Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Menggali Kreativitas Anak Desa Jinato Dimasa Pandemi

Resort Jinato - Taman Nasional Taka Bonerate, 13 Mei 2020. Masa pandemi dan bulan puasa tidak menyurutkan untuk melakukan hal-hal kreativitas di lapangan yang tentunya tetap mengikuti protokol kesehatan atau pencegahan covid 19, yaitu memakai masker dan jaga jarak. Seperti yang dilakukan petugas Penyuluh Balai Taman Nasional Taka Bonerate yang berada di Resort Jinato, Syamsuriani atau Nani - sapaan akrabnya. Nani bersama dengan petugas lainya kemarin (12/05) mengumpulkan beberapa anak-anak Desa Jinato untuk membuat kerajinan tangan dari bahan bekas tripleks dan pasir. "Pertama-tama, siapkan bahan dan alat. Pasir yang digunakan terlebih dahulu diayak untuk mendapatkan tekstur yang bagus dan halus. Kemudian triplek yang digunakan diolesi lem putih dan ditaburi pasir keseluruh permukaan atau sesuai bentuk pola yang diolesi lem. Kemudian hasilnya dikeringkan di bawah sinar matahari. Jika sudah kering, lalu diberi warna sesuai yang diinginkan dan dikeringkan kembali. Nah untuk lebih kuat dan pasir tidak terhambur maka diolesi kembali dengan lem putih yang sedikit lebih cair dan dikeringkan kembali sebagai tahap akhir," jelas Nani didepan anak-anak. Anak-anak Desa Jinato yang sempat hadir sangat antusias mengikuti giat ini, selain mendapatkan ilmu baru juga bisa mengisi kekosongan waktu sekolahnya yang untuk sementara ditiadakan sembari menunggu waktu berbuka puasa. "Masing-masing hasil karyanya bisa dibawa pulang, dipajang dirumah dan sampaikan salam buat orang tuanya, datang lagi ya besok," tutup Nani. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate [Teks & Foto : Rezki Mutmainnah @rezki_mutmainnah - PEH Pertama, Editor : Asri @asritntbr - PEH Penyelia]
Baca Berita

Monitoring Fungsi Kawasan TNDS, Perkuat Keberhasilan Pengelolaan Kawasan Menjadi Lebih Baik

Putussibau, 13 Mei 2020. Tim Bidang Teknis Konservasi Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dengan personil Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak melakukan monitoring fungsi untuk mendukung rencana evaluasi zonasi pengelolaan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Fokus lokasi kegiatan terbagai dalam 4 wilayah, dimana wilayah Resort Lupak Mawang, Resort Semangit, Resort Sepandan dan Resort Pulau Majang menjadi skala prioritas kegiatan. Target prioritas ini didasarkan atas adanya data dan informasi dari para pemangku kawasan di tingkat tapak, dimana seiring waktu telah terjadinya beberapa perubahan dalam zona pengelolaan di wilayah kerjanya. “Target dalam kegiatan monitoring fungsi kawasan TNDS adalah zona pengelolaan Taman Nasional di wilayah kerja TNDS, dengan tujuan melakukan pemantauan kondisi eksisting fungsi kawasan” ungkap Ardi Andono, selaku Kepala Bidang Teknis Konservasi. Ardi menyampaikan, kondisi eksisting kawasan menjadi penting untuk terus diawasi sebagai dampak perubahan lingkungan global yang wajib menjadi perhatian dalam pengelolaan kawasan konservasi TNDS. Keberadaan masyarakat yang mendiami Danau Sentarum tersebar di dalam kawasan, tentunya akan berpengaruh terhadap pengelolaan kawasan. Kebutuhan akan lahan untuk beraktivitas dan bermukim semakin hari akan semakin bertambah berbanding lurus dengan peningkatan jumlah masyarakat yang bermukim di kawasan ini. Aripin, selaku Koordinator Tim menjelaskan, catatan hasil monitoring fungsi memperoleh hasil yang menggembir akan dimana keberadaan Zona Rehabilitasi tahun 2014 bisa direkomendasikan berubah zona pengelolaan menjadi Zona Tradisional yang didasari dengan munculnya suksesi alami dilokasi tersebut berupa tumbuhnya hutan sekunder muda yang memiliki komposisi cukup variatif, bahkan beberapa diantaranya merupakan jenis tanaman yang menjadi sumber pakan lebah madu. Sudah pasti menjadi suatu angin segar yang dapat mendukung program pemberdayaan ekonomi masyarakat di TNDS. Dimana, budidaya madu hutan melalui model Tikung maupun Lalaw menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi masyarakat di kawasan Danau Sentarum. Arifin juga menambahkan, adanya aktifitas wisata baru yang tengah menggeliat dengan banyaknya pengunjung di Pulau Sepandan tentunya menjadi hal yang cukup baik, mengingat akan adanya peningkatan pendapatan masyarakat setempat juga Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), untuk itu Pulau Sepandan yang semula Zona Tradisional akan dirubah menjadi Zona Pemanfataan. “Dengan meningkatnya luas akses kelola yang diperuntukan bagi masyarakat di zona tradisional, diharapkan ikut berperan andil dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berada di kawasan TNDS”. Jelas Arifin dalam pemaparannya. “Tentunya yang paling terpenting adalah terbentuknya kolaborasi pengelolaan kawasan konservasi yang saling mendukung antara masyarakat dan UPT Pengelola Balai Besar TaNa Bentarum, dengan tetap menjadikan masyarakat sebagai subjek dalam pengelolaan kawasan”, pungkasnya saat mengakhiri paparan. Sumber : Aripin, M.Sc. - PEH Muda Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Survival Masyarakat Lereng Timur Merapi Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Boyolali, 13 Mei 2020. Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat luar biasa, karena semua berjuang melawan pandemi virus Covid19. Dampak ini sangat terasa terutama bagi masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Namun, akses kelola hutan yang diberikan oleh TNGM dalam bentuk pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari sangat memberikan dampak yang nyata dalam mempertahakan perekonomian. Dalam mempertahankan perekonomian, masyarakat sekitar kawasan tetap memproduksi hasil-hasil yang dipelihara pada setiap lahan masyarakat. Sebagai contoh, Kelompok Tani Hutan (KTH) Serba Usaha Merapi I mengusahakan komoditi bawang goreng. KTH Serba Usaha Merapi I yang terletak di Desa Wonodoyo, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali merupakan kelompok binaan TNGM sejak Tahun 2008. Kelompok ini mempunyai potensi dalam mengembangkan usaha ekonomi dengan mengembangkan bawang goreng serta membantu dalam menjaga kawasan TNGM. Harga bawang goreng yang diproduksi sendiri dijual seharga Rp.75.000/kg. "Corona tidak menurunkan semangat kami untuk mempertahankan roda perekonomian dengan tetap memproduksi bawang goreng dan hasil yang diperoleh tetap sama," ujar Sumardi selaku Ketua Kelompok Serba Usaha Merapi I. Selain KTH Serba Usaha Merapi, salah satu mitra konservasi yaitu Nyono Wahyono, yang juga giat dalam mengembangkan usaha budidaya kopi Merapi jenis arabika. Beliau bertempat tinggal di desa tertinggi di lereng Merapi sisi Timur yaitu Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Nyono Wahyono ini menjual kopi arabika Merapi dalam bentuk green bean seharga Rp. 120.000/kg. Tanaman kopi arabika di merupakan warisan turun temurun dan dibudidaya di daerah penyangga TNGM. "KTH Serba Usaha Merapi I yang berada di Desa Wonodoyo serta Nyono Wahyono yang merupakan salah satu penggiat konservasi di Desa Sidorejo (Deles Indah) merupakan masyarakat desa penyangga TN Gunung Merapi" ujar Kepala Balai TNGM, Ir Pujiati. Beliau juga menegaskan juga bahwa "bawang serta kopi arabika Merapi hasil dari masyarakat merupakan komoditas yang ditanam di lahan perkebunan yang mereka miliki". Kebutuhan akan bawang goreng dan kopi arabika Merapi tetap sama pada saat pandemi Covid ini, mengingat 2 komoditas ini mempunyai manfaat yang baik untuk kesehatan. Kopi arabika Merapi dan bawang goreng dapat meningkatkan imun tubuh dan diperlukan pada saat pandemi Covid-19. Upaya ini juga dalam rangka agar masyarakat tetap produktif, mempunyai ketahanan pangan dari rumah masing-masing, untuk bersama-sama menghadapi pandemi Covid-19 ini. Melalui program pemberdayaan masyarakat dalam bentuk diversifikasi produk seperti bawang goreng dan kopi arabika Merapi maupun kemitraan konservasi dalam bentuk akses pengambilan rumput di zona tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat ternyata dapat mempertahankan perekonomian masyarakat sekitar kawasan TNGM sehingga kawasan hutan dapat terjaga dengan baik. *** Sumber : Aldila Paramita - Penyuluh Kehutanan Pertama Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Solidaritas ditengah Pandemi Covid-19 Untuk Parawisata Biras dan Buper

Selasa, 12 Mei 2020 - Biras dan Buper merupakan areal zona Pemanfaatan dengan luas 81 Ha dengan tipe hutan Jarang Melaleuca yang dimiliki oleh Suku Marori Men Gey. Kawasan Biras dan Buper berbatasan dengan zona rimba. Kawasan ini merupakan lokasi yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal Merauke baik perseorangan maupun kelompok terutama pada hari minggu dan hari libur untuk mandi/berenang dan mancing. Terdapat point of interest diantaranya seperti kolam pemandian buatan seluas 3,65 ha, Kolam pemancingan seluas 0,73 ha, Kolam pemandian, Shelter, MCK, Bak sampah permanen, Pendopo/tempat pertemuan. Gambar 1. Anak-anak menikmati pemandian di Biras Perawatan Biras dilakukan secara rutin oleh beberapa marga Suku Marori Men Gey. Mereka membersihkan lingkungan sekitar Biras dan Buper dari sampah yang dibawa oleh pengunjung. Dengan segala daya mereka telah membantu walaupun sekarang sedang berkecamuk wabah Covid-19. Kita perlu solidaritas di masa susah. Menerjemahkan perubahan hidup membutuhkan sedikit perasaan kasih sayang untuk tempat yang kita tinggal. Masyarakat Suku Marori Men Gey memegang teguh keyakinan bahwa alam itu adalah ibu yang selalu memberi mereka kehidupan. Merawat dan menjaga Biras merupakan salah satu bentuk perasaan sayang untuk tempat tinggalnya. Terlepas dari kesadaran untuk menjaga lingkungannya membuat seorang putra asli Marori Men Gey, Agustinus Mahuze melakukan inisiasi pembersihan kawasan Biras dan Buper secara sukarela. Dia mengajak beberapa orang di Kampung Wasur untuk turut serta membersihkan kawasan Biras. Kegiatan tersebut sangat berdampak bagi kenyamanan pengunjung. Selain itu juga kontribusi yang mereka berikan sangat membantu Balai Taman Nasional Wasur. Gambar 2. Pembersihan kawasan Biras dan Buper yang dipelopori oleh Agustinus Mahuze Pada saat ini sudah semestinya segala kontribusi yang kita berikan akan memberikan pencerahan di masa susah dalam menghadapi Covid-19. Dengan semangat gotong royong mari kita membangun Kawasan Taman Nasional Wasur kita ini dengan penuh cinta. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan akan bernilai dimasa datang. Semoga wabah Covid-19 ini segera berlalu dan kita bisa berkumpul bersama seperti sedia kala. Salam Wasur lestari. Sumber: Balai TN Wasur Aprianto, S.Si.,M.Sc dan Agustinus Mahuze
Baca Berita

Koordinasi Penanganan Konflik Satwa di Muspika Kecamatan Siabu

Mandailing Natal, 12 Mei 2020. Kepala Balai melaksanakan koordinasi dengan muspika Kecamatan Siabu yang membahas tentang penanganan konflik satwa dimana pentingnya saling menjaga kelestarian satwa terutama satwa kunci Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Bapak Kepala Balai menyampaikan terkait pentingnya saling menjaga kelestarian Satwa, terutama satwa kunci Harimau sumatera Dalam kesempatan ini, Camat Siabu di wakili oleh Sekretaris nya Bapak Muhammad Sukri serta Polsek Siabu, Koramil Siabu juga aparat maupun stakeholder terkait agar ikut mendukung dalam perlindungan satwa dengan bersama-sama menghimbau agar menghentikan perburuan satwa. Tim menyampaikan terkait himbauan dan kesepakatan bersama terkait stop perburuan satwa ke Koramil 12 Siabu dan Polsek Siabu, mereka mendukung sepenuhnya, bahkan Kapolsek Siabu Bapak Iptu Ayub Nasution sangat mendukung dan siap berkontribusi dalam Perlindungan dan Perburuan Satwa dengan menyetujui adanya himbauan dan Kesepakatan yang ditandatangani bersama sebagai wujud ikut serta dan serius dalam menangani tindakan perburuan satwa terutama diwilayah Kecamatan Siabu. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

111 Tukik Dilepasliarkan Bersama Aparat Desa dan Warga Desa Khusus Pasitallu

Resort Pastim - Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, 12 Mei 2020. Masa pandemi corona tidak menyurutkan semangat personil Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato, Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate untuk tetap berkegiatan di lapangan. Salah satu kegiatannya yakni upaya konservasi penyu melalui pelepasliaran tukik bersama perangkat desa dan warga setempat. Tukik yang menetas secara alami di Pulau Pasitallu Barat (Zona Inti) akhirnya siap untuk dilepasliarkan ke alam. Kemarin, Minggu (10/05/2020) Personil Resort Pasitallu Timur (Pastim) dan Resort Pasitallu Tengah bersama pemerintah Desa Khusus Pasitallu melakukan pelepasliaran 111 ekor anak penyu (tukik) jenis Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di pantai sebelah Utara Pulau Pasitallu Timur. Pelepasliaran ini bertujuan untuk menjaga kelestarian dan populasi penyu di alam. Tukik yang dilepasliarkan telah memiliki panjang karapas rerata 9 cm dan lebar rerata 7 cm, sehingga diharapkan akan memiliki peluang hidup lebih besar di alam. Pelepasliaran ini diikuti Kepala Resort Pasitallu Timur, Sekretaris Desa Khusus Pasitallu beserta perangkat desa, Kepala BPD Desa Khusus Pasitallu, serta Ketua Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Desa Khusus Pasitallu. Pelepasliaran ini tentunya dengan mematuhi protokol pencegahan Covid-19 dimana para peserta menggunakan masker dan saling menjaga jarak. Sekretaris Desa Khusus Pasitallu, Edi menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan pelepasliaran tukik yang telah dilaksanakan dan berharap agar pemerintah desa bersama Balai TN Taka Bonerate dapat terus melakukan kolaborasi dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. "Saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini, pemerintah desa akan mendukung dan berperan aktif dalam upaya perlindungan dan konservasi, karena kami tahu bahwa tujuan taman nasional adalah memastikan sumberdaya yang ada di kawasan Taka Bonerate ini dapat berkelanjutan sampai anak cucu nanti" ucap Edi. Kegiatan pelepasliaran ini diakhiri dengan penandatanganan Berita Acara Pelepasliaran, dan pernyataan kerja sama dalam upaya perlindungan dan konservasi satwa liar di wilayah kerja masing-masing. "Saat ini kita memasuki era dimana kolaborasi antar pihak sangat diperlukan dalam mencapai suatu tujuan, nah langkah awal dalam kolaborasi ini adalah adanya kesepahaman bersama akan tujuan yang akan dicapai, termasuk dalam upaya perlindungan dan konservasi satwa liar" ujar Hendra Marannu selaku Kepala Resort Pasitallu Timur. Lebih lanjut Hendra Marannu menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi para personil Resort Pasitallu Timur dan Resort Pasitallu Tengah terutama Pak Samad yang telah bersedia membantu dalam menjaga merawat tukik selama ini hingga akhirnya siap untuk dilepasliarkan. "Alhamdulillah dari jumlah tukik yang menetas secara alami di Pulau Pasitallu Barat, kemudian dipindahkan disini untuk dirawat, bersyukur karena tidak ada satu pun tukik yang mati dalam masa perawatan" ungkap Hendra. Tak lupa pula Hendra menyampaikan terima kasih kepada para aparat pemerintah Desa Khusus Pasitallu yang telah mengapresiasi dan berpartisipasi serta kepada semua yang turut hadir dalam kegiatan pelepasliaran ini. Sumber : Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks/Foto : Khoirul Anam - PEH Pertama, Editor : Asri - PEH Penyelia Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Demplot Lebah Kelulut Balai Besar TaNa Bentarum, “Secercah Harapan Bagi Masyarakat Penyangga”

Padua Mendalam, 12 Mei 2020. Ada hal yang berbeda apabila kita mengunjungi Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Padua Mendalam Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Ya, salah satu kantor penjaga kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) ini telah banyak dikelilingi oleh kotak stup yang merupakan kotak sarang lebah kelulut (Trigona sp.). Sekitar bulan Februari 2020 Seksi PTN Wilayah III Paduan Mendalam mulai mengembangkan budidaya lebah kelulut di lingkungan Kantor Seksi yang merupakan salah satu bentuk pembelajaran lapangan dalam rangka pengembangan pola pemberdayaan masyarakat sekitar penyangga kawasan TNBK, khususnya masyarakat di wilayah Mendalam. “Potensi kelulut di dalam maupun di luar kawasan hutan TNBK sangat melimpah, sayang sekali apabila tidak dilirik untuk dibudidayakan, melalui demplot budidaya lebah kelulut ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pembelajaran bagi masyarakat sekitar bahwa hasil hutan bukan kayu nyata-nyata ada dan apabila digarap dengan baik dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi yang serius menekuninya“, jelas Heri Gunawan, Kepala Seksi PTN III Padua Mendalam. Heri menerangkan bahwa lebah kelulut sendiri memiliki ukuran yang kecil seperti lalat, bersarang di dalam pohon, dan tidak memiliki sengat. Koloni lebah kelulut diambil dari pohon tapang yang ketinggiannya bisa mencapai 80 meter. Ada juga yang diambil dari pohon karet. Cara pengambilan koloni lebah kelulut biasanya dipotong pada bagian batang pohon tersebut, tapi kami telah mencotohkan bagaimana budidaya yang baik tanpa merusak pohon inangnya, yakni dengan cara membuat kotak stup. “Stup berasal dari kayu yang sudah kering supaya kelulut cepat mengelem dengan resin, selanjutnya stup dibuatkan lubang yang ditempelkan propolis dan dalam boks diberi sedikit telur dari sang ratu lebah kelulut, kemudian ditutup dengan plastik supaya kedap dab selanjutnya kita tinggal tunggu produksinya,” ujar Heri. “Meski begitu tidak semua budidaya kelulut itu dapat berhasil, ada faktor dari luar yang menjadi pengganggunya seperti semut, ulat, ayam, burung, dan lainnya”, tambahnya. Saat ini, berkat inovasi Kepala Seksi dan Staf telah dikembangkan sekitar 40 buah stup yang semula hanya berawal dari 10 buah stup saja dan akan terus diperbanyak lagi dengan menggunakan teknik yang tepat dengan bahan baku murah sehingga dapat dicontoh oleh masyarakat, mengingat salah satu keberhasilan budidaya adalah efesiensi dari sisi pendanaan. Dalam 3-4 bulan madu kelulut menghasilkan 0,8-1,5 kg madu per stup nya dengan harga per kilogramnya kurang lebih 600 ribu rupiah, dengan demikian apabila satu petani memiliki 20 stup maka akan menghasilkan 12 juta rupiah setiap 4 bulannya atau 3 juta rupiah perbulannya. Secercah harapan ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan tanpa harus merusak hutan dan justru mendapatkan anugrah dari terjaganya kawasan Taman Nasional. “Diperkirakan bulan November-Desember, madu kelulut yang kami kembangkan ini sudah dapat dipanen, madu kelulut yang rasanya asam manis ini memiliki banyak hasiat bagi kita seperti untuk obat batuk, flu, diabetes dan bisa menambah gairah nafsu makan.” ungkap Heri. Sumber : Ahmad Rindoan, S. Hut/ PEH Pertama Bidang Pengelolaan Taman Nasional I Mataso Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Monitoring Tapir di Kawasan TNBG

Mandailing Natal, 12 Mei 2020. Tapir adalah binatang herbivora yang memiliki bentuk tubuh seperti babi, telinga yang mirip badak dan moncongnya yang panjang mirip trenggiling, tubunya berwarna hitam dan putih sementara lenguhannya lebih mirip suara burung daripada binatang mamalia. Tapir merupakan hewan yang soliter, kecuali pada musim kawinnya. Aktivitasnya lebih banyak pada malam hari (nokturnal). Aktivitas makan biasanya dilakukan sambil tetap terus berpindah dalam jalur yang berpindah-pindah. Jangkauan jelajah tapir sangat luas karena mereka cenderung berjalan jauh untuk menemukan lokasi yang kaya garam mineral. Kondisi tapir yang ada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis relatip aman karena masih banyak ditemukan keberadaan tapir diberbagai titik dikawasan tersebut dilihat dari hasil pemasangan kamera trap yang dilakukan oleh petugas Taman Nasional Batang Gadis. Tapir di Taman Nasional Batang Gadis belum pernah ditemukan mati akibat dari serangan predator lain sehingga dapat dikatakan binatang ini berkembang secara alami dikawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis. Pelaksanaan kegiatan Monitoring tapir (Tapirus indicus) dengan pemasangan kamera trap selama 05 (lima) hari terhitung mulai tanggal 05 s.d 09 Pebruari 2020 di Seksi PTN Wil. III Resot 7 Hutan Desa Sopotinjak Kec. Batang Natal. Maksud dilaksanakan monitoring Tapir (Tapirus indicus) dengan pemasangan kamera trap adalah untuk Mendapatkan data sebaran populasi dan habitat tapir (Tapirus indicus) yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Tujuan dilaksanakan monitoring Tapir (Tapirus indicus) dengan pemasangan kamera trap adalah Untuk mengetahui Kelimpahan relatif Tapir (Tapirus indicus) di kawasan Taman Nasional Batang Gadis sehingga dapat dilaksanakan pengelolaan berkelanjutan di bidang KEHATI Fauna Khususnya Tapir (Tapirus indicus). Ruang Lingkup Tapir (Tapirus indicus) ini merupakan pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan keberadaan Tapir. Selain itu juga melakukan pengamatan terhadap habitat Tapir. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Ritual “Tolak Bala” : Tradisi Adat Dayak Tangkal Pandemi Covid19

Tanjung Kerja, 12 Mei 2020. Pandemi Covid-19 memang cukup mengkhawatirkan masyarakat Indonesia hingga ke pelosok negeri dengan banyaknya korban jiwa yang meninggal. Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Berbagai upaya sudah dilakukan dengan mengikuti anjuran pemerintah seperti tetap diam di rumah, melakukan penyemprotan, serta selalu menggunakan masker pada saat beraktifitas. Namun ada hal menarik dijumpai pada masyarakat penyangga kawasan TNBK khususnya masyarakat Suku Dayak Tamambaloh di Dusun Tanjung Kerja, Desa Sungai Uluk Palin yang mempunyai tradisi unik dalam mencegah pandemi Covid-19, yaitu tradisi berupa ritual adat “Tolak Bala", yang dilakukan untuk mencegah mewabahnya penyakit di lingkungan sekitar mereka dengan cara meminta perlindungan kepada roh-roh para leluhur nenek moyang. Kepala Dusun Tanjung Kerja, Junfianus Juni menerangkan bahwa tradisi ritual tolak bala di wilayah Desa Sungai Uluk Palin telah dilaksanakan sejak bulan April 2020 lalu, yang diikuti oleh perwakilan masing masing dusun. Ada 8 (delapan) patung tolak bala yang di pasang di 8 penjuru masing-masing dusun, seperti pintu masuk dusun baik jalur darat maupun sungai. “Patung tolak bala ini ibarat panglima perang yang akan menangkal setiap wabah penyakit atau musibah agar tidak memasuki wilayah kami, dengan prosesi ritualnya dipimpin oleh 2 (dua) orang Tetua Adat dan 1 (satu) orang Kepala Adat yang bertugas membacakan mantra dan memanggil roh-roh panglima perang”, ungkap Junfianus Juni. Patung tolak bala sendiri secara visual, terdiri dari beberapa komponen diantaranya, patung kayu menyerupai seorang panglima yang memegang sebuah mandau dan perisai, tombak dan sumpit yang terbuat dari kayu, pakaian yang disematkan pada patung, serta bekal makanan secara simbolik. Hal ini sebagaimana perlengkapan perang seorang Panglima Dayak yang bersiap mengahadapi musuh. “Setelah patung didirikan akan diberlakukan pantang bagi seluruh masyarakat, dimana masyarakat dilarang keluar masuk melewati patung selama 3 hari, dan tidak melakukan aktifitas apapun dengan berdiam diri di dalam rumah, patung ini akan dibiarkan tetap berdiri sampai roboh dengan sendirinya, apabila ada masyarakat yang sengaja merusak atau merobohkan patung, maka akan dikenai sanksi adat” jelas Junfianus Juni. Masyarakat berharap dengan ritual adat tersebut mereka akan terhindar dari bala berupa penyebaran Virus Covid-19 di wilayah mereka. Kepercayaan ini sudah berlangsung turun menurun dan diyakini dapat mencegah segala musibah. Hingga di minggu kedua bulan Mei ini, entah kebetulan atau tidak di Desa Sungai Uluk Palin belum ada warganya yang terpapar oleh Virus Covid19. Sumber : Deti Kurnia - PEH Pertama Resort Nanga Potan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Melepasliarkan Si Sanca Kembang

Ambon, 06 Mei 2020. Ditengah maraknya penyebaran serta upaya penanggulangan virus Covid-19 di Indonesia, upaya konservasi satwa liar terus dilakukan dengan tetap mengikuti standar pencegahan penyebaran Covid-19 yang berlaku, pada Rabu tanggal 06 Mei 2020 Pukul 11:00 WIT, bertempat di kaki gunung kawasan Hutan Lindung (HL) Salahutu Kabupaten Maluku Tengah telah dilakukan kegiatan pelepasliaran berupa 1 (satu) ekor ular Sanca Kembang (Python reticulatus). Kegiatan pelepasliaran satwa liar ini dilakukan petugas Polhut Balai KSDA Maluku serta disaksikan beberapa masyarakat yang berada dan beraktifitas di sekitar kawasan hutan lindung tersebut. Ular Sanca Kembang (Python reticulatus) yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil penyerahan secara sukarela dari masyarakat yang berada di Kota Ambon pada tanggal 20 Maret 2020 dan sudah menjalani karantina kesehatan di Kandang Transit Passo lebih dari 1 bulan. Panjang ular tersebut sekitar 105 cm dan memiliki diameter badan 12 cm. Selama masa karantina, ular tersebut sudah makan sebanyak 3 (tiga) kali dengan menu makanannya adalah tikus dan burung-burung kecil. Dipilihnya lokasi Hutan Lindung Salahutu sebagai lokasi pelepasliaran dikarenakan kondisi hutannya yang masih bagus dan terjaga, lokasinya yang jauh dari pemukiman atau areal perkebunan penduduk serta keterbukaan masyarakat yang ada disekitar kawasan hutan lindung yang mau menerima dan mendukung pelepasliaran jenis ular di wilayah tersebut. Selama ini Balai KSDA Maluku sudah melakukan sebanyak 5 (lima) kali pelepasliaran ular di kawasan ini serta 2 (dua) kali pelepasliaran jenis burung Nuri Maluku (Eos bornea). Dilibatkannya masyarakat dalam proses pelepasliaran ular tersebut diharapkan akan membuat masyarakat turut menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan hutan tersebut sehingga membuat segala jenis satwa di Hutan Lindung Salahutu dapat berkembang biak. Sumber : Kacuk Seto Purwanto – POLHUT Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Lopa - Lopa Negeri Masihulan, Jaga Asa Desa Penyangga TN Manusela

Masohi, 08 Mei 2020. Pandemi global Virus Covid-19 tengah melanda dunia. Pengaruhnya juga dirasakan masyarakat Negeri (Desa) Masihulan, salah satu desa penyangga Taman Nasional (TN) Manusela, karena arus wisatawan mancanegara yang datang ke Negeri mereka dan TN Manusela terhenti dalam jangka waktu yang cukup lama. Negeri Masihulan dikenal sebagai tujuan wisata para ekowisatawan dengan minat khusus pengamatan burung (bird-watching). Oleh karena itu banyak masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sektor ekowisata ini. Bagi anggota masyarakat Negeri Masihulan, terhentinya kunjungan wisatawan di tengah wabah virus Covid-19 berarti berkurangnya pendapatan mereka dari sektor wisata. Berkurangnya peluang dan ruang gerak dalam menghidupi perekonomian keluarga di tengah pandemi COVID 19, tidak menjadi halangan bagi Balai TN Manusela dan masyarakat Negeri Masihulan untuk tetap menjaga asa dengan tetap berkarya di tengah tidak adanya kunjungan wisatawan. Salah satu upaya adalah dengan tetap membuat kerajinan tangan khas daerah Maluku yang disebut dengan "Lopa-lopa". Lopa-lopa adalah sejenis tas tradisional yang dibuat dari bahan baku pelepah sagu, daun tikar (pandan) dan rotan. Lopa-lopa umumnya diperjualbelikan disela-sela kunjungan wisatawan sebagai cinderamata. Akibat pandemi Covid 19, dengan tidak adanya kunjungan wisatawan, kerajinan tas lopa-lopa produk masyarakat tidak ada yang membeli. Sebagai bagian dari pemerintah, Balai TN Manusela memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar masyarakat desa penyangganya tetap produktif sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat terus berjalan di tengah keprihatinan ini. Oleh sebab itu, Balai TN Manusela bekerjasama dengan masyarakat menjalankan program “bantuan produktif” yang konsepnya adalah melakukan pemesanan dan membeli lopa-lopa produk masyarakat. Konsep kerjasama ini adalah wujud keberpihakan pemerintah kepada usaha produktif masyarakat agar asanya dapat terus terjaga di tengah pandemi Covid 19. Program ini dijalankan dengan aktivitas pendampingan dari personil Resort Masihulan, SPTN Wilayah I Wahai yakni Kepala Resort Masihulan Cecep Setiawan, SP, Ade Muliyanto (PEH) dan Sartika Sinulingga, S.Si. (Penyuluh Kehutanan). Melalui pendampingan, BTN Manusela menjalankan peran dalam memotivasi dan mengajak masyarakat untuk tetap semangat dan produktif di tengah situasi dan keadaan seperti ini. Di samping itu, ketiga pegawai TN Manusela ini juga turut serta dalam proses pembuatan lopa-lopa mulai dari pengambilan bahan baku pelepah sagu dari hutan sagu, penyiangan, pemolaan, pembentukan sampai dengan penganyaman. Dari aktivitas ini, kedua pegawai ini juga mendapatkan pembelajaran tentang tradisi dan kearifan lokal masyarakat Negeri Masihulan. Juga tidak ketinggalan, di setiap pertemuan dan berkumpul dengan masyarakat, pendamping dari Balai TN Manusela tidak lupa memberikan penyadartahuan terkait pencegahan penyebaran Covid 19 agar masyarakat dapat mengerti dan memahami cara pencegahannya serta tidak mudah termakan dengan berita hoax di situasi dan keadaan seperti ini. Sumber : Ade Mulyanto - PEH Balai Taman Nasional Manusela
Baca Berita

Produk Sehat Olahan Kelompok Tani Konservasi Balai TN Ujung Kulon

Labuan, 9 Mei 2020 – Proses kemitraan konservasi di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dilakukan sebagai upaya mengembalikan fungsi kawasan. Saat ini sudah terbentuk sebanyak 11 (sebelas) kelompok yang terdiri dari 7 (tujuh) Kelompok Tani Konservasi (KTK), 2 (dua) Kelompok Nelayan dan 2 (dua) kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Balai TN Ujung Kulon berupaya merangkul masyarakat melalui pemberian program peningkatan usaha ekonomi produktif. Pembinaan dan pemdampingan terus dilakukan oleh Balai TN. Ujung Kulon dan Kelompok binaan tersebut mengembangkan berbagai produk inovasi berbasis masyarakat, seperti minuman sehat (bandrek jahe merah), Madu Odeng Ujung Kulon, produk minyak (Virgin Coconut Oil dan Minyak Kletik), budidaya ikan air tawar, budidaya kambing, produk olahan seperti kripik pisang, sale pisang serta pembuatan gula semut aren. Beberapa diantara produk tersebut yakni bandrek jahe merah, VCO (Virgin Coconut Oil) yang menjadi produk unggulan dan perlu mendapat dukungan dari pemerintah. Masa pandemi covid-19 yang saat ini sedang terjadi cukup berdampak terhadap menurunnya usaha ekonomi masyarakat yang berakibat pada penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat, sehingga diperlukan upaya pencegahan terhadap situasi tersebut melalui program peningkatan usaha ekonomi produktif masyarakat sekaligus mendorong upaya pengendalian dan pencegahan penyebaran covid-19, Balai TN. Ujung Kulon melakukan langkah-langkah nyata dalam upaya membantu perekonian masyarakat di sekitar kawasan. Salah satunya adalah diwujudkan dalam bentuk pembelian produk-produk hasil hutan bukan kayu (HHBK). “Bandrek Jahe Merah” ini merupakan produk minuman sehat dari Kelompok Tani Konservasi Resort Cibadak terbuat dari jahe merah dan gula aren yang berkhasiat selain untuk menghangatkan tubuh juga mampu meningkatkan imunitas tubuh karena bahannya terbuat dari bahan alami. “Virgin Coconut Oil (VCO)”merupakan produk minyak kelapa yang dibuat oleh Kelompok Tani Konservasi Resort Rancapinang, dibuat secara alami dengan fermentasi dingin tanpa ada bahan pengawet sehingga VCO mampu meningkatkan daya tahan tubuh terutama pada masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini. “Madu Odeng Ujung Kulon” merupakan produk madu odeng asli Ujung Kulon yang diproduksi oleh Koperasi Hanjuang yang langsung diambil dari Pulau Panaitan sebagai salah satu kawasan konservasi di TN. Ujung Kulon. Madu Odeng Ujung Kulon mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga imunitas tubuh. Kegiatan lain yang dilakukan oleh Balai TN.Ujung Kulon dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 ini adalah dengan memberikan bantuan untuk para tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan covid-19 ini. Sebanyak 108 paket madu odeng , bandrek jahe merah sebanyak 71 bungkus, minyak kletik sebanyak 14 botol diberikan kepada Pusat kesehatan masyarakat di 2 (dua) kecamatan Labuan dan Carita, dimana lokasi tersebut sebagai pintu masuk menuju kawasan dari arah Pandeglang dan arah Cilegon. Salah satu misi pengelolaan TN. Ujung Kulon terkait langsung dengan pemberdayaan masyarakat adalah “Memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat”. Keberadaan TN. Ujung Kulon yang memberikan manfaat yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat akan memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya hutan sehingga timbul kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. “Masyarakat Ngejo Leuweungna Hejo”. Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) secara geografis berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Cimanggu dan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten. Daerah penyangga TNUK memiliki batas-batas di sebelah utara berbatasan dengan Selat sunda dan Kecamatan Cigeulis, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cibaliung, sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda. Daerah penyangga TNUK mempunyai luas 22.875 Ha yang meliputi 19 (sembilan belas) desa di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu. Sebanyak 15 (lima belas) desa yang berbatasan langsung dengan kawasan. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat dikawasan TNUK sebagian besar berbentuk sawah/ladang dan kebun. Masyarakat telah memanfaatkan lahan tersebut secara turun temurun baik sebelum kawasan Gunung Honje ditetapkan menjadi bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon atau ketika kawasan tersebut berstatus hutan produksi yang dikelola oleh Perhutani. Selain sawah dan kebun, juga terdapat masyarakat yang bermukim di dalam kawasan. Berdasarkan SK Zonasi TN. Ujung Kulon No. 78 tahun 2017, total luas zona khusus adalah 50,15 Ha yang terletak di Tj. Lame, Lg. Pakis, Kp. Salam, Kp. Peteuy dan Kp. Ciakar serta Tj Layar. Zona khusus merupakan areal yang telah dihuni oleh masyarakat Desa Ujung Jaya (Lg Pakis, Kp. Salam dan Kp. Peteuy) serta Desa Rancapinang (Ciakar). Sumber : Balai Taman Nasional Ujung Kulon Narahubung : Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Ir. ANGGODO, M.M – 081247349017
Baca Berita

Manggala Agni Brigdalkarhut Balai Besar TaNa Bentarum Siaga Cegah Karhutla dan Pandemi Covid-19

Suhaid 11 Mei 2020. Dalam masa pandemi Covid-19 Manggala Agni Brigdalkarhut Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) terus melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui kegiatan patroli dan penyuluhan kepada masyarakat, serta turut aktif dalam upaya pencegahan penyebaran Virus Corona yang tergabung dalam Tim Gugus Covid-19 Kecamatan Suhaid dan Tim Gugus Covid-19 Kecamatan Semitau. “Kegiatan pencegahan virus corona sudah kami lakukan terhitung dari pertengahan bulan Maret 2020 sampai dengan sekarang melalui kegiatan sosialisasi, penyebaran maklumat, penyemprotan disinfektan serta penjagaan di Posko Covid-19 di Kecamatan Semitau dan Kecamatan Suhaid” jelas Kepala Brigdalkarhut; Ade Arief. Ade Arief menyampaikan bahwa untuk penyemprotan disinfektan dilakukan dengan menggunakan cairan cuka kayu, dimana cuka kayu tersebut merupakan hasil olahan kayu yang dilakukan oleh Manggala Agni Brigdalkarhut Balai Besar Tana Bentarum sebagai upaya alternatif dalam penyiapan lahan tanpa membakar. Penyemprotan disinfektan dilakukan pada tempat yang biasanya ramai orang berkumpul, tempat-tempat ibadah dan ruang publik. “Ditengah kondisi pandemi Covid-19 ini, kesiapsiagaan dalam upaya pengendalian karhutla tetap harus dijalankan dan terus kita tingkatkan, sehingga dimana ada kejadian kebakaran, Manggala Agni Brigdalkarhut Balai Besar Tana Bentarum bisa cepat dalam menindaklanjutinya dan tetap bekerja memadamkan api sehingga lingkungan bebas dari asap karhutla” ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak; Gunawan Budi Hartono. Gunawan menuturkan bahwa dalam mengantisipasi karhutla, berbagai upaya pencegahan terus dilaksanakan antara lain pembentukan posko-posko siaga karhutla yang tersebar di 9 titik posko di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, Patroli terpadu pencegahan kebakaran hutan yang dilaksanakan bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) Masyarakat Mitra Polhut (MMP), TNI, Polri serta instansi lainnya. “Dalam patroli karhutla kali ini, tidak hanya melakukan upaya pencegahan karhutla, tetapi juga melakukan upaya pencegahan penyebaran virus corona dengan memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana mencegah virus corona” tuturnya. Sumber : Ade Arief - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Grand Design Langur Borneo

Putussibau, 11 Mei 2020. Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) menjadi prioritas meski Indonesia saat ini sedang dilanda Pandemi Covid-19. Dalam kondisi tersebut Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) memprakarsai grand design pengelolaan satwa liar Langur Borneo (Presbytis chrysomelas ssp. cruciger) yang terancam punah. “Status Langur Borneo per tahun 2000, menunjukkan bahwa Langur Borneo masuk dalam kategori Data Deficient (DD) yang artinya data mengenai spesies ini masih minim baik di tingkat Nasional bahkan Internasional, hingga saat ini untuk di Indonesia Langur Borneo hanya tercatat di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS)” jelas Koordinator Fungsional, Aripin. Aripin menyampaikan, tercatat sebanyak 51 individu Langur Borneo ditemukan di Bukit Semujan pada bulan Maret 2019, penelitian lanjutan berupa perilaku Langur Borneo dilakukan tim Balai Besar pada bulan September 2019 berhasil kembali menemukan Langur Borneo sebanyak 86 individu, dengan perkiraan terdiri atas 2-8 individu/kelompok. Selanjutnya Oktober 2019 dilakukan penelitian oleh M. Elfaza dari IPB terkait dengan karakteristik habitat Langur Borneo, yang dipengaruhi oleh pakan utama berupa buah karet (Hevea brasiliensis), empakan (Durio kutejensis) dan buah ara (Ficus spathulifolia). “Mengacu pada hasil tersebut, mendorong akan pentingnya penyusunan sebuah Grand Design primate Langur Borneo di kawasan TNDS saat ini ”ungkap Elfaza. Kepala Bidang Teknis Konservasi Ardi Andono menjelaskan, aspek penting dalam penyusunan Grand Design ini adalah terciptanya pedoman, kerangka acuan, landasan dan strategi pembangunan, pengelolaan dan pengembangan manajemen pengelolaan Langur Borneo beserta habitatnya di Bukit Semujan. “Output yang diharapkan dari penyusunan Grand Design Langur Borneo di Bukit Semujan ini adalah dokumen rencana pembangunan stasiun riset, wildlife sanctuary, serta site monitoring, termasuk rencana pembiayaan untuk merealisasikan kegiatan tersebut” pungkas Ardi. Dalam arahannya Budi Gunawan, selaku Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Lanjak menyampaikan “Grand design Langur Borneo di Bukit Semujan ini merupakan langkah baru untuk mendorong terbentuknya sebuah stasiun riset sebagai upaya pengelolaan berkelanjutan, dimana saat ini Langur Borneo masuk dalam katagori Critically Endangered (CE) atau terancam punah dan dapat mengalami kepunahan dalam waktu dekat bila tidak dilindungi dan dilestarikan”, ujarnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) Penulis : 1.Aripin, M.Sc/PEH Muda Balai Besar TaNa Bentarum 2.Angga Sukma Lovita, S.Kel / PEH Pertama Resort Semangit 3.Wahyuningyan Arini, S.Si/PEH Pertama Resort Sebabai
Baca Berita

Natal Serahkan Kukang Sumatera ke BBKSDA Sumut

Kisaran, 8 Mei 2020. Kepedulian warga atas nasib satwa liar dilindungi undang-undang kembali diperlihatkan, kali ini Natal E. Simanjuntak, warga jalan Raya Pematangsiantar, Desa Nagori Bandar, Kecamatan Bandar Perdagangan, menyerahkan 1 individu satwa liar jenis Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, melalui petugas Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, pada Senin, 4 Mei 2020. Dalam keterangannya kepada petugas, Natal E. Simanjuntak menjelaskan bahwa Kukang tersebut ditemukannya pada tanggal 29 April 2020, tepat di depan jalan raya, sekitar pukul 22.00 Wib. Kemudian ia mencoba mencari informasi kepemilikan Kukang tersebut, kepada warga disekitar tempat tinggalnya, namun tidak ada yang merasa memilikinya. Diduga satwa tersebut tersesat dan keluar dari habitatnya. Mengetahui bahwa Kukang merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang, pada Senin, 4 Mei 2020, Natal E. Simanjuntak menghubungi petugas Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, untuk maksud menyerahkan satwa tersebut. Petugas yang mendapat laporan, segera menindaklanjutinya dan mengevakuasi Kukang dimaksud. Selanjutnya pada Kamis, 7 Mei 2020, satwa ini dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk menjalani proses pemeriksaan kesehatan serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitatnya. Seperti diketahui, bahwa Kukang Sumatera atau Greater Slow Loris merupakan salah satu primata yang dilindungi, dan merupakan satu dari tiga jenis Kukang yang hidup di Indonesia. Satwa ini tergolong pada hewan nocturnal (aktif di malam hari) dan arboreal (banyak beraktifitas di atas pohon). Partisipasi dan kepedulian dari seluruh masyarakat untuk melindungi dan melestarikan satwa ini sangat dibutuhkan guna menyelamatkannya dari kepunahan. Sumber : Arief Hidayat dan Elmo Tampubolon - Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Cerita Telaga Tambing di Tengah Pandemi Covid-19

Sedoa, 6 Mei 2020. Rano Kalimpa’a atau yang biasa dikenal dengan Telaga Tambing oleh wisatawan lokal merupakan salah satu obyek wisata alam di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang cukup populer di Kota Palu dan sekitarnya. Menyajikan panorama alam danau yang indah dan udara sejuk khas pegunungan. Obyek wisata ini dikunjungi rata-rata 500-1.000 wisatawan tiap akhir pekannya. Bahkan jumlah pengunjung pada momen tertentu dapat melebihi kapasitas daya tampung obyek wisata tersebut. Berdasarkan studi yang dilakukan bersama mitra Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL), daya tampung (Carrying capacity) obyek wisata tersebut adalah 500-600 pengunjung/hari. Untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini pemerintah pusat maupun daerah mengeluarkan peraturan dan kebijakan, antara lain social dan physical distancing. Telaga tambing merupakan obyek wisata yang sedang “naik daun” merupakan pusat berkumpulnya kegiatan wisata masyarakat kota Palu dan sekitarnya terutama pada akhir pekan. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu sebagai pengelola kawasan wisata ini turut mendukung pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam upaya mencegah penyebaran virus corona khususnya di wilayah Sulawesi Tengah. Upaya BBTNLL dalam pencegahan penyebaran covid-19 melalui surat Kepala Balai Besar TNLL nomor : PG.249/IV-T.5/TK/03/2020 tanggal 27 Maret 2020 yang sekaligus dipublikasikan ke media massa dan media sosial dinyatakan bahwa obyek wisata yang berada di TNLL tersebut ditutup dari kegiatan wisata/kunjungan sampai waktu yang akan diumumkan selanjutnya. Semenjak 41 hari sejak dikeluarkannya pengumuman oleh Kepala BBTNLL terpantau melalui media sosial resmi BBTNLL maupun call center masyarakat kerap menanyakan dan “update” terkait penutupan obyek wisata Rano Kalimpa’a (Telaga Tambing). “Kerinduan” ini tentunya bukan tanpa alasan karena telaga tambing merupakan salah satu wadah bagi rasa kekeluargaan, persahabatan, bahkan cinta terhadap lingkungan yang dikemas bersama keanekaragaman hayati seakan menjadi paket komplit bagi wisatawan sebagai tempat melepas kepenatan setelah sepekan bekerja atau beraktivitas. Penuturan Kepala Balai Besar TNLL Jusman bahwa “di tengah pandemi wabah Covid-19 tentu kita berada dalam situasi yang sulit, namun ada hikmah dibalik semua ini bahwa alam juga perlu melakukan pemulihannya. Seiring dengan berakhirnya wabah ini, pemulihan alam juga nantinya akan memberikan manfaat bagi manusia seperti terciptanya kondisi udara yang bersih dan rantai ekosistem akan pulih”. Lebih lanjut Jusman menyampaikan bahwa selama masa penutupan lokasi wisata di kawasan TNLL, kita dapat tetap melakukan kegiatan baik pengamanan, perlindungan maupun pengawetan keanekaragaman hayati dan menghimbau agar personil di lapangan tetap beraktivitas namun tetap memperhatikan protocol Kesehatan dalam pencegahan Covid-19. Aktivitas di destinasi wisata tersebut selama masa penutupan sebagian besar dilakukan oleh personil Resort Tongoa yang ditugaskan secara bergantian melakukan piket dengan sistem work from home melakukan tugas rutin seperti patroli di sekitar lokasi, membersihkan lokasi wisata tersebut dan melakukan kegiatan penanaman pohon di sekitar lokasi Telaga tambing, seperti pohon jenis Leda (Eucalyptus deglupta) yang sumber bibitnya dari Kebun Bibit Resort Tongoa. Seperti menyambut sahutan “kerinduan” para wisatawan Rano kalimpa’a, petugas di lokasi tersebut juga merasakan sesuatu yang berbeda, dimana hampir setiap akhir pekan tak ada waktu untuk jeda dalam melayani pengunjung yang datang, bukan hanya itu silaturahmi dan senda gurau menjadi sesuatu yang dirindukan. Akan tetapi dari sisi lain, “keributan” yang biasa didominasi oleh suara manusia kali ini terdengar lebih alami dengan dominasi suara burung-burung dan satwa lain yang juga mendiami lokasi wisata tersebut. “Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam" - R.A. Kartini. Semoga kita dapat melalui pandemi Covid-19 ini dan selalu dalam lindungan Tuhan YME. Salam lestari. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu

Menampilkan 3.617–3.632 dari 11.141 publikasi