Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pencegahan Virus COVID-19 di Wilayah Kerja Balai Besar TN Teluk Cenderawasih

Rabu, 3 Juni 2020 - Saat ini upaya pencegahan merebaknya virus Corona (Covid-19) di daerah sudah dilakukan hingga ke tingkat kampung. Tidak hanya oleh petugas dari Dinas Kesehatan, petugas dari Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) pada Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah III melakukan kampanye dan sosialisasi upaya pencegahan penyebaran Covid-19 kepada masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan pada 6-8 Mei 2020. Mengingat jumlah pasien positif Corona yang terus bertambah, maka upaya ini dilakukan dengan harapan agar masyarakat semakin sadar dan waspada terhadap virus Covid-19. Demikian yang dikatakan Friska G. Sianturi, Penyuluh BPTN III Yembekiri. “Sosialisasi ini merupakan inisiatif dari staf BPTN Wilayah III terkait Tupoksi mereka sebagai penyuluh", tutur Hernowo, Kepala Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Yembekiri. Dia meminta kepada staf guna menyampaikan pesan pentingnya menjaga lingkungan agar dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat, seperti menjaga hutan agar udara bersih dan tidak mudah sakit (batuk), kemudian juga makan ikan hasil tangkapan nelayan untuk membantu perekonomian dan dapat meningkatkan imunitas. Sosialisasi dilakukan dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah, hal ini sesuai dengan instruksi pemerintah agar tidak menimbulkan kerumunan massa. Masyarakat merespon kegiatan ini secara baik dan terbuka, karena virus Covid-19 sudah menjadi permasalahan yang meresahkan. “Ada beberapa masyarakat yang hanya mendengar kabar saja, tahunya agar rajin mencuci tangan dan memakai masker tetapi tidak mengetahui gejala dan pencegahannya lebih dalam”, kata Friska Sianturi. Membeli Hasil Laut Masyarakat Saat Pembukaan Sasi Sebelumnya, pada bulan Maret 2020 dilakukan pembukaan Sasi oleh masyarakat Kampung Menarbu, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama. Sasi ini bertujuan untuk memulihkan dan menjaga laut dan seluruh isinya agar tidak mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas penangkapan. Areal laut yang sebelumnya ditutup dari pengambilan hasil laut sejak dua tahun lalu, akhirnya dibuka kembali. Areal seluas 1.194 hektar yang masuk ke dalam BPTN Wilayah II Wasior ini dibuka selama dua bulan untuk dilakukan pengambilan hasil lautnya. Hasil dari Sasi tersebut sebagian dibeli oleh BBTNTC sebagai upaya dalam menjaga perekonomian masyarakat yang terdampak pandemi Corona. “Sasi ini tidak hanya dilakukan di Kampung Menarbu saja, namun dapat dilakukan juga di kampung-kampung lain di seluruh wilayah TNTC”, Pesan Bernardus Imburi, Bupati Teluk Wondama. Kepala BBTNTC (Ir. Ben Gurion Saroy, M.Si) mengatakan, “Sasi ini akan dilakukan di seluruh wilayah TNTC, baik di Kabupaten Teluk Wondama, dan juga di Kabupaten Nabire, dengan skema Sasi Permanen dan Sasi Buka Tutup seperti yang sedang dilakukan saat ini”. Upaya Pencegahan Covid-19 di Kantor BBTNTC Di kantor Balai Besar TNTC, upaya pencengahan penularan Covid-19 dilakukan dengan menyediakan tempat-tempat mencuci tangan yang dilengkapi dengan sabun, penyediaan hand sanitizer di setiap ruangan kerja, penyediaan penambah daya tahan tubuh, pembagian masker dan membagi jam kerja ASN agar tidak serentak bekerja di kantor, sebagian ASN bekerja dari rumah (Work from home/WFH). Penyesuaian jam kerja berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MENPAN-RB) No. 50/2020 tentang Perubahan Kedua atas Surat Edaran Menteri PANRB No. 19/2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah. ASN BBTNTC juga diminta untuk mengunduh aplikasi PeduliLindungi dalam upaya mengendalikan penyebaran Covid-19. Aplikasi ini bermanfaat dalam rangka pelaksanaan surveilans kesehatan penanganan Covid-19. Oleh karenanya, ASN diharapkan bisa mengajak keluarga dan masyarakat sekitar untuk turut mengunduh dan menggunakan aplikasi tersebut. Sumber: Balai Besar TN Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Hidayat “odoy” Guru Kami Di TNGGP

Cibodas, 3 Juni 2020. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di penghujung Juni 2020 melepas Hidayat Santosa (Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan, dan kehumasan) yang telah memasuki masa purna bhakti terhitung mulai tanggal 1 Juni 2020. Seluruh staf Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan memberikan kesan yang diwakili Agus Mulyana. Agus menyampaikan, bahwa Pak Hidayat yang akrab dipanggil “Odoy” dengan sosok fisik tinggi besar ini, dari segi kinerja dapat dijadikan contoh. Pada saat menjabat fungsional Pengawetan, muncul 11 pertanyaan yang ingin dijawab oleh para pejabat fungsional pengawetan (sekarang fungsional PEH), mulai ada apa di TNGGP (penilaian potensi) sampai mungkinkah masyarakat mencoba memanfaatkan potensi untuk meningkatkan kesejahteraannya. Mudah-mudahan kesebelas pertanyaan ini dapat dilanjutkan oleh generasi selanjutnya dalam pengelolaan kawasan TNGGP. Aden Mahyar Burhanuddin, seorang teman lama yang saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan di Bidang Teknis Konservasi menyampaikan kisahnya bersama Pak Hidayat, “Saya masuk ke TNGGP Mei tahun 1999 ketika beliau sekolah GIS di Jepang, setelah pulang sekolah dari Jepang beliau lah yang menginisiasi GIS di TNGGP”. Banyak ilmu yang didapat dari sosok “Odoy” ini, beliau sosok yang ulet. Apabila ada alat baru, Pak “Odoy” ini lah yang paling rajin mempelajari buku manualnya dan ditransfer kepada teman-temannya agar yang lain bisa mengoperasikan alat tersebut. Salah satunya ilmu yang didapat dari beliau dalam membuat animasi pada power point. Beliau adalah guru kita semua di TNGGP ini. Hidayat betutur. “Sejak Oktober tahun 1986 sampai Mei 2020, mulai dari awal masuk kerja sampai purna bhakti saya bertugas di TNGGP”. Betapa mengasikan kerja di TNGGPselama 34 tahun sampai-sampai tidak terasa sudah mau purna bhakti. Banyak pelajaran berharga yang didapat di TNGGP, mulai dari mengenal komputer di sini. Namun karena kondisi umur dan kesehatan dua terakhir ini saya lebih menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis berbeda ketika kondisi masih fit banyak menghabiskan waktu pergi ke lapangan. Pesan yang disampaikan beliau untuk seluruh penerusnya di TNGGP, “Semua pekerjaan itu harus memuaskan untuk semua pihak, baik yang mengerjakannya maupun yang memberikan tugasnya dan tugas dikerjakan dengan prinsip “Man Jadda Wa Jadda” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”. Dalam sambutannya Wasja, Kepala Bagian Tata Usaha, menyampaikan, ”Pak Hidayat merintis karir di TNGGP penuh prestasi, saya sangat bangga. Dalam menyelesaikan karya betul apa yang dikata Pak Hidayat harus Man Jadda Wa Jadda, saya mengenal beliau selama 2 tahun 1 bulan selama saya tugas di TNGGP sebagai sosok yang low profile high quality”. Wasja juga menyampaikan pesan kepada seluruh pegawai TNGGP, bahwa tahap purna bhakti setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) akan mengalaminya, satu per satu tokoh-tokoh senior yang membangun TNGGP akan purna bhakti, namun ilmu-ilmunya ini harus tetap diteruskan oleh generasi berikutnya. Semua yang dikerjakan saat ini harus bercermin pada masa lalu karena secara marathon merupakan rangkaian dari masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Apapun itu tidak dapat menghilangkan historis apa yang sudah dikerjakan para senior di TNGGP. Purna bhakti bukan merupakan sebuah akhir dari pengabdian, pengabdian dapat dilakukan dimana saja dan dalam bentuk apapun. V. Diah Qurani Kristina, Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur turut menambahkan kesan untuk Pak Hidayat, "Banyak teman-teman yang memberikan saran untuk konsultasi kepada Pak Hidayat terutama terkait perencanaan kontruksi fisik bangunan”. Terakhir Diah berpesan, semoga Pak Hidayat di masa purna bhakti ini selalu sehat dan bahagia bersama keluarga terutama di saat pandemi COVID – 19 ini, salah satu meningkatkan imunitas tubuh dengan perasaan bahagia. Di penghujung acara, Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto menyampaikan, ucapan penghargaan dan terimakasih atas karya, dedikasi, semangat, motivasi dalam bekerja untuk membangun TNGGP. “Saya yakin banyak legacy dari Pak Hidayat untuk pembangunan TNGGP. Apa yang sudah dilakukan Pak Hidayat dapat ditularkan kepada yang muda-muda sebagai generasi penerus di TNGGP”, tambah Wahju berpesan untuk seluruh pegawai TNGGP. Selamat purna bhakti Pak Hidayat, semoga diberikan kesehatan dan kebahagian bersama keluarga. Keluarga besar TNGGP tentu saja akan merasa kehilangan atas sosok “Odoy” sebagai guru kami dan berharap untuk tetap dapat menjaga tali silaturahim. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Menindaklanjuti Laporan Masyarakat Adanya Satwa Liar di Pinggir Kawasan SM Bukit Batu

Pekanbaru, 28 Mei 2020. Resort Bukit Batu melakukan patroli di pinggir kawasan SM Bukit Batu, Kec. Bukit Batu, Kab. Bengkalis. Patroli mandiri dilakukan bersama BHABINKAMTIBMAS Desa Sepahat bernama bapak H.Tambak. Buang, Remi dan bapak Tambak berpatroli melewati jalan PT. BBHA dan lokasi perbatasan HTI pinggir SM Bukit Batu. Tim melakukan pengecekan ulang ke lokasi, atas laporan adanya satwa liar. Tim menghimbau kepada warga agar tetap berhati-hati dan waspada dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Tetap semangat dalam melaksanakan tugas kawan kawan. Jaga kesehatan dan utamakan keselamatan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Virtual Meeting Rencana Evakuasi Gajah di Kelayang

Pekanbaru, 28 Mei 2020. Balai Besar KSDA Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Yayasan TNTN, Camat Kelayang, Kapolsek Kelayang, dan Lurah Kelayang serta beberapa staf duduk bersama secara virtual meeting untuk berbincang dan mencari solusi tentang konflik yang terjadi di Kelayang dan desa sekitarnya. Tercatat sekitar 10 kali konflik antara manusia dan Satwa Gajah terjadi di Kec. Kelayang dan Kec. Peranap, Kab. Inhu dimitigasi sejak tahun 2017. Rapat dipimpin oleh Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono dan berjalan sangat efektif. Bahkan Lurah Kelayang, bapak Ardian mengusulkan untuk dilakukan pengkayaan pakan di jalur jelajah Gajah. Usul yang sangat mendukung nilai nilai konservasi nih kawan kawan. Dan selanjutnya akan dibentuk Tim Terpadu untuk mempercepat penyelesaian konflik. Jum'at, 29 Mei 2020 esok, para pihak akan turun bersama ke lapangan melakukan orientasi agar dapat segera diambil keputusan akan tindakan yang dilakukan. Apabila akan dilakukan penggiringan ke habitatnya maka diperlukan kebesaran hati warga untuk Gajah melintas melalui kebun atau lahan mereka. Namun apabila penggiringan tidak memungkinkan maka akan dilakukan evakuasi terhadap satwa tersebut. Semoga dengan keterlibatan semua pihak yang terkait, masyarakat aman dan satwa tetap terlindungi ya. Sekali lagi, jangan memasang jerat dan melakukan hal hal yang membahayakan satwa karena dapat dijerat berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990. Semangat konservasi Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Temuan Sarang Orangutan di TWA Danau Sicike Cike

Kelas Sarang A (gbr. kiri), Kelas Sarang B (gbr. tengah) dan Kelas Sarang C (gbr. kanan) Sicike-cike, 2 Juni 2020 - Temuan sarang baru menjadi kabar gembira sekaligus tanggung jawab bertambah dalam pengelolaan kawasan konservasi terutama di tingkat tapak Resort TWA Danau Sicike cike, Sumatera Utara. Sarang orangutan terbaru ini terlihat pada tanggal 28 Mei 2020, saat kegiatan patroli bersama MMP (Masyarakat Mitra Polhut). Tanpa diduga sebelumnya oleh Tim yang berjumlah 8 personil, dipimpin Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, menemukan 10 sarang Orangutan. Sarang yang ditemukan di lokasi sekitar Air Terjun Lae Prada umumnya rata-rata berada dipucuk pohon jenis Meang, Api-api dan Haundolok dengan tinggi sarang 20-25 meter. Dari pengamatan dilapangan, sarang tersebut terdiri dari Kelas Sarang A yaitu sarang baru masih hijau, Kelas Sarang B yaitu sarang baru hijau tetapi sudah layu dan Kelas Sarang C dimana sarang berwarna coklat. Sebelumnya belum pernah ditemukan sarang orangutan di TWA Danau Sike cike ini. Secara bentang alam TWA Danau Sicike cike berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Produksi yang juga menjadi area jelajah orangutan di Kabupaten Pakpak Bharat. Patroli bersama MMP yang dilakukan dalam rangka perlindungan kawasan konservasi TWA Sicike-cike serta untuk mengetahui informasi terkini tingkat keamanan kawasan guna mencegah terjadinya upaya-upaya tidak pidana kehutanan seperti pencurian kayu, humus, ataupun perburuan satwa liar. Dengan adanya temuan sarang orangutan baru ini menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, yang didampingi Kepala Resort TWA Danau Sicike cike, Bergiat Sembiring, akan diupayakan segera dilaksanakan Survei Orangutan guna upaya konservasi Orangutan di TWA Danau Sicike cike. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kepadatan sekaligus populasi orangutan di TWA Danau Sicike cike, mengingat sekitar kawasan sangat rawan terjadinya Tipihut. Apabila tidak segera ditindaklanjuti akan memberi dampak kepada satwa orangutan sendiri yaitu terjadinya perburuan satwa dilindungi. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sorik Marapi Puncak Tertinggi Bumi Gordang Sambilan

Panyabungan, 29 Mei 2020. Keindahan Puncak Gunung Sorik Merapi yang tingginya 2.145 m dpl dengan kawah Sorik Merapi yang aktif (kaldera berdiameter rata rata ± 80 meter) tidak dapat dilukiskan dengan mata. Keletihan saat mendaki terbayar sudah ketika mencapai puncaknya dan menatap ke sekelilingnya. Berdampingan dengan kaldera terdapat Danau Cunik yang memiliki rasa tawar dan memantulkan tiga warna yaitu kuning, hijau dan kebiruan dengan kedalam air ± 1 meter. Sebelum mencapai puncak dapat dinikmati hamparan tanaman bonsai, hamparan belerang juga perubahan formasi tumbuhan yang berubah sejalan dengan perubahan ketinggian tempat. Untuk menuju ke puncak dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 4 (empat) jam dari Desa Sibanggor Julu. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Pemberian Bantuan Serentak di 3 SPTN Wilayah Balai TN Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu, 20 Mei 2020. Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Seribu secara serentak pada 3 Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah melakukan kegiatan distribusi bantuan kepada kelompok masyarakat binaan di Kawasan TN Kepulauan Seribu. Penerima bantuan di Kawasan TN Kepulauan Seribu sebanyak 77 orang, yaitu: 21 orang anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan 56 orang perwakilan masing masing kelompok binaan (SPKP, Kelompok Nelayan dan Kelompok Ikan Hias PERNITAS) dengan total anggaran sebesar Rp 12.000.000. Pelaksanaan penyaluran bantuan diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing Sentra Penyuluh Kehutanan Pedesaan (SPKP) di 3 SPTN Wilayah, yaitu: SPKP Bintang Laut di Kelurahan Pulau Kelapa, SPKP Elang Bondol di Kelurahan Pulau Harapan dan SPKP Samo-Samo di Kelurahan Pulau Panggang dengan didampingi oleh petugas di SPTN Wilayah masing-masing. Penyaluran bantuan ini dilakukan dengan memperhatikan standar pencegahan penyebaran COVID-19 yang ketat, diantaranya: tidak melakukan pengumpulan massa baik ketika proses pengemasan maupun penyaluran, mencuci tangan, menggunakan masker dan tetap menjaga jarak, serta pemberian bantuan diberikan langsung door to door kepada para penerima bantuan. Kelompok masyarakat binaan di Kawasan TN Kepulauan Seribu menghasilkan produk olahan ikan berskala skala rumah tangga, berupa: kerupuk ikan, ikan asin, stik cumi, nugget ikan, selar crispy, pilus ikan, kerupuk tulang ikan, dendeng ikan serta beberapa kelompok menghasilkan ikan dari profesinya sebagai nelayan tangkap. Balai TN Kepulauan Seribu mengalokasikan anggaran untuk pembelian produk olahan yang telah diproduksi sebelumnya dan ikan hasil tangkapan oleh masing-masing kelompok untuk kemudian diberikan kembali untuk dikonsumsi sebagai upaya peningkatan daya tahan tubuh. Selain itu, kebutuhan pokok seperti beras, gula dan minyak goreng juga ditambahkan pada paket bantuan yang diberikan. Seperti diketahui, pandemik covid19 memberikan dampak perekonomian secara langsung terhadap masyarakat, terlebih masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pelaku jasa wisata seperti di TN Kepulauan Seribu. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan instansi pemerintah yang tidak terpisahkan dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu memberikan rasa empati dan kepedulian kepada kelompok dan masyarakat binaan yang terkena dampak pandemi Covid 19. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu berharap, dengan bentuk bantuan ini dapat memberikan semangat kepada masyarakat terdampak di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Sumber : Alinar, S.Hut. dan Wira Saut P. - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Info Wisata Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani

Jumat, 29 Mei 2020 - Wabah Pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini memberikan imbas kesemua lini sektor termasuk sektor pariwisata di Pulau Lombok. Salah satu sektor wisata destinasi unggulan dipulau seribu masjid ini yang terkenal di mancanegara dan dalam negeri yakni wisata pendakian Gunung Rinjani. Panorama padang savanna, hutan dan anak gunung berapi memberikan daya tarik tersendiri bagi para penikmat gunung. Sejak penutupan pendakian gunung rinjani pada bulan januari 2020 sampai saat ini masih di Tutup, hal ini berkaitan dengan keputusan Pemerintah dalam rangka memutus penyebaran Covid 19. Walaupun demikian, dalam kenyataannya masih ada beberapa orang yang ingin melakukan pendakian walau secara resmi jalur pendakian belum dibuka. Oleh karenanya, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) selaku pengelola kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani melakukan penjagaan di tiap pintu jalur pendakian dan destinasi wisata lainnya Di kawasan TNGR, dalam melaksanakan tugas tersebut pihak BTNGR melakukan koordinasi dengan beberapa pihak seperti TNI, Polri, Kepala Desa, Pecinta Alam Lombok Timur dan Masyarakat Mitra Polhut untuk mendapatkan dukungan dalam penjagaan jalur masuk pendakian. Hasil dari kegiatan pencegahan pendakian didapati beberapa calon pendaki sejumlah 113 orang yang berupaya melakukan pendakian saat jalur ditutup, oleh karenanya petugas mencegah niat pendaki tersebut. Petugas TNGR dan Mitra juga melakukan sosialisasi baik secara langsung maupun tidak langsung melalui papan informasi dan media sosial agar tidak melakukan pendakian selama pendakian ke Gunung Rinjani di tutup, salah satunya seperti membuat portal larangan memasuki objek wisata telaga biru yang dilakukan bersama Pemuda Wisata Telaga Biru Perian. Kegiatan sosialisasi, penyuluhan dan tindakan pencegahan dilakukan secara dinamis agar timbul kesadaran pada masyarakat atau calon pendaki agar tidak melakukan pendakian disaat pandemi Covid-19 ini Sebagai informasi bahwa Pendakian ke Gunung Rinjani ditutup sejak Januari 2020 dan dilanjutkan dengan penutupan Objek Wisata Alam Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani mulai tanggal 16 Maret 2020 sampai pemberitahuan lebih lanjut, hal ini dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 di objek wisata alam kawasan TNGR. Kami sangat memahami kerinduan kawan kawan akan Rinjani. Semoga tetap bersabar, kerinduan akan Rinjani akan terbayar dengan pembukaan Rinjani pada saatnya. Sumber: Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Operasi Peredaran Nepenthes Clipeata, 2 Pelaku Diamankan

Pontianak, 29 Mei 2020. Rabu, 27 Mei 2020, sekitar pukul 16.00 WIB, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat (BKSDA-Kalbar) melalui Seksi Konservasi Wilayah II Sintang bekerjasama dengan Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan (Dit-PPH) Balai Gakkum Kalimantan Seksi Wilayah Pontianak menurunkan Tim Operasi guna menindaklanjuti laporan terjadinya tindak pidana bidang Lingkungan Hidupdan Kehutanan berupa perdagangan Nepenthes Clipeata. Nepenthes Clipeata merupakan salah satu tumbuhan langka yang dilindungi Undang-undang dan menyandang Status Critically Endangered (CR) dari IUCN. Operasi dilakukan di Jl. Lintas Kalimantan Poros Tengah, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Operasi berhasil mengamankan 2 (dua) orang pelaku yang terindikasi melakukan Tindak Pidana Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pelaku yang berhasil diamankan berinisial R (23 th) dan M (32 th) yang beralamat di Desa Cupang Gading Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau. Dari tangan pelaku yang diamankan Barang Bukti berupa 25 (duapuluh lima) batang Kantong Semar jenis Nepenthes Clipeata, 1 (satu) paket jenis Sonerila sp, 1 (satu) paket jenis Homalomena Silver, Philodendron boceri, Labisia sp,Kura-kura, Alocasia silver dan 1 (satu) buah Handphone. Modus operandi pelaku adalah mengambil Kantong Semar jenis Nepenthes Clipeata dari Taman Wisata Alam Gunung Kelam, kemudian tumbuhan tersebut dikemas menjadi paket-paket kecil (per batang), kemudian diperdagangkan dalam keadaan hidup melalui Media Sosial keluar pulau dan lintas negara. Beberapa kota dan negara yang menjadi tujuan penjualannya antara lain Taiwan, Malaysia (Penang, Kuching, Kuala Lumpur). Menurut keterangan yang diperoleh dari pelaku, kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun 2017. Kantong Semar Nepenthes Clipeata yang di ambil sendiri oleh pelaku di kawasan TWA Gunung Kelam ini dijual secara online dengan harga per batang Rp.500.000,- dengan sistem pembayaran via transfer bank atas nama pelaku. Kegiatan illegal yang dilakukan oleh pelaku ini sementara disangkakan melanggar Pasal 21 Ayat (1) huruf a Jo.Pasal 40 Ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat Work Fun, Stay Productive BKSDA KALIMANTAN BARAT: Jl. A Yani 121 Pontianak Kalimantan Barat 78124, TElp (0561) 735635; 760949 / Fax. (0561) 747004
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Selatan Terima Satwa Owa Ungko Hasil Serahan Masyarakat

Palembang, 29 Mei 2020. Balai KSDA Sumatera Selatan kembali menerima satwa serahan masyarakat. Pada tanggal 27 Mei 2020, Balai KSDA Sumatera Selatan kedatangan seorang mahasiswa yang bermaksud menyerahkan 1 ekor satwa owa ungko (Hylobates agilis) yang berjenis kelamin jantan. Menurut pengakuannya, satwa yang diperkirakan berumur 3 (tiga) tahun tersebut diterimanya dari salah satu masyarakat di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Pada saat diterima, kondisi satwa dalam keadaan sehat. Namun dilihat dari perilakunya satwa owa ungko belum bisa dilepasliarkan karena faktor sudah terlalu lama dipelihara oleh pemiliknya. Sehingga perlu dilakukan habituasi agar siap untuk dilepasliarkan di habitat aslinya. Habituasi dilakukan di kandang habituasi yang berada di Resort TWA Punti Kayu Palembang. Harapannya habituasi ini dapat berjalan baik dan satwa owa ungko dapat bebas di alam. Sumber : Agnes Indra Mahanani (PEH Balai KSDA Sumatera Selatan) dan Hafidz Zyen (Analis Data Balai KSDA Sumatera Selatan)
Baca Berita

Wiratno: Kerja Iklas, Tetap Sehat dan Tangguh

Kotaagung 29 Mei 2020 - “Tetap jaga kekompakan dalam melaksanakan tugas, dan ikhlas dalam mengemban tanggung jawab ini. Kekayaan dan keindahan alam merupakan pinjaman dari generasi mendatang, dan keindahan alam harus kita wariskan ke generasi mendatang. Manusia bukan penguasa bumi, manusia hanya tamu, karena itu manusia harus patuh pada etika bumi. Apabila kita tidak patuh pada etika bumi, kita akan dihadapkan pada kondisi pandemi seperti sekarang ini. Seluruh dunia mengalami kondisi ini. Saya menutup sambutan kali ini dengan mengucapkan 2 salam, tetap sehat dan tetap tangguh”. Hal ini disampaikan oleh Ir. Wiratno, M.Sc, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem (Dirjen KSDAE), saat menghadiri Halal Bil Halal yang diselenggarakan oleh Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS), pada hari Jumat. Kegiatan Halal Bil Halal Balai Besar TNBBS 1441 H diselenggarakan secara virtual dengan menggunakan aplikasi “zoom meeting”, diikuti oleh seluruh pegawai serta mitra kerja lingkup Balai Besar TNBBS. Plt. Kepala Balai Besar TNBBS, Ismanto, S.Hut.,M.P saat pembukaan acara menyampaikan terima kasih kepada seluruh partisipan yang telah meluangkan waktunya untuk mengikuti acara Halal Bil Halal secara Virtual/Daring ini, dan secara pribadi dan kelembagaan menyampaikan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, minal aidzin wal faizin,mohon maaf lahir dan batin”. Sekretaris Ditjen KSDAE, Ir. Tandya Tjahjana, M.Si. ikut berpartisipasi pada acara halal bil halal ini. “Saya adalah Kepala Sub Seksi pertama di Sukaraja, Saya 11 tahun bertugas di TNBBS”, kenang Tandya. “Potensi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sangat komplit, GURILA : Gunung, Rimba dan Laut. Satwanya sangat komplit, dimulai dari satwa puncaknya di Bukit Barisan Selatan yaitu Harimau. Disebelah arah Liwa ada potensi Panas Bumi, juga dikembangkan wisata alam panas bumi”, tambah Tandya. Beliau menutup sesi nya dengan mengucapkan pesan kepada seluruh jajaran lingkup Balai Besar TNBBS untuk tetap semangat dalam menghadapi Pandemi Corona. Para partisipan menyampaikan pernyataan pada acara Halal Bil Halal secara Virtual/Daring ini dengan dipandu oleh Moderator antara lain: Widodo Ramono (YABI) : “Kita sendiri kurang menghargai fungsi-fungsi ekosistem yang penting di alam misalnya Badak, sangat berperan dalam pemeliharaan ekosistem. Salam hormat saya sampaikan pada rekan-rekan UPT yang tangguh, dan tetap aktif melestarikan alam”. Iwan (PILI): “Pada kesempatan ini keluarga besar PILI mohon maaf lahir dan batin. Kami akan menyampaikan pesan dari desa-desa penyangga TNBBS: Pesanguan dll, merupakan exstend family dan merupakan garda terdepan konservasi, masyarakat ikut aktif dalam kegiatan konservasi”. Dirjen KSDAE: “Kemitraan Konservasi wajib mendukung program konservasi, apabila tidak maka izin dapat dicabut”.. Bayu (TWNC): “Kami mewakili PT. AKN Yayasan Artha Graha Peduli menyampaikan mohon maaf lahir dan batin. Untuk memperjuangkan kawasan konservasi itu memang harus ikhlas, dan mohon bimbingannya untuk tetap menjaga Tambling agar satwa yang ada di Tambling dapat lestari. Kami sedang berusaha menemukan keberadaan badak di Tambling”. Firdaus (WCS-IP): Sampai menjelang lebaran kemarin, teman-teman di lapangan masih melakukan penggiringan satwa liar, semoga visi dan misi mulia kita menjaga konservasi alam ditengah kondisi pandemi dan memasuki New Normal terus terlaksana” Nani (STP UNDP): “Bagaimana langkah yang diambil oleh petugas di lapangan dalam menyikapi keberadaan pemukiman dalam kawasan”. Dirjen KSDAE: “Saya pesan untuk Kemitraan Konservasi di Suoh. Kemitraan Konservasi banyak yang salah paham. Kemitraan Konservasi tidak untuk pendatang baru, tapi dengan memberdayakan masyarakat yang sudah ada. Bekerja bersama masyarakat bukan berarti melegalkan perambahan, tetapi mengendalikannya dengan mengaktifkan agro forestry dan agar masyarakat aktif dalam mendukung kegiatan konservasi. Kita dituntut kecepatan dalam merespon perubahan dalam pelayanan publik. Untuk pemukiman di kawasan konservasi yang akan dilakukan program Kemitraan Konservasi agar dianalisa historisnya Siti Muksidah, S.Hut.,M.Sc (Kepala BPTN I Semaka) : “Memohon dukungan Pak Dirjen untuk mendukung pembentukan Kemitraan Konservasi di Resort Biha, yaitu pemanfaatan Getah Damar dan HHBK lainnya, seperti: Durian, petai dan jengkol. Hal ini telah diajukan dari Bulan Januari 2020, masyarakat menanyakan perkembangannya. Dirjen KSDAE: “Ditekankan agar memastikan Kemitraan Konservasi masyarakat yang terlibat bukan pendatang, dan Kelompok Masyarakat yang mendapatkan izin, wajib mendukung program konservasi. Saya akan menanyakan perkembangan hal ini pada Bu Diah Direktorat KK”. Pada kesempatan ini juga, Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. mensosialisasikan buku yang berjudul “CATATAN WISATA INTELEKTUAL 2005-2020” yang ditulis oleh Beliau. “Saya meminta agar rekan-rekan di UPT dapat menulis buku, misalnya di TNBBS buku tentang RBM. Bapak Widodo memiliki banyak ilmu dan pengalaman yang dapat disusun menjadi buku, Saya minta agar buku Pak Widodo dapat diterbitkan di akhir tahun 2020 ini”, ujar Wiratno. Acara Halal Bil Halal secara Virtual/Daring melalui aplikasi Zoom Meeting ini berjalan dengan lancar dan dihiasi dengan beban tugas dan fungsi layaknya acara Rapat Koordinasi. Tetapi hal ini tidak mengurangi nilai silaturahmi dan kehikmatan acara Halal Bil Halal. Sumber: Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Padu Serasi Kelola Wisata Alam Dengan Budaya Lokal Banyuwangi

Jember - Taman Nasional Meru Betiri, 28 Mei 2020. Menghadapi era new normal, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) sudah menyiapkan rencana pengembangan wisata alam yang saat ini sedang terpuruk di tengah terpaan badai covid19. Obyek daya tarik wisata alam di wilayah kerja Kabupaten Banyuwangi menjadi prioritas pengelolaan wisata TN Meru Betiri, sehingga perlu adanya padu serasi dengan konsep pengelolaan wisata Pemerintah Daerah (Pemda) Banyuwangi. Bahkan Pantai Sukamade yang merupakan pantai peneluran satwa dilidungi yaitu Penyu Hijau, Penyu Lekang, Penyu Sisik, dan Penyu Belimbing sudah menjadi ikon wisata Kabupaten Banyuwangi dengan konsep “Diamond Triangle” bersama dengan Kawah Ijen dan Pantai Plengkung. Bertempat di Ruang Kerja Bupati Banyuwangi, Kepala Balai TN Meru Betiri melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus memaparkan rencana program pengembangan wisata Pantai Sukamade dan Teluk Hijau (27/5/2020). “Sukamade dan Teluk Hijau merupakan wisata potensial yang berkelas premium, jadi pembangunan sarana dan prasarana disana harus mencerminkan arsitektur budaya dan adat Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Menurut Kepala Balai TN Meru Betiri Maman Surahman pengembangan wisata di Pantai Sukamade akan mempertahankan keaslian dan keutuhan kawasan, selain itu perlu mempertimbangkan aspek “animal welfare”. “Perlu kehati-hatian jangan sampai kegiatan wisata mengganggu aktivitas penyu yang sedang bertelur di Pantai Sukamade, tapi kita juga akan selalu memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengunjung” jelasnya. Dalam kesempatan ini juga Maman mengungkapkan bahwa menghadapi era new normal perlu adanya terobosan bersama dalam merencanakan konsep pengembangan wisata di TN Meru Betiri, dengan tetap melibatkan masyarakat sebagai penggerak utama kegiatan wisata alam. Bupati Banyuwangi sangat mendukung rencana tersebut dan akan membantu memfasilitasi dengan pihak-pihak terkait. Balai TN Meru Betiri berharap melalui kegiatan pengembangan wisata alam bersama masyarakat, visi misi sebagai destinasi wisata edukasi akan tercapai, sesuai dengan branding TN Meru Betiri Conservation, Education, Adventure. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri Narahubung: Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri - Maman Surahman, S.Hut., M.Si. - 082119830908
Baca Berita

Lepasliar Burung Hasil Sitaan di Hutan Agroforest Ponpes Assyifa Hasan Makshum

Bati - Bati, 17 Mei 2020 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) menerima penyerahan dan pengembalian burung endemik kalimantan berupa jenis burung Cucak Hijau dan burung Tangkar Ongklet (Cililin), setelah satu bulan lebih satwa tersebut dalam perawatan di Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) akhirnya satwa tersebut berhasil dikirim kembali ke Kalsel pada tanggal 15 Mei 2020 untuk dilepasliarkan kembali dihabitatnya. Satwa tersebut berasal dari hasil tangkapan tim BBKSDA Jatim yang diangkut dengan menggunakan kapal dari pelabuhan laut Kalsel ke pelabuhan laut di Jatim. Mengingat kondisi burung tersebut adalah jenis yang dilindungi undang-undang berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menlhk Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, maka satwa tersebut menjadi prioritas untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya walaupun saat ini dalam kondisi Pandemi Covid 19 tidak mengurangi semangat kami untuk melakukan pelepasliaran. Menurut Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi M.Sc, BKSDA Kalsel sudah melakukan kajian terhadap lokasi pelepasliaran yaitu di hutan agroforest atau hutan rakyat tepatnya Ponpes Assyifa Hasan Makshum yang terletak di Desa Kait Kait Kec. Bati Bati Kab. Tanah Laut. Lokasi ini juga merupakan habitat burung cucak hijau dan burung cililin yang yang masih sering ditemui di sekitar daerah tersebut. Pelepasliaran didampingi Sekretaris Yayasan Ustadz Ali Muadi. Jumlah burung cucak hijau 91 ekor, namun sekitar 7 ekor burung belum siap terbang karena kondisi sayap tidak sempurna akhirnya diputuskan untuk diambil kembali dan dirawat di tempat penampungan kantor Seksi Konservasi Wilayah 2 Banjarbaru. Sedangkan jenis burung Cililin berhasil dilepasliarkan 11 ekor. Proses pelepasliaran pun mengikuti protokol dengan kondisi covid 19 ini, sebelum dilepasliar satwa periksa kesehatan oleh medis, petugas pelepasliaran mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker serta tetap menjaga jarak saat pelepasliaran. Semoga pelepasliaran burung cucak hijau dan cililin tersebut bisa bertahan hidup dan berkembang di alam sehingga populasinya di alam bisa bertambah. (ryn) Sumber : Hafizh - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Mandheling Coffee , Kopi Terbaik Dari Mandailing

Panyabungan, 28 Mei 2020. Indonesia memiliki banyak varietas kopi salah satunya di tanah Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Mandailing Natal. Sesuai dengan penamaannya asal daerahnya yaitu Mandailing Natal, kopi ini dinamakan sebagai Mandheling coffee dan terkenal di Negara lain. Salah satu kopi Arabika yang banyak di cari oleh penikmat kopi di luar negeri dimana memiliki histori dan cita rasa yang khas. Mandheling coffee ini sudah ada pada zaman penjajahan di Indonesia oleh kolonial Belanda dan dibawa oleh pedagang Belanda untuk di edarkan di Eropa. Hingga saat ini kopi Mandheling masih diminati oleh pecinta kopi di seluruh dunia. Ketinggian kopi yang berada di sekitar 800-1500 mdpl ini tidak terlepas dari pegunungan yang secara tidak langsung berada pada kawasan hutan dan salah satunya di pinggiran Kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Petani kopi Mandheling sudah melakukan terobosan dengan menjalin hubungan komunitas serta berbagi ilmu untuk meningkatkan kualitas kopi. Menarik para roaster, peneliti dan pengusaha kopi untuk memberikan masukan atas kualitas dan kuantitas kopi yang terbaik di pasaran sampai ke tangan penikmat kopi itu sendiri. Meningkatkan Sumber Daya Manusia dan metode budidaya kopi yang terbaik akan menghasilkan buah yang berkualitas tinggi. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Beruang Madu kembali Ke Kandang Transit

Banjarbaru, 28 Mei 2020 – Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melakukan evakuasi satwa liar dilindungi Undang-undang jenis Beruang Madu (Helarctos malayanus) hasil informasi dari Pimpinan PT. Wisata Harapan Borneo selaku pengelola Bekantan Park melalui surat. Karena adanya pandemi Covid-19 dan fasilitas perawatan yang kurang memadai menjadi alasan pihak Bekantan Park mengembalikan satwa tersebut yang telah dipelihara selama 13 tahun sejak BKSDA Kalsel menitip rawatkan pada Tahun 2007 silam. Proses evakuasi beruang madu berjenis kelamin betina dilakukan sejak Rabu (27/5/2020) pagi. Beruang berhasil dievakuasi dengan menggunakan jala. Kemudian dibawa ke kandang transit SKW II Banjarbaru untuk dilakukan perawatan lebih lanjut hingga saatnya nanti dilepasliarkan di habitatnya. Upaya penyelamatan terhadap satwa liar dilindungi undang-undang ini merupakan tugas dan fungsi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan. Penanganan evakuasi satwa ini dilakukan secara Gerak CTM (Cepat, Tepat dan Manfaat) sesuai dengan prinsip kerja Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Lebih lanjut Dr. Mahrus menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak pengelola Bekantan Park atas kerjasamanya selama ini dalam merawat satwa beruang tersebut. Sebagaimana diketahui Bekantan Park merupakan obyek wisata outbond yang didedikasikan untuk anak-anak. Di dalamnya terdapat mainan anak-anak seperti flying fox, jembatan tali yang membentang diatas kolam, dan juga aneka satwa.(ryn) Sumber : Aji Faisal Noor Zaky - Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kemunculan Dugong di Perairan Selatan Kalimantan Barat

Pontianak, 26 Mei 2020 - Ini merupakan peristiwa langka dalam proses penyelamatan mamalia laut Dugong/Duyung (Dugong dugon) yang dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Barat. Dari beberapa catatan kejadian, akhir tahun 2017 BKSDA Kalbar pernah memperoleh laporkan terkait keberadaan Dugong dalam kondisi mati di wilayah selatan Ketapang oleh nelayan sekitar Kendawangan. Namun tidak lanjut laporan tersebut belum bisa menemukan keberadaan satwa di lapangan. Selang dua tahun, pada tahun 2019 terdapat 6 (enam) kasus Dugong yang mati akibat terjaring pukat oleh nelayan. Pada tahun 2020 ini sendiri sampai bulan mei tercatat sudah empat (4) kali Dugong yang terjerat pukat. Dua dari empat ekor yang terjerat berhasil diselamatkan. Keberadaan Dugong menjadi sangat fenomenal setelah satwa langka dengan status konservasi dari IUCN masuk kategori Critically Endangered (CR) atau Kritis sering muncul di perairan selatan Kalimantan Barat. Awal mula informasi penemuan Dugong kali ini diperoleh dari rekanan Komunitas WEBE Adventure, (sdr. Tono), masyarakat Pulau Cempedak Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang ke BKSDA Kalbar Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut (BPSPL) Pontianak. Dalam laporannya, Sabtu tanggal 23 Mei 2020 pukul 10.00 WIB masyarakat nelayan pulau Cempedak mendapati seekor Dugong tersangkut pukat nelayan dalam kondisi hidup. Dugong yang ditemukan tersebut kemudian dibawa oleh nelayan ke Pulau Cempedak guna dilakukan pemeliharaan/rehabilitasi sementara dalam karamba untuk mengembalikan kondisi kesehatannya. Pulau Cempedak sendiri merupakan kawasan kepulauan di Kecamatan Kendawangan yang berada sekitar 3,5 km dari garis pantai Cagar Alam Muara Kendawangan yang dihuni 97 Kepala Keluarga. Dalam tradisi masyarakat di Pulau Cempedak yang sudah berjalan sejak lama, mereka menganggap Dugong sebagai hewan/satwa konsumsi. Ini menyebabkan dalam penemuan Dugong oleh nelayan kali ini, proses negosiasi awal untuk tidak melakukan tindakan apapun terhadap mamalia laut sebelum ada pihak yang berwenang menanganinya cukup alot. Mereka berusaha untuk memilikinya sebagai peliharaan. Sehari setelah informasi diterima oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah I ketapang bersama WEBE Adventure, dan Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia melakukan koordinasi guna menentukan langkah-langkah yang akan diambil dalam penanganan Dugong di Pulau Cempedak tersebut. Didampingi dokter hewan, pada tanggal 25 Mei 2020 tim bergerak menuju lokasi yang berjarak kurang lebih 4 (empat) jam perjalanan darat dari Ketapang. Pengecekan kondisi fisik langsung dilakukan oleh dokter hewan terhadap satwa tersebut sesampainya di lokasi. Meski terdapat sedikit luka dan goresan akibat terjerat pukat, kondisi secara umum Dugong yang masih berada dalam karamba dinyatakan sehat oleh dokter hewan. Dugong berjenis kelamin betina yang diperkirakan berumur 2 tahun ini mempunyai panjang 146 cm dengan berat 50 kg dan ukuran keliling badan 100 cm. Berdasarkan hasil pengecekan kondisi kesehatan satwa, tim akhirnya merekomendasikan untuk segera melepasliarkan Dugong kelokasi dimana satwa tersebut ditemukan. Padang lamun merupakan habitat ideal bagi mamalia cantik ini. Dari pemantauan kondisi alami habitat ditemukannya Dugong, kondisi habitatnya masih bagus. Ini ditunjukkan dengan ditemukannya sekitar 6 jenis lamun, tiga diantaranya merupakan pakan utama Dugong. Dengan menggunakan kapal motor dan peralatan yang telah dipersiapkan sesuai standar, tim akhirnya membawa Dugong sejauh 3,7 km dari Pulau Cempedak menuju lokasi dimana perairan tersebut merupakan tempat hidupnya. Keberhasilan tim dalam melepasliarkan satwa langka ini merupakan bukti kepedulian para pejuang konservasi tanpa mengenal waktu dan suasana. Semoga dengan kemunculan dan penyelamatan Dugong di perairan Ketapang ini menjadi bukti akan keberadaan dan kelestarian Dugong di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat

Menampilkan 3.537–3.552 dari 11.141 publikasi