Sabtu, 2 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penanaman Mangrove dalam Rangka Pemulihan Ekosistem di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean

Ampana, 25 November 2019. Mangrove adalah suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap salinitas. Hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat secara fisik, ekologis dan ekonomis. Secara fisik manfaat mangrove antara lain, sebagai perlindungan terhadap sedimentasi, abrasi dan instrunsi air laut, penahan badai dan angin yang bermuatan garam, serta untuk menurunkan emisi karbon. Secara ekologis hutan mangrove berfungsi sebagai tempat hidup, perlindungan dan sumber pakan bagi biota laut dan spesies yang ada di sekitarnya. Sedangkan secara ekonomis hutan mangrove berfungsi sebagai tempat rekreasi wisata, sumber bahan baku untuk bangunan dan kayu bakar serta sebagai sumber mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan penangkap ikan, udang, kepiting dan lainnya. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) bersama dengan Perwakilan Koramil, Perwakilan Polsek Wakai, Camat Una una, Camat Togean, Kepala Desa Muara Bandeng, Sekretaris Desa Loe serta masyarakat Desa Muara Bandeng, Desa Katupat dan Anak-anak SD Desa Loe telah melaksanakan Kegiatan Penanaman Mangrove dalam rangka pemulihan ekosistem di kawasan TNKT pada tanggal 23 s/d 24 November 2019. Sebanyak ±8500 bibit ditanam di lahan seluas ±6 ha di kawasan SPTN Wilayah I,II dan III. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TNKT, Ir. Bustang dan setelah pembukaan kegiatan penanaman dilakukan langsung oleh Kepala Balai TNKT bersama undangan serta masyarakat yang hadir. Pelaksanaan kegiatan penanaman mangrove dilakukan dengan teknik pembibitan dan penanaman dengan menggunakan metode pengayaan. Pembibitan dilakukan dengan menanam seedling dalam polibag yang sudah diisi tanah. Jenis bibit yang ditanam adalah Rizhopora Mucronata dan Rizhopora Stylosa. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam bibit mangrove bervariasi mulai dari 1mx1m, 2mx2m, hingga 2mx5m. Adapun penanaman mangrove yang telah dilaksanakan bertujuan untuk pemulihan ekosistem mangrove di kawasan TNKT. Terkait dengan hal tersebut Ir. Bustang selaku Kepala Balai TNKT dalam sambutannya mengungkapkan “Kegiatan penanaman mangrove dalam rangka pemulihan ekosistem ini diharapkan dapat memulihkan atau memperbaiki kualitas serta mempertahankan hutan mangrove, kegiatan ini juga diharapkan dapat mengembalikan fungsi dan manfaat hutan mangrove baik secara fisik, ekologis dan ekonomis. Dengan adanya kegiatan penanaman ini masyarakat diharapkan untuk ikut serta dalam menjaga ekosistem mangrove di kawasan Kepulauan Togean.” Diakhir sambutannya Kepala Balai TNKT menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang terlibat dan ikut serta menyukseskan kegatan ini dan berharap kegiatan ini dapat memberikan motivasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait kelestarian hutan dan lingkungannya. Sumber : Khoirum Min Alfiyani – Calon PEH Balai Taman Nasional Kepuluan Togean
Baca Berita

Komunitas 1000 Guru Sultra Berwisata sambil Mengajar di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Kendari, 25 November 2019. Komunitas 1000 guru Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan kunjungan wisata sekaligus mengajar di wilayah mayarakat pemanfaat zona tradisional Hukaea Laea yang terletak di Desa Watu - Watu Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana. Zona tradisional Hukaea Laea merupakan salah satu zona tradisional yang berada dalam kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang didalamnya terdapat masyarakat yang memanfaatkan potensi alam secara tradisional dengan aturan yang mengikat secara adat. Kegiatan wisata sekaligus mengajar itu digelar selama tiga hari mulai Jumat (22/11/2019) hingga hari ini Minggu (24/11/2019). Sejumlah agenda yang dilaksanakan oleh komunitas tersebut mulai dari proses belajar mengajar, donasi pendidikan dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat, diskusi bareng di Breeding Insitu Rusa Timor. Kemudian travelling di Hutan Mangrove serta mengunjungi komunitas masyarakat pemanfaaat zona tradisional mangrove di Muara Lanowulu. Ketua Komunitas 1000 Guru Sultra Andi Muhammad Rahmat menjelaskan bahwa Komunitas 1000 Guru sultra merupakan komunitas yang bergerak dalam pendidikan di daerah terpencil atau pedalaman dengan program utama travelling dan teaching, selain itu juga ada kegiatan smart center dan sharing knowladge. Menurutnya pemilihan lokasi kegiatan 1000 Guru untuk program Traveling and Teaching sangat sesuai apabila dilaksanan di dalam atau sekitar kawasan TNRAW. Pasalnya selain memiliki potensi flora, fauna dan jasa lingkungan yang harus dijaga serta dilindungi keberlangsungannya. Kawasan ini juga berbatasan dengan banyak desa penyangga, yang mana masyarakat lokal di wilayah itu membutuhkan bantuan para relawan muda yang bergabung dalam 1000 Guru. “Ya kita dalam menentukan lokasi mempertimbangkan dari beberapa aspek seperti medan menuju ke lokasi, kondisi masyarakat dan anak - anaknya dan menurut kami hukaea laea sangat recomended untuk pelaksanaan kegiatan ini,” ungkapnya saat ditemui di lokasi kegaiatan, Minggu (24/11/2019). Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II TNRAW Benny E Purnama menyampaikan apresiasinya kepada komunitas 1000 guru Sultra. Bahwa peran 16 orang yang ikut dalam kegiatan ini terdiri dari berbagai macam profesi mulai dari tenaga pengajar hingga dokter. “Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih karena telah memberikan sumbangsih dalam bentuk kegiatan belajar kepada masyarakat adat Hukaea,” kata Benny. Ia berharap komunitas 1000 Guru Sultra dapat mengedukasi masyarakat Hukaea, dalam hal konservasi dan pendidikan lingkungan. Memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang potensi TNRAW sebagai sistem penyangga kehidupan. Hal lain komunitas itu dapat memberikan saran dalam pengembangan kerjasama Masyarakat Adat Hukaea dan Balai TNRAW. Kerjasama itu telah digagas bulan lalu antara Kepala Balai TNRAW dan Ketua Adat Hukaea Laea tentang pengembangan wisata yang diintegrasikan dengan keberadaan dan Adat Istiadat Masyarakat Hukaea Laea. Sementara itu dalam kunjungan ke Muara Lanowulu mereka melakukan survey awal lokasi, agar kegiatan serupa dapat dilakukan ditempat tersebut utamanya kepada anak-anak nelayan yang notabene masih duduk di bangku sekolah. Tapi karena membantu orang tuanya bekerja akhirnya mereka ikut bermukim di Muara Lanowulu. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Pemeliharaan Berkala Senjata Api Balai Besar KSDA Sulsel

Makassar, 23 November 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan selaku UPT yang berada di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pemeliharan senjata api berkala pada Jumat, 22 November 2019. Pemeliharaan senjata api (atau perawatan senjata pendek) merupakan serangkaian prosedur pemeliharaan preventif berkala yang bertujuan untuk memastikan fungsi yang tepat dari senjata api dan mendata kembali kondisi senjata api. Dari hasil Pemeliharaan berkala senpi yang telah dilakukan sebanyak 29 pucuk jenis PM 1A1 dan 5 pucuk jenis JOVKA CZ 32 MM. untuk peluru atau amunisi PM 1 A1 9 MM X 21 Sof point MU _9UL .Sebanyak 926 butir dan CZ Caliber 32 mm sebanyak 500(lima ratus) Butir serta Magazen PM 1A1 /9 MM Sebanyak 43 buah dan Magazen Jovka CZ 32 MM sebanyak 10 Buah. Kondisi semua senpi atau sejnata api dalam keadaan baik dan jumlah yang cukup sesuai data yang ada. Dalam pemeriksaan berkala ini, Ir Thomas Nifinluri, M.Sc selaku kepala Balai menyampaikan “untuk kedepannya kegiatan penyegaran menembak akan dilakukan 2 kali dalam setahun dengan alternatif di Polda, Brimob dan atau SPN Batua kepada Polhut-polhut kita. Ini dilakukan karena salah satu tupoksi kita adalah melakukan pengamanan Kawasan Konservasi dengan segala resiko didalamnya” Terang Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Husain. SH
Baca Berita

Sosialisasi Reformasi Birokrasi Lingkup BBKSDA Sulsel

Makassar, 21 November 2019. Pada Rabu (20/11) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan selaku UPT yang berada di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat internal tentang penyederhanaan eselonisasi di beberapa tingkatan. Rapat ini merupakan bentuk sosialisasi Reformasi Birokrasi yang dilakukan secara tatap muka. Giat ini bertempat di Ruang Rapat Anoa BBKSDA Sulsel dihadiri oleh Kepala Balai, pejabat struktural eselon III dan IV dan pejabat fungsional . Dalam rapat ini, Ir Thomas Nifinluri, M.Sc selaku kepala Balai menyampaikan bahwa perubahan struktur organisasi perlu beberapa pertimbangan dan pencermatan. Salah satu langkah awal adalah dengan melakukan pemetaan, analisis jabatan dan analisis beban kerja. Pengalihan jabatan struktural ke dalam jabatan fungsional tentunya dengan melihat relevansi tugas dan fungsi UPT. Mengacu pada Keputusan Menteri LHK Nomor SK 985/MENLHK/SETJEN/OTL.0/11/2019 tentang Penataan Kelembagaan KLHK tahun 2019-2024, proses penataan ini berlangsung mulai November 2019 hingga Oktober 2020 dengan output transformasi jabatan secara nasional. Pejabat struktural diusulkan akan beralih ke jabatan fungsional Polisi Kehutanan, Penyuluh Kehutanan, Pengelola Pengadaan Barang/Jasa, Analis Kepegawaian dan Pranata Humas. Jabatan fungsional tersebut sesuai dengan jabatan yang dibutuhkan di BBKSDA Sulawesi selatan dan disesuaikan dengan bidang kerja dalam jabatan struktural. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Husain. SH
Baca Berita

Petugas TN Matalawa Selamatkan Jenis Burung Dilindungi.

Waikabubak, 22 November 2019. Penyebab maraknya aktivitas perdagangan satwa di kota Waikabubak meskipun dalam skala kecil atau perorangan karena ketidaktahuan masyarakat terhadap jenis-jenis burung yang dilindungi, sehingga alih-alih menyerahkan burung temuan mereka kepada petugas berwenang justru masyarakat berpikir untuk memelihara atau menjual burung temuan tersebut. Seperti yang terjadi pada beberapa hari lau, ibu paruh baya mendatangi kediaman Kepala SPTN Wilayah I, Waibakul, Abdul Basit Nasriyanto, untuk menawarkan burung tersebut. Sebagai langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran terhadap pelaku maka diberikan penyuluhan atau pembinaan bahwa tindakan yang dilakukan adalah tidak benar dan burung yang dia bawa adalah jenis dilindungi yang tidak boleh untuk diperdagangkan, sehingga nantinya tidak akan mengulangi kembali perbuatannya. Berdasarkan hasil identifikasi petugas Taman Nasional Matalawa jenis burung cantik dengan warna bulu berwarna warni adalah Paok Laos (Pitta elegans). Jenis burung ini lebih sering berjalan di tanah, mengorek semak untuk mencari makan. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi telah ditetapkan 912 jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi termasuk di dalamnya 564 jenis burung. Salah satunya adalah jenis ini yaitu Pitta elegans dari family Pittidae. Kondisi satwa masih sangat sehat sehingga petugas taman nasional keesokan harinya langsung melakukan pelepasliaran satwa burung tersebut ke alam. Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

Hari Guru : Resort Pastim dan Pasteng SPTN Wilayah 2 Kolaborasi Pendidikan Konservasi

Kepulauan Selayar, 25 November 2019. Untuk memperingati hari Guru Nasional yang bertepatan hari ini (25/11/2019). Sabtu kemarin (23/11) telah dilaksanakan giat pendidikan konservasi kepada siswa/i SMPN 31 Kepulauan Selayar yang bertempat di Pusat Informasi, Resort Pasitallu Timur. Walaupun tempatnya sederhana, siswa - siswa nampak serius dan menikmati proses belajar - mengajar. Giat diawali dengan penyampaian materi dari Kepala Resort Pasitallu Timur Hendra Marannu, tentang akan pentingnya pendidikan dan semangat konservasi bagi generasi muda. Dilanjutkan dengan materi mengenai ekosistem laut dan sifat-sifatnya oleh Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pertama, Khoirul Anam. Selain materi, kegiatan juga di isi dengan permainan-permainan menarik untuk membangun keakraban, kekompakan para peserta didik serta di akhir materi ada ajang sesi tanya jawab. Pendidikan konservasi ini akan digalakkan 2 kali dalam sebulan dan mengkolaborasikan dengan resort yang berdekatan yaitu Resort Pasitallu Tengah. "Kami akan mencoba dalam sebulan membuka pendidikan konservasi di tempat ini buat adik-adik kami di dua desa ini, Tambuna dan Pasitallu, kalaupun situasi tidak memungkinkan kami yang akan berkunjung ke sekolahnya" Jelas Hendra Marannu Selanjutnya kami akan berdiskusi dengan Kepala Sekolah dan Guru, agar kedepannya pelajaran muatan lokal (mulok) yang ada di sekolah dapat rutin diisi dengan materi pendidikan konservasi oleh para pejabat fungsional di kedua resort ini. Dengan digalakkannya giat ini tentunya dengan menyajikan variasi materi yang dapat membangun semangat dan jiwa konservasi para peserta didik dan situasi diluar ruangan, sehingga lebih mengenal langsung lingkungannya. Dengan terlibatnya petugas lapangan dalam dunia pendidikan di tingkat desa dapat membantu sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pengajar dalam kawasan TN Taka Bonerate. Selamat Hari Guru dari Sabang Sampai Merauke... Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai TN Taka Bonerate Foto : Khoirul Anam & Hendra Marannu
Baca Berita

Tahun Ini Temu Pusaka Indonesia Digelar di Toraja Dan Makassar

Makassar, 25 November 2019. Tahun ini Temu Pusaka Indonesia (TPI) 2019 yang diselenggarakan di Toraja dan Makassar, 22-26 November 2019 mengangkat tema “Meneguhkan Pelestarian Pusaka Saujana Indonesia.” Pertemuan tahunan para pelestari dari berbagai daerah ini diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI/Indonesian Heritage Trust) bersama mitra-mitra pelestari antara lain ; Yayasan ARSARI Djojohadikusumo, ManMa Unhas, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, serta didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Toraja Utara. “Tema TPI tahun ini sangat tepat untuk mengingatkan komitmen bersama terhadap spirit pelestarian yang telah dicanangkan BPPI 15 tahun yang lalu,” ungkap Catrini Pratihari Kubontubuh, Ketua Dewan Pimpinan BPPI pada pembukaan acara di Museum Ne’Gandeng, Toraja Utara. “Pemahaman akan caracara melestarikan alam semakin hari semakin membukakan mata kita bahwa alam dilestarikan melalui tradisi nilai dan kearifan yang telah diwariskan oleh para leluhur,” imbuh Catrini. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan Thomas Nifinluri bersama Kepala Balai Taman Nasional Taka bonerate Faat Rudhianto mewakili Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Temu Pusaka Indonesia 2019 di Rantepao, Toraja Utara, Sulsel. Pembukaan acara ini dilaksanakan di area hijau perbukitan yang dikitari oleh tongkonan, rumah adat khas Toraja diawali dengan Pidato Kunci oleh Wiratno, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang sangat mengapresiasi berbagai inisiatif masyarakat dalam melestarikan alam melalui tradisi setempat di berbagai daerah peserta TPI. “Pemerintah senantiasa berupaya mewadahi terintegrasinya pelestarian saujana yang meliputi alam dan budaya dalam berbagai bidang pembangunan,” tegasnya. Pembicara dalam sesi seminar memaparkan pengalaman pelestarian saujana dari berbagai daerah antara lain Toba, Dayak-Krayan, Buton, Bajo, Bali, Trowulan, Borobudur, Yogyakarta, dan Alas Purwo, “Keberlanjutan pelestarian ada di pundak kita semua dengan peran kita masing-masing di lokus lingkungan kita sendiri untuk merajut bersama mozaik saujana Indonesia,” ucap Laretna Adishakti dari Universitas Gadjah Mada yang juga memberikan pidato kunci. TPI 2019 yang berlangsung selama lima hari diikuti oleh lebih dari 150 peserta dari berbagai latar belakang minat pelestarian termasuk siswa-siswi sekolah setempat yang sangat antusias mengikuti rangkaian acara yang terdiri dari seminar, jelajah pusaka, temu mitra pelestari, dan kelas kuliah pelestarian pusaka. “Mari kita segarkan semangat untuk mengawal kelestarian pusaka Indonesia, berbagi cerita sukses dan pengalaman jatuh bangun dalam upaya pelestarian di berbagai daerah masing-masing dalam Temu Pusaka Indonesia 2019,” terang Marthina Leony, Ketua Panitia TPI 2019 Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Husain. SH
Baca Berita

Komunitas 1000 Guru Sultra Berwisata dan Mengajar di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Kendari, 25 November 2019. Komunitas 1000 guru Sulawesi Tenggara (Sultra) melakukan kunjungan wisata sekaligus mengajar di wilayah mayarakat pemanfaat zona tradisional Hukaea Laea yang terletak di Desa Watu - Watu Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana. Zona tradisional Hukaea Laea merupakan salah satu zona tradisional yang berada dalam kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang didalamnya terdapat masyarakat yang memanfaatkan potensi alam secara tradisional dengan aturan yang mengikat secara adat. Kegiatan wisata sekaligus mengajar itu digelar selama tiga hari mulai Jumat (22/11/2019) hingga hari ini Minggu (24/11/2019). Sejumlah agenda yang dilaksanakan oleh komunitas tersebut mulai dari proses belajar mengajar, donasi pendidikan dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat, diskusi bareng di Breeding Insitu Rusa Timor. Kemudian travelling di Hutan Mangrove serta mengunjungi komunitas masyarakat pemanfaaat zona tradisional mangrove di Muara Lanowulu. Ketua Komunitas 1000 Guru Sultra Andi Muhammad Rahmat menjelaskan bahwa Komunitas 1000 Guru sultra merupakan komunitas yang bergerak dalam pendidikan di daerah terpencil atau pedalaman dengan program utama travelling dan teaching, selain itu juga ada kegiatan smart center dan sharing knowledge. Menurutnya pemilihan lokasi kegiatan 1000 Guru untuk program Traveling and Teaching sangat sesuai apabila dilaksanan di dalam atau sekitar kawasan TNRAW. Pasalnya selain memiliki potensi flora, fauna dan jasa lingkungan yang harus dijaga serta dilindungi keberlangsungannya. Kawasan ini juga berbatasan dengan banyak desa penyangga, yang mana masyarakat lokal di wilayah itu membutuhkan bantuan para relawan muda yang bergabung dalam 1000 Guru. “Ya kita dalam menentukan lokasi mempertimbangkan dari beberapa aspek seperti medan menuju ke lokasi, kondisi masyarakat dan anak - anaknya dan menurut kami hukaea laea sangat recomended untuk pelaksanaan kegiatan ini,” ungkapnya saat ditemui di lokasi kegaiatan, Minggu (24/11/2019). Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II TNRAW Benny E Purnama menyampaikan apresiasinya kepada komunitas 1000 guru Sultra. Bahwa peran 16 orang yang ikut dalam kegiatan ini terdiri dari berbagai macam profesi mulai dari tenaga pengajar hingga dokter. “Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih karena telah memberikan sumbangsih dalam bentuk kegiatan belajar kepada masyarakat adat Hukaea,” kata Benny. Ia berharap komunitas 1000 Guru Sultra dapat mengedukasi masyarakat Hukaea, dalam hal konservasi dan pendidikan lingkungan. Memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang potensi TNRAW sebagai sistem penyangga kehidupan. Hal lain, komunitas itu memberikan saran dalam pengembangan kerjasama Masyarakat Adat Hukaea dan Balai TNRAW. Kerjasama itu telah digagas bulan lalu antara Kepala Balai TNRAW dan Ketua Adat Hukaea Laea tentang pengembangan wisata yang diintegrasikan dengan keberadaan dan Adat Istiadat Masyarakat Hukaea Laea. Sementara itu dalam kunjungan ke Muara Lanowulu mereka melakukan survey awal lokasi, agar kegiatan serupa dapat dilakukan ditempat tersebut utamanya kepada anak-anak nelayan yang notabene masih duduk di bangku sekolah. Tapi karena membantu orang tuanya bekerja akhirnya mereka ikut bermukim di Muara Lanowulu. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Balai KSDA Jambi Hadiri Rakornis Pengelolaan Media Sosial KLHK

Jakarta, 21 November 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi mengikuti kegiatan Rakornis Pengelolaan Media Sosial yang dilaksanakan Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka monitoring pelaksanaan keterbukaan informasi publik. Kegiatan bertempat di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti Jakarta Pusat dihadiri berbagai narasumber diantaranya Ahli Bahasa Ivan Lanin, Admin Media Sosial KemenPUPR Nanda Amalia, Fotografer Senior Kompas Arbain Rambey, Tim Ahli Menteri Bidang Komunikasi Digital dan Media Sosial KLHK Afni Zulfikli. Kegiatan Rakornis ini diikuti semua UPT Lingkup KLHK seluruh Indonesia. Kegiatan Rakornis Media Sosial ini bertujuan untuk menambah wawasan para admin media sosial seluruh UPT lingkup KLHK dalam pengelolaan media sosial UPT masing-masing. Media sosial merupakan penghubung antara kementerian dengan masyarakat luas. Dijaman teknologi seperti ini, media sosial merupakan suatu hal yang sangat mudah diakses dengan berbagai macam pilihan media sosial yang ada seperti facebook, instagram, twitter, dll. Dalam pengelolaannya, para peserta rakornis yang merupakan admin media sosial diajarkan bagaimana cara menarik minat masyarakat agar mau mengetahui tentang postingan, membalas pesan dan kritik yang diterima, memahami penulisan yang baku namun tidak kaku dan tips lainnya yang nantinya akan digunakan oleh admin media sosial masing-masing UPT dalam pengelolaan media sosial kantor. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh mengatakan “Kami Balai KSDA Jambi sudah mengikuti Rapat Kordinasi Teknis Pengelolaan Media Sosial yang dilaksanakan oleh KLHK, dengan adanya kegiatan ini kami berharap semua media sosial di lingkup KemenLHK dapat lebih berkembang dan para admin media sosial bertambah pengetahuan mereka tentang bagaimana mengelola media sosial secara baik dan benar.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

WORKSHOP METT: Evaluasi Pengelolaan Kawasan Konservasi

Banjarbaru, 20 November 2019. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dengan perangkat Manajemen Effectiveness Tracking Tool (METT) atau yang biasa disingkat METT adalah kegiatan untuk mengevaluasi sejauh mana upaya pengelolaan suatu kawasan konservasi dilakukan telah dilaksanakan, apakah sudah efektif atau masih harus ditingkatkan. Upaya pemantauan terhadap kondisi pengelolaan kawasan konservasi telah dikembangkan oleh beberapa lembaga di dunia. METT sendiri merupakan salah satu dari sekian perangkat evaluasi yang telah digunakan secara luas. METT dihasilkan oleh Bank Dunia dan WWF sejak tahun 2007. Bertempat di Fave Hotel Banjarbaru, Balai KSDA Kalimantan Selatan menyelenggarakan workshop penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi lingkup Balai KSDA Kalimantan Selatan tahun 2019. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 18-19 November 2019. Acara dibuka oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Dalam kesempatan tersebut Kepala Balai menyampaikan bahwa workshop METT ini merupakan salah satu upaya self assesment terhadap upaya pengelolaan yang KSA-KPA (Kawasan Suaka Alam-Kawasan Pelestarian Alam, red) yang telah dilakukan oleh kita, khususnya BKSDA Kalsel. Hasil evaluasi atau penialian dari kegiatan ini menurut akan menjadi masukan atau rekomendasi bagi peningkatan upaya pengelolaan ke depan. Ibarat hasil diagnosa dokter, kita dapat melihat kekurangan/kelemahan dari manajemen pengelolaan kawasan yang sedang berlangsung. Selanjutnya dapat dilakukan perbaikan untuk menjadi lebih baik ke depannya. “Saya minta kepada semua peserta workshop dapat mengikuti dan menjalani proses penilaian dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil maksimal”, pungkas Mahrus. Workshop METT dipandu oleh fasilitator dari Direktorat Kawasan Konservasi, Andhika Chandra Ariyanto, S.Hut, M.Sc. Selama penilaian berlangsung, fasilitator memandu step by step langkah penilaian yang dilakukan oleh peserta. Peserta Workshop sendiri terdiri dari unsur internal dan eksternal Balai KSDA Kalsel. Unsur internal terdiri dari petugas resort/lapangan, pejabat fungsional PEH, Polhut dan Penyuluh serta unsur perencanaan dan didukung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah. Sedangkan unsur eksternal berasal dari wakil masyarakat binaan/ mitra Balai KSDA Kalsel. Peserta lainnya yang terlibat dalam penilaian METT adalah UPT Tahura Sultan Adam. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dengan perangkat METT sendiri merupakan salah satu indikator kinerja kegiatan (IKK) Direktorat Jenderal KSDAE, memiliki skor/nilai METT ≤70%. Penilaian dilakukan terhadap elemen-elemen utama penting dalam siklus pengelolaan kawasan konservasi. Aspek-aspek penilaian dikelompokkan dalam 6 aspek utama yaitu: Kawasan konservasi yang dinilai, pada kesempatan ini ada 10 kawasan konservasi yang terdiri dari 9 KSA/KPA yang dikelola Balai KSDA Kalimantan Selatan dan Tahura Sultan Adam yang dikelola oleh UPT Tahura Sultan Adam Dishutprov Kalsel. Hasil penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi sebagaimana tabel berikut. Skor tersebut merupakan hasil penilaian efektivitas pengelolaan selama periode waktu Nopember 2018 s.d Oktober 2019. No. Kawasan Skor METT (%) 1. CA Gunung Kentawan 72 2. CA Teluk Kelumpang, Selat Laut, Selat Sebuku 61 3. CA Teluk Pamukan 61 4. CA Sungai Lulan Sungai Bulan 53 5. SM Pulau Kaget 71 6. SM Kuala Lupak 69 7. TWA Pulau Kembang 63 8. TWA Pulau Bakut 69 9. TWA Pelaihari Tanah Laut 61 10. Tahura Sultan Adam 74 Kepala Balai KSDA Kalsel menyikapi hasil di atas mengatakan bahwa kedepan harus kerja keras dan cerdas agar bisa mencapai nilai 70 atau lebih. Selain itu, sudah saatnya kita mengevaluasi bukan hanya output, tetapi juga outcome atau manfaat yang dirasakan langsung oleh para pihak terkait, khususnya masyarakat sekitar kawasan. (ryn) Sumber : Mila Rabiati, S.Hut., M.Si - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Rencana Aksi KEE Panjaratan Tanah Laut

Banjarbaru, 22 November 2019. Bertempat Ruang Rapat Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru dilaksanakan Konsultasi Publik Penyusunan Rencana Aksi Kawasan Ekosistem Esensial di Desa Panjaratan Periode 2020-2024. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi pembentukan forum kawasan ekosistem essensial yang sudah dilaksanakan sebelumnya dengan nomor 188.45/711-KUM/2019 tertanggal 8 Juli 2019. Dokumen Rencana Aksi KEE Desa Panjaratan ini merupakan dokumen penting yang diharapkan menjadi pedoman dalam pengelolaan tahun 2020-2024. BKSDA Kalimantan Selatan dalam pengelolaan bersama-sama dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya seperti Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, BAPPEDA Provinsi Kalimantan Selatan, BAPPEDA Kabupaten Tanah Laut, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tanah Laut, Dinas Perhubungan Kabupaten Tanah Laut, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten Tanah Laut, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tanah Laut, Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Laut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tanah Laut, Camat Pelaihari, Kepala Desa Panjaratan dan Kepala Desa Pagatan Besar, Manggala Agni Daops Kabupaten Tanah Laut, Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Tanah Laut dan KNPI Kabupaten Tanah Laut. Selain itu, BKSDA Kalimantan Selatan juga merangkul mitra lainnya seperti Kelompok Sadar Wisata Desa Panjaratan, PT. Kintap Jaya Watindo Wilayah Pelaihari I dan II, PT. PLN UPK Asam-Asam, Gerakan Hijau Peduli Bekantan Tanah Laut (Gahipbta) dan Yayasan Bakti Insan Borneo. Konsultasi Publik diawali oleh sambutan dari Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang wakili oleh Kepala Seksi Areal Bernilai Tinggi, Ir. Putri jauhar Manikam. Sambutan yang dibacakan menekankan kepada peran penting para pihak dalam pengelolaan satwa dan tumbuhan di luar kawasan konservasi. Kepala Seksi Konservasi BKSDA Kalimantan Selatan,Mirta Sari, S.Hut MP yang mewakili kepala BKSDA Kalimantan Selatan menyampaikan arahan dari Kepala Balai Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc “Dengan Pertemuan Penyusunan Rencana Aksi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial ini diharapkan peran aktif para pihak dalam pengelolaan kawasan ekosistem esensial selain untuk perlindungan satwa Bekantan dan habitanya juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar khususnya dan Kabupaten Tanah Laut secara umum”. Seperti kita ketahui, nilai penting dari KEE Panjaratan adalah keberadaan Bekantan dan habitatnya. Identifikasi awal diperkirakan tidak kurang dari 300 ekor Bekantan yang hidup di sana. Diharapkan keberadaan KEE akan mendukung peningkatan populasi Bekantan dan pendapatan masyarakat dari jasa wisata Bekantan. Hasil Pertemuan Penyusunan Rencana Aksi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial menyepakati sebagai berikut: Jangka waktu Rencana Aksi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Areal Bernilai konservasi Tinggi pelaksanaannya selama 5 (lima) tahun dari tahun 2020–2024 Surat Keputusan Gubenur Kalimantan Selatan tentang Penetapan Kawasan Ekosistem Esensial di Desa Panjaratan Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut yang rencananya akan diserahkan secara simbolis kepada Bupati Tanah Laut pada Peringatan Hari jadi Kabupaten Tanah Laut Matrik Rencana Aksi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial Areal Bernilai Konservasi Tinggi di Desa Panjaratan Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah terdiri dari rencana prioritas Perlindungan, Pengawetan Keanekaragaman Hayati, Pemulihan Ekosistem dan Pemanfaatan Berkelanjutan. (ryn) Sumber : Nadya Arta Uly Siagian, S.H - Polhut Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Togar memang Tegar

Pekanbaru, 25 November 2019. Masih ingatkah kawan, seekor anak Gajah liar yang terluka kaki kiri depan dan berjalan terpincang pincang akibat jeratan nilon di Distrik Melibur, Desa Lubuk Umbut, Kec. Sungai Mandau, Kab. Siak. Saat itu anak Gajah sudah ditinggal sendirian oleh kelompoknya. Beruntung, Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau mendapat laporan dan segera menyelamatkannya serta merawatnya secara intensif di Pusat Latihan Gajah (PLG) Riau. Sekarang Togar tidak sendiri lagi. Tim medis dan perawat satwa sangat telaten merawatnya hingga kondisi kaki depan kirinya kini membaik dan tubuhnya pun sudah mulai berisi terisi nutrisi. Sabtu, 23 November 2019 bapak Suharyono, Kepala Balai Besar KSDA Riau menjenguk dan memantau keadan kesehatan anak gajah yang diberi nama Togar. Togar terlihat sangat manja saat dibelai dan dielus-elus oleh bapak Suahryono. Seakan Togar tau bahwa dia sangat disayangi. Cepat pulih kembali seperti sedia kala Togar. Agar engkau dapat berlari dan bermain bersama Diego dan yang lainnya ya. Terima kasih banyak bapak atas kunjungannya. Kita do'akan ya kawan, agar Togar cepat sembuh seperti sedia kala dan Togarpun tumbuh setegar namanya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Merbabu Aman Terkendali

Semarang, 21 November 2019. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) bersama Balai Pengamanan Dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara gelar sosialisasi Pengamanan Kawasan Hutan di TN Gunung Merbabu yang dihadiri stake holder dari masyarakat sekitar hutan dan pemerintah daerah / Muspika yang terkait. Lokasi sosialisasi Pengamanan Kawasan Hutan di Taman Nasional Gunung Merbabu berada di kawasan wisata umbul 9 dengan kehadiran seratus orang yang terdiri dari Muspika kecamatan Kopeng, Kecamatan Ampel, Kecamatan Pakis, anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Masyarakat Peduli Api (MPA) serta pegawai dan staf Taman Nasional Gunung Merbabu. Selama ini masyarakat yang berbatasan langsung dengan TN Gunung Merbabu turut diikutsertakan dalam kegiatan seperti pengamanan hutan bersama petugas, patroli darat, patroli kebakaran hutan, penyuluhan, pengecekan pal batas, pengamatan satwa, pengecekan debet air dll. Sehingga masyarakat merasa diperhatikan dan TN Gunung Merbabu dapat bekerja sama dengan masyarakat sekitar dalam membangun hutan yang lestari, masyarakat sejahtera di kawasan TN Gunung Merbabu. Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perambahan hutan, perburuan dan perdagangan satwa liar telah mengakibatkan tidak stabilnya ekosistem suatu kawasan, yang berdampak pada perubahan iklim dan kerugian atas terancam punahnya satwa-satwa yang menjadi buruan untuk diperdagangkan. Dampak perburuan juga mengakibatkan konflik antara satwa dan manusia yang berdampak juga pada kerugian bagi manusia itu sendiri. Upaya yang terpenting dalam menghentikan tindak kejahatan perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi ini adalah penegakan hukum yang memberikan efek jera, lemahnya penyidik dalam membuat berita acara penyidikan yang memberatkan bagi para tersangka, menjadikan putusan hukum rendah. Hal ini tidak akan membuat para pelaku tindak kriminal menjadi jera karena nilai ekonomi dari perdagangan satwa liar dilindungi dapat mencapai puluhan juta bahkan miliaran. Dampak dari perburuan dan perdagangan satwa selain konflik yang timbul, juga terjadinya perubahan perilaku pada satwa selama proses perburuan, pengakutan hingga diperdagangkan, tindakan ini merupakan bentuk kekejaman yang tidak mensejahterahkan satwa dan dapat mengakibatkan penyakit yang dapat menularkan antara satwa dengan manusia. Selain upaya hukum yang dilakukan untuk konservasi dan pelestarian satwa liar diperlukan juga upaya rehabitasi dan pelepasliaran satwa hasil sitaan negara, yang biayanya tidak sedikit, upaya rehabiltasi dan pelepasliaran satwa hasil sitaan negara merupakan salah satu upaya penstabilan ekosistem, dengan upaya ini maka kelestarian satwa liar di alam dapat terjaga. Kesadaran masyarakat sekitar hutan khususnya kawasan TN Gunung Merbabu tentang pentingnya keberadaan hutan dan konservasi wilayah hutan yang membuat kawasan TN Gunung Merbabu sejak berdiri tahun 2007 dikategorikan aman terkendali. Sejak tahun 2007 sampai sekarang (tahun 2019) tidak didapati kasus pidana pengerusakan hutan dan perburuan satwa liar didalam kawasan, masyarakat sekitar hutan sering dan rutin diberikan penyuluhan oleh petugas yang berada dilapangan baik di dusun ataupun berjumpa langsung di kawasan hutan tentang dampak yang terjadi bila hutan rusak sumber air hilang dan bahaya longsor yang menimpa. Masyarakat sadar dan merasa harus menjaga hutan terutama yang berbatasan dengan dusun mereka. Jika sudah memasuki musim kemarau debit air akan semakin berkurang dan bila kawasan hutan sekitar mereka rusak, mata air yang berada di kawasan TN Gunung Merbabu akan hilang. Sedangkan sumber air adalah sumber kehidupan bagi masyarakat. Supaya sumber air tetap terjaga, masyarakat sudah mulai merubah pola pikir untuk tidak melakukan pengerusakan hutan. Berapapun biaya pipa air yang rusak akibat kebakaran hutan dapat dibeli dengan uang akan tetapi bila mata air yang rusak atau hilang, tidak akan dapat dibeli dengan uang. Warga sekitar kawasan juga meyakini bila satwa yang berada didalam kawasan juga sangat membantu tentang kesuburan tanah disekitar kawasan hutan. Sumber : Arjuna - Polhut Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Lestarikan Bumi, Sejahterakan Masyarakat

Cibodas, 23 November 2019 - Jumat dan Sabtu tanggal 22 dan 23 November 2019, telah berlangsung Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Kalpataru dan Wanabakti (Pertikawan) Tingkat Nasional Tahun 2019. Bumi Perkemahan (Buper) Mandalawangi – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), menjadi “Sub Camp” dari “Main Camp” nya Cibubur Jakarta. Di “Sub Camp” Mandalawangi, para peserta diberi pelatihan tentang Krida “Reksawana”, khususnya tentang konservasi alam taman nasional. Perkemahan yang bertujuan untuk mengenalkan upaya konservasi sumber daya alam insitu, (khususnya tentang taman nasional) ini diikuti sekitar 30 kontingen dari berbagai propinsi di Indonesia termasuk dua kontingen dari negara tetangga (Malaysia dan Timur Leste) dengan jumlah peserta sebanyak 490 orang (170 peserta yang berkemah dan 320 peserta lainnya sebagai Bindamping melakukan kunjungan wisata). Pada pelaksanaannya Balai Besar TNGGP bekerja sama dengan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Cianjur, Saka Wanabakti Cianjur, volunteer Balai Besar TNGGP, Unit Pelayanan Kesehatan (ULK) Edelweis – KPRI Edelweis TNGGP, dan mitra lainnya. Mengawali kegiatan dilakukan bina suasana untuk mencairkan kekakuan komunikasi diantara para peserta, panitia juga dengan mentor. Selepas sholat Jum’at, dilangsungkan penyambutan dan serah terima para peserta Perkemahan dari Kwartir Nasional (Kwarnas) ke Kwarcab Cianjur, dan dari Kwarcab Cianjur ke Pimpinan Saka yang diterima dan disambut Kepala Balai Besar TNGGP. Dalam kesempatan itu Ka Kwarcab Cianjur yang diwakili oleh Nana Suryana (Sekretaris Kwarcab), berpesan agar para peserta Pertikawan bersemangat dalam mengikuti kegiatan dan ilmu yang didapat dijadikan bekal untuk kehidupan. Hal senada juga disampaikan juga oleh Wahju Rudianto sebagai Pimpinan Saka, bahwa peserta diharapkan dapat memetik ilmu dari kegiatan ini dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disampaikan yaitu pengenalan taman nasional, pengendalian dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, perlindungan hutan dan konservasi kawasan, pengenalan jenis pohon, pengenalan biota air, pemanduan, pengenalan alat navigasi darat, dan evakuasi pendakian. Untuk efektivitas kegiatan, peserta dibagi menjadi delapan kelompok yang dilaksanakan di delapan pos materi. Kegiatan Pertikawan lahirkan berbagai inovasi milenial salah satunya dengan mendokumentasikan kegiatan setiap kelompok dengan vlog yang dilombakan. Malam harinya diisi dengan sharing hasil kegiatan antar kelompok dan pemutaran vlog kegiatan. Pemenang terbaik pertama jatuh pada kelompok “Pengenalan Jenis Pohon”, terbaik kedua kelompok “Pemanduan”, dan terbaik ketiga kelompok “Evakuasi Pendakian”. Acara diselingi dengan “malam keakraban” melalui penampilan per kontingen daerah. Acara ditutup Sabtu, 23 November 2019 dengan pelepasan peserta dari Pimpinan Saka yang diwakili Wakil Ketua Pelaksana Kegiatan, Buana Darmansyah kepada Kwartir Nasional untuk menuju Junggle Land-Bogor. Dalam pelepasan, Wakil Ketua Pelaksana Kegiatan menyampaikan pesan, apa yang didapat dari kegiatan Pertikawan Sub Camp Mandalawangi – TNGGP semoga dapat menambah ilmu, pengetahuan, dan pengalaman bagi seluruh peserta sebagai generasi milenial. Lestari dari kontingen Jawa Tengah menyampaikan kesan, “Dengan kegiatan Pertikawan 2019 dapat menambah pengalaman yang berarti terutama dalam materi pengenalan jenis pohon”. Begitu juga kesan senada dari kontingen DKI Jakarta, Reza Aksa Pratama, “Kegiatan Pertikawan dapat menambah pengalaman, ilmu yang bermanfaat, dan teman-teman yang luar biasa. Ucapan terimakasih kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai penyelenggara Pertikawan di Sub Camp Mandalawangi”. Di samping sub ”Camp Mandalawangi” di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango juga dilaksanakan perkemahan Pertikawan untuk Krida Bina Wana di Sub Camp Situgunung. Kegiatan di Sub Camp Situgunung dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungan dan Hutan Lindung (PDASHL) tanggal 21 sampai 22 November 2019. Dalam hal ini Balai Besar TNGGP berperan sebagai fasilitator penyedia lokasi kegiatan. Pertikawan merupakan momentum yang dapat menambah semangat generasi muda untuk senantiasa memperbaiki diri dan berperilaku cinta hutan serta peduli lingkungan. Kegiatan ini diharapkan, generasi muda Pramuka akan menjadi pioner dan tauladan, yang menerapkan prinsip hidup bersahabat dengan alam dan peduli dengan lingkungan dari generasi ke generasi. Semoga! Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

BKSDA Jakarta NGONSER: Ajak Generasi Muda Peduli Satwa Ekosistem Mangrove di Indonesia

Jakarta, 23 November 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menggelar acara Ngobrol Santai Konservasi (Ngonser) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat (23/11). Kegiatan ini sebagai bagian Pameran Keanekaragaman Hayati Nusantara Expo 2019 yang sudah berlangsung dari tanggal 8 November 2019 dan akan ditutup nantinya pada 8 Desember 2019. Tema Ngonser kali ini adalah “Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Satwa di Ekosistem Mangrove di Indonesia”. Sekitar 100 orang hadir yang berasal dari komunitas pecinta satwa (Komunitas Dekat Bareng Reptile, Aspera, Musang Lovers Indonesia, Olix, KPRJ, Awan Free Fly, Sugar Glider Lover) dan Penegak Pramuka yang ada di wilayah DKI Jakarta. Empat narasumber Ngonser turut hadir, mereka adalah Ahmad Munawir S.Hut, M.Si selaku Kepala BKSDA Jakarta; Imran Amin selaku Direktur Program MERA YKAN; dan Riza Marlon selaku pegiat pelestarian lingkungan, fotografer alam liar terkemuka di Indonesia. Selain itu hadir pula Sally Kailola dari YKAN selaku motivator konservasi. Acara ini dipandu oleh Rizki Prima dari BKSDA Jakarta. Kepala Balai KSDA Jakarta pada kesempatan ini memberikan informasi tentang keberadaan satwa yang khususnya berada di kawasan konservasi. Balai KSDA Jakarta memangku 4 (empat) kawasan konservasi yaitu Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke, Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Cagar Alam (CA) Pulau Bokor, dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Rambut. Berdasarkan hasil analisa terdapat sekitar 350,80 ha luas mangrove di Jakarta dengan terdapat tidak kurang dari 16 jenis mangrove sejati. Jenis-jenis mangrove sejati tersebut antara lain : Avicenia alba, Bruguiera eriopetala, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Sonneratia acida/ S.alba, Xylocarpus granatum, dan jenis lainnya “Berdasarkan hasil identifikasi dari tim BKSDA Jakarta terdapat keragaman satwa mulai dari kelompok reptile, mamalia, burung, dan ikan. Dari kelompok reptil yang dapat dijumpai pada ekosistem mangrove di Jakarta antara lain adalah buaya muara (Crocodylus porosus), kura-kura ambon (Cuora amboinensis), biawak (Varanus salvator), ular welang (Bungaru fasciatus), ular pucuk (Ahaetulla prasina), dan lain-lain. Di kawasan SM Pulau Rambut yang juga terdapat ekosistem mangrove bahkan dikenal sebagai “surge burung”. Beberapa spesies burung yang hidup di ekosistem mangrove antara lain Cangak abu (Ardea cinerea), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), Kowak Malam Kelabu (Nycticorax Nycticorax), Bangau Bluwok (Mycteria cinerea), Cikalang kecil (Fregata ariel), Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), dan lain-lain. Sementara dari mamalia antara lain monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kalong (Pteropus Vampirus) Dari kelompok ikan antara lain kan sapu-sapu (Hypotamus sp.), gabus (Ophiocephalus striatus)" jelas Munawir. Sementara itu Imran dalam kesempatan ini menjelaskan tentang Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA). MERA merupakan sebuah platform kemitraan yang bekerja sinergis untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove. “Program kerja MERA berlandaskan kajian ilmiah yang kuat sebagai acuan untuk membuat rencana desain restorasi hutan mangrove. Hal ini penting untuk mendukung kembalinya fungsi hutan mangrove sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar kumpulan pohon-pohon mangrove,” terang Imran. “Generasi muda harus lebih peduli tentang pelestarian lingkungan termasuk satwa. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui pendokumentasian yang baik. Jika kita mempunyai dokumentasi yang baik, maka hal tersebut bisa dijadikan sebagai media pembelajaran hingga di masa mendatang" tutur Riza Marlon menceritakan pengalamannya. Kegiatan Ngonser ini diharapkan para peserta dan generasi milenial pada umumnya dapat memahami tentang pentingnya untuk menjaga keberadaan satwa yang dilindungi serta ekosistem alami yang menjadi habitat bagi satwa tersebut. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Saka Wanabakti Kwartir Cabang Kapuas Hulu Hadirkan Drama Musikal di Buperta Cibubur

Cibubur – Jakarta Timur, 23 November 2019. Saka Wanabakti Kwartir Cabang Kapuas Hulu mewakili Kontingen Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Kalimantan Barat di panggung megah Good Talent Pertikawan Nasional 2019 pada hari Kamis, 21 November 2019 di Buperta Cibubur Jakarta Timur. Pada penampilan tersebut, kontingen Saka Wanabakti menampilkan drama musikal dengan mengangkat tema “Putri Burung Kenyalang”, yang diiringi musik tradisional berupa sape’, gong, gendang dan dipadukan dengan musik modern. Bahkan pada alat musiknya putra-putra terbaik Kapuas Hulu tersebut memainkannya secara live. Terkait dengan hal tersebut, Ketua Majelis Pembimbing Daerah Saka Wana bakti Kalimantan Barat, Ir. Arief Mahmud, M.Si. menuturkan bahwa Alhamdulillah saya berkesempatan hadir malam ini. Menurut saya, pada penampilan tersebut anak-anak sudah tampil maksimal. Mereka membawa 3 pesan sekaligus yang sangat penting yaitu budaya dayak, kearifan tradisional dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Pesan moralnya sangat mudah dicerna dan diterima oleh para penonton. Kemudian secara terpisah, Kak. Soptian Hadi, S. HI. yang merupakan Kepala Desa Titian Kuala yang juga pamong Saka Wanabakti yang ikut mendampingi anggota pada even Pertikawan Nasional Tahun 2019 menuturkan ”Ya memang kita tampilkan itu adalah sebuah kreasi tapi kita tetap mengambil spirit musiknya itu dari tarian khas suku dayak yaitu drama musikal”. Lebih jauh juga pria yang akrab disapa Kak pian itu menjelaskan, bahwa musik tersebut menceritakan tentang betapa sakralnya burung kenyalang bagi masyarakat suku dayak. “Karena pada umumnya kami bangga terhadap budaya kami, khususnya suku melayu dan dayak yang merupakan suku asli Kalimantan Barat, sehingga itulah yang mendorong semangat kami untuk mengambil kesimpulan mewakili Kalimantan Barat di event Pertikawan Nasional 2019 ini,” tutup Kak Soptian. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)

Menampilkan 4.449–4.464 dari 11.140 publikasi