicum (Reinw. Ex Lindl.) Pfitz, Pholidota carnea (Bl) Lindl, dan Spathoglottis plicata Bl. Flickingeria grandiflora / Appendicula alba / Appendicula angustifolia Habenaria multipartita / Maloxis khobi / Bulbophyllum flavescens / Paphiopedilum javanicum Dendrobium saggitatum / Dendrobium crumenatum / Oberonia similis Kondisi habitat di lokasi perjumpaan anggrek cukup beragam, dari ketinggian 1.500 sampai dengan 2.500 mdpl. Jenis vegetasinya antara lain : Pinus, Puspa, Senggani, Kesowo, Kecubung, Acasia dekuren, Tembelekan Lantana camara, Pakis, Daun sendok Plantago asiatica, Paku tiang Alsophila glauca, dan Lumut janggut Usnea barbata, serta vegetasi pegunungan atas seperti rumput Savana, Eidelweiss, Manisrejo, dan Kemlandingan gunung. Petugas TNGMb (PEH) melalui kegiatan teknis pengambilan data potensi kawasan (flora dan fauna) dalam Grid dan monitoring Pemulihan Ekosistem di kawasan TNGMb tahun 2017 – 2018, serta hasil penilitian/magang mahasiswa (UNS, UGM, IPB dan lainnya) menghasilkan perjumpaan baru spesies anggrek di hutan TNGMb. Penelitian saudara Gilang D.N mahasiswa Biologi UNS pada bulan Mei – Juni 2018 menjumpai 18 jenis anggrek, dengan jenis baru dari data 2015 sebanyak 7 jenis yaitu : Cheirostylis sp, Coelogyne longifolia (Bl.) Lindl, Eria multiflora (Bl.) Lindl, Habenaria tosariensis J.J.Sm, Liparis javanica J.J.Sm, Phreatia sulcata (Bl.) J.J.Sm, dan Taeniophyllum glandulosum Bl. Cheirostylis sp / Coelogyne longifolia / Eria multiflora Habenaria tosariensis / Liparis javanica / Phreatia sulcata / Taeniophyllum glandulosum Potensi kehati jenis anggrek di TNGMb ini kedepannya sangat diperlukan kegiatan penelitian yang lebih lengkap lagi dari pihak akademisi/perguruan tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan lebih lanjut dan sebagai rekomendasi kegiatan konservasi jenis di wilayah TNGMb. Potensi kekayaan flora anggrek di hutan TNGMb dari hasil inventarisasi dan penelitian yang telah dilakukan, total ditemukan 22 spesies anggrek, yaitu : Sumber: : Jarot Wahyudi, S.Hut, M.URP - Balai TN Gunung Merbabu
Baca Berita

Evakuasi Kukang Jantan di Kebun Karet

Medan, 30 Oktober 2019. Bermula dari laporan seorang warga Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, bernama M. Jamin yang menemukan seekor Kukang Jantan (Nycticebus sp.) di Kebun Karet miliknya. Kukang tersebut kemudian dibawa pulang dan dimasukkan kedalam sangkar. Salah satu petugas Yayasan Orangutan Information Centre (OIC) bernama Rio yang mengetahui hal tersebut segera memberi tahu kepada M. Jamin bahwa kukang adalah jenis satwa liar yang dilindungi undang-undang dan tidak dapat dipelihara. Selasa, 22 Oktober 2019 Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Herbert B.P. Aritonang, S.Sos, M.H. menerima laporan dari Rio. Langka cepat, Pada hari itu juga BBKSDA SUMUT segera memerintahkan staf untuk melakukan evakuasi terhadap kukang tersebut. Keesokan harinya Rabu 23 Oktober 2019 Tim SKW II Stabat menuju lokasi kediaman M. Jamin. Setelah satwa di ambil tim medis Pusat Penyelamatan Satwa Sibolangit langsung melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap kukang tersebut. Diketahui kukang berjenis kelamin jantan dengan kondisi sehat, dan langsung di titipkan sementara di PPS Sibolangit sebelum di lepasliarkan ke habitatnya alaminya. Sumber : Ayni Amelya Utami - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Kampanye Pencegahan Karhutla di Desa Penyangga CA Martelu Purba

Pematangsiantar, 30 Oktober 2019. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya pengawasan atau patroli di daerah-daerah rawan kebakaran hutan saja. Tapi salah satunya juga dengan kampanye. Kampanye pencegahan karhutla sebagai salah satu upaya pengendalian karhutla dengan cara sosialisasi baik secara langsung maupun menggunakan media seperti spanduk, poster, stiker dan alat peraga lainnya yang berisi konten pencegahan karhutla. Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar BBKSDA Sumatera Utara bertempat di Balai Nagori Purba Tongah Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun, Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar melaksanakan Kampanye Pencegahan Karhutla pada tanggal 25 Oktober 2019. Nagori Purba Tongah merupakan desa penyangga Kawasan Konservasi Cagar Aalam. Martelu Purba dimana CA Martelu Purba berbatasan langsung dengan lahan pertanian/perladangan masyarakat. Kearifan lokal masyarakat yang membersihkan lahan dengan cara membakar perlu diwaspadai apalagi jika pada musim kemarau panjang. Pada tanggal 7 Agustus 2019 terjadi kebakaran lahan berupa semak seluas 2.000 M2 di penyangga CA. Martelu Purba. Pemisah antara lokasi lahan yang terbakar dengan CA. Martelu Purba adalah jalan tanah (lebar + 3 m). Namun demikian kearifan lokal masyarakat yang membersihkan lahan dengan cara membakar tidak boleh bertentangan dengan Permen Negara LH No. 10 Tahun 2010 tentang mekanisme pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan LH yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan/lahan. Pasal 4 disebutkan bahwa masyarakat hukum adat yang melakukan pembakaran lahan dengan luas lahan maksimum 2 hektar per KKuntuk ditanami jenis varietas local wajib memberitahukan kepada Kepala Desa (1) Kepala Desa menyampaikan pemberitahuan sebagaimana dimasud pada ayat (1) kepada instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan LH kab/kota (2) Pembakaran lahan sebagimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada kondisi curah hujan di bawah normal, kemaru panjang, dan/ iklim kering (3) Kondisi curah hujan di bawah normal, kemaru panjang, dan/ iklim kering sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sesuai dengan publikasi dari lembaga non kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang meteorology, klimatologi dan geofisika. Peserta kampanye adalah masyarakat Desa Purba Tongah sebanyak 20 Orang yang terdiri dari perangkat nagori, Tokoh Masyarakat/Maujana nagori dan kelompok tani. Kampanye dibuka langsung oleh Pangulu Nagori Purba Tongah, Bapak Rifai P. Munthe yang dilanjutkan penyampaian materi oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Bapak Alfianto Luat Siregar, S.Hut., M.T., M.PP. Setelah penyampaian materi dilanjutkan dengan diskusi. Tidak terlalu banyak hal yang didiskusikan terkait karhutla karena masyarakat sangat menyadari akan pentingnya keberadaan CA. Martelu Purba bagi kehidupan mereka. Masyarakat bersepakat untuk menjaga CA. Martelu Purba dari bahaya kebakaran. Di akhir acara Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar menyerahkan media kampanye karhutla berupa poster mini yang disponsori oleh Balai Pengendali Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera melalui Daops Aek Nauli kepada Pangulu Nagori Purba Tongah. Penyadartahuan kepada masyarakat menjadi langkah strategis dalam mengendalikan karhutla. Masyarakat terus diajak untuk bersama-sama menjaga hutan dan lahan dari ancaman karhutla serta melahirkan kepedulian terhadap upaya pencegahan karhutla khususnya di CA. Martelu Purba. Sumber : Lisbeth Manurung - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pencegahan Destructive Fishing Penggunaan Kompresor di TN Kepulauan Togean

Ampana, 30 Oktober 2019. Pada hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2019 pukul 18.00 WITA empat Polhut Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III dan dua orang masyarakat Desa Popolii Kecamatan Walea Besar melaksanakan patroli keliling sambil memancing ikan di wilayah Pulau Tiga dan Reef Lumpatan. Tim Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) pada pukul 21.55 WITA menjumpai satu buah perahu nelayan bermesin dua katinting. Tim mendapati penggunaan selang-selang udara dan peralatan kompresor angin dalam menyelam mencari ikan. Pelaku sebanyak 6 orang beserta perahunya kemudian dibawa ke pondok kerja SPTN III Popolii. Setelah dilakukan pemeriksaan pendahuluan, Kepala SPTN III Popolii berkoordinasi dengan Kepala Balai TNKT dan Kepala Polsek Walea Kepulauan (Wakep). Selanjutnya pada Minggu dini hari, keenam pelaku beserta perahunya dan dilengkapi dengan Laporan Kejadian, dipindahkan dari Pondok Kerja ke Polsek Wakep di Desa Dolong B. Proses pemindahan saat tengah malam ini dikawal oleh tujuh orang tim SPTN III, dua orang Masyarakat Mitra Polhut dan dua orang Polsek Wakep. Para pelaku kemudian ditahan di Polsek Wakep. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Polsek Wakep, berdasarkan koordinasi lebih lanjut dan hasil Laporan Polisi (LPA), maka pada hari selasa tanggal 29 Oktober 2019 keenam pelaku beserta sebagian alat bukti dibawa ke Polres Tojo Una-Una di Ampana untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Alat yang merupakan barang bukti yaitu satu unit perahu, satu buah kompresor ukuran besar beserta selang, dua buah mesin katinting masing-masing 5 PK, alat panah sebanyak 7 buah, hasil tangkapan ikan kurang lebih sebanyak 50 Kg dan puluhan ekor teripang. Penggunaan kompressor sebagai alat bantu tangkap perikanan telah dilarang oleh Pemerintah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan pada pasal 9. Bahkan Bupati Tojo Una-Una juga telah mempertegas pelarangannya melalui Peraturan Bupati Nomor 07 Tahun 2009 Tentang Larangan Penggunaan Kompresor Sebagai Alat Bantu Penangkapan Ikan. Sumber : Adeng Hudaya - Polhut Pertama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Ekspedisi Membawa Terang, Sumber Listrik Di Tayawi So Dekat

Sofifi, 30 Oktober 2019. Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) memiliki berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat sekitar kawasan. Selain Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan potensi berupa jasa wisata alam, kawasan TNAL juga memiliki sumber air yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga listrik mikro hidro. Pada tahun 2012, Balai TNAL melaksanakan kegiatan survei potensi mikro hidro pada beberapa titik kawasan. Salah satunya adalah di Dusun Tayawi, Resort Tayawi, SPTN Wilayah I Weda. Kegiatan tersebut mengundang Balai Penelitian Dan Pengembangan Hutan Makassar (sekarang Balai Penelitian dan Pengembangan LHK). Hasil survei adalah tidak efektifnya pembuatan mikro hidro di sekitar kawasan yang telah di survei. Hal ini dikarenakan sumber air dengan ketinggian tertentu memiliki jarak yang jauh dan tim belum menemukan sumber air yang sesuai. Tahun ini, tanggal 24 Oktober 2019 Balai TNAL kembali mengadakan survei pembuatan mikro hidro di Dusun Tayawi. Hal ini dikarenakan telah ditemukannya sumber air yang sesuai di kawasan Resort Tayawi dengan jarak yang memenuhi syarat. Mikro hidro ini juga diperuntukkan bagi masyarakat adat Tobelo dalam atau Togutil dalam pemenuhan sumber energi listrik mereka. Tim survei yang terdiri dari petugas Resort Tayawi, SPTN Wilayah I, Litbang LHK Makassar yang dipimpin oleh Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho bersama masyarakat Dusun Tayawi dan kelompok wisata SWAT melakukan survei sumber air yang akan dijadikan mikro hidro. Sumber air tersebut adalah air terjun Gosimo. Setelah melakukan perhitungan dari hasil tersebut, didapatkan bahwa pembangunan mikro hidro di Resort Tayawi memenuhi syarat dan dapat dilaksanakan pembangunan. Sumber listrik yang akan dihasilkan sekitar 3000 watt. Sumber listrik tersebut sudah dapat mencukupi kebutuhan minimal rumah warga Dusun Tayawi, gereja, guesthouse kelompok SWAT dan Kantor Resort Tayawi. “Mikro hidro ini penting bagi masyarakat yang sampai saat ini belum mendapatkan penerangan”, kata T. Heri Wibowo, Kepala Balai TNAL. Setelah kegiatan survei dan penghitungan hasil survei, dilakukan pertemuan dengan seluruh warga Dusun Tayawi. Pertemuan tersebut dilaksanakan untuk mendapatkan kesepahaman dalam pengelolaan mikro hidro kedepannya. Selain itu, tim survei juga memberikan pengertian tentang mikro hidro dan manfaatnya. Keesokan harinya, tim survei kembali kelapangan guna mengukur kebutuhan pipa, kabel dan peralatan lainnya. Tim juga melakukan pembersihan jalur dan area seluas 3x2 meter sebagai rumah pembangkit. “Semoga bisa digunakan untuk meningkatkan produktifitas masyarakat yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan bagi mereka”, harapan Kepala Balai. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Wakil Bupati Bantul dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta Dampingi Pengambilan Data Kamera Trap Monitoring Macan di Bantul

Yogyakarta 30 Oktober 2019. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi bersama Wakil Bupati Bantul, H. Abdul Halim Muslih turut mendampingi petugas melakukan monitoring dan pengambilan data kamera trap ke-1 di wilayah Nglingseng, Bantul, Hari Selasa (29/10/19). Kegiatan pemasangan kamera trap dilakukan berdasarkan instruksi Kepala Balai KSDA Yogyakarta setelah mendengar adanya informasi dari masyarakat perihal keberadaan macan di Bantul. Sekitar awal Bulan September 2019, terdapat laporan dari masyarakat yang menyatakan masih melihat jenis macan yang mereka sebut “Mbah Loreng” atau Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) di Ngesong, Imogiri, Bantul. Selanjutnya diperoleh laporan masyarakat lagi yang menyatakan melihat Macan Tutul (Panthera pardus) turun ke pemukiman penduduk di daerah Nglingseng, Imogiri Bantul. Menindaklanjuti laporan masyarakat tersebut, M. Wahyudi memerintahkan Fungsional Polhut dan PEH Balai KSDA Yogyakarta untuk melakukan koordinasi, pengecekan lapangan dan observasi prediksi kemungkinan rumah satwa mamalia besar di lokasi diduga sebagai daerah jelajah satwa dimaksud. Selanjutnya, Balai KSDA Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bantul, Pemerintah Kecamatan Imogiri, Pemerintah Desa Wukirsari, Fakultas Biologi UGM dan Komunitas Konservasi Wukirsari bersama-sama melakukan monitoring satwa liar menggunakan kamera trap. Monitoring satwa liar diduga macan di daerah Imogiri dengan menggunakan kamera trap direncanakan akan dilakukan selama 1 bulan dari 22 Oktober – 19 November 2019 dengan fokus lokasi di Nglingseng dan Ngesong yang diprediksi sebagai rumah bagi jenis mamalia besar tersebut. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, menyampaikan apresiasi yang besar kepada Pemerintah Kabupaten Bantul yang telah memberikan dukungannya terhadap kegiatan konservasi satwa liar. “Harimau Jawa telah dinyatakan punah sejak tahun 1970an, meskipun demikian, masyarakat memberikan kesaksian jika mereka melihat Harimau Jawa tersebut. Selama ini, informasi terkait keberadaan Macan di wilayah Kabupaten Bantul yang salah satu habitatnya di daerah Imogiri belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Untuk menjawab keresahan masyarakat, segera ditindaklanjuti dengan pemasangan kamera trap ini. Melalui pemasangan kamera trap ini diharapkan dapat menjadi titik awal untuk mengetahui keberadaan jenis macan tersebut. Jika keberadaan mamalia besar yang dilindungi undang-undang tersebut benar adanya, maka hal ini dapat menjadi kekayaan yang tidak ternilai di Kabupaten Bantul dan perlu didukung dengan kebijakan secara khusus oleh pemerintah daerah dan instansi yang berwenang.” tutur M. Wahyudi. Lebih lanjut M. Wahyudi menjelaskan “Konservasi tidak hanya dimiliki oleh satu instansi atau segelintir orang, tetapi seluruh eleman masyarakat bertanggungjawab terhadap konservasi sumber daya alam. Sama halnya dengan kegiatan yang hari ini dilakukan untuk kelestarian satwa liar di Imogiri, membuktikan bahwa kegiatan konservasi untuk mewujudkan kelestarian satwa liar secara sinergis dilakukan oleh banyak pihak yang peduli. Semoga langkah kecil dari penggiat konservasi ini menjadi bukti nyata terhadap konservasi di Yogyakarta.” Jelas Kepala Balai KSDA Yogyakarta ini. Selain pengambilan data kamera trap ke-1 tersebut, Wakil Bupati Kabupaten Bantul juga berkenan melakukan pemasangan kamera trap di spot lain yang diprediksi sebagai jalur jelajah mamalia besar tersebut. Sumber : Dyahning R. - PEH Balai KSDA Yogyakarta

Menampilkan 4.625–4.640 dari 11.140 publikasi