Senin, 4 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penanganan Konflik Harimau di Batang Toru Sumatera Utara

Batangtoru, 4 Desember 2019. Konflik warga dengan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis) kembali terjadi. Kali ini Harimau Sumatera menyambangi Dusun Sipincur Desa Perkebunan Hapesong, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdasarkan informasi warga, pada Kamis, 28 November 2019, ditemukan 5 bangkai lembu yang diduga merupakan korban dari si raja hutan. Mendapat informasi tersebut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan turun ke lokasi dan melakukan tindakan-tindakan, seperti : berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Batangtoru, Kepolisian Sektor dan Koramil setempat, melakukan monitoring pergerakan harimau di semua lokasi, memasang camera trap di lokasi terjadinya konflik untuk identifikasi, mensterilkan lokasi konflik, dan penghalauan harimau dengan menggunakan jeduman. Dari pemasangan camera trap, didapatkan foto dan video yang menunjukkan adanya keberadaan Harimau Sumatera, sehingga Tim gabungan dan warga memutuskan untuk melakukan pemasangan kandang jebak. Tim juga memberikan penyuluhan kepada warga untuk berhati-hati dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, tidak melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan matinya satwa, serta segera melaporkan kepada instansi terkait bila menemukan kembali keberadaan Harimau Sumatera. Sumber : Evrina Riski - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Jejak Harimau Sumatera yang dijumpai di lapangan
Baca Berita

Saung dan Sekolah Rimba, Apa Bedanya?

Malinau, 6 Desember 2019. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sejak dini memang terbilang baru bagi Suku Anak Dalam yang bermukim di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Provinsi Jambi. berbeda dengan masyarakat di penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang yang mayoritas sudah mengenyam pendidikan secara berkesinambungan. Dalam hal ini terlihat Suku Anak Dalam begitu antusias mengikuti proses belajarnya, baik di Sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning Taman Nasional Bukit Duabelas, Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Bunga Kembang yang di kelola oleh WARSI Jambi, maupun Jungle School yang sebelumnya digagas oleh Butet Manurung. Ketiga fasilitas Pendidikan itu fokus pada pengembangan karakter Suku Anak Dalam dan tetap memasukan materi akademisnya. Sementara di TN Kayan Mentarang, Sekolah Alam Ujung Negeri (SAUNG) yang digagas oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II Long Alango Tamsil, S.Hut.,M.Si memberikan pendidikan mengenai lingkungan hidup dan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan. Tidak jarang pula materi akademis diberikan oleh Staf Fungsional baik PEH maupun Polhut di tingkat tapak ini, yang merupakan bentuk tanggungjawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menjaga kearifan local yang ada. Bahkan tidak jarang menjadi “Guru Pengganti” untuk mata pelajaran tertentu. SAUNG dan Sekolah Rimba pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Perbedaan proses belajar mengejar merupakan hasil penyesuaian kondisi masyarakat dan kebutuhan peserta didik dimasing-masing wilayah dengan karakter masyarakat yang berbeda pula. sehingga apa yang telah di lakukan dapat memberikan dampak postif dalam upaya pemerintah mewujudkan SDM Unggul Indonesia Maju. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia 2019, BBKSDA Sumut Lepasliarkan Elang Bondol

Sibolangit, 5 Desember 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara kembali melepasliarkan 3 (tiga) individu elang Bondol (Haliartus indus) ke Suaka Margasatwa Karang Kading dan Langkat Timur Laut, pada Senin 3 Desember 2019. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan observasi selama di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, satwa tersebut dinyatakan layak untuk dilepasliarkan. Elang Bondol yang dilepasliarkan tersebut berasal dari penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara masing-masing pada tanggal 24 Januari 2019 sejumah 2 individu dan tanggal 11 April 2019 sejumlah 1 individu. Pelepasliaran satwa ini merupakan bagian upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaaan Elang Bondol di habitat alamnya, agar tetap lestari dan dapat dilihat oleh generasi selanjutnya. Pelepasliaran dilaksanakan juga sebagai bagian dari peringatan Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 4 Desember. Hari Konservasi Kehidupan Liar merupakan inisiatif Hillary Clinton, saat dirinya masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di periode pertama pemerintahan Barack Obama. Ketika memberikan sambutan dalam seminar bertema Perdagangan Hewan Liar dan Konservasi di Kementerian Luar Negeri AS, pada tanggal 8 November 2012, Hillary Clinton mengatakan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi dunia saat ini adalah masalah perdagangan hewan liar. “Hewan liar tidak dapat dipabrikasi. Dan sekali dia hilang, maka dia tidak bisa diciptakan kembali. Siapa yang mengambil keuntungan dari tindakan ilegal ini tidak hanya merusak perbatasan dan ekonomi kita, mereka juga mencurinya dari generasi mendatang,” sebut Hillary Clinton. Inisiatif Hillary Clinton menjadikan 4 Desember sebagai Hari Konservasi Hewan Liar juga disambut bagi NGO internasional WWF dan masyarakat dunia lainnya. Sumber : Samuel Siahaan - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Kunjungan Kepala Balai Besar ke Lokasi Kemitraan Konservasi di Resor Sekoci Lepan

Besitang, 3 Desember 2019 - Bertempat di Kantor BPTN Wilayah III Stabat, Kepala Balai Besar Ir. Jefry Susyafrianto, MM melakukan evaluasi perkembangan pelaksanaan Kemitraan Konservasi di Resor Sekoci Lepan pada Selasa (3/12). Rapat dihadiri struktural Balai Besar, BPTN Wilayah III Stabat, petugas wilayah dan Mitra YOSL-OIC, WCS-IP, PETAI. Agenda rapat berupa evaluasi membahas capaian pelaksanaan Pemulihan Ekosistem (PE) oleh 11 Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) mitra TN Gunung Leuser yang saat ini pelaksanaannya didukung oleh YOSL-OIC. Rabu (4/12), Menindaklanjuti rapat evaluasi di hari sebelumnya, Kepala Balai Besar TNGL didampingi pejabat struktural Balai Besar meninjau langsung lokasi Kemitraan Konservasi di Lapangan. Kepala Balai Besar berdialog dengan 11 ketua KTHK untuk menjaring masukan dan kendala-kendala yang dirasakan oleh kelompok. “Pelaksanaan Kemitraan Konservasi harus dilaksanakan secara Bersama sesuai dengan hak dan kewajiban yang tertuang dalam perjanjian kerjasama. Kedepannya Balai akan meningkatkan pendampingan yang didukung oleh mitra untuk mewujudkan kemandirian kelompok dan keterlibatan Pemerintah Daerah juga akan ditingkatkan” ujar Jefry sebagai penutup dialog. Kegiatan diakhiri dengan meninjau aktivitas kelompok tani hutan konservasi dan melihat lokasi pembibitan serta pohon yang telah ditanam di lapangan. Sumber: Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Sahabat Dari Segara Anak

Cibodas, 6 Desember 2019 - Kali ini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dikunjungi sahabat dari Indonesia bagian tengah, pemilik dari Danau Segara Anak yang berada dikawahnya, merupakan bagian dari keindahan alam yang ada di dalam kawasan tersebut yaitu Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang berada di Nusa Tenggara Barat. Rombongan tiba di TNGGP (4/12/2019) dan disambut langsung oleh Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto beserta staf. Gustonni Marianto, koordinator rombongan menyapaikan maksud kunjungannya ke TNGGP untuk benchmarking pengelolaan wisata alam, TNGR berencana akan mengembangkan wisata lainnya yang saat ini baru fokus pada pendakian. Pada sambutannya Wahju Rudianto menyampaikan, selain aktivitas wisata pendakian tidak kalah wisata lainnya di Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Situgunung sebagai penghasil PNBP wisata terbesar BBTNGGP sejak 2018. Dalam rangkaian acaranya, rombongan dari BTNGR memiliki dua agenda kunjungan benchmarking pengelolaan wisata alam. Kunjungan pertama (4/12/2019) dilakukan di kantor Balai Besar TNGGP Cibodas dan Resort PTN Mandalawangi, Bidang Wilayah I Cianjur. Kemudian agenda berikutnya adalah mengunjungi Resort PTN Situgunung, Bidang Wilayah II Sukabumi (5/12/2019). Setibanya di Resort PTN Situgunung, rombongan BTNGR mendapat sambutan hangat dari Kepala Resort PTN Situgunung, Asep Suganda, bersama petugas Resort PTN Situgunung, dan mitra karya PT. Fontis Aquam Vivam. Sajian kopi dalam suasana kabut tipis di Situgunung menambah hangatnya perbincangan. Suasana diskusi dan tukar informasi seputar pengelolaan kawasan, objek wisata, dan pemberdayaan masyarakan sekitar kawasan Resort PTN Situgunung, menjadi lebih akrab. Asep Suganda menjelaskan, “Pengelolaan wisata di Resort PTN Situgunung dengan membangun komitmen berbagai stakeholders secara berkelanjutan”. Tak hanya berbincang dan berdiskusi, rombongan BTNGR yang didampingi Kepala Resort PTN Situgunung juga berkesempatan untuk mengunjungi Curug Sawer dengan melintasi Suspension Bridge Situgunung, dan diakhiri dengan mengunjungi Danau Situgunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Meskipun lelah berkeliling di sebagian kecil kawasan TNGGP, hal tersebut terbayar dengan sajian pemandangan yang indah dan menyejukan mata. TNGGP perlu berbangga karena dijadikan sebagai tempat untuk study banding pengelolaan wisata. Sudah sepatutnya kita sebagai pengelola untuk tetap menjaga bahkan meningkatkan kualitas pelayanan serta sarana dan prasarana wisata yang ada di dalamnya. Sumber: Purnama P. S dan Asep Suganda dan Bangkit - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Penitipan Sementara Buaya Muara ke Seksi Konservasi III Kisaran Sumatera Utara

Kisaran, 4 Desember 2019. Satu individu Buaya Muara (Crocodylus porosus) peliharaan masyarakat disita oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat. Namun mengingat di Propinsi Sumatera Barat tidak memiliki lembaga konservasi yang memadai untuk tempat penitipan Buaya Muara tersebut, maka BKSDA Sumatera Barat berinisiatif untuk menitipkannya ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut). Penitipan sementara Buaya Muara dari BKSDA Sumatera Barat Ke BBKSDA Sumatera Utara dilaksanakan di kantor Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, pada Jumat, 29 November 2019, sekitar pukul 17:00 WIB. Selanjutnya buaya tersebut dievakuasi dan dititipkan di Penangkaran Buaya CV. Alian Ruswan di Simpang Gambus Batu Bara. Seperti diketahui, Buaya Muara merupakan satwa yang dilindungi sesuai Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 karena populasinya yang semakin menurun dan terancam punah. Sehingga perlu adanya tindakan konservasi untuk melindungi serta menjaga keberadaan satwa liar, dan salah satunya dengan cara penangkaran. Sumber : Alfianto - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pemasangan Plang Larangan & Aksi Bersih Jalan Tembus Karo-Langkat

Bekancan, 6 Desember 2019. Petugas Resor Bekancan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah V Bohorok Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) melakukan pemasangan plang berupa larangan untuk mendirikan bangunan, melakukan perburuan satwa, penebangan hutan ilegal dan membuang sampah sembarangan. Pemasangan plang larangan ini dilakukan pada Senin (2/12) lalu di pinggir jalan tembus Karo - Langkat tepatnya di sekitar Tugu Elang. Kegiatan pemasangan plang larangan dilanjutkan dengan aksi bersih jalan tembus Karo-Langkat. Aksi bersih diawali dari Tugu Elang sampai mengarah ke kawasan Uruk Mamre. Petugas bisa mengumpulkan sampah sebanyak kurang lebih 100kg. Sampah didominasi oleh jenis sampah dari bahan plastik yang merupakan buangan dari masyarakat yang berkunjung maupun melintas sepanjang jalan tersebut. Disamping estetika, sampah juga beresiko bagi satwa liar dan lingkungan loh. Tentu bagi manusia itu sendiri. Ayo kawan lueser tahan buang sampah sembarangan dan simpan sampah pada tempatnya. Proses denaturasi dengan mengandalkan proses alam terhadap sampah plastik akan memerlukan waktu yang sangat lama. Mari tingkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan untuk hidup yang berkelanjutan. [teks&foto@bbtngl] Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Rescue Elang Brontok

Bohorok, 3 Desember 2019 - Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah V Bohorok menerima penyerahan 2 ekor satwa berupa Elang Brontok dari warga Dusun Paya Lues Kec. Bohorok. Mengetahui satwa tersebut dilindungi oleh undang-undang, hewan yang memiliki nama ilmiah Nisaetus cirrhatus ini diserahkan kepada petugas (3/12). Untuk sementara kedua satwa yang status konservasinya masuk dalam kategori Least Concern ini ditempatkan di SPTN Wil V untuk dimonitoring bersama volunteer dari SUMECO, sebelum layak dilepasliarkan. Peningkatan kesadaran masyarakat menyerahkan satwa liar ke SPTN V diduga berkorelasi dengan trust yang terbangun karena seringnya satwa yang direlease ke TN Gunung Leuser. Sumber: Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Pulangnya Satwa Endemik Maluku dan Maluku Utara

Ambon, 5 Desember 2019. Rabu tanggal 04 Desember 2019 Pukul 06:00 WIT, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku telah menerima penyerahan satwa liar dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara berupa 10 (sepuluh) ekor burung Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) dan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) di Pelabuhan Laut Slamet Riyadi Ambon. Penyerahan burung tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penyerahan satwa liar endemik Maluku dan Maluku Utara yang dilakukan oleh pihak BKSDA Sulawesi Utara pada tanggal 30 November 2019 Pukul 17:05 WIT bertempat di Pelabuhan Laut Bastiong Kota Ternate. Saat itu BKSDA Sulawesi Utara telah menyerahkan satwa liar ke Balai Taman Nasional (BTN) Aketajawe Lolobata sebanyak 23 ekor burung endemik Maluku Utara terdiri dari 4 (empat) ekor Kakatua Putih (Cacatua alba), 6 (enam) ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata) dan 13 (tiga belas) ekor Kasturi Ternate (Lorius garrulus). Disamping itu BKSDA Sulawesi Utara juga menyerahkan satwa liar kepada BKSDA Maluku berupa 4 (empat) ekor Kera Yaki (Macaca nigra), 10 (sepuluh) ekor burung Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) dan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana). Untuk Kera Yaki (Macaca nigra) yang merupakan satwa endemik Maluku Utara langsung dibawa ke Resort Bacan untuk proses habituasi persiapan pelepasliaran yang akan dilakukan di kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Gunung Sibela Pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan. Sedangkan 10 (sepuluh) ekor Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) dan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) saat ini kami terima dan untuk sementara akan diistirahatkan di kandang Transit Passo. Selanjutnya 10 (sepuluh) ekor Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis) akan direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Masihulan, sedangkan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) akan segera dilepasliarkan di habitat aslinya di Kepulauan Tanimbar. Adapun asal usul burung-burung tersebut merupakan satwa hasil sitaan, temuan dan penyerahan masyarakat yang terjadi di wilayah kerja BKSDA Sulawesi Utara dan dititipkan untuk dirawat dan direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki. Sedangkan untuk 4 (empat) ekor Kera Yaki (Macaca nigra) merupakan hasil penyerahan dari masyarakat yang berada di Kota Ternate kepada petugas Seksi Konservasi Wilayah I Ternate BKSDA Maluku dan dititipkan di PPS. Tasikoki. Proses penyerahan dan pelepasliaran satwa dari BKSDA Sulawesi Utara ini dilakukan karena satwa tersebut sudah menjalani masa karantina dan rehabilitasi di PPS. Tasikoki kurang lebih selama 3 – 4 tahun, sehingga sudah dianggap mampu untuk bertahan hidup di alam liar. Selain itu direncanakan pada akhir tahun ini PPS. Tasikoki akan menerima pengembalian satwa liar hasil sitaan (repatriasi) yang berhasil diamankan di wilayah Dafau Filipina, sehingga pihak PPS. Tasikoki harus mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menampung satwa-satwa tersebut. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Koordinasi Pengamanan Hutan Ke Polsek Singkuang Dan Koramil Natal Lingkup SPTN III Muarasoma Resort 6 Muara Bangko

Kegiatan koordinasi pengamanan hutan di lingkup Resort pengelolaan Taman Nasional perlu dilakukan untuk mensinergikan pengelolaan taman nasional khususnya bentuk pengamanan terhadap gangguan yang terhadap kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis. Selain itu, kegiatan koordinasi pengamanan hutan di lingkup Resort ini juga dapat menggali informasi dan mendapatkan data pengelolaan bagi Taman Nasional Batang Gadis. Resort 6 Muara Bangko dengan luas 16000 ha pada wilayahnya mencakup Kecamatan Batang Natal, Kecamatan Ranto Baek, dan Kecamatan Muara Batang Gadis. Polsek Singkuang merupakan Sektor Polisi dari Polres Kabupaten Mandailing Natal, yang mencakup wilayah Kecamatan Muara Batang Gadis. Sedangkan Koramil Natal merupakan Rayon Militer dari Kodim 212 di Padangsidempuan, yang memiliki wilayah mencakup Kecamatan Natal, Kecamatan Muara Batang Gadis dan Kecamatan Sinunukan. Hasil dari koordinasi pengamanan hutan ke polsek Singkuang dan Koramil Natal yaitu : Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

TN Gunung Gede Pangrango Lestari Bersama KTH Kuta Lestari

Selasa, 3 Desember 2019 - Tim gabungan yang terdiri dari Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Lingkup BW II Sukabumi, Petugas Resort PTN Nagrak, Conservation International Indonesia (CII), dan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Kuta Lestari yang merupakan mitra TNGGP yang peduli terhadap pengelolaan konservasi melakukan kegiatan monitoring satwa liar dengan menggunakan camera trap, di Blok Balsa yang termasuk dalam zona tradisional Resort PTN Nagrak. Kegiatan monitoring satwa liar untuk mengetahui kehadiran satwa liar di zona tradisional lokasi pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) KTH Kuta Lestari yang didominasi tegakan Damar (Agathis dammara). Kegiatan ini merupakan pemenuhan komitmen yang tercantum dalam RKT KTH Kuta Lestari. Hadirnya satwa liar di lokasi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembinaan habitat. Jumlah camera trap yang dipasang sebanyak 3 (tiga) buah dan tersebar di lokasi tersebut. Pemasangan akan dilakukan selama satu bulan ke depan, dan petugas akan kembali mengecek hasil rekam dari camera trap tersebut bulan Januari 2020. Sebelumnya Tim CII didampingi petugas Resort PTN Nagrak juga telah memasang camera trap untuk memonitoring keberadaan satwa liar di lokasi yang sama. Hasil yang diperoleh cukup memuaskan, karena tidak hanya satwa liar kecil yang tertangkap kamera, tetapi macan tutul jawa (Panthera pardus melas) juga terlihat eksis menunjukkan keberadaannya di lokasi tersebut. Dengan kemunculan berbagai macam satwa liar ke lokasi adopsi pohon menunjukkan bahwa pembinaan habitat di lokasi tersebut cukup berhasil karena satwa liar tersebut sudah menganggap lokasi tersebut sebagai “rumah” sehingga tidak segan untuk datang dan kembali tinggal di hutan baru tersebut. Dengan menggandeng KTH Kuta Lestari, petugas Resort PTN Nagrak ingin melibatkan masyarakat secara langsung untuk menjaga serta melestarikan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). KTH Kuta Lestari merupakan salah satu KTH Kemitraan Konservasi Pemberian Akses Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu berupa Getah Damar di Zona Tradisional pada Resort PTN Nagrak sehingga memiliki kewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengamanan hutan serta melakukan pembinaan habitat. Sumber: Andriyatno Sofiyudin, S.Hut dan Arie Yanuar, S.Hut - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Mengungkap Identitas Anggrek Hitam Papua

Sorong, 5 Desember 2019. Konferensi Internasional terkait Biodiversitas, Ekoturisme, dan Kreatif Ekonomi (International Conference on Biodiversity, Ecotourism, and Creative Economy - ICBE 2018) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat pada bulan Oktober tahun 2018 silam. Di acara tersebut hadir dua peneliti/ahli anggrek, Eduard de Vogel dan André Schuiteman, yang telah mendeskripsikan ratusan jenis-jenis anggrek yang berasal dari region New Guinea. Mereka berdua dapat dikatakan sebagai orang yang paling mengetahui keanekaragaman jenis anggrek di tanah Papua saat ini. Bukan tanpa proses, mereka telah fokus meneliti jenis-jenis anggrek di Asia Tenggara selama lebih dari 40 tahun. Pada salah satu sesi workshop mengenai anggrek, kami menanyakan identitas sebenarnya dari “Anggrek Hitam Papua”. Titik cerah pencarian identitas Anggrek Hitam Papua datang setelah bertanya kepada dua orang ahli anggrek dari Belanda tersebut. Ed de Vogel dan André yang telah lama meniliti anggrek Papua pun tidak tahu mengenai Anggrek Hitam Papua, yang mereka ketahui adalah Anggrek Hitam Kalimantan. Setelah diberikan informasi mengenai foto anggrek yang dimaksud, mereka hanya berkata itu adalah anggrek silangan dan bukan asli Papua. Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Jimmy Frans Wanma, Dosen di Universitas Negeri Papua yang juga tertarik dengan famili Orchidaceae. Dengan bantuan teman lainnya, kami berhasil mengidentifikasi Anggrek Hitam Papua yang dimaksud. Anggrek tersebut adalah Cymbidium Kiwi Midnight ‘Geyserland’. Anggrek Cymbidium Kiwi Midnight ‘Geyserland’ merupakan jenis anggrek hybrid atau silangan yang populer antara tahun 2001 sampai dengan awal tahun 2015. Anggrek ini merupakan hasil silangan pakar budidaya anggrek Cymbidium asal Amerika Serikat, Andy Easton. Parental atau indukan dari anggrek ini adalah Cymbidium Janet Holland x Cymbidium Khairpour. Informasi detail mengenai jenis anggrek silangan ini dapat dilihat di bagian literatur. Namun jelas sekali, anggrek ini tidak pantas disebut sebagai ‘Anggrek Hitam Papua’. Hal tersebut dikarenakan anggrek ini bukanlah anggrek alami asal Papua, melainkan anggrek silangan asal Amerika Serikat. Banyak pengalaman dengan masyarakat lokal yang menamakan anggrek miliknya sebagai Anggrek Hitam Papua. Setelah berhasil teridentifikasi, beberapa jenis anggrek hitam yang dimaksud diantaranya adalah Coelogyne beccarii Rchb.f., Grammatophyllum stapeliiflorum (Teijsm. & Binn.) J.J.Sm., dan Renanthera caloptera (Rchb.f.) Kocyan & Schuit. Namun sampai dengan saat ini, belum ada anggrek yang benar-benar terkenal di dunia internasional sebagai Anggrek Hitam Papua. Nantinya, mungkin akan ada satu jenis anggrek lokal yang menggantikan promosi keliru dari Anggrek Cymbidium Kiwi Midnight ‘Geyserland’ sebagai Anggrek Hitam Papua. Selengkapnya klik link sbb : Mengungkap Identitas Anggrek Hitam Papua Sumber: Reza Saputra - Calon Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Babinsa dan PEH Balai TN Taka Bonerate Berkunjung Ke PAUD TK Melati Jinato

Resort Jinato - Taman Nasional Taka Bonerate, 5 Desember 2019. Pendidikan Konservasi harus terus digalakkan usia sejak dini. Pada tanggal 3 desember 2019 kemarin, bertempat di resor Jinato Desa Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) dilaksanakan Pendidikan Konservasi secara kolaborasi. Kali ini petugas fungsional PEH resort Jinato TNTBR Hendra Mustajab dan Hasan Babinsa Jinato mendatangi siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Taman Kanak-kanak Melati Desa Jinato Kecamatan Taka Bonerate. Kedua petugas lapangan ini mensosialisasikan dan mengenalkan biota-biota laut dilindungi tentunya dengan cara yang menyenangkan. "Siapa yang tau binatang apa yang kakak pegang ini" tanya Hendra sambil memperlihatkan spesimen penyu. "Pannyu, pak" jawab serentak siswa yang tak lebih dari 30 anak ini dengan bahasa lokal. Masih banyak siswa-siswi tidak mengetahui beberapa biota dilindungi. Penyu ini adalah biota dilindungi oleh negara bahkan dunia, karena Penyu salah satu binatang yang hidupnya paling rentan. Telurnya banyak sekali bertelur namun yang hanya sampai dewasa hanyalah dua ekor saja. "Jadi sudah tau ya, kalau ketemu dengan binatang ini tidak boleh diganggu" timpal pak Hasan Metode pembelajaran disampaikan dengan santai, para siswa-siswi Paud dan guru-guru pengajar senang petugas berkunjung dan mengajar tentang wawasan lingkungan dan konservasi. Semoga ilmu atau informasi yang didapatkan ini bisa disampaikan ke keluarganya atau teman-temannya. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Pemanfaatan HHBK, Balai TN Gunung Rinjani Terapkan Kemitraan Konservasi

Mataram, 5 Desember 2019. Penandatanganan perjanjian kerjasama rencana pelaksanaan program dan rencana kerja tahunan kemitraan konservasi antara Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) dengan kelompok masyarakat tani Montong Jinatri dan kelompok Wakul Lani bertempat di Ruang Aula Kantor Balai TN Gunung Rinjani (5/12). Pejabat struktural Balai TN Gunung Rinjani dan staf turut hadir bersama Kepala Bappeda Kabupaten Lombok Utara, Kepala Bappeda Lombok Timur, Camat Bayan, Camat Lenek dan anggota kelompok masyarakat Wakul Lani dan Montong Jinatri. Perjanjian kerjasama ini mengenai penguatan fungsi kawasan pelestarian alam berupa pemberian akses pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di zona tradisional resort Senaru BTNGR. Hal ini bertujuan meningkatkan perlindungan dan pengawetan flora dan fauna serta pembinaan habitat dalam rangka mempertahankan keberadaan populasi hidupan liar dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian akses terhadap kawasan hutan. "Dengan adanya perjanjian ini pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti produksi madu dari kawasan yang dilakukan masyarakat lebih punya value yang baik dengan demikian industri di kawasan desa bisa dikenal lebih luas. Perjanjian ini sebagai perwujudan bahwa TNGR menjadi milik bersama untuk menjadikan sebagai hutan lestari" ucap Dedy Asriady Kepala Balai TN Gunung Rinjani saat membuka kegiatan. Putu Hery dari Bappeda Kabupaten Lombok Utara menyampaikan bahwa TNGR merupakan stakeholder penting dalam komponen perencanaan daerah, tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan hutan dan sumber air di pulau Lombok. Sedangkan dari Bappeda Kabupaten Lombok Timur Lalu Rizal Akhadi menyampaikan dalam mewujudkan Paradigma Hutan lestari dan masyarakat sejahtera TNGR tidak bisa berjalan sendiri tanpa melibatkan masyarakat dan desa karena masyarakat hidup dari hutan. Ketika masyarakat dilibatkan maka program yang dijalankan TNGR akan lebih mudah untuk di implementasikan. Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara sangat mendukung Perjanjian kerjasama ini agar lebih bersinergi kedepannya bagi Pemerintah daerah, masyarakat dan TNGR. Sebagai informasi, Balai TNGR memberikan bantuan binaan kepada kedua kelompok tani masyarakat masing-masing sebesar Rp. 29 juta untuk peningkatan produksi HHBK. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Kunjungan Negeri Kelantan Jabatan Perhutanan Kerajaan Kelantan

Selasa, 3 Desember 2019 - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menerima kunjungan dari Jabatan Perhutanan Negeri Kelantan Malaysia di RPTN Situgunung, Seksi IV, Bidang Wilayah II Sukabumi. Rombongan dari Jabatan Perhutanan Negeri Kelantan yang diketuai oleh Edwin Noor, tiba pada pukul 13.18 WIB disambut hangat Kepala Resort PTN Situgunung, Asep Suganda beserta staf dan dari Polsek Kadudampit, Kapolsek Iptu Agus Suherman. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang diwakili oleh Kepala Resort PTN Situgunung mengenalkan sekilas tentang Profil Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Tourist Information Center (TIC). Antusiasme terlihat dari rombongan Jabatan Perhutanan Negeri Kelantan Malaysia saat mendengar pemaparan Profil TNGGP. Pada akhir perkenalan, rombongan Jabatan Perhutanan Kerajaan Kelantan memberikan kenang-kenangan berupa cinderamata. Selanjutnya rombongan yang didampingi Kepala Resort PTN Situgunung, mulai bergerak menuju objek wisata Curug Sawer, dengan melintas dan merasakan sensai Situgunung Suspension Bridge. Terucap syukur disela pandangan mata dari rombongan yang tiba di Curug Sawer, karena bisa menikmati dan mengabadikan keindahan alam Taman Nasioanal Gunung Gede Pangrango. Rombongan Jabatan Perhutanan Negeri Kelantan meninggalkan area Situgunung hingga pada pukul 16.20 WIB dengan membawa kenangan manis tentang keindahan alam Indonesia dan kunjungan ini dapat menjadikan sebagai media promosi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Malaysia. Sumber: Purnama P.S dan Asep Suganda - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Penguatan Kapasitas SDM TNBB untuk Transformasi menuju Era Digital.

Gilimanuk, 4 Desember 2019. Balai TN Bali Barat trus menguatkan kapasitas SDM dengan kembali melaksanakan kegiatan In House Training bagi petugas lapangan yang terdiri dari fungsional PEH, Polhut dan penyuluh kehutanan. In House Training dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 2 - 3 Desember 2019. Materi yang dipelajari adalah tentang penggunaan aplikasi eRemoteTNBB yang telah dikembangkan, dan materi identifikasi flora/fauna yang ada di kawasan TN Bali Barat. Selain pemberian materi dan diskusi di ruangan, dilaksanakan juga simulasi pengambilan data potensi di sekitar kantor Balai TN Bali Barat. Dengan adanya kegiatan In House Training ini diharapkan para petugas menjadi lebih mahir dalam melaksanakan kegiatan patroli dan pengambilan data kawasan TNBB khususnya dalam identifikasi flora/fauna dan pengambilan data menggunakan aplikasi eRemoteTNBB yang dapat dioperasikan menggunakan smartphone. Salam Lestari! Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat

Menampilkan 4.353–4.368 dari 11.140 publikasi