Selasa, 5 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Rapat Pembahasan RPPA permohonan IUPSWA PT. PMB Gilimanuk, di TN.Bali Barat

Gilimanuk, 13 Desember 2019. Bertempat di aula Balai TNBB, dilaksanakan sosialisasi dan rapat pembahasan Rencana Pengusahaan Pariwisata Alam (RPPA), Site plan dan desain fisik PT. Panorama Menjangan Bali dalam rangka pengajuan permohonan Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) seluas 30 ha di zona pemanfaatan TNBB. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya pemenuhan komitmen sesuai persyaratan permohonan dan juga untuk menerangkan kepada masyarakat setempat dan para pihak pemangku kepentingan di Jembrana tentang rencana Pengusahaan pariwisata alam yang akan dilaksanakan oleh PT. PMB di kawasan TN Bali Barat apabila mendapatkan perizinan. Acara dihadiri oleh Dinas Lingkungan hidup Jembrana, Camat Melaya, Kapolsek, Danramil, lurah, bendesa, Kepala lingkungan dan unsur internal TNBB. Setelah pemaparan oleh pihak PT.PMB, dilanjutkan diskusi, masukan dan pertanyaan dari peserta rapat antara lain tentang kesesuaian dgn ketentuan yang berlaku di kawasan konservasi, penyesuaian kegiatan pembangunan dengan adat budaya setempat dan keterlibatan masyarakat agar dapat mendapatkan dampak positif dari adanya pembangunan sarana pariwisata oleh PT.PMB. Acara diakhiri dengan ramah tamah dan juga foto bersama dengan kesimpulan agar pihak PT PMB konsisten dalam rangka ikut memajukan pariwisata kabupaten Jembrana dan mengajak masyarakat untk sejahtera, serta sosialisasi agar juga dilakukan apabila sudah diberikan izin oleh OSS.. Salam konservasi Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Ajak Masyarakat Adat Evaluasi Zonasi

Mansalong, 13 Desember 2019 – Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melaksanakan Pengumpulan Data dan Analisa sehubungan dengan Evaluasi Zonasi Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang bersama masyarakat adat di wilayah Resort Tau Lumbis. Sebelumnya, kegiatan serupa juga telah dilakukan yakni di Wilayah Adat Besar Apo Kayan dan Bahau Hulu. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi zonasi yang telah ditetapkan sebagai bentuk adaptasi atas perkembangan dan perubahan kondisi kawasan akibat adanya program pioritas dan strategis pemerintah serta proyeksi perkembangan kawasan kedepan. Bertempat di Aula Kecamatan Lumbis Hulu, kegiatan ini dihadiri sebanyak 30 orang yang berasal dari Kecamatan Lumbis Hulu, Kecamatan Lumbis, Kepala Adat Besar Lumbis Hulu, Kepala Adat Dayak Okolod (Koordinator FoMMA Wilayah Lumbis Hulu), Kepala Desa dan Kepala Adat di Wilayah Lumbis Hulu. “Keterlibatan masyarakat adat dalam review zonasi menjadi sangat penting untuk mengetahui sejauh mana zonasi yang ada telah mampu mengatur pengelolaan kawasan dan mengakomodir kebutuhan masyarakat adat setempat sesuai dengan kondisi lokal dan karakteristik khas kawasan’’ ujar Johnny Lagawurin Kepala Balai TN. Kayan Mentarang yang kala itu turun langsung bertatap muka dengan masyarakat adat serta stakeholder terkait. Banyak informasi dan masukan yang diberikan oleh masyarakat adat dalam pertemuan tersebut. Salah satu diantaranya adalah terkait pemekaran wilayah Kecamatan Lumbis Hulu. Masyarakat yang saat ini berada di luar kawasan kemungkinan besar akan kembali ke wilayah desa yang telah lama ditinggalkan dalam kawasan TN. Kayan Mentarang. Pemekaran wilayah ini berdampak pada konsentrasi masyarakat sehingga perlu dilakukan perubahan zonasi. Melalui evaluasi zonasi, diharapkan adanya pemahaman dan pegangan bersama untuk mencoba mengakomodir konsep, persepsi dan juga kepentingan para stakeholders terutama masyarakat adat sekitar kawasan untuk saling berbagi peran, berbagi tanggungjawab dan berbagi manfaat dalam tata kelola kawasan TN. Kayan Mentarang guna mendukung pencapaian tujuan pengelolaan dan menunjang penghidupan masyarakat maupun kepentingan strategis nasional. Sumber : Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

BBKSDA Riau Memberi Apresiasi Kepada Sobat Konservasi

Pekanbaru, 11 Desember 2019 - Hallow kawan rimba!!! Kali ini..., apresiasi dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada sobat konservasi kita Bang Fajar dari Siak... Mau tau kenapa?. Begini nih ceritanya.. pada hari Rabu, Tim Resort Siak, mendapatkan laporan dari warga kampung Bandar Seminai, Kec. Dayun, Kab. Siak bahwa dia menemukan satwa Kukang di halaman rumahnya. Kukang (Nycticebus coucang) adalah memang merupakan salah satu satwa yang dilindungi sejak tahun 1973 dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 66/ Kpts /Um/2/1973 tanggal 14 Februari 1973, dan masuk dalam appendix I CITES pada tahun 2007. Selanjutnya, Tim yang dipimpin Kepala Resort Siak, bapak Rafles Sitijak mengevakuasi Kukang jantan dengan panjang tubuh ±17 cm dan diperkirakan masih menginjak remaja itu, serta segera melakukan pelepasliaran di dalam kawasan konservasi yang merupakan habitatnya. Tentunya setelah dilakukan cek kesehatan terlebih dahulu terhadap satwa tersebut. Salam konservasi!!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Maraknya Video dan Foto yang Beredar Terkait Konflik Harimau dan Manusia

Senin, 16 Desember 2019 - Maraknya video dan foto yang beredar di masyarakat terkait konflik Harimau dan manusia, diantaranya Harimau yang mati ditombak warga, sekolompok warga bersama TNI Polri akan menangkap Harimau yang telah menyerang warga hingga tewas serta beberapa Harimau yang tengah menyerang manusia, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau memastikan kejadian tersebut di luar Riau alias Hoax. Video itu hasil editan dari beberapa kejadian yang lokasinya berbeda. Video viral tersebut terjadi di Pagar Alam, Sumatera Selatan dan kebun binatang China, sedang untuk foto Harimau yang dibunuh terjadi di Sumatera Utara. Dengan banyaknya pertanyaan yang masuk ke call center Balai Besar KSDA Riau, menunjukkan bahwa keresahan warga khususnya warga di Prov. Riau meningkat seiring adanya beberapa jejak yang memang ditemukan dan telah diidentifikasi serta diduga sebagai jejak Harimau Sumatera. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono mengingatkan bahwa jangan sampai kejadian ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk suatu kepentingan. Terhadap jejak yang diduga sebagai jejak si belang, Balai Besar KSDA Riau telah menurunkan timnya untuk melakukan identifikasi, observasi serta memberikan sosialisasi edukasi dan pemasangan plang cara menghindari konflik dengan satwa tersebut. Pemasangan camera trep juga telah dilakukan dibeberapa titik di mana jejak Harimau Sumatera banyak ditemukan. Salam konservasi!!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Keceriaan Pegawai Balitbang dan Inovasi KLHK di Situgunung

Situgunung, 12 Desember 2019. Situgunung kembali menjadi tempat kunjungan. Kali ini, tamu yang berkunjung datang dari Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (12/12). Rombongan disambut oleh Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Situgunung, Asep Suganda beserta staf. Perbincangan hangat antara Kepala Resort PTN Situgung dengan Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi, KLHK, Dr. Sylvana Ratina dimana beliau memberikan beberapa masukan dan komentar terkait pengelolaan pengembangan ekowisata Situgunung. Sebelum masuk ke acara inti, ada acara penyambutan dari Kepala Resort PTN Situgung, Asep Suganda memberikan sambutan dan mengucapkan selamat datang kepada rombongan Badan Litbang dan Inovasi di Situgunung untuk melakukan pembinaan pegawai. Dilanjutkan pengarahan Sekretaris Badan kepada seluruh peserta pembinaan pegawai, yang intinya beliau menyampaikan bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam kinerja. Menjajal sensasi melawati Situgunung Suspension Bridge sambil menikmati keindahan Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan hal yang tidak boleh terlewatkan oleh setiap orang yang berkunjung. Tidak kalah menarik acara dilanjutkan dengan fun games untuk mempererat kebersamaan pegawai. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Sisca Widiya A. Dok: Asep Suganda
Baca Berita

Melepas Lekang Menuju Laut Nusantara

Sabtu, 14 Desember 2019 - menjadi awal petualangan besar bagi 70 ekor tukik Penyu Lekang (Lepudochellys olivacea) di Pantai Taman Kili Kili Trenggalek. Karena BBKSDA Jatim bersama Pokmaswas Taman Kili Kili, Kepala Desa dan Perangkat Desa Wonocoyo, warga masyarakat sekitar serta mahasiswa PKL dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran melepasliarkan ke 70 tukik tersebut. Melepas dengan harapan saat dewasa nanti mereka dapat kembali untuk melanjutkan generasi penerusnya di tempat kelahiran mereka, Pantai Taman Kili Kili Trenggalek nan molek. Harinya-pun istimewa, peringatan Hari Nusantara, yang merupakan peringatan terhadap Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957. Hari pernyataan Pemerintah Republik Indonesia mengenai wilayah perairan Indonesia sebagai wilayah teritorial yang menyatu dengan wilayah daratan, sehingga semua perairan yang menghubungkan daratan adalah bagian dari NKRI. Selain di Kili kili, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Pantai Marina Boom, Banyuwangi. Di lokasi ini dilepasliarkan 21 ekor Penyu Lekang. Kegiatan ini buah kerjasama antara BBKSDA Jatim dengan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF), instansi lingkup Pemkab Banyuwangi, Muspika, serta masyarakat sekitar. Harapannya tukik-tukik tersebut mampu beradaptasi dan berkembangbiak sehingga terjamin kelestariannya. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Pelepasliaran Macaca tongkeana di Cagar Alam Faruhumpenai

Makassar, 16 Desember 2019 – Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan pada Kamis, 12 Desember 2019 melaksanakan giat pelepasliaran Macaca tongkeana di Cagar Alam Faruhumpenai bersama Resort KSDA Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur berjarak 490 km atau 12 jam perjalan dari Kota Makassar. Macaca tongkeana atau biasa dikenal dalam bahasa setempat Boti(Poso), Seba(Tana Toraja), Lesang(Pinrang) adalah satwa yang dilindungi dan termasuk ke 15 satwa kunci Sulawesi dengan status IUCN : Genting/ Endangered(versi 3.1) dan CITES : Appendix II. Rasul selaku anggota WRU dan Polhut senior dalam keterangannya “lokasi dilepasnya satwa ini masuk di kawasan konservasi tepatnya Cagar Alam Faruhunpenai. Adapun jumlah satwa yang dilepasliarkan sebanyak dua ekor dengan keadaan sehat serta kenapa cagar alam faruhumpenai karena cagar alam ini termasuk daerah persebaran Macaca jenis tongkeana”. Terang Rasul. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc memberi apresiasi kinerja Tim WRU Balai dan semoga Satwa yang dilepaskan bisa survive di Hutan Cagar Alam Faruhumpenai.” Pungkas Thomas. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas BBKSDA Sulsel - Husain. SH
Baca Berita

Ajak Sejumlah Stakeholder, Kader Konservasi TNKM Tanam 200 Bibit Eucalyptus

Malinau, 16 Desember 2019 – 200 Bibit Jenis Eucalyptus ditanam di Kecamatan Malinau Selatan Hilir pada tanggal 14 Desember 2019 kemarin. Penanaman ini merupakan inisiasi dari Kader Konservasi Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dalam rangka bulan menanam nasional dan wujud prilaku RT Bersih (Rapi,Tertib,Bersih,Sehat,Indah dan Harmonis) yang sedang digalakan oleh Pemerintah Kabupaten Malinau saat ini. Tidak hanya Kader Koservasi, sejumlah pihak pun turut menyukseskan aksi yang bertajuk Tanam Pohon Hijaukan Bumi ini. Diantaranya ialah Yayasan Intimung Politeknik Malinau melalui Badan Eksekutif Mahasiswa, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Polsek dan Koramil Malinau Selatan Hilir, Desa Setarap, PT.Adindo Hutani Lestari serta PT.AMNK Malinau. Camat Malinau Selatan Hilir Eka Setiawan, S.Stp dalam sambutannya menekankan aksi penanaman pohon memiliki peran dari segi “Indah” dari konsep RT Bersih. Tentu dengan hijaunya daerah menambah pesona keindahan berbalut keramahan lingkungan. Sehingga harapnya kegiatan ini dapat terus digelorakan serta senantiasa menjadi kesadaran bersama untuk terus menjaga lingkungan yang Rapi, Tertib, Bersih, Sehat, Indah dan Harmonis. Disisi lain, Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melalui Kepala Sub Bagian Tata Usaha Bambang Widiatmoko mengapresiasi aksi nyata kader konservasi TNKM dalam membentuk prilaku peduli lingkungan ini. “Tentunya kami sekalu salah UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat mengapresiasi aksi penanaman pohon ini. Ini kegiatan positif yang sangat penting dalam membentuk prilaku masyarakat peduli lingkungan, apalagi berkenaan dengan RT Bersih tentu ini sangat indah sesuai yang ditekankan oleh pak Camat Masehi (Malinau Selatan Hilir) tadi.” imbuhnya. Sementara itu, Anis Mustopo selaku Koordinator Kader Konservasi TNKM menegaskan bahwa kontribusi pihaknya dalam program RT Bersih yang merupakan akronim dari Rapi, Tertib, Bersih dan Indah adalah dari segi keindahan di Bumi Intimung. “Dengan menanam pohon, kita menjaga keindahan Bumi Intimung (sebutan untuk Kabupaten Malinau) sebagai Kabupaten konservasi.” Tutup Anis yang juga menjabat Presiden BEM Politeknik Malinau saat ini. Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Sambutan Cakalele Warga Untuk Balai TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 15 Desember 2019. Alunan irama tifa dan gong mulai terdengar saat rombongan tiba di Desa Sawai Itepo. Sebuah Desa kecil yang terletak di Kabupaten Halmahera Tengah yang juga merupakan Desa penyangga di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Dari kejauhan, terlihat seorang pria paruh baya memegang parang dan salawaku ditangannya. Ia mulai mengayun parangnya sambil berteriak mengikuti irama musik Cakalele. Tarian Cakalele ini merupakan tarian sambutan selamat datang oleh masyarakat Desa Sawai Itepo kepada rombongan Kepala Balai TNAL yang datang siang itu (14/12/2019). Suasana makin memanas saat masyarakat menyerahkan parang dan salawaku kepada Kepala Balai TNAL dengan maksud agar Kepala Balai juga ikut menari tarian perang ini dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat setempat. Tak hanya Kepala Balai, semua orang yang ikut dalam rombongan juga mendapat jatah memegang parang dan salawaku sambil menari tarian khas Maluku Utara ini. Dalam kunjungan kerja ini, Kepala Balai Tutut Heri Wibowo ditemani oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Weda Jumrin Said, Kepala Resort Akejira Muhammad Arief beserta staf SPTN I Weda, Penyuluh Pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Tengah dan Gapoktan Halteng. Melaksanakan pelatihan budidaya tanaman sayur oleh Penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Tengah sekaligus penyerahan bantuan benih tanaman sayuran kepada dua kelompok tani binaan TNAL adalah tujuan utama dari kunjungan kerja ini. Sebagai informasi, di Desa Kobe dan Sawai Itepo telah dibentuk kelompok tani KTJ Beringin Jaya dan Tunas Jaya yang keduanya masuk dalam wilayah pengelolaan Resort Akejira SPTN Wilayah I Weda. Pembentukan dua kelompok tani ini diharapkan mampu meningkatkan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat di dua Desa tersebut. "Kegiatan pendampingan kelompok ini bertujuan untuk mentransfer pengetahuan mengenai budidaya tanaman sayuran secara baik dan benar kepada masyarakat lokal yang diharapkan bisa menjadi alternatif penambah penghasilan keluarga dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat Kobe dan Sawai Itepo", Kata Heri Wibowo. Heri juga menambahkan, seiring dengan perubahan paradigma yang tertuang dalam 10 cara (baru) kelola kawasan konservasi, telah meletakan dasar penting bagi upaya pelestarian kawasan hutan dengan adanya masyarakat yang bertransformasi sebagai subjek pengelolaan. Untuk mengimplementasikan hal tersebut, kami Balai TNAL telah melakukan pembentukan Kelompok di dua Desa ini guna meningkatkan usaha ekonomi produktif masyarakat setempat. Tutup pria yang pernah bertugas di Papua ini. Penyerahan alat musik tradisional Gong dari Kepala Balai TNAL kepada perwakilan masyarakat Desa Sawai Itepo sekaligus mengahiri kunjungan kerja dan pelatihan budidaya tanaman. Matahari pun mulai terbenam, rombongan kembali ke Weda dan melanjutkan perjalanan ke Sofifi. Sumber: Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Penulis : Ais Rafli Editor : M. Sofyan Ansar
Baca Berita

Kreasi Pemuda untuk Kelestarian Alam Pulau Sumba

Waingapu, 16 Desember 2019 - Para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Pramuka dari Satuan Karya (Saka) Wanabakti dan Saka Bhayangkara mengadakan kegiatan Joint Camp serta Bakti Penghijauan di Bumi Perkemahan Desa Watumboka. Joint Camp tahun ini merupakan kegiatan kali ketujuh serta yang kesebelas untuk Bakti Penghijauan. Tak kurang dari 200 peserta ikut dalam kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 13-15 Desember kemarin. Acara dibuka pada tanggal 13 Desember melalui upacara resmi yang dipimpin oleh Inspektur Upacara selaku Kamabisaka Saka Wanabakti, Ir. Memen Suparman, M.M. Dalam amanatnya, Kamabisaka menyampaikan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan lingkungan. Tingkat kreatifitas yang tinggi dari para pemuda dapat menciptakan metode baru guna kelestarian alam. Kamabisaka juga menyampaikan pesan agar para peserta kegiatan mengikuti seluruh kegiatan dengan baik sehingga dapat menyerap semua ilmu yang didapat serta ditularkan ke pelajar lain di sekolahnya maupun di lingkungan mereka tinggal. Kegiatan ini juga merupakan kegiatan dalam rangka memperingati HUT ke 61 Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Sumba Timur serta Bulan Menanam Nasional. Sederet pemateri mengisi kegiatan ini diantaranya materi penanggulangan dan pencegahan narkoba, pengenalan ambalan, pengendalian karhutla, dan peralatan rappelling. Puncak kegiatan acara ini adalah penanaman 200 bibit di sekitar area perkemahan. Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Sosialisasi dan Donor Darah di Balai TN Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 13 Desember 2019. Hari ini (13/12) di lobby kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) dilaksanakan sosialisasi dan donor darah. Tak hanya seluruh ASN Balai TN Taka Bonerate, giat ini juga diikuti instansi pemerintah daerah yang lain. Kegiatan kemanusiaan ini terselenggara berkat kerjasama antara UTDRS (Unit Transfusi Darah Rumah Sakit) dan Balai TN Taka Bonerate. Materi sosialisasi dibawakan oleh dr. Misnah MKes, SpPK dari UTDRS KH. Hayyung Kepulauan Selayar "Syarat dan Mekanisme Donor Darah" "Terima kasih kepada Balai TN Taka Bonerate yang tak pernah menolak ajakan untuk melaksanakan kegiatan semacam ini," ucap dr. Misnah Dalam penjelasannya dokter yang menyandang spesialis patologi klinik ini bahwa UTDRS KH. Hayyung sudah ada sejak 2003, dan pelayanan darah merupakan upaya pelayanan kesehatan yang memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan kemanusiaan dan tidak untuk tujuan komersial. Lanjut dr. Misnah menyampaikan bahwa ketersediaan darah di RS. KH Hayyung itu juga tergantung seberapa banyak pendonor. "Bagaimana tersedia darah di rumah sakit kalau tidak ada yang donor," ungkap dr. Misnah yang juga kepala instalasi laboratorium RS. KH Hayyung Setelah penyampaian materi sosialisasi, langsung dilanjutkan pengisian data pendonor, cek kesehatan dan transfusi darah. "If You Donate Money, You Give Food. But if You Donate BLOOD, You Give LIFE" Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Tingkatkan Corsa POLHUT, Demi Hutan MerBeti Lestari

Jember, 12 Desember 2019. Bertempat di salah satu hotal berbintang di Jember, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) mengadakan kegiatan pembinaan Polisi Kehutanan (Polhut). Acara diikuti seluruh pejabat struktural dan Polhut lingkup Balai TN MerBeti dari 3 wilayah pengelolaan di Sarongan, Ambulu dan Kalibaru. Selain itu dihadiri juga oleh unsur Muspika Kecamatan Tempurejo (Camat, Danramil, Kapolsek), 6 Kepala Desa daerah penyangga kawasan TN MerBeti, LSM KAIL, dan Masyarakat Mitra Polhut TN MerBeti. Acara yang diselenggarakan guna meningkatkan kapasitas Petugas Polhut lingkup Balai TN MerBetiri ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas khususnya bagi Polhut di bidang perlindungan hutan; Memberikan/ menumbuhkan semangat motivasi bagi Polhut dalam usaha-usaha perlindungan hutan; Membangun sinergitas dan kebersamaan dengan instansi terkait dalam kegiatan perlindungan hutan. Pembukaan dilakukan langsung oleh Kepala Balai TN MerBeti, Maman Surahman, S.Hut, M.Si. yang dilanjutkan dengan pemberian materi. Pada kesempatan ini Kabalai menyampaikan tentang selayang pandang mengenai permasalahan dan potensi TN MerBeti. Kombes Drs. Adi Karia Tobing,SH.SIK. selaku Kabag Hukum Polda Jatim memaparkan mengenai Penanganan Tindak Pidana Kehutanan, dan Prosedur penggunaan Senjata Api. Sedangkan AKP Idham Kholid,SH.MH Kabagops Polres Jember menyampaikan materi dengan tema teknik penanganan dan komunikasi massa, dan yang terakhir adalah Mayor Sampak Kasdim Kodim 0824 Jember memaparkan tentang Hutan sebagai Benteng pertahanan Nasional. Peserta sangat antusias mengikuti acara ini. Banyak pertanyaan dan diskusi yang berkembang ke arah positif dalam pengelolaan TN MerBeti. Secara umum seluruh pihak yang hadir sepakat bahwa tindak kejahatan pidana kehutanan harus dihentikan dan diselesaikan khususnya yang terjadi di kawasan TN MerBeti, karena hutan memiliki peranan yang penting bagi penyangga kehidupan masyarakat banyak. Di akhir penutupan Kabalai TN MerBeti memberikan apresiasi kepada seluruh pihak atas atensi dan dukungan dalam pelestarian kawasan TN MerBeti. Beliau berharap dengan adanya kegiatan ini menjadi awal dalam penuntasan kasus tindak pidana kehutanan yang terjadi di kawasan TN MerBeti, sehingga cita-cita untuk mewujudkan masyarakat sejahtera hutan lestari dapat terwujud. Sumber: Balai Taman Nasiona Meru Betiri (TN MerBeti)
Baca Berita

Pelepasliaran Buaya Muara di SM Pelaihari

Pelaihari, 6 Desember 2019 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melakukan pelepasliaran Buaya Muara (Crococdylus porosus) yang masih berusia 10 bulan berjumlah 11 ekor di Suaka Margasatwa Pelaihari. Kegiatan ini dilaksanakan oleh 6 personil diantaranya Yudono Susilo, S.H., Usman, S.Hut, Aji Faisal Noor Zaky, Jumali, Putro, dan Gunawan. Pelepasliaran bertujuan untuk menjaga populasi Buaya Muara dan mempertahankan keanekaragaman hayati di alam. Sehari sebelumnya, BKSDA Kalimantan melakukan evakuasi Buaya Muara tersebut dari Kebun Binatang Mini Banjarmasin yang dikelola Pemkot Banjarmasin. Karena fasilitas perawatan untuk anakan buaya yang masih terbatas, menjadi alasan dari pihak KBM Banjarmasin menyerahkannya ke BKSDA Kalimantan Selatan. Menurut Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., harmonisasi di alam harus kita jaga. Tupoksi BKSDA untuk mengawetkan satwa dan tumbuhan di alam dilaksanakan melalui kegiatan pelepasliaran satwa. Melindungi satwa dan tumbuhan merupakan ibadah yang hanya Tuhan bisa menilai dan membalasnya, pungkas Mahrus. (ryn) Sumber : Aji Faisal Noor Zaky - Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Semiloka Hiu Paus Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Manokwari, 12 Desember 2019. Di Indonesia, hiu paus yang merupakan ikan terbesar di dunia ditemukan di beberapa lokasi seperti di perairan Sabang, Pantai Utara Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) merupakan lokasi di mana hiu paus muncul sepanjang tahun. Ikan yang akrab dipanggil “Gurano Bintang” oleh masyarakat lokal Papua sudah menjadi spesies ikonik untuk TNTC. Studi hiu paus di TNTC telah dilaksanakan sejak Mei 2011. Sebanyak 14 penanda satelit (satellite tag) telah dipasang pada 14 ekor hiu paus untuk memetakan pergerakan horizontal dan vertikalnya. Lebih dari 135 ekor hiu paus sudah diidentifikasi melalui photo identification (Photo ID). Sampel jaringan untuk studi genetika juga telah diambil sejak November 2012 dan sebagian telah dianalisa dengan metode mtDNA. Studi mengenai kajian ekologis pakan alami hiu paus dan faktor oseanografinya, serta analisa kesesuaian, daya dukung lingkungan, dan valuasi ekonomi kegiatan wisata hiu paus telah dilaksanakan sebagai rekomendasi untuk mengelola kegiatan perikanan (bagan) dan wisata yang turut mempengaruhi keberadaan hiu paus di TNTC. Berangkat dari pengalaman panjang TNTC sebagai kawasan Taman Nasional dengan hiu paus sebagai spesies ikoniknya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2017 melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) telah menetapkan TNTC sebagai Role Model Pengelolaan Hiu Paus di Indonesia. Melalui kegiatan semiloka pada Kamis, 12 Desember 2019 yang diselenggarakan oleh Balai Besar TN Teluk Cendrawasih bersama mitra kerja memberikan pemaparan hasil penelitian mengenai hiu paus dan habitatnya. Hasil studi dari pengelolaan hiu paus ini diantaranya berupa status kemunculan individu hiu paus, sebaran dan pola pergerakan hiu paus, keragaman genetik hiu paus, faktor oseanografi yang mempengaruhi kemunculan hiu paus, kajian ekologis pakan hiu paus dan berbagai studi pendukung lainnya di TN Teluk Cenderawasih. Hasil studi ini perlu disampaikan ke publik agar dapat menjadi pembelajaran bersama untuk pengelolaan konservasi hiu paus di berbagai lokasi lainnya dan menjadi dasar acuan dalam menentukan kebijakan pengelolaan hiu paus di Indonesia, khususnya di TN Teluk Cenderawasih. Pada kesempatan ini juga dilakukan peluncuran dua buku yaitu buku tentang hasil Penelitian Hiu Paus di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (edisi kedua) yang merupakan hasil kerja sama Balai Besar TNTC, UNIPA, dan WWF-Indonesia serta buku yang kedua yaitu Meretas Ekowisata Berbasis Konservasi Tradisional di Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang dikeluarkan oleh Balai Besar TNTC. Dengan diterbitkannya buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan kontribusi bagi pengelolaan di Taman Nasional Teluk Cendrawasih di Papua. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Pelepasliaran Elang Brontok dan Elang Bondol di SM Pulau Kaget

Batola, 5 Desember 2019 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) telah melakukan pelepasliaran 1 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirhatus) dan 2 ekor Elang Bondol (Haliastur indus) di Suaka Margasatwa Pulau Kaget, Kabupaten Barito Kuala. Sebanyak 5 personil dalam kegiatan pelepasliaran ini diantaranya Kepala Resort SM Pulau Kaget Ahmad Barkati, Mariyono, Aji Faisal Noor Zaky, Riyan Susilo adji, dan Maulana. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga populasi satwa elang dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II M. Ridwan Effendy, S.Hut MP, satwa yang didapat berasal dari hasil sitaan Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Karena kondisi satwa yang kurang sehat, maka sebelumnya dirawat di kandang transit SKW II Banjarbaru hingga dianggap mampu untuk kembali ke alam. Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., selaku Kepala Balai KSDA Kalsel sangat mengapresiasi para pihak untuk berpartisipasi dalam perlindungan dan penyelamatan satwa dan tumbuhan seperti Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Kami segera melepasliarkan semua hasil sitaan untuk dikembalikan ke alam agar ekosistem dapat berjalan secara harmonis dan kita sebagai manusia mendapat manfaatnya. Keharmonisan symponi alam harus selalu kita rawat dan pertahankan untuk keberlanjutan generasi mendatang. (ryn) Sumber : Aji Faisal Noor Zaky - Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pelepasliaran Orangutan Tapanuli “PAYA” di CA. Dolok Sibual-buali

Medan, 10 Desember 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara berhasil melepasliarkan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) “Paya”, di Kawasan Konservasi Cagar Alam Dolok Sibuali-buali Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara pada 9 Desember 2019. Hadir dalam Pelepasliaran Camat Sipirok, dan mitra Balai Besar KSDA Sumatera Utara (OIC, SOCP, PT. NSHE) serta media (Metro TV, Kompas TV, TV One, Antara News, Republika, dll) Orangutan ‘Paya’ adalah orangutan yang dievakuasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan dan Tim HOCRU (Human Orangutan Conflict Response Unit) YOSL-OIC, pada tanggal 19 September 2019 dari Desa Aek Batang Paya, Kec. Sipirok, Kab. Tapsel. Orangutan ‘Paya’ berjenis kelamin jantan diperkirakan berumur 40 tahun. Hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh dokter hewan tim HOCRU, drh. Jenny Adawiyah, menunjukkan bahwa terdapat luka terbuka di daerah frontal (tulang dahi) dan pangkal lengan bagian bawah (axilla) yang diduga diakibatkan oleh senjata tajam. Luka-luka terbuka juga ditemukan pada bagian tulang cranium (kepala) bagian belakang serta bagian punggung. Kondisi tubuh orangutan juga sangat kurus, yang diindikasikan dari tulang costae (rusuk) yang terlihat. Selanjutnya Orangutan Tapanuli tersebut segera di bawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Sumatera (PKOS) di Batu Mbelin untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Selama perawatan, Orangutan ‘Paya’ mengalami progres yang cukup bagus dan kondisinya sangat stabil, sangat agresif di dalam kandang, makannya juga sudah mulai banyak dan berat badan sudah meningkat hingga 44 Kg. Pada tanggal 29 Oktober 2019, hampir semua luka dibagian luka tertutup sempurna, dan luka dibagian punggung atas kanan mulai mengecil serta terbentuk jaringan ikat baru. Oleh karena itu PKOS SOCP merekomendasikan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk melepasliarkan Orangutan ‘Paya’. Balai Besar KSDA Sumatera utara bersama mitra telah dan sedang malakukan upaya-upaya seperti, upaya perlindungan, penyadartahuan (sosialisasi) dan pendidikan ke masyarakat tentang mitigasi konflik manusia dengan orangutan, membangun koridor satwa khususnya orangutan, membentuk Forum Kolaborasi KEE Batang Toru bersama multi pihak, menyusun Renstra KEE Batang Toru, aktif melakukan penanganan konflik orangutan bersama masyarakat. Populasi Orangutan Tapanuli di landscape Batang Toru adalah 577 – 760 individu. Sedangkan populasi orangutan pada saat ini di CA Dolok Sibual-buali adalah ± 15 individu dan lokasi ini adalah site monitoring orangutan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dengan luas kawasan 5.012 Ha CA Dolok Sibual-buali memiliki tingkat kepadatan orangutan yang rendah sehingga kawasan ini cocok sebagai lokasi release Orangutan “Paya”. Pasca release dilakukan monitoring pergerakan orangutan ‘Paya’, untuk memastikan orangutan ‘Paya’ tetap berada di habitat alaminya, monitoring direncanakan akan dilakukan tim selama seminggu. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Wawancara Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc, Forbersama Media

Menampilkan 4.305–4.320 dari 11.140 publikasi