Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Banteng Bernama Nina Telah Melahirkan di Suaka Satwa Banteng

Senin, 6 Juli 2020 - Bahwa telah lahir secara alamiah 1 (satu) ekor anakan Banteng berjenis kelamin Betina dari induk betina NINA lahir dalam kondisi sehatpada hari Jumat tanggal 03 Juli 2020 pukul 15.34 WIB. Anakan tersebut merupakan hasil perkawinan dari betina NINA dengan pejantan TELEPAK di Suaka Satwa Banteng Taman Nasional Baluran. Ciri-ciri anakan Banteng tersebut memiliki Berat Badan 15,5 kg, Panjang badan (bahu pangkal ekor) 55 cm, Panjang badan (moncong pangkal ekor) 75 cm, Tinggi 53 cm, Lingkar perut 58 cm, Telapak depan 4x5 cm dan Suhu 39,9 c. Dengan adanya kelahiran anakan ini, maka pada saat ini jumlah Banteng yang ada di Suaka Satwa Banteng Taman Nasional Baluran bertambah menjadi 11 ekor (4 jantan dan 7 betina). Sumber: Balai TN Baluran
Baca Berita

Sedekah Alam Melalui Pelepasliaran Satwa Liar dari Pusat Penyelamatan Satwa Balai KSDA Bengkulu

Lampung, 4 Juli 2020 - Upaya memulihkan keseimbangan alam melalui proses pelepasliaran satwa kembali dilakukan oleh Balai KSDA Bengkulu. Pada hari ini Balai KSDA Bengkulu bersama dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dan pihak terkait (Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Balai Taman Nasional Way Kambas dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung) kembali melakukan sedekah alam dengan melakukan pelepasliaran satwa-satwa liar yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Sebanyak total 124 (seratus dua puluh empat) ekor yang dilepasliarkan berasal dari hasil sitaan penegakan hukum dan penyerahan dari masyarakat akibat konflik berupa 2 ekor Siamang, 2 Ekor Elang Berontok, 50 ekor Kukang Sumatera dan 713 ekor berbagai jenis burung kicau. Seluruh satwa yang dilepasliarkan tersebut telah menjalani pemeriksaan medis dan rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Lampung BKSDA Bengkulu dan di tempat rehabilitasi Jaringan Satwa Indonesia-Jakarta Animal Aid Network (JSI-JAAN). Proses rehabilitasi dilaksanakan mulai dari masa karantina dan pemeriksaan medis untuk memastikan semuanya tidak mengidap dan membawa penyakit ke habitat barunya. Selain itu, aktivitas harian, pakan serta kebiasaan juga diamati untuk memastikan bahwa perilaku satwa sudah normal menjadi liar kembali. Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi baik dari sisi medis maupun pola perilaku, penilaian terhadap satwa-satwa tersebut dinyatakan siap dilepasiarkan kembali. Pelepasliaran yang dipimping langsung Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Ditjen KSDAE dengan didampingi Plt. Kepala BBTNBBS, Kepala BKSDA Bengkulu, Kepala BTNWK, Pejabat Eselon III & IV, perwakilan Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung, JSI-JAAN, Yayasan Flight Protecting Indonesia’s Birds dan YABI. Ibu Direktur KKH Indra Exploitasia, menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu rangkaian proses pelaksanaan pelepasliaran ini. “Pelepasliaran satwa dari PPS (eksitu) ke habitat alaminya (insitu) merupakan wujud komitmen kita dalam pengelolaan satwa dari eksitu link to insitu, sekaligus merupakan upaya kita untuk membantu terciptanya keseimbangan ekosistem yang pada akhirnya akan mewujudkan suatu kondisi lingkungan hidup yang sehat demi kita semua”, ucap Direktur KKH. Selanjutnya, Indra Exploitasia juga menyampaikan bahwa upaya-upaya pelepasliaran satwa, khususnya yang masih terdapat di beberapa Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) akan terus dilaksanakan secara intensif. Hal ini penting dilakukan untuk mengurangi beban operasional PPS dan memberikan kesejahteraan bagi satwa, karena hakikatnya rumah terbaik bagi satwa liar adalah di habitat alaminya. Pada kesempatan kali ini, Kepala Balai KSDA Bengkulu, Donal Hutasoit, turut menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawabnya untuk melestarikan dan mensejahterakan satwa liar. Terhitung pada tahun 2019, Balai KSDA Bengkulu bersama pihak terkait telah melakukan pelepasliaran satwa liar hasil sitaan, penyerahan dan konflik dengan masyarakat sebanyak 17.531 ekor satwa dengan rincian jenis: 4 ekor Mamalia, 39 ekor Primata, 6 ekor Reptil dan 17.482 ekor Burung dilindungi maupun tidak dilindungi. “Mengingat tahapan pelepasliaran ini membutuhkan tenaga dan materi yang tidak sedikit, dihimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak membeli dan memelihara satwa lair. Karena prinsip ekonomi penawaran dan permintaan, memelihara satwa berarti sama dengan mendukung adanya perburuan dan perdagangan. Perburuan akan terus berlangsung selama masih adanya permintaan dan mendekatkan satwa menuju kepunahan”, ucap Donal Hutasoit. Senada dengan Donal Hutasoit, Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Ismanto, menjelaskan bahwa kondisi kawasan Hutan Taman Nasional masih sangat mendukung untuk pelepasaliaran, mengingat ketersediaan pakan dan kondisi vegetasi yang cukup baik. Kegiatan ini dilakukan di 2 (dua) lokasi, lokasi pertama Camp Rhino atau patok 50 Resort Sukaraja SPTN Wilayah I Sukaraja Atas dan lokasi kedua di Resort Pemerihan SPTN Wilayah II Bengkunat BPTN Wilayah I Semaka. “Kami berharap satwa-satwa yang dilepas dapat berperan dalam pengkayaan ekosistem hutan, dengan menjadikannya agen penyebar biji-bijian dan membantu penyerbukan, pengendali populasi serangga yang berpotensi menjadi hama bagi lahan pertanian dan perkebunan masyarakat sekitar kawasan hutan”, ujar Ismanto. Selain pelepasliaran, Ibu Direktur KKH juga berkesempatan menyerahkan bantuan alat pencacah mantangan yang merupakan jenis tanaman invasif di TNBBS kepada masyarakat desa/pekon Pemerihan, dimana produk olahan jenis invasif tersebut nanti diharapkan sebagai mata pencaharian alternatif masyarakat sekitar kawasan TNBBS. Selain itu, Direktur KKH juga mengunjungi Camp Elephant Patrol Unit Pemerihan-TNBBS. Pada saat kunjungan tersebut, perwakilan mahout memaparkan perkembangan kondisi gajah jinak sebanyak 5 (lima) ekor yang didatangkan dari TNWK pada akhir tahun 2019 dan aktifitas patroli gajah selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan diskusi antara Direktur KKH dengan mahout serta helper yang ada terkait penanganan interaksi kelompok gajah liar yg ada di TNBBS dan sekitarnya. Sementara Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Subakir, mengatakan “Kami siap mendukung program pelepasliaran satwa liar dengan terus memantau satwa pasca pelepasliaran untuk mengetahui bagaimana perilaku alaminya di habitat yang baru.” Kegiatan diatas tak terlepas dari dukungan para mitra Balai Karantina Lampung, JAAN, YABI, Flight. Kerja bersama ini membuktikan telah terjadi kolaborasi yang baik dalam upaya konservasi tumbuhan dan satwa liar di Indonesia. ~Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi? Konservasi adalah tugas kita semua, mari lestarikan satwa liar dan habitatnya!!~ Sumber: Balai KSDA Bengkulu-Lampung
Baca Berita

Dirjen KSDAE Bahas YKAY Bersama GKR Mangkubumi

Yogyakarta 4 Juli 2020 - Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno, M.Sc bertemu dan berdiskusi bersama Dewan Pembina Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), GKR Mangkubumi hari Minggu (4/7/20). Turut hadir pada pertemuan ini, Sekretaris Ditjen KSDAE, Ir. Tandya Tjahjana, M.Si dan Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi, serta perwakilan dari YKAY. Bertempat di Hotel GAIA Cosmo Yogyakarta, pertemuan ini dimaksudkan untuk membahas kondisi YKAY sebagai salah satu lembaga konservasi (LK) dibawah binaan Ditjen KSDAE yang juga merupakan salah satu aset bagi Kulonprogo. Pada kesempatan ini, Kepala Balai KSDA Yogyakarta melaporkan hasil monev pelaksanaan kegiatan YKAY selama 3 bulan terakhir kepada Dirjen KSDAE dan GKR Mangkubumi. Terhitung mulai bulan Maret – Mei 2020, Balai KSDA Yogyakarta mendapat mandat dari Ditjen KSDAE untuk melakukan pendampingan dan supervisi pelaksanaan operasionalisasi YKAY. Apresiasi dan ucapan terimakasih GKR Mangkubumi disampaikan kepada Ditjen KSDAE yang telah memberikan bantuan operasional kepada YKAY melalui Balai KSDA Yogyakarta selama 3 bulan terakhir ini. Lebih lanjut GKR Mangkubumi juga mengharapkan bimbingan dari Ditjen KSDAE dalam mendukung kelanjutan kegiatan YKAY. Beberapa point yang dibahas dalam pertemuan ini antara lain terkait upaya penyelamatan satwa dan pengembalian satwa ke alam yang dilaksanakan melalui kerjasama antara Balai KSDA Yogyakarta dan YKAY seperti kegiatan release 6 (enam) ekor buaya yang sudah dilaksanakan di Taman Nasional Way Kambas dengan menggandeng JAAN beberapa waktu yang lalu. Selanjutnya pada pertengahan bulan Juli 2020 akan dilaksanakan release aves yang terdiri dari 3 (tiga) ekor elang dan 2 (dua) ekor merak hijau ke Taman Nasional Baluran. Untuk mendukung program rehabilitasi orangutan akan dilakukan kerjasama dengan Center of Orangutan (COP) mulai Juni 2020 sampai dengan proses translokasi dan release orangutan. Kerjasama dengan mitra KLHK (LSM/NGO) akan terus dilakukan untuk penggalangan donasi yang ditujukan untuk mendukung program traslokasi dan release satwa liar ke alam. Selain itu juga dibahas langkah tindak lanjut terkait proses perubahan status YKAY dari LK umum menjadi LK khusus. Sebagai penutup kegiatan ini, Dirjen KSDAE menyerahkan piagam penghargaan kepada GKR Mangkubumi sebagai wujud apresiasi Ditjen KSAE kepada GKR Mangkubumi atas peran aktifnya dalam upaya konservasi satwa liar dilindungi. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Tim Pengamanan TSL BKSDA NTB Amankan 30 Keranjang TSL Tanpa Dokumen

Mataram, 2 Juli 2020 - Dengan semangat "New Normal", Tim Pengamanan TSL BKSDA NTB menindaklanjuti laporan masyarakat bahwa ada pengangkutan satwa jenis burung dalam jumlah besar menggunakan Bis DM yang berangkat dari Terimal Dara di Bima menuju Terminal Mandalika Matamam. Pendalaman informasi pun dilakukan dan akhirnya Tim Pengamanan TSL BKSDA NTB memutuskan untuk berangkat menuju Terminal Mandalika dengan tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19. Tim juga berkoordinasi dengan anggota POLDA NTB untuk Penjagaan. Pukul 7 pagi Tim memberhentikan bis dimaksud yang tiba di Terminal Mandalika. Pemeriksaan langsung dilakukan secara menyeluruh didalam maupun dibagasi luar Bus. Tim Pengamanan TSL menemukan sebanyak 33 kotak dengan rincian 3 kotak yang berisi satwa burung tidak dilindungi Dece belang sebanyak 42 ekor dan 30 kotak yang berisi satwa burung Beranjangan sebanyak 1225 ekor. Baik Penumpang maupun Pengemudi Bis tidak dapat menunjukkan dokumen pengangkutan Surat Izin Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN) kepada petugas. AkhirnyaTotal sebanyak 1267 ekor langsung diamankan petugas. Hingga berita ini diturunkan, Satwa telah dipindah ke kandang sementara dan diamankan di kantor BKSDA NTB di Mataram untuk penyelidikan lebih lanjut. Sumber : Balai KSDA NTB
Baca Berita

BKSDA NTB Lakukan Sosialisasi Protokol Kesehatan Pencegahan COVID-19 untuk Kunjungan Kawasan Konservasi

Tunak 2 Juli 2020 - Menyusul terbitnya Surat Edaran Dirjen KSDAE No. SE.9/KSDAE/PJLHK/KSA.3/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang Arahan Pelaksanaan Reaktivasi Bertahap di Kawasan Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan Suaka Margasatwa untuk Kunjungan Wisata Alam pada Masa New Normal Pandemi Corona Virus Diseases 2019 (COVID-19), BKSDA NTB Lakukan Sosialisasi Protokol Kesehatan Pencegahan COVID-19 untuk Kunjungan Kawasan Konservasi di TWA Gunung Tunak, Pujut, Kab. Lombok Tengah. Kegiatan mengundang Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Camat Pujut, Kapolsek Kuta, Kepala Desa Mertak, Kepala Puskesmas Kuta, Babinkamtibnas, Babinsa Desa Mertak Kepala BPD Desa Mertak, Unit Management Tunak Cottage, Kelompok Masyarakat Tunak Besopoq dan FORPAM. Acara berlangsung di Gedung Serbaguna Tunak Cottage 02 Juli 2020. Dalam Pembukaan, Plt Kepala BKSDA NTB Dedy Asriady, S.Si., M.P. menyampaikan bahwa pada dasarnya BKSDA NTB tidak bisa sendiri dan akan tetap dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Provinsi NTB terkait pembukaan kembali Kawasan Konservasi. Pembukaan Kembali (Reaktivasi) Kawasan Konservasi di Seluruh Indonesia Tahap Awal oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tetap terus dimonitoring dan dievaluasi. Dan semoga TWA Gunung Tunak masuk dalam Pembukaan Kembali Tahap selanjutnya dengan penerapan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran COVID-19 di Kawasan Konservasi, khususnya TWA Gunung Tunak. Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Mertak, Satria menyampaikan "Kalau Lombok Tengah dan disini (Desa Mertak) sudah tidak sebanyak kasus daerah lain, jadi mohon Bapak pemangku jabatan dari BKSDA agar bisa segera membuka kembali TWA Gunung Tunak jadi roda ekonomi bisa segera berputar kembali" Zainal Abidin, M.Kes selaku Kepala Puskesmas Kuta Lombok Tengah memaparkan trend penularan COVID-19 di Sekitar Wilayah Kuta. Beliau menceritakan kesiapan puskesmas kuta, bagaimana penanganan pasien suspect Corona, proses penjemputan hingga kerumah dan penanganan untuk mencegah penularan termasuk contact tracking serta proses rapid test dan swab. Beliau menambahkan, "Tempat berkumpul seperti lokasi wisata khususnya di wilayah Lombok Tengah harus mendapat perhatian lebih dalam hal penanganan Corona. Dan Puskesmas Kuta Insya Allah sudah siap menjalankan protokol penanganan pasien COVID-19. Paling tidak dengan APD level 2 dan 3" Berlanjut, Standar Protokol Kesehatan Pencegahan COVID-19 untuk Kunjungan ke Kawasan Konservasi disampaikan oleh Kurniasih Nurafifah, S.Hut., M.Si. Standar Protokol Kesehatan yang disampaikan ditujukan kepada Pengunjung, Petugas dan BKSDA NTB sendiri sebagai pengelola Sarpras. Beberapa diantaranya seperti penggunaan masker selama kunjungan, face shield, jaga jarak, sarung tangan, penyediaan tempat cuci tangan dan hand sanitizer, dsb. Bersamaan dengan sosialisasi, BKSDA NTB juga menyerahkan bantuan senilai 30 juta rupiah sebagai Bantuan Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Masyarakat Daerah Penyangga kepada ‘Tunak Besopoq’. Sesuai rencana, dana bantuan akan digunakan untuk membeli perlengkapan kebutuhan melaut (nelayan) dan peralatan olahan kerupuk dan alat penangkap rajungan. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Kelahiran Gajah “Damar” di Taman Wisata Alam Buluh Cina

Pekanbaru, 3 Juli 2020 – Seekor anak Gajah telah lahir dari pasangan Gajah binaan Robin dan induk bernama Ngatini di TWA Buluh Cina pada hari Jum'at sekitar pukul 05.00 WIB. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Bapak Suharyono, segera meninjau ke lokasi didampingi drh. Rini Deswita dan drh. Danang untuk melakukan pengecekan kesehatan dan pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, penambah darah dan nafsu makan. Anak Gajah berjenis kelamin jantan dengan berat sekitar 50 kg terlihat sehat dan mulai menyusu pada induknya. Sang induk Ngatini, yang saat ini berumur 22 tahun juga terlihat sehat dan bersemangat menyantap makanan yang telah disiapkan para Mahout. Bapak Suharyono menyambut gembira kelahiran Gajah binaan ini yang telah lama dinantikan. Bayi Gajahpun telah diberi nama “Damar” oleh Gubernur Riau, Bapak Syamsuar. Nama tersebut diambil dari nama jenis pohon (Meranti) yang bisa juga bermakna pelita. Disampaikan oleh Bapak Suharyono bahwa dengan berhasilnya kehamilan sampai satwa melahirkan telah menunjukkan bahwa Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina sebagai salah satu kawasan konservasi di Provinsi Riau masih cukup kondusif untuk mendukung kehidupan dan kelestarian satwa liar yang dilindungi. Semoga kelahiran bayi Gajah ini menjadi pertanda bagi keseriusan semua pemangku kepentingan dalam melestarikan Gajah Sumatera di bumi Melayu. Dengan kelahiran “Damar” ini diharapkan akan menambah antusiasme wisata alam di TWA Buluh Cina pada era new normal. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Rinjani Siaga Karhutla

Mataram, Juli 2020. Mengantisipasi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus mendatang, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) telah mengambil langkah-langkah untuk melakukan upaya-upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) antara lain dengan menjaga kekompakan dan soliditas personil. Kepala Balai TNGR juga telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pembentukan Tim Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA) juga digalakkan untuk memperkuat kesiapan dalam mengantisipasi dan pengendalian karhutla di kawasan TNGR. Patroli pencegahan karhutla dalam pelaksanaannya diprioritaskan pada lokasi-lokasi yang rawan terjadi karhutla dengan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk meminimalisir terjadinya karhutla oleh faktor manusia. Selain itu, Tim juga melakukan monitoring titik panas melalui satelit pada waktu-waktu yang telah ditentukan untuk mengetahui sebaran titik panas pada skala provinsi dan nasional. Kerjasama dengan TNI/ POLRI juga terus dimaksimalkan untuk mempermudah proses penanganan karhutla di lapangan serta untuk melakukan koordinasi dan penjagaan terpadu pada titik-titik yang rawan terjadi karhutla. Kampanye dan sosialisasi tentang karhutla dalam waktu dekat juga akan dilaksanakan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya karhutla. Kepala Balai TNGR dalam rapat pembahasan mengenai penjagaan di jalur pendakian dan non pendakian baik di pintu masuk resmi maupun tidak resmi telah memerintahkan agar dilakukan penjagaan sampai bulan Desember 2020 untuk memonitor keluar masuknya para pendaki dan mencegah para pemburu liar memasuki kawasan hutan TNGR. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Edukasi Persiapan Pembukaan Wisata Alam TN Gunung Rinjani

Mataram, 3 Juli 2020. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) melakukan Pembinaan, Sosialisasi dan Edukasi kepada Trekking Organizer Lingkup sekitar TN Gunung Rinjani terkait progres persiapan pembukaan /reaktivasi kunjungan wisata alam TN Gunung Rinjani pada Tahap I dan tata cara permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) melalui sistem Online Single Submission (OSS) di Aula Guest House Rudy Trekker Senaru Lombok Utara (1/7). Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan II beserta staf hadir bersama perwakilan para Trekking Organizer (TO). Kegiatan yang berlangsung mulai dari jam 10 pagi hingga sore hari terdapat beberapa poin yang disepakati diantaranya adalah : Perlunya meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara Balai TN Gunung Rinjani dan Forum Citra Wisata Rinjani dalam rangka mendukung kelancaran penyelenggaraan pengelolaan wisata alam di TN Gunung Rinjani, bagi Trekking Organizer wajib melunasi Pungutan Hasil Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam dan yang telah habis masa berlaku IUPJWA-nya wajib melakukan perpanjangan kembali melalui sistem OSS dan akan difasilitasi oleh Balai TN Gunung Rinjani dan Direktorat PJLHK. Sebagai informasi, trekking organizer adalah penyedia jasa wisata alam yang telah memiliki izin Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam di lingkup Taman Nasional Gunung Rinjani. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Manggala Agni Brigdalkarhut Daops Semitau Siaga Karhutla di Perusahaan Perkebunan Sawit

Semitau, 3 Juli 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) melalui Manggala Agni Brigdalkarhut Daops Semitau terus berupaya melalukan upaya-upaya pencegahan karhutla di masa Pandemi Covid-19. Salah satu upaya pencegahan karhutla yang dilakukan yaitu melalui peningkatan sinergitas dengan para pihak dalam pengendalian karhutla. Wujud nyata dalam peningkatan sinergitas ini dilakukan melalui Sosialisasi dan Pelatihan Pengendalian Karhutla Perusahaan Perkebunan Sawit Kencana Group. Sosialisasi dan pelatihan dalkarhutla ini dilakukan di 3 (tiga) Region Kencana Group meliputi Region Badau, Region Sejiram dan Region Empanang. Kegiatan dimulai dari Region Badau yang dilaksanakan tanggal 22 s/d 23 Juni 2020, Region Sejiram 25 s/d 26 Juni 2020 dan kemudian dilanjutkan di Region Empanang 29 Juni s/d 2 Juli 2020. Rangkaian kegiatan terdiri dari sosialisasi kepada Perangkat Desa, Tumenggung, Patih, Kepala Adat serta tokoh masyarakat di masing-masing desa yang berada di sekitar wilayah perkebunan sawit. Dalam sosialisasi turut dihadiri Kepala BPBD Kapuas Hulu, Dinas Pertanian dan Pangan Kapuas Hulu, Muspika Kecamatan Badau, Semitau, Seberuang, Silat Hulu, Silat Hilir, Kecamatan Empanang, dan Kecamatan Empanang. kegiatan berikutnya yaitu Pelatihan Pengendalian Karhutla bagi Kelompok Tanggap Darurat (KTD) perusahaan perkebunan dan KTD Desa yang dibentuk di masing-masing desa yang berada di wilayah Region Badau, Region Sejiram dan Region Empanang. Pelatihan dalkarhutla meliputi penyampaian materi kelas yang terdiri dari Manajemen Pencegahan Karhutla, Prosedur Pengecekan Lapangan Informasi Hotspot dan Informasi Kebakaran, Pengenalan Peralatan dan Teknik Strategi Pemadaman Karhutla. Kepala Brigdalkarhut Tana Bentarum Ade Arief dalam paparannya menyampaikan bahwa strategi pencegahan karhutla dilakukan dengan berbasis tapak, dimana penguatan desa sebagai pelaksana pengendalian karhutla di tingkat tapak. “Strategi ini dilakukan dengan mengintensifkan upaya pengendalian karhutla dan memperkuat aksi pencegahan di tingkat tapak seperti inventarisasi potensi pada desa-desa rawan karhutla, mengembangkan penerapan teknologi pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dan peningkatan upaya deteksi dini seperti patroli mandiri maupun patroli terpadu dan perlu adanya sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menerapkan pencegahan berbasis desa” tambah Ade Arief. Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak, Gunawan Budi menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengendalian karhutla yang dilaksanakan di perkebunan sawit khususnya Kencana Group merupakan upaya dan komitmen bersama dalam penanggulangan karhutla. “ Perlu ada inovasi-inovasi dalam upaya pengendalian karhutla, mengingat pada saat ini kita semua dihadapkan dengan pandemi covid-19, sehingga menjadi tantangan dalam penanganan karhutla pada tahun ini”, tuturnya. Gunawan juga menambahkan dengan adanya pelatihan pengendalian karhutla pengetahun dan keterampilan KTD Perkebunan dan KTD Desa dalam pengendalian karhutla semakin meningkat. “Kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah nasional sehingga setiap komponen harus berperan aktif dalam pengendaliannya, baik itu pemerintah, masyarakat dan dunia usaha (swasta). Jika semua unsur berperan aktif dan memiliki kemampuan dalam pengendalian karhutla maka ancaman karhutla akan dapat diminimalisir” pungkas Arief Mahmud Kepala Balai Besar TaNa Bentarum. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Penghijauan Kawasan SM Balai Raja Bersama Masyarakat

Pekanbaru, 1 Juli 2020 - Petugas Resort Duri Balai Besar KSDA Riau kembali melakukan kegiatan penghijauan di kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja. Setelah melakukan patroli mandiri di kawasan konservasi tersebut, petugas mengajak masyarakat yang berada di sekitar untuk melakukan penanaman bibit pohon di areal yang terbuka. Areal terbuka tersebut sempat diolah dan ditanami warga. Namun, Petugas Resort Duri semangat melakukan penghijauan kembali dengan mengajak masyarakat. Petugas juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar bahwa perambahan kawasan dapat dikenai sanksi. Setelah dilakukan sosialisasi tersebut, masyarakat atas inisiatifnya sendiri membantu kegiatan penghijauan kawasan SM Balai Raja.... Petugas dan masyarakat berhasil menanam di SM Balai Raja, bibit pohon Petai 45 bibit, Cempedak 45 bibit, Nangka 30 bibit, Gaharu 30 bibit, Durian 30 bibit dan Matoa 30 bibit. Total seluruh bibit yang berhasil ditanam berjumlah 210 bibit. Kegiatan penghijauan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kelestarian kawasan konservasi dan bagi masyarakat sekitar. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Persiapan Sekretariat Forum Komunikasi dan Koordinasi Cagar Biosfer Lore Lindu

Palu, 26 Juni 2020. Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu sebagai Sekretaris Forum Koordinasi dan Komunukasi Cagar Biosfer Lore Lindu (FKKCBLL) bersama GIZ (Deutsche Gesellsschaft fur Internationale Zusammenarbeit) FORCLIME menginisiasi diadakannya pertemuan anggota Forum KKCBLL ini di Gedung Kantor Balai Besar TN Lore Lindu, Kamis (25/06/2020). Selain ajang silahturahmi diantara anggota-anggota FKKCBLL juga didiskusikan terkait rencana operasionalisasi FKKCBLL dan penentuan prosedur dan kriteria indikator pemakaian logo Cagar Biosfer Lore Lindu (CBLL) terhadap produk/komoditas yang dihasilkan dari CBLL untuk disertifikasi seperti kopi, kakao, kelapa, dan produk olahannya. Pertemuan ini juga menginisiasi Gedung Kantor Balai Besar TN Lore Lindu untuk dijadikan sebagai sekretariat FKKCBLL. “Komunikasi bersama untuk saling support dalam kerja-kerja FKKCBLL perlu diintegrasikan pada program-program kerja yang ada di masing-masing instansi anggota FKKCBLL” ujar Jusman selaku Kababes TNLL dalam sambutannya. “Dalam operasional sekretariat ini bisa dijadikan sebagai tempat untuk promosi yang terintegrasi terutama dalam memperkenalkan produk-produk komoditi hasil pemberdayaan masyarakat” ungkap Jusman menambahkan. Cagar Biosfer (CB) adalah sebuah konsep pengelolaan site untuk mengharmonisasikan kebutuhan untuk konservasi biodiversitas, pembangunan sosial ekonomi dan dukungan logistik serta merupakan ekosistem daratan dan pesisir/laut yang secara internasional diakui keberadaannya dalam rangka program Manusia dan Biosfer dari UNESCO. Tujuannya untuk menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam. Di Propinsi Sulawesi Tengah terdapat 2 (dua) CB yaitu Cagar Biosfer Lore Lindu (CBLL) dan Cagar Biosfer Kepulauan Togean Tojo Una-una. Kawasan Lore Lindu dengan area inti Taman Nasional Lore Lindu, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai CBLL sejak tahun 1977, mencakup kawasan konservasi, lansekap alami dan kawasan budidaya yang perlu dikelola secara terintegrasi, terkoordinasi dan sinergi antar instansi yang berwenang melalui pembagian peran dan tanggungjawab agar dapat memberi manfaat dalam mendukung dan menyelaraskan konservasi keanekaragaman hayati, pembangunan berkelanjutan, penelitian dan pendidikan. CBLL ini terdiri dari kawasan TN Lore Lindu (zona inti), wilayah adminstratif Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong dan Poso (zona transisi dan penyangga). Dalam pengelolaan CBLL dilaksanakan oleh Forum Koordinasi dan Komunukasi Cagar Biosfer Lore Lindu (FKKCBLL) yang anggotanya terdiri dari berbagai instansi pemerintah dan akademis di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Tengah No.522.51/285/BAPPEDA-G.ST/2018. Forum ini diketuai oleh Kepala BAPPEDA Propinsi Sulawesi Tengah. Dalam operasionalnya FKKCBLL terdiri dari bidang konservasi, pendidikan dan penelitian; bidang pemberdayaan masyarakat; bidang pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan; majelis ilmiah; dan sekretariat. Sumber : Balai Besar TN Lore Lindu/(DH)
Baca Berita

Sosialisasi New Normal dan Pendidikan Lingkungan Ala BTN Bukit Baka Bukit Raya

Sintang, 3 Juli 2020. Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) menggelar Family Gathering dengan tema “Pendidikan Lingkungan dan Sosialisasi New Normal bagi Keluarga Besar Balai TNBBBR akhir pekan kemarin (2/7). Selain untuk mempererat keakraban dan kekeluargaan para pegawai lingkup BTNBBBR yang berdomisili di Kabupaten Sintang, sekaligus sebagai wahana mengkampanyekan pola hidup new normal melalui pijakan menjaga jarak, memakai masker, rutin cuci tangan, menjaga kebersihan serta beberapa protokol pencegahan COVID-19 sebagaimana arahan Satgas Penanganan COVID-19. Kegiatan ini juga memberikan penyegaran bagi anak-anak usia dini dan anak usia sekolah yang sudah cukup lama berdiam diri di rumah akibat diliburkan dari rutinitasnya. Sekitar dua puluh keluarga turut berpartisipasi, mulai dari tingkat struktural dan staf dengan menggunakan masker mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Kegiatan dimulai dengan agenda pemberian arahan implementasi pola hidup new normal bagi pegawai BTNBBBR beserta segenap keluarga. Ketua panitia kegiatan Bpk. Sigit Purwanto, S.Si., M.Si. memberikan pesan kepada seluruh peserta untuk benar-benar menjaga kesehatan diri dan menerapkan protokol pencegahan COVID-19 dalam menjalani periode baru di era new normal. Ketua panitia juga berpesan agar seluruh pegawai dan keluarga terbiasa mendisiplinkan diri untuk mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga kesehatan. Kegiatan dilanjutkan dengan agenda jalan sehat di sekitar kompleks perkantoran Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo Sintang dengan tetap memperhatikan kaidah social distancing serta kampanye cuci tangan bagi anak-anak yang dibimbing oleh Ivonne Panggabean S.Hut. Muatan pendidikan konservasi disisipkan melalui agenda nonton bareng film “Cerita Si Rimba” yang dipandu langsung oleh Kepala Balai TNBBBR Bapak Agung Nugroho, S.Si, M.A. dan Ka. SBTU Bapak Doni Maja Perdana, S.Hut. Kepala Balai TNBBBR bersama Ka. SBTU memberikan kesempatan kepada seluruh anak pegawai untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan pengantar film “Cerita Si Rimba”, tentang anak orangutan korban perburuan liar, yang kemudian dijadikan hewan peliharaan. Kegiatan ini ditutup dengan pesan dari Kepala BTNBBBR kepada seluruh peserta agar senantiasa menjaga kebersihan, menerapkan pola hidup sehat dan mengimplementasikan protokol pencegahan COVID-19 dalam menghadapi era new normal, peduli terhadap kelestarian lingkungan dan menyayangi satwa. Sumber : Helmy Adhi Kusuma, S.Hut., M.E. - Penyuluh Kehutanan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum, Kembali Fasilitasi Calon Siswa SMK Kehutanan Negeri Samarinda

Putussibau, 3 Juli 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) kembali memfasilitasi calon peserta didik baru SMK Kehutanan Negeri Samarinda tahun ajaran 2020/2021 melalui kegiatan penerimaan daftar ulang calon peserta didik selama 4 (empat) hari sejak tanggal 1 Juli hingga 4 Juli 2020. Fasilitasi calon peserta didik SMK Kehutanan Negeri Samarinda ini merupakan bentuk dukungan Balai Besar Tana Bentarum bersama Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM KLHK dan Pemerintah Daerah dalam penyediaan SDM unggul yang secara khusus mempunyai keterampilan dalam bidang kehutanan terutama bagi siswa yang berada disekitar kawasan. Untuk provinsi Kalimantan Barat Lokasi penyampaian berkas daftar ulang dibagi menjadi Empat lokasi yaitu Pontianak, Kubu Raya, Kapuas Hulu dan Ketapang. Sebanyak 14 calon peserta didik yang berasal dari Kapuas Hulu penyampaian berkas daftar ulangnya dikumpulkan di Kantor Balai Besar Tana Bentarum, dimana calon peserta didik tersebut berasal dari beberapa kecamatan seperti Putussibau, Batang Lupar, Mentebah, Kalis dan Selimbau dan sebagian merupakan masyarakat yang tinggal dikawasan penyangga Taman Nasional. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahunnya sejak tahun 2016 lalu, namun kegiatan tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya dikarenakan pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung. “Hampir kurang lebih 60% luas Kabupaten Kapuas Hulu merupakan kawasan hutan, sehingga dibutuhkan SDM yang terampil dalam bidang pengelolaan kehutanan, melalui fasilitasi ini telah diperoleh lulusan yang telah melalui pendidikan di SMK Kehutanan dan dengan begitu akan banyak SDM unggul dan terampil yang diharapkan bisa mengelola kawasan hutan di Kabupaten Kapuas Hulu” jelas Arief Mahmud selaku Kepala Balai Besar Tana Bentarum. Dalam pendaftaran calon peserta didik baru, peserta diwajibkan membawa formulir pendaftaran yang diunduh dari link yang telah disediakan, surat pernyataan bermaterai, akte kelahiran asli dan fotocopy, kartu keluarga asli dan fotocopy, surat keterangan lulus asli, raport asli, dan seluruh berkas dimasukkan kedalam amplop coklat. “Dengan menjadi siswa di SMK Kehutanan Negeri Samarinda bisa membantu anak kami mendapatkan ilmu dan keterampilan di bidang kehutanan dan dapat diterapkan untuk kedepannya, karena kehidupan dan kampung kami berada di sekitar kawasan hutan” ungkap Janulius orang tua salah satu calon peserta didik. “Untuk calon peserta didik yang sedang mengikuti test agar tetap menyiapkan diri sebaik mungkin sehingga bisa mengikuti tahapan seleksi dengan baik dan menghasilkan kualitas peserta yang handal” tegas Arief Mahmud. (3/7) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Pemasangan Larangan perburuan satwa dan larangan penebangan liar dalam kawasan di Kecamatan Siabu Resort 1 Hutagodang Muda Seksi PTN wilayah I Siabu

Mandailing Natal, 2 Juli 2020. Balai TN Batang Gadis sebagai pengelola kawasan tentunya mempunyai peran utama dalam menjaga keseimbangan tersebut. Apabila ekosistem tidak seimbang tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik satwa dengan manusia. Dimana keseimbangan tersebut termasuk meliputi sumber pakan dan kelestarian habitat. Disamping itu, kegiatan penebangan liar dalam kawasan akan mengganggu habitat dari satwa. Pemasangan Larangan perburuan satwa dan larangan penebangan liar dalam kawasan sebuah terobosan baru berkat kerjasama antara Balai TN Batang Gadis dengan Stakholder. Menyampaikan Peraturan atau Undang-Undang yang mengatur tentang larangan perburuan satwa dan larangan penebangan liar dalam kawasan kepada masyarakat melalui pemasangan Baliho bertujuan untuk agar masyarakat sekitar khususnya Kecamatan Siabu Resort 1 Hutagodang Muda memahami dan tidak lagi berburu satwa yang dilindungi dan tidak melakukan penebangan liar dalam kawasan taman nasional. Kepala Balai TN Batang Gadis berharap pemasangan Baliho akan berdampak baik terhadap kelestarian kawasan TN Batang Gadis dan flora fauna yang berada didalamnya . Dalam hal ini Camat Kec. Siabu mendukung kegiatan ini dan berharap terus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang larangan perburuan satwa dan larangan penebangan liar di kawasan taman nasional. Selain itu, Kapolsek Siabu dan Danramil 12 Siabu akan bekerjasama dengan pihak Balai Taman Nasional Batang Gadis dalam penanganan konflik satwa maupun penanganan penebangan liar apabila terjadi di dalam dan sekitar kawasan. Tim LINHUT Balai TNBG akan terus melakukan sosialisasi dan menyampaikan kepada masyarakat agar tidak melakukan perburuan satwa yang dilindungi maupun penebangan liar dan bekerjasama untuk melakukan pengawasan terhadap orang tidak bertanggungjawab terhadap tindak pidana kehutanan. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Giat Patroli Bersama MMP (Masyarkat Mitra Polhut) SPTN Wilayah III Muarasoma

Mandailing Natal, 2 Juli 2020. Patroli bersama masyarakat mitra polhut ini dimaksudkan sebagai langkah kegiatan preemtif dan preventif. Tujuannya adalah untuk mencegah menghilangkan, mengurangi, menutup niat dan kesempatan seseorang atau kelompok untuk melakukan tindak pidana kehutanan. Kegiatan ini juga dilakukan untuk menindak lanjuti laporan bahwasanya adanya ancaman terhadap kawasan Taman Nasional Batang Gadis di wilayah Desa Tor Naincat. Patroli MMP ini dilaksanakan oleh personil Polisi Kehutanan Taman Nasional Batang Gadis dan personel MMP (Masyarakat Mitra Polhut) diketahui oleh Stakeholders lainnya serta dibantu oleh pemandu dari Masyarakat Mitra Polhut. Metode Patroli MMP yang digunakan sesuai petunjuk teknis dan rencana kerja patroli adalah dengan metode SMART-RBM (Spatial Monitoring and Reporting Tool Resort Based Management) yaitu jelajah dengan cara menyelusuri jalur/track patroli yang sudah ada atau sudah pernah di tempuh dan juga dengan merintis atau membuka jalur baru untuk menuju tempat tertentu yang diinginkan dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Serta mengamati dan mencatat potensi kawasan Taman Nasional berupa pertemuan satwa baik langsung maupun tidak langsung, tumbuhan langka dan fitur alami yang ada di sekitar jalur patroli, tim patroli memasang plang tanda batas sebagai petunjuk bagi masyarakat tentang batas kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Tim melakukan sosialisasi tentan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan flora fauna yang berada dikawasan TNBG. Masyarakat Desa Tor Naincat menyambut baik dan mendukung kegiatan konservasi di desa ini dan berharap Desa Tor Naincat bisa dikembangkan melalui potensi hutan dan objek wisata alam untuk menunjang kebutuhan wisatawan. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Penemuan Satu Bangkai Penyu Belimbing di Lombok Timur

Lombok Timur, 2 Juli 2020. BKSDA NTB menerima laporan Babinsa Desa setempat terkait penemuan bangkai satu ekor Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang ditemukan terdampar di Pantai Maringkik Desa Maringkik, Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Penyu tersebut ditemukan oleh seorang warga Maringkik pukul 06.00 WITA pagi pada tanggal 28 Juni 2020. Penyu tersebut ditemukan warga dalam kondisi sudah membusuk dan mengeluarkan bau menyengat. Tim BKSDA NTB belum dapat menentukan penyebab pasti kematian serta usia penyu karena Kepala Desa mengakui sejak ditemukan dan mengeluarkan bau yang begitu menyengat, warga berinisiatif menyeret bangkai penyu untuk langsung dihanyutkan ke tengah laut. Wawancara singkat bersama Kepala Desa Maringkik menyebutkan perkiraan ukuran Penyu Belimbing tersebut yakni dengan panjang 250cm dan lebar 150cm dan telah mati sekitar 4 hari yang lalu sejak ditemukan. Kepala Desa memperkirakan kematian diduga akibat benturan benda keras seperti batu dan karang karena ditemukan luka benturan di beberapa bagian tubuh penyu yang kemudian Bangkai Penyu hanyut dan terdampar di lokasi. Sebagai informasi, Penyu Belimbing merupakan salah satu jenis penyu yang dilindungi Undang-undang. Jenis Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) dewasa mampu mancapai ukuran panjang hingga 2,2 meter dengan berat bervariasi mulai dari 250kg hingga 700kg. Di Provinsi NTB sendiri, Penyu Belimbing sering ditemukan mendarat untuk bertelur di daerah Pantai Lunyuk Sumbawa Besar. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Menampilkan 3.409–3.424 dari 11.141 publikasi