Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Presbytis melalophos | Sumatran surili | Simpai

Simpai merupakan salah satu jenis primata endemik di pulau sumatera yang dapat ditemui di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis. Primata ini memiliki 4 sub spesies dengan pola warna yang berbeda mulai dari jingga hingga kelabu gelap. Beraktivitas dalam kawanan kecil dan besar dengan suara khasnya yang melengking dalam berkomunikasi dan merespon ancaman. Menyukai pohon-pohon dengan tajuk yang tinggi untuk mencari makan, makanannya sendiri berupa pucuk daun, buah-buahan, bunga dan biji. Terkadang terlihat dipinggir hutan hingga perkebunan dan segera menghindar jika merasa terancam dengan kehadiran manusia. Merupakan jenis satwa yang dilindungi undang-undang dan berstatus Endangered oleh IUCN. Sumber: Zulfan Aris, Pengendali Ekosistem Hutan-Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Peduli Kelestarian Satwa Liar, Warga Magelang Serahkan Elang Hitam

Magelang, 8 Juni 2020. Kepedulian masyarakat sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) terhadap kelestarian satwa liar patut diacungi jempol. Pada hari Jumat, 5 Juni 2020 warga dusun Babadan, desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang datang ke kantor Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun untuk menyerahkan seekor Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) yang berusia sekitar 9 - 10 bulan. Mereka menemukannya di lantai hutan BloK Pal 25 Wilayah Resort Dukun dalam keadaaan jatuh dari sarangnya dan mengalami luka paha pd tgl 22 Mei 2020 yg lalu. Kini kondisinya tampak baik dan tidak menunjukkan stress. Hingga saat ini, Senin 8 Juni 2020, Elang Hitam dipelihara sementara di kantor RPTN Srumbung, oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Srumbung, seraya menunggu hasil koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) D.I Yogyakarta, guna kelanjutan pemeliharaannya hingga pelepasliarannya di kemudian hari. Selama ini, jika ada Elang ditemukan di dalam kawasan dan memerlukan pemeliharaan, dilanjutkan pemeliharaan di Stasiun Flora Fauna Bunder, di bawah pengelolaan BKSDA D.I Yogyakarta, dan jika sudah dianggap layak, maka dilakukan pelepasliaran di kawasan konservasi.* Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

New Normal, Awal Semangat Baru ASN Balai TN Kelimutu Ditengah Pandemi Covid-19

Ende, 8 Juni 2020. Balai Taman Nasional Kelimutu telah memulai menjalankan aktivitas kerja dengan menerapkan New Normal dalam bekerja pada hari Jumat (05/06/20). New Normal yang diterapkan sesuai dengan arahan protokol kesehatan yakni pada penyesuaian dalam fasilitas, SDM pegawai, dan infrastruktur kantor yang memenuhi standar CHS (clean, healthy, secure). Tujuannya agar pegawai yang menjalankan aktivitas kerja tetap terjaga kesehatan dan keamanannya di lingkup Balai TN Kelimutu. Saat mengawali aktivitas kerja seluruh pegawai yang hendak memasuki areal kantor wajib menggunakan masker, mencuci tangan, mengukur suhu tubuh, penyediaan hand sanitizer di tiap ruangan, menjaga etika batuk dan jarak dengan sesama rekan kerja dengan kuota maksimal 3-4 orang dalam 1 ruangan. Selain itu Balai TN Kelimutu juga telah menerapkan Unit/Resort Base Management yang didukung oleh sistem pengelolaan data dan informasi secara terpadu dengan aplikasi android & sitroom web SAORIA yang telah menditribusi pegawai dan anggaran ke seluruh unit/resort di wilayah dan juga mengurangi banyak penggunaan kertas dan interaksi fisik antar pegawai dalam pengelolaan tata persuratan, pendataan aktifitas lapangan, publikasi, pengelolaan BMN dan pendapatan negara PNBP. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango

Cibodas, 5 Juni 2020 - Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) meluncurkan “Aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango”. Apa itu “Aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango”? Sebelum kita mengenal lebih jauh, mari kita ikuti dulu ceremony peluncuran aplikasi tersebut. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2020 mengambil tema “Time For Nature” yang mengajak seluruh penduduk dunia untuk menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus kita jaga kelestariannya. Sejalan dengan tema tersebut, dalam sambutannya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, antara lain menyampaikan bahwa sudah saatnya kita peduli dan menjaga kelestarian alam, karena lingkungan hidup merupakan modal pembangunan. Berbagai manfaat kita dapatkan dari alam, bahkan untuk merawat diri sendiri pun kita ambil dari alam. Sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2020, dibacakan oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudianto kepada seluruh pegawai TNGGP secara virtual pada saat pembukaan. Pada akhir sambutan Wahju menyampaikan pesan kepada seluruh pegawai Balai Besar TNGGP agar lebih inovatif dalam bekerja, sebagai contoh adalah penyusunan “Aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango” yang saat ini diluncurkan. Para fungsional (Pengendali Ekosistem Hutan, Polisi Kehutanan, dan Penyuluh Kehutanan) diminta untuk lebih aktif dan kreatif untuk untuk menampilkan materi-materi sesuai dengan Tupoksi-nya secara virtual. Dengan demikian kita dapat berbagi dengan masyarakat umum, dan dapat memperlihatkan bukti nyata hasil karya yang baik khususnya untuk kawasan TNGGP sebagai pemberi manfaat yang luar biasa bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Salah satu bukti nyata hasil karya Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang sudah dikemas dalam bentuk aplikasi virtual adalah “Aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango” yang diluncurkan tepat pukul 10.42 WIB oleh Kepala Balai Besar TNGGP. Bagi yang ingin berkenalan dengan edukasi eco office di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dapat mengakses link http://eco-office-virtual.gedepangrango.org. Apa saja yang bisa kita lihat dalam aplikasi tersebut? Silakan akses link di atas. Namun sebagai bocoran, dalam “Aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango” kita dapat melihat penerapan eco office TNGGP, seperti: Di akhir acara Rudianto, kembali menekankan bahwa “Aplikasi Eduwisata Virtual Eco Office Gede Pangrango” ini merupakan langkah pembuka untuk dapat menghasilkan karya-karya lainnya yang lebih baik lagi untuk pembangunan TNGGP dan konservasi nasional bahkan internasional. Kita tunggu inovasi berikutnya dari TNGGP. Acara ditutup dengan menyanyi “Mars Taman Nasional Gunung Gede Pangrango” secara bersama-sama sebagai pengingat akan keangungan, keindahan, dan keanekaragaman hayati yang tinggi di kawasan TNGGP serta mengajak untuk menjaga kelestarian TNGGP. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Tandem Nursing Calon Penguasa Tahta Langit Gunung Salak

Sukabumi, 5 Juni 2020. Kabar gembira kembali hadir dari keluarga pasangan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) Penguasa Tahta Langit Gunung Salak Bagian Utara yaitu Ki Jalu dan Nyi Beti di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang mana pada awal bulan Mei 2020 lalu berhasil melahirkan si “Wira “. Baru-baru ini, tepatnya di pertengahan bulan Mei, kakak si Wira yaitu “Rakata” yang lahir pada tahun 2016 kembali ke sarang bersama keluarga besarnya untuk mendapatkan pemeliharaan/pelajaran bersama dengan sang adik dari induk betina dalam satu sarang yang sama atau dikenal istilah Tandem Nursing. Tandem Nursing adalah istilah yang digunakan pada masa dimana induk Elang Jawa melakukan pemeliharaan dua anak yang berbeda usia secara bersamaan dalam satu sarang. Aktivitas ini biasanya dilakukan karena Induk tengah melahirkan anak lagi dan merasa belum siap untuk menyapih si Kakak. Meskipun melelahkan, aktivitas ini sangat bermanfaat, baik untuk Induk ataupun kedua anaknya. Berdasarkan referensi dan komunikasi dengan para ahli (Yamazaki – President of ARRCN dan Usep Suparman – RCS/RAIN) pemeliharaan dua anak/ tandem nursing di sarang pada Elang Jawa sangat mungkin terjadi karena masa pemeliharaan anak berlangsung selama 3-5 tahun, dan Elang Jawa berbiak setiap 2 tahun sekali. “Kejadian Tandem Nursing atau pemeliharaan 2 anak, Si Wira dan Si Rakata oleh Nyi Beti secara bersamaan dalam satu sarang yang sama merupakan momen yang langka dan sekaligus membuktikan bahwa misteri Tandem Nursing pada keluarga Elang Jawa memang benar-benar terjadi. Sepanjang pengetahuan kami, yang telah melakukan pengamatan Elang Jawa di kawasan TNGHS selama 20 tahun, bahwa sampai saat ini belum ada yang mendokumentasikan dan mempublikasikan kejadian tandem nursing pada keluarga Elang Jawa,” cerita PEH senior Balai TNGHS, Wardi Septiana. “Sampai pada akhirnya kesabaran dan waktu lah yang memberi bukti bahwa Tandem nursing memang benar-benar terjadi. Pada pertengahan Mei 2020 kami temukan Rakata berada di sarang Nyi Beti, kehadiran Rakata ini guna mendapatkan pengasuhan sekaligus pembelajaran merawat sang adik. Kehadiran Rakata membuat peran Ki Jalu (sang Jantan) dalam pemeliharaan si Wira menjadi berkurang. Rakata yang sering terlihat datang ke sarang membawa pakan, tercatat paling tidak 1 kali setiap hari datang ke sarang. Setiba di sarang Rakata hanya meletakkan pakan yang didapat untuk kemudian Nyi Beti mencabik-cabik makanan tersebut untuk diberikan kepada si Wira. Proses ini tentu banyak manfaatnya bagi Rakata untuk terus belajar dan berkembang sebelum benar-benar meninggalkan sarang untuk mencari teritori dan pasangan yang baru, sehingga dapat mengemban tugas dengan baik dan bijaksana dalam menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan Gunung Salak bagian Utara,” cerita Wardi. Sumber : Wardi Septiana - PEH Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Balai TN Gunung Halimun Salak: Jl. Raya Cipanas Kec. Kabandungan Sukabumi 43368 Jawa Barat, Telp/Fax. (0266) 621256/ 621257; email: tnhalimunsalak@gmail.com; Website: www.halimunsalak.org; Twitter & IG: @halimunsalaknp
Baca Berita

Purna Tugas, Kepala BKSDA NTB Pamit Kepada Kelompok Masyarakat

Lombok Tengah, 3 Mei 2020 - Memasuki masa purna tugas per Juni 2020, Kepala Balai Konservasi Nusa Tenggara Barat Ir. Ari Subiantoro, M.P. menyempatkan diri untuk pamit kepada Kelompok Masyarakat "Tunak Besopoq" selaku pengelola Sarpras Ekowisata Tunak Cottage di TWA Gunung Tunak, Mertak Kab. Lombok Tengah. Kegiatan Pelepasan Purna Tugas dihadiri oleh Ir. Ari Subiantoro, M.P., Kepala Balai TN G.Rinjani Dedy Asriady, S.Si. M.P. selaku Plt. Kabalai KSDA NTB, Seluruh anggota Kelompok Masyarakat "Tunak Besopoq", Kepala SKW I Lombok, Kepala Desa Mertak. Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu 3 Mei 2020 bertempat di Gedung Serba Guna Tunak Cottage. Dalam sesi penyampaian pesan dan kesan, Kelompok Masyarakat menyampaikan berjuta terima kasih dimana terhitung sejak September 2017 Ir. Ari Subiantoro, M.P selaku Kepala Balai telah membimbing dan memberi arahan kepada Kelompok Masyarakat hingga bisa menjadi seperti sekarang. Mereka juga menyampaikan doa untuk Ir. Ari Subiantoro, M.P. dan keluarga dalam memasuki masa purna tugas. Senada dengan itu, Ir. Ari Subiantoro, M.P. juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kelompok Masyarakat atas usaha dan kerja keras menjadi pengelola Sarpras Ekowisata Tunak Cottage hingga saat ini. Beliau juga menyampaikan untuk terus semangat dalam menghadapi tantangan Pandemi COVID-19 yang sangat jelas melumpuhkan sektor wisata. Beliau berharap agar pandemi segera berlalu dan untuk Kelompok Masyarakat untuk terus berpedoman pada Prinsip Kerja Keras, Cerdas dan Ikhlas. Tak lupa, Beliau juga menyampaikan niat akan kembali berkunjung ke Tunak Cottage di lain waktu bersama keluarga. Memasuki akhir acara, Kelompok Masyarakat menyerahkan Cindera Mata Purna Tugas kepada Ir. Ari Subiantoro, M.P. dan Keluarga sebelum akhirnya menutup kegiatan dengan foto bersama. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Kodok Merah Kembali Muncul Ditengah Pandemi Covid 19 Di Kawasan TN Gunung Halimun Salak

Sukabumi, 4 Juni 2020. Sejak awal bulan Maret 2020 kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ditutup untuk kunjungan umum terkhusus aktifitas wisata alam. Penutupan ini dilakukan untuk memutus mata rantai dan menghindari munculnya cluster baru penyebaran Pandemi Covid 19. Fenomena menarik terhadap penutupan ini adalah munculnya satwa-satwa liar endemik dan dilindungi di area-area yang biasanya dikunjungi pengunjung wisata. Kemarin malam, tepatnya hari rabu tanggal 3 Juni 2020 team survey keanekaragam hayati Balai TNGHS yang terdiri dari staf BTNGHS dan volunteer berhasil mendokumentasikan kemunculan Kodok Merah (Leptophryne cruentata) di dalam kawasan TNGHS. Kepala Balai TNGHS “Munawir” menjelaskan bahwa ditengan Pandemi COVID-19, aktifitas pengelolaan kawasan TNGHS tetap dilaksanakan secara terbatas dan untuk tujuan tertentu. Monitoring satwa liar dan habitatnya tetap dilakukan dengan mengikuti protokol PSBB dan “New Normal”. Berdasarkan pengamatan lapangan, beberapa jenis satwa liar terlihat pada lokasi-lokasi Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) antara lain Macan Tutul di Blok Loji, Owa Jawa di Blok Sukamantri, Kelahiran Elang Jawa di Blok Betung Lega dan terakhir beberapa hari lalu Kodok Merah di Blok sisi timur Gn Salak. Sebelumnya satwa-satwa ini sangat sulit dijumpai di area-area tersebut dikarenakan adanya kunjungan dan aktifitas pengunjung di wilayah tersebut. Kodok merah atau Bahasa latinnya Leptophryne cruentata, merupakan salah satu satwa langka endemik dari kelas amfibi di Pulau Jawa yang berhasil kami catat kemunculannya. Pada tanggal 3 Juni 2020 team survey kehati TNGHS melakukan monitoring satwa jenis amphibi di sisi timur Gunung Salak, tepat pada pukul 23.00 WIB team menemukan Kodok Merah atau dalam Bahasa inggrisnya Bleeding toad (kodok berdarah), hal ini sesuai dengan krakteristik pola warna kulit tubuhnya yang berwarna merah seperti darah, “urai Munawir”. Lebih lanjut “Munawir” menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian, sebaran utama satwa ini berada di TN Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan TN Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Namun demikian, catatan perjumpaan di Kawasan TNGHS belum cukup banyak. Catatan terakhir, kodok merah ini dijumpai pada Tahun 2015 di blok yang sama. Survey intensif yang kami lakukan sejak akhir tahun 2018 belum menghasilkan hal yang positif. Sehingga temuan kali ini sangat penting bagi pengelolaan kawasan TNGHS. Kodok dari family Bufonidae ini merupakan satu-satunya satwa pada kelas amfibi yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang jenis tumbuhan san satwa yang dilindungi. Menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN) populasi satwa ini di alam berada pada kondisi “kritis” (Critically endangered). Kami belum dapat menyimpulkan secara pasti bahwa kemunculan beberapa satwa liar yang langka dan endemik di area-areal yang biasanya sulit untuk ditemukan merupakan dampak positif dari penutupan objek wisata di TNGHS. Namun melalui perjumpaan Kodok Merah ini dan beberapa perjumpaan satwa liar lainnya menunjukan hal positif bagi kelestarian populasi satwa liar. Kami juga ingin menyampaikan bahwa Pandemi Covid -19 ini bukanlah halangan, kami terus bekerja melakukan penjagaan kawasan dan monitoring satwa liar di habitatnya, hasilnya kami berhasil mencatatat satwa-satwa langka yang biasanya sulit dijumpai. Selanjutnya, dalam menghadapi kondisi “New Normal”, Balai TNGHS tengah menyusun prosedur kunjungan dengan harapan aktifitas ekowisata dan kelestraian satwa liar dapat berjalan beriringan, jelas Munawir”. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Informasi: Ahmad Munawir, S.Hut., M.Si.: 081288891392 Balai TN Gunung Halimun Salak: Jl. Raya Cipanas Kec. Kabandungan Sukabumi 43368 Jawa Barat, Telp/Fax. (0266) 621256/ 621257; email: tnhalimunsalak@gmail.com; Website: www.halimunsalak.org; Twitter & Ig: @halimunsalaknp
Baca Berita

Penanganan Pendaki Ilegal di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani

Mataram, 4 Juni 2020. Aktivitas pendakian Gunung Rinjani sampai saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini dilakukan sejalan dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Provinsi NTB. Namun demikian, kerinduan akan keindahan Rinjani membuat sejumlah pendaki ilegal yang kurang bertanggung jawab tidak mengindahkan larangan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Balai TNGR selaku pengelola kawasan telah melakukan serangkaian tindakan dalam upaya mencegah aktivitas pendakian selama kawasan TNGR ditutup. Dimulai dengan kegiatan sosialisasi melalui media online berupa edukasi dan pemberitahuan mengenai informasi penutupan objek wisata alam di media sosial dan website serta melakukan sosialisasi secara offline melalui pemasangan spanduk dan papan informasi pada beberapa titik kawasan. BTNGR juga telah melakukan koordinasi dengan beberapa stakeholder yaitu Satgas Covid-19 NTB, Kepala Desa,Kelompok Pecinta Alam Lombok Timur, Koramil, Polsek, Polres, Brimob dan Polda NTB untuk mencegah para pengunjung yang berniat melakukan pendakian. Hasil koordinasi ini diwujudkan melalui penjagaan terpadu disetiap jalur pendakian resmi ataupun tidak resmi. Tidak hanya itu, pemantauan aktivitas pendakian ilegal juga dilakukan melalui Patrol Virtual RMS (Remote Monitoring System) dengan cara memantau beberapa sudut kawasan melalui CCTV yang terpasang di beberapa titik kawasan. Langkah selanjutnya yaitu melakukan operasi yustisi bagi para pendaki yang lolos penjagaan. Bagi para pendaki yang terjaring dalam operasi pendaki illegal ditindak sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku dan sanksi yang berat adalah ancaman blacklist atau dilarang melakukan pendakian di seluruh Taman Nasional di Indonesia. Hari kamis tanggal 4 Juni 2020, Satgas Polhut BTNGR menindaklanjuti laporan Tim Terpadu Penjagaan dan Tim Operasi dengan melakukan Pemeriksaan terhadap 7 (tujuh) pendaki Ilegal di kantor Balai TNGR. Pendaki ilegal tersebut menjalani pemeriksaan terkait aktifitas pendakian ilegal di kawasan TNGR yang dilanjutkan dengan membuat Surat Penyataan untuk tidak mengulangi perbuatan. Apabila mengulangi perbuatannya, maka akan menerima tindakan yang lebih berat sesuai SOP yaitu pelarangan memasuki Kawasan Konservasi tidak hanya di TNGR namun seluruh kawasan Konservasi di Indonesia. Bersama Direktorat Binmas Polda NTB, Satgas Polhut TNGR juga melakukan pembinaan terhadap para pendaki ilegal dengan harapan tumbuh kesadaran kembali agar pelaku yang usianya masih muda, kedepan menjadi pendaki yang cerdas dan bertanggung jawab. "Tuhan mengkreasikan setiap peristiwa lewat skenario yang rumit namun menakjubkan. Dia telah menyiapkan rumah kebahagiaan ditengah tengah halaman kesabaran" (firman nofeki) Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Untuk Masyarakat Desa Penyangga TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 5 Juni 2020 - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bekerjasama dengan PT. Fajar Surya Wisesa, Tbk. memberikan bantuan berupa 1.000 paket sembako kepada Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (02/06/2020) untuk disalurkan kepada warga desa penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Paket bantuan kali ini merupakan kali kedua setelah bantuan tahap pertama diberikan (18/05/2020). Setiap paketnya berisi beras, gula pasir, minyak goreng, dan mie instan. Bantuan paket sembako ini langsung didistribusikan ke desa penyangga TNGGP yang tersebar di tiga kabupaten (Cianjur, Bogor, dan Sukabumi) oleh masing-masing Resort Pengelolaan Taman Nasional di setiap Bidang PTN Wilayah. Sasaran utama penerima bantuan: “Dengan paket bantuan ini, mudah-mudahan dapat membantu meringkan beban masyarakat sekitar kawasan TNGGP yang terdampak pandemi COVID-19,” demikian harapan Wahju Rudianto, Kepala Balai Besar TNGGP yang disampaikan saat pendistribusian bantuan kepada masing-masing Bidang PTN Wilayah. Harapan Wahju, bersambut gayung dengan masyarakat desa penyangga yang menerima bantuan. Mereka menyambut dengan rasa syukur, “Terima kasih atas kepeduliannya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Kementerian LHK, dan PT. Fajar Surya Wisesa, Tbk. “Bantuan ini sangat berarti untuk kami” katanya Ajudin salah satu penerima bantuan dari Kp. Panyusuhan, Desa Cihanjawar, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Selain memberikan bantuan berupa paket sembako, tentunya do’a selalu menyertai setiap petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Semoga kita semua selamat dari pandemi COVID-19 dan semoga musibah ini segera berakhir. Sehingga masyarakat penyangga bisa merawat kawasan konservasi tanpa dibayangi pandemi COVID-19. Tapi kami percaya masyarakat daerah penyangga bisa tetap menjaga kelestarian walaupun dimasa sulit seperti sekarang. Tetap semangat, di rumah lebih baik. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Logo Baru Wisata Hiu Paus TN Teluk Cenderawasih

Manokwari, 5 Juni 2020. Pada 23 April 2020 Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) meluncurkan logo baru untuk pengelolaan wisata hiu paus (Rhincodon typus) atau dalam bahasa Inggris disebut dengan whale shark. Menurut Manerep Siregar, Kepala Bidang Teknis BBTNTC, sesuai arahan dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) tujuan branding ini agar setiap kawasan konservasi dapat memasarkan keunggulan dan daya tarik wisata dari kawasan masing-masing. Sejak tahun 2011 hiu paus telah menjadi magnet untuk kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). Dari data statistik BBTNTC, data pengunjung wisata TNTC lima tahun terakhir mengalami peningkatan dengan total jumlah kunjungan hingga tahun 2019 sebanyak 19.331. Kepala Balai Besar TNTC, Ben Gurion Saroy, menerangkan bahwa logo ini merupakan ilustrasi TNTC sebagai rumah bagi hiu paus, karena ada garansi kemunculan hiu terbesar ini setiap hari sepanjang tahun. Oleh sebab itu, terkait kunjungan wisata ke TNTC kita harus menciptakan kondisi yang memungkinkan logo ini tetap dipertahankan. Kita sudah melakukan cipta kondisi melalui penetapan dan pengelolaan sanctuary hiu paus serta pembagunan Whale Shark Center (WSC). Hiu paus dapat dijumpai di perairan Kwatisore, Nabire, Provinsi Papua. Hiu ini biasanya berinteraksi dengan bagan milik nelayan. Pengunjung dapat menyaksikan Hiu Pau dari atas bagan atau dengan menyelam guna berinteraksi secara langsung di dalam air. Walaupun nelayan di bagan tidak mendapatkan ikan puri di malam harinya tidak mempengaruhi hiu paus muncul di pagi hari. Dari penelitian sebelumnya, kuat dugaan bahwa kemunculan hiu paus di TNTC tidak hanya disebabkan oleh keberadaan ikan puri sebagai sumber makanannya, namun juga kondisi biofisik TNTC yang mendukung tumbuhkembangnya pakan alami hiu paus dalam hal ini adalah crustacea (udang-udangan) yang merupakan jenis dari zooplankton. Dalam berinteraksi dengan hiu paus ada beberapa panduan yang harus ditaati guna meminimalisir dampak negatif terhadap hiu paus. Berikut panduan berinteraksi dengan hiu paus berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNTC Nomor: 218/BBTNTC-1/Um/2013: Dengan adanya branding ini maka akan semakin menguatkan citra TNTC sebagai satu-satunya lokasi yang dapat kita jumpai hiu paus setiap hari sepanjang tahun, meningkatkan daya tarik dan kesadaran wisatawan baik dalam maupun luar negeri, dan sekaligus menjaga serta melindungi keberadaan hiu paus ini sepanjang masa. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Baca Berita

Curug Andamas, Pesona yang Tak Terbantahkan

Kamis, 4 Juni 2020 - Angin bertiup sepoi-sepoi mengiringi derap langkah petugas Resort PTN Goalpara dalam menunaikan rutinitas kegiatan sehari-hari. Ya, patroli dan monitoring satwa liar menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi Polisi Kehutanan (Polhut) dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Sebagai informasi, saat ini Resort PTN Goalpara digawangi oleh 2 (dua) orang Polhut dan 2 (dua) orang PEH. Resort PTN Goalpara dengan luas kawasan mencapai 1.012 Ha tentunya memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tak kalah unik dibanding resort-resort lain di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Disamping keunikan flora dan fauna, ada juga potensi Obyek Daya Tarik Wisata (ODTWA) yang belum dikembangkan dan diketahui banyak orang, yaitu fenomena alam berupa Air Terjun atau curug kalau orang sunda menyebutnya. Untuk diketahui, air terjun/ curug yang terdapat di wilayah Resort PTN Goalpara ini dinamakan “Andamas”, yang merupakan singkatan dari nama-nama petugas yang saat itu bertugas di Resort PTN Goalpara pada tahun 2016 yaitu ANdri, DAdang dan aMAS. Dinamakan demikian oleh petugas, karena pada saat dilakukan pengecekan ke lokasi curug, belum diketahui nama dari curug tersebut. Jadi para petugas berinisiatif memberikan nama “Andamas” untuk memudahkan mengingat curug tersebut. Ya…ya…, curug Andamas ini terbilang cukup indah. Berada di zona rimba dan memiliki ketinggian sekitar ± 30 m dengan pelataran/ plaza ± 200 m2, Curug Andamas memancarkan keindahan yang luar biasa bagi penikmat alam sejati. Tak kalah pentingnya juga, di sekitar air terjun ini tumbuh berbagai pohon khas hutan hujan tropis seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), rasamala (Altingia excelsa), bermacam-macam tumbuhan pakis serta yang lainnya, yang utama tentunya menjadi salah satu habitat fauna primata owa Jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), dan berbagai jenis burung. Jarak atau akses menuju curug tersebut dapat ditempuh ± 30 menit dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak dari batas terakhir kawasan hutan dengan perkebunan, sedangkan dari kantor resort berjarak 1 km atau 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua mengikuti akses jalan perkebunan yang masih berbatu sampai tiba di batas kawasan hutan. Harapan besar yang digaungkan petugas resort semoga dikemudian hari keberadaan potensi-potensi khususnya wisata yang belum dikenal ataupun dikembangkan dapat terasa kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar maupun para pecinta alam. Salah satu opsi/ pilihan apabila potensi wisata tersebut nantinya dikembangkan pada masa yang akan datang, dapat dikemas dalam wisata minat khusus artinya kunjungan yang dilaksanakan wajib didampingi petugas resort atau Masyarakat Mitra Polhut (MMP) terlatih untuk mengantisipasi resiko terganggunya habitat flora dan fauna. Penasaran??? …. Sabar ya gaess saat ini belum diperbolehkan untuk kunjungan ke air terjunnya. Semoga kita dapat segera menikmati keindahannya dari dekat. Salam Lestari !!! Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks dan foto : Agus Deni – Pengendali Ekosistem Hutan
Baca Berita

Persiapan New Normal di Lokasi Pemulihan Ekosistem TN Matalawa

Waingapu, 3 Juni 2020 - Program Pemulihan Ekosistem (PE) di Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) telah memasuki tahun kedua. Pendampingan dan pengawasan terus dilakukan oleh para petugas di tingkat tapak untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dengan baik sesuai target yang telah ditetapkan. Salah satunya adalah lokasi PE di site Tanamodu yang terletak di Resort Taman Mas, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Waibakul. Walaupun terdapat pos-pos pemeriksaan di batas desa kabupaten, para petugas tetap melakukan memberikan pendampingan dan pengawasan. Seperti terlihat pada Rabu, 3 Juni 2020, Kepala Resort Taman Mas, Gaudencio Gabriel, beserta 2 orang penyuluh kehutanan, Yoseph Lepi Kaha dan Ferdynan Dapadeda tengah melakukan sosialisasi pelaksanaan PE kepada Ketua Kelompok Kerja PE dan para anggota. Dua topik penting yang disampaikan adalah bahwa dalam waktu dekat akan diberlakukan tatanan kehidupan baru (New Normal) di tengah wabah pandemi COVID-19, sehingga para pekerja yang sedang mengerjakan persemaian diminta untuk tetap mengikuti protokol kesehatan yang selama ini telah disosialisasikan, yakni menjaga jarak, memakai masker, dan sering mencuci tangan. Selain itu, para petugas juga mengingatkan kepada para pekerja untuk waspada terhadap kebakaran hutan Karen kondisi cuaca yang sudah tidak lagi turun hujan dalam beberapa hari terakhir. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Awal Juni 2020, Tim SMART Patrol Lepaskan Penyu yang Terperangkap Jaring Nelayan

Popareng, 4 Juni 2020 - Tim patroli SMART Resort Popareng berhasil melepasliarkan 2 ekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang terperangkap di sero milik Saifudin warga Desa Wawontulap dan Ferry Massie warga Desa Popareng, Minahasa Selatan. Penyu pertama yang ditemukan sehari sebelumnya memiliki karapas berukuran panjang 144 cm dan lebar 94 cm, dan penyu kedua yang ditemukan hari ini berukuran lebih kecil dengan panjang 57 cm dan lebar 46 cm. Penyu berwarna coklat hijau kehitaman ini dapat tumbuh hingga ukuran karapas 275 cm dengan berat 600-900 kilogram. Penyu-penyu tersebut ditemukan dalam kondisi sehat tanpa cedera. Penyu hijau (Chelonia mydas) termasuk satwa yang terancam punah sehingga keberadaannya dilindungi. Penyu yang ditemukan tim patroli SMART berjenis kelamin jantan. Tidak mudah untuk membedakan jenis kelamin penyu jika hanya dilihat dari ukuran cangkang. Hal yang membedakan penyu jantan dengan penyu betina adalah ekornya yang lebih panjang daripada penyu betina. Umumnya, penyu jantan tidak pernah kembali ke daratan seperti penyu betina. Sejak bulan Mei hingga sekarang, setidaknya telah ditemukan 5 ekor penyu yang terjerat di sero masyarakat dan berhasil dilepasliarkan kembali. Hendrieks Rundengan selaku Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah Taman Nasional II (SPTNW-II) Taman Nasional Bunaken, meminta agar masing-masing tim di baik di Resort Popareng, Resort Sondaken, dan Resort Poopoh untuk melakukan pendataan sero pada masing-masing wilayah. Data lokasi sero selanjutnya diolah untuk diperoleh informasi sero yang dipasang pada zona yang bukan semestinya sehingga pemilik sero dapat diberikan pembinaan lebih lanjut, tutupnya. Sumber : Stella A. Puteri - Balai TN Bunaken
Baca Berita

Evakuasi Beruang Madu di Keluahan Bukt Timah

Pekanbaru, 4 Juni 2020 - Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Riau berhasil melakukan Evakuasi 2 (dua) ekor Beruang Madu (Helarctos Malayanus) yang berkeliaran di pekarangan warga Kel. Bukit Timah, Dumai Selatan sejak beberapa hari terakhir dan menyebabkan keresahan pada hari Rabu, 31 Mei 2020. Lokasi berdekatan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai. Tim berkoordinasi dengan aparat desa setempat dan kelompok pecinta alam Dumai untuk melakukan upaya penggiringan ke habitatnya. Namun satwa Beruang Madu yang ternyata berjumlah 2 (dua) ekor yaitu induk yang cukup besar dan anaknya membuat Tim cukup kewalahan untuk melakukan penggiringan. Tim WRU yang terdiri dari dokter hewan, paramedis, Tim pembius dan beberapa anggota Resort Dumai akhirnya memutuskan untuk melakukan Evakuasi dengan pembiusan. Pembiusan pertama berhasil dilakukan terhadap anak Beruang yang karena kepanikannya sempat menaiki pohon kelapa. Dengan berbagai cara Tim berhasil membujuknya turun dan kemudian melakukan pembiusan terhadap anak Beruang tersebut. Pembiusan anak Beruang ternyata berhasil membuat induk Beruang keluar dari persembunyiannya dan kemudian tanpa menunggu waktu lagi Tim segera melakukan pembiusan induk Beruang walaupun cukup mengalami kesulitan. Beberapa kali upaya pembiusan terhadap induk Beruang yang cukup besar sempat mengalami kegagalan. Akhirnya, Rabu, 3 Juni 2020 dini hari, Tim berhasil melakukan pembiusan terhadap induk Beruang tersebut. Kedua satwa dilindungi langsung diangkut menggunakan 2 (dua) kerangkeng untuk dievakuasi ke tempat yang jauh dari pemukiman penduduk untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Salam tangguh. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Impatiens batanggadisensis N Utami Flora Endemik Batang Gadis

Kamis, 4 Juni 2020 - Impatiens batanggadisensis N Utami merupakan salah satu jenis flora endemik yang hanya ditemukan di Taman Nasional Batang Gadis. Ada dua Impatiens endemik di Taman Nasional Batang Gadis yaitu Impatiens batanggadisensis N. Utami dan Impatiens sorikensis N. Utami. Impatiens juga sering disebut inai air atau pacar air. Tumbuhan berhabitus terna/ herba ini memiliki tinggi ± 60 cm, batang mengandung air, daun bersilangan dan menumpuk pada bagian ujung, bentuk daun bulat telur dengan pinggir daun berombak. Bunga berwarna kuning dengan tanda merah pada mahkota lateral. Mahkota dorsal berkantong dengan tonjolan menyerupai sayap pada bagian atasnya. Impatiens batanggadisensis N Utami ini banyak ditemukan di lantai hutan pada ketinggian 1.100 – 1.400 mdpl di Taman Nasional Batang Gadis. Pustaka : Utami, N. 2006. Sumber : Nisa Hidayati (PEH) - Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Warga Serahkan Elang Brontok ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Penyerahkan satwa kepada petugas (gbr kiri), satwa Elang yang diserahkan (gbr. Kanan) Medan, 4 Juni 2020 - Kevin Triza, warga Dusun V, Perumahan Gemini Point, Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, tanggal 3 Juni 2020, menyerahkan 1 individu anakan Elang Brontok, kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dalam penjelasannya kepada petugas, satwa diperolehnya dari salah seorang warga yang menemukan Elang Brontok tersebut terjatuh dan tidak bisa terbang, kemungkinan sayapnya patah. Merasa peduli terhadap keselamatan satwa, Kevin Triza kemudian menghubungi Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Menindaklanjutinya, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara segera mengevakuasi Elang Brontok dan menitipkannya ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, untuk pemeriksaan kesehatan dan rehabilitasi. Sumber: Patar Pridolin Manalu (Polhut) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 3.521–3.536 dari 11.141 publikasi