Kamis, 7 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tim TSL BKSDA NTB Amankan 3 Keranjang Satwa Tanpa Dokumen

Mataram, 4 Februari 2020 - Tim TSL BKSDA NTB menindaklanjuti informasi yang diperoleh dari masyarakat mengenai Bus TM yang mengangkut satwa liar jenis Burung yang berangkat dari Terminal Bis Mandalika Mataram menuju Pelabuhan Laut Lembar. Setibanya Bis di Pelabuhan Laut lembar Lombok Barat, Tim yang sudah menunggu langsung memberhentikan bis yang dimaksud untuk dilakukan pemeriksaan bagasi. Pemeriksaan di lakukan secara menyeluruh di dalam mau pun di bagasi luar Bus dan benar dijumpai sebanyak 2 (dua) Keranjang jenis NURI SUMBAWA sejumlah 29 (dua puluh sembilan) ekor dan 1 (satu) Kotak jenis ANIS KEMBANG ( Punglor) sejumlah 13 (tiga belas) ekor. Seluruh satwa merupakan jenis burung (Aves) dan supir maupun kernet tidak bisa menunjukkan surat angkut (SATS-DN) sah kepada petugas untuk satwa yang mereka angkut. Satwa pun langsung disita dan diamankan oleh Tim TSL BKSDA NTB ke Kantor KARANTINA PERTANIAN KELAS 1 MATARAM Wilker Pelabuhan Lembar untuk di lakukan pemeriksaan kesehatan. Keseluruhan satwa hasil pengamanan telah diamankan di Kantor BKSDA NTB di Mataram untuk proses lebih lanjut. SALAM LESTARI! Sumber : BKSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Belajar Mencintai Alam di SM Kerumutan Selatan

Pekanbaru, 5 Februari 2020. Kali ini cerita tentang wisata sembari belajar mencintai Alam di SM Kerumutan Selatan. Sahabat konservasi yang ikut rekreasi dari SD dan SMP Kampung Pulau Rengat Kab. Inderagiri Hulu, sebanyak 25 anak warga tempatan didampingi petugas kita dari Resort Pekan Heran. Kampung Pulau ini merupakan salah satu desa yg memiliki interaksi utama dengan Kawasan SM Kerumutan Selatan. Kewajiban kami mengedukasi anak anak di usia dini untuk dapat mengenal alam yg menjadi penopang kehidupan bagi masyarakat yang tinggal berdampingan dengan kawasan hutan. Terutama bagaimana menjaga hutan beserta isinya untuk tetap lestari. Tentunya dengan kemasan semenarik mungkin. Kami bertamasya dengan menggunakan pompong, mengarungi Sungai Mengkuang yang berada di SM Kerumutan, dan berenang menikmati "Nature Water Park". Bermain bersama langsung di hutan, sembari mendapatkan panduan dan edukasi dari petugas adalah suatu cara yang sangat efektif dan akan menjadi kenangan takkan terlupakan, hingga dengan sendirinya menimbulkan rasa kecintaan pada alam untuk tetap menjaga dan melestarikannya. Alangkah indahnya bertamasya di SM Kerumutan Selatan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

4 Ekor Penyu Berhasil Dilepasliarkan, Kerjasama BKSDA Maluku dengan LANAL Saumlaki

(Saumlaki, 01 Februari 2020), Seksi Konservasi Wilayah III Saumlaki BKSDA Maluku, berhasil melepasliarkan 4 ekor penyu diantaranya 3 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan 1 ekor Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Pelepasliaran dilakukan di dalam area Pangkalan Angkatan Laut Saumlaki TNI AL yang diikuti oleh Staf Ahli Menteri Perhubungan Mayjen TNI Mar. (Purn) Bayung Lalana, Komandan Lanal Saumlaki Letkol Laut (P) Hartanto M. Tr. Han, Staf POMAL Mabesal Letkol Laut (PM) Alexander I. Waku, S.H., Kepala Kantor Pelabuhan Saumlaki, Kepala Bandar Udara Mathilda Batlayeri Saumlaki, serta Perwira LANAL Saumlaki dan adik-adik Pramuka. Penyu-penyu ini berasal dari hasil pengamanan anggota LANAL Saumlaki dari Nelayan. Penyu tersebut di dapat oleh Serma Pdk Leo Simangunsong selaku anggota Pos AL Selaru saat patroli di sekitaran Pulau Anggurmas. Pada patroli pertama tanggal 22 Januari 2020 di dapat dari nelayan anggurmas 2 ekor penyu, dan 2 ekor lainnya didapatkan saat patroli kedua tanggal 28 Januari 2020. Selanjutnya anggota Pos AL menyerahkan penyu-penyu ini ke LANAL Saumlaki yang kemudian dapat dilepasliarkan hari ini. Seksi Konservasi Wilayah III Saumlaki BKSDA Maluku terus berkoordinasi dengan LANAL Saumlaki untuk siap mengamankan Penyu apabila ada nelayan yang menangkap. Sumber : Franston L. Kunu (POLHUT BKSDA Maluku)
Baca Berita

Belajar Tanpa Batas di Gedung Pusat Informasi Balai TNAL

Sofifi, 04 Februari 2020, ‌Hari ini (03/02) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) sedang melaksanakan pelatihan videophone, fotografis dan jurnalistik. Acara ini diumumkan di akun media sosial Balai TNAL. Seperti yang dikatakan oleh Kepala Balai, Heri, saat membuka acara bahwa sekarang media sosial cukup mudah dijangkau oleh khalayak umum, sehingga memungkinkan masyarakat mendapatkan informasi dengan mudah. ‌Pelatihan ini diadakan selama 2 hari, dari tanggal 3 sampai 4 Februari 2020. ‌Pelatihan diikuti oleh 17 orang baik dari staf Balai TNAL itu sendiri, instansi lainnya, universitas, kantor desa dan dari beberapa sekolah. Acara seperti ini jarang sekali dilakukan di daerah Sofifi sehingga menurut Dini, peserta pelatihan dari SMA N 5, perlu dilakukan secara kontinu. Hal ini untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah Sofifi khususnya. ‌Pada hari pertama, kegiatan diisi dengan penjelasan tentang bagaimana menulis berita baik, berita yang positif dan menarik. Materi pertama disampaikan oleh David yang juga anggota Polisi Kehutanan Balai TNAL. Kemudian dilanjutkan pelatihan fotografi dan edit foto menggunakan aplikasi di gawai berbasis android oleh pemateri yang sama. ‌“Ternyata pernyataan ‘gambar akan bercerita’ memang betul adanya setelah mengenal sedikit tentang dunia fotografi. Kegiatan ini benar-benar menarik, sampai nggak sabar menunggu hari kedua besok untuk belajar tentang videophone”, ujar Dini. ‌“Oke tunggu laporanku besok lagi ya?”, tutupnya. Penulis: Rachmi Nurhardini – Peserta Pelatihan (SMA N 5 Tidore Kepulauan)
Baca Berita

Kemah Konservasi dan Jambore Selam 2020, Catat Tanggalnya

Benteng - Kepulauan Selayar, 4 Januari 2020. Jambore Selam terakhir dilaksanakan dua tahun lalu, tepatnya pada tanggal 24 s.d 28 April 2018 dengan kolaborasi kegiatan Kemah Konservasi yang dilaksanakan di Pulau Tinabo dan Pulau Rajuni. Dan dengan kegiatan ini cukup mendongkrak promosi wisata Kepulauan Selayar. "Tahun itu (2018) kolaborasi kegiatan kita cukup mendongkrak promosi, ini berkat kerjasama yang baik antara pemda (Dinas Pariwisata), POSSI, tour operator dan Balai TN Taka Bonerate" ujar Kepala Balai Faat Rudhianto Untuk kegiatan Jambore Selam sendiri diikuti oleh orang 30 peserta, baik dari dalam negeri (Indonesia) maupun luar negeri seperti Malaysia dan Perancis. "Total peserta kedua kegiatan bila digabung menjadi 250 orang." Kata Faat Rudhianto Hari ini (03/02) dengan inisiatif bersama Balai TN Taka Bonerate, POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) dan tour operator berkumpul bersama mendiskusikan rancangan kegiatan, hari pelaksanaan, lokasi dan penganggaran. Rapat kecil ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai Faat Rudhianto yang didampingi oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa, Raduan. Turut hadir pada rapat ini yaitu perwakilan tour operator Selayar Marine Dive, Selayar Dive and Adventure, POSSI Cabang Selayar, Mitra WCS-IP, para koordinator fungsional dan Pokja dan Panitia Kemah Konservasi Tahun 2020. "Pada tahun 2018, skema kegiatannyanya peserta dibebankan kontribusi." Ujar Andi Ridho Manager tour operator Selayar Marine Dive. Kepala Balai menyampaikan penentuan besaran kontribusi peserta diharapkan tidak terlalu tinggi karena ini adalah ajang promosi. "Silahkan teman-teman tour operator menentukan harga tapi jangan terlalu tinggi, karena ajang ini adalah ajang promosi wisata" ujar Faat Rudhianto mengingatkan Lebih lanjut Faat Rudhianto mengatakan, "Setelah rapat ini, kita akan undang pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar karena kegiatan ini adalah kegiatan bersama dan merupakan salah satu kegiatan Kabupaten Kepulauan Selayar". Dalam kesempatan yang sama, perwakilan POSSI Cabang Kepulauan Selayar yang juga Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Selayar, Zul Janwar menyampaikan bahwa pembatasan jumlah peserta dikarenakan keterbatasan alat yang ada di Selayar. "Jumlah tabung lebih, namun alat scuba lain yang tersedia di Selayar, maksimal untuk 30 peserta" kata Zul Janwar Ada beberapa poin hasil rapat yang diperoleh, yaitu : 1. Kegiatan Kemah Konservasi & Jambore Selam rencananya dilaksanakan pada tanggal 04 sd. 07 Juni 2020, lokasi di Pulau Tinabo dan Pulau Tarupa sebagai kegiatan landtour. 2. Penentuan kontribusi untuk peserta Jambore Selam masih dalam diskusi panitia. 3. Kuota peserta Jambore Selam 30 orang dengan mempertimbangkan jumlah peralatan yang tersedia. 4. Setelah rapat ini, kedua panitia mengkomunikasikan skema atau teknis kegiatan. Selain fundive disisipkan kegiatan atau aksi konservasi. 5. Untuk kelancaran komunikasi Panitia Kemah Konservasi dan Jambore Selam membuat group WhatsApp serta disain promosi dan tema acara. "Waktu kita masih panjang, diharapkan rancangan dan promosi kegiatan bersama ini, dapat lebih mantap dari tahun 2018" pungkas Faat Rudhianto Setelah rapat ditutup secara resmi oleh kepala balai, panitia masih diskusi menentukan besaran kontribusi peserta dan rancangan kegiatan di lobby Balai TN Taka Bonerate. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Tragedi di Lembata Kala “Nenek” Terkam Cucunya Sendiri

Lembata,31 Januari 2020. Mungkin judul di atas sedikit provokatif tetapi sekaligus menjadi titik balik refleksi atas kejadian traumatis nan tragis yang menimpa saudara Yohanes Suku Odel atau Jono, yang kehilangan nyawa akibat diterkam buaya di sekitar perairan Natu, Desa Mahal II, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata. Kejadian yang konon berulang dan memakan korban jiwa ini seolah diabaikan masyarakat setempat. Atau barangkali kisah mitologi yang dibangun secara historis verbal, membuat masyarakat tak berdaya mengatasi predator yang terhitung sudah menghabisi empat sampai lima nyawa manusia dalam beberapa tahun terakhir ini. Legenda yang dipercayai masyarakat Kedang di Lembata bahwa buaya adalah nenek moyang bagi ini perlu ditelisik sumber kebenarannya, mengingat kisah ini diwariskan secara verbal tanpa sebuah runutan historis yang jelas sehingga ketika binatang buas ini kembali memangsa korbannya (manusia), masyarakat seakan tak berdaya dan menerima kejadian ini sebagai "tulah" atas perbuatan sang korban atau keluarganya. Kejadian yang menimpa Saudara Jono ini harus menjadi momentum untuk kembali melihat hubungan manusia dan lingkungan sekitar dengan menggunakan pendekatan rasional. Barangkali buaya kini kehilangan tempat tinggal serta kekurangan pakan sebagai akibat dari ulah manusia yang merambah tempat huniannya. Atau barangkali masyarakat terlanjur terpolarisasi dengan kisah mitologi (buaya = nenek moyang) sehingga kekurangan literatur untuk memahami karakteristik buaya muara (Crocodylus porosus) yang menghuni perairan sekitar Natu sampai Atenila yang konon adalah predator terbesar, terpanjang, dan terganas dibanding dengan spesies buaya lainnya. Mencermati habitat buaya muara yang hidupnya di sungai dan laut dekat muara, seharusnya membuat masyarakat lebih waspada ketika beraktivitas di sekitar perairan Natu hingga Atenila. Selain berkarakter ganas, Buaya muara jantang cenderung hidup sendiri (soliter) dan mempunyai daerah teritori yang lebih luas dibanding betina. Buaya jenis ini sering merendam hampir seluruh badannya dalam air, tanpa mengganggu pernapasan dan penglihatannya sebab lubang hidung dan mata terletak pada sisi atas kepala. Butuh penanganan serius dari semua elemen, baik pemerintah dalam memberi edukasi tentang karateristik buaya muara yang sangat berbahaya ini, atau melalui Badan Konservasi Budaya Alam, untuk melakukan upaya penangkaran, maupun menggunakan pendekatan kontekstual melalui para tokoh masyarakat serta tetua adat Kedang yang menyandarkan diri para prosesi ritual adat. Buaya muara dengan statusnya namun menjadi momok bagi manusia ditunjukkan dengan berulangnya kejadian konflik di antara kedua spesies ini merupakan tantangan bagi Balai Besar KSDA NTT selaku lembaga pemerintah yang berwenang terhadap tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Unit Penanganan Satwa (UPS) atau Wildlife Rescue Unit (WRU) yang dibentuk Balai Besar KSDA NTT adalah ujung tombak penanganan konflik satwa liar termasuk buaya dengan manusia. Kiprahnya sudah tak terbantahkan lagi dari patroli pada habitat buaya, evakuasi buaya dan satwa lainnya dari area konflik, sosialisasi satwa liar kepada masyarakat, hingga penyampaian santunan kepada keluarga korban. Untuk peristiwa di Lembata kali ini, Balai Besar KSDA NTT menurunkan tim UPS yang beranggotakan David Mata, Fendy Bagus Susanto, Alfons Sido, dan Silvester Daton Boro. Keempatnya bersama personil SKW IV Maumere mengemban misi untuk mengevakuasi buaya di lokasi konflik, sosialisasi kepada masyarakat dan parapihak, serta menyampaikan santunan kepada keluarga korban sebagai wujud kepedulian Balai Besar KSDA NTT. Jono, adalah refleksi atas kisah traumatis nan tragis tentang buaya, sang Nenek Moyang yang tega memisahkan cucu dari keluarga dan handai taulannya. Sejarah seyogyanya menjadi pelajaran untuk menatap masa depan yang lebih baik. Menangani konflik buaya dengan manusia membutuhkan pendekatan yang manusiawi dengan menyentuh sisi antropologi sekaligus konservasi sumber daya alam dan ekosistem, serta membutuhkan peran parapihak bersama-sama. Selamat jalan Saudara Jono, Engkau kembali ke pangkuan Ilahi dengan cara yang berbeda, cara yang mungkin dirancang oleh-Nya, namun tak sanggup kami selami. Sumber: Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Menyapa Masyarakat Desa Rantau Panjang Resort 8 Muara Bangko

Senin, 3 Febuari 2020 - Desa Rantau Panjang Kec. Muara Batang Gadis ini merupakan desa Penyangga TN Batang Gadis (TNBG) yang berada di wilayah Resort 8 Muarabangko, salah satu desa paling remote di Kab. Mandailing Natal yang belum dapat ditembus jalan darat, letaknya berada di antara kawasan HPT area konsesi PT Anugerah Makmur (ARM), berbatasan dengan sisi barat TNBG yang sangat jarang dijangkau petugas kecuali untuk pemasangan kamera trap harimau tiap 2 tahun. Personil Resort 8 Muara Bangko berkunjung untuk melaksanakan Koordinasi dan sekaligus menggali potensi yang ada di desa ini. Dari Informasi yang diperoleh Masyarakat disini memiliki kebiasaan memanfaatkan hasil hutan seperti lebah dan ikan, dengan melestarikan hutan dihulu sungai yakni Muara Singenjon yang terletak didalam kawasan TNBG. Kepala Resort bersama masyarakat sedang menginisiasi patroli partisipatif dengan rekrutmen anggota MMP dan inisiasi pengembangan ekonomi alternatif termasuk pengembangan ekowisata secara bertahap dengan potensi : Sumber : Perdana Mora Harahap (Polhut) - Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

BBKSDA NTT Serahkan Santunan Untuk Keluarga Nenohara

Kupang, 31 Januari 2020. Teriring rasa prihatin dan dengan ketulusan hati, pada hari Sabtu (18 Januari 2020) Balai Besar KSDA NTT melalui Unit Penanangan Satwa beranjangsana dan menyerahkan santunan kepada keluarga Almarhum Terandus Nenohara di Pangkoto, RT 12 RW 06, Dusun 3, Desa Tesbatan II, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang. Terandus, remaja berusia 14 tahun menjadi korban serangan buaya muara di Muara Sungai Noehaen, Desa Pakubaun, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang pada hari Jumat, 17 Januari 2020 pada jam 10.00 WITA. Kepedihan mendalam masih dirasakan oleh Daud Nenohara, sang ayah korban, yang menyaksikan anaknya diserang buaya muara dan sempat berupaya menyelamatkannya dari mulut predator itu. Informasi adanya korban serangan buaya muara ini disampaikan oleh anggota Polsek Amarasi melalui Call Center BBKSDA NTT. Operator kemudian melanjutkan informasi tersebut kepada Unit Penanganan Satwa (UPS) BBKSDA NTT. Atas arahan Kepala Balai Besar KSDA NTT dan setelah menerima briefing singkat dari Koordinator UPS, tim bergerak menuju kediaman almarhum untuk menyerahkan santunan dan melaksanakan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) di lokasi kejadian. Sesampainya di Desa Tesbatan II, tim UPS BBKSDA NTT berkoordinasi dengan Kepala Desa terkait agenda penyerahan santunan kepada keluarga korban. Tim juga menyampaikan informasi mengenai status buaya muara, hal-hal yang perlu diperhatikan masyarakat saat berada di habitat buaya, dan upaya UPS BBKSDA NTT dalam rangka penanganan konflik satwa liar dengan manusia. Pemerintah Desa Tesbatan II juga dimohon dukungannya menghimbau masyarakat agar senantiasa waspada dan berhati-hati ketika beraktivitas di habitat buaya muara. Pemantauan tim UPS BBKSDA NTT bersama Babinkamtibmas dan Kanit Reskrim Polsek Amarasi Timur di lokasi kejadian serangan (Muara Sungai Noehaen) masih dijumpai perlengkapan mencari ikan milik orang tua korban. Lokasi tersebut berjarak 300-400 meter dari laut dan selama ini telah menjadi lahan mencari ikan masyarakat maupun akses menuju mata air serta perkampungan. Menurut penuturan warga setempat, dalam beberapa tahun terakhir ini dijumpai 2-3 ekor buaya muara yang kehadirannya sangat meresahkan. Direncanakan akan dilaksanakan operasi lanjutan antara UPS BBKSDA NTT bersama instansi terkait untuk merelokasi buaya muara. Hidup berdampingan dengan alam bagaikan dua sisi mata uang. Alam memberikan penghidupan bagi manusia, namun alam juga menjadi rumah bagi satwa liar. Santunan yang diulurkan oleh BBKSDA NTT memang tidak akan menghadirkan kembali Terandus Nenohara, namun ini menjadi tanda kasih untuk meringankan beban psikis keluarganya. Ini menjadi bukti bahwa BBKSDA NTT berupaya hadir di tengah masyarakat sebagai respons atas peristiwa konflik satwa liar dengan manusia sekaligus untuk mencegah terjadinya kejadian serupa. Sumber : Humas BBKSDA NTT
Baca Berita

Warga Medan Serahkan Elang Brontok Kepada BBKSDA Sumatera Utara

Penyerahan Burung Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) dari Warga Medan Medan, 31 Januari 2020 - Balai Besar KSDA Sumatera Utara menerima penyerahan satu individu satwa liar dilindungi undang-undang jenis Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) dari seorang warga tukang becak sekaligus tukang bengkel di Jalan Sikambing Medan Barat (27/1). Bermula dari warga yang datang ke kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk melaporkan adanya masyarakat yang memelihara Elang Brontok dengan kondisi bulu-bulunya sudah rontok. Menindaklanjuti laporan warga, kemudian Kepala Resort Belawan memeriksa kebenaran laporan tersebut, ternyata benar adanya. Selanjutnya Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan (P3), Kepala Seksi Wilayah III Stabat Bersama staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara langsung terjun menuju lokasi untuk mengambil satwa tersebut. Tiba dilokasi tim langsung memberitahukan kepada warga tersebut bahwa Burung Elang Brontok adalah satwa liar dilindungi undang-undang. Warga tersebut tidak mengetahui bahwa Burung Elang Brontok adalah satwa dilindungi. Karena sudah mendapat informasi dari tim ia menyerahkan satwa tersebut secara sukarela. Burung Elang Brontok tersebut ia dapatkan terjatuh dari pohon besar didepan rumahnya dengan kondisi tulang sayapnya patah, dan tidak bisa terbang lagi. Karena tidak mengetahui satwa tersebut dilindungi, Kemudian ia merawat dan memeliharanya. Selama dipelihara, ia memberi makan dengan ikan lele. Selanjutnya tim membawa satwa tersebut dan dititpkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit guna perawatan karena sudah patah tulang sayapnya. Jika sudah sehat akan dilepasliarkan kehabitat alaminya. Sumber: Amenson Girsang - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Wisata Ekoling di TWA Sibolangit Sumatera Utara

Wisata Ekoling SMP Methodist Pancur Batu di TWA Sibolangit Sibolangit, 27 Januari 2019 - 62 siswa/i SMP Methodist Pancur Batu dan 63 siswa/i SMP Swasta Siti Hajar Medan melaksanakan kegiatan Wisata Edukasi Konservasi Lingkungan (Ekoling) di TWA (Taman Wisata Alam) Sibolangit di jam yang berbeda. Dua hari sebelumnya pada Sabtu. 25 Januari Marga Siahaan (Raja Idaon Medan Sekitarnya) juga mengadakan perkumpulan di TWA. Sibolangit. Masing masing sekolah mempunyai tema tersendiri, yaitu “Ekosistem Hutan” tema dari sekolah SMP Methodist Pancur Batu, sedangkan “Kegiatan Belajar dan mengenal alam lebih dekat” tema dari SMP Swasta Siti Hajar Medan. Siswa/i tersebut didampingi oleh guru masing-masing dari sekolah. Sebelum memasuki kawasan Siswa/i SMP Methodist Pancur Batu dan SMP Swasta Siti Hajar Medan dibekali dengan pengenalan kawasan TWA Sibolangit, upaya pengurangan sampah plastic, upaya menjaga kelestarian alam yang disampaikan oleh Kepala Resort TWA. Sibolangit Samuel Siahaan. Selain itu siswa/i juga diajak untuk menyebutkan Yel-Yel semangat konservasi. Selanjutnya guru pembimbing langsung mengajak siswa/i pengenalan berbagai Jenis flora berupa jenis pohon, ukuran pohon, diameternya, tumbuhan obat, serta disepanjang jalur interpretasi dan edukasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk pengenalan satwa yang dilindungi undang-undang. Wisata ekoling ini sudah dilaksankan SMP Swasta Siti Hajar Medan setiap tahun yang merupakan bagian acara Camp Nature 2020. Penyerahan buku ekoling dan bibit Pulai Kepala resort TWA. Sibolangit juga menyerahkan buku ekoling dan 15 bibit Pulai kepada masing-masing sekolah. Buku ekoling dapat digunakan sebagai panduan sedangkan bibit pulai untuk koleksi tanaman disekolah. Perlu diketahui SMP Swasta Siti Hajar Medan merupakan salah satu sekolah di Kota Medan yang telah berhasil memperoleh Penghargan terbaik Adiwiyata Mandiri Tingkat Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas apresiasi sekolah dalam kepedulian Lingkungan khususnya di lingkungan Sekolah. Bagi Kamu Pelajar yang perlu pernah Ke Taman Wisata Alam Sibolangit, yuk Belajar sambil Wisata Alam di TWA Sibolangit. Sumber: Samuel Siahaan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Audiensi Masyarakat Desa Karangasem Bersama Direktur Jenderal KSDAE

Yogyakarta, 1 Februari 2020. Balai KSDA Yogyakarta bersama mitra kerja PT Rimba Partikel Indonesia (PT RPI) memfasilitasi audiensi masyarakat Desa Karangasem Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunung Kidul bersama Dirjen KSDAE. Bertempat di Aula Pertemuan SM Paliyan, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Sabtu (1/2/20). Peserta audiensi terdiri dari Kepala Desa Karangasem beserta perangkatnya, Kepala Dusun Manggul, Kepala Dusun Karangasem A, Ketua RT, Karang Taruna tingkat dusun, dan beberapa tokoh masyarakat Desa Karangasem. Pada kesempatan ini, turut hadir Kasubdit PIKA dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi dalam pengantarnya menyampaikan “Terdapat korelasi antara permasalahan kawasan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan peninjauan lapangan untuk mengetahui kondisi dan permasalahan yang ada”. Dalam audiensi ini disampaikan keinginan sejak lama dari masyarakat Desa Karangasem yaitu diperlukannya pembangunan jalan penghubung antara Dusun Manggul Desa Karangasem Kecamatan Paliyan dengan Desa Monggol Kecamatan Saptosari yang melintasi batas kawasan, pembangunan embung telaga Goa Klepo dan pembuatan sumur bor. Masyarakat berharap dengan terpenuhinya keinginan tersebut, dapat meningkatkan taraf perekonomian warga setempat. Pada kesempatan ini pemerintah Desa Karangasem dan masyarakat berkomitmen akan ikut menjaga keamanan kawasan SM Paliyan. PT RPI sebagai mitra Balai KSDA Yogyakarta menyatakan akan ikut membantu terwujudnya pembuatan sumur bor. “Permohonan utk melanjutkan pengaspalan jalan yang bersinggungan dengan batas kawasan SM Paliyan ini nanti bisa kita penuhi karena selain mempersingkat jarak antara dusun juga jalan ini sudah ada sejak lama digunakan masyarakat sebelum kawasan SM Paliyan ditetapkan. Selain itu juga jalan ini nanti dapat digunakan sebagai Jalan pengelolaan oleh BKSDA Yogyakarta seperti untuk patroli kawasan. Terkait embung telaga, adalah embung air tadah hujan yang telah ada sejak tahun 1950 an dan sebagai sumber air masyarakat, nanti dapat difungsikan kembali dengan normalisasi embung. Selain bisa untuk kebutuhan masyarakat, hewan piaraan, juga untuk minum satwa liar serta sebagai cadangan jika terjadi kebakaran hutan” demikian komentar M. Wahyudi terkait audiensi masyarakat Desa Karangasem. Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc menyampaikan beberapa arahan yang dituangkan dalam rumusan yang ditandatangani bersama antara Dirjen KSDAE, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Manager Site PT RPI/Sumitomo Forestry, Kepala Desa Karangasem, Sekretaris Desa Karangasem, Kadus Manggul dan Kadus Karangasem A. Selesai audiensi, Dirjen KSDAE, Kepala Balai KSDA Yogyakarta dan masyarakat Desa Karangasem meninjau lapangan untuk melihat langsung lokasi calon sumur bor, embung telaga Goa Klepo dan jalan yang bersinggungan dengan batas kawasan SM Paliyan. Sumber : Siti Rohimah – Penyuluh Kehutanan Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Sekolah Alam Dongi-dongi dan Taman Baca Resort Bobo Dapat Bantuan Dari APHI

Bobo, 30 Januari 2020. Pendidikan lingkungan bagi generasi penerus bangsa merupakan salah satu pondasi terkuat bagi keberlangsungan kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Beberapa wadah bagi Pendidikan lingkungan di sekitar Taman Nasional Lore Lindu antara lain Sekolah Alam Dongi-dongi dan Taman Baca Resort Bobo yang merupakan fasilitas Pendidikan konservasi bagi generasi penerus bangsa. Optimalisasi peran wadah Pendidikan lingkungan membutuhkan fasilitas sarana prasarana dan media pembelajaran yang memadai serta dukungan multipihak. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menjemput peluang tersebut dengan pemberian bantuan ke Sekolah Alam Dongi-dongi dan Taman Baca Resort Bobo. APHI yang diwakili oleh Teteng, Sekretaris Komda APHI Sulawesi menyerahkan peralatan media pembelajaran berupa satu set sound system dan LCD TV untuk dipergunakan anak-anak di Taman Baca Resort Bobo. APHI menyerahkan bantuan tersebut kepada Kepala Resort Bobo M. Ayyub dan disaksikan langsung oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Ir. Jusman dan Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Makmur beserta personilnya. Bantuan ini diharapkan mampu meningkatkan minat baca serta belajar mengenai konservasi terutama murid-murid sekolah di sekitar Resort Bobo. “kami berharap bantuan ini dapat berguna bagi Pendidikan lingkungan anak-anak di sekitar hutan” ujar Teteng. Pada hari yang sama tim bergerak menuju Sekolah Alam Dongi-dongi yang merupakan sarana bagi anak-anak di sekitar Dusun Dongi-dongi untuk belajar mengenai alam dan juga sarana bagi mereka untuk bermain serta berkumpul bersama. Bantuan kemudian diserahkan oleh APHI kepada perwakilan pengelola Sekolah Alam Dongi-dongi dan juga turut disaksikan oleh Ir. Jusman selaku Kepala Balai Besar TN Lore Lindu. Bantuan yang diberikan kali ini berupa peralatan olehraga bagi anak-anak di Sekolah Alam tersebut. Keceriaan terlihat dari senyum anak-anak di Sekolah Alam yang kebetulan berada di sana saat penyerahan bantuan. Bantuan dari APHI tersebut akan berlanjut melihat beberapa hal yang perlu untuk ditingkatkan seperti fasilitas bangunan dan ruang belajar serta fasilitas lain “Diharapkan akan banyak mitra lain yang turut membantu peningkatan baik fasilitas maupun Sumberdaya Manusia dari pusat-pusat Pendidikan lingkungan yang ada di sekitar Taman Nasional Lore Lindu”, ujar Jusman. Sumber : Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Ngopi Bareng Kawan Kawan Media

Pekanbaru, 1 Februari 2020. Kita baru saja ngopi bareng kawan kawan media. Ngopi dengan tajuk ngobrol pintar konservasi yang langsung di pandu bapak Suharyono Kepala Balai Besar KSDA Riau, berlansung cukup meriah dan menarik. Seperti dengan judul kegiatan, ngobrol pintar konservasi ini juga menyuguhkan kopi sebagai jamuan. Suasana keakraban sangat terasa, apalagi setelah para petugas lapangan masing masing bercerita tentang pengalaman masing-masing. Bang Tommy berbagi pengalaman berhadapan langsung dengan harimau Sumatera liar dengan jarak 2,5 m selama 2 jam, mas Widodo bercerita tentang pengalamannya menangani konflik Gajah dan kedekatan perasaan dengan satwa tambun tersebut, serta beberapa cerita menarik lainnya yang langsung ditanggapi dengan antusias oleh kawan kawan media terutama bang Haidir Tanjung wartawan senior dari Detik.Com dan bang Ryan Anggoro dari kantor berita Antara. Ternyata kedekatan dengan kawan kawan media sangat mengasyikkan dan membuat kita lebih berwarna. Terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dunia konservasi. Salam cinta dan kompak dari kami, Salam konservasi. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ikan Pasa, Dari Ikan Konsumsi Menjadi Ikan Hias

Senin, 3 Febuari 2020 - Ikan Cawing Hidung (Schismatorhynchos heterorhynchos) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang dilindungi berdasarkan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ikan ini memiliki panjang sekitar 28,3 cm yang tersebar di pulau Sumatera dan Kalimantan. Bahkan menurut Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam situsnya Ejournal-balitbang.kkp.go.id jenis ikan ini perlu mendapatkan perhatian khusus untuk menjaga populasinya. Terutama di wilayah Sumatera, dimana ikan Cawing Hidung dapat dikatakan populasinya sudah sangat memperihatinkan. Sementara itu di wilayah Kalimantan, khususnya di Kalimantan Utara, ikan ini dapat di jumpai di perairan Sungai Bahau SPTN II Long Alango Taman Nasional Kayan Mentarang. Adapun masyarakat Dayak yang mendiami sepanjang Sungai Bahau menyebut ikan ini dengan nama lokal yakni Ikan Pasa’ (Ikan Pasak). Bagi masyarakat sekitar, ikan ini merupakan salah satu jenis ikan yang di konsumsi secara terbatas, bahakan tidak jarang ikan Pasa’ hanya menjadi pilihan terakhir untuk di konsumsi. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab Ikan Pasa’ memiliki tulang yang sangat banyak dan akan sangat merepotkan untuk di konsumsi. Belum lagi soal rasa yang masih kalah saing dengan daging ikan Pelian/Padek (Tom tabroides). Daya tarik Schismatorhynchos heterorhnchos terlihat berbeda antara Pulau Kalimantan dengan Pulau lainnya di Indonesia. Masyarakat sekitar TN Kayan Mentarang mengklasifikasikan jenis ikan ini sebagai ikan konsumsi meskipun hanya sebagai alternatif atau pilihan terakhir. Tapi di Pulau Jawa dan di beberapa wilayah lainnya di Indonesia jenis ikan ini masuk dalam klasifikasi ikan hias yang bernilai ekonomi sedang. Sehingga pemanfaatan ikan ini di batasi oleh P.106 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar yang di Lindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Melihat dinamika pemenfaatan Ikan Pasa’ / Ikan Cawing Hidung yang beragam, tentu perlu dilakukan pengawasan dengan intensitas sedang hingga tinggi agar populasinya di alam tetap terjaga lestari, terutama di dalam kawasan TN Kayan Mentarang. Apalagi Ikan Pasa’ saat ini dapat di kategorikan sebagai satwa endemik yang sangat sedikit ulasan informasinya. Di TN Kayan Mentarang Satwa liar yang dilindungi masih cukup terjaga, salah satunya melalui skema pengelolaan kolaboratif TN Kayan Mentarang, dimana masyarakat dapat turut serta menjaga aset alam ini, baik secara kelembagaan adat maupun kapasitas diri sebagai bagian dari pengelola kawasan tersebut yang bertujuan untuk pelestarian. Sehingga populasi Ikan Pasa’ dapat terus terjaga. Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Bermalam di Pasbar, Tim Temukan Sarang Penyu Sisik

Senin, 3 Januari 2020 - Pada kegiatan survei baru-baru ini (01/02), ditemukan jejak dan sarang penyu yang naik bertelur di sisi pantai timur di Pulau Pasitallu Barat. Sekedar informasi, Pulau ini adalah bagian dari tiga pulau sisi selatan Taman Nasional Taka Bonerate, gugusan pulau Pasitallu, biasa juga disebut Pasitallu Radja. Masuk dalam wilayah kerja Resor Pasitallu Tengah, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Wikayah II. Pulau ini adalah pulau kosong dan bagian Zona Inti/Zona dilindungi karena keanekaragaman hayati dan keberadaan vegetasi santigi yang umurnya diperkirakan ratusan tahun. "Dugaan kami, dari ukuran jejaknya jenis penyu ini adalah Penyu Sisik." Jelas Anam fungsional PEH Resor Pasitallu Tengah. Tim hanya menggali sampai kepermukaan telur untuk memastikan keberadaan telur. Jumlah telur diperkirakan 40-60an butir. Untuk menemukan si Hewan yang dilindungi ini tim fungsional PEH harus menunggu/ bermalam di pulau kecil tak berpenghuni ini dan itupun kalau tim beruntung bertemu langsung. Setelah dilakukan pengambilan data lokasi kemudian dilakukan pengukuran jejak dan sarang. Tim pun bersepakat untuk membiarkan telur menetas secara alami di alam. Sarang ditutup kembali dan menghapus jejak penyu, biarkan alam yang menyeleksinya. "Kami tutup kembali sarangnya, kemudian menghapus jejak yang ditinggalkan, biarkan alam yang menyeleksinya." Pungkas Agustiar salah satu PEH senior di Taman Nasional Taka Bonerate. Sumber : Asri (PEH) - Balai TN Taka Bonerate Dok. Kegiatan Survei Habitat Penyu 2020
Baca Berita

Hasse, Insafnya Sang Predator Penyu

Kepulauan Selayar, 31 Januari 2020 - Matahari belum muncul di peraduannya, tapi sesosok manusia telah mulai berjalan di tengah gelap dan sunyinya malam sekitar pukul 03.00 dinihari. Dia mulai berjalan di tepi pantai mencari sesuatu yang hanyut dibawa ombak dan masih bermanfaat. Ternyata bukan saja mencari barang hanyut, tetapi juga mencari penyu yang sedang bertelur untuk dikonsumsi, dengan kata lain sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Disinilah inti cerita ini dimana Dia yang bernama HASSE alias Asse, orang biasa memanggilnya, yang merupakan predator atau pemangsa telur penyu. Tanpa rasa takut dan kedinginan Asse mulai berjalan mencari sarang, telur penyu agar bisa diambil untuk dikonsumsi. Dengan keahlian dan pengalamannya, sarang dan telur dengan mudah didapatkannya. Bermodal sebatang bambu kecil yang runcing dibawanya, Asse mulai menusuk nusuk ke pasir yang diduga ada telur penyunya. Setelah telur penyu didapat, Asse kembali ke kampung atau rumah untuk membagikan telur tersebut kepada keluarga dan tetangga untuk dikonsumsi. "Telur yang saya dapat, saya konsumsi atau saya bagikan ke tetangga." Ujar Asse Kegiatan ini menjadi rutinitas Asse selama beberapa tahun. Tapi seiring berjalannya waktu, Dia mulai sadar karena adanya sosialisasi dari petugas Taman Nasional Taka Bonerate yang terus digalakkan tentang pentingnya pelestarian penyu dan biota laut langka lainnya. "Saya tidak tau bahwa Penyu itu penting di lindungi." Kata Asse Kini, Asse telah berubah 100%. Dari dulunya pemangsa penyu, sekarang menjadi pelestari penyu, dan orang Jinato menyebutnya sebagai pawang penyu. "Semenjak berubah, Asse datang pagi-pagi ke pos jaga sekedar melaporkan temuan jejak atau sarang Penyu." Cerita Sunadi Buki seorang petugas fungsional PEH di resor Jinato. Semenjak itu Balai TN Taka Bonerate ikut terlibat dalam kegiatan keteknisan seperti yang dilaksanakan sekarang, survei habitat penyu di resor Jinato. Berkat pengalaman beliau, tim menemukan satu individu Penyu yang sementara bertelur. "Kami baru-baru melepaskan tukik sebanyak 74 ekor hasil temuan beliau yang kami coba tetaskan secara semi alami, kami ajak warga dan perangkat desa." Ujar Sunadi Buki Balai Taman Nasional Taka Bonerate terus akan mensosialisasikan, pentingnya satwa purba ini dilindungi baik dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, maupun di luar kawasan TN Taka Bonerate. Penyu adalah salah satu satwa liar yang dilindungi, baik secara internasional maupun nasional. Dari 120-80 telur yang ditetaskan hanya 2 - 3 ekor yang bisa mencapai penyu dewasa, sisanya dimangsa oleh predator, baik itu alami ataupun ulah manusia. Informasi yang dikumpulkan, sejak Agustus 2019 sampai dengan januari 2020, sudah 12 jejak dan sarang penyu yang Asse temukan. 1 di sisi timur, dan 11 sarang dan jejak di sisi selatan pantai barat Pulau Jinato. Semoga Insafnya Asse sang predator, populasi penyu yang ada di perairan resor Jinato khususnya meningkat dan Taman Nasional Taka Bonerate pada umumnya. Asse... Penyu....tello'..... Sissi' itu orang kampung Jinato panggil Asse. Sumber : Hendra Mustajab (PEH Pertama), Asri (PEH Penyelia) - Balai TN Taka Bonerate Dok. Kegiatan Survei Habitat Penyu SPTN Wil.II Jinato

Menampilkan 4.065–4.080 dari 11.140 publikasi