Jumat, 1 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Warga Marelan Serahkan Elang

Murtais menyerahkan Elang Brontok Hitam kepada petugas (gambar kiri) dan saat akan dibawa petugas ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit (gambar kanan) Medan, 4 November 2019 - Murtais, warga Kompleks Griya Bestari, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, menyerahkan 1 (satu) individu Elang Brontok Hitam (CHE black) kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Jumat 1 Nopember 2019. Dalam penjelasannya kepada petugas, Murtais menyebutkan bahwa satwa yang dilindungi ini diperolehnya dari ladangnya yang berada di Kampung Batang Ara, Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang. Di areal perladangan masyarakat tersebut, Elang Brontok bersama dengan musang dan tikus, dianggap sebagai hama pengganggu. Oleh karena itu masyarakat memburu keberadaannya. Bila berhasil mendapatkan Elang Brontok, maka masyarakat akan membunuhnya atau memperdagangkannya. Untuk mengatasi hama diladangnya, Murtais memasang jerat dan umpan. Upayanya berhasil, ketika 1 individu Elang Brontok Hitam terkena jeratan. Namun dia tidak membunuh burung tersebut, melainkan membawanya ke rumahnya di Kompleks Griya Bestari, Kecamatan Medan Marelan, Medan. Beberapa hari di rumahnya, Murtais kemudian mencari informasi tentang lembaga/instansi yang berkompeten dalam perlindungan satwa liar, melalui media sosial. Setelah mengetahui bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara merupakan instansi yang berkompeten dalam perlindungan satwa liar, selanjutnya Murtais menghubunginya. Tidak perlu waktu lama, pada Jumat 1 Nopember 2019, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara segera menjemput satwa tersebut dari rumahnya. Penitipan Elang Brontok Hitam (CHE black) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit. Kondisi fisik satwa secara kasat mata terlihat sehat, namun untuk memastikan kondisi kesehatan yang sebenarnya, serta dalam upaya merehabilitasinya sebelum dilepasliarkan, petugas membawa Elang Brontok Hitam tersebut dan menitipkannya di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit. Sumber : M.Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Seminar Internasional Lahan Basah di Kalimantan Selatan

Banjarbaru, 1 November 2019 - Bertempat di Novotel Banjarmasin Airport-Banjarbaru, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan didaulat sebagai keynote speaker mewakili Dirjen KSDAE dalam International Conferences of Tropical Wetland Biodiversity and Conservation (ICWEB). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Program Studi Biologi FMIPA ULM, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Balai KSDA Kalimantan Selatan, dan Sahabat Bekantan Indonesia. Dalam seminar internasional ini diikuti narasumber utama dari Australia, Italia, Malaysia, Belgia, dan Indonesia, serta dibuka oleh Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Prov. Kalsel Bapak Drs. Abdul Haris Makki, M.Si. Seminar Internasional Lahan Basah kali ini mengangkat tema “Mempertahankan Biodiversitas Lahan Basah Tropis Untuk Kesejahteraan Manusia Yang Lebih Baik”. Dalam materinya, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala BKSDA Kalsel menyampaikan bahwa potensi lahan basah yang cukup besar di Indonesia merupakan habitat yang sangat penting bagi banyak flora fauna. Untuk itulah Indonesia disebut dengan negara Mega Biodiversity. Beberapa permasalahan penting dalam pengelolaan lahan basah yang dihadapi saat ini adalah terdesaknya habitat hidup keanekaragaman hayati karena alih fungsi kawasan hutan, degradasi hutan di daerah tangkapan air, tumpang tindih peruntukan ruang, serta pengelolaan ekosistem lahan basah yang belum terlaksana secara terpadu dan optimal. Melihat banyaknya permasalahan dan potensi ancaman terhadap lahan basah, dan dikhawatirkan akan berimbas pada keanekaragaman hayati yang ada, Ditjen KSDAE mempunyai program dalam mendukung pengelolaan lahan basah baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi, diantaranya adalah pemulihan ekosistem lahan basah, serta mendorong terbentuknya Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di tiap daerah. ”Saat ini di Kalimantan Selatan sendiri telah mempunyai 2 calon KEE, yaitu di Panjaratan dan Kuala Lupak. Pelibatan masyarakat lokal dan Pemerintah Daerah dalam pelestarian keanekaragaman hayati merupakan hal penting yang perlu dilakukan. Kita perlu merubah paradigma yang melihat bahwa konservasi hanya bisa dipandang, namun tidak boleh dipegang. Bloking/ zonase penting disesuaikan dengan dinamika sosial, ekologi dan ekonomi.” terang Mahrus. Kesempatan yang baik ini juga disampaikan bahwa Ditjen KSDAE mempunyai 10 cara baru kelola kawasan konservasi, yang salah satunya adalah Scientific Based Decision Support System, sehingga harapannya ada kerjasama dengan berbagai instansi khususnya peneliti dalam upaya mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Dalam penutupan pemaparannya, Mahrus mengajak para peserta dan narasumber menikmati eksotisme Bekantan di Suaka Margasatwa Kuala Lupak yang merupakan ekosistem mangrove alami dan menjadi salah satu habitat ratusan Bekantan di Kalimantan Selatan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Sosialisasi Tentang Larangan Perburuan dan Perdagangan Satwa Liar Tanpa Izin

PEKANBARU-Rabu, 30 Oktober 2019. Balai Besar KSDA Riau melakukan Sosialisasi tentang larangan perburuan dan perdagangan satwa liar tanpa izin di Gedung Pertemuan Kec.Teluk Meranti, Kab. Pelalawan, Riau. Sosialisasi dihadiri aparat dari Polsek Teluk Meranti, Desa Teluk Binjai, Kelurahan Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti dan Restorasi Ekosistem Riau (RER). Para pihak berkomitmen untuk bersama sama melestarikan bentang Kerumutan yaitu SM. Kerumutan, SM Tasik Besar Serkap, SM. Tasik Serkap dan sekitarnya. Komitmen tersebut ditandatangani dalam sebuah dokumen. Setelah penandatanganan komitmen bersama, Balai Besar KSDA Riau yang diwakili oleh Kepala Bidang KSDA Wil I, bapak Andri Hansen Siregar menerima penyerahan sebuah perahu untuk mendukung operasional pengamanan kawasan SM. Tasik Besar Serkap dan SM. Tasik Serkap dari Restorasi Ekosistem Riau (RER). Terima kasih kepada RER yang telah memberikan bantuannya dan terima kasih kepada para pihak atas komitmennya untuk menjaga kawasan kita bersama. Yuuuk... yang tidak ikut tanda tangan harus ikut juga ya menjaga kawasan kebanggaan kita. Kalau bukan kita... Siapa lagi? Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Studi Komparasi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pemprov Jateng di KEE Teluk Pangpang - Banyuwangi

Banyuwangi, 31 Oktober 2019. Bertempat di Balai Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, telah dilaksanakan kegiatan studi komparasi pengelolaan ekosistem mangrove. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh rombongan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang terwadahi dalam Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Jawa Tengah. Rombongan yang sebanyak 14 orang terdiri dari berbagai unsur instansi seperti Biro Infrastuktur dan Sumber Daya Alam, Setda Provinsi Jawa Tengah, Kepala Cabang Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah V, Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan, Dosen Kelautan Universitas Diponegoro, dan Dosen Lingkungan Universitas Negeri Semarang. Juga dari Wetlands, IKAMat, Balai KSDA Jawa Tengah dan Tokoh Peduli Mangrove Kab. Pemalang, Brebes, dan Rembang. Rangkaian acara studi komparasi pengelolaan ekosistem mangrove ini dimulai pada tanggal 30 Oktober bertempat di Mangrove Wonorejo Surabaya. Kemudian dilanjutkan kunjungan ke Mangrove BeeJay Bakau Resort (BJBR), Kabupaten Probolinggo dan terakhir ke Mangrove Taman Nasional Alas Purwo pada 1 November 2019. Kunjungan Tim Studi Komparasi Pengelolaan Mangrove di Teluk Pangpang - Banyuwangi ini untuk melihat pengelolaan ekosistem mangrove melalui skema penetapan dan pengelolaan model Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) serta kegiatan pemberdayaan masyarakat. Rombongan disambut oleh Forum Koloborasi pengelolaan KEE Teluk Pangpang antara lain Balai Besar KSDA Jawa Timur, Bappeda Kab. Banyuwangi, Dinas Perikanan dan Pangan Kab. Banyuwangi, dan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi. Serta muspika setempat seperti Pj. Kepala Desa Wringinputih dan Kaur Kesejahteraan Rakyat, Ketua Kelompok KUB Mina Sero Laut, KUB Bangkit Remaja Tegalpare, KUB Pesona Teluk Pangpang, perwakilan Desa Kedunggebang, dan Conservation International Indonesia (CII). Acara studi komparasi ini diawali dengan sambutan Pj. Kepala Desa Wringinputih, Budi Santoso. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah karena telah berkunjung ke Teluk Pangpang untuk melihat pengelolaan KEE. Selanjutnya Acara sharing pengalaman keberhasilan dalam melakukan pemberdayaan masyarakat pesisir oleh Anang Budi Wasono, Dinas Perikanan dan Pangan Kab. Banyuwangi. Kemudian, presentasi Profil pengelolaan KEE Mangrove Teluk Pangpang oleh Agus Ariyanto, S.Hut., M.Sc., PEH Balai Besar KSDA Jawa Timur. KEE Teluk Pangpang merupakan salah satu dari 17 KEE awal yang ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan pada tahun 2011. KEE ini telah memiliki forum kolaborasi pengelolaan yang disahkan berdasarkan SK Bupati Banyuwangi pada tahun 2011. Selain itu juga telah memiliki rencana aksi pengelolaan yang disusun oada tahun 2012 untuk periode 2013 s/d 2017. Saat ini sedang dalam proses Revisi SK Forum Pengelola dari SK Bupati menjadi SK Gubernur Provinsi Jawa Timur seiring berlakunya Undang Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dan telah dilakukan deliniasi/pemetaan batas kawasan pada bulan April 2019 oleh Tim dari Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE), Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perum Perhutani BKPH Blambangan, KPH Banyuwangi Selatan dan perwakilan masyarakat desa. Terhadap rencana aksi telah dilakukan rapat penyusunan rencana aksi pengelolaan pada tanggal 28 Oktober 2019 di Astol Hotel Banyuwangi. Rombongan sangat antusias menyimak dan berdiskusi terkait pengelolaan KEE Teluk Pangpang. Beberapa hal yang didiskusikan antara lain mekanisme penetapan ekosistem mangrove sebagai KEE, Pengelolaan Kolaboratif terdiri dari unsur apa saja dan bagaimana cara membangun komunikasi, ektensifikasi usaha tambak yang menganggu ekosistem mangrove. Tak kalah menarik juga terkait pemberdayaan masyarakat yaitu kiat-kiat pengelola dalam membangun kebersamaan kelompok usaha karena kami melihat khususnya di Desa Wringinputih yang terdapat 3 kelompok usaha. Namun semuanya bisa guyup rukun termasuk pembagian keuntungan dari usaha ekowisata yang sudah berkembang. Setelah Acara diskusi kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan kenang-kenangan dari KKMD Provinsi Jawa Tengah untuk Forum Pengelola KEE Teluk Pangpang. Tak lupa dilakukan kunjungan lapangan ke Pantai Panorama Kili-Kili. Pantai ini memiliki hamparan mangrove yang cukup luas dan menjadi habitat berbagai jenis burung air. Kawasan ini juga terdapat pohon mangrove tua (old mangrove) yang diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun yaitu jenis Avicenia marina. Di kawasan ini pengunjung dapat menyaksikan atraksi berbagai jenis burung dalam jumlah ribuan terbang pada pagi hari dan akan kembali pada sore hari. Rombongan sangat senang dapat menyaksikan atraksi burung air, keunikan mangrove di Pantai Panorama Kili-Kili serta keramahan kelompok pengelola. Karena hari sudah petang maka rombongan mengurungkan niat untuk melakukan susur mangrove sungai setail-Teluk Pangpang, mereka berharap dapat kembali lagi lain waktu. Penulis dan Foto : Agus Ariyanto, S.Hut., M.Sc. PEH Muda pada BBKSDA Jatim Penyunting : Agus Irwanto
Baca Berita

Bersama Mitra, TN Bantimurung Buluseraung Latih Warga Patanyamang Olah Bambu

Maros, 28 Oktober 2019 - Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) terus bina warga sekitar kawasan hutan. Kali ini latih warga Patanyamang olah bambu menjadi kerajinan dan furnitur. Patanyamang adalah desa enclave. Enclave berarti perkampungan yang berada di kawasan hutan. Pagi-pagi sekali warga Desa Patanyamang, Camba, Maros, sudah berkumpul di rumah Nurhidayah, Ketua Kelompok Tani Hutan Patanyamang. Sebanyak 30 anggota kelompok antusias menanti gelaran pelatihan olah bambu. Kepala Desa Patanyamang, Kepala seksi pengelolaan taman nasional Wilayah II, dan Wakil PLN hadir pada pembukaan. "Saya ucapkan terima kasih kepada TLKM Unhas yang telah menginisiasi pelatihan olah bambu ini. Pelatihan ini tergelar berkat kerjasama TN Babul dan PT. PLN Regional Sulawesi. Ini adalah bentuk kepedulian kami kepada warga yang berada di encalave taman nasional," ujar Alias, Kepala Seksi Taman nasional dalam sambutannya. Keberadaan bambu cukup melimpah di desa yang berada di tengah hutan pinus ini. Bambu juga merupakan bagian dari hasil hutan bukan kayu. Di mana memungkinkan dimanfaatkan bagi warga yang bermukim di sekitar kawasan lindung. Selama dua hari dari tanggal 27 s.d 28 Oktober 2019, pelatihan berlangsung di rumah Nurhidayah, sebagai bengkel pengrajin bambu. Pelatihnya tak tanggung-tanggung, didatangkan jauh-jauh. Adalah Yoyo Budiman, Direktur Akademi Bambu Jawa Barat menjadi mentor membuat souvenir dari bambu. Tak hanya itu, penyelenggara juga mengundang Rusmin, pengrajin furnitur asal Sleman, Yogyakarta. Rusmin mengajarkan anggota kelompok tani membuat kursi bambu. Ia juga mengajarkan dasar-dasar mengolah bambu. Kedua pemateri berkolaborasi menularkan ilmu kepada peserta pelatihan. Mulai dari memilih bambu, memotong, merakit, hingga proses akhir. Peserta begitu antusias mengikuti setiap instruksi dan mempraktikkannya. Hingga akhirnya selama latihan mampu menghasilkan beberapa macam souvenir. Mug ukuran kecil dan besar, asbak, hingga cover tumblir berhasil warga buat. Dari kelompok pembuat furnitur, dalam waktu singkat mereka mampu membuat kursi dan rak bambu. "Saya salut dengan hasil kerja teman-teman di Patanyamang. Hanya dalam waktu dua hari mereka mampu menghasilkan beragam karya dari bambu," ujar Yoyo di hari terakhir. Yoyo juga memuji inovasi salah satu peserta. Membuat frame kacamata dari bambu. Semoga dengan adanya pelatihan ini bisa menjadi modal usaha anggota kelompok untuk kesejahteraan keluarganya. Sumber: Taufiq Ismail (PEH) - TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Serah Terima Pejabat Struktural dan Pelepasan Purna Tugas Pegawai Balai Besar Ksda Riau

PEKANBARU-Kamis, 31 Oktober 2019. Ada suasana yang berbeda di kantor Balai Besar KSDA Riau. Kami baru ngadain acara serah terima jabatan pejabat struktural sekaligus acara pelepasan purna tugas pegawai Balai Besar KSDA Riau. Serah terima dilakukan Kepala Sub Bag Program dan Kerjasama antara bapak Stephanus dan ibu Desty..., kemudian promosi bapak Arry Purnama di Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan serta purna tugas bapak Isbanu, bapak Suslamat dan ibu Elmida. Bagi bu Desty dan pak Arry. Selamat bertugas, demikian juga pak Stephanus, selamat bertugas dan sukses di tempat yang baru. Untuk bapak Isbanu, bapak Suslamat dan ibu Elmida, selamat mengabdi di dalam bentuk yang berbeda. Terima kasih atas dedikasinya selama ini. Ibu dan bapak selalu ada di hati kami. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Pesona Angrek Taman Nasional Batang Gadis

Pesona Angrek Taman Nasional Batang Gadis Anggrek merupakan tumbuhan yang sangat menarik terutama pada bagian bunganya dengan warna, ukuran dan bentuk yang unik yang menjadi daya tarik. Anggrek merupakan salah satu keluarga tanaman berbunga yang berjumlah paling besar dan paling beragam, serta tersebar luas di seluruh dunia. Jenis-jenis anggrek di Indonesia tidak sedikit jumlahnya. Diperkirakan di dunia ini kurang lebih terdapat 25.000 jenis dan sekitar 4000 jenis anggrek dapat dijumpai di Indonesia. Di Taman Nasional Batang Gadis tercatat sebanyak 55 jenis anggrek yang sudah teridentifikasi dan diperkirakan masih ada jenis lainnya. 39 jenis diantaranya termasuk kedalam kategori Appendix II (spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan) berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Sumber : Nisa Hidayati , Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TN Batang Gadis
Baca Berita

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Balai Taman Nasional Kepulauan Togean dengan Kelompok Desa Kemitraan Konservasi

Ampana, 4 November 2019. Kemitraan antara Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) dengan masyarakat desa di Kepulauan Togean selalu dilakukan setiap tahunnya. Hal tersebut merupakan paradigma baru dalam pengelolaan kawasan konservasi. BTNKT bersama 6 Kelompok Desa Kemitraan Konservasi telah melakukan penandatangan perjanjian kerjasama di ruang aula BTNKT. Kegiatan penandatanganan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TNKT, Ir. Bustang dan dihadiri oleh lebih dari 20 orang undangan diantaranya Kepala BP4D Tojo Una una, wakil polres Tojo Una-Una, Perwakilan Dinas Perindag Tojo Una-Una, Camat Batudaka, Camat Una una, Camat Walea Kepulauan, Camat Walea Besar, SekCam Togean serta 6 ketua kelompok Kemitraan dan bedaharanya. Enam kelompok desa kemitraan konservasi terdiri dari Kelompok Langit Biru Desa Kulingkinari, Budidaya Karamba Desa Kolongian, Sikatonang Desa Pulau Enam, Sukamaju Desa Lebiti, Sambaaraya Desa Tutung, dan Budidaya Ikan Desa Tingki. Penandatanganan dilakukan langsung oleh ketua kelompok dengan Kepala Balai TNKT. Adapun Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah dilaksanakan adalah tentang pemberian akses pemanfaataan sumberdaya perairan kepada zona tradisional TNKT. Terkait dengan hal tersebut Ir. Bustang selaku Kepala Balai TNKT dalam sambutannya mengungkapkan “Kemitraan konservasi merupakan jembatan bagi masyarakat yang berada di kepulauan untuk ikut serta memanfaatkan zona tradisional yang ada di TNKT baik di laut maupun di darat. Masyarakat diharapkan tidak lagi bergantung pada aktifitas kegiatan yang dapat merusak ekosistem yang ada di kawasan TNKT seperti illegal fishing. Dengan adanya kegiatan kemitraan ini masyarakat diharapkan untuk ikut serta dalam menjaga ekosistem di Kepulauan Togean. BTNKT juga berharap adanya sinergitas kerja sama antara pihak-pihak dalam penandatanganan perjanjian untuk meningkatkan keberhasilan pemberdayaaan ini. Selanjutnya BTNKT akan membantu masyarakat untuk branding produk-produk kelompoknya. Hal tersebut merupakan wujud komitmen dari TNKT yang sudah menjadi bagian dari Cagar Biosfer Tojo Una una sejak tangal 19 Juni 2019 untuk pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.” Diakhir sambutannya Kepala Balai TNKT menyampaikan agar kelompok masyarakat dapat menyusun laporan kemajuan kelompok sebagai tindak lanjut dari kemitraan ini. Disamping itu diharapkan pula Kepala Desa agar dapat bersama-sama melakukan pemantauan kemajuan kelompok. Sumber : Khoirum Min Alfiyani – Calon PEH Balai Taman Nasional Kepuluan Togean
Baca Berita

Penemuan dan Pelepasliaran Kucing Kuwuk di Kelurahan Benasi

Sibolga, 4 Nopember 2019 - Balai Besar KSDA Sumater Utara melalui Kepala Resort Pelabuhan Laut Sibolga dan Bandara Pinang Sori Lantas Hutagalung, melepasliarkan 1 (satu) individu anakan Kucing kuwok (Prionailurus bengalensis) di Areal Konservasi Penyu Pantai Binasi Kec. Sorkam Barat Kab. Tapanuli Tengah (3/11). Bermula dari tanggal 1 Nopember 2019 anak-anak Pantai Binasi yang menjerat 1 (satu) individu anakan Kucing Kuwok (Prionailurus bengalensis) di areal Konservasi Penyu Pantai Binasi Kelurahan Binasi Kecamatan Sorkam Barat Kabupaten Tapanuli Tengah. Sebelumnya mereka melihat induk Kucing Kuwok dengan 3 (tiga) ekor anaknya namun hanya 1 (satu) ekor yang berhasil terjerat. Kemudian petugas Resort Pelabuhan Laut Sibolga dan Bandara Pinang Sori mengetahui kelakuan anak-anak tersebut, lalu ia melaporkan Kepala Resort Pelabuhan Laut Sibolga dan Bandara Pinang Sori. Dan memberitahukan kepada anak-anak tersebut bahwa satwa tersebut merupakan satwa dilindungi undang-undang. Setelah di periksa Kucing kuwok diketahui berjenis kelamin jantan. Kepala Resort Pelabuhan Laut Sibolga langsung turun ke lokasi dan mengkoordinir pelepasliaran Kucing Kuwok. Tanggal 3 Nopember 2019 Pukul 17.05 Wib Kucing Kuwok dilepasliarkan kembali ke habitatnya dimana satwa tersebut ditemukan. Kucing Kuwok (Prionailurus bengalensis) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Famili Felidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Kucing Kuwok liar kecil Asia Selatan dan Timur. Sejak tahun 2002, ia terdaftar dalam spesies resiko rendah oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) sebab ia terdistribusi secara luas, tetapi terancam karena hilangnya habitat dan perburuan di beberapa bagian yang merupakan persebaran Kucing kuwok. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Kepala Resort Pelabuhan Laut Sibolga dan Bandara Pinang Sori sangat berterimakasih atas apa yang telah dilakukan oleh Masyarakat Kelurahan Binasi Kecamatan Sorkam Barat Kabupaten Tapanuli Tengah yang telah melepaskan tanpa melukai Kucing Kuwok tersebut ke habitatnya sehingga tidak sampai menimbulkan dampak negatif baik bagi satwa maupun masyarakat. (Sumber : Lisbeth Manurung/Penyuluh Kehutanan/BBKSDA SUMUT)
Baca Berita

Pelayanan SATS-DN SKW 2 di Bandara Syamsudin Noor

Banjarbaru, 1 November 2019 − Guna memberikan pelayanan legalitas peredaran Tumbuhan Dan Satwa Liar (TSL) yang tidak dilindungi undang – undang kepada pengguna jasa di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru, Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) telah menempatkan beberapa petugas di Pos Pelayanan Dan Pengawasan Peredaran Tumbuhan Dan Satwa Liar yang siap membantu dan melayani penumpang yang membutuhkan. Surat Angkutan Tumbuhan Dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN) yang akan dipergunakan untuk membawa satwa liar dan tumbuhan maupun bagian - bagian yang tidak dilindungi undang – undang keluar wilayah Provinsi Kalimantan. Menurut Rudi Pranoto Komandan Pos Pelayanan Dan Pengawasan Peredaran TSL BKSDA Kalsel di Bandara Syamsudin Noor, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 447/Kpts-II/2003 jenis dan jumlah satwa mapun tumbuhan yang bisa dibawa dan masuk kategori souvenir antara lain: Adapun persyaratan mengajukan permohonan SATS-DN untuk kategori souvenir yaitu identitas diri, surat permohonan serta berita acara pemeriksaan teknis dengan lama pembuatan SATDN sekitar 5 menit dengan membayar tarif PNBP – SATS-DN sebesar Rp. 35.000.- sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Jenis Dan Tarif PNBP Kementerian Kehutanan. Menurut Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc yang didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut. M.Si pada saat melakukan kunjungan kerja ke Pos Bandara Syamsudin Noor, bahwa pelayanan izin pemanfaatan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi Balai KSDA Kalimantan Selatan. Dr. Mahrus berpesan kepada petugas yang saat ditemui sedang melaksanakan tugas piket agar memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada pemohon SATS-DN serta melakukan pemeriksaan yang cermat dan teliti terhadap kebenaran jenis TSL yang akan dibawa keluar Provinsi Kalimantan Selatan. Pelayanan prima dan Gerak CTM (Cepat, Tepat dan Manfaat) sebagai spirit kerja BKSDA Kalsel harus menjadi bagian keseharian kami. (ryn) Sumber : Kusdania Naibaho, S.Hut - Polhut Pelaksana Lanjutan Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Orangutan kembali dilepasliarkan di Taman Nasional Betung Kerihun

Padua Mendalam, 31 Oktober 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) bekerjasama dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) telah melepasliarkan lagi orangutan sebanyak 3 (tiga) individu berjenis Pongo Pygmaeus di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Ketiga individu yang dilepasliarkan kali ini adalah 1 individu remaja betina bernama “Digo” dan 1 individu betina dewasa bernama “Putri Tanjung” beserta anaknya bernama “Liesjhe” yang telah dievaluasi dengan seksama baik dari sisi medis maupun dari aspek tingkahlakunya. Ketiga individu tersebut telah lulus seleksi di Sekolah Hutan Tembak milik YPOS dan memenuhi kondisi ideal untuk menjalani tahap pelepasliaran. “Orangutan yang didapat dari hasil sitaan ini telah dikarantina selama 3 bulan dan telah melakukan medical screen pertama di pusat rahabilitas untuk memastikan tidak ada penyakit dan infeksi menular sehingga bisa kita release pada hari ini” tegas Waluyo Jati Selaku Tim Medis. Pelepasliaran kali ini merupakan pelepasliaran putaran ke-5 (lima) di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun Sub DAS Mendalam. Mulai dari tahun 2017 sampai dengan pertengahan awal tahun 2019 kemarin sudah dilakukan pelepasliaran sebanyak 8 (delapan) individu, dengan pelepasliaran kali ini berarti jumlah Orangutan yang telah dilepasliarkan bertambah menjadi 11 (sebelas) individu. Maggi sapaan akrabnya yang merupakan Donatur asal Belanda ini mengaku sangat beruntung dapat mengantarkan ketiga OrangUtan dan melihat hutan Betung Kerihun “saya merasa beruntung berada disini” jelasnya. Dia juga berharap suatu saat nanti bisa kembali ke Betung Kerihun. Kegiatan pelepasliaran ini merupakan upaya untuk meningkatkan jumlah populasi orangutan yang sudah terancam punah dan memperkuat perlindungan dan pengamanan kawasan di lokasi tempat pelepasliaran orangutan tersebut. Kepala Balai Besar TNBKDS Ir. Arief Mahmud, M.Si menjelaskan bahwa Peran Orangutan merupakan fungsi penting ekosistem hutan yang keberadannya sudah terancam punah, sehingga kita perlu bekerjasama antar stakeholder yang terkait untuk menjaga keberadaannya dengan cara sosialisasi, kampanye dan penyadartahuan kepada masyarakat luas agar pelestarian populasi dan habitat orangutan tetap terjaga. Pada Pelaksanaan kegiatan pelepasliaran ini dihadiri YPOC bersama hampir 60 rekan dari Balai Besar TNBKDS, BKSDA Seksi Wil.2 Sintang dan Donatur dari Belanda yaitu OrangUtan Rescue serta Weesaapjes dan tokoh masyarakat yang berada di Sub DAS Mendalam. Sumber: Balai Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum
Baca Berita

Senam Sehat dan Bincang Wisata di TWA Sibolangit Rangkaian HCPSN 2019

Senam sehat dan bincang wisata di TWA. Sibolangit Jumat 1 November 2019 - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara bersama Pemerintah Kabupaten Deli Serdang melalui Pemerintah Kecamatan Sibolangit menggelar Senam Sehat dan Bincang-bincang wisata di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Penyelenggaraan kegiatan tersebut adalah Rangkaian memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang diperingati setiap tanggal 5 November. Berbagai Ragam Kegiatan dalam memperingati HCPSN tahun ini yang dilaksanakan di TWA Sibolangit. Dimulai Senam Sehat Bersama dan Bincang Wisata 1 November, Kegiatan Pramuka USU dengan menampilkan Penyuluhan Konservasi 2-3 November, Seremoni Puncak HCPSN, Wisata Edukasi dan Konservasi Lingkungan SMK Swasta Kesehatan Imelda Medan dan Pelepasan Burung tanggal 5 November, Shooting Kawasan TWA Sibolangit sebagai Media Promosi Wisata Kabupaten Deli Serdang Bulan Nopember ini dan Wisata Ekoling SMA Methodist Pancur Batu serta Perkemahan Keluarga 9-10 November sekaligus peringatan Hari Pahlawan. Rangkaian Kegiatan HCPSN 2019 diatas mengangkat tema Nasional HCPSN “Membangun Generasi Millenial Cinta Puspa dan Satwa Nasional untuk Indonesia Unggul’. Senam Sehat dan Bincang Wisata diikuti Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Deli Serdang, Camat Sibolangit, Kapolpos Sibolangit, Para Kasi Kantor Kecamatan, KA UPT Kec Sibolangit, Team kebersihan Kec Sibolangit, Penggerak KB (BKKBN), FKDM Kepala Desa Sekecamatan Sibolangit, Muspika, Kelompok Sadar Wisata Sibolangit Berseri dengan jumlah peserta 85 orang. Senam Sehat bersama adalah olahraga yang telah rutin dilaksanakan di kecamatan Sibolangit setiap hari Jumat disamping untuk menjaga kebugaran tubuh para pelayan masyarakat juga memkampayekan Gerakan Hidup Sehat Masyarakat (GERMAS). ungkap Camat Sibolangit Febri E.Gurusinga, S.STP, M.SP selaku pengerak kegiatan pada sela-sela acara. Pada Sesi Bincang-bincang wisata menampilkan Pembicara Dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Deli Serdang, Camat Sibolangit, Yayasan Konservasi Species Indonesia (YPKSI) Rudianto Sembiring, Kelompok Lintas Agama Pdt Sumadi dan dimoderatori Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP. Acara yang dibuka Camat Sibolangit lebih dahulu memaparkan potensi dan peluang wisata di kecamatan Sibolangit yang terdapat 30 desa yang satu desa dengan Desa yang lain memiliki Potensi Wisata masing-masing. Seperti Contoh Desa Sibolangit Wisata Alam TWA Sibolangit, Wisata Budaya, Wisata Religi di Desa Buluh Awar, Wisata Tirta Desa Sembahe, Kuala, Batu Mbelin dan Desa Lain-lain yang berpotensi untuk dikembangkan. Ibu Rini Dewi Feriani Hasibuan Pembicara dari Disporabudpar menekankan Pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Pembentukan Desa Wisata di Kecamatan Sibolangit 2020 dengan Beberapa tahapan penilaian, Pelatihan-pelatihan Bagi Pokdarwis yang difasilitasi dari DAK seperti Pelatihan Managemen Pariwisata, Pelatihan Pembuatan HomeStay, Pelatihan Pemandu Ekoswisata, Pelatihan Pemandu Wisata Kuliner dan Sejarah, Pelatihan pemandu Museum dan Sejarah dan Pelatihan Wisata Paralayang. Komitmen Pemkab Deli Serdang dalam pengembangan Wisata kedepannya bersama-sama Balai Besar KSDA Sumatera Utara dapat bersinergi. Sinergi itu bersama-sama dalam mempromosikan Wisata di Kabupaten Deli Serdang cq Kecamatan Sibolangit umumnya dan TWA Sibolangit pada khususnya yang pada waktu dekat ini akan mengambil Shooting Potensi dan obyek Kawasan TWA Sibolangit. Ibu Rini menyemangati masyarakat agar dapat menggerakkan wisata bersama stake holder dengan Prinsip Sapta Pesona Wisata yaitu Aman, Tertib, Bersih, Indah, Sejuk, Ramah Tamah dan Kenangan. Sementara dari YPKSI Rudianto Sembiring berbagi pengalaman selama memandu Tamu Wisatawan Mancanegara yang sudah membawa turis ke Buluh Awar dan Rumah Pilpil khususnya Kerajinan Keranjang Bambu. Wisata yang sederhana serta unik menjadi kenangan tersendiri bagi turis yang berkunjung ke Kecamatan Sibolangit dan Harapannya Masyarakat Desa yang berada di Kecamatan Sibolangit kemauan yang keras dapat membangun pariwisata yang kedepannya dapat meningkatan pendapatan warga. Dengan Potensi yang sudah ada tinggal meningkatkan sumber daya manusia maasyarakat serta keinginan yang kuat dapat terwujud wisata yang diimpikan bersama. Pendeta Sumadi sebagai pembicara terakhir dari Lintas agama yang ditugaskan oleh gereja GBKP selama 3 tahun membantu masyarakat dalam menyampaiakan Pola Pertanian Organik serta Pembuatan obat Herbal yang juga dapat meningkatkan Penghidupan serta kesehatan masyarakat Desa di Kecamatan Sibolangit. Pengalaman yang sudah dirasakan ditempat lain, kali ini berbagai pengetahuan melalui Pelatihan-pelatihan nantinya Kedepannya. Dan Apapun yang dilaksanakan dikecamatan kegiatan pada imbasnya dapat mendukung Pariwisata. Sebelum ditutup oleh Kepala Resort CA/TWA Sibolangit menyampaikan beberapa hal kesimpulan pada Bincang Wisata kali ini yaitu Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku UPT Kementerian Lingkunga Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Konservasi Daya Alam dan Ekosistem mendukung sepenuhnya segala upaya Pengembangan Wisata di Kecamatan Sibolangit sebagai Salah satu tugasnya adalah Pengembangan Wisata Alam dan Jasa Lingkungan serta Pemberdayaan masyarakat Sekitar Kawasan Konservasi. Hasil Bincang Wisata ini menjadi Momentum pengembangan wisata kecamatan Sibolangit kedepanya dapat segera terwujud. Beberapa agenda yang akan dapat diselenggarakan seperti Workshop Pembentukan Desa Wisata, Pelatihan-pelatihan Kepariwisatawan dan Festival Wisata Wisata Tingkat Kecamatan dan Promosi yang nantinya bersinergi pelaksanaaannya dilapangan bersama Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan YPKSI. Serangkaian acara diatas untuk memeriahkan peringatan HCPSN. Agar kegiatan tersebut akan muncul rasa kebersamaan, cinta alam serta rasa memiliki terhadap puspa dan satwa Indonesia sebagai kekayaan bangsa Indonesia bagi generasi mendatang,” yang dapat mendukung Wisata dan Konservasi. Sumber : Samuel Siahaan (PEH Pertama) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Petugas, untuk Memahami Tujuan Efektivitas Pengelolaan.

Gilimanuk, 1 November 2019. Peningkatan kapasitas petugas lapangan dalam rangka memenuhi kebutuhan data dan informasi ditingkat lapang rutin dilaksanakan tiap tahunnya di Taman Nasional Bali Barat. Salah satunya dengan melaksanakan in house training dalam penggunaan alat dan aplikasi e-remote TNBB. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 29-30 oktober 2019, pada hari pertama tanggal 29 oktober 2019 kegiatan dibuka oleh Kepala Balai TN. Bali Barah Drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si, dilanjutkan dengan materi tentang penggunaan aplikasi e-remote TNBB oleh narasumber yang merupakan vendor aplikasi. Aplikasi e-remote TNBB berfungsi membangun komitmen/perilaku seluruh personel terhadap data agar laporan terdokumentasikan dan pengumpulannya berjenjang dan membantu dalam rangka pengambilan kebijakan pengelolaan. Aplikasi dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, kesesuaian dengan kompetensi pelaksana dan kesesuaian dengan kondisi dukungan yang ada, seperti kestabilan akses internet agar dapat diakses sistem Android ataupun lainnya. Pada acara ini dilakukan diskusi untuk pengembangan aplikasi e-remote tnbb, cara penginputan data, serta bagian- bagian aplikasi yang belum dipahami oleh petugas di lapangan kemudian dilanjutkan dengan sharing pendapat, tanggapan, dan saran atas aplikasi yang sudah mulai dijalankan pada awal tahun ini. Saat ini terdapat 7 register pengambilan data pada aplikasi e-remote TNBB. Diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan tentang kawasan, petugas bisa lebih mudah memahami potensi/masalah kawasan sehingga dapat menentukan keputusan yang efektif dalam penyimpanan data dan membantu memetakan wilayah dalam berbagai informasi yang tersedia. Salam lestari. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Desa Penyangga Ikut Lestarikan Satwa Prioritas.,

Pejarakan, 30 oktober 2019. Desa yang berada di wilayah penyangga Taman Nasional Bali Barat (TNBB) memiliki peranan penting dalam usaha konservasi termasuk usaha perlindungan satwa curik bali yang menjadi salah satu jenis satwa yang dilindungi dan merupakan satwa prioritas untk dipulihkan populasinya. Setelah desa blimbingsari, Melaya, Gilimanuk (kabupaten Jembrana) dan desa Sumberklampok (kab. Buleleng), sebagai komitmen keikutsertaan masyarakat di dalam pelestarian burung curik bali yaitu dengan cara ikut menangkarkan burung curik bali yang tentunya sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pada tanggal 30 Oktober 2019, Balai TN.Bali Barat melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat di Desa Pejarakan, kab. Buleleng. Kegiatan ini diketuai oleh Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang Drs. I Made Mastra. Sebagai peserta ialah kelompok masyarakat NCF Putri Menjangan sebanyak 30 orang. Materi di sampaikan oleh narasumber Bapak Ketut Jiwa Artana sebagai penangkar sukses di Bali, adapun materi yang diberikan yaitu : Prosedur penangkaran curik bali serta Teknik dalam pemeliharaan burung curik bali. Diharapkan dengan dilaksanakannya kegiatan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang burung curik bali dan ikut dalam rangka pelestarian burung curik bali. Yang selanjutnya akan dilakukan pendampingan untk melakukan upaya penangkaran curik bali bebasis masyarakat sebagai upaya untk mengembalikan sebaran curik bali hingga ke daerah asalnya dan menjadikan suatu cagar Biosfer untk curik Bali. Salam konservasi Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Memantapkan Kebersamaan dengan Pembinaan yang Berkualitas.

Gilimanuk, 31 Oktober 2019, Dengan mengundang narasumber yang berkompeten, dilaksanakan pembinaan pegawai TN. Bali Barat. Hadir sebagai narasumber ialah Kepala Bagian Kepegawaian Ditjen KSDAE, Bapak Munarto, B.Sc.F, S.P., M.M. dan Kepala Sub Bagian Administrasi Jabatan Fungsional, Ibu Septi Eka Wardhani, S.Hut, MP. Peserta yang hadir adalah seluruh pegawai TN. Bali Barat, baik struktural, Fungsional (Polhut, PEH Dan Penyuluh kehutanan) maupun non Struktural serta tenaga honorer. Materi yang disampaikan adalah tentang aturan dan kebijakan bagi PNS/ASN, SIMPEG, peningkatan kinerja Dan kedisiplinan pegawai, tugas dan Izin Belajar, penilaian DUPAK bagi fungsional dan hal-hal lain seputar kepegawaian lingkup Ditjen KSDAE. Memberian materi juga diskusi antara peserta dengan pemateri berlangsung dengan suasana harmonis dan kekeluargaan. Dengan adanya kegiatan pembinaan pegawai ini diharapkan semua pegawai TN Bali Barat memahami kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dalam menjalankan tugas sebagai ASN dan tetap bisa bekerja dengan baik sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Bapak Munarto juga berpesan agar para pegawai TN Bali Barat untuk lebih bersemangat lagi dalam bekerja, terus tingkatkan kemampuan dan tambah prestasi-prestasi untuk TN Bali Barat. Salam konservasi. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Kemitraan Konservasi di Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 1 November 2019. Kegiatan kemitraan konservasi adalah salah satu Kebijakan Perhutanan Sosial di dalam kawasan konservasi sesuai dengan peraturan Ditjen KSDAE Nomor P.6/KSDAE/SET/Kum1/6/2018 di mana tujuannya adalah terbentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pemegang izin kawasan konservasi dengan masyarakat setempat. Tujuan kegiatan kemitraan konservasi adalah untuk memberikan perlindungan hukum bagi maayarakat yang mengelola kawasan konservasi, menjaga fungsi kawasan konservasi dan kelestarian keanekaragaman hayati serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat penyangga kawasan konservasi. Untuk mengawali kegiatan kemitraan konservasi, diperlukan adanya data mengenai luas lahan, nama pemilik lahan, komoditas yang ditanam serta koordinat lahan yang berbentuk polygon. Demi mendapatkan data- data tersebut maka perlu dilaksanakan kegiatan Inventarisasi dan Verifikasi Pemanfaatan Kawasan Konservasi oleh masyarakat desa penyangga. Selama tahun 2019, kegiatan ini sudah berlangsung dan sudah dilaksanakan di dua wilayah seksi, yaitu Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Di Kelurahan Longat, Desa Sirambas dan Desa Lumban Dolok serta SPTN wilayah II di Desa Pastap Julu Balai Taman Nasional Batang Gadis. Luas lahan yang telah diukur dalam kegiatan Inventarisasi dan Verifikasi Pemanfaatan Kawasan selama tahun 2019 seluas 161,88 Ha sekitar 3,36 % dari total Luas zona tradisional 4816.684 Ha. Kegiatan ini menjadi prioritas di tahun yang akan datang, guna mendapatkan data yang lebih banyak. Kelanjutan dari kegiatan ini adalah terbentuknya Perjanjian Kerja sama antara Pemegang Izin Kawasan konservasi (TNBG) dengan masyarakat setempat yang mengelola kawasan. Harapannya melalui kerja sama ini, masyarakat tetap menjaga kelestarian hutan dan kesejahteraan mereka pun dapat meningkat. Sumber : Christy - Penyuluh Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 4.609–4.624 dari 11.140 publikasi