Kamis, 14 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Gali Konservasi Kehati di Ujung Batas SKW 1

Marjai, 24 Juni 2020 – Kepala BKSDA Kalsel Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi Kepala SKW I Pelaihari Mirta Sari, S.Hut, M.P dan Kepala Resort Banua Anam Suhindra Wijaya, S.H berkunjung ke Desa Marajai Kecamatan Halong Kabupaten Balangan, merupakan desa paling ujung Utara dari Provinsi Kalimantan Selatan dan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini merupakan desa yang berada di pinggir hutan produksi terbatas yang keanekaragaman jenis plasma nutfahnya tergolong tinggi. Didalamnya teridentifikasi lebih 100 jenis pohon buah lokal Kalimantan, dan dalam 1 (satu) areal kawasan seluas lebih kurang 3 ha terdapat 30 jenis buah endemik Kalimantan yang saat ini sudah langka. Kepedulian masyarakat desa ini diprakarsai oleh Bpk.Hanif Wicaksono, seorang penyuluh KB dr BKKBN. Pendekatan ke masyarakat dilakukannya dengan pengembangan potensi yang ada di desa yaitu kepedulian terhadap keanekaragaman plasma nutfah (Keanekaragaman Hayati-Kehati) untuk kesejahteraan warga desa. Program pengembangan ekonomi berbasis pelestarian plasma nutfah yang digagas Hanif adalah jasa wisata berupa biotour dan pengembangan produk madu, buah-buahan endemik dan langka serta pelatihan ecoprint untuk souvenir. Saat ini juga dikembangkan penanaman 3 in 1 yaitu menanam pohon buah lokal, pohon buah unggulan dan jenis tanaman semusim setiap lahan per kepala keluarga (KK) yang tinggal desa tersebut. Di rumahnya sendiri Hanif membuat nursery (pembibitan) buah lokal dan langka di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang pada kesempatan ini juga telah dikunjungi oleh tim. Menurut Dr. Mahrus, utk memperkuat program Desa Peduli Kehati ini perlu dibuat peraturan desa (Perdes) mengenai perlindungan areal dan pohon-pohon jenis langka beserta kearifan lokalnya. Areal tetap dipertahankan untuk diusulkan menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) tipe pencadangan SDA dalam bentuk Taman Kehati. Sosok Hanif Wicaksono merupakan kandidat local champion karena kepedulian dan dedikasinya yang tinggi terhadap pelestarian kehati pohon buah lokal Kalimantan, bahkan sudah dipublikasi dalam bentuk buku. Dikaitkan dengan pemikiran Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc., maka Bapak Hanif Wicaksono dan warga Desa Marajai termasuk keluarga besar (Extended Family) KSDAE dan KLHK karena mereka peduli mempertahankan pelestarian kehati plasma nutfah endemik yang ada di Kalimantan Selatan secara sadar dan ikhlas. (ryn) Sumber : Mirta Sari, S.Hut, M.P (Kepala SKW I Pelaihari, Balai KSDA Kalimantan Selatan)
Baca Berita

Upaya Konservasi Rangkong Gading di Kabupaten Konservasi Kapuas Hulu

Putussibau, 24 Juni 2020 - Yayasan Kehati, TFCA Kalimantan bersama Yayasan Rangkong Indonesia dan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), selenggarakan webinar “Upaya Konservasi Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) di Kapuas Hulu”, dengan narasumber Yokyok Hadiprakarsa dari Rangkong Indonesia, Ir. Arief Mahmud, M.Si selaku Kepala Balai Besar TaNa Bentarum dan Prof. Ani Mardiastuti, Dosen IPB-Bogor. “Upaya konservasi Rangkong Gading di Kapuas Hulu merupakan suatu bentuk komitmen program Yayasan Kehati dan TFCA Kalimantan yang terlibat dalam penyusunan SRAK Rangkong Gading dan merupakan bagian dari pembelajaran dalam upaya konservasi Rangkong Gading di wilayah Kapuas Hulu” jelas Riki Direktur Eksekusif Yayasan Kehati dalam pembukaan webinar Rangkong Indonesia melalui program TFCA Kalimantan melakukan konservasi Rangkong sejak tahun 2018 sampai saat ini melalui kegiatan survey populasi, okupansi, survey persepsi masyarakat dan penguatan kapasitas di tapak Kapuas Hulu. “Hasil survey populasi rangkong dan Knowledge Attitude dan Practices (KAP) di Kapuas Hulu mencakup 56.214 Ha dengan keterlibatan 80 masyarakat lokal, 9 volunteer, dan 8 staff Balai Besar TaNa Bentarum dilakukan di 98 titik pengamatan selama 426 jam pengamatan ditemukan 1.008 perjumpaan dengan total 8 jenis yang teramati dan sebanyak 86,9 % teramati melalui perjumpaan suara” jelas Yoyok dalam paparannya. Sementara Arief Mahmud menyampaikan bahwa bentang kawasan TN. Betung Kerihun dan TN. Danau Sentarum memiliki tutupan lahan yang masih alami dan bagus sebagai habitat burung Rangkong, khususnya Rangkong Gading (Rhinoplax vigil). “Sejak tahun 2014, kami sendiri telah melakukan monitoring populasi Rangkong dengan pendekatan habitat di Sub DAS Embaloh, Sub DAS Sibau dan Sub DAS Mendalam dengan hasil tercatat 8 jenis Rangkong di Kalimantan ditemukan di kawasan TN. Betung Kerihun, diantaranya jenis Rangkong Gading, Enggang Cula, Julang Emas, Julang Jambul Hitam, Enggang Jambul, Kangkareng Perut Putih, Kangkareng Hitam, dan Enggang Klihingan” pungkas Arief diakhir paparannya. Hal senada juga disampaikan Prof. Ani, bahwa untuk dapat melihat dan menjumpai 8 jenis Rangkong Kalimantan bisa diperoleh dengan melakukan survey di bentang alam TN. Betung Kerihun. “Upaya konservasi Rangkong Gading di Kapuas Hulu yang dilakukan Yayasan Rangkong Indonesia melalui program TFCA Kalimantan bersama Balai Besar TaNa Bentarum sudah tepat dalam menjaga dan melindungi populasi Rangkong Gading yang saat ini menuju kepunahan di alam” ungkapnya. Program penyusunan Rencana Pengelolaan Rangkong di kawasan TN. Betung Kerihun dan TN. Danau Sentarum sebagai langkah yang tepat dan menjadi harapan besar dalam upaya konservasi jenis burung Rangkong di wilayah Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi. Sumber : Aripin, M.Sc (PEH Muda) - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Evakuasi Orangutan Tapanuli di Tarutung

Orangutan Tapanuli berhasil dievakuasi oleh Tim gabungan menjalani pemeriksaan kesehatan awal oleh Tim medis Tarutung, 19 Juni 2020 - Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Tarutung, KPH XII Tarutung dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) melakukan evakuasi terhadap satu individu anakan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yg berlokasi di Dusun Parlimaan, Desa Siandor-andor, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara pada hari Senin, 15 Juni 2020. Evakuasi ini bermula, ketika pada Minggu, 14 Juni 2020 sekitar pukul 19.30 WIB, salah seorang warga melapor kepada Kepala SKW IV Tarutung tentang keberadaan satu individu Orangutan Tapanuli yang memasuki pemukiman masyarakat. Orangutan tersebut ditemukan di pancuran air yang tidak jauh dari rumahnya. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala SKW IV kemudian berkoordinasi dengan KPH XII Tarutung dan YOSL-OIC untuk melakukan evakuasi satwa tersebut. Setelah berhasil dievakuasi, dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Tim medis dan ternyata kondisi kesehatan Orangutan Tapanuli belum stabil, sehingga tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan. Oleh karena itu Tim sepakat dilakukan rehabilitasi. Satwa akhirnya dibawa ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera (PKOS) di Desa Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit guna dilakukan pengecekan kesehatan lebih lanjut. Harapannya, semoga satwa liar tersebut segera pulih sehingga nantinya dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya. (Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung) Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Adaptasi Kebiasaan Baru, Menuju Masyarakat Produktif Aman Covid-19

Kotaagung, 23 Juni 2020. Bertempat di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung Kabupaten Tanggamus, Balai Besar TNBBS bersama Dharma Wanita Balai Besar TNBBS menyelenggarakan penyuluhan terkait protokol kesehatan pencegahan penyebaran COVID-19 yang dihadiri oleh seluruh jajaran Balai Besar TNBBS ,Selasa 23 Juni 2020. Plt. Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.P saat membuka acara ini acara penyuluhan ini menekankan pentingnya kita mengenal COVID-19, khususnya untuk internal jajaran Balai Besar TNBBS. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus Taufik Hidayat, S.E.,M.Kes menjadi pembicara (Nara Sumber) pada kegiatan ini, dan menyampaikan materi pada seluruh pegawai lingkup Balai Besar TNBBS dengan judul “Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif, Aman COVID-19”. Pada pemaparannya, disampaikan bahwa situasi COVID-19 Provinsi Lampung antara lain: Orang Dalam Pemantauan berjumlah 3.372 orang; Pasien Dalam Pengawasan berjumlah 153 orang; dan Positif COVID-19 berjumlah 181 kasus, dengan rincian 41 orang dalam perawatan (22,65%); 128 orang telah sembuh (70,72 %); dan 12 orang meninggal (6,63 %). “Kesadaran masyarakat Tanggamus untuk menggunakan masker dalam menjalankan aktivitas sehari-hari masih rendah, akan tetapi jika ditemukan ada kasus positif COVID-19 di tengah masyarakat, tidak hanya penderitanya saja yang dikucilkan, keluarganya pun ikut dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus Taufik Hidayat, S.E.,M.Kes. Penggunaan masker untuk saat ini dinilai efektif dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. “Ditemukan 2 kasus baru yang telah dinyatakan positif COVID-19 di Kabupaten Tanggamus, dan keduanya merupakan pendatang, bukan merupakan warga yang menetap di Tanggamus”, tambah Taufik. Plt. Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.P. menutup kegiatan penyuluhan dan menginstruksikan jajaran Balai Besar TNBBS untuk tetap produktif dan melaksanakan protokol kesehatan pencegahan penyebaran COVID-19 saat menjalankan tugas. Sumber: Humas Balai Besar TNBBS 2020.
Baca Berita

Hoax – Informasi Penutupan Jalan Karena Harimau Sumatera

Pekanbaru, 23 Juni 2020. – Menindaklanjuti berita viral terkait penutupan jalan menuju Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau karena adanya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang berkeliaran, petugas Resort Bukit Batu Balai Besar KSDA Riau langsung menuju ke lokasi untuk mengecek kebenaran berita tersebut. Selain itu, mereka langsung melakukan patroli di sekitar kawasan SM Bukit Batu, Kec. Bukit Batu, Kab.Bengkalis pada hari Minggu, 21 Juni 2020 untuk memastikan kebenaran informasi melalui pemantauan jejak atau tanda – tanda keberadaan Harimau Sumatera. Petugas Resort Bukit Batu juga menjumpai Bapak Edi, Kepala Desa Api – Api, Kecamatan Bandar Laksmana, Kabupaten Bengkalis untuk mengecek kebenaran informasi terkait konflik satwa di desa Api – Api. Petugas meminta penjelasan terkait beredarnya berita di media sosial tentang adanya penutupan jalan karena adanya isu Harimau Sumatera yang berkeliaran di Desa Api-Api, Kec. Bandar Laksamana, Kab. Bengkalis. Setelah di telusuri kebenarannya, ternyata berita tersebut hanyalah HOAX, atau berita tidak benar. Petugas juga meminta kepada Kepala Desa Api-Api untuk mengingatkan warganya agar tidak menyampaikan berita yang belum diketahui kebenarannya. Di waktu yang sama, di tempat yang lain, Tim lainnya yang dipimpin langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Bapak Heru Sutmantoro menuju Desa Sepahat, Kecamatan Bandar Laksmana, Kabupaten Bengkalis melakukan sosialisasi terkait Harimau Sumatera. Pada saat sosialisasi tersebut, Tim tidak mendengar kabar yang viral di media sosial dari masyarakat setempat. Pesan terhadap kejadian ini, adalah "HATI HATI BAGI PENYEBAR BERITA HOAX YANG MERESAHKAN MASYARAKAT, DAPAT DIKENAI SANKSI" - Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Berkas Kasus Pelanggaran Zonasi di TN Komodo Dinyatakan Sudah P21

Rabu, 24 Juni 2020 - Penyidik Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jabalnusra (BPPHLHK)/ Pos Gakkum Labuan Bajo telah melimpahkan kasus tindak pidana pelanggaran zonasi di Taman Nasional Komodo kepada Kejaksaan Negeri Labuan bajo pada hari Jumat kemarin (19/6). Setelah melewati berbagai proses, berkas perkara tersebut telah dinyatakan lengkap atau P21 dan seluruh barang bukti diserahkan kepada Kejaksaan Negeri Labuan Bajo. “Hari ini kita melimpahkan berkas-berkas perkara setelah dinyatakan P21, semua tersangka beserta barang bukti kita serahkan," ungkap Ambrosius Dalija, Penyidik Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jabalnusra/ Pos Gakkum Labuan Bajo” Lebih lanjut Dalija menjelaskan, perkara pelanggaran zonasi dengan tersangka Muldin, Asis dkk tersebut akan diproses lebih lanjut oleh Kejaksaan Negeri Labuan Bajo. Warga Pulau Ramut Kecamatan Satarmese Barat tersebut telah ditangkap oleh Tim Patroli Gabungan dari Balai TN Komodo dan Masyarakat Mitra Polhut Desa Komodo pada tanggal 21 April 2020 yang lalu. Saat ditanggap, para nelayan yang berjumlah sebelas orang tersebut sedang beraktivitas di zona larang tangkap yakni di perairan Pantai Merah dan perairan Pulau Lawang. Para pelaku yang telah ditahan di Polres Manggarai Barat sejak tanggal 23 April yang lalu, dijerat dengan pasal Pasal 33 ayat (3) Jo pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Jo pasal 55 ayat (1) KUH Pidana, dengan ancaman pidana paling lama 5 (lima) tahun dan denda Rp.100.000.000,- Sumber: Balai TN Komodo
Baca Berita

Bukti Pemulihan Karang Keras di TNKPS Selama Pandemi Covid 19

Kepulauan Seribu, 17 Juni 2020. Tahun ini musim angin Angin Barat belum berhenti dilanjutkan pandemi COVID 19 memberikan kesempatan terumbu karang khususnya karang keras di Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) untuk memulihkan diri. Kawasan TN Kepulauan Seribu ditutup untuk kegiatan wisata sejak 15 Maret 2020 dan hingga saat tulisan ini dibuat (17 Juni 2020). Nol kunjungan berdampak sangat signifikan menghentikan sumber-sumber tekanan terhadap karang. Perikanan tangkap menukik tajam karena jumlah pembeli berkurang drastis. Nelayan memilih memarkir kapalnya dan melakukan doking. Kiriman sampah menurun hingga 50% karena aktivitas di daratan hanya di rumah (stay at home). Mari kita lihat beberapa bukti secara kualitatif yang dapat diduga sebagai aktivitas karang memulihkan dirinya pada satu lokasi selama masa penutupan kawasan. Perairan TNKpS memang terkenal dengan visibility (jarak pandang) yang rendah dan pertumbuhan alga yang cepat. Setiap jengkal perairan di pulau pemukiman diketemukan Padina sp. Foto di bawah ini adalah perairan dengan kedalaman 1 meter di Pulau Saktu, tepatnya sebelah kiri dermaga jika kita menghadap ke arah barat. Penampakan ketiga foto di atas menunjukkan substrat dasar yang masih kosong (belum teraneksasi oleh karang) tampak bersih tanpa alga. Penulis mendapati adanya karang dengan tipe pertumbuhan encrusting (merayap menutupi permukaan substrat) yang bertumbuh cukup signifikan. Perkiraan penulis jika melihat kondisi pada saat penyelaman, karang encrusting sudah menutupi substrat yang kosong selebar 6 – 10 cm (dari deliniasi garis warna hijau). Jika masa pandemi COVID19 hingga saat ini dihitung 5 bulan, maka laju pertumbuhannya adalah 1 – 2 cm. Pada masa menutupan kawasan TNKpS akibat pandemi covid19, telah terbentuk kondisi parameter lingkungan ekosistem terumbu karang yang lebih optimal yang mampu mendukung pertumbuhan terumbu karang. Hal tersebut dibuktikan dengan hal-hal yang selama ini tidak umum terjadi dalam pengamatan petugas di lapangan. Kami menduga telah terjadi penempelan dan perkembangan planula karang pada substrat bekas karang cabang yang telah mati. Jika dihubungkan antara kejadian musim Angin Barat dan pandemi COVID 19 dengan pertumbuhan diamater dan panjang karang yang terjadi maka telah terbukti adanya pemulihan karang selama masa penutupan kawasan. Tidak dapat dipungkiri pemanfaatan terumbu karang di Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) tidak pernah mengenal ISTIRAHAT. Penutupan lokasi tertentu untuk aktivitas wisata hanya menjadi wacana dan pada tataran pengelola kawasan TN Kepulauan Seribu maupun lembaga penggiat konservasi. Pada tingkat komunitas/masyarakat wacana tersebut tidak populer. Pengangkatan wacana penutupan lokasi tertentu sudah pasti akan menimbulkan “gesekan” terutama lokasi favorit tujuan wisata. Ujung-ujungnya dihadapkan pada anjuran “harus menganalisa lebih dalam”. TERLALU KOMPLEK. Selama ini terumbu karang di TNKpS dapat “beristirahat’ hanya pada musim Angin Barat. Itupun tidak seratus persen beristirahat. Mengapa? Karena masih ada kunjungan walapun dalam jumlah kecil, karena transportasi laut masih dapat beroperasi. Berbeda dengan kondisi di Taman Nasional Karimunjawa. Pada musim Angin Barat, transportasi laut di sana dapat berhenti total. Selama musim Angin Barat nelayan masih bisa melaut dengan perhitungan dan pengalaman yang ada untuk berlindung . Penangkapan ikan masih berlangsung karena letak antar pulau yang dekat dan perairan yang dangkal jika badai keras datang. Selain itu, laut pun “dikunjungi” sampah kiriman dalam jumlah besar yang merupakan hasil aktivitas harian manusia di pulau utama Jawa. Penutupan kawasan akibat pandemi memang menyebabkan berhentinya roda ekonomi di pulau-pulau pemukiman (survei yang dilakukan Balai TNKps – Rare), tetapi bagi lingkungan ini adalah pelajaran besar bagi manusia untuk memahami mekanisme alam dan menghargai alam. Janganlah menunggu terjadi pandemi lagi agar alam bisa pulih. Tugas kita semua memang memastikan agar aktivitas kita tidak menghambat dan menganggu keseimbangan alam. Sumber: Marsan Sutisna1), Ahmad 2), Isai Yusidarta 3) (Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu)
Baca Berita

BBKSDA Papua dan Satgas Pamtas RI-PNG Bersinergi Lindungi TSL di Papua

Merauke, 23 Juni 2020. Balai Besar KSDA Papua, diwakili oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke bersama KOREM 174/Anim Ti Waninggap, memberikan pembekalan tentang perlindungan TSL kepada 900 personil Satgas Pamtas Yonmek 526/CY dan Yonif 125/SMB. Mereka adalah Pengaman Perbatasan yang baru dipindahkan, dan akan bertugas di wilayah perbatasan RI-PNG Kabupaten Merauke dan Boven Digoel. Pembekalan yang dilaksanakan pada 13 Juni 2020 ini bertujuan meningkatkan Sinergitas Perlindungan TSL dilindungi, khususnya di wilayah perbatasan RI-PNG di tempat tugas para personil satgas pamtas. Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke, Irwan Effendi, S.Pi., M.Si., melakukan koordinasi lanjutan deangan Kasiops KOREM 174/ ATW, Danyon 526/CY, Danyon 526/CY, dan Kepala Stasiun Karantina Kelas I Merauke pada 15 Juni 2020. Selanjutnya, pada hari Senin, 22 Juni 2020 Irwan menghadiri Upacara Pelepasan Satgas Pamtas RI-PNG yang lama, Yonif MR 411/PDW dan Yonif 406/CK di Pelabuhan Merauke. Pada kesempatan tersebut, Irwan meminta para pihak agar dapat meningkatkan sinergitas dalam menjaga keamanan Sumber Daya Alam Papua, khususnya TSL dilindungi. Pesan tersebut disampaikan langsung kepada Kasiops KOREM 174/ATW, Dandenma Lantamal XI, Komandan KRI Banda Aceh, dan PMTNI AL untuk membantu pengawasan peredaran TSL di KRI Banda Aceh. Karena Satgas Pamtas RI-PNG yang lama akan ditempatkan di wilayah paling barat Indonesia itu. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampaikan, “Kami berterima kasih kepada pihak Pengaman Perbatasan yang selama ini telah berkontribusi mengamankan sumber daya alam di tempat tugas. Satgas Pamtas RI-PNG menjaga pertahanan dan keamanan NKRI sekaligus menjaga sumber daya alam, khusunya Tumbuhan dan Satwa Liar dilindungi endemik Papua. Bagi saya ini merupakan tugas yang luar biasa, dan hanya orang-orang terpilih yang bisa mendapatkan tugas mulia seperti ini. Kami mengharapkan sinergitas dapat terus ditingkatkan untuk kelestarian TSL dilindungi di Papua.” Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Dirjen KSDAE Kunjungi “ERIN” di RS. Gajah Prof. DR. H. Rubini Admawidjaja

Labuhan Ratu, 22 Juni 2020 - Erin, seekor anak gajah korban jerat pemburu yang ditemukan dengan kondisi belalai putus pada tanggal 23 Juli 2016 di wilayah Bungur. Saat ditemukan umurnya ± 3 tahun dan badanya sangat kurus karena kesulitan untuk makan. Sudah hampir 4 tahun Erin tinggal dan dirawat di Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas, kini badannya sudah terlihat gemuk, sehat dan sudah bisa makan sendiri. “Erin sehat ya...”,sapa Wiratno, Dirjen KSDAE KLHK, sambil memberi makan pisang ke Erin. Wiratno sebagai orang nomor 1 di Direktorat jenderal KSDAE tentu sangat prihatin dengan banyaknya satwa yang menjadi korban jerat. Belalai ini selain sebagai hidung belalai juga berfungsi sebagai tangan, kalau belalainya putus gajah akan kesulitan untuk mengambil makanan. Wiratno berharap para petugas dapat menangkap para pemasang jerat dan harus ditelusuri alasan mengapa mereka memasang jerat. “Para petugas harus turun ke masyarakat, tidur di desa penyangga, ngopi bareng dengan masyarakat, kenal dengan para tokohnya dan harus tahu masalah yang ada di desa sekitar kawasan. Siapa yang memasang jerat, mengapa mereka melakukan itu, siapa yang membakar hutan. Cari solusi bersama para mitra, kerjasama dengan pemerintah desa, pemerintah daerah agar dapat memberikan solusi. Harus dicari akar masalahnya untuk dapat solusinya. Jika kita sudah berbuat bersama para stakeholder untuk memperhatikan masyarakat, membantu mencarikan solusi masalah desa namun masih ada yang masuk hutan dan merusak hutan baru kita lakukan penegakan hukum” pesan pak Wiratno saat melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Way Kambas (TNWK) 19-20 Juni 2020 kemarin. Dalam kurun waktu 2016 sampai maret 2020 para petugas TNWK bersama para mitra (WCS-IP, YABI, PKHS, AlerT, KHS) berhasil membersihkan 546 jerat satwa yang tersebar diseluruh kawasan TNWK. Jerat-jerat tersebut sebenarnya hanya dipasang oleh beberapa oknum masyarakat dan saat ini sudah diidentifikasi oleh tim intelijen bersama para petugas di resort-resort untuk dilakukan pendekatan secara persuasif. Sumber: Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Tinjau Langsung Persiapan Era Tatanan Normal Baru

Senin, 22 Juni 2020 - Rombongan kunjungan kerja Staf Ahli Menteri (SAM), Tenaga Ahli Menteri (TAM), dan Staf Khusus Menteri (SKM) Lingkungan Hidup dan Kehutanan tiba di kompleks wisata Situgunung (Kamis, 18/06/2020), sekitar pukul 10:35 WIB. Rombongan yang terdiri dari sepuluh orang dari Kantor Pusat ini disambut oleh Wahju Rudianto sebagai Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan jajarannya. Pada acara sambutan, Wahju menjelaskan secara singkat tentang destinasi wisata Situgunung serta memperkenalkan mitra kerja pengusaha wisata di Situgunung, yaitu PT Fontis Aquam Vivam. Dijelaskan pula tentang efek positif terhadap penambahan pendapatan masyarakat lokal, mulai dari tukang ojeg sampai pengusaha penginapan. Acara dilanjut dengan penjelasan singkat tentang jembatan gantung (Suspension Bridge) manajemen PT Fontis Aquam Vivam, sambil nonton video tentang Standard Operation Procedure (SOP) pelayanan pengunjung di jembatan gantung. Sebelum dilanjut pada acara diskusi, perwakilan rombongan Staf Khusus dan Tenaga Ahli Menteri LHK menyampaikan maksud kunjungan kerja, yaitu untuk meninjau langsung persiapan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan mitra kerjanya dalam menyambut/ adaptasi “era tatanan baru”, serta memberikan beberapa arahan. Acara diskusi diramaikan dengan saran dan rekomendasi terkait persiapan Balai Besar TNGGP menghadapi era tatanan baru. Untuk lokasi wisata di Resort Situgunung sudah terlihat ada beberapa tempat cuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh, pembuatan tanda jarak antar pengunjung terutama di area Suspension Bridge, dan pemasangan beberapa banner informasi terkait protokol wisata era tatanan normal baru. Rombongan melanjutkan kegiatan menuju jembatan dan berkunjung ke Curug Sawer, dalam rangka pengamatan “on the spot” persiapan menyambut era tatanan baru. Acara kunjungan kerja selesai pada jam 16:30 dan rombongan kembali ke Jakarta (Kamis, 18/06/2020). Ada pesan yang menarik dari kunjungan tersebut, orang yang inovatif dan dapat menunjukkan hasil yang luar biasa, disarankan untuk dikemas dalam bentuk modul untuk pembelajaran kepada yang lainnya, sehingga dapat mengasilkan enterpreneur- enterpreneur baru di masyarakat. Diharapkan masyarakat tidak hanya sebagai pekerja saja, namun dapat membuka kesempatan kerja untuk orang lain, dan demikian seterusnya. Kesiapan TNGGP dalam menyambut “era tatanan baru”, formulasi protokol wisata dan pendakian masa “tatanan normal baru” tengah dipersiapkan Balai Besar TNGGP, yang dikemas dalam implementasi protokol covid dengan mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pengunjung/ pendaki, selain itu sudah dilakukan sosialisasi secara internal sampai tingkat resort, serta kunjungan pengecekan persiapan pada pintu wisata yang dilakukan langsung oleh Kepala Balai Besar dan Kepala Bagian Tata Usaha bersama jajarannya seperti yang dilaksanakan (Senin pagi, 22/06/2020) di pintu wisata Resort Mandalawangi (https://www.instagram.com/tv/CBuI8D9g49h/?igshid=869qa89mkvtp). Untuk itu, calon pengunjung obyek wisata di kawasan TNGGP agar bersabar dahulu menunggu pembukaan obyek wisata. Pembukaan obyek wisata akan dilakukan pengelola setelah mendapatkan keputusan dari Pemerintah Daerah baik dari Gubernur maupun Bupati serta Keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Karena keputusan yang akan dikeluarkan tentu telah berdasarkan kajian dari segala pihak seperti tim gugus tugas covid yang ada di daerah. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pemulihan Ekosistem Suaka Margasatwa Kuala Lupak Bersama Mitra

Barito Kuala, 17 JUNI 2020 – Sebagai tindaklanjut dari Perjanjian Kerjasama antara Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan Ketua Kelompok Mitra Konservasi “Suka Maju” Desa Kuala Lupak dan Ketua Kelompok Mitra Konservasi “Mandiri Bersama“ Desa Sungai Telan Besar Kecamatan Tabunganen Kabupeten Barito Kuala, terhitung mulai Bulan Maret 2020 telah dilaksanakan kegiatan penanaman mangrove dalam rangka pemulihan ekosistem. Penanaman oleh kelompok Mitra Konservasi Suka Maju dilaksanakan di Sungai Bakau seluas 128 Ha dengan jenis tanaman Bakau Jangkar. Sedangkan Kelompok Mitra Konservasi Mandiri Bersama melaksanakan kegiatan penanaman di Sungai Bahaur seluas 141 Ha dengan jenis tanaman Bakau Jangkar dan luas 200 Ha dengan jenis tanaman Rambai. Penanaman dalam rangka pemulihan ekosistem SM. Kuala Lupak di biayai oleh PT Adaro Indonesia melalui Kegiatan Penanaman Rehabilitasi DAS Bagi Pemegang IPPKH PT. Adaro Indonesia. Untuk mengetahui pelaksanaan penanaman di Sungai Bakau, pada hari Rabu 17 Juni 2020 Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi Kepala SKW II Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut., M.Si dan Kepala Resort SM. Kuala Lupak Barkati melakukan peninjauan lapangan. Berdasarkan keterangan Jawase selaku Ketua Kelompok Mitra Konservasi Suka Maju penanaman pada areal seluas 128 Ha telah selesai dilaksanakan sekitar bulan Mei 2020 dan saat ini prosentase tumbuh tanaman sekitar 60 – 80 % . Gangguan hama yang terjadi selama awal penanaman yaitu adanya serangan kepiting pada batang biji / bibit bakau yang baru ditanam, tetapi setelah bakau keluar tunas daun serangan kepiting tersebut hampir tidak ada. Untuk mengganti tanaman yang mati, saat ini sedang dilakukan kegiatan pemeliharaan P0 berupa penyulaman dengan jumlah bibit yang disiapkan sebanyak 14.080 batang. Dr. Mahrus berpesan kepada Ketua Kelompok dan anggota yang hadir, agar mereka menjaga keberadaan tanaman dengan sebaik-baiknya, dengan mempertahankan tingkat pertumbuhan dan bahkan meningkatkannya dengan cara terus mengganti tanaman yang mati supaya tujuan dari kegiatan pemulihan ekosistem ini dapat tercapai. Hadir pada kegiatan tersebut H. Helmi selaku vendor penamaman dan Donny Hilmawan perwakilan dari LRI PT. Adaro Indonesia. Pada kesempatan tersebut pula Kepala BKSDA Kalimantan Selatan melakukan kegiatan penyulaman dengan menanam beberapa batang pohon bakau bersama Ketua Kelompok Tani Suka Maju untuk membangun kebersamaan antara BKSDA dengan masyarakat setempat dan sekaligus sebagai bagian dari memperingati hari lingkungan hidup sedunia 2020, “Time for Nature“. Sumber : Balai KSDA Kalimatan Selatan
Baca Berita

Aksi Peduli Covid-19 Balai TNAL Kepada Desa Penyangga SPTN Wilayah III Subaim

Subaim, 20 Juni 2020 - Bertempat di Dusun Tukur Tukur, Desa Dodaga, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur, telah dilaksanakan kegiatan penyerahan bantuan kepada masyarakat desa penyangga SPTN Wilayah III Subaim. Kegiatan ini merupakan wujud aksi peduli Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) terhadap masyarakat yang terkena dampak Covid-19. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala SPTN Wilayah III Subaim beserta jajaran staff, Kepala Desa Dodaga, Kepala Dusun Tukur Tukur, dan masyarakat Dusun Tukur Tukur. Pada kesempatan tersebut, Junesly F. lilipory selaku Kepala SPTN Wilayah III Subaim mewakili Kepala Balai TNAL menyampaikan bahwa pemberian bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban hidup mereka. "Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Balai TNAL terhadap dampak ekonomi masyarakat di sekitar kawasan TNAL akibat pandemi Covid-19, khususnya di Dusun Tukur Tukur. Pemberian bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban hidup mereka" tutur Junesly. Kepala Desa Dodaga dan Kepala Dusun Tukur Tukur sangat mengapresiasi kegiatan ini. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Balai TNAL karena telah peduli kepada masyarakat Dusun Tukur Tukur. Pemberian bantuan dalam bentuk sembako ini diberikan kepada 43 Kepala Keluarga di dusun yang mayoritas merupakan penduduk asli Halmahera. Adapun sembako tersebut dibeli dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Jaya yang merupakan kelompok binaan Balai TNAL. Selain itu, diserahkan juga tempat pencuci tangan, sabun cuci tangan dan hand sanitizer kepada perwakilan dari Gereja GMIH Tukur-Tukur, Gereja Sidang Jemaat Allah dan pengelola rumah baca Ho Magarago. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan penyemprotan desinfektan di fasilitas umum seperti rumah ibadah dan rumah baca. Khusus untuk rumah baca Ho Magarago diserahkan bantuan buku-buku bacaan sumbangan kawan-kawan dari luar daerah, serta pemasangan banner Covid-19 sebagai bentuk edukasi bagi anak-anak Ho Magarago untuk tetap menjaga kesehatan dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah selama pandemi Covid-19 ini. Kegiatan pun diakhiri dengan penilaian anakan pohon durian yang telah ditanami oleh kelompok anak-anak rumah baca Ho Magarago pada beberapa waktu sebelumnya. Terdapat 3 kelompok yang tanamannya dirawat dengan disiram dan diberi naungan sehingga tumbuh dengan baik. Kelompok tersebut akan diberikan penghargaan pada kesempatan berikutnya sekaligus menjadi awal dibukanya kembali kelas Ho Magarago di masa new normal ini. Sumber: Aris Rafli (PEH Ahli Pertama) - Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Wujudkan Keberhasilan Desa Binaan, TN Meru Betiri Intensif Dampingi LMDHK Wonomulyo

Jember, 22 Juni 2020, Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN Meru Betiri), Maman Surahman mengatakan kunci keberhasilan pemberdayaan masyarakat adalah pendampingan langsung kepada masyarakat desa penyangga yang merupakan subyek utama mewujudkan kelestarian TN Meru Betiri. Pemberdayaan masyarakat melalui program alih profesi, alih komoditi, dan alih lokasi diantaranya dengan pemberian bantuan benih Jahe Gajah dan Jahe Emprit sebanyak 2 kuintal kepada kelompok Lembaga Masyarakat Desa Hutan Konservasi (LMDHK) Wonomulyo, Desa Wonoasri, Kec. Tempurejo, Kab Jember. Komoditi ini dipilih karena menjadi salah satu tanaman herbal yang paling banyak dicari pada masa kondisi pandemi Covid-19, karena diyakini berkhasiat memperkuat imunitas. “Pendampingan secara intensif dari TN Meru Betiri merupakan faktor penting untuk mewujudkan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat, kehadiran kita dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk lebih giat dalam usahanya alih profesi dari bergantung ke kawasan hutan menjadi agen perubahan konservasi” Ujar Maman dalam kunjungan ke persemaian permanen LMDHK Wonomulyo. “kita terus sapa masyarakat, jangan sampai program TN Meru Betiri tergerus spirit yang lemah” imbuhnya Selain komoditi Jahe, LMDHK Wonoasri juga melakukan inovasi pembuatan Healthy Drink dari bahan mengkudu yang juga dikenal banyak khasiatnya oleh masyarakat. Dalam hal ini TN. Meru Betiri juga berkomitmen membantu pengembangan inovasi-inovasi masyarakat dalam upaya diversifikasi komoditi. Mulai dari dari packaging sampai pemasarannya bekerjasama dengan stakeholder terkait. Rahim selaku ketua LMDHK Wonomulyo menyatakan, “kami sangat senang mendapat perhatian dan bimbingan dari petugas TN Meru Betiri. Sehingga setiap kesulitan yang muncul dapat kami diskusikan bersama, dan Alhamdulillah sampai saat ini semua berjalan dengan lancar” katanya. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Akhir Perjalanan Buaya Muara ke Habitatnya di Taman Nasional Way Kambas, Lampung

Lampung Timur 19 Juni 2020, Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc, didampingi Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Subakir dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, M. Wahyudi, Jumat (19/06/20) melaksanakan release buaya jenis buaya muara (Crocodylus porosus). Buaya yang direlease di Taman Nasiona Way Kambas ini berjumlah 6 (enam) ekor yang merupakan satwa titipan Balai KSDA Yogyakarta yang direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta yang saat ini dikenal dengan nama Yayasan Konservasi Alam (YKAY) Yogyakarta selama periode tahun 2012 ? 2020. Keenam ekor buaya tersebut terdiri dari 4 buaya jantan (Ciko dan Rambe (2012), Diki (2014) serta Gito (2020)) dan 2 buaya betina Herbert (2014) dan Siri (2018)). Lokasi release Buaya dilakukan di Sungai Way Kanan, Resort Way Kanan, SPTN Wilayah I Way Kanan, Taman Nasional Way Kambas. Proses pelepasliaran buaya muara dipimpin langsung oleh Dirjen KSDAE. Turut hadir dalam kesempatan ini perwakilan dari UPT Kementerian LHK (Balai KSDA Yogyakarta, Balai TN Way Kambas, Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan, dan Balai KSDA Bengkulu) seta mitra TN Way Kambas (Yayasan Badak Indonesia (YABI), Rhino Protection Unit (RPU) dan Komunitas Hutan Sumatera ? Elephant Respond Unit (KHS-ERU)). Pelaksanaan pelepasliaran ini melibatkan beberapa pihak terkait antara lain Balai KSDA Yogyakarta, Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN). ?Keterlibatan para pihak dalam upaya konsservasi satwa yang salah satunya diwujudkan melalui program release ini merupakan bentuk kepedulian dan terjalinnya komunikasi yang baik antara pemerintah (KLHK) dengan mitra kerja Ditjen KSDAE.? ujar Ir. Wiratno. Lebih lanjut, Ir. Wiratno menyampaikan dasar pelaksanaan kegiatan release yang tetap dilaksanakan di masa pandemi Covid-19 ini. ?Kegiatan release yang kita laksanakan ini berpedoman pada Surat Edaran Dirjen KSDAE Nomor: SE.8/KSDAE/KKH/KSA.2/5/2020 tentang Petunjuk Teknis Pelepasliaran Satwa Liar di Masa Pandemik Covid-19. Saya sudah menginstruksikan kepada seluruh Balai KSDA di Iindonesia untuk segera melepasliarkan satwa liar yang saat ini masih berada di pusat-pusat rehabilitasi.? lanjut Ir. Wiratno. Program pelepasliaran keenam buaya muara ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan montoring selama kurang lebih 14 hari yang dilakukan oleh staf TNWK. Selain itu juga dilakukan juga kegiatan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat sekitar mengenai nilai penting keberadaan buaya muara dalam ekosistem. Hari ke dua kunjungan Dirjen KSDAE di Lampung ini, diagendakan kegiatan peninjauan ke lokasi SRS II dan Rumah Sakit Gajah serta Pusat Latihan Gajah (PLG) yang masuk ke dalam wilayah pengelolaan Balai Taman Nasional Way Kambas. Sumber: Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Kehandalan Tim WRU Balai Besar KSDA Riau Dalam Melakukan Pengusiran Gajah

Senin, 22 Juni 2020 - Dari tanggal 9 sd 19 Juni 2020, Tim WRU Balai Besar KSDA Riau yang berjumlah 9 orang, dipimpin wakil koordinator PLG Minas, bang Widodo melakukan penanggulangan Konflik Satwa liar Gajah di Kec. Nibung, Kab. Muratara, Sumatera Selatan. Gajah jinak yang dibawa adalah Sengarun, Bangkin dan Indah. Di sana Tim Balai Besar KSDA Riau bekerjasama dengan Balai KSDA Sumatera Selatan, Balai KSDA Jambi, BPBD Muratara, FZS dan pihak PT. Reki. Rencana awalnya akan dilakukan translokasi terhadap Gajah yang dikenal dengan nama Gajah "Lanang" di Kec. Nibung, Kab. Muratara Sumatera Selatan, namun hal tersebut tidak jadi dilaksanakan karena saat akan dilakukan translokasi, Gajah liar "Lanang" sudah mengarah dan mendekati daerah PT. Reki yang merupakan tempat habitat Gajah liar tersebut dan merupakan tempat rencana translokasi. Tim akhirnya hanya memantau dan mengusir secara manual agar satwa tersebut masuk ke habitatnya. Upaya membuahkan hasil, satwa kembali masuk ke dalam habitatnya. Hari Jum'at, 19 Juni 2020, Tim WRU Balai Besar KSDA Riau kembali ke Pekanbaru dengan selamat. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

TN Meru Betiri Dukung Inovasi Pengolahan Hijauan Pakan Ternak untuk Swasembada Daging

Jember, 22 Juni 2020, Kontribusi daging sapi lokal masih rendah karena lambatnya kenaikan populasi dan produksi sapi potong. Salah satu upaya untuk meningkatkannya adalah meningkatkan ketersediaan pakan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Inovasi teknologi pengolahan hijauan pakan ternak (HPT) dalam bentuk hay (rumput kering) dan silase (fermentasi rumput) merupakan solusi swasembada daging. Teknologi pengolahan HPT selain mampu meningkatkan nutrisi pakan sekaligus dapat digunakan sebagai cadangan pakan pada musim kemarau. Mendukung hal tersebut TN Meru Betiri melalui program pemberdayaan masyarakat memberikan bantuan mesin pencacah rumput berkapasitas 1,5 kuintal perjam kepada kelompok Aren 1 Desa Sanenrejo, Kec. Tempurejo, Kab. Jember. “Kita berharap bantuan mesin ini selain untuk meningkatkan produksi sapi di Desa Sanenrejo, tapi juga sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap hutan dengan alih profesi sebagai peternak baik itu sapi maupun kambing” kata Kepala Balai TN Meru Betiri Maman Surahman. “selain itu kedepannya kita juga akan memberikan bantuan ternak beserta kandangnya kepada beberapa masyarakat yang membutuhkan” imbuh Maman. Kepala Resort Sanenrejo, TN. Meru Betiri Bahrudin mengatakan, “Selain untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak kelompok, nantinya produksi olahan HPT ini juga akan menjadi peluang bisnis baru bagi peternak”. “Kita juga akan memberikan pendampingan pembuatan Silase kepada masyarakat Sanenrejo bekerjasama dengan pengusaha pakan ternak di wilayah Jember, sehingga hasil produksi olahan HPT masyarakat dapat langsung dipasarkan,” pungkasnya. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri

Menampilkan 3.457–3.472 dari 11.141 publikasi