Selasa, 5 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Peresmian Kantor Resort Cagar Alam Teluk Kelumpang Kotabaru

Geronggang, 6 Desember 2019 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan peresmian Kantor Resort Cagar Alam Teluk Kelumpang yang berada di Desa Geronggang Kecamatan Kelumpang Tengah Kabupaten Kotabaru. Pembangunan Kantor Resort Cagar Alam Teluk Kelumpang merupakan bagian dari PKS Pembangunan Strategis antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan dengan PT. Arutmin Indonesia. Kegiatan ini dihadiri beberapa tamu undangan diantaranya Dedi H selaku Manager beserta rombongan Management PT. Arutmin Indonesia Site Senakin , Kapolsek Kelumpang Tengah Ipda Ikhsan P, Danramil 1004-06 Senakin dalam hal ini diwakili oleh Babinsa Suyanto, Kepala KPH Cantung Munandar, Wakil Kepala Sekolah SMP N 2 Kelumpang Tengah Ibu Nursiah beserta siswa, M. Jainudin Kepala Desa Tamiang Bakung, M. Kusyairi Kepala Desa Sangsang, Rian Hidayat Kepala Desa Geronggang, Adiyatul Mukhsin Kepala Desa Sembilang, Tokoh Masyarakat Habib Bakir Al-Idrus, H. Sabran, H. Ibrahim, dan M. Noor. Peresmian ini juga dihadiri oleh Anggota Kelompok Pecinta Kawasan Konservasi Lutung Dahi Putih yang di bentuk oleh BKSDA Kalsel. Kantor Resort Cagar Alam Teluk Kelumpang di resmikan langsung oleh Ka. Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M. Sc yang di dampingi Kepala Seksi Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc. serta Manager PT. Arutmin Indonesia Site Senakin beserta tamu undangan yang berhadir. Tujuan kehadiran kantor resort untuk lebih mendekatkan BKSDA dengan masyarakat sekitar kawasan. Pada kegiatan ini kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan juga melakukan penyuluhan kepada masyarakat desa sekitar kawasan mengingat pentingnya menjaga kelestarian Kawasan Konservasi Cagar Alam Teluk Kelumpang. Kepala Balai juga menyampaikan beberapa peran penting Kawasan Konservasi Cagar Alam Teluk Kelumpang bagi kehidupan masyarakat sekitar Kawasan. Kegiatan Peresmian Kantor Resort Cagar Alam Teluk Kelumpang dan Penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan di akhiri dengan penanaman pohon di lingkungan kantor resort diikuti siswa SMPN 2 Kelumpang dan undangan lainnya. (ryn) Sumber : Faisal Akbar Rhamadani, S.Hut - Staf Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

METT Untuk Penilaian Efektivitas Pengelolaan Taman Nasional Bunaken

Manado, 4 Desember 2019. Balai Taman Nasional Bunaken bersama para pihak antara lain Pemerintah Daerah Kota Manado, Kab. Minahasa, Kab. Minahasa Selatan, Kab. Minahasa Utara, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Universitas Sam Ratulangi, Lantamal VIII, Pengusaha Jasa Wisata yang bergerak di TN Bunaken, Kelompok Nelayan, dan Masyarakat melaksanakan penilaian efektivitas pengelolaan TN Bunaken dengan metode METT. Sebagai Kawasan Pelestarian Alam, Taman Nasional Bunaken keberadaannya memberikan nilai penting dalam peningkatan pembangunan di daerah serta multiplayer effect dari berbagai segi seperti kegiatan wisata alam diving dan snorkeling serta pemanfaatan ekonomi dan perikanan. Management Effektiveness Tracking Tool (METT) suatu alat pendekatan yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) untuk melakukan penilaian terhadap kawasan konservasi termasuk didalamnya kawasan Taman Nasional. Berdasarkan hasil penilaian METT tahun 2017, Taman Nasional Bunaken memperoleh nilai sebesar 71%, dan harapannya pada penilaian METT di tahun 2019 terdapat peningkatan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Balai Taman Nasional, Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si, bahwa penilaian efektivitas pengelolaan Taman Nasional Bunaken menjadi instrumen dan peningkatan perbaikan kedepan. Dengan dukungan para pihak dari Pemerantah Daerah, Perguruan Tinggi, Pengusaha Jasa Wisata, dan Masyarakat dalam input perencanaan diharapkan memberikan kontribusi nyata capaian pengelolaan kawasan Taman Nasional Bunaken. Tujuan-tujuan pengelolaan telah dituangkan dalam Rencana Pengelolaan TN Bunaken periode 2019-2028, tutur Farianna. Sebanyak 50 peserta dari perwakilan para pihak terlibat dalam kegiatan penilaian METT Taman Nasional Bunaken. Melalui proses diskusi yang panjang diperoleh hasil akhir penilaian tahun 2019 adalah 77%, artinya berdasarkan evaluasi dan penilaian bersama para pihak capaian pengelolaan Taman Nasional Bunaken telah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, dengan demikian outcome sesuai berdasarkan tujuan yang ditetapkan, walaupun masih terdapat beberapa aspek yang harus ditingkatkan dalam hal koordinasi dan komunikasi dengan para pihak. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Solidaritas Rimbawan Anti Narkoba dan BNN Untuk Bumi dan Manusia

Makassar, 9 Desember 2019 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan yang merupakan UPT Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Balai Rehabiliatsi BNN Baddoka Makassar melaksanakan giat “Talkshow Bahaya Narkoba – Menjalin Kasih Tanpa Stigma” di Kompleks Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar pada Hari Sabtu, 7 Desember 2019. Deputi Rehabilitasi BNN, Dra Yunis Fadira OT Bersama Kepala BNN Sulsel, Brigjen Pol Drs Idris Kadir dan Kepala Rehabilitasi BNN se Indonesia menyempatkan hadir di giat solidaritas Rimbawan Anti Narkoba ini. Di rangkaian kegiatan yang terdiri dari senam pagi, penanaman pohon, pemberian alat biopori, penyerahan Rusa Timor dan Talkshow bahaya narkoba serta dimeriahkan penampilan drumband SMK-Kehutanan Kehutanan dan Band Client Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar. Ditemui di lokasi penyerahan Rusa Dra. Yunis Fadira selaku Deputi Rehabilitasi BNN memberi nama kepada sepasang Rusa Timor, untuk yang jantan bernama Narko dan betina bernama Tika. Dalam keterangannya “pemberian nama rusa Narko dan Tika ini adalah symbol kita untuk memerangi narkoba, Stop Narkoba Sekarang Juga” Pungkas Farida. Selain itu dalam giat solidaritas ini dilakukan penandatangan Mou kerjasama antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel dengan Balai Rehabilitasi BNN Baddoka makassar. Mou kerjasama ini ditandangani langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Ir.Thomas Nifinluri dan Kepala Bala Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar, dr. Iman Firmansyah, Sp.KJ Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc dalam paparannya di Talkshow menjelaskan “Rimbawan itu bukan hanya kita yang bekerja di kehutanan atau yang sarjana kehutanan saja tapi jika kita telah menjaga lingkungan, menanam pohon dan mencegah kerusakan alam maka kita adalah Rimbawan” Terang Thomas. Di sela paparannya Thomas mempromosikan Taman Wisata Lejja yang merupakan Hot Spring di Sulawesi Selatan.”Terapi dengan berendam di mata air panas itu punya banyak manfaat buat tubuh salah satunya menghilangkan stress” selain itu Thomas juga mengenalkan terapi unik yang bernama Terapi Pohon, “Manfaat memeluk pohon ini banyak diyakini oleh orang Jepang. Untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Orang Jepang menyebutnya “Shinrin-yoku” Minyak esensial kayu di udara yang dipancarkan oleh pohon disebut phytoncides. Bermanfaat meningkatkan jumlah sel darah putih dalam tubuh. untuk melawan penyakit serta dapat memperkuat Lima indera kita” Pungkasnya. Kepala Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar, dr. Iman Firmansyah, Sp.KJ menerangkan jenis-jenis Narkoba mulai dari jaman Old sama yang baru. Para peserta Talkshow yang memenuhi aula olahraga BNN berkapasitas 500 orang tersebut sangat antusias mendengarkan alhasil banyak pertanyaan dan diskusi kepada dokter ahli kejiwaan ini. dr. Nur Ashari, M.Kes. Sp.GK. selaku Sekertaris Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menerangkan “gizi seimbang modalitas pencegahan dan penyalahgunaan Narkoba”. Ada banyak informasi dan pengetahuan terkait gizi seimbang yang seharusnya dalam paparan dokter bidang gizi ini. Untuk bahan materi Talkshow ini dapat di download di URL dibawah ini :http://bit.ly/2P0OaX6 Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas BBKSDA Sulsel - Husain. SH
Baca Berita

Menelusuri Jejak Keberadaan ‘Sang Raja Rimba’

Panyabungan, Desember 2019. Kegiatan survei okupansi harimau sumatera yang bertujuan untuk mengetahui wilayah hutan yang menjadi hunian dari satwa tersebut pada tahun 2019 ini dilakukan Balai Taman Nasional Batang Gadis. Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) sebagai salah satu Taman Nasional yang berada di Pulau Sumatera menjadi salah satu lokasi yang kawasannya masuk landskap utama harimau sumatera. Kawasan hutan di Taman Nasional Batang Gadis ini menjadi salah satu wilayah hunian harimau sumatera di mana keberadaan satwa kharismatik tersebut telah beberapa kali tercatat saat melakukan Survei dan pemasangan kamera jebak (camera trap). Beberapa konflik satwa yang melibatkan harimau sumatera juga pernah terjadi beberapa waktu lalu yang semakin menegaskan bahwa kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis merupakan salah satu landskap penting bagi satwa terancam punah ini. Sebanyak 5 kegiatan survei okupansi telah rampung dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional batang Gadis dengan hasil temuan jejak yang beragam, ada yang menemukan jejak dari harimau sumatera pada lokasi survei dan ada juga yang tidak. Survei ke-4 yang dilakukan di hutan sekitar Desa Batahan Kecamatan Kotanopan yang berada di lokasi SPTN Wilayah II Kotanopan. Kontur lokasi survei ini cukup curam dan berbukit-bukit dengan kemiringan lebih dari 45?. Pada Survei ini berhasil mencapai 4 ulangan (4 Km) dengan 5 segmen tiap ulangan (Total 20 segmen). Jumlah temuan sebanyak 4 tipe temuan yang terdiri dari 3 sosoran dan 1 kubangan. Satwa selanjutnya yang ditemuakan tanda-tandanya paling banyak adalah Helarctos malayanus (HUM) / Beruang Madu dengan 3 tanda berupa cakaran di pohon kemudian diikuti kijang dengan 2 tanda berupa tapak dan jenis kucing-kucingan dengan 2 tanda berupa cakaran di pohon. Satwa berikutnya yang paling sedikit dijumpai tanda keberadaannya yaitu masing-masing 1 tanda adalah Tapirus indicus (TAI) / Tapir Asia dengan tanda berupa kotoran dan Rhyticeros undulatus (RHU) / Julang Emas serta Galeopterus variegatus (GAV) / Kubung dengan Perjumpaan langsung. Untuk tanda tanda keberadaan dari Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada lokasi ini sepanjang 4 Km (4 ulangan) yang telah dilakukan tidak ditemukan. Beberapa faktor seperti jalur yang digunakan untuk Survei pada ulangan ke-1, dan ke-2 yang merupakan akses jalan masyarakat desa Batahan menuju ke perkebunan mereka bisa menjadi faktor tidak ditemukaanya tanda-tanda keberadaan dari Harimau sumatera. Kontur lokasi yang berbukit-bukit (Tor) dengan kemiringan cukup curam (>45?) juga menjadi sebab tidak ditemukaannya tanda-tanda keberadaan dari harimau sumatera tersebut. Dalam survei ini juga tercatat tanda-tanda keberadaan Tapir berupa kotoran yang mengindikasikan keberadaan satwa ini menyebar di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis bahkan di lokasi yang curam dan berbukit sekalipun. Satwa lainnya yang ditemukan tanda-tandanya yaitu jenis kucing hutan kecil berupa cakaran di pohon. Uniknya temuan cakaran kucing hutan kecil ini hanya tercatat di ulangan ke-1 yang merupakan jalan masyarakat menuju kebun dan tidak ditemukan di lokasi lain bahkan di kawasan zona rimba TNBG di pertengahan ulangan ke-3 dan seluruh ulangan ke-4. Temuan mengejutkan lainnya yaitu perjumpaan langsung dengan satwa Julang emas yang merupakan salah satu jenis rangkong dilindungi sebanyak 2 ekor dan mamalia jenis Kubung (Tupai terbang) yang secara tiba-tiba melompat dan melayang dari satu pohon ke pohon lain tepat di depan tim survei. Temuan secara langsung Kubung ini cukup menarik karena berdasarkan catatan data mamalia sebelumnya keberadaan jenis kubung ini belum pernah terlihat secara langsung dan hanya berupa info dari masyarakat sehingga temuan ini sangat bermanfaat dalam memperbaharui data temuan satwa khususnya mamalia di Taman Nasional Batang Gadis. Sumber : M. Zulfan Aris - Calon PEH Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Sindikat Pemburu Harimau Sumatera Diamankan

Pekanbaru, 7 Desember 2019. Tim gabungan yang terdiri dari Ditjen Gakkum LHK, BBKSDA Riau dan BKSDA Jambi bersama Baintelkam Polri, berhasil membekuk pelaku kejahatan perburuan satwa dilindungi berupa Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Provinsi Riau. Penangkapan dilakukan berdasarkan informasi yang disampaikan oleh masyarakat tentang dugaan perburuan satwa dilindungi selanjutnya melakukan pengembangan dan menemukan lokasi dimaksud di Desa Teluk Binjai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Petugas berhasil mengamankan 3 orang pelaku dan memperoleh barang bukti yaitu 4 (empat) ekor janin Harimau Sumatera yang disimpan dalam toples di rumah salah seorang tersangka. Selanjutnya berdasarkan informasi yang diperoleh dilakukan pengejaran pelaku lainnya ke Jalan Lintas Timur Sumatera dan mengamankan 2 (dua) orang pelaku lainnya dengan barang bukti 1 lembar kulit harimau dewasa di Kelurahan Pangkalan Lesung, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan. Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera mengapresiasi kerjasama KLHK dan POLRI serta masyarakat yang berhasil mengungkap adanya kejahatan yang mengancam kelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar, terutama jika dikaitkan dengan konflik manusia dengan Harimau Sumatera yang terjadi beberapa tahun belakangan ini menunjukkan potensi permasalahan dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dengan motif keuntungan pribadi, pemerintah melalui KLHK pasti sangat serius dengan permasalahan ini (konflik hariamau dan manusia) termasuk dalam proses penegakan hukum sesuai ketentuan perundang-undangan. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh PPNS KLHK terhadap pelaku diterapkan Pasal 40 Ayat 2 Jo. Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Balai TN. Aketajawe Lolobata Turut Meriahkan GNPDAS di Kantor Gubernur Malut

Sofifi, 4 Desember 2019. Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai atau disingkat dengan GNPDAS merupakan kegiatan penanaman atau rehabilitasi lahan dan hutan. GNPDAS juga memiliki program satu orang menanam 25 pohon seumur hidup. Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai Pengelolaan DASHL Akemalamo pada acara GNPDAS di kantor Gubernur Maluku Utara (3/12). Rangkaian kegiatan GNPDAS ini diawali dengan penanaman di perkantoran Brimob Maluku Utara di Sofifi. Penanaman dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2019 secara bersama-sama dengan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Balai Pengelolaan DASHL Akelamo, Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, dan Brimob Maluku Utara. Acara penanaman tersebut dihadiri oleh Komanan Brimob dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara. Keesokan harinya, kegiatan GNPDAS dipusatkan di Kantor Gubernur Maluku Utara. Kegiatan ini di buka oleh Sekretaris Daerah yang mewakili Gubernur Maluku Utara. Dalam pembukaan tersebut, Sekretaris daerah membacakan pidato Menteri LHK. Peserta yang hadir dalam kegiatan penanaman ini antara lain para pejabat eselon lingkup provinsi Maluku Utara, lingkup Kementerian LHK, TNI, Polri, para mitra dan siswa pramuka. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman di halaman kantor Gubernur Maluku Utara. Beberapa tanaman yang di tanam antara lain pohon berkayu dan pohon buah. Setelah penanaman, para peserta yang hadir dapat membawa pulang bibit pohon dan buah secara cuma-cuma yang telah disediakan oleh panitia. Panitia juga menyampaikan bahwa para tamu undangan dan masyarakat dapat mengambil bibit gratis di persemaian Balai Pengelolaan DASHL Akemalamo di Sofifi. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Membangun Solidaritas Rimbawan dan Angkasawan untuk Bumi dan Manusia

Makassar, 9 Desember 2019 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan yang merupakan UPT Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaksanakan giat “Ayo Menanam Hijaukan Bumi” di Kompleks Akademi Teknis Keselamatan Penerbangan (ATKP Makassar) pada Hari Jumat, 6 Desember 2019. Sebanyak 455 bibit pohon terdiri dari ebony, cemara gunung, angsana, rambutan, glodokan, merbau, trembesi, ketapang, cempedak, jati, tanjung dan kemiri ini, merupakan aksi penghijauan dan upaya menjaga lingkungan di ATKP Makassar. Direktur ATKP Makassar, Ahmad Bahrawi yang ditemui di sela kegiatan mengatakan bahwa konsep untuk menjadi kampus asri dan hijau semakin nyata di ATKP Makassar. Sebelumnya pihak kampus telah mengharuskan setiap taruna baru membawa bibit pohon, untuk ditanam di ATKP Makassar. “Ini merupakan upaya kita menjaga keasrian kampus. Kita ingin kampus ATKP menjadi kampus yang hijau dan asri. Dan untuk itu, kita akan tetap terus berkoordinasi dengan pihak yang memang berkompeten terhadap penghijauan. Tentu penanaman disesuaikan dengan lahan dan jenis tanah. Karena kita tahu bahwa lahan kampus ATKP dulunya adalah empang. Konsep penghijauan akan terus kita lakukan di kampus kita. Kita akan coba buat landscap areal kampus. Termasuk koordinasi tentang tanaman yang cocok dengan kondisi lahan. Penghijauan dalam areal kampus tetap kita programkan. Dan itu sudah dilakukan dengan menerapkan bahwa setiap taruna baru membawa satu pohon untuk ditanam. Aneka pohon yang ada di sini adalah bagian dari penanaman yang dilakukan oleh taruna kita,” jelas Ahmad Bahrawi. Hal senada juga ditegaskan Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Thomas N. Menurutnya, kondisi Makassar dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang masih jauh dari persyaratan, bisa disiasati dengan keterlibatan kampus dalam penghijauan. Salah satunya ATKP Makassar. “Di Makassar hanya ada 9,5 persen RTH dari 30 persen yang dipersyaratkan. Ini masih jauh dari yang diharapkan. Di ATKP ini, dengan lahannya seluas 16 hektar lebih, kita amati mampu memenuhi persyaratan 30 persen lahan yang bisa dijadikan RTH. Penanaman kita lakukan di ATKP salah satu alasannya adalah adanya perubahan fungsi lahan dari kawasan sebelumnya yang merupakan hutan mangrove menjadi kampus. Sehingga dengan penanaman bibit, lingkungan tetap bisa terjaga dan asri kembali,” jelasnya. Ditambahkannya pula pihaknya selalu siap menyalurkan bibit pohon khususnya untuk penghijauan. “Kawasan lahan ATKP cukup luas untuk kita jadikan RTH. Seluruh sekolah yang ada di Makassar, bisa meraih Adiwiyata dengan mempersyaratkan RTH. Begitu banyak sekolah, fasum dan fasos, yang berpeluang kita jadikan RTH Makassar, mengingat masih minimnya jumlah taman-taman di Makassar yang menjadi RTH,”pungkasnya. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas BBKSDA Sulsel - Husain. SH
Baca Berita

Balai TN MerBeti Rayakan HUT DWP

Jember, 6 Desember 2019. Halaman kantor Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) diramaikan dengan aktivitas senam pagi yang diikuti oleh petugas dan dharma wanita persatuan Balai TN MerBeti (6/12). Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Dharma Wanita Persatuan (DWP) yang ditetapkan pada tanggal 7 Desember dan juga hari ibu pada tanggal 22 Desember. "Mari kita dukung kegiatan dharma wanita persatuan. Dan untuk ibu-ibu dukunglah bapak-bapak yang ditugaskan bekerja di lapangan. Ikhlaskan doakan yang terbaik, untuk kita demi TN MerBeti." Sambutan Kabalai TN MerBeti, Maman Surahman, S.Hut., Msi. Setelah sambutan Kabalai, peserta menyerbu area bazar DWP yang menyediakan sembako, hasil olahan ibu-ibu DWP seperti kue, jeli, es kopyor, sate jamur, dan lain lain. Dagangan yang menjadi favorit dan habis terjual yaitu sate jamur. Dilanjutkan lomba memindah karet dengan sedotan dan memindah balon. Lomba ini diikuti oleh ibu-ibu DWP. Keseruan ditutup dengan acara makan bersama di aula balai. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Raih Stand Terbaik, Bukti Komitmen BKSDA Jakarta Dalam Pelayanan Pendataan dan Edukasi

Jakarta, 9 Desember 2019. Setelah berlangsung selama 30 hari, akhirnya pada tanggal 7 Desember 2019 Kegiatan Pameran Keanekaragaman Hayati Expo 2019 yang dihelat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat resmi ditutup. Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan PT. Malik Ghoniyyu Razaak selaku event organizer ini mengusung tema 'Membangun Generasi Millenial Cinta Puspa dan Satwa Nasional untuk Indonesia Unggul'. Pameran ini bertujuan membangun kesadaran dan membentuk kecintaan masyarakat Indonesia pada puspa dan satwa Indonesia. “Dengan terus mengkampanyekan kepada masyarakat, diharapkan masyarakat khususnya generasi muda untuk dapat ikut serta, berperan secara aktif dan positif dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia,” tutur Sekretaris Jenderal KLHK dalam sambutan penutup kegiatan yang dibacakan oleh Kepala Balai KSDA Jakarta, Ir. Ahmad Munawir, S.Hut. M.Si. Pameran Kehati Nusantara Expo 2019 diikuti sebanyak 380 peserta yang berasal dari berbagai unsur seperti Kementerian/Lembaga, UPT Kementerian LHK, Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta, UKM dibidang penangkaran dan perdagangan tumbuhan dan hewan peliharaan, serta komunitas-komunitas pecinta tumbuhan dan hewan. Balai KSDA Jakarta yang ikut serta dalam kegiatan pameran ini mendapat gelar Stand Terbaik I dari pihak Panitia diikuti oleh Stand PKBSI (Perhimpunan Kebun Binatang Se Indonesia) dan BKSDA Jawa Tengah sebagai Juara II dan Juara III. Sejak awal, konsep yang diusung oleh BKSDA Jakarta yaitu memperpadukan unsur pelayanan, edukasi, dan entertainment (games, fotografi). Dari seisi pelayanan, BKSDA berkomitmen untuk memberikan pelayanan pendataan bagi pemilik satwa khususnya burung yang dilindungi sesuai PermenLHK No. 106 tahun 2018. Selama kegiatan pameran, tercatat sekitar 976 orang dengan jumlah burung sekitar 4.810 ekor. Jenis yang paling dominan adalah Cucak Hijau sebanyak 2.259 ekor (46,96%) diikuti Murai Batu 1.381 ekor (28,71%), Love Bird 403 ekor (8,38%), Kacer 247 ekor (5,14%), dan Anis Merah 67 ekor (1,39%). Petugas pameran dengan sabar dan teliti melayani masyarakat yang berniat mendaftarkan burungnya yang tentunya disertai dengan penjelasan terkait batas maksimal sosialisasi pendataan. Hal lainnya yang cukup banyak menjadi pertanyaan yaitu terkait dengan upaya izin penangkaran oleh masyarakat. Sementara itu, adanya kunjungan dari siswa-siswa di 13 Sekolah Dasar di sekitar Jakarta menambah unsur edukasi yang dilakukan BKSDA Jakarta dalam rangka pendidikan karakter yang cinta lingkungan sejak dini. Tercatat sekitar 307 anak yang datang ke stand BKSDA Jakarta untuk mengenal tentang keanekaragaman hayati, kawasan konservasi, ekosistem mangrove dan pesisir, serta pengelolaan bijak terhadap sampah. Unsur terakhir yaitu entertainment dimana masyarakat/pengunjung memanfaatkan dekorasi stand untuk fotografi dan kegiatan games lainnya. Kegiatan Pameran Keanekaragaman Hayati Expo 2019 ini tak ayal menjadi perhelatan yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya generasi muda/milenial untuk mencintai lingkungan khususnya puspa dan satwa. Semoga kegiatan ini menjadi kalender wajib tahunan Kementerian LHK dan dapat diselenggarakan di daerah lainnya selain Jakarta untuk semakin mengenalkan budaya dan puspa satwa khas daerah-daerah lainnya. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Aksi Hijaukan Buluh Cina

Pekanbaru, 8 Desember 2019. Aksi penghijauan di Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA Riau). Penanaman dilakukan pada hari Minggu, 8 Desember 2019 secara bersama-sama dengan menanam sebanyak 300 bibit jenis Durian, Jengkol, Aren, Nangka, Jelutung dan Kelat di pinggir Danau Tanjung Putus TWA Buluh Cina di luas areal sekitar 1 hektar. Kegiatan penghijauan ini dihadiri Asisten II Bupati Kampar, KANOGAMA (Keluarga Notariat Gajah Mada) Riau, KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada) Riau, KPKR (Komunitas Pegiat Konservasi Riau), Kadis LHK Kampar, ninik mamak Buluh Cina, serta masyarakat Buluh Cina. Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono menyampaikan terimakasih atas adanya kegiatan tersebut dan berharap akan semakin banyak pihak pihak yang peduli untuk melakukan penghijauan khususnya di Prov. Riau ini. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Tim WRU BBKSDA Sulsel Lepasliarkan Monyet Dare di TN Bantiumurung Bulusaraung

Maros, 9 Desember 2019 – Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan melaksanakan giat pelepasliaran Macaca maura atau biasa dikenal Monyet Dare dalam Bahasa setempat di Karaenta, Berlokasi di wilayah Seksi Wilayah II Camba Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN.Babul) pada Hari Kamis, 5 Desember 2019. Sebanyak 4 Ekor Macaca maura dilepasliarakan Tim WRU dalam keadaan sehat telah melalui Standar Operasional Prosedur pelepasliaran, Ke 4 Ekor Macaca maura ini telah mendapatkan tindakan preventif berupa deworming dan pemberian vitamin pada saat kedatangan, kemudian pemantau kesehatan, variasi pakan, rehabilitasi/habituasi serta yang masih menunjukkan sifat liar langsung direlease ke habitatnya. Nurdin yang merupakan anggota WRU dalam keterangannya “ke 4 Ekor Macaca maura ini berasal dari beberapa operasi evakuasi dan serahan masyarakat. Yang terakhir itu dari operasi evakuasi awalnya kami mendapat laporan bila ada Macaca yang menumpang di sebuah truck dari karaenta hingga saat di Maros Macaca tersebut turun dan bersembunyi di belakang Transmart Maros untuk tinggal dan mencari makan di sekitar rumah warga” Terang Nurdin. “Proses evakuasi satwa di Lokasi Transmart berlangsung cukup sulit karena di lokasi pemukiman penduduk dan tingkah satwa yang liar. Alhasil Tim menggunakan Teknik chemical restrain / pemberian obat bius pada umpan makanan kemudian Macaca tersebut dapat di evakuasi dengan aman”. Tambah Nurdin. Pada proses rilisnya Tim WRU BBKSDA Sulsel didampingi Staf Balai TN. Babul dan proses rilis berjalan lancar. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc memberi apresiasi kinerja Tim WRU Balai yang fast respon terkait konflik satwa dan masyarakat. “Kedepannya koordinasi dengan Satker terkait akan terus dilakukan semoga Satwa yang dilepaskan bisa survive di Hutan Karaengta.” Terang Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas BBKSDA Sulsel - Husain. SH
Baca Berita

Kemunculan Gajah di Komplek Chevron

Pekanbaru, 8 Desember 2019. Gajah Seruni beserta seekor anak Gajah terlihat berada di areal belakang Polsek Mandau pada Selasa, 3 Desember 2019 silam. Dimana Polsek tersebut memang berdekatan dengan green belt Chevron, yang satu hamparan dengan kawasan hutan Talang dan merupakan bagian dari Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja. Dua ekor Gajah tersebut memang sudah dua bulan terakhir ini selalu memunculkan diri di sekitar komplek Chevron sejak gajah Dita ditemukan mati. Namun mereka tidak mengganggu manusia dan mereka memang penghuni hutan Talang. Rabu, 4 Desember 2019 dini hari sekitar jam 04.00 WIB, kedua Gajah tersebut bergerak dari lokasi awal menuju areal Chevron dengan membobol pagar pembatas jalan yang berada tepat di samping Polsek Mandau (gate 2 Chevron). Beberapa petugas Balai Besar KSDA Riau melakukan pemantauan kedua Gajah tersebut dan rutin berkoordinasi dengan petugas Polsek Mandau dan aparat Kecamatan Mandau. Sekitar pukul 14.00 WIB Gajah kembali terlihat melintas jalan Chevron, tepat 15 meter dari gate 2 Chevron ke arah utara menuju green belt Chevron. Sosialisasi terus dilakukan agar konflik antara satwa dan manusia dapat dihindarkan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Kembalinya Arwana Ke Habitat Alaminya

Melemba, 6 Desember 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) mewakili Asosiasi Penangkaran dan Penjual Siluk (APPS), Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA) dan Direktorat Konservasi Keaneragaman Hayati (KKH) kembali melepasliarkan 15 ekor anakan ikan Arwana jenis Super Red (Schleropages formous) ke habitat alaminya. Pelepasliaran Arwana tersebut dilakukan di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, tepatnya di Danau Merebung Desa Melemba Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Pelepasliaran anakan Arwana ini yang ke empat kalinya dan merupakan agenda tahunan. Ikan Arwana yang dilepasliarkan berasal dari sumbangsih APPS, BKSDA KalBar dan Direktorat KKH. Pelepasliaran di komandoi oleh Bapak Desra Zullimansyah selaku Kepala seksi Pengelolaan TN Wilayah V Selimbau pada bidang PTN Wilayah III Lanjak, "Dengan kegiatan ini agar masyarakat sekitar bisa menjaga kelestarian alamnya juga melindungi ekosistem yang berada di dalamnya" ungkapnya. Kegiatan pelepasliaran juga dihadiri oleh Ketua nelayan Dusun Meliau Bapak Lasa dan masyarakat yang menyambut hangat pelepasliaran arwana, beliau selaku ketua nelayan berpesan, agar masyarakat sekitar pelepasliaran menjaga ikan-ikan arwana yang telah di lepasliarkan dengan bijaksana, sesuai hukum adat yang berlaku. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Burung Gajahan Timur Terancam Punah, BKSDA Jambi Gelar Upaya Pengelolaan Habitat Persinggahan Burung Migran

Jambi, 5 Desember 2019 Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi bersama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Wetland Indonesia, Yayasan EKSAI, dan Sungai Buloh Wetland Reserve melakukan Workshop Konservasi Burung Gajahan Timur. Workshop ini sendiri dihadiri kurang lebih 38 (Tigapuluh Delapan) peserta yang berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur serta para pihak yang tergabung dalam Forum Kolaborasi Pengelolaan KEE Mangrove Pantai Cemara. Gajahan Timur atau Far Eastern Curlew (Numenius madagascariencis) adalah salah satu burung pantai yang terancam punah. Hilangnya habitat akibat dari pembangunan adalah ancaman paling signifikan yang saat ini mempengaruhi burung pantai yang bermigrasi di sepanjang Asia Timur hingga Australia. Perubahan fungsi habitat persinggahan penting di sepanjang Laut Kuning diperkirakan menjadi salah satu ancaman utama dan penyebab penurunan populasi spesies Gajahan Timur. Pantai Desa Sungai Cemara, Jambi yang terletak di dekat Taman Nasional Berbak Sembilang adalah salah satu daerah persinggahan terpenting bagi burung pantai yang bermigrasi melewati Indonesia. Puluhan ribu burung pantai singgah di Pantai Cemara tiap tahunnya termasuk spesies Gajahan Timur untuk beristirahat dan mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan migrasi ke Australia. Potensi Pantai Cemara menjadikan survey dan analisis berkala di lokasi ini sangat diperlukan. Selain survey, workshop dan edukasi terhadap spesies Burung Gajahan Timur serta manajemen habitat lahan basah di Jambi sangat penting seiring dengan rencana pemerintah daerah untuk mengembangkan Pantai Cemara sebagai lokasi ekowisata. Para peserta yang hadir pun melakukan tanya jawab dengan narasumber terkait program maupun rencana yang akan dilakukan kedepannya. Workshop ini diharapkan dapat mengedukasi para stakeholders terkait kemampuan dasar identifikasi burung migran di Pantai Cemara dan diharapkan dapaat terjalin kolaborasi semua pihak yang terlibat untuk melakukan perlindungan, penjagaan, dan pemantauan burung migrasi terutama spesies Burung Gajahan Timur. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Verifikasi Zona Tradisional, Balai Besar TaNa Bentarum & Masyarakat Susun Peta Lokasi Kemitraan

Tempurau, 5 Desember 2019. Setelah pelaksanaan kegiatan rapat pembahasan dalam rangka pelaksanaan kegiatan verifikasi zona tradisional tahap ll pada tanggal 20 November 2019 lalu, dilanjutkan kembali dengan verifikasi zona tradisional tahap lll pada tanggal 5 Desember 2019 yang bertempat di wilayah kerja Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Lanjak, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Selimbau, Resort Semangit, Kec. Selimbau, Desa Tempurau. Kegiatan dibuka Bapak Abdurahman selaku Sekdes Desa Tempurau, beliau berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar untuk mendukung proses penyusunan Perjanjian Kerja Sama antara Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dengan kelompok nelayan masyarakat Desa Tempurau. Verifikasi tahap III ini difokuskan pada pembahasan mengenai lokasi yang akan dimitrakan, luas hingga tersusunnya peta usulan kemitraan. Bapak Rahman R. Nababan selaku Kepala Resort Semangit memastikan bahwa lokasi yang diusulkan tersebut clear and clean, yakni lokasi tersebut berada di wilayah administrasi Desa Tempurau dan bebas dari klaim desa lainnya serta di lokasi tersebut merupakan wilayah yang memiliki potensi yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Hasil dari kegiatan ini adalah tersusunnya peta lokasi usulan kemitraan seluas 323,51 ha. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Jelang Akhir Tahun 2019, Seekor Penyu Belimbing Mendarat di Rantau Sialang TN Gunung Leuser

Aceh Selatan, 5 Desember 2019 - Rantau Sialang sebagai salah satu kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di Kabupaten Aceh Selatan kedatangan tamu istimewa. Keuletan petugas dalam menjalankan tugas dan fungsinya dari malam pukul 22.00 Wib hingga subuh dini hari tadi pukul 04.05 tanggal 5 Desember 2019 berhasil menemukan satu individu Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang sedang mendarat untuk bertelur. Penyu dengan kerapas berbentuk buah belimbing tersebut memiliki panjang lengkung 161 cm dan lebar lengkung kerapas 114 cm serta lebar jejaknya mancapai 175 cm ditemukan petugas saat melakukan penyisiran pantai di sekitaran tugu masuk TNGL yang berbatasan dengan Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan. Sebanyak 91 butir telur berhasil di relokasi petugas ke bak penampungan dari sarang alami. Relokasi dilakukan mengingat lokasi peneluran rawan terhadap ancaman perburuan telur karena berada di sekitar kawasan pemukiman Desa Pasie Lembang. Proses relokasi telur ke bak penetasan selesai dilakukan pada pukul 05.45 WIB. Telur ini diasumsikan akan menetas pada tanggal 27 Januari 2020 (masa inkubasi 63 hari). Dalam pelaksanaannya, tim patroli malam dibagi menjadi 2 tim. Tim I dengan ketua Tim S. Tanjung melakukan penyisiran pantai di sekitaran Tugu Masuk TNGL yang berbatasan dengan Desa Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan sedangkan tim II dengan ketua Tantanis memulai penyisiran pantai di sekitaran Tugu Masuk TNGL yang berbatasan dengan Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan. Mendapat informasi dari Tim II menemukan penyu belimbing yang mendarat Tim I ikut bergabung ke lokasi peneluran setelah diinformasikan oleh Tim II untuk membantu proses relokasi telur penyu belimbing tersebut. Satwa langka ini menjadi temuan perdana bagi petugas Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang pada bulan Desember 2019. Diharapkan akan ada lagi penyu-penyu lainnya yang mendarat dan bertelur di Pantai Rantau Sialang. Sumber: Balai Besar TN Gunung Leuser

Menampilkan 4.337–4.352 dari 11.140 publikasi