Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mangalame, Tradisi Menjelang Lebaran Masyarakat Mandailing

Rabu, 27 Mei 2020 - Alame merupakan makanan tradisional Mandailing yang terbuat dari Gula merah,Tepung beras ketan dan Santan kelapa yang di masak sampai mengental. Alame juga sering disebut Dodol Mandailing. Tradisi memasak Alame atau disebut juga dengan mangalame biasanya ramai saat Bulan puasa sebagai penganan untuk merayakan hari raya idul fitri, Tradisi mangalame sendiri biasanya mempererat tali silaturahmi karna memasak alame harus dikerjakan dengan beramai-ramai. Mangalame kali ini dilaksanakan di desa penyangga TN Batang Gadis , desa Ekowisata Pastap Julu . Selain untuk menjadi panganan waktu lebaran , alame ini juga menjadi salah satu produk yang dihasilkan oleh Masyarakat desa Pastap Julu yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, Bahan panganan alame sendiri ini terbuat dari tepung , gula aren dan santan kelapa. Sebagian dari bahan alame yang dihasilkan dari HHBK di sekitar desa Penyangga Pastap Julu seperti gula aren atau juga dikenal dengan gula merah. Proses memasak alame membutuhkan waktu sekitar 6 jam, alame yang sudah masak akan dibungkus dengan baul-baul atau anyaman dari daun pandan. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Survei Orangutan Sumatera di SM Siranggas Sumatera Utara

Siranggas, 27 Mei 2020. Suaka Margasatwa (SM.) Siranggas, memiliki keragaman serta keunikan tumbuhan dan satwa liar yang cukup tinggi. Suaka margasatwa yang merupakan kawasan hutan suaka alam, mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau memiliki keunikan jenis satwa yang membutuhkan perlindungan/ pembinaan bagi kelangsungan hidupnya terhadap habitatnya. Baru-baru ini Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe bekerjasama dengan Yayasan Ekosistem Lestari- Sumatera Orangutan Conservation Programme (YEL-SOCP), dari tanggal 23 Maret sd. 3 April 2020 lalu, melaksanakan kegiatan Survei Orangutan. Dengan mengikuti prosedur protokol kesehatan, kegiatan survei ini dapat selesai dan terlaksana dengan baik., bahkan kondisi fisik anggota tim terlihat bertambah sehat karena hampir 12 hari menyusuri/menjelajahi kawasan hutan konservasi ini. Metode survei orangutan yang digunakan dalam pengumpulan data kepadatan orangutan adalah metode line transect yang dibuat berdasarkan keberadaan sarang (Purposive sampling). SM Siranggas yang terdiri dari 98 grid sel ukuran 1 km x 1 km, dan dipilih 24 grid sel yang dilakukan penyebaran secara random di dalam kawasan SM. Siranggas dan sekitarnya dengan panjang jalur transek perjalur 1 km. Sepanjang kegiatan survei, banyak terlihat langsung tumbuhan dan satwa liar yang sangat menarik seperti jenis-jenis anggrek, Kambing Hutan, burung-burung, berbagai jenis Meranti (Dipterocarpacea), Rengas, Terap, Bambu, Rotan dan lain-lain . Dari analisa vegetasi di lokasi survei diperoleh 88 jenis tumbuhan tingkat pohon. Dan dari 88 jenis tersebut, ada 36 jenis menjadi pakan Orangutan Sumatera serta 22 jenis pohon menjadi tempat bersarang. Untuk sarang orangutan ada sebanyak 76 sarang dengan Kelas Sarang A-E, dari Sarang Baru (Daun Hijau) sampai Sarang Daun Kering dan Rangka. Hasil survei kali ini, didominasi Kelas Sarang C, yaitu sarang dengan kondisi semua daunnya sudah coklat sebanyak 43 sarang, diikuti kelas D yaitu alas sarangnya sudah berlubang dan bentuknya kurang utuh.Sedangkan kepadatan populasi Orangutan Sumatera adalah 0,75 individu/km². Survei orangutan ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan orangutan di habitatnya dan upaya pelestarian kedepannya. Sejak penunjukan sampai penetapannya melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.3591/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 2 Mei 2014, dengan luas 5.612,93 hektar, SM. Siranggas selain habitat Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang merupakan salah satu dari 3 species orangutan yang ada di Indonesia, juga habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) serta satwa liar yang diindungi undang-undang lainnya seperti Rangkong, Trenggiling, Kambing Hutan, Elang, Beruang Madu, Kancil, Rusa. Dengan survei ini, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Tuahman Raya, S.Sos., berharap dapat meningkatkan peran serta masyarakat melalui kerjasama dengan mitra kerja peduli orangutan dalam rangka menjaga pelestarian satwa orangutan di SM. Siranggas, melaksanakan monitoring populasi orangutan secara periodik bersama mitra, meningkatkan pengamanan kawasan terutama pada lokasi yang merupakan habitat orangutan serta nantinya dapat menjadi stasiun pengamatan untuk kegiatan penelitian maupun edukasi Orangutan Sumatera di kawasan SM. Siranggas. Sumber : Samuel Siahaan - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tim survey Orangutan Sumatera di SM. Siranggas
Baca Berita

Ukhuwah Konservasi di Masa Pandemi

Putussibau, 26 Mei 2020. Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) menyelenggarakan Halal Bihalal virtual (Zoom: Bentarum_Official) lingkup Ditjen KSDAE di hari ketiga setelah lebaran dan Live Streaming Youtube (Betung Kerihun Danau Sentarum National Park) dengan tema “Meningkatkan Ukhuwah Konservasi di Masa Pandemi". Sekitar 100 peserta yang mengikuti Halal Bihalal virtual berasal dari berbagai UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta seluruh staf Tana Bentarum. Kegiatan yang digelar tanggal 26 Mei 2020 ini juga dihadiri Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc bersama Kepala Balai Besar Tana Bentarum, Ir. Arief Mahmud, M.Si. Idul fitri tahun ini tentu berbeda dengan tahun sebelumnya, mengingat sebagian besar pegawai harus bertahan di tempat bertugas jauh dari sanak keluarga, membuat Tim Tana Bentarum berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh peserta dalam satu layar sebagai ajang silahturahmi dan berbagi ilmu dalam menyikapi pandemi yang sedang berlangsung. “Idul Fitri 1441 H momen yang luar biasa karena adanya pandemi sebagai bentuk respon yang dikerjakan manusia terhadap bumi. Manusia itu ternyata bukan penguasa bumi namun hanya tamu bumi, maka dari itu manusia harus tau etika terhadap bumi melihat musibah-musibah yang ada” ungkap Wiratno. Tak ketinggalan bekal tausyiah dari salah satu anggota DPR RI Komisi VIII, Dr. M. Ali Taher, SH., M.HUM. “Sebagai seorang manusia atau seorang pemimpin ada 3 titipan besar di pundak kita yaitu menjalankan fungsi kenabian dalam bentuk ibadah, fungsi kekhalifahan atau kepemimpinan, dan fungsi kerahmatan atau membangun kasih sayang yang melekat pada orang bertakwa, maka bekerja bukan hanya karna dilihat oleh pemimpin namun karena hati kita” tutur Ali Taher. Keberhasilan Tim Tana Bentarum dalam mengumpulkan peserta mendapatkan respon positif dari Dirjen KSDAE dan Kepala UPT lainnya. “Saya harap acara ini dapat memberikan pencerahan untuk kita semua untuk beradaptasi dengan situasi pandemi dan menjadi motivasi untuk kita untuk terus menjaga lingkungan dengan ikhlas, cerdas dan bertawakal kepada Allah untuk menjalankan tugas-tugas konservasi sehingga kita bisa mendapatkan pahala dunia maupun akhirat ” tegas Arief Mahmud saat membuka acara. Sumber : Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum)
Baca Berita

Penyu Belimbing Ditemukan Terdampar di Pantai Negeri Asilulu

Ambon, 22 Mei 2020. Sekitar pukul 07:00 WIT bertempat disekitaran pantai Desa Asilulu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, telah ditemukan 1 (satu) ekor Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) dalam kondisi sudah mati, bangkai penyu tersebut ditemukan oleh salah seorang nelayan ketika akan berangkat memancing di sekitaran perairan pantai desa tersebut. bangkai penyu tersebut kemudian dibawa menuju tepi pantai dan dilaporkan kepada salah satu petugas KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Dirjen PRL (Penataan Ruang Laut) yang tinggal di sekitar desa tersebut untuk kemudian dilaporkan kepada petugas Balai KSDA Maluku. Mendapatkan laporan dari petugas KKP tersebut, petugas Balai KSDA Maluku beserta petugas dari Loka PSPL Sorong segera menuju lokasi penemuan untuk melakukan pemeriksaan dan identifikasi terhadap bangkai penyu tersebut, dari hasil pemeriksaan terhadap bangkai tersebut diketahui bahwa penyu tersebut berjenis kelamin betina dengan panjang 180 cm, lebar badan 140 cm dan tinggi 50 cm. Kondisi badan penyu tersebut terdapat banyak bekas luka yang kemungkinan diakibatkan oleh benturan benda keras seperti batu dan karang, adapun untuk penyebab kematian penyu tersebut saat ini petugas masih mendalami informasi yang diperoleh dari masyarakat, namun kemungkinan penyebab kematian penyu tersebut dikarenakan akibat terseret ombak besar dan terbentur benda-benda keras seperti batu dan karang. Menurut informasi warga sekitar, Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) belum pernah ditemukan mencari makan di perairan Desa Asilulu, oleh karena itu masyarakat mengharapkan agar pihak terkait melakukan sosialisasi atau penyuluhan terkait penanganan satwa laut jika sewaktu-waktu masyarakat menemukan satwa yang terdampar kembali. Sehubungan kondisi disekitar lokasi temuan bangkai penyu yang sudah mulai ramai oleh masyarakat, serta untuk mendukung upaya pencegahan penyebaran Covid-19 maka petugas Balai KSDA Maluku segera membawa bangkai penyu tersebut untuk dimusnahkan. Kegiatan pemusnahan penyu tersebut dilakukan dengan cara di kubur di sekitar Komplek Perumahan Pegawai BKSDA Maluku di Desa Passo Kecamatan Baguala Kota Ambon. kegiatan pemusnahan disaksikan langsung oleh petugas dari Balai KSDA Maluku, PSDKP Ambon, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Loka PSPL Sorong. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Mekarnya Rafflesia gadutensis di Ujung Ramadhan 1441 H/ 2020 M di Negeri Sejuta Pesona

Sabtu, 23 Mei 2020 - Salah seorang masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (Egi Masro) pada saat patroli bersama dengan Polisi Kehutanan menemukan salah satu jenis raflesia lagi mekar pada tanggal 20 Mei 2020. Raflesia yang ditemukan merupakan jenis Rafflesia gadutensis, dengan diameter bunga 44 cm pada ketinggian 376 m dpl di batas kawasan TN Kerinci Seblat (TNKS) dalam wilayah Nagari Sungai Gambir Sako Kecamatan ranah IV Hulu Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan. Secara pengelolaan termasuk dalam wilayah kerja BPTN Wilayah II Sumatera Barat, Seksi Pengelolaan TN wilayah III Painan, Resort Lunang Sako. Kepala BPTN Wilayah II Sumatera Barat (Yunaidi, SP) mengatakan “berdasarkan data base TNKS jenis ini sebelumnya pernah ditemukan pada tahun 2012 dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan lokasi temuan sekarang,potensi kawasan TNKS di Desa/Nagari sangat banyak bak yang telah terdata maupun yang belum dimana selain memliki Raflesia juga memeliki jenis-jenis burung, jenis-jenis primata serta potensi air terjunnya”. Adapun status konservasinya menurut IUCN adalah Endangered/EN. Kepala SPTN III Painan (Laskar Jaya Permana) yang didampingi oleh Karest Lunang Sako (M.Setiawan Nur) menegaskan “setelah mendapatkan laporan tersebut kami langsung melakukan pemagaran dan menjaga agar tidak dirusak oleh oknum-oknum yg tidang bertangung jawab “ Nama jenis Rafflesia ini merupakan nama tempat atau tipe lokalitas dimana herbarium spesimen dikumpulkan yiatu Ulu Gadut, Padang, Sumatra Barat. Jenis ini didiskripsikan pertama ditemukan oleh oleh W. Meijer pada tahun 1984. Rafflesia gadutensis merupakan salah satu jenis yang sebaran geografisnya terbatas. Jenis ini ditemukan di Padang dan sekitarnya, dan pernah dijumpai di Ulu Gadut, Tahura Moh. Hatta, Kayu Taman, Bukit Tinggi, Solok, dan Batu Berjulang (Meijer,1997; Nais,2001). Rafflesia gadutensis merupakan jenis dengan ukuran menengah dengan garis tengah diameternya berkisar antara 40-46 cm. Helai perigonnya dan permukaan atas diaphragma mempunyai warna merah maron muda. Bercak di bagian atas helai perigon dan diaphragma mempunyai ukuran yang seragam dan berwarna merah muda. Jumlah bercak di helai perigon paling panjang berkisar antara 10-12 buah. Di perigon, bercak mempunyai ukuran lebih besar dari pada bercak pada R. arnoldii, dan kadangkadang berdempetan di bagian bawah dekat diaphragma. Jenis ini termasuk dalam kelompok R. hasseltii komplek. Ramenta jenis ini ada dua jenis yaitu; ramenta dengan ujung atasnya membengkak (crateriform) dan tipe jamur (toadstool). Tipe crateriform hanya dijumpai disepanjang bagian dalam permukaan tabung perigon. Sedangkan tipe jamur dijumpai di bagian bawah permukaan dalam diaphragma. Jumlah prosesi sebanyak 17-30, sedangkan jumlah anther bunga jantan sebanyak 30 (Meijer, 1997). Bunga ini sangat berbeda dengan bunga rafflesia yang lain, memiliki bentuk corak khas dan ukuran yang kecil. Bunga berdiameter sekitar 40-60 cm, dengan lima kelopak berbintik putih. Bunga raflesia ini tumbuh pada inangnya, liana menjalar Tetrastigma lanceolarium, yang termasuk keluarga vitaceae. Bunga ini diperkirakan memiliki proses tumbuh selama lima tahun dalam fase dari biji, kuncup, bunga dan biji kembali (proses layu). Sumber : Rika Puteta Abas, S.Hut (Polhut) - Balai Besar TN Kerinci Seblat Foto: Egi Masro (MMP Balai Besar TN Kerinci Seblat)
Baca Berita

Mendokumentasikan Tahapan Perkembangan Elang Jawa

Cibodas, 20 Mei 2020 - Elang jawa (Nisaetus bartelsi), merupkan salah satu spesies prioritas di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), termasuk spesies terancam punah, dan berstatus dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Keberadaannya merupakan salah satu top predator, sehingga menjadi indikator kesehatan eksositem. Elang Jawa satwa endemik pulau Jawa ini, sejak tahun 1950 resmi menjadi simbolisasi lambang negara Republik Indonesia (burung Garuda) dan hal ini tertuang dalam Keppres Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Dalam Keppres yang diterbitkan Presiden Soeharto, elang Jawa dikategorikan sebagai satwa langka dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018, oleh karenanya keberadaannya harus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Sebaran elang Jawa di TNGGP tersebar hampir di seluruh wilayah Resort PTN. Estimasi hasil monitoring elang Jawa sebanyak 43 individu (tahun 2015), 49 individu (tahun 2016), 44 individu (tahun 2017), 33 individu (tahun 2018), dan 38 individu (tahun 2019). Dari hasil pantauan untuk setiap tahunnya, estimasi hasil monitoring elang Jawa di TNGGP mengalami fluktuasi. Hal ini diduga karena adanya variasi pola musim dan iklim setiap tahunnya, seperti jumlah bulan basah dan kering setiap tahun tidak sama, dan juga dikarenakan faktor lingkungan lainnya yang mempengaruhi kehadiran elang Jawa. Untuk meningkatkan populasi dan mengubah status dari “satwa langka” menjadi “satwa umum” (tidak langka) perlu pengelolaan yang lebih baik sehingga populasinya bisa ditingkatkan. Pada saat kegiatan monitoring tahun 2019 di TNGGP telah terjadi penambahan individu. Bahkan sempat diambil dokumentasi pertumbuhan anakan elang Jawa di lokasi pengamatan Bidang PTN Wilayah III Bogor, dalam bentuk video singkat. Proses pengembangbiakan elang Jawa biasanya berlangsung pada periode Januari hingga Mei setiap tahun. Dimulai dengan proses perkawinan pada bulan Januari, dilanjutkan dengan pembuatan sarang oleh induk, bertelur, mengerami, dan menetas pada bulan April. Setelah menetas anak elang Jawa membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk mulai belajar terbang. Sampai usia 4-5 bulan, induk elang Jawa tetap menjaga dan memberinya makan sampai bayi elang jawa bisa hidup mandiri. Secara umum kawasan TNGGP sangat mendukung kehidupan elang Jawa di habitat aslinya. Hal ini bisa terlihat dari populasi yang cenderung stabil (meskipun sedikit berflutuasi) dari tahun ke tahun. Bentang alam yang memang cocok (lembah tempat berburu dan bukit, pohon yang tinggi tempat mengincar mangsa, kelimpahan pakan serta rendahnya aktivitas manusia). Lebih-lebih dengan terus dilakukan upaya restorasi kawasan yang terdegradasi (eks hutan produksi yang alih fungsi menjadi kawasan konservasi), kondisi ekosistem di kawasan ini diharapkan akan semakin mendukung kehidupan jenis-jenis satwa langka, termasuk elang Jawa. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango SIARAN-PERS-PERKEMBANGAN-ELANG-JAWA
Baca Berita

Pedagang Satwa liar Online Di Situbondo Terancam Dibui 5 Tahun Penjara

Situbondo, 22 Mei 2020. Persidangan terhadap terdakwa sindikat perdagangan satwa liar yang diungkap Ditreskrimsus Polda Jatim memasuki babak persidangan di Pengadilan Negeri Situbondo, 20 Mei 2020. Agenda sidang kali ini mendengarkan keterangan saksi ahli dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, Warsono, SP., MP., PEH Muda pada Bidang KSDA Wilayah III Jember. Sidang dilaksanakan secara virtual dari Kejaksaan Negeri Situbondo, Pengadilan Negeri Situbondo, dan Rumah Tahanan Situbondo. Dalam persidangan ini juga dihadirkan terdakwa IS yang didampingi oleh 3 orang penasehat hukum. IS didakwa dengan perkara dugaan tindak pidana memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi. Dalam sidang tersebut Warsono menyampaikan mengenai dasar hukum satwa dilindungi, yakni Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. ia juga menyampaikan ciri-ciri dari satwa liar yang dilindungi berupa Kepala Kambing (Cassis cornuta) dan Triton Terompet (Charonia tritonis). “Sanksi pidananya sesuai dengan Pasal 21 ayat (2) butir d Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta pengecualian pada pasal 21 tersebut,” tambah Warsono. Pada Januari 2020 Subdit IV Tipidter Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim mengungkap kasus penjualan beragam satwa langka dan dilindungi melalui media sosial senilai 1,5 Milyar rupiah dengan 5 orang tersangka. Para pelaku terdiri dari dua kelompok, yakni pemain burung langka dan pemain kerang, yangmana salah satunya adalah terdakwa IS yang berasal dari Kabupaten Situbondo. Karena perbuatannya, pelaku diancam dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda maksimal seratus juta rupiah. Sumber : Warsono - PEH Muda Bidang KSDA Wilayah III Jember Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Persiapan P1 Program Pemulihan Ekosistem Site Tanamodu

Waingapu, 22 Mei 2020. Seluruh kabupaten di Pulau Sumba yang berjumlah 4 kabupaten telah melakukan semi lockdown dengan lebih memperketat perbatasan. Para pelaku perjalanan yang melintas di batas kabupaten akan diperiksa kelengkapan surat tugas dan surat kesehatan untuk dapat melintas. Hal ini cukup menyulitkan petugas karena kawasan TN Matalawa terbagi di 3 kabupaten Ini pula yang terjadi saat petugas akan melakukan pengawasan program Pemulihan Ekosistem (PE) di site Tanamodu. Kepala Resort Taman Mas yang sekaligus juga sebagai penanggung jawab program PE di site ini, Gaudencio Gabriel, S.ST, harus melalui penjagaan tidak hanya di perbatasan antar kabupaten, tapi juga batas antar desa. Site Tanamodu telah menyelesaikan penanaman pada akhir Desember tahun lalu dan akan memasuki masa pemeliharaan pertama pada tahun ini. Terlihat para pekerja yang tergabung dalam kelompok kerja telah menyelesaikan pekerjaan pengisian polybag untuk kemudian ditanami bibit. Gaudencio yang melakukan pendampingan lapangan kepada para anggota kelompok terus memberikan semangat walaupun bekerja di tengah kondisi pandemi. Ia juga mengingatkan kepada para anggota untuk terus menjaga kesehatan diri. Para anggota kelompok ini akan menyelesaikan penyiapan bibit tanaman sebanyak 20.000 bibit untuk ditanam pada areal seluas 22,66 Ha. Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

BBKSDA Sulsel Lepasliarkan Satwa ke Alam Peringati Hari Kehati 2020

Makassar, 22 Maret 2020. Di masa pandemi virus corona (covid-19), Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan bersama Petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melakukan kegiatan pelepasliaran satwa liar di Minasa te’ne kabupaten Pangkep dan Karaenta kabupaten Maros yang merupakan kawasan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan tetap mengikuti protokol COVID-19. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulsel, Ir. Thomas Nifinluri. M.Sc., mengatakan pemasalahan dan ancaman terhadap berbagai jenis satwa liar tidak hanya menjadi ancaman penurunan populasi dan aspek ekologi sebuah kawasan, namun secara tidak langsung menyebabkan menurunnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap satwa, tanpa melihat dan memperhatikan nilai dan peran penting satwa liar di alam sebagai pengatur keseimbangan ekosistem. Rendahnya tingkat reproduksi satwa liar serta tingginya tingkat perburuan liar menjadi faktor utama penurunan populasi satwa liar di alam. "Pelepasliaran satwa liar bertujuan untuk menstabilkan populasi satwa liar di alam dan juga sebagai bentuk pernyataan politis dan pendidikan yang kuat terhadap kesejahteraan satwa liar dan promosi nilai-nilai konservasi lokal (dokumen IUCN, 2013). Satwa liar yang dilepaskan tersebut merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan keberadaannya di alam diperlukan sebagai pengatur ekosistem kawasan konservasi. Salah satu upaya konservasi satwa liar adalah dengan melakukan rehabilitasi dari hasil sitaan dan serahan masyarakat untuk dilepasliarkan ke habitatnya dengan merujuk pada panduan IUCN dan ketentuan yang berlaku di Indonesia untuk pelepasliaran, reintroduksi dan translokasi " jelas Thomas. Thomas juga menyampaikan program pelepasliaran satwa liar yang dilakukan terdiri dari 5 jenis dan sebanyak 12 ekor sebagai berikut: Giat ini dilakukan setelah melalui pemeriksaan kesehatan dan kajian perilaku terhadap satwa tersebut selama proses rehabilitasi di Kandang Transit Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, dan satwa dinyatakan sehat. Observasi lebih lanjut dilakukan di kandang observasi untuk melihat perilaku harian, perilaku berburu dan makan, perilaku interaksi antar satwa, tambah Thomas. Tahap selanjutnya, sebelum dilakukan pelepasliaran dilakukan kajian terhadap atau lokasi pelepasliaran untuk mempertimbangkan aspek kesesuaian habitat, potensi pakan serta potensi ancaman dan gangguan terhadap satwa. Tahap berikut adalah proses habituasi atau adaptasi terhadap lingkungan satwa yang baru dengan menempatkan dalam kandang habituasi selama sekitar 7 s/d 14 hari. Setelah semua proses pemeriksaan kesehatan, perilaku/observasi, rehabilitasi, dan habitat dilakukan maka satwa siap untuk dilepasliarkan. Pelepasliaran satwa liar 5 ekor Elang tikus (Elanus caeruleus), 2 ekor Elang Bondol (Haliastur indus), 1 ekor Elang Paria (Milvus migrans) dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 20 Maret di Minasa te’ne Kabupaten Pangkep dan pelepasliaran 3 ekor Ular Sanca Kembang (Python reticulatus) pada hari dan tanggal yang sama di areal Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Karaenta Kabupaten Maros. Sedangkan pelepasliaran buaya muara (Crocodylus porosus) sebanyak 1 ekor telah dilakukan pada tanggal 15 Mei bertempat di Muara sungai Malili, dusun/desa Ussu, Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur yang merupakan kawasan hutan lindung. Harapan jebolan Fahutan Unhas 87 ini, dengan adanya pelepasliaran diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai penting keberadaan satwa liar dan habitatnya bagi lingkungan dan kehidupan dimasa yang akan datang dalam mengatur keseimbangan ekosistem sebuah kawasan. Pelepaliaran ini bagian peringatan hari Keanekaragaman Hayati tahun 22 Mei 2020 dan Semangat Kebangkitan Nasional ditengah pandemik Corona19 bersama Kabalai TN Bantimurung Buluaaraung, kabid Teknis BBKSDA Sulsel, Ir. Anis Suratin, Kabag TU, Ellyyana Said, Kasi P3, Yusry. SP, MTP., dan TIm WRU BBKSDA Sulsel, Camat Minasatene Kab Pangkep, Lurah Biraeng, Komandan Rayon Mileter Minasa tene, Kepala Lingkungan Belae dan masyarakat sekitar, turut hadir menyaksikan. Sumber : drh. Fatmasari - Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniati, S.Hut, MP
Baca Berita

Akuaponik: Optimalisasi Lahan Budidaya Jenis Bermanfaat di Resort Sebabai, TaNa Bentarum

Mensiau, 20 Mei 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) memiliki sebuah program demonstration plot (demplot) budidaya jenis bermanfaat yang dilaksanakan di setiap resort, salah satunya demplot akuaponik Resort Sebabai, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Lanjak, Bidang PTN Wilayah I Mataso. Program ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan motivasi masyarakat sekitar kawasan dalam pengembangan mata pencaharian saat menghadapi pandemi COVID-19. “Demplot yang kami bangun ini adalah demonstrasi akuaponik yang menggabungkan antara akuakultur atau budidaya ikan dengan hidroponik yang merupakan budidaya sayur-sayuran dengan media air kolam yang mengandung nutrisi dari kotoran ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan lele dan nila, sedangkan sayurnya kangkung dan sawi.” jelas Donatus Langit, Kepala Resort Sebabai. Demplot akuaponik ini dibangun di Resort Sebabai yang terletak di Desa Mensiau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat Desa Mensiau menyambut baik pembangunan demplot akuaponik dengan turut membantu pembangunan demplot dan sangat antusias dalam menyaksikan demonstrasi penanaman tanaman dengan metode hidroponik. Silvester Berasap, Kepala Desa Mensiau menyatakan bahwa masyarakat sangat senang mendapatkan ilmu baru di desa mereka, terlebih budidaya dengan metode akuaponik dapat membudidayakan dua jenis sekaligus, yaitu ikan dan sayuran. “saya berharap bahwa masyarakat dapat menerapkan metode akuaponik ini di lahannya masing-masing untuk meningkatkan penghasilan mereka, di tengah pandemi COVID-19 ini” ungkapnya. Parsaoran Samosir selaku Kepala Seksi PTN Wilayah I Lanjak mengungkapkan bahwa, Pembangunan demplot akuaponik ini diharapkan mampu memantik semangat dan motivasi masyarakat Desa Mensiau untuk membudidayakan jenis bermanfaat dengan metode akuaponik. “Melihat antusiasme masyarakat dalam menyimak demontrasi budidaya secara akuaponik, memberikan semangat kepada kami sebagai pengelola Taman Nasional untuk terus berusaha mendorong masyarakat untuk berinovasi saat pandemi seperti sekarang ini” pungkas Samosir. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum)
Baca Berita

Ramai - Ramai Bantu Peternak Ayam Joper Terdampak Covid

Ponorogo, 22 Mei 2020. Dua bulan telah berlalu sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional non alam di Indonesia, telah berdampak pada hampir seluruh sektor usaha, tidak terkecuali dengan usaha ternak ayam Joper (Jowo Super). Usaha ini mulai dirintis sejak 2018 oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Picis Makmur, Desa Gondowido, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Usaha ternak Joper periode ini direncanakan untuk persiapan panen saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, momen dimana permintaan kebutuhan ayam cukup tinggi, dengan harga jual yang tinggi pula. Mulai dari permintaan rumah tangga hingga stok permintaan dari warung kuliner di sekitar Telaga Ngebel yang ramai pengunjung wisata saat musim libur. Namun apa mau di kata, Idul Fitri sudah tinggal hitungan hari, ayampun sudah mulai masuk bobot siap panen, tapi belum ada geliat permintaan. Sementara, beban kebutuhan pakan dan pemeliharaan ayam terus berjalan. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakibat pada sepinya pengunjung wisata. Pedagang dan pemilik warung kuliner di sekitar Telaga Ngebel-pun harus menutup usahanya. Himbauan untuk tidak mudik sepertinya melunturkan semangat tradisi masak opor ayam saat kumpul keluarga di momen Idul Fitri. Di tengah kondisi keprihatinan ini, KTH Picis Makmur mencoba berdamai dengan berinisiatif untuk membagikan sebagian hasil ternak kepada 32 orang anggotanya, 19 Mei 2020. Setiap anggota mendapatkan 3 ekor ayam. “Tahun ini tidak bisa membagikan THR untuk anggota kelompok, namun setidaknya masih ada yang bisa dibagikan untuk anggota,” ujar Pujiono, Ketua KTH Picis Makmur. Keprihatinan kondisi usaha KTH Picis Makmur agaknya menjadi perhatian khusus bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) sebagai pembinanya. Untuk meringankan kondisi keterpurukan kelompok, BBKSDA Jatim berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana dari internal pegawai melalui Whatsapp Grup. Banyak pegawai yang merespon positif dan turut berdonasi. Langkah ini ternyata mendapat perhatian dari Dirjen KSDAE, Direktur KKH, dan Direktur PJLHK yang turut serta berdonasi juga. Hingga 20 Mei 2020 Pukul 15.50 WIB, berhasil terkumpul dana untuk membeli 168 ekor ayam Joper milik KTH Picis Makmur. “Donasi yang terkumpul rencananya akan disumbangkan kepada Lembaga Konservasi terdekat, yakni Madiun Umbul Square, yang dalam kondisi prihatin kekurangan pakan satwa, karena masih penutupan dari pengunjung,” Ujar Sihono, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Tentunya ini akan membuat anggota KTH sedikit lega, di tengah kesulitan pemasaran ayam Joper akibat pademi Covid-19. Sumber : Endry Wijayanti - Penyuluh Kehutanan Bidang KSDA Wilayah I Madiun Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai Besar Tana Bentarum, Fasilitasi Kuliah Online Bagi Penyuluh Kehutanan Se - Indonesia

Putussibau, 19 Mei 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) kembali melakukan fasilitasi peningkatan kapasitas bagi Penyuluh Kehutanan se-Indonesia dengan mengadakan ‘Kuliah On Line’ yang bertemakan “Bagaimana Penyuluh Kehutanan Eksis dan Berkarya Di Saat Pandemi Covid -19”. Kegiatan ini berlangsung selama 2,5 jam dengan menggunakan aplikasi Zoom dan Live Youtube yang diikuti oleh 369 peserta, terdiri dari Penyuluh Kehutanan yang berasal dari UPT KLHK dan UPT Pemerintah Daerah. Dr. Soni Trison, S.Hut. M.Si, menjadi narasumber utama pada kegiatan kali ini, beliau adalah Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Sedangkan untuk Keynote Speaker yaitu Ir. Arief Mahmud, M.Si, selaku Kepala Balai Besar Tana Bentarum dan Dr. Ir. Mariana Lubis, MM, selaku Kepala Pusat Penyuluhan BP2SDM Arief Mahmud pada sambutannya menyampaikan “Keadaan Pandemi Covid -19 ini bukanlah sebuah penghalang bagi Penyuluh Kehutanan untuk tetap berkarya dengan segala keterbatasan yang ada” ungkapnya. “Pada masa Pandemi Covid -19 ini saya berpesan agar Penyuluh Kehutanan tetap melakukan pendampingan ke Kelompok masyarakat melalui telepon atau media sosial, diskusikan dan konsultasikan segala permasalahan melalui aplikasi rapat On Line, menerapkan pola berkerja di rumah, melaksanakan tugas sesuai perintah pimpinan, aktif menyusun materi penyuluhan sebagai bahan pembinaan kelompok, dan tetap jaga kesehatan serta optimalkan forum jejaring Penyuluh Kehutanan” pungkas Mariana Lubis Dr. Soni Trison, S.Hut. M.Si pada paparannya menyampaikan bahwa sektor Kehutanan mengalami masalah yang bertubi-tubi maka Penyuluh Kehutanan sebagai garda terdepan harus mempunyai kompetensi kerja dan adaptasi yang baik serta sebuah TRUST ditingkat tapak. “Jadilah Penyuluh Kehutanan yang proaktif, mulailah segala sesuatu dengan gambaran akhirnya, pahami orang lain sebelum orang lain memahami anda, lakukan sinergi dengan pihak lain, selalu dahulukan yang lebih utama, berpikirlah menang/menang jangan berpikir menang/ kalah, asahlah TOOLS anda secara teratur” tegas Soni Dengan pelaksanaan kegiatan ‘Kuliah On Line’ ini diharapkan dapat memotivasi para Penyuluh Kehutanan se- Indonesia untuk meningkatkan kapasitasnya guna menunjang kinerja di lapangan. Sumber : Harri Ramadhani, S.Hut - Penyuluh Pertama, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Di Tengah Pandemi Covid-19, Dua Spesies Bunga Bangkai Mekar di CA/TWA Sibolangit

Sibolangit, 20 Mei 2020. Disaat pandemi Virus Corona 19 yang masih berlangsung sampai hari ini, semangat petugas Resort Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Sibolangit tak sedikitpun surut untuk melaksankan tugas patroli kawasan dalam rangka pengelolaan kawasan konservasi. Dengan mengikuti protokol kesehatan, pelaksanaan tugas di lapangan tetap berlangsung. Patroli di kawasan tidak hanya sekedar rutinitas tugas, tetapi juga bagi petugas lapangan sebagai cara untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Bukan hanya fisik tetapi jiwa juga ikut disegarkan dengan menghirup udara segar, menyaksikan keindahan aneka ragam tumbuhan serta mendengar suara-suara satwa di alam. Dalam kegiatan patroli yang dilaksanakan petugas Resort CA./TWA. Sibolangit dari tanggal 16 s.d 18 Mei 2020, dijumpai Bunga Bangkai sedang tumbuh mekar di CA dan TWA Sibolangit. Sekedar diketahui, di Kawasan CA./TWA. Sibolangit saat ini terdapat 3 spesies dari bunga bangkai, yaitu Amorphopallus titanum, Amorphophallus beccarii dan Amorphopallus prainii. Dari 3 Species diatas, 2 diantaranya mengalami generatif (mekar bunga) yakni munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang dan daun pada waktu hampir bersamaan, yaitu jenis Amorphopallus prainii terlihat mekar pada tanggal 17 Mei 2020 di TWA. Sibolangit, dan Jenis Amorphophallus beccarii terlihat tumbuh pada tanggal 18 Mei 2020, dengan tinggi 90 cm, di batas kawasan CA. Sibolangit. Sedangkan untuk jenis Amorphopallus titanum, yang populasinya cukup banyak di CA. Sibolangit, sampai saat ini belum terlihat tumbuh. Terakhir terlihat mekar pada 16 Mei 2017 yang lalu, ungkap Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP bersama tim Sangap, Edi dan M. Irsan. Umumnya kedua jenis bunga bangkai yang mekar diatas, masa mekarnya sampai layu adalah 2-3 hari. Perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap 3 species bunga bangkai yang ada di CA dan TWA Sibolangit. Dengan akses yang mudah menuju lokasi CA/TWA Sibolangit dari Kota Medan, hanya 38 km, memudahkan sekaligus melancarkan kegiatan penelitian, baik bagi peneliti maupun mahasiswa. Ayo Lestarikan Habitat Bunga Bangkai. Sumber : Samuel Siahaan, S.P. -PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Amorphophallus beccarii tumbuh mekar di CA./TWA. Sibolangit.
Baca Berita

Resort Kerumutan Utara Balai Besar KSDA Riau Temukan Bukti Illegal Logging Saat Patroli Rutin

Pekanbaru, 19 Mei 2020. Resort Kerumutan Utara (Teluk Meranti) Balai Besar KSDA Riau kembali melakukan patroli pada 15-16 Mei 2020 silam. Patroli dipimpin langsung Kepala Resort, bapak Putrapper yang dilakukan di parit Mega, Kel. Teluk Meranti, Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan. Tim menemukan tumpukan kayu olahan berupa papan +/- 3 m3 kemudian memusnahkannya, namun tidak menemukan pelaku illegal logging di lokasi. Lalu Tim berkoordinasi dengan aparat setempat dan membentuk kelompok Tani Setia Baru yang diketuai Sdr. Azwir. Kelompok ini akan dilibatkan dalam kegiatan revitalisasi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Jenis usaha yang akan dijalankan adalah budidaya perikanan dan peternakan. Kelompok ini beranggotakan masyarakat sekitar hutan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan dengan tujuan mengurangi ketergantungan terhadap hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Pada patroli di parit desa dan parit SMA, Kel. Teluk Meranti, Kec. Teluk Meranti, Kab. Pelalawan, Tim menemukan kayu olahan berbentuk papan sekitar +/- 3 m3 lalu memusnahkannya namun kembali Tim tidak menemukan pelaku illegal logging di parit desa. Di parit SMA, tim lagi - lagi menemukan kayu yang diduga hasil illegal logging sejumlah 25 rakit papan, 1 rakit broti dan 7 rakit kayu gelondongan. Kali ini Tim menemukan 4 orang pelaku, tetapi sayangnya pelaku melarikan diri. Tim mengeluarkan kayu tersebut dari parit untuk dimusnahkan. Selanjutnya Tim berkoordinasi dengan lurah Teluk Meranti, bapak Mursyidin dan menyampaikan hasil kegiatan illegal logging di sejumlah parit yang berada di wilayahnya serta mendorong lurah untuk percepatan legalitas kelompok tani yang dibentuk sebelumnya. Lurah merespon dengan memanggil masyarakat agar tidak melakukan tindakan diluar kewenangannya di kawasan hutan. Lurah juga menginginkan agar dilibatkan dalam kegiatan patroli secara bersama. Semoga dukungan dari aparat setempat dan alternatif kegiatan revitalisasi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan konservasi mampu menekan illegal logging yang terjadi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BKSDA Sumatera Selatan Lepasliarkan Kucing Hutan Hasil Penyerahan Warga

Palembang, 20 Mei 2020. Balai KSDA Sumatera Selatan pada tanggal 19 Mei 2020 menerima penyerahan kucing hutan (Felis bengalensis) jantan sebanyak 1 (satu) ekor dari seorang warga di Dusun Kecipung Kelurahan Batu Belang Kecamatan Muara Dua Kabupaten OKU Selatan. Serah terima ditandai dengan penandatangan Berita Acara Serah Terima antara warga yang menyerahkan dan Herman selaku Kepala KPHK SM Gunung Raya. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan fisik dan perilaku kucing hutan tersebut. Kondisinya dinyatakan sehat sehingga dapat segera dilepasliaran. Pelepasliaran dilakukan di Suaka Margasatwa Gunung Raya yang berlokasi di Mandoriang. Berkembangbiaklah sang kucing hutan di rimba hutan belantara. Sumber : Herman - Polhut Balai KSDA Sumatera Selatan dan Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Demplot Budidaya Lebah Kelulut dan Tanaman Sayuran, Inovasi di Tengah Pandemi

Mataso, 20 Mei 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) memiliki program pembangunan dempot yang dilaksanakan pada semua resort. Demplot yang dikembangkan di Resort Sadap, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lanjak berupa budidaya lebah kelulut (Trigona sp.) dan sayuran. Suka Prandika selaku Kepala Resort Sadap menyampaikan, bahwa saat ini telah terdapat 10 (sepuluh) stup lebah kelulut yang sedang dibudidayakan yang direncanakan pertengahan bulan Juni nanti, ada beberapa stup kelulut yang sudah dapat dipanen untuk diambil madunya. “Potensi lebah kelulut sangat melimpah di sekitar Dusun Sadap, banyak dijumpai di batang pohon karet, pohon tapang, pohon meranti, bahkan dijumpai juga di kolong rumah adat, hanya potensi itu belum dibudidayakan secara maksimal oleh masyarakat, padahal madu kelulut memiliki harga jual yang cukup tinggi. Selain itu madu kelulut ini dapat dikonsumsi secara pribadi yang berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh ditengah pandemi Covid-19 “ ungkap Suka “Budidaya lebah kelulut juga dibarengi dengan penanaman tanaman pakannya, yakni liana air mata pengantin yang dapat berbunga sepanjang tahun dan sangat mudah tumbuh serta perawatannya, tanaman pakan ini sangatlah penting untuk mendukung keberhasilan budidaya lebah kelulut yang bisa menghasilkan madu berkualitas “ jelas Fadli Murtafaqa Nalir, Calon Polhut di Resort Sadap yang menginisiasi demplot lebah kelulut. Fadli juga menerangkan, selain demplot lebah kelulut, ditanam juga jenis sayuran sebagai bentuk pemanfaatan lahan kosong di sekitar kantor Resort Sadap, diantaranya cabai, kangkung, bayam, sawi, terong, dan timun. Sayuran ini selain dapat dijual untuk mendatangkan keuntungan juga berperan sebagai pakan tambahan bagi lebah kelulut pada saat sayuran tersebut berbunga. Dengan adanya tanaman sayuran ini dapat dijadikan sebagai tambahan hasil sambil menunggu panen madu kelulut. “Demplot budidaya lebah kelulut dan tanaman sayuran yang dilakukan oleh pegawai Resort Sadap ini menunjukkan adanya kekompakan serta semangat gotong royong diantara pegawai di tengah pandemi Covid-19 dan menunjukkan kehadiran petugas di lapangan. Kami berharapan demplot ini dapat menjadi contoh bentuk mata pencarian baru bagi masyarakat desa penyangga kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dalam situasi pandemi Covid-19,“ pungkas Parsaoran Samosir, selaku Kepala Seksi PTN Wilayah I Lanjak. Sumber : Ahmad Rindoan, S.Hut - PEH Pertama Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)

Menampilkan 3.553–3.568 dari 11.141 publikasi