Senin, 25 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mengantarkan “Senja” Pulang Ke Rumahnya

“Aku pulang …, terima kasih untuk yang telah menyelamatkanku..” Blangkejeren, 23 Mei 2025. Rabu, 21 Mei 2025 menjadi hari yang spesial bagi “Senja”, Harimau Sumatera yang pulang kembali ke rumahnya, habitatnya di zona inti kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. “Senja” sebelumnya menjadi korban interaksi negatif dengan masyarakat di Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. “Senja” tidak tahu lokasi yang dilintasinya merupakan pemukiman, yang dia tahu hanya berjalan dan berjalan menjelajahi hutan sembari mencari makanannya. Ia baru tersadar ketika masuk perangkap dan diamankan oleh Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara, tepat pada tanggal 5 Juni 2024 yang lalu. “Senja” pun akhirnya masuk ke Suaka Satwa (Sanctuary) Harimau Sumatera Barumun di Barumun, Kabupaten Padang Lawas Utara untuk menjalani perawatan, rehabilitasi dan observasi lebih lanjut. Suaka satwa harimau ini merupakan program Kerjasama antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan. Setelah menjalani masa rehabilitasi lebih kurang 1 tahun, dan berdasarkan pemeriksaan kesehatan (makro dan mikro) oleh tim medis, drh. Anhar Lubis dan drh. Muhammad Agung, masing-masing tanggal 11 November 2024 dan 13 April 2025 untuk memastikan kondisi kesehatannya terbebas dari virus yang membahayakan, akhirnya tim medis menyimpulkan dan merekomendasikan “Senja” clear and clean kesehatannya serta layak untuk dilepasliarkan. Oleh karena itulah tepat pada tanggal 21 Mei 2025, dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional Tahun 2025, “Senja” si harimau betina, diperkirakan berumur 5-6 tahun, kembali ke habitatnya. Eksklusif… “Senja” pun diantar pulang ke rumahnya dengan menggunakan transportasi khusus helikopter tipe SA 315B Lama (Aerospatiale) dengan metode long line mengingat sulitnya medan yang harus ditempuh jika melalui jalur darat. Helikopter ini merupakan bantuan dari PT. Agincourt Resources sebagai bentuk dukungan perusahaan tambang ini terhadap konservasi keanekaragaman hayati. Eksklusif, “Senja” diantarkan pulang dengan helikopter khusus Pemilihan lokasi pelepasliaran tentunya sudah melalui kajian kesesuaian habitat dan populasi harimau sumatera yang sebelumnya dilakukan oleh Balai Besar TN Gunung Leuser bersama mitra. Lokasi ini dipilih sebagai tempat pelepasliaran “Senja” dengan pertimbangan : lokasi jauh dari pemukiman ; memiliki kepadatan satwa mangsa yang tinggi ; sudah ada sebelumnya satwa harimau sumatera yang dilepaskan di sekitar lokasi, yaitu harimau betina (Besti) pada tahun 2023 ; ditemukan jejak beberapa jenis satwa mangsa harimau sumatera, antara lain babi hutan, rusa dan kijang ; ditemukan jejak harimau sumatera pada lokasi lepas liar ; serta aktivitas manusia sangat jarang ditemukan di sekitar lokasi lepas liar. Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) merupakan jenis dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, sebagaimana mandat UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dan PP 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. Untuk operasional penanganan konflik, Pemerintah telah mengatur dalam Permenhut No.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Manusia dan Satwa Liar. Peraturan tersebut mengatur bagaimana cara menanggulangi maupun bertindak dalam konflik. Terbitnya Permenhut No.48/Menhut-II/2008 merupakan komitmen pemerintah terhadap upaya pelepasliaran harimau sumatera. Penguatan Regulasi dalam rangka perlindungan satwa liar di dalam dan diluar kawasan hutan pun terus ditingkatkan. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env. menyatakan, “Pelepasliaran ini menjadi momentum kebangkitan konservasi kehati khususnya di Sumatera. Tidak ada alasan untuk membiarkan satwa-satwa terancam punah. Mari dengan semangat jiwa kebangkitan nasional, kita anak-anak bangsa berjuang bersama dengan semangat yang tak pernah padam untuk kelestarian mereka”. “Senja” sudah pulang.. rimba raya pun bersukacita menyambut kepulangannya. “Senja” diantarkan oleh banyak pihak, itu merupakan bentuk kasih sayang untuk menyelamatkan satwa kharismatik bangsa Indonesia ini. Terima kasih tentunya kepada berbagai pihak yang sudah menyatakan kasih sayang tersebut. Selamat menjalani kehidupan di habitat mu “Senja”, bertumbuh dan berkembang biaklah memenuhi rimba raya… Salam lestari.. Sumber: Tim Lepasliar “Senja” – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Jejaring Keajaiban Laut Flores: Menyusuri Koneksi 3 Taman Nasional yang Memukau Dunia

Pulau Selayar, 21 Mei 2025. Bayangkan Anda berdiri di atas kapal yacht Al-Qamar, dihantam angin laut yang segar, sambil menyaksikan matahari terbit di perairan Flores. Di depan Anda, terbentang tiga mahakarya alam yang diakui dunia: Taman Nasional Wakatobi, Taman Nasional Taka Bonerate, dan Taman Nasional Komodo. Inilah trilogi keindahan bawah laut yang tidak hanya memukau, tetapi juga menyimpan cerita ekosistem yang saling terhubung. Dari Wakatobi ke Taka Bonerate: Sebuah Persinggahan yang Penuh Makna Kapal Al-Qamar membawa tiga wisatawan asal Australia yang memulai petualangan mereka dari Taman Nasional Wakatobi—sebuah surga bagi para penyelam dengan 750 spesies karang dan 942 jenis ikan. Setelah menikmati keindahan Wakatobi, mereka berlayar menuju Pulau Tinabo di Taka Bonerate, rumah bagi atol terbesar ketiga di dunia. Di sini, mereka tidak sekadar snorkeling di spot-spot menakjubkan, tetapi juga mengunjungi demplot penyu, belajar tentang upaya konservasi, dan bertanya tentang keunikan pulau ini. Taka Bonerate adalah contoh nyata bagaimana ekosistem karang dan biota laut terjaga, sekaligus menjadi jembatan alami antara Wakatobi dan Komodo. Labuan Bajo: Final Epik di Tanah Naga Purba Dari Tinabo, perjalanan berlanjut ke Taman Nasional Komodo—situs warisan dunia yang terkenal dengan reptil purba Komodo dan terumbu karang spektakuler. Jika Wakatobi adalah surga karang, dan Taka Bonerate adalah laboratorium alam atol, maka Komodo adalah mahakarya evolusi darat dan laut yang sempurna. Trilogi Konservasi: Mengapa Koneksi Ini Penting? Ketiga taman nasional ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi jaringan ekologi vital di Laut Flores. Mereka saling mendukung bahwa Wakatobi sebagai pusat keanekaragaman hayati laut., Taka Bonerate sebagai penjaga keseimbangan ekosistem atol dan komodo sebagai simbol harmonisasi darat-laut yang unik. Ketika wisatawan seperti tiga tamu Australia ini menjelajahi ketiganya dalam satu perjalanan, mereka menyaksikan betapa Laut Flores adalah mozaik kehidupan yang tak terpisahkan. Setiap spot menyimpan peran dalam menjaga keseimbangan alam, sekaligus menawarkan pengalaman wisata yang berbeda namun saling melengkapi. Apa yang Bisa Kita Pelajari? Jadi, jika Anda merencanakan petualangan laut, ikuti jejak Al-Qamar: sambunglah koneksi tiga taman nasional ini. Karena memahami alam bukan hanya tentang melihat keindahannya, tetapi juga merasakan keterhubungannya. Selamat menjelajah, dan jangan lupa: lestarikan setiap jejak yang Anda tinggalkan. Sumber : Personil Resor Tinabo - SPTN Wilayah 1 Tarupa dan Asri - PEH Ahli Muda/ HUMAS - Balai Taman Nasional Taka Bonrate
Baca Berita

Lepas Kendali! Monyet Ekor Panjang di Evakuasi dari Tarik, Sidoarjo

Sidoarjo, 21 Mei 2025. Kepanikan sempat menyelimuti warga Desa Kalimati, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, pada Senin, 19 Mei 2025. Seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) terpantau berkeliaran bebas dan menunjukkan perilaku agresif setelah terlepas dari pemeliharaan warga. Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir akan keselamatan lingkungan sekitar. Pada malam hari di tanggal yang sama, respons cepat datang dari Pos Unit Damkar Krian Kabupaten Sidoarjo, yang berhasil mengamankan satwa tersebut dengan cara yang berhati-hati, mengutamakan keselamatan warga dan satwa. Keesokan harinya, Selasa, 20 Mei 2025, tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jatim menindaklanjuti laporan Damkar dengan melakukan evakuasi satwa untuk penanganan lebih lanjut. Satwa dievakuasi dalam kondisi stabil meski mengalami luka-luka ringan yang diduga akibat interaksi keras selama berada di lingkungan luar. Meski bukan termasuk satwa dilindungi secara nasional, Macaca fascicularis tetap tercatat dalam Appendix II CITES, yang berarti perdagangannya harus diawasi secara ketat. Kasus ini membuka ruang refleksi atas potensi risiko dari praktik pemeliharaan satwa liar tanpa izin dan pemahaman ekologi yang memadai. Untuk saat ini, satwa berada dalam pengawasan medis tim BBKSDA Jatim guna pemulihan dan rehabilitasi. Ke depan, BBKSDA Jatim akan terus mendorong penguatan kemitraan melalui Program Matawali sebagai bentuk nyata sinergitas dalam penanganan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

BBKSDA Sumut Lepasliar Penyu Sisik Penyerahan Warga

Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe bersiap melepasliarkan Penyu Sisik Desa Tapak Kuda, 21 Mei 2025. Bermula pada Sabtu (17/5), warga Bagan Deli Belawan menyerahkan 1 (satu) individu Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Dalam keterangannya kepada petugas, satwa tersebut tersangkut di jaring nelayan. Pada pemeriksaan fisik secara visual oleh Tim Medis Balai Besar KSDA Sumatera Utara tidak terlihat adanya luka ataupun teritip yang menempel pada karapas dan plastron, penyu juga terlihat aktif. Tim medis kemudian merekomendasikan satwa liar ini layak untuk segera dilepasliarkan. Sehingga dilakukan tindakan pemberian ID Chip penanda identitas dan upaya monitoring kedepannya. Pada Senin (19/5) Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Amenson Girsang, SP., MH. beserta Tim Seksi Konservasi Wilayah II Stabat berkolaborasi dengan mitra Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) melakukan lepasliar Penyu Sisik di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut, tepatnya di Desa Tapak Kuda Lama. Di dunia ada 7 jenis penyu dan 6 diantaranya terdapat di Indonesia, yaitu : Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Pipih (Natator depressus) dan Penyu Tempayan (Caretta caretta). Kesemuanya termasuk dalam jenis dilindungi (https://www.profauna.net). Ancaman utama bagi Penyu Sisik adalah hilangnya (degradasi) habitat, polusi laut, perubahan iklim, perburuan dan perdagangan untuk pengambilan telur, daging dan cangkangnya, serta penangkapan yang tidak sengaja oleh alat penangkap ikan milik nelayan. Cangkangnya diburu, digunakan oleh para perajin untuk membuat berbagai jenis perhiasan dan pernak pernik (https://www.fisheries.noaa.gov). Berdasarkan ketentuan CITES (Convention International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) semua jenis penyu laut dimasukkan dalam Appendix I, yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang (https://www.profauna.net). Penyu Sisik memainkan peran penting dalam fungsi ekosistem laut, oleh karena itu perlu upaya-upaya konkrit untuk menyelamatkan serta menjaga kelestariannya agar tidak punah. Apa yang dilakukan warga, yang dengan kesadaran tinggi menyerahkan satwa liar ini kepada petugas, merupakan contoh tindakan konkrit (nyata). Terima kasih dan apresiasi tentunya disampaikan kepada warga, dan berharap perbuatan baik ini menjadi motivasi serta inspirasi bagi warga lainnya untuk melakukan upaya yang sama. Sumber : Seksi Konservasi Wilayah II Stabat – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tiga Elang Jawa Menjaga Langit Kelud, Simbol Hutan Sehat di Tengah Langkah Berat Javan Wide Leopard Survey

Kediri, 20 Mei 2025. Langit Pegunungan Kelud sisi utara menggetarkan jiwa pagi itu. Sekitar pukul 11.10 WIB, tiga individu Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) melayang tenang di atas tegakan hutan suksesi, sebelum bertengger di pepohonan tinggi. Tim yang menyaksikannya bukan sedang mengamati burung, mereka tengah menapaki jalur terjal untuk Java-wide Leopard Survey (JWLS), survei skala pulau pertama yang dirancang untuk menyelamatkan macan tutul jawa dari ancaman kepunahan. Penemuan ini dicatat oleh tim gabungan dari Yayasan SINTAS Indonesia dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), yang hari itu bergerak menelusuri punggungan-punggungan curam yang jarang tersentuh manusia. Jalur ini merupakan bagian dari sistem transek untuk pemasangan kamera jebak, guna memantau keberadaan satwa mangsa dan predator kunci. “Elang jawa adalah indikator utama ekosistem hutan yang sehat. Saat mereka hadir, itu artinya rantai makanan berjalan, tegakan pohon cukup, dan gangguan manusia minim,” ungkap Kuswoyo, PEH BBKSDA Jatim sekaligus sebagai anggota tim survey. Melihat tiga individu elang sekaligus adalah kejadian langka dan menjadi tanda bahwa pegunungan Kelud masih menyimpan sisa-sisa bentang alam yang perlu segera dilindungi secara nyata. Java-wide Leopard Survey (JWLS) sendiri merupakan inisiatif kolaboratif pertama untuk memetakan populasi macan tutul jawa secara menyeluruh di Pulau Jawa. Inisiatif ini menggabungkan kekuatan dari berbagai pemangku kepentingan Pemerintah, sebagai otoritas kawasan dan regulator, Yayasan SINTAS Indonesia, sebagai project leader, PT. Djarum sebagai lembaga donor serta organisasi dan masyarakat lokal, sebagai pelaku utama konservasi di tingkat tapak. Namun, keindahan penemuan ini tak lepas dari bayang-bayang ancaman. Tak jauh dari lokasi penampakan elang, tim menemukan beberapa jaring pemburu dipasang di punggungan terjal, membentang diam di antara tebing dan tegakan. Walik Kembang, Perling, Srigunting, Pleci, dan Punai menjadi spesies primadona untuk dipaksa keluar dari habitatnya meskipun semuanya adalah bagian penting dari ekosistem yang sama. Temuan ini menjadi dualisme yang nyata, satu sisi harapan melalui kehadiran predator langka, sisi lain kerentanan akibat ulah manusia. Hutan Pegunungan Kelud belum mati. Langitnya masih dijaga oleh sang Garuda. Namun, seberapa lama penjaga itu bisa bertahan, itu kini bergantung pada seberapa kuat komitmen kolaboratif antara negara, ilmu pengetahuan, pelaku tapak, dan publik luas untuk mengembalikan martabat hutan Jawa. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Berita

Menjaga Nadi Ekosistem Karst Cagar Alam Goa Nglirip

Tuban, 21 Mei 2025. Dalam sunyi lebatnya hutan Cagar Goa Nglirip, Tim Smart Patrol dari Seksi KSDA Wilayah II bersama Resort Konservasi Wilayah (RKW) 4 Bojonegoro, Balai Beasr KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menorehkan langkah pelindung kehidupan. Dari tanggal 14 hingga 16 Mei 2025, tim melakukan patroli pengamanan kawasan sekaligus survei keanekaragaman hayati di Grid 01 dan 02. Kawasan ini dalam wilayah administratif Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Dalam patroli tersebut, hutan membisikkan rahasianya melalui kemunculan beberapa fauna khas. Di antara tajuk pepohonan yang berdiri tegak diatas kerasnya batu kapur, teramati burung Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius), Ayam Hutan Merah (Gallus gallus), dan seekor satwa dari ordo Scandentia. Katak kecil Microhyla sp., burung Madu Sriganti, dan Cekakak Sungai turut menyapa lensa pengamat. Setiap perjumpaan dicatat dengan cermat dalam dalam tally sheet, menjadi bukti nyata bahwa alam masih menyimpan denyut kehidupan liar yang memerlukan penjagaan. Flora di kawasan ini tak kalah mencengangkan. Pohon Jati, Kedondong Hutan, hingga Randu Alas menjulang kokoh, sementara tanaman bawah seperti Sambiloto dan Cincau Hijau menjadi penyaring kehidupan bawah tajuk. Beberapa pohon bahkan diukur tinggi dan lingkar batangnya sebagai bagian dari pendataan vegetasi. Pal batas di sekitar lokasi turut diperiksa. Hasilnya, seluruh tanda batas kawasan konservasi dilaporkan dalam kondisi baik dan tidak rusak. Kegiatan SMART Patrol kali ini juga mencatat nihilnya aktivitas ilegal di dalam maupun sekitar kawasan, menegaskan bahwa langkah-langkah perlindungan dan penyuluhan masyarakat penyangga yang dilakukan selama ini menunjukkan hasil yang positif. Goa Nglirip dan lanskap sekitarnya bukan hanya kawasan, melainkan benteng terakhir kawasan karst yang menjadi rumah bagi beberapa spesies yang diam-diam bergantung pada stabilitas ekosistem ini. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen BBKSDA Jatim dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan menjamin keberlangsungan habitat alami satwa liar di wilayah kerjanya.(dna) Sumber: Bidang KSDA Widlayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Antara Sosoran Babi Kutil dan Goresan Sang Primadona Bawean

Bawean, 21 Mei 2025. Saat pagi masih remang dan embun menggantung di ujung rerumputan, sekelompok penjaga alam melangkah perlahan menyusuri lereng hutan. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari memulai patroli SMART mereka pada Senin, 19 Mei 2025, di kawasan Sekang Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean. Langkah mereka tak sekadar mengitari kawasan. Mereka adalah pengawal lanskap yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati tinggi, tempat terakhir bagi spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di pulau ini. Pulau Bawean dikenal sebagai salah satu pusat endemisme di Indonesia (Whitten et al., 2000). Hanya di sini Rusa Bawean (Axis kuhlii), spesies langka dan primadona yang masuk kategori Critically Endangered menurut IUCN Red List (IUCN, 2024), hidup dalam ekosistem terbatas dan terfragmentasi. Jejak gesekan tanduk yang ditemukan menjadi bukti nyata bahwa satwa ini masih bertahan, meski terus berhadapan dengan tantangan degradasi habitat. Tim juga menemukan bekas sosoran Babi Kutil Bawean (Sus blouchi), spesies lain yang belum banyak diteliti, namun diperkirakan memiliki peran penting sebagai penebar benih dan pengatur struktur vegetasi bawah. Perjumpaan dengan beberapa jenis burung seperti Merbah Belukar (Pycnonotus plumosus) dan Raja Udang Punggung Merah (Ceyx rufidorsa) menunjukkan tingginya nilai keanekaragaman avifauna di lokasi tersebut. Mereka mencatat temuan flora yang beragam, mulai dari pohon besar, hingga tumbuhan bawah seperti Antidesma montanum dan Leea aculeata, yang merupakan bagian dari komunitas hutan dataran rendah tropis. Temuan yang paling menonjol adalah dua rumpun anggrek langka, Nervilia punctata dan Rhynchostylis retusa. Kedua spesies ini dikenal sangat sensitif terhadap perubahan mikrohabitat dan menjadi indikator stabilitas ekologis. Kegiatan patroli ini adalah bagian dari pendekatan Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART). Metode ini memadukan patroli lapangan dengan pencatatan sistematis berbasis spasial untuk meningkatkan efektivitas perlindungan kawasan. Bagi para anggota tim, Tally Sheet bukan hanya lembar kerja, melainkan naskah yang merekam denyut terakhir hutan yang mereka cintai. Hari itu, tidak ditemukan aktivitas ilegal. Namun sejatinya, keberhasilan bukan hanya pada nihilnya pelanggaran, tapi pada keberanian dan ketekunan mereka menapaki hutan, mencatat, dan melindungi. Di tengah keterbatasan logistik, ancaman perambahan, dan medan berat, semangat itu tetap utuh, menjaga yang liar tetap hidup, dan memastikan generasi berikutnya masih bisa mendengar nyanyian burung di antara kanopi Gunung Besar. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mengintip Alas Simpenan di Kediri, Cagar Alam 'Magis' Kaya Biodiversitas

Kediri, 18 Mei 2025. Memasuki alas simpenan Manggis Gadungan layaknya memasuki dimensi alam lain. Kami dibawa memasuki Kediri abad 19. Suasana sejuk di bawah naungan pohon pohon raksasa. Inilah Cagar Alam Manggis Gadungan, sebuah kawasan konservasi yang telah berdiri sejak 11 Juli 1919. Sesampainya di Pohon Bulu, kami laksana menyaksikan istana mistis singgasana para kalong, sesekali suara decitan Kalong menyapa gendang telinga. Di dasar hutan tak kalah semarak aneka bentuk dan warna jamur merajai lantai hutan yang lembab, tumbuh di kayu-kayu besar yang rebah maupun di serasah. Tak puas di dasar hutan, jamur juga tumbuh di ketinggian batang pohon mati yang masih tegak. Menapaki bekas jalan aspal yang membelah tepat di tengah kawasan, dapat disaksikan melodi indah alam bersuksesi. Aneka tumbuhan perintis berlomba-lomba menjangkau sinar mentari, hijau segar dan indah. Dan, Tutup memenangkan perlombaannya, disusul Jingkat, Berasan, Awar Awar, Kemaduh, baru tumbuhan lain. Begitu keluar simpenan, sengat terik matahari menyapa serasa membakar kulit. Bukti nyata bagaimana hutan dapat memberi manusia kesejukan, selain oksigen dan air jernih tak berbayar maupun indah pemandangan. Satwa pun dapat tinggal, makan, berinteraksi, dan istirahat dengan nyaman dan damai. (ak) Sumber: Siti Nurlaili, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Seksi KSDA Wilayah 1 Kediri – BBKSDA Jatim
Baca Berita

BBKSDA Jatim Gagalkan Pengiriman 168 Burung Manyar dari Bali

Banyuwangi, 18 Mei 2025. Suara nyaring Manyar Jambul pecah di antara kepanikan dan deru mesin bus. Sebuah pengiriman satwa liar dari Bali menuju Probolinggo dihentikan paksa oleh petugas Karantina Satpel Ketapang, Banyuwangi, 18 Mei 2025. Ditemukan sebanyak lima keranjang buah yang dijejali burung-burung kecil, total sebanyak 168 ekor Manyar Jambul (Ploceus manyar), yang tak sedang bermigrasi karena naluri, melainkan karena ulah manusia. Keranjang buah kembali menjadi media favorit untuk menyelundupkan kehidupan yang tak bersuara. Burung-burung ini dipaksa menumpang perjalanan antar pulau dalam wadah tak layak, minim ventilasi, dan tanpa belas kasih. Penyitaan ini segera ditindaklanjuti oleh Tim Matawali dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, BBKSDA Jatim. Dari hasil identifikasi, seluruh burung diketahui merupakan jenis yang belum masuk daftar satwa dilindungi. Namun status hukum bukan satu-satunya ukuran penderitaan. Enam ekor ditemukan mati dalam keranjang sempit, tubuh mungil mereka tak mampu menahan stres dan kekurangan oksigen. Sisanya, 162 ekor, masih hidup. Tapi tak seorang pun dapat menjamin semuanya akan bertahan hingga esok hari. Banyak dari mereka mungkin baru saja meninggalkan sarang, tapi kini Kembali kehilangan arah, dipaksa menjalani hidup sebagai peliharaan eksotik di kendang manusia. Sebagai langkah cepat, BKHIT Jatim Satpel Ketapang dan BBKSDA Jatim menetapkan tindakan penolakan masuk dan memutuskan untuk mengembalikan satwa-satwa tersebut ke Bali, guna dilepasliarkan kembali ke habitat asalnya. Upaya terakhir memulihkan kehormatan alam yang sempat dinodai. Di tengah kemajuan teknologi transportasi, nasib burung-burung kecil ini menjadi cermin bahwa satu hal tetap tak berubah, kekejaman manusia yang terus menyamarkan eksploitasi alam atas nama ekonomi dan hiburan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mantan Auditor di Kementerian Kehutanan Jadi Ahli A de Charge Terdakwa

3 orang Ahli A de Caharge Terdakwa diambil sumpah sebelum memberikan keterangan Medan, 19 Mei 2025. Sidang dugaan perkara korupsi alih fungsi kawasan hutan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut kembali bergulir pada Kamis (15/5) di Ruang Cakra Utama Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan, dengan agenda sidang masih mendengarkan Keterangan Ahli A de Charge (yang meringankan) terdakwa Alexander Halim alias Akuang dan Imran, S.PdI. Dari ketiga ahli yang diajukan Penasehat Hukum terdakwa, ada satu ahli yang menarik perhatian Jaksa Penuntut Umum (JPU) maupun pengunjung sidang. Ahli tersebut adalah Sudirman sebagai ahli Audit Kerugian Negara. Di awal penjelasannya Ahli menyatakan bahwa sebelumnya bekerja sebagai ASN di BPKP DKI Jakarta dan pernah selama lebih kurang 3 tahun diperbantukan menjadi Auditor di Kementerian Kehutanan. Berbekal pengalamannya, menurut pendapat Ahli bahwa apa yang disampaikan oleh Ahli yang diajukan JPU tentang terjadinya kerugian keuangan negara akibat pengalih fungsian kawasan hutan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut tidak benar karena Alexander Halim membeli lahan kebun kelapa sawit dan tidak membuka lahan hutan. Disamping itu kerugian keuangan negara yang dihitung Ahli JPU berupa hilangnya tegakan pohon dan penghitungan biaya pemulihan bukanlah real karena hanya berdasarkan asumsi saja. Menurutnya audit kerugian negara semestinya hanya menghitung kerugian negara tanpa ada pendapat atau opini yang disebut kajian. Kemudian tentang kerugian perekonomian negara, menurut Ahli tidak ada dasar hukumnya, karena tidak ada satu undang-undang pun yang menyebutkan pengertian dari kerugian perekonomian negara. Meskipun Majelis Hakim menyebutkan kalimat tersebut ada di Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, tapi Ahli berpendapat tidak ada penjelasannya. Menanggapi pendapat Ahli, JPU berpendapat bahwa Ahli Sudirman lah yang hanya berasumsi, karena ahli yang diajukan JPU telah melakukan pengukuran dan penilaian kerugian keuangan negara serta kerugian perekonomian negara berdasarkan data, fakta dan kajian ilmiah. Dibagian akhir mendengarkan keterangan Ahli, JPU menanyakan tentang statusnya sebagai ASN di BPKP, Ahli hanya menyebutkan bahwa ianya adalah Auditor. Ketika JPU mendesak dan mengajukan pertanyaan apakah Ahli sudah pensiun dari BPKP, Ahli pun menjawab bahwa ia berstatus Pensiun Dengan Tidak Hormat (PTDH) dari institusinya BPKP. Pernyataan Ahli ini sempat menimbulkan perdebatan, karena JPU menganggap Ahli tidak kredibel memberikan keterangan. Namun Majelis Hakim menghentikan perdebatan tersebut, dan melanjutkan sidang untuk mendengarkan keterangan ahli lainnya. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Menjaga Harmoni: Evaluasi Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Gajah di Benakat Semangus

Palembang, 16 Mei 2025. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan bersama PT Musi Hutan Persada (MHP) melaksanakan evaluasi terhadap progres pelaksanaan upaya mitigasi interaksi negatif antara manusia dan gajah di areal kerja PT MHP dan sekitarnya pada Jumat, 16 Mei 2025 di kantor BKSDA Sumatera Selatan. Areal kerja PT MHP berada dalam cakupan Kantong Habitat Benakat Semangus, yang secara administratif terletak di lima kabupaten yaitu Musi Rawas, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Lahat, dan Muaraenim Provinsi Sumatera Selatan. Kantong Habitat Benakat Semangus merupakan kantong potensial bagi hidupan liar gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan luas 259.801,57 ha. Berdasarkan kondisi tutupan lahan, kantong ini didominasi hutan tanaman dan pertanian lahan kering, termasuk di dalamnya merupakan areal kerja PT MHP. Upaya mitigasi ini, merupakan tindak lanjut dari laporan kejadian interaksi negatif antara manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di areal kerja PT MHP dan sekitarnya pada tanggal 12 Februari 2025. Selanjutnya, setelah dilakukan pendampingan dan field visit di lokasi kejadian interaksi negatif tersebut, pada tanggal 27 Februari 2025 dilakukan pembahasan mengenai urgensi pembentukan Posko Tim Darurat sebagai respons cepat terhadap situasi interaksi negatif yang terjadi, agar penanganan dapat dilakukan segera dan risiko dapat diminimalkan. Posko Tim Darurat yang dibentuk, melibatkan unsur dari pegawai PT MHP, TNI, dan BKSDA Sumatera Selatan sebagai bentuk sinergi dalam penanganan interaksi negatif manusia dan gajah liar secara terpadu. Tim bertugas melakukan patroli, sosialisasi, dan penghalauan selama proses mitigasi dilakukan dengan mempedomani Panduan Kerja Posko Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Gajah di wilayah kerja PT Musi Hutan Persada yang telah disusun secara bersama-sama. Kegiatan mitigasi tersebut telah berlangsung selama satu bulan terakhir, dan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan, teridentifikasi tiga aspek utama yang memerlukan tindak lanjut strategis, yaitu: Kepala BKSDA Sumatera Selatan Teguh Setiawan menyampaikan bahwa upaya evaluatif ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas intervensi di lapangan serta memperkuat sinergi multipihak dalam mitigasi interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di lanskap yang sensitif secara ekologis. Dalam bahasan evaluasi ini, terdapat sejumlah upaya prioritas yang perlu ditindaklanjuti, meliputi penguatan sistem penjagaan lapangan, pemanfaatan teknologi (GPS Collar), edukasi dan penyebaran informasi, pembangunan infrastruktur fisik, penguatan kelembagaan mitigasi, serta pengelolaan lanskap yang ramah gajah. “Harapan kami, upaya-upaya prioritas ini dapat segera ditindaklanjuti agar potensi interaksi negatif antara manusia dan gajah dapat dicegah sedini mungkin”, terang Teguh. Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Usaha Kelompok Konservasi Sejahtera, Peran Masyarakat Dukung Upaya Konservasi di BBKSDA Jatim

Pasuruan, 17 Mei 2025. Pagi itu sedikit berkabut saat kami mulai beranjak menuju pelosok sebuah desa di tepi Cagar Alam Gunung Abang. Sebuah desa yang Bernama Kedungpengaron, desa yang kering yang berada di Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Di desa inilah kelompok binaan Balai Besar KSDA Jawa Timur Bernama Kelompok Konservasi Sejahtera yang memulai usaha budidaya ayam petelur sejak tahun 2023. Pada tahun pertama, kelompok ini hanya mampu menjual 1 produk saja, yakni telur ayam. Namun, di tahun kedua ini mereka telah menjual 2 produk, telur ayam dan kotoran ayam. Nilai transaksi ekonomi (NTE) rata-rata pada tahun kedua kelompok ini sebesar Rp. 8.000.000,-/bulan. NTE tahun kedua ini meningkat 25% dibandingkan tahun pertama yang hanya dikisaran Rp. 6.500.000,-/bulan. Hal ini tidak lepas dari upaya kelompok telah mengadaptasikan ayam petelurnya dengan pakan yang mereka racik sendiri. Usaha ekonomi kelompok ini tentunya tidak berjalan mulus, banyak hambatan yang harus mereka hadapi. Diantaranya stress pada ayam petelur karena fluktuasi suhu yang cukup signifikan di wilayah Desa Kedungpengaron. Lalu, adanya hama seperti ular dan biawak yang memakan indukan ayam petelur, melejitnya harga bahan baku pakan, dan indukan ayam menuju usia afkir setelah 2 tahun. Hambatan-hambatan di atas tentu berdampak pada penurunan produksi telur ayam sebesar 36% sejak pertengahan April 2025. Jika pada hari biasanya produksi mampu mencapai 11 kg/hari, tapi mulai pertengahan April 2025 hingga kini merosot ke angka 7 kg/hari. Kelompok tak mau begitu saja menyerah, mereka berupaya untuk melakukan sanitasi lingkungan agar gangguan hama berkurang. Serta, berencana untuk mengganti indukan ayam afkir dengan induk yang baru agar produksi telur dapat kembali meningkat. Selain menerapkan aktivitas kelola usaha ekonomi, Kelompok Konservasi Sejahtera – Desa Kedungpengaron juga turut serta dalam aktivitas kelola kawasan konservasi. Mereka aktif berpartisipasi dalam eradikasi Cagar Alam Gunung Abang dan penilaian efektivitas pengelolaan Cagar Alam. Sumber : Veve Ivana Pramesti, Penyuluh Kehutanan Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo – BBKSDA Jatim
Baca Berita

Penyelamatan Satwa di Madiun, 19 Satwa Liar Berhasil Dievakuasi

Madiun, 15 Mei 2025. Sebanyak 19 ekor satwa liar berhasil dievakuasi dari wilayah Madiun dan sekitarnya dalam operasi penyelamatan yang dilakukan selama Maret hingga Mei 2025. Penyerahan satwa dilakukan pada Kamis, 15 Mei 2025, oleh organisasi Jaga Satwa Indonesia (JSI) kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Dari jumlah tersebut, 13 ekor diantaranya merupakan Ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus), hasil penyelamatan dari berbagai lokasi pemukiman dan pinggiran hutan kota. Satwa-satwa ini dimitigasi oleh tim JSI dan Bidang KSDA Wilayah I Madiun sebagai bagian dari kegiatan rutin penanganan konflik dan penyelamatan satwa liar yang masuk ke kawasan padat penduduk. Selain sanca, turut dievakuasi pula Burung Bubut Jawa (Centropus nigrorufus), Serak Jawa (Tyto alba) masing-masing satu ekor, dua ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), dan dua ekor Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix). Seluruh satwa kemudian dibawa ke Kandang Transit Satwa BBKSDA Jatim di Sidoarjo oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU), untuk mendapatkan perawatan dan observasi lanjutan. “Kegiatan ini bagian dari upaya kolektif bersama para pihak dan masyarakat untuk mengurangi risiko interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di Kawasan urban,” kata Agustinus Krisdijantoro, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun, dalam laporan resminya. Satwa-satwa tersebut direncanakan akan menjalani proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya, dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kelayakan ekologis bagi satwa dan manusia. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Seekor Elang Alap Jambul Diserahkan ke BBKSDA Jatim, Hasil Perdagangan Ilegal

Situbondo, 13 Mei 2025. Operasi penyelamatan satwa liar kembali membuka tabir suram perdagangan ilegal yang kini merambah ruang digital. Seekor elang-alap jambul (Lophospiza trivirgata), salah satu penjelajah langit yang dilindungi undang-undang di Indonesia, berhasil diamankan dari upaya jual beli secara online di wilayah Situbondo, Jawa Timur. Burung pemangsa yang dikenal karena ketajaman tatapannya dan jambul khas di kepalanya itu kini dalam perawatan intensif di Kantor Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi. Satwa diserahkan oleh Polres Situbondo kepada tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, BBKSDA Jatim. Penyerahan dilakukan pada Selasa, 13 Mei 2025, disertai dengan pemberian keterangan ahli oleh Nurul Huda Sani - Kepala RKW 13, yang menguatkan status hukum satwa sebagai bagian dari jenis dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kasus ini sekaligus menambah daftar panjang praktik perdagangan satwa liar (TSL) melalui dalam jaringan (daring), yang kian mengancam keberadaan fauna endemik Nusantara. Tim Matawali BBKSDA Jatim kini terus memantau kondisi satwa tersebut. Elang-alap jambul yang disita ini diduga ditangkap secara ilegal dari habitat alaminya, lalu dipasarkan lewat platform digital, menunjukkan betapa dunia maya telah menjadi ladang subur bagi para pelaku kejahatan satwa liar. Kasus ini menjadi peringatan tegas bahwa kejahatan terhadap satwa liar bukan hanya ancaman terhadap keanekaragaman hayati, tapi juga keberlangsungan masa depan generasi mendatang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kolaborasi Senyap Mengawal Keselamatan Penerbangan Haji di Langit Juanda

Sidoarjo, 14 Mei 2025. Saat jutaan harapan menggema di antara deru mesin pesawat yang membawa para jemaah haji menuju Tanah Suci, satu prioritas utama terus dijaga tanpa henti - keselamatan penerbangan. Di balik layar bandara tersibuk di Jawa Timur, kolaborasi senyap antara Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 08 Bandara, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Tim Wildlife Hazard Management (WHM) API Juanda terus berlangsung demi memastikan langit tetap bersih, jalur udara tetap aman. Musim keberangkatan haji menandai puncak aktivitas bandara. Untuk itu, kedua tim melakukan pemantauan intensif di sejumlah titik strategis, terutama area batas perimeter yang bersentuhan langsung dengan lanskap vegetatif alami seperti semak dan perdu. Kawasan ini diketahui menjadi habitat satwa liar tertentu, termasuk satwa nokturnal, yang tertarik dengan kelimpahan pakan alami seperti serangga malam. Melalui pendekatan preventif, tim gabungan menyusun langkah mitigasi terpadu, dengan mengdentifikasi titik-titik rawan berdasarkan pola aktivitas satwa, mengelola habitat habitat melalui pemangkasan vegetasi liar guna mengurangi daya tarik ekologis di sekitar landasan pacu serta monitoring berkala menjelang malam hari, untuk memastikan tidak terjadi peningkatan aktivitas fauna liar di jalur operasional pesawat. “Ini kerja sunyi yang penuh konsentrasi. Tujuan kami satu, memastikan setiap keberangkatan, khususnya di musim haji ini, berlangsung dengan tenang dan selamat,” ungkap Adnan Aribowo, Polhut Ahli Muda selaku Kepala RKW 08 Bandara. Langkah-langkah ini merupakan wujud sinergi konservasi dan keselamatan transportasi udara. Bukan sekadar penanganan, tetapi pengendalian berbasis ekologi yang mempertimbangkan keseimbangan alam sekaligus keamanan manusia. Ketika setiap kursi pesawat membawa doa dan harapan menuju Baitullah, upaya di balik layar seperti ini menjadi penjaga sunyi yang memastikan semua berjalan aman. Langit Juanda tak hanya menjadi saksi keberangkatan, tapi juga medan bagi mereka yang memastikan setiap penerbangan bebas dari risiko yang tak terlihat. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Warga Gresik Keluhkan Monyet Ekor Panjang Berkeliaran di Pemukiman, BBKSDA Jatim Lakukan Ini

Gresik, 9 Mei 2025. Di sebuah sudut tenang Desa Sumput, Kecamatan Driyorejo,suasana sore biasanya diisi lantunan bacaan anak-anak mengaji. Namun beberapa hari terakhir, ketenangan itu terusik oleh kehadiran dua ekor Monyet Ekor Panjang. Mereka bukanlah penghuni liar hutan, melainkan peliharaan yang menjadi sumber keresahan. Monyet jantan dan betina itu sempat melukai dua anak kecil yang tengah bermain tak jauh dari musala. Ketakutan pun menjalar. Bukan karena benci pada satwa, tapi karena khawatir akan keselamatan anak-anak. Warga mulai bertanya, sampai kapan keberadaan hewan ini bisa ditoleransi? Pada Jumat, 9 Mei 2025, jawaban itu datang. Tim Matawali dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Mojokerto bersama Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur turun langsung ke lapangan. Mereka tak datang membawa paksa, melainkan pemahaman. Melalui dialog hangat bersama pemilik dan tokoh masyarakat setempat, mereka menjelaskan risiko zoonosis, potensi bahaya interaksi antara satwa dan manusia, serta pentingnya memberi ruang hidup yang tepat bagi makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Pemiliknya, Agus Pamuji, akhirnya luluh. Ia menyerahkan kedua monyet itu secara sukarela, bukan karena terpaksa, tapi karena memahami. Tindakan kecil ini menjadi langkah besar dalam menciptakan harmoni antara manusia dan satwa liar. Meski monyet ekor panjang bukan termasuk satwa yang dilindungi secara nasional, statusnya dalam Appendix II CITES mengingatkan bahwa perdagangannya tetap harus diawasi ketat. Kini, kedua satwa tersebut berada di bawah pengawasan Tim WRU BBKSDA Jatim untuk penanganan lebih lanjut, dengan harapan mereka dapat kembali hidup lebih sesuai dengan naluri alaminya bersama pendahulunya. Kisah ini bukan hanya tentang satwa yang diserahkan. Ini adalah potret tentang bagaimana rasa tanggung jawab, edukasi, dan empati bisa mengubah jalan cerita. Tentang bagaimana kehadiran negara, bukan untuk menghukum, tetapi untuk mendampingi dan menjaga, bisa membuahkan keputusan yang baik bagi semua pihak. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 433–448 dari 11.141 publikasi