Sabtu, 2 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Berikan Pelatihan Budidaya Lada, Balai TN Kayan Mentarang Sasar Peningkatan Ekonomi Kerakyatan di Kawasan Penyangga

Malinau, 12 November 2019. Terletak di beranda paling Utara Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara di ketinggian 400-700Mdpl serta hamparan tanah berbukit yang subur, masyarakat Desa Apau Ping memanfaatkan sebagian besar lahannya untuk sektor pertanian terutama Lada (Sahang). budidaya lada merupakan salah satu komoditas fovorit di kawasan tersebut. disamping berumur panjang, tanaman lada memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dikembangkan secara otodidak dengan pengetahuan seadanya, budidaya komoditas lada kerap kali berjalan tak sesuai harapan masyarakat. Bahkan dalam beberapa kasus tanaman lada masyarakat tumbuh dengan sangat baik namun tidak kunjung berbuah. Untuk membantu agar budidaya tanaman lada di Desa Apau ping bisa lebih optimal, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang baru-baru ini memberikan pelatihan budidaya lada di Desa Binaan Dema Mading Apau Ping SPTN II Long Alango. Pelatihan ini di ikuti oleh 27 peserta dan menggandeng Penyuluh Pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Malinau sebagai pengajar. Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diajarkan mengenai pemilihan bibit, penanaman, pemeliharaan yang baik hingga pengelolaan pasca panen. Selama kegiatan berlangsung terlihat antusias masyarakat yang cukup tinggi bahkan pertanyaan dari peserta silih berganti dan menceritakan permasalahan yang dialami selama mengembangkan tanaman lada. Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi penguatan fungsi pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang dengan prinsip berbagi peran, berbagi tanggungjawab dan berbagi manfaat. Pelatihan ini bertujuan untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan budidaya tanaman lada yang berdampak pada meningkatnya perekonomian masyarakat di kawasan penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang. sehingga diharapkan kerjasama antara Balai TN.Kayan Mentarang dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau dalam pembedayaan masyarakat ini dapat terus berlanjut dan berkembang. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Pelepasliaran Landak Jawa, Wujud Upaya Pemulihan Ekosistem TN Gunung Merbabu

Boyolali, 12 November 2019. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu bersama LIPI melakukan pelepasliaran 30 ekor landak jawa (Hystrix javanica) yang dilindungi Undang Undang (UU). Lokasi pelepasan sudah dikaji dan dipilih oleh peneliti dari LIPI dengan tipologi habitat yang sesuai dengan kriteria tempat tumbuh landak. Areal pelepasan adalah kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu yang beberapa saat lalu terbakar hebat. Akibat kebakaran tersebut selain beragam tumbuhan yang terbakar, banyak juga satwa yg mati. Dengan program pelepasliaran landak ini diharapkan dapat merestorasi kembali anasir-anasir ekosistem Gunung Merbabu yang sempat terganggu karena kebakaran hutan kemarin. Lokasi pelepasan landak dipilih di areal jurang yang sangat jauh dari ladang atau pemukiman penduduk. Lokasi pelepasan ada 3 tempat yaitu atas daerah Ampel Boyolali di 2 lokasi yaitu Dusun Candilaras (12 ekor) dan Dusun Mongkrong (8 ekor) serta 1 lokasi diatas pakis Magelang (10 ekor). Ketiga puluh landak tersebut merupakan landak hasil penangkaran dan sekaligus riset dari LIPI yang indukannya bersumber dari Gunung Merbabu dan Gunung Lawu. Umur landak yang dilepasliarkan sekitar 2 tahun. Landak sudah diberi semacam chips/GPS sehingga nanti secara reguler LIPI akan memonitor keberadaan landak tersebut. Acara pelepas liaran dibuka oleh Kepala Puslit Biologi LIPI, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen KSDAE Kementerian LHK dan Kepala Balai TN Gunung Merbabu. Ir. Junita Parjanti, MT., Kepala Balai TN Gunung Merbabu mengatakan diharapkan pelepasliaran landak dapat memulihkan ekosistem Merbabu dan dapat melestarikan keberadaan jenis landak ini (di Indonesia ada 4 jenis) dari kepunahan di alam. Lebih lanjut drh. Indra Eksploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE menjelaskan populasi landak akan dapat berkembang dengan baik di habitat alam TN Gunung Merbabu, serta kedepan tidak ada lagi perburuan liar. Masyarakat diharapkan dapat mengembangkan kegiatan penangkaran yang dapat menjadi alternatif mata pencaharian masyarakat yang dulunya berburu dapat menangkarkan dan memanfaatkan landak secara berkelanjutan. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Pemberdayaan Masyarakat Kawasan CA Sungai Bulan dan Sungai Lulan

Kotabaru, 7 November 2019. Desa Tanjung Serudung dan Desa Tanjung Seloka Utara berada dalam Kecamatan Pulau Laut Selatan Kabupaten Kotabaru. Kedua desa ini berada di pesisir Pulau Laut yang jauh dari jangkauan keramaian ibu kota. Melihat kondisi demikian upaya yang dilakukan untuk memajukan perekonomian daerah setempat perlu kiranya dilakukan terobosan terkait pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di daerah tersebut. Pulau Laut Selatan merupakan suatu Kecamatan yang pada administrasi desanya terdapat desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi (CA SUNGAI LULAN DAN SUNGAI BULAN). Masyarakat disana memanfaatkan pohon Enau untuk di ambil air niranya dibuat gula merah, serta Desa Tanjung Serudung yang memiliki potensi hutan mangrove dan hutan dataran rendah yang relatif masih baik untuk pemeliharaan lebah madu. Melihat kondisi tersebut Resort CASLSB telah menggali potensi masyarakat di kedua desa tersebut sehingga didapatkan hasil sebagai berikut: Kepala Balai KSDA Kalsel Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., secara langsung telah melakukan peninjauan ke salah satu desa tersebut. Kedatangan langsung kepala Balai KSDA KALSEL ke tempat lokasi pembuatan gula merah dan langsung merasakan air nira hasil penyadapan pohon enau. Beliau berpendapat bahwa desa ini memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi penghasil gula aren, bahkan beliau berpendapat selain itu dengan masih banyaknya areal yang masih kosong di daerah tersebut sangat dimungkinkan untuk dilakukan pembudidayaan pohon enau kedepannya, bahkan tidak menutup kemungkinan dari hasil air sadapan tersebut dapat dikembangkan menjadi energi yang terbarukan. Sejalan dengan hal tersebut Kepala SKW III Nikmat Hakim Pasaribu., S.P, M.Sc., membenarkan bahwa kedua desa ini sangat berpotensi untuk dilakukan pengembangan gula aren dan budidaya lebah madu. Hingga pada tanggal 7 Nopember 2019 dilakukanlah kegiatan pembentukan kelompok pada ke dua desa tersebut. Pada acara pembentukan tersebut di hadiri oleh Sekretaris Camat Pulau Laut Selatan Bpk. Hamka serta di hadiri pula oleh Narasumber lainnya seperti Bpk Dirham, S.ST sebagai Penyuluh di Kecamatan tersebut dengan materi pengembangan budidaya aren, dan juga dihadiri oleh Narasumber lainnya Bpk. Aryanto sebagai masyarakat penggiat lebah madu. Kedepannya setelah acara pembentukan tersebut diharapkan kepada kedua kelompok membuat rencana kerja lima tahun dari kelompok yang telah terbentuk. Dari kedua kelompok tersebut dapat mendorong Bumdes dari usaha-usaha yang mereka kerjakan, sehingga memberikan manfaat kepada semua masyarakat yang ada di desa mereka pada khususnya dan masyarakat Pulau Laut pada umumnya. (ryn) Sumber: Suriansyah, S.Hut - Kepala Resort CA SLSB, Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Merajut Harapan Untuk Masa Depan Suaka Alam Dolok Lubuk Raya Sumatera Utara

Padang Sidempuan, 8 November 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengadakan rapat pelestarian alam kawasan hutan Suaka Alam Lubuk Raya, Senin, 7 Oktober 2019 di Bidang Konservasi Wilayah III Padang Sidimpuan, Kab. Tapanuli Selatan. Kawasan Hutan Suaka Alam Lubuk Raya secara administrasi wilayah melingkupi 4 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan yakni Kecamatan Angkola Timur, Angkola Barat, Kecamatan Marancar dan Kecamatan Batang Toru. Kawasan Hutan Suaka Alam Lubuk Raya ditunjuk sebagai kawasan hutan negara melalui Gouvernment Besluit No. 6 tanggal 5 Januari 1924 dengan peruntukan sebagai hidupan liar seluas 3.050 Ha. Status perlindungan ini kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia, dengan ditetapkannya Dolok Lubuk Raya sebagai Suaka Alam berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No.SK.3590/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 2 Mei 2014 dengan luas ± 2.982,17 Ha. Kawasan ini merupakan habitat bagi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Tapir (Tapirus indicus), Orang Utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan owa/ungko (Hylobathes syndactilus dan H. agilis) yang juga menjadi nilai penting dalam pengelolaan kawasan Dolok Lubuk Raya selain daripada bentukan alamnya yang khas ditandai dengan Gunung (Dolok) Lubuk Raya yang menjulang dan menjadi titik tertinggi di Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada saat ini, secara faktual kondisi dan status fungsi Dolok Lubuk Raya sebagai Suaka Alam perlu dilakukan evaluasi kesesuaian fungsi (EKF) kawasan. Evaluasi Kesesuaian Fungsi KSA dan KPA adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi kawasan untuk mengetahui kesesuaiannya dengan kriteria kawasan dan tujuan pengelolaannya. Melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.696/MENLHK/KSDAE/KSA.0/9/2019 tanggal 26 September 2019 dibentuklah Tim Teknis EKF Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam Dolok Lubuk Raya yang diketuai langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, DR Ir Hotmauli Sianturi, M. Sc.For dan beranggotakan unsur-unsur yang melibatkan perwakilan kecamatan yang bersinggungan langsung dengan kawasan selain dari pihak Akademisi (Universitas Sumatera Utara), Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara serta pengelola kawasan dalam hal ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Tim bekerja secara maraton mulai dari persiapan, pengumpulan data dalam rangka kajian lapangan sampai pada paparan akhir untuk mendapatkan rekomendasi guna pengelolaan kawasan ke depannya. Berdasarkan hasil kajian lapangan dan analisa spasial, terdapat tutupan lahan non-hutan seluas ± 654,12 ha (21,93 % dari luas kawasan) yang terdiri dari aktivitas budidaya pertanian dan perkebunan rakyat yang sudah diusahakan selama turun temurun. Sisanya (78,07), kawasan masih berupa hutan sekunder dengan tegakan kayu alam seperti jenis Andolok (Eugenia spp ), Hoting (Lithocarpus spp) dan Medang (Litsea sp) selain dari jenis- jenis Liana, lumut dan epifit yang mudah ditemukan pada ekosistem pegunungan. Potensi jasa lingkungan air kawasan SA Dolok Lubuk Raya berperan penting dalam menjaga siklus hidrologis daerah di sekitarnya, air dari kawasan SA ini juga mengalir hingga ke Kota Padangsidimpuan melalui Sungai Batang Ayumi. Selain itu masyarakat langsung memanfaatkan iar dengan mengalirkan air dari dalam kawasan dengan pipa (pipanisasi) ke perkampungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari dan untuk mengairi sawah masyarakat. Hasil survei tim menemukan beberapa potensi wisata alam antara lain Air Terjun Empat Tingkat, Air Terjun Aek Binanga, Air terjun Lumpatan dan Hutan Lumut yang berada di puncak gunung KSA/KPA Dolok Lubuk Raya. Potensi tersebut belum banyak dinikmati warga sebagai obyek wisata. Potensi kawasan lainnya seperti keindahan pemandangan alam, atraksi kabut dan air terjun yang indah, perlu pengelolaan dan pengembangan lebih lanjut. Harapannya, adanya perubahan status fungsi kawasan yang menjadi rekomendasi tim dapat membawa secercah harapan baru bagi tindak lanjut pengelolaan kawasan SA Dolok Lubuk Raya secara lestari dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai penerima manfaat pertama dari keberadaan kawasan. Sumber : Edina Ginting - PEH Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

10 Kelompok Binaan BTN Bogani Nani Wartabone Mengikuti Sosialisasi HAKI

Komangaan, 11 November 2019. Bertempat di Balai Desa Komangaan, Kecamatan Bolaang, Kab. Bolaang Mongondow, Dinas Koperasi dan UKM Kab. Bolaang Mongondow, didukung Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW) dan EPASS Bogani Nani Wartabone menyelenggarakan sosialisasi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Asisten III Setda Bolmong, Drs Ashari Sugeha, membuka langsung kegiatan, didampingi oleh Sekretaris Dinas Koperasi & UKM, Drs. Sofyanto, M.Si dan Kepala Balai TNBNW yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasinal (SPTN) wilayah 2 Doloduo ST. Agung Triono H., S.Si., M.Sc.ir. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan penyampaian materi dan diskusi. Narasumber berasal dari beberapa dinas terkait. Dinas Koperasi dan UKM menyampaikan materi tentang ijin terkait sertifikat halal dan HAKI. Dinas Palayanan Terpadu Satu Atap (PTSP) menyampaikan materi tentang alur perijinan dan sarat perijinan. Bagian Hukum dan Humas Setda, menyampaikan materi tentang hak paten. Dinas Kesehatan menyampaikan materi tentang ijin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Semua materi terkait dukungan Pemda Kab. Bolmong terhadap pengembangan produk UMKM untuk mempermudah perijinan dan pemasaran produk. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi BTNBNW dan EPASS terkait keberadaan kelompok binaan BTNBNW yang sudah menghasilkan produk unggulan kelompok. Sosialisasi ini melibatkan berbagai kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah Kabupaten Boloaang Mongondow, yang 10 diantaranya adalah kelompok binaan BTNBNW. Sepuluh kelompok tersebut adalah: Kelompok Tapaklinow, Motobatu, Mapalus, Maleoleosan, Gunung Lanying, Lestari, Harapan Baru, Tolango Hula, Sinar Baru dan KPA Tarsius. Kelompok tersebut merupakan mitra BTNBNW bidang pemulihan ekosistem kolaboratif. Selain Pemulihan EKosistem Kolaboratif (PEK), BTNBNW dan EPASS juga mendukung kelompok dalam mengembangkan usaha ekonomi alternative. Beberapa kelompok binaan BTNBNW telah menghasilkan beberapa produk kelompok, diantaranya gula semut, kripik pisang goroho, madu hutan dan aneka makanan ringan. Balai TNBNW dan EPASS juga memfasilitasi terkait kemasan, label dan legalitas produk. Terkait legalitas produk seperti PIRT ( Pangan Industri Rumah Tangga), Sertifikat Halal dan Sertifikat HAKI ( Hak Atas Kekayaan Intelektual) Dinas Koperasi dan UKM, BTNBNW dan EPASS bersinergi untuk membantu kelompok melalui kegiatan ini. Hal ini bertujuan memperluas pasar sehingga dapat meningkatkan ekonomi kelompok. Sebagai tindak lanjut, pada tahun 2020, Dinas Koperasi dan UMKM akan mengadakan pelatihan khusus terkait UMKM dalam rangka membangun Bolaang Mongondow Hebat. Sumber: Aris Setyawan - Balai Taman Nasinal Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Peran Strategic Partner di Pembinaan Inspektur Wilayah I Sumatera Utara

Medan, 11 Nopember 2019. Inspektur Wilayah I, Inspektorat Jenderal Kementerian LHK, Ir. Irmansyah Rachman, berkenan menyambangi Sumatera Utara pada Kamis, 7 Nopember 2019, untuk melakukan pembinaan kepada pimpinan satker lingkup UPT Kementerian LHK yang ada di Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang rapat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL). Dalam arahannya, Inspektur menyampaikan bahwa tugas pokok dan fungsi Inspektorat Wilayah I, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri LHK No. P.18 Tahun 2015, adalah melakukan pengawasan khusus terhadap UPT di lingkup Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan, termasuk juga UPT satker lainnya yang ada di wilayah Sumatera. “Pengawasan yang dimaksudkan adalah melakukan penguatan kepada masing-masing satker serta mengawal kegiatan-kegiatan satker agar apa yang menjadi tujuan organisasi dapat tercapai,” ujar Inspektur. Inspektur juga mengingatkan para Kepala Satker agar terus melakukan perubahan-perubahan sehingga satker yang dipimpinnya semakin hari semakin baik. Keberhasilan satker turut ditentukan sejauh mana Kepala-kepala Satker mampu mengendalikan dan melakukan pengawasan secara internal dengan baik. Oleh karena itu penguatan peran dan fungsi SPIP (Satuan Pengendalian Intern Pemerintah) menjadi syarat mutlak, ujar Ir. Irmansyah. Koordinator Wilayah (Korwil) UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara, yang diwakili Kepala Balai Besar TNGL, Ir. Jefry Susyafrianto,M.M., menyambut baik dilaksanakannya kegiatan pembinaan oleh Inspektur Wilayah I, karena sebagai pimpinan UPT merasa sangat memerlukan adanya pendampingan dan pembinaan secara rutin dari Inspektorat sehingga nantinya segala program yang disusun dan direncanakan dapat terlaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepala-kepala UPT beserta perwakilan yang menghadiri kegiatan pembinaan oleh Inspektur Wilayah I Kegiatan pembinaan ini dihadiri Kepala-kepala UPT maupun perwakilannya lingkup Kementerian LHK Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang sedang melaksanakan tugas kedinasan diwakili (Plh) Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Suyono, SH., didampingi Plh. Kepala Bagian Tata Usaha, Imelda Kamayanti Harahap, SH., Kepala Sub Bagian Umum. Dibagian akhir acara, Kepala Balai Besar TNGL selaku moderator menyampaikan beberapa kesimpulan dari hasil pembinaan, diantaranya : pertama, perkembangan dan situasi saat ini sangat cepat dan mudah terutama dalam penyampaian dan penyebaran informasi. Untuk itu kepada seluruh peserta pembinaan diharapkan tanggap dan berhati-hati serta perlu membangun sikap profesionalisme. Kedua, Inspektorat Wilayah I ingin mewujudkan dan meningkatkan perannya sebagai Strategic Partner bagi satker-satker yang ada di wilayah Sumatera. Ketiga, Kepala-kepala UPT merasa bahwa pelaksanaan SPIP di masing-masing satker saat ini masih belum berjalan dengan baik. Oleh karena itu diharapkan adanya pendampingan dan pembinaan secara rutin dari Inspektorat Wilayah I. Dan terakhir, keempat, komitmen bersama seluruh satker untuk berperan serta dalam meningkatkan Maturitas SPIP dari level 3 ke level 4. Sumber : Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto bersama Kepala-kepala UPT maupun perwakilannya dengan Inspektur Wilayah I
Baca Berita

Balai TN Berbak Sembilang Berpartisipasi Aktif dalam Kegiatan Pelatihan Pengelolaan Kolaboratif

Jambi, Senin 11 November 2019. Balai Taman Nasional Berbak Sembilang ikut serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan Pelatihan yang diselenggarakan oleh PILI (Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) pada tanggal 06-08 November 2019 di SPTN Wilayah I Suak Kandis tepatnya di Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Provinsi Jambi. Kegiatan ini merupakan kegiatan Pelatihan yang ketiga yang telah dilaksanakn oleh PILI, adapun nama kegiatan ini adalah Pengelolaan Kolaboratif Staff Taman Nasional dan Mitra terkait Resolusi Konflik Tenurial dan Pemberdayaan Masyarakat, Taman Nasional Berbak Sembilang”. Tujuan Pelaksanaan kegiatan Pelatihan ini antaralain: (1) Peserta mampu membuat metode pemberdayaan yang tepat, memetakan potensi dan pemetaan aktor serta kelembagaan dan permasalahannya; (2) Peserta mampu mempraktikkan dan menganalisa potensi ekonomi dan mengidentifikasi potensi yang bisa dikembangkan dalam jangka pendek maupun menengah. Peserta Pelatihan ini berasal dari perwakilan Masyarakat dari Desa Rantau Rasau, Desa Sungai Rambut dan Telaga Limo sebanyak 2 (dua) orang untuk masing-masing desa, sedangkan perwakilan dari Taman Nasional Berbak Sembilang sebanyak 6 (enam) orang. Pelatihan ini dibuka oleh Bapak Bobby Sandra, SP, M.Si selaku Kepala SPTN I Suak Kandis. Dalam Sambutannya Bobby menyampaikan kepada seluruh peserta untuk berperan aktif dalam pelatihan ini untuk meningkatkan soft skill terkait Pengelolaan kolaboratif berbasis masyarakat. “Setiap peserta diharapkan dapat menguasai setiap materi yang diberikan untuk kemudian dapat diaplikasikan dilapangan terkait dengan resolusi konflik tenurial dan pemberdayaan masyarakat”, ujarnya. Sumber: Mega Putri Armanesa, penyuluh muda BTNBS
Baca Berita

Forester Festival 2019 di Makasar

Makasar, 11 November 2019. Ikatan Alumni (IKA) Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel menggelar Forester Festival sebagai ajang reuni tahunan dengan acara puncak yang dilaksanakan di Hutan pendidikan Unhas Bengo-bengo kabupaten Maros. Kegiatan ini dibuka langsung oleh ketua umum IKA alumni kehutanan Unhas yang tidak lain adalah Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. Sekertaris Jendral IKA Syamsul rijal dalam keterangannya “Kegiatan Forester Festival tahun ini dirancang berbeda dan lebih variatif dari tahun sebelumnya. Beberapa kegiatan yang dimaksud antara lain: Seminar Nasional Perhutanan Sosial, Pengembangan KPH, Pameran Ekowisata Sulawesi Selatan sebagai salah satu program adalan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, lomba fotografi dan essay tentang kehutanan dan lingkungan, kampanye lingkungan, dan lain-lain akan memanjakan para peserta”. Hal ini dilakukan sebagai upaya dalam mendorong pariwisata Sulawesi Selatan khususnya pariwisata alam dan potensi hasil hutan Sulawesi Selatan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan yang Kawasan konservasi berada pada dua Provinsi yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, ikut memamerkan hasil produk-produk masyarakat di sekitar Kawasan hutan seperti madu Lejja, Kacang Mantap dan souvenir menarik lain di stand pameran bersama peserta-peserta pameran yang lain. Setidaknya peserta yang hadir di acara tahunan ini berjumlah 1500 orang yang terdiri dari alumni, personil Dinas, KPH, dan UPT, Peserta Seminar Nasional Perhutanan Sosial dan Pengembangan KPH sebanyak 300 orang termasuk masyarakat sekitar Hutan Pendidikan Unhas. Selain itu, kegiatan ini akan dimeriahkan oleh Artis Nasional dan Lokal yaitu Lobow, BHIS Band, Tumming- Abu, Rafli, Dewi dan Friends, M. Alifi, Fandy WD dan Zakaribo. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Dua Pembakar Hutan Kawah Ijen Ditetapkan Tersangka

Bondowoso, 11 November 2019. Dua warga Desa Kalisat, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso ditetapkan menjadi tersangka pelaku pembakaran hutan lindung oleh Kepolisian Resort Bondowoso. Hal tersebut dijelaskan oleh Wakapolres Bondowoso, Kompol David Subagyo, 11 November 2019 di Polres Bondowoso. Kedua pelaku tersebut masing-masing MUD (74) dan MZ (59) yang telah melakukan pembakaran hutan lindung pada petak 86-1, 86-2, 87-2, 101.1 dan 101.3 RPH Blawan, BKPH Sukosari, KPH Bondowoso. Rencana lahan tersebut akan ditanami kopi dan sayur mayur. “Semula mereka melakukan pembersihan lahan dengan cara dibakar pada petak-petak tadi, namun apinya tidak dapat dikendalikan sehingga membesar dan menjalar hingga ke Gunung Ijen,” ujar David. Karena kelalaiannya, kedua pelaku dikenai Pasal 78 ayat (4) UU No 41 tahun 1999, tentang Kehutanan, juncto Pasal 69 ayat (1) huruf (h) UU No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup. Seperti diketahui, kebakaran yang bersamaan dengan badai tersebut juga ikut menghanguskan hampir seribu hektar kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Akibatnya kawasan TWA Kawah Ijen ditutup untuk kunjungan wisata. Bahkan untuk memadamkan kebakaran tersebut sempat didatangkan helikopter untuk melakukan water bombing. Sumber: Agus Irwanto, Admin BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kutai Wana Rally ke- XIII TN Kutai

Sangkima, 9 November 2019. Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan Mitra TN Kutai kembali menggelar kegiatan Kutai Wana Rally (KWR) yang ke-13 kalinya di Sangkima Jungle Park Taman Nasional Kutai. Kegiatan KWR pada tahun ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) dan menyemarakkan ulang tahun Kabupaten Kutai Timur. Sebanyak 600 orang peserta dari wilayah Bontang, Kutai Timur dan Samarinda ikut berkompetisi untuk memperebutkan piala bergilir Bupati Kutai Timur dan hadiah dengan total nilai 20 juta rupiah. Kepala Balai TN Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan berharap kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan bagi Pemda Kabupaten Kutai Timur. Lanjut Beliau, sesuai dengan tema hari Cinta Puspa dan Satwa liar yaitu “ Generasi Milenial Cinta Puspa dan Satwa Liar Untuk Indonesia Unggul”, maka salah tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan TN Kutai kepada generasi milenial Beliau menyampaikan bahwa TN Kutai adalah aset berharga bagi masyarakat Kalimantan Timur khususnya masyarakat Kutai Timur. Pada kesempatan kali ini, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Bapak Hadi Mulyadi hadir untuk membuka acara sekaligus meresmikan main gate Sangkima Jungle Park yang merupakan hasil kerjasama antara Balai Taman Nasional Kutai dengan PT. Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field. Dalam sambutannya Beliau menyampaikan kegiatan KWR dan peresmian Sangkima Jungle Park merupakan acara yang memancing anak muda untuk cinta pada lingkungan, terutama dengan mengenal lebih dalam TN Kutai. Wakil Gubernur Kalimantan Timur juga memberikan piagam penghargaan kepada 10 orang generasi milenial sebagai generasi cinta puspa dan satwa karena kepeduliannya kepada lingkungan yaitu Laskar TN Kutai, Green Generation, Duta Peduli Sampah Kota Bontang dan Putri Pariwisata Kabupaten Kutai Timur. Beliau berpesan agar bekerja keras, bekerja ikhlas dan disertai dengan doa serta senantiasa bekerjasama. Selain kegiatan lomba lintas alam, ada beberapa kegiatan lain yang dilaksanakan yaitu peresmian main gate Sangkima Jungle Park meliputi kantor pengelola, ruang souvenir, amphiteater, main gate, toilet, pagar dan landmark Sangkima Jungle Park. Dalam kesempatan ini juga dilakukan penyerahan satwa liar beruang madu (Helarctos malayanus) kepada Balai KSDA Kalimantan Timur. Beruang madu yang dulunya diserahkan ke TN Kutai adalah korban dari kebakaran hutan yang ada di Bengalon Kabupaten Kutai Timur. Peserta berkompetisi melalui jalur lintasan lomba sejauh ± 8 km. Meskipun hujan mengguyur saat kegiatan dilaksanakan, tetapi para peserta sangat semangat dan antusias untuk menyelesaikan lomba. Dan akhirnya diperoleh pemenang lomba yaitu juara 1 oleh tim Wana Bakti, Juara 2 tim IMM 3, juara 3 tim Sandal Jepit, Juara 4 tim Mitra Media, Juara 5 Tim Wana Jaya, Juara 6 Tim RTH serta juara tercepat yaitu tim WAB yang dapat menyelesaikan semua rute hanya dalam jangka waktu 1 jam 50 menit. Selamat kepada seluruh pemenang dan yang belum menang. Sampai jumpa pada KWR XIV. Sumber: Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Road to PERTIKAWAN 2019

Maluku Utara, 11 November 2019. Dalam rangka keikutsertaan Pramuka Saka Wana Bakti Kota Ternate Kwarda Maluku Utara pada event PERTIKAWAN 2019 yang akan dilaksanakan di Cibubur pada tanggal 18-25 November 2019. Kegiatan Training Center dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 5 - 10 November 2019 di dua lokasi berbeda yaitu di Kantor BPDAS Akemalamo dan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Peserta berjumlah 10 orang yang berasal dari 2 sangah yang terdiri dari 5 orang laki dan 5 perempuan. Selama kegiatan Training Center, peserta diberikan materi tentang pengelolaan kawasan konservasi, metode survey/monitoring satwa, pengelolaan persemaian, pengawetan satwa, survival di kawasan hutan, senam GNPDAS hingga pelatihan panjat dinding. Menurut Muhammad Yusril selaku pimpinan Saka Wanabakti Kwarcab Kota Ternate, "tujuan dari training center ini selain melatih fisik dan mental para peserta, kegiatan Training Center ini juga sebagai bentuk evolusi mental bagi para generasi milenial". Yusril juga menambahkan, "kegiatan ini juga sebagai bentuk pembinaan generasi muda milenial yang peduli terhadap alam dan lingkungan", ujar lelaki yang juga merangkap sebagai instruktur ini. Selama 5 Hari kegiatan Training center berlangsung tidak membuat para peserta patah semangat. Justru para peserta terlihat lebih bersemangat dan antusias mengikuti kegiatan ini. "Ini adalah pengalaman pertama saya mendapatkan materi tentang survei burung dan materi tentang konservasi alam dan langsung bisa mempraktekkan dilapangan. Yang paling seru dari kegiatan ini adalah panjat dinding karena ini juga pertama kali saya mencobanya dan ini sangat mengasikkan apalagi diajarkan langsung oleh instruktur berpengalaman", ujar salah satu peserta asal Ternate. Rencananya Maluku Utara akan mengirimkan sebanyak 10 peserta untuk mengikuti kegiatan PERTIKAWAN di Cibubur pada 18 - 25 November 2019. Semoga para peserta dari Maluku Utara ini diharapkan bisa menjadi generasi muda pramuka yang selalu semangat serta senantiasa memperbaiki diri dan berperilaku adil terhadap alam dan lingkungan. Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum fasilitasi Balai TN. Kayan Mentarang dan masyarakat studi banding terkait pengelolaan madu hutan

Semangit, 8 November 2019. Balai Besar TaNa Bentarum memfasilitasi kegiatan studi banding dari Balai TN. Kayan Mentarang dan Masyarakat Desa Data Dian Kalimantan Utara merupakan salah satu upaya dalam peningkatan kapasitas masyarakat Desa Data Dian di bidang budidaya lebah madu. Bertempat di Dusun Semangit, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau kawasan Resort Semangit, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Selimbau, Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah lll Lanjak yang merupakan salah satu dusun penghasil madu lebah hutan dan pusat pengolahan hasil madu lebah hutan APDS (Asosisasi Periau Danau Sentarum) Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 7 s/d 8 November 2019 disambut hangat oleh Bapak A.M Roni Mulyadi selaku Sekdes Nanga Leboyan dan kelompok pengelolah APDS. Sekdes berharap dengan adanya kegiatan studi banding ini rekan-rekan dari Kelompok APDS dapat berbagi ilmu mengenai pengolahan lebah madu yang mana Masyarakat Data Dian Kalimantan Utara masih menggunakan lalau dalam hal budidaya lebah madu Kegiatan diawali dengan simulasi pembuatan tikung dan cara perlakuan tikung sebelum dilakukannya pemasangan, kemudian dilanjutkan dengan proses pemasangan di pohon yang menjadi sumber pakan lebah madu. Kegiatan selanjutnya yaitu simulasi pemanenan tikung. Bapak Suryadi selaku bagian inspeksi menjelaskan alat serta bahan yang dibutuhkan untuk proses pemanenan serta menjelaskan informasi tambahan mengenai proses pemanenan. Kegiatan dilanjutkan dengan proses pengolahan madu yang telah dipanen di tempat rumah pengolahan APDS. Bapak Trim Ifung selaku Kepala Desa Data Dian berharap dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan hasil budidaya lebah madu serta penggunaan tikung dapat diaplikasikan di Desa Data Dian. Bapak Suryadi selaku tim inspeksi APDS berterima kasih kepada rekan-rekan Balai TN. Kayan Mentarang serta Masyarakat Desa Data Dian Kalimantan Utara atas kunjungannya di Rumah Pengelolaan Madu APDS, serta kedepannya kegiatan ini dapat menjadi media untuk saling bertukar ilmu dan saling memberikan saran serta masukan sehingga kedepannya akan semakin banyak ilmu yang dapat diterapkan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum fasilitasi bertemunya Saudara Suku Dayak Kayan yang terpisah

Datah Diaan, 8 Oktober 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) telah memfasilitasi kunjungan dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bersama Kepala Desa Data Dian beserta staf jajarannya dari Malinau Kalimantan Utara terkait Adat dan Budaya Suku Dayak Kayan di Rumah Adat Pagu Desa Datah Diaan Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Suku Dayak Kayan merupakan 1 (satu) dari 151 Sub Suku Dayak di Kalimantan Barat (Lung,2011:3) yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Suku Dayak Kayan merupakan masyarakat yang kehidupannya relatif dengan adat istiadat. Ada hal unik terkait kunjungan ini karena nama desa yang ada di salah satu desa penyangga di wilayah kerja BBTNBKDS dan BTNKM sama, yaitu Desa Datah Dian. Selain itu, Suku yang ada di Desa tersebut sama juga, yaitu Suku Dayak Kayan. Sehingga perlu dipertemukan antara kedua Kepala Desa Datah Dian dari Sungai Mendalam dan dari Malinau tersebut. Suku Dayak Kayan di Desa Datah Dian di Putussibau terdiri dari 3 (tiga) Sub Suku yaitu: 1) Kayaan Umaa’Pagung; 2) Kayaan Umaa’ Suling; 3) Kayaan Umaa’Aging. Meskipun sama Suku Dayak Kayan tetapi bahasanya pun agak sedikit berbeda, namun tidak menyulitkan mereka untuk berkomunikasi karena mereka saling memahami. Mereka saling bercengkrama dan bercerita tentang nenek moyang, keluarga dan keturunannya masing-masing. Salah satu hal unik dan menarik yang diceritakan yakni mengenai terpisahnya rombongan perahu yang mengakibatkan masyarakat Suku Dayak Kayan ada yang tinggal di Sungai Mendalam da nada yang tinggal di Sarawak Malaysia. Mereka menceritakan karena ada suara anjing menggonggong kemudian dari salah satu rombongan memberikan petunjuk dengan lantang dan berkata “Payaw” dalam bahasa kayan yang artinya “rusa”, namun rombongan yang lain mendengar petunjuk dari perahu yang bunyinya “Ayow” dalam bahasa kayan artinya “musuh” dengan demikian jembatan yang ada disana diputuskan sehingga rombongan merekapun akhirnya terpisah, ada yang ke Sarawak Malaysia dan ada yang ke Sungai Mendalam. Cerita tersebut sejalan dengan pendapat yang lain, bahwa perjalanan suku dayak terjadi dalam 3 gelombang, yaitu: 1) Gelombang 1 (abad ke-15): Apo Duat (Mat Murut dan Baram Sungai) dan Usun Apau (Balui dan Tinjai); 2) Gelombang 2 (abad ke-16 hingga abad ke-18): Apau Kayan, Kayan River dan Bahau Sungai; 3) (abad ke-18 hingga abad ke-20); Malinau, Sesayap, Segah, Kelinjau, Telen, Wehea, Belayan, Sungai Mendalam dan Sungai Mahakam. Beberapa ke Sarawak Malaysia (Balui, Tinjai, Baram dan Sungai Baleh). Markus Jaraan, S.H selaku Kepala Desa Datah Dian di Putussibau mengapresiasi kegiatan pertemuan ini. “saya berterimakasih kepada BBTNBKDS dan BTNKM atas dipertemukannya kami, karena masih keluarga dan satu keturunan Suku Dayak Kayan meskipun dari jarak sangat jauh”. Theresia Kiho yang merupakan masyarakat Desa Datah Dian d Putussibau menambahkan” bahwa jarak untuk sampai bertemu keluarga yang ada di Mahakam saja dapat ditempuh dalam waktu 1 (satu) minggu berjalan kaki melewati bukit, apalagi untuk sampai ke Malinau lumayan jauh, ujarnya”. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Serunya "Outdoor Conservation Learning"

Cani Sirenreng, 11 November 2019. Kegiatan Belajar Konservasi di Luar atau (Outdoor Conservation Learning) adalah program yang digagas Resort Cani dari Bulan Oktober sampai Akhir Tahun 2019 ini adalah program edukasi dan kampanye konservasi kepada anak-anak muda yang bersekolah di Sekitar Kawasan Konservasi Cani Sirenreng, Bone. Kampanye edukasi ini dilaksanakan di MTS TINCO (Madrasah Tsanawiyah) dan MA TINCO (Madrasah Aliyah) di Desa Tellu Boccoe Kecamatan Ponre Kabupaten Bone, dimana ke dua sekolah ini adalah sekolah yang beradar di wilayah penyangga kawasan Taman Wisata Alam Cani Sirenreng. Alias, SH., Selaku Polhut dan kepala Resort Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dalam Keterangannya “ini adalah langkah awal kita di daerah Cani khususnya untuk membina generasi muda Cani untuk peduli hutan dan lingkungannya sendiri, Alhamdulillah niat kami bisa terlaksana di dua Sekolah yang terletak di daerah penyangga TWA Cani, setidaknya 245 siswa kita bina dan edukasi tentang konservasi dengan konsep belajar konservasi itu diluar, di alamnya langsung, amati langsung dan praktek langsung konservasi” . Kepala Balai BBKSDA, Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc, memberi apresiasi tentang gagasan OUTDOOR CONSERVATION LEARNING yang dilakukan teman-teman lakukan di Cani Sirenreng. Dalam keterangannya “Giat seperti ini harus kita lakukan berkesinambungan, share learning tentang peduli alam dan hutan harus di bina sejak dini, Tahun depan setiap kita patroli di kawasan kita akan kita agendakan khusus edukasi-edukasi seperti ini”. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Kokreasi Perhutanan Sosial Kepada Kelompok Tani di Masamba Kabupaten Luwu Utara

Masamba, 9 November 2019. Kegiatan Talkshow Kokreasi Perhutanan Sosial dan Penyerahan Keputusan Akses Legal Perhutanan Sosial kepada Kelompok Tani pada tanggal 9 November 2019 di Taman Siswa, Masamba Kabupaten Luwu Utara. BBKSDA Sulsel yang di wakili Kepala Bidang Wilayah I Nur Alam menghadiri acara ini Bersama ±170 peserta undangan lainnya yang terdiri dari: Instansi KLHK, Kemendagri, Dinas terkait, Kelompok Tani, Generasi Milenial Luwu Utara, dan masyarakat di sekitar kawasan. Acara diawali dengan persembahan tarian Sangrompon Tallang dari Sanggar Seni Bunga Masamba. Perlu diketahui Kab. Luwu Utara dan Kab. Bulukumba terpilih sebagai tempat pelaksanaan Jelajah Pesona Kokreasi Perhutanan Sosial dari sekian banyak Kabupaten di Indonesia. Saat ini Luwu Utara sudah memiliki capaian total 23 unit SK Izin Perhutanan Sosial dengan luas 14.523 Ha yang diserahkan kepada sejumlah 3.209 KK. Adapun Acara talkshow ini dibagi 2 sesi yakni Sesi I dari kelompok pelaku utama Perhutanan Sosial yang terdiri dari: perwakilan kelompok tani dari HKM dan HD; Penyuluh KPH Rongkong; serta generasi millenial Luwu Utara diberikan kesempatan untuk menceritakan pengalaman seputar Perhutanan Sosial. Sesi II dari kelompok inspirasi yang terdiri dari: Muh. Firda (Asisten II Pemprov Sulsel), Bupati Luwu Utara, Dr. Royadi dari Kemendagri, Erna Rosdiana (Direktur PKPS KLHK), Teguh Yuwono (LEI), dan Ketua GenPI Luwu Utara untuk mengemukakan ide dalam mendukung Perhutanan Sosial. Pokok bahasan dari Talkshow Kokreasi Perhutanan Sosial ini antara lain: Acara Talhoshow ini diakhiri dengan launching SK Akses Legal Perhutanan Sosial sebanyak 11 unit yang terdiri dari 3 unit HKM dan 8 unit HD untuk 2000 KK, kemudian launching Rumah Kokreasi Perhutanan Sosial Luwu Utara. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Inovasi Pemasangan Tugu Preemtif Sebagai Penanda Memasuki Kawasan TNBG

Mandailing Natal, 11 November 2019. Berawal dari pertanyaan masyarakat atas batas kawasan Taman Nasional dengan kawasan hutan lainnya tidak dapat diketahui. BTNBG telah dilaksanakan pemasangan Pal batas tahun 2013 akan tetapi letak Pal/tugu tidak dapat terlihat karena titik Pal/tugu tidak pada posisi jalu/trek memasuki kawasan taman nasional. Kesulitan diketahuinya batas kawasan konservasi sehingga banyak masyarakat yang memasuki kawasan tanpa izin. Balai Taman Nasional Batang Gadis melakukan inovasi dengan memasang Tugu Preemtif yang diletakkan pada jalur/trayek memasuki kawasan Konservasi sehingga masyarakat dapat mengetahui batas kawasan sekaligus ditujukan guna mencegah, menghilangkan, mengurangi, menutup niat seseorang atau kelompok untuk melakukan tindak pidana kehutanan tanpa mengurangi/melebihkan Pal/batas kawasan yang telah definitif. Sumber: Haeruyadi/Polhut Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 4.545–4.560 dari 11.140 publikasi