Kamis, 7 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai Besar KSDA Papua Barat Temukan Anggrek Jenis Baru Endemik Papua Barat

Sorong, 10 Februari 2020. Selama lebih dari satu tahun tim inventariasasi anggrek melakukan penelitian di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong mulai dari Maret 2018 hingga Juli 2019, tim berhasil mendapatkan temuan yang cukup menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Reza Saputra dkk. mencatat 84 jenis anggrek yang terdiri dari 69 jenis epifit, 14 jenis terrestrial dan 1 jenis holomikotropik. Terdapat 4 jenis diantaranya adalah jenis yang belum dideskripsikan secara ilmiah (suspected as new species). Salah satu diantara 4 jenis tersebut telah berhasil dibuktikan secara ilmiah dan telah diberikan nama, yaitu Dendrobium moiorum Saputra, Schuit., Wanma & Naive. Gambar 1. Tim inventarisasi anggrek ketika akan pengamatan anggrek pada pohon dengan ketinggian sekitar 40 m di TWA Sorong. Deskripsi Dendrobium moiorum telah diterbitkan pada Jurnal Phytotaxa 430 (2): 142-146 (https://doi.org/10.11646/phytotaxa.430.2.5) pada tanggal 28 Januari 2020. D. moiorum adalah jenis anggrek epifit yang dicirikan tumbuh menempel pada permukaan batang atau ranting pohon. Anggrek ini memiliki habitat di hutan hujan dataran rendah pada ketinggian 100 mdpl pada lokasi teduh dan semi terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Anggrek ini teramati berbunga pada bulan Februari dan Juli hingga September. “Kedepannya, masih banyak pekerjaan mengenai konservasi anggrek di Wilayah Papua. Balai Besar KSDA Papua Barat memiliki tugas dan fungsi dalam inventarisasi potensi kawasan konservasi di Papua Barat, termasuk penelitian mengenai inventarisasi potensi jenis-jenis anggrek. Kedepannya kami akan mengumpulkan orang-orang lokal yang suka dan ingin bekerja sama dalam penggalian potensi keanekaragaman hayati di Provinsi Papua Barat, termasuk potensi jenis anggrek” tambah Ir. R. Basar Manullang, MM. Balai Besar KSDA Papua Barat berharap, dengan adanya Anggrek Moi ini akan menumbuhkan rasa penasaran dan ketertarikan masyarakat Suku Moi untuk ikut serta dalam penggalian kekayaan biodiversitas di tanah Suku Moi, tak hanya jenis anggrek namun juga jenis flora dan fauna lainnya. Selain itu juga diharapkan masyarakat Suku Moi bersama-sama dengan Balai Besar KSDA Papua Barat mampu menjaga alam titipan yang ada saat ini untuk generasi selanjutnya. (NAP) Epitet nama moiorum memiliki arti “Belong to Moi Tribe atau Milik Suku Moi”. Suku Moi merupakan suku asli yang memiliki hak ulayat adat di wilayah Sorong dan sekitarnya. Penamaan Anggrek Moi merupakan penghargaan kepada Suku Moi karena telah turut serta menjaga dan melestarikan kawasan TWA Sorong. Penamaan Anggrek Moi diharapkan dapat meningkatkan kebanggaan Suku Moi atas kekayaan biodiversitas yang dimiliki. Selain itu, penamaan tersebut terinspirasi oleh konsep 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi yang dikemukakan oleh Bapak Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M. Sc. Salah satu dari 10 cara tersebut adalah “Masyarakat sebagai Subjek Pengelolaan”. “Penamaan Anggrek Moi menjadi sangat penting untuk menjalin kepercayaan antara BBKSDA Papua Barat dengan Masyarakat Suku Moi dalam pengelolaan kawasan konservasi TWA Sorong” ujar Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat, Ir. R. Basar Manullang, MM. Gambar 2. Dendrobium moiorum Saputra et al., anggrek jenis baru endemik Papua Barat. Berdasarkan proses penilaian atau assestment status konservasi dengan kriteria IUCN Redlist (2019), dinilai bahwa jenis D. moiorum termasuk pada kategori Vulnerable (rentan). Saat ini, distribusi jenis tersebut diketahui sangat terbatas dengan ukuran populasi diperkirakan kurang dari 1000 individu. Meski TWA Sorong merupakan kawasan konservasi, namun habitat jenis tersebut masih rentan terhadap dampak kegiatan manusia. Reza Saputra (Calon Pengendali Ekosistem Hutan BBKSDA Papua Barat) yang merupakan Corresponding Author spesies tersebut menuturkan bahwa “Konsep PEH dengan fokus spesialisasi pada satu taksa sangat baik menurut saya. Hal tersebut menjadi kesempatan yang bagus untuk memperdalam ilmu pada satu taksa. Karena konsep PEH ini, saya mampu mengenal satu demi satu jenis anggrek pada satu kelompok. Sehingga ketika ada jenis anggrek yang tidak saya kenal di kelompok tersebut, saya dapat berpendapat bahwa jenis tersebut merupakan jenis baru. Meski begitu tetap perlu dilakukan review lebih lanjut oleh peneliti atau pakar senior. Bukan tanpa tantangan, dalam proses penelitian jenis baru ini telah melalui proses review yang cukup panjang. Keterbatasan alat, bahan dan lingkungan kerja yang berbeda dengan lingkungan peneliti tidak menjadi penghalang untuk berkarya.” Gambar 3. Reza Saputra yang tengah antusias mengamati dan menyelamatkan anggrek dari pohon tumbang. Dendrobium moiorum memiliki kemiripan dengan Dendrobium istmiferum J.J.Sm. (Smith, 1935: 41), seperti kumpulan papila pada bagian tengah antara dua keels yang bergelombang, tetapi berbeda pada bagian tengah bibir bunga (labellum) dengan tepi yang sangat bergelombang. D. moiorum memiliki bunga dengan lebar yang cukup besar, yakni sekitar 8 cm dan daun yang panjang, yakni sekitar 23.5 cm. Keunikan spesies ini terletak pada bagian bibir bunga, berbeda dengan spesies lainnya dari section Diplocaulobium yang memiliki pangkal bibir bunga berwarna merah atau ungu, D. moiorum memiliki warna putih-kuning polos yang merupakan suatu hal langka pada section Diplocaulobium. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Giat Hari Lahan Basah Se-dunia dan HPSN 2020 di Kampung Penyu

Kampung Penyu - Kepulauan Selayar, 24 Februari 2020. Tidak begitu lama dibentuk kepengurusan Dewan Saka yang baru, Pramuka Saka Wana Bakti (SWB) Cabang Kepulauan Selayar melaksanakan giat peringatan Hari Lahan Basah dan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2020 yang bertempat di Kampung Penyu, Dusun Tulang, Desa Barugaiya, Kabupaten Kepulauan Selayar Saka Wana Bakti binaan Balai Taman Nasional Taka Bonerate ini memilih Kampung Penyu sebagai pusat peringatan karena pada musim angin munson (angin barat) banyak sampah bertumpuk di pinggir pantai. "Bulan lalu, penyusunan rencana kerja setahun Dewan Saka baru kami juga laksanakan disini, adik-adik putuskan bahwa kegiatan baksos lingkungan di Kampung Penyu," ujar Marwan Pamong Saka. Marwan menambahkan bahwa selain itu melihat kondisi sekarang Kampung Penyu yang cukup memprihatinkan, abrasi dan banyak sampah yang berserakan akibat cuaca ekstrem. Kegiatan ini diikuti lebih kurang 50 orang peserta dari 4 sekolah yang merupakan pembina dan para anggota pramuka. Dilaksanakan pada hari minggu kemarin (23/02), dimulai pukul 14.15 WITA. Kegiatan ini diawali dengan pemberian materi kepada peserta yang disampaikan oleh Khoirul Anam (PEH Pertama) dari Balai TNTBR. Kak Anam, sapaan akrab Khoirul Anam memberikan materi mengenai manfaat ekosistem-ekosistem lahan basah seperti ekosistem mangrove bagi kehidupan dan mengapa harus memberikan perhatian terhadap nya. Selain itu juga disampaikan materi terkait membangun kepedulian generasi muda terhadap pengelolaan sampah yang baik. Selain pemberian materi, dibuka pula sesi tanya jawab dan games untuk peserta. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bersih pantai dan penanaman bibit mangrove jenis Rhizopora sp. di sekitar Kampung Penyu. Kegiatan ditutup dengan beberapa games atau permainan dan tak lupa pula dilakukan foto bersama. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks: Khoirul Anam (PEH), Foto : Hambali (Polhut), Editor : Asri (PEH)
Baca Berita

Street Campaign 2020 : Konservasi Alam bersama UPT KLHK Sulsel dan Mitra

Makassar, 23 Februari 2020 – Setelah 2 tahun berjalan atau tepatnya di Tahun 2018 BBKSDA SULSEL memulai giat Kampanye Konservasi dalam bentuk Street Campaign yaitu terjun langsung ke masyarakat. Melihat impact dan antusias masyarakat yang begitu besar BBKSDA SULSEL mulai menjadwalkan rutin giat kampanye ini, tidak hanya di Kota Makassar mulai dari Bidang Wilayah hingga seksi wilayah yang berada di pelosok daerah juga melaksanakan giat ini sebagai penyebar energi positif kepada warga tentang manfaat konservasi sumber daya alam. Di awal tahun 2020 tepatnya Minggu, 23 Februari, berlokasi Anjungan Lap Sultan Hasanuddin, Jl. Jendral Sudirman Makassar dari Pukul 6 30 s/d 09.00 WITA, Street Campaign Konservasi TSL, Penanaman dan Perubahan Iklim saat Car Free Day dilaksanakan. Kata kepala Balai Besar Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc “BBKSDA Sulsel Bersama stakeholder terkait saling berkolaborasi dan ini berkelanjutan. Mulai dari BPTH dengan program bibit gratisnya, Balai PPI Sosialisasi dan edukasi peubahan iklim, Gakkum dengan program lapor apabila terjadi perdagangan satwa illegal atau ilegaloging, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk promosi dan semua UPT KLHK lingkup Sulawesi Selatan ikut berkontribusi dan berkomitmen di kegiatan ini” Terang Thomas di temui di lokasi street campaign. “Dari Mitra kami sendiri yaitu Lembaga Konservasi di Sulawesi Selatan, Gowa Discovery Park dan Citra Satwa Celebes yang memiliki Minizoo dan merupakan salahsatu tempat rekreasi favorit di Makassar ikut berpartisipasi memamerkan koleksi satwa eksotiknya seperti jenis Kakatua, Macau dan satwa ekostik lainnya”. Tambah Thomas Di sela asiknya kami berinteraksi dengan masyarakat mulai dari pembagian bibit gratis Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ditengah aktifitasnya berolahraga di tempat yang sama memberi apresiasi dan semangat kepada rimbawan untuk terus promosi menanam untuk cegah banjir dan longsor. Ungkap Menteri Pertanian yang biasa disapa SYL ini. Hasil Giat Street Campign Konservasi Alam bersama seluruh UPT KLHK Sulsel dan Mitra berhasil membagikan 650 bibit tanaman terdiri dari ketapang, srikaya, salam, langsat, glodokan tiang, pete dan bidara. Pesan konservasi dan perubahan iklim melalui leaflet, poster, video dan diskusi interaktif tersampaikan kepada masyarakat mulai dari pengusaha, pemuda, perempuan, remaja, komunitas bersepeda, ASN, NGO dan pegiat olahraga serta masyarakat umum. Kata Mulyadi, petugas traffic warden dari DISHUB Kota Makassar “Ini tanaman bidara sudah lama saya cari, untung pas pembagian bibit ini saya yang bertugas”. Ujar petugas yang melakukan pengamanan di area Car Free Day. “Pohon Bidara ini diyakini bisa mengobati beberapa jenis penyakit dan salahsatunya bisa menolak bala”. Tambah Mulyadi pada saat kami wawancara. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

HPSN Malut: Sofifi Bersih, Sofifi Sehat, Sofifi Rumah Kita

Sofifi, 21 Februari 2020 - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) kembali melaksanakan kegiatan dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Kali ini, kegiatan yang diperingati setiap tanggal 21 Februari ini dilaksanakan di lokasi wisata Pantai Guraping di Sofifi, Maluku Utara. Rangkaian acara HPSN diawali dengan senam bersama dengan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Maluku Utara. Penanggung jawab kegiatan senam adalah Dinas Pemuda dan Olah Raga. Setelah olah raga, peserta beristirahat sejenak sembari menikmati sajian kacang hijau dan olahan pisang goreng dari para pedagang di tempat wisata bahari tersebut. Kegiatan dilanjutkan dengan apel pagi dan bersih-bersih sampah. Apel pagi di pimpin langsung oleh Sekretaris Daerah, Samsudin Abdul Kadir. Dalam sambutannya, Beliau berharap agar kegiatan (HPSN) ini mampu membangkitkan optimisme masyarakat dengan meningkatkan kesadaran dan bekerjasama mengelola sampah untuk hidup bersih, sehat dan bernilai mewujudkan Provinsi Maluku Utara yang bersih dan sehat. “Mari kita membudayakan hidup bersih yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, kantor OPD, Swasta dan seluruh elemen masyarakat”, tutupnya dalam sambutan apel. Setelah pelaksanaan apel pagi, kegiatan dilanjutkan dengan bersih-bersih pantai Guraping. Hasil sampah yang dikumpulkan oleh seluruh peserta hampir memenuhi bak truk pembuangan sampah. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Maluku Utara (Balitbang), memberikan slogan untuk acara ini, yaitu “Sofifi Bersih, Sofifi Sehat, Sofifi Rumah Kita”. Sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan bersih-bersih di Jl. Empat Puluh Sofifi. Turut hadir juga rombongan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara. Kegiatan HPSN dapat berlangsung dengan baik dan meriah berkat kerjasama dengan Sekretariat Daerah Provinsi Maluku Utara, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Maluku Utara dan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra (Polhut) - Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Aksi Bersih Kawasan TN Wasur dari Sampah

Marauke, 21 Februari 2020 - Lima belas tahun silam tepat pada tanggal 21 Februari telah terjadi tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat yang mengakibatkan 157 jiwa manusia melayang dan 2 kampung luluh lantak seketika tersapu oleh longsoran sampah tersebut. Pemerintah kemudian mencanangkan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari sebagai upaya menggerakkan masyarakat Indonesia untuk peduli lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan dan membersihkan sampah-sampah yang masih bertebaran di sekitar lingkungan masyarakat. Balai Taman Nasional Wasur mengambil momentum Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada hari Jum’at dengan melakukan Aksi Bersih Kawasan TN Wasur Dari Sampah. Berbagai elemen masyarakat Kota Merauke merespon seruan aksi tersebut dengan mengikuti apel pagi bersama di halaman kantor Balai Taman Nasional Wasur yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Bapak Yarman, S.Hut., M.P. Dalam arahannya, Kepala Balai TN Wasur menyampaikan bahwa Hari Peduli Sampah Nasional ini untuk memperingati bencana longsor sampah di Jawa Barat pada tahun 2005 silam, kemudian sampah terutama jenis sampah plastik dapat menjadi ancaman serius bagi kehidupan seluruh makhluk hidup apabila dibuang sembarangan karena plastik membutuhkan waktu lebih dari 400 tahun untuk dapat terurai di alam. Ada 3 hal prinsip dalam rangka meminimalkan produk sampah secara global yaitu 1)Menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan (Reuse), 2)Mengurangi segala sesuatu yang menghasilkan sampah (Reduce), dan 3)Mengolah kembali sampah menjadi produk yang bermanfaat (Recycle). Lebih lanjut, Kepala Balai menyampaikan bahwa sekecil apapun kontribusi yang kita lakukan pasti akan berdampak positif bagi lingkungan di sekitar kita. Terlebih kita di Papua akan menjadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 sehingga kita harus menjaga dan membersihkan kawasan dari sampah serta tidak lagi membuang sampah sembarangan. Peserta aksi bersih kawasan TN Wasur tersebut terdiri dari pegawai Balai TN Wasur, Dinas Lingkungan Hidup Merauke, Bidang Wilayah 1 Merauke BBKSDA Papua, Cabang Dinas Kehutanan Merauke, YONMARHARLAN Angkatan Laut Merauke, Kader Konservasi TN Wasur, BEM dan MAPALA Universitas Musamus Merauke, Komunitas Jeep Merauke, Paguyuban Otomotif Merauke, Komunitas Vespa Merauke, Eksplore Merauke, dan Masyarakat Kampung Wasur dengan jumlah keseluruhan 350 orang. Kegiatan aksi bersih kawasan TN Wasur berlangsung selama hampir empat jam. Peserta aksi menyisir dan memungut sampah di sepanjang jalan Trans Irian yang terbagi menjadi 2 Tim Kerja yaitu Tim 1 dengan titik start dari Jembatan Alu dan Tim 2 dengan titik start dari Gedung Pusat Informasi Bomi Sai, kemudian kedua tim bertemu di Obyek Wisata Permandian Alam Biras untuk mengumpulkan dan menimbang sampah yang berhasil diperoleh. Jumlah berat sampah yang berhasil dikumpulkan oleh para peserta aksi sebanyak 46 kantong trashbag dengan total berat 560 Kg yang sebagian besar terdiri dari sampah botol plastik, bungkus plastik, pembungkus nasi, botol kaca, dan lain sebagainya. Setelah usai mengumpulkan dan menimbang semua sampah, para peserta aksi disuguhkan hidangan bubur kacang ijo yang menjadi pereda lelah para peserta aksi bersih kawasan TN Wasur sembari beramah-tamah dengan latar suasana asri dan eksotis dari obyek wisata permandian alam Biras Taman Nasional Wasur. Selamatkan Bumi Dari Sampah ! Sumber: Balai TN Wasur Penulis: Eka Heryadi, S.Hut. Foto dan Video: Wahono, Febrian Aditya N., S.Hut.
Baca Berita

Kunjungan Kerja Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Taman Nasional Baluran

Situbondo, 21 Febuari 2020 - Dr. Alue Dohong selaku Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada hari ini Jumat 21/02/2020 datang berkunjung ke Taman Nasional Baluran. Wamen LHK didampingi oleh Dirjen KSDAE Ir.Wiratno, M.Sc dan Sekditjen KSDAE Ir. Tandya Tjahjana, M.Si beserta rombongan mengunjungi Savana Bekol sekaligus menyapa dan berbincang-bincang dengan para masyarakat yang sedang bekerja melakukan pembersihan tanaman invasif berupa seedling Acacia nilotica dalam rangka untuk pemulihan ekosistem savana Bekol. Bahkan pada kesempatan itu, Bapak Alue Dohong dan Bapak Wiratno turut serta mencoba melakukan pencabutan anakan Acacia nilotica dan membabat acacia yang tumbuh kembali pada tunggak bekas tebangan. Tanaman Acacia nilotica adalah tanaman yang menginvasi keberadaan savana di Taman Nasional Baluran hingga seluas sekitar 6.400 ha dari 10.000 ha total luas Savana Baluran Selain itu Wamen beserta rombongan juga mengecek kondisi satwa Banteng yang ada di Suaka Satwa Banteng di Bekol . Suaka Satwa Banteng Baluran dimulai sejak tahun 2012 dimana kecenderungan populasinya mengalami tekanan sebagai akibat dari perburuan liar, predasi dan berkurangnya kualitas dan kuantitas habitat. Sehingga Suaka Satwa Banteng ini bertujuan untuk meningkatkan populasi Banteng di habitat alami, mengembangbiakan Banteng secara semi alami dan meningkatkan kualitas genetiknya. Sumber: Balai TN Baluran
Baca Berita

Pimpinan UPT KLHK di Provinsi Riau Dampingi Menteri LHK

Pekanbaru, 20 Februari 2020 - Kepala Balai Besar KSDA Riau bapak Suharyono beserta seluruh pimpinan UPT Kementerian LHK di Prov. Riau ikut serta mendampingi Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar mengunjungi Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura) di Kab. Siak. Ibu Siti hadir untuk melihat langsung persiapan agenda kunjungan kerja Presiden RI, bapak Joko Widodo ke Tahura dalam rangka penyerahan Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial untuk pemerataan ekonomi. Rencananya, besok SK Perhutanan Sosial akan diserahkan langsung oleh Presiden kepada sejumlah kelompok tani hutan. Semoga acaranya berjalan dengan tertib, lancar dan sesuai harapan ya kawan kawan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Riau dan Komunitas Penggiat Konservasi Riau Nobar Film Dokumenter

Pekanbaru, 18 Februari 2020 - Balai Besar KSDA Riau mengajak kawan kawan rimba dari "Komunitas Penggiat Konservasi Riau" untuk Nobar Film Dokumenter "SEMESTA" hari Selasa, di cinema XXI SKA Pekanbaru. Film ini bercerita tentang tujuh tokoh di Indonesia yang mengajak warga sekitar wilayahnya untuk menjaga keseimbangan alam. Lebih berisi pesan relevan dalam upaya penanggulangan perubahan iklim, dimana mengajak semua untuk ikut berperan dalam memerankan dampak perubahan iklim melalui langkah kecil yang bisa dilakukan masing masing. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Dorong Pegawainya Piawai “Menulis”

Malinau, 21 Februari 2020 – Setelah Inhouse Training Fotografi Alam Liar, 20 pegawai Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) kembali "masuk kelas" untuk mengikuti Inhouse Training Bidang Jurnalistik yang berlangsung dari tanggal 20 s/d 21 februari 2020. Peningkatan kapasitas SDM di bidang Fotografi Alam Liar dan Jurnalistik merupakan satu paket pembekalan sebelum para rimbawan TNKM kembali ke kawasan untuk melaksanakan tugas. Dalam Inhouse Training Bidang Jurnalistik, Balai TN Kayan Mentarang menggandeng pemateri dari Surat Kabar Harian (SKH) Radar Tarakan Nurismi, SH.,MH (Jurnalis/Redaktur Pelaksana & Pic Media Digital), dan Dr.Muhammad Fiteriady, S.STP.,M.Si selaku Praktisi Komunikasi yang juga Staf Ahli Bupati Sekretariat Daerah Pemkab Malinau. Dalam pelatihan bidang jurnalistik ini para pegawai dituntut untuk kreatif dalam membuat tulisan yang informatif dan edukatif mengenai kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang hingga potensi kawasan yang dapat diekspose kedalam sebuah karya tulis yang disertai foto sebagai salah satu data dukungnya. Untuk mengaktualisasikan hasil pelatihan ini, peserta juga diberikan tugas membuat karya tulis dengan memilih salah satu dari 12 tema yang sudah ditentukan oleh panitia. Diantaranya ialah tema Kehati, Pengelolaan Kawasan, Pemberdayaan Masyarakat, Keunikan Ekosistem, Pemanfaatan Tradisional HHBK, Sosekbud, Jasling, ODTWA, dan Pengelolaan Habitat. Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Forum Konservasi Flora dan Fauna Kalsel Susun Rencana Kerja

Banjarbaru, 19 Febuari 2019 - Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, melalui seksi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Forum Konservasi Flora dan Fauna dengan tema "Rencana Kerja Forum Konservasi Flora dan Fauna Tahun 2020" sebagai upaya penguatan Pembangunan Kehutanan. Hal ini sesuai dengan instruksi Kepala Dinas Kehutanan Bapak Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut, MP bahwa partisipasi Lembaga-Lemabaga, organisasi dan pegiat yang yang berbasis kepada pelestarian lingkungan harus kita dorong, karena melalui mereka pesan-pesan konservasi dapat disebarluaskan ke masyarakat. Bertempat di Aula Rimbawan 1 acara ini antara lain dihadiri oleh GAHIBTA, Sahabat Bekantan Indonesia, Mahasiswa Pecinta Alam dari berbagai perguruan tinggi, Dewan Pengurus Daerah Perhimpunan Anggrek Indonesia. Berkesempatan Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel membuka acara ini, Bersama Kepala Bidang PKSDAE Pantja Satata, S.Hut. Pada sesi diskusi yang berlangsung cukup hangat beberapa langkah strategis dirumuskan Bersama-sama. Menurut Kasie KSDAE, Supiani, S.Hut.MP hasil rumusan kegiatan tahun 2020 akan di breakdown serta ditentukan leading sectornya agar kegiatan tersebut berjalan maksimal dan memberi dampak positif di masyarakat, salah satu contohnya adalah Kegiatan Penanaman Bibit/Pohon di kawasan Konservasi dan Kawasan Ekosistem Esensial atau kawasan habitat satwa liar yang dilindungi atau tidak dilindungi yang mengalami degredasi. Kami akan tindaklanjuti bersama-sama seluruh anggota forum agar capaian target tahun ini dapat tercapai semunya ujarnya. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Petugas Resort Duri BBKSDA Riau Patroli Pengamanan SM Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 19 Februari 2020 - Resort Duri melakukan kegiatan di SM. Giam Siak Kecil. Keadaan lokasi semak belukar, gambut berupa pepohonan hutan dan beberapa kebun sawit. Petugas melakukan patroli darat mengunakan sepeda motor di seputaran hutan konservasi SM. Giam Siak Kecil Petugas juga melakukan pemasangan papan larangan atau rambu rambu kawasan. Petugas memonitoring keadaan di SM Giam Siak Kecil yang terpantau aman dan kondusif dari titik asap atau pun dari kebakaran di sekitaran SM. Giam Siak Kecil yang berdekatan dengan desa Bukit Kerikil/desa Tasik Serai. Cuaca saat ini sering turun hujan, yang membuat tanah gambut menjadi lebih lembab dan lebih aman. Walaupun begitu, petugas akan terus melakukan pengawasan dan monitoring di kawasan SM Giam Siak Kecil. LAKUKANLAH PENCEGAHAN SEDINI MUNGKIN UNTUK MENGHINDARI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pembinaan MMP Resort Sadap Sebagai Garda Terdepan Pengamanan Kawasan TN Betung Kerihun

Sadap, 20 Februari 2020 - Melibatkan masyarakat sebagai subyek pengelolaan kawasan konservasi merupakan salah satu gagasan dan inovasi Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc yang dituangkan pada 10 (sepuluh) Cara Meningkatkan Kelola Kawasan Konservasi. Oleh dasar tersebut, Resort Sadap, Seksi PTN Wilayah I Lanjak, Bidang PTN Wilayah I Mataso pada tahun 2019 telah membentuk kelompok masyarakat mitra polhut (MMP) sebagai bentuk pertisipasi masyarakat dalam kegiatan pengamanan Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Untuk mengulas kembali pengetahuan tentang MMP serta meningkatkan kapasitas anggota MMP Resort Sadap, pada hari Kamis 20 Februari 2020 Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) mengadakan kegiatan pembinaan MMP yang bertempat pada Kantor Resort Sadap. Kegiatan pembinaan MMP dihadiri oleh 10 orang anggota MMP yang berasal dari Desa Menua Sadap dan Desa Pulau Mana. Kegiatan pembinaan ini bertujuan untuk mengulas kembali ilmu pengetahuan tentang pengamanan hutan yang telah diberikan pada waktu pembentukan kelompok MMP. Selain itu, pada kegiatan kali ini skill para anggota MMP di upgrade dengan membekali ilmu tentang pengoperasian Global Positioning System (GPS) dan tata cara pembuatan laporan informasi (LI). Menurut Kepala SPTN Wilayah I Lanjak, Bapak Parsaoran Samosir, kemampuan dalam mengoperasikan GPS sangat perlu dimiliki oleh anggota MMP untuk menunjang kegiatan pembuatan LI secara khusus dan kegiatan pengamanan kawasan TNBK secara umum. Dengan dibekali kemampuan tersebut, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif dalam kegiatan pelaporan tindak pidana kehutanan (Tipihut) yang terjadi di sekitar masyarakat, serta ikut andil dalam kegiatan pengamanan kawasan bersama dengan pengelola TNBK. Peserta pelaksanaan pembinaan MMP ini sangat terkesan dengan materi-materi yang disampaikan oleh panitia. “Kami menjadi mengerti bagaimana tatacara dalam melaporkan suatu kejadian yang kami temui sesuai prosedur yang ada, baik kejadian di dalam kawasan hutan ataupun di sekitar masyarakat. Sehingga laporan suatu kejadian tidak hanya disampaikan dan diterima dari mulut ke mulut yang belum tentu kebenarannya”, tutur Bapak Safrianus Safri ketua MMP Resort Sadap. Hal serupa juga di sampaikan oleh salah satu anggota MMP Bapak Novi Irwandi Lagi, “Dengan dilakukan pembinaan ini kami memiliki tambahan ilmu dan keterampilan, salah satunya yaitu cara mengoperasikan alat GPS. Bukan hanya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengamanan hutan, keterampilan ini dapat kami gunakan dalam kegiatan sehari-hari di masyarakat”. Dengan selesainya kegiatan MMP, seluruh anggota MMP berharap kerjasama antara masyarakat dengan Balai Besar TNBKDS dapat dijalin secara berkelanjutan, baik dalam hal pengamanan hutan ataupun kegiatan-kegiatan lainnya. “Karena tanggung jawab kelestarian hutan dan lingkungannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola TNBK melainkan tanggung jawab bersama”, imbuh mereka. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Kunjungan Lapang Peserta Pelatihan Terpadu Aparat Penegak Hukum Dalam Penanganan Kejahatan Satwa Liar

Labuhan Ratu, 19 Februari 2020 - Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan “rumah” bagi 5 mamalia besar (The Big Five Mammals) yaitu Gajah sumatra, Badak sumatra, Harimau sumatra, Tapir dan Beruang Madu. Dengan luas kawasan 125.621,30 ha, tata batas kawasan TNWK sudah temu gelang. Karena keanekaragaman hayatinya TNWK juga sudah dideklarasikan menjadi anggota Asean Heritage Park (AHP) yang ke 36. Demikian pembuka yang disampaikan oleh Ka. Balai TNWK, Bapak Subakir, SH. MH. ketika menjadi nara sumber saat menerima kunjungan lapang para peserta Pelatihan Terpadu Aparat Penegak Hukum Dalam Penanganan Kejahatan Satwa Liar di aula kantor Suaka Rhino Sumatra (SRS). Para peserta pelatihan ini berasal dari para penegak hukum yang terdiri dari Jaksa 11 orang, Penyidik Polri 12 orang, dan Hakim sebanyak 11 orang. Para peserta juga mendapatkan banyak informasi tentang kondisi, potensi dan ancaman yang ada di TNWK. Badak sumatra yang tersebar di Lampung, Aceh dan Kalimantan saat ini populasinya terus menurun dan kini jumlahnya tidak lebih dari 80 ekor yang tersisa. “Kami bersyukur ternyata separuh dari populasi tersebut berada di TNWK kita harus dapat menjaganya dengan serius agar badak sumatra yang kita punya tidak punah, kita jangan sampai seperti Malaysia yang badaknya sudah punah.” Terang Ka. Balai. Badak ini sulit untuk berkembang biak, dalam proses perkawinan seorang keeper harus selalu mengawasi karena badak jantan dan betina ketika bertemu untuk kawin harus berantem terlebih dulu dan pasti akan mengalami luka-luka. Tingginya perburuan liar juga menjadi faktor ancaman yang harus mendapat perhatian serius, imbuh Ka. Balai. “Perburuan liar dan Kebakaran hutan merupakan ancaman yang perlu kita tangani bersama secara serius”, ucap Ka. Balai. Perburuan satwa liar dilindungi dan perdagangan ilegal satwa liar maupun produk-produknya adalah salah satu ancaman terbesar yang dihadapi oleh Indonesia dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Lebih dari jutaan individu satwa liar menjadi target perdagangan ilegal setiap tahunnya. Hilangnya spesies kunci yang penting dalam menjaga keseimbangan ekologi (seperti karnivora besar) berdampak pada terganggunya proses pertumbuhan vegetasi hutan, mengubah pola pengembangbiakan burung dan mamalia kecil serta mengubah bagian lain dari ekosistem tambah beliau. Kunjungan lapang ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para peserta mengenai kondisi nyata di lapangan, sedangkan tujuan dari Pelatihan terpadu ini sendiri untuk mendorong tercapainya kesepahaman antar penegak hukum dalam proses penanganan perkara sehingga tujuan penjatuhan sanksi dapat memenuhi rasa keadilan bagi lingkungan hidup. Oleh karena itu Badiklat Kejaksaan bersama-sama dengan Pusdiklat MA dan Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri dari tanggal 18 – 21 Februari 2020 melaksanakan pelatihan terpadu bagi penyidik Polri, jaksa dan hakim di wilayah Provinsi Lampung. Dengan adanya pelatihan ini, para penegak hukum diharapkan memiliki kompetensi untuk memeriksa perkara di bidang sumber daya alam termasuk perkara satwa liar. Sumber: Humas Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Petugas Resort Balai Besar KSDA Riau Kembali Beraksi

Pekanbaru,18 Februari 2020, Resort Pekan Heran melakukan patroli rutin pengamanan kawasan. Dipimpin langsung Kepala Resort, bapak Zulkifli Tim bergerak cepat berdasarkan informasi masyarakat. Diawali dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan SM. Kerumutan Selatan, Desa Rantau Bakung, Kec. Rengat Barat, agar tidak melakukan penebangan liar dan pembukaan lahan di sekitar dan di dalam kawasan SM. Kerumutan. Kemudian Tim bergerak melakukan Patroli di sekitar dan di dalam kawasan SM. Kerumutan Selatan, Desa Sei Guntung, Kec. Rengat. Tim menemukan dua pondok (Camp) dan dua unit sepeda rakitan sebagai alat pengangkut kayu olahan chine saw,. Tim meyakini bahwa pondok tersebut adalah milik pelaku illegal loging. Tim segera membongkar dan memusnahkan barang temuan berupa dua unit pondok dan dua unit sepeda rakitan. Pemusnahan dilakukan dengan jalan membakar barang temuan. Tim melanjutkan penyisiran jaringan jalan sarad/ongkak yang digunakan untuk mengeluarkan kayu olahan dasar, namun setelah Tim berjalan masuk ke dalam kawasan hutan +/- 1,5 km, Tim tidak menemukan tanda-tanda berupa tunggak ataupun bekas penebangan. Tim tidak menemukan pemilik pondok ataupun sepeda yang ditemukan di pinggir kanal. Tim menduga pelaku illegal loging tersebut baru akan memulai aktivitas illegal di dalam kawasan SM Kerumutan Selatan karena kondisi jalan sarad/ongkak masih baru dibuat/dikerjakan. Tim akan berupaya melakukan kegiatan lanjutan, berupa patroli bersama untuk melakukan pencegahan illegal loging dan penertiban dan kontrol secara rutin terhadap lahan bekas terbakar yang mulai dipancang masyarakat. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Mengubah Paradigma Generasi X Terhadap Arti Konservasi DKI Jakarta

Jakarta, 19 Februari 2020. Bertempat di Komplek Sekolah Yayasan Masjid PB Soedirman Jakarta Timur Kelompok EKSATLI (Edukasi Satwa Liar, Tumbuhan, dan Lingkungan) bersama dengan Balai KSDA Jakarta pada hari ini melaksanakan kegiatan Sambang Sekolah. Kegiatan ini diikuti oleh siswa dan siswi kelas 9 dari masing-masing perwakilan sekolah (SMA Islam PB Soedirman, SMK Islam PB Soedirman 1 dan SMK Islam PB Soedirman 2) dengan jumlah 180 orang pelajar. Dalam kesempatan ini Kepala BKSDA Jakarta (Karyadi, S. Hut. M. IL) ikut serta menghadiri sebagai salah satu narasumbernya. Kegiatan sambang sekolah kali ini mengambil tema “Mengenal Konservasi Lingkup BKSDA Jakarta”, beda dari tempat lainnya EKSATLI mengusung konsep edukasi dengan metode talkshow. metode ini dikemas dengan suasana santai dengan membahas persoalan yang sedang hangat di masyarakat dan dinilai akan lebih mudah tersampaikan materi ke audiens. Konservasi merupakan pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya ujar Rahardian (siswa kelas 9 SMU Islam PB Soedirman). Menurut Karyadi (Kepala BKSDA Jakarta) konservasi sangatlah penting untuk dilakukan karena sebagai penunjang kehidupan serta upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Pada dasarnya konservasi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu konservasi in situ dan konservasi ek situ. Konservasi in situ merupakan kegiatan yang dilakukan di dalam habitat aslinya, kawasan yang berada di lingkup BKSDA Jakarta seperti kawasan Cagar Alam Pulau Bokor (CAPB), Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA), Suaka Margasatwa Pulau Rambut (SMPR) dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWAAK). Lalu konservasi ek situ merupakan kegiatan konservasi flora/fauna yang dilakukan diluar habitat aslinya, hal ini dilakukan oleh mitra BKSDA Jakarta contohnya lembaga konservasi (Taman Margasatwa Ragunan, Taman Burung dan Reptile TMII, Fauna Land, Gelanggang Samudra dan Jakarta Aquarium Indonesia) ujar Karyadi menambahkan. Di zaman yang modern kini, banyak manusia yang lupa akan posisinya di bumi ini. Peran manusia diberi hak untuk memanfaatkan apa yang ada di bumi ini, namun mereka juga mempunyai tanggung jawab untuk tetap melestarikan, menjaga dan melindunginya. Maka dengan ini penting bagi kita untuk menyampaikan akan kayanya keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia khususnya di DKI Jakarta, bahwa masih terjaga dengan baik kawasan konservasi lingkup BKSDA Jakarta dan pendidikan konservasi yang berjalan rutin tiap 2 (dua) pekan sekali dengan berkolaborasi bersama EKSATLI ujar Sri Mulyani (Penyuluh Kehutanan BKSDA Jakarta). Menurut Alif (Mahasiswa UNJ anggota EKSATLI) menambahkan bahwa banyak hal yang menarik dalam kegiatan pendidikan konservasi khususnya di DKI Jakarta. Kita ambil contoh "TWA Angke Kapuk" kawasan tersebut merupakan kawasan in situ yang dikelola oleh BKSDA Jakarta, selain dari edukasi terkait konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya juga tempat tersebut menjadi sarana ekowisata yang menarik atau yang lebih di kenal "instagramabel" bagi para generasi X saat ini ujar Alif menambahkan. Menurut Junaidi (Kepala Sekolah SMU Islam PB Soedirman) menyampaikan bahwa komplek sekolah Islam PB Soedirman mempunyai semboyan green campus, dengan bertujuan dalam pembangunan dengan memperhatikan aspek lingkungan, keagamaan, teknologi dan kemanusia sebagai bentuk dukungan dalam pembangunan human capital dimasa depan. Dengan inI maka pentingnya pendidikan lingkungan perlu ditanamkan kepada masyarakat terutama ke anak-anak usia dini, salah satunya dengan pendidikan konservasi. Dalam hal ini kami mulai mengimplementasikan pada sekolah yang kami kelola, agar hal ini menjadi bentuk nyata dalam mengusung sekolah berkonsep green campus. Sumber : Sri Mulyani (Penyuluhan BKSDA Jakarta)
Baca Berita

Konsep Heli Tourism dan Rencana Penyediaan Sarana Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)

Mataram, 20 Februari 2020. Gunung Rinjani menawarkan keindahan alam gunung vulkanik dengan kawah berisi danau dan pemandangan alam disekitarnya yang jarang ditemukan ditempat lain, dengan keindahan alam tersebut menjadikannya salah satu destinasi wisata yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara termasuk para investor wisata diantaranya PT. Rinjani Glamping Indonesia (RGI) dan PT. Airbus Helicoters Indonesia (AHI) Berkaitan dengan rencana usaha penyediaan sarana wisata alam di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani oleh RGI dan Heli Tourism oleh AHI telah dilakukan audiensi pada hari Selasa, 18 Februari 2020 pukul 09.30 Wita bertempat di Ruang Rapat Aula Balai TN Gunung Rinjani Mataram yang dihadiri pejabat struktural Balai TN Gunung Rinjani dan stakeholder terkait diantaranya Dinas Pariwisata NTB, Dinas LHK NTB, Dinas ESDM NTB, BPBD NTB, Basarnas, Dinas Pariwisata Lombok Timur, BP Majelis Adat Sasak, Geopark Rinjani, Forum Porter Guide Rinjani, Perwakilan Trekking Organizer (TO) termasuk wartawan lokal maupun nasional Pada pemaparannya RGI menyampaikan masih dalam proses ijin usaha penyediaan sarana wisata alam. Sampai saat ini tahapan perijinan yang dilakukan RGI adalah Pertek (Pertimbangan Teknis) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kab Lombok Utara pada tahun 2017 dan Pertek dari BTNRG pada tahun 2017. Masih ada beberapa tahapan yang perlu dilakuan oleh RGI yaitu penyusunan Rencana Pengusahaan Pariwisata Alam (RPPA), dokumen UKL/UPL serta konsultasi publik. Bentuk usaha sarana wisata yang rencana akan dibangun adalah sarana akomodasi semi permanen berupa Glemping yang direncanakan akan dibangun di sekitar Danau Segara Anak yang tetap akan menjamin dan memastikan minimal dampak dari sisi ekologi, estetika serta akan bersinergi dengan pelaku wisata yang telah ada agar pelaku usaha yang ada seperti TO, Guide dan Porter tetap berjalan. AHI telah melakukan audiensi mengenai Heli-Tourism kepada Kementerian LHK cq. Ditjen KSDAE, Kementerian Pariwisata, Pemprov NTB dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sejak tahun 2015. Program Heli Tourism akan diawali studi kelayakan dan uji coba yang rencananya akan dilaksanakan antara September hingga Desember 2020 untuk mempelajari dan melakukan review operasional. Sesuai yang disampaikan oleh AHI bahwa konsep Heli-Tourism ini tidak akan mengganggu pasar wisata pendakian yang ada selama ini karena memiliki pangsa pasar yang berbeda namun jika konsep tersebut menghadapi banyak kendala maka AHI pastinya tidak akan melanjutkan konsep tersebut Berkenaan dengan ini, diperlukan studi kelayakan yang meliputi beberapa aspek seperti ekologi, ekonomi, sosial budaya serta aspek legal. Selain itu, salah satu aspek yang juga harus menjadi pertimbangan adalah rencana pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani dengan pelibatan para pihak serta memastikan bahwa pelaku usaha yang telah ada tetap terlindungi. BTNGR mengundang para pihak untuk mendengar pemaparan pemrakarsa dalam audiensi tersebut untuk menjamin keterbukaan informasi serta memastikan buttom up proses dilakukan di Tapak sehingga parapihak mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi mulai dalam proses perencanaan sampai kepastian implementasinya. BTNGR berharap bahwa kegiatan yang melibatkan parapihak yang dilakukan, kedepan dapat menjamin kelestarian Taman Nasional Gunung Rinjani yang mewujudkan harmonisasi alam dan budaya tetap terjaga. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani

Menampilkan 3.969–3.984 dari 11.140 publikasi