Rabu, 6 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Ritual Sembek Pendakian Gunung Rinjani Segera Diterapkan

Lombok Utara, 20 Desember 2019. Kesepahaman untuk melibatkan kearifan lokal dalam perencanaan dan pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani dilakukan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) bersama Bappeda Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Utara (KLU), komunitas adat dan Pelaku Wisata Pendakian (Asosiasi TO, Guide dan Porter) melalui rencana penerapan Ritual Sembek pada kegiatan pendakian Gunung Rinjani. Kegiatan digelar di Hotel Restauran Sinar Rinjani Senaru pada hari Kamis, tanggal 19 Desember 2019. Penerapan Sembek bagi pendaki diharapkan mampu mengedukasi betapa pentingnya penghormatan terhadap alam, menjaga kebersihan, keamanan dan kesucian alam agar tetap terjaga dan lestari. Lebih lanjut peserta berdiskusi terkait pengelolaan Sampah di Gunung Rinjani yang masih menjadi isu (cukup) aktual. Diskusi menyambungkan dengan simpul-simpul aktivitas komunitas pemuda adat Karang Bajo yang siap mendukung BTNGR seperti Kader Posyandu Senaru yang telah mencoba menerapkan Bank Sampah dan pemanfaatan sampah melalui kerajinan dan eco-brick. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang diinisiasi Bappeda KLU, BTNGR dan Komunitas Adat di KLU untuk memberlakukan kembali tradisi masyarakat adat sasak dalam prosesi Sembek. Ritual Sembek merupakan penandaan bagi tamu yang memasuki kawasan masyarakat adat. Para peserta dari berbagai instansi dan komunitas yang hadir semuanya sepakat untuk merealisasikan ritual ini dan akan ditindaklanjuti dengan pertemuan lebih teknis untuk prosedur (SOP) dalam penerapannya. Selain kearifan lokal kegiatan ini juga memiliki tujuan untuk peningkatan kerjasama dan dukungan antar pihak dalam pengelolaan Rinjani dan menguatkan Gunung Rinjani sebagai salah satu warisan UNESCO dimana sektor kebudayaan dan sektor lain kian bersinergi. Sebagai informasi, pada akhir pertemuan dilakukan penandatanganan berita acara kesepakatan para pihak tentang pemberlakuan Sembek Burak. Semoga upaya penguatan pengelolaan Gunung Rinjani melalui peran serta kebudayaan kian signifikan kontribusinya. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Sekitar 500 orang pelajar SMP pungut hampir 300 kg sampah anorganik dari kawasan TNBB.

Gilimanuk, 20 Desember 2019. Dalam rangka kegiatan Kemah Bakti Karakter SMP Negeri 1 Melaya melaksanakan clean up (bersih-bersih) di sepanjangan jalan yang melintasi kawasan Taman Nasional Bali Barat. Clean up dilaksanakan oleh 468 siswa SMP, guru dan petugas Taman Nasional Bali Barat. Dalam waktu 1 jam, terkumpul sebanyak 48 karung sampah non organik yang berhasil dikumpulkan dengan berat mencapai 291Kg. Hasil pemilahan dari jenis sampah yang dikumpulkan berupa sampah plastik pembungkus makanan dan minuman, botol dan jenis sampah anorganik lainnya. Kemah Bakti Karakter siswa ini dilaksanakan dari tanggal 19 Desember 2019 hingga 21 Desember 2019 oleh SMPN 1 Melaya di bumi perkemahan Cekik-Gilimanuk. Selain clean up, juga dilaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran konservatif lainnya seperti belajar tentang menjaga hutan dan flora/fauna di Taman Nasional Bali Barat, also kepedulian, dan kegiatan kreatif lainnya. Mari kita jaga terus kebersihan kawasan konservasi kita dan keanekaragaman hayati TNBB. Jangan membuang apapun di dalam kawasan konservasi kecuali jejak. Budayakan peduli tentang alam sekitar dan kelestarian keanekaragaman hayati milik kita. Salam lestari! Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Merbabu Return To Green

Boyolali, 20 Desember 2019. Pasca kebakaran sekitar 3 bulan yang lalu telah menghabiskan sebagian kawasan Merbabu, khususnya di wilayah Resort Ampel. Sekitar 400an Ha kawasan di Resort Ampel hangus terbakar dan mengakibatkan kerusakan pada pipa-pipa saluran air penduduk setempat. Untuk itu gerakan yang digawangi oleh UPK Mutiara Abadi Kecamatan Gladagsari dan Kelompok relawan Rempala dan Primapala berinisiatif untuk melakukan penanaman di kawasan bekas kebakaran. Tujuan utamanya yaitu ingin kembali melihat merbabu hijau dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Kegiatan ceremony dilaksanakan dengan mengusung tajuk “Merbabu Returns to Green” pada hari sabtu, 14 Desember 2019 di Pelataran Sekolah Dasar Negeri 2 Ngagrong dan dilanjutkan dengan penanaman di blok Ngagrong dengan jumlah peserta sebanyak 750 orang yang terdiri dari masyarakat lereng merbabu beserta relawan dan muspika lingkup Kecamatan Gladagsari dan Kecamatan Ampel. Kegiatan ini dihadiri oleh Anggota DPRD Boyolali Bp. Dwi Adi Agung Nugroho,SE, Kepala Dispermasdes Boyolali, Camat Ampel, Camat Gladagsari, Kapolsek Ampel, Danramil Ampel, Forkompinca Ampel dan Gladagsari dan kepala sekolah dasar se kecamatan Gladagsari dan Ampel. Sebanyak 1.200 bibit dengan jenis Aren, Duwet, Salam, dan puspa ditanam di area bekas kebakaran. Selain untuk kegiatan restorasi, pemilihan jenis ini ditujukan sebagai tanaman penghasil sumber pakan bagi satwa yang ada di Merbabu agar tidak turun dan merusak tanaman pertanian warga seperti yang selama ini dikeluhkan terutama pada musim kemarau. Selain penanaman, pada kegiatan ini juga dilakukan pelepasliaran satwa burung dan tupai ke kawasan Merbabu dengan tujuan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem yang mana satwa-satwa ini ikut membantu dalam penyebaran biji tanaman. Pada kesempatan acara ceremony kali ini salah satu sambutan dari kepala Dispermasdes Bp. Purwanto, SH menugaskan langsung kepada Kepala Desa Ngagrong untuk membuat perdes terkait dengan larangan perburuan satwa di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu, hal ini tentunya sangat mendukung upaya konservasi satwa di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Kegiatan yang sangat brmanfaat bagi kelestarian kawasan ini perlu diapresiasi setinggi-tingginya sebagai salah satu bentuk riil keperdulian dan rasa cinta terhadap kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Sekaligus sebagai tolak ukur bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merbabu khususnya di wilayah Resort Ampel tergolong meningkat. Tidak lupa diucapkan terima kasih kepada jajaran Muspika Lingkup Kecamatan Gladagsari dan Ampel serta pemerintah Boyolali yang dalam hal ini diwakili oleh anggota DPRD Boyolali atas kerjasamanya dalam mensukseskan kegiatan ini. Sumber : Penyuluh Balai TN Gunung Merbabu (Milla Septiana, S.Hut)
Baca Berita

Dari Masyarakat untuk Kesejahteraan Masyarakat

Jakarta, 20 Jakarta 2019. Tanggal 13 Desember 2019 lalu, Balai Taman Nasional Kepulauan seribu yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah III, Bapak Kusminardi, S.H. melalui kegiatan Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Sekitar Daerah Penyangga memberikan satu paket bantuan peralatan pengolahan ikan asin dan ikan segar kepada Kelompok Nelayan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Paket bantuan senilai total Rp 40.000.000 ini berupa barang dan peralatan pengolahan ikan, yang terdiri dari: etalase, box fiber, chest freezer, vaccum sealer, pisau, bak penampungan ikan dan peralatan lainnya diterima Bapak Teguh selaku Ketua Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera. Kelompok Nelayan Panggang Sejahtera merupakan kelompok nelayan yang berada di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu dengan beranggotakan 18 orang yang, terdiri dari: nelayan pancing, nelayan jaring dan bubu. Tujuan pemberian bantuan ini untuk menumbuhkan usaha ekonomi produktif, serta memunculkan usaha diversifikasi produk olahan perikanan lainnya di sekitar kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Melalui pemberian bantuan ini akan membentuk kemandirian masyarakat dengan pengelolaan sumberdaya alam, sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan dan pengembangan serta kesejahteraan wilayah khususnya Kelurahan Pulau Panggang. Sumber: Penyuluh Kehutanan pada Balai TN Kepulauan Seribu (Alinar, S.Hut)
Baca Berita

Pembahasan UKL-UPL permohonan IUPSWA di zona pemanfaatan TNBB.

Gilimanuk, 19 Desember 2019. Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL), merupakan salah satu syarat dalam pemenuhan komitmen bagi pemohon IUPSWA, begitu juga bagi PT. Bali Alam Segar yang mengajukan permohonan IUPSWA di zona pemanfaatan TNBB di Sumbersari, Kabupaten Jembrana. Acara sidang/pembahasan dokumen UKL UPL diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jembrana di Aula TN Bali Barat. PT. Bali Alam Segar merupakan salah satu perusahaan yang mengajukan Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA) seluas 30 ha di zona pemanfaatan Taman Nasional Bali Barat. Pembahasan ini dihadiri oleh instansi terkait antara lain Dinas kehutanan Provinsi, dinas lingkup kabupaten Jembrana (dinas LH, dinas pariwisata, Bappeda), Camat Melaya, dan perwakilan tokoh masyarakat desa penyangga sekitar area permohonan dan dari Balai TNBB. Pemaparan materi dilakukan oleh perwakilan PT BAS membahas tentang isi dari dokumen UKL-UPL PT. Bali Alam Segar mulai dari latar belakang hingga kesimpulan dan saran agar rencana usaha dan kegiatan dari PT. Bali Alam Segar memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekitar. Setelah pemaparan, dilaksanakan diskusi yang membahas tentang kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang terjadi dan menentukan langkah pencegahan (mitigasi) serta upaya-upaya lain terhadap pengelolaan lingkungan. Dengan pembahasan UKL UPL terkait rencana adanya penyediaan sarana wisata alam oleh PT. Bali Alam Segar diharapkan masyarakat mengetahui bahwa telah ada upaya terhadap pengelolaan lingkungan dan masyarakat sekitar terlibat aktif dalam kegiatan pariwisata berkelanjutan sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat. Dalam pembahasan,. Masih diperlukan perbaikan terhadap dokumen hasil masukan para pihak sebelum diterbitkan izin lingkungan oleh pemerintah Kabupaten Jembrana. Selain itu, PT. Bali Alam Segar dan masyarakat sekitar diwajibkan untuk berperan aktif dalam menjaga kebersihan sekitar kawasan usaha dan aktif dalam kegiatan konservasi di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Salam lestari. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Wujud Nyata Keteladanan Para Pendidik Melalui Aksi Bersih Sampah

Kamis, 19 Desember 2019 - Sebanyak kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru dan tenaga pendidik dari beberapa Sekolah di Jakarta mengikuti kegiatan kelas konservasi dan aksi bersih yang diselenggarakan BKSDA Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang berlokasi di Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Kelas konservasi merupakan program rutin BKSDA Jakarta untuk memberikan pembekalan ilmu dan pengetahuan di bidang konservasi kepada kelompok masyarakat, kelompok edukasi, pelajar, maupun penggiat lingkungan. Tema kegiatan kali ini adalah Potret Konservasi di Ibu Kota Jakarta. Kali ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya, kami melibatkan para peserta untuk Ikut serta dalam aksi bersih sampah di kawasan konservasi. Hal ini menjadi wujud nyata keteladanan para pendidik sebagai wujud dalam kepedulian lingkungan. Sementara itu dalam diskusi kelas konservasi berkembang pembahasan khususnya terkait kawasan konservasi dan isu sampah. "Kawasan konservasi di Jakarta salah satunya adalah TWA Angke Kapuk yang sebagian besar merupakan ekosistem mangrove. Walaupun secara luasan relatif kecil, namun keberadaannya memiliki fungsi ekologis sangat penting mengingat berada di ibukota yang penuh dengan polusi dan penduduk", ujar Munawir selaku Kepala BKSDA Jakarta. Menurut Munawir menambahkan bahwa tantangan di setiap kawasan konservasi berbeda khusus di Jakarta dan sekitarnya, masalah terbesar adalah sampah. Sumber sampah yang tidak tertangani dengan baik akan mempengaruhi sampai di laut Jakarta dan kawasan konservasi di Kepulauan Seribu. Selain itu beliau berpesan agar para peserta senantiasa memberikan edukasi kepada siswa siswanya. "Jumlah personel dan mitra edukasi kami terbatas. Melalui bapak ibu guru sekalian kami memohon agar terus menamkan kesadaran lingkungan. Bijak dalam penggunaan plastik dan biasakan anak membawa tumbler. Contoh kecil dalam kegiatan kali ini yaitu snack rebusan dan tanpa menggunakan tanpa plastik hingga upaya lainnya" pungkas Bapak yang sudah mengkomandani BKSDA Jakarta hampir 2 tahun ini. Sementara itu Imran (YKAN), menekankan pentingnya fungsi mangrove. "Penahan gelombang laut, habitat 70% ikan konsumsi, obyek wisata, dan penangkap karbon merupakan fungsi mangrove yang sangat penting" ujar Bapak Imran. "Kemampuan menyerap karbon yang 5 kali lebih besar dibanding hutan tropis merupakan hasil penelitian dan sebagian besar tersimpan di akar" tambahnya. Jika terjadi pembukaan mangrove maka secara otomatis akan melepaskan karbon ke udara dan meningkatkan pemanasan. Warjo (SDN Johar Baru 10) menyatakan sangat tertarik dengan program Sambang Sekolah/EKSATLI (Edukasi Konservasi Satwa, Tumbuhan dan Lingkungan). Hal ini merupakan program yang baik untuk memperkenalkan lingkungan hidup dan Kehutanan, khususnya konservasi secara luas khususnya di Jakarta. Sebagian besar peserta juga menyambut antusias program ini dan berharap juga dapat dikunjungi dan mengunjungi kawasan konservasi khususnya yang ada di Jakarta Harapan dari kegiatan ini, para pendidik ini diharapkan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang positif khususnya terkait dengan konservasi dan upaya pengelolaannya. Hal ini dikarnakan para pendidik ini yang setiap harinya berinteraksi dengan siswa diharapkan nantinya dapat menyampaikan pesan konservasi dan memberikan teladan tentang konservasi kepada para siswanya. Sumber: Sri Mulyani & Richard M. Sirait (Penyuluh) - Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Fenomena Kemunculan Ular di Pemukiman: Masyarakat Harus Bijak dalam Penanganannya

Jakarta, 20 Desember 2019. Menyikapi fenomena kehadiran ular belakangan ini di sekitar pemukiman khususnya di wilayah Jakarta, Balai KSDA Jakarta bekerja sama dengan Direktorat KKH, Ditjen KSDAE mengadakan kegiatan koordinasi dan diskusi penanganan ular di pemukiman masyarakat di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan sekitarnya. Kegiatan ini dilaksanakan di TWA Angke Kapuk dengan menghadirkan stake holder terkait dan komunitas reptile/ular di Jakarta dan sekitarnya. Instansi dan komunitas yang hadir dalam diskusi antara lain dari Dinas Kehutanan Provinsi, Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Jakarta sekaligus Penanggung Jawab Unit Tempat Penitipan Sementara (TPS) Satwa, Satgas Polhut BKSDA Jakarta, Komunitas Pecinta Reptil Jakarta, Komunitas Taman Belajar Ular, Dekat bareng Ular, Observer Reptil Tangerang, dan komunitas ASPERA. Kegiatan ini sangat mendapat perhatian dari beberapa media. Tidak kurang dari 15 media cetak/radio/online antusias meliput kegiatan diskusi ini. Kegiatan ini salah satunya bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait dengan fenomena tentang kehadiran ular di tengah-tengah masyarakat yang marak dalam berbagai pendeirtaan. “Kemunculan ular terjadi karena siklus tahunan, kebetulan tahun ini cukup banyak disebabkan factor cuaca yang berkepanjangan sehingga tingkat keberhasilan penetasan telur kobra mulai desember hingga februari nantinya cukup tinggi”, ungkap Ahmad Munawir, Kepala Balai KSDA Jakarta. Lebih lanjut beliau menyampaikan agar semua pihak khususnya media cetak/elelktornik tidak menganggap ini sebagai sebuah teror namun diperlukan edukasi dan pemahaman dalam hal penanganan ular khususnya kobra. “KLHK melalui BKSDA memiliki perhatian terhadap TSL, termasuk juga ular yang saat ini menjadi pemberitaan yang marak. Upaya sosialisasi tentang handling ular terus diupayakan baik secara langsung maupun melalui media-media sosial. Pihak kami (BKSDA Jakarta) banyak mendapat laporan terkait kemunculan ular yang marak dan Polhut kami siap mengevakuasi (rescue) khususnya jika ular tersebut termasuk yang dilindungi. Kami juga menjalin kerjasama dengan komunitas pecinta ular untuk membantu evakuasi ular tersebut jika diperlukan”, tambah sosok yang akrab dengan pewarta berita ini. Sementara itu Direktorat KKH melaui Kasbudit Sumber Daya Genetik, Muhammad Haryono menyampaikan perlunya kerjasama dan sinergi yang erat antara BKSDA Jakarta dan instansi terkait. Selain itu Haryono menyampaikan sifat ekologis dari satwa. “Perlu diketahui bahwa jumlah populasi satwa tidak statis. Faktor lingkungan, keberadaan pakan, dan predator menjadi factor yang berpengaruh terhadap suatu populasi. Faktanya saat ini faktor tersebut mempengaruhi peningkatan populasi ular khususnya ular kobra”, ujar Haryono. Ular-ular yang dievakuasi oleh BKSDA maupun komunitas setelah ditampung dalam tempat evakuasi sementara selanjutnya dapat dikembalikan ke alam/habitat alaminya. “Namun perlu diingat syarat yang diperlukan agar dilepaskan ke alam: habitat tujuan terdapat jenis ular yang dilepaskan, kondisi ular sehat dan tidak membawa penyakit; serta habitatnya cocok secara ruang maupun pakan. Selain itu diperlukan juga monitoring terhadap ular”, tambahnya lagi. Menanggapai tempat pelepasliaran Munawir menyampaikan salah satu lokasi pelepasliaran ular. “Tempat pelepasliaran bagi ular sudah disiapkan di kawasan TN Gunung Halimun Salak setelah melalui berbagai kajian”, pungkas Munawir yang juga saat ini juga menjabat Plt Kepala Balai Gunung Halimun Salak Dalam diskusi ini, beberapa komunitas menyampaikan laporan dan pendapatnya. Igor dari Komunitas Taman Belajar Ular menyampaikan bahwa di tahun 2019 sampai dengan November mendapat 270 kasus/laporan tentang ular. “Di desember saja, di wilayah Jabodetabek kami mendapat 81 laporan dimana 50 nya diatasi”, ujarnya. Mendukung pendapat dari Haryono, Igor menyatakan bahwa saat ini sudah semakin jauh berkurangnya predator ular seperti musang, burung hantu, biawak ataupun garangan. Elang yang tergabung dalam komunitas yang sama mengungkapkan bahwa kemunculan ular khususnya baby Cobra pada bulan November s/d Januari sudah terjadi sejak tahun 2014 dan terjadi setiap tahun. “Ular suka di tempat yang lembab, banyak tumpukan barang baik kayu, ranting, kardus, ataupun ilalang” pungkasnya. Sementara itu Novandri dari komunitas Dekat Bareng Reptil mendapat 11 laporan dimana 7 yang sudah berhasil direscue dan sebagian besar juga jenis baby cobra. “Kenapa tidak semua laporan dapat direscue karena terkadang laporan yang disampaikan terlalu lama sedangkan sifat ular akan selalu bergerak mencari tempat yang aman”, ujar pemuda yang selalu bertopi ini. Dia menambahkan bahwa banyak kasus, penemuan kasus dilaporan oleh PPSU sehingga dibutuhkan edukasi dan training bagaimana penanganan ular yang benar bagi mereka. Pemerhati Aspera, Ave menyoroti habitat satwa termasuk ular yang tergerus karena pembangunan pemukiman dan sarpras lainnya. Dia menambahkan terkait tata kelola penanganan korban gigitan ular yang perlu diperbaiki. “Sebaiknya Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang sudah tersedia di beberapa rumah sakit yang mendatangi/dikirim ke korban bukan sebaliknya untuk efektifitas waktu” ujar pria plontos ini. Koordinasi dan diskusi ini diharapkan dapat memberikan informasi yang benar terkait dengan pemberitaan kemunculan ular yang marak belakangan ini. Fenemena ini merupakan hal yang sudah menjadi siklus tahunan namun masyarakat diharapkan waspada khususnya untuk menjaga tempat tinggalnya tidak menjadi “rumah ideal” bagi tumbuh kembang ular. Selain itu penanganan yang tepat terhadap ular melalui edukasi maupun pelatihan sangat diperlukan oleh pihak yang berkualifikasi baik itu BKSDA maupun komunitas pecinta ular. Sumber: BKSDA Jakarta Jalan Salemba Raya No. 9 Jakarta Pusat
Baca Berita

Menuju Kemitraan Konservasi di Pulau Pramuka

Jakarta, 20 Desember 2019. Dalam rangka meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dalam tata kelola dan fungsi kawasan di TN Kepulauan Seribu yang bertujuan kesadaran masyarakat pada kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu SPTN Wilayah III melakukan kegiatan penguatan kapasitas kelembagaan kelompok mitra konservasi pada tanggal 10 s.d. 13 Desember 2019. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan identifikasi dan verifikasi potensi yang telah dilakukan sebelumnya dan mendapatkan 3 (tiga) kelompok calon kemitraan konservasi yang akan menjadi mitra konservasi di SPTN Wilayah III. Kelompok yang akan diusulkan, yaitu: Lembaga Pengembangan Potensi Pariwisata dan Konservasi Kelautan (LP3K2) , Sentra Penyuluh Kehutanan Pedesaan (SPKP) Samo-samo dan Kelompok Rumput Laut Katoni Merah. Narasumber pada kegiatan ini berasal dari: 1. Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu, Ibu Neneg Roeni yang menyampaikan pengetahuan tentang pengembangan pengelolaan wisata berbasis lingkungan, 2. Ketua SPKP Samo-Samo, Ibu Mahariah sebagai local champion di Kepulauan Seribu yang mengajak para peserta memetakan potensi sumberdaya yang dimiliki (sumberdaya manusia, sumberdaya alam, serta dukungan finansial) menjadi peluang dalam berkreatifitas, berkomunikasi dan berkolaborasi, 3. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada kesempatan kali ini diwakili oleh Dr. Nur Azmi yang menyampaikan bahwa budidaya rumput laut bisa menjadi aset wisata tentunya dengan berpedoman pada aturan yang ada dan diusahakan tidak merusak eksosistem lamun, serta terumbu karang, salah satunya dengan penanaman rumput laut melalui model platform seawes offshore farming yang lebih ramah lingkungan, serta Ibu Tuti Wahyuni, M.Si. yang memandu kegiatan praktek pengolahan pasca panen rumput laut dan pembuatan sabun dari rumput laut yang "ramli" (ramah lingkungan), sehingga berpotensi untuk dijadikan produk wisata pasar di Kepulauan Seribu. Selanjutnya sebagai hasil akhir kegiatan ini, asistensi proposal kemitraan konservasi dilakukan Direktorat Kawasan Konservasi, Bapak Aris Munandar. Olehnya, para peserta calon kemitraan konservasi diarahkan bagaimana membuat proposal dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Bapak Aris Munandar menekankan bermitra berarti pemberian akses kawasan dengan legal untuk memanfaatkan dan mengelola sumberdaya di dalam kawasan TNKpS dengan tetap memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya. Sehingga membagi tanggung jawab dalam menjaga lingkungan berkesinambungan. Syarat dan ketentuan yang berlaku akan disepakati oleh kedua belah pihak yang nantinya akan tertuang dalam perjanjian kerjasama (PKS). Sumber: Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Pokmas Baban Lestari Gali Ilmu Membuat Yogurt sampai ke Polije

Jember, 19 Desember 2019. Kepala SPTN Wilayah III Kalibaru Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti), Sulistrianto, S.Si., M.Si. beserta stafnya mendampingi Kelompok Desa binaan Baban Lestari berguru ke Politeknik Negeri Jember (Polije). Melanjutkan pelatihan penanganan kambing etawa pada 25 November 2019 lalu, kali ini 4 orang perwakilan Baban Lestari praktek pelatihan pembuatan olahan susu kambing berupa yogurt dan kefir. Pelatihan yang bertempat di Lab. Fakultas Perternakan Polije ini dibimbing oleh Dr.Merry Muspika MP, Dr Hariadi MP, Anda malika MP. Diawali dengan pemberian materi tentang pembuatan yogurt dan kefir dari susu kambing etawa dilanjutkan dengan praktek langsung. Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan hingga 5 jam terasa begitu cepat berlalu. Bagi mereka pembuatan yogurt dan kefir itu sederhana dan mudah diaplikasikan. Proses fermentasi yogurt memerlukan waktu sedikitnya 14 jam sedang fermentasi kefir minimal 48 jam. Dengan bekal ilmu yang didapatkan hari ini, tak sabar ingin segera dipraktekkan oleh Kelompok Baban Lestari. Sesuai dengan arahan Kepala Balai TN MerBeti, Maman Surahman, S.Hut., M.Si, masyarakat dapat menerapkan metode petik, olah, jual guna meningkatkan pendapatan masyarakat. “Kita dukung teknologi, peralatan dan pemasarannya. Melalui koperasi TN MerBeti bisa bekerjasama dengan masyarakat desa binaan TN sebagai agent pemasaran”. Kata Kabalai TN MerBeti. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai

Pekanbaru, 20 Desember 2019. dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Riau di Minas terdengar sayup alunan musik melayu menyambut kehadiran Wakil Gubernur Prov. Riau bapak Edy Natar Nasution, Bupati Siak bapak Alfredi beserta para pejabat Prov. Riau dan tamu undangan menghadiri Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai. Mengambil tema Pulihkan Lahan Membangun Masa Depan diharapkan gerakan ini dapat lebih memasyarakatkan menanam pohon dan masyarakat lebih giat melakukan penanaman untuk pemulihan lingkungan. Di kegiatan tersebut dilakukan ceremony penanaman 200 bibit pohon, diharapkan untuk seminggu kedepan dapat tertanam 25.000 bibit pohon yang telah disediakan. Didahului dengan penyerahan 25.000 bantuan bibit pohon kepada masyarakat dan penyerahan Sk Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan para pejabat langsung turun melakukan penanaman pohon di sekitar aliran sungai yang berada di tengah lokasi PLG Riau di Minas. Lestari alamku, sejahtera rakyatku Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penandatangan Perjanjian Kerja Sama penguatan fungsi antara Kepala Balai TNBB dengan Yayasan Biosfir

Jakarta, 19 Desember 2019. Upaya pengelolaan TNBB yang kolaboratif dan mendukung efektivitas penyelenggaraan pengelolaan kawasan dilakukan melalui kemitraan. Salah satunya dengan kerjasama penguatan fungsi, penandatangan perjanjian kerjasama antara Kepala Balai TNBB dengan Yayasan biosfir antara lain terkait ruang linkup pemulihan ekosistem khususnya di perairan, pengendalian sampah dan edukasi konservasi bagi pelajar dan masyarakat di Desa penyangga Sekitar kawasan TNBB. Tentunya penandatangan perjanjian kerjasama penguatan fungsi telah mendapatkan persetujuan dari Dirjen KSDAE dan juga pembahasan bersama. Yang selanjutnya dilakukan penandatangan perjanjian kerjasama. Saat penandatangan perjanjian, Kepala Balai TNBB Drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si mengharap pihak Mitra segera menyusun RPP dan RKT dan mengimplementasikan ruang lingkup kerjasama dengan baik dan kerjasama penguatan fungsi ini bukan pengalihan fungsi pengelola kawasan dan yuridiksi pengelolaan kawasan TNBB tetap oleh Balai TNBB sehingga pihak Mitra tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Kerjasama selama 5 tahun ini mengambil lokasi di perairan Pulau menjangan sampai Teluk banyuwedang serta 2 desa penyangga di Sumberklampok Dan pejarakan. Salam konservasi. Sumber: Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Menambah Kecintaan pada Alam dan Lingkungan, Pramuka SMA Negeri 8 Konda Lakukan Perkemahan Jelajah Ketangkasan, Keterampilan dan Kecakapan Sangga (PJK3S) di SM Tanjung Peropa

Kendari, 19 Desember 2019. Pramuka SMA Negeri 8 Konda lakukan perkemahan jelajah ketangkasan, keterampilan dan kecakapan sangga (PJK3S) di kawasan Suaka Margasatwa Tanjung peropa Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 17 – 19 Desember 2019 bertempat di kawasan Suaka Margasatwa Tanjung peropa yang diikuti sebanyak 29 orang anggota pramuka. Kegiatan ini di maksudkan sebagai wadah pembinaan bagi pramuka penegak dan pandega dalam mengaktualisasi dan mengekspresikan potensi individu, meningkatkan kualitas menuju kemandirian pramuka penegak dan pandega bagi masyakat serta membentuk karakter pramuka yg berjiwa kepemimpinan, tanggung jawab, meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, mental dan fisik untuk mengintegrasikan diri dalam masyarkat. Kepala Resort KSDA beserta anggotanya turut menjadi pemateri dalam kegiatan ini. Adapun materi yang disampaikan yaitu pengetahuan tentang kawasan konservasi, pengenalan ekosistem lingkungan suak a marga satwa tanjung peropa, Pengenalan alat penunjang kegiatan konservasi (penggunaan GPS), dan pemberian informasi tentang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sebagai pemberdayan masyarakat di sekitar kawasan SM Tanjung Peropa. Pada kesempatan ini, pihak sekolah menyampaikan bahwa kegiatan ini akan rutin dilaksanakan setiap tahun dan menjadikan kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Peropa sebagi lokasi praktek edukasi dan wisata minat khusus bagi siswa serta turut berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Peropa. Sumber. BKSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Perjanjian Kerjasama Untuk Kemudahan Akses Pendakian Gunung Rinjani

Mataram, 21 Desember 2019. Sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pembangunan Strategis Yang Tidak Dapat Dielakkan antara Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram serta melanjutkan kegiatan yang telah tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Program (RPP) 2019 s.d 2028, pada hari Jumat, 20 Desember 2019 telah dilaksanakan penandatanganan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2020 di Kantor Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IX Mataram. Hadir dalam acara tersebut Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX Mataram, Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Kepala Satker Pelaksanaan Jalan Nasional, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN Gunung Rinjani, serta perwakilan staf kedua pihak. Kepala Balai TN Gunung Rinjani dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas pelaksanaan kerja sama yang telah berlangsung hingga saat ini. Keberadaan jalan nasional yang sedang dikerjakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional ini sangatlah mendukung kemudahan aksesibilitas menuju jalur pendakian Gunung Rinjani. Ke depan diharapkan pelaksanaan kerja sama ini dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, disampaikan pula bahwa RKT yang akan ditandatangani ini merupakan kewajiban yang harus dipenuhi dan tidak dapat dipisahkan dari PKS serta dalam pelaksanaannya perlu dilakukan koordinasi antara kedua belah pihak. Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan program yang tercantum dalam RKT akan senantiasa berkoordinasi dengan Balai TN Gunung Rinjani. Program yang ada RKT merupakan kesepakatan kedua belah pihak sehingga dalam pelaksanaan kegiatan akan dilakukan monitoring dan evaluasi secara bersama-sama. Acara berakhir setelah ditandanganinya dokumen RKT 2020 serta foto bersama. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Sosialisasi Konservasi di Zona Tradisional

Cihanyawar, 17 Desember 2019. Suasana riuh rendah mengisi aula Desa Cihanyawar Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Beberapa deretan kursi telah berjajar di dalam ruangan. Satu persatu orang tamu masuk dan duduk berderet rapi. Beginilah situasi di awal acara Sosilaisasi Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya dalam rangka meningkatkan kapasitas dan koordinasi dengan masyarakat Kelompok Tani Hutan (KTH) program kemitraan konservasi yang diselenggarakan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) bekerjasama dengan Desa Cianjawar. Kegiatan sosialisasi yang bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap fungsi kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini, dihadiri oleh Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Kepala Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Kanit Polhut Wilayah II Sukabumi, Kepala Resort Nagrak dan anggota, Kepala Resort Pasir Hantap dan anggota, Penyuluh Kehutanan, KTH Karya Tani, KTH Harapan Maju, KTH Kuta Lestari, KTH Tunas Harapan, dan KTH Mandiri Cikawung. Sosialisasi yang diberikan mencakup perjanjian kerjasama tentang pemberian akses HHBK di wilayah Resort PTN Nagrak dan Resort Pasir Hantap, yang menekankan kepada hak dan kewajiban anggota KTH diantaranya adalah menyusun RPP RKT; melaksanakan RPP RKT; memenuhi administrasi tata niaga HHBK; membuat laporan ke TNGGP; melaporkan gangguan hutan ke TNGGP; tidak menambah anggota; tidak mengganti anggota; tidak menjual/ beli atau memindah tangankan akses pemungutan HHBK; serta menjaga area hutan dari kebakaran; perburuan, penyerobotan hutan, penebangan, dan gangguan lainnya. Diskusi hangat terjalin dalam sosialisasi ini. Salah satu pertanyaan yang cukup menggelitik terlontar dari ketua KTH tentang bagaimana tindakan pengurus apabila ada anggotanya yang melanggar aturan sesuai kesepakatan kerjasama. Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Syahrial Anuar menyatakan bahwa jika ada anggota yang tidak mematuhi aturan, alangkah baiknya ditegur dahulu oleh Ketua KTH dengan cara memberikan surat kepada anggota dimaksud. Apabila langkah tersebut tidak membuahkan hasil maka ketua KTH harus berkomunikasi dan bersurat kepada Kepala Desa setempat selaku pihak yang membentuk KTH apakah anggota yang bermasalah tersebut diberi peringatan atau dapat diberhentikan dari keanggotaan, yang selanjutnya hasil dari keputusan tersebut bisa diteruskan kepada pihak TNGGP. Pemberian akses pemanfaatan kawasan berupa penyadapan getah damar oleh KTH merupakan suatu bentuk nyata pemberian manfaat langsung dari keberadaan TNGGP bagi kesejahteraan masyarakat. Akses tersebut diberikan pada zona tradisional, disamping itu juga mengurangi penguasaan kawasan atas lahan garapan yang terdapat di dalam kawasan. Diharapkan nantinya secara perlahan-lahan masyarakat tidak lagi menggarap lahan dan mengganti mata pencaharian sebagai penderes getah damar. Dari hasil usaha getah damar diharapkan mereka mampu untuk mencari atau membuat mata pencaharian yang mandiri (tidak tergantung pada hutan atau hasil hutan). Pendekatan ini jika dilihat dari sisi perlindungan kawasan seharusnya dapat meminimalisir upaya represif dari pihak Polisi Kehutanan bila masih terdapat oknum yang melakukan penggarapan lahan di dalam kawasan. Sehingga istilah "Leuweung Hejo Masyarakat Ngejo" (Hutan Aman Masyarakat Sejahtera) dapat terwujud. Penulis : Agung Pakerti Dok : Sisca Widiya A. dan Dadang Sonandar Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

30 Ekor Kukang Jawa Kembali Hidup Bebas di Hutan Gunung Halimun Salak

Sukabumi, 18 Desember 2019. Sebanyak 30 individu kukang jawa (Nycticebus javanicus) dilepasliarkan ke habitatnya di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi, Jawa Barat. Ketiga puluh primata yang dilindungi dan terancam punah tersebut merupakan hasil serahan masyarakat secara sukarela melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan BKSDA Jakarta yang selanjutnya dititiprawatkan di Pusat Rehabilitasi Primata milik Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi (Yayasan IAR Indonesia), di Bogor, Jawa Barat. Pelepasliaran kukang jawa ini merupakan program kerjasama antara BBKSDA Jawa Barat, Balai TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia. Program pelepasliaran ini, selain memberikan kesempatan kedua bagi kukang hasil serahan, pelepasliaran primata endemik jawa itu juga menjadi salah satu upaya untuk mendukung keberlangsungan proses ekologis di dalam kawasan konservasi, serta menjaga dan meningkatkan populasi jenis primata sebagai satwa endemik yang jumlahnya kian menurun. Ahmad Munawir selaku pelaksana tugas Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak mengatakan, pelepasliaran kukang ini terbagi ke dalam dua tahap. Tahap pertama sebanyak 15 ekor sudah dilaksanakan pada Selasa (03/12) lalu, sedangkan tahap kedua sebanyak 15 ekor yang dilaksanakan pada hari ini Rabu (18/12. “Primata yang terancam punah akibat perdagangan dan pemeliharaan ilegal itu telah menjalani perawatan di Pusat Rehabilitasi Yayasan IAR Indonesia, kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Mengingat sebagian besar dari mereka merupakan kukang serahan yang kondisinya memang membutuhkan penanganan khusus untuk memulihkan perilaku alamiahnya agar mampu bertahan hidup kembali di alam bebas,” kata Munawir. Munawir mengatakan, kawasan TNGHS dipilih sebagai lokasi lepasliar berdasarkan penilaian kesesuaian habitat yang telah dilakukan sebelumnya oleh tim dari Balai TNGHS dan Yayasan IAR Indonesia. Kawasan TNGHS memiliki ekosistem yang dinilai cocok sebagai tempat pelestarian dan perlindungan terhadap kelangsungan hidup kukang dilihat dari aspek keamanan kawasan, ketersediaan pakan dan naungan, daya dukung habitat serta tingkat ancaman predator. Harapannya dengan pelepasliaran di kawasan TNGHS ini, kukang-kukang itu dapat berkembang biak dan melangsungkan hidupnya dengan baik. Program pelepasliaran ini tidak hanya melibatkan tim dari Balai TNGH dan tim Yayasan IAR Indonesia, namun kami juga melibatkan masyarakat lokal di sekitar lokasi pelepasliaran dalam setiap prosesi program konservasi kukang ini, dimulai dari translokasi hingga monitoring. Keterlibatan ini juga tentu diharapkan agar mereka bisa menjaga dan melindungi kukang di habitatnya dari berbagai ancaman,” pungkas Munawir. Aris Hidayat, Manajer Operasional Yayasan IAR Indonesia mengatakan, satwa kukang yang akan dilepasliarkan ini telah menjalani proses dan tahapan yang panjang, dimulai dari karantina dan pemeriksaan medis guna memastikan mereka tidak mengidap penyakit, observasi perilaku, pengenalan pakan alami sampai mereka layak, dinyatakan sehat dan siap ditranslokasi untuk jalani habituasi. Proses panjang ini harus mereka jalani untuk mengembalikan sifat liar alaminya. Tahap akhir sebelum pelaksanaan pelepasliaran adalah habituasi. Habituasi atau pembiasaan di rumah sementara adalah proses dimana kukang kukang tersebut ditempatkan disekitar lokasi pelepasliaran di area terbuka yang dikelilingi jaring dan fiber di dalam kawasan TNGHS. Di area habituasi itu tumbuh berbagai jenis pepohonan untuk pakan alamiah dan naungan kukang. Proses habituasi ini memakan waktu selama sekitar dua minggu untuk memberikan waktu kukang tersebut beradaptasi dan mengenal lingkungan barunya. “Selama masa habituasi ini, tim di lapangan tetap mengamati dan mencatat perkembangan mereka setiap malamnya. Jika selama masa habituasi semua kukang aktif dan tidak ada perilaku abnormal, maka barulah mereka benar-benar bisa dilepasliarkan ke alam bebas,” terang Aris. Kukang (Nycticebus sp) atau yang dikenal dengan nama lokal malu-malu merupakan primata yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Kukang, primata yang masuk dalam daftar 25 primata terancam punah di dunia ini juga dilindungi oleh peraturan internasional dalam Apendiks I oleh Convention International on Trade of Endangered Species (CITES) yang artinya dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Narahubung: Balai TNGHS – (Giri : 081289734666) Yayasan IAR Indonesia – (Aris Hidayat : 08161983454)
Baca Berita

The Winner, Para Pemenang Lomba Kompetensi Siswa SMK Kehutanan, Berkunjung ke Taman Nasional Gunung Merapi

Sleman, 18 Desember 2019. Taman Nasional selalu menjadi kawasan yang menarik untuk dipelajari, atau bisa dinyatakan sebagai laboratorium alam. Demikian juga dengan beberapa siswa SMK Kehutanan yang hadir di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada hari Rabu, 18 Desember 2019. Dalam kesempatan ini, rombongan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia (Pusdiklat SDM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membawa 12 siswa SMK Kehutanan dan 4 guru pendampingnya masing-masing. Mereka ini adalah para pemenang Lomba Kompetensi Siswa SMK Kehutanan (LKS) yang dilaksanakan KLHK pada tanggal 15 dan 16 November 2019 silam. Diinformasikan oleh Kepala Pusdiklat SDM KLHK, Novia Widyaningtyas, S.Hut M.Sc, selaku ketua rombongan, bahwa rombongan ini disebut the winner. Mereka ini merupakan 4 tim yang masing-masing merupakan para pemenang 1 dari 4 Kompetensi yang telah dilombakan. ”Rimbawan Unggul, Indonesia Maju” merupakan tema dari LKS ini, karena KLHK ingin memperkenalkan para calon rimbawan yang berkompeten, yang siap bekerja di sektor swasta maupun pemerintah. Disampaikan juga oleh beliau, bahwa para pemenang ini berkesempatan mengikuti EcoEduTourism yaitu jalan-jalan ke Taman Nasional Gunung Merapi, Candi Borobudur, Wanagama dan beberapa obyek di lingkup Yogyakarta dan sekitarnya, sebagai hadiah pemenang LKS ini. Sementara itu, Kepala Balai TNGM, Ir Pujiati, menyampaikan selamat kepada para pemenang LKS, juga selamat datang di Taman Nasional Gunung Merapi, selamat belajar dan mengenal TNGM. Merujuk pada bentuk fisik Gunung Merapi saat ini, dijelaskan tentang bagaimana kondisi perubahan kubah lava Gunung Merapi pasca erupsi Merapi 2010, serta kondisi Kalikuning dan Plunyon sebelum dan sesudah erupsi Merapi 2010, yang nanti akan diamati langsung. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada kerjasama yang baik dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Pihak BPPTKG telah secara rutin melaporkan aktivitas Gunung Merapi per 6 jam, melalui Twitter maupun pesan WhatsApp. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai TNGM juga dengan sangat terbuka mempersilahkan jika nantinya rekan-rekan SMK akan melakukan studi lebih lanjut tentang ekosistem, flora, fauna, sosial ekonomi, budaya, maupun wisata di lingkup TNGM. Selanjutnya the winner serta seluruh rombongan Pusdiklat SDM KLHK diajak fun tracking di kawasan Kalikuning hingga Plunyon, didampingi oleh 4 orang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNGM. Sepanjang perjalanan, diperkenalkan pengelolaan ekosistem berbasis genetik, juga beberapa flora endemik TNGM yang dijumpai sepanjang jalur tracking, efek erupsi Merapi 2010 terhadap kedua kawasan. Juga dijabarkan bagaimana upaya restorasi yang telah dilaksanakan TNGM, keberadaan Acacia decurens pasca erupsi Merapi 2010 sebagai tumbuhan pioneer sekaligus Invasive Allien Species, serta pengembangan wisata di Kalikuning dan Plunyon. Perjalanan dan keseruan ini akan dikemas oleh para peserta menjadi sebuah dokumentasi yang menarik dalam bentuk video perjalanan, pameran foto, juga artikel perjalanan, sebagai oleh-oleh perjalanan yang dapat dinikmati banyak orang. *** Sumber : BTN Gunung Merapi

Menampilkan 4.273–4.288 dari 11.140 publikasi