Kamis, 7 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mengenal Konservasi Orangutan Tapanuli di Tapanuli Utara

Tapanuli Utara, 24 Februari 2020. Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar bersama dengan YEL-SCOP melaksanakan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Konservasi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), pada tanggal 19 Februari 2020 di Kantor Camat Adiankoting Kabupaten Tapanuli Utara. Kegiatan dihadiri Camat Adiankoting Bapak Junjungan Silaban, S.Sos, Danramil Adiankoting Bapak Sugiono, Kapolsek Adiankoting Bapak M. Togatorop dan 16 Kepala Desa di seluruh wilayah Kecamatan Adiankoting Kabupaten Tapanuli Utara. Sosialisasi konservasi Orangutan ini dilaksanakan dengan peserta sebanyak 43 (empat puluh tiga) orang. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Camat Adiankoting Bapak Junjungan Silaban, S.Sos yang dilanjutkan penyampaian materi oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan YEL-SCOP kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Latar belakang kegiatan diawali kejadian yang terjadi di bulan November lalu yaitu seekor Orangutan Tapanuli yang memasuki pemukiman penduduk di Desa Dolok Nauli, sehingga dievakuasi dan dikembalikan ke habitatnya. Namun, 3 bulan kemudian Orangutan tersebut ditemukan kembali oleh warga yang melintas di Jalan lintas Sibolga dan langsung di evakuasi oleh tim Balai Besar KSDA Sumut dan mitra KSDA yaitu YEL-SOCP, YOSL-OIC dan Scorpion Indonesia. Diperkirakan Orangutan tersebut memasuki kawasan penduduk karena mencari pakan, mengingat persaingan pakan yang tinggi dengan kera dan monyet. Dari kejadian ini, kita dapat mengetahui bahwa masih terdapat Orangutan Tapanuli di kawasan hutan di Kecamatan Adiankoting yang harus kita lestarikan keberadaannya. Diharapkan peran serta masyarakat disekitar hutan dalam membantu kegiatan konservasi ini agar terjaganya kelestarian habitat dan melindungi Orangutan dari kepunahan. Kawasan Hutan di Kecamatan Adiankoting adalah salah satu yang terluas di Kabupaten Tapanuli Utara yang merupakan habitat Orangutan. Camat Adiankoting meminta kepada warganya yang disampaikan melalui Kepala Desa untuk mengikuti acara dengan serius dan dapat membantu dalam kelestarian hutan sebagai habitat satwa. LSM YEL-SCOP sebagai salah satu mitra BBKSDA Sumut yang giat dalam menyuarakan tentang kelestarian Orangutan dan sudah sangat banyak pengalaman dalam menangani Orangutan. Mereka menjelaskan tentang beberapa konsep dalam melakukan perlindungan dan konservasi Orangutan, yaitu Konsep Koridor membuat koridor ekologis dengan menanam bibit tanaman disepanjang koridor lahan kritis yang bertujuan untuk pemulihan ekosistem hutan. Tim YEL-SCOP juga akan melakukan pemberdayaan masyarakat dengan budidaya Kemenyan sebagai bantuan ekonomi untuk masyarakat sekaligus untuk membantu dalam penghijauan lingkungan terutama di Desa Adiankoting dan Dolok Nauli. Seperti yang kita ketahui Orangutan berperan penting di dalam ekosistem salah satunya meregenerasi tumbuhan yaitu membantu penyerbukan dan penyebaran biji melalui perilaku makanannya. Orangutan merupakan satwa endemik di Indonesia yang harus terus dilestarikan agar terhindar dari kepunahan. Sumber : Riri - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tim Penanggulangan Konflik Satwa SPTN Wilayah II Baserah Musnahkan Sembilan Jerat Satwa

Baserah, Sabtu 22 Februari 2020 - Tim penanggulangan konflik satwa yang terdiri dari Balai TN Tesso Nilo dan Yayasan TNTN yang tengah berpatroli, menemukan jerat satwa yang telah terpasang. Jerat-jerat tersebut terpasang di wilayah buffer zone (merupakan areal green belt PT. RAPP) yang masuk ke dalam wilayah Desa Gunung Melintang (desa penyangga). Patroli pemusnahan jerat memang sedang gencar dilakukan petugas TN Tesso Nilo untuk melindungi satwa-satwa dari oknum-oknum pemburu yang banyak berkeliaran. Jerat-jerat yang terpasang sangat berdekatan dengan jalur lintasan satwa terancam punah gajah Sumatera. Saat menemukan jerat, tim langsung melakukan tindakan pemusnahan dengan mencabut dan memutus jerat yang berjumlah sebanyak 9 (Sembilan) buah jerat. Jerat berbahan tali nilon yang masing-masing sepanjang dua meter tersebut setelah dimusnahkan kemudian diamankan di kantor SPTN wilayah II Baserah. Posisi jerat ditemukan hanya berjarak lebih kurang 1,7 KM dari Kantor SPTN II Baserah. Ketua tim Bapak Amir Hamzah, A.md menyatakan bahwa jerat-jerat tersebut sangat membahayakan satwa. Tim selain melakukan pemusnahan jerat juga melakukan sosilasasi kepada masyarakat agar tidak menggunakan jerat untuk menangkap satwa dikawasan TN Tesso Nilo. Kepala Balai TN Tesso Nilo Bapak Ir. Halasan Tulus mangungkapkan bahwa Balai TN Tesso Nilo memiliki komitmen tinggi dalam memberantas jerat satwa yang dipasang oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, “patroli rutin akan terus kita laksanakan agar tidak ada lagi satwa yang terperangkap dan menjadi korban” terang Kepala Balai. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Penyelamatan 1 Ekor Buaya Muara Di Dusun Pelita Jaya

Seram Bagian Barat, 21 Februari 2020. Berdasarkan informasi dari salah satu Mitra Polhut di kawasan konservasi TWAL Pulau Masegu bahwa ditemukan adanya penangkapan Buaya Muara (Crocodylus Porosus) di Dusun Pelita Jaya, Desa Eti, Kabupaten Seram Bagian Barat. Dengan adanya informasi tersebut, Pihak BKSDA Maluku, dalam hal ini Resort Piru, Seksi Konservasi Wilayah II Masohi Pada Pukul 16.15 WIT menuju ke TKP untuk pengecekan atas informasi tersebut. Pada pukul 16.30 WIT, tim Resort Piru, Seksi Konservasi Wilayah II Masohi tiba di lokasi dan mendapati masyarakat yang berhasil menangkap 1 ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus), kepala Resort Piru melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berhasil menangkap 1 ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) tersebut, bahwa jenis dari satwa ini adalah salah satu jenis satwa yang dilindungi. Dari pengakuan masyarakat Dusun Pelita Jaya, Desa Eti, bahwa buaya tersebut di temukan dan ditangkap di kawasan TWAL (Taman Wisata Alam Laut) Pulau Marsegu. Setelah mendapatkan pengarahan dan sosialisasi dari Kepala Resort Piru, Seksi Konservasi Wilayah II Masohi yang bersangkutan bersedia dengan suka rela menyerahkan satwa tersebut kepada petugas yang ada di TKP. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tim dari Resort Piru, Seksi Konservasi Wilayah II Masohi memutuskan untuk membawanya ke kantor Resort. Hasil identifikasi dari tim Resort Piru, Seksi Konservasi Wilayah II Masohi, 1 ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) terdapat luka robek di bagian leher sepanjang 5 cm dan di bagian kepala sepanjang 2 cm, dengan adanya luka-luka tersebut, tim memutuskan untuk segera melakukan pengiriman satwa tersebut dengan menunjuk salah satu personil untuk melakukan pengawalan ke kantor BKSDA Maluku di Ambon agar mendapat perawatan dan penanganan medis lebih lanjut. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Evakuasi dan Pelepasliaran Bekantan di Resort Jorong

Kintap, 20 Februari 2020 – Resort Jorong Suaka Margasatwa Pelaihari yang dipimpin Kepala Resort Akhmad Fauzan, S.Hut bersama Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Tanah Laut, Polair Marnit Muara Kintap dan relawan Cyber Adventure Indonesia, Muhammad Yusuf, yang juga pengurus ormas Pemuda Pancasila Ranting Muara Kintap melakukan kegiatan evakuasi dan pelepasliaran satwa dilindungi mamalia jenis Bekantan (Nasalis larvatus) di Muara Kintap Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Awal informasi tanggal 20 Februari 2020 pukul 10.10 wita, Kepala Resort Jorong menerima laporan dari call center Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) Jarot Jaka Mulyono, S.Hut., M.Sc dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Mirta Sari, S.Hut., M.P diperoleh bahwa seekor Bekantan terpisah dari kelompoknya dan berenang ke arah laut Muara Kintap kemudian dilakukan upaya penyelamatan oleh Bapak Imam (Polair Marnit Muara Kintap) dan diamankan oleh masyarakat di Pantai Cemara Muara Kintap. Setibanya dilokasi tim Satgas BKSDA Kalimantan Selatan Resort Jorong langsung melakukan pemeriksaan fisik kondisi Bekantan. Bekantan berjenis kelamin jantan (remaja), umur diperkirakan 3 tahun dengan kondisi fisik sehat dan tidak terdapat luka, kemudian pada pukul 14.41 wita petugas gabungan melakukan evakuasi dan pelepasliaran Bekantan dengan menggunakan speed boat Polair Marnit Muara Kintap ke hutan mangrove di muara kintap yang juga habitat Bekantan. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa yang harus dilindungi keberadaannya sehingga untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan hidupnya upaya penyelamatan terhadap satwa liar tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Penanganan evakuasi dan pelepasliaran satwa dilindungi mamalia jenis Bekantan (Nasalias lavartus) dilakukan secara gerak CTM (Cepat Tepat dan Manfaat) sesuai dengan prinsip kerja Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan doc : Noervana Dwi Prasetyo & Mustafa, S.Kom (staf Resort Jorong) Source : Noervana Dwi Prasetyo
Baca Berita

Audiensi Pengembangan Kawasan Bunder Bersama Gubernur DIY

Yogyakarta 24 Februari 2020, Para pihak terkait rencana pengembangan kawasan Bunder siang ini melaksanakan audiensi bersama Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Bertempat di Gedong Gadri, Komplek Kepatihan Danurejan Yogyakarta acara diikuti oleh Kepala Instansi terkait Pemda DIY antara lain Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Kepala UTD Tahura Bunder, serta Kepala Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan yang meliputi Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan PTH, Balai KSDA Yogyakarta dan Balai Pengelolaan DAS Serayu Opak Progo. Audiensi ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut pertemuan sebelumnya yang di gelar di Kantor Dinas Lingkungan Hidup DIY pada Bulan November 2019 yang lalu. Sebagaimana telah disinggung dalam pertemuan sebelumnya, terkait kerjasama penggunaan kawasan Bunder harus dilakukan dengan sepengetahuan dan seizin Gubernur DIY. Dalam audiensi ini, Gubernur DIY menyambut baik dan mendukung rencana pengembangan kawasan Bunder. Lebih lanjut Sri Sultan berpesan agar pengembangan kawasan Bunder hendaknya dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Hal tersebut terkait dengan nilai penting dan nilai historis Bunder bagi DIY, sehingga proses pengembangan dan pembangunan yang dilaksanakan di atas kawasan Bunder tidak boleh merusak apa yang ada di bawahnya. Sementara itu, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi menyampaikan mengenai rencana pengembangan SFF Bunder. “Kawasan SFF Bunder seluas 6,2 Ha merupakan kawasan dengan payung hukum Perjanjian Kerjasama (PKS) tahun 2016 yang berada di dalam kawasan Tahura Bunder dan salah satunya untuk mendukung pengembangan wisata minat khusus. SFF yang menjadi stock center rusa dan rehabilitasi satwa khususnya jenis dilindungi yang diperoleh dari sitaan maupun penyerahan masyarakat perlu didukung dengan penanganan dan ketersedian sarpras yang memadai. Arahan dari Gubernur DIY akan diperhatikan dalam pengembangan SFF Bunder nantinya.” tutur M. Wahyudi. Lebih lanjut M,. Wahyudi menyampaikan harapan kedepan, Balai KSDA Yogyakarta dapat menjadi salah satu unsur pendukung dan inisiator pengelolaan wisata alam dan edukasi dalam segitiga emas di Kabupaten Gunungkidul yang meliput Wanagama- Tahura Bunder dan SFF Bunder. Sumber : Y. Andie Chandra (PEH BKSDA Yogyakarta)
Baca Berita

Enam Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Belajar di TN Gunung Merapi

Sleman, 24 Februari 2020. Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebagai laboratorium alam mempunyai daya tarik tersendiri, tidak hanya bagi pelajar maupun mahasiswa lingkup D.I Yogyakarta, bahkan hingga seluruh Indonesia. Salah satunya adalah 6 (enam) mahasiswa dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka datang ke TNGM dengan maksud mengadakan Praktek Kerja Lapangan selama kurun waktu 1,5 bulan, sejak 16 Januari s.d 26 Februari 2020. Universitas Muhammadiyah Malang merupakan salah satu universitas yang setiap tahunnya rutin mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan Kuliah Praktek Lapangan di TNGM. Dalam kurun waktu tersebut, keenam mahasiswa melakukan beberapa mini riset dengan beberapa judul. Dari 6 mahasiswa, 3 mengambil tema wisata, yaitu “Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Kelompok Wisata Taman Jurang Jero, SPTN Wilayah I, TNGM”, yang dilakukan oleh Dheajeng Arumsari. Kemudian Anggra Saputra melakukan kajian tentang “Identifikasi Pengembangan Potensi Obyek Wisata Tlogo Muncar, TNGM”. Sedangkan Syafiq Anfasa Makmoer melakukan kajian “Pengaruh Wisata Tlogo Muncar TNGM terhadap masyarakat sekitar”. Sedangkan kajian flora dan fauna dilakukan oleh 3 mahasiswa lainnya. “Identifikasi Potensi Satwa Liar Berdasarkan Camera Trap di RPTN Cangkringan” oleh Rosshadian Hafizi S.D. Sedangkan Ando Wahyu Yogatama melakukan kajian “Identifikasi Hama dan Penyakit pada Persemaian Tanaman Gondang (Ficus variegate) di RPTN Cangkringan, TNGM. Selain itu, “Pengaruh Media Tumbuhan terhadap Perkecambahan Biji Tanaman Elo (Ficus racemora) dalam Uji Coba Pembuatan Bibit Tanaman Lokal di RPTN Cangkringan, TNGM” menjadi hal menarik bagi Puspita Nur Rohmah B. Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan oleh keenam mahasiswa telah dinyatakan purna, dengan pelaksanaan seminar hasil praktek pada tanggal 24 Februari 2020, sehingga mereka dapat kembali ke kampusnya masing-masing, dan dapat membagikan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan dari TNGM. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi ***
Baca Berita

Merbabu Nandur 2020

Magelang, 2 Februari 2020. Musim kemarau panjang di Tahun 2019 yang disebabkan fenomena alam (El Nino) menjadikan kekeringan di beberapa wilayah Indonesia termasuk kawasan Gunung Merbabu, ditambah adanya kejadian angin puting beliung yang menyebabkan pohon tumbang kurang lebih 18.000 pohon. Dampaknya sumber air, sungai dan mata air menjadi kering serta ekosistem terganggu. Demi mengembalikan ekosistem Gunung Merbabu, maka Gerakan Merbabu Nandur dengan tema "Melestarikan Alam, Merajut Kebhinekaan" perlu dilakukan. Gerakan didasari dengan kerjasama semua pihak, semangat yang kuat untuk melestarikan alam. Kegiatan penanaman ini dilakukan di Blok Grenden dan sekitarnya. Tidak kurang dari 5000 relawan dari 93 organisasi terlibat dalam penanaman 6000 bibit sebagai salah satu ikhtiar untuk mengembalikan keasrian Gunung Merbabu. Sebelum melakukan penanaman seluruh relawan menyaksikan hiburan topeng ireng dari Desa Pogalan. Dirjen KSDAE, Bapak Wiratno berkesempatan menyerah apresiasi kepada tokoh lokal inspiratif dalam kontrisubinya sebagai pejuang konservasi. Bapak Dirjen juga mengajarkan kita harus berterimakasih kepada pohon, karena sudah memberikan berjuta manfaat kepada umat manusia. Memeluk pohon, mencium serta merawatnya dengan sepenuh hati sebagai bentuk terimakasih kita kepada pohon pohon yang ada. Semangat “Merbabu Nandur” ini menjadi trigger untuk melakukan kegiatan serupa. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Balai Besar KSDA Papua Barat menerbitkan Buku Keanekaragaman Jenis Anggrek di Taman Wisata Alam Sorong

Sorong, 30 Januari 2020. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat telah menerbitkan buku Seri Biodiversitas Papua Barat dengan judul “Orchids of Sorong Nature Recreation Park” yang ditulis oleh Reza Saputra, S.Si (Calon PEH BBKSDA Papua Barat), Dee Dee Al Farishy, S.Si (Universitas Indonesia), dan Dwi Suratman, S.Pd (Penggiat Anggrek Sorong). Sebanyak 58 jenis anggrek asli Papua dengan persebaran di Taman Wisata Alam Sorong secara lengkap terdokumentasikan dan terdeskripsikan dengan baik. Buku ini berhasil diterbitkan pada bulan Oktober 2019 dan telah tercatat dalam katalog nasional dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor ISBN: 978-623-91489-0-4. Buku tersebut telah melalui proses review panjang dari para editor, yakni Dr. Destario Metusala, S.P.,M.Sc. (Peneliti/taksonom Orchidaceae LIPI), Wendy Achmmad Mustaqim, S.Si.,M.Si (Peneliti/taksonom tumbuhan IPB), dan proofreader yakni Taufik Haryanto, S.Hut.,M.Sc (PEH BBKSDA Papua Barat/PhD candidate of Wagenigen University). Pada bulan Januari 2020 buku ini telah selesai proses percetakan dengan bantuan dana cetak dari Wildlife Conservation Society. Buku Orchids of Sorong Nature Recreation Park merupakan hasil dari penelitian inventarisasi anggrek pada kawasan Taman Wisata Alam Sorong oleh Reza Saputra dkk. selama lebih dari 1 (satu) tahun, mulai dari Maret 2018 sampai dengan Juli 2019. Hasil inventarisasi tersebut mencatat 84 jenis anggrek yang terdiri dari 69 jenis epifit, 14 jenis teresterial, dan 1 jenis holomikotropik. Terdapat catatan penting, yaitu semua jenis anggrek yang ditemukan merupakan anggrek alami Papua dengan 36 jenis diantaranya merupakan jenis endemik dan 4 jenis diduga merupakan jenis yang belum dideskripskan secara ilmiah (suspected new species). Buku anggrek TWA Sorong edisi pertama ini belum mengakomodir beberapa jenis yang masih diragukan identitasnya atau belum baik dokumentasi fotonya. Direncanakan pada tahun 2020 akan dilanjutkan penulisan buku edisi kedua dengan penambahan beberapa jenis anggrek, termasuk anggrek jenis baru Dendrobium moiorum Saputra et al. Harapannya buku ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat luas mengenai keanekaragaman jenis anggrek di Papua Barat khususnya di Wilayah Sorong Raya. (RS) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

HPSN 2020: Diperingati Bukan untuk Terulang Kembali, Berbuatlah

Makassar, 21 Februari 2020 – Pada 21 Februari 15 tahun yang lalu, terjadi musibah setelah Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Leuwigajah Cimahi longsor. Akibatnya, 147 orang meninggal dunia. Momen tersebut dijadikan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) untuk menjadi pengingat dan titik awal komitmen secara nasional agar pengelolaan sampah lebih berwawasan lingkungan, salah satunya adalah dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Bencana dari pengelolaan sampah yang buruk juga terjadi akhri tahun 2019 di Makassar Sulawesi Selatan, Selama kurang lebih 15 jam kebakaran melanda tempat penampungan akhir (TPA) Antang di Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Makassar. Kebakaran hebat ini menyisakan asap tebal yang mengitari permukiman dan ruas jalan sehingga mengganggu aktifitas masyarakat. Tidak ada korban jiwa dari bencana ini tapi 10 Ekor sapi dilaporkan mati karena bencana ini. Dampak pengelololaan yang buruk apabila dibiarkan akan menimbulkan bencana yang tidak bisa dihindarkan dimanapun kita berada. Akan tetapi belajar dari sejarah kelam tersebut, BBKSDA SULSEL selaku UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertugas mengelola 15 Kawasan Konservasi berupaya menggerakkan energi positif seluruh warga Kota Makassar sampai warga yang tinggal di dekat Kawasan konservasi untuk berbuat lebih nyata, yaitu merubah paradigma terhadap sampah. Bekerjasama dengan Pemda dan Satker KLHK Sulawesi Selatan serta mitra, Kami membuat jadwal Street Campaign atau Kampanye Jalanan di lokasi strategis untuk lebih dekat dengan masyarakat untuk mengedukasi konservasi dan pengelolaan sampah merupakan salah satunya. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri, M.Sc mengatakan “Awal Tahun 2020 ini kami sudah rapat Bersama mitra-mitra kami, Pemda dan stakeholder lainnya untuk saling berkolaborasi satu sama lainnya untuk terjun ke masyarakat. Mulai dari pembagian bibit, kerja bakti aksi pilah sampah akan kita galakan di tiap street campaign dan Minggu 23 Februari kami akan ada di Car Free Day Jalan Ratulangi Lapangan Sudirman” Jelas Thomas. Street Campaign adalah salah satu contoh giat yang kami lakukan untuk mengubah paradigma berfikir warga kota terhadap sampah, dengan gerakan mengolah sampah mandiri 3 R (reduce, reuse, dan recycle), Menurut Kabag TU BBKSDA Sulsel, Ellyana Said yang juga penulis buku “Merawat Bumi” mengatakan “Prinsip 3 R dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja, yang dibutuhkan adalah waktu dan kepedulian kita terhadap lingkungan,tindakan dan perilaku kita ,bagaimana mengubah perilaku dan cara kita mengatasi masalah sampah ini. Contoh bila kita ke Pasar atau ke tempat belanja, membawa keranjang untuk mengurangi pemakaian kantong plastik, serta mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat (RECYCLE) . Jadikan sampah sebagai kawan yang bisa mendatangkan keuntungan, ujar Ellyana.” Lantas bagaimana dengan warga yang tinggal di sekitaran Hutan atau perbatasan Kawasan konservasi, apakah sama pengelolaan sampahnya ?, Iya!, Sama. Penerapan 3 R mandiri oleh masyarakat sekitar hutan dapat dilakukan. Pengelolaan sampah dan membuat sampah menguntungkan itu ada caranya, salah satunya inovasi yang dilakukan oleh Bidang Wilayah II Pare-pare tepatnya di TWA Lejja, Bersama mitra Bank Sampah Mario binaan Seksi Konservasi Wilayah III di Lounching akhir tahun 2019 lalu. Di Bank Sampah Mario ini warga bisa menabung sampah, berbelanja, dan menjual sampahnya. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Suaka Paruh Bengkok, 64 Burung Paruh Bengkok Sudah Bercincin

Koli, 14 Februari 2020. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) melakukan kegiatan pelatihan penandaan burung paruh bengkok menggunakan cincin (bird banding) di Suaka Paruh Bengkok (SPB), Desa Koli. Kegiatan ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari yang bertujuan untuk memudahkan monitoring satwa yang terdapat di SPB. Bird banding merupakan kegiatan yang dikoordinir langsung oleh Indonesian Bird Banding Scheme (IBBS). Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan bird banding yang nantinya memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi ilmu pengetahuan. Pelatihan ini berjalan selama 2 (dua) hari mulai dari tanggal 12-13 Februari 2020. Peserta pelatihan tersebut adalah serta fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Animal Keeper yang dimonitor langsung oleh Kepala Balai TNAL, T. heri Wibowo. Narasumber atau pelatih dalam pemasangan cincin adalah Dudi Nandika dari Trainer Bird Banding - Konservasi Kakatua Indonesia. Pelatihan dibuka oleh Kepala Balai yang dilanjutkan penyampaian materi terkait bird banding oleh Dudi Nandika. Menurutnya bird banding memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah burung lebih mudah dimonitor ketika pasca pelepasliaran. "IBBS merupakan program yang didirikan pada tahun 2007 oleh para peneliti burung, LIPI, dan Persatuan Ornitologi Indonesia (idOU). Program ini untuk mengontrol segala aktivitas Bird Banding, khususnya di Indonesia. Bird Banding sendiri memiliki manfaat yang banyak bagi ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah kemudahan untuk memonitor burung pasca realese" tutur Dudi Nandika. Kepala Balai TNAL berharap petugas di Suaka Paruh Bengkok dapat meningkatkan kemampuannya dalam hal bird banding, sehingga pengelolaan Suaka Paruh Bengkok kedepannya menjadi lebih baik. "Kedepannya diharapkan ketika pasca realese, burung-burung tersebut dapat termonitor dengan baik mulai dari informasi morfologi hingga daya jelajahnya". kata Heri. Sumber : Aries Rafli – Calon PEH Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BBKSDA Sumut Peringati HPSN 2020 di SD Darma Medan

Medan, 24 Februari 2020. Siswa/siswi Sekolah Dasar (SD) Darma Medan, Jln. Karya Sehati No. 6 Kecamatan Medan Johor, menyambut kehadiran rombongan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang dipimpin Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP., pada Jumat 21 Februari 2020. Turut hadir dalam rombongan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Samuel Siahaan, SP. (Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit/PEH Pertama), Eva Suryani Sembiring, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Pertama), dan Evansus R. Manalu (Analis Data Kehumasan). Kepala Sekolah SD Darma Medan, Zainal Ma’ruf, BA., S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan kegembiraannya atas kepercayaan yang diberikan kepada SD Darma Medan untuk tempat penyelenggaraan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2020 “SD Darma Medan secara bertahap dan kontinyu sudah mulai menggalakkan kepedulian siswa/i terhadap masalah sampah, karena berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Kedepan kami akan terus berbenah dan berharap adanya dukungan serta pendampingan dari pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara,” ujar Zainal Ma’ruf. Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP., mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam arahannya menyampaikan pentingnya membangun kepedulian terhadap masalah sampah yang sebaiknya dimulai sedini mungkin melalui dunia pendidikan/edukasi. “Saya bangga siswa/i SD Darma Medan sudah mulai peduli dengan masalah sampah dan bahkan sudah melakukan pengolahan sampah dengan berbagai kreasi. Kreativitas pengolahan sampah menjadi barang-barang yang dapat dimanfaatkan kembali, nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan karena mempunyai nilai ekonomis,” ujar Mustafa. Melihat kepedulian SD Darma Medan, yang bukan hanya pada kegiatan HPSN 2020, tetapi juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lainnya, seperti penampilan tari Go Green pada kegiatan Peringatan HCPSN Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tahun 2018, kegiatan 9th Indonesia Climate Change Forum & Expo 2019 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta kegiatan Kemah Konservasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tahun 2019, Mustafa Imran Lubis mengharapkan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan SD Darma Medan dapat menjalin Perjanjian Kerjasama dalam pengembangan Pendidikan Konservasi Alam sebagaimana yang telah ada. Berbagai rangkaian kegiatan memeriahkan Peringatan HPSN 2020 digelar, seperti : demonstrasi pilah sampah, yel-yel siswa/i kampanye peduli sampah, tarian etnis Jawa tentang perambahan hutan, teatrikal “Jangan Jadikan Sampah Sebagai Wabah”, penyerahan piagam penghargaan atas kepedulian SD Darma Medan oleh Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe, penyerahan kenang-kenangan kepada tim teatrikal serta Pameran hasil karya pengolahan dan pemanfaatan sampah oleh siswa/i dan guru-guru SD Darma Medan. Sumber : Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kepala Bidang Konservasi Wilayah I kabanjahe, Kepala Sekolah SD Darma Medan dan guru pembina memperlihatkan hasil karya siswa/i dan guru dalam pengolahan dan pemanfaatan sampah Kepala SD Darma Medan dengan bangga menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe (gbr kiri) dan foto bersama dengan penerima penghargaan tim teatrikal SD Darma Medan (gbr kanan)
Baca Berita

Peringatan HPSN 2020 di Gunung Wanggameti

Wanggameti, 22 Februari 2020. Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari merupakan momentum bagi masyarakat luas untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah sampah. Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) juga mengajak masyarakat turut serta dalam membangun kesadaran dan memelihara momentum HPSN ini dengan kegiatan bersih sampah dan penanaman. Kegiatan HPSN di TN Matalawa dilakukan di sekitar Gunung Wanggameti dengan terlebih dahulu melakukan penanaman di lereng gunung yang berbatasan dengan Desa Katikuwai. Hadir dalam kegiatan ini seluruh petugas dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Matawai Lapau, Sekretaris Camat, Kepala Desa Wanggameti dan Katikuwai, Babinsa dan Babinkamtibmas, serta siswa SMP Satu Atap Langira yang letaknya tidak jauh dari lokasi penanaman. Sebanyak 300 bibit yang terdiri dari bibit pinang, kadimbil, langaha, dan asam, habis ditanam oleh para peserta yang hadir. Kegiatan dilanjutkan dengan pembersihan di sekitar shelter jalur pendakian Gunung Wanggameti oleh para siswa SMP dan para petugas TN Matalawa. Tumpukan sampah yang ditemukan cukup banyak karena shelter ini terletak di pinggir jalan utama transportasi yang dijadikan tempat beristirahat para pengendara motor. Sebelum memulai pembersihan, anak-anak SMP diberikan sosialisasi tentang pentingnya kesadaran menjaga lingkungan dari sampah plastik. Selain itu, mereka juga diberikan pemahaman pentingnya keberadaan kawasan Taman Nasional Matalawa bagi sumber kehidupan masyarakat. Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

Aksi Nol Sampah Pendakian Merbabu dalam Rangka HPSN 2020

Selo, 21 Februari 2020. Memepringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2020 dengan tema “Wujudkan Indonesia Bersih, Indonesia Maju dan Indonesia Sejahtera”, Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu melakukan giat bersih sampah di Pos 3 sampai Sabana 1 Jalur Pendakian Selo. Kegiatan dilakukan oleh Petugas dari Balai TN Gunung Merbabu, KPA Rajawali dan para volunteer merbabu. HPSN yang diperingati setiap tanggal 21 Februari merupakan momentum bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap sampah menuju “Indonesia Bersih, Maju dan Sejahtera”. Lebih dari 30 kantong trashbag dengan perkiraan berat ±317 kg sampah berhasil dikumpulkan. Jalur Pendakian Selo, TN Gunung Merbabu berupaya mewujudkan kegiatan pendakian menuju zero waste. Pada saat registrasi, pendaki mengisi form peralatan, logistik dan obat-obatan. Isian form tersebut dijadikan acuan pengecekan saat briefing. Pada saat briefing petugas dibantu oleh para volunteer melakukan pengecekan barang bawaan. Para pendaki diberikan informasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organik dapat dikubur (kedalaman 10-15 cm) di dekat pohon, sedangkan untuk sampah anorganik harus dibawa turun kembali. Setelah pendaki turun akan dilakukan pengecekan sampah sesuai isian form. Sampah tersebut dipilah dan dikelompokkan, misalnya sampah kaleng, botol, dan plastik. Beberapa sampah dapat dimanfaatkan untuk asbak puntung rokok bagi pendak. Inovasi terakhir yang dilakukan dalam pengelolaan sampah yaitu membuat ecobrick. Untuk sampah yang tidak dapat dimanfaatkan akan dibakar di tungku pembakaran. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Tim Gabungan Berhasil Evakuasi si Hidung Mancung

Pelaihari, 24 Februari 2020. Kepala Dinas Kehutanan Bapak Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut, MP mengarahkan agar setiap satwa liar yang dilindungi harus dijaga dan di pertahankan keberadaannya agar tidak punah sehingga keseimbangan alam tetap terjaga. Sehubungan dengan hal tersebut Tim gabungan dari Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Tanah Laut, BKSDA Provinsi Kalimantan Selatan Seksi Konservasi Wilayah 1 Pelaihari bersama relawan Cyber Adventure Indonesia melakukan evakuasi dan melapasliarkan si hidung mancung Bekantan (Nasalis Larvatus) di Pantai Cemara Muara Kintap, Kamis, 20 Februari 2020. Sebelumnya, Rabu malam, informasi diperoleh melalui masyarakat setempat bahwa telah ditemukan dan diamankannya Bekantan oleh warga, informasi penting tersebut segera ditindaklanjuti melalui relawan Cyber Adventure Indonesia, Muhammad Yusuf, yang juga pengurus ormas Pemuda Pancasila Ranting Muara Kintap. Setelah dipastikan kebenarannya, petugas dari KPH Tanah laut dan segera bergerak melakukan koordinasi dan menuju lokasi untuk mengevakuasi Bekantan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. Pemerintah dalam hal ini KPH Tanah Laut dan BKSDA Provinsi Kalimantan Selatan memberikan apresiasi kepada warga yang telah memberikan izin kepada petugas untuk melepasliarkan kembali Bekantan yang ditangkapnya, petugas juga melakukan edukasi perlindungan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) kepada warga yang berkerumun di lokasi. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari, Mirta Sari bersama kepala Resor Suaka Margasatwa Jorong Akhmad Fauzan, mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam evakuasi, “Dengan reaksi cepat dan koordinasi yang baik semua pihak khususnya KPH, SKW I dan masyarakat setempat proses evakuasi dapat berjalan dengan baik dan lancar” jelas Mirta. “Peran serta petugas hukum di wilayah Muara Kintap khususnya dari Polair Marnit Muara Kintap sangat diperlukan dalam perlindungan satwa khususnya Bekantan” tambah Fauzan. Eka Prasetya selaku Head Officer Project Cyber Adventure Indonesia, NGO lingkungan yang terlibat langsung dalam proses awal pengumpulan informasi dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait memberikan apresiasi atas kerja cepat dan tanggap semua pihak dalam menjaga keanekaragaman hayati Kalimantan khususnya Bekantan. “Tanpa adanya kerjasama semua pihak akan susah bagi kita merawat dan menjaga kelestarian alam” pungkasnya. Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

Dua Warga Serahkan Binturong dan Kucing Akar ke BBKSDA SUmut

Medan, 24 Februari 2020. Kepedulian warga terhadap penyelamatan satwa liar dilindungi undang-undang, khususnya di Sumatera Utara belakangan ini semakin tinggi, ditandai dengan semakin aktifnya warga menyerahkan satwa liar kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Bermula pada Jumat, 14 Februari 2020, M. Ilham Maulana, warga Jln. Gunung Pusuk Buhit, Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, menyerahkan 1 (satu) individu Binturong ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Menurut penjelasannya, Binturong tersebut diperolehnya dari temannya di Banda Aceh. Namun salah seorang warga yang adalah petugas Dinas Kehutanan, mengingatkannya bahwa satwa tersebut jenis dilindungi dan sebaiknya diserahkan kepada pihak Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Atas dasar itulah kemudian Ilham Maulana menghubungi pihak Balai Besar KSDA Sumatera dan menyerahkan Binturong tersebut. Saat ini keberadaan Binturong dititipkan di PPS Sibolangit untuk menjalani proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan. Berlanjut pada Senin, 17 Februari 2020, Nusa E. Putra, ST., warga Comp. Citra Wisata, Kelurahan Pangkalan Mansur, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, menyambangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara guna menyerahkan 1 (satu) individu Kucing Akar. Kucing Akar ini diperolehnya dari seorang teman sesama pendaki gunung di Stabat, Kabupaten Langkat. Namun seperti Ilham Maulana, setelah dia mengetahui bahwa Kucing Akar ini termasuk dilindungi, segera menghubungi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan menyerahkan Kucing Akar tersebut. Saat ini pun keberadaan Kucing Akar dititipkan di PPS Sibolangit untuk proses rehabilitasi. Sumber : Iqbal & Agus - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Resort Duri BBKSDA Riau Meski Hari Libur Tetap Melakukan Patroli Di SM. Balai Raja

Pekanbaru, 22 Februari 2020. Resort Duri mengisi hari liburnya dengan tetap melakukan patroli di SM.Balai Raja. Tak lupa sosialisasi kepada masyarakat tentang kawasan konservasipun disampaikan. Tim mengajak masyarakat melakukan penanaman bersama bibit Mahoni, Pulai, Jengkol, Cempedak, dan Matoa di areal lahan ubi yang telah dipanen di dalam kawasan SM. Balai Raja. Jumlah bibit yang ditanam 150 batang. Tim dan masyarakat terlihat sangat bersemangat untuk menghijaukan kembali kawasan konservasi yang sempat menjadi gersang tersebut. Teriknya matahari tak menjadi penghalang mereka untuk melakukan penanaman. Agar kawasan konservasi tersebut tidak kembali dirambah masyarakat, Tim melakukan pemasangan rambu rambu kawasan di sekitar areal penghijauan. Mari hijaukan kembali kawasan konservasi kita, agar hutan Sumatera dan hutan hutan di Indonesia tetap menjadi paru paru dunia. Sumber: Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 3.953–3.968 dari 11.140 publikasi