Kamis, 7 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dirjen KSDAE Lepasliarkan Kijang Di Taman Hutan Raya Bunder

Yogyakarta, 1 Februari 2020. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta bekerja sama dengan Balai Taman Hutan Raya Bunder melepasliarkan dua ekor Kijang (Muntiacus muntjak) di kawasan Taman Hutan Raya Bunder, Gunungkidul (1/2/2020). Satwa yang dilepasliarkan berjenis kelamin jantan dan berasal dari serahan suka rela masyarakat Sleman pada Bulan Agustus 2019 dan Januari 2020. Kedua ekor kijang sebelumnya direhabilitasi di Stasiun Flora Fauna (SFF) Bunder. Setelah melalui penilaian perilaku dan kesehatan dari pengelola SFF, keduanya dinyatakan siap untuk dilepasliarkan. Untuk memudahkan pengamatan pasca pelepasliaran, pengelola melakukan tagging/ penandaan di telinga atau biasa disebut ear tag. Proses penandaan pada kijang tersebut merupakan tahapan akhir sebelum dilepasliarkan. Pelepasliaran dilakukan oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi. Turut hadir pada kesempatan ini Kepala Dinas LHK DIY, Jajaran Kepala UPT kementerian LHK lingkup Yogyakarta, Muspika Playen, LSM Pemerhati Konservasi, Kader Konservasi dan masyarakat sekitar . Dalam rangkaian ceremony, disampaikan juga penyerahan piagam penghargaan dan tali asih kepada kelompok tani rusa Bunder binaan BKSDA Yogyakarta yang telah membantu dalam pelestarian dan pengelolaan rusa selama ini. Penyerahan tali asih disampaikan langsung oleh Dirjen KSDAE didampingi tamu undangan. Dalam sambutannya, Wiratno menyampaikan terima kasih atas dedikasi kelompok tani rusa yang telah membantu pengelolaan rusa selama hampir 20 tahun. “Dalam perjalanannya sejak awal tahun 2000, kini SFF Bunder telah berkembang menjadi stock center, wahana wisata edukasi dan riset. Pengelolaan SFF tentunya harus terus ditingkatkan dan diperlukan Road Map SFF yang didiskusikan dengan para pihak yang kompeten untuk memudahkan dalam pengelolaannya. Program-program pelepasliaran kembali ke alam dipercepat sehingga satwa tidak menumpuk di tempat transit”, lanjutnya Kepala Balai KSDA Yogyakarta Muhammad Wahyudi, SP, M.Sc mengapresiasi dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyerahkan satwa dilindungi kepada pemerintah. Hal ini merupakan indikator semakin tingginya kepedulian masyarakat terhadap pelestarian keanekaragaman hayati. Terkait dengan pengelolaan SFF Bunder, Wahyudi menyampaikan, “Dari data yang ada satwa liar hasil serahan masyarakat melalui Quick Response cukup banyak, namun lokasi transit maupun rehabilitasi satwa tersebut sangat terbatas. Untuk itu Stasiun Flora Fauna ini mempunyai fungsi yang sangat strategis khususnya sebagai lokasi untuk rehabilitasi dan penyelamatan satwa” “Pada tahun 2021 diharapkan pengembangan SFF bunder dapat dilakukan melalui mekanisme pembiayaan SBSN. Konsep yang akan kita kembangkan nanti yaitu Konservasi dan edukasi” tutupnya. Sumber : Andie Chandra Herwanto – PEH BKSDA Yogyakarta
Baca Berita

Ngariung Bersama KTH Binaan TN Gunung Gede Pangrango di Bogor

Selasa, 28 Januari 2020 - Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan pembinaan terhadap Kelompok Tani Hutan (KTH) di Bidang PTN Wilayah III Bogor yaitu KTH LBC Lestari yang berdomisili di daerah penyangga Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor dan KTH Tunas Harapan di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Tipologi masyarakat pada kedua KTH memiliki kesamaan yaitu kelompok masyarakat eks. penggarap lahan perluasan taman nasional. KTH LBC Lestari fokus dalam pengembangan wisata alam, sedangkan KTH Tunas Harapan bergerak dalam budidaya ikan air tawar. Masyarakat diarahkan memiliki mata pencaharian berbasis non pertanian dengan resiko rendah (low risk) terhadap kerusakan hutan namun memiliki manfaat ganda (multieffect) baik terhadap kawasan dan juga kesejahteraan masyarakat setempat. Istilah “ngariung” dalam Bahasa Sunda yang artinya “berkumpul”. Berkumpul dalam rangka mengevaluasi kegiatan KTH pada kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha yang diharapkan terdapat peningkatan kapasitas dari tiga hal tersebut. Pada pertemuan di KTH LBC Lestari diawali sambutan dari Kepala Seksi Pelayanan dan Pemanfaatan BBTNGGP, Sahyudin. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan terhadap kelompok agar kegiatan pengelolaan wisata dapat bersinergi dengan aturan-aturan yang berlaku seperti dalam penerapan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan tetap memfasilitasi segala aspirasi dari masyarakat. Selain itu juga, kegiatan aktivitas wisata yang akan dijalankan oleh KTH dapat dinaungi dengan perizinan yang sesuai dengan potensi yang dikembangkan oleh kelompok seperti permohonan Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) pada penyediaan makanan dan minuman, pemanduan, penyewaan alat kemping dan lainnya yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor:P.8/MenLHK/SetJen/KUM.1/3/2019 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam. Selanjutnya, sambutan dari Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bambang Mulyawan sebagai salah satu Pembina di wilayah, menurut penuturan beliau, perjuangan KTH LBC Lestari dalam pengembangan inisiasi wisata alam perlu perjuangan panjang. Meningkatkan kapasitas SDM KTH agar terus dilakukan dan saatnya kelompok menciptakan magnet kunjungan wisata alam serta mengembangkan sayap untuk membangun jejaring ke para penggiat wisata sekitarnya. Kemudian dilanjutkan penyampaian laporan oleh Ketua KTH LBC Lestari, Iyan Mulyana atas pelaksanaan kegiatan kelompok pada tahun 2019 diantaranya penataan embung air, budidaya lebah madu, dan pemeliharaan pohon kegiatan restorasi kawasan yang difasilitasi oleh PT.Tirta Investama-Plant Ciherang. Menurut Iyan Mulyana, KTH LBC Lestari berupaya mengembangkan kegiatan wisata alam di dalam kawasan hutan dengan menawarkan paket wisata alam, kendala yang dihadapi salah satunya adalah perlu proses panjang untuk merubah paradigma seorang petani menjadi pengelola wisata. Saat ini KTH LBC Lestari memiliki program jangka pendek dan panjang dalam pengembangan wisata salah satu target jangka pendek dengan mengembangkan kemitraan kelompok dengan para pemuda Desa Cileungsi yang tergabung dalam kelompok penggiat outbond “Spirit” di wilayah Kecamatan Ciawi. Selanjutnya pertemuan bergeser ke KTH Tunas Harapan, pertemuan dihadiri oleh pihak TNGGP, KTH Tunas Harapan, dan mitra dari Conservation International Indonesia (CII). Pertemuan diawali dengan sambutan Kepala Seksi PTN Wilayah V Bodogol, Amru Ikhwansyah. Beliau menyampaikan, KTH menjalankan usaha dengan mengandalkan pemanfaatan potensi air dari hutan sehingga sudah selayaknya masyarakat berkontribusi dalam pelestarian hutan karena menjaga hutan merupakan tanggungjawab kita bersama. CII juga selaku mitra TNGGP memfasilitasi kegiatan pemulihan ekosistem/ Green Wall di lokasi eks. garapan KTH Tunas Harapan dan pemberdayaan masyarakat. Sejak tahun 2017, KTH Tunas Harapan melakukan budidaya ikan air tawar. Kelompok ini mengawali dengan budidaya jenis ikan lele, tetapi terdapat beberapa kendala yang dihadapi diantaranya selain memerlukan biaya operasional cukup besar dalam pengadaan pakan, ikan lele merupakan jenis ikan kanibal bila terdapat keterlambatan dalam pemberian pakan maka ikan lele akan memangsa ikan lainnya sehingga panen tidak maksimal. Saat ini, budiaya ikan mas lebih menjanjikan berdasarkan perhitungan modalnya dan kemudahan perawatan, ujar Yusuf salah satu pengurus KTH Tunas Harapan. Dari hasil evaluasi terhadap KTH LBC Lestari dan KTH Tunas Harapan, keberhasilan dalam kegiatan pembinaan dari TNGGP terbukti dengan adanya perubahan pola pikir anggota kelompok menjadikan hutan sebagai aset tanpa melakukan ekspolitasi seperti halnya dahulu masyarakat sekitar melakukan aktivitas perkebunan. Selain itu adanya peningkatan kapasitas baik dalam kelembagaan, keterlibatan dalam pengamanan kawasan, dan pengembangan usaha yang terus dilakukan sehingga semboyan “Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo” tidak hanya ucapan belaka tetapi memiliki bukti nyata. Salam Lestari…. Sumber: Ratih Mayangsari - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Studi Banding Balai Taman Nasional Tambora Ke kawasan Taman Nasional Danau Sentarum

Semangit, 29 Januari 2020 - Kegiatan studi banding Balai Taman Nasional Tambora di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu upaya dalam rangka peningkatan kapasitas petugas dan masyarakat dalam pengelolaan zona tradisonal Taman Nasional Tambora melalui pola kemitraan konservasi khususnya madu. Taman Nasional Tambora memiliki alokasi pemanfaatan zona tradisional yang salah satu nya yaitu pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu berupa madu seluas 767.51 ha. Bertempat di Bidang PTN Wilayah lll Lanjak, Seksi PTN Wilayah V Selimbau, Wilayah Kerja Resort Semangit, Desa Nanga Leboyan, Dusun Semangit, yang merupakan salah satu penghasil madu lebah liar dan pusat pengelolaan hasil madu lebah liar, APDS ( Asosiasi Periau Danau Sentarum) APDS merupakan perkumpulan petani madu di bawah binaan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum melalui kemitraan konservasi seluas 36.579 ha. APDS telah memanfaatkan HHBK berupa madu sejak 2007 dengan sistem ICS sehingga mendapatkan sertifikat produk organik dari Biocert International. Kegiatan studi banding Balai Taman Nasional Tamboran dan masyarakat Desa Kawinda To'i dan Desa Oi Katupa, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, NTB disambut hangat oleh Rahman R Nababan, S. Hut selaku Kepala Resort Semangit, beliau berharap dengan adanya kegiatan studi banding ini rekan-rekan pengelolah APDS dapat berbagi ilmu mengenai pengolahan lebah madu liar menggunakan tikung yang mana masyarakat Kawinda To'i dan Oi Katupa selama ini masih memanfaatkan lalau dalam pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa madu. Kegiatan diawali dengan simulasi pembuatan tikung, dan cara perlakuan tikung sebelum dilakukan pemasangan, kemudian dilanjutkan dengan simulasi pemasangan tikung di pohon yang tidak jauh dari sumber pakan lebah madu. Kegiatan selanjutnya yaitu simulasi pemanenan tikung. Perwakilan dari APDS menjelaskan bahan serta alat apa saja yang dibutuhkan untuk proses pemanenan serta informasi mengenai proses pemanenan. Kegiatan dilanjutkan dengan proses pengolahan madu yang telah dipanen. Murlan, S. Hut., M. Si selaku Kepala Balai Taman Nasional Tambora berharap dengan adanya kegiatan studi banding ini masyarakat perwakilan dari Desa Kawinda To'i dan Desa Oi Katupa mendapatkan ilmu mengenai pemanfaatan madu lebah liar menggunakan tikung sehingga dapat diterapkan di wilayah Taman Nasional Tambora dan meningkatkan hasil pemanfaatan HHBK berupa madu yang selama ini masih memanfaatkan lalau Sumber: Balai TN Bentung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT Rambah Pulau Sumba

Sumba Timur, 30 Januari 2020 - Unit Penanganan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA NTT melebarkan sayapnya dengan menyambangi Pulau Sumba, tepatnya di Desa Palanggai, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur untuk melaksanakan operasi penanganan konflik buaya dengan manusia. Dengan anggota yang terdiri dari Theodorus Nim Tefa, Oktovianus A. Sene, Heru Wijanarko, dan Inosensius Tampani, tim ini bekerja sama dengan Balai Taman Nasional (BTN) Matalawa selama 4 hari dari tanggal 27 sampai dengan 30 Januari 2020. Terjunnya UPS BBKSDA NTT di Pulau Sumba ini berawal dari informasi masyarakat Desa Palanggai kepada BTN Matalawa yang diteruskan ke BBKSDA NTT. Masyarakat menyampaikan keresahan akan hadirnya buaya muara (Crocodylus porosus) di pesisir Pantai Warambe’di yang memasuki pemukiman dan memangsa hewan ternak. BTN Matalawa kemudian berkoordinasi dengan BBKSDA NTT yang telah memiliki UPS dengan personil terlatih dan berpengalaman serta peralatan/perlengkapan memadai. Koordinasi lintas sektoral antara UPS BBKSDA NTT, BTN Matalawa, dan unsur SKPD setempat (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Timur) dalam upaya untuk penanganan konflik satwa liar (buaya muara) dengan manusia di Kabupaten Sumba Tikur menghasilkan rumusan sebagai berikut : Dalam peninjauan ke lokasi konflik di Pantai Warambe’di, dijumpai aktivitas manusia telah mengintervensi ekosistem pesisir. Ekosistem mangrove rusak berat akibat pembabatan pohon untuk menunjang budidaya rumput laut. Pendirian/ pemapanan kandang ternak milik masyarakat pun berdekatan dengan bibir pantai. Ketidakseimbangan ekosistem telah mengusik rantai makanan dimana buaya muara berada pada posisi top predator, dan tersedianya hewan ternak di area habitatnya telah menjadi substitusi primer pakan buaya muara. Tidak menutup kemungkinan terjadinya korban jiwa manusia jika memperhatikan tingginya pemanfaatan area tersebut oleh masyarakat sekitar. Pemantauan buaya muara di Pantai Warambe’di selama 3 hari berturut-turut oleh UPS BBKSDA NTT bersama dengan BTN Matalawa dan Babinsa Koramil 1601-03 berhasil menjumpai seekor buaya muara dari 6 ekor yang dilaporkan oleh masyarakat. Beberapa kali umpan yang dipasang menarik perhatian buaya muara dan sempat tergigit, namun terlepas. Hingga tanggal 30 Januari 2020, tidak ada satupun umpan pada jerat (snarebite) yang dimakan buaya di 4 titik pemantauan sehingga seluruh peralatan tersebut dibongkar dan dibersihkan. Untuk menutup operasi penanganan konflik, UPS BBKSDA NTT melakukan pendekatan kepada masyarakat nelayan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan praktis tentang upaya penanganan/ penangkapan buaya yang menyerang manusia. Pengetahuan teknis penangkapan buaya yang tidak melukai/ menyakiti satwa dan keselamatan manusianya terjamin dengan menggunakan peralatan sederhana begitu menarik animo masyarakat. Minggu keempat di Bulan Januari 2020 menjadi pekan padat aktivitas bagi UPS BBKSDA NTT. Bagaimana tidak, 3 pulau disambangi dalam rangka respons penanganan konflik buaya muara dengan manusia. Pulau Timor, Pulau Lembata, dan Pulau Sumba menjadi bukti diakuinya kualitas dan kapasitas BBKSDA NTT. Hal ini tidak lantas menjadikan UPS BBKSDA NTT jumawa, mengingat masih perlunya peningkatan kapasitas SDM dan peralatan/perlenglapan operasional, serta yang terpenting adalah partisipasi parapihak untuk memastikan bahwa buaya muara maupun satwa liar lain dan manusia dapat hidup harmonis. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Saat Sekolah Cikal Berbicara Tentang Konservasi Komodo

Surabaya, 30 Januari 2020. Namanya Rasyid, ia siswa tahun ke 5 di Sekolah Cikal, sebuah sekolah yang terletak di kawasan Jalan Lontar Surabaya. Ceritanya, beberapa minggu yang lalu, ia beserta 3 guru pendampingnya menyatroni kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk belajar tentang konservasi dan Komodo. Sebuah tema untuk bahan pameran yang wajib bagi siswa tahun ke 5, dengan tajuk Primary Years Program Exhibition. 31 Januari 2020 ini pameran tersebut digelar di Sekolah Cikal Surabaya. Rasyid tidak sendiri, ada 6 orang teman sekelasnya yang juga menggelar pameran dengan tema yang berbeda. Menurut bu Peppy, guru pendamping, hal itu disesuaikan dengan minat dari masing-masing siswa. “Pada kelas tahun ke 5 ini ada 7 siswa, dan setiap siswa memiliki minat yang berbeda. Ada yang tentang gravitasi, pengelolaan energi, penyelamatan bumi, termasuk Rasyid yang sangat konsen ke Komodo,” ujarnya. Bukanlah perkara mudah untuk menyampaikan mengenai konservasi, ekosistem, dan Komodo kepada siswa yang setingkat dengan Sekolah Dasar kelas 5. Namun, secara pribadi penulis bangga dengan apa yang diserap oleh Rasyid, yang kemudian ia tuangkan dalam berbagai hal pada pamerannya. Mulai majalah dinding mengenai timeline Rasyid dalam mengumpulkan data, fakta seputar Komodo, diaroma sederhana habitatnya Komodo, hingga pertunjukan boneka mengenai penyelamatan Komodo. Secara gamblang, Rasyid ingin menyampaikan ajakannya untuk ikut menyelamatkan Komodo dengan tidak memeliharanya. Dan, apa yang ia sampaikan mudah diterima dan dicerna bagi rekan sekolah lain, adik-adik kelasnya, dan orang tua siswa yang hadir. Jadi, konservasi juga butuh influencer seperti Rasyid, yang ikut bersuara mengenai keberadaan Komodo dan penyelamatannya. Kerenkan gais ... Sumber : Agus Irwanto, Admin BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Hijaukan Sumba dengan Program GRASIA

Waibakul, 31 Januari 2020 - Salah satu bentuk kepedulian kepada generasi penerus untuk melestarikan, menyelamatkan dan mempertahankan keseimbangan ekosistem antara makhluk hidup dan lingkungan sekitar adalah dengan menanam pohon. Hal ini disadari betul oleh Pemerintah Daerah Sumba Tengah sehingga mereka membuat banyak kegiatan penanaman di musim hujan ini. Dalam sambutannya, Wakil Bupati menjelaskan bahwa penanaman ini masuk dalam program prioritas Pemda dalam satu gerakan besar yaitu program Gerakan Revolusi Hijau (GRASIA). Ia menambahkan bahwa revolusi yang berarti perubahan besar, juga harus dapat mengubah kebiasaan masyarakat yang menebang hutan menjadi lebih banyak menanam, mengurangi penggunaan plastik, serta kegiatan-kegiatan lain yang dapat membuat lingkungan menjadi lebih lestari. Hadir dalam kegiatan ini para pegawai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang bertugas di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Pimpinan SKPD Sumba Tengah, Gen Hijau, Personil Koramil, dan para pelajar sekolah setempat. Lebih dari 300 pohon ditanam di halaman SD-SMA Satu Atap Uma Pohi, Desa Umbu Pabal Selatan, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat. Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Desa Kuala Lupak

MARABAHAN, 23 Januari 2020 – Bertempat di Ruang Rapat Kantor Bappelitbang Kabupaten Barito Kuala, BKSDA Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala mengadakan rapat koordinasi pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala Bappelitbang Kab. Barito Kuala Ir. Zulkipli Yadi Noor, M.Sc, Kepala SKW II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, M.Si, Kepala Resort SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget A. Barkati, perwakilan dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Barito Kuala, Dinas Perhubungan Kab. Barito Kuala, Dinas Kepemudaan, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata Kab. Barito Kuala, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Barito Kuala, Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Barito Kuala, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kab. Barito Kuala, Camat Tabunganen, Kapolsek Tabunganen, Kepala Desa Kuala Lupak, PT. Adaro Indonesia, serta LSM Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan Walhi Kalsel. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala Bappelitbang Kab. Barito Kuala Ir. Zulkipli Yadi Noor, M.Sc sekaligus membuka acara rapat. Zulkipli menyampaikan pentingnya Kawasan Ekosistem Esensial Desa Kuala Lupak, sumber daya alam serta potensi yang dimilikinya. Pemerintah daerah akan mendukung usaha-usaha konservasi yang dilaksanakan di Kabupaten Barito Kuala. Dalam sambutan kedua yang disampaikan oleh Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc sekaligus menyampaikan materi kebijakan pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial memaparkan latar belakang, karakteristik, dasar hukum, maksud dan tujuan, kriteria serta tahapan pengelolaan KEE. Dr. Mahrus menyampaikan, Desa Kuala Lupak memiliki potensi KEE seluas ± 230 Ha yang terletak di bagian barat Desa Kuala Lupak. “Dengan adanya Pengelolaan KEE Desa Kuala Lupak akan meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati sehingga terpeliharanya keseimbangan dan kemantapan ekosistem secara terintegrasi.” “Selain itu tujuan penting dari pengelolaan KEE diantaranya, menjaga, mencegah, dan membatasi kegiatan yang dapat mengakibatkan kepunahan kehati serta menjaga hak negara, masyarakat, dan perorangan atas potensi, kawasan, ekosistem dan investasi dalam Kawasan Ekosistem Esensial.”, tambah Mahrus. Acara rapat dilanjutkan dengan diskusi, pembahasan rencana aksi serta diakhiri dengan pembahasan Rumusan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Desa Kuala Lupak. Salah satu point penting adalah kesepakatan peran para pihak dalam mendukung kegiatan untuk tahun anggaran 2020 ini. (ryn) Sumber : Jauhari Arifin, S.Kom (Staf BKSDA Kalsel)
Baca Berita

Warga Kota Medan Serahkan Kucing Hutan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Dedy menyerahkan 2 individu Kucing Hutan yang diterima Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Amenson Girsang, SP. Medan, 31 Januari 2020 - Dedy, warga kota Medan, menyambangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera, pada Senin (27/1). Maksud kedatangannya untuk menyerahkan 2 (dua) individu Kucing Hutan (Felis bengalensis). Satwa yang semula dikira jenis kucing bengal, diperolehnya dari seorang teman yang membawanya dari Pekanbaru, Riau. Lebih kurang 2 bulan, satwa ini dirawat oleh Dedy. Kemudian teman satu kerjanya menyebutkan bahwa kucing tersebut merupakan kucing hutan. Ingin memastikannya, Dedy mencari informasi dari internet, dan menemukan bahwa peliharaannya tersebut memang jenis Kucing Hutan yang dilindungi undang-undang. Mengetahui bahwa satwa tersebut dilindungi undang-undang, segera Dedy mencari informasi tentang lembaga/instansi yang menangani masalah pelestarian satwa dilindungi. Ditemukannya lah call centre Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan setelah menghubungi call centre (0853-7669-9066), selanjutnya Dedy menyambangi kantor Balai Besar KSDA Sumut untuk menyerahkan sepasang (jantan dan betina) Kucing Hutan tersebut. Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Amenson Girsang, SP. yang menerima penyerahan menyambut baik dan mengapresiasinya serta berharap akan menjadi motivasi bagi warga atau masyarakat lainnya untuk punya kepedulian yang sama dengan Dedy, menyerahkan satwa peliharaan jenis dilindungi kepada Balai Besar KSDA Sumatera. Selanjutnya kedua Kucing Hutan ini akan dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk proses rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber: Evan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pelajar SMPN Satap Totabuan merasakan Secara Langsung Berinteraksi bersama Alam

Totabuan, 01 februari 2020. Tidak banyak yang tau tentang keindahan area camping ground bolonsio. Bolonsio merupakan lokasi camping ground yang berada di Desa Totabuan Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow di bawah pengelolaan Resort Pinogaluman SPTN Wilayah III Maelang Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, di Bolonsio terdapat areal perkemahan, air terjun dan juga terdapat jalur pengamatan burung. Jarak dari ibukota Kabupaten Lolak sekitar 10 KM merupakan nilai tambah di samping jarak ke lokasi camping sekitar 2 Km dari jalan raya. Kegiatan kali ini Kali ini diikuti oleh siswa-siswi SMP Satap Totabuan yang merupakan bagian dari pembelajaran. SMP Satap Totabuan merupakan Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Desa Daerah Penyangga Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yakni di Desa Totabuan. Sebanyak 29 orang siswa – siswi yang didampingi 5 orang guru berkumpul di Camping Ground Bolonsio. Sebelum masuk ke jalur pengamatan, siswa di berikan pengarahan singkat mengenai SOP pengamatan, arahan terkait menjaga kebersihan dan lain – lain. Setelah mendengar arahan yang disampaikan lansung oleh Bapak Syahril Abdullah (PEH TNBNW) dilanjutkan menuju ke lokasi pengamatan. Selain melakukan pengamatan burung siswa dan siswi SMP Totabuan juga melakukan penanaman di sekitar jalur pengamatan, sebanyak 30 pohon nantu berhasil di tanam oleh mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan para pelajar pada usia dini selain itu kegiatan ini juga dimaksudkan agar siswa/i tidak hanya membayangkan bagaimana berinteraksi lansung dengan alam tetapi dapat merasakan secara lansung dengan kegiatan ini. Selain itu kegiatan ini bertujuan untuk pengenalan kepada generasi muda yang merupakan asset bangsa untuk peduli kepada lingkungan khususnya hutan konservasi. Siswa siswi terlihat sangat senang dengan mengikuti kegiatan ini. Setelah pengamatan burung dan menanam pohon kegiatan dilanjutkan dengan istirahat di bawah sejuknya pohon dan segarnya aliran air yang berada di areal air terjun. Sumber: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Riau Semakin Sinergi Hadapi Karhutla

Pekanbaru, 31 Januari 2020-Peresmian posko relawan pemadaman Karhutla Riau diinisiasi oleh Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi dan dilaksanakan di Anjungan Inhil Purna MTQ Prov. Riau, Kamis 30 Januari 2020. Tamu undangan yang hadir adalah Gubernur dan Wagub Riau, Kapolda dan Wakapolda, Ketua DPRD Prov. Riau, Seluruh Rektor Universitas di Riau, Kepala Balai Besar KSDA Riau, Seluruh Forkompimda Prov. Riau, dan Kompolnas dari Jakarta. Acara diawali dengan penandatanganan MOU antara Kapolda Riau dengan 6 pimpinan Perguruan Tinggi di Prov. Riau, yaitu Universitas Riau, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Universitas Islam Riau, Universitas Lancang Kuning, Universitas Muhammadiyah Riau, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan. Diikuti serah terima alat pemadam kebakaran yang secara simbolik diberikan oleh Kapolda Riau kepada Kasi Ops. Korem 031/WB Kol. Inf. Patar Sitorus. Dengan adanya posko ini diharapkan dapat menjadi rumah bersama bagi seluruh relawan dalkarhutla, termasuk dalam melakukan pelatihan dan mitigasi penanggulangan kebakaran. Di Posko tersebut, tersedia dashboard yang akan memberikan informasi terkait data hotspot ataupun firespot di wil. Prov. Riau. Pada kesempatan tersebut Gubernur mengajak seluruh pihak untuk bersama sama menanggulangi karhutla untuk “Menuju Riau Biru,Riau Bebas Asap”. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai KSDA Yogyakarta Translokasikan Satwa Sitaan dan Serahan Masyarakat

Yogyakarta 29 Januari 2020. Balai KSDA Yogyakarta lakukan translokasi 14 ekor satwa liar ke DKI Jakarta dan Jawa Barat. Proses handling satwa dan pengangkutan/translokasi dilaksanakan pada Selasa (28/1). Satwa-satwa yang ditranslokasi meliputi 5 ekor Elang Bondol (Haliastur indus) yang merupakan salah satu jenis satwa dilindungi undang-undang dan 9 ekor Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Kesemua satwa tersebut merupakan hasil penyitaan dan penyerahan suka rela dari masyarakat. Khusus monyet ekor panjang merupakan satwa hasil penyitaan eks topeng monyet dan konflik satwa yang sementara ditampung di tempat transit Stasiun Flora Fauna Bunder dan Animal Friend Jogja (AFJ). Kepala Balai KSDA Yogyakarta Muhammad Wahyudi, menyampaikan bahwa translokasi dilakukan sesuai dengan hasil koordinasi dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat dan Balai KSDA DKI Jakarta. “Proses translokasi ini telah dilakukan sesuai dengan prosedur yang didahului dengan koordinasi dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat dan Balai KSDA DKI Jakarta sebelumnya. Sarana Prasarana telah diperiksa oleh kawan-kawan BKSDA setempat dan memenuhi syarat teknis” tuturnya. Dijelaskan Wahyudi, untuk Elang Bondol nanti akan direhabilitasi khusus di Pusat Rehabilitasi Elang Bondol di Pulau Kotok Kepulauan Seribu. Sedangkan monyet ekor panjang akan ditranslokasi di Pusat Rehabilitasi Monyet Ekor Panjang di daerah Bandung, Jawa Barat yang dikelola oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN). "Jadi, kalau satwa liar sudah dipelihara, biasanya perilakunya sudah berubah. Oleh karena itu kami kirim ke pusat rehabilitasi agar bisa dilatih beradaptasi kembali dengan perilaku alaminya. Sebelum dilepas ke habitat aslinya," jelasnya. Sumber : Andie Chandra Herwanto – PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Langkah Balai TN MerBeti Beri Akses Masyarakat Ke Kawasan Hutan

Jember, 30 Januari 2020. Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) berbatasan dengan 10 desa penyangga yang masyarakatnya berinteraksi langsung maupun tidak langsung terhadap kawasan hutan. Kelestarian kawasan hutan sangat bergantung pada peran dan kondisi masyarakat di sekitarnya, sehingga dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian hutan, Balai TN MerBeti memberikan kesempatan kepada masyarakat dalam pemanfaatan kawasan hutan melalui perjanjian kerjasama (PKS) kemitraan konservasi dalam rangka Pemulihan Ekosistem. Disaksikan oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno M.Sc., PKS ini ditandatangani langsung oleh Kepala Balai TN Merbeti Maman Surahman S.Hut, M.Sc dan Ketua Kelompok Petani Rehabilitasi Aren Barat 1 seluas 45,14 Ha atas nama Samidin, Pletes 2 seluas 13,88 Ha atas nama Budi Susanto, Pletes 3 seluas 13,7 Ha atas nama Abdul Rahim, dan Gentengan 2 seluas 22,78 Ha atas nama Kliwon. Selain penandatangan PKS, Kepala Balai TN MerBeti juga memberikan perpanjangan ijin usaha pemanfaatan jasa wisata alam kepada Arifin dan Ijin Pemanfaatan Air kepada Kepala Desa Andongrejo Masudiyanto. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri (MerBeti)
Baca Berita

Sejumlah Wisatawan Mancanegara Melepas tukik (anak penyu) di Pantai Hodue Tomia, Taman Nasional Wakatobi

Tomia, 30 Januari 2020, sekitar pukul 15.30 Balai Taman Nasional Wakatobi SPTN Wilayah III Tomia-Binongko menerima kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) asal Amerika Serikat (Boston and Texas) yang berjumlah 16 (enam belas) Orang di Demplot Penetasan Penyu/Tukik Semi Alami di Waha, Resort Tomia. Kunjungan Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pelepasliaran tukik yang dilaksanakan di Pantai Hondue Desa Kolosoha Resort Tomia Kawasan Taman Nasional Wakatobi. Tukik yang dilepasliarkan tersebut berjumlah 40 ekor dan berjenis Penyu Hijau ( Chelonia mydas ). Setelah melakukan pelepasliaran tukik (anak penyu), para Wisman melakukan penantanganan Berita Acara Pelepasliaran dan pihak Balai Taman Nasional Wakatobi SPTN Wilayah III memberikan apresiasi atas partisipasi pelepasliaran dalam bentuk Sertifikat kepada para Wisman yang telah turut berpartisipasi dalam kegiatan Pelepasliaran tukik (anak penyu) tersebut. Dalam kegiatan ini turut pula dihadiri oleh anak-anak Kelompok Pencinta Alam (KPA) Toburi binaan SPTN Wilayah III. Kegiatan ini juga mendapat apresiasi yang tinggi dari para Wisman dan mereka berharap agar upaya Konservasi dan Perlindungan Penyu di Taman Nasional Wakatobi khususnya SPTN Wilayah III terus dilanjutkan. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 18.10 Wita dan ditutup dengan foto bersama Wisman, Anggota KPA dan Personil SPTN Wilayah III. Sumber: Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Terobosan Balai TN MerBeti di Awal Tahun

Jember, 30 Januari 2020. Musyawarah merupakan falsafah masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan termasuk permasalahan dalam kegiatan konservasi, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) menggelar musyawarah bersama dengan masyarakat sekitar kawasan hutan di Desa Andongrejo. Musyawarah ini menjadi jembatan komunikasi antara Balai Taman Nasional MerBeti dengan masyarakat desa penyangga yang berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung terhadap kawasan hutan. Acara ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Ir. Wiratno M.Sc, Jajaran FORKOMPINDA Kabupaten Jember, Muspika Kecamatan Tempurejo, Pemerintah Desa Penyangga sekitar kawasan TN MerBeti, dan beberapa kepala UPT KLHK. Dalam sambutannya Bapak Dirjen menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran pemerintah desa sekitar kawasan TN MerBeti. “ Kabeh kuwi Seduluran, tetangga-tetangga desa TN MerBeti masyarakatnya harus sejahtera tidak boleh tertinggal atau ditinggalkan, karena bila masyarakat sejahtera hutan akan lestari “ pungkasnya. TN MerBeti melalui musyawarah ini mengenalkan terobosan baru kegiatan pemulihan ekosistem kawasan melalui program One Ranger One People (OROP), Program ini lebih mengekedepankan komunikasi intensif petugas terhadap masyarakat binaan mereka, dengan harapan kebutuhan tiap-tiap masyarakat dapat lebih mudah diakomodir apabila terjalin komunikasi yang efektif. Selain untuk menjaring aspirasi masyarakat, TN MerBeti juga berharap melalui program OROP permasalahan di pemulihan ekosistem dapat teratasi dengan penanaman dan pemeliharaan yang dilakukan bersama-sama antara petugas dengan masyarakat. Jadi melalui program OROP kesejahteraan masyarakat tercapai dan hutan kembali lestari. “ TN MerBeti dan masyarakat desa penyangga merupakan keluarga besar yang mempunyai hak dan kewajiban sama unutk menikmati keindahan dan menjaga kelestariannya “ Kata Maman Surahman S.Hut, M.Sc. Selain penyampaian program-program TN MerBeti, acara juga dimeriahkan juga oleh pameran produk-produk hasil pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. Beberapa kelompok pemberdayaan yang ikut menampilakan produknya antara lain jamu herbal dari King Betiri, Batik pewarna alam dari Batik Meru Betiri, Es Krim Durian SPKP Sarongan, dan lain-lain. Bahkan tidak ingin ketinggalan ibu-ibu Dahrma Wanita TN MerBeti juga menampilkan produk-produk kreatifitas para ibu-ibu ini. Sebagai pamungkas kegiatan ini dilaksanakan penyerahan bibit secara simbolis dan penanaman bersama di lokasi pemulihan ekosistem Resort Andongrejo kelompok Sujito. Bibit yang ditanam sebanyak 200 batang dengan jenis bibit Kepuh, Beringin, asem Durian, Petai, Kemiri, Sirsak. Bibit tanaman ini dipilih agar dapat bermanfaat secara langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti)
Baca Berita

Tim Survei Habitat Penyu : Satu Indukan Penyu Naik Bertelur di Pulau Jinato

Resor Jinato - Taman Nasional Taka Bonerate, 30 Januari 2020. Tim Survei Habitat Penyu yang terdiri dari Personil Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate dan warga setempat sudah berpengalaman dalam mencari penyu, sebab mereka adalah pemburu si hewan purba penyu yang kini telah insaf. Seperti yang terjadi saat berlangsungnya kegiatan survey penyu di SPTN Wilayah II Jinato. Tim menemukan indukan penyu yang naik bertelur berdasakan informasi yang diperoleh oleh Tim dari warga bernama, Hasse. Tepat menjelang adzan subuh yakni pukul 04.35 wita (30/01). Dari informasi tersebutlah, Tim bergegas menuju ke lokasi dimana penyu ditemukan. "Posisi induk penyu ini ditemukan di sisi Barat Pulau Jinato oleh Pak Hasse." Jelas Sunadi Buki, PEH Tiba di lokasi yang dimaksud, induk penyu tersebut baru saja selesai bertelur dan sedang menutup sarangnya. Tim menunggu dengan sabar menyaksikan momen langka ini. "Jenis penyunya adalah Penyu Hijau." Ucap Hendra Mustajab, PEH Resort Jinato. Setelah si Penyu Hijau bertelur, salah satu anggota Tim mulai melakukan pengambilan data fisik dengan mengukur panjang dan lebar karapasnya serta tentu saja mendokumentasikannya. "Panjang karapas 110 cm dan lebar karapas 100 cm." Kata Hendra Mustajab. Sang penyu pun pergi dengan tenang, seolah menitipkan telurnya agar dijaga dengan baik. Demi keselamatan dari predator, telur penyu akan dipindahkan ke tempat penetasan semi alami, selain itu juga bisa meningkatkan keberhasilan penyu menetas. "Kali ini penyunya bertelur 64 biji, tergolong lumayan banyak" jelas Sunadi Buki mengakhiri percakapan. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

BKSDA Sulawesi Tengah : Tahun Baru, Kantor Baru

Palu, 29 Januari 2020. Balai KSDA Sulawesi Tengah pada hari Selasa tanggal 28 Januari 2019 melakukan peresmian kantor “baru” Balai KSDA Sulawesi Tengah yang telah selesai dilaksanakan pembangunannya pada bulan Desember 2019 lalu. Peresmian kantor baru tersebut dihadiri langsung oleh Bapak Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah Drs. Longki Djanggola beserta Ibu Direktur Kawasan Konservasi Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum yang dalam hal ini mewakili Bapak Direktur Jenderal KSDAE KLHK yang berhalangan hadir. Turut hadir dalam acara peresmian tersebut, Bupati Kab. Sigi, Bupati Kab. Poso, Bupati Kab. Donggala, Kepala UPT lingkup Kementerian LHK, Kepala Dinas dan Badan lingkup Prov. Sulawesi Tengah, mitra Balai KSDA Sulawesi Tengah, para mitra pengedar dan penagkar TSL, rekan-rekan jurnalis serta Kepala-Kepala Desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Dalam sambutannya Gubernur Prov. Sulawesi Tengah berharap, dengan diresmikan dan digunakannya gedung kantor Balai KSDA Sulawesi Tengah yang baru ini dapat meningkatkan sinergitas, konsolidaasi serta koordinasi antar Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian LHK yang diwakili Balai KSDA Sulawesi Tengah di tingkat Provinsi dengan semua stakeholder di seluruh Prov. Sulawesi Tengah. Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah Ir. H. Hasmuni Hasmar, M.Si dalam kesempatan tersebut juga memberikan plakat sebagai cinderamata kepada Gubernur Prov. Sulawesi Tengah dan Ibu Direktur Kawasan Konservasi sebagai kenang-kenangan dan penghargaan atas kesediaan beliau meresmikan gedung “baru” kantor Balai KSDA Sulawesi Tengah. Di akhir acara, Gubernur Prov. Sulawesi Tengah, Ibu Direktur Kawasan Konservasi beserta seluruh tamu undangan berkesempatan meninjau gedung Balai KSDA Sulawesi Tengah dengan berkeliling di setiap ruangan yang ada dalam gedung tersebut. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah

Menampilkan 4.081–4.096 dari 11.140 publikasi