Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

“Bangun Sekat Sungai sebagai Embung Air”, Inovasi Resort Pulau Majang dan MPA

Pulau Majang, 27 Juni 2020 - Resort Pulau Majang merupakan salah satu resort yang ada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) yang memiliki luas 18.696 Ha. Salah satu gangguan kawasan yang sering terjadi adalah kebakaran hutan di musim kemarau. Tingginya intensitas kegiatan masyarakat, baik dari dalam maupun luar kawasan pada saat musim kemarau untuk mencari ikan menyebabkan tingginya resiko terjadi kebakaran hutan. Dari berbagai kasus kebakaran yang terjadi, disebabkan karena unsur kelalaian oknum masyarakat seperti membuat perapian di sela aktifitas mencari ikan, puntung rokok, maupun efek dari proses pembuatan ikan asap (ikan salai) yang menggunakan api yang tidak terkontrol. Kondisi wilayah kerja Resort Pulau Majang pada saat musim kemarau sangat kering, dimana kondisi danau-danau dan anak-anak sungai tidak ada air sama sekali. Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab sulitnya pelaksanaan kegiatan pemadaman jika terjadi kebakaran hutan. Pembangunan embung-embung air melalui pembuatan dam penahan air di lokasi-lokasi dengan tingkat kerawanan karhutla yang tinggi merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Resort Pulau Majang bersama kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Pulau Majang untuk menekan tingkat kebakaran hutan. Pembuatan embung ini terbilang unik karena dilakukan dengan memutus total aliran sungai di daerah perhuluan sehingga menahan aliran air ke wilayah hilir, air akan tertampung dan bertahan lama selama musim kemarau. Kepala Resort Pulau Majang, Irawan Hadiwijaya menjelaskan, “upaya pembuatan sekat sungai (embung air) tersebut mulai dirintis pada tahun 2019, dimana pada waktu itu telah terbangun 6 buah embung air yang tersebar di sektor utara wilayah kerja Resort Pulau Majang dan tahun 2020 ini akan kita bangun 6 embung lagi”. Ditambahkan oleh Irawan “ujung tombak kegiatan ini adalah MPA Desa Pulau Majang yang berjumlah 55 personil. Ide pembuatan embung ini muncul dari pengalaman pemadaman karhutla di lapangan serta mengadopsi kearifan lokal yang ada di masyarakat Desa Pulau Majang. Ketua MPA Desa Pulau Majang, Suhaili Yakto, “kehidupan kami sangat tergantung dengan kawaan hutan yang ada di daerah ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk menangkap ikan maupun pemanfaatan madu hutan, sehingga kami selalu mendukung dan membantu petugas resort dalam menjaga kawasan TNDS terutama dari ancaman karhutla. Dijelaskan pula oleh Kepala Bidang PTN Wilayah III, Gunawan Budi , “pembuatan sekat kanal sebagai embung air ini memiliki multifungsi, selain akan memudahkan pelaksanaan pemadaman di saat terjadi karhutla, dengan adanya embung air ini maka berbagai jenis ikan masih memiliki tempat atau ruang pada saat musim kemarau. Kegiatan ini akan terus dilakukan di tahun 2020 ini terutama pada wilayah-wilayah yang rawan terjadinya karhutla, termasuk wilayah-wilayah strategis seperti lokasi RHL yang merupakan program penanaman kerjasama dengan BPDASHL Kapuas dan lokasi ANR (Assisted Natural Regeneration) yang merupakan program dari dana HLN yang bersumber dari anggaran FIP-1 ADB, tambah gunawan. Kepala Balai Besar TNBKDS, Arief Mahmud mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Resort Pulau Majang bersama MPA ini, “ini merupakan implementasi kerja keras dan kerja cerdas dari resort dan mitra kita (MPA) di lapangan. Potensi kawasan dan kearifan lokal merupakan faktor kunci yang bisa dipadukan untuk memininimalisir kendala dan tantangan di lapangan, termasuk ancaman bahaya karhutla. Kami sangat sangat mengapresiasi inovasi dan kreatifitas teman-teman di lapangan, terutama MPA Desa Pulau Majang yang merupakan kelompok masyarakat yang secara sukarela dan selalu berperan aktif bersama resort dalam melakukan upaya pengendalian karhutla dan perlindungan kawasan, pungkas Arief. ( Sumber: Balai Besar TN Bentung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pengelolaan Kolaboratif Menjadi Kunci Sukses Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial

Lombok Barat, 18 Juni 2020 - Senyum Bahagia dan tawa cerita peserta memenuhi suasana pelepasliaran tukik dalam rangkaian Hari Penyu Sedunia, Hari Lingkungan Hidup dan Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Sebanyak 100 ekor tukik jenis Penyu Lekang (Lepidocelys olivaceae) dilepas pagi itu di Pantai Kuranji Dalang. Pelepasliaran juga diikuti masyarakat dan pengunjung pantai dilokasi. Selesai pelepasliaran, acara kembali dilanjutkan dengan diskusi hanya bersama Para Kelompok Pelesatari Penyu di Lombok Barat, Mataram dan Lombok Utara. Kegiatan diskusi dipandu oleh Maiser Syahputra, Dosen Prodi Kehutanan Universitas Mataram. Plt Kepala BKSDA NTB Dedy Asriady, memberikan arahan dan pesan bijak bahwa melepas penyu adalah pekerjaan mulia. Kita telah mengantarkan mereka kembali ke alam bebas yang dengan kata lain kita telah turut serta melestarikan keanekaragaman hayati kedepan. Beliau juga bercerita panjang lebar mengenai kisah "From Zero to Hero" yang Beliau lakukan dalam melestarikan kupu-kupu di Sulawesi Selatan dulu. Hal senada juga disampaikan KSBTU Lugi Hartanto. Diskusi kemudian bersambung dengan curhatan suka duka, keberhasasilan, kendala yang sedang dihadapi dan harapan para Kelompok Pelestari Penyu yang hadir diwakilkan langsung oleh para Ketua Kelompok. Mereka adalah Haji Awan Ketua Kelompok Pelestari Penyu Mapak (KPPM) (Mataram), Masnun Ketua Kelompok Kerabat Penyu Lombok (Lombok Barat / Lokasi) dan Fikriludin Ketua Turtle Conservation Community Nipah (Lombok Utara). Kegiatan semacam ini adalah kegiatan yang rutin dilaksanakan di Kawasan Ekosistem Esensial ( KEE) Penyu Lombok Barat sebagai salah satu contoh pengelolaan KEE di NTB yang aktif berjalan. KEE Lombok Barat merupakan KEE pertama yg ditetapkan oleh Bupati Lombok Barat melalui SK Bupati nomor 345/6/DLH/2017 seluas 27.137,34 Ha. Terbentuknya KEE diinisiasi oleh BKSDA NTB difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Barat. Diawali dengan terbentuknya forum KEE yang beranggotakan instansi terkait Lingkup pemerintah Daerah Lombok Barat, Pemprov NTB, kelompok masyarakat pelestari penyu, hotel sebagai adopter, dan swasta. Dukungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Barat, Dinas kelautan perikanan provinsi NTB, adopter menjadi wujud rasa memiliki forum terhadap KEE ini. Lokasi ini beberapa kali menerima kunjungan studi banding KEE Sulawesi Utara, dan wisata edukasi konservasi penyu baik dalam dan luar negeri. Mahasiswa Yeungnam University Korea Selatan, dan volunteer dari Jerman juga pernah berkunjung dan baelajar bersama pelestarian penyu. Dalam beberapa kesempatan Sanctuary ini juga menjadi tempat rehabilitasi Stranded Sea Turtles. Wujud kecintaan bersama akan lingkungan hidup ditunjukkan pada kesungguhan bergerak bersama mengelola Kawasan Ekosistem Esensial di Provinsi NTB. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

TN Meru Betiri Bersiap Dalam Menghadapi Tatanan Baru Pariwisata Alam

Jember, Taman Nasional Meru Betiri, 29 Juni 2020 – Persiapan mengadaptasi pariwisata di era new normal Balai Taman Nasional (TN) Meru Betiri bekerjasama dengan Kabupaten Banyuwangi mengadakan Pelatihan Standarisasi SOP Covid-19 Pariwisata di Era New Normal pada Jumat tanggal 26 Juni 2020, di Kantor Balai Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Pelatihan dilaksanakan dengan narasumber dari Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dan Puskesmas Siliragung, dengan peserta meliputi Muspika Kecamatan Pesanggaran, Kepala Desa sarongan, Kepala Desa Kandangan, Satgas Covid-19 Kecamatan Pesanggaran, Perkebunan Sukamade Baru, Kelompok Masyarakat Ekowisata Rajegwesi, Kelompok Masyarakat Peduli Sukamade, Pengelola Homestay Rajegwesi dan Sarongan, Tour Operator Wisata wilayah Pesanggaran, Genteng dan Jajag, Tokoh masyarakat Desa Sarongan dan Kandangan. “Mengutip sambutan Bupati Banyuwangi bahwa ada 2 pilihan menghadapi era new normal ini kita tetap diam tanpa kemajuan atau bergerak dengan segala konsekuensi dan pembatasannya, sehingga kita harus siap dengan segala protokol yang ditetapkan demi keberlangsungan pariwisata di Banyhuwangi khususnya Rajegwesi, Teluk Hijau dan Sukamade,” ujar Kepala Balai TN Meru Betiri, Maman Surahman dalam sambutannya. Para peserta dari pelaku wisata mengaku sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Dengan materi-materi meliputi Standar Prosedur pelayanan wisata bagi pelaku wisata dan Tatanan kehidupan baru di era pandemi Covid-19. Beberapa catatan penting yang disampaikan dalam acara ini adalah bahwa semua pelaku wisata harus bersama-sama dalam satu visi dalam pencegahan Covid-19 dengan mengikuti tatanan kehidupan baru di era Pandemi Covid-19. Penyiapan prosedur pelayanan wisata akan dilakukan bertahap oleh Balai TN Meru Betiri bekerjasama dengan para pelaku wisata. Beberapa sarana dan prasarana yang telah disiapakan oleh Balai TN Meru Betiri berupa SOP Pelayanan wisata era new normal, tempat cuci tangan, penggunaan aplikasi booking, petunjuk protokol Covid-19 akan diikuti juga oleh para pelaku wisata, karena verikasi kesiapan destinasi wisata tidak bersifat parsial akan tetapi kesiapan secara holistik keseluruhan pelayanan wisata baik dari pengelola destinasi maupun para pelaku wisata didalamnya. Kedepannya penyiapan Sumber daya manusia terkait dengan pariwisata era new normal akan dilakukan Balai TN Meru Betiri bekerjasama dengan Pemkab Banyuwangi, dengan mengadakan pelatihan dan sertifikasi para pelaku wisata. Balai TN Meru Betiri berharap kegiatan pariwisata alam dapat berjalan kembali mengingat wisata merupakan salah satu sektor usaha yang dapat menyerap SDM dalam jumlah bersar dan mengurangi ketergantungan masyarakat sekitar kawasan kedalam hutan. Pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terdampak pada masa pandemi covid-19 menghadapi tantangan yang cukup besar dalam menghadapi era New Normal. Hasil survey cepat dampak Covid-19 Pemkab Banyuwangi terjadi penurunan jumlah konsumen sebesar 73,8% dan penutupan usaha wisata sebanyak 17,3%. Menurut survei Alvara Research Center menunjukan bahwa berwisata menjadi keinginan utama masyarakat seusai wabah terjadi sebesar 21,8%, lalu disusul keinginan bekerja 19% dan bersilaturahmi dengan keluarga 13,9%. Traveloka melaksanakan survey pada bulan Maret 2020 menunjukkan bahwa Kabupaten Banyuwangi menduduki urutan ketiga destinasi domestik yang akan dikunjungi wisatawan. Sehingga ini menjadi momen penting untuk mempersiapkan diri menyambut wisatawan dengan menerapkan protokol destinasi sesuai standar global. Para pengelola destinasi harus bisa menghasilkan TRUST tentang pelayanan, kebersihan dan keamanan di daerahnya kepada para wisatawan. Tidak hanya dalam bentuk seremonial belaka tetapi dalam bentuk implementasi secara konsisten terkait aksi nyata penerapan strategi promosi dari protokol destinasi tersebut. Paradigma baru di dunia wisata menghadirkan strategi baru yang mewajibkan pengelola destinasi berlandaskan Cleanness, Healthy, and Safety. Mengadapatasi era new normal, Banyuwangi menjadi kabupaten pertama yang berinisiatif menerapkan sertifikasi new normal bagi destinasi wisata. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri Narahubung: Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri - Maman Surahman, S.Hut., M.Si. - 082119830908
Baca Berita

Kegiatan Penghijauan di SM Balai Raja

Pekanbaru, 22 Juni 2020. Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau melakukan kegiatan penghijauan di kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja. Setelah melakukan patroli mandiri di kawasan konservasi tersebut, petugas mengajak masyarakat yang berada di sekitar untuk melakukan penanaman bibit pohon di areal yang terbuka. Petugas dan masyarakat berhasil menanam di SM Balai Raja, yakni bibit pohon Gaharu sebanyak 75 bibit, Cempedak 45 bibit, Nangka 45 bibit, Matoa 45 bibit, Petai 45 bibit dan Durian 45 bibit. Kegiatan penghijauan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kelestarian kawasan konservasi dan bagi masyarakat sekitar. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penggiringan Gajah Sumatera

Pekanbaru, 29 Juni 2020 – Tim Mahout PLG Minas melakukan penanganan konflik manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang terdapat di Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru pada hari Jumat, 26 Juni 2020,. Tim Mahout melakukan penggiringan terhadap kelompok Gajah liar yang sedang berada di kebun ubi dan kelapa sawit milik masyarakat. Tim bersama penjaga kebun melakukan pengecekan di lokasi kejadian dan menjumpai rombongan Gajah liar masih berada di sekitar kebun tersebut. Tim segera melakukan upaya penggiringan kembali ke dalam hutan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim. Tim juga berjaga dengan membuat api unggun di sekitar lokasi gangguan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Julang Emas Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 29 Juni 2020. Burung Julang Emas merupakan salah satu burung dari famili Bucerotidae yang paling sering dijumpai di Taman Nasional Batang Gadis dan kawasan hutan sekitarnya. Burung ini makanan utamanya adalah buah-buahan dan sejumlah kecil serangga. Dengan daya jelajahnya yang luas berbagai jenis tumbuhan hutan dapat tersebar secara alami melalui feses yang dihasilkannya beratus meter dari pohon induknya sehingga vegetasi hutan tetap terjaga. Ketersediaan pakan alami serta pohon-pohon besar dan tinggi tempat mereka bersarang sangat penting artinya demi keberlangsungan hidup burung ini dan jenis rangkong/enggang lainnya. Memiliki kebiasaan terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil di strata atas hutan dengan suara kepakan sayap yang cukup jelas terdengar. Sumber : Zulfan - PEH Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Perlindungan Kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 23 Juni 2020. Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau kembali melakukan kegiatan patroli di kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil. Petugas Resort Duri melakukan patroli darat di Desa Tesik Serai, Kec. Talang Muandau, kawasan SM. Giam Siak Kecil dan melakukan pengecekan aktivitas di lokasi Mahang. Pengecekan Sawit yang di musnahkan pada bulan Maret 2020 di lokasi yang terbakar Kompas Merah Dusun Semandak. Kondisi sawit yang dimusnahkan sebagian besar sudah mati (80%) dan tidak terlihat adanya aktivitas perkebunan lagi. Selain itu, dalam pengecekan tempat pengambilan Mahang, aktivitas pengambilan kayu sudah tidak aktif. Namun, pada lokasi yang sama, petugas menemukan jejak alat berat yang mengarah ke dalam kawasan dan kemudian menyusuri jejak alat berat tersebut. Begitu bertemu dengan alat berat, petugas langsung menghentikan dan memberikan peringatan kepada operator serta pemilik lahan agar segera keluar dari lokasi yang akan dikerjakan karena mengarah ke dalam kawasan. Kawasan hutan adalah sumber air dan udara bersih untuk penghidupan masyarakatnya. Untuk itu, Yuuuk kita jaga sama sama kelestariannya.... Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pemulihan Ekosistem, BBKSDA Papua Libatkan 96 Warga Sekitar Cagar Alam Pegunungan Cycloop

Jayapura, 26 Juni 2020. Balai Besar KSDA Papua bersama PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Papua melakukan rehabilitasi kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop untuk pemulihan ekosistem. Kegiatan berlangsung pada Jumat, (26/6), dengan menanam 10.500 bibit. Area tanam seluas 10 hektar terletak di wilayah Bhayangkara, Kota Jayapura. Adapun jenis bibit yang ditanam adalah merbau (Intsia bijuga), matoa (Pometia pinnata), bintangur (Callophyllum inophyllum), dan cemara (Casuarina junghuhniana), yang merupakan jenis asli dari kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Penanaman ini menggunakan kompos blok sebagai tambahan media untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Menurut Kepala Sub Bagian Program dan Kerjasama BBKSDA Papua, Rian Agustina, S.Pt., M.I.L., pemulihan ekosistem ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama antara Balai Besar KSDA Papua dan PT. PLN (Persero), tanggal 19 Desember 2019. Isi perjanjian kerja sama tersebut berkaitan dengan pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan. PT PLN (Persero) membangun jaringan transmisi SUTT 150 KV GI Jayapura/Skyland-GI Angkasa, melintasi kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Itulah sebabnya, pemulihan ekosistem di sekitar Bhayangkara menjadi vital. “Kegiatan ini dilaksanakan sesuai Rencana Kerja Tahun 2020, sudah disepakati bersama antara Balai Besar KSDA Papua dan PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Papua. Ke depan, proses pemulihan ekosistem ini akan terus dipantau perkembangannya melalui kegiatan pemeliharaan tanaman,” ungkap Rian. Dalam kegiatan ini hadir Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Kepala UPT KLHK Provinsi Papua, Dinas Lingkungan Hidup dan Tata Kota, Kota Jayapura, Lurah Bhayangkara, dan tokoh gereja. Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Sebanyak 96 warga telah mendukung proses penanaman. Sebelumnya, Balai Besar KSDA Papua telah melakukan komunikasi intensif dengan mereka. Hasilnya, telah terbangun kesepahaman bersama tentang pentingnya keberadaan dan keutuhan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Pelibatan masyarakat ini didasari 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi, bahwa masyarakat adalah subyek di dalam pengelolaan kawasan. Mereka yang telah menjalani hidup bersama alam adalah juru kunci di dalam proses pelestarian, juga pemanfaatan secara berkelanjutan. Masyarakat diharapkan dapat turut menjaga pertumbuhan tanaman hingga masa yang akan datang. Sekitar satu bulan ke depan akan dilakukan penyulaman dengan persiapan bibit sebanyak 2100 batang. Masyarakat diharapkan dapat memaksimalkan peran menjaga sampai semua bibit tumbuh dewasa. Pada kesempatan ini, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampaikan terimakasih kepada Pimpinan PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Papua, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, instansi terkait, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan segenap lapisan masyarakat yang terus mendukung pengelolaan Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. “Saya mengajak semua pihak, mari menjaga kelestarian Cagar Alam Pegunungan Cycloop, yang sudah memberikan kehidupan bagi kita semua. Kita jaga Cycloop, Cycloop jaga kita,” ungkap Edward. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Pemantauan Kawasan Taman Wisata Alam Buluh Cina

Pekanbaru, 29 Juni 2020 – Saat ini Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina sedang berbenah untuk dibuka kembali dalam kondisi New Normal. Namun, petugas Resort Buluh Cina tetap melakukan pemantauan kawasan agar terbebas dari aktifitas illegal yang dapat mengganggu kawasan TWA Buluh Cina (25/6). Patroli ini difokuskan pada penyisiran jerat yang di dalam kawasan. Kegiatan patroli dimulai dari sekitar Sungai Ukam, dimana di sekitar Sungai Ukam aktivitas masyarakat sangat tinggi, baik masyarakat Buluh Cina maupun masyarakat yang datang dari luar Buluh Cina. Berdasarkan pemantauan di lapangan, kegiatan masyarakat dimaksud adalah hanya memancing ikan. Namun, petugas resort Buluh Cina melakukan antisipasi dengan pengecekan langsung agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan. Kegitan dilanjutkan dengan patroli dan pemantauan di daerah bekas kebakaran tahun 2019 yang lalu (sekitar 10 ha). Hasil pemantauan areal dimaksud sudah ditumbuhi rumput dan alang-alang. Lokasi tersebut sangat rawan terbakar bila musim kemarau tiba, sehingga perlu dilakukan pemantauan secara terus menerus. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Detik-detik Bertemunya Uben dan Betty di Sanctuary Anoa Lejja

Makassar, 29 Juni 2020. Anoa merupakan hewan endemik di Pulau Sulawesi, kini populasi habitat alaminya diperkirakan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data ICUN Red List satwa endemik Indonesia, di seluruh Sulawesi, tidak lebih dari 2.500 individu. Untuk Sulawesi Utara diperkirakan 300 individual. Meningkatkan populasi Anoa merupakan tujuan dari Sanctuary Anoa Lejja yang terletak di Kota Soppeng Sulawesi Selatan dan dikelola oleh Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan yang bekerjasama dengan berbagai pihak baik swasta dan pemerintah setempat. Kini Anoa daratan tinggi jantan dengan usia remaja yang bernama “Uben” tidak lagi sendiri. Se-ekor Anoa daratan tinggi betina berumur 3 tahun bernama “Betty” yang berasal dari Lembaga Konservasi Citra Satwa Celebes akhirnya didatangkan oleh tim gabungan Seksi Wilayah 3 dan 4 BBKSDA Sulsel tanggal 28 Juni 2020. Dikomandoi Kepala Seksi Beny dan Santiago, Anoa betina dengan berat 50 Kg ini sampai dengan selamat setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 Jam dari kabupaten Gowa menuju Sanctuary Anoa Lejja di Kabupaten Soppeng. Beny Daly selaku kepala seksi Wil 3 dalam keterangannya mengatakan “Satwa liar jenis Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) Jenis kelamin Betina bernama "Betty" merupakan hasil penyerahan Lembaga Konservasi Citra Satwa Celebes di Gowa. Satwa berumur 3 (tiga), berat kurang lebih 50 kg, tinggi 60 cm.” “Sebelum diangkut menggnakan kandang transport terlebih dahulu kami cek kesehatannya. Dan setelah tiba di Sanctuary Anoa kami tempatkan di kandang habituasi yang terpisah dari Uben agar Si Betty ini mulai adaptasi dan kita monitoring kembali kesehatannya” Tambah Beny. Kepala Balai KSDA Sulawesi Selatan Thomas Nifinluri memberikan apresiasi kepada Tim evakuasi yang membawa Betty dengan selamat ke Sanctuary Lejja. Dalam keterangannya “Semoga dengan adanya Anoa Betina tersebut program breeding Sanctuary Anoa dapat berjalan sehingga populasi Anoa di sulawesi bertambah. ” Dari video dan foto laporan lapangan Betty terlihat sehat di kandang. Pergerakannya terlihat lincah dengan berlari di seputaran kandang dan memakan rumput. Hewan ini memang terlihat liar, saat orang datang menghampiri kandangnya. Berbeda dengan Uben yang sepertinya masih malu-malu mendekati Betty. Penulis berharap Betty dan Uben sehat selalu, kita doakan semoga pasangan baru ini di Sanctuary Anoa bisa melahirkan Anak-anak Anoa yang lucu dan sehat. Semoga setelah pandemi ini brakhir kita bisa bertemu. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penulis : Awang Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas - Murniati, S.Hut, MP
Baca Berita

Taman Nasional Bali Barat Kembali Melepasliarkan Burung Curik Bali Ke Alam

Gilimanuk, Balai Taman Nasional Bali Barat, Sabtu, 27 Juni 2020 – Upaya keras untuk melestarikan burung curik bali di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan hasil yang menggembirakan. Populasi burung curik bali di habitat alami saat ini menjadi jumlah tertinggi berdasarkan catatan populasi mulai dari tahun 1974. Berdasarkan hasil monitoring pada akhir Mei 2020, burung ini sekarang berjumlah 303 ekor meningkat dari populasi di alam tahun 2019 sebanyak 256 ekor dan baseline data tahun 2015 sejumlah 57 ekor. Restocking populasi melalui pelepasliaran burung hasil penangkaran (pembinaan populasi) menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan populasi burung curik bali di alam. Adalah Unit Suaka Satwa Curik Bali di Tegal Bunder menjadi pusat pembinaan populasi yang mengembangbiakkan burung untuk kepentingan restocking. Anakan yang telah berumur 8 bulan akan dibawa ke kandang habituasi di Cekik, Labuan Lalang dan Berumbun untuk proses adaptasi sebelum dilepasliarkan. Jumlah burung secara keseluruhan di Suaka Satwa saat ini tercatat 417 ekor. Pada hari ini Sabtu 27 Juni 2020, Balai TNBB melepasliarkan 52 ekor ke alam. Agus Ngurah Krisna selaku Kepala Balai TNBB menjelaskan bahwa dalam suasana pandemi Covid-19 proses pelepasliaran dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan berkoordinasi dengan sektor lain yaitu Dinas Kesehatan, Dinas Petanian dan Pangan Pemkab, dan Balai Besar Veteriner dalam rangka One Health yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan kesehatan hewan. Perhatian ditujukan kepada kondisi Kesehatan, animal welfare, dan wilayah sebaran habitat satwa dilokasi pelepasliarannya. Implementasi dilapangan dilakukan melalui penerapan biosecurity dan biosafety serta mematuhi protokol kesehatan. Pemeriksaan Kesehatan dilakukan untuk penyakit avian influensa (AI), pemeriksaan bakteri dan parasite. Sedangkan terhadap petugas perawat satwa dilakukan pemeriksaan rapid test corona virus. Semua ini merupakan upaya untuk menjamin tidak adanya penularan penyakit zoonosis dari satwa ke manusia atau sebaliknya dan dari satwa ke satwa liar lainnya. Salah satu indikator keberhasilan pelepasliaran akan ditunjukkan pada produktivitas burung menghasilkan anakan di alam. Selama bulan Januari sampai dengan Mei 2020 produktivitas indukan di alam meningkat signifikan. Di Labuan Lalang terdapat 13 pasang indukan yang telah melahirkan anakan sebanyak 38 ekor, melebihi jumlah anakan selama 1 tahun pada 2019 sebanyak 34 ekor. Di Cekik terdapat 12 pasang indukan dengan 33 ekor anakan. Di Brumbun 8 pasang indukan dengan 22 ekor anakan. Apa yang menjadi titik balik dari keberhasilan peningkatan populasi burung curik bali di alam tidak terlepas dari sinergitas ex-situ (di luar habitat) dan in-situ (di dalam habitat) dalam pengelolaan di habitat dan luar habitat. Faktor-faktor yang terkait dalam hal ini yaitu kebijakan; kolaborasi; pelibatan masyarakat; strategi dan konsistensi pengelolaan. Kebijakan yang berpihak, memberdayakan masyarakat antara lain dengan membantu memfasilitasi usaha penangkaran oleh kelompok masyarakat yang berkembang di 6 desa penyangga TNBB. Di Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, masyarakat di Desa Sumberklampok mendirikan kelompok penangkar Manuk Jegeg sejak tahun 2015, dengan 17 anggota. Penangkar. Sementara di Desa Pejarakan penangkaran dilakukan kelompok masyarakat Nature Conservation Forum Putri Menjangan mulai tahun 2019. Di Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana, masyarakat di Desa Blimbingsari membentuk kelompok penangkar Paksi Sari Merta pada tahun 2017 dengan 14 anggota penangkar. Desa Ekasari, terdapat kelompok penangkar Ekasari Bird Farm yang berdiri sejak tahun 2017, beranggotan 4 orang. Kelurahan Gilimanuk, terbentuk kelompok penangkar Bali Jaya Lestari pada tahun 2018 beranggotakan 7 orang. Desa Melaya, terbentuk kelompok penangkar Lestari Curik Bali pada tahun 2018, beranggotakan 5 orang. Semangat masyarakat untuk aktif dalam penangkaran ex-situ, menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap kelestarian curik bali di alam. Sementara kepedulian para pihak melalui wadah kolaborasi, bekerja bersama untuk meningkatkan SDM petugas, memberdayakan masyarakat dan kajian-kajian hasil penelitian yang menciptakan terobosan dan strategi baru dalam pengelolaan burung curik bali. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat Penanggung jawab berita: Kepala Balai TN Bali Barat - Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si – 082191094519 Informasi lebih lanjut : Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal KSDAE - Drh. Indra Exploitasia, M.Si – 08111702551 Call center Balai Taman Nasional Bali Barat - Hp. No. 082247475988
Baca Berita

Pemusnahan Sawit Dan Pengamanan Jerat Di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 29 Juni 2020 – Petugas Resort Duri bersama dengan Resort Dumai Balai Besar KSDA Riau melakukan patroli di Desa Tasik Serai Timur, Kecamatan Talang Muandau, Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil pada hari Rabu, 24 Juni 2020. Petugas bergerak ke lokasi yang terbakar pada tahun 2019 dan saat ini sudah ditanami sawit. Memperhatikan hal tersebut, tim dengan segera melakukan pemusnahan sawit dan memasang rambu – rambu kawasan. Selain itu, tim juga menemukan 3 orang yang sedang melakukan aktivitas perburuan di dalam kawasan dengan menggunakan jerat dan senapan angin. Tim berhasil mengamankan jerat sebanyak 10 jerat, dan 2 unit senapan angin milik pemburu. Tim memberi peringatan keras kepada pemburu tersebut untuk tidak melakukan aktivitas perburuan lagi. Balai Besar KSDA Riau mengajak para pihak untuk bersama – sama melestarikan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayatinya dengan cara melaporkan bila ada yang melakukan aktifitas perburuan, perambahan atau pembalakan ke nomor : 081374742981. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BTN Karimunjawa Bersama WCS-IP Menilai Kesehatan Perairan dari Penyakit Karang dan Mikroplastik

Sabtu, 27 Juni 2020 - “Ternyata surveinya gak susah, cuma kalau ketemunya banyak di satu karang ya jereng juga ngitungnya lubang-lubang di karang. Tapi asik lah, belajar ilmu baru,” kata Rajif Amrullah (Rullah), seorang pemandu dan divemaster perwakilan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) cabang Karimunjawa, saat ditanya kesannya mengambil data coral macro-bioeroder atau hewan pengebor karang untuk pertama kalinya. Rullah bergabung menjadi salah satu tim pengambil data kegiatan survei pendahuluan penyakit karang, makroplastik dan hewan pengebor karang di perairan Taman Nasional (TN) Karimunjawa pada 15-22 Juni 2020 lalu. Kegiatan survei dilaksanakan oleh Wildlife Conservation Society (WCS) bersama Balai TN Karimunjawa. Tim pengambil data terdiri dari 2 staf WCS, 2 staf Balai TN Karimunjawa dari SPTN 1 dan 2, 2 perwakilan HPI Karimunjawa, dan didampingi oleh seorang konsultan ahli di bidang penyakit karang dari Universitas Diponegoro, Semarang. Survei ini merupakan kegiatan pembuka dari rangkaian studi kualitas air yang akan dilaksanakan di perairan TN Karimunjawa. Tujuan dilakukan survey tersebut ada dua, yaitu (1) untuk meninjau kondisi perairan di Karimunjawa sebagai indikasi kesehatan ekosistem terumbu karang, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan optimal ekosistem terumbu karang dan apakah mendukung resiliensinya dalam menghadapi tekanan aktivitas manusia dan perubahan iklim dan (2) menjadi data dasar pada saat kegiatan wisata tidak aktif, sebagai pembanding dengan kondisi nanti pada saat wisata telah aktif kembali. Kondisi penyakit karang dan kelimpahan hewan pengebor karang (coral bioeroder) merupakan beberapa faktor biotik yang dapat memberikan indikasi kondisi perairan di sebuah ekosistem terumbu karang. Misalnya, studi-studi sebelumnya menunjukkan pada perairan yang kadar nitrogennya tinggi, tinggi pula kegiatan bioerosi atau jumlah hewan bioeroder di ekosistem terumbu karangnya. Kadar nitrogen di perairan dapat mengindikasikan kualitas perairan itu sendiri dan memberikan indikasi kondisi limpasan limbah cair dari daratan ke lautan. Sedangkan plastik, melalui studi-studi, telah ditemukan memiliki korelasi positif terhadap kerentanan karang terumbu terhadap penyakit dan pemutihan (bleaching). Survei pendahuluan penyakit karang, makroplastik dan bioeroder telah dilakukan di 20 lokasi dari 38 total lokasi pengambilan data untuk kajian kualitas air di perairan Karimunjawa. Lokasi-lokasi tersebut adalah sebagai berikut: perairan Ujung Gelam (pantai wisata), perairan Jati Kerep (dekat tambak), perairan Dusun Lego (pemukiman padat penduduk di desa Karimunjawa), Pulau Bengkoang (kontrol), perairan Telaga (pemukiman penduduk di desa Mrican), perairan Mrican (dekat tambak), Maer (lokasi wisata yang sedang ditutup), Pulau Menjangan Kecil (wisata), Keramba wisma apung (perikanan), Kura-kura resort (Resort wisata), Halo Hotel (resort wisata), Pelabuhan Syahbandar, Legon Janten (zona inti, kontrol), Tanjung Dua (zona inti, kontrol), perairan Java Paradise (Resort wisata), Legon Bajak (dekat PLTD dan pelabuhan), Legon Nipah (dekat tambak), Legon Lele (dekat muara sungai besar), perairan Selatan Karimunjawa (dekat pemukiman padat penduduk), dan Pelabuhan Ferry. Rullah mengakui bahwa “lokasi yang berbeda, kondisi bioerodernya juga berbeda-beda.” Endang Abdul Rohman, salah satu tim pengambil data dari Balai TN Karimunjawa SPTN 2 Karimunjawa, mengakui ketertarikan dan semangatnya memelajari survei penyakit karang yang merupakan bidang baru baginya. “Senang dapat ilmu baru sekali bisa aplikasi learning by doing. Tapi belum sempat lihat semua jenis penyakit karang, paling banyak white syndrome dan pink blotch. Survei dilakukan dengan metode transek sabuk (belt transect) sepanjang 20 meter x 2 meter sebanyak 3 kali ulangan di ekosistem terumbu karang pada kedalaman 3.5-4.5 meter. Koloni karang yang menunjukkan gejala atau tanda penyakit dicatat dan jumlah koloni karang sehat juga dicatat. Sedangkan survey bioeroder dilakukan dengan metode belt transect yang sama dengan menghitung jumlah individu cacing, kerang, spons, bulu babi dan mahkota duri di sepanjang transek. Langkah selanjutnya akan dilakukan pengolahan dan analisis data, selain itu pengambilan data akan dilakukan kembali beberapa bulan setelah kegiatan wisata telah aktif. Pengambilan data selanjutnya akan dilakukan tidak hanya pada faktor biotik, namun juga abiotik dari parameter kualitas perairan seperti kandungan nitrogen dan fosfat. Sumber : Ratih WCS-IP - Balai TN Karimunjawa
Baca Berita

Membina Lembaga Pengelolaan Konservasi Desa Sekitar TN Lore Lindu

Palu, 23 Juni 2019. Balai Besar TN Lore Lindu sebagai unit pengelola kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dalam melestarikan kawasan konservasi ini melakukan upaya bersama-sama masyarakat untuk berpartisipasi didalamnya melalui pembinaan kepada kelompok-kelompok masyarakat untuk peduli terhadap kelestarian ekosistem hutan di sekitar domisilinya . Didukung EPASS (Enhancing the Proctedted Area system in Sulawesi Project for Biodiversity Conservation), pada tahun 2020 ini telah membentuk beberapa kelompok masyarakat beranggotakan 15 orang masyarakat yang dinamakan Lembaga Pengelolaan Konservasi Desa (LPKD). Lembaga ini bertujuan selain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan taman nasional juga diharapkan lahir local champion yang bisa menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat lainnya. Beberapa waktu lalu telah dilakukan koordinasi dan monitoring oleh Tim Balai Besar TNLL kepada LPKD yang ada di desa-desa yang berbatasan Taman Nasional Lore Lindu terutama di Lembah Besoa, Kabupaten Poso, yaitu LPKD Maroho (Desa Betue), LPKD Hintuvu (Desa Talabosa), LPKD Maju Bersama (Desa Rompo), LPKD Torire Lestari (Desa Torire), LPKD Kapetea Lestari (Desa Baliura) dan LPKD Sinar Dali (Desa Hanggira). Seluruh LPKD ini ternyata telah membangun Rumah Bibit yang didalamnya terdapat berbagai jenis bibit pohon seperti rotan, pandan hutan, durian, leda, koronia, dan kemiri, kopi). Bibit-bibit ini akan ditanam pada lahan masyarakat, zona tradisional di taman nasional dan batas sempadan sungai. Selain itu LKPD Hintuvu dan Kapetea Lestari membuat kerajinan tangan berupa bingka (ayakan kecil) dan tudung saji, tempat sampah, kotak tissu dan bermacam lainnya dari hasil hutan bukan kayu rotan. Diwakili Kepala Bidang Teknis Konservasi (Wantoko, S.Hut.,T), Tim Balai menyampaikan arahan kepada anggota-anggota LPKD ini agar dalam operasional kegiatan maupun penggunaan anggaran dari dana hibah EPASS ini seyogyanya dilaksankan secara transparan dan menjadi stimulan/pemacu dalam meningkatkan ekonomi kelompok. “ Setelah project ini berakhir, kelompok ini harus tetap ada dan memberikan dampak ke masyarakat umum serta bisa menyampaikan pesan-pesan kelestarian kepada masyarakat lain” ujar Wantoko menambahkan. Selanjutnya diungkapkan pula agar melalui LPKD, masyarakat bisa ikut serta dalam penyadartahuan akan pentingnya keberadaan taman nasional dengan selalu berkoordinasi dengan Kepala Resort Doda. Sumber : Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Patroli Persiapan Wisata Dalam Masa New Normal di TN Matalawa

Waingapu, 22 Juni 2020. New normal atau biasa disebut masa tatanan baru dalam situasi pandemi COVID-19 di kawasan wisata alam akan segera dilaksanakan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Direktur Jenderal KSDAE pun telah memberikan arahan-arahan untuk membuka kembali lokasi-lokasi wisata alam yang daerahnya masuk pada lokasi dengan resiko rendah. Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)yang berada di 3 Kabupaten, di Nusa Tenggara Timur, yaitu Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat menjadi salah satu lokasi yang akan dibuka. Berbagai persiapan pun dilakukan untuk menyambut para penikmat wisata alam agar dapat berkunjung dengan nyaman. Salah satunya adalah patrol yang dilakukan di lokasi wisata. Sejumlah polisi kehutanan menyisir jalur wisata Air Terjun Matayangu yang berada di Blok Hutan Manurara, Kabupaten Sumba Tengah. Mereka menemukan sejumlah pohon tumbang yang menutupi jalur wisata. Pembersihan diupayakan dengan memotong dan mengangkat pohon tumbang tersebut sehingga jalur wisata dapat dilewati dengan aman. Selain itu, mereka juga menemukan sejumlah jejak babi hutan yang diperkirakan berjumlah 20 ekor di sepanjang perjalanan mereka menuju air terjun. Hal ini dapat berarti bahwa hewan liar tersebut berkembang biak dengan baik selama jalur wisata ditutup saat pandemi COVID-19. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanadaru Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Warga Percut Serahkan Kucing Akar ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Kucing Akar yang diserahkan warga (gbr. Kiri), warga menyerahkan kepada petugas TRRC Balai Besar KSDA Sumut (gbr. Kanan) Medan, 19 Juni 2020 - Kembali warga menyerahkan satwa liar dilindungi kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ivan Aulia, warga Jl. Diponegoro Percut, Desa Cinta Rakyat, Kabupaten Deli Serdang, pada Kamis 18 Juni 2020, menyerahkan 1 (satu) individu Kucing Akar kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara di kediamannya. Dalam penuturannya kepada petugas, Ivan menguraikan bahwa warga melihat satu individu Kucing Akar sedang berkeliaran dipemukiman, pada Rabu 17 Juni 2020. Khawatir satwa tersebut akan mengganggu dan memangsa ternak warga, seorang warga menembaknya dengan menggunakan senapan angin dan mengenai kaki bagian belakang. Setelah berhasil ditangkap, satwa tersebut kemudian dititipkan kepada Ivan. Namun ada warga lain yang menginformasikan bahwa satwa tersebut termasuk jenis yang dilindungi dan karena itu harus segera diserahkan kepada instansi atau lembaga yang berwenang, sehingga mendorong Ivan mencari tahu dan menemukan Call Center Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dari komunikasi dengan petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara, maka pada Kamis, 18 Juni 2020, petugas Team Respon Reaksi Cepat (TRRC) Balai Besar KSDA Sumatera Utara mendatangi lokasi dan segera melakukan evakuasi terhadap Kucing Akar. Kemudian pada Jumat, 19 Juni 2020 dinihari, satwa tersebut dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk mendapat perawatan dan rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara M. Ali Iqbal Nasution dan Agus Rinaldi (TRRC)

Menampilkan 3.441–3.456 dari 11.141 publikasi