Sabtu, 2 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Diskusi Selesai, Perjanjian Kerja Sama Pun Ditandatangan

Cibodas, 8 November 2019 - Bertempat di Kantor Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), digelar acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Direktur Utama PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha, Muhammad Zamachsyari dengan Ketua Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Edelweis, Poppy Oktadiyani. Setelah melalui serangkaian panjang pertemuan dan diskusi alot, akhirnya PKS itu jadilah sudah, dengan nomor: 029/AGA-DIR/XI/2019 dan 620/KOP.EDELWEIS/XI/2019 tanggal 8 November 2019 tentang Pengelolaan Administrasi Kontribusi Peserta Asuransi di Wilayah Kerja Balai Besar. Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto dan Kepala Bagian Tata Usaha, Wasja yang juga sebagai Pembina KPRI Edelweis. Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Dewan Pengawas KPRI Edelweis, General Manajer KPRI Edelweis, Pengurus KPRI Edelweis, dan tim PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha. Dalam sambutannya Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto, menyampaikan bahwa Perjanjian Kerja Sama ini merupakan upaya nyata dan komitmen tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama antara Balai Besar TNGGP dengan PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha dalam Program Asuransi Pengunjung Wisata dan Pengembangan Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pada diskusi singkat, menjelang penandatanganan PKS, Direktur Utama PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha, Muhammad Zamachsyari mengomentari isi PKS, “Saya prinsipnya setuju jika Perjanjian Kerja Sama ini dibuat simpel dan jelas yang penting menyambung dengan perjanjian kerja sama induknya dan sesuai dengan tujuannya dalam rangka turut serta mendukung program pemerintah”. Acara ditutup dengan penanam pohon di kompleks Kantor Balai Besar Taman Nasionalo Gunung Gede Pangrango. Masang-masing pihak, baik PT. Asuransi Jiwa Syariah Amanahjiwa Giri Artha dan KPRI Edelweis menanaman pohon dan dilanjut dengan acara “tradisi milenial”, yaitu foto bersama di halaman kantor Balai Besar TNGGP. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Giat Menanam di Wilayah TN Gunung Gede Pangrango

Sabtu, 9 November 2019 - Kegiatan penanaman dalam upaya pemulihan ekosistem terus dilakukan di Wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), baik yang dilakukan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) sendiri maupun oleh pihak luar/ mitra melalui program CSR-nya. Sebagaimana yang dilakukan oleh PT. Tirta Presindo Jaya (Mayora Group) (Sabtu, 02 November 2019). Kegiatan penanaman dilaksanakan di Blok Galudra, Resort PTN Sarongge, Seksi PTN Wilayah II Gedeh, Bidang PTN Wilayah I Cianjur. Secara administrasi pemerintahan berada di wilayah Desa Galudra, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Pada acara simbolis tersebut telah ditanam sebanyak 100 bibit dari 1.500 bibit yang akan ditanam di blok tersebut, jenis bibit yang ditanaman berupa jenis kihaji, jalitri, rasamala, dan puspa. Dalam kesempatan tersebut, pihak PT. Tirja Presindo Jaya yang diwakili oleh Factory Manajer, M. Zaidan Efendi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang wajib dilakukan perusahaan sebagai bagian dari kegiatan CSR-nya dan mengucapkan terimakasih kepada pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang telah bekerjasama dan mengizinkan pihak peruhaan untuk melakukan penanaman di wilayahnya. Kegiatan ini merupakan tahun ke-3 bagi perusahaan dan mudahan-mudahan pada tahun-tahun berikutnya masih dapat dilakukan di wilayah TNGGP. Sementara itu dari pihak BBTNGGP yang diwakili oleh Kepala Seksi PTN Wilayah II Gedeh, Johanes Wiharisno menyampaikan terimakasih kepada pihak PT. Tirta Presindo Jaya atas partisipasinya dalam membantu TNGGP dalam upaya melakukan pemulihan ekosistem dengan melakukan kegiatan penanaman. Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan penanaman sekarang mungkin tidak lagi wajib tetapi sudah menjadi hak bagi kita sebagai masyarakat yang peduli akan keutuhan dan kelestarian kawasan hutan khususnya TNGGP yang setiap saat tanpa kita sadari menerima manfaat akan keberadaan kawasan TNGGP. Dalam acara simbolis tersebut, sebagai bentuk dukungan dari pihak masyarakat sekitar turut hadir Kepala Desa Galudra, Asep Saepudin, dan Babinkantibmas Desa Galudra, Teten Jaelani. Keutuhan dan keberadaan kawasan TNGGP sangat penting, sebagaimana diketahui keberadaan kawasan TNGGP sebagai habitat penting bagi beberapa satwa prioritas diantaranya owa jawa (Hylobates moloch), elang jawa (Spizaetus bartelsi). dan Macan tutul (Panthera pardus melas). Dan juga keberadaannnya dari fungsi hidrologis sebagai recharge area dan cathment area bagi wilayah di sekitarnya (Cianjur, Sukabumi, dan Bogor), bahkan sebagian ke wilayah Ibu Kota Jakarta. Tercatat sekitar 230 milyar liter air yang dihasilkan oleh TNGGP setiap tahunnya. Semoga kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik langsung maupun tidak langsung bagi kawasan itu sendiri dan bagi masyarakat pada umumnya. Sumber: Asep Hasbilah (PEH) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Sekolah Alam Situgunung Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango

Situgunung, 06 November 2019 - Telah dilaksanakan kegiatan Sekolah Alam Situgunung (SAS) di Resort PTN Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kegiatan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas dan pengetahuan masyarakat sekitar destinasi wisata Situ Gunung atas kerjasama dengan PT Fontis Aquam Vivam dan masyarakat Desa Sukamaju, Desa Gede Pangrango, dan Desa Sukamanis (sebagai peserta pelatihan). Kegiatan SAS ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pentingnya Kawasan Konservasi TNGGP dan memahami teknik guide yang baik untuk ditingkatkan menjadi interpreter yang professional dalam pelayanan publik, memahami Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dasar dan penanganannya, serta memahami sapta pesona dalam pelayanan publik. Harapan dari kegiatan SAS ini adalah “Alam Terjaga Masyarakat Sejahtera”, sehingga TNGGP dapat berdampak dan bermanfaat nyata terhadap ekonomi masyarakat di sekitar kawasan. Kegiatan SAS rencananya akan digelar setiap pekan dan terus berlanjut sehingga Situgunung menjadi wahana ekowisata yang aman, nyaman, alamnya terjaga, dan masyarakat sejahtera. Sumber: Asep Suganda (Polhut) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Hari Cinta Puspa dan Satwa bersama Radio Nirwana FM

Batulicin, 5 November 2019, BKSDA Kalsel menyambut Hari Cinta Puspa dan Satwa tanggal 5 November 2019 dengan mensosialisasikan keanekaragaman hayati Indonesia dan Kalimantan Selatan melalui siaran Radio Nirwana Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu difrekuensi 106 FM. Dipandu pembawa acara Bung Johan, dengan Narasumber Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, didampingi Kepala SKW 3 Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc. Tema yang disampaikan “Sayangi Tumbuhan dan Satwa, biarkan mereka hidup di alam liar”. Paparan awal disampaikan kekayaan dan keragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Kita dianugrahi 10-20% flora dan fauna yang ada di dunia. Ada 10% jenis tumbuhan berbunga didunia (25.000 jenis); 17% jenis burung dunia (1.531 jenis); dan 20% dari jenis ikan di dunia. Khusus utk di Kalsel ada Aves 183 jenis; Amphibi 38 jenis; dan anggrek alam 252 jenis. Upaya pelestarian yang dilakukan lingkup BKSDA Kalsel antara lain: penangkaran rusa Sambar di 14 lokasi; santuari Bekantan di dua TWA; 1 Lembaga Konservasi; kelompok peduli Anggrek spesies; dan layanan pengaduan call center 0812 4849 4950. Tekanan yang dihadapi antara lain: pembukaan tambak, perkebunan, perburuan, dan kebakaran hutan dan lahan. Disampaikan pula 10 cara baru kelola kawasan konservasi sesuai arahan Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. bahwa masyarakat setempat sebagai pelaku utama, dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Implementasinya antara lain Kemitraan Konservasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar daerah penyangga. Bagian akhir siaran disampaikan harapan untuk konservasi flora dan fauna adalah membangun kesadaran bersama betapa pentingnya kehadiran mereka di dunia ini. Mereka bertasbih kepada Tuhan, dan berkat mereka kita bisa menikmati hidup. Biarlah mereka hidup di alam dengan bebas, tutup Dr. Mahrus. Sumber : Yofi Azhar (Polhut SKW III Batulicin BKSDA Kalimantan Selatan)
Baca Berita

Hari Cinta Puspa dan Satwa - Taruna AAL Lepas Tukik di Taman Nasional Bunaken

Manado, 7 November 2019. Sebanyak 30 ekor tukik penyu hijau (Chelonia mydas) dilepaskan kembali ke habitatnya, Rabu (06 November 2019) oleh Kepala Balai Taman Nasional Bunaken bersama Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL), Lantamal VIII, Masyarakat serta wisatawan. Tukik penyu tersebut sebelumnya telah dirawat oleh Jhon Rahasia pemilik Cafe Tagaroa di Pulau Siladen. Awalnya Jhon melihat ada pendaratan penyu masuk dalam dapur restoran, setelah dilihat ternyata penyu tersebut akan bertelur, kemudian menghubungi petugas Balai TN Bunaken untuk selanjutnya mengarahkan ke pantai yang berada disekitar lokasi usahanya. Setelah ditunggu sekian lama akhirnya tukik-tukik penyu tersebut menetas. Jhon selama ini merawat tukik penyu dengan membuatkan pelindung dalam bentuk rumah-rumah dan kolam kecil. Merasa senang sekali dengan kehadiran Taruna AAL dan langsung melakukan pelepasan penyu di laut bersama-sama masyarakat dan wisatawan yang hadir. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa, penyu merupakan salah satu satwa prioritas yang harus ditingkatkan populasinya dan dilindungi, untuk itu kami mengapresiasi tindakan Bapak Jhon yang telah bersedia untuk berpartisipasi dalam merawat satwa ini. Pelepasan tukik penyu hijau ini bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang disetiap tanggal 5 November kita peringati. Sebagai bagian dari edukasi dan sosialisasi bersama masyarakat, wisatawan dan segenap unsur yang ada mari kita jaga dan lestarikan satwa penyu ini. Penyu merupakan satwa yang memiliki peran penting dalam ekosistem perairan laut. Banyak hal yang telah satwa ini berikan pada alam salah satunya menjaga keseimbangan ketersediaan nutrisi pada habitat satwa perairan laut, indikator kesehatan lingkungan pesisir dan berperan dalam mengatur makan bagi ikan karang, tutur Farianna. Dalam kesempatan pelepasan tukik turut hadir Asportmar Lantamal VIII Kol. Rumpoko dan Kadisportmar Lantamal VIII serta jajarannya. Sumber: Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

TN Tesso Nilo Lakukan Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Tahun 2019

Pangkalan Kerinci, 6 November 2019 – TN. Tesso Nilo melaksanakan kegiatan self assesment penilaian efektifitas pengelolaan kawasan TN. Tesso Nilo dengan metode METT (Management Effectiveness Tracking Tool) di kantor Balai TN. Tesso Nilo. Kegiatan ini diselenggarakan ileh urusan evaluasi dan laporan (Evlap) Balai TN. Tesso Nilo. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh kepala balai TN. Tesso Nilo, Ir. Halasan Tulus, dan diikuti oleh Kasubbag TU, Ka SPTN I dan II serta seluruh pegawai dan Staff TN. Tesso Nilo. Tujuan dari kegiatan METT TN. Tesso Nilo tahun 2019 tersebut adalah untuk melakukan pengkajian tingkat effektifitas pengelolaan sesuai dengan visi, misi dan tujuan pengelolaan yang telah ditentukan sebelumnya oleh Balai TN. Tesso Nilo. Pertemuan dengan metode diskusi berjalan dengan baik. Peserta berdiskusi untuk memberikan nilai dari 30 pertanyaan yang terbagi lagi menjadi pertanyaan cabang. Pertanyaan berkisar pada informasi umum, ancaman, dan efektifitas pengelolaan. Penilaian ini juga sangat bernilai karena dapat dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana kelebihan dan kekurangan dalam proses pengelolaan kawasan dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana menindaklanjuti hal-hal yang teridentifikasi dalam penilaian tersebut. Dari kegiatan yang dilaksanakan diperoleh nilai 71, hal ini menunjukkanbahwa pengelolaan TN. Tesso Nilo sudah cukup efektif. Kepala Balai TN. Tesso Nilo Bapak Ir. Halasan Tulus menyampaikan, “Self assesment METT yang kita lakukan berguna bagi kita sebagai pengelola kawasan khususnya untuk melihat kekuatan dan kelemahan kita dalam mengelola kawasan sehingga kita bisa merencanakan dan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut. TN. Tesso Nilo berkomitment untuk mengelola kawasan secara efektif dan berinovasi sesuai dengan permasalahan yang ada dilapangan”. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Pengabdian seorang Polhut mengajar di SDN SMPN SATAP Totabuan

Bolaang Mongondow, 8 November 2019. Dunia pendidikaan merupakan tulang punggung pembentukan SDM Maju dan unggul untuk mampu berkompetisi memajukan negara ini di tengah persaingan global yang luar biasa hebat. Di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan yang bersaingan untuk menyiapkan SDM yang handal dan mumpuni masih ada sekolahan dengan kondisi yang miris, kurang terawat dan bisa dikatakan sangat tertinggal. SDN SMPN SATAP Totabuan merupakan salah satu dari sebagian kecil sekolahan dengan kondisi yang memprihatinkan. Desa Totabuan terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara. Jarak dengan pusat pemerintahan yang berada di Lolak sekitar 20 km kurang lebih 30 menit dengan menggunakan transportasi darat. SDN SMPN SATAP Totabuan didirikan pada tahun 1971 dan pada tahun 2015 mendapatkan bantuan hibah dari UNDP program pengentasan buta huruf. Sejak mulai berdiri sampai sekarang sekolahan ini tidak banyak berubah dengan kondisi bangunan dan sarana prasarana yang tentunya sudah banyak mengalami kerusakan ujar Hasman, S.Pd selaku kepala sekolah SDN SMPN SATAP Totabuan. Guru yang mengajar di SDN SMPN SATAP Totabuan hanya 2 orang PNS dengan di tambah lagi guru bantu sebanyak 8 orang. Jumlah murid sekitar 300 an orang yang terdiri dari SD dan SMP. Hal inilah yang mendorong keprihatinan dari Ramli Iroth seorang polhut yang bertugas di Resort Pinogaluman untuk membantu mengajar di SDN SMP SATAP Totabuan. Program mengajar ini di pilih menjadi pionering atau program unggulan Resort dengan melihat kondisi masyarakat desa sekitar kawasan. Tidak banyak yang tau bahkan mungkin hanya sebagian kecil dari masyarakat bolaang Mongondow di Provinsi Sulawesi Utara ini ada seorang polhut mengajar di sela - sela kesibukan bertugas dalam menjaga konservasi lingkungan. Panggilan jiwa melihat keadaan untuk merubah paradigma masyarakat untuk peduli dan menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar itulah yang menjadi dasar pria kelahiran minahasa 42 tahun yang lalu. Memang tidak mudah pada awalnya ketika melakukan pendekatan ke masyarakat khususnya masyarakat sekitar kawasan karena sudah terdoktrin bahwa polhut mempunyai tugas menangkap masyarakat yang yang melakukan tindak tipihut hal itulah yang di rasakannya pada waktu awal - awal melakukan kegiatan. Proses berjalan dari waktu ke waktu dengan tidak menyerah akhirnya masyarakat Desa Totabuan mengerti dengan sendirinya melihat niat baik dengan hati yang ikhlas membantu masyarakat melalui program mengajar. SDN SMPN SATAP totabuan merasa sangat terbantu dengan keberadaan pak ramli iroth mengajar. Banyak dampak positif yang di rasakan dengan hal ini dimana kesadaran masyarakat terhadap lingkungan meningkat karena perasaan malu karena anaknya sudah mengingatkan ke orang tuanya untuk tidak merusak hutan lagi. Sumber: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Fungi/jamur dari Taman Nasional Batang Gadis

Mandailing Natal, 8 November 2019. Fungi/jamur merupakan organisme eukariotik yang memiliki dinding sel dan pada umumnya tidak motil. Karakteristik ini menyerupai tumbuhan namun fungi tidak memiliki klorofil. Fungi disebut sebagai organisme heterotof dan sifat heterotof menyerupai sel hewan. Di dalam Taman Nasional Batang Gadis terdapat lebih dari 50 spesies termasuk Marasmius siccus merupakan fungi yang langka. Di wilayah kawasan TNBG desa Alahankae setiap 100 meter kita bisa menemukan lebih dari 19 spesies. Fungi dapat meningkatkan kesuburan tanah, disamping itu hasil penguraian dari fungi saprofit ini dapat menghancurkan atau menguraikan sampah, kotoran hewan dan bahan organik lainnya. Sehingga fungi mempunyai peranan yang sangat penting terhadap ekosistem. Sumber: Haeruyadi /Polhut Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Peran Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dalam menjaga Kawasan Konservasi

Mandailing Natal, 8 November 2019. Kerjasama antara pihak pengelola kawasan konservasi dengan masyarakat lokal diyakini merupakan bagian yang penting untuk kelangsungan pengelolaan kawasan konservasi dalam jangka panjang. Kerjasama tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi telah diatur dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Khusus untuk peran serta masyarakat dalam pengamanan hutan telah disebutkan pada Pasal 69 ayat (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pasal ini menjelaskan bahwa masyarakat berkewajiban untuk ikut serta memelihara dan menjaga kawasan hutan dari gangguan dan perusakan. Oleh karena itu untuk mengimplementasikan aturan ini, masyarakat perlu dilibatkan dalam pelaksanaan pengamanan hutan. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.56/Menhut-II/2014 tentang Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP). MMP adalah kelompok masyarakat sekitar hutan yang membantu Polhut dalam pelaksanaan perlindungan hutan dibawah koordinasi, pembinaan dan pengawasan intansi Pembina. Beberapa bentuk Partisipasi MMP, yaitu: Pada dasarnya partisipasi yang sesungguhnya terdapat pada Tingkat 5 dan Tingkat 6.Tingkatan partisipasi MMP yang telah terbentuk dapat dinilai berada pada tingkat yang mana ?. Namun harapannya tentu saja MMP yang dibentuk berada tingkat 5 dan 6, yaitu berperan sebagai mitra Polhut yang mempunyai inisiatif sendiri dalam mengamankan kawasan hutan dibawah bimbingan dan binaan Polhut. Rasio perbandingan jumlah personil, jumlah MMP dengan luasan kawasan Taman Nasional Batang Gadis yang mencapai 72.803, 75 Ha, sangat dibutuhkan peran serta Masyarakat yakni dengan dibentuknya dan diberdayakannya MMP. Saat ini jumlah MMP pada BTN Batang Gadis berjumlah 18 orang, dengan jumlah Polisi Kehutanan pada BTNBG sebanyak 19 orang. Tentu jumlah MMP saat ini masih sangat kurang dalam membantu tugas-tugas Polhut dilapangan dan sebagai perpanjangan tangan dalam penyampaian informasi terkait Tindak Pidana Kehutanan maupun Sosialisasi dalam bidang Kehutanan. Bisa kita bayangkan dengan tidak adanya MMP, informasi dan dalam membantu tugas-tugas Polhut dilapangan tentu tidak akan mudah.Namun, ini tidak menyulutkan semangat juang Polhut dalam pengamanan kawasan hutan, oleh karena itu Pengelola berharap adanya pembinaan, pelatihan, penambahan personil MMP untuk dapat secara terus menerus ditingkatkan. Sumber: (Atos Febrisyahma Koto/ Polhut TNBG)
Baca Berita

Workshop Pejabat Fungsional PEH, Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan Lingkup KSDAE Tahun 2019

Jakarta, 7 Nopember 2019. Perwakilan pejabat fungsional PEH, Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan dari seluruh UPT dan Direktorat Teknis lingkup KSDAE berkumpul di Hotel Peninsula Jakarta Barat untuk mengikuti Workshop Pejabat Fungsional PEH, Polhut dan Penyuluh Kehutanan. Kegiatan ini di inisiasi oleh Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana Setditjen KSDAE. Para punggawa dan ujung tombak Kementerian LHK ini berkumpul bersama dengan tujuan meningkatkan profesionalisme, kompetensi dan karier dalam bingkai bakti rimbawan sebagai pejuang konservasi. Dalam laporannya, Sekditjen KSDAE menyebutkan bahwa jumlah peserta yang datang dalam acara ini adalah 76 orang PEH, 35 orang Polhut, dan 39 orang Penyuluh Kehutanan yang berasal dari 65 UPT dan 5 Direktorat Teknis serta 4 orang Widyaiswara Pusdiklat SDM LHK. Acara dibuka oleh Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno. Dalam arahannya, beliau mengatakan bahwa kita adalah Keluarga Besar Kehutanan yang terbentuk oleh jaringan kerja yang bernama "keluarga batih" (extended family). Sebagai rimbawan, kita harus memiliki rasa saling peduli satu sama lain, rangkul masyarakat sekitar kawasan untuk dijadikan kawan dalam pengelolaan bersama demi kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya Dirjen KSDAE melakukan sesi diskusi interaktif dengan seluruh peserta workshop. Dalam workshop ini juga menghadirkan Kepala Bagian Pengembangan dan Penilaian Kinerja Pegawai Biro Kepegawaian dan Organisasi Kementerian LHK. Dalam diskusi yang dipandu oleh Kepala Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana Setditjen KSDAE, beliau menyampaikan peraturan terbaru terkait jabatan fungsional yaitu Peraturan Menteri PAN&RB No. 13 Tahun 2019 tentang Pengusulan, Penetapan dan Pembinaan Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil. Pada sesi terakhir adalah diskusi terkait penyusunan materi untuk usulan revisi Edaran Kepala Biro Kepegawaian No. SE.02/Peg-4/2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penilaian Karya Tulis/Karya Ilmiah pejabat Fungsional di Departemen Kehutanan, Penguatan Tim Penilai Pendahuluan dan gagasan Sistem Dupak Online. Diskusi dipandu oleh M. Muslich, S.Hut., M.Si dari WCS dengan pemrasaran yang memaparkan materi awal yaitu Rikha Aryanie Surya, S.Hut., MP (PEH Madya BBTN Bukit Barisan Selatan), Wira Saut Perianto Simanjuntak, SP (Penyuluh Kehutanan Muda BTN Kepulauan Seribu) dan Ali Mulyanto, S.Hut., MS. (PEH Muda BBTN Gunung Gede Pangrangngo). Sumber: Sub. Bagian Administrasi Jabatan Fungsional KSDAE
Baca Berita

Buku-buku Gratis dari Balai TN Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 08 November 2019. Balai TN.TBR diwakili oleh Kepala SPTN Wilayah I Tarupa Raduan menyerahkan buku-buku tentang informasi TN.Taka Bonerate dan Modul Bina Cinta Alam ke guru SMPN 48 SATAP Kepulauan Selayar Desa Latondu, Asmadi. "Ada sekira 73 buah buku yang kami serahkan, terdiri dari 5 judul buku, termasuk Modul Bina Cinta Alam" jelas Raduan. Pemberian buku ini atas dasar permintaan Asmadi di fan page Facebook Taman Nasional Taka Bonerate beberapa hari lalu dengan tujuan referensi untuk siswa di Desa Latondu. "Kami sangat berterima kasih kepada balai dengan buku-bukunya ini, karena buku-buku sangat bermanfaat untuk referensi anak-anak didik kami" ucap Asmadi Di kesempatan yang sama kepala balai Faat Rudhianto juga menghimbau kepada siapa saja yang memerlukan buku-buku tersebut bisa berkunjung di kantor kami, dan terkhusus untuk masyarakat atau sekolah dalam kawasan TN Taka Bonerate, akan kami antar langsung dengan perantara komandan pos di 8 resort kami. "Hubungi kami, baik lewat sosial media atau pun call center jika berminat memiliki buku-buku ini, kami akan dengan senang hati menyiapkannya" ucap Kepala Balai. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Lestarikan Satwa Papua Sebelum Menjadi Kenangan

Timika, 8 November 2019. Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, BBKSDA Papua bersama pihak-pihak terkait melaksanakan road show pertama pada hari ini, Jumat (8/11). Rencananya road show akan digelar sebanyak lima kali di tempat yang berbeda. Road show pertama ini bertempat di Aula Sekolah Taruna Papua, SP IV, Timika, dihadiri sekitar 150 peserta pelajar dari 11 sekolah SMP dan SMA di sekitar lokasi kegiatan. Selain itu, peserta juga berasal dari kalangan mahasiswa Universitas Timika dan Kerukunan Kesukuan (Karukunan Bandanaira). Tema yang diusung dalam road show adalah save environmet by save biodiversity: lestarikan satwa Papua sebelum menjadi kenangan. Sementara para pemateri berjumlah empat orang, yaitu Kepala Seksi Wilayah II Timika, Balai Besar KSDA Papua, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional I Balai Taman Nasional Lorentz, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Timika, dan Departemen Environment PT Freeport Indonesia. Materi-materi yang disampaikan dalam road show mengarah kepada ‌kampanye perlindungan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), serta ‌upaya penyadaran terhadap peserta tentang pentingnya menjaga TSL di alamnya. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S. Hut., M. Si., menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. “Intinya saya selalu menegaskan pentingnya berkolaborasi. Ini kegiatan yang sangat bagus. Semoga dengan semakin banyaknya penerima manfaaat dari kampanye-kampanye perlindungan TSL yang kita lakukan, ke depan kekayaan keanekaragaman hayati semakin lestari.” Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Warga Lubuk Pakam Sumut Serahkan Burung Elang Ular Bido

Medan, 8 Nopember 2019. Pada 3 Nopember 2019, Tim Respon Reaksi Cepat (TRRC) Balai Besar KSDA Sumatera Utara menerima penyerahan 1 (satu) individu burung Elang Ular Bido (Spilormis cheela) dari Selamat Aruan warga Dusun IV, Desa Pasar Melintang Kecamatan. Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Bermula dari masyarakat yang sedang bekerja diladangnya di daerah Lubuk Pakam, yang melihat 1 (satu) individu Elang Ular Bido tergeletak di tanah dan terlihat seperti tidak berdaya lagi. Kemudian Selamat Aruan mencoba untuk menolong satwa tersebut, ternyata satwa tersebut tidak bisa lagi terbang. Selanjutnya ia membawanya ke rumah. Karena tidak punya kandang khusus, untuk sementara dimasukkan ke dalam kandang ayam. Karena bingung mau minta tolong kepada siapa, maka Selamat Aruan membuat postingan di sosial media yang bertujuan untuk bertanya bagaimana cara menyelamatkan satwa tersebut. Postingan ini pun langsung direspon oleh Pemerhati Elang di Bali. Selanjutnya Pemerhati Elang tersebut menghubungi Polisi Kehutanan (POLHUT) Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Pihak POLHUT BBTNGL langsung melaporkan kepada Tim Respon Reaksi Cepat (TRRC) Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan pada hari itu juga Tim Respon Reaksi Cepat (TRRC) Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama POLHUT BBTNGL langsung menuju lokasi untuk menyelamatkan satwa tersebut. Setelah sampai dilokasi Tim memeriksa kondisi fisik satwa dan ternyata tulang sayapnya patah diduga karena diburu dengan cara ditembak. Kemudian tim membawa satwa tersebut ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit guna melakukan pemeriksaan medis dan pengobatan. Pemeriksaan Elang Ular Bido di PPS Sibolangit Penyerahan ini juga masih terkait dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang di peringati setiap tanggal 5 Nopember 2019 dengan tema “Membangun Generasi Millenial Cinta Puspa dan Satwa Nasional Untuk Indonesia Unggul”. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional diperingati setiap tahun bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Semoga kita semua mau ikut berperan dalam upaya-upaya kampanye konservasi alam. (Sumber : M.Ali Iqbal Nasution/BBKSDA SUMUT)
Baca Berita

Bersama Babinsa, Masyarakat temukan 90 Butir Telur Penyu

Pulau Jinato, 8 November 2019. Masyarakat di Pulau Jinato kembali menemukan jejak penyu di sisi selatan pulau tersebut kemarin Rabu (6/11). Dengan segera, masyrakat melaporkan hal tersebut ke pos petugas SPTN Wil II Jinato, Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Berangkat dari informasi itu, petugas bersama masyarakat MMP dan BABINSA Jinato Hasan kemudian melakukan penelurusan dan benar ada jejak penyu tepatnya pada koordinat 06° 45' 52,0"S sd. 120°58'02,5"E. Setelah melakukan pencarian ditemukanlah sarang di bibir pantai sekitar 1.5 m dari pasang tertinggi pada semak-semak terlindungi. Kemudian petugas melakukan pengkuran sarang dan lebar jejak kaki si Penyu. Berikut hasil identifikasi yang dilakukan lebar sarang 1,35 cm jarak sarang dri surut terendah 15 m lebar jejak kaki yang ditinggal si Penyu 1,20 cm. "Kami akan pindahkan ke tempat yang lebih aman supaya terhindar dari predator untuk dilakukan penetasan" Ucap Sunadi Buki, salah satu PEH yang ditempatkan di Pos Jaga Resor Pulau Jinato. Dari data jejak dan posisi sarang kuat dugaan penyu berjenis penyu sisik dengan jumlah telur sebanyak 90 butir lanjut keterangan beliau. Semoga dengan meningkatnya laporan masyarakat atas temuan biota yang dilindungi ini, menjadi indikasi meningkatnya kesadaran dan pastisipasi masyarakat dalam pelestarian biota dilindungi dan pengelolaan taman nasional Taka Bonerate lebih baik. Sumber Teks Asri - PEH Penyelia Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto Sunadi Buki - Penyelia Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Pendidikan Konservasi merupakan Program Unggulan Mengajar Resort Pinogaluman.

Totabuan, Kamis 07 November 2019. Bertempat di sekolah satu atap (SATAP) SMP Totabuan melaksanakan program Resort menagajar. Pendidikan konservasi merupakan pionering ujung tombak pengenalan lingkungan dan konservasi kepada masyarakat. Melalui kolaborasi SPTN Wilayah III Maelang yang di pelopori oleh Resort SPTN III Maelang dengan dukungan penuh mitra Wildlife Conservation Society (WCS ). Pendidikan koservasi merupakan sebuah evolusi pendekatan pengelolaan kosnervasi dengan mengedapankan edukasi melalui soft approach konservasi. Pendidikan konservasi merupakan sebuah proses pembelajaran untuk membangun spirit kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Tujuan pendidikan konservasi adalah untuk mengubah perilaku dan sikap yang di lakukan oleh siswa atau anak - anak yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai – nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Di zaman yang modern kini, banyak manusia yang lupa akan posisinya di bumi. Manusia mempunyai tugas untuk memimpin di bumi. Manusia diberi hak untuk memanfaatkan apa yang ada di bumi ini, namun mereka juga mempunyai tanggung jawab untuk tetap melestarikan, menjaga dan melindunginya. Manusia yang sudah tergila – gila akan hal materi dunia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Mereka membakar hutan untuk dijadikan lahan pendirian industri, membunuh flora dan fauna untuk dijadikan bahan dagangan, mengotori lingkungan untuk kepentingan dunia saja. Balai Nasional Bogani Nani Wartabone khusunya SPTN III Maelang lebih terkhusus Resort Pinogaluman yang mempunyai tugas terdepan dalam menjaga konservasi kini memiliki program unggulan pendidikan konservasi bagi siswa SD, SMP dan SMA. Kegiatan ini merupakan pembinaan sekaligus pendidikan yang sangat nyata. Aspek penting yang diterapkan dalam pembelajaran adalah kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif meliputi proses pemahaman dan menjaga keseimbangan lingkungan. Materi pendidikan konservasi diberikan sebagai materi yang harus diketahui dan dipahami oleh siswa, di sesuaikan dengan tingkatan pemahanan siswa. Aspek afektif yang dapat diterapkan dalam pendidikan konservasi meliputi sikap, nilai dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan (sustainable). Aspek psikomotorik yang diterapkan dalam pendidikan konservasi meliputi perilaku dan keterampilan siswa dalam mengelola lingkungan. Dalam mewujudkan pendidikan konservasi ini perlu adanya kesadaran tiap elemen. Mereka sadar akan apa yang harus dilakukan, memantau dengan baik, dan berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan konservasi. Terkadang banyak saja kendala yang dialami. Kendala utamanya adalah diri sendiri. Dalam diri manusia sendiri apabila tidak diajak untuk memahami dan merealisasikan konservasi, percuma saja dengan program – program konservasi yang telah ditentukan. Apabila kesadaran dalam diri sendiri belum tumbuh, untuk merealisasikannya pun susah, dan mereka enggan untuk melakukan konservasi. Mereka takkan peduli dengan alam sekitarnya. Untuk itu, marilah kita tumbuhkan sikap dan pandangan kita terhadap konservasi. Agar bumi ini akan tetap lestari dan seimbang sejalan dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Sumber: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Resort Air Hitam Bagan Limau Melaksanakan Pelatihan Penanaman untuk 9 KTHK di Desa Bagan Limau

Bagan Limau,7 November 2019 – Resort air hitam bagan limau bersama dengan PT. EMP dan PT. Bumi Riau Lestari melaksanakan acara sosialisasi dan pelatihan teknis penanaman pemulihan ekosistem (PE) seluas 592 Ha di kawasan resort air hitam bagan limau. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan di kantor desa Bagan Limau. Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh 9 KTHK (Kelompok Tani Hutan Konservasi) Desa Bagan Limau. Nara sumber dan pengajar dari pelatihan ini berasal dari widyaiswara BDLHK (Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan) Pekanbaru. Acara pelatihan ini dibuka oleh Kepala Resor Air Hitam Bagan Limau, Bapak Ahmad Gunawan, S.Hut atas nama Balai TN. Tesso Nilo dan dihadirioleh kepala desa, sekretaris desa, seluruh perangkat pemerintah desa serta Bhabinkamtibmas Bagan Limau. Kepala Resort Air Hitam Bagan Limau berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan dan pengetauhuan anggota KTHK agar dapat mensukseskan program PE diwilayahnya. Kepala Balai TN. Tesso Nilo, Bapak Ir. Halasan Tulus mengapresiasi kegiatan tersebut, beliau menyampaikan, “ apa yang dilakukan oleh Balai TN. Tesso Nilo ini merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak untuk bersama-sama mencari solusi pelaksanaan kemitraan konservasi untuk mensejahterakan masyarakat di desa penyangga TN. Tesso Nilo. Ini merupakan salah satu bentuk kreatifitas yang sesuai dengan program DITJEN KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan”, terang kepala Balai TN. Tesso Nilo Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 4.561–4.576 dari 11.140 publikasi