Sabtu, 2 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Aksi Nol Sampah di Merbabu

Boyolali, 20 November 2019. Dalam rangka evaluasi dan persiapan rencana pembukaan jalur pendakian, serta masih dijumpainya sampah sisa-sisa pendakian sebelum penutupan jalur, Resort Selo Balai TN Gunung Merbabu beserta para relawan/volunteer melakukan aksi bersih sampah di TN Gunung Merbabu. Bersih sampah ini dilakukan 2 (dua) kali dalam bulan November ini. . Pada tanggal 5-6 November 2019 bersih sampah fokus dilakukan di Sabana 1 Jalur Pendakian Selo. Hasilnya sampah sebanyak 2,1 kwintal yang terdiri dari sampah tissu basah, plastik, botol mineral bekas, botol kaca dan beberapa atribut/banner komunitas. Sampah tersebut dibakar ditungku pembakaran khusus. Dari 21 botol yang ditemukan berisi air seni dengan jumlah 1,6 liter per botol. Aksi bersih sampah dilanjutkan pada tanggal 18 November 2019. Fokus bersih sampah dilakukan di Pos 3 dan Pos 2 Jalur Pendakian Selo. Berat sampah yang terkumpul sebanyak 1,1 kwintal. Dari 51 botol berisi urin dengan volume rata-rata 0,5 liter per botol. Saat yang bersamaan dilakukan juga kegiatan pembersihan vandalisme di plat/papan, pohon, petunjuk sepanjang jalur pendakian Selo. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Kematian Gajah Sumatera di Kabupaten Aceh Timur

Aceh Timur, 20 November 2019. Pada hari Rabu tanggal 20 November 2019, telah ditemukan seekor gajah mati di area perkebunan Afdeling 1 Keramat PT. Atakana yang berada di Desa Seumanah Jaya Kecamatan Rantau Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Kematian gajah liar ini ditemukan oleh pekerja kebun PT. Atakana yang kemudian melapor kepada tim petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh yang sedang melakukan penggiringan gajah liar dengan menggunakan gajah jinak di sekitar area desa tersebut sekitar pukul 12.30 WIB. Tim petugas BKSDA Aceh yang terdiri dari Resor KSDA Langsa dan CRU Serbajadi beserta aparat TNI dan pihak perusahaan langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan pengecekan ke lokasi kejadian. Berdasarkan pengecekan yang dilakukan oleh tim petugas, benar ditemukan adanya bangkai gajah sumatera yang telah mati dengan jenis kelamin betina dan berat badan ± 3 ton. Kepala Balai KSDA Aceh Agus Arianto, S. Hut., memberikan arahan kepada tim petugas untuk melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian setempat agar dilakukan pengamanan Tempat Kejadian Perkara (TKP); meminta tim untuk mengumpulkan informasi dari masyarakat sekitar; dan mengirim tim medis Balai KSDA Aceh ke TKP untuk melakukan tindakan bedah bangkai (Nekropsi). Pada hari Kamis tanggal 21 November 2019, tim medis Balai KSDA Aceh telah melakukan tindakan nekropsi dan mengambil beberapa sampel dari bangkai gajah sumatera tersebut untuk dikirim ke Puslabfor Polri. Tim medis memperkirakan umur kematian Gajah Sumatera ini yaitu ± 8-10 hari yang lalu dengan estimasi umur ± 25 tahun. Hingga kini Balai KSDA Aceh masih menunggu hasil pengujian sampel dari Puslabfor Polri untuk mengetahui penyebab kematian satwa liar gajah tersebut. Secara taksonomi, Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) termasuk kelompok Mammalia dengan Famili Elephantidae yang tergolong jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus ssp. Sumatranus) di Provinsi Aceh sendiri, hampir 85% berada di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan sehingga potensi terjadinya konflik gajah dengan manusia sangat tinggi. Sempitnya habitat gajah di Provinsi Aceh juga menjadi penyebab utama pemicu konflik gajah dengan manusia. Upaya penanganan konservasi dan kelestarian keanekaragaman hayati terhadap satwa liar gajah sumatera diperlukan berbagai peranan dari elemen stakeholder lainnya. Mulai dari elemen instansi pemerintah baik di pusat ataupun di daerah, LSM/NGO, sektor swasta, pihak aparat/kepolisian, hingga elemen masyarakat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh menghimbau dan mengharapkan dukungan serta peran dari berbagai pihak stakeholder tersebut dalam penanggulangan permasalahan konflik Gajah Sumatera dengan Manusia di Provinsi Aceh sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar serta Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 522.51/1097/2015 tentang Pembentukan Satuan Tugas Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar Provinsi Aceh. Balai Konservasi Daya Alam Aceh memberikan apresiasi yang tinggi terhadap keterlibatan pihak Kepolisian Resor Aceh Timur, Kepolisian Sektor Rantau Peureulak, FKL, dan pihak lainnya yang ikut membantu dalam melakukan pengamanan dan olah TKP hingga proses bedah bangkai atau nekropsi dapat terlaksana dengan lancar. Sumber: Balai KSDA Aceh Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh - Agus Arianto (0813-1766-2555) Kepala Sub Bagian Tata Usaha - Erwan Candra Jaya, SE (0813-6768-7395) Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe - Kamarudzaman, S.Hut (0853-5999-7552)
Baca Berita

Studi Banding Balai TN Bali Barat ke Balai TN Kelimutu

Ende, 21 November 2019. Taman Nasional Kelimutu kedatangan tamu rombongan dari Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) untuk melakukan bench marking (studi banding) pengelolaan data informasi Sistem Alir Informasi dan Sitroom dalam Jaringan dan Aplikasi (SAORIA) Balai Taman Nasional Kelimutu dan Pemberdayaan masyarakat serta bioprospecting di TN Kelimutu pada hari rabu, 20 November 2019 silam. Acara diawali dengan paparan dan diskusi di aula kantor Balai TN Kelimutu, Ende dipimpin oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha bersama tim Balai dan Resort TN Kelimutu. Selanjutnya rombongan bertolak ke Danau Kelimutu, Resort Nduaria dan juga ke Kampung Adat Wologai sebagai objek wisata budaya TN Kelimutu. Rombongan Balai TN Bali Barat yang dipimpin Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN Balai Barat akan berada di Ende selama dua hari (20-21/11). Dalam kunjungan ini, rombongan Balai TN Bali Barat mempelajari pengelolaan jaringan CCTV dan Wifi di Balai TN Kelimutu dalam rangka pengelolaan tiketting, pemantauan pengunjung dan publikasi TN Kelimutu serta komunikasi petugas. Di Resort Nduaria, TN Bali Barat mendapatkan informasi mengenai bioprospecting terkait pembuatan pupuk cair dan pestisida organik dengan memanfaatkan gulma IAS Kirinyuh dalam rangka pemberdayaan masyarakat di beberapa desa penyangga TN Kelimutu. Menurut ketua Tim Balai TNBB banyak ide yang di dapat dari kunjungan ini yang dapat diterapkan di TN Bali Barat. Semoga dengan kunjungan benchmarking pengelolaan kawasan yang pertama ke Kelimutu ini dapat meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan kedua pihak dan KLHK secara umum. Sumber: Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

PKS Strategis Bersama Telkom Indonesia

Jakarta, 20 November 2019. Bertempat di Gedung Kantor Telkominfra TLT Jakarta dilaksanakan penandatanganan PKS antara Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan atas nama Direktur Jenderal KSDAE Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc dengan Senior Manager Transport Deployment Divisi Planning and Deployment PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk Made Wisnu Satria Wibawa tentang Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan Berupa Pemasangan Ringan Kabel Serat Optik Bawah Tanah Melintasi Cagar Alam Selat Laut Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan. Ruang lingkup PKS tersebut antara lain: PKS dengan Telkom Indonesia berdasarkan persetujuan Dirjen KSDAE Nomor: S.306/KSDAE/PIKA/KSA.0/4/2019 tanggal 24 April 2019 Dalam sambutannya, Wisnu mengungkapkan bahwa Telkom Indonesia telah banyak melakukan PKS yang sama dengan Balai KSDA maupun Balai Taman Nasional lainnya terkait pemasangan kabel serat optik. Kerja sama penyelenggaraan KSA KPA meliputi Pembangunan Strategis dan Penguatan Fungsi, untuk kerja sama ini termasuk pembangunan strategis karena dilakukan di dalam Kawasan CA Selat Laut kata Mahrus, selain itu Balai KSDA Kalimantan Selatan sangat terbuka apabila dikemudian hari PT. Telkom Indonesia berkeinginan berkontribusi dalam kerja sama penguatan fungsi, tambah Mahrus. Selain PKS, juga dilaksanakan penandatanganan Rencana Pelaksanaan Program (RPP) periode November 2019 sampai dengan Oktober 2029, Rencana Kegiatan Lima Tahun (RKL) periode November 2019 sampai dengan Oktober 2024 dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) periode November 2019 sampai dengan Oktober 2020. PKS dengan Telkom Indonesia merupakan salah satu jalan dalam rangka meningkatkan pelibatan parapihak dalam pengelolaan kawasan konservasi. (ryn) Sumber: Prawira Aditya Rahman, SE - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Evaluasi PKS Bersama SBI Untuk Bekantan

Banjarbaru, 18 November 2019. Evaluasi merupakan salah satu tahapan penting yang dilaksanakan dalam pengelolaan kerja sama. Evaluasi dilaksanakan setiap akhir periode RKT untuk mengukur efektifitas kegiatan yang telah dilaksanakan selama 1 periode RKT, tutur Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc dalam sambutannya saat rapat evaluasi RKT PKS dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia pada tanggal 18 November 2019 di Ruang Rapat Balai KSDA Kalimantan Selatan. Kegiatan Yayasan SBI dalam RKT Periode Juli 2018 sampai dengan Juni 2019 antara lain kunjungan ke sekolah; patroli pengamanan kawasan; pembentukan dan pembinaan kelompok; evakuasi, pelepasliaran, rehabilitasi; pemulihan ekosistem mangrove; publikasi media cetak dan media elektronik. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan sangat mengapresiasi kontribusi yang telah dilakukan oleh Yayasan SBI selama ini karena turut serta dalam pelestarian satwa endemik Kalsel yaitu Bekantan dimana selalu berperan aktif dalam kegiatan rehabilitasi, evaluasi maupun pelepasliaran Bekantan. Saat ini kegiatan Yayasan SBI sedang berfokus pada Pulau Curiak ungkap Amalia Rizki Ketua Yayasan SBI. Pulau Curiak merupakan habitat asli Bekantan yang berada di luar Kawasan Konservasi dan berbatasan dengan pemukiman masyarakat sehingga rawan terhadap konfik. Yayasan SBI merupakan satu – satunya di dunia yang concern terhadap Bekantan kata Ferry penasihat Yayasan SBI. Oleh karena itu Balai KSDA Kalimantan Selatan sangat mendorong Yayasan SBI untuk menjadi Lembaga Konservasi sehingga bisa naik kelas. BKSDA Kalsel selalu mendorong mitranya untuk bisa lebih baik lagi kedepannya. (ryn) Sumber: Prawira Aditya Rahman, SE - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Inventarisasi Zona Tradisonal Dalam Rangka Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat

Tempurau, 20 November 2019 - Menindaklanjuti kegiatan Inventarisasi Zona Tradisonal dalam rangka kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya pemanfaatan sumberdaya perairan yaitu ikan. Pada tanggal 20 November 2019 diadakan kegiatan pembahasan dalam rangka verifikasi zona tradisional dan Perjanijian Kerja Sama (PKS) antara Taman Nasional Danau Sentarum dengan masyarakat nelayan Desa Tempurau yang bertempat di Wilayah Kerja Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Lanjak, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Selimbau, Resort Semangit, Kecamatan Selimbau, Desa Tempurau. Kegiatan dibuka oleh Dedek Darmadi selaku Kepala Desa Tempurau dan Rahman R. Nababan selaku Kepala Resort Semangit. Kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat oleh kepala desa dan masyarakat Desa Tempurau. Kepala desa menuturkan “Kami berharap dengan adanya perjanjian kerja sama ini, masyarakat saya memiliki legalitas dalam hal pemanfaatan sumberdaya perairan dalam kawasan TN Danau Sentarum (TNDS)” Dalam kesempatan yang sama Kepala Resort Semangit menuturkan bahwa kelompok nelayan tempurau merupakan salah satu kelompok masyarakat yang menyampaikan permohonan kemitraan kepada pihak TNDS melalui PKS dalam pemanfaatan sumberdaya perairan. Kepala Resort Semangit melanjutkan bahwa ini sangat kita dukung dan perlu ditindak lanjuti melalui kegiatan verifikasi sebagai langkah-langkah prakondisi penyiapan base line kemitraan. Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai zonasi wilayah yang masuk dalam perjanjian kerjasama TNDS dengan masyarakat kelompok nelayan Desa Tempurau oleh rekan-rekan dari Resort Semangit, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sejarah pemanfaatan SDA perairan yaitu ikan oleh masyarakat. Masyarakat berharap dengan adanya perjanjian kerja sama TNDS dengan masyarakat nelayan Desa Tempurau, masyarakat tidak perlu khawatir menegnai legalitas kegiatan perikanan tangkap mereka di dalam kawasan TNDS sehingga mereka mendapatkan perlindungan hukum dalam hal kegiatan perikanan tangkap. Sumber: Balai Besar TN Bentung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Rakornis Kehumasan KemenLHK

Jakarta, 22 November 2019. Dalam RANGKA meningkatkan komunikasi publik di era digital dan mengoptimalkan penyampaian informasi melalui media sosial, Biro Humas, KemenLHK mengundang seluruh admin medsos di jajarannya baik Pusat maupun Daerah untuk menghadiri rakor Kehumasan di aula Rimbawan I, Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta pada Kamis, 21 November 2019. Materinya sangat menarik lho kawan rimba..., ada Literasi Digital di Jagad Maya oleh Ivan Lenin pendiri Lingua Bahasa dan Wiki pedia Indonesia Ensiklopedia Bebas, ada Era Baru Fotografi oleh Arbain Rambey, seorang jurnalis senior yang menguasai penulisan sekaligus fotografi, ada Evaluasi dan Strategi Kehumasan KemenLHK oleh Afni Zulkifli, ada Optimalisasi Media Sosial Pemerintah oleh Nanda seorang admin medsos di KemenPUPR dan Digital Storytelling oleh Setya Winnie, seorang travel content creator yang tidak hanya sekedar jalan jalan, namun selalu mengangkat kekayaan budaya dan adat istiadat di suatu tempat. Nah... Yuuk jangan bosan untuk selalu belajar ya kawan... Semoga dengan adanya rakor ini, kami dapat lebih optimal dalam berkomunikasi dan menyampaikan informasi... Salam sukses Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penanganan Satwa Liar Jenis Macaca Maura Di Salenrang Maros

Maros, 21 November 2019. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) mendapat laporan melalui CALLCENTER tentang seekor Monyet Dare (Macaca Maura) yang mengganggu masyarakat di Desa Salenrang Kabupaten Maros. Dari keterangan yang diterima dan hasil investigasi TIM WRU Monyet Dare ”Macaca Maura”. ini milik bapak Abdul Rais selama kurang lebih 3 tahun, Menurut pak Abdul Rais “monyet ini saya dapatkan juga secara tidak sengaja masuk ke lingkungan rumah dan masih anakan, kemudian saya memutuskan untuk memeliharanya tapi sekarang tingkahnya sudah semakin nakal dan sering mengganggu orang lain yang melintas di dekatnya” Terang Abdul Rais. Pada hari rabu tanggal 20 November 2019 Pukul 09.30 WITA tim WildLife Rescue Unit WRU tiba di desa Salenrang kabupaten Maros. Hasil diskusi dengan TIM WRU memutuskan untuk menggunakan chemical restrain, agar proses evakuasi satwa ini berjalan aman. Selanjutnya monyet dare dilepaskan ikatan tali dipinggangnya dan diangkut ke kandang transport menuju kandang transit BBKSDA Sulsel. Penyerahan satwa liar oleh masyarakat kepada TIM WRU Balai Besar KSDA Sulsel disertai dengan Berita Acara Serah Terima. Dalam keterangannya drh Fatma selaku Dokter Hewan WRU Balai “Satwa liar yang kami terima baik itu dari hasil sitaan dan serahan masyarakat akan kami periksa kembali kesehatannya, kemudian TIM Kami akan menganalisis tindak lanjut yang tepat pada satwa tersebut, apakah akan di realese ke habitatnya atau kami titipkan ke Lembaga Konservasi atau mitra kami”. Kepala Balai Ir.Thomas Nifinluri memberi apresiasi kepada Tim WRU yang bekerja cepat tanggap terkait konflik satwa dan masyarakat. Dalam keterangannya “Penyerahan Satwa Liar dilindungi dari masyarakat sekarang ini sedang Trend Positif bisa dilihat dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyerahkan Satwa-nya.” Pungkas Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas Husain. SH
Baca Berita

BKSDA Jakarta NGONSER : Mengenal Lebih Dekat Mangrove

Cibubur, 22 November 2019. Balai KSDA Jakarta didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menggelar acara Ngobrol Santai Konservasi (Ngonser) dengan tema “Mengenal Ekosistem Mangrove di Indonesia” di Bumi Perkemahan Cibubur. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Perkemahan Bakti Saka Kalpataru dan Wanabakti Nasional 2019 yang dihadiri oleh Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega anggota Saka Kalpataru dan Saka Wanabakti dari seluruh Indonesia dalam upaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan secara khusus dalam bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta Ahmad Munawir menyampaikan kepada peserta tentang arti penting ekosistem mangrove serta upaya pelestariannya. “Ekosistem mangrove dapat membantu mencegah erosi dengan menstabilkan garis pantai, melindungi masyarakat dari badai dan banjir untuk mengatasi perubahan iklim, serta menyimpan sejumlah besar karbon. Mangrove adalah salah satu ekosistem paling produktif di bumi, dan memberikan banyak fungsi penting, diantaranya area pembibitan yang penting untuk ikan dan invertebrata. Selain spesies yang penting secara komersial, mangrove juga menjadi habitat bagi sejumlah spesies yang terancam dan hampir punah,” jelas mantan Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TaNa Bentarum. Munawir menambahkan bahwa peran serta yang dapat dilakukan oleh generasi muda adalah dengan menjaga kelestarian ekosistem mangrove untuk masa depan kehidupan. Andi Nurmana, salah seorang peserta yang berasal dari Lampung mengaku sangat terkesan setelah mengikuti diskusi interaktif ini. “Saya jadi paham tentang arti penting ekosistem mangrove. Dan saya selaku generasi muda harus berperan aktif dalam melestarikan lingkungan termasuk ekosistem mangrove,” tekad Andi.* Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologis yang signifikan, baik bagi manusia maupun alam. Upaya pelestariannya memerlukan sinergi semua pihak, termasuk generasi muda. “Lestarikan Mangrove Untuk Masa Depan” “Salam Ngonser, ngobrol santai konservasi” Sumber: Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Pertikawan Nasional Tahun 2019 Hadirkan Berbagai Inovasi Dalam Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Cibubur, 18 November 2019 - Perkemahan Bakti Saka Kalpataru dan Wanabakti (Pertikawan) Tingkat Nasional yang dilaksanakan di bumi perkemahan Cibubur dari tanggal 18 - 25 November 2019 hadirkan berbagai macam inovasi Inovasi baru di Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Adapun kegiatan-kegiatan yang akan diikuti oleh peserta adalah Giri Wana Rally, Putra putri Pertikawan, Pertikawan Got Talent, Karya Ilmiah Inovasi, Green Champaign , Senam KLHK, dan masih banyak lagi. Tidak mau ketinggalan zaman, kegiatan Pertikawan Nasional 2019 ini desain dalam dua camp kegiatan. Untuk main camp Pertikawan 2019 adalah di Buperta Cibubur dan melibatkan sub camp di Jakarta, Bogor, Tanggerang, dan Bandung. Dalam pelaksanaannya, Pertikawan Nasional 2019 melakukan berbagai aktifitas bersifat kreatif, produktif, edukatif, inovatif dan rekreatif. Selain itu, Pertikawan Nasional 2019 juga mengangkat beberapa isu strategis yang memenuhi syarat aktual, urgensi, relevansi, dampak positip, kesesuaian, inklusi dan sensitivitas diantatanya isu implementasi Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan, isu tantangan terkini pendidikan kepramukaan Penegak Pandega, isu agenda Kepramukaan Dunia World Organization Scout of Movement (WOSM): Sustainable Development Goals, isu generasi milenial: digital era, digital disruption, creative, connected, collaboration dan social media, isu generasi milenial dan lingkungan: green generation, green lifestyle, eco friendly suistainability dan social responsibility, dan isu lingkungan dan kehutanan di Indonesia. Ditemui di sela-sela waktu pelaksanaan giat sub camp, Patma Yunita yang merupakan peserta dari kontingen Kwartir Daerah Kalimantan Barat menyatakan “Saya bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu peserta dari Kwarda Kalimantan Barat. Pada kesempatan kali ini saya mendapat Jadwal BP2SDM KLHK Tanggerang Selatan. Berbagai pengetahuan baru saya dapatkan dari kegiatan hari ini. Semoga apa yang saya dapatkan bisa menjadi bekal untuk merangkul rekan-rekan anggota pramuka dan masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya dan Kapuas Hulu pada khususnya dalam upaya menjaga lingkungan hidup dan lebih bijak mengelola sampah plastik.” Sumber: Balai Besar TN Bentung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Kompak, Balai KSDA Yogyakarta dan Gembira Loka Zoo Sosialisasikan Tumbuhan Satwa Liar Kepada Siswa SLTP

Yogyakarta, 22 November 2019. Balai KSDA Yogyakarta bekerjasama dengan Gembira Loka Zoo lakukan sosialisasi Tumbuhan Satwa Liar (TSL) kepada siswa SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta Hari Kamis (21/11/19). Kegiatan Sosialisasi dibuka oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Untung Suripto, mewakili Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi. Kegiatan ini diikuti oleh 42 siswa dan 6 guru pendamping, dengan materi sosialisasi meliputi: Bina suasana kelas, Pengenalan BKSDA dan kawasan konservasi, Pengenalan satwa liar dilindungi dan zoonosis, Pengawasan peredaran TSL dan Pengenalan Satwa oleh Gembira Loka Zoo. Dalam sambutannya, Untung Suripto menjelaskan mengenai tujuan pelaksanaan sosialisasi TSL tersebut. “Sebagaimana arahan Bapak Kepala Balai, generasi muda adalah faktor penting yang akan medukung upaya konservasi di masa mendatang. Melalui kegiatan sosialisasi ini kita berharap dapat mengenalkan tumbuhan dan satwa liar dilindungi ini sejak dini. Dengan demikian para siswa akan memiliki kesadaran, kepedulian dan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam mendukung upaya konservasi satwa liar. Pada kegiatan ini, Balai KSDA Yogyakarta juga menggandeng mitra Gembira Loka zoo yang merupakan salah satu Lembaga Konservasi yang ada di Yogyakarta dan memiliki program Satwa Masuk Sekolah (SMS) yang mendukung kegiatan sosialisasi ini.” Jelasnya. Kegiatan sosialisasi TSL ini disambut baik oleh Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Pihak sekolah meminta adanya program lanjutan terkait pendidikan konservasi di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta, terlebih lagi di sekolah tersebut juga memiliki program Cinta satwa sekolah adiwiyata mandiri. Diakhir kegiatan, siswa diajak berfoto bersama dengan satwa yang dibawa Gembira Loka zoo yaitu Phyton morulus albino, Burung Macau dan Awetan Kura-kura Aldabra. Sumber : Dyahning R (PEH Balai KSDA Yogyakarta)
Baca Berita

Pembinaan dan Evaluasi Pokja PE di TN Matalawa

Waikabubak, 21 November 2019. Peran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dalam membantu pengelolaan kawasan sangatlah penting. Tidak terkecuali peran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Masyarakat yang tergabung dalam kelompok kerja (Pokja) program pemulihan ekosistem menjadi bagian penting karena lewat peran serta mereka, program ini dapat berjalan dengan baik sesuai rencana yang telah dijadwalkan. Namun, untuk lebih memahami tingkat keberhasilan program yang telah berjalan, Balai TN Matalawa melaksanakan evaluasi kepada anggota Pokja di lokasi program, yaitu di Lewa, Tanamodu, Wara, Tandulajangga, dan Mahaniwa. Agenda dari kegiatan ini adalah menggali data program-program yang telah dilaksanakan oleh Pokja seperti persiapan penanaman, presentase tumbuh serta penanggulangan kebakaran hutan. Selain itu, anggota Pokja juga diberikan kuesioner untuk melihat dampak apakah program pemulihan ekosistem bermanfaat bagi masyarakat. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M. dalam arahannya menyatakan bahwa program ini adalah program jangka panjang dan tidak dapat dirasakan manfaatnya saat ini juga. Namun, setelah pertumbuhan tanaman yang baik, diharapkan sumber-sumber air yang tadinya kering dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat. Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

Kembali di Selatan Pulau Jinato di Temukan Jejak Si Hewan Purba

Resor Jinato, 20 November 2019 - Lagi, ditemukan kembali jejak penyu di sebelah selatan Pulau Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate hari ini (19/11) pukul 06.13 Wita. Sebelumnya pada sekitar dua minggu lalu ditemukan sarang Penyu berisi 90 butir bersama Babinsa dan Masyarakat di sekitaran selatan pulau ini. Menurut penuturun Sunadi Buki (PEH Resort Jinato) Penyu tersebut berusaha mencoba naik dan mencari tempat peneluran. Hal tersebut terlihat dari pergerakan jejak yang ditinggalkan. "Tidak ada sarang yang ditemukan" ucap Sunadi Buki. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Penyu tersebut tidak bertelur dan kembali lagi ke pinggir laut di sisi pantai sebelahnya. Diperkirakan penyu ini berjenis "Chelonia mydas" atau penyu hijau, hal ini bisa dilihat dari lebar jejak yang ditinggalkan sekitar 1 meter lebih. Petugas lapangan berusaha mengidentifikasi dan mencatat data. Hasilnya, lokasi ini merupakan aktivitas Penyu secara periodik naik bertelur seperti beberapa hari lalu ditemukan sarangnya. "Data-data ini akan kami masukkan dalam aplikasi sistem manajemen data SiMata Taka sebagai backup data" ucap Saleh Rahman koordinator PEH yang juga turut serta dalam pengambilan data. Saleh Rahman menambahkan bahwa kedepan akan kami coba masukkan pertimbangan ke tingkat balai sebagai site monitoring di SPTN Wilayah II Jinato, sehingga site monitoring di bagian wilayah selatan Taman Nasional Taka Bonerate bertambah. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Balai Faat Rudhianto bahwa Surat Keputusan Site Monitoring Penyu untuk tahun 2015 sudah dibuat dan menjadi sasaran strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019, kemudian untuk 5 tahun ke depan (2020-2024) kami akan coba usulkan beberapa site monitoring lagi termasuk site yang di Jinato ini. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Evaluasi Kegiatan Restorasi di Kawasan TN Matalawa

Waikabubak, 21 November 2019. Tidak terasa bahwa sudah 5 tahun Japan International Cooperation System (JICS) melakukan restorasi pada kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Proses pendekatan kepada masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kawasan hutan menjadi proses penting yang dilakukan pada tahun pertama kemudian dilanjutkan penanaman pada areal seluas ± 621 ha yang tersebar di 4 lokasi pada tahun kedua. Pada tahun-tahun selanjutnya dilakukan proses pemeliharaan seperti weeding, penyulaman, pembuatan sekat bakar hingga kegiatan lain yang bersifat pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan berkebun, beternak, dan pembuatan biogas. Memasuki masa berakhirnya project, Direktorat Kawasan Konservasi (KK) bersama JICS melakukan pemeriksaan hasil kerja yang telah dilakukan selama 5 tahun terakhir untuk selanjutnya diserahterimakan kepada Balai TN Matalawa agar dilakukan pemeliharaan. Proses pemeriksaan berlangsung selama 2 hari pada tanggal 19 dan 20 November 2019. Direktorat KK yang dipimpin Kepala Seksi Pengendalian Pengelolaan KPA, Marlenni Hasan, S.Si, MP., menyatakan bahwa semua kegiatan yang telah dilaporkan setiap bulannya telah dengan baik dilaksanakan. Pertumbuhan tanaman yang sangat baik dapat dijadikan role model bagi kementerian dalam melaksanakan project penanaman ataupun restorasi ekosistem. Namun, ada beberapa titik yang terbakar dan diharapkan dapat kembali disulam sebelum tenaga teknis project ini meninggalkan lokasi. Kepala Balai TN Matalawa Ir. Memen Suparman, M.M, mengucapkan terima kasih kepada JICS yang telah membantu dalam menghutankan kembali kawasan TN Matalawa selama 5 tahun ini. Kepala Balai mengharapkan agar seluruh ilmu serta jalinan komunikasi yang telah terbangun antara JICS dengan masyarakat atau dinas terkait dapat dilanjutkan oleh para petugas TN demi kelestarian hasil penanaman restorasi ini. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Penandatanganan Amademen Pertama Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar KSDA Riau dengan PT PLN (Persero)

Pekanbaru, 19 November 2019. Bertempat di ruang Rapat Dirjen KSDAE, telah dilakukan penandatangan Amademen Pertama Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar KSDA Riau dengan PT PLN (Persero). PT PLN (Persero) cq. UIP SUMBATENG telah memiliki kerjasama Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Balai Besar KSDA Riau Nomor PKS : 1575/K.6/BTU/KUM.3/10/2018 dan Nomor : 0010.PJ/UIPSBT/2018 tanggal 16 Oktober 2018 tentang Pembangunan Strategis yang tidak dapat dielakkan berupa Pembangunan dan Pemeliharaan Jaringan Listrik 150 kV melintasi Taman Wisata Alam (TWA ) Sungai Dumai. Bahwa Program Listrik desa (Lissa) yang menjadi tanggung jawab PT PLN (Persero) c.q. Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau adalah program Nawacita Pemerintah dan PT PLN (Persero) untuk dapat melistriki desa dan dapat mencapai rasio desa 100 % di seluruh Indoensia pada tahun 2019. PT PLN (Persero UIP SUMBAGTENG dan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau yang keduanya berada dibawah PLN (Persero). Dalam kerjasama ini diwakili oleh General Manager PT PLN (Persero) UIP SUMBATENG, bapak Hendry Setijabudi dan Balai Besar KSDA Riau oleh Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono. Penandatanganan kerjasama ini langsung disaksikan oleh Dirjen KSDAE, Bupati Kampar, Wakil Ketua DPRD Kampar dan Direktur PIKA, Ditjen KSDAE. Program jaringan listrik desa melintasi kawasan konservasi di wilayah kerja Balai KSDA Riau dengan Luas Total ± 74,619 ha berada di Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling, Kab. Kampar ( ± 22,866 ha), SM Balai Raja, Kab. Bengkalis (± 38,169 ha), SM PLG Sebanga Bengkalis ( ± 13,444 ha), dan SM Giak Siak Kecil Kab. Bengkalis dan Kab. Siak ( ± 0,14 ha). Adapun ruang lingkup kerja sama ini meliputi : Berdasarkan kesepakatan rapat pada tanggal 25 Oktober 2019 yang dipimpin Direktur Jenderal KSDAE di Jakarta, perlu dilakukan amandemen terhadap PKS Nomor PKS.1575/K.6/BTU/KUM..3/10/2018 dan Nomor 0010.PJ/UIPSBT/2018 tanggal 16 Oktober 2018 tentang Pembangunan Jaringan SUTT 150n kV Dumai - Kawasan Industri Dumai di TWA Sungai Dumai, Riau. Menteri LHK telah memberikan persetujuan Amandemen PKS ini dan telah ditindaklanjuti dengan surat Direktur Jenderal KSDAE Nomor S.845/KSDAE /PIKA/KSA.0/10/2019 tanggal 29 Oktober 2019 tanggal 29 Oktober 2019 perihal Persetujuan Amandemen Kerja Sama Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Fielakan dalam rangka Pembangunan dan pengelolaan Jaringan Listrik 20 kV di SM. Bukit Rimbang Bukit Baling, SM. Balai Raja, SM. PLG Sebanga dan SM. Giak Siak Kecil. Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa Dilindungi ke Habitat

Sorong, 21 November 2019. Guna menjaga kelestarian hewan dilindungi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKDSDA ) Papua Barat, melepasliarkan Empat Puluh Satu (41) ekor satwa liar yang dilindungi ke habitat aslinya pada hari Rabu 20 November 2019. Adapun jumlah dan jenis hewan yang dilepas liarkan antara lain Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory) 22 ekor, Perkici Pelangi (Trichoglosus haematodus) 5 ekor, Kakatua Putih Jambul Kuning (Cacatua galerita) 12 ekor, dan Kakatua Raja (Probosciger atterimus) 2 Ekor. Pelepasan satwa ini dilakukan di kawasan hutan konservasi TWA Sorong. Ke 41 ekor merupakan hewan yang keberadaannya endemik di Papua mulai terancam punah akibat perburuan liar dan perdagangan gelap. Pelepasan ini dilakukan Oleh Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat Bapak Ir. R. Basar Manullang,MM dan di dampingi Pejabat eselon III dan IV, beberapa Pejabat Fungsional dan Petugas Resort TWA Sorong. Sebelum dilepasliarkan ke habitatnya, satwa liar dilindungi ini telah dirawat selama 1 hingga 5 bulan di kandang transit Balai Besar KSDA Papua Barat guna menjalani pemulihan kesehatan dan mengembalikan sifat liarnya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi? Konservasi adalah tugas kita semua, mari jaga Tanah Papua. Sumber: Balai Besar KSDA Papua Barat

Menampilkan 4.465–4.480 dari 11.140 publikasi