Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penggiringan Gajah Liar Oleh Tim Penanganan Konflik Ksda Riau

Pekanbaru, 15 Mei 2020 - Tim penanganan konflik satwa Balai Besar KSDA Riau masih melanjutkan penggiringan Gajah liar di kelurahan Agro wisata. Mereka berupaya melakukan kegiatan tersebut sejak tanggal 8 Mei 2020 sampai sekarang. Semoga Gajah liar segera sadar bahwa ini bulan puasa dan sedang pendemi Corona sehingga mereka rela dan ikhlas kembali ke habitatnya di kawasan Hutan Tahura. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Resort Buki Batu Balai Besar KSDA Riau Giat Patroli Ditengah Pandemi Covid-19

Pekanbaru, 15 Mei 2020 - Resort Bukit Batu Bengkalis Balai Besar KSDA Riau pada Rabu, 13 Mei 2020 melakukan patroli di pinggir kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu. Tepatnya di dekat kamp kontraktor cis KM 6, Kec, Bukit Batu, Kab. Bengkalis. Walaupun cuaca mendung disertai gerimis, 4 petugas lapangan Balai Besar KSDA Riau tetap semangat melaksanakan tugasnya. Tim melakukan pengecekan ulang terkait informasi masyarakat mengenai adanya jejak satwa Harimau Sumatera di lokasi PT. BBHA. Dalam rentang waktu 3 minggu tim kembali menuju ke TKP untuk melakukan pengecekan ulang kejadian tersebut. Dengan mengambil dokumentasi berupa foto, ditemukan jejak lama Harimau Sumatera dan melakukan sosialisasi kepada security dan karyawan PT. BBHA. Penjelasan yang didapat adalah belum ditemukannya tanda-tanda jejak baru. Tim menghimbau agar karyawan PT. BBHA yang berada didekat lokasi jejak satwa agar berhati-hati dan waspada dalam melakukan kegiatan ditempat tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Seksi Wil. 2 KSDA Riau di Batam, Kepri Melakukan Kegiatan Tindak Lanjut Penyelidikan di Lokasi Wisata Kepri Coral

Pekanbaru, 15 Mei 2020-Kali ini kita menyeberang pulau yuuuk. Kita akan lihat kegiatan kawan kawan kita di Seksi Wil. 2 Batam, Kepri... Kamu perlu tau juga ya klo wilayah tersebut juga masih masuk dalam wilayah pengelolaan Balai Besar KSDA Riau. Kawan kawan kita di Seksi Konservasi Wil. 2 Batam pada hari Rabu, 13 Mei 2020 melakukan kegiatan tindak lanjut penyelidikan di lokasi wisata Kepri Coral yang berada di Pulau Pengalap, Kel. Pulau Abang, Kec. Galang, Kota Batam. Mereka tidak sendiri, namun bersama Tim Dirkrimsus Polda Kepulauan Riau yang terbentuk dalam Tim gabungan mendatangi lokasi wisata Kepri Coral. Lokasi tersebut diperiksa terkait adanya spesies Ikan Hiu dan Penyu yang dimiliki pihak pengelolanya. Di tempat lokasi, Tim didampingi oleh pengurus lokasi wisata melakukan pengecekan dan diidentifikasi. Ternyata didalam salah satu keramba ditemukan satwa dilindungi yaitu 8 ekor Penyu Hijau (Chelonia mydas) ukuran 3 - 5 Kg dan 2 ekor Ikan Hiu ukuran 1/2 Meter dan 2 Meter (belum dapat diidentifikasi apakah spesies dilindungi karena harus diteliti terlebih dahulu). Keterangan sementara dari pengurus dan karyawan Kepri Coral, Penyu tersebut didapat dari Nelayan sekitar dan digunakan sebagai daya tarik wisata serta pelepasliaran ke alam. Keramba langsung dipasangi Garis Polisi dan selanjutnya dibuatkan Berita Acara. Haduh... Haduh... Makanya jangan coba coba memelihara, menyimpan apalagi memiliki satwa satwa dilindungi ya kawan... Nanti bisa bisa kita terkena sanksi Pasal 40 UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Resort Siak Balai Besar KSDA Riau Patroli Mandiri di SM Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 15 Mei 2020 - Anggota Resort Siak Balai Besar KSDA Riau pada Rabu, 13 Mei 2020 melakukan patroli Mandiri di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil Kab. Siak. Patroli dilakukan di Dam 3, kanal Pemda jalur kargo illegal logging dari kawasan SM Giam Siak Kecil, Kampung Tuah Indrapura, Kec. Bunga Raya, Kec. Siak. Saat patroli Tim menemukan 1 gerobak muatan kayu sebanyak 25 keping dengan ukuran 10x5x400 cm di jalan alternatif menuju dam. Tim juga melakukan pengrusakan gerobak kayu dengan memotong ban gerobak. Kemudian Tim melakukan pengecekan jalur kargo illegal logging di Dam 3 sampai ke lokasi pemotongan jembatan jalur kargo. Tidak ada ditemukan tanda tanda aktivitas illegal logging di jalur kargo yg dirusak pada patroli sebelumnya. Tim bertekad untuk segera melanjutkan kembali di hari berikutnya karena saat itu Tim tidak dapat melanjutkan patroli menuju kampung 40 disebabkan akses tidak dapat dilalui karena banjir oleh hujan di hari sebelumnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Siap Siaga Memasuki Musim Kemarau

Waingapu, 15 Mei 2020. Sudah kira-kira 1 bulan hujan sudah tidak lagi membasahi Pulau Sumba khususnya kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Ini menandakan bahwa telah dimulainya peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau. Peralihan musim ini mewajibkan para pegawai untuk lebih ekstra waspada terhadap kebakaran hutan yang mengintai. Dalam situasi penanganan wabah COVID-19, para petugas tetap aktif melaksanakan tugas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Salah satu yang dilakukan para petugas dalam menghadapi musim kemarau ini adalah melakukan usaha persuasif dengan memasang spanduk-spanduk larangan membakar hutan. Spanduk-spanduk ini dipasang di lokasi yang dilalui banyak orang dan rawan kebakaran seperti Resort Tanah Daru dan Resort Taman Mas. Kebakaran hutan di kawasan TN Matalawa cukup umum terjadi karena kesengajaan pihak-pihak tertentu membakar kawasan hutan untuk menumbuhkan rumput baru bagi ternak, membuat jalan pintas, dan menghangatkan badan. Kebakaran hutan pada tahun lalu mencapai puncaknya pada bulan September yang menyebabkan para petugas 1 bulan penuh berada di lapangan untuk melakukan pengendalian kebarakan hutan. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Webinar Series 2 : Optimalisasi Penyusunan Desain Tapak Untuk Wisata Alam

Bogor, 14 Mei 2020. Pandemi COVID19 yang saat ini masih menjadi wabah global dan berdampak pada penerapan pembatasan sosial berskala besar serta penutupan kawasan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kegiatan wisata, salah satunya wisata alam di kawasan konservasi. Ditengah kondisi penurunan tersebut, sebagai rangkaian pelaksanaan virtual Workshop Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) kembali menyelenggarakan kegiatan Webinar series 2 dengan topik Optimalisasi Penyusunan Desain Tapak Untuk Wisata Alam, Kamis (14/5/2020) sebagai langkah menjaring masukan dan wawasan perencanaan kawasan secara baik dan terencana berbasis potensi tapak untuk wisata alam di masa new normal paska pandemi. “Pengalaman atas COVID19 menyadarkan kita bahwa keindahan alam harus dinikmati dan ditata dengan prinsip kehati-hatian, terkontrol dan mempertimbangkan carrying capacity yang semuanya ditutup oleh perencanaan desain tapak kawasan hutan. Sehingga, hutan dapat menjadi tempat yang nyaman dan menjadi alternatif penyembuhan yang dikenal dengan forest for healing” Jelas Wiratno saat membuka webinar yang diikuti 400 partisipan ini. Webinar yang berlangsung selama 4 jam ini dipandu langsung oleh Direktur PJLHK, Nandang Prihadi. Masing-masing narasumber membahas terkait penyusunan desain tapak yang optimal bagi pengembangan kawasan khususnya kegiatan wisata alam. Dalam pembukaanya, Nandang menyampaikan bahwa penyusunan desain tapak bertujuan untuk membagi dua fungsi ruang pada blok dan zona pemanfaatan kawasan konservasi menjadi ruang usaha (untuk investasi wisata alam) dan ruang publik (untuk masyarakat dan pengelola kawasan). Hingga saat ini, masih terdapat 57% zona/blok pemanfaatan yang belum dilakukan penyusunan desain tapak. “Penyusunan desain tapak merupakan langkah untuk memastikan optimalisasi pengelolaan kawasan, membagi akses bagi masyarakat lokal, pengelola kawasan dan mitra dalam pengembangan pengelolaan kawasan. Hal ini menjadikan penyusunan desain tapak harus direncanakan lebih terintegrasi dan berbasis keilmuan” Ungkap Nandang. Penyusunan desain tapak adalah tahapan akhir dari perencanaan pengelolaan suatu kawasan yang dimulai dari zonasi/bloking, penyusunan rencana pengelolaan dan selanjutnya dilakukan penyusunan desain tapak. Hal ini menunjukan bahwa, dalam penyusunan rencana desain tapak harus didasarkan atas data yang lebih detail. Searah dengan hal tersebut, sebagaimana disampaikan Wahjudi Wardoyo sebagai narasumber webinar ini bahwa penataan tapak harus didasarkan atas informasi yang detail dan reliable untuk mengurangi dampak kerusakan yang tidak perlu. “Penerapan teknologi dan metodologi dalam penyusunan desain tapak harus tepat dan dilakukan dengan berbasis keilmuan sehingga pembagian fungsi ruang atas tapak menjadi lebih akurat dan tepat untuk pengembangan kedepannya” ungkapnya. Kendati demikian, penyusunan desain tapak yang telah dilakukan saat ini sudah cukup baik karena telah dilakukan sesuai dengan metedologi sebagiamana aturan yang ditetapkan. Pelaksanaan review kesesuaian perlu dilakukan. “pelibatan telnologi citra satelit dapat menjadi alternative review penyusunan desain tapak” tegasnya. National Manager Planning TNC, Musnanda Satar mengatakan bahwa perlu ada kerangka kerja yang jelas dalam penyusunan desain tapak dimulai dari aspek makro hingga aspek mikro dengan melibatkan analisis spasial. “hasil dari analisis tersebut dapat menjadi dasar dalam penyusunan upya mitigasi atau perencanaan pengembangan yang detail” ungkapnya. Sejalan dengan penerapan teknologi dan keilmuan dalam penyusunan desain tapak. Praktisi perencanaan tapak, Soewartono menyampaikan bahwa desain tapak adalah sebuah alat kendali dari suatu manajemen untuk melihat kesesuaian fungsi atau kelayakan perkembangan kawasan tersebut. “Desain tapak adalah salah satu instrumen dalam pengawasan, pengendalian dan evaluasi atas pengelolaan kawasan” jelasnya pada sesi pemaparan materi. Pada kesempatan ini juga, Dufan Eco Park sebagai salah satu pemberi materi menyampaikan bahwa dalam perencanan pengembangan wisata pada area kerjanya mereka menerapkan sistem pembagian zona yang mempertimbangkan kegiatan pengunjung, kebutuhan pengunjung, kondisi sekitar kawasan, optimalisasi waktu kunjungan. Aspek-aspek tersebut menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi hijau dan lokasi wisata/rekreasi utama. Dalam webinar ini juga dibuka sesi diskusi, dimana sebagian besar partisipan menyampaikan dukungannya untuk penyusunan desain tapak yang lebih detail dan melibatkan teknologi citra yang lebih baik. Selain teknis penyusunan desain tapak, disampaikan juga bahwa disertifikasi obyek wisata dan penetuan carryng capacity harus dipertimbangkan dalam penyusunan desain tapak kawasan. “Dalam penyusunan desain tapak unsur masyarakat lokal dan peran mereka harus menjadi aspek yang jelas dengan standar dan format yang disesuaikan pada kawasan yang didesain” tegas Maya Dewi salah satu partisipan asal Universitas Sahid Jakarta. Selain hal tersebut, dalam diskusi yang berjalan interaktif ini disampaikan bahwa dalam penyusunan desain tapak kedepannya perlu ada big bank data yang terintegrasi pada beberapa aspek dan perencanaan lain sebagai dasar penetuan penyusunan desain tapak, perlu ada daftar prioritas pengembangan yang akan dilakukan, perlu ada pertimbangan fasilitas penunjang pelaksanaan wisata setelah dilakukan desain tapak, dan perlu ada peningkatan SDM dalam penerapan teknologi untuk penyusunan desain tapak. Searah dengan hal tersebut, Nandang menyampaikan bahwa akan dilakukan pengkajian kembali atas kesesuaian konsep desain tapak khusus wisata alam menjadi desain tapak jasa lingkungan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek keilmuan, aspek keberadaan masyarakat lokal, aspek perencanaan wilayah dan penerapan teknologi. “Setelah webinar ini, kita perlu membuat diskusi lanjutan dan perlu ada prototype penyusunan desain tapak dengan pandangan-pandangan baru sehingga pengelolaan kawasan akan lebih optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat sekitar hutan” pungkas Wiratno sebagai penutup acara webinar kali ini. Sumber : Gita Riani W (PEH) dan Dewi Rahayu (Staf) Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi
Baca Berita

Patroli Lanjutan Resort Dumai SKW IV, KPA Rimba Pesisir dan MMP

Pekanbaru, 15 Mei 2020 - Kembali pada Selasa, 12 Mei 2020 Resort Dumai Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Balai Besar KSDA Riau, KPA Rimba Pesisir dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) melanjutkan kegiatan patroli kawasan dalam upaya pencegahan perambahan di Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai. Tim berhasil merusak jembatan kayu yang dibuat oleh perambah, pencegahan dan pengamanan hutan, pemusnahan tanaman sawit dan dilanjutkan melakukan penanaman kembali di lokasi yang berada dalam kawasan TWA Sungai Dumai. Tetap semangat garda terdepan konservasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BKSDA Kalsel Gelar Pembinaan Pegawai Secara Virtual

Banjarbaru, 13 Mei 2020 – Pandemi Covid19 mengharuskan para pegawai Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan anjuran dari Pemerintah dalam melaksanakan pekerjaan yaitu dengan Work From Home (WFH) dan Social Distancing. Setelah hampir 2 bulan melaksanakan WFH, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc menginisiasi untuk melaksanakan acara “Badadapatan” seluruh staf pada Hari Rabu, tanggal 13 Mei 2020 sebagai sarana silaturahmi bagi pegawai melalui media Video Conference (vicon). Para pegawai sangat antusias dengan acara ini karena baru dapat bertemu setelah sekian lama meski via media daring. Dalam sambutannya Dr. Mahrus mengingatkan para pegawai agar selalu menjaga diri dan keluarga serta lingkungan baik dari sisi kesehatan maupun kebersihan. Acara tersebut makin terasa spesial dengan bergabungnya Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Bapak Tandya Tjahjana disela kesibukan beliau yang sangat luar biasa untuk dapat menyempatkan waktu dalam memberikan pembinaan pegawai bagi Balai KSDA Kalimantan Selatan. Sekditjen KSDAE menghimbau untuk seluruh pegawai Balai KSDA Kalimantan Selatan untuk dapat mematuhi peraturan Pemerintah terkait tidak mudik/pulang kampung, disamping itu harus senantiasa bersyukur karena ditengah pendemi Covid19 masih diberikan gaji, tukin yang masih dibayarkan rutin setiap bulan apabila dibandingkan dengan pegawai lainnya diluar sana yang tidak seberuntung kita. Meskipun mendapat pemotongan anggaran yang signifikan, kegiatan patroli harus selalu dilaksanakan untuk menjaga kawasan kita karena Kalsel memiliki 4%-10% kawasan konservasi yang ada di Indonesia apalagi ditambah Kawasan Ekosistem Esensial. Selain Sekditjen KSDAE, vicon juga diikuti PLt. Kabag Kepegawaian Setditjen KSDAE Sri Mina Ginting yang memaparkan terkait WFH maupun WFO, administrasi laporan harus tertib agar terhindar dari sanksi pada saat dilaksanakan Audit Kinerja dikemudian hari. Pada sesi selanjutnya Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) BKSDA Kalsel, Suwandi menyampaikan kepada Bapak Sekditjen bahwa terdapat 2 orang pegawai yang menjadi ODP dan telah melaksanakan karantina selama 10 hari meskipun hasil Rapid Test Negatif. Selain pegawai, masyarakat mitra pariwisata Balai KSDA Kalimantan Selatan juga sangat terdampak pandemi ini karena Taman Wisata Alam (TWA) tutup sehingga pendapatan mereka berkurang kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Mirta Sari, Kepala SKW II Ridwan Effendi dan Kepala Resort TWA Alfredo de Araujuo. Mereka memohon bantuan masyarakat dibuka blokir secepatnya agar dapat segera eksekusi di lapangan. Dari sisi Konservasi, banyak satwa liar pada masa pandemi ini keluar habitatnya dalam mencari makanan, salah satu contohnya adalah konflik buaya di batulicin tutur Kepala SKW III Nikmat Hakim Pasaribu, kasus ini baru dalam beberapa tahun terakhir tambahnya. Dalam prakteknya selama ini Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.sc selalu mendukung pegawai maupun masyarakat yang terdampak Covid19 diantara bantuan karantina mandiri bagi pegawai, dan pembagian paket sembako pada sebagian masyarakat mitra pariwisata. Adapun untuk konflik satwa dalam proses pembuatan spanduk maupun papan peringatan untuk di daerah rawan. Sebagai penutup Dr. Mahrus meminta seluruh pegawai tetap menjaga silaturahmi dan kekompakan serta bekerja dengan “Salam Bekantan” dan “Gerak CTM”. (ryn) Sumber : Prawira Aditya Rahman, S.E - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan Dalam prakteknya selama ini Kepala Balai KSDA Kalimantan
Baca Berita

Desa Penyangga TaNa Bentarum Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19

Mataso, 14 Mei 2020. Pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak global yang serius pada hampir semua sektor kehidupan termasuk ekonomi. Tidak hanya dirasakan di daerah perkotaan yang padat penduduk, tetapi juga daerah pedesaan. Bahan-bahan pangan seperti beras, sayur, dan lauk-pauk semakin sulit didapatkan karena adanya pembatasan akses yang diterapkan dan menyebabkan kesulitan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Melihat kondisi tersebut, Penyuluh bersama petugas Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Mataso, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) mencari solusi untuk dapat meringankan beban yang dirasakan masyarakat yang berada di desa penyangga kawasan melalui dorongan dalam pengembangan produk ekonomi di Desa Mensiau dan Desa Tanjung Lasa sejak bulan Maret lalu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kebutuhan bahan pokok semakin sulit didapatkan dan harganya terus melonjak, oleh karena itu, kami berupaya melakukan budidaya tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami juga akan berusaha membantu suplai bahan pangan ke daerah lain yang membutuhkan.” tutur Silvester Bberasap, Kepala Desa Mensiau Silvester menyampaikan, masyarakat Desa Mensiau dikerahkan untuk melakukan budidaya tanaman pangan seperti padi, mentimun dan sawi ladang, sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan di tengah pandemi ini. Di Desa Tanjung Lasa masyarakat berinovasi menciptakan produk dari tanaman pisang yang banyak tumbuh di sekitar desa. Buah pisang yang memiliki nutrisi dan antioksidan tinggi diolah dengan cara dibakar menjadi produk makanan salai pisang dan dikemas untuk dipasarkan kepada masyarakat umum. “Saya sangat mengapresiasi kerja keras masyarakat Desa Mensiau dan Tanjung Lasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bahkan bersedia memasok kebutuhan pasar jika diperlukan di tengah pandemi COVID-19 ini. Kami akan terus mendorong masyarakat di desa penyangga untuk bersemangat dalam berinovasi dan tidak terpengaruh terhadap isu-isu negatif mengenai pandemi ini.” ungkap Junaidi, Kepala Bidang PTN Wilayah I Mataso. Daerah pedesaan diharapkan dapat menjadi pionir dalam menyiapkan lumbung pangan Indonesia. Penguatan ketahanan pangan dilakukan guna menghadapi dampak pandemi COVID-19. Pemanfaatan lahan di daerah pedesaan untuk budidaya tanaman pangan merupakan salah satu langkah menuju Indonesia mandiri pangan dan dapat menstabilkan harga kebutuhan pokok. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Penulis : 1.Wahyuningyan Arini, S.Si/PEH Pertama Resort Sebabai 2.Deti Kurnia, S.Hut/PEH Pertama Resort Nanga Potan
Baca Berita

Pegawai TN Matalawa Ikuti Pembinaan Pegawai Online

Waingapu, 13 Mei 2020. Pada masa pandemi COVID-19 ini, kegiatan yang seharusnya dilakukan secara tatap muka tidak dapat dilakukan secara normal. Namun, berkat kemajuan teknologi yang ada sekarang, pertemuan tatap muka pun bisa dilakukan secara online tanpa mengurangi maksud dan tujuan yang akan dicapai. Seperti yang dilakukan Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) pada Rabu, 13 Mei 2020 yang mengadakan pembinaan pegawai dengan narasumber utama yaitu Setditjen KSDAE, Ir, Tandya Tjahjana, M.Si, dan Kepala Sub Bagian Administrasi Kepegawaian, Sri Mirna Ginting, S.P, M.P. Pokok utama yang disampaikan dalam forum ini adalah tentang disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) berkaitan dengan dinamisnya peraturan-peraturan yang terbit akibat wabah COVID-19. Setditjen mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegawai TN Matalawa yang masih terus bertugas menjadi garda terdepan konservasi hutan di Sumba. Beliau juga tidak henti-hentinya mengingatkan untuk terus menjaga kesehatan dan tetap waspada terhadap penyebaran COVID-19. Dalam kesempatannya, Kasubag Administrasi Kepegawaian menyampaikan kepada seluruh pegawai untuk mentaati seluruh peraturan yang diterbitkan terkait COVID-19 ini. Termasuk larangan untuk tidak melakukan perjalanan mudik. Ia menyadari bahwa banyak pegawai yang rindu berkumpul dengan keluarganya, namun menghentikan penyebaran wabah menjadi tujuan utama sehingga perjalanan mudik pun tidak boleh dilakukan. Ia juga menambahkan kepada para pejabat struktural untuk dapat menerapkan peraturan disiplin yang sudah ada kepada para pegawai yang melanggar ketentuan. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Tanggap COVID-19 : Eco-Action TN Kepulauan Seribu Untuk Wisata Alam Berkelanjutan

Bogor, 12 Mei 2020. Direktorat Pemanfataan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) menggelar Webinar Series 1 dengan tema Sharing Session “Tanggap COVID-19 Dengan Eco-Action Untuk Wisata Alam Berkelanjutan : Pengalaman Taman Nasional Kepulauan Seribu”. Webinar dibuka Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc, Direktur PJLHK selaku moderator, dengan penyampaian keynote speech dari Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc. dilanjutkan narasumber Badi’ah, S.Si, M.Si, Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu serta diikuti perwakilan dari UPT Ditjen KSDAE, Inspektorat Jenderal KLHK, Pusdiklat SDM LHK, Dinas Kehutanan, Mahasiswa, Dosen, maupun LSM. Wiratno menyampaikan bahwa taman nasional laut di Indonesia mempunyai keunikan masing-masing dan perlu adanya kegiatan yang fokus riset untuk ekowisata. “Di masa COVID-19 ini, membangun organisasi pembelajar yang belajar dari alam, menikmati alam juga mempelajari, memahami serta melestarikan alam” ungkap Wiratno. “Eco-Action yang dilakukan berupa pemulihan ekosistem karang sebagai bentuk bantuan masyarakat terdampak yang menciptakan multiplier effect antara lain mengganti penghasilan yang hilang karena PSBB dan penutupan kawasan, membangun collective awareness, memperbaiki daya tarik wisata, dan dalam jangka panjang memperbaiki produksi perikanan” papar Badi’ah, Kepala Balai TN Kepulauan Seribu. Badiah juga mengatakan bahwa dengan adanya penutupan kawasan untuk kunjungan wisata, terjadi peningkatan jumlah penyu yang naik dan bertelur (dari hanya 5.000 telur menjadi 7.000) dan lokasi bertelurnya penyu, termasuk di area yang biasa untuk berwisata. "Saat ini adalah saat yang digunakan oleh alam untuk memulihkan diri, Natural recovery menuju kondisi keseimbangan alam yang lebih optimal" tambah Badi'ah. Hal-hal yang perlu menjadi perhatian antara lain meredesign atau peninjauan kembali desain tapak pemanfatan ruang untuk kegiatan wisata sebagai persiapan masa “new normal” pasca COVID-19, penyusunan SOP atau pedoman kunjungan wisata alam pasca COVID-19 dimana akan berbeda dengan kondisi sebelumnya, serta diversifikasi produk wisata agar tidak monoton dan terbatas pada penyedia wisata namun juga bisa melibatkan kegiatan keseharian masyarakat. Taman Nasional Kepulauan Seribu yang terletak di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dengan jumlah penduduk ± 15.260 jiwa dengan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian di bidang usaha wisata dan hasil perikanan. Tidak seperti taman nasional lainnya, Taman Nasional Kepulauan Seribu terletak pada episentrum penyebaran COVID-19 dengan hampir 40% berada di Provinsi DKI Jakarta, sehingga berdampak tempat wisata TN Kepulauan Seribu ditutup sementara untuk kunjungan wisata. Langkah-langkah kebijakan tersebut tentu saja sangat berpengaruh terhadap semua aktifitas masyarakat di Kepulauan Seribu Utara, tak terkecuali yang paling dominan adalah perikanan dan pariwisata alam. Sebagaimana instruksi Presiden RI, bahwa hampir semua Kementerian dan Lembaga (K/L) diminta untuk secara sungguh-sungguh melakukan refocusing anggaran untuk membantu penanggulangan penyebaran COVID-19, terutama membantu masyarakat yang terdampak. Bentuk bantuan kepada masyarakat terdampak haruslah mendukung fungsi utama taman nasional dan memberikan insentif untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sumber : Gita Riani Wulandari - PEH Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK)
Baca Berita

Berbagi Asa di Bulan Berkah untuk Daerah Penyangga TNGGP

Goalpara, 12 Mei 2020. Sebagai salah satu unit terkecil pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di lapangan, dalam kesehariannya petugas resort tentunya berbaur langsung dengan masyarakat sekitar, baik masyarakat biasa, pemuka agama, tokoh dan sesepuh semua dirangkul demi terciptanya kondisi harmonis dan kondusif. Selama musim hujan petugas Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Goalpara Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di Goalpara selalu mengingatkan warga agar selalu waspada terkait ancaman bencana yang mungkin terjadi. Namun kejadian yang tak terduga akhirnya terjadi, di tengah kondisi wabah Covid 19 yang saat ini sedang dirasakan oleh semua pihak, tanah longsor meluluhlantahkan rumah salah satu warga di kampung tersebut. Meski tidak ada korban jiwa, nyatanya terdapat dua kepala keluarga yang merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) terdampak dan kehilangan tempat tinggal akibat kejadian longsor tersebut. Karena kondisi darurat maka untuk sementara waktu bagi warga yang terdampak tersebut menempati pos jaga Resort PTN Goalpara. Tak berhenti disitu, Balai Besar TNGGP melalui Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Syahrial Anuar dan Kepala Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Luki Turniajaya sebagai bentuk kepedulian sosial, melakukan kunjungan dan memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok. Sebagai informasi, posisi kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Goalpara berada di wilayah Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi tepatnya di Kp. Bunisari. Maka interaksi paling intensif tentunya dengan masyarakat Kp. Bunisari yang sebagian besar bertempat tinggal di lahan milik PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Goalpara dan bermata pencaharian berkebun pada lahan dengan kemiringan kadang-kadang lebih dari 45° dan memiliki kondisi topografi yang cukup berat. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks & foto : Agus Deni – Pengendali Ekosistem Hutan
Baca Berita

Jelang Lebaran Pengamanan Di Cagar Alam Pulau Saobi Diperketat

Sumenep, 14 Mei 2020. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, personil Resort Konservasi Wilayah 13 Sumenep semakin memperketat keamanan Cagar Alam Pulau Saobi, 14 Mei 2020. Ini tak lepas dari mulai merangkak naik kebutuhan daging di masyarakat. Patroli rutin lebih intensif dilakukan, baik siang maupun malam pada kawasan seluas 436,83 hektar tersebut. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya perburuan di cagar alam yang menjadi habitat dari Rusa timor (Cervus timorensis). Beberapa blok menjadi titk perhatian, karena sering dijumpai Rusa berkumpul. Termasuk jalan keluar dan masuk ke dalam kawasan yang memiliki tipe hutan musim dataran rendah itu. Pulau Saobi sendiri merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Kangean, sebelah timur Madura. Dari Pelabuhan Kalianget Sumenep, masih dibutuhkan waktu satu hari perjalanan laut hingga ke pulau ini. Selain Rusa Timor, Cagar Alam Pulau Saobi juga dihuni oleh satwa endemik Burung Gosong. Harapannya dengan dilakukan patroli pada malam hari dapat mengamankan kawasan cagar alam dari perburuan satwa liar khususnya jenis Rusa Timor. Sumber Naskah : Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan Pada Seksi Konservasi Wilayah IV Madura, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Patroli Bersama MMP Resort 8 SPTN Wilayah III Muarasoma

Panyabungan, 13 Mei 2020. Patroli bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di Resort 8 Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Muarasoma Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) yaitu untuk mengetahui perkembangan terbaru kondisi di luar maupun di dalam kawasan hutan TN. Batang Gadis dari segala ancaman baik tipihut, kerusakan hutan, konflik satwa dan lain - lain. Metode Patroli Bersama MMP yang digunakan sesuai petunjuk teknis dan rencana kerja patroli yaitu dengan metode SMART RBM (Spatial Monitoring and Reporting Tool Resort Based Management) yaitu jelajah dengan cara menyelusuri jalur/track patroli yang sudah ada atau sudah pernah di tempuh dan juga dengan merintis atau membuka jalur baru untuk menuju tempat tertentu yang diinginkan dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Serta mengamati dan mencatat potensi kawasan taman nasional berupa pertemuan satwa baik langsung maupun tidak langsung serta tanaman langka yang ada di sekitar jalur patroli. Patroli dilaksanakan dengan berkoordinasi terlebih dahulu dengan aparat Desa Tor Naincat. Selain mengamati tanda tipihut, pada patroli MMP ini tim membuat tanda batas kawasan di batas kawasan di jalan setapak yg biasa dilalui oleh masyarakat setempat. Ketua tim Resort 8 menyampaikan “Pemasangan tanda batas ini berfungsi agar masyarakat sekitar kawasan mengetahui tanda batas dengan Hutan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis , pembuatan tanda batas akan dilakukan disetiap kegiatan patroli MMP di lokasi lain berikutnya". Terdapat fitur alami berupa sungai dan air terjun didalam kawasan TNBG sekitar Desa Tor Naincat dengan kualitas air yang bersih dan jernih juga terdapat satu kayu keras (jenis medang) tumbang secara alami, dan beberapa tanda keberadaan satwa (suara) dengan jenis siamang, dan rangkong. Beberapa flora anggrek jenis anggrek kelelawar hitam yang belum mekar juga nampak saat sedang melakukan penyisiran hutan. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Bersama Mengendalikan Predasi Karang Di Perairan Pulau Bunaken Dan Siladen

Manado, 13 Mei 2020. Di masa penutupan sementara kawasan Taman Nasional Bunaken dari aktivitas wisata alam dalam pandemik Covid-19, sejumlah dive center, masyarakat yang bekerja dibidang wisata bersama-sama dengan tim SMART Patrol Balai Taman Nasional Bunaken melakukan pengendalian predasi karang Acanthaster plancii di sejumlah titik penyelaman di perairan Pulau Bunaken seperti Muka Kampung divespot, Bunaken Timur divespot, Tawara divespot, Alung Banua divespot, Ron’s point divespot serta sekitar perairan Pulau Siladen (13 -14 Mei 2020). Sebanyak 662 individu Acanthaster plancii atau yang sebih dikenal dengan sebutan Cost (The Crown of Thorns Starfish)/ Bintang Laut Mahkota Berduri berhasil diangkat dari perairan, rincian jumlah Cots yang diangkat dari Muka Kampung divespot 44 Ind, Bunaken Timur divespot 194 Ind, Tawara-Alban 167 Ind, perairan Siladen 257 Ind, selanjutnya dilakukan penanganan berupa di kubur dan pembakaran untuk menghindari terjadinya regenerasi yang cepat oleh hewan tersebut. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Gatot Santoso sebagai penanggung jawab lapangan yang mengkoordinir pengangkatan Cots menyampaikan, perairan Pulau Bunaken memiliki luasan terumbu karang 531,4 ha dan perairan Pulau Siladen terumbu karang seluas 109 ha menjadi wilayah yang paling memungkinkan terjadinya ledakan populasi Cots, mengingat tutupan terumbu karang hidupnya cukup baik yakni 52,54%. "Kami melibatkan beberapa dive center yang kami bagi dalam beberapa titik dan dijadwalkan dalam waktu berbeda. Selama proses pengendalian kami lakukan secara manual dengan mengangkat hewan Cots secara hati-hati dari perairan, hal ini menghindari pecahnya telur dalam tubuh hewan tersebut yang justru akan menimbulkan ledakan populasi, bahkan bilamana tubuhnya terbelah menjadi 2 bagian, hewan ini dapat bergenerasi menjadi 2 individu yang berbeda" tutur Gatot. Disisi lain Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Farianna Prabandari menyambut apresiasi yang baik pada dive center dan masyarakat Bunaken atas kepeduliannya untuk bersama-sama mengendalikan predasi terumbu karang, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan himbauan Pemerintah physical distancing dalam pengangkatan Bintang Laut Mahkota Berduri. "Untuk saat ini memang kami membatasi kegiatan yang bersifat berkumpul langsung, sehingga memberikan kesempatan secara bergiliran bagi dive center yang berpartisipasi dalam pengangkatan Cots dan membagi pada beberapa titik lokasi penyelaman" ujar Farianna. Cots adalah organisme yang umum ditemui pada ekosistem terumbu karang, hewan ini adalah salah satu jenis bintang laut raksasa dengan jumlah duri yang banyak sekali serta merupakan hewan pemakan polip karang. Pada beberapa literatur mencatatkan dalam keadaan normal artinya jumlah individu yang dianggap belum berbahaya merusak ekosistem terumbu karang berkisar antara 10-20 Ind/km, untuk satu individu Cots dapat memangsa 5-6 m/tahun tutupan karang. Secara singkat terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga disebut zooxanthellae. Hewan karang yang unik ini disebut polip sebagai pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur, selanjutnya zooxanthellae melakukan fotosintesis yang berguna untuk hewan karang. Sistem pemangsaan Cots adalah dengan mencengkeram dan menutupi permukaan koloni karang, nampak kasat mata kerusakan karang akibat dari pemangsaan adalah warna karang yang memutih. xSumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Perusak Cagar Alam Watangan Puger dibekuk

Sidoarjo, 13 Mei 2020. Sebanyak 5 pelaku perusakan terhadap kawasan Cagar Alam Watangan Puger – Jember diamankan tim patroli gabungan, 12 Mei 2020. Kelima pelaku tersebut berasal dari Jember, Sidoarjo, dan Puwodadi – Jawa Tengah. Semua berawal dari informasi masyarakat mengenai adanya kegiatan penggalian illegal di Blok Sunbersewu CA. Watangan Puger. Bersama petugas Polsek Wuluhan – Jember, tim Resort Konservasi Wilayah 15 Nusa Barong melakukan patroli ke lokasi dimaksud. Bersama pelaku juga diamankan beberapa barang bukti berupa lubang galian, linggis, gergaji, dan peralatan memasak. Selanjutnya petugas memasang banner larangan berkegiatan di sekitar lokasi penggalian. Kelima pelaku saat ini diamankan di Mapolsek Wuluhan untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 3.601–3.616 dari 11.141 publikasi