Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sedekah Alam Balai TN Wakatobi

Bau Bau - Balai Taman Nasional Wakatobi, 17 April 2020. Ditengah mewabahnya Virus Corona yang tengah menghantui Dunia, Indonesia termasuk di Wakatobi, tidak menurunkan semangat para Rimbawan Rimbawati Balai Taman Nasional (TN) Wakatobi untuk terus berada di garda terdepan menjaga kawasan bersama masyarakat disekitar kawasan. Hal ini justru menimbulkan rasa kepedulian dan empati para Rimbawan/Rimbawati untuk berbagi yang diberi nama SEDAKAH ALAM kepada mereka yang membutuhkan akibat dampak ekonomi dari Wabah Covid 19. Bantuan berupa beras, minyak goreng, Telur ayam, gula pasir, teh, susu, dan mi instan di distribusikan oleh Kepala SPTN Wilayah dan Tim tanggal 14 s.d 15 April 2020 menggunakan kendaraan roda 4 dan menggunakan speed boat. Bantuan bahan pokok ini langsung diterima 150 Kepala Keluarga pada 15 desa disekitar kawasan yang tersebar di 3 pulau yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa dan Tomia Kabupaten Wakatobi. Sedekah alam bagi Rimbawan Balai TN Wakatobi, sangat filosofis karena kita bekerja menjaga alam, kita hidup dari hasil karenanya, kelebihan dari hasil itu dikembalikan pada sesama di alam (sedekah/ berbagi) sehingga alam tetap terjaga Sedekah alam ini menurut Darman, S.Hut.,M.Sc sejalan dengan prinsip atau pandangan yang selalu disampaikan Oleh Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno.M.Sc yang melalui berbagai kesempakan baik melalui rapat kerja maupun pada saat beliau berkunjung ke kawasan “Pengelola Kawasan harus memperhatikan dan melibatkan masyarakat dalam mengeloa kawasan konservasi”. Pesan ini juga sebagaimana tertuang alam arahan beliau melalui 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konsevasi di antaranya “Masyarakat sebagai Subyek”. Melalui pemberian bantuan tersebut pihak Balai TN Wakatobi berharap bahwa masyarakat dapat terbantu untuk pemenuhan kebutuhan pokoknya walaupun bersifat jangka pendek, dan dapat mengetuk hati orang atau pihak lain yang mempunyai kecukupan untuk peduli dan berbagi terhadap sesama. Sedekah Alam = Pedeuli Sesama, Peduli Alam, untuk kehidupan yang berkualitas. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi Penanggung jawab berita : Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Ditjen KSDAE Darman, S.Hut.,M.Sc Informasi Lebih Lanjut : Humas TN Wakatobi Jimi Purnama, S.Pi.,M.Sc 085340678525
Baca Berita

Panji Petualang Serahkan Buaya Muara ke BBKSDA Jabar

Bandung, 15 Maret 2020. Penyerahan satwa liar yang dilindungi Undang-Undang jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) jenis kelamin jantan dengan ukuran panjang ± 1 meter, diserahkan kepada petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) melalui Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Purwakarta (14/3). Satwa liar tersebut diserahkan warga an. Muhamad Panji atau yang lebih dikenal dengan nama Panji Petualang dengan alamat Kp. Tanjung Garut Rt/Rw.005/002 Ds. Cisaat Kec. Campaka Kab. Purwakarta melalui Berita Acara Penyerahan No. BA.046/K.1/BKW.II/SKW.4/03/2020 tgl 14 Maret 2020. Menurut pengakuan Sdr. Panji, bahwa Buaya Muara tersebut merupakan hasil rescue bersama-sama dengan warga masyarakat di sekitar Sungai Ciherang yang masuk kedalam wilayah Ds. Cihuni Kec. Pasawahan Kab. Purwakarta. Kemudian setelah buaya tersebut berhasil dievakusi, selanjutnya langsung diserahkan ke BBKSDA Jawa Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Purwakarta. Saat ini satwa liar tersebut sudah berada dilokasi transit (Kantor SKW IV Purwakarta) dan akan dititiprawatkan ke Lembaga Konservasi (LK). Penyerahan satwa liar jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) yang telah dilakukan oleh seorang Panji Petualang, semoga bisa meng-edukasi dan juga penyadartauan kepada masyarakat luas untuk tidak menyimpan atau memelihara satwa liar yang dilindungi Undang-Undang, sehingga secara sukarela mereka dapat menyerahkan kepada Negara melalui BBKSDA. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW IV Purwakarta.
Baca Berita

Cegah Penyebaran Covid-19, Resort CA Teluk Kelumpang SKW III Disemprot Disinfektan

Geronggang, 15 April 2020 – Berdasarkan data Gugus Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanganan COVID-19 Kalimantan Selatan pada Rabu pagi disampaikan kasus positif COVID-19 di Kalimantan Selatan menjadi 38 orang dan enam orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah satu orang dibanding data pada Selasa (14/4) petang yang menyebutkan kasus positif COVID-19 sebanyak 37 orang dan lima orang di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah kasus positif COVID-19 tersebut, sebanyak 29 orang dalam perawatan, tiga orang sembuh dan enam orang meninggal. Dalam hal ini BKSDA Kalimantan Selatan khususnya Resort Cagar Alam Teluk Kelumpang Seksi Konservasi Wilayah III turut berpartisipasi dalam pencegahan penyebaran virus Covid-19 dengan cara penyemprotan disinfektan pada kantor resort Cagar Alam Teluk Kelumpang. Penyemprotan dilakukan pada setiap ruangan di kantor resort Cagar Alam Teluk Kelumpang dan fasilitas-fasilitas yang ada dikantor tersebut. Selain kantor resort cagar alam teluk kelumpang, penyemprotan juga dilakukan di kantor Seksi Konservasi Wilayah III sampai dengan kantor BKSDA Kalimantan Selatan di Banjarbaru. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. mengapresiasi inisiatif aktif Resort CA Teluk Kelumpang dan SKW III. Saat ini kami masih mengidentifikasi dampak Covid-19 terhadap masyarakat sekitar kawasan, sehingga bantuan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan, pungkasnya. (ryn) Sumber : Achmad Nabawi - Kepala Resort CA Teluk Kelumpang Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Penyu Tetap Bertelur, Walau Ditengah Pandemi COVID-19

Manado, 15 April 2020 - Bertempat di pantai pasir panjang Pulau Bunaken petugas Polhut dan PEH melakukan pengamatan beberapa ekor penyu yang naik ke daratan untuk bertelur, dari hasil identifikasi berjenis penyu hijau (Celonia mydas). Pulau Bunaken, selain sebagai maskot wisata di kawasan Taman Nasional Bunaken, merupakan salah satu wilayah tempat pendaratan penyu untuk bertelur, dari pertengahan bulan Maret sampai April 2020 tercatat sebanyak 3 ekor penyu bertelur. Penyu hijau adalah spesies yang paling sering ditemui di perairan Pulau Bunaken selain Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), sering terlihat oleh para diver saat melakukan penyelaman atau dengan menaiki perahu kaca/ katamaran, bahkan menjadi objek fotografi. Adi Tri Utomo, fungsional PEH Taman Nasional Bunaken menyampaikan dengan pengamatan penyu ini akan menjadi catatan sebagai peningkatan populasi spesies yang dilindungi terancam punah. Kita catat waktu naik ke daratan dan bertelurnya, selanjutnya kita amati sampai penyu tersebut selesai dan kita pagari melingkar tempatnya agar tidak terganggu ataupun diambil telurnya oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, kemudian diberi penanda di lokasi tersebut untuk dapat mengenali bahwa ada telur penyu yang mau menetas, lanjut Adi. Sumber: Balai TN Bunaken
Baca Berita

Balai KSDA Maluku Menerima Penyerahan 3 Ekor Burung Nuri Maluku

Ambon, 15 April 2020 - Pukul 11:00 WIT, bertempat di Markas Datasemen Kavaleri 5/Birgus Latro Cakti Kodam XVI/Pattimura telah dilakukan penyerahan satwa liar yang dilindungi sebanyak 3 (tiga) ekor burung Nuri Maluku (Eos bornea). Penyerahan satwa liar tersebut diserahkan secara langsung oleh Danton 3 KIKAV 2 kepada Plt. Kepala Balai KSDA Maluku dan disaksikan oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah II beserta beberapa petugas Polhut dari Resort Ambon dan Provos Kodam XVI/Pattimura. Kegiatan penyerahan satwa tersebut merupakan hasil koordinasi yang sudah dilakukan oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku kepada Danton 3 KIKAV 2 Denkav-5/BLC pada hari Senin tanggal 13 April 2020. Untuk selanjutnya pihak Denkav-5 BLC akan melaporkan kegiatan penyerahan satwa tersebut kepada Pangdam XVI/Pattimura dan mendorong untuk dikeluarkan himbauan kepada seluruh anggota TNI-AD agar menyerahkan satwa peliharaan yang masuk jenis satwa yang dilindungi. Untuk satwa yang sudah diserahkan, saat ini sudah diamankan di kandang Transit Passo milik BKSDA Maluku untuk proses karantina dan rehabilitasi sebelum burung tersebut dilepasliarkan ke habitat aslinya di Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah. Sumber : Kacuk Seto Purwanto (Polhut) - Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Pemantauan Pemutihan Karang di 9 Lokasi dengan Total 27 Titik Pemantauan

Resor Jinato, 16 April 2020 - Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem rentan yang menghadapi banyak ancaman serius salah satunya adalah pemutihan karang (coral bleaching). Pemutihan karang dapat disebabkan perubahan kondisi lingkungan khususnya suhu, penyinaran matahari secara berlebihan, infeksi bakteri, penyakit karang, dan tekanan dari lingkungan. Peningkatan suhu dapat menyebabkan karang menjadi stress, sehingga sangat rentan mengalami kematian apabila tidak memiliki ketahanan dan kelentingan untuk dapat melewati masa tersebut dan kembali ke kondisi semula. Periode panas yang diduga menyebabkan pemutihan karang diprediksi terjadi antara periode April-Juli (https://coralreefwatch.noaa.gov/product/vs/map.php). Pentingnya data dan informasi terkait ada tidaknya terjadi pemutihan karang untuk pengambilan kebijakan pengelolaan dan upaya tanggap konservasi terumbu karang yang lebih adaptif. Sehingga, kerusakan karang akibat hal tersebut bisa diminimalisir. Maka sesuai prediksi terjadinya periode panas, petugas teknis dan petugas lapang SPTN Wil. II Jinato melakukan pemantauan pemutihan karang pada tanggal 6 hingga 21 April 2020. Lokasi pemantauan meliputi wilayah kerja SPTN II Jinato, dengan perwakilan 3 lokasi di masing-masing resor. Lokasi tersebut yakni Perairan Jinato, Perairan Lantigiang, dan Taka Kayu Bulan Barat di wilayah Resor Jinato, Taka Malori, Taka Bajang Pogo, Taka Kumai di wilayah Resor Pasitallu Tengah, Taka Selo, Taka Gamma, dan Taka Taburi di wilayah Resor Pasitallu Timur. Total ada 27 titik pemantauan dengan jumlah titik per lokasi amatan disesuaikan dengan luas hamparan karangnya. Hasil sementara dari pemantauan yang dilakukan diketahui tidak terjadi pemutihan karang secara massal akibat perubahan suhu lautan di seluruh wilayah amatan. Pemutihan yang terjadi terbilang kecil dibandingkan luasan karang yang ada. Selain itu, penyebab pemutihan juga diduga karena adanya penyakit maupun predasi pada karang. "Metode yang digunakan adalah survey cepat dengan snorkeling dan menyelam, dan alhamdulilah 27 titik amatan yang kami survey tingkat pemutihannya kurang dari 25% atau kategori sedikit memutih," Jelas Andi Rezki Mutmainnah PEH sekaligus penyelam perempuan di SPTN Wil. II Jinato. Kepala SPTN Wilayah II Jinato Nur Aisyah Amnur yang juga ikut terjun langsung melakukan pemantauan mengatakan bahwa, "pemantauan pemutihan karang ini dilakukan sebagai salah satu upaya konservasi ekosistem terumbu karang. Dengan mengetahui kondisi terkini, kita bisa bersiap untuk menghadapi periode panas dan ancaman pemutihan karang." Lebih lanjut beliau mengatakan, "Kedepan kegiatan ini perlu dilakukan secara berkala dan berkelanjutan sehingga bisa diperoleh data series yang lebih akurat dalam menggambarkan kondisi pemutihan karang dan dampaknya di seluruh wilayah SPTN Wil. II Jinato." Sumber: Balai TN Taka Bonerate Teks : Asri (PEH Balai TN Taka Bonerate) Foto : Andi Rezeki Mutmainnah (PEH SPTN Wilayah II Jinato)
Baca Berita

6 Ekor Nuri Maluku Berhasil Disita Petugas Ketika Hendak Diperjualbelikan

Namlea, 15 April 2020 - Pukul 15.30 WIT Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Pulau Buru telah berhasil mengamankan sebanyak 6 ekor burung Nuri Maluku (Eos bornea) di sekitar Pasar Namlea. Burung tersebut dimiliki oleh sdr. La Rajiun Tomia dan sdri. Emi Ode warga Dusun Lametek, Kota Namlea, Kabupaten Buru, burung-burung tersebut mereka dapatkan dengan cara membeli dari masyarakat kampung yang datang ke Kota Namlea dengan harga Rp50.000 per ekor dan akan dijual kembali di sekitar Pasar Kota Namlea dengan harga Rp80.000 per ekornya. Saat ini burung tersebut sudah diamankan di kantor Resort Pulau Buru untuk dikarantina dan direhabilitasi sebelum dilepasliarkan di wilayah hutan konservasi Suaka Alam (SA). Masbait, dari hasil pantauan secara fisik dapat diketahui bahwa burung-burung tersebut dalam kondisi sehat dan masih sangat liar, kemungkinan burung tersebut baru ditangkap dari alam. Kepada para pemilik burung, dikarenakan penjualan satwa ini batu pertama kali mereka lakukan maka petugas hanya memberikan himbauan dan peringatan untuk tidak mengulangi perbuatan memperjualbelikan satwa yang dilindungi lagi. Sumber : Kacuk Seto Purwanto (Polhut) - Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Patroli Kebakaran Hutan Di SM Giam Siak Kecil Disaat Pandemi Covid-19

Pekanbaru, 15 April 2020. Resort Siak yang dipimpin langsung Kepala Resortnya yaitu bapak Rafles Sitinjak, melakukan patroli kebakaran hutan di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, Desa Tasik Betung, Kec. Sungai Mandau, Kab. Siak. Kondisi daerah adalah tasik dan hutan rawa gambut. Tim melakukan koordinasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tasik Betung dan melakukan sosialisasi penyadartahuan kepada masyarakat Desa Tasik Betung, tentang dampak dari kebakaran hutan dan lahan serta melakukan pemasangan spanduk larangan membakar hutan dan lahan. Pada saat ini kondisi kawasan SM. Giam Siak Kecil masih dalam keadaan aman terkendali. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Si Malu-Malu Masih Berkeliaran Di Jaringan Kabel Listrik PLN

Lampung, 15 April 2020. Kukang sumatera (Nycticebus coucang) atau dikenal dengan satwa malu-malu ini berkeliaran dan berjalan di ranting pepohonan hutan merupakan hal yang sudah biasa, akan tetapi di Provinsi Lampung Kukang sumatera berjalan di kabel listrik dan berada di Gardu/trafo PLN yang bertegangan tinggi merupakan hal yang diluar kebiasaan dan masih menjadi pertanyaan penyebabnya. Pada tahun 2020 ini pihak PLN dari beberapa unit layanan di Provinsi Lampung sudah beberapa kali menghubungi Call Center BKSDA Bengkulu (+628117388100) melaporkan telah mengevakuasi dan akan menyerahkan satwa liar dilindungi ini dan telah ditindaklanjuti oleh petugas Seksi Konservasi Wilayah III-Lampung. Sejak 1 Januari sampai dengan 15 April 2020 pihak PT. PLN telah menyerahkan 14 ekor kukang dan beberapa ekor terdapat luka bakar pada bagian tangan karena tersengat listrik dan untuk selanjutnya satwa tersebut dilakukan rehabilitasi dan pemeriksaan oleh dokter hewan dan petugas di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) BKSDA Bengkulu di Lampung sebelum dilepasliarkan kembali. BKSDA Bengkulu dan pihak PT. PLN masih mencari penyebab dan solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah ketertarikan kukang melintasi kabel listrik dan berada di gardu milik PT. PLN. Berdasarkan keterangan PT. PLN bahwa pihaknya telah rutin melakukan kegiatan pemeliharaan dengan melakukan pemangkasan ranting-ranting pohon pada jalur yang yang dilintasi jaringan kabel dan hal tersebut seharusnya sudah dapat mencegah berpindahnya kukang. Semoga upaya-upaya yang telah dilakukan dapat menyelamatkan populasi satwa ini di alam. Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Laporan Lokasi Baru Peneluran Penyu TN Bunaken Ditengah Pandemi Covid-19

Manado, 16 April 2020. Selama penutupan sementara kawasan dari aktivitas wisata diving dan snorkeling dimasa pandemik Covid-19, membawa berkah lainnya bagi kehidupan satwa, beberapa penyu naik ke daratan untuk bertelur, seperti yang terjadi di Pantai Pasir Panjang Pulau Bunaken. Hingga kemarin Rabu 15 April 2020, hasil pemantauan lapangan tercatat sebanyak 3 ekor penyu naik ke daratan, dengan jumlah telur sebanyak 341 butir. Kami memiliki beberapa site monitoring seperti di Pantai Muka Kampung, Pulau Bunaken dan Pantai Pulau Siladen Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan Pantai Tanjung Kelapa Poopoh dan Pantai Wawontulap SPTN Wilayah II, untuk Pantai Paser Panjang adalah laporan pertama yang disampaikan oleh masyarakat melalui Masyarakat Mitra Polhut (MMP) binaan kita, ungkap Farianna Prabandari Kepala Balai Taman Nasional Bunaken. Farianna menyampaikan bahwa penyu hijau adalah spesies yang paling sering ditemui di perairan Pulau Bunaken selain Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), satwa ini sering terlihat oleh para diver saat melakukan penyelaman atau dengan menaiki perahu kaca/ katamaran, bahkan menjadi objek fotografi. Di bulan Maret - April, adalah bukan waktu bagi penyu hijau untuk naik ke daratan dan bertelur, walapun dalam catatan pernah naik di bulan Maret tahun 2018 di Pantai Muka Kampung, tetapi secara umum pada site monitoring kami penyu hijau sering naik dan bertelur antara bulan Juni - Agustus. Terlebih lokasi yang disampaikan merupakan area baru untuk peneluran penyu di Pulau Bunaken. Dugaan awal kami adalah disaat ini kawasan tutup sementara untuk berbagai kegiatan wisata, memang tidak menampik kemungkinan hal tersebut juga bisa memberikan pengaruh terhadap satwa dengan merasa tidak terganggu kehidupannya. Lokasi yang paling sering ditemui saat diperairan bilamana melakukan aktivitas diving dan snorkeling adalah di Likuan I dan II divespot, Muka Kampung divespot, Fukui divespot, dan Bunaken Timur I divespot. Apresiasi yang tak terhingga kepada masyarakat Pulau Bunaken yang telah menyampaikan laporan lokasi baru peneluran penyu melalui MMP dan petugas kami di lapangan. Langkah-langkah selanjutnya yang akan kami ambil pada 2 lokasi peneluran dilakukan penetasan semi alami dan 1 lokasi peneluran dengan memberikan penanda dan menjaga dari gangguan predator alami, tegas Farianna. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken ____________ Narahubung: Kepala Balai Taman Nasional Bunaken Farianna Prabandari - 08123162647
Baca Berita

Aktivitas PEH TN Matalawa Ditengah Terpaan Wabah COVID-19

Waingapu, 14 April 2020 - Sudah lebih dari 1 bulan sejak diumumkan kasus pertama infeksi COVID-19 pada awal Maret 2020 dan mulai sejak itulah seluruh kegiatan perkantoran maupun lapangan dibatasi. Namun, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) sebagai satu-satunya kawasan konservasi yang ada di Pulau Sumba dan menjadi benteng terakhir terhadap penyelamatan keanekaragaman hayati didalamnya, tetap menjalankan beberapa kegiatan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah dikeluarkan pemerintah. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah monitoring jumlah satwa prioritas yang ada di TN Matalawa yakni burung Julang Sumba (Rhyticeros everetti) dan Kakatua Jambul Jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata). Kegiatan ini merupakan tahap pertama dari 3 tahap yang direncanakan dalam 1 tahun ini. Monitoring dilakukan serentak di seluruh kawasan TN Matalawa, seperti pada hutan Mahaniwa, Billa, Praingkareha, Laikokur, Lokuhuma, Konda Maloba, Tangairi hingga Ubukora dan lokasi lainnya dengan total 16 site monitoring atau kurang lebih 16.000 ha. Dari hasil pengamatan ini didapatkan data sebanyak 103 ekor burung Kakatua Jambul Jingga dan 64 ekor burung Julang Sumba yang ditemui secara langsung. Pengamatan yang dilakukan menangkap adanya indikasi bahwa burung yang ditemui sebagian besar berkelamin jantan, hal ini dapat disebabkan oleh banyak betina yang sedang melakukan pengeraman telur di musim hujan. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman MM, mengapresiasi kepada petugas yang telah melaksanakan tugas di lapangan ditengah ramainya penyebaran virus COVID-19, karena bagaimanapun sudah menjadi kewajiban kita sebagai penjaga keanekaragaman hayati di Pulau Sumba ini. Kepala Balai juga mengingatkan agar tetap menjaga kesehatan selama bertugas dan mematuhi protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus COVID-19 ini. Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Kegiatan Patroli Teresterial di Kawasan Hutan SM Kerumutan

Pelalawan, 10 April 2020 - Kegiatan patroli Teresterial (patroli perairan) dalam rangka pengamanan kawasan hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan tetap dilakukan oleh para petugas lapangan Balai Besar KSDA Riau. Pada hari Jum'at , kegiatan patroli di kawasan hutan tepatnya di sungai Buluh dengan menggunakan perahu (ketinting). Hasil kegiatan ditemukan beberapa tunggul kayu dan jalan ongkak untuk membawa kayu hasil illog. Tim segera melakukan pemotongan jalan ongkak supaya tidak dipergunakan kembali oleh para pembalak. Namun di tempat tersebut tidak ditemukan satupun pelaku pembalakan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sahabat dan Handai Taulan di Rumah Aja, Kami Yang Urus Satwa Dilindungi

Banjarbaru, 14 April 2020 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Kalsel) kembali lepasliarkan satwa dari kandang transit di Banjarbaru ke Suaka Margasatwa Pulau Kaget. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah mengantisipasi dampak covid-19 terhadap ketersediaaan pakan dan obat-obatan serta meminimalisir kemungkinan penularan virus dan penyakit lainnya. Pelepasliaran didampingi Kepala SBTU, Suwandi, S.Hut, MA, Kepala SKW 2, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si, dan Koordinator KKH, Titik Sundari, S.Hut. Turut serta juga Tim Sahabat Bekantan Indonesia, Anggota DPRD Kalsel Bapak Zulfa Asma Vikra dan Polairud Banjarmasin dalam proses pelepasliaran ini. Kegiatan ini lanjutan dari pelepasliaran bekantan. Ada total 4 ekor satwa yang dilepasliarkan diantaranya 2 ekor Pecuk Ular (Anhinga melanogaster), 1 ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), dan 1 ekor Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus). Satwa-satwa ini berasal dari penyerahan warga, karena kondisi yang belum memungkinkan untuk dilepas, maka dilakukan perawatan sementara di kandang transit SKW II Banjarbaru hingga dianggap mampu kembali ke alam. Kegiatan pelepasliaran merupakan kegiatan rutin yang dilakukan BKSDA Kalsel terhadap satwa yang sudah layak untuk kembali ke habitatnya. “Kandang transit hanya berperan sebagai kandang pemeliharaan sementara terhadap satwa-satwa hasil sitaan ataupun hasil serahan masyarakat”, terang Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala Balai KSDA Kalsel. “Dalam waktu dekat ini kami juga akan melepasliarkan beberapa satwa dari kandang transit sesuai habitatnya masing-masing. Semestinya satwa liar memang tidak baik jika dipelihara terlalu lama karena akan menimbulkan ketergantungan pada manusia dan susah untuk dapat beradaptasi kembali di alam. Saya juga menghimbau kepada masyarakat luas untuk tidak memelihara satwa liar, khususnya jenis dilindungi. Biarkan dia hidup bebas di alamnya, biarkan dia bahagia di rumahnya, sementara kita masih bisa menikmati keindahannya tanpa menyakitinya.” Imbuhnya. Kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita lebih baik tinggal di rumah, namun karena pelepasliaran harus tetap dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan tim BKSDA Kalsel tetap harus bekerja. Kepala BKSDA Kalsel mengapresiasi jajaran pegawainya yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam menjaga dan mempertahankan populasi satwa dilindungi di habitat alami, sehingga terhindar dari kepunahan. Sahabat dan handai taulan di rumah aja, kami yang urus satwa yang dilindungi demi keharmonisan alam dan manusia. (ryn) Sumber: Aji Faisal Noor Zaky - Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru
Baca Berita

BKSDA Maluku Menerima Bantuan Penambah Daya Tahan Tubuh Dari BPSKL Maluku – Papua

Ambon, 15 April 2020 - Di Kantor Balai KSDA Maluku, Ibu Rosna, SP selaku PLT Kepala Balai KSDA Maluku dan Ibu Meity Pattipawaej selaku Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Maluku menerima bantuan penambah daya tahan tubuh dari Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Maluku Papua. Bantuan ini diserahkan langsung oleh Kepala Balai PSKL Wilayah Maluku Papua, Bapak Yusup, SP., M.Si. Bantuan ini terdiri dari jahe merah, madu, dan kunyit yang merupakan produk hasil binaan dari kelompok usaha perhutanan sosial. Jumlah bantuan sumplemen yang diterima adalah sebanyak 50 pax dan akan dibagikan untuk pegawai BKSDA Maluku. Bantuan ini diterima baik oleh pihak BKSDA Maluku, mengingat suplemen ini berguna untuk menunjang kesehatan pegawai yang masih bertugas baik di rumah maupun di lapangan. Sumber : Gries Elvina Noor (Calon PEH) - Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Lewati Pintu Masuk Kawasan TNRAW, Cek Suhu Badan dan Semprot Disinfektan

Konawe Selatan, 15 April 2020. Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) bersama dengan Tim terpadu Polsek Tinanggea, Polres Konsel, BNPB Konawe Selatan (Konsel), Dinas Kesehatan Konsel, Dinas Perhubungan Konsel melaksanakan kegiatan Pengecekan Suhu Badan & Penyemprotan Disinfektan di Pintu Masuk Kawasan TNRAW (Palang I) bagi pengendara motor dan mobil yang akan memasuki wilayah Kabupaten Konawe Selatan (14/4). Pelaksanaan kegiatan ini telah dimulai sejak tanggal 4 April 2020 dan akan diakhiri tanggal 31 Mei 2020. Evaluasi juga akan dilakukan melihat situasi dan kondisi nantinya. Selain melakukan pengecekan suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan, Satgas pencegahan juga memberikan masker bagi para pengendara dan menghimbau untuk tetap berada dirumah apabila tidak ada urusan yang mendadak. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai ====================================== Website : www.rawaaopawatumohai.id Email: btnraw@gmail.com Fb: @Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Twitter : @tn_raw IG : @tnrawaaopawatumohai
Baca Berita

Upaya Penyelamatan Ular Sanca Batik di Perkebunan di Sumba Timur

Waingapu, 15 April 2020. Petugas Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Safaat Nurhidayat dan Agus Kusumanegara) menanggapi panggilan dari pegawai perkebunan tebu yang beberapa hari terakhir resah dengan keberadaan ular besar di perkebunannya. Mereka juga turut didampingi oleh petugas KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus), salah satu unit Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang di Hambala Sumba Timur, Bertholomeus Bhenu. Saat tim mencapai lokasi perkebunan, ular tersebut telah ditangkap oleh beberapa orang di perkebunan untuk diserahkan kepada tim. Tim mengidentifikasi jenis ular serta melakukan pemeriksaan luar untuk memastikan kesehatan satwa tersebut. Setelah diidentifikasi, jenis ular tersebut adalah jenis sanca batik (Malayopython reticulatus) dengan ukuran panjang mencapai 2 meter. Tidak ditemukan luka pada bagian tubuh ataupun penyakit kutu yang biasa terjadi pada ular. Walaupun jenis ular ini tidak masuk dalam kategori perlindungan, namun jenis ini perlu dilestarikan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Atas dasar itulah, tim memutuskan untuk melepasliarkan kembali ular tersebut di kawasan KHDTK yang relatif aman dari gangguan manusia. Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa

Menampilkan 3.713–3.728 dari 11.141 publikasi