Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sudah Jinak, Kasturi Kepala Hitam Berhasil Diamankan Dari Tangan ABK

Tobelo, 07 April 2020. Pukul 11.45 WIT bertempat di lokasi pelabuhan laut Tobelo petugas resort Halmahera Utara Balai KSDA Maluku telah mengamankan 1 ekor burung Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory) dari sebuah kapal barang yang berangkat dari Sorong dengan tujuan Sulawesi Tengah dan melakukan transit di pelabuhan laut Tobelo untuk melakukan pengisian BBM. Burung tersebut dimiliki oleh salah seorang ABK kapal dan ditemukan oleh petugas pada saat kegiatan penjagaan dan pengawasan rutin di pelabuhan laut tersebut. Dari hasil pemeriksaan terhadap pemilik burung tersebut diketahui bahwa burung tersebut diperoleh dengan cara membeli dari para penjual burung yang berada di sekitar pelabuhan laut Sorong dan burung tersebut sudah dipelihara sekitar 2 tahun. Saat ini burung sudah diamankan di kandang transit Tobelo, sedangkan untuk pemilik burung petugas hanya memberikan peringatan pembuatan surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Dari hasil pemeriksaan fisik terhadap burung tersebut, diketahui bahwa kondisinya sangat sehat dan sudah jinak sehingga membutuhkan proses karantina dan rehabilitasi untuk mengembalikan sifat liarnya sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Sumber : Kacuk Seto Purwanto - Polhut Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Paket Sembako Balai TN Bukit Duabelas Untuk 13 Kelompok Temenggung Orang Rimba

Sarolangun, 8 April 2020. Balai Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) menyerahkan bantuan paket sembako kepada 13 Kelompok Temenggung Orang Rimba/Suku Anak Dalam (SAD) yang berdiam di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas. Penyerahan bantuan paket sembako sebanyak 718 paket untuk 718 KK ini dibagi menjadi 2 (dua) tahap, yang pertama untuk Komunitas Orang Rimba/SAD yang secara administrasi berada di Kabupaten Tebo dan Kabupaten Sarolangun sebanyak 8 (delapan) kelompok yang terdiri dari 583 KK, dan tahap kedua yaitu untuk Komunitas Orang Rimba di Kabupaten Batanghari sebanyak 131 KK. Paket Sembako pada tahap pertama ini sebanyak 583 paket, yang setiap paketnya terdiri atas beras 5 kg, gula pasir 1 kg, mie instan 10 buah, kopi AA, dan teh celup. Pemberian bantuan ini sebagai bentuk kepedulian kepada Orang Rimba/SAD, yang saat ini sebagian besar melakukan besesandingon yaitu mengasingkan diri dari orang sakit/diduga membawa wabah penyakit. Hal ini membuat mereka yang biasanya berdiam di pinggir kawasan, masuk kembali ke dalam hutan untuk menghindari terkena wabah penyakit yang saat ini marak diberitakan yaitu Covid-19. Kondisi tersebut membawa konsekuensi sementara kepada komunitas tersebut, yaitu menjadi jauh dari pusat perekonomian (desa) sehingga menyulitkan untuk mendapatkan bahan pokok. Adanya paket sembako (makanan tambahan) ini diharapkan dapat membantu kehidupan mereka di tengah masa pandemik Covid-19. Penyerahan dilakukan secara simbolis pada Rabu (8/4/2020) pukul 11.00 WIB bertempat di SAD Center, Resort II.E Air Hitam I, SPTN Wilayah, II Tebo oleh Kepala Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, Haidir, dan diterima langsung oleh 2 (dua) Temenggung yaitu Temenggung Afrizal dan Temenggung Bepayung, yang mewakili kelompok lainnya di Kabupaten Sarolangun, disaksikan oleh Camat dan Kapolsek Air Hitam. Untuk selanjutnya seluruh paket sembako akan didistribusikan oleh pendamping masing-masing sehingga tidak perlu mengumpulkan massa dalam pembagiannya. Kepala Balai TNBD menyatakan bahwa paket sembako ini merupakan upaya untuk membantu meringankan kebutuhan pokok Suku Anak Dalam yang sedang melakukan adat besesandingon. Dalam kesempatan ini, H. Jaelani (Tetua Orang Rimba) mengucapkan terimakasih kepada pihak balai atas perhatiannya terhadap komunitas Orang Rimba, dan mengamini penyampaian Kepala Balai TNBD bahwa selama besesandingon, aktivitas Suku Anak Dalam untuk memenuhi kebutuhan pokok menjadi cukup sulit dilakukan. Kegiatan ini juga sangat didukung oleh Muspida dan pihak lainnya dalam hal ini Camat Air Hitam, Kapolsek, Pemerintah Desa Pematang Kabau, Koramil Pauh, dan PT. Sari Aditya Loka 1. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Duabelas Penanggung jawab berita: Urusan Humas Balai TNBD - 081295239036
Baca Berita

Anak Krakatau Kembali Erupsi

Bengkulu, 13 April 2020. Pengamatan langsung terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) oleh petugas BKSDA Bengkulu dalam hal ini Seksi Konservasi Wilayah III Lampung KPHK Krakatau pada Kegiatan patroli rutin dan pengamanan kawasan yang dilakukan sehari sebelum erupsi, dilaporkan bahwa kawah mengeluarkan asap berwarna putih dan sesekali abu yang berwarna kelabu dengan intensitas sedang, ketinggian abu antara 100-200 meter di atas permukaan laut dan terutama terjadi pada waktu siang dan sore hari. Dan pada tanggal 10 April 2020 pukul 21.58 WIB berdasarkan laporan dan pantauan CCTV milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Erupsi terekam dalam seismogram dimulai. Erupsi GAK terjadi terus menerus tanpa jeda berupa lontaran material pijar dan abu vulkanik hinggal 11 April 2020 pukul 05.00 WIB. Dimana menjelang pagi hari, aktivitas erupsi sudah mulai menurun dan berakhir pada pukul 08.15 WIB. Dengan kondisi ini status GAK berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah. Kondisi pada saat erupsi berdasarkan informasi dan laporan petugas BKSDA Bengkulu yang berada di Desa Tejang Pulau Sebesi yang merupakan Desa terdekat dengan jarak 10 km dari GAK, pada malam hari itu terdengar suara gemuruh yang tidak terlalu kuat dan terlihat cahaya merah dari arah GAK. Abu vulkanik hasil erupsi sampai dan jatuh di sekitar Desa Tejang Pulau Sebesi dan bau belerang tercium cukup pekat. Menjelang pagi hari suara gemuruh itu sudah tidak terdengar lagi. Dan aktivitas masyarakat Desa Tejang Pulau Sebesi pada malam hari berjaga-jaga di sekitar pantai sedangkan pada pagi harinya masyarakat sudah beraktivitas normal seperti biasa. Erupsi yang terjadi di tengah kecemasan adanya wabah virus COVID-19 dan pengalaman kelam erupsi yang terjadi pada tahun 2018 yang merenggut jiwa akibat bentukan gelombang tsunami yang menerjang beberapa wilayah pantai di Selat Sunda menimbulkan kecemasan. BKSDA Bengkulu selaku pengelola kawasan Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Krakatau terus melakukan koordinasi dengan pihak PVMBG, BMKG dan BPPT serta bersama-sama dengan masyarakat melakukan monitoring dan pemantauan terhadap aktivitas GAK dan ikut menginformasikan kepada masyarakat melalui akun media sosial resmi BKSDA Bengkulu instagram dengan ID:@bksda_bengkulu dan instagram KPHK Krakatau dengan ID: @krakatau_ca_cal. Dengan harapan informasi yang diberikan menjadikan masyarakat dapat lebih tenang dan tidak memperoleh informasi yang tidak benar dan meresahkan. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Hendak Dikirimkan, 4 Paket Opsetan Tanduk Rusa Diamankan

Ambon, 14 April 2020. Petugas Balai KSDA Maluku yang berada di pos bandara mendapatkan informasi bahwa adanya pengiriman opsetan tanduk rusa melalui jasa paket bandara pada Pukul 10:00 WIT (14/4). Pukul 10.20 WIT, petugas melakukan koordinasi dengan pihak Avsec dan petugas jasa cargo bandara, dari hasil koordinasi tersebut maka dilakukan pemeriksaan barang-barang yang akan dikirim melalui jasa paket bandara, dari hasil pemeriksaan tersebut berhasil diamankan sebanyak 4 buah opsetan tanduk rusa yang akan dikirim menuju Sulawesi Tengah. Dari hasil pemeriksaan terhadap petugas yang menerima paket tersebut dikehui bahwa yang mengirim paket tersebut seorang oknum tentara BKO yang sedang bertugas di Pulau Seram. Dikarenakan pada saat pengamanan barang bukti tersebut tidak ditemukan pemiliknya maka petugas hanya dapat mengamankan barang buktinya saja. Saat ini seluruh opsetan tanduk rusa hasil pengamanan di Pos Bandara Internasional Pattimura Ambon sudah diamankan dan disimpan di gudang penyimpanan barang bukti Balai KSDA Maluku. Sumber : Kacuk Seto Purwanto - Polhut Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Antisipasi Penyebaran Wabah Covid-19 di Sekitar Daerah Penyangga Kawasan SM Pelaihari dan TWA Pelaihari

Pelaihari, 13 April 2020 – Peranan multipihak dalam rangka kerjasama antisipasi penyebaran wabah Covid-19 harus terus dilakukan dalam rangka menekan laju penyebaran wabah tersebut baik ditempat umum, tempat wisata, tempat ibadah dan tempat keramaian lainya. Dalam hal ini pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan beserta (BKSDA Kalsel) jajarannya berupaya melakukan pencegahan dan antisipasi penyebaran wabah Covid-19 melalui beberapa kegiatan antara lain penyemprotan desinfektan dan pembagian masker. Berdasarkan batas administrasi desa, Desa Kandangan Lama dan Desa Batakan ditetapkan sebagai daerah penyangga (Buffer Zone) kawasan SM Pelaihari Tanah Laut dan TWA Pelaihari Tanah Laut oleh BKSDA Kalsel. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari yang merupakan salah satu seksi wilayah BKSDA Kalsel bersama-sama dengan KPH Tanah Laut beserta perangkat desa melakukan upaya pencegahan dengan melakukan penyemprotan desinfektan di fasilitas umum (masjid), warung dan rumah warga di Desa Kandangan Lama dan Desa Batakan serta pembagian masker secara gratis guna memutus mata rantai penyebaran covid-19. Penyemprotan juga difokuskan di Kawasan TWA Pelaihari Tanah Laut yang berada di Desa Batakan terutama di Pantai Batakan dimana kawasan tersebut merupakan salah satu destinasi wisata yang sering didatangi oleh pengunjung, baik itu dari Kabupaten Tanah Laut, dari luar Kabupaten maupun dari luar provinsi. Menurut pengakuan salah seorang pedagang “Warung Sari“ yang berada di Pantai Batakan, masih ada pengunjung yang datang berkunjung ke TWA Pelaihari Tanah Laut (Pantai Batakan), padahal pemerintah sudah menghimbau kepada masyakarat untuk tidak mendatangi tempat keramaian, berwisata atau berkunjung kepantai maupun obyek wisata lainnya. Informasi yang diperoleh dari salah satu pedagang yang ditemui sudah hampir sebulan ini mereka menutup aktifitas warung makanannya karena dikhawatirkan pengunjung yang datang akan membawa wabah virus covid-19. Hal lain juga dikeluhkan oleh salah seorang masyakarat yang ditemui disela-sela penyeprotan terkait penghasilan mereka yang hanya bergantung kepada pengunjung yang datang, disisi lain mereka juga ingin mendapatkan hasil dari penjualan namun disisi lainnya mereka juga takut akan penyebaran wabah virus tersebut. Berdasarkan pengakuan mereka, masyarakat yang khususnya berada dipantai belum mendapatkan sembako gratis dari pemerintah, mereka juga tidak mendapatkan listrik gratis dikarenakan listrik yang mereka pasang bukan listrik bersubsidi tetapi listrik dengan tipe usaha. Warga berharap wabah ini akan segera berlalu dan ada sedikit uluran tangan berupa bantuan dari pemerintah maupun pengelola Kawasan kepada mereka yang menggantungkan hidupnya ditempat wisata ini. Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari (Mirta Sari, S.Hut., M.P) berharap masyarakat taat terhadap himbauan dari pemerintah untuk tidak berkunjung ke kawasan obyek wisata Pantai Batakan TWA Pelaihari, beraktifitas diluar rumah hanya bila keadaan terpaksa, tidak berkumpul & mendatangi tempat keramaian. Untuk pengamanan diri juga, masyarakat diharapkan disiplin menggunakan masker yang telah diberikan. Kepada seluruh ASN dan PPNPN lingkup SKW I Pelaihari agar selalu menjaga kondisi kesehatan, menjaga kondisi kebersihan dan berolah raga ditengah merebaknya wabah Covid-19. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., mengapresiasi kegiatan dengan melibatkan parapihak dalam menangani pandemik Covid-19 di sekitar kawasan konservasi. (ryn) Sumber : Debi Imam Saputra, S.Hut - Polhut Seksi Konservasi Wilayah 1 Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

BKSDA Kalsel Lepasliarkan Maskot Kalimantan Selatan Bersama Sahabat Bekantan Indonesia

Banjarbaru, 14 April 2020 – Pagi hari, proses lepasliar empat individu bekantan di Suaka Margasatwa Pulau Kaget berhasil dilaksanakan. SM Pulau Kaget merupakan salah satu kawasan konservasi bertipe ekosistem mangrove yang menjadi site monitoring bekantan dari empat kawasan konservasi di Kalsel sejak Tahun 2015. Kegiatan realese berjalan dengan baik hasil kerjasama tim Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) dengan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI). Turut serta pula Bapak Zulfa Asma Zikra Anggota DPRD Kalsel yang peduli terhadap lingkungan hidup dan Polairud Banjarmasin mendampingi dalam pelepasliaran. Keempat bekantan tersebut merupakan satwa yang diselamatkan dari luar kawasan konservasi akibat konflik satwa maupun dampak kebakaran hutan dan lahan. Sebelum dilakukan lepasliar, satwa yang diberi nama Marry (2 th), Dara (5 th), Julia (10 th), dan Wandi (7 th) tersebut telah melalui proses penyelamatan (rescue), perawatan di SBI, pemeriksaan kesehatan, serta telah dinyatakan tidak mempunyai gejala penyakit tertentu dan masih memiliki perilaku liar (aktif, lincah, agresif). “SM Pulau Kaget yang masih memiliki ketersediaan pakan cukup memadai dan kepadatan bekantan yang masih cukup rendah merupakan alasan kami memilih lokasi ini” ujar Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M,Sc. Kepala Balai KSDA Kalsel. “Upaya ini juga sebagai tindak lanjut atas dampak covid-19 terhadap rehabilitasi bekantan di kandang rehabilitasi SBI terkait persediaan pakan dan obat-obatan yang semakin susah”, tambah Mahrus. Julia dan Wandi merupakan korban konflik dengan warga karena dianggap hama dan merusak tanaman perkebunan mereka. Sementara Dara merupakan korban kecelakaan akibat kebakaran lahan, dan Marry merupakan bekantan yang diselamatkan warga akibat hanyut di sungai dengan kondisi yang cukup lemah. “Kami telah merehabilitasi 4 ekor bekantan tersebut kurang lebih 4-5 tahun, mulai dari kondisi yang cukup parah hingga saat ini sehat pulih kembali untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya, tentu sesuai pertimbangan medis dan juga sesuai arahan BKSDA Kalsel. Di tengah keterbatasan pandemi corona ini, kita berharap semangat konservasi terus terbangun untuk menyelamatkan maskot kebanggaan banua. Semoga setiap tahun juga semakin berkurang kasus konflik antara bekantan dan manusia akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, ataupun perburuan liar.” Jelas Amalia Rezeki, Ketua Sahabat Bekantan Indonesia. Mahrus kembali menyampaikan bahwa edukasi memang masih perlu terus dilakukan khususnya terhadap warga yang hidup berdampingan dengan habitat bekantan untuk tidak menganggap mereka hama dan tidak semakin mempersempit ruang gerak mereka. “Alih fungsi hutan sejauh ini merupakan ancaman terbesar bagi bekantan di Wilayah Kalimantan Selatan. Hilangnya hutan membuat tidak ada lagi cukup ruang bagi bekantan untuk bertahan hidup”, jelasnya. Semoga dengan sinergi multi pihak, kejadian konflik bekantan dengan manusia, maupun kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir dan kelestarian bekantan di Kalimantan Selatan terus terjaga. (ryn) Sumber : Titik Sundari, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pelepasliaran Satwa Buaya Rawa di Kawasan TN Rawa Aopa Watumohai

Konawe Selatan, 14 April 2020. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) bersama Balai KSDA Sulawesi Utara (BKSDA Sultra) melepasliarkan 1 (satu) ekor satwa Buaya Rawa (Crocodylus palustris) di Blok Hutan Tanjung Labuaya Resort Lanowulu Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II pada hari senin, 14 April 2020. Buaya dengan jenis kelamin Jantan ini memiliki panjang 3 meter dan diameter 55 cm, buaya juga sudah diperiksa kondisinya dan dalam keadaan sehat saat dilepasliarkan. Satwa Buaya ini merupakan hasil evakuasi tim rescue BKSDA Sulawesi Tenggara yang mendapatkan laporan dari masyarakat Desa Biru Kecamatan Poleang Timur Kab. Bombana yang telah menemukan buaya tersebut terhimpit di area persawahan milik warga sehari sebelumnya yaitu pada hari Minggu, 13 April 2020. Tim pelepasliaran satwa dipimpin langsung Kepala Balai, Ali Bahri S.Sos., M.si didampingi Kepala SPTN II, Kepala Resot Lanowulu, staf Balai dan Tim Rescue dari Balai KSDA Sultra. Jarak tempuh untuk mencapai lokasi pelepasliaran dari kantor balai sekitar dua jam melalui perjalanan menggunakan perahu. Sekitar Pukul 10.00 WITA, tim tiba dilokasi kemudian langsung melakukan upaya pelepasliaran satwa tersebut dengan aman dan lancar. Kepala Balai TNRAW menyampaikan bahwa pelepasliaran satwa buaya ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Balai TNRAW bersama Balai KSDA Sultra dalam upaya perlindungan bagi satwa yang dilindungi. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi konflik dengan manusia akibat habitatnya yang terganggu dan semoga satwa ini dapat hidup secara bebas di kawasan TN Rawa Aopa Watumohai. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai ======================== Website : www.rawaaopawatumohai.id Email: btnraw@gmail.com Fb: @Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Twitter : @tn_raw IG : @tnrawaaopawatumohai
Baca Berita

Tertangkap Jaring Nelayan, Penyu Hijau Akhirnya Dilepasliarkan

Maluku Tenggara, 14 April 2020. Petugas Polhut Balai KSDA Maluku dari Resort Tual bersama-sama dengan petugas dari Babinsa dan masyarakat Desa Ohoibadar telah berhasil melepasliarkan 1 (satu) ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) hasil penyerahan secara sukarela dari masyarakat Desa Ohoibadar di Pantai Desa Ohoibadar, Kecamatan Hoat Surbay, Kabupaten Maluku Tenggara (14/4) pada pukul 15:30 WIT. Hasil identifikasi terhadap penyu tersebut diketahui bahwa penyu tersebut berjenis kelamin jantan dengan panjang kerapas sekitar 54 cm. Sebelum diserahkan kepada petugas BKSDA, penyu tersebut terlebih dahulu diserahkan kepada petugas babinsa. Dari hasil keterangan yang diberikan kepada petugas diketahui bahwa penyu tersebut tertangkap secara tidak sengaja oleh jaring ikan milik nelayan setempat, dikarenakan satwa tersebut termasuk satwa yang dilindungi serta adanya peraturan dari pihak gereja untuk tidak membunuh, menangkap dan mengonsumsi penyu, maka nelayan tersebut segera menyerahkan kepada petugas untuk dilepasliarkan kembali. Tingginya kesadaran masyarakat serta adanya peraturan gereja terkait pelestarian penyu di wilayah Maluku Tenggara membuat populasi penyu di wilayah tersebut sangat baik, hal ini patut dipertahankan agar kelestarian penyu tetap terjaga dan lestari. Sumber : Kacuk Seto Purwanto - Polhut Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Penyerahan Bantuan APD ke Rumah Sakit Abdul Azis Singkawang

Singkawang, 14 April 2020. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar melalui Seksi Konservasi Wilayah III mengajak semua elemen untuk saling bahu membahu ikut berperan dalam usaha penanganan covid-19 (14/4). Walaupun tidak secara langsung berhadapan dengan penanganan pasien, dengan bantuan berupa Alat Pelindung Diri (ADP) yang diserahkan kepada RSUD Abdul Azis Singkawang bisa menjadi penyemangat untuk para-para pejuang kemanusian. Semua harus berperan untuk dapat mengurangi resiko penularan, dengan mengikuti anjuran pemerintah. Work Fun, Stay Productive Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Hendak Dijual, 5 Ekor Kakatua Tanimbar Berhasil Diamankan

Saumlaki, 12 April 2020. Berdasarkan laporan dari salah seorang masyarakat bahwa disekitar pasar Kota Saumlaki Kabupaten Kepulauan Tanimbar ditemukan adanya penjualan satwa liar jenis burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana). Mendapatkan laporan tersebut, petugas polhut dari SKW III Saumlaki segera bergerak ke lokasi untuk melakukan tindakan pengamanan, dari hasil kegiatan tersebut petugas berhasil mengamankan sebanyak 5 ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana), setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas di Kantor SKW III Saumlaki diketahui bahwa burung-burung tersebut dimiliki oleh 2 orang masyarakat yang berasal dari Desa Sangliat Dol, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Burung ditangkap disekitar kebun jagung milik masyarakat yang berada di desa tersebut, dikarenakan para pelaku tersebut tidak mengetahui bahwa burung tersebut termasuk satwa yang dilindungi dan penjualan burung ini baru pertama kali mereka lakukan, serta adanya jaminan bahwa masyarakat tersebut tidak akan mengulangi penangkapan dan penjualan burung dari Kepala Adat Negeri Sangliat Dol maka untuk kedua tersangka hanya diberikan pembinaan dan pembuatan surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan penjualan satwa yang dilindungi. Untuk barang bukti sebanyak 5 ekor burung Kakatua Tanimbar saat ini burung tersebut sudah diamanakan di kandang Transit SKW III Saumlaki untuk proses karantina dan direhabilitasi sebelum burung-burung tersebut dilepasliarkan. Sumber : Kacuk Seto Purwanto (POLHUT BKSDA Maluku)
Baca Berita

BBKSDA Jatim Bantu Masyarakat Terdampak Covid-19

Sidoarjo, 14 April 2020. Di tengah pandemi Covid-19, Balai Besar KSDA Jatim melakukan bakti sosial dalam rangka ikut dalam penanggulangan dampak Covid-19. Kegiatan yang dilaksanakan pada 13 April 2020 di beberapa desa di sekitar kantor. Menurut Nur Rohman, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan, dana yang digunakan berasal dari donasi pegawai BBKSDA Jatim yang dikumpulkan beberapa hari sebelumnya. “Selanjutnya dari dari donasi tersebut kami belikan beras, dan dibagikan kepada masyarakat di sekitar kantor”, tambah Nur Rohma Kegiatan pemberian bantuan tersebut dilakukan oleh beberapa pegawai BBKSDA Jatim ke beberapa desa seperti Wedi, Sedati Agung, Sedati Lor, Sedati Gede dan sekitar jalan kantor. Penerimanya mulai masyarakat kurang mampu, buruh-buruh terkena PHK, janda-janda tua, pemulung, hingga tukang ojek online. Balai Besar KSDA Jawa Timur mengucapkan banyak terima kasih kepada para pegawai yang telah mendonasikan sebagian penghasilannya untuk kegiatan bakti sosial bagai masyarakat yang terdampak Covid-19. Sumber : Agus Irwanto, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Perangi COVID-19, BKSDA Kalimantan Barat Beri Dukungan untuk Garda Terdepan

Pontianak, 14 April 2020. Penyebaran dan penularan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sampai saat ini masih terus terjadi di Indonesia. Demikian pula di wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya termasuk Kabupaten Kubu Raya. Meski penyebarannya masih relatif kecil dibandingkan dengan kota-kota di pulau Jawa, upaya untuk menghambat penyebaran Covid -19 di Kalbar terus dilakukan. Dalam rangka memberikan dukungan terhadap garda terdepan penanggulangan wabah ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, hari kamis 9 April 2020 mengambil peran dengan memberikan bantuan berupa Alat Pelindung Diri (APD) dan suplemen berupa madu dan jamu/ramuan tradisonal. Bantuan ini di berikan kepada paramedis yang sedang berjuang di Puskesmas Parit Haji Husein II pontianak, Puskesmas Rasau Jaya serta Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kubu Raya. Dipimpin langsung oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut, M.T sejumlah Alat Pelindung Diri (APD) dan Suplemen diserahkan langsung kepada dua puskesmas dan rumah sakit tersebut. Ini merupakan bentuk implementasi Kementerian LHK dalam hal ini BKSDA-KALBAR di tingkat tapak dalam menangani wabah covid-19. APD-APD tersebut sejatinya dipergunakan dalam penanganan satwa liar dalam program One Health dari FAO ECTAD. Namun demikian, melihat kondisi yang terjadi saat ini APD-APD tersebut sangat di butuhkan bagi mereka yang sedang menangani Covid-19. Dalam pesannya Kabalai menyampaikan untuk terus menyebar kebaikan. "Sekecil apapun kebaikan yang bisa kita lakukan, mari kita lakukan untuk membantu penanggulangan wabah ini." Semoga sedikit kontribusi yang kita berikan ini akan memberikan dampak dalam memutus penyebaran covid-19. Work Fun, Stay Productive Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat --
Baca Berita

Dukungan Pemulihan Ekosistem Di Tengah Pandemi Covid-19

Bengkulu, 12 April 2020. Ditengah Darurat Covid-19 tidak menyurutkan petugas BKSDA Bengkulu di tingkat tapak untuk terus mensosialisasikan dan melakukan pendekatan pentingnya fungsi kawasan konservasi terhadap masyarakat desa penyangga. Dari upaya tersebut beberapa waktu yang lalu membuahkan hasil dimana 2 orang penggarap lahan secara illegal di 2 kawasan konservasi secara sukarela menyerahkan kepada BKSDA untuk dilakukan pemulihan kembali. Pada 7 April 2020 personil PEH dan Polhut gabungan dari Resort Ngalam Talo, Resort Karang Nanding, Resort Sukaraja, dan Personil Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II dengan dikoordinir langsung Kepala SKW II bersama Babinsa, Babinkamtibmas, Kepala dan Perangkat Desa Rawa Indah Kec. Ilir Talo Kab. Seluma, serta penggarap yang telah menyerahkan lahannya secara bersama-sama melakukan pemulihan ekosistem seluas 1,2 hektar di kawasan Cagar Alam Pasar Talo dengan melakukan penebangan tanaman non kehutanan berupa tanaman kelapa sawit. Penebangan dilakukan dengan menggunakan alat berat (excavator) milik masyarakat Desa Rawa Indah sebagai desa penyangga yang secara sukarela mengizinkan alat beratnya digunakan untuk kegiatan penebangan secara mandiri dan swadaya. Lokasi cagar alam yang berada di tepi pantai, pasca penebangan kemudian langsung dilakukan kegiatan penanaman dengan bibit Ketapang (Terminalia catappa) sebanyak 300 batang dan Cemara Pantai (Casuarina equisetifolia) sebanyak 100 batang, serta bibit Pinang (Arenga cathecu) sebanyak 100 batang yang ditanam di batas kawasan. Dan pada keesokan harinya tim melanjutkan melakukan kegiatan pemulihan ekosistem pada kawasan Taman Buru Semidang Bukit Kabu yang juga merupakan implementasi dukungan kegiatan dari perjanjian kerjasama antara BKSDA Bengkulu dengan PT.Kusuma Raya Utama (PT. KRU). Pemulihan ekosistem pada lokasi kedua ini, penggarap lahan juga menyerahkan secara sukarela lahan garapannya seluas 3,5 hektar yang di dalamnya telah ditanami tanaman sawit kurang lebih 400 batang untuk dilakukan penertiban dan pemulihan. Penggarap dengan inisial US yang juga hadir pada saat kegiatan menjelaskan “Bahwa saya menyerahkan lahan yang yang telah saya garap selama ini secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari manapun, hal ini saya lakukan agar dapat dipulihkan kembali fungsinya sebagai hutan konservasi dan dapat memberikan manfaat kepada kami selaku masyarakat desa penyangga. Dan harapannya dapat diikuti oleh penggarap lainnya yang masih memanfaatkan lahan secara illegal di dalam kawasan”. Penebangan dilakukan secara manual menggunakan Chainsaw dan kemudian langsung dilakukan kegiatan penanaman dengan bibit tanaman sebanyak 1400 batang berupa tanaman asli yaitu jenis Bayur (Pterospertum javanicum) serta tanaman lain bernilai ekologi dan ekonomi yang harapan nantinya hasil buahnya dapat dimanfaatkan. Dari seluruh rangkaian dan tahapan kegiatan Pemulihan ekosistem pada kedua kawasan dalam pelaksanaannya tetap mengedepankan himbauan Pemerintah terkait upaya pencegahan dan penanggulangan Convid-19. Dan upaya-upaya pemulihan ekosistem akan terus dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan konservasi lingkup BKSDA Bengkulu. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

BBKSDA Riau Temukan Jejak IIlegal Logging di SM Kerumutan

Pekanbaru, 10 April 2020. Tim patroli pencegahan kebakaran Balai Besar KSDA Riau (BBKSDA Riau) menemukan satu jalan dan pondok illegal logging di kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan (Resort kerumutan utara Kel. Kerumutan Kec. Kerumutan Kab. Pelalawan) pada jumat silam (10/4). Mengingat kondisi sekitar lokasi cukup lembab, dengan pengawasan ketat, tim kemudian menghancurkan pondok dengan cara membakar dan menunggu sampai api benar - benar padam. Sebagai informasi, Tim menggunakan transport air (sampan atau perahu) agar mudah masuk ke dalam kawasan karena kondisi air sungai yang sudah mulai banjir dan menginap di pondok nelayan selama 2 malam di sungai golang. Tak ketinggalan, Tim juga melakukan sosialisasi di pelabuhan Tasik tentang kebakaran dan Suaka Margasatwa Kerumutan juga tentang satwa liar dilindungi kepada masyarakat yang mencari ikan di sungai kerumutan (di pinggir kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan). Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Progres Rehabilitasi "Corina" Pasca Evakuasi dari Teluk Meranti

Pekanbaru, 13 April 2020. “Corina” satwa Harimau Sumatera yang berhasil diselamatkan oleh Tim Balai Besar KSDA Riau dari jerat yang melukai kaki kanan depannya di Teluk Meranti, Kab. Pelalawan telah direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) Yayasan Arsari Djojohadikusumo Sumatera Barat. Adapun progres rehabilitasi “Corina” adalah sebagai berikut : Semoga proses penyembuhan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan “Corina” dapat segera pulih sehingga dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau Nara Sumber : Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono. Penanggungjawab berita : Kepala Sub Bagian Kehumasan, Dian Indriati.
Baca Berita

Petugas KPHK dan Resort di Pulau Terluar Ikut Serta Dalam Pencegahan Covid-19

Bengkulu, 10 April 2020. Pulau Enggano dengan luas mencapai 400,6 km² sebagai salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Hindia yang merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau ini merupakan satu kecamatan yang terdiri-dari 6 desa, dimana jarak pulau ini ke ibukota Provinsi Bengkulu sekitar 156 km atau 90 mil laut sedangkan jarak terdekat adalah ke kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan sekitar 96 km atau 60 mil laut. Pada pulau ini terdapat 6 kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSDA Bengkulu terdiri-dari Cagar Alam (CA) Tanjung Laksaha, CA Sungai Baheuwo, CA Teluk Klowe, CA Kioyo I, CA Kioyo II dan Taman Buru Gunung Nanu’ua, yang pengelolaannya dilakukan oleh KPHK Enggano yang membawahi 2 Resort KSDA (Kahyapu dan Banjarsari). Dengan pandemi Covid-19 yang menyerang indonesia dan untuk mencegah masuk dan penularannya ke pulau dengan jumlah penduduk 2.690 jiwa ini juga telah terbentuk Tim Gugus Depan Covid-19 yang kegiatan rutinnya melakukan pemantauan dan pemeriksaan pengunjung atau warga yang masuk kembali ke Pulau Enggano menggunakan alat transportasi laut dan udara serta melakukan penyemprotan disinfektan pada kantor pemerintahan, tempat ibadah dan fasiltas umum lainnya yang ada. Untuk mendukukung upaya tersebut petugas KPHK Enggano dan Resort KSDA yang ada ikut terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sejak Tim Gugus terbentuk. Keterlibatan ini sebagai bentuk peran aktif petugas dalam kegiatan sosial di tingkat tapak dan sebagai rasa terima kasih kepada masyarakat Pulau Enggano yang atas kesadarannya turut menjaga kelestarian kawasan konservasi, dimana sampai saat ini keenam kawasan konservasi yang ada masih terjaga dengan baik. Sebagaimana pada tahun 2017 yang lalu komitmen bersama Masyarakat Adat Pulau Enggano mendeklarasikan untuk penyelamatan dan pelestarian Ekosistem Pulau Enggano melaui Deklarasi Pelestarian Pulau Enggano yang tidak hanya berkomitmen melestarikan Kawasan konservasi Pulau Enggano, tapi seluruh area pulau. Terdapat lima (5) butir deklarasi yang dibacakan oleh Pa’buki (Ketua Lembaga Adat) Enggano. Pertama, Masyarakat Adat Enggano bersepakat melakukan penyelamatan sumber daya alam dan ekosistem Pulau Enggano sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, sepakat untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan konservasi dari kerusakan. Ketiga, areal peruntukan lain (APL) atau areal masyarakat yang masih berhutan akan dikelola berdasarkan hukum adat dengan mengedepankan asas kelestarian serta menolak penanaman kelapa sawit. Keempat, sepakat menjaga dan melestarikan jenis tumbuhan dan satwa liar asli Pulau Enggano dari perburuan dan peredaran illegal. Kelima, sepakat untuk menjadikan aspek kelestarian kawasan hutan sebagai bagian dari peraturan adat Masyarakat Adat Enggano. Semoga dengan komitmen bersama tersebut dan keberadaan serta peran aktif petugas di tingkat tapak dapat menjadikan terjaganya kelestarian kawasan dan memberikan manfaat. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung

Menampilkan 3.729–3.744 dari 11.141 publikasi