Senin, 4 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Manado Tua sebagai Destinasi Baru Wisata Alam di Taman Nasional Bunaken

Manado, 2 Desember 2019. Obyek wisata di kawasan Taman Nasional Bunaken, sekarang ini tidak hanya wisata pantai dan bawah laut melalui diving dan snokling, tidak hanya terpusat pada salah satu lokasi saja, melainkan telah ada obyek wisata berupa hiking dan spot Signase di Pulau Manado Tua. Menuju Signase dengan ketinggian sekitar 420 m dpl, kita akan melalui jalur hiking sepanjang ± 1.500 meter, berkelak kelok dengan kondisi topografi mulai dari landai, miring, agak curam, curam sampai sangat curam dengan melewati sebagian kebun masyarakat. Sepanjang jalur hiking wisatawan disuguhi aneka flora hutan hujan tropis yang khas, salah satu bentuk keunikan daratan kepulauan. Pengembangan wisata di Pulau Manado Tua adalah langkah rintis Balai Taman Nasional Bunaken di Tahun 2019, guna menciptakan destinasi baru dengan pembangunan jalur hiking dan Signase yang bertajuk “MANADO TUA ISLAND, BUNAKEN NASIONAL PARK”. Dalam berbagai kesempatan (#) hastag Kepala Balai Taman Nasional Bunaken bahwa “Taman Nasional laut yang tidak lupa daratan : *"Marine and Terestrial“* selalu disampaikan, dan dimulai tahun 2019 mengembangkan pariwisata pada setiap pulau dari Manado Tua, Mantehage, Nain, wilayah pesisir utara dan selatan. Pengembangan wisata Pulau Manado Tua, jelas memiliki tujuan, yakni dengan berkembangnya pariwisata akan berdampak pada peningkatan usaha ekonomi masyarakat, dimana masyarakat akan terlibat aktif sebagai pelaku utama, dengan menangkap peluang jasa pariwisata. Upaya pengembangan wisata pada setiap pulau dikarenakan memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda. Pulau Manado Tua dengan karakteristik gunung yang berdiri kokoh di atas ketinggian ± 700 meter dari permukaan laut sekaligus barrier yang memagari teluk Manado. Berwisata ke Pulau Manado Tua akan memberikan pengalaman yang komplit oleh karena jenis obyek wisata yang dapat dinikmati seperti wisata laut dan pesisir dengan kegiatan diving dan snorkeling, menikmati ekosistem mangrove di daerah Pangalingan, wisata budaya, wisata kuliner, wisata satwa liar Endemik seperti Yaki (Macaca nigra), Kus Kus dan Tarsius serta wisata ekosistem terestrial pada hutan alam dengan kegiatan hiking. Khusus untuk wisata budaya, wisatawan dapat memperoleh informasi terkait sejarah kerajaan tertua di Sulawesi Utara yakni kerajaan Bowontehu pada tahun 1.623 M berdasarkan penuturan dari tokoh masyarakat di Manado Tua. Pada lokasi pembangunan spot Signase, wisatawan dapat disuguhi pemandangan eksotik Teluk Manado beserta pulau Bunaken dan sebagian daratan Manado. Di lokasi pembangunan Signase ini juga merupakan home range satwa endemik Sulawesi, Yaki (Macaca nigra). Ayo…tunggu apalagi, mari berkunjung ke Manado Tua. Sumber : Arma Janti dan tim Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Perguliran Ikan Arwana Merah Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Semitau, 3 November 2019. Antusiasme masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang digagas pada Tahun 2017 cukup tinggi. Hal ini terlihat dari masyarakat yang menyaksikan perguliran Ikan Arwana, turut hadir Kepala Seksi VI Semitau, Kepala Desa Laut Tawang, Kepala Dusun Kenelang, Kepala Dusun Empanang, beberapa pengurus Desa dan BPD, Penyuluh Kehutanan, serta petugas Resort Tengkidap. Kelompok “Usaha Bersama” yang beranggotakan 30 orang telah memperoleh bantuan 30 ekor Ikan Arwana, merupakan satu dari sekian banyak kelompok Perbesaran dan Perguliran Ikan Arwana yang ada di kawasan Danau Sentarum. “Kami sangat berterima kasih kepada pihak Taman Nasional yang telah melaksanakan program pemberdayaan masyarakat seperti ini sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat secara langsung untuk meningkatkan kesejahteraannya ” Ujar Kepala Desa Laut Tawang dalam kata sambutannya. Pada tahun 2019 Kelompok “Usaha Bersama” (setelah 2 tahun) wajib menggulirkan Ikan Arwana kepada kelompok baru dengan jumlah yang sama seperti awal pemberian bantuan yaitu sebanyak 30 ekor dengan tujuan memberikan kesempatan kepada masyarakat yang lain ikut merasakan manfaat dari adanya program pemberdayaan masyarakat ini dalam upaya pemerataan ekonomi kepada masyarakat. Kepala Seksi VI Semitau juga menyampaikan kepada masyarakat, “Salah satu program yang dilaksanakan oleh Balai Besar Tana Bentarum dalam rangka pemberdayaan masyarakat khususnya yang berada di dalam kawasan yaitu melalui kegiatan pembesaran dan perguliran Ikan Arwana skala rumahan yang dilakukan secara bergulir dari satu kelompok ke kelompok masyarakat lainnya. Harapan kedepannya akan lebih banyak lagi masyarakat yang dapat merasakan manfaat dari kegiatan pemberdayaan ini.” Perguliran Ikan dari kelompok “Usaha Bersama” tersebut bergulir kepada kelompok “Jaya Maju” dari Dusun Kenelang dan kelompok “Empanang Lestari” dari Dusun Empanang yang masing-masing beranggotakan 15 orang. Dengan adanya perguliran tersebut diharapkan akan terus berkelanjutan, sehingga dapat mensejahterakan masyarakat. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Respon Konflik Harimau Sumatera di Langkahan Aceh Utara

Aceh Utara, 29 November 2019. Personil Balai KSDA Aceh melalui Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Resort KSDA 11 Aceh Utara mendapat laporan dari masyarakat Desa Lubuk Pusaka Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara tentang adanya Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) yang telah memangsa 5 (lima) ekor sapi milik masyarakat setempat pada Kamis, 28 November 2019 silam. Tiga dari lima ekor sapi yang dimangsa oleh satwa liar Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) ini merupakan sapi milik Pak Mahmud. Satu ekor sapi lainnya milik Pak Paimin dan satu ekor lagi milik pak Sukidi. Sebelumnya tim Resor KSDA 11 Aceh Utara telah melakukan pengecekan lokasi konflik yang pernah dilaporkan oleh masyarakat setempat pada tanggal 11 November 2019. Namun hasil dari respon konflik pada saat itu masyarakat meminta untuk tidak dilakukan tindakan apapun terhadap satwa liar ini mengingat lokasi konflik juga masih jauh dari lokasi Desa dengan jarak ± 4-5 kilometer. Jum'at 29 November 2019, tim petugas Resor KSDA 11 Aceh Utara bersama Babinsa Desa Seureukey, Kepala Dusun Mihra Istimewa, dan dibantu masyarakat setempat telah melakukan pengecekan lokasi konflik satwa liar jenis Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) di Dusun Mihra Istimewa Paket 20 Desa Seureukey Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara. Hasil dari pengecekan lokasi konflik tersebut benar dijumpai adanya gangguan Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) sejak bulan September 2019 lalu. Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) ini kembali meresahkan masyarakat setempat dengan memangsa 5 (lima) ekor sapi pada hari Rabu tanggal 27 November 2019 yang menyebabkan salah satu pemilik dari korban ternak mengungsi ke lokasi lain. Selain memangsa ternak sapi, satwa liar Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) ini juga menerkam 12 ekor ternak lainnya yang mengakibatkan luka-luka pada ternak tersebut. Berdasarkan hasil pengecekan tim di lapangan, lokasi konflik Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) ini berjarak ± 5 kilometer dari Kawasan Hutan Lindung dengan status fungsi kawasan yaitu Areal Penggunaan Lain (APL). Masyarakat setempat berharap agar segera diturunkan pawang untuk melakukan upaya penghalauan terhadap satwa liar jenis Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) ini karena satwa tersebut sudah berada di Dusun Mihra dan sudah meresahkan masyarakat setempat. Tim petugas juga melakukan koordinasi dengan beberapa pihak terkait dan memberikan himbauan kepada masyarakat setempat agar tidak menempatkan ternaknya jauh dari area perkampungan serta menghimbau masyarakat agar dapat bekerjasama untuk melakukan ronda atau penjagaan saat malam hari sementara menunggu kedatangan pawang harimau. Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Berdasarkan IUCN, jenis satwa ini berstatus Kritis/critically endangered. Habitat yang makin menyempit dan terfragmentasi menjadi salah satu ancaman dari kelestarian satwa liar Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) ini. Selain itu, tingkat perburuan menggunakan jerat serta perdagangan ilegal terhadap Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) juga menjadi ancaman terbesar dalam upaya pelesatrian spesies satwa kunci ini. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh menghimbau kepada seluruh elemen stakeholder di Provinsi Aceh untuk ikut menjaga habitat satwa liar melalui upaya memberhentikan penebangan kayu secara illegal dan perambahan kawasan hutan yang merupakan habitat satwa liar ini agar meminimalisir konflik antara satwa liar dengan manusia. Sumber : Balai KSDA Aceh Penanggung Jawab Berita : Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh -Agus Arianto, S. Hut. 0813-1766-2555 Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe BKSDA Aceh - Kamarudzaman, S. Hut. 0853-5999-7552
Baca Berita

Upaya Penghalauan Konflik Harimau Sumatera di Langkahan Aceh Utara

Aceh Utara, 2 Desember 2019. Minggu 1 Desember 2019, Personil Balai KSDA Aceh melalui Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe Resor 11 Aceh Utara didampingi Polisi Kehutanan dan Pawang Harimau Balai KSDA Aceh telah melakukan upaya penghalauan Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) yang sebelumnya telah memangsa ternak milik masyarakat di Dusun Mihra Istimewa Paket 20 Desa Seureukey Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara pada hari Rabu tanggal 27 November 2019. Upaya penghalauan yang dilakukan oleh tim yaitu dengan cara pengusiran yang dibantu oleh Pawang Harimau Balai KSDA Aceh Pak Sarwani Sabi melalui pendekatan kearifan lokal lewat doa-doa. Upaya penghalauan ini merupakan salah satu penanganan konflik yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar. Selain upaya penghalauan, tim petugas juga memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat yang ikut serta dalam kegiatan ini bahwa Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi serta tergolong satwa kunci yang populasinya terancam punah di alam. Tim petugas menghimbau masyarakat setempat agar tetap berhati-hati dan tetap memasang penerangan pada kandang ternak yang masyarakat miliki. Penghalauan ini merupakan salah satu tindaklanjut dari respon konflik yang telah dilakukan sebelumnya pada hari Jumat tanggal 29 November 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh akan terus memantau pasca upaya penghalauan konflik Harimau Sumatera (Panthera tigris ssp. sumatrae) di Dusun Mihra Istimewa Paket 20 Desa Seureukey Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara agar tidak terjadi kerugian dan dampak negatif lainnya bagi masyarakat setempat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengapresiasi masyarakat Desa Seureukey Kecamatan Langkahan Kabupaten Aceh Utara beserta jajaran Pemerintah dan aparat TNI (Babinsa) serta pihak-pihak terlibat yang segera melaporkan kejadian konflik satwa liar ini. Sumber : Balai KSDA Aceh Penanggung Jawab Berita : Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh - Agus Arianto, S. Hut. 0813-1766-2555 Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Lhokseumawe BKSDA Aceh - Kamarudzaman, S. Hut. 0853-5999-7552
Baca Berita

66 Butir Telur Penyu Diamankan Masyarakat dan Petugas Balai TN Taka Bonerate

Resort Jinato - TN Taka Bonerate, 2 Desember 2019. Balai Taman Nasional Taka Bonerate kembali mendapatkan laporan dari teman-teman di Resort Jinato berupa sarang penyu yang berisi 66 telur di selatan pulau Jinato. Laporan tersebut dilaporkan oleh masyarakat an. Hasse, warga yang sama melaporkan beberapa hari lalu keberadaan jejak sarang di pulau ini. Selanjutnya laporan tersebut ditindak lanjuti oleh anggota Resort Jinato (PEH dan P3K) yang sementara piket hari itu kemudian dilakukan pengukuran, pengumpulan dan identiflkasi awal sarang dan telur penyu tersebut. Adapun data detail yang diperolah adalah telur 66 butir, lebar sarang 130 cm, kedalaman sarang 50 cm, lebar jejak 80 cm, jarak pasang terendah 6 meter dari titik sarang penyu ditemukan. Dugaan sementara sarang ini berjenis penyu Hijau. Sambil menunggu arahan selanjutnya Untuk menghindari predator, petugas memindahkan ke tempat peneluran semi alami di dekat resort Jinato. "Posisi telur telah kami amankan di sekitar resort jinato untuk memudahkan pengawasan dan tindakan selanjutnya" Ucap Gunawan salah satu petugas resort jinato yang berstatus P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Semangat Mengelola Kawasan Konservasi Bersinergi dengan Kearifan Lokal Tri Hita Karana.

Denpasar, 29 November 2019. Dalam mendukung efektivitas penyelenggaraan pengelolaan kawasan TNBB, tentunya tidak lepas dari dinamika baik terkait pelaksanaan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan konservasi. Harmonisasi diperlukan dalam mewujudkannya, selain semangat pengelola, peningkatan peran serta masyarakat sekitar kawasan, juga penyelarasan dengan kearifan lokal/falsafah budaya masyarakat Bali. Malam ini adalah puncak penganugerahan Tri Hita Karana & tourism accreditation awards, merupakan penghargaan prestisius yang telah dilaksanakan sejak tahun 2001 khususnya bagi insan industri pariwisata di Bali, berdampak positif meningkatkan keyakinan kunjungan wisatawan ke hotel dan destinasi wisata, Juga penting bagi kalangan pendidikan, instansi pemerintahan dan BUMN. Tahun ini diikuti lebih dari 400 peserta terbagi dalam 20 kelompok masing-masing dinilai oleh Tim assessor sebanyak 3-4 org. Kriteria penilaian adalah terkait Prahyangan, Pawongan dan Palemahan. Tahun ini sebanyak 200 penghargaan diberikan dengan berbagai tingkatan dari silver, gold, platinum hingga emerald. Bagi Balai TNBB tahun ini merupakan keikutsertaan kedua, dengan penghargaan kedua untuk Gold awards. Hadir sbg undangan pelaku pariwisata di Bali, PHRI, pemkab di Bali, Dinas pariwisata pemprov Bali, perwakilan universitas. Sambutan pertama oleh Dr. I Gede Ardika merupakan Menteri Pariwisata tahun 2000-2004, tokoh Pariwisata dan merupakan anggota komite etik pariwisata dunia dibawah PBB menyampaikan bahwa konsep Tri Hita Karana sebagai falsafah leluhur Bali yang disumbangkan kepada seluruh insan kehidupan kepariwisataan sebagai pengelolaan kepariwisataan berkelanjutan. Disampaikan juga, apresiasi untuk penerima penghargaan ini sebagai pejuang pengelolaan pariwisata berkelanjutan, konsep Tri Hita Karana dapat diimplementasikan dengan perwujudan nyata nilai etika, estetika, religius dan logika dari para insan pariwisata dan pendukungnya. Sambutan kedua oleh Gubernur Bali yang dibacakan oleh Asisten II Setda Bali. Selain penghargaan THK Awards, terdapat juga penghargaan melapa melapi awards (terkait tradisional food) Dan Public Relations simpatik. untk penghargaan THK Awards 2019 diterima oleh Kepala Balai Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si, penghargaan ini dipersembahkan sebagai wujud kepedulian pengelola terhadap penghormatan kepada kearifan lokal dan budaya khususnya Bali, semangat kebersamaan Dan kerja ikhlas seluruh komponen pengelola TNBB, dan dukungan para pihak terkait dalam menjaga kelestarian TNBB. Salam lestari dan selamat untk kebersamaan dalam keragaman NKRI. Salam konservasi. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas SDM Masyarakat Desa Sembilang CA Teluk Kelumpang

Sembilang, 27 November 2019 – Silaturahmi ke Desa Sembilang merupakan bagian dari penguatan SDM kepada kelompok Al-Baroqah pembudidayaan itik yang dibentuk pada tahun 2018 yang beranggotakan 30 orang berkolaborasi dengan PT. Arutmin Indonesia. Kepala Seksi Konservasi Wilayah 3 Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc yang diwakili oleh Kepala Resort Teluk Kelumpang Achmad Nabawi, Fakhruraji, Yusriansyah, Chairil Fahmi dan Faisal Akbar bersilaturahmi bersama-sama Perwakilan PT. Arutmin Indonesia dihadiri Syamsiralam, Kamaruddin dan Noor Firdaus. Penguatan dihadiri penyuluh peternakan dari pemerintah Kabupaten Kotabaru Syahyudi sebagai Narasumber. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kelompok Al-Baroqah dan meningkatkan pengalaman anggota kelompok sehingga budidaya itik petelur bisa semakin berhasil. Kegiatan juga sekaligus untuk melihat sejauh mana perkembangan para peternak selama ini. Menurut Awaludin Anggota kelompok masyarakat Desa Sembilang sangat mengapresiasi kegiatan ini, anggota kelompok dan narasumber berdiskusi tentang cara budidaya yang baik, pemilihan pakan non komersil sampai ke pencegahan serangan hewan buas terhadap itik. Diharapkan dengan adanya pengetahuan baru yang telah didapatkan dapat meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia Kelompok Masyarakat Desa Sembilang, hasil budidaya itik petelur semakin meningkat sehingga dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat kearah yang lebih baik. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir Mahrus Ayadi, M.Sc., mengapresiasi dan mendukung kemajuan yang telah dicapai, dan mengharapkan kegiatan ini bisa menjadi lebih baik sehingga menjadi contoh dan dapat dikembangkan ditempat lain. (ryn) Sumber : Achmad Nabawi - Kepala Resort CA Teluk Kelumpang, Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Solidaritas Persaudaraan Rimbawan Untuk Bumi Dan Manusia

Makassar, 2 Desember 2019 - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan selaku UPT Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem yang berada di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama para Rimbawan UPT KLHK Sulawesi Selatan melakukan aksi solidaritas cinta bumi dengan tema “Membangun Solidaritas Persaudaraan Rimbawan Untuk Bumi Dan Manusia”. pada Minggu 1 Desember 2019 bertempat di Car Free Day Anjungan Pantai Losari. Namun ada yang berbeda dari kampanye-kampanye rimbawan UPT KLHK Sulsel sebelumnya, kali ini bersama Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Baddoka Sulawesi Selatan bersama-sama mengampanyekan tentang pentingnya pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dan kampanye anti narkoba. Ditemui di lokasi kampanye dan sosialisasi Kepala Balai Besar KSDA Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc mengatakan “Aksi ini dibuat dalam bentuk “street campaign” dalam rangka membangun solidaritas rimbawan untuk bumi dan manusia. “Kami mengkampanyekan tentang pentingnya pelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), kampanye anti narkoba, pilah sampah dan lainnya dalam upaya mengedukasi masyarakat”. Terang Thomas. “Selain itu, ada pula kampanye perubahan iklim, pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah serta pembagian bibit gratis. Peserta yang terlibat tidak hanya para rimbawan, tetapi juga pengunjung Pantai Losari”. Tambah Thomas setelah melakukan senam Zumba bersama para pengunjung Pantai. Kepala Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Sulawesi Selatan, dr.Iman Firmansyah dalam kampanye penyuluhan narkoba mengatakan “Kami meminta agar siapa saja yang terpapar Narkoba dan membutuhkan pemulihan agar menghubungi kami. Tidak boleh lagi ada keraguan untuk sembuh dari kecanduan narkoba, kami siap merehabilitasi dan ini gratis”. Jelas dr. Iman yang disambut antusias para pengunjung Pantai Losari. Selain kampanye dan sosialiasi terkait lingkungan hidup dan narkoba giat lain dari acara ini adalah Donor darah, kuis dan lomba aksi pilah sampah dengan hadiah menarik dari BNN berupa souvenir buatan client BNN dan BBKSDA Sulsel berupa madu kepada para pengunjung. Bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) giat solidaritas rimbawan ini berhasil menarik antusia pengunjung untuk mendonorkan darahnya. Sebanyak 33 orang mendaftar untuk mendonor namun setelah pemeriksaan kesehatan hanya 26 orang yang lolos mendonorkan darahnya. Untuk aksi pilah sampah yang dikomandoi Ellyana Said Kabag TU BBKSDA Sulsel berhasil mengumpulkan sebanyak 15 kantong sampah nabati atau kantong sampah yang dapat terurai ukuran besar dan pemenang pertama dari lomba aksi pilah sampah ini berasal dari Rimbawan UNHAS lalu pemenang kedua dan ketiga dari pengunjung Pantai Losari. Kepala Balai Besar BBKSDA Sulsel selaku motor dari kegiatan ini menyampaikan terimakasih dan atas kerjsama-nya kepada para pihak, BNN Baddokka, PPI, BPTH, TN Bantimurung Bulusaraung, seluruh perwakilan UPT KLHK, Mahasiswa Fahutan UNHAS Pembina Pramuka Saka Wanabakti Makassar Camp Kids dan Mitra Media Klik Hijau, Fajar dan masyarakat kota makassar serta semua pihak khususnya Walikota Makassar Camat dan KADISPAR Makassar. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Husain. SH
Baca Berita

Penguatan Kelembagaan Kemitraan Konservasi di SM Kuala Lupak

Aluh Aluh, 22 November 2019 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melakukan sosialisasi perundang-undangan Mitra Konservasi bersama para petani keterlanjuran tambak di Desa Aluh-aluh, Kabupaten Banjar. Dihadiri oleh Kepala SKW II Banjarbaru, Mokh. Ridwan Effendi, S.Hut., M.Si., Kepala Resort SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget, Ahmad Barkati, dan Penyuluh Kehutanan, Cecep Budiarto, S.Hut., serta Calon Polisi Kehutanan Aji Faisal Noor Zaky, dan para petani tambak yang berada di SM Kuala Lupak. Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kembali kawasan SM Kuala Lupak yang telah mengalamai keterlanjuran tambak. Kegiatan ini juga merupakan salah satu kegiatan aktualisasi dan pelatihan dasar CPNS dari Aji Faisal Noor Zaky. Diterbitkannya Perdirjen KSDAE P.6/2018 tentang Kemitraan Konservasi membawa angin segar dalam penyelesaian konflik tenurial pada kawasan konservasi. Kemitraan konservasi itu tujuannya adalah untuk akses kelola dan tidak akan mengubah fungsi, fungsi konservasi tetap dipertahankan, tetapi para petambak juga ada hak untuk terlibat dalam mengelola kawasan melalui sistem Silvofishery (Manajemen lahan kombinasi tanaman kehutanan dan perikanan). Artinya mereka akan terlibat dalam pemulihan ekosistem melalui penanaman vegetasi mangrove. Secara ekonomi mereka juga masih akan mendapatkan nilai dari tambak itu sendiri. Pak Jawase, koordinator Masyarakat Mitra Konservasi menyambut baik dan mendukung kegiatan ini, serta berharap kegiatan ini dapat menyelesaikan konflik tenurial yang bertahun-tahun belum terselesaikan. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. mendukung upaya penyelesaian konflik tenurial yang terjadi dalam kawasan SM Kuala Lupak. Komunikasi yang kontinu dan kegiatan yang sinergi untuk pemulihan ekosistem bersama masyarakat sangat penting dikembangkan. (ryn) Sumber: Aji Faisal Noor Zaky - Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pengamatan Demplot Rafflesia di Resort 3 Pastap Julu Desa Pagar Gunung Kecamatan Kotanopan Seksi PTN Wilayah II Kotanopan

Mandailing Natal, 2 Desember 2019. Keberadaan R. meijeriidi TNBG menjadi salah satu objek yang dapat meningkatkan nilai ekologi dan ekonomi kawasan. Anggota marga Rafflesia tidak memiliki akar, batang, dan daun sehingga pertumbuhan dan perkembangannya masih menjadi objek kajian yang memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Keindahan warna, ukuran bunga, dan status kelangkaan Rafflesia diharapkan menjadi daya tarik untuk mempengaruhi masyarakat mengunjungi kawasan, namun ternyata hanya beberapa kelompok masyarakat seperti akademisi/peneliti dan pendaki yang telah menikmati penampakan R. meijerii yang sedang mekar bahkan tidak semua anggota masyarakat di sekitar TNBG yang mengetahui keberadaan spesies langka ini. Kegiatan ini mengamati dan memantau pertumbuhan Rafflesia di demplot yang telah dibuat. Sedangkan tujuan dari pengamatan demplot Rafflesia ini adalah agar kelestarian dari Rafflesia di Taman Nasional Batang Gadis tetap terjaga dengan cara memantau dan mengamati serta mencatat setiap pertumbuhan dan perkembangannya di demplot yang telah dibuat. Rafflesia meijerii merupakan salah satu spesies Rafflesia berbunga kecil jika dibandingkan dengan kerabatnya yang lain. Tumbuhan ini merupakan holo parasit pada Liana dengan jenis Tetrastigma. Pada saat fase mekar penuh diameter bunganya mencapai ± 14 cm, tabung perigone 3,5 – 4 cm, permukaan kelopak bunga bergerinjang kasar dengan warna merah bata, Panjang tuba perigone ± 5,5 cm dengan lebar ± 6,5 cm, annulus terdiri dari tonjolan melengkung pipih, tinggi bunga ± 9 cm dari dasar, permukaan atas dan bawah tanpa ramenta di dekat ruang diafragma, panjang seta 0,5 – 2,5 cm didekat perigone ± 8 mm. Berdasarkan literatur yang ada, Rafflesia meijerii tidak memiliki procesii pada permukaan discussnya. Namun pada demplot pengamatan ini semua bunga yang mekar memiliki procesii sehingga temuan ini menarik untuk dikaji nantinya. Demplot Rafflesia tempat dilakukan pengamatan tersebut merupakan kawasan TNBG tepat di belakang resort 3 Pagar Gunung yang memiliki vegetasi tumbuhan alami yang masih baik mulai dari pohon besar hingga tumbuhan bawah. Famili Fagaceae dan Myrtaceae serta Lauraceae mendominasi komposisi pohon dan pancang. Sedangkan famili Selaginellaceae dan Araliaceae mendominasi tumbuhan bawah dan semai. Kondisi lantai hutan juga dipenuhi serasah dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan di daerah ini juga lumayan tinggi. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Batam Hijau

Batam, 2 Desember 2019. Hari Menanam Pohon Indonesia telah berlalu. Semoga semangat menanam pohon di diri kita ga ikutan pergi ya gaes. Ngomong ngomong kamu tau ga sih dasar ditetapkannya hari Menanam Pohon Indonesia? Hari Menanam Pohon Indonesia atau kita singkat HMPI ditetapkan berdasarkan Keppres RI Nomor 24 Tahun 2008 pada tanggal 28 November setiap tahunnya dan bulan Desember ditetapkan sebagai Bulan Menanam Pohon Nasional. Tujuan dari diadakannya HMPI adalah untuk memulihkan kerusakan hutan dan lahan, Biasanya HMPI dirayakan dengan cara merehabilitasi kembali hutan rusak dan lahan kritis melalui kegiatan menanam pohon secara massal. Nah, karena itulah Seksi Konservasi Wilayah 2 Balai Besar KSDA Riau yang berkedudukan di Batam ngadain "Green Indonesia" bersama Coffee Lover Indonesia, Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit II Batam, PLN Batam, Inews TV, BatamNews.com, Beritabatam.co, serta para mahasiswa kota Batam pada hari Kamis, 28 November 2019 di Batam Center, kota Batam. Mereka melakukan penanaman sebanyak 1.000 pohon. 1 pohon 1000 kehidupan. Klo 1000 pohon... hmm... alangkah banyak kehidupan. Salam lestari!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai TN. Kayan Mentarang Wujudkan Komitmen, Mendukung Usaha Ekonomi Produktif Masyarakat Penyangga

Malinau, 29 November 2019. Balai TN. Kayan Mentarang menggelar Pelatihan Anyaman Rotan di Desa Long Jelet Kec. Pujungan Kab. Malinau Prov. Kalimantan Utara pada 22-23 November 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat di penyangga kawasan dalam membuat hasil kerajinan anyaman rotan dan menghasilkan produk yang sesuai dengan standar dan minat pasar. Desa Long Jelet sendiri memiliki potensi rotan yang cukup melimpah namun pemanfaatannya masih sangat minim dan hanya untuk penggunaan pribadi. Kegiatan ini mendatangkan pelatih Kelompok Pengrajin “Puren” dari Krayan (Nunukan) yang telah lama berkiprah dalam memproduksi anyaman rotan dan bambu dan sudah merambah pasar global sejak tahun 2010. Diikuti sebanyak 30 orang peserta, pelatihan ini tak hanya melatih keterampilan masyarakat untuk menganyam tetapi juga standar ukuran, kualitas dan teknik pewarnaan yang menggunakan pewarna alami. Para peserta juga berbagi informasi mengenai Best Seller Product yang sangat diminati pasar. “Pelatihan semacam ini merupakan kegiatan pertama yang diadakan di Desa Long Jelet, umumnya kegiatan pelatihan dilaksanakan di luar Desa sehingga tidak semua masyarakat dapat mengikutinya. Pemerintah Desa Long Jelet mengucapkan terimakasih kepada pelaksana kegiatan dan berharap adanya pendampingan berkelanjutan oleh Balai TN. Kayan Mentarang dan stakeholder terkait agar produk anyaman Desa Long Jelet dapat dikenal masyarakat luas dan mendapat pasar” ungkap Yunus Usang, Kepala Desa Long Jelet yang di wawancari usai pelatihan. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Koperasi Asosiasi Periau Danau Sentarum Berbagi Pengalaman Pada Acara Talk Show PESONA 2019

Rabu, 27 November 2019 - Bertempat di Auditorium Utama Gedung Manggala Wanabakti, Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) yang diwakili oleh Manajer Pemasaran Bpk. Jasryadi beserta 6 narasumber lainnya berbagi pengalaman kegiatan perhutanan sosial kepada para undangan yang terdiri dari sektor pemerintahan, swasta dan masyarakat adat seperti Kementerian LHK, Kemendagri, Kementerian Koperasi dan UKM, Kemen PDT Transmigrasi, Pejabat BUMN, Gubernur, Bupati Luwuk, beberapa LSM/ NGO, dan masyarakat adat dari berbagai wilayah di Indonesia. Talk Show Perhutanan Sosial Nasional dengan tema “Berbagi Peran Untuk Perhutanan Sosial Juara” adalah salah satu rangkaian dalam kegiatan Perhutanan Sosial Nasional (PESONA) 2019 yang diselenggarakan oleh Dirjen PSKL dan mitra pada tanggal 27 – 29 November 2019, menghadirkan 7 narasumber yang dianggap berhasil melakukan kegiatan perhutanan sosial di daerahnya masing – masing salah satunya adalah APDS. Menurut Kang Miing, moderator acara mengatakan bahwa 7 orang yang ada didepan ini adalah motor – motor serangan perhutanan sosial yang harus diapresiasi karena mendorong perubahan perekonomian di daerah – daerah yang jauh dari kata sejahtera. APDS sebagai organisasi pemungut madu hutan didalam kawasan konservasi Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) telah mendapat Surat Keputusan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Konservasi (SK Kulin KK) dari Dirjen PSKL memproduksi madu hutan organik rata – rata sebesar 15 s/d 20 ton permusim, dalam satu tahun terdapat 2 musim panen yaitu bulan Februari - Maret dan September – Oktober. “Dalam satu musim panen rata – rata APDS memiliki keuntungan 1 – 1,5 milyar Rupiah, hal ini tidak terlepas dari dukungan penuh taman nasional yang terus menerus melakukan fasilitasi, bantuan – bantuan peralatan dan pendampingan bagi kami untuk selalu maju berkarya” ujar Jasryadi dalam paparannya. Dirjen PSKL Bpk. Bambang Suprianto meyakini bahwa “perhutanan sosial dan manfaatnya sdh dirasakan secara nyata oleh sekitar 6112 kelompok perhutanan sosial yang tersebar di Indonesia. Tidak hanya tokoh masyarakat dengan local wisdom nya kemudian ada pendamping yang luar biasa karena transformasi masyarakat yang berpikir secara tradisional dibawa kepada pengelolaan hutan lestari kemudian pemanfaatannya dilakukan melaui pendampingan yang berkelanjutan dari penyuluh kehutanan, pemerintah daerah dan LSM. Untuk mewujudkan transformasi masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari adalah pentingnya kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama yang tidak mungkin bisa tercapai kalau kita lakukan secara sendiri – sendiri. “Kegiatan ini adalah salah satu pekerjaan besar kita dalam merubah kiblat pengelolaan hutan, maka ini sangat penting sekali dan menjadi kerjaan kolektif dan kerjaan bangsa yang belum ada sejarahnya hutan untuk rakyat”, Wiratno Dirjen KSDAE Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danaun Sentarum
Baca Berita

Upacara Hari KORPRI UPT Kemen LHK Lingkup D.I Yogyakarta

Yogyakarta, 29 November 2019 - Merupakan hari Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) ke-48, dan dilaksanakan upacara yang diikuti segenap Pegawai Negeri Sipil (PNS) lingkup Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) wilayah D.I Yogyakarta, yang bertempat di halaman kantor Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta. Selain PNS dari BBPBPTH Yogyakarta, selaku tuan rumah, hadir juga segenap PNS Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI, dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo (BPDAS SOP). Bertindak selaku pembina upacara adalah Kepala Balai BPDAS SOP, Ir. Tri Handayaningsih, MSc. Dalam kesempatan ini, membacakan sambutan tertulis Presiden Republik Indonesia selaku Penasihat Nasional KORPRI. Pertama-tama, disampaikan apresiasi khususnya para anggota KORPRI yang bertugas di pelosok-pelosok negeri. Saat ini, kita berada di dunia yang berubah sangat cepat, juga persaingan antar negara juga semakin sengit, dan untuk menghadapi keduanya, kita tidak boleh takut. Kita harus mengajak seluruh anggota KORPRI untuk mengambil jalan perubahan, melakukan reformasi secara berkelanjutan. Orientasi birokrasi harus betul-betul berubah, bukan lagi berorientasi pada prosedur, namun berorientasi pada hasil. Selain itu, presiden mengajak untuk mengurangi kegiatan seremonial. Kemudian dengan kemajuan teknologi, dapat mempermudah pekerjaan. Tidak kalah pentingnya adalah persatuan dan kesatuan menuju Indonesia Maju. Hal ini sejalan dengan tema hari KORPRI ke-48 yaitu melayani, bekerja dan menyatukan bangsa. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Belajar bersama Kelompok Masyarakat Nelayan Tradisional ke Probolinggo, Jawa Timur.

Probolinggo, 27-29 November 2019. Dalam rangka kemitraan konservasi, Balai TNBB melaksanakan benchmarking bisa disebut seperti tolok ukur untuk mengidentifikasi praktek terbaik dengan cara membandingkan produk serupa. kegiatan ini dilaksanakan selama 3 Hari mulai tanggal 27 November 2019, mengajak 50 orang anggota kelompok masyarakat yang merupakan nelayan tradisional belajar pemanfaatan terbatas sumberdaya perairan dengan mengunjungi sentra pengelolaan hasil budidaya perikanan di Kab. Probolinggo. Kunjungan lapangan diawali dengan pertemuan di kantor Dinas Perikanan Probolinggo untuk mendengarkan sambutan dan arahan dari Kepala Dinas Perikanan yang diwakili oleh Kepala Bidang perikanan tangkap. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan mengunjungi kelompok usaha Makmur Jaya dan Nayla Barokah untuk melihat proses dalam pengolahan makanan berbahan dasar ikan. Kedua kelompok ini merupakan binaan Dinas Perikanan Kab. Probolinggo dengan produk Olahan seperti : abon ikan, kerupuk ikan, petis ikan dan terasi. Peserta kegiatan diberikan pengetahuan cara membuat Olahan ikan dan mengemas dengan menarik untuk meningkatkan nilai jualnya. Dengan dilaksanakannya Benchmarking ke lokasi yang telah sukses, diharapkan peserta (kelompok nelayan) akan dapat membandingkan proses produksi sendiri dengan proses produk yang berkinerja baik dan menerapkan langka langkah perbaikan yang diperlukan. Kemitraan konservasi tidak hanya sekedar upaya pemberdayaan masyarakat namun Juga tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem kawasan konservasi. Salam konservasi. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Wali Nanggroe Aceh Peduli Konservasi Badak Sumatra

Labuhan Ratu, 28 November 2019 - Malik Mahmud Al-Haytar, Wali Nanggroe Aceh yang merupakan salah satu mantan petinggi GAM, membawa puluhan orang dari Propinsi Nanggroe Aceh datang ke Taman Nasional Way Kambas untuk belajar “memelihara” Badak sumatra seperti yang dilakukan di Suaka Rhino Sumatra (SRS) Way Kambas. Dalam kunjungan ini Wali Nanggroe didampingi oleh Kepala Bappeda Aceh Timur, Ketua DPRK Aceh Timur, sejumlah camat dan kepala desa. Juga ikut serta Nurzahri dan Anggota DPRA, Kartini Ibrahim. Selain Forkopimda Aceh, turut serta Konsorsium Badak Utara (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemkab Aceh Timur, Forum Konservasi Leuser (FKL), Alert, WWF, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unsyiah dan IPB). Beliau melihat langsung bagaimana pengelolaan Badak sumatra di Taman Nasional Way Kambas, dengan khitmat beliau mendengarkan penjelasan dan paparan yang disampaikan oleh Kepala Balai TNWK, Subakir, SH. MH. Kepala Balai menyambut baik rencana Aceh yang ingin membuat semacam sanctuary badak di Aceh. “Kami sangat mendukung sekali. Jika di timur Sumatera ada Lampung dengan Way Kambas, maka di ujung barat ada Aceh. Inilah harapan kita dalam upaya penyelamatan Badak,” kata Subakir. Aceh Timur sudah siap untuk membangun SRS seperti di Way Kambas, “Hutan di Aceh masih luas dan cukup asri, kami minta Way Kambas bisa membantu untuk melestarikan Badak sumatra yang ada di Aceh. Kami minta juga kepada penegak hukum di Aceh untuk melakukan penegakan hukum untuk meminimalisir perburuan dan kerusakan hutan”. Setelah mendengarkan paparan dan penjelasan tentang SRS, Kepala Balai mengajak Wali Nanggroe untuk melihat langsung ke kandang Ratu. Wali Nanggroe sangat surprise melihat langsung Badak sumatra, selama ini beliau baru melihat photo dan videonya saja. Beliau juga berkesempatan untuk memberi makanan yang sudah disiapkan oleh Keepernya kepada Ratu dan Delilah. Selain mengunjungi SRS, rombongan juga akan berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas untuk melihat pengelolaan Gajah sumatra di TNWK. Aceh mempunyai sejarah kejayaan pasukan Gajah pada jaman kesultanan Aceh di abad ke 17. Semoga Badak sumatra dan Gajah serta satwa lainnya di Aceh terselamatkan dan tetap menjadi kebanggaan Indonesia. Sumber: Humas Balai TN Way Kambas

Menampilkan 4.385–4.400 dari 11.140 publikasi