Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

SMART RBM dalam Era Baru Pengelolaan TNGGP Berbasis Resort

Minggu, 26 Juli 2020 - Dalam rangka meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan taman nasional telah dikembangkan pedoman pengelolaan taman nasional berbasis resort sebagai tindak lanjut dari SK. Dirjen PHKA Nomor SK.181/IV-Set/2010 tanggal 18 November 2010 yang mencantumkan Resort Based Management (RBM) sebagai strategi penguatan pengelolaan kawasan di tingkat tapak. Perangkat pengelolaan kawasan yang dikembangkan pada tahun 2012 awalnya hanya diaplikasikan pada kegiatan pengamanan kawasan atau patroli dengan menggunakan Spatial Monitoring And Reporting Tools (SMART) sehingga dinamakan SMART Patrol. Sebagai suatu tools/¬ alat, SMART di dalam perjalanannya semakin disempurnakan dan diujicobakan di beberapa UPT KSDAE dengan tidak hanya dipergunakan dalam kegiatan patroli saja namun semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan kawasan seperti inventarisasi, monitoring, bahkan kegiatan sosialisasi/ penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan. Sejak tahun 2017 itulah dikenal perubahan istilah SMART Patrol menjadi SMART RBM. Dalam rangka pelaksanaan perjanjian internasional dengan ITTO, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menyelenggarakan pelatihan SMART RBM. Saat ini kerjasama yang sedang berjalan dengan ITTO adalah ITTO PROJECT PD 777/15 REV. 3 (F): “ACCELERATING THE RESTORATION OF CIBODAS BIOSPHERE RESERVE (CBR) FUNCTIONS THROUGH PROPER MANAGEMENT OF LANDSCAPES INVOLVING LOCAL STAKEHOLDERS”, khususnya kegiatan Activity 1.3. To Enhance Capacity in Core Area Protection by Involving Local Communities in Forest Patrol Operations and Providing Essentialfacilities, telah menyelenggarakan pelatihan SMART RBM selama 2 hari bagi 43 orang petugas lapangan dan Masyarakat Mitra Polhut/ MMP (22 – 23 Juli 2020) dan selama 3 hari bagi 17 orang operator (22 – 24 Juli 2020) yang bertempat di Cibodas. Kegiatan terselenggara atas kerjasama Balai Besar TNGGP dengan International Tropical Timber Organization (ITTO), didukung narasumber/ trainer dari Direktorat Konservasi Kawasan, Wildlife Conservation Society (WCS), dan Universitas Pakuan. Pelatihan SMART ini merupakan bagian kecil dari penerapan RBM, Balai Besar TNGGP sebagai salah satu taman nasional tertua di Indonesia berkomitmen untuk terus melakukan penguatan sumber daya pada tingkat resort yang meliputi penguatan personil (terutama Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan), anggaran, serta sarana pengelolaan. Pada acara pembukaan, Wahju Rudianto Kepala Balai Besar TNGGP, mengutarakan harapannya kepada seluruh peserta yang sebagian besar dari resort dan seksi wilayah mampu mengikuti kegiatan dengan baik sehingga ilmu yang diperoleh nantinya dapat diterapkan untuk memperkuat implementasi RBM dalam sistem pengelolaan kawasan TNGGP yang lebih efektif dan efisien melalui manajemen data kawasan dengan peranan besar pada tingkat resort/ tapak serta mendukung sistem informasi berjenjang pada struktur Balai Besar TNGGP. Materi kegiatan dimulai dengan paparan Dian Risdianto dari Direktorat Konservasi Kawasan tentang perkembangan SMART Patrol menjadi SMART RBM yang implementasinya telah dijalankan secara intensif di 12 UPT Ditjen KSDAE dari sekitar 40 UPT yang telah melakukan pelatihan SMART RBM. Sistem informasi berupa database yang dihasilkan sangat berguna dalam evaluasi dan tindak lanjut langkah kebijakan yang diambil suatu UPT. Pada hari ke-3, materi dan praktik aplikasi SMART RBM dipandu oleh 4 orang mentor dari WCS. Materi yang disampaikan mengenai Pedoman Implementasi SMART di Kawasan Konservasi, Panduan Aplikasi SMART-RBM untuk Pengelolaan Basis Data Kawasan Konservasi, dan Penjelasan Istilah dan Struktur Data Model (Datamodel Glossary). Sasaran pelatihan hari ke-3 untuk operator data smart RBM yang diikuti oleh staf seksi, bidang, dan balai besar. Operator ini akan mengolah data yang telah diambil oleh staf lapangan dan akan disajikan dalam bentuk data TNGGP. Upaya pemantauan dan evaluasi pasca dilakukannya pelatihan akan terus dilakukan, pelatihan-pelatihan lanjutan pada tingkat wilayah akan dilakukan guna mempertajam penguasaan dan penerapan aplikasi. Hal yang tidak kalah penting adalah pengolahan dan penggunaan data sebagai masukan dalam pengelolaan taman nasional yang efektif dan memberi manfaat optimal. Semoga dapat mendorong pengelolaan TNGGP dengan sistem informasi data yang lengkap, terstruktur, dan berjenjang dalam mewujudkan pengelolaan yang efektif fan efisien. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks: Ida Rohaida - Polhut Muda Dok: Yuki - ITTO
Baca Berita

Madi injap, Satu Spesies Burung Yang Mendiami Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 24 Juni 2020. Untuk di Sumatera burung Madi injap biasa terdapat di hutan primer dan hutan sekunder dewasa. Di pegunungan antara ketinggian 700-1500 mdpl, tetapi bisa juga sampai pada ketinggian 2000 mdpl, Burung ini juga bisa ditemukan dikawasan Taman Nasional Batang Gadis. Burung Madi injap biasa hidup dalam kelompok yang ribut, beterbangan dalam tajuk tengah, kadang-kadang berbaur dengan burung jenis lain. Madi injap adalah spesies burung madi dalam suku Eurylaimidae dengan genus Psarisomus yang sangat mudah dikenali, mempunyai tubuh memanjang 25 cm berwarna hijau dengan ekor biru panjang bertingkat. Tenggorokan dan muka kuning, topi dan tengkuk hitam. Sayap hitam dengan bercak biru bersinar. Terdapat bintik biru kecil pada puncak kepala da bintik kuning dibelakang mata. Burung yang belum dewasa umumnya berwarna hijau. Iris hijau dan abu-abu, paruh hijau dengan ujung atas biru dan bagian bawah kuning, kaki hijau. Nama Lokal : Madi injap Nama Latin : Psarisomus dalhousiae Nama International : Long - tailed Broadbill Penyebaran : Himalaya, Cina selatan, Asia tenggara, Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Sumber : Mulliyadi - PEH Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Dijual, Pelandu Aru Dibeli Dan Diserahkan Untuk Dilepasliarkan

Kei Besar, 22 Juli 2020. Bertempat di Desa Bombai, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku tepat pukul 11:30 WIT telah dilaksanakan penyerahan secara sukarela satwa liar berupa 1 (satu) ekor Pelandu Aru/Kanguru Tanah (Thylogale brunii) oleh masyarakat yang bernama Roy Fautngilyanan warga Desa Bombai Kegiatan penyerahan satwa tersebut diterima langsung petugas dari Resort Tual Seksi Konservasi Wilayah III Saumlaki Balai KSDA Maluku dengan disaksikan perwakilan dari Kecamatan Kei Besar dan Polsek Kei Besar. Dari informasi yang diberikan oleh pemilik satwa tersebut diketahui bahwa beliau mendapatkan satwa tersebut dengan cara membeli dari masyarakat sekitar, satwa tersebut diketahui tertangkap jebakan babi yang dipasang oleh masyarakat. Dikarenakan yang bersangkutan mengetahui bahwa satwa tersebut statusnya dilindungi maka yang bersangkutan berinisiatif menyerahkan satwa tersebut kepada petugas BKSDA Maluku untuk dilepasliarkan. Dari hasil pemeriksaan petugas diketahui bahwa satwa tersebut berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia diatas 2 tahun dan kondisinya masih sangat liar. Oleh karena itu pada jam 15:30 WIT bertempat di Kawasan Konservasi Cagar Alam Daab yang berada di Kabupaten Maluku Tenggara. Sumber : Kacuk Seto Purwanto, S.Hut - POLHUT Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Dugong Ditemukan Mati Terdampar Di Tepi Pantai Desa Tengah-Tengah

Salahutu, 22 Juli 2020. Ditemukan 1 (satu) ekor Dugong (Dugong dugon) yang terdampar di sekitaran pantai Desa Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku pukul 17.30 WIT (22/7). Satwa tersebut ditemukan pertama kali oleh sdr. Iwan Walli dan pada saat ditemukan satwa tersebut sudah dalam kondisi mati. Diperkirakan satwa tersebut sudah mati sekitar 2 hari yang lalu. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh petugas dari Balai KSDA Maluku, PSPL Sorong dan DKP Provinsi Maluku diketahui bahwa satwa tersebut memiliki panjang 320 cm, lingkar badan 226 cm dan berjenis kelamin jantan. Satwa diperkirakan mati akibat terdampar ke wilayah karang-karang yang berada di sekitaran pantai tersebut, hal ini diperkuat dengan kondisi tubuh satwa terdapat banyak bekas luka yang diakibatkan oleh gesekan benda tumpul seperti karang dan bebatuan. Wilayah perairan Salahutu merupakan salah satu habitat dari satwa Dugong, masyarakat sekitar sering menemukan satwa tersebut sedang bermain dan mencari makan di wilayah perairan. Saat ini bangkai dugong sudah dimusnahkan dengan cara dikubur di sekitar Kandang Transit Passo. Sumber : Kacuk Seto Purwanto, S.Hut - POLHUT Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Terkait TSL, BKSDA Maluku Lakukan Koordinasi Bersama Para Kapolsek

Ambon, 23 Juli 2020. Ruang Rapat Balai KSDA Maluku tepat pukul 10.30 WIT (23/7) telah dilakukan kegiatan rapat koordinasi dan sosialisasi peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di wilayah Pulau Ambon, Provinsi Maluku. Rapat koordinasi dipimpin langsung Plt. Kepala Balai KSDA Maluku dan di hadiri beberapa Kapolsek yang berada di wilayah hukum Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease diantaranya Polsek Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Polsek Bandara Internasional Pattimura Ambon, Polsek Sirimau, Polsek Salahutu, Polsek Leihitu, Polsek Leihitu Barat dan beberapa personil Polhut dari Resort Pulau Ambon. Dari hasil pertemuan dengan para Kapolsek yang berada di Pulau Ambon tersebut diperoleh beberapa kesepakatan diantaranya, akan bekerja sama dan meningkatkan koordinasi dalam menanggulangi peredaran TSL pada lokasi pintu keluar masuk Pulau Ambon (bandara dan pelabuhan laut) dan akan bekerja sama dalam penanggulangan konflik antara manusia dan satwa liar yang saat ini banyak terjadi di wilayah Pulau Ambon. Untuk lebih meningkatkan pengawasan dan penjagaan peredaran TSL khususnya yang berada di wilayah Pulau Ambon, rencananya Balai KSDA Maluku akan kembali melaksanakan kegiatan koordinasi dan sosialisasi kepada para Danramil yang berada di Pulau Ambon. Sumber : Kacuk Seto Purwanto, S.Hut - POLHUT Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Saka Wanabhakti Kapuas Hulu Peduli Kebakaran Betang Nanga Nyabau

Putussibau, 23 Juli 2020. Kejadian kebakaran yang terjadi di Rumah Betang Dipanipan Bolong di Desa Nanga Nyabau, Kecamatan Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu pada minggu malam tanggal 19 Juli 2020 pukul 21.00 WIB, memunculkan aksi kepedulian sejumlah pihak. Salah satu organisasi yang ikut aksi perduli ini adalah pramuka Saka Wanabakti Kapuas Hulu yang berada di bawah naungan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum). Secara spontanitas anggota Saka Wababhakti Kapuas Hulu mengumpulkan sumbangan yang berasal dari anggota dan pegawai Balai Besar Tana Bentarum. Bantuan yang berhasil dikumpulkan terdiri dari sembako, susu anak-anak, kain sarung, pakaian baru dan pakaian bekas layak pakai. Seluruh hasil penggalangan bantuan yang telah terkumpul langsung diserahkan kepada perwakilan masyarakat di Posko Kebakaran Rumah Betang di Nanga Nyabau. “Aksi peduli kemanusiaan ini merupakan wujud dari Dasa Dharma Pramuka, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, hehadiran Saka Wanabhakti di Kapuas Hulu tidak hanya perduli kepada aksi-aksi penyelamatan hutan dan lingkungan, akan tetapi juga kepada aksi sosial” ujar Ardi Andono selaku Ketua Saka Wanabhati Kapuas Hulu Kepala Balai Besar TaNa Bentarum Arief Mahmud sangat mendukung aksi peduli yang dilakukan oleh Saka Wanabhakti Kapuas Hulu. “Terimakasih kepada seluruh para donatur yang sudah ikut menyumbang, kami berharap semoga bantuan yang kami berikan bisa ikut meringankan beban korban kebakaran dan juga semoga masyarakat yang mengalami musibah dapat tabah serta mudah-mudahan diganti oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan yang lebih baik” ungkapnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Persiapan Reaktivasi, Bupati Situbondo Kunjungi TN Baluran

Situbondo, 24 Juli 2020. Bupati Situbondo H Dadang Wigiarto, SH selaku Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Daerah bersama jajaran Forkopimda Kabupaten Situbondo melakukan kunjungan ke Taman Nasional Baluran dalam rangka pengecekan tentang kesiapan Baluran untuk mereaktivasi kawasan wisatanya. Pengecekan dilakukan secara menyeluruh mulai dari area kedatangan pengunjung di pintu masuk Kawasan, area pelayanan di visitor center hingga area obyek wisata alam di Bekol dan Pantai Bama. “Prosedur harus dilaksanakan secara baik dan ketat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan” demikian yang disampaikan H Dadang Wigiarto, SH disela-sela kunjungannya. Dalam persiapan untuk dibuka kembali, Taman Nasional Baluran juga mengacu pada Keputusan MenLHK tentang reaktivasi bertahap kawasan taman nasional, taman wisata alam dan suaka margasatwa untuk kunjungan wisata alam dalam kondisi transisi akhir COVID-19 bahwa ada arahan umum protokol untuk petugas, pengelola dan pengunjung Taman nasional Baluran mengacu protokol yang diterbitkan Menteri Kesehatan diantaranya menjaga kebersihan lokasi wisata serta memastikan kesehatan dan keamanan petugas, pengelola dan pengunjung dengan melakukan pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk kawasan dan menjalankan prinsip CHS (Clean, Healthy and Safety) Selain itu Taman Nasional Baluran juga akan menerapkan pembatasan jumlah kunjungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung kawasan serta menerapkan jaga jarak antar pengunjung dan memastikan tidak ada kerumunan untuk mencegah potensi penyebaran COVID-19 Berdasarkan kunjungan dan pemeriksaan tersebut daya tarik wisata Taman Nasional Baluran dinyatakan telah sesuai protokol kesehatan dan memperoleh Sertifikat Adaptasi Kebiasaan Baru dari Pemerintah Kabupaten Situbondo dengan kapasitas 950 orang per hari. Sumber : Balai Taman Nasional Baluran
Baca Berita

28 Ekor Satwa Liar Endemik Pulau Seram Kembali Bebas Di Habitatnya

Wahai, 22 Juli 2020. Pukul 10.00 WIT, bertempat di Kilokoma Resort Masihulan SPTN (Seksi Pengelolaan Taman Nasional) I Wahai Kawasan Konservasi Taman Nasional (TN) Manusela Kabupaten Maluku Tengah telah dilakukan kegiatan pelepasliaran satwa liar endemik Pulau Seram dan dilindungi undang-undang. Satwa-satwa yang dilepasliarkan berupa 2 (dua) ekor Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius), 4 (empat) ekor Kasturi Tengkuk Ungu (Lorius domicella), 2 (dua) ekor Nuri Maluku (Eos bornea), 12 (dua belas) ekor Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus) dan 8 (delapan) ekor Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis). Burung-burung tersebut merupakan satwa hasil sitaan, temuan dan penyerahan secara sukarela dan telah menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Kandang Transit Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Masohi Balaia KSDA Maluku dan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Masihulan. Kegiatan pelepasliaran dilaksanakan oleh petugas dari SKW II Masohi dan disaksikan langsung oleh Kepala SPTN I Wahai, Kepala Resort Masihulan dan staf PRS Masihulan. Dipilihnya kawasan konservasi TN. Manusela dikarenakan kawasan tersebut merupakan habitat asli dari burung-burung tersebut, selain itu potensi sumber makanan yang melimpah serta kondisi hutan yang masih sangat terjaga diharapkan dapat membuat burung-burung tersebut dapat bertahan hidup dan jauh dari gangguan khususnya gangguan dari para pemburu liar. Sumber : Kacuk Seto Purwanto, S.Hut - POLHUT Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Kepala Balai TN Kepulauan Togean Bawakan Materi di Sosialisasi Kualitas Udara

Ampana, 22 Juli 2020. Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) menjadi Narasumber kegiatan sosialisasi kualitas udara yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah yang dilaksanakan di aula Hotel Lawaka. Sosialisasi tersebut dihadiri beberapa Instansi terkait yaitu Kepala Dinas PKP dan Lingkungan Hidup Kabupaten Tojo Una-Una, Kepala OPD Lingkup Kabupaten Tojo Una-Una, Narasumber Dosen Universitas Tadulako, Pimpinan Perusahaan yang ada di Kabupaten Tojo Una-Una. Acara dibuka Kepala Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sulawesi Tengah yang dalam sambutannya mengatakan bahwa “Kualitas Lingkungan Hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukung bagi mahkluk hidup untuk hidup secara optiman. Kepala Balai TNKT Bapak Ir Bustang memberikan materi “Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan Hidup di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. Pencemaran Lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan akibat kegiatan manusia atau proses alam. Sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukkannya. Kebanyakan Pencemaran Lingkungan di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean adalah sampai yang tidak mudah terurai dan ditemukan di pesisir pantai, laut, udara yaitu pembukaan lahan pertanian dengan cara yang tidak tepat biasanya dibakar, Karang yang kemungkinan penyakit meningkat dari 4% mejadi 89% ketika karang bersentuhan dengan sampah plaskit dan penebangan Hutan yang tidak mempertimbangkan lokasi menjadikan masalah bagi warga disektarnya. Selanjutnya Narasumber yang kedua dari Akademisi Universitas Tadulako (UNTAD) Bpk Dr. Irwan Syaid Ms “Pencemaran udara atau polusi udara adalah suatu keadaan di mana terdapat substans ifisik, biologi, atau kimia di lapisan udara bumi (atmosfer) yang jumlahnya membahayakan bagi kesehatan tubuh manusia dan mahluk hidup lainnya. Dampak pencemaran udara terhadap manusia mengakibatkan terjadinya gangguan pernapasan bagi manusia karena oksigen tercemar oleh senyawa berbahaya, Menyebabkan terjadinya masalah pada kulit manusia, misalnya kulit kusam, keriput, flek hitam, bahkan kanker kulit, menjadi mudah stress dan emosi tak seimbang, membuat pandangan menjadi terganggu akibat asap menimbulkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, seperti asma, batuk, dan lainnya. Dampak Pencemaran Udara terhadap Lingkungan Mengakibatkan terjadinya global warming. Polusi udara merupakan salah satu penyebab terjadinya global warming dalam jangka waktu yang lama. Menjaga kualitas udara di Sulawesi tengah khususnya di Kabupaten Tojo Una-una dengan gerakan penghijauan menanam pohon di sepanjang jalan dan ruang terbuka hijau yang ada di Kabupaten Tojo Una-una agar penyarapan karbondioksida dapat diserap tumbuhan menjadikan kualitas udara terjaga dengan baik. Sumber: Indriyanti - Bagian Humas Balai Taman Nasional KepulauanTogean
Baca Berita

Budidaya Lebah Trigona: Merawat Peradaban Menjaga Alam Sorong

Sorong, 23 Juli 2020. Dalam Rangka Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2020, Balai Besar KSDA Papua Barat melakukan panen madu Lebah Trigona (Tetragonula biroi) hasil budidaya Kelompok Tani Hutan (KTH) Matoa di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong. Kegiatan panen ini merupakan yang pertama setelah satu bulan stup kotak sarang lebah madu dirawat oleh KTH tersebut. Pada tahun ini, tema Hari Konservasi Alam Nasional yaitu “Nagara Rimba Nusa: Merawat Peradaban Menjaga Alam”. Hal ini juga selaras dengan poin pertama dalam 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi di Indonesia, “Menjadikan Masyarakat Sebagai Subyek Pengelolaan”, Balai Besar KSDA Papua Barat secara aktif merangkul dan menjadikan masyarakat sebagai mitra utama dalam melakukan pengelolaan kawasan. Masyarakat diajak untuk turut serta menjaga kawasan tanpa mengabaikan hak-hak adat mereka. Diharapkan masyarakat dapat secara sadar dan mandiri menjadi pelaksana dalam mengelola kawasan konservasi. Sehingga tujuan pengelolaan kawasan konservasi dapat tercapai, yaitu kawasan tetap lestari dan masyarakat disekitarnya mampu hidup sejahtera.Selaras dengan tema tersebut, Balai Besar KSDA Papua Barat telah melaksanakan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan konservasi TWA Sorong. Masyarakat diajak turut serta merawat TWA Sorong dengan cara memanfaatkannya dengan memperhatikan asas-asas kelestarian alam. Salah satu caranya adalah dengan pelatihan Budidaya Lebah Trigona di sekitar kawasan. Lebah Trigona atau Tetragonula biroi (Friese, 1898) merupakan lebah tanpa sengat (Stingless Bee) dengan cara hidup yang tidak hanya bergantung pada pollen bunga seperti lebah madu jenis lainnya. Dari cara hidup yang unik ini, Lebah Trigona dapat dikembangbiakkan dimana saja dan relatif mudah. Selain itu Lebah Trigona tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah perkotaan, yang memiliki sumber resin atau getah dari jenis pohon tertentu. Resin diperlukan untuk menghasilkan propolis pada sarangnya. Pohon jenis Aghatis spp. merupakan salah satu sumber resin primadona karena dapat memproduksinya dalam jumlah yang sangat besar dibanding jenis pohon lainnya. TWA Sorong memiliki jumlah tegakan pohon Agathis Spp yang cukup melimpah dan tersebar merata. Hal ini tentu saja merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang budidaya lebah Trigona. Madu dari Lebah Trigona memiliki banyak keunggulan, antara lain yaitu memiliki asam organik, zat fitokimia dan asam glukonat yang lebih banyak dibandingkan madu lebah apis pada umumnya sehingga dipercaya lebih berkhasiat. Selain itu, lebah jenis ini menghasilkan propolis dan pollen dengan jumlah yang jauh lebih besar. Propolis atau lem lebah sendiri adalah zat resin yang dikumpulkan lebah dari sumber tumbuhan yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia sehingga memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Bahkan sarang, pot madu dan pot pollennya adalah raw propolis yang memiliki harga cukup menjanjikan di pasanrya KTH Matoa yang intens didampingi oleh Balai Besar KSDA Papua Barat telah melaksanakan budidaya Lebah Trigona. Sebanyak 8 koloni berhasil dibudidayakan dalam satu bulan. Dari kedelapan koloni tersebut, ada 2 koloni yang dapat dipanen madu dan polennya. Hasil pemanenan dari 2 stup ini adalah 2 kg bee bread dan 10 ml madu. Hal ini dikarenakan belum seimbangnya komposisi pakan yang tersedia di alam. Sumber pakan utama masih didominasi oleh tumbuhan penghasil pollen. Sedangkan populasi tumbuhan sumber pakan penghasil nektar dan ekstraflora tergolong masih minim. Kedepannya akan dilakukan perbanyakan koloni sehingga dapat menambah hasil panen. Perbanyakan koloni ini diiharapakan dapat dilakukan dengan memanfaatkan 8 koloni yang sudah ada. Selama ini perbanyakan koloni diperoleh dengan memindahkan koloni yang terdapat di alam ke dalam stup buatan. Papua Barat khususnya di Kota Sorong belum banyak mengenal dan membudidayakan lebah jenis Tetragonula biroi ini. Hanya terdapat sedikit kelompok masyakat yang mengetahui manfaat dari lebah ini. Mereka sesekali memanfaatkan madunya jika secara kebetulan menemukan sarangnya di alam. Namun masyarakat tersebut tidak membudidayakan lebah T. biroi tersebut. Hal demikian dikarenakan minimnya pengetahuan masyarakat terkait potensi si hitam cilik penghasil rupiah ini. Dengan pendampingan ini, diharapkan akan dapat menambah jumlah masyarakat yang tertarik untuk budidaya lebah madu sehingga menambah jumlah mitra Balai Besar KSDA Papua Barat. Sumber: Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Terjerat Jaring, Nelayan Serahkan Penyu Sisik Ke Petugas Resort Jinato

Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 23 Juli 2020. Hendra Mustajab (PEH) salah satu petugas lapangan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate menerima satu individu Penyu Sisik dari warga (19/07). Menurut pengakuan warga tersebut Penyu Sisik ini terjerat jaring saat melaut di Taka Salo, kemudian warga berinisiatif untuk menyerahkan ke petugas jaga resort Jinato SPTN Wilayah II Jinato. Setelah diukur karapasnya, panjang 27 cm dan lebar 23 cm dengan luka bekas jerat jaring di kaki kanan depannya. Petugas pun mengambil tindakan untuk pemulihan, diberi makan. Karena menjadi perhatian anak-anak, Hendra Mustajab kemudian memberikan penyuluhan sebagai edukasi. "Penyu ini dilindungi, kalau ketemu di laut atau di pantai di laporkan ke petugas atau melepaskannya," jelas Hendra Mustajab di depan anak-anak Melihat kondisi si Penyu sudah mulai pulih, sorenya bersama Ketua MDK "Jinato Marennu" Rustam, Wakil Ketua Hamzah dan crew Pulonesiatrip Akbar bersama-sama melepaskan si Penyu kembali ke habitatnya Semoga makin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya melindungi biota ini. Sumber : Asri - PEH Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate (Video & Teks)
Baca Berita

Koordinasi Pembukaan Objek Wisata Alam TN Matalawa

Waingapu, 23 Juli 2020. Reaktivasi objek wisata alam pada kawasan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam telah mendapatkan arahan baik dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Surat Keputusan Menteri LHK nomor 261 tanggal 23 Juni 2020 dan Surat Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem nomor 491 tanggal 25 Juni 2020. Namun, pengelola objek wisata alam harus tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat untuk membuka kawasannya. Kawasan objek wisata di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang berada di 3 kabupaten, walaupun sudah masuk dalam daftar kawasan wisata alam yang akan dibuka, objeknya belum dibuka. Peningkatan kasus positif COVID-19 di daratan Sumba, membuat pengelola kawasan TN Matalawa tetap melakukan koordinasi untuk memastikan kesiapan TN Matalawa dalam menerima kunjungan wisatawan. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul, Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut, M.Sc dalam kesempatannya berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Tengah, menjelaskan bahwa TN Matalawa telah siap menerima kunjungan wisatawan. Protokol kesehatan dalam melakukan kunjungan wisata sudah disiapkan dan disimulasikan. Peralatan pendukung seperti sarana mencuci tangan, penyediaan APD, dan penyemprotan disinfektan pun telah siap. Selain berdiskusi tentang reaktivasi kawasan, Abdul Basit juga menjelaskan lokasi-lokasi wisata lain di dalam kawasan TN Matalawa yang dapat dikembangkan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumba Tengah. Kepala Dinas Pariwisata menyambut baik segala kegiatan maupun penyediaan protokol kesehatan untuk kunjungan wisata. Ia pun mendukung pembukaan kembali objek wisata TN Matalawa yang ada di Kabupaten Sumba Tengah, yaitu Air Terjun Matayangu. Dari pembukaan objek wisata tersebut, diharapkan bahwa masyarakat dapat memperoleh penghasilan tambahan dari kegiatan wisata. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum, Kembali Latih Pamhut KPH dalam Penanggulangan Karhutla

Putussibau, 22 Juli 2020. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) kembali fasilitasi Pelatihanan teknis Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan anggota PAMHUT UPT KPH Wilayah Kapuas Hulu Selatan. Pembukaan pelatihan dihadiri 30 orang yang merupakan perwakilan dari KPH Kapuas Hulu Selatan, KPH Kapuas Hulu Utara, KPH Kapuas Hulu Timur, Polres, Kodim, TNBKDS, FIP, dan PT. BIA. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari ini dibuka langsung Drs. H. Mohd. Zaini, M. M. selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Kapuas Hulu di Aula Balai Besar Tana Bentarum dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan anggota PAMHUT UPT KPH Wilayah Kapuas Hulu Selatan. Dalam kegiatan setiap peserta juga menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menerapkan sosial distancing. “Kebakaran hutan dan lahan sangat merugikan berbagai aspek baik aspek ekonomi, ekologi, politik, kesehatan, hubungan internasional bahkan secara global mempengaruhi perubahan iklim dan pemanasan bumi. Maka, kami sangat mendukung dengan adanya Satgas, Mayarakat Peduli Api, dan tim Brigade pengendalian kebakaran hutan dan lahan, saya juga berharap pelatihan ini sebagai bentuk upaya kita untuk meningkatkan kapasitas tim dalam bertugas” ungkap Zaini dalam sambutannya. Kegiatan pelatihan berisi diskusi dan materi yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga 16.45 wib. Penyampaian materi dari Kepala BPBD Kab. Kapuas Hulu, Gunawan S. Sos., terkait peran BPBD dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, materi terkait strategi pengendalian karhutla tahun 2020 oleh Gunawan Budi Hartono, S.Hut, M.Si, dan materi Dasar-dasar kebakaran hutan dan lahan, Teknik pencegahan kebakaran hutan, Pengenalan peralatan pemadaman, serta teknik dan strategi pemadaman oleh Tim Manggala Agni Brigdalkarhut Balai Besar TaNa Bentarum. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Kolaborasi dan Sinergitas Balai TNBG dengan Dinas Pariwisata Madina dalam Pengembangan Ekowisata

Mandailing Natal, 23 Juli 2020. Kolaborasi dengan dinas pariwisata kab. Mandailing natal dalam pengembangan desa ekowisata di Mandailing Natal menumbuhkan semangat baru untuk terus berkarya dan berbenah diri. Untuk mewujudkan ini Balai TNBG dan Dinas Pariwisata Madina berkunjung bersama ke Desa Pagar Gunung dalam pengembangan untuk menjadikan desa ekowisata minat khusus, karena desa Pagar Gunung memiliki aneka ragam spot-spot yang harus dikunjungi oleh peminat wisata. Terlepas dari semua itu, dewasa ini dimana setiap daerah juga terus berbenah untuk menjadikan daerahnya menjadi tempat wisata dikarenakan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat juga dapat menjadikan pendapatan daerah. Dalam perjalanan ini, tim Taman Nasional Batang Gadis mengajak tim Dinas Pariwisata untuk mengunjungi beberapa spot seperti bentang alam yang membentang luas antara bukit barisan selatan serta kawasan taman nasional, spot wisata kebun kopi, spot wisata demplot rafflesia yang berada di kawasan taman nasional, serta spot wisata air terjun aek sampuran juga berada di dalam kawasan taman nasional dimana spot wisata air terjun ini dekat dengan jalan menuju Desa Batahan. Kepala Desa Pagar Gunung sangat senang dan menyambut baik diajdikannya desa Pagar Gunung sebagai daerah wisata minat khusus dan berharap kedepan nya ini akan meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Pagar Gunung. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Optimalisasi Anyaman Desa Bungan Jaya, Desa Penyangga TaNa Bentarum

Bungan Jaya, 16 Juli 2020. Rombongan Tim yang terdiri atas Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI), Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kalimantan Selatan (BPSKL), dan FIP-1 PISU melakukan kegiatan pembentukan dan pembekalan kelompok anyaman di dusun Nanga Bungan, desa Bungan Jaya, Kalimantan Barat. Tim mengenalkan teknik pewarnaan menggunakan warna alami untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual produk anyaman masyarakat. Desa Bungan Jaya merupakan desa penyangga binaan Balai Besar TaNa Bentarum yang dikategorikan sebagai remote area dan berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Pada kesempatan tersebut, kelompok anyaman yang didominasi kaum ibu-ibu ini mendapatkan berbagai pengalaman baru tentunya. Mulai dari diskusi model anyaman yang digemari pasar lokal maupun mancanegara sampai dengan terjun langsung dalam proses pembuatan warna dan pewarnaan serat menggunakan bahan alam. Beberapa serat yang digunakan yaitu serat rotan, bambu, perupuk, bembun, dan sejenisnya. Sedangkan untuk bahan alamnya, sebagian besar diperoleh dari dalam kawasan hutan Taman Nasional Betung Kerihun seperti Rambutan (Nephelium sp.), Jambu Monyet (Bellucia pentamera Naudin), Belimbing (Averrhoa sp.), Jambu Bji (Psidium guajava), Mangga (Mangifera sp.), Tahum (Indigofera marsdenia L.), Secang (Caesalpinia sappan), dan lain-lain. Jika kita mengeksplorasi kerajinan anyaman di pulau Kalimantan, maka kita akan mengetahui betapa potensialnya produk anyaman yang tersebar di pulau dengan julukan ‘seribu sungai’ tersebut. Kerajinan anyaman di desa Bungan Jaya telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang suku punan hovongan. Sayangnya, anyaman tersebut sebagian besar hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Mengikuti perkembangan tren saat ini, kerajinan anyaman cukup digemari karena mengusung konsep back to nature. Namun secara nasional, peluang bisnis ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sejak zaman dahulu kehidupan masyarakat nusantara sudah sangat lekat dengan kerajinan anyaman. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bangunan, perabotan, dan perkakas rumah tangga. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Peduli Lingkungan, Balai Besar TaNa Bentarum Serahkan Alat Pengolah Sampah

Vega, 23 Juli 2020. Sebagai salah satu rangkaian Pelatihan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Vega, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) menyerahkan bantuan Alat Pirolisator pengolah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Penyerahan dilakukan Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) wilayah III Lanjak kepada Ketua MPA Desa Vega disaksikan oleh Muspika Selimbau, Kepala Seksi PTN Wilayah V Selimbau dan Kades Vega mendapatkan sambutan yang sangat baik oleh masyarakat Desa Vega. Alat Pirolisator ini mampu memproduksi BBM dalam bentuk bensin (grade 1, grade 2 dan grade 3) melalui proses pirolisi, dari sampah plastik sebanyak 5 kg bisa menghasilkan BBM sebanyak 1,5 liter dan rendemen plastik dapat dijadikan sebagai paving block . Alat ini merupakan kreasi dari Manggala Agni Daops Semitau, Bidang PTN Wilayah III untuk menciptakan alat yang bisa mengurangi sampah khususnya sampah plastik. Menurut Kepala Daops Semitau, Ade Arief yang dihubungi lewat telpon menuturkan Permasalahan sampah plastik di kawasan konservasi dapat teratasi dengan metode konversi plastik menjadi bbm, diharapkan sampah plastik tidak menjadi masalah karena dengan cara pengolahan yang benar akan menghasilkan produk yang tepat guna menunjang sektor perekonomian masyarakat. Kepala Desa Vega, Sinaryo menuturkan bahwa alat ini adalah amanah bagi kami terima kasih kepada Balai Besar atas bantuan alat dan bantuan pelatihannya sehingga masyarakat Vega ini sejalan dengan visi Taman Nasional dalam mencegah masalah kebakaran dan masalah lingkungan (sampah) yang ada. “Terimakasih saya sampaikan kepada pihak TNDS, beruntung Desa Vega mendapatkan alat sepert ini, semoga amanah yang diberikan bisa berjalan dengan baik, Desa Vega bebas dari kebakaran, bebas dari sampah dan bersih tinggal kita harus membuat rencana kedepannya” Ucap Junaidi Ketua MPA Desa Vega. “Diharapkan dengan adanya alat dimaksud Desa Vega bisa menjadi desa percontohan bagi desa lain untuk belajar dalam pengelolaan sampah plastik yang ada dilingkungannya sehingga desa lain bisa mencontoh dan bisa mengaplikasikannya terutama desa yang berada di dalam kawasan”, ujar Gunawan Budi H, Kepala Bidang PTN wilayah III Lanjak. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Peduli Lingkungan, Balai Besar TaNa Bentarum Serahkan Alat Pengolah Sampah

Menampilkan 3.313–3.328 dari 11.141 publikasi