Senin, 4 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bantuan Usaha Ekonomi Produktif Kelompok Masyarakat Binaan TNBB di 3 Desa penyangga.

Gilimanuk, 3 Desember 2019. Di aula TNBB pada hari selasa telah berlangsung penyerahan bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat kepada 3 kelompok pada 3 desa penyangga TNBB yaitu Pejarakan, Sumberklampok dan kelurahan Gilimanuk. Tiga kelompok masyarakat penerima tersebut adalah kelompok tani ternak tunas mekar dari Sumberklampok, kelompok NCF (Nature Conservation Forum) putri menjangan, dan kelompok masyarakat operator wisata Gilimanuk. Sesuai dengan proses tahapan yang dilaksanakan mulai perencanaan, pendampingan, penguatan kapasitas. Ketiga kelompok masing-masing menerima bantuan sebesar Rp10.000.000,00 sebagai upaya peningkatan kegiatan usaha kelompok. Kelompok Tani Ternak “ Tunas Mekar “ dengan rencana penggunaan bantuan untuk pengkayaan dan pengadaan bibit lebah, dan pembuatan stup lebah madu. Kelompok kedua yaitu kelompok NCF Putri Menjangan untuk pembuatan kandang dan pengadaan burung Curik Bali. Sedangkan kelompok ketiga yaitu kelompok Masyarakat Operator Wisata Gilimanuk dengan rencana untuk peningkatan sarana promosi wisata berupa komputer support desain, printer, dan kamera. Bantuan usaha secara simbolis diserahkan oleh Kepala Balai TNBB Bapak drh.Agus Ngurah Krisna K, M.Si. Beliau berharap bantuan usaha yang diberikan merupakan bagian dari fasilitas bagi kelompok agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan potensi desa serta memperkuat komitmen masyarakat untuk menjaga dan melestarikan terhadap kawasan konservasi. Kegiatan pada hari ini diakhiri dengan Penandatanganan perjanjian Kerjasama (PKS) antara PPK dengan ketua kelompok penerima bantuan usaha produktif, ramah tamah dan pengabadian momen melalui foto bersama. Salam lestari. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Membangun Sinergi Mensejahterakan Ekosistem TN Bogani Nani Wartabone

Lolak, 2 Desember 2019. Bertempat di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Bolaang Mongondow, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW) dan Dinas Perkebunan Kabupaten Bolaang Mongondow yang didukung EPASS Bogani Nani Wartabone menyelenggarakan kegiatan pertemuan untuk meningkatkan sinergi dalam membangun kesejahteraan ekosistem TNBNW. Sekda Bolaang Mongondow, yang diwakili oleh Kepala Dinas Perkebunan, membuka langsung kegiatan bersama Kepala Balai TNBNW, Manajer Unit EPASS BNW. Pertemuan diahadiri 44 peserta dari bererapa Kepala SKPD Kab. Bolaang Mongondow, 7 Camat, 13 Kepala Desa dan 13 Kelompok Tani Hutan sekitar TNBNW. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi Balai TNBNW dengan Setda Bolaang Mongondow terkait konsep pemulihan ekosistem kolaboratif yang telah diterapkan di TNBNW. Pihak Setda Bolaang Mongondow melalui Dinas Perkebunan akan mendukung upaya pemulihan ekosistem kolaboratif (PEK) masyarakat. “Upaya pemulihan ekosistem Taman Nasional Bogani Nani Wartabone harus torang dukung bersama demi kehidupan masyarakat Bolaang Mogondow,” tegasnya. “ Penghargaan setinggi tingginya kepada pihak pengelola TNBNW dan EPASS yang telah bekerja keras membantu membangun Bolaang Mongondow. Jaman dulu akses kelola terhadap kawasan tertutup, dan sekarang justru melibatkan masyarakat sebagai pelaksana program. Hal ini patut kita dukung dan akan terus berkoordinasi untuk kedepan yang lebih baik, “ tambah Kepala Dinas Perkebunan. Pemulihan ekosistem kolaboratif masyarakat merupakan salah satu bentuk penyelesaian masalah keterlanjuran pemanfaatan lahan oleh masyarakat dalam kawasan TNBNW. “ Ini adalah sebuah win-win solution untuk saat ini di TNBNW.” Kata Kepala Balai menyambung pernyataan Sekda Bolaang Mongondow. “ Selain masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari komposisi tanaman yang ditanam, kondisi ekologi dan ekosistem akan perlahan diperbaiki. Selian itu PEK juga akan dilaksanakan di wilayah-wilayah tangkapan air guna mendukung sektor lain terkait kebutuhan air, “ tambah Kepala Balai. Dalam rangka menerapkan program PEK, Balai TNBNW mendapat dukungan EPASS Bogani Nani Wartabone (EPASS BNW) untuk meningkatkan ekonomi kelompok tani pelaksana PEK. Tercatat sudah ada 10 kelompok yang sudah ber PKS dengan BTNBNW mendapat dana hibah EPASS untuk pengembangan usaha ekonomi alternative. Dari faislitasi tersebut sebagaian kelompok sudah ada yang memproduksi produk seperti gula semut, madu hutan dan makanan ringan serta souvernir. Pada sela-sela pertemuan, Kepala Balai memberikan 2 buah buku kepada Sekda Bolmong yaitu Buku Menjaga Rumah Kita Bersama dan Buku Prosedur Kerja Pemulihan Ekosistem Kolaboratif. Menjaga rumah dengan mengikuti prosedur kerja untuk kesejahteraan ekosistem TNBNW dan masyarakat sekitarnya. Sumber : Aris Setyawan - Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Kakatua, Selamat Datang Kembali di Halmahera

Sofifi, 3 Desember 2019. Setelah melewati masa rehabilitasi di PRS Tasikoki dan beberapa kali pemeriksaan kesehatan, sebanyak 23 ekor burung paruh bengkok tiba di Sofifi, pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Jenis berung tersebut antara lain, Kakatua putih (Cacatua alba) sebanyak 4 ekor, Nuri kalung-ungu (Eos squamata) sebanyak 6 ekor dan Kasturi ternate (Lorius garrulus) sebanyak 13 ekor. Dua diantaranya merupakan endemik Maluku Utara, yaitu Kakatua putih dan Kasturi ternate. Sedangkan Nuri kalung-ungu memiliki sebaran Maluku Utara sampai di Papua. Seluruh burung paruh bengkok tersebut merupakan hasil dari kegiatan pengamanan satwa liar oleh anggota Polisi Kehutanan Balai KSDA Sulawesi Utara yang kemudian diserahkan kepada PRS Tasikoki untuk direhabilitasi dan di rawat. Penyerahan burung asli Maluku Utara ini dilaksanakan di Sofifi oleh Polisi Kehutanan Penyelia SKW I Ternate, Balai KSDA Maluku kepada Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata bersama-sama dengan kegiatan GNPDAS tahun 2019. Serah terima tersebut disaksikan oleh Gubernur Maluku Utara yang diwakili oleh Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Kehutanan, Kepala Balai Pengelolaan DASHL Akemalamo, perwakilan TNI dan Polri, serta para pejabat lingkup Provinsi Maluku Utara dan tamu undangan. Selesai acara serah terima, Kepala Balai TNAL memberikan cinderamata berupa foto Kakatua putih kepada Sekda Maluku Utara. “Sudah sekian lama burung-burung ini berada di luar Maluku Utara, sekarang saatnya mereka kembali dan bertemu keluarganya, tempat terbaik baginya adalah dialamnya”, kata T. Heri Wibowo, Kepala Balai TNAL. “Terima kasih bagi semua pihak yang peduli dalam pengembalian satwa Halmahera tersebut”, pungkasnya. Burung paruh bengkok tersebut kemudian di antar menuju Suaka Paruh Bengkok untuk dilakukan perawatan dan habituasi sebelum dilepasliarkan. “Burung-burung ini (Paruh bengkok) nanti akan di habituasi dan menunggu momen yang tepat (kondisi burung) untuk dapat dilepasliarkan ke habitat aslinya”, kata As Ari, Koordinator Suaka Paruh Bengkok. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

PKS Kemitraan Konservasi Pemulihan Ekosistem SM Kuala Lupak

Banjarbaru, 3 Desember 2019 – Percepatan penyelesaian konflik tenurial keterlanjuran tambak di Suaka Margasatwa Kuala Lupak melalui skema Kemitraan Konservasi dalam rangka Pemulihan Ekosistem, Balai KSDA Kalimantan Selatan telah melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan dua kelompok kemitraan konservasi Kelompok “Suka Maju” Desa Kuala Lupak dan kelompok “Maju Bersama” Desa Sungai Telan Besar Kecamatan Tabunganen Kabupaten Barito Kuala. Penandatanganan PKS dilaksanakan baru baru ini bertempat di ruang rapat Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc dengan Ketua Kelompok Kemitraan Konservasi “Suka Maju” Desa Kuala Lupak Bapak Jawase dan Ketua kelompok kemitraan konservasi “Maju Bersama” Desa Sungai Telan Besar Bapak H. Nurdin yang disaksikan oleh Kepala Sub Tata Usaha , Suwandi, S.Hut, MA dan perwakilan dari anggota kelompok kemitraan konservasi. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc mengatakan, “Dengan Penandatangan Kerjasama diharapkan masyarakat turut terlibat aktif di areal pemulihan ekosistem dan membantu perlindungan satwa liar”. Penandatanganan ini juga merupakan bagian dari Proyek Perubahan Diklatpim III untuk Jangka Menengah dari Kepala BKSDA Kalsel. Tujuan dari Perjanjian kerjasama ini untuk mengembalikan fungsi ekosistem secara bertahap dan mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Ruang lingkup perjanjian kerja sama meliputi : Pengamanan areal pemulihan ekosistem dan membantu perlindungan satwa liar; Pemulihan ekosistem di areal kerjasama; Pengembangan kapasitas masyarakat. Jangka waktu perjanjian kerja sama berlaku selama 10 (sepuluh) tahun yang akan ditindak lanjuti dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT). (ryn) Sumber : Heri Sofian - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Wow, Tim Monitoring Berhasil Menemukan Sarang Cendrawasih Merah di Site Monitoring Cagar Alam Pulau Batanta Barat.

Raja Ampat, 3 Desember 2019. Cenderawasih Merah (Paradisaea rubra) adalah satwa prioritas Balai Besar KSDA Papua Barat. Kegiatan monitoring Cenderawasih Merah telah dilakukan mulai tahun 2014 (baseline data) hingga tahun 2019 yang merupakan tahun terakhir kegiatan. Kegiatan monitoring Cenderawasih Merah bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan jumlah individu (populasi) burung Cenderawasih Merah pada site monitoring dan mengidentifikasi kondisi habitat burung cenderawasih merah pada site monitoring. Terdapat dua site monitoring Cenderawasih Merah yang berlokasi di Cagar Alam (CA) Pulau Batanta Barat dan CA Waigeo Barat. Kegiatan monitoring populasi Cenderawasih Merah di CA Pulau Batanta Barat Kabupaten Raja Ampat dilaksanakan selama 10 hari pada tanggal 22 hingga 31 Oktober 2019. Monitoring dilakukan dengan menggunakan metode point transect (titik hitung) pada lima titik pengamatan dalam site monitoring. Pengamatan dilakukan menggunakan tiga kali ulangan pada setiap jalur dengan waktu pengamatan pagi (06.00-10.00) dan sore hari (15.00-18.00). Berdasarkan kegiatan monitoring yang dilakukan didapatkan estimasi jumlah populasi cenderawasih merah di site monitoring CA Pulau Batanta Barat sebanyak 18 individu. Hasil tersebut menunjukkan adanya kenaikan jumlah populasi sebesar 157,14% dari baseline data pada tahun 2014. Kenaikan jumlah populasi tersebut didukung dengan adanya penemuan dua sarang Cenderawasih Merah pada titik pengematan 3. Cenderawasih Merah di CA Pulau Batanta Barat membuat sarangnya dengan membuat lubang pada batang pohon. Cenderawasih Merah jantan akan membuat pelindung sarang yang nampak seperti pagar di muka sarang untuk melindungi sang betina dan telurnya dari predator dengan menggunakan ranting dan daun-daun kecil yang disusun dengan rapat. Pohon yang digunakan sebagai tempat bersarang cenderawasih belum dapat teridentifikasi jenisnya. Namun menurut masyarakat Papua Barat pohon tersebut disebut sebagai pohon cenderawasih, dikarenakan memang cenderawasih selalu bersarang pada 1 jenis pohon tersebut. Penelitian dengan objek cenderawasih merah belum banyak dilakukan, terutama mengenai perilaku dan aktivitas hariannya. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan pada kegiatan monitoring tahun 2019 di CA Pulau Batanta Barat ini terlihat bahwa pada akhir bulan oktober, cenderawasih merah sudah mulai melakukan aktivitas bersarang. Hal ini berbeda dengan hasil monitoring di CA Waigeo Barat pada waktu yang sama. Hasil monitoring di CA Waigeo Barat pada akhir bulan oktober menunjukkan bahwa cenderawasih merah masih dalam musim kawin. Sumber : BBKSDA Papua Barat
Baca Berita

Bangun Kekompakan, Balai TN Matalawa Adakan Family Gathering

Waingapu, 30 November 2019. Beban kerja yang semakin berat terutama pada akhir tahun membuat para pegawai akan merasakan tingkat stress yang luar biasa. Mengantisipasi hal tersebut, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) mengundang seluruh pegawai dalam acara family gathering yang dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 29 dan 30 November di Pantai Aili, Desa Konda Maloba, Kabupaten Sumba Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi kepenatan para pegawai selama bekerja serta meningkatkan kekompakan diantara para pegawai. Acara ini diisi oleh berbagai kegiatan, diantaranya: pembinaan dari Kepala Balai TN Matalawa, capacity building games, dan pembagian door prize. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, dalam arahannya menyampaikan bahwa kekompakan dalam bekerja di suatu organisasi merupakan syarat mutlak untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu ikatan antar sesama pegawai dari dalam diri sehingga perbedaan-perbedaan yang ada dapat diminimalisir. Hadir pula dalam kegiatan ini adalah anggota Saka Wanabakti Sumba Barat serta instruktur games dari Universitas Kristen Wira Wacana Waingapu, Sumba Timur. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

4 Ekor Elang Diamankan Tim TSL BKSDA NTB

Mataram, 29 November 2019 - Tim Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (TSL BKSDA NTB) bersama-sama dengan GAKKUM KLHK Pos Mataram dan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai aktivitas jual-beli satwa dilindungi di Kota Selong, Lombok Timur. Tiba dilokasi, ditemukan sebanyak 1 ekor Elang Bondol dan 1 ekor Elang Alap-alap milik Saudara "K" yang bermata-pencaharian sebagai penjual pakan burung. Kepada pemilik, Petugas mencoba melakukan pendekatan dengan memberikan penyuluhan dan sosialisasi mengenai satwa dilindungi. Hal ini kemudian bersambut dengan itikad baik dari Saudara K yang selanjutnya menyerahkan secara sukarela kedua satwa dilindungi tersebut. Tak sampai disitu, berdasarkan informasi dari Saudara K juga, kegiatan pengamanan kemudian berlanjut ke pemilik lain yakni Saudara D yang masih berdomisili di Kota Selong, Lombok Timur. Dari Saudara D, diamankan 2 ekor Elang Bondol yang juga diserahkan secara sukarela. Dengan total 4 ekor yakni 3 ekor Elang Bondol dan 1 ekor Elang Alap-alap, keempat satwa telah diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram untuk proses lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Tim TSL BKSDA NTB Amankan 6 Keranjang Satwa Tanpa Dokumen di Pelabuhan Lembar

Mataram, 2 Desember 2019 - Kembali berdasarkan informasi masyarakat, Tim Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (TSL BKSDA NTB) sekitar pukul 20:00 WITA memantau kedatangan Bus SDR di Pelabuhan Laut Lembar Lombok Barat yang berangkat dari Pelabuhan Laut Padang Bai, Bali. Tidak sendiri, Tim TSL BKSDA NTB berkoordinasi dengan KP3 Pelabuhan Lembar dan BKO TNI AL untuk memberhentikan Bus SDR yang tiba di Pelabuhan Laut Lembar sekitar pukul 22:00 WITA. Pemeriksaan-pun dilakukan secara menyeluruh baik bagasi dalam maupun bagasi luar bus, dan berhasil ditemukan sebanyak 6 keranjang yang terdiri dari : 1. PARKIT AUSTRALIA 6 ekor. 2. LOVEBIRD 25 ekor. 3. KENARI 40 ekor. 4. PARKIT BIASA 15 ekor. Keseluruhan satwa merupakan jenis burung (Aves). Baik supir dan kernet tidak bisa menunjukkan surat angkut (SATS-DN) sah kepada petugas untuk satwa yang mereka angkut sehingga dilakukan pengamanan. Juga didapat informasi bahwa Semua satwa di angkut dari Malang Jawa Timur dengan tujuan Kota Mataram dan Pohgading Lombok Timur. Seluruh Satwa hasil pengamanan telah diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram untuk proses lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Jejak Promosi Ekowisata TaNa Bentarum di Jepang

Tokyo, 2 – 3 Desember 2019. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum (Tana Bentarum) berkunjung ke Jepang dalam rangka menghadiri kegiatan Workshop Promosi dan Investasi Ekowisata. Workshop ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai Besar Tana Bentarum yang sekaligus menjadi salah satu Presenter pada Workshop yang dilaksanakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo bekerjasama dengan Japan-Asean Centre, Tokyo. Kegiatan ini juga didukung oleh Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) Tokyo dan Perwakilan Promosi Wisata Kementerian Pariwisata di Jepang. Workshop ini dilaksanakan selama dua hari di dua kota yaitu di Tokyo pada tanggal 2 Desember 2019 di Japan Asean Center dan di Nagoya pada tanggal 3 Desember 2019 di Winc Aichi Building. Salah satu yang melatar belakangi kegiatan ini yaitu Industri ekowisata yang berpotensi untuk memberikan dampak positif yang menguntungkan bagi lingkungan melalui upaya - upaya perlindungan dan konservasi lingkungan dengan pariwisata sebagai sumber untuk membiayai upaya perlindungan sumberdaya lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi sumberdaya atau lingkungan, sekaligus pemberdayaannya dalam bidang sosial dan budaya masyarakat yang ada disekitarnya. Bapak Herry Subagiadi selaku Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE menyampaikan Keynote Speech dengan Judul Review Tourism and Business Relations of Japanese Visitors In Indonesia's Ecotourism. Beberapa Narasumber lainnya juga turut menyuarakan ekowisata andalan diantaranya adalah Rakhmat Yulianto (Director of Indonesia Investment Promotion Centre, Tokyo), Ms. Naomi Takahashi (Deputy Director of Marketing for Japan Area, Kemenpar RI), Mr. Shu Ogino (Expert Officer fo Promoting Ecotourism Visitor Use Promotion Office, National Park Divisions Nature Conservasion Bureau, Ministry of the Environment of Japan) dan Dr. Hariyadi Budi (Ecotourism BusinessPtactitioner and Chief of Japan HR Research Center, University of Indonesia). Kegiatan workshop ini bertujuan untuk memperkenalkan berbagai destinasi pariwisata berbasis ekologi khususnya pada kawasan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam, mengembangkan kerjasama bisnis ke bisnis dan agen-agen pariwisata di Jepang dalam mempromosikan kekayaan sumberdaya alam Indonesia dan konservasi ekosistem serta memberikan kesempatan bagi pemegang ijin ekowisata untuk berbagi informasi dan melakukan pemasaran untuk mempromosikan investasi pengelolaan kawasan ekowisata. Dengan adanya workshop ini, Ir. Arief Mahmud M.Si selaku Kepala Balai Besar Tana Bentarum berharap Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum akan makin dikenal oleh masayarakat Jepang dan diharapkan juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. (2/12) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

8 Simbol Spirit Konservasi di TN Taka Bonerate

Kepulauan Selayar, 03 Desember 2019. Pertemuan Fungsional PEH, Polhut dan Penyuluh yang dilaksanakan sebulan lalu (07/11) di Hotel Peninsula - Jakarta menyisakan kenangan tersendiri bagi staf kami Saleh Rahman (Koordinator PEH). Pasalnya kegiatan ini dihadiri langsung Pak Dirjen Ir. Wiratno, M.Sc yang memberikan wejangan-wejangan, semangat dan arahan kepada peserta yang hadir. Menurut cerita yang kami dengar dari Saleh Rahman, Pak Dirjen saat itu mengatakan terkait "extended family", selalu menjaga keharmonisan dan hubungan baik dengan keluarga besar kita dalam konservasi, yaitu sesama rekan ASN baik di internal UPT maupun antar UPT, para mitra, dan juga masyarakat kita (lingkup KSDAE) adalah saudara, dan orang tua kita adalah bapak Dirjen KSDAE. Disela materi yang disampaikan, Pak Dirjen tak jarang melakukan selingan dengan pertanyaan, candaan, pun guyonan seputar pribadi, keluarga, suka duka bertugas, dll. Secara acak beliau menunjuk beberapa peserta, menanyainya dan tak lupa memberi hadiah kepada mereka. Secara tak langsung dengan memberi hadiah sama halnya dengan memberikan semangat dan energi besar bagi peserta. Dan Saleh Rahman termasuk peserta yang beruntung karena dipilih dan bisa berinteraksi langsung dengan Pak Dirjen. Pertanyaan dan guyonan hingga hadiah senilai Rp 100.000,- tentu saja membuat para peserta terpilih merasa senang dan bahagia. "Kalau ditanya perasaan saya saat itu sudah pasti saya sangat senang, bahagia serta bangga bisa bersua langsung dengan "AYAH KONSERVASI" Pak Wiratno " kenang Saleh Rahman. "Kami berjanji dengan nilai uang sebesar Rp. 100.000,- akan kami coba lipatgandakan manfaatnya dan bisa dirasakan sepanjang waktu oleh makhluk ciptaan tuhan (manusia, satwa, tanah, air dst). Kami akan gunakan uang tersebut untuk membeli bibit cemara laut (Casuarina equisetifolia) kemudian menanamnya di pelosok kepulauan dalam Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate yang terbagi ke dalam 8 resort yaitu : 1). P. Tinabo Besar, 2). P. Rajuni Laut, 3). P. Rajuni Desa, 4). P. Latondu, 5). P. Tarupa, 6). P. Jinato, 7). P. Pasitallu Tengah dan 8). P. Pasitallu Timur." Tambahnya. Anakan pohon cemara laut telah ditanam oleh semua petugas dengan penanda papan nama yang diseragamkan “DIRJEN KSDAE” di resort masing-masing. Setiap mengunjungi pos jaga dan mendapati pohon tersebut seakan mengingatkan kepada sosok Pak Dirjen yang akan terus memberi semangat dan energi besar. Cita-cita dan tekad kami untuk terus menghijaukan pulau-pulau kecil dengan harapan dapat menghasilkan air tanah yang tawar dan bermanfaat untuk kehidupan di Negeri Atol kami ni. Dengan melihat papan nama tsb, kami tersadar bahwa “kami tidak sendiri, ada orang tua (Dirjen KSDAE) yang selalu bersama kami”. Semoga Pak Dirjen selalu diberi kesehatan, terus menjadi orang tua kami yang mengajarkan kerja keras dan kesungguhan dalam pengabdian konservasi, Amiin. Terimalah salam hormat dan sapaan kami dari kepulauan TN. Taka Bonerate dan menjadi simbol semangat konservasi di TN Taka Bonerate. Salam Konservasi, Hu, Ha!!!, Hu, Ha!!! Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Di Akhir Pekan, BKSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia Selamatkan Orangutan dari Perkebunan

Pangkalan Bun, 2 Desember 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) bersama OF-UK Indonesia melakukan penyelamatan orangutan di Desa Parang Batang, Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan pada hari Sabtu (30/11/2019). Penyelamatan dilakukan berdasarkan laporan yang diterima BKSDA Kalteng pada Sabtu (30/11/2019) pukul 16.33 WIB melalui layanan Quick Response. Randi An Nur, warga Desa Parang Batang, Kecamatan Hanau Kabupaten Seruyan melaporkan kepada BKSDA Kalteng bahwa dia menemukan orangutan yang masuk ke perkebunan sawit milik warga. Orangutan ini pertama kali diketahui keberadaannya oleh anjing milik salah seorang warga yang sedang bekerja di perkebunan sawit yang berbatasan langsung dengan PT. Wanasawit Subur Lestari pada hari Sabtu (30/11/2009) pukul 09.30 WIB. Anjing milik warga terus-menerus menggonggong di sekitar kebun tempat orangutan berada. Pemilik anjing yang curiga karena anjingnya yang terus menyalak, segera menghampiri anjingnya dan terlihat ada satu individu orangutan yang terduduk di tanah. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalteng berangkat bersama dengan Tim Rescue OF-UK Indonesia menuju lokasi dengan menempuh perjalanan selama tiga jam. Pada pukul 20.30 WIB Tim WRU BKSDA Kalteng dan Tim Rescue OF-UK Indonesia tiba di lokasi dan menjumpai orangutan dalam keadaan lemah, bahkan ia hanya mampu berpindah sejauh satu meter saja ketika tim rescue mencoba mendekatinya. Melihat keadaan orangutan yang demikian lemah, tanpa membuang waktu, Tim WRU BKSDA Kalteng dan Tim Rescue OF-UK Indonesia segera melakukan evakuasi. Pada pukul 21.00 WIB orangutan berhasil dievakuasi ke tempat terbuka untuk kemudian diperiksa. Saat pemeriksaan fisik berlangsung, teraba adanya satu peluru senapan angin di pipi kiri, dua peluru di pipi kanan, dan satu peluru di pinggul kanan. Selain luka akibat peluru senapan angin, terdapat juga luka sobek besar dibagian pelipis kiri, dua luka lubang di belakang leher, dua luka lubang akibat peluru senapan angin yang lebih besar di siku kiri yang diperkirakan membuat tulang siku kiri remuk. Kondisi luka-luka tersebut sudah bernanah dan mengeluarkan bau busuk yang kuat. “Saya menduga luka-luka tersebut sudah ada sejak beberapa hari yang lalu,” ujar drh. Dimas Yuzrifar. "Untuk penanganan medis pasca orangutan terbius, saya membersihkan luka-luka yang ada di tubuhnya dengan cairan antiseptik, agar luka tidak dihinggapi lalat. Injeksi antibiotik juga dilakukan untuk menghambat infeksi. Selain itu, diberikan juga injeksi vitamin agar kondisi orangutan tetap terjaga dan menghindari stress diperjalanan,” tambah drh. Dimas dalam keterangannya. Setelah penanganan medis selesai dilakukan, orangutan dimaksukkan ke dalam kandang angkut untuk dibawa ke Pangkalan Bun. Orangutan beserta Tim WRU BKSDA Kalteng dan Tim Rescue OF-UK Indonesia tiba di Pangkalan Bun pukul 00.46 WIB. Namun, orangutan tersebut tidak dapat langsung dibawa ke kantor BKSDA dikarenakan hujan deras sehingga harus bermalam di kantor OF-UK Indonesia. Minggu (1/12/2019), berdasarkan hasil koordinasi antara BKSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia, orangutan berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berumur 25 tahun dengan berat 75 kilogram tersebut dibawa ke Orangutan Care Center Quarantine (OCCQ) untuk mendapat perawatan yang intensif. Sebagai upaya untuk menanggulangi maraknya konflik manusia dengan orangutan, Dendi Sutiadi, SH., Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng mengatakan bahwa ia akan mencoba melakukan investigasi di lapangan. “Kita akan coba koordinasi dulu dengan para pemangku kepentingan. Kemarin, dari pihak kebun di sekitar lokasi orangutan yang diselamatkan, melaporkan adanya tanda aktifitas orangutan dalam kawasan lindung kebun miliknya." ujar Dendi. Selanjutnya Dendi menyatakan bahwa pihak kebun juga sudah melakukan mitigasi konflik dan monitoring bersama dengan BKSDA Kalteng. Bahkan, di dalam kebun juga sudah dipasang rambu-rambu larangan untuk tidak berburu orangutan beserta ancamannya. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Operasi Sapu Jerat

Pekanbaru, 3 Desember 2019. -Operasi sapu jerat secara serentak saat ini sedang giat dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Riau baik Bidang Wilayah I maupun Bidang Wilayah 2. Sebelumnya kegiatan serupa juga telah dilaksanakan bersamaan dengan patroli rutin yang dilakukan petugas di wilayahnya masing masing, baik di dalam kawasan konservasi maupun di sekitarnya. Semoga kegiatan ini dapat mengurangi angka kejahatan dan perdagangan satwa liar ya kawan. Says NO to wildlife trade and STOP wildlife crime!!! #kemenlhk #humasklhk #sahabathijau #tamannasional #rimbangbaling #komunitasjungletrek #komunitaspenggiatkonservasi #spiritkonservasialammilenial #konservasimilenial #pendaki #pendakiindonesia Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Review Kegiatan Pemulihan Ekosistem di TN Matalawa

Taman Mas, 29 November 2019. Kegiatan Pemulihan Ekosistem (PE) di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) sudah berjalan lebih dari 1 tahun. Sebagian blok sudah melakukan pemeliharaan tanaman, namun sebagian lagi masih melakukan persiapan tanam sambil menunggu musim hujan tiba. Pada kesempatan kali ini, Balai TN Matalawa mengundang seluruh pengawas dan kelompok kerja (pokja) yang bekerja di program PE pada masing-masing blok untuk melaporkan hasil kegiatan yang selama ini telah dilakukan. Hal ini juga dilakukan untuk berbagi pengalaman dari kelompok yang telah melakukan penanaman kepada kelompok yang masih dalam tahap persiapan. Selain itu, anggota kelompok juga diberikan peningkatan kapasitas terkait peningkatan usaha ekonomi produktif dari Rahmat Adinata yang merupakan koordinator Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) dan Andi Arya Fajar, field manager program restorasi JICS. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, yang hadir pada acara ini mendengarkan secara seksama penjelasan dari para pengawas dan kelompok kerja pada masing-masing blok. Kepala Balai mengungkapkan bahwa musim hujan yang sebentar lagi tiba agar dijadikan momentum kepada masing-masing kelompok utnuk melakukan penanaman. Setelah melakukan penanaman, masyarakat agar tetap siaga terhadap gangguan ternak serta kebakaran apabila telah masuk musim kemarau nanti. Penjgaan dari masyarakat sangat diperlukan demi pertumbuhan optimal tanaman sehingga pada akhirnya masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaan hutan hasil program PE. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Meriahnya Sempena Hari Menanam Pohon dan Mendongeng di TWA Sungai Dumai

Pekanbaru, 1 Desember 2019 di Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai terlihat berbeda dari biasanya. Suara anak anak terdengar nyaring dimana mana. Hari itu Kelompok Pecinta Alam Rimbawan Pesisir (Pak Rewanggono Cs) didukung oleh Balai Besar KSDA Riau, Dinas Pendidikan Kota Dumai dan salah satu produsen susu anak anak sedang ngadain acara mewarnai dan mendongeng dalam rangka Sempena memperingati "Hari Menanam Pohon dan Mendongeng" di TWA tersebut. Perlombaan mewarnai diikuti oleh murid PAUD/TK, sedangkan peserta mendongeng diikuti oleh Guru PAUD/TK se-kota Dumai. Acara dihadiri oleh Staf Seksi Wilayah IV, Resort Dumai, Kepala Bidang Paud Dinas Pendidikan Kota Dumai dan jajarannya serta Guru dan murid dari beberapa sekolah di kota Dumai Selamat kepada adik Hafizah, TK Ananda sebagai juara pertama mewarnai dan ibu Eci Anggraini, Guru Tk.Al-Izzah II sebagai juara pertama mendongeng pada acara tersebut. Konservasi dapat digaungkan dengan berbagai cara termasuk dengan cara yang berbeda sesuai dengan usianya. Hidup konservasi!!! #kemenlhk #humasklhk #sahabathijau #tamannasional #rimbangbaling #komunitasjungletrek #komunitaspenggiatkonservasi #spiritkonservasialammilenial #konservasimilenial #pendaki #pendakiindonesia Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Redam Konflik Manusia-Orangutan, BKSDA Kalteng bersama OF-UK Indonesia Gelar Sosialisasi Mitigasi Konflik

Pangkalan Bun, 29 November 2019. Bertempat di Kantor Kecamatan Arut Selatan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) dan OF-UK Indonesia mengadakan sosialisasi mitigasi konflik dengan tema Penyelamatan Sebagai Bagian dari Upaya Pelestarian Satwa Liar. Sosialisasi ini dihadiri oleh duapuluh tiga peserta yang merupakan warga dari desa-desa di Kecamatan Arut Selatan dan petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kalteng. Acara ini dibuka langsung oleh Camat Arut Selatan dengan narasumber dari SKW II BKSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia. Dalam sambutannya, Dendi Setiadi, SH., Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Kalteng, mengungkapkan jika akhir-akhir ini terdapat laporan konflik manusia dengan satwa liar, seperti orangutan dan buaya yang masuk ke BKSDA Kalteng. “Alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, pertanian, dan perkebunan membuat habitat satwa semakin menyempit dan rusak,” kata Dendi. Dendi juga mengatakan bahwa tidak ada yang dapat disalahkan dalam hal ini, karena kebutuhan manusia yang semakin tinggi, menjadikan kawasan hutan sebagai kawasan budidaya. “Maka perlu diadakan acara seperti ini,” tambahnya. Diakhir sambutannya Dendi menegaskan bahwa satwa dan manusia sama-sama penting. Perlindungan terhadap satwa liar memang sudah diatur dalam perundang-undangan, sehingga manusia tidak boleh memperlakukan satwa liar dengan semena-mena. Camat Arut Selatan, Syahrudin, menyampaikan bahwa banyaknya konflik satwa liar dengan masyarakat, tidak lepas dari terusiknya tempat tinggal mereka dan berkurangnya kawasan hutan yang seharusnya menjadi rumah bagi satwa. Senada dengan apa yang dikatakan Dendi, menurut Syahrudin tidak ada yang bisa disalahkan atas konflik yang terjadi. Sekarang yang harus difikirkan adalah bagaimana cara mengatasi konflik tersebut. “Ada istilah bahwa kita menjaga alam, alam menjaga kita. Jadi kita harus sama-sama menjaga.” kata Syahrudin diakhir sambutannya. Setelah Camat Arut Selatan membuka acara sosialisasi, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber. Sugih Trianto, Polisi Kehutanan BKSDA Kalteng, dalam paparannya menjelaskan tentang peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perlindungan satwa liar. Sugih mengungkapkan jika Permenhut P.48/Menhut-II/2008 dan Permenhut P.53/Menhut-II/2014 telah mengatur tentang penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar. Sugih juga menjelaskan mekanisme pelaporan konflik manusia dan orangutan. Sugih berpesan kepada peserta untuk segera melaporkan ke BKSDA, jika melihat satwa liar muncul di lingkungan sekitar mereka. “Segera hubungi quick response Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai KSDA Kalteng, jika bapak ibu melihat ada satwa liar muncul di lingkungan anda” tegas Sugih diakhir presentasinya. Drh. Dimas Yuzrifar, dokter hewan OF-UK Indonesia, lebih menekankan pada langkah medis yang diambil setelah orangutan diselamatkan dari tempat konflik. Setelah orangutan diselamatkan perlu dilakukan pemeriksaan medis, seperti pengambilan sampel darah dan feses, penimbangan berat badan, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan gigi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kesehatan dan perlakuan medis selanjutnya, sebelum dilepasliarkan kembali ke alam. “Jangan membunuh, menyiksa dan memperjual belikan orangutan dan jangan memelihara orangutan, karena bisa menularkan penyakit,” tegas Dimas diakhir paparannya. Saat sesi diskusi berlangsung, Zulkarnain, Ketua RT 06 Raja Sebrang mempertanyakan mekanisme memelihara rusa, sehingga beliau bisa memberitahukan kepada warganya, jika ada yang memelihara rusa. Menanggapi pertanyaan tersebut, Sugih menjelaskan bahwa rusa merupakan binatang yang tidak boleh dipelihara tanpa ijin dari pemerintah. Jika ada warga yang memelihara rusa, segera tegur dan beri pengertian. Rusa tersebut juga harus secepatnya diserahkan ke BKSDA. “Jika jumlah rusanya banyak dan ingin melakukan penangkaran, silahkan datang ke kantor BKSDA untuk mengajukan ijin penangkaran. Di sana akan di jelaskan mekanismenya,” jelas Sugih. Acara berakhir dengan beberapa kesimpulan, antara lain tidak ada yang dapat disalahkan atas konflik manusia dengan satwa liar, karena hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama (multi pihak). Warga sebaiknya segera menghubungi BKSDA, jika menemukan satwa liar yang masuk ke perkebunan atau ke pemukiman. Jangan memelihara, membunuh atau menyiksa satwa liar, karena satwa liar merupakan ciptaan tuhan yang perlu dilestarikan untuk kesejahteraan manusia serta keberadaannya juga dilindungi undang-undang. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Pembentukan Kelompok Pecinta Kawasan Konservasi CA Teluk Kelumpang

Geronggang, 20 November 2019 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan kembali berkolaborasi dengan PT. Arutmin Indonesia dalam hal Pengelolaan Kawasan Konservasi Cagar Alam Teluk Kelumpang. Kepala Seksi Konservasi Wilayah 3 Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc menunjuk tim yaitu Fakhruraji, Achmad Nabawi (Kepala Resort CA Teluk Kelumpang), Agung Reynanto Rizal (kepala resort CA Teluk Pamukan) Chairil Fahmi, Yusriansyah, Faisal Akbar untuk membentuk Kelompok Pecinta Kawasan Konservasi di CA Teluk Kelumpang. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari PT. Arutmin Indonesia, yaitu Syamsiralam, Kamaruddin dan Noor Firdaus dan juga dihadiri oleh 4 Kepala Desa Bapak Sairimuhlis Kepala Desa Sangsang, Haryono Kepala Desa Tebing Tinggi, Ahdiatul Mukhsin Kepala Desa Sembilang dan Rian Hidayat Kepala Desa Geronggang. Kelompok Pecinta Kawasan Konservasi ini diberi nama Kelompok Lutung Dahi Putih yang beranggotakan 30 orang yang mewakili dari 4 desa, yaitu Desa Sembilang, Geronggang, Sangsang, dan Tebing Tinggi yang berada di CA Teluk Kelumpang.Kelompok ini diketuai oleh Bapak Farhat, Muhammad Rifai sebagai Wakil Ketua dan Abdul Wahid sebagai Sekertaris. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan Dr.Ir. Mahrus Aryadi M.Sc, sangat mendorong pola-pola Kemitraan di wilayah kerja, sehingga terjadi komunikasi yang baik antara BKSDA dan Masyarakat. Dengan adanya kelompok pecinta kawasan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya keberadaan kawasan konservasi bagi kehidupan masyarakat disekitar kawasan dan dapat menekan tingkat gangguan terhadap kawasan CA Teluk Kelumpang. (ryn) Sumber : Agung Reynanto Rizal, S.Hut - PEH Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 4.369–4.384 dari 11.140 publikasi