Kamis, 7 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sang Raja Hutan Mati Terjerat

Bengkulu, 19 Februari 2020 - Pukul 22.30 BKSDA Bengkulu melalui petugas Seksi Konservasi Wilayah II menerima laporan dari masyarakat Desa Selingsingan Kec. Seluma Utara Kab. Seluma dan personil Polres Seluma, bahwa telah menemukan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) mati terjerat. Pada esok paginya Tim Wildlife Respon Unit (WRU) BKSDA Bengkulu bersama personil Polres Seluma serta masyarakat menuju lokasi untuk dilakukan evakuasi. Lokasi satwa dilindungi tersebut terjerat berada di dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bukit Badas, berjenis kelamin Betina dengan ukuran panjang tubuh 190 cm dan tinggi 70 cm diperkiran berusia ± 2 tahun, terjerat pada bagian leher dan diperkirakan mati terjerat sudah lebih dari 3 (tiga) hari. Dengan kondisi yang telah membusuk selanjutnya dievakuasi ke kantor BKSDA Bengkulu untuk diambil sampel uji DNA dan dokumentasi corak belang/lorengnya guna proses identifikasi dan selanjutnya dikuburkan. Ancaman perburuan menggunakan jerat menjadi pemicu utama kematian dan kehilangan individu Harimau Sumatera di Bengkulu. Berdasarkan data 2007-2020 Harimau korban jerat yg berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup oleh BKSDA Bengkulu sebanyak 6 ekor terdiri dari 1 ekor betina di Kab. Bengkulu Utara, 1 ekor betina di Kab. Mukomuko, 1 ekor jantan di Kab. Lebong; 1 ekor betina di Kab. Kaur; 1 ekor betina di Kab. Seluma dan 1 ekor jantan di Lampung. Dengan tingginya ancaman diharapkan kepada semua pihak untuk dapat terlibat dan mendukung dalam pelestarian satwa dilindungi endemik Pulau Sumatera ini. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Akhirnya “Aku” Dapat Hidup Liar, Kukang Sumatera Kembali ke Habitatnya

Bandar Lampung, 21 Februari 2020 - Pelepasliaran satwa merupakan tahap akhir dalam proses rehabilitasi dalam rangka penyelamatan satwa liar hasil sitaan maupun penyerahan masyarakat, yang salah satunya adalah jenis Kukang Sumatera (Nycticebus coucang). Kukang adalah salah satu satwa liar yang dilindungi Undang_undang, dimana baru-baru ini BKSDA Bengkulu melalui Seksi Konservasi Wilayah III Lampung bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) melepasliarkan satwa yang dikenal juga satwa Malu-malu ini ke lokasi habitat yang cocok dan aman di dalam Kawasan Hutan Lindung Register 39 KPHL Batutegi, Kabupaten Tanggamus. Sebelumnya individu kukang yang dilepasliarkan ini adalah hasil sitaan dan penyerahan masyarakat sepanjang tahun 2019 yang berjumlah 15 individu dan telah melalui tahapan proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Lampung BKSDA Bengkulu di Bandar lampung. Di antara individu kukang tersebut ada juga yang merupakan hasil patroli petugas Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Pringsewu bersama mitra PLN PT. Sarwa Karya Wiguna di Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran, Provinsi Lampung. Hifzon Zawahiri, S.E.,M.M., selaku Kepala SKW III BKSDA Bengkulu menjelasakan “Menurut penuturan tim patroli PLN, kukang-kukang tersebut dievakuasi dari jalur kabel listrik karena berpotensi menimbulkan kerusakan dan gangguan yang dapat berujung pada pemadaman di sejumlah wilayah”. Kejadian kukang tersengat listrik sering terjadi di sejumlah lokasi di beberapa kabupaten di Provinsi Lampung. Untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak PLN dan YIARI guna mendapatkan solusi terbaik bagi kelestarian satwa liar kukang serta pelayanan kelistrikan oleh PLN tetap berjalan baik. Sumber: Irhamuddin (PEH) - Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Patroli Sapu Jerat Satwa Liar Bersama Para Pihak

Bengkulu, 25 Februari 2020 - Pasca ditemukannya 1 ekor Harimau Sumatera mati terjerat di Kab. Seluma Provinsi Bengkulu, BKSDA Bengkulu mendapat dukungan dari banyak pihak untuk melakukan patroli sapu jerat bersama di sekitar lokasi jerat. Personil patroli gabungan ini berjumlah 45 orang dengan dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Seluma dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II-BKSDA Bengkulu bersama personil SKW II BKSDA Bengkulu (16 personil), Unit Reskrim Polres Seluma (5 personil), Babinsa, Babinkamtibmas, Perangkat desa dan masyarakat Desa Selingsingan (13 orang), satgas masyarakat peduli konflik satwa liar Desa Mekar Jaya (2 orang), Lembaga non Pemerintah WCS-IP (3 orang), dan Karyawan PT. Metatani Palma Abadi (6 orang). Dari patroli ini Tim berhasil menemukan 2 (dua) jerat aktif yang masih terpasang dan 3 (tiga) jerat yang sudah tidak aktif. Untuk selanjutnya temuan jerat-jerat tersebut diamankan dan dievakuasi ke Polres Seluma untuk tindakan/pemeriksaan lebih lanjut. Dengan melihat hasil dari pelaksanaan patroli bersama, selanjutnya BKSDA Bengkulu dengan dukungan dan kemauan para mitra (masyarakat, Lembaga non Pemerintah “WCS-IP”, dan private sector/Perusahaan di sekitar kawasan hutan) akan secara rutin dan/atau berkala melakukan kegiatan sapu jerat, baik pada kawasan konservasi, Hutan Lindung/Hutan Produksi, konsesi perusahaan, maupun lahan masyarakat (APL). Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Buku Jenis Burung di Cagar Alam Pulau Sempu, Telah Terbit !!!

Kamis, 27 Febuari 2020 - Balai Besar KSDA Jawa Timur menerbitkan sebuah buku mengenai keanekaragaman jenis burung di Cagar Alam (CA) Pulau Sempu. Buku yang berjudul “Keanekaragaman Jenis Burung di Cagar Alam Pulau Sempu” tersebut ditulis oleh Hari Purnomo, Agus Irwanto, Bagus Suseno, Fajar DNA, Resia Hindriatni, Setyadi, Edy Kurnia, Ardiyanto, dan Tulus Pambudi. Setidaknya ada 51 jenis yang berhasil diabadikan tim dari sekitar 110 jenis burung yang teridentifikasi menghuni cagar alam ini. Menurut Nandang Prihadi, Kepala Balai Besar KSDA Jatim, bahwa penerbitan buku ini menjadi salah satu upaya untuk melestarikan burung yang ada di CA. Pulau Sempu, selain kegiatan identifikasi dan inventarisasi tentunya. “Tidak kurang ada 110 jenis burung dari 46 Famili di Cagar Alam Pulau Sempu (CAPS), ini mengindikasikan bahwa kondisi hutan dan keragaman jenis burung di cagar alam masih terjaga”, imbuh Nandang. Buku ini menjadi wadah bagi teman-teman Resort Konservasi Wilayah 21 Pulau Sempu yang sering mengabadikan satwa-satwa di CAPS saat melaksanakan pengamanan kawasan. Pun demikian bagi beberapa pegawai dan staf yang memiliki hobi fotografi satwa liar. “Memang kami belum berhasil mengabadikan seluruh burung yang teridentifikasi di CAPS. Namun besar harapan kami di masa mendatang dapat melengkapinya”, ujar Hari Purnomo, Kepala Resort Konservasi Wilayah 21 Pulau Sempu. Buku setebal 117 halaman tersebut dicetak dengan full colour serta dilengkapi dengan keterangan satwa di setiap halamannya. Menariknya, seluruh foto pada buku ini dihasilkan dari kamera Prosumer. Meski demikian tim tidak patah arang dengan keterbatasan peralatan kamera yang ada. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mangrove di Taman Nasional Taka Bonerate Beda

Taman Nasional Taka Bonerate - Kepulauan Selayar (Rabu, 26 Februari 2020). Mangrove di Taman Nasional Taka Bonerate terbilang hanya sedikit, luasannya juga tidak mencapai sepertiga hektar. Dari 17 pulau yang ada hanya 3 pulau yang memiliki tumbuhan mangrove, yaitu di Pulau Tarupa Kecil, Pulau Latondu Besar dan Pasitallu Timur. Dipulau Pasitallu Timur teridentifikasi jenis Rizhopora sp pada genangan air laut yg terperangkap di tengah pulau seperti pada gambar berikut. Walaupun belum membentuk satu kesatuan ekosistem yang memberi manfaat sebagaimana signifikan, layaknya habitat mangrove, tetapi telah memberi pelajaran kekita bahwa sebagai akibat perlindungan Kawasan Pelestarian Alam, terjadi peningkatan jenis tumbuhan mulai dari vegetasi perintis sampai munculnya vegetasi lanjutan, saling berasosiasi dengan formasi tanaman pantai lainnya. Di Pulau Tarupa Kecil bahkan usianya sudah mencapai puluhan tahun bahkan kemungkinan sudah mencapai umur ratusan tahun. Tumbuhnya mangrove di TN. Taka Bonerate merupakan sesuatu hal yang unik karena secara fisik tidak tersedia air tanah tawar yang berfungsi menjaga keseimbangan kadar garam pada habitatnya, selain itu media tumbuhnya adalah tanah berpasir sebagaimana umumnya daratan pembentuk pulau di Taka Bonerate, tanah berpasir bukanlah sedimen tempat tumbuh ideal untuk mangrove. Bahkan ada yang tumbuh dicela-cela batu yang berada di pinggir pantai. Tumbuh satu-satu tertancap secara alami. Menurut Riswayati (2014) manfaat dan fungsi hutan mangrove antara lain: Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi, Menahan badai/angin kencang dari laut, penghasil O2 dan penyerap CO2, menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan, tempat memijah dan berkembang biaknya ikan, kerang, kepiting dan udang, tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak dari burung dan satwa lain dan Tempat wisata, penelitian & Pendidikan. Mangrove adalah hal biasa, tetapi menjadi luar biasa ketika tumbuh dan membentuk populasi diluar habitatnya. Seperti mangrove yang ada di tempat Kami, Taman Nasional Taka Bonerate. Nah, di tempatmu ada mangrove seperti ini?? (Sumber Teks : Saleh Rahman - PEH, Foto : Khoirul Anam - PEH, Editor : Asri - PEH)
Baca Berita

Sinergitas Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api Jadi Strategi Unggulan Pencegahan Karhutla di TaNa Bentarum

Semitau, Selasa 25 Februari 2020. Dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan, Manggala Agni Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhut) Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Rapat koordinasi diselenggarakan di Mako Brigdalkarhutla yang dihadiri oleh seluruh anggota Manggala Agni Semitau, Kepala Seksi dan Kepala Resort lingkup Bidang PTN Wilayah III Lanjak. Agenda yang dibahas adalah evaluasi kegiatan pengendalian karhutla tahun 2019 dan penyusunan strategi pengendalian karhutla tahun 2020. Dalam sambutan sekaligus membuka acara rakor, Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak Gunawan Budi menyatakan “ Bahwa kebakaran hutan dapat dicegah apabila kita dapat mendeteksinya secara dini. Selain itu, diperlukan strategi pencegahan kebakaran hutan yang tepat agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Peta kerawanan karhurla dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan strategi dalam pengendalian karhutla.” Kepala Brigdalkarhut BBTNBKDS, Ade Arief menambahkan bahwa tantangan terkait pengendalian kebakaran hutan di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) semakin besar sehingga perlu perencanaan yang matang dan penentuan strategi pengendalian kebakaran hutan yang tepat. Output yang dihasilkan dari rapat koordinasi ini adalah Update peta rawan kebakaran kawasan TNDS, Pembuatan peta rawan kebakaran masing-masing resort lingkup TNDS, dan Peta rencana titik-titik posko pantau di lapangan untuk tahun 2020. Selain itu, dalam rapat koordinasi ini juga berhasil dirumuskan Prioritas Strategi Pengendallian Karhutla di TNDS untuk Tahun 2020, yaitu Pendirian pos induk lapangan sebanyak 9 pos dan pos pantau sebanyak 21 pos yang merupakan titik-titik yang rawan karhutla, dengan gabungan dari personil resort, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA), Intensivitas patroli pencegahan berbasis MPA/MMP, Intensivitas patroli terpadu untuk menjangkau lokasi-lokasi di luar kawasan yang berbatasan langsung dengan TNDS yang rawan karhutla, serta Sinergitas patroli udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Dalam penutupan rapat koordinasi, Gunawan berpesan agar seluruh elemen bersinergi dengan baik guna mencegah kebakaran hutan. "Rumusan hasil rapat koordinasi ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam pengendalian karhutla di kawasan TNDS" pungkasnya. Sumber: Balai Besar TN Bentarum
Baca Berita

Batik Ecoprint?

Kamis, 20 Febuari 2020 - Sebanyak 13 orang seniman dari komunitas Ecoprint se-Jabodetabek yang diketuai oleh Gayatri Budiarni W. istri dari Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan, dan Perubahan Iklim – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menggelar acara praktik printing dari bahan alami di kawasan wisata Resort PTN Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menurut Gayatri, ecoprint yang berasal dari Turki ini mulai diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 2016 lalu. Pada saat pelaksanaan praktek di TIC (Tourist Information Center) Resort PTN Situgunung, Miko sebagai mentor, mengatakan bahwa teknik printing ini dapat dikatakan tidak mudah, namun mempunyai keunggulan tersendiri, terutama ramah terhadap lingkungan, disamping nilai jual yang cukup tinggi. Dalam ecoprint, tidak digunakan bahan dasar tinta seperti printing pada umumnya, warna-warni yang dihasilkan berasal dari bahan alami yaitu getah dedaunan. Proses pembuatan batik dengan ecoprinting terbagi menjadi beberapa tahap, mulai penyiapan alat dan bahan, perlakuan pada kain yang akan diberi gambar, perlakuan pada dedaunan yang akan dijadikan pola dan pemberi warna, pengukusan kain sampai penjemuran. Pada tahap persiapan, dikumpulkan berbagai bahan, antara lain: (1) kain dengan serat alami seperti katun, sutera, atau kanvas; (2) plastik untuk membungkus; (3) daun-daunan; (4) campuran air tawas; (5) larutan cuka (cuka biang 70%); (6) pipa PVC 1,5 inchi sepanjang 1 m; (7) tali jenis plastik; dan (8) panci untuk mengukus. Langkah selanjutnya adalah merendam kain dengan air tawas selama 1 (satu) hari untuk membuang lilin yang terkandung pada kain, dan untuk mengawetkan pewarna dari bahan yang dihasilkan. Kemudian rendam daun dalam larutan cuka agar zat warna daun keluar secara maksimal. Bentangkan kain yang sudah direndam di atas alas lalu tempelkan daun-daunan sesuai dengan keinginan. Setelah itu gulung kain tersebut dengan pipa paralon lalu ikat dengan tali. Langkah berikutnya adalah mengukus kain tersebut selama 2 jam. Setelah selesai proses pengukusan, angkat, dan bentangkan kembali kain, lepaskan daun secara perlahan, dan yang terakhir jemur kain ecoprint hingga kering. Menurut Asep Suganda, Kepala Resort PTN Situgunung, kegiatan praktek ini bertujuan untuk memperkenalkan ecoprinting, dalam pembuatan batik ramah lingkungan dan sejalan dengan prinsip konservasi. Lebih lanjut Asep mengatakan, “Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai kawasan konservasi juga menyediakan berbagai macam bahan alam yang terdiri dari berbagai bentuk daun, buah, dan bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ecoprint, tentunya sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku”. Salam lestari. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks dan Dok: Purnama P.S.
Baca Berita

SKW III TANAH BUMBU BERSAMA KARANTINA PERTANIAN AMANKAN SATWA DILINDUNGI

Batulicin, Senin 24 Februari 2020 - Anggota Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Banjarmasin yang stand by di pos penjagaan Pelabuhan Samudra Batulicin mendapati seorang penumpang yang membawa Seekor Burung Perkici Pelangi. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor. P. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, maka Burung Perkici (Trichoglossus haematodus) merupakan satwa yang dilindungi keberadaannya untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan hidup. Menurut informasi dari tim Karantina Batulicin bahwa Burung Perkici tersebut dibawa dari Kota Ambon dengan Kapal Ferry Dharma III jurusan Makasar-Batulicin. Setelah dilakukan penyitaan, burung diperiksa dan dinyatakan sehat oleh Drh. Rima Hasmi Firdiati dari Balai Karantina Batulicin. Kepala Seksi Konservasi Wilayah 3 Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, SP, M.Sc menunjuk Petugas Muhammad Tejar dan Agus untuk menyita Burung Perkici karena telah melanggar Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi sumber Daya Alam dan Ekosistem. Setelah penyitaan, Petugas BKSDA Kalsel SKW III Batulicin Bersama dengan Balai Karantinan membawa burung untuk dititip rawatkan kepada Lembaga Konservasi Jhonlin Lestari yang diterima oleh bapak Hendri, agar burung tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik. Penyitaan dilakukan sebagai upaya penyelamatan terhadap satwa liar dan tumbuhan yang dilindungi Undang-Undang, sudah jadi tugas dan fungsi Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Tugas dilakukan secara CTM (Cepat,Tepat dan Manfaat), sesuai dengan prinsip kerja yang tanamkan oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M. Sc source & doc : Muhammad Tejar (Polhut SKW 3 Batulicin - BKSDA Kalimantan Selatan Agus Eko Supratmanto
Baca Berita

Gandeng Biro Humas KLHK dan Jurnalis, BKSDA Ingin Tingkatkan Bidang Jurnalistik

Jambi - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi mengadakan kegiatan peningkatan kapasitas SDM di bidang jurnalistik. Kegiatan berlangsung pada Selasa (25/02/2020) di ruangan aula Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Batanghari. BKSDA Jambi sendiri menggandeng Biro Humas KLHK dan jurnalis dari media ternama seperti Kompas dan TV One untuk menjadi narasumber di kegiatan tersebut. Kegiatan ini diikuti oleh pegawai lingkup BKSDA Jambi dan beberapa undangan yaitu dari BPDASHL Batanghari dan BPHP. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kesehariannya, BKSDA Jambi melakukan banyak kegiatan baik itu di dalam kantor maupun di lapangan. BKSDA Jambi memiliki 3 seksi wilayah yang mana tiap seksi memiliki kegiatan yang berbeda-beda. Banyak kegiatan BKSDA Jambi yang bisa diekspos ke masyarakat, agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat dengan BKSDA Jambi. Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB dimana langsung dibuka sendiri oleh Kepala BKSDA Jambi. Berlangsung selama kurang lebih 6 jam, kegiatan berjalan lancar dan menarik. Narasumber memaparkan masing-masing materi mereka tentang jurnalistik, bagaimana membuat sebuah informasi menarik dan cara menyampaikan informasi yang benar. Para peserta juga memberikan feedback dengan melakukan tanya jawab kepada narasumber. Diharapkan kegiatan ini dapat menambah wawasan para peserta tentang kegiatan jurnalistik dan kedepannya peserta dapat membuat sebuah informasi menjadi berita yang baik dan menarik untuk disimak. Sumber: BKSDA Jambi
Baca Berita

Kondisi Banjir Tidak Menjadi Kendala Dalam Kegiatan Penyadartahuan Dengan Warga Kelurahan Kebon Baru

Jakarta - 25 Februari 2020, Jakarta kembali terendam banjir dengan intensitas hujan deras yang mengguyur Jakarta semenjak dari kemarin malam. Hal ini mengakibatkan sebagian pemukiman warga Jakarta juga terkena akibatnya, ini juga terjadi pada warga Keluarahan Kebun Baru, Kecamatan Tebet – Jakarta Selatan. Akan tetapi dengan segala kendala yang dialami, warga Kebon Baru tetep semangat datang untuk mengikuti kegiatan penyadartahuan/ sosialisasi yang diadakan di Aula Kelurahan Kebon Baru. Kegiatan tersebut dihadiri dari perwakilan RT/RW, PPSU, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), tokoh masyarakat dan Kelompok Tani Sekar Kedaton sebanyak 30 (Tiga Puluh) orang. Dalam kesempatan ini kami dipandu/moderator oleh Yuga Ferdiana (Kepala Seksi Ekonomi dan Pengembangan Kelurahan Kebon Baru). Dalam Undang-undang Nomor: 5 tahun 1990 konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan masyarakat. Mengutip tujuan dari 10 cara baru dalam mengelola kawasan konservasi yaitu “tujuan pengelolaan kawasan konservasi agar dapat memberikan manfaat jangka pendek sekaligus menjamin nilai-nilai kemanfaatan jangka lintas generasi” imbuh Rachmat (Kepala Resort Jakarta Selatan). Manusia tidak bisa hidup tanpa sumber daya alam, dengan meningkatnya jumlah populasi manusia yang semakin meningkat maka kita akan membutuhkan sumber daya alam tersebut. Saatnya untuk ikut memikirkan secara serius terkait upaya-upaya perlindungan, kelestraian alam dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan khususnya. Menjaga ekosistem sumberdaya alam bukan hanya dari hulunya saja, akan tetapi sepanjang hulu sampai ke hilir juga kita wajib menjaganya, sehingga kedepan kita tidak lagi mengalami bencana yang terjadi seperti sekarang ini ujar Calon Penyuluh Kehutanan Muda ini berkata (Sri Mulyani). Dalam hal ini juga di tambahkan bahwa Provinsi DKI Jakarta masih memiliki ekosistem mangrove yang sangat baik di sekitar Jakarta Utara dengan luas Taman Wisata Alam Angke Kapuk 99,82 Ha dan Suaka Marga Satwa Muara Angke 25, 02 Ha. Menurut Kusmedi (Polisi Kehutanan) menambahkan salah satu tujuan penyadartahuan hari ini bukan saja, akan tetapi juga memberikan pengetahuan dan penambahan nilai-nilai lingkungan yang dapat ditanamankan kepada masyarakat, terutama dalam pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar terutama yang dilindungi undang-undang.Karena kriteria satwa liar yang dilindungi adalah terjadinya penurunan tajam pada jumlah individu yang berada pada habitatnya di alam, hal ini tercantum dalam peraturan Pemerintah Nomor 106 Tahun 2018 ujar bapak tiga anak menambahkan. Tumbuhan dan satwa liar memang sebuah issue yang sensitive untuk dibicakan, akan tetapi penting bagi kita untuk menjaga populasinya di habitatnya. Hal ini manjadi salah satu upaya dalam perlindungan sistem penyangga kehidupan dan mempunyai peran penting untuk dapat di perkenalkan ke anak cucu kita kelak ujar peserta kegiatan penyadartahuan hari ini (Weni perwakilan warga RW 13 Kebon Baru). Sumber: Sri Mulyani (Penyuluh Kehutanan BKSDA Jakarta)
Baca Berita

Patroli Pengamanan Kawasan Resor Tawui dan Wanggameti TN Matalawa

Matawai Lapau, 24 Februari 2020. Dalam rangka meningkatkan upaya pengamanan dan perlindungan terhadap kawasan konservasi, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) terus menggalakkan kegiatan patroli bersama masyarakat. Pada waktu yang bersamaan yaitu tanggal 18 s.d. 21 Februari 2020, petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Matawai Lapau melakukan patroli di dua lokasi yang berbeda, yaitu blok hutan Pahulu Bandil (Resor Wanggameti) dan blok hutan Laiwangi (Resor Tawui). Dalam pelaksanaannya tidak hanya melibatkan unsur jabatan fungsional Polisi Kehutanan, namun juga melibatkan rekan-rekan PEH dan Penyuluh Kehutanan serta masyarakat di sekitar kawasan TN Matalawa. Seperti diutarakan Sdr. Vivery Okthalamo, S.Hut (Kepala SPTN Wilayah III Matawai Lapau), pelaksanaan patroli diharapkan tidak hanya menghasilkan output terjaga dan terlindunginya kawasan hutan. Namun, lebih jauh beliau mengharapkan petugas dan masyarakat dapat lebih mengenali dan mengetahui potensi-potensi yang ada di dalam kawasan TN Matalawa, sehingga data-data terkait potensi di dalam kawasan hutan juga dapat tergali dan terdokumentasikan dengan baik sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan pengelola kawasan. Dengan turut sertanya masyarakat dalam kegiatan patroli ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap kelestarian terhadap potensi-potensi yang dimiliki oleh kawasan konservasi di Pulau Sumba ini. Beberapa potensi yang dijumpai selama pelaksanaan patroli diantaranya burung Cikukua Tanduk (Philemon buceroides), Julang Sumba (Rhyticeros everetti), Kakatua Jambul Jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata), elang bondol (Haliastur indus), Nuri Perkici Orange (Trichoglossus capistratus) serta beberapa jenis tumbuhan bernilai budaya dan ekonomi tinggi. Sedangkan gangguan dan permasalahan tidak dijumpai selama patroli dilaksanakan yang terjadi didalam Kawasan TN Matalawa. Diharapkan upaya pengamanan dan perlindungan melalui kegiatan patroli dapat terus ditingkatkan sehingga angka gangguan dan ancaman terhadap kawasan TN Matalawa dapat diminimalisir. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Tim Patroli SPTN Wilayah II Baseran dan YTNTN Datangi dan Beri Sosialisasi kepada Komunitas Menembak

Baserah, Sabtu 22 Februari 2020 – Tim Patroli SPTN II baserah mendatangi salah satu kelompok komunitas yang tengah melakukan aktifitas di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. RAPP. Komunitas tersebut adalah komunitas menembak yang merupakan salah satu olahraga menembak nasional Pemerintahan Provinsi Riau. Tim bergerak cepat memberikan sosialisasi dan himbauan berdasarkan laporan masyarakat tentang adanya aktifitas komunitas tersebut. Tim SPTN II bersama dengan anggota YTNTN langsung bergerak merespon aduan tersebut dan mengejar kendaraan yang diperkirakan mengarah ke arah PT. PLB. Maksud dari kedatangan tim patrol SPTN Wilayah II Baserah ditengah-tengah aktifitas mereka adalah untuk memberikan pemahaman kepada anggota komunitas yang sedang melakukan aktifitas untuk tidak memasuki kawasan TN Tesso Nilo dan tidak melakukan perburuan satwa liar. Sesaat sebelum memasuki POS security tim akhirnya berhasil memberhentikan kendaraan dan memeriksa dokumen izin berburu. Meski Komunitas tersebut dapat menunjukkan surat izin kegiatan dari Polda Riau, tim tetap memberikan sosialisasi dan himbauan mengenai larangan perburuan satwa liar. Tim juga menghimbau kepada 4 orang anggota komunitas yang dijumpai untuk melapor ke kantor SPTN II Baserah setelah kegiatan selesai dilaksanakan. Kepala Resort Onangan Nilo Bapak Joni Putra Siregar, S.Hut yang berada didalam tim patroli mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya tidak dilarang untuk dilaksanakan di kawasan HTI, namun letak kawasan HTI yang secara geografis berdampingan dengan kawasan TN Tesso Nilo dikhawatirkan kegiatan tersebut dapat mengganggu satwa dikawasan TN Tesso Nilo. Himbauan dan sosialisasi juga diberikan untuk secara tegas memberikan peringatan kepada komunitas agar tidak memasuki dan melaksanakan aktifitas serupa di kawasan TN Tesso Nilo. Kepala Balai TN Tesso Nilo ikut menyampaikan komentarnya, beliau mengungkapkan kebanggaannya kepada tim patroli SPTN Wilayah II Baserah atas respon yang cepat tanggap untuk laporan yang dikirimkan masyarakat,”tim kita sudah menunjukkan eksistensi yang tinggi dalam menjalankan pekerjaan terlihat dari kesigapan dalam menerima laporan. Sosialisasi dan himbauan serupa diharapkan dapat diterima dengan baik oleh komunitas ataupun masyarakat tentang apa aktifitas yang diperbolehkan dan tidak di dalam kawasan” terang Kepala Balai. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Aksi Bersih di ODTWA Lubuk Baji TN Gunung Palung Memperingati “Hari Peduli Sampah Nasional”

Sukadana, 25 Februari 2020 – Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) melaksanakan kegiatan aksi bersih di Objek Daya Tarik Wisata Alam Lubuk Baji, Sabtu 22 Februari 2020. Aksi bersih ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan “Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)” yang jatuh setiap tanggal 21 Februari. HPSN tahun ini diperingati dengan tema “Indonesia Bersih, Indonesia Maju dan Indonesia Sejahtera”. ODTWA Lubuk Baji dipilih sebagai lokasi aksi bersih sesuai dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar kegiatan HPSN dilaksanakan di lokasi destinasi wisata. Dalam pelaksanaannya, Balai TANAGUPA turut mengajak relawan pecinta alam “Rebonk” Sukadana. Kegiatan yang dilaksanakan sejak pukul 07.00 WIB sampai dengan selesai berjalan dengan lancar. Peserta antusias dalam melakukan kegiatan pembersihan objek wisata Lubuk Baji dan berhasil mengumpulkan 18,2 kg sampah. Sampah selanjutnya dipilah menjadi sampah organik dan anorganik. Jumlah sampah organik yang berhasil dikumpulkan adalah 2.5 kg, sedangkan sampah anorganik berjumlah 15,7 kg (plastik kemasan: 8,3 kg; botol plastik: 2,5 kg; botol kaca: 1,7 kg; kaleng: 2,2 kg; kertas: 1 kg). ODTWA Lubuk Baji merupakan tujuan wisata populer di Kawasan TANAGUPA. Letaknya yang relatif dekat dengan Ibukota Kab. Kayong Utara, panorama yang indah, air terjun, adanya populasi Orangutan dan satwa lainnya serta topografi yang tidak terlalu curam membuat ODTWA ini ramai dikunjungi wisatawan. Tercatat di tahun 2019 sebanyak 1144 wisatawan nusantara dan 116 wisatawan mancanegara mengunjungi Lubuk Baji. Namun demikian beberapa oknum wisatawan yang belum peduli lingkungan masih meninggalkan sampah (terutama plastik) di sekitar jalur pendakian dan Camp Lubuk Baji. Untuk itu kegiatan aksi bersih ini dilakukan agar ODTWA Lubuk Baji bebas dari sampah sekaligus menggugah kepedulian para wisatawan. Ari Wibawanto, Kepala Balai TANAGUPA mengucapkan terimakasih kepada Rebonk Sukadana dan semua pihak yang telah membantu kegiatan aksi bersih di ODTWA Lubuk Baji. Beliau berpesan “ Semoga kegiatan aksi bersih ini dapat mendorong budaya bersih di tengah masyarakat, sekaligus meningkatkan nilai jual dan kunjungan wisatawan ke Lubuk Baji sehingga dapat mendukung pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat”. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Masyarakat Adat Punan Hovongan Desa Tanjung Lokang Mengenal Lebih Dekat TN Betung Kerihun

Tanjung Lokang, 21 Februari 2020. Bertempat di Balai Adat Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) bersama DRK (Desk Resolusi Konflik) Kapuas Hulu melakukan sosialisasi pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) kepada masyarakat Desa Tanjung Lokang. Kegiatan ini dihadiri hampir 50 orang yang terdiri dari Tim DRK, Balai Besar TaNa Bentarum, perangkat desa, perangkat adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan masyarakat. Tim DRK merupakan lembaga yang dibentuk oleh Bupati Kapuas Hulu dalam rangka membantu menyelesaikan perselisihan/konflik Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Lahan di Kabupaten Kapuas Hulu. Tim ini terdiri atas beberapa elemen antara lain Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Sosial dan Transmigrasi, Badan Pertanahan Nasional, Kesatuan Pengelolaan Hutan, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (BBTNBKDS), Dewan Adat Dayak Kapuas Hulu, Majelis Adat Budaya Melayu Kapuas Hulu, AMAN, SAMPAN, Lanting Borneo, dan DPMU Forclime FC. Keterlibatan parapihak dalam keanggotaan diharapkan dapat mempermudah penyelesaian masalah yang akan dihadapi. Proses mediasi Desa Tanjung Lokang dan Balai Besar TaNa Bentarum sudah berlangsung hampir 1 tahun. Proses mediasi diawali dengan adanya keinginan kedua belah pihak untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Saat ini mediasi yang sudah dilakukan sebanyak 2 kali antara lain pra mediasi dan mediasi putaran pertama. Kegiatan sosialisasi ini merupakan kesepakatan bersama yang diputuskan pada perundingan/mediasi sebelumnya dimana masyarakat ingin memahami pengelolaan kawasan TNBK secara detail, karena selama ini pengetahuan masyarakat terkait konservasi dan pengelolaan kawasan hutan masih sangat terbatas. Dalam paparannya Ardi Andono, selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi menyampaikan, beberapa hal antara lain proses penunjukan dan penetapan kawasan TNBK, 3 Pilar konservasi, Zonasi Taman Nasional, Konsep kemitraan konservasi dan Program dan kegiatan tahun 2020 di Desa Tanjung Lokang. Hubungan masyarakat Desa Tanjung Lokang dengan Balai Besar TaNa Bentarum mengalami pasang surut. Melalui DRK kedua belah pihak berkeinginan untuk memperbaiki hubungan kerjasama dalam pengelolaan kawasan hutan. Masyarakat berharap adanya peningkatan komunikasi yang bersifat kekeluargaan, agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan pola kehidupan tradisional yang biasa dilakukan, dan agar kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh BBTNBKDS dapat disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Hermanto selaku Kepala Desa Tanjung Lokang menyampaikan bahwa kegiatan hari ini merupakan itikad baik dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan kesalahfahaman yang terjadi saat ini dan mengajak seluruh masyarkat untuk menatap kedepan di dalam membangun Desa Tanjung Lokang. Dilain pihak, Tumenggung Punan Hovongan Desa Tanjung Lokang Avang Dalung sangat optimis proses mediasi yang saat ini sedang dilakukan akan menemui kesepakatan yang baik yang menghormati kedua belah pihak. Dalam kesempatan yang diberikan, Ardi Andono yang mewakili Balai Besar TaNa Bentarum menyampaikan secara detail konsep kemitraan konservasi yang didorong dalam rangka kerjasama pengelolaan kawasan TNBK, Sosialisasi program dan kegiatan tahun 2020 di Desa Tanjung Lokang antara lain Pembangunan PLTMH dan kelembagaanya masyarakatnya, Agroforestry berbasis tembawang dan ANR (Assisted Natural Regeneration). Selain itu, 10 cara baru kelola kawasan konservasi juga disampaikan olehnya khususnya terkait pengelolaan bersama masyarakat antara lain Masyarakat sebagai subjek pengelolaan, Penghormatan kepada HAM, dan Penghormatan kepada Budaya dan Adat. Dilain kesempatan Agus Mulyana selaku senior mediator DRK Kapuas Hulu, menyampaikan kedua belah pihak memiliki itikad baik untuk memahami keinginan dan harapan masing-masing pihak, dan diharapkan dapat mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Surili VS Aktivitas Komunitas Motocross

Cibodas, 25 Februari 2020. Surili jawa (Presbytis comata) adalah spesies primata endemik yang menghuni hutan hujan tropis di sebagian Pulau Jawa bagian barat. Satwa ini termasuk jenis dilindungi dan IUCN memasukannya ke dalam kategori spesies terancam (En). Primata penghuni pohon (arboreal) yang menyukai hutan primer ini, dapat dijumpai di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, seperti di blok Cirembes-Barubolang, Resort Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Cisarua, Bidang PTN Wilayah III Bogor. Hanya sayang di areal ini masih ditemukan beberapa masalah yang mengganggu kehidupan si “javan leaf monkey” ini, salah satunya aktifitas illegal “motocross”. Gangguan dari aktifitas penghobi motorcross ini terutama polusi suara yang dikeluarkan oleh raungan knalpot mengganggu surili, disamping itu juga mengakibatkan rusaknya kontruksi tanah yang dapat berakibat pada penurunan fungsi tanah (pemadatan dan erosi) dalam tatanan ekosistem hutan hujan tropis. Biasanya, ketika jalur yang sering dilalui sudah rusak (sangat sulit dilintasi), seringkali pemotor membuat jalur baru, dan terus berulang seperti itu. Tentunya Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) tidak tinggal diam. Upaya patroli dan penghadangan terus ditingkatkan, demikian pula sosialisasi penyadartahuan dan penyadarpedulian konservasi terus diintensifkan, di tempat-tempat tertentu, terutama di pintu masuk kawasan hutan dipasang papan informasi dan pintu portal. Kegiatan patroli kawasan juga didukung oleh TNI dan POLRI sebagai bentuk sinergitas BBTNGGP dengan TNI dan POLRI. Hentikan aktivitas motorcross di kawasan konservasi karena Surili Jawa butuh habitat yang tidak terganggu untuk dapat berkembang biak. Mari kita lindungi hidupan liar dengan tidak mengganggu habitatnya. Sumber: Ayi Rustiadi, S.Si - PEH Pertama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kemah Iman di TWA Sibolangit

Sibolangit, 24 Februari 2020. 52 siswa/i MTs Alwasliyah Paya Bakung-Hamparak Perak melakukan kemah iman dengan Tema “Menghayati Alam beserta Isinya” pada Senin (17/2) dini hari silam. Didampingi guru dari sekolah, Dicco Tamara, S.Pd, Nur Dwi Ningsih, S.Pd dan M. Fitra Aulia, S.Pd. Kegiatan diawali dengan persiapan api unggun, penyiapan tempat, serta ucapan selamat datang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit untuk penambahan pengetahuan peserta sebelum memasuki kawasan. Setelah persiapan, peserta menunaikan shalat subuh kemudian dilanjutkan dengan aktivitas menyongsong Fajar yang merupakan salah satu acara inti. Peserta diajak merasakan perubahan suasana di hutan dari malam (gelap) ke siang (terang) dan ingin tahu bagaimana mahluk hidup di dalam hutan menyongsong fajar di pagi hari. Disini juga Peserta diajak merenungkan alam yang telah memberi sejuta manfaat bagi kehidupan mahluk hidup serta bagi manusia dengan duduk dilantai hutan. Aktfitas dilanjutkan dengan olahraga pagi berupa lari dan senam untuk melatih generasi muda yang tangguh, kuat dan sehat saat ini dan masa mendatang. Sesaat Istirahat Pukul 09.00 Wib dilanjutkan Eksplorasi TWA Sibolangit . Eksplorasi TWA Sibolangit merupakan salah satu cara untuk mengetahui potensi keanekaragaman jenis tumbuhan (Flora) dan Satwa ( Fauna), serta Potensi lainnya juga untuk mengamati Fungsi Manfaat Hutan TWA Sibolangit bagi kehidupan sekitarnya. Eksplorasi TWA Sibolangit dbagi 3 Kelompok dijalur Interpretasi dan dipandu langsung Petugas Resort. Setiap Kelompok mencatat, gambar serta memvideo hasil yang diperoleh. Hasil Video nanti menjadi video Dokumenter masing-masing kelompok. Tidak terlewatkan juga mengunjungi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit yang masih berada di TWA Sibolangit untuk mengetahui berbagai Jenis Satwa dilindungi dan Upaya Penyelamatan satwa. Dilanjutkan dengan Sharing Besar/Persentasi 3 Kelompok. Persentasi Kelompok dilakukan untuk menjelaskan kembali pengalaman selama mengikuti setiap tahapan kegiatan dari awal sampai selesai sehingga peserta Kemah Iman memahmai Alam beserta Isinya. Sebelum berakhir, Kepala Resort memberikan Buku –Buku Konservasi, Stiker dan Buletin Beo Nias Kepada siswa dan Guru untuk mehamai Informasi tentang Konservasi. Sumber : Samuel siahaan - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Peserta menyusuri jalur interprestasi TWA. Sibolangit dan penyerahan buku konservasi kepada peserta.

Menampilkan 3.937–3.952 dari 11.140 publikasi