Senin, 25 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Diselundupkan Lewat Bus Malam, 93 Burung Liar Nyaris Mati!

Banyuwangi, 30 Mei 2025. Dalam gelapnya bagasi bus antarkota, puluhan burung berkicau pelan, sebagian dalam kondisi lemah, terkurung dalam tiga kotak buah sempit. Mereka adalah 96 ekor Merbah Terukcuk dan seekor Cucak Kutilang, burung liar yang seharusnya beterbangan bebas di antara dahan dan semak, bukan meringkuk didalam kardus menuju pasar gelap satwa. Jumat Pagi, 30 Mei 2025, Petugas Karantina Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur (Jatim) Satpel Ketapang Banyuwangi menggagalkan upaya penyelundupan satwa liar yang dikirim dari Bali ke Semarang menggunakan bus. Sebanyak 97 ekor burung liar ditemukan, 4 di antaranya sudah tak bernyawa. Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso dari Balai Besar KSDA Jawa Timur segera bergerak cepat. Setelah proses identifikasi dan pendataan, 93 burung yang masih hidup dibawa menuju kawasan Cagar Alam Kawah Ijen untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. Dalam momen pelepasliaran itu, udara pegunungan yang lembab menjadi saksi kembalinya nyawa-nyawa kecil ke alam. Satu per satu, burung-burung itu terbang bebas ke rimbunnya pepohonan, seperti kembali ke rumah setelah sekian lama terasing. Fenomena penyelundupan burung liar bukanlah hal baru. Mei belum berlalu, tiga kejadian penyelundupan melalui transportasi umum berhasil digagalkan di Banyuwangi. Indonesia, sebagai negara megabiodiversitas, menjadi ladang empuk bagi perdagangan ilegal satwa, khususnya burung-burung pengicau yang diminati karena suara dan warnanya. Perjalanan jauh tanpa izin, dalam kondisi tak layak, sering berakhir tragis, banyak yang mati sebelum sampai tujuan. Namun kali ini, 93 nyawa berhasil diselamatkan. Mereka kembali ke hutan, ke suara alam, ke rantai ekosistem yang mereka bantu jaga. Dan bagi petugas yang mengawal mereka sejak dari bagasi bus hingga ke langit Ijen, ini bukan sekadar tugas. Ini adalah bagian dari perjuangan yang panjang, perjuangan menyelamatkan warisan hayati bangsa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Ratusan Burung Kicau Nyaris Diselundupkan Saat Hari Lahir Pancasila

Banyuwangi, 1 Juni 2025. Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momen refleksi kebangsaan. Namun di ujung timur Pulau Jawa, semangat itu nyaris tercoreng oleh ulah segelintir pihak yang mencoba menyelundupkan ratusan burung kicau dari Bali menuju Solo, Jawa Tengah. Beruntung, sinergi antara Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali), Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jatim Satpel Ketapang berhasil menghentikan pengiriman ilegal tersebut di Pelabuhan Ketapang, 1 Juni 2025. Burung-burung tersebut diangkut menggunakan bus antarkota, tanpa dokumen resmi. Petugas mendapati sebanyak 331 ekor burung kicau, terdiri dari Merbah Terukcuk (Pycnonotus goiavier) 212 ekor (7 ekor mati) dan Cinenen Jawa (Orthotomus sepium) 119 ekor (25 ekor mati). Total ada 299 ekor burung yang masih hidup, segera ditangani secara cepat dan hati-hati oleh tim gabungan. Setelah melalui pemeriksaan awal di Karantina Ketapang, burung-burung tersebut langsung dilepasliarkan ke kawasan Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup. Habitat yang sejuk dan alami ini diharapkan mampu membantu pemulihan satwa yang sempat mengalami stres akibat pengangkutan yang tidak layak. Pelepasliaran ini menjadi simbol bahwa alam masih punya harapan, selama ada niat dan kerja nyata untuk menjaga dan melindunginya. Yang mengkhawatirkan, ini bukan kali pertama. Dua hari sebelumnya, petugas juga menggagalkan upaya serupa dengan jumlah 93 ekor burung. Praktik penyelundupan ini menunjukkan bahwa perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman serius bagi kekayaan hayati Indonesia. Dibutuhkan kewaspadaan, kerja sama lintas instansi, dan kepedulian publik untuk menghentikannya. Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menyampaikan bahwa Hari Lahir Pancasila adalah momentum tepat untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga alam sebagai bagian dari identitas bangsa. “Melindungi satwa liar adalah bagian dari mencintai Indonesia. Jika kita merawat kehidupan lain, maka kita sedang merawat nilai-nilai luhur bangsa ini,” tegasnya. "Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membeli, memelihara, atau memperjualbelikan satwa liar secara ilegal. Jika menemukan aktivitas mencurigakan, laporkan segera. Alam tak bisa bicara, tapi kita bisa menjadi suara mereka." tambahnya.(dna). Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kolaborasi Strategis BBKSDA Jatim dan Pemkab Banyuwangi Menuju Wisata Alam yang Berkelanjutan

Paltuding, 31 Mei 2025. Dalam sejuknya kabut pagi yang menggantung di lereng Gunung Ijen, sebuah pertemuan penting digelar. Pada Sabtu, 31 Mei 2025, Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi memimpin rapat monitoring dan evaluasi pengelolaan wisata alam di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen dan Ranti. Rapat yang digelar di kawasan strategis Paltuding itu menghadirkan beragam pemangku kepentingan, termasuk Balai Besar KSDA Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah V Banyuwangi. Di balik keindahan lanskap Kawah Ijen yang tersohor akan api birunya, tersimpan tantangan tata kelola wisata yang kompleks, dari penataan parkir, ketersediaan air bersih, hingga peluang retribusi daerah yang adil dan legal. Semua itu dibahas dalam suasana koordinatif, reflektif, dan penuh semangat sinergi untuk menjaga keberlanjutan salah satu ikon wisata alam Indonesia ini. Rapat yang dipimpin langsung oleh Sekda Banyuwangi dan dihadiri oleh lintas perangkat daerah, mulai dari BPKAD, Bapenda, Disbudpar, hingga perwakilan Dishub serta Perhutani, difokuskan pada evaluasi pengelolaan wisata alam di dua titik strategis: Kawah Ijen dan Ranti. Sekda menekankan pentingnya penataan parkir agar tidak mengganggu arus lalu lintas saat musim kunjungan tinggi (peak season), serta memperbaiki kondisi toilet umum yang dinilai tidak layak saat kunjungan lapangan dilakukan. Terkait kebutuhan air bersih, Sekda menyarankan pembangunan tandon besar berkapasitas 1.000 m³ yang diharapkan mampu menyuplai air ke area wisata yang selama ini sering kekurangan air, terutama saat puncak kunjungan. BBKSDA Jatim menyampaikan dukungan prinsipil terhadap gagasan-gagasan pembangunan dan penataan, dengan beberapa catatan penting terkait batas kewenangan. Soal parkir di jalan raya, misalnya, BBKSDA Jatim menegaskan bahwa hal itu berada di luar wilayah pengelolaan langsung dan menjadi kewenangan Dishub dan Polantas. Meski begitu, BBKSDA Jatim siap membantu dengan pemasangan rambu larangan parkir yang mencantumkan logo resmi Pemkab Banyuwangi. Soal air bersih, BBKSDA Jatim menjelaskan bahwa sumber air memang tersedia, namun distribusinya terkendala pompa dan jarak. Pembangunan tandon akan diusulkan ke pimpinan BBKSDA Jatim untuk dijadikan solusi jangka panjang. Terkait peluang retribusi daerah, BBKSDA Jatim menggarisbawahi pentingnya tidak terjadi pungutan ganda yang bertentangan dengan regulasi pusat. Pengalaman di TN Komodo dan TN Bantimurung dijadikan rujukan dalam diskusi yang mengarah pada perlunya klarifikasi legalitas dan peran masing-masing pihak. BBKSDA Jatim juga menyampaikan bahwa pemanfaatan bersama TIC tetap memungkinkan, asalkan tidak menghilangkan kewajiban pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Pemanfaatan bersama ini bisa dilakukan melalui mekanisme koordinasi intensif antar pihak. Selain isu utama di atas, hadir pula laporan rencana pelaksanaan event Ijen Green Trail pada 6–7 September 2025 serta program Tour de Ijen dari Dispora. Keduanya akan menjadi perhatian BBKSDA Jatim, terutama terkait rekomendasi dan kelayakan pelaksanaan di kawasan konservasi. Kolaborasi ini menegaskan bahwa pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya soal menjaga alam, tapi juga tentang bagaimana manusia, lembaga, masyarakat, dan pemerintah, dapat bersinergi dalam menjadikan keindahan alam tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara berkeadilan. Kawah Ijen bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga warisan untuk generasi mendatang. Menjaga kesucian alamnya, kenyamanan pengunjungnya, dan martabat pengelolaannya adalah tugas bersama kita semua. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penanganan Konflik Harimau Sumatera di Kecamatan Padang Sidimpuan

Padangsidimpuan, 2 Juni 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait adanya perjumpaan salah sastu penduduk di Desa Pudun Jae Kec. Padang Sidimpuan dengan satwa liar (diduga Harimau Sumatera). Petugas BBKSDA Sumut beserta Polsek Batunadua dan masyarakat melakukan monitoring dan verifikasi ke lokasi perjumpaan satwa. Berdasarkan hasil pengecekan tidak ditemukan jejak (baik bekas tapak kaki ataupun bekas cakaran), kemungkinan akibat tanah yang keras, kering dan ditutupi serasah daun karet. Sebagai tindakan pencegahan, BBKSDA Sumatera Utara telah memberikan himbauan kepada masyarakat Desa Pudun Jae agar tetap waspada, jika ke kebun/sawah tidak sendirian, tidak terlalu pagi (di atas jam 08.00 WIB) dan pulang tidak terlalu sore (sebelum pukul 16.00 WIB). Masyarakat juga diharapkan tidak memasang jerat/berburu di daerah sekitar. BBKSDA Sumatera Utara akan tetap memantau perkembangan informasi dari masyarakat. Selanjutnya akan dipasang camera trap dan melakukan patroli sapu jerat. Petugas BBKSDA Sumatera Utara melaksanakan pertemuan dengan masyarakat Desa Pudun Jae Sumber: Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang- Balai Besar KSDA Sumatra Utara
Baca Berita

Trenggiling dan Ular-Ular Masuk Rumah Warga, Sempat Bikin Geger

Pacitan, 29 Mei 2025. Tujuh ekor satwa liar terdiri dari satu ekor trenggiling, dua ekor ular Weling, tiga ekor ular Kobra Jawa, dan satu ekor ular Taring Kucing berhasil diselamatkan oleh tim Damkar Pacitan dari pemukiman warga di tiga lokasi berbeda pada akhir Mei 2025. Satwa-satwa ini sempat membuat panik warga sebelum akhirnya dikembalikan ke habitat aslinya. Kejadian bermula dari laporan masyarakat Kelurahan Pucangsewu, Desa Mentoro, dan Desa Ngadirejan, Kabupaten Pacitan, yang menemukan hewan-hewan liar masuk ke sekitar rumah mereka dalam beberapa hari berturut-turut. Petugas Damkar Pacitan yang menerima laporan segera melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut dan berkoordinasi dengan pihak BBKSDA Jatim untuk penanganan lebih lanjut. Tim Matawali RKW 06 kemudian melakukan identifikasi terhadap seluruh satwa. Trenggiling (Manis javanica) betina ditemukan dalam kondisi sehat, dengan respons perilaku alami berupa penggulungan tubuh saat merasa terancam. Ular-ular, termasuk kobra jawa (Naja sputatrix) dan weling (Bungarus candidus), memperlihatkan karakter defensif yang agresif, tanda bahwa mereka belum mengalami adaptasi terhadap lingkungan manusia. "Semua satwa masih liar dan aktif. Ini menandakan mereka belum mengalami stress berat akibat interaksi dengan manusia," ujar Ganes Pramundito, Pengendali Ekosistem Hutan Muda BBKSDA Jatim. Berbeda dari dugaan awal bahwa satwa tersebut hasil peliharaan atau perdagangan ilegal, hasil investigasi menunjukkan bahwa mereka berasal dari wilayah hutan sekitar yang berdekatan dengan pemukiman. “Ini adalah sinyal ekologis. Hutan mulai kehilangan daya dukungnya, atau aktivitas manusia mulai merambah terlalu jauh,” lanjutnya. Setelah berkoordinasi dengan Perhutani, tim memutuskan untuk melepasliarkan satwa ke kawasan Hutan Lindung, Perhutani RPH Pacitan, BKPH Pacitan pada Kamis pagi, 29 Mei 2025. Di titik yang telah ditentukan, seluruh satwa dilepaskan satu per satu, Trenggiling melangkah gelisah, sementara ular-ular melata cepat menghilang ke bawah semak dan tumpukan serasah. Kisah ini bukan sekadar upaya penyelamatan satwa. Ini adalah fragmen dari relasi kompleks antara manusia dan alam, tentang ruang hidup yang makin sempit, tentang ketakutan yang bisa berubah menjadi pemahaman, dan tentang pentingnya konservasi yang tidak hanya reaktif, tapi juga preventif. BBKSDA Jatim mengajak masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik jika menjumpai satwa liar di lingkungan tempat tinggal. Segera laporkan ke petugas berwenang. Menyelamatkan satwa juga berarti menyelamatkan ekosistem tempat kita semua bergantung. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Penggiat Konservasi Taman Kili-kili Melaju ke Lomba Wana Lestari 2025

Trenggalek, 26 Mei 2025. Deru ombak Pantai Selatan masih bersahut pelan saat 80 butir telur penyu ditemukan mendarat di hamparan pasir Taman Kili-Kili. Namun pagi itu, bukan hanya penyu yang menjadi sorotan, seorang penggiat Konservasi muda, Ari Gunawan, mendapat kunjungan istimewa dari tim penilai Lomba Wana Lestari 2025. Verifikasi lapangan yang dilaksanakan pada 23 Mei 2025 oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, dipimpin langsung oleh Ir. Basunando, M.M., Kepala Bidang KSDHE, menjadi bagian penting dari proses seleksi nasional untuk penghargaan bergengsi di sektor kehutanan ini. Turut mendampingi, petugas dari Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Trenggalek dan tim dari Balai Besar KSDA Jawa Timur. Ari Gunawan, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Taman Kili-kili, tak hanya dinilai dari administrasi dan kegiatan kelompok, tetapi juga menunjukkan secara langsung praktik konservasi yang dilakukan selama ini, termasuk pemindahan telur penyu yang baru saja diletakkan induknya malam sebelumnya. Bukti nyata dedikasi konservasi. Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pegiat konservasi dalam menjaga keberlangsungan spesies penyu yang terancam punah, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat lokal dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem pesisir. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Digagalkan, Ratusan Burung Dikirim Ilegal dari Makassar

Surabaya, 27 Mei 2025. Suara nyaring ratusan burung memecah keheningan ruang transit Unit Penyelamatan Satwa Liar (Unit Matawali) Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Di balik kicau merdu itu, tersembunyi kisah pilu dari jalur gelap perdagangan satwa liar, 735 ekor burung, sebagian besar dalam kondisi lemah, diselamatkan dari penyelundupan lintas pulau yang brutal. Petugas Ditpolairud Polda Jawa Timur menyerahkan satwa hasil operasi penggagalan penyelundupan yang dilakukan sehari sebelumnya, Senin (26/5). Informasi awal diperoleh dari intelijen yang memantau adanya pengangkutan burung tanpa dokumen sah dari Makassar menuju Surabaya. Tim segera bergerak ke Pelabuhan Tanjung Perak dan mengikuti kendaraan mencurigakan hingga Jl. Demak, Morokembangan, Surabaya. Penyergapan terjadi ketika 5 kotak kayu berisi burung dipindahkan dari truk ke sebuah mobil Daihatsu Terios hitam berpelat Surabaya. Operasi cepat ini berhasil mengamankan dua pelaku, masing-masing pengemudi kendaraan pengangkut beserta ratusan burung yang dikemas sempit tanpa perlindungan memadai. Setelah dilakukan identifikasi oleh Tim Matawali BBKSDA Jatim, burung-burung tersebut terdiri atas 735 ekor burung Kacamata Biasa (Zosterops melanurus). 438 di antaranya masih hidup dan 297 lainnya ditemukan mati. Serta, 7 ekor Burung Madu Pengantin (Leptocoma sperata) dalam kondisi hidup. Penyelundupan ini kembali mengungkap betapa tingginya ancaman terhadap spesies burung endemik yang menjadi incaran perdagangan ilegal karena warna-warni bulu dan kicauannya. Praktik ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengguncang keseimbangan ekosistem yang rentan. “Sebagian besar burung yang masih layak dilepasliarkan akan segera dikembalikan ke alam di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung pada Rabu, 28 Mei 2025,” jelas Nofi Sugiyanto, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jatim. Lokasi ini dipilih karena habitat alaminya sesuai dan sebelumnya telah terbukti aman untuk pelepasliaran burung sejenis. Tindakan cepat antara aparat penegak hukum dan otoritas manajemen konservasi menjadi sinyal kuat bahwa jalur-jalur penyelundupan satwa akan terus diawasi ketat. Namun, selama permintaan pasar masih tinggi, terutama dari kolektor ilegal, satwa liar akan tetap berada dalam ancaman. Kini, harapan baru tumbuh di balik jeruji kandang transit Matawali BBKSDA Jatim. Di sana, ratusan burung kembali menemukan langit, dan dengan dukungan semua pihak, mereka tak hanya diselamatkan, tetapi juga diberi kesempatan hidup yang kedua.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Smart Patrol Balai Besar KSDA Jatim Diperkuat untuk Hadapi Ancaman Nyata

Surabaya, 28 Mei 2025. Di tengah kompleksitas ancaman terhadap Kawasan konservasi, dari perburuan liar hingga pembalakan, Balai Besar KSDA Jawa Timur mengambil langkah strategis memperkuat lini terdepannya, patroli perlindungan hutan. Salah satu langkah nyata itu terlihat saat Adi Risanto, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), mempresentasikan teknis pelaksanaan kegiatan Smart Patrol yang kini diterapkan secara menyeluruh di seluruh wilayah kerja Balai Besar, 27 Mei 2025. Dengan tenang namun penuh keyakinan, Adi Risanto berdiri di hadapan para pengampu kawasan konservasi dari berbagai Resort dan Seksi KSDA Wilayah. Di balik layar proyektor, peta digital dan data spasial mulai muncul satu per satu merekam setiap jejak dan potensi bahaya yang terdeteksi melalui sistem Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART). “Smart Patrol bukan hanya cara modern untuk menjaga hutan, tapi juga cara kita membaca denyut nadi kawasan konservasi,” tegasnya. Presentasi teknis ini menjadi bagian dari upaya strategis BBKSDA Jatim dalam memastikan bahwa patroli berjalan secara terstruktur, efisien, dan berbasis data lapangan. Dengan penerapan SMART, patroli tidak lagi sekadar ‘menyisir kawasan’, tetapi menjadi langkah terukur untuk menghadapi ancaman-ancaman nyata, jerat satwa, pembukaan lahan ilegal, hingga hilangnya tutupan vegetasi primer. SMART Patrol sendiri telah menjadi standar baru patroli berbasis data spasial dan teknologi yang memungkinkan setiap temuan, dari jejak satwa hingga tanda-tanda pembalakan liar, terekam, dianalisis, dan dilaporkan secara sistematis. Di lapangan, sistem ini mengubah cara kerja para Polisi Kehutatan, PEH dan tim patroli. Mereka kini bukan hanya penjaga hutan, tetapi juga pengumpul data, analis, bahkan komunikator lapangan. Patroli menjadi sebuah operasi taktis yang mengintegrasikan konservasi dengan kecermatan teknologi. “Setiap langkah kaki tim patroli kini adalah data. Dan setiap data adalah senjata kita untuk menjaga keutuhan kawasan,” ungkap Nofi Sugiyanto Kepala Bidang Teknis KSDA secara terpisah, yang menegaskan peran vital seorang penjaga garis depan konservasi. Dengan penguatan kapasitas teknis seperti ini, BBKSDA Jatim meneguhkan komitmennya, melindungi hutan bukan hanya dari gangguan, tapi dari lupa akan pentingnya hutan itu sendiri. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Elosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Wira dan Rengganis, Merangkai Masa Depan Harimau Sumatera

Gresik, 27 Mei 2025. Di tengah bayang-bayang kepunahan yang mengintai, seekor harimau jantan bernama Wira menjadi fokus perhatian para pegiat konservasi di Jawa Timur. Usianya yang telah menyentuh 15 tahun membuatnya berada di batas akhir masa reproduktif. Di sisi lain, seekor betina muda bernama Rengganis, yang kini berada di Maharani Zoo dan Goa Lamongan, menjadi harapan untuk memperpanjang garis keturunan spesies prioritas ini. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menginisiasi strategi genetik lintas lembaga konservasi untuk mempertemukan keduanya. Dalam skema ini, Rengganis akan ditarik dari Taman Satwa Maharani Zoo dan Goa Lamongan dan menempatkan sementara di Kebun Binatang Surabaya, tempat Wira menanti. Pertemuan ini bukan sekedar mempertemukan dua individu, tetapi menggabungkan dua peluang terakhir dari spesies yang makin terjepit ruang hidupnya. Keduanya, jika dipertemukan pada waktu yang tepat melalui skema GSMP, dapat menjadi pasangan kunci bagi kelahiran generasi baru harimau sumatera dalam lembaga konservasi. "Wira tidak lagi muda. Jika tidak segera diberi pasangan yang subur, kita bisa kehilangan satu garis keturunan penting," jelas Dr. Ichwan Muslih, Kepala Bidang KSDA Wilayah II. "Rengganis, dengan usia produktifnya, adalah harapan yang tak boleh disia-siakan." Rapat koordinasi yang berlangsung di Kantor Bidang KSDA Wilayah II Gresik, 27 Mei 2025, menghasilkan kesepakatan strategis antara BBKSDA Jatim, PDTS Kebun Binatang Surabaya, Taman Satwa Maharani Zoo dan Goa Lamongan. Penempatan Rengganis di Surabaya sebagai langkah mendesak mendukung fresh blood sejalan dengan mekanisme Global Species Management Plan (GSMP). Langkah cepat ini diputuskan sebagai bentuk upaya proaktif BBKSDA Jatim dalam menyelamatkan plasma nutfah Harimau Sumatera. Di sisi lain, kedua lembaga konservasi juga didorong untuk segera melengkapi dan mengajukan izin koleksi resmi atas seluruh satwa yang mereka kelola, terutama yang berstatus satwa dilindungi atau titipan negara. Strategi ini tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan kecepatan, ketelitian, dan kemauan untuk bersinergi. Rapat tersebut juga menyepakati agar pengajuan izin koleksi dapat dilakukan secara bertahap (parsial), memprioritaskan satwa yang telah memenuhi syarat. Hal ini penting agar program pengelolaan genetik di lembaga konservasi dapat sejalan secara administratif tanpa mengorbankan momentum biologis. Di titik genting ini, Wira bukan sekadar satwa. Ia adalah simbol bahwa waktu adalah segalanya. Dan Rengganis, yang masih menyimpan potensi kesuburan tinggi adalah kunci harapan. Jika keduanya berhasil disatukan, mungkin suatu saat kita masih bisa mendengar auman Harimau Sumatera di tanah air. Di balik semua proses teknis itu, strategi genetik seperti GSMP berdiri sebagai mercusuar harapan, sebagaimana ada satu pesan mendalam bahwa konservasi bukan tentang menyelamatkan satwa hari ini, tapi tentang memastikan anak cucu kita masih hidup di dunia yang dihuni Raja Rimba Nusantara. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Trenggiling Liar dari Gembong, Diselamatkan Damkar, Dilepasliarkan ke Rimba Pacitan

Pacitan, 26 Mei 2025. Seekor trenggiling Manis javanica betina dengan bobot sekitar 4 kilogram berhasil diselamatkan dan dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan Hutan Lindung Perum Perhutani RPH Pacitan, pada Sabtu (24/5). Satwa dilindungi ini sebelumnya ditemukan dan diamankan oleh petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pacitan setelah diserahkan oleh warga Desa Gembong, Kecamatan Arjosari. Saat pertama ditemukan, Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), segera melakukan pemeriksaan kondisi satwa. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa satwa dalam kondisi sehat, liar, dan menunjukkan perilaku yang masih sangat agresif, sebagai indikator penting untuk kelayakan pelepasliaran. "Setelah berkoordinasi dengan Perhutani RPH dan BKPH Pacitan, kami sepakat memilih kawasan hutan lindung sebagai lokasi pelepasliaran," ujar Arief Adhi Pratama Pengendali Ekosistem Hutan pada RKW 06. Proses pelepasliaran dilakukan secara kolaboratif antara BBKSDA Jatim, Damkar Pacitan, dan Perhutani BKPH Pacitan. Koordinat lokasi pelepasliaran dicatat sebagai pedoman dalam pemantauan, dimana pada titik ditentukan secara ekologis masih mendukung keberlangsungan hidup satwa nokturnal dan pemakan semut serta rayap ini. Trenggiling Manis javanica termasuk dalam satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Populasinya terus terancam akibat perburuan ilegal dan perdagangan satwa liar. BBKSDA Jatim mengapresiasi partisipasi aktif masyarakat Desa Gembong yang secara sukarela menyerahkan satwa langka ini, serta sinergi lintas lembaga yang mempercepat proses penyelamatan dan pelepasliaran satwa kembali ke alam bebas. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Membuka Tabir Hutan Tua yang Masih Bernafas

Ponorogo, 25 Mei 2025. Langit pagi masih dibalut kabut ketika langkah pertama tim SMART Patrol menginjak tanah lembap Cagar Alam Gunung Sigogor. Di balik hijaunya hutan perawan, tersembunyi kehidupan yang terus berdetak dalam senyap. Dari tanggal 20 hingga 23 Mei 2025, tim dari RKW 06 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, memulai perjalanan menyusuri setiap tarikan nafas rimba tua, menyibak jejak keajaiban yang jarang tersentuh manusia. Blok Wates dan Secentong bukan sekadar bentang peta dengan titik koordinat. Ia adalah dunia dalam dunia, tempat akar rotan menari di antara bebatuan, tempat Telitih, Ipik, dan Kadoya tumbuh di bawah naungan kanopi raksasa. Pepohonan purba seperti Bendo, Talesan, dan Gondang berdiri gagah, menjadi penjaga zaman. Anggrek tanah dan epifit menjuntai indah sebagai perhiasan rimba, sementara jamur dari kelas Ascomycota dan Basidiomycota mekar bagai bintang-bintang kecil di lantai hutan. Namun bukan hanya tumbuhan yang berbicara. Hutan ini masih hidup dan bersuara. Kijang melintas dalam bayang, Landak Jawa mengendap dalam belukar, Monyet Ekor Panjang melompat di antara dahan. Burung Takur tohtor bersahut dengan Opior Jawa, menghadirkan orkestra alam yang menandai satu hal penting, bahwa ekosistem ini masih bernafas. Tim patroli mencatat bukan hanya kehidupan, tapi juga sejarah yang diam, papan nama kawasan yang mulai rapuh, pal batas yang tertutup lumut dengan angka-angka nyaris pudar oleh waktu. Yang membahagiakan, tak ada jejak perusakan, tak ada suara manusia yang mencemari kesunyian. Inilah kemenangan dari sebuah upaya besar menjaga alam. Bukan hanya mencatat kehadiran spesies, tapi juga mengukuhkan harapan, bahwa hutan seperti Sigogor masih bisa diwariskan utuh. Setiap langkah tim patroli adalah bentuk perlawanan terhadap pelupaan, sebuah pengingat bahwa di balik statistik konservasi, ada lanskap hidup yang membutuhkan mata yang peduli dan kaki yang bersedia menempuh jalan terjal. Gunung Sigogor bukan hanya titik di peta. Ia adalah narasi alam yang masih menulis dirinya sendiri. Dan kita, para penjaga dan pembaca kisahnya, diajak untuk tidak hanya menyimak, tapi turut merawat Alas Ireng yang bernama Sigogor. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Warga Serahkan Ular Sanca Kembang Hasil Rescue Dari Rumah Warga

Wan Andrian Pratama menyerahkan Ular Sanca Kembang kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 27 Mei 2025. Senin siang, 26 Mei 2025, Wan Andrian Pratama, mahasiswa yang beralamat di Dusun XIV Jl. Karya Sakti No. 33, Kelurahan Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, menyambangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara guna menyerahkan 1 (satu) ekor Ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus). Dalam keterangannya kepada petugas Wan Andrian Pratama menjelaskan bahwa ular tersebut sebelumnya memasuki rumah warga di jalan besar Batang Kuis, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang pada Minggu dinihari (25/5) sekitar pokul 01.00 Wib. Warga yang panik segera meminta tolong kepadanya untuk menanganinya. Wan Andrian Pratama pun melakukan tindakan rescue mengamankan ular dimaksud. Upayanya berhasil dan setelah ditangkap segera membawanya ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Terlihat ular dalam keadaan sehat, namun sebelum dilepasliarkan akan dilakukan pemeriksaan kondisi ular dimaksud. Ular Sanca Kembang atau biasa juga disebut dengan Ular Sanca Batik merupakan ular dari suku Pythonidae yang berukuran besar dan memiliki ukuran tubuh terpanjang diantara ular lain. Ular ini memang tidak berbisa, namun tetap berbahaya karena ukuran tubuhnya yang besar dan kekuatan lilitannya yang kuat. Ular ini dapat membahayakan manusia, bahkan berpotansi fatal jika terlilit. Meskipun Ular Sanca Kembang tidak termasuk dalam daftar satwa liar yang dilindungi secara hukum di Indonesia, namun keberadaannya tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem. Perubahan cuaca yang terjadi saat ini menjadi salah satu faktor jenis ular ini bergerak mencari tempat yang dianggap aman termasuk kemungkinan memasuki rumah warga, oleh karena itu dihimbau kepada warga untuk waspada dan selalu rutin menjaga serta membersihkan lingkungan rumah agar menghindari tempat untuk bersarangnya satwa liar ini. Sumber : Agus Rinaldi, SH. (Penelaah Teknis Kebijakan) dan Rinto NP. Rajagukguk, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

BKSDA Kalbar Translokasi Orangutan Unreleaseable ke Pusat Suaka Orangutan Arsari

Penajam Paser Utara, 24 Mei 2025 — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bekerja sama dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS) telah melakukan translokasi satu individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) ke Pusat Suaka Orangutan (PSO) ARSARI di Kalimantan Timur pada hari Jumat, 23 Mei 2025. Orangutan jantan bernama “Mungky” (24 tahun) merupakan hasil penyelamatan petugas BKSDA Kalimantan Barat dari masyarakat di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat pada tahun 2014. Kemudian di titiprawat di YPOS untuk menjalani rehabilitasi. Namun demikian, Mungky menunjukkan perilaku agresif yang menetap dan tidak memungkinkan untuk mengikuti proses pembelajaran bertahan hidup di alam liar. Berdasarkan penilaian medis dan perilaku, Mungky dikategorikan sebagai orangutan yang tidak dapat dilepasliarkan (unreleasable). Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa, “Sejak awal, Mungky menunjukkan perilaku agresif yang berisiko dan tidak memungkinkan mengikuti program rehabilitasi dan sekolah hutan. Selama lebih dari 10 (sepuluh) tahun Mungky hidup bergantung pada manusia dan tidak pernah menjalani pembekalan kemampuan bertahan di alam. Oleh karena itu, translokasi di PSO ARSARI merupakan solusi terbaik.” PSO ARSARI merupakan hasil kerja sama antara Yayasan ARSARI Djojohadikusumo dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur. Fasilitas ini dirancang khusus untuk menampung orangutan jantan dewasa yang tidak dapat dilepasliarkan karena alasan kesehatan, perilaku, atau kondisi lainnya. PSO ARSARI memiliki fasilitas dan sistem pengelolaan yang sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa. “Pulau Suaka Orangutan Kelawasan di PSO ARSARI memberikan solusi alternatif bagi Mungky untuk menjalani kehidupan semi-liar dalam lingkungan yang mendukung kesejahteraannya,” tambah Murlan. Perjalanan Mungky menuju PSO ARSARI cukup panjang dan melalui jalur darat dan udara. Mungky diberangkatkan dari Sekolah Hutan Jerora di Sintang pada Jumat, 22 Mei 2025 pukul 20.00 WIB, menempuh perjalanan darat selama sembilan jam menuju Bandara Supadio, Kubu Raya. Selama perjalanan, kondisi kesehatan Mungky terus dipantau oleh tim medis YPOS. Selanjutnya, pada Jumat, 23 Mei 2025 pagi hari pukul 08.00 WIB, Mungky diterbangkan menuju Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan dan sempat transit lebih kurang 4 (empat) jam di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Setibanya di Balikpapan perjalanan dilanjutkan melalui darat menuju Pelabuhan ITCI, dan akhirnya tiba di PSO ARSARI pada pukul 21.59 WITA. Sesampainya di lokasi, Mungky akan menjalani observasi dan pemantauan lanjutan oleh tim medis untuk memastikan kondisi fisik dan mentalnya tetap stabil. Pada Sabtu, 24 Mei 2025 dilaksanakan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Satwa antara Balai KSDA Kalimantan Barat dan Balai KSDA Kalimantan Timur dilanjutkan penitipan satwa dari Balai KSDA Kalimantan Timur kepada Pusat Suaka Orangutan (PSO) ARSARI. Penandatanganan dokumen ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan translokasi. Kegiatan translokasi ini berjalan lancar berkat kerja sama berbagai pihak. Balai KSDA Kalimantan Barat menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Balai KSDA Kalimantan Timur, Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS), serta Pusat Suaka Orangutan (PSO) ARSARI atas dukungan dan sinergi yang telah terjalin dengan baik dalam mendukung program pelestarian satwa liar Endemik Kalimantan ini. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat Untuk informasi lebih lanjut: Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat - Murlan Dameria Pane, S.Hut.,M.Si Jl. A Yani 121 Pontianak Kalimantan Barat 78124 Call Center Balai KSDA Kalimantan Barat: HP: 08115776767
Baca Berita

Penyu Hijau Betina Diselamatkan dan Dilepasliarkan di Pantai Lidah

Jinato, 24 Mei 2025 – Aksi sigap personil Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato, Balai Taman Nasional Taka Bonerate, dan kepedulian anak-anak lokal berhasil menyelamatkan seekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang terdampar di pinggir Pantai Lidah pagi tadi. Kejadian ini bermula ketika anak-anak yang sedang bermain di pantai melaporkan temuan penyu dalam posisi terbalik—karapas (tempurung) di bawah dan plastron (perut) menghadap atas. Tim segera bergerak ke lokasi untuk memeriksa kondisi penyu. Hasil pemeriksaan menunjukkan penyu betina berukuran 105 cm (panjang) dan 90 cm (lebar) tersebut dalam keadaan sehat, tanpa luka fisik. Dugaan kuat, penyu ini sedang berusaha naik ke darat untuk bertelur, mengingat ia ditemukan saat air laut mulai pasang—periode yang biasa digunakan penyu untuk bertelur. Edukasi Singkat: Mengapa Penyu Bisa Terdampar Terbalik? Posisi terbalik pada penyu bisa terjadi karena beberapa faktor: Untungnya, penyu ini masih dalam kondisi prima. Setelah dipastikan tidak ada cedera, tim langsung melakukan pelepasliaran ke habitat alaminya. Pelepasliaran ini juga dituangkan dalam Berita Acara resmi sebagai bagian dari dokumentasi konservasi dan mencatatnya dalam database digital online (Memento Database) Balai TN Taka Bonerate. Ajakan untuk Publik Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya peran masyarakat dalam pelestarian satwa laut. Jika menemukan penyu terdampar: "Laporan cepat dari anak-anak ini sangat membantu. Semoga jadi inspirasi bagi warga lain untuk ikut menjaga kelestarian penyu," ujar Kholis salah satu petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SPTN Wilayah II Jinato. Penyu Hijau termasuk spesies dilindungi yang populasinya terus menurun akibat perburuan, polusi plastik, dan kerusakan habitat. Aksi kecil seperti melaporkan penyu terdampar bisa berdampak besar bagi kelangsungan hidup mereka. Narahubung untuk laporan satwa laut terdampar: 0811-418-481 (Call Center Balai TN Taka Bonerate atau Pos Jaga - Resor di Masing-masing Pulau dalam Kawasan TN Taka Bonerate). Sumber : Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Jinato, Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - PEH Ahli Muda/Humas #SaveOurTurtles #ConservationHeroes #PantaiLidah
Baca Berita

Menyusuri Pulau Kecil Nan Rapuh Tempat Burung Gosong Bermukim

Sumenep, 24 Mei 2025. Pulau Saobi, Kepulauan Kangean, Di ujung timur perairan Madura, Pulau Saobi berdiri dalam kesunyian. Sebuah cagar alam kecil yang menyimpan keheningan khas pulau tropis dan denyut kehidupan hayati yang berjalan dalam keseimbangannya sendiri. Dalam diamnya, hutan dan pantai di pulau ini mencatat setiap jejak yang melintas, entah dari burung, angin, atau manusia. Pada pertengahan Mei 2025, tim Smart Patrol dari BBKSDA Jatim kembali hadir menyusuri lanskap Saobi selama tiga hari penuh (17–19 Mei). Setelah beberapa waktu tak terjangkau patroli rutin, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk kembali memahami wajah kawasan secara menyeluruh. Penyusuran dilakukan menyilang beberapa grid, terutama di lokasi-lokasi yang selama ini menjadi titik perhatian. Di sepanjang lintasan, tim mendokumentasikan berbagai dinamika kawasan, dari jejak perubahan kecil pada bentang alam, hingga tanda-tanda intervensi yang menyiratkan perlunya penguatan pengawasan. Beberapa indikasi pemanfaatan kawasan secara tidak langsung teridentifikasi. Hal ini menjadi refleksi bahwa tekanan terhadap kawasan konservasi tak selalu tampak kasatmata, namun tetap meninggalkan pesan yang perlu ditafsir secara bijak. Tim melakukan sejumlah tindakan preventif dan mitigatif di lapangan sebagai bagian dari pendekatan adaptif dalam menjaga fungsi kawasan. Lebih dari sekadar patroli, kegiatan ini juga merupakan pembacaan ulang terhadap lanskap ekologis Saobi. Jalan setapak yang baru muncul, perubahan struktur vegetasi, dan elemen-elemen tak biasa di tengah hutan memberi catatan penting bahwa konservasi adalah kerja jangka panjang yang menuntut kehadiran terus-menerus. Cagar Alam Pulau Saobi mungkin hanya titik kecil di antara gugusan pulau Indonesia. Namun dari pulau kecil inilah, kita belajar bahwa menjaga keseimbangan alam bukan hanya tentang larangan dan aturan, melainkan tentang kepekaan membaca perubahan dan keberanian untuk hadir saat alam memanggil dalam kebisuannya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Taka Bonerate Temukan Bius dan Akar Bahar Ilegal Saat Patroli

Pulau Tarupa, 26 Mei 2025 — Tim patroli Resort Tarupa Kecil, Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate, kembali membongkar upaya perusakan ekosistem laut yang mengkhawatirkan. Dalam operasi hari Minggu (25/5/2025), mereka menemukan 5 botol bius laut dan 18 koloni akar bahar (Euplexaura sp.) yang sedang dijemur secara ilegal di Pulau Tarupa Kecil. Temuan ini memperlihatkan dua sisi ancaman: perburuan dengan bahan kimia berbahaya dan perdagangan ilegal biota laut dilindungi. Bius Laut dan Akar Bahar: Dua Kasus dalam Satu Lokasi 1. Bius Laut Siap Pakai 2. Akar Bahar Kipas (Euplexaura sp.) yang Diambil Paksa Tim Polisi Kehutanan Balai TN Taka Bonerate segera mengamankan barang bukti dan melakukan penyelidikan lebih lanjut. William Tengker, Kepala Balai TN Taka Bonerate menegaskan bahwa : "Perlu Aksi Lebih Tegas dan Pengawasan Lebih Intensif, temuan ini bukti nyata aktivitas ilegal yang mengancam keanekaragaman hayati". "Ini bukan sekadar pelanggaran biasa. Bius laut bisa membunuh terumbu karang dalam hitungan jam, sementara pengambilan akar bahar merusak rantai makanan laut. Kami akan berkoordinasi dengan seluruh stakeholder aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan dan menindak tegas pelaku," tegas William. Ia juga mengapresiasi kewaspadaan tim patroli serta menyampaikan kepada masyarakat untuk melapor jika melihat aktivitas mencurigakan. "Kami butuh dukung semua pihak. Taman Nasional Taka Bonerate adalah warisan berharga, bukan untuk dieksploitasi dengan cara destruktive oleh segelintir orang," tambahnya. Apa Dampaknya? Apa yang Bisa Kita Lakukan? Tindak lanjut: Kasus ini akan dikembangkan untuk pelacakan jaringan pelaku. Sumber : Ahmad Fahruddin Hambali & Tim - Resor Tarupa Kecil SPTN Wilayah 1 Tarupa, Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - PEH Ahli Muda/ Humas #SaveTakaBonerrate #StopIllegalFishing #BiusLautAncamanNyata #takabonerate #kemenhut

Menampilkan 417–432 dari 11.141 publikasi