Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penyelamatan Satwa YKAY Akibat Dampak Covid-19 Bersama Dirjen KSDAE

Kulonprogo, 21 Maret 2020 - Dalam rangka penyelamatan satwa di Taman Satwa Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) akibat merebaknya Covid-19, Dirjen KSDAE, Sekditjen KSDAE, Balai KSDA Yogyakarta, Subdit Pengawetan Jenis Direktorat KKH, Ketua YKAY, dan Manager Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) melakukan pertemuan. Pertemuan dilakukan di aula pertemuan YKAY di Kulon Progo pada hari Sabtu (21/3/20). YKAY atau yang lebih dikenal.sebagai Wildlife Rescue (WRC) berada di Dusun Paingan Desa Sendangsari Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo DIY. Saat ini WRC sedang mengalami permasalahan kelanjutan pengelolaan khususnya dalam hal perawatan satwa yang berjumlah 145 individu dengan sebagian besar merupakan satwa yang dilindungi sebagai akibat wabah covid-19. Dana untuk perawatan satwa yang ada selama ini berasal dari relawan/volunteer berbayar. Kebutuhan dana untuk bulanan berkisar antara Rp. 80.000.000,- s/d Rp. 100.000.000,-. Dikarenakan adanya virus corona (Covid-19), semua relawan/volunteer berbayar membatalkan kegiatan di YKAY, sehingga dana untuk perawatan satwa tersebut tidak ada. Sebagai upaya membantu permasalahan, Balai KSDA Yogyakarta pada tanggal 4 - 6 Maret 2020 melakukan monitoring evaluasi kondisi WRC yang hasilnya disampaikan ke Dirjen KSDAE. Selanjutnya pada tanggal 18 Maret 2020 dilakukan rapat di Direktorat Jenderal KSDAE yang dilanjutkan dengan pertemuan dan peninjauan lokasi pada tanggal 20-21 Maret 2020. Agenda pertemuan kali ini adalah membahas pengelolaan Taman Satwa YKAY dan Pembiayaan operasional YKAY. Dalam pembukaan pertemuan, Dirjen KSDAE, Wiratno mengungkap perlunya peran aktif Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam hal ini Balai KSDA Yogyakarta untuk membantu pengelolaan YKAY agar tetap berjalan baik. “Saya meminta Balai KSDA Yogyakarta untuk selalu berkoordinasi dengan YKAY dalam rangka mendukung secara konkrit pengelolaan Taman Satwa YKAY. Dalam hal dukungan biaya operasional YKAY, diperlukan mobilisasi pendanaan disamping pengusulan revisi anggaran.” Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi pada pertemuan ini langsung memerintahkan staf perencana untuk segera melakukan revisi anggaran agar dapat membantu operasioanal berupa pakan, obat-obatan dan upah perawat satwa YKAY. “Saat ini YKAY berada dalam kondisi force majeure. Perlu langkah-langkah konkrit untuk menyelamatkannya. Saya minta kepada staf perencana untuk melakukan revisi anggaran DIPA Tahun 2020 dalam rangka membiayai operasional YKAY.” Untuk mengurangi beban operasional perawatan satwa, Balai KSDA Yogyakarta bersama dengan YKAY segera menyusun rencana pelepasliaran dan translokasi satwa yang layak. Sedangkan untuk perubahan YKAY dari lembaga konservasi umum ke lembaga konservasi khusus, diminta YKAY selaku pemegang izin Lembaga Konservasi untuk segera mengusulkannya. Melalui kerjasama yang melibatkan berbagai pihak, diharapkan kesulitan YKAY yang sedang dihadapi saat ini akan dapat segera diatasi. “Semoga dengan kerja sama dan koordinasi yang baik, krisis YKAY akan segera teratasi”, demikian tutup Wahyudi. Sumber: Kusmardiastuti (PEH) - Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

6000 Batang Bibit Pinang Batara Sudah Siap Tanam dan Didistribusikan

Situgal, 22 Maret 2020 – Dalam rangka kegiatan pemulihan ekosistem Balai TN Tesso Nilo (TNTN), kelompok tani binaan Balai TN Tesso Nilo “Maju Besamo” Desa Situgal telah mendistribusikan bibit-bibit unggul pinang batara kepada seluruh anggota kelompoknya yang berjumlah 20 orang. bibit-bibit tersebut didistribusikan setelah persemaian bibit yang dilakukan oleh kelompok tani dianggap siap untuk ditanam. Dari 20 org anggota kelompok, masing-masing anggota kelompok mendapatkan bibit sebanyak 300 batang. Dengan jumlah tersebut artinya sudah 6.000 batang bibit pinang yg sudah terdistribusi ke setiap anggota kelompok dan siap untuk ditanam di masing-masing kebun kelompok masyarakat. Masyarakat kooperatif dalam melaksanakan program dan sangat senang dan berterimakasih kepada Balai TNTN yang telah memberi bantuan ekonomi ini, masyarakat berharap hasil dari penanaman pinang batara ini dapat meningkatkan perekonomian masyrakat Desa Situgal. Dari keterangan petugas Resort Situgal SPTN Wilayah II Baserah, masih ada ratusan bibit yang sedang disemai yang nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat Desa Situgal di luar kelompok binaan. "Alhamdulillah, benih yg selama ini kita semai dan kita rawat bersama-sama dari bulan Desember 2019, kondisinya sangat bagus & sudah bisa ditanam di kebun masing2" ucap ketua kelompok bapak Arman Ependi. Kepala SPTN Wilayah II Baserah ikut mengungkapkan harapannya kepada kelompok tani binaan, "Bibit yang sudah kita semai dari tahun lalu sudah layak tanam dan kita distribusikan kepada kelompok tani, harapan kita nanti bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan subur dan hasilnya bisa membantu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. tidak hanya orang-orang di dalam kelompok yang nantinya menikmati bibit ini, masyarakat lain pun bisa menikmatinya" ungkap Kepala SPTN Wilayah II Baserah Bapak Ibram Eddy Candra, S.Hut, M.Sc Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Tumpas Pelaku Perdagangan Satwa Dilindungi

Banjarmasin, 18 Maret 2020 – Perdagangan satwa dilindungi seolah tidak menunjukkan tren yang menurun. Baru-baru ini Kepolisian Republik Indonesia, melalui Polda Kalimantan Selatan khususnya Ditreskrimsus bersama-sama dengan Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel), berhasil mengungkap jaringan perdagangan satwa dilindungi. Pengungkapan bermula dari hasil penyelidikan mendalam melalui akun tersangka yang berinisial AA dan RS, yang menawarkan berbagai koleksi satwa dilindungi via akun media sosial. Dari kegiatan penyelidikan tersebut, tersangka berhasil ditangkap dan diamankan. Ada sejumlah Barang Bukti berupa satwa yang berhasil disita, yaitu 17 ekor Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis), 1 ekor Burung Kangkareng Hitam (Anthracoceros malàyanus) dan 1 ekor Kuskus (Phalanger intercastellanus). Satwa-satwa tersebut menurut pengakuan tersangka, berasal dari Hulu Sungai (Pegunungan Meratus, Kalsel) dan Sulawesi. Menurut Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., “Para pelaku perdagangan satwa dilindungi saat ini semakin canggih dalam menjalankan aksinya. Media yang digunakan pun sudah bervariasi, termasuk menggunakan akun media sosial untuk menawarkan dagangannya. Kami berharap akan semakin banyak pelaku perdagangan satwa liar dan bagian-bagiannya yang terungkap. Dan efek jera pun dapat dirasakan pelaku dan dapat menyadarkan calon pelaku lain yang belum terungkap, untuk segera menghentikan bisnis ilegalnya, katanya”. Direktur Reskrimsus Polda Kalsel, Kombes Pol. M. Masrur, menjelaskan bahwa penanganan Satwa dilindungi Undang-undang menjadi salah satu bidang yang sering ditangani Reskrimsus Polda Kalsel. Tahun ini saja sudah ada 3 kasus yang berhasil diungkap, katanya. Lebih jauh dijelaskan bahwa kami selalu bersinergi dengan BKSDA Kalsel dalam pengungkapannya mulai dari identifikasi sampai penanganan satwa. Semua satwa selanjutnya akan diserahkan ke BKSDA Kalsel untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, imbuhnya. Saat ini kasus perdagangan satwa dilindungi ini sedang dalam proses penyidikan oleh Reskrimsus Polda Kalsel dan memasuki tahap pengambilan keterangan dari saksi ahli baik menyangkut satwa yang dijual dan tinjauan hukum. Semoga pelaku dapat dijatuhi hukuman yang pantas dan memberikan efek jera untuk tidak melakukan kegiatan serupa di lain waktu (JJM). (ryn) Sumber: Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc - Call Center Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Penyadartahuan Karhutla di Desa Siharjulu, Sumatera Utara

Tarutung, 18 Maret 2020. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar dan Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, melakukan kegiatan Penyadartahuan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, tanggal 26 Februari 2020 di Desa Siharjulu, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Kegiatan ini dihadiri Kepolisian Sektor Lintong Nihuta, perangkat Desa Siharjulu dan masyarakat Desa Siharjulu dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Plt. Kepala Desa Siharjulu yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung serta Penyuluh Kehutanan SKW IV Tarutung, dan dilanjutkan dengan sesi diskusi/tanya jawab. Penyadartahuan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang dilakukan di Desa Siharjulu merupakan salah satu upaya yang dilakukan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam mengurangi kemungkinan terjadinya pembakaran lahan yang merupakan kebiasaan masyarakat Kab. Humbang Hasundutan dalam membuka areal perkebunan di sekitar kawasan konservasi TWA Sijaba Hutaginjang, terutama pada bulan kering seperti saat ini. Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan mengenai akibat kebakaran, kerugian hingga sanksi pidana terkait kebakaran hutan dan lahan. Selain itu juga disampaikan upaya mengurangi kebiasaan membakar lahan dan mengusahakan untuk melakukan Pembersihan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perkebunan Nomor 38/KB.110/SK/DJ.BUN/05/95 tanggal 30 Mei 1995. Perlu untuk diketahui bersama bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dalam hal ini berupa pencegahan kebakaran hutan dan lahan merupakan tanggung jawab dari semua pihak. Sehingga perlu diingat bahwa lebih baik mencegah kebakaran hutan dan lahan daripada memadamkannya Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto Bersama seluruh peserta sosialisasi (gbr. Kiri) dan penyerahan perlengkapan kepada peserta (gbr. Kanan) a caption
Baca Berita

Sepasang Elang Ular Bido Kembali ke Habitatnya di Kawasan Hutan Jatimulyo, Yogyakarta

Kulonprogo, ?21 Maret 2020. Setelah melalui proses yang panjang, sepasang burung elang ular bido (Spilornis cheela) akhirnya dapat menikmati kebebasannya ke alam bebas pada tanggal 21 Maret 2020 di Puncak gondang, Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo, yang secara simbolis dilakukan oleh Wiratno (Direktur Jendral KSDAE) didampingi oleh Tandya Tjahjana (Sekditjend KSDAE) dan Wahyudi (Kepala Balai KSDA Yogyakarta). Elang Ular Bido yang dilepasliarkan ini telah menjalani proses rehabilitasi di YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta). Elang ular jantan yang diberinama ?Sugeng? diterima YKAY pada tanggal 30 Juni 2013 dari hasil serahan warga Desa Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sedangkan elang ular betina yang diberinama ?Wilujeng? diterima YKAY pada tanggal 23 Januari 2013 dari serahan warga melalui BKSDA Jogja. Setelah melalui proses rehabilitasi di YKAY, kedua elang ini menjalani proses habituasi di kawasan Jurang Jero Taman Nasional Gunung Merapi pada tanggal 14 Februari 2020. Tujuan habituasi ini agar kedua elang tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan dan juga mengenal pakan alami di sekitar lokasi pelepasliaran. Akan tetapi, berdasarkan pertimbangan teknis termasuk rekomendasi hasil kajian habitat dan perilaku, kemudian pada tanggal 13 Maret 2020, kedua elang tersebut ditranslokasi ke kawasan hutan Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo sebelum dilepasliarkan. Program pelepasliaran ini melibatkan banyak pihak diantaranya BKSDA Yogyakarta, BTNGM (Balai Taman Nasional Gunung Merapi); YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta), RAIN (Raptor Indonesia); PKEK (Pusat Konservasi Elang Kamojang), PPBJ (Paguyuban Pengamat Burung Jogja) dan Kelampok Tani Hutan Wanapaksi Desa Jatimulyo. ?Keterlibatan banyak pihak dalam upaya konservasi satwa dan habitatnya terutama keterlibatan masyarakat sekitar, sangat diperlukan!? Ujar Wiratno. Program pelepasliaran kedua elang ulara ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan montoring selama kurang lebih 21 hari yang dilakukan oleh para relawan dan perwakilan para pihak terkait beserta BKSDA Yogyakarta. Selain itu juga dilakukan juga kegiatan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat sekitar mengenai nilai penting keberadaan elang dan habitatnya, serta lingkungan pada umumnya. Sumber: Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Pemusnahan Tanaman Illegal di SM Barumun

Barumun, 11 Maret 2020. Cuaca yang kurang bersahabat, hujan yang turun setiap hari tidak menyurutkan semangat Tim gabungan untuk melaksanakan pemusnahan tanaman illegal di SM Barumun. Jalan tidak bisa lagi dilalui kendaraan. Tim gabungan harus berjalan kaki ± 3 Km untuk mencapai lokasi dengan medan yang mendaki dan berlumpur. Suaka Margasata (SM) Barumun ditunjuk berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 70/Kpts-II/1989, dan ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 3888/Menhut-VII/KUH/2014 seluas 36.260,6 Ha, terletak di 3 kabupaten dan 1 kota yaitu Kabupaten Padanglawas, Kabupaten Padanglawas Utara, Kabupaten Mandailing Natal dan Kota Padangsidimpuan. SM Barumun merupakan salah satu kawasan yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara sebagai Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE Kementerian LHK. Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.8/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelenggarakan fungsi diantaranya adalah melaksanakan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi termasuk suaka margasatwa dan pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa liar beserta habitatnya serta sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional. Salah satu bentuk kegiatannya adalah pemusnahan tanaman illegal dalam kawasan SM Barumun dan menanami dengan jenis-jenis tanaman asli. Kegiatan pemusnahan tanaman illegal kawasan SM. Barumun (Desa Bargot Topong), dilaksanakan pada lahan yg diserahkan masyarakat seluas 34 Ha, terdiri dari 4 Ha tanaman sawit, dan 30 Ha tanaman kopi dan karet. Kegiatan pemusnahan tanaman illegal di dalam kawasan diawali dengan survey pendahuluan yang dilaksanakan pada Senin 2 Maret 2020, untuk memastikan kondisi lokasi, sekaligus memasang 2 plang tanda kawasan SM Barumun, disamping juga menyiapkan pondok kerja untuk kegiatan selanjutnya. Pelaksanaan kegiatan pemusnahan tanaman illegal dimulai pada Rabu, 4 Maret 2020 sampai Sabtu, 7 Maret 2020 (selama 4 empat hari), oleh Balai Besar KSDA Sumatera bersama-sama dengan Balai Pengamanan dan Penegakkan Hukum (Gakkum) LHK Wilayah Sumatera. Personil terdiri dari 17 orang petugas dari BBKSDA Sumut dan 14 orang dari Balai Pengamanan dan Gakkum Wil Sumatera, 2 orang TNI dari Koramil Kota Padangsidempuan, 2 orang Polsek Padangsidimpuan Batunadua dan 6 orang masyarakat sebagai operator mesin chainsaw. Jumlah tanaman yang berhasil ditumbang sebanyak 3.436 tanaman karet dan kopi, serta 386 tanaman sawit. Selesai penebangan dilanjutkan dengan kegiatan penanaman sebanyak 300 tanaman, masing-masing jenis meranti, ingul ,durian, dan petai. Sumber : Darmawan, S.Hut.M.Sc - Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang Balai Besar KSDA Sumatera Utara Peta lokasi pemusnhan tanaman illegal di SM Barumun
Baca Berita

Door To Door dalam pemberian Sosialisasi dan Himbauan Percegahan Karhutla Kepada Masyarakat

Baserah, 21 Maret 2020 - Menindak lanjuti Maklumat Bersama antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Kapolri Nomor : PKS.3/MENLHK/PHLHK/GKM.3/2/2020 Nomor : Mak/01/II/2020 tentang Penegakan Hukum Kebakaran Hutan dan Lahan dan Himbauan Gubernur Riau Nomor : 01/PENG/2020 tentang Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau serta penanganan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, SPTN Wilayah II Baserah bersama dengan mitra Kepolisian Sektor Langgam melaksanakan kegiatan patroli di dalam kawasan TN Tesso Nilo . Kegiatan ini dilaksanakaan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau khususnya di wilayah TN Tesso Nilo Resort Tesso Situgal. Tim patroli balai TN Tesso Nilo berjumlah 3 (tiga) orang bersama dengan Bhabinkamtibmas Desa Segati Polsek Langgam yang juga di dampingi oleh RT dan RW setempat membagikan selebaran/maklumat kepada masyarakat dari rumah ke rumah. Selain membagikan selebaran himbauan, tim juga memasang spanduk himbauan larangan membakar hutan dan lahan di beberapa lokasi yang cukup strategis (tempat keramaian) dan mudah dilihat oleh masyrakat. Diungkapkan petugas, himbauan-himbauan diberikan untuk terus mengingatkan masyarakat akan penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, "Dengan adanya himbauan-himbauan seperti ini diharapkan masyarakat yang melihat dan membaca akan saling mengingatkan satu sama lain, paling tidak usaha yang kita lakukan ini dapat berdampak positif dan membuktikan bahwasanya negara hadir untuk penanganan pencegahaan kebakaran hutan dan lahan" terang petugas. Kepala Balai TN Tesso Nilo Bapak Ir. Halasan Tulus memberikan apresiasi besar kepada petugas yang selalu memberikan himbauan kepada masyarakat untuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan, “petugas lapangan yang datang langsung kepada masyarakat untuk memberikan sosialisai, diharapkan ‘dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai upaya pencegahan karhutla kawasan TN Tesso Nilo dan bersama-sama dengan petugas dalam menjaga kelestarian hutan” ujar Kepala Balai. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Pemerintah Kab. Halmahera Timur dan TN. Aketajawe Lolobata Bersinergi Mengembangkan Wisata

Maba, 20 Maret 2020 - Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penguatan Fungsi Kawasan dilakukan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Timur (19/03) dalam rangka Pengembangan Wisata Alam Resort Ake Jawi, SPTN Wilayah III Subaim, Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Bupati Halmahera Timur tersebut disaksikan oleh Asisten III Bupati Halmahera Timur. Asisten III Bupati, Tamrin Bahara, S.IP., yang pada kesempatan ini mewakili Sekretaris Daerah Pemkab Haltim, dalam sambutannya mengatakan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk penguatan fungsi kawasan TN Aketajawe Lolobata melalui peningkatan dan pengembangan wisata alam, khususnya di wilayah Kabupaten Halmahera Timur. "Tujuan PKS ini adalah untuk penguatan fungsi kawasan TNAL melalui peningkatan dan pengembangan wisata alam, sebagai bagian dari upaya menjaga sekaligus memanfaatkan sumberdaya alam yang kita miliki khususnya di wilayah Kabupaten Halmahera Timur" Ujar Tamrin. Lebih lanjut, Kepala Balai TN Aketajawe Lolobata, T. Heri Wibowo, S.Hut., M.Eng. memaparkan secara singkat potensi TN Aketajawe Lolobata, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Halmahera Timur. Beliau menambahkan sebagai salah satu upaya mengoptimalkan potensi wisata alam di kawasan TNAL, perlu dijalin sinergitas dengan pemerintah setempat dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Timur. "Sinergitas antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Timur perlu dijalin untuk mengoptimalkan pemanfaatan wisata alam, khususnya di Resort Ake Jawi, Desa Ake Jawi, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Timur. Optimalisasi pemanfaatan wisata alam di Resort Ake Jawi pada hakikatnya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat Ake Jawi sebagai upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat" Ujar Heri. Sementara itu, Hardi Musa, S.Pd., M.A., Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Halmahera Timur, dalam sambutannya mengatakan bahwa Kabupaten Halmahera Timur memiliki potensi wisata terlengkap di Maluku Utara. Beliau mendukung penuh kerja sama ini dan menyampaikan niatnya untuk berkomitmen penuh bahwa pintu utama pariwisata di Halmahera Timur akan dimulai dari kerja sama dengan TN. Aketajawe Lolobata. "Berdasarkan penuturan para pegiat pariwisata di Maluku Utara, mereka mengatakan bahwa Kabupaten Halmahera Timur memiliki potensi wisata alam yang paling lengkap di Maluku Utara. Mulai dari wisata sejarah hingga wisata budaya, serta wisata alam yang dalam hal ini terefleksi dari keberadaan TN Aketajawe Lolobata. Kerja sama ini sangat positif untuk pengembangan wisata alam kedepannya yang tentunya bermuara pada kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat desa Ake Jawi. Saya akan berkomitmen penuh pintu pariwisata Halmahera Timur akan dimulai dari kerja sama dengan taman nasional" ujar Hardi. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan agenda pembahasan RPP-RKT. Kepala Seksi PTN Wilayah III Subaim, Junesly F. Lilipory, S.Pi pada kesempatan tersebut mengajak kepada perwakilan masyarakat desa Ake Jawi untuk sama-sama bersinergi membangun desa Ake Jawi sebagai desa pionir yang menyumbang PAD dalam hal wisata alam di Kabupaten Halmahera Timur. "Program pemerintah pada hakikatnya untuk meningkat kesejahteraan masyarakat. TN Aketajawe Lolobata hadir di masyarakat untuk memastikan hal itu. Mari sama-sama bersinergi mewujudkan pengembangan wisata alam di Desa Ake Jawi yang sekiranya jika berhasil, Pemerintah Desa Ake Jawi pada periode ini akan mencatat sejarah sebagai desa yang juga berkontribusi pada PAD Kabupaten Halmahera Timur dalam bidang pariwisata" Ujar Junesly. Kegiatan lalu diakhiri dengan pembacaan doa dan sesi foto bersama peserta rapat. Sumber: Aries Rafli, S.Pi (PEH Pertama) - Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

BBKSDA Jatim Lepasliarkan 21 Satwa di Baluran

Jember, 20 Maret 2020. Sebanyak 21 ekor satwa dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jatim di Savana Bekol, Taman Nasional Baluran pada 19 Maret 2020 kemarin. Satwa-satwa tersebut berupa Merak Hijau (Pavo muticus) sebanyak 13 ekor dan Landak (Hystrix javanica) sebanyak 8 ekor. Menurut Purwantono, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi, seluruh satwa merupakkan hasil penyerahan masyarakat secara sukarela. “ Kedua jenis satwa telah menjalani proses habituasi di lokasi pelepasliaran selama 8 hari”, ujar Purwantono. Semula satwa tersebut akan dilepasliarkan saat kunjungan kerja Presiden RI ke Taman Nasional Baluran. Namun karena adanya bencana nasional COVID-19, maka dianggap perlu untuk segera melepasliarkan satwa yang telah menjalani habituasi di Bekol selama beberapa hari itu. Pelepasliaran dihadiri oleh Kepala Balai TN Baluran, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi beserta staf dari kedua unit pelaksana teknis tersebut. Harapannya, satwa-satwa tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru, serta berkembangbiak sehingga dapat menambah populasinya di kawasan TN Baluran. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sape (Anggota MMP) Menyerahkan 79 Butir Telur Penyu Ke Polhut Resor Tarupa

Kepulauan Selayar, 20 Maret 2020. Merebaknya wabah Covid-19 tidak mengurangi aktivitas teman-teman dalam menjaga kawasan dengan tetap mengacu pada himbauan yang ada. Kemarin (19/03) sekitar pukul 09.00 Wita, anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) a.n. Sape menyerahkan telur Penyu sebanyak 79 butir yang ditemukan oleh salah satu nelayan tadi pagi. Telur Penyu tersebut diserahkan di Pos Polhut Resor Tarupa dan diterima langsung oleh Agusriadi Komandan Resor Tarupa bersama rekan. "Pak Sape datang ke pos guna melaporkan penemuan telur penyu oleh salah satu nelayan dari Dusun Belang-belang. Setelah menerima laporan kami bergegas memindahkan ke media yang lebih besar untuk kemudian menjadi tempat penetasan semi alami," jelas Agusriadi Menurut keterangan Sape dan temannya seorang nelayan bernama Aco Ecce yang berdomisili di Dusun Belang-Belang menemukan sarang penyu di Pulau Belang-belang. Kronologi Cerita; Semalam Aco keluar memancing ikan di sekitar perairan Pulau Belang-Belang. Menjelang pagi hari tepatnya pada pukul 06.00 Wita, nelayan Aco naik ke daratan pulau tersebut untuk mencari barang-barang hanyut yang tergolong masih berguna dan bermanfaat seperti gabus dan jeregen hanyut yang akan digunakan sebagai pelampung dan wadah penampungan air tawar. Sekitar setengah jam menyisir pinggir pantai di bagian Timur Pulau Belang-Belang ditemukan jejak penyu yang masih baru. Sesaat kemudian Aco menggali pasir yang dicurigai sebagai tempat Penyu yang baru saja bertelur. Dan menemukan Telur Penyu sebanyak 79 Butir. Besar harapan kami semoga saja kedepannya masyarakat akan semakin sadar akan pentingnya menjaga kelestarian dan kelangsungan habitat biota. Masyarakat tetap menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan petugas yang ada di lapangan dan senantiasa bersinergi menjaga kawasan. Sumber: teks & foto © Agusriadi & Andi Firman Ali Safaat - Polhut, Editor : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Operasi Bersama di SM. Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 20 Maret 2020 -Balai Besar KSDA Riau bersama Seksi Wil 2, Balai Gakkum Wil. Sumatera, Korem Pekanbaru dan Koramil melakukan operasi bersama di SM. Giam Siak Kecil pada hari Rabu, 18 Maret 2020 kemarin. Tim melakukan operasi pengaman hutan di SM Giam Siak Kecil, Kec. Bunga Raya, Kab. Siak melalui akses Dam 3 kanal Pemda Siak, Kampung Tuah Indrapura. Tim menemukan kayu olahan sebanyak 423 keping ±13,2 kubik Kayu olahan dan segera dilakukan pemusnahan dengan cara dicincang menggunakan mesin chainsaw, begitupun 10 sepeda di jalur kargo yang ditemukan tim melakukan perusakan supaya tidak dapat digunakan lagi. Tim menemukan 5 pondok di dalam kawasan dan memusnahkan dengan cara dibakar setelah dipastikan kelembaban tanahnya. Tetap semangat para garda terdepan konservasi. Do'a Kami selalu menyertai Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pencegahan Kebakaran di SM Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 18 Maret 2020, Tim Resort Duri dan Resort Dumai melakukan pencegahan kebakaran di SM Giam Siak Kecil, di Desa Tasik Serai, Kec. Talang Muandau, Kab. Bengkalis. Ini dirasa tetap harus dilaksanakan walaupun jadwal piket dalam rangka antisipasi pencegahan penyebaran virus Corona dilakukan. Lokasi yang mempunyai topografi bergambut, semak belukar, perkebunan sawit dan perkebunan karet dapat memudahkan terjadinya kebakaran. Kegiatan yang dilakukan Tim adalah melakukan upaya pencegahan kebakaran dan melakukan pemusnahan tanaman sawit yang berada di dalam kawasan SM. Giam Siak Kecil. Pemusnahan dilakukan dengan cara disiram menggunakan cairan khusus (campuran solar dan gramoxone). Tim berhasil melakukan pemusnahan ±250 tanaman sawit. Semoga kelestarian kawasan tetap terjaga walaupun saat ini wabah Corona sedang melanda ya kawan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai Besar KSDA Papua Bersama Pihak Terkait Lepasliarkan 855 Ekor Arwana Irian

Merauke, 18 Maret 2020. Balai Besar KSDA Papua bersama Balai Taman Nasional Wasur dan Asosiasi Pengusaha Ikan Kaloso Papua (APIKAP) melepasliarkan 855 ekor arwana irian (Scleropages jardinii). Kegiatan tersebut berlangsung di Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Rawa Biru merupakan perkampungan yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Wasur. Pihak-pihak yang hadir pada pelepasliaran, antara lain, Dinas Perikanan Kabupaten Merauke, Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Merauke, juga Kepala Kampung beserta Masyarakat Rawa Biru. Ratusan ikan arwana irian yang dilepasliarkan merupakan hasil penyisihan kuota tangkap tahun 2019 oleh 12 pemegang izin tangkap di Kabupaten Merauke. Rata-rata ikan arwana irian yang dilepasliarkan memiliki panjang 10-15 cm. Sesuai ketentuan yang berlaku, arwana irian dapat ditangkap dari alam dengan batasan jumlah atau kuota tertentu. Ikan-ikan tersebut ditangkap saat usia anakan dengan panjang 3-5 cm, dan sebagian besar diperdagangkan di luar Merauke. Para pemegang izin tangkap menyisihkan anakan arwana untuk dibesarkan selama kurang lebih tiga bulan, dengan tujuan dilepaskan kembali ke habitatnya sebagai calon indukan. Kepala Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar KSDA Papua, Irwan Effendi, S.Pi., M.Si., menyampaikan, pemanfaatan ikan arwana irian memiliki dampak positif yang nyata bagi masyarakat di Merauke sajak berpuluh tahun yang lalu. “Arwana irian hanya terdapat di Papua bagian selatan. Oleh sebab itu, mari kita jaga kelestariannya untuk kesejahteraan rakyat,” ungkap Irwan. Pada kesempatan yang sama Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., mengharapkan ratusan arwana irian yang dilepasliarkan tersebut dapat hidup dan berkembang biak di habitatnya. Ia mengatakan, “Manajemen habitat dan manajemen populasi dalam pemanfaatan arwana irian sudah dilakukan sejak kurang lebih 30 tahun yang lalu. Prinsip-prinsip konservasi terhadap jenis satwa ini telah sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Papua. Harapan saya, pola ini terus dapat dijaga dan dilaksanakan untuk kelestarian arwana irian ke depan.” [] Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9802 9978
Baca Berita

Buku Burung Sempu, Membingkai Sebuah Idealisme

Malang, 19 Maret 2020. Sepanjang saya menjadi pegawai negeri sipil di sebuah intitusi yang bergerak di bidang konservasi, ini buku idealis pertama yang melibatkan saya. Buku kekinian yang menjelaskan isi hutan, dengan foto-foto hasil jepretan kami sendiri. Bukan comot dari gugel ataupun minta ke teman. Lahirnya buku “Keanekaragaman jenis burung di Cagar Alam Pulau Sempu” tak bisa lepas dari kiprah sang Kepala Resort Cagar Alam (CA) Pulau Sempu, Hari Purnomo, yang juga punya hobi fotografi. Dari jeprat – jepret satwa di dalam kawasan selagi patroli, pada akhirnya menjadi sebuah keinginan untuk mengabadikannya dalam sebuah buku informasi. Bak gayung bersambut, maka dikumpulkanlah para pegawai lainnya yang memiliki hobi dan visi sama. Bagus Suseno yang blusukan mencari dananya-pun langsung mengumpulkan beberapa teman untuk hunting foto. Saya, Fajar DNA, Resia, dan Tulus Pambudi akhirnya ikut bergabung dengan teman-teman resort. Kenapa Burung dan Kenapa Sempu Pulau Sempu sendiri cukup ramai dikunjungi para peniliti, baik dari lembaga penelitian, universitas hingga kelompok studi. Dari berbagai macam penelitian yang pernah dilakukan, salah satunya identifikasi dan inventarisasi burung di kawasan konservasi ini. Birdlife International-pun telah menetapkan Pulau Sempu sebagai Important Bird Area. Ini semua juga tak lepas dari kondisi cagar alam yang memiliki 5 tipe ekosistem, mulai ekosistem hutan hujan tropis, karst, dataran rendah, mangrove, pantai dan danau. Dan hingga kini, sekurangnya tercatat 110 jenis burung yang mendiaminya. Kenapa juga burung, bukan herpetofauna atau mamalia ? Guampang. Selain jenisnya yang banyak, satwa jenis burung mudah dijumpai, tinggal mengetahui waktunya mereka nongol dan sedikit, eh banyak ding, keberuntungan. Pun, kami tak ingin buku ini hanya memenuhi rak buku di kantor atau sebagai pemenuhan angka kredit bagi para fungsional. Namun, setidaknya dapat memberi sedikit khasanah bagi dunia per-burung-an di negeri ini. Pulau Sempu Tempat Penelitian dan Pendidikan, Bukan tempat Wisata..! Meski sedikit berbau promosi, namun ini menjadi tugas bersama yang harus terus dilakukan. Memberikan informasi kepada khalayak umum bahwa Pulau Sempu itu cagar alam. Artinya, hanya kegiatan berupa penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, serta pendidikan yang diperbolehkan di pulau seluas 877 hektar ini. Kondisi sekitar kawasan berupa pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap dan lokasi wisata pantai Sendangbiru menjadi tekanan tersendiri. Upaya perlindungan seperti penjagaan, patroli kawasan, dan sosialisasi terus dilakukan tanpa lelah baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dan salah satu fungsi ditelurkannya buku ini, diharapkan bisa menjadi media informasi bahwa betapa kayanya alam Pulau Sempu. Dan untuk menjaga kekayaan tersebut, kami tentunya tidak dapat bekerja sendiri, namun juga perlu dukungan dari berbagai stakeholder serta masyarakat luas. Sumber: Naskah dan Foto oleh Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Monitoring Tapir di kawasan TNBG

Mandailing Natal, 19 Maret 2020. Tapir adalah binatang herbivora yang memiliki bentuk tubuh seperti babi, telinga yang mirip badak dan moncongnya yang panjang mirip trenggiling, tubunya berwarna hitam dan putih sementara lenguhannya lebih mirip suara burung daripada binatang mamalia. Tapir merupakan hewan yang soliter, kecuali pada musim kawinnya. Aktivitasnya lebih banyak pada malam hari (nokturnal). Aktivitas makan biasanya dilakukan sambil tetap terus berpindah dalam jalur yang berpindah-pindah. Jangkauan jelajah tapir sangat luas karena mereka cenderung berjalan jauh untuk menemukan lokasi yang kaya garam mineral. Kondisi tapir yang ada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis relatip aman karena masih banyak ditemukan keberadaan tapir diberbagai titik dikawasan tersebut dilihat dari hasil pemasangan kamera trap yang dilakukan oleh petugas Taman Nasional Batang Gadis. Tapir di Taman Nasional Batang Gadis belum pernah ditemukan mati akibat dari serangan predator lain sehingga dapat dikatakan binatang ini berkembang secara alami dikawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis. Pelaksanaan kegiatan Monitoring tapir (Tapirus indicus) dengan pemasangan kamera trap selama 05 (lima) hari terhitung mulai tanggal 05 s.d 09 Pebruari 2020 di Seksi PTN Wil. III Resot 7 Hutan Desa Sopotinjak Kec. Batang Natal. Maksud dilaksanakan monitoring Tapir (Tapirus indicus) dengan pemasangan kamera trap adalah untuk Mendapatkan data sebaran populasi dan habitat tapir (Tapirus indicus) yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Tujuan dilaksanakan monitoring Tapir (Tapirus indicus) dengan pemasangan kamera trap adalah Untuk mengetahui Kelimpahan relatif Tapir (Tapirus indicus) di kawasan Taman Nasional Batang Gadis sehingga dapat dilaksanakan pengelolaan berkelanjutan di bidang KEHATI Fauna Khususnya Tapir (Tapirus indicus). Ruang Lingkup Tapir (Tapirus indicus) ini merupakan pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan keberadaan Tapir. Selain itu juga melakukan pengamatan terhadap habitat Tapir. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Pembinaan Habitat, Penanaman Pohon di TN Taka Bonerate

Kepulauan Selayar , 19 Maret 2020. Salah satu kegiatan keteknisan yang dilakukan oleh teman-teman di lapangan adalah Pembinaan Habitat berupa penanaman pohon untuk pulau-pulau yang ada dalam kawasan TN Taka Bonerate. Tahun ini disiapkan bibit sebanyak 2.400 yang terdiri 700 bibit sukun dan sisanya adalah Cemara Laut. Bibit pohon berasal dari persemain yang ada di Benteng, kemudian diangkut ke pulau menggunakan kapal laut. "Bibit disiapkan 2.400, 700 bibit sukun yang akan ditanam di 7 pulau berpenghuni dan sisanya Cemara Laut akan ditanam di Pulau Tinabo dan Pulau Lantigiang," jelas Saleh Rahman salah satu fungsional PEH SPTN Wilayah I Tarupa yang juga Koordinator PEH Balai TN Taka Bonerate. Selain sebagai peneduh, diharapkan hasil dari kegiatan pembinaan habitat ini bisa menambah ketersediaan air tawar pulau-pulau yang ada di dalam kawasan. Bibit tidak langsung ditanam serentak namun secara bertahap dengan melihat kondisi iklim/curah hujan tahunan di kawasan TNTBR. "Mengingat di dalam kawasan masih minim vegetasi berkayu, terutama di Pulau Lantigiang sehingga waktu penanaman direncanakan dengan matang," pungkas Saleh Rahman. Mari pelihara alam agar kita dapat memilki masa depan yang lebih baik. Selamatkan lingkungan mulai dari tindakan anda sendiri. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate

Menampilkan 3.825–3.840 dari 11.141 publikasi