Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pemantauan Kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil

Pekanbaru, 15 Juli 2020. Petugas Resort Duri melakukan kegiatan patroli mandiri di kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil di Desa Tasik Serai, Kabupaten Bengkalis. Petugas berjumpa dua orang masyarakat yang sedang membuat pondok kerja dibukaan lahan seluas ± 28 Ha yang berada didalam kawasan SM. Giam Siak Kecil. Petugas segera memberikan surat peringatan dan surat pernyataan agar tidak melanjutkan pembuatan pondok. Selain itu, petugas juga melakukan pemasangan papan rambu-rambu kawasan, dikarenakan dalam menuju arah Dusun Geronggang masih dijumpai bekas aktivitas illegal logging. Mari kita bersama-sama menjaga dan melakukan pengawasan terhadap hutan kita, karena disanalah sumber udara bersih, pengatur tatanan air dan sumber plasma Nutfah yang beragam untuk menopang kehidupan kita, sehingga upaya menjaga kelestarian hutan harus terus dilakukan dengan berbagai cara. "Hutan bukan warisan untuk anak cucu kita tapi Hutan adalah titipan dari anak cucu kita." Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Balai KSDA Yogyakarta Kembali Lepas Satwa Langka di Taman Nasional Baluran

Situbondo 15 Juli 2020, Perjalanan panjang burung pemangsa dan merak hijau menuju kebebasannya akhirnya terwujud. Balai KSDA Yogyakarta bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Baluran (TN Baluran), Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) dan The Centre for Orangutan Protection (COP) kembali melepasliarkan sebanyak 7 (tujuh) ekor aves terdiri atas 1 (satu) ekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela), 1 (satu) ekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) Fase Gelap, 1 (satu) ekor Elang Laut Perut Putih (Haliaestus leucogaster), 4 (empat) ekor Merak Hijau (Pavo muticus) di kawasan Savana Bekol, TN Baluran, Rabu (15/7). Hadir dalam ceremony pelepasliaran Kepala Balai Taman Nasional Baluran, Pudjiadi, S.Sos, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Muhammad Wahyudi, Ketua YKAY, Tarko Sudiono, dan Perwakilan COP. Pada sambutannya, Wahyudi menjelaskan bahwa keenam aves yang dilepasliarkan ini merupakan titipan Balai KSDA Yogyakarta yang direhabilitasi di Taman Satwa YKAY. “Keenam aves yang dilepasliarkan hari ini terdiri dari 3 (tiga) ekor Elang dan 3 (tiga) ekor Merak merupakan hasil dari kegiatan penegakan hukum dan penyerahan masyarakat dan telah menjalani proses rehabilitasi di Taman Satwa YKAY. Sebelum dilakukan proses translokasi, terhadap satwa tersebut juga telah dilakukan banding dan penandaan sebagai tahap akhir sebelum dilepasliarkan”. kata Wahyudi. Lebih lanjut Wahyudi menjelaskan, “Satwa yang dilepasliarkan ini juga telah dilakukan proses habituasi terlebih dahulu di Taman Nasional Baluran selama tiga hari.” jelasnya. Sementara itu Pudjiadi menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kerjasama dengan Balai KSDA Yogyakarta selama ini. “Kami mengapresiasi kerjasama yang dilakukan bersama Balai KSDA Yogyakarta. Burung-burung yang direlease hari ini memang cocok dilepasliarkan di Baluran karena kawasan ini merupakan habitat yang sesuai untuk satwa-satwa tersebut, sehingga dapat mendukung terhadap pengkayaan genetik di kawasan TN Baluran. Pada kesempatan ini tambahan 1 ekor Merak hijau yang dilepasliarkan berasal dari serahan masyarakat Situbondo kepada Balai Taman Nasional Baluran” tuturnya. Kegiatan pelepasliaran satwa tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan monitoring pasca release dan sekaligus untuk menunjang kegiatan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat sekitar mengenai nilai penting keberadaan aves dalam ekosistem. Proses pelepasliaran saat ini harus dilaksanakan dengan berpedoman pada Petunjuk Teknis Pelepasliaran Satwa Liar di Masa Pandemi Covid-19. Pelepasliaran satwa ini merupakan kegiatan road to HKAN 2020 dengan mengusung tema “Nagara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam”. Rangkaian road to HKAN Balai KSDA Yogyakarta telah dimulai sejak Maret 2020. Direncanakan pada bulan Oktober 2020, dilakukan pelepasliaran 2 ekor raptor jenis Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan Elang Hitam (Ictinaetus malaiensis) yang direhabilitasi di Stasiun Flora Fauna Bunder, saat ini sedang menunggu hasil assesment lebih lanjut. Sumber : Y. Andie Chandra (PEH Balai KSDA Yogyakarta)
Baca Berita

Patroli Desa Jinato, Bentuk Alternatif Pendanaan Kolaboratif Pengamanan Tingkat Tapak

Kepulauan Selayar, 16 Juli 2020. Hari libur bukan berarti libur buat tim di lapangan. Petugas tetap menjalankan tugas menjaga kawasan. Dan kali ini melaksanakan patroli rutin bersama yang diinisiasi oleh aparat Pemerintah Desa Jinato pada minggu, 12 juli 2020 lalu. Kegiatan patroli ini bertujuan untuk menghalau terjadinya tindak pelanggaran ilegal dan destruktif fishing. Sebelum bergerak, tim melakukan diskusi penentuan rute, mendatangi taka-taka yang disinyalir rawan tindak ilegal fishing dan destruktif fishing. Selain itu tim juga memeriksa kapal-kapal serta dokumen kapal yang dijumpai. Kepala SPTN 2 jinato Aisyah Amnur berterima kasih kepada ibu kepala desa Andi Sulistilawanti atas inisiasinya melakukan patroli pengamanan di wilayahnya, dan menugaskan Sdr. Dadang Hermawan selaku Resor jinato untuk turut serta dalam kegiatan tersebut. "Ada dua kapal yang kami temui yang berasal dari luar kawasan, dan kami sempat menghalau perahu yang hendak melakukan tindak pelanggaran ilegal fishing di Taka Salo," jelas Dadang Tim pun melakukan pengejaran namun kapal yang digunakan lebih laju dan ukurannya kecil sehingga sulit melakukan penangkapan. Ini adalah bentuk alternatif pendanaan kolaboratif untuk pengawasan penegakan hukum ditingkat tapak. Kolaborasi adalah kunci untuk memastikan terjaganya sumberdaya alam di dalam kawasan konservasi. Bersama-sama menjaga untuk TN Taka Bonerate tetap utuh. Sumber Teks : Asri - PEH, Foto : Dadang Hermawan, Balai Taman Nasional Takabonerate
Baca Berita

Transplantasi Karang di TWA Teluk Youtefa, BBKSDA Papua

Jayapura, 15 Juli 2020. Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Yomomoi binaan Balai Besar KSDA Papua melakukan kegiatan transplantasi karang. Kegiatan berlangsung Rabu, (15/7) di Kawasan Wisata Alam Teluk Youtefa, Kampung Nafri, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020. MMP Yomomoi menyediakan sebanyak 123 media dan bibit, terdiri atas karang jenis montipora tuberculosa dan mentipora stilosa. Transplantasi ini dilakukan pada wilayah karang yang sudah mengalami kerusakan. Umumnya penyebab kerusakan adalah pengambilan ikan dengan cara tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bom ikan. Diharapkan kegiatan ini dapat memulihkan kembali ekosistem karang yang telah rusak dan populasi biota laut di Kawasan Kampung Nafri dapat meningkat. Lebih lanjut, transplantasi karang ini dapat menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan kepedulian, kesadaran, dan kecintaan masyarakat Kampung Nafri terhadap ekosistem karang. Ke depan, wilayah tersebut dapat menjadi bagian dari tujuan wisata alam. Hadir dalam kegiatan ini, Balai Besar KSDA Papua, Kepala Dinas Perindagkop Kota Jayapura, Kepala Kampung Nafri, sekretaris Kampung Nafri, perwakikan Ondoafi Nafri, serta anggota kelompok MMP. Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., mengajak kepada seluruh peserta dan masyarakat untuk mencintai lingkungan, termasuk menjaga dan melestarikan terumbu karang. "Memulihkan ekosistem laut yang rusak perlu diupakan secara maksimal. Karena salah satu pertimbangan penunjukan Kawasan TWA Teluk Youtefa adalah untuk melestarikan terumbu karang sebagai rumah bagi ikan-ikan yang beraneka ragam di Teluk Youtefa," kata Edward. Beliau juga berterima kasih kepada Pemerintah Kota Jayapura, juga Pemerintah Kampung Nafri. Secara khusus, Edward memberikan apresiasi kepada kelompok MMP Yomomoi yg telah memulai melakukan transplantasi karang di TWA Teluk Youtefa, wilayah Kampung Nafri. [] Sumber: BBKSDA Papua
Baca Berita

Sosialisasi dan Simulasi Reaktivasi OWA Jurang Jero, Taman Nasional Gunung Merapi

Magelang, 15 Juli 2020. Sesuai SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor: SK.261/ MENLHK/KSDAE/KSA.0/ 6/2020 tentang Reaktivasi Kawasan Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA) dan Suaka Margasatwa (SM) untuk Kunjungan Wisata Alam dalam Kondisi Transisi Akhir Covid-19, TN Gunung Merapi termasuk salah satu kawasan taman nasional yang akan dibuka pada tahap pertama bersama 29 kawasan TN/TWA yang ada Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, Balai TN Gunung Merapi menindaklanjuti dengan melakukan beberapa hal, diantaranya koordinasi dengan para pihak, melakukan penataan sarana prasarana kawasan OWA Jurang Jero sebagai pendukung wisata di era New Normal, serta menyusun Protokol Kunjungan Wisata di OWA Jurang Jero. Sosialisasi dan simulasi reaktivasi OWA Jurang Jero merupakan salah satu tahapan persiapan reaktivasi OWA di lingkup Balai TNGM. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Juli 2020, dengan dihadiri oleh Bupati Magelang, Zaenal Arifin, S.IP. Hadir juga dalam kesempatan ini, beberapa Kepala Dinas lingkup Kabupaten Magelang, perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK lingkup D.I Yogyakarta dan Jawa Tengah, Forkompimca Srumbung, Mitra TNGM serta stakeholder lainnya. Reaktivasi OWA Jurang Jero dilakukan secara bertahap, mengikuti protokol kesehatan bagi masyarakat/pengunjung dalam rangka pencegahan dan pengendalian COVID-19. Penyusunan tahapan prosedur Reaktivasi OWA Jurang Jero menerapkan 7 (tujuh) prinsip dasar protokol kesehatan, sesuai Surat Edaran Sekretaris Daerah Kabupaten Magelang Nomor: SE.440.1/1625/01.02.2020 tentang Mekanisme Penerapan Persiapan Menuju Tatanan Kenormalan Baru Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (COVID 19) di Kabupaten Magelang, yaitu: pengecekan suhu tubuh di bawah 37,30 C, penggunaan masker, cuci tangan dengan sabun dan Hand Sanitizer, desinfektasi secara berkala, penerapan jarak minimal 1 (satu) meter, menghindari kerumunan, dan disiplin mematuhi protokol Kesehatan. Tahapan selanjutnya setelah sosialisasi dan simulasi, kemudian dilaksanakan uji coba reaktivasi OWA Jurang Jero, yang kemudian dievaluasi sebelum dilakukan pembukaan OWA secara resmi. Reaktivasi OWA Jurang Jero secara resmi akan dilaksanakan setelah semua tahapan terpenuhi dan memenuhi syarat untuk dilanjutkan. OWA Jurang Jero sebagai salah satu OWA TNGM dengan luas 66,38 Ha, menyimpan beberapa potensi atraksi alam berupa pemandangan Gunung Merapi dari lereng barat, udara segar, lanskap hutan Pinus, dan Camping Ground serta atraksi wisata Jeep Adventure, ATV, downhill, taman bermain alam, dan sebagainya. Daya dukung dan daya tampung (DDDT) kawasan untuk OWA Jurang Jero ini kurang lebih 1.785 orang/hari, sehingga ditetapkan kuota pengunjung pada tahap I 180 orang (10%) , tahap II 360 orang (20%), tahap III 535 orang (30%). Penetapan pengunjung di masa New Normal ini maksimal 50% dari DDDT. Harapan kami, melalui reaktivasi OWA Jurang Jero, Balai TNGM dapat turut menggeliatkan roda perekonomian di sekitar kawasan konservasi, tentunya dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan yang berlaku. Sumber : Titin Septiana – BTN G.Merapi
Baca Berita

Cegah Peredaran Illegal Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) BKSDA Kalsel Gandeng Indonesia Off-road Federation (IOF)

BANJARBARU, 16 JULI 2020 – Indonesia Off-Road Federation Kalsel adalah organisasi yang mewadahi para penghobi otomotif, dalam kegiatannya IOF sering melakukan kegiatan sosial dalam bentuk bakti sosial, rescue dan pariwisata. Pada hari Kamis (16-07-2020), BKSDA Kalimantan Selatan bersama dengan IOF Kalsel melakukan pertemuan di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan. Pertemuan tersebut membahas terkait peran serta IOF dalam kegiatan konservasi khususnya dalam perlindungan tumbuhan dan satwa liar. Salah satu agenda yang direncanakan oleh IOF adalah ikut mendukung dan membantu BKSDA Kalsel terkait upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar diseluruh daerah Kalimantan Selatan. Hal tersebut dilatarbelakangi karena maraknya perburuan tumbuhan dan satwa liar di pedalaman daerah Kalimantan Selatan yang dilihat langsung oleh para anggota IOF. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi M. Sc sangat mengapresiasi sekali dengan rencana aksi sosial dari IOF Kalsel yang disampaikan langsung oleh Ketua Pengda IOF Kalsel Bapak Hariyadi tersebut dalam upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar. Karena memang keberhasilan upaya pelestarian dan perlindungan tumbuhan dan satwa liar tidak akan bisa berjalan jika hanya BKSDA saja, perlu dukungan para pihak termasuk komunitas-komunitas yang peduli terhadap lingkungan. IOF yang mempunyai hobby keliling daerah terpencil sangat tepat untuk terlibat dalam sosialisasi pencegahan TSL secara illegal. Kedepan BKSDA Kalsel akan mengajak para komunitas yang peduli terhadap tumbuhan dan satwa liar untuk turut serta sosialisasi dan menyuarakan serta mengajak kepada masyarakat bahwa pentingnya menjaga alam (habitat), tumbuhan dan satwa liar disekitar kawasan hutan untuk keberlangsungan hidup bersama. Hal tersebut sangat perlu dilakukan karena tanpa hutan, tanpa tumbuhan, dan tanpa adanya satwa liar, manusia tidak akan bisa bertahan hidup, karena pada dasarnya manusia dan alam saling ketergantungan. Diharapkan dengan adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan alam dengan melakukan upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar, alam kita tetap terjaga dan masyarakat pun sejahtera serta dimasa depan nanti anak cucu kita bisa tetap menikmati kekayaan alam Indonesia. (ryn) Sumber : R. Hafizh Muhardiansyah, A.Md (Staf BKSDA Kalsel)
Baca Berita

Irwansyah Serahkan Kukang ke BBKSDA Sumatera Utara

Medan, 15 Juli 2020. Bermula pada Jumat, 10 Juli 2020, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menerima informasi dari masyarakat tentang adanya warga yang akan menyerahkan kukang. Kemudian pada Sabtu 11 Juli 2020, Tim mendatangi kediaman warga yang bernama Irwansyah, warga Jl. Pusaka Pasar 13 Bandar Kalipa, Kabupaten Deli Serdang. Irwansyah menyerahkan 1 ekor Kukang (Nycticebus coucang) dan diterima langsung oleh Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Amenson Girsang, SP. Irwansyah dalam keterangannya kepada petugas menyebutkan, Kukang diperolehnya sekitar bulan Maret 2020, ketika satwa tersebut berada diatas pohon nangka yang berada di halaman rumahnya. Saat itu dia tidak mengetahui bahwa Kukang merupakan salah satu satwa yang dilindungi. Namun setelah mendapat informasi dari warga lainnya, segera Irwansyah menghubungi Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menyerahkan satwa tersebut. Kukang yang dalam kondisi kurus dan tidak terawat,selanjutnya dititipkan ke Yayasan Program Konservasi Spesies Indonesia (YPKSI) di Desa Rumah Pilpil, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang untuk dilakukan rehabilitasi, setelah terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan. Sumber : Amenson Girsang, SP. Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kukang saat direhabilitasi di lokasi YPKSI di Desa Rumah Pilpil Sibolangit
Baca Berita

Melanjut Asa yang Tertunda

Rabu, 15 Juli 2020 - Sudah sejak tahun 2018 pengembangan wisata alam Curug Luhur dan Landbouw sudah dicanangkan sebagai role model pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat. Curug Luhur diharapkan dapat membantu kesinambungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Kuncinya adalah kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal terhadap pentingnya konservasi dan pemeliharan kawasan Curug Luhur dan Landbouw di wilayah Resort PTN Pasir Hantap, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kesadaran masyarakat lokal merupakan ruh dari partisipasi, oleh karenanya perlu ditumbuhkembangkan secara sistematis dan terencana. Kemauan, kesempatan, dan kemampuan sebagai prasyarat untuk berpartisipasi harus tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. Sebab, masyarakat lokal sendiri yang seharusnya memperoleh manfaat pertama dan utama dari pengembangan Curug Luhur dan Landbouw. Resort PTN Pasir Hantap berinisiatif melanjutkan kembali program pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Sebagai langkah awal dilakukan diskusi dengan para pihak terkait, diantaranya perwakilan Desa Ginanjar dan Desa Ambarjaya, Puslitbang Kehutanan (Landbouw), Ketua Volunteer Cantigi, Ketua KTH Lestari Alam Sejahtera, perwakilan pemuda Kp. Genteng dan Kp. Lembur Pasir, masyarakat Lembur Pasir, serta perwakilan “Forum Masyarakat Ciambar (FORMABAR)” yang diharapkan dapat membangkitkan lagi gairah membangun destinasi wisata yang berkelas dunia. Diskusi dibuka oleh Luki Turniajaya, Kepala Seksi PTN Wilayah IV Situgunung. Luki menyampaikan, "Saatnya kita memanfaatkan hutan bukan dari kayu lagi, namun dapat memanfaatkannya dari jasa lingkungan salah satunya wisata. Wisata berkembang, kawasan lestari, dan kesejahteraan masyarakat meningkat", tambah Luki membuka acara diskusi. Diskusi cukup interaktif, Anton salah satu perwakilan dari Volunteer Cantigi menyampaikan harapan dan sarannya, "Harapan kami sebagai volunteer di TNGGP, siap turut berpartisipasi dalam pengembangan wisata di kedua obyek wisata Resort Pasir Hantap. Baik dari penyusunan program wisata maupun sebagai pelaksana langsung di lapangan". Anton juga mengingatkan ketika wisata telah berjalan tantangan atau permasalahan tidak menutup kemungkinan akan muncul, kita harus siap dengan kendala tersebut, himbau Anton mengingatkan. Status area Curug Luhur saat ini adalah Zona Pemanfaatan dengan luas ± 2 Ha, dan area sekitar Curug Luhur merupakan Zona Rehabilitasi. Curug Luhur dengan tinggi curug -/+ 30 m dan terletak di ketinggian -/+ 535 m dpl berada pada alur Sungai Cipamutih yang secara administratif masuk di Desa Ambarjaya, Kec. Ciambar, Kab. Sukabumi. Blok Landbouw berada pada ketinggian 665 m dpl, dan secara administratif masuk dalam Desa Ginanjar, Kec. Ciambar, Kab. Sukabumi. Terdapat sekitar 98 jenis koleksi tumbuhan dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak tahun 1935 yang Blok Lanbouw memang cukup potensial untuk dikembangkan sebagai wahana ekowisata. Besar harapan kami, selaku pemangku wilayah di Resort PTN Pasir Hantap Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dapat meningkatkan SDM masyarakat di bidang ekowisata, memberikan peluang usaha ekowisata bagi masyarakat, mengembangkan program ekowisata oleh masyarakat, meningkatkan dukungan pemerintah daerah kabupaten, terbangunnya sarana prasarana pendukung kegiatan di lokasi Curug Luhur dan Landbouw, dan tentunya kawasan TNGGP tetap lestari dengan adanya pengembangan wisata berbasis masyarakat. Semoga dengan adanya niat baik dari stakeholder yang berperan dalam pengembangan Curug Luhur dan Landbouw dapat menghasilkan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan jargon “Leweung Hejo Masyarakat Ngejo”. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks dan Dok : Agung Pakerti, A.Md. - Resort PTN Pasir Hantap
Baca Berita

Buaya Yang Muncul Di Negeri Larike, Akhirnya Diamankan

Ambon, 14 Juli 2020 - Pada pukul 09:00 WIT bertempat di Sungai Waiseket Negeri Larike, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Petugas Balai KSDA Maluku bersama-sama dengan petugas dari Polsek Leihitu Barat telah menerima penyerahan secara sukarela satwa liar yang dilindungi Undang-undang yaitu 1 (satu) ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) dari warga Negeri Larike. Buaya tersebut ditangkap oleh masyarakat pada hari Sabtu tanggal 11 Juli 2020 Pukul 11:00 WIT. Ditangkapnya buaya tersebut dikarenakan lokasi tempat buaya tersebut berada di wilayah sungai yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga seperti mencuci dan mandi sehingga ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dari keterangan yang diberikan oleh masyarakat diketahui bahwa penangkapan buaya di sungai tersebut merupakan kejadian yang ke dua kalinya. Saat ini masih terdapat 1 (satu) ekor buaya yang belum tertangkap dan masih berkeliaran di wilayah sungai tersebut, oleh karena itu masyarakat mengharapkan kepada Pihak Balai KSDA Maluku untuk segera menangkap dan memindahkan buaya tersebut agar masyarakat tidak resah atau takut melakukan aktifitas di sungai tersebut. Saat ini buaya hasil penyerahan dari masyarakat Negeri Larike sudah diamankan di Kandang Transit Passo untuk menjalani proses pemeriksaan kesehatan, karantina dan rehabilitasi sebelum buaya tersebut dilepasliarkan. Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang sudah dilakukan oleh dokter hewan Balai KSDA Maluku diketahui bahwa buaya tersebut berjenis kelamin betina dengan panjang badan 137 cm dan dalam kondisi sehat. Buaya tersebut akan dikarantina dan direhabilitasi terlebih dahulu sambil mencari lokasi yang cocok untuk pelepasliaran. Rencananya lokasi pelepasliaran akan dilaksanakan di dalam kawasan konservasi Suaka Alam (SA). Sungai Nief yang berada di Seram Bagian Timur atau kawasan Taman Nasional (TN) Manusela yang berada di Kabupaten Maluku Tengah. Lokasi-lokasi tersebut merupakan salah satu habitat asli dari Buaya Muara (Crocodylus porosus) yang berada di Pulau Seram. Terkait permintaan masyarakat agar pihak Balai KSDA Maluku segera menangkap dan memindahkan buaya yang masih tersisa di wilayah sungai tersebut akan segera ditindak lanjuti dengan membentuk tim untuk melakukan pengamatan, observasi dan penangkapan buaya tersebut. Observasi dilakukan untuk mengetahui apakah di wilayah sungai tersebut merupakan habitat buaya atau bukan serta untuk mengetahui secara pasti jumlah buaya yang masih tersisa. Buaya Muara (Crocodylus porosus) merupakan salah satu satwa yang dilindungi oleh Undang-undang oleh karena itu, diharapkan kepada masyarakat jika suatu saat menemukan atau menangkap buaya harap segera melapor kepala Call Center Balai KSDA Maluku untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Warga Medan Serahkan Macan Akar ke BBKSDA Sumatera Utara

Medan, 10 Juli 2020. Angga Ardiansyah, warga Kelurahan Tegal Rejo, Kecamatan Medan Perjuangan, pada Rabu, 8 Juli 2020, menyerahkan 1 ekor Kucing Hutan/Macan Akar (Felis bengalensis) kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dalam keterangannya kepada petugas, satwa tersebut didapatkannya sewaktu pulang dari tempat kerja di daerah Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang menuju ke Medan, pada Selasa 7 Juli 2020, sekitar pukul 19.00 wib. Dalam perjalanan, Angga melihat ada sepeda motor yang menabrak satwa mirip kucing di jalan raya. Sepeda motor tidak berhenti (jalan terus), tetapi kucing lari pelan-pelan karena tersenggol. Kemudian dia berhenti untuk mengambil kucing tersebut dan membawa pulang kerumah dengan maksud ingin memeliharanya, karena corak kucing hutan tersebut bagus dan cantik (seperti harimau). Keesokan harinya, Rabu 8 Juli 2020, tetangganya memberitahunya bahwa satwa tersebut adalah kucing hutan yang merupakan satwa liar dilindungi undang undang, dan menyarankan agar sebaiknya diserahkan saja kepada petugas KSDA. Atas saran tersebut, pada hari itu juga Angga mendatangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menyerahkan kucing hutan kepada Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Mengingat kondisinya yang terluka, Kucing Hutan segera dievakuasi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, untuk mendapat perawatan dan rehabilitasi. Sumber : Patar Pridolin Manalu, SH. - Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Mendo’a Bersama sebagai Wujud Syukur atas Lahirnya Damar

Pekanbaru, 13 Juli 2020. Balai Besar KSDA Riau bersama dengan Ninik mamak dan perangkat Desa Buluh Cina mengadakan do'a bersama sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran anak Gajah "Damar" pada tanggal 3 Juli 2020 di Taman Wisata Alam Buluh Cina yang lahir dari induk bernama Ngatini dan pejantan bernama Robin. Anak Gajah “Damar” saat ini sudah menjadi primadona di TWA Buluh Cina. Masyarakat sangat antusias untuk melihat Damar dari dekat, sehingga masyarakat secara tidak langsung juga mengunjungi kawasan konservasi yang paling dekat dengan Kota Pekanbaru ini. Pada kesempatan mendo'a bersama, Kepala Balai Besar KSDA Riau, Bapak Suharyono mengajak masyarakat Buluh Cina untuk bersama sama membangun Taman Wisata Alam Buluh Cina menjadi salah satu destinasi wisata yang dapat menyajikan keindahan alam serta dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi tersebut. Kelahiran “Damar” menjadi momen yang tepat untuk mempromosikan tempat wisata alam tersebut kepada masyarakat Riau. Di kesempatan yang sama, Kepala Desa Buluh Cina, Bapak Azrianto dan pemuka adat/ninik mamak, Datuk Amiruddin menyampaikan pengharapan agar pemerintah lebih memperhatikan Buluh Cina disamping untuk kelestarian alam juga untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Semoga kelahiran Gajah "Damar" ini semakin menambah semangat masyarakat luas untuk terus mendukung konservasi jenis satwa liar yang hampir punah dan merupakan salah satu kebanggaan kita, yaitu Gajah Sumatera. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Perpanjangan Kartu PENGPIN, Polhut Balai TN Baluran Tes Psikologi

Situbondo, 14 Juli 2020. Sebanyak 24 orang pegawai Balai Taman Nasional Baluran yang terdiri dari 21 orang Polisi Kehutanan (POLHUT) dan 3 orang pejabat struktural mengikuti Tes Psikologi, Selasa (14/7) yang merupakan salah satu syarat untuk perpanjangan kartu penguasaan pinjam pakai senjata api (Pengpin). Tes Psikologi yang bertempat di Wisma Cinta Alam kantor Balai Taman Nasional Baluran dilaksanakan oleh Layanan Psikologi Biro Sumber Daya Manusia Kepolisian Daerah Jawa Timur. Setelah lulus tahap ini, akan dilanjutkan dengan tahap berikutnya yaitu latihan menembak. Senjata api merupakan alat bantu yang digunakan oleh Polhut dalam melaksanakan pengamanan kawasan hutan. Setiap pemegang senjata api haruslah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan penggunaanya harus sesuai dengan SOP yang telah ditentukan. Sumber : Balai Taman Nasional Baluran
Baca Berita

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Sarana dan Prasarana Suaka Margasatwa Muara Angke Jakarta

Jakarta, 14 Juli 2020 – Pada tanggal 14 Juli 2020, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), bersama-sama dengan para mitra Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) yang terdiri dari APP Sinar Mas, PT Indofood Sukses Makmur, Tbk, PT Chevron Pacific Indonesia, dan PT Djarum memulai pembangunan gapura dan jembatan titian sepanjang sekitar 240 meter di Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). Acara yang dilakukan dengan mengikuti protokol COVID-19 ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno. Pembangunan sarana dan prasarana ini merupakan bagian dari penguatan fungsi SMMA sebagai pusat edukasi lingkungan dan restorasi ekosistem mangrove di Jakarta. “Suaka Margasatwa Muara Angke adalah sebuah kawasan konservasi di pesisir utara Jakarta yang merupakan bagian dari kelompok Hutan Angke Kapuk. Wilayah dengan luas 310 hektar ini menjadi salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di Jakarta yang sekaligus menjadi habitat buaya air asin, kadal, monyet berekor panjang, ular, dan juga terdapat 15 spesies mangrove yang tumbuh di dalamnya. Kawasan ini juga daerah penting bagi burung di Jawa dengan ditemukannya 91 spesies dan 17 di antaranya dilindungi,” jelas Kepala BKSDA Jakarta, Karyadi. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh BKSDA Jakarta dan YKAN pada tahun 2019, hutan mangrove di Teluk Jakarta berada di bawah tekanan tinggi dari konversi penggunaan lahan, dibuktikan dengan tingginya tingkat penggundulan sejak tahun 1980-an. Solusi berbasis ekosistem dalam konteks perubahan iklim dapat memberikan manfaat 'triple-win', yaitu mengurangi risiko bencana yang efektif dari segi biaya, mendukung konservasi keanekaragaman hayati, dan meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan manusia. Untuk itu diperlukan kerja sama semua pihak secara harmonis. “Tindakan kolektif amat diperlukan untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Jakarta. MERA menjadi jawaban untuk sebuah pengelolaan terpadu dan kolaboratif yang menyatukan seluruh pihak yang peduli akan kelestarian mangrove,” terang Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Herlina Hartanto. Kepedulian terhadap pelestarian ekosistem mangrove ini juga menjadi perhatian bagi pihak swasta yang tergabung dalam aliansi MERA. “Mangrove sangat penting bagi kehidupan. Saya mengajak rekan-rekan swasta dan masyarakat untuk tidak hanya peduli, tetapi juga berkolaborasi untuk pengelolaan mangrove secara berkelanjutan di Indonesia,” ujar Senior Vice President Corporate Affairs PT. Chevron Pacific Indonesia, Wahyu Budiarto, mewakili mitra MERA dalam kesempatan tersebut. Saat ini konservasi sumber daya ekosistem mangrove menawarkan solusi terhadap empat tantangan strategis. Yaitu membangun pendekatan ilmiah untuk perlindungan dan restorasi hutan mangrove; melibatkan pemangku kepentingan kunci dalam menyusun kebijakan dan peraturan; melakukan pengelolaan yang terpadu dan efektif untuk restorasi, perlindungan serta keberlanjutan dari sisi pendanaan; dan program kemitraan dan penjangkauan. Terkait dengan hal tersebut, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui BKSDA Jakarta, menjalin kerja sama dengan YKAN, berkomitmen untuk merestorasi ekosistem mangrove dan melaksanakan program pengelolaan terpadu melalui program MERA. Diluncurkan pada tahun 2018, MERA merupakan aliansi yang mengedepankan strategi adaptasi berbasis ekosistem, termasuk konservasi dan restorasi mangrove, yang merupakan tindakan prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir dan melestarikan keanekaragaman hayati. Semua pemangku kepentingan yang terlibat diharapkan dapat aktif menyokong keberlanjutannya. “KLHK melalui BKSDA sangat mendukung pengelolaan terpadu yang dilakukan secara kolaboratif oleh para pihak, seperti MERA, untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi mangrove di Indonesia,” pungkas Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno. Sumber: Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Bangkai Buaya Muara Ditemukan Di Dusun Papora

Seram Bagian Barat, 11 Juli 2020. Ditemukan seekor bangkai Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Dusun Papora, Negeri Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Tepatnya pada pukul 10:30 WIT salah satu masyarakat Negeri Luhu yang akan hendak berangkat menuju kebun melihat seekor buaya berada disekitaran hutan mangrove. Melihat hal itu selanjutnya masyarakat tersebut segera memberi tahu beberapa masyarakat yang berada tidak jauh dari lokasi untuk bersama-sama melihat kondisi buaya tersebut. Setelah didekati, ternyata buaya tersebut sudah dalam kondisi mati. Pukul 11:40 WIT, Aparat Pemerintahan Negeri Luhu menghubungi Kepala Resort Piru yang berada di Kota Piru perihal ditemukannya bangkai buaya di Dusun Papora. Hingga pada pukul 17:00 WIT, setelah dilakukan observasi oleh petugas Polhut dari Resort Piru Balai KSDA Maluku, buaya tersebut dimusnahkan dengan cara dikubur di lokasi yang tidak jauh dari tempat penemuannya. Dari hasil observasi yang sudah dilakukan, diketahui bahwa buaya tersebut memiliki panjang 325cm dan tidak ditemukan adanya luka yang diakibatkan oleh benda tajam atau benda tumpul. Kemungkinan buaya tersebut sudah mati sekitar 2 hari lalu, hal ini dapat dilihat dari kondisi tubuhnya yang masih bagus dan belum tercium bau bangkai. Sumber : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Pembinaan bagi Para Penggiat Konservasi di Cimungkad

Cimungkad, 9 Juli 2020. Untuk mengingatkan para pegawai dan mitra kerja Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Sukabumi akan tugas pokok pengelolaan Taman Nasional, telah dilakukan pembinaan pegawai di Blok Balong, Resort PTN Cimungkad, Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Seluruh pegawai Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dan mitra kerja: Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan volunteer yang ada di sekitar Bidang PTN Wilayah Sukabumi khususnya lingkup Seksi PTN IV Situgunung turut berpatisipasi. Acara dipimpin langsung Syahrial Anuar, Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi dengan evaluasi kegiatan dan mencari solusi untuk permasalahan serta peningkatan kegiatan yang sudah berjalan dengan baik. Pada sesi evaluasi diawali dengan pemaparan kegiatan yang telah dilakukan para pihak serta pengenalan organisasi MMP dan volunteer yang telah membantu berinovasi dalam pengembangan dan mengelolaan Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) di lingkup Resort Cimungkad oleh Kepala Resort PTN Cimungkad. Pembinaan ini bertujuan memotivasi setiap personil untuk selalu semangat, kreatif, dan bertanggung jawab dalam mengemban tugas sesuai Tupoksi-nya masing-masing, serta proaktif dalam penyelenggaraan pelayanan prima terhadap masyarakat secara baik dan benar, meningkatkan kedisiplinan, etos kerja, dan menjaga keutuhan organisasi khususnya, sehingga jiwa korsa antar sesama personil, maupun dengan pimpinan semakin meningkat. Terlepas dari hal di atas, tujuan pembinaan ini mendorong “Leuweung Hejo Masyarakat Ngejo”. Seperti yang selalu digaungkan oleh pengelola BBTNGGP maupun Direktorat Jenderal KSDAE dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara umum, demi terciptanya masyarakat yang lebih sejahtera serta dapat merasakan keuntungan dengan adanya hutan yang lestari dan terjaga, dengan harapan bisa membantu meningkatkan taraf hidup/ ekonomi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks: Agus Yusuf, A.Md. - RPTN Cimungkad Dok: Bidang PTN Wilayah II Sukabumi
Baca Berita

Penyelam TN Kepulauan Togean Cari Korban Tenggelam Di Desa Kalemba

Ampana, 13 Juli 2020. Wisatawan lokal yang hilang usai jatuh terseret arus Air Terjun Marondo di Desa Kalemba, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah, ditemukan meninggal Dunia. Jenazah korban ditemukan oleh Tim SAR gabungan dan masih di sekitar air terjun. "Korban ditemukan pada sabtu pagi tanggal 11Juli 2020 sekitar pukul 10.00 Wita. Tim SAR gabungan yang telah melakukan pencarian selama dua hari langsung mengevakuasi korban dan menyerahkan jasadnya ke pihak keluarganya," ungkap Kepala SAR Luwuk, Basrano, Sabtu (11/7/2020) sore. Menurut Basrano, korban yang dilaporkan bernama Adi (16) itu ditemukan kurang-lebih 10 meter dari tempat kejadian dengan posisi terjepit di antara bebatuan dan kayu. Jenazah lalu dibawa ke puskesmas setempat dan langsung divisum oleh dokter dan diserahkan ke pihak keluarga di Desa Marowo, Kecamatan Ulu Bongka. Sebelumnya, seorang pengunjung wisata alam Air Terjun Marondo dilaporkan hanyut terseret arus sungai ketika jatuh dari air terjun setinggi 30 meter pada (9/7/2020) siang. "Korban dilaporkan atas nama Adi (16), informasi yang kami peroleh bahwa korban hanyut terseret arus sungai ketika jatuh dari ketinggian 30 meter," ungkap Kepala SAR Luwuk, Basrano, pada Jumat (10/7) pagi. Korban Adi merupakan warga Desa Marowo, Kecamatan Ulu Bongka, Kabupaten Touna, yang mana korban pergi ke wisata alam air terjun bersama teman-temannya pada (8/7) dan hanyut terseret arus pada Kamis (9/7) sekitar pukul 11.30 Wita. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean ikut mengirimkan 5 (lima) orang penyelam untuk membantu pencarian korban tenggelam tersebut. Adapun tim SAR gabungan yang melakukan pencarian korban melibatkan sejumlah personel gabungan dari tim SAR Luwuk, Polres Tojo Una - una, BPBD Ampana,Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT), serta sejumlah masyarakat dan keluarga korban. Sumber : Fahmi - Bagian Humas Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Menampilkan 3.361–3.376 dari 11.141 publikasi