Jumat, 15 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Giat Penyuluh Kehutanan Di Kampung Aisandami

Kampung Aisandami, 7 Agustus 2020. Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) memiliki Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata yang berdomisili di Kampung Aisandami, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Kampung Aisandami merupakan kampung binaan Balai Besar TNTC yang berada di lingkup kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 3 Aisandami. Kampung Aisandami terletak di antara lautan dan perbukitan, apabila ditinjau melalui aplikasi Google Map maka akan terlihat Kampung Aisandami berada di bagian tengkuk leher pulau berbentuk kepala burung tersebut. Mata pencaharian masyarakat Kampung Aisandami sebagian besar adalah nelayan dengan taraf pendidikan rata-rata mencapai bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Memasuki tahun 2020, Kampung Aisandami sudah dapat ditempuh dengan moda transportasi laut dan darat, kemudian listrik dan jaringan telekomunikasi seluler sudah bisa dinikmati oleh masyarakat. Penyuluh Kehutanan pada SPTN Wilayah 3 Aisandami menjadi Pendamping bagi Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata di Kampung Aisandami yang bernama Wadowun Beberin yang memiliki arti Teluk Teduh. Hal tersebut dikarenakan pemandangan yang mempesona dan meneduhkan ketika berada di Kampung Aisandami saat waktu senja. Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin dibentuk pada tahun 2017 yang terdiri dari 6 (enam) Kelompok Kerja yaitu 1) Kelompok Kerja Atraksi; 2) Akomodasi; 3) Transportasi; 4) Pemandu; 5) Kuliner, dan 6) Kerajinan tangan. Komunikasi menjadi tantangan terberat bagi seorang pendamping yang baru pertama kali terjun ke masyarakat, dikarenakan logat dan gaya bahasa masyarakat Kampung Aisandami yang sangat berbeda dengan pendamping. Lebih lanjut, pendamping memerlukan Juru Kunci Bahasa yang membantu pendamping dalam berkomunikasi dengan masyarakat ketika ada kegiatan penyuluhan dan pendampingan kepada Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin. Tonci Somisa dan Melania Hegemur adalah pengurus kelompok ekowisata sekaligus sebagai juru kunci bahasa yang sudah berjasa membantu pendamping dalam berkomunikasi dengan masyarakat Aisandami, terutama yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin. Pendamping sebaiknya lebih banyak mendengarkan aspirasi dan keluh kesah dari para anggota kelompok, dengan begitu pendamping akan lebih mudah untuk mencari alternatif pemecahan masalah, baik melalui saran dan pendapat dari Atasan, maupun berbagi pengalaman dengan sesama pendamping lain. Beberapa alternatif solusi yang telah diperoleh pendamping, kemudian ditawarkan kepada para anggota kelompok agar dibahas dan didiskusikan bersama sehingga memperoleh keputusan bersama yang tepat. Mendengarkan aspirasi anggota kelompok akan dapat menumbuhkan kepercayaan anggota kelompok kepada pendamping, selanjutnya pendamping akan berada pada posisi selalu dibutuhkan oleh anggota kelompok binaannya. Bila sudah demikian, terkadang pendamping akan mendapatkan bonus-bonus tak terduga dari anggota kelompok, seperti disajikan bermacam makanan dan hasil tangkapan laut. Hubungan antara anggota kelompok dengan pendamping yang sudah erat akan melahirkan semangat dan antusiasme dalam diri masing-masing anggota kelompok. Hal tersebut terlihat dari semangat para anggota kelompok saat menghadiri kegiatan demonstrasi pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan tangan yang dibawakan oleh pendamping. Para anggota kelompok yang hadir mendesak pendamping agar kegiatan dimulai segera pada pukul 12.00 WIT meskipun dalam jadwal undangan kegiatan baru dimulai pada pukul 13.00 WIT. Lebih lanjut, dampak positif pasca kegiatan demonstrasi daur ulang sampah plastik tersebut yaitu telah tampak bunga-bunga plastik hasil kreativitas para anggota, yang kemudian dijadikan hiasan di salah satu kios milik anggota kelompok. Kampung Aisandami diharapkan menjadi role model bagi kampung-kampung yang lain yang berada di dalam dan sekitar kawasan TN Teluk Cenderawasih. Peran penyuluh kehutanan sebagai pendamping masyarakat juga tidak boleh terputus di tengah jalan. Peran aktif semua anggota kelompok harus sering ditumbuhkan melalui kegiatan diskusi kelompok, agar setiap anggota kelompok mampu mengeluarkan pendapat dan opininya dalam rangka menggali dan memecahkan permasalahan yang dijumpai dalam mengelola ekowisata di Kampung Aisandami. Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin menjalankan usaha pengelolaan ekowisata dengan tetap mempertahankan kelestarian dan keseimbangan alam, sekaligus menambah sumber penghasilan anggota kelompoknya. Harapan pendamping, potensi sumberdaya alam yang terdapat di Aisandami dapat dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat dan didukung oleh para stakeholder secara berkelanjutan supaya kedepan bisa menjadi destinasi wisata favorit di wilayah Papua Barat. Pada tahun 2017 dan 2018, masih banyak masyarakat yang melakukan perburuan liar, namun setelah terbentuk kelompok ekowisata, masyarakat yang melakukan perburuan liar semakin berkurang dan beberapa diantaranya ikut bergabung dalam kelompok ekowisata. Kegiatan kelompok ekowisata memiliki keterkaitan erat dengan upaya konservasi, dalam hal ini ekowisata merupakan penjabaran dari tiga payung konservasi yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Paradigma terhadap konservasi saat ini adalah mengupayakan terciptanya kegiatan yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang berdomisili di dalam dan sekitar kawasan konservasi dengan tetap menjaga keutuhan kawasan dan kelestariannya. Penyuluh kehutanan yang menjadi pendamping masyarakat sebisa mungkin berusaha mengubah pola pikir masyarakat dari pemanfaat sumberdaya alam langsung agar menjadi masyarakat pengelola sumberdaya alam yang berkesinambungan, dengan demikian masyarakat dapat langsung merasakan hasil upaya konservasi yang dilakukan oleh mereka. Mengubah pola pikir masyarakat merupakan proses yang tidak instan, diperlukan pengetahuan mengenai kebiasaan, pola hidup, dan teknologi ekologi tradisional yang dianut oleh masyarakat. Dengan demikian, penyuluh kehutanan perlu menyelami dan memahami apa yang dianut oleh masyarakat agar dapat menerapkan inovasi dan teknologi yang dibawa oleh penyuluh kehutanan, serta mewujudkan visi misi konservasi di kawasan pelestarian alam. (rl) Sumber : Rusthesa Latritiani, S.Pi. - Calon Penyuluh Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Penulis dan foto)
Baca Berita

Kegiatan peringatan HKAN 2020 di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kaledupa

Kaledupa, 10 Agustus 2020 - Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) ditetapkan setiap tanggal 10 Agustus berdasarkan keputusan Presiden RI no 22 tahun 2009, merupakan upaya untuk menjaga kesinambungan kegiatan konservasi alam, memasyarakatkannya, dan menjadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup dan budaya bangsa. Dengan mengusung tema Nagara rimba nusa merawat peradaban alam, Balai Taman Nasional Wakatobi bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi dan para stakeholder melaksanakan kegiatan peringatan HKAN 2020 di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kaledupa yang diikuti oleh lebih kurang 60 orang peserta dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan penanganan covid-19. Rangkaian kegiatan Peringatan HKAN Tahun 2020, diawali dengan aksi bersih pantai yang berlokasi di pesisir pantai Desa Ambeua raya. Lebih kurang sebanyak 750 kg sampah dikumpulkan yang di dominasi sampah plastik dan sampah rumah tangga. Kegiatan bersih pantai ini tentunya bertujuan untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat pesisir serta sebagai wujud pendalaman makna peringatan HKAN, sehingga menjadi tambahan spirit dan bekal dalam melakukan upaya konservasi alam. Selain kegiatan bersih pantai, pada peringatan HKAN 2020 ini, juga dilaksanakan penanaman mangrove, sebanyak 1000 bibit mangrove dengan jenis Rhizopora sp. Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan dan mempertahankan hutan mangrove, dan juga diharapkan dapat mengembalikan fungsi dan manfaat hutan mangrove baik secara fisik, ekologis dan ekonomis. Selain dari pihak Taman Nasional Wakatobi, kegiatan penanaman juga dihadiri oleh Bapeda Wakatobi, Camat Kaledupa, Lakina Barata Kahedupa, Kapolsek kaledupa, Danramil Kaledupa, Perangkat Desa Ambeua Raya, Karang Taruna, anggota Kelompok Pecinta Alam serta masyarakat sekitar. Kepalai Balai Taman Nasional Wakatobi, Darman, S.Hut, MSc menyampaikan bahwa dengan adanya kegiatan bersih pantai dan penanaman ini masyarakat diharapkan untuk ikut serta dalam menjaga ekosistem mangrove mengingat fungsi mangrove yang sangat banyak baik secara ekologis maupun ekonomis. Keterlibatan masyarakat untuk melindungi merupakan salah satu kunci kelestarian mangrove di kawasan Taman Nasional Wakatobi khususnya di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kaledupa. Sumber: Balai TN Wakatobi
Baca Berita

Aksi Bersih Sampah dalam Rangka Peringatan HKAN Tahun 2020 di Taman Nasional Wasur

Senin, 10 Agustus 2020 - Peringatan Hari konservasi Alam Nasional (HKAN) 2020 adalah salah satu upaya melakukan kegatan konservasi alam secara berkesinambungn, memasyarakatkannya dan menjadikan sikap hidup dan budaya bangsa. Tema Hari konservasi Alam Nasional Tahun 2020 adalah Nagara Rimba Nusa-Merawat peradaban Menjaga Alam. Sesuai dengan tema hari konservasi untuk menjaga alam maka dilaksanakan kegiatan “Road to HKAN 2020” yang di laksanakan serentak di seluruh Kawasan Konservasi Indonesia. Pada sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya, Msc., pada “ Road to HKAN Tahun 2020” disampaikan bahwa Kegiatan Konservasi yang paling sederhana dapat berupa tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, mengendalikan sampah plastik, dan sebagainya. Kegiatan konservasi yang dilaksanakan tersebut juga merupakan upaya menyusung konsep “ Forest to Healing” demi mendukung kegiatan pariwisata alam pasca Covid 19. Salah satu kegiatan “Road to HKAN” yang dilaksanakan adalah Aksi Bersih di Kawasan Konservasi pada Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke. Kegiatan Aksi bersih sampah di Taman Nasional Wasur diselenggarakan pada hari Senin, 10 Agustus 2020 pada jam 08.30 WIT dan berakhir pada jam 12.00 WIT. Kegiatan Aksi Bersih Sampah di awali dengan Apel bersama dikantor Balai Taman Nasional Wasur yang dipimpin Langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Wasur yakni Bapak Yarman, S.Hut, MP. Kegiatan ini dihadiri oleh segenap pegawai Balai Taman Nasional Wasur serta masyarakat wasur. Aksi Bersih sampah ini dilakukan dengan memungut sampah sepanjang jalan Trans Papua dan berakhir di Bumi Perkemahan dan Kolam Permandian Biras. Sampah yang ditemukan dalam kawasan antara lain berupa plastic kemasan makanan, botol plastik, botol kaca, kaleng, bahkan popok bayi. Sampah-sampah ini ditemukan berserakan dipinggir jalan raya trans papua, dibawah shelter yang terdapat di Permandian Biras serta masih terdapat mengapung di Kolam Permandian Biras. Total keseluruhan sampah yang berhasil dikumpulkan adalah sekitar 500 kg. Selanjutnya keseluruhan sampah tersebut di bawa ke Tempat Pembuangan Akhir untuk diproses lebih lanjut. Banyaknya sampah yang ditemukan kemungkinan disebabkan oleh akses jalan raya yang mudah dijangkau masyarakat sehingga masyarakat dapat dengan mudah membuang sampah dalam kawasan hutan. Penyebab lainnya adalah kawasan Permandian Biras dan Bumi Perkemahan adalah kawasan wisata yang ramai dikunjungi masyarakat setiap harinya. Lokasi wisata biras dan Bumi Perkemahan terletak di pinggiran Jalan Trans Papua yang merupakan jalan penghubung antar kabupaten yang ada di papua dan merupakan lokasi yang bisa digunakan masyarakat sebagai tempat persinggahan. Aksi Bersih sampah ini selain untuk memperingati Hari Konservasi Alam Nasional 2020, dipakai pula sebagai mempererat kerja sama dan kekompakan antar pegawai Balai Taman Nasional Wasur dengan visi untuk menjaga kawasan Taman Nasional Wasur dari sampah dan mengampanyekannya pada pengunjung di Taman Nasional Wasur agar menjadikan konservasi alam sebagai bagian dalam kehidupan kita. Sumber : Balai Taman Nasional Wasur Penulis : Deby Sita Dalnaris, S.Hut. / Calon PEH BTN Wasur Foto dan video : Wahono / Pengolah Data BTN Wasur
Baca Berita

Aksi Bersih Plunyon dan Kalikuning, dalam Rangka Peringatan HKAN 2020

Sleman, 10 Agustus 2020 - Setiap tanggal 10 Agustus tahunnya diperingati sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), dan pertama kali dilaksanakan pada tahun 2009 berdasarkan Keppres No 22 tahun 2009. Perayaan HKAN ini ditujukan sebagai bentuk kampanye terhadap masyarakat akan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraaan masyarakat. HKAN pada tahun ini mengambil tema Nagara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam. Hari ini, tanggal 10 Agustus 2020 seluruh Balai Taman Nasional/ Balai Konservasi Sumber Daya Alam se-Indonesia mengadakan Aksi Bersih Kawasan Konservasi dalam rangka peringatan HKAN, demikian juga dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Aksi bersih kawasan konservasi ini dilaksanakan di Obyek WIsata Alam (OWA) Plunyon dan OWA Kalikuning, wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Magelang – Sleman. Aksi bersih kawasan konservasi ini dihadiri oleh sekitar 60 orang ASN BTNGM serta 20 undangan mitra BTNGM, seperti Masyarakat Mitra Polhut, Masyakarat Peduli Api, Kelompok Wisata Kalikuning Park dan Forum Peduli Lingkungan PALEM. Aksi bersih kawasan konservasi ini dimulai sejak pukul 07.30 hingga pukul 11.30 di kedua OWA tersebut. Aksi bersih ini dilakukan dengan membersihkan kawasan OWA dari sampah anorganik berupa bungkus makanan, botol minuman dan sampah organik. Kemudian melakukan pemeliharaan tanaman yang ditanam tahun 2018/ 2019 yg ada di sekitar OWA Kalikuning. Di sela kegiatan tersebut, rekan-rekan BTNGM juga menghadiri acara puncak peringatan HKAN 2020 yang diselenggarakan di TWA Angke Kapuk, DKI Jakarta, melalui Zoom Meeting. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dalam sambutannya yg dibacakan oleh Ir. Pujiati, kepala Balai TNGM, mengajak kita semua untuk bersama-sama melakukan konservasi alam. Konservasi alam tidak hanya sebatas di kawasan konservasi. Karena itu mari kita mulai dari lingkungan kita masing-masing, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, mengendalikan sampah plastik, menanam dan merawat pohon, dan sebagainya. Mari kita jadikan konservasi alam bagian dari sikap hidup kita sehari-hari agar semangatnya berkembang menjadi budaya bangsa yang dapat kita wariskan kepada generasi penerus kita. Sumber : Titin Septiana - Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Reaktivasi Objek Wisata Alam TN Matalawa

Waingapu, 8 Agustus 2020 - Reaktivasi atau pembukaan kembali objek wisata alam pada kawasan konservasi sudah tertuang sejak akhir Juni pada Surat Keputusan Menteri LHK serta Surat Direktur Jenderal KSDAE yang berisi arahan-arahan dalam melakukan pembukaan. Objek wisata alam di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) pun sebetulnya menjadi salah satu kawasan yang dijadwalkan akan dibuka akhir Juni tersebut, namun, munculnya kasus pertama COVID-19 di Kabupaten Sumba Barat, membuat pembukaannya ditunda. Koordinasi pun dilakukan lebih intens untuk meyakinkan Bupati Sumba Barat bahwa TN Matalawa telah siap menerima kedatangan para wisatawan. Kesiapan yang dilaporkan adalah penyiapan sarana prasarana untuk memenuhi protokol penanganan COVID-19. Setelah tertunda lebih dari 1 bulan, Bupati Sumba Barat mengeluarkan arahan bahwa kawasan objek wisata dapat dibuka setelah dilakukan peninjauan kesiapan penerapan protokol yang dipersyaratkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Akhirnya, pada sabtu, 8 Agustus 2020, Asisten Daerah I yang mewakili Bupati Sumba Barat secara resmi membuka objek wisata alam Air Terjun Lapopu dan Air Terjun Matayangu. Pembukaan ini juga sekaligus disaksikan oleh Kepala BPBD Kabupaten Sumba Barat, Dinas Pariwisata, Kapolsek, Kepala Desa Rewarara, mitra travel agent serta masyarakat sekitar yang selama ini mejadi pemandu wisata. Asisten Daerah menyampaikan pesan kepada seluruh stakeholder yang hadir agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan demi pencegahan penyebaran COVID-19. Pembukaan ini juga patut dijadikan contoh pada bidang kegiatan lain karena telah memenuhi syarat-syarat pelaksanaan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Kepala BPBD selaku Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kab. Sumba Barat juga sebelumnya telah memeriksa segala pemenuhan pelaksanaan protokol kesehatan yang disyaratkan oleh Bupati Sumba Barat. Pembukaan objek wisata alam ini merupakan pembukaan tahap 1 dengan maksimal jumlah pengunjung sebanyak 50 orang per satu satuan waktu. Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Upaya Konservasi Rangkong, Balai Besar TaNa Bentarum Penandatanganan PKS dengan YRJAN

Bogor, 10 Agustus 2020, Bertepatan dengan Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) laksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara (YRJAN) di Kantor Direktorat PJLHK, Direktorat Jenderal KSDAE, di Jl. Juanda 15 Bogor Jawa Barat, yaitu berupa kerja sama Penguatan Fungsi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Melalui Konservasi Rangkong di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Penandatangan PKS dilakukan oleh Bpk Ir. Arief Mahmud, M.Si. selaku PIHAK KESATU mewakili dari dan/atas nama Balai Besar Tana Bentarum dan Bpk Een Irawan Saputra selaku PIHAK KEDUA mewakili dari dan/atas nama YRJAN. Kegiatan Penandatanganan disiarkan live melalui Aplikasi Zoom dan Live di Youtube Balai Besar Tana Bentarum. Pelaksanaan Penandatanganan dipandu oleh Bpk Agus Yulianto selaku Kepala Bagian Tata Usaha (KBTU) Balai Besar Tana Bentarum. Selain Perjanjian Kerja Sama, telah ditandantangani juga dokumen Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) dari Perjanjian Kerja Sama tersebut sebagai dasar pelaksanaan kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan penandatangan PKS tersebut dilakukan bersamaan dengan Kegiatan Webinar “New Record Langur Borneo (Presbytis chrysomelas cruciger) TaNa Bentarum 2020 dengan Sub Tema Urgensi Penetapan Langur Borneo (Presbytis chrysomelas cruciger) di TN. Danau Sentarum sebagai Satwa Dilindungi. Acara ini juga dihadiri oleh para Pembicara dan peserta webinar yg terdiri dari : Bpk. Ir. Wiratno, M.Sc. (Dirjen KSDAE); Bpk. Prof. Dr. Ibnu Maryanto, M.Si. (Pusat Penelitian Biologi LIPI); Bpk. Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph. D. (Kepala RCCC Universitas Indonesia); Bpk. Dr. Nyoto Santoso, M.S. (Ketua Departemen KSHE IPB) Aripin, S.Hut., M.Sc. (PEH Balai Besar Tana Bentarum); Ibu Puswa Kusuma Dewi (Direktur Program TFCA Kalimantan), dan sebayak 350 peserta Webinar yang menyaksikan di aplikasi Zoom. Dalam kesempatan tersebut Dirjen KSDAE, Bapak Ir. Wiratno, M.Sc, memberikan sambutan dan arahan terkait penandatanganan PKS menyampaikan beberapa hal : Apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, baik Balai Besar TaNa Bentarum, YRJAN, TFCA Kalimantan dan lainnya dalam pelaksanaan kegiatan penandatanganan dan Webinar Langur. Dirjen KSDAE menyampaikan bahwa TNBKDS telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer, sehingga diharapkan dapat mempunyai data base riset, dan juga menyiapkan agenda riset prioritas, baik itu bersama dengan LIPI, Rangkong Indonesia atau dengan banyak pihak lainnya, khususnya Universitas (IPB). Dalam pengelolaan Konservasi, kita harus menguasi bidang-bidang secara lebih dalam dan spesifik, demi terwujud pengelolaan konservasi yang berkelas dan bermutu. Ucapan terimakasih disampaikan dan apresiasi kepada YRJAN atas prestasinya yg telah menerima sebuah Award dari Inggris terkait dengan konservasi. “Pertama, Konservasi itu merupakan lintas batas, melewati batas-batas pengetahuan yang terdiri dari banyak disiplin ilmu. Kedua, Konservasi itu adalah Lintas Kepercayaan, yang memilki ragam keyakinan, agama, suku dan budaya yang harus saling bersinegri dan tetap harmonis. Dan ketiga, konservasi itu adalah Lintas Sektor, meliputi banyak berbagai sektor kehidupan, bukan hanya tentang alam tapi juga Ekonomi Sosial Pembangunan dan sebagainya. Dalam mengelola konservasi harus dengan Multi level leadership yang bagus dari mulai tingkat Kabupaten hingga Pusat” jelas Wiratno. Dalam kesempatannya Kepala Balai Besar Tana Bentarum Bpk. Ir. Arief Mahmud, M.Si. memberikan Sambutan yang antara lain menyampaikan rasa homat dan bangga kepada YRJAN karena bersedia dan bisa bekerja sama dalam pengelolaan dan konservasi Rangkong di Indonesia. Dimana hal ini merupakan kerja sama pertama antara UPT yang ada di Ditjen KSDAE dengan Rangkong Indonesia setelah tersusunnya Strategi dan Rencana Aksi Konservasi dari Rangkong di Indonesia. Dalam kesempatan ini, Kepala BBTNBKDS juga menyampaikan bahwa spesies Langur borneo belum banyak dikenal dikalangan masyarakat. Sebelumnya banyak artikel yang dipublikasikan menyatakan bahwa keberadaannya di Sarawak Malaysia, namun banyak penilitian yang telah dilakukan Langur Borneo ada dannjelas ditemukan kehadirnya di Kawasan Konservasi, yaitu di TN BKDS. “Terimakasih atas dukungan ke TFCA Kalimantan, harapannya bisa dilakukan kerja sama yang lebih baik di masa yang akan dating” ungkapnya. Bpk. Een Irawan Saputra selaku Direktur Eksekutif YRJAN dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa YRJAN mengucapkan terimakasih kepada Balai Besar Tana Bentarum dan TFCA Kalimantan yang dikelola oleh Yayasan Kehati atas dukungannya selama ini, sehingga dapat terjalin dan terlaksananya perjanjian kerja sama ini. “Kita akan berkerja sama secara baik dan maksimal demi mewujudkan pelestarian Rangkong di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat” pungkasnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Balai Besar TN Lore Lindu Rayakan HKAN 2020 Bersama Maleo

Palu, 11 Agustus 2020. Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2020 yang mengusung tema: “Nagara Rimba Nusa-Merawat Peradaban Menjaga Alam”, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) melakukan kegiatan Apel Siaga yang dipusatkan di Kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (BPTNW) I Saluki dan diikuti oleh pegawai BBTNLL, mahasiswa Universitas Tadulako dan anggota Kelompok Cakar Maleo. Selanjutnya peringatan HKAN di Taman Nasional Lore Lindu juga dilakukan aksi bersih sampah di lokasi penetasan semi alami burung maleo di Saluki, pembersihan sampah plastik pada halaman Kantor BPTNW I Saluki dan pemungutan sampah plastik di sekitar objek wisata Telaga Tambing. Aksi bersih sampah ini menghasilkan sekitar 20 karung sampah. BBTNLL juga melepasliarkan burung maleo berjumlah 8 ekor anak maleo dari hasil pembiakan demplot maleo ke habitat alaminya di wilayah Saluki yang diharapkan dapat menambah populasi burung maleo di alam. Kepala Balai Besar TN Lore Lindu (Ir. Jusman) saat membacakan Sambutan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan pesan penting bahwa memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (new normal) pasca pandemi Covid-19 ini akan menjadi semangat dalam peringatan HKAN tahun 2020 melalui kegiatan forest for healing di kawasan konservasi (10/8). Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum Ajak Belajar Konservasi Langur Borneo Melalui Webinar

Putussibau, 10 Agustus 2020. Bertepatan dengan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020 dan sebagai langkah untuk mendukung konservasi Langur Borneo (Presbytis chrysomelas ssp. cruciger), Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bekerja sama dengan TFCA Kalimantan adakan kegiatan Webinar : “New Record Langur di Indonesia” dan “Urgensi Penetapan Langur Borneo Sebagai Satwa Dilindungi” yang diikuti oleh 350 peserta di zoom meeting room dan sebanyak 45 orang yang menyaksikan melalui live youtube Balai Besar Tana Bentarum. Kepala Balai Besar Tana Bentarum, Ir. Arief Mahmud, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa Webinar Langur Borneo ini merupakan salah satu langkah awal dalam upaya mendorong konservasi jenis primata endemik Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan sebagai strategi berkelanjutan konservasi Langur Borneo. Kegiatan Webinar ini dibuka langsung oleh Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc. “Saya berharap agar webinar ini dapat menarik para peneliti untuk melakukan penelitian tentang Langur Borneo sehingga dapat memperkaya data dan informasi terkait Langur Borneo, dengan demikian, penetapan Langur Borneo sebagai satwa yang dilindungi dapat segera terwujud”, ungkapnya. Webinar ini dimoderatori oleh Ibu Puspa Dewi Liman yang menghadirkan beberapa narasumber baik dari akademisi maupun peneliti LIPI. Profesor Jatna Supriatna menyampaikan paparan mengenai “hambatan dan tantangan dalam konservasi Langur Borneo di kawasan TNDS”. Dia menjelaskan adanya banyak problem dalam konservasi Langur Borneo diantaranya konversi hutan untuk pertanian, perburuan, perdagangan satwa, kebakaran hutan, pembangunan infrastruktur, pertambangan minyak, dan batu bara. Sementara itu, Dr. Nyoto Santoso yang merupakan Ketua Departemen KSDHE Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB menyampaikan materi tentang “Bioekologi Langur Borneo”. Dalam paparannya, Beliau menjelaskan bahwa data bioekologi Langur Borneo masih sangat sedikit, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sampling penelitian yang lebih beragam. “ Terdapat 5 lokasi sasaran studi Langur Borneo di dalam maupun di luar kawasan TNDS yakni Bukit Semujan, Koridor Sepandan, Badau, Lupak Luar, dan Tengkidap,” jelas Beliau. Pada kesempatan yang sama, Profesor Ibnu Maryanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menjelaskan tentang “Kriteria jenis hayati yang dilindungi di Indoneisa”. Beliau memaparkan bahwa untuk menentukan apakah satwa itu dilindungi atau tidak, terdapat 17 (tujuh belas) kriteria sebagai batasan yang perlu diperhatikan. Sementara itu untuk Langur Borneo perlu penelitian lebih lanjut, data yang cukup, dan publikasi ilmiah yang berseries agar status perlindungannya dapat ditentukan. Dari internal Balai Besar Tana Bentarum presentasi disampaikan oleh Fungsional PEH yakni Aripin, S.Hut., M.Sc. Dalam paparannya, Aripin menjelaskan bahwa sejak tahun 2012 sampai dengan 2019 paling tidak telah ditemukan perjumpaan Langur Borneo sebanyak 174 individu dimana 138 individu ditemukan di kawasan TNDS. Salah satu habitatnya adalah di Bukit Semujan yang memiliki luas 937,17 Ha dengan tipe ekosistemnya merupakan hutan kerangas dan hutan sekunder. Selain itu, terdapat 20 jenis pohon pakan Langur Borneo yang berhasil didata pada saat kegiatan survey habitat dan populasi Langur Borneo pada tahun 2019. Webinar ini ditutup dengan sebuah komitmen bersama mendorong dilakukannya penelitian yang menyeluruh dan berkelanjutan tentang Langur Borneo sehingga dapat mendukung penentuan status konservasinya. Selain itu, diharapkan adanya rencana aksi menjadikan Langur Borneo (Presbytis chrysomelas ssp. cruciger) menjadi spesies umbrella di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Identifikasi Struktural Populasi Pohon Tongke Hutan di SM Bukit Rimbang Bukit Baling

Pekanbaru, 10 Agustus 2020 – Mahasiswa Institut Teknologi Bandung melakukan penelitian berjudul “"Identifikasi struktur populasi pohon Tongke hutan (Acacia mangium) di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling" yang didampingi oleh Petugas Resort Bukit Rimbang, Balai Besar KSDA Riau pada hari Rabu (5/8) s.d. Jumat (7/8). Pohon Tongke Hutan merupakan jenis tanaman yang dikembangkan pada Hutan Tanaman Industri yang kemudian diolah menjadi pulp ataupun kertas sejak tahun 1990an. Pohon Tongke Hutan termasuk jenis tanaman invasif yang dapat memberi ancaman pada tumbuhan lokal lainnya yang disebabkan kemampuan tumbuh dan penyebarannya yang cepat. Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan salah satu kawasan konservasi yang berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Tanaman industri yang memiliki tanaman Acacia mangium. Hal ini dapat memberikan ancaman pada keberlangsungan hidup tumbuhan lokal di dalam kawasan yang juga bermanfaat sebagai sumber pakan berbagai satwa liar di SM Bukit Rimbang Bukit Baling. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pendataan terhadap struktur populasi tanaman Tongke Hutan (Acacia mangium) di kawasan konservasi sebagai upaya menghindari tingkat invasif tanaman tersebut. Tim mengambil sampel plot di batas dan di dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling di Pematang Panjang Desa Sei Paku, Kec Singingi Hilir, Kab. Kuansing. Tim melakukan pengeplotan di areal sebaran tumbuhan Tongke Hutan dan pengukuran diameter batang pohon yang terbesar dan terkecil di tempat plot identifikasi guna untuk mengetahui usia pohon akasia tersebut serta melakukan pengambilan beberapa sampel tanah dan bunga dari pohon yang berada di dalam plot tersebut untuk diidentifikasi lebih lanjut kondisi tanah dan perkembangannya. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Aksi Road Show Balai TN Ujung Kulon dalam Merayakan HKAN 2020

Senin, 10 Agustus 2020 - Dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2020, Balai Taman Nasional Ujung Kulon melaksanakan Aksi Bersih Sampah Kawasan Konservasi, Road Show HKAN sesuai dengan surat arahan Dirjen KSDAE melalui surat No.S.659/KSDAE/PJLHK/KSA-5/7/2020 tanggal 30 Juli 2020. Aksi Road Show dilakukan bersama masyarakat di sekitar TNUK, Dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan daam rangka pencegahan penularan Covid-19, Aksi Bersih Sampah ini dilakukan serentak di Taman Nasional Ujung Kulon, mulai dari Kantor Balai di Labuan, SPTN Wilayah I Pulau Panaitan, SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum dan SPTN Wilayah III Sumur. Semoga dengan kegiatan ini diharapkan menjadi terbiasanya kita semua untuk membuang sampah pada tempatnya dan senantiasa hidup bersih untuk hidup sehat selamanya. Sumber: Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Aksi TN Kutai dalam peringatan HKAN Tahun 2020

Senin, 10 Agustus 2020 - Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2020, diperingati oleh segenap keluarga besar Balai Taman Nasional Kutai. Hari penting bagi dunia konservasi ini yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, tahun ini digelar dengan tema: "Negara Rimba Nusa, merawat peradaban menjaga alam". Peringatan HKAN tahun 2020 bertempat di wisata alam Bontang Mangrove Park. Event ini diselenggarakan dengan melibatkan lebih dari 100 personil yang terdiri dari para pemerhati lingkungan, kader konservasi, saka wanabakti, laskar taman nasional kutai, kelompok tani lestari indah, masyarakat sekitar BMP, dan keluarga besar TN Kutai. Rangkaian kegiatan diawali dengan apel bersama di welcome area BMP, dan dilanjutkan virtual Aksi Bersih Sampah di Kawasan Konservasi dalam rangka Peringatan Hari Konservasi Alam Tahun 2020 dan ditutup dengan aksi penanaman mangrove. Aksi bersih sampah dilakukan di seluruh welcome area BMP, boardwalk (mangrove trekking), dan daerah sekitar BMP. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Desa Jinato Rayakan Hari Konservasi Alam Nasional Ditengah Pandemi

Desa Jinato - Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, 10 Agustus 2020. 10 Agustus merupakan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merayakan di daerah masing-masing dengan berbagai kegiatan bakti lingkungan. Seperti Aksi Bersih Kawasan Konservasi (bersih pantai) dan Penanaman Pohon bersama Pemerintah Desa Jinato, Karang Taruna, dan Komunitas Pemuda Konservasi (KPK) Jinato yang dilaksanakan di Seksi Pengelolaaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 2 Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Peringatan HKAN 2020 kali ini juga dirangkaikan dengan pembukaan lomba perayaan HUT RI ke 75. Kepala Desa Andi Sulistilawanti hadir beserta perangkat desa, Ka.SPTN Wilayah 2 Jinato Aisyah Amnur dan seluruh personil SPTN Wilayah 2, Babinsa Irfan, Ketua BPD Jinato Samad, Ketua Karang Taruna Jinato Ruspin dan para Pengajar SMP dan SD. Peringatan HKAN dan HUT RI tahun ini merupakan inisiasi dari Komunitas Pemuda desa. "Kami ucapkan selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020 dan Anak-anak ku selamat berlomba, dan tentunya tetap mengikuti protokol kesehatan Covid19," Ucap Andi Sulistilawanti Kepala Desa Jinato di temui usai acara pembukaan. Semua giat ini tetap mengikuti protokol kesehatan covid 19 dengan menjaga jarak dan memakai masker. "Kami ucapkan banyak terima kasih kepada komunitas pemuda, yaitu Komunitas Peduli Konservasi (KPK) Jinato yang sudah menginisiasi kegiatan ini," ujar Kepala SPTN Wilayah 2 Jinato, Aisyah Amnur. Selain bersih pantai juga dilaksanakan penanaman pohon cemara laut bersama aparat desa Jinato, babinsa, Karang Taruna serta siswa dan pengajar. "Lokasi bersih pantai berada di sepanjang pantai barat pulau Jinato dan ini dilombakan buat adik-adik Sekolah Dasar," jelas Akbar ketua Komunitas Peduli Konservasi (KPK) Jinato. Yang mengumpulkan banyak sampah plastik akan menjadi juara satu dan berhak mendapatkan hadiah dari panitia. Sampai diakhir giat, panitia berhasil mengumpulkan sampah plastik sebanyak 203 Kg dengan waktu hanya 2 jam saja. Berharap kegiatan ini merupakan kegiatan bersama sehingga menjadi agenda tetap di desa dan komunitas tahun berikutnya. Sumber : Asri - PEH Seksi Pengelolaaan Taman Nasional Wilayah 2 Jinato, Balai Taman Nasional Taka Bonerate (Foto & Teks)
Baca Berita

Pembahasan Proposal Dana Konservasi Desa Bagi LPKD Sekitar Taman Nasional Lore Lindu

Palu, 4 Austus 2020 - Pembangunan yang berkelanjutan memerlukan pola pengelolaan kawasan yang mampu memadukan kepentingan ekonomi dan konservasi, serta perlu mengakomodasi peran dan aspirasi masyarakat lokal. Mengingat hal tersebut pengembangan penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar dan di dalam Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dirasa perlu selaras dengan tujuan Taman Nasional Lore Lindu. Keberadaan sumber daya alam memiliki arti penting bagi penghidupan masyarakat yang hidup di sekitar dan di dalam lansekap Taman Nasional Lore Lindu. Di Taman Nasional Lore Lindu terdapat kegiatan Forest Programme III (FP III) Sulawesi. FP III Sulawesi telah menetapkan lokasi kegiatan di 40 Desa berbatasan langsung dengan TNLL, yang tersebar pada 8 Kecamatan pada 2 (dua) Kabupaten (Sigi dan Poso) sebagai wilayah sasaran. Dalam rangka pengembangan penghidupan masyarakat yang berkelanjutan di lokasi program, FP III telah dan akan menjalin kemitraan dengan masyarakat di sekitar TNLL yang menjadi wilayah sasaran kerja FP III. Guna mendukung keberhasilan kegiatan kemitraan tersebut FP III bermaksud memberikan dukungan kepada kemitraan tersebut melalui program Dana Konservasi Desa (Village Conservation Development Fund). Penyaluran Dana Konservasi Desa ini berupa bantuan langsung melalui Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Sulawesi dalam arti dana akan disalurkan langsung kepada kelompok masyarakat yang memenuhi persyaratan guna mendorong kemandirian kelompok serta keberlanjutan dari kegiatan yang didukung. Beberapa waktu lalu telah dilaksanakan Village Meeting pembahasan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan pendampingan penyusunan proposal bantuan penyaluran dana konservasi desa Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD) di Cluster Palolo, Napu, Lindu dan Bada (21/7). Kegiatan ini digawangi oleh FP III Sulawesi, BPSKL dan BBTNLL yang membahas rincian kegiatan-kegiatan dan pengalokasian anggaran yang akan dilaksanakan oleh LPKD-LPKD selama tahun 2020-2021 dalam bentuk rencana kerja. Kegiatan penyaluran dana konservasi desa ini diharapkan dapat meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat dalam upaya melestarikan sumber daya di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu demi kesejahteraan masyarakat melalui program KKM (Kesepakatan Konservasi Masyarakat) yang tertuang dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah disepakati bersama antara masyarakat dan BBTNLL. Sumber : Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Halmahera Tengah menyelenggarakan Pelatihan Pemandu Wisata Geopark.

Senin, 10 Agustus 2020 - Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata T. Heri Wibowo hadir sebagai pemateri dihari kedua Pelatihan Pemandu Wisata Geopark tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Halmahera Tengah. Weda, (08/08/2020). Pengelolaan Wisata Taman Nasional Aketajawe Lolobata "Peluangnya sebagai Geopark" adalah judul materi yang disampaikan oleh T. Heri Wibowo pada pelatihan tersebut. Dalam materinya, Heri menyampaikan potensi Keaneragaman hayati, potensi ekowisata dan budaya kehidupan suku Tobelo dalam yang berada di dalam kawasan TNAL. "Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata siap berkolaborasi dan bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah untuk mendorong serta mewujudkan Gua Bokimaruru menjadi Geopark". Ujar lelaki yang pernah bertugas di Papua ini. Heri juga menambahkan, "tidak menutup kemungkinan TN Aketajawe Lolobata khususnya kelompok hutan Aketajawe yang berada di kabupaten Halmahera Tengah juga akan ikut diusulkan menjadi Taman Bumi (Geopark). Mengingat, kawasan tersebut juga memiliki potensi Geodeversity seperti bentangan alam Karst, Sungai bawah tanah, kehidupan masyarakat suku Tobelo dalam dan masih banyak potensi wisata lainnya yang layak untuk dusulkan sebagai Geopark. Kata Heri. Peserta yang hadir dalam pelatihan Pemanduan wisata geopark berjumlah 40 orang, yang terdiri dari perwakilan komunitas dan pelaku pariwisata yang berada di Kabupaten Halmahera Tengah. Selain kepala Balai, hadir juga Jumrin Said, selaku Kepala Seksi Pengelolaan TN. Aketajawe Lolobata wilayah I Weda yang juga ikut memberikan materi tentang Interpretasi Wisata Alam di TN. Aketajawe Lolobata. Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dispbudpar)0 Kabupaten Halmahera Tengah, Husain Ali. Dalam sambutannya, beliau berharap, kegiatan ini dapat menghasilkan pemadu-pemadu wisata yang profesional khususnya wisata minat khusus di Kabupaten Halmahera Tengah. "Hentikan diskusi dan perdebatan yang tak berfaedah. Apa lagi sampai menimbulkan polemik dan perbuatan yang merugikan banyak orang. Sudah saatnya komunitas yang berada di Kabupaten Halmahera Tengah untuk bersatu dan berkolaborasi bersama pemerintah untuk membangun Halmahera Tengah lebih maju kedepan". Harap Husain. Kegiatan pelatihan berlangsung selama tiga hari. Materi Khusus tentang Pemandu wisata minat khusus (Geopark) dibawakan oleh M. Sofyan Ansar, ketua umum Generasi Pesona Indonesia Maluku Utara. Materi yang disampaikan Opan adalah dasar-dasar tentang pemanduan. Mulai dari peran dan tanggung jawab sampai dengan kode etik seorang pemandu wisata serta teknik interpretasi saat tour edukasi di destinasi geowisata. "Dalam menjalankan tugas, seorang Pemandu wisata harus mampu menguasai diri, senang, segar, rapi, bersih serta berpenampilan yang simpatik. Seorang Pemandu wisata, harus mampu menjelaskan dan memberikan informasi yang lengkap tentang objek wisata yang sedang dikunjungi oleh wisatawan dan juga melindungi serta memberi jaminan keselamatan dan kenyamanan pada wisatawan". jelas Opan dalam materinaya. Ketua Pengda Ikatan Ahli Geologi Indonesia Maluku Utara. Deddy Arief, hadir sebagai pemateri dalam pelatihan Pemandu wisata geopark. "Potensi Wisata Karst Bokimaruru menuju Geopark" adalah materi terahir yang dinanti-nantikan oleh para peserta pelatihan. Isi dari materi ini merupakan penjelasan teknis dan ilmiah tentang potensi Geowisata yang berada di gua Bokimaruru. Dalam penjelasannya, Deddy menjelaskan tentang proses terbentunknya batuan karst di Bokimaruru sampai dengan sebaran batuan karst di Kabupaten Halmahera Tengah. "Selain di Bokimaruru, sebaran batuan karst terbesar di Kabupaten Halmahera Tengah juga terdapat di wilayah Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Ini dibuktikan dengan adanya temuan-temuan gua terbanyak di Maluku Utara adalah di TNAL. Terang Deddy. Deddy juga menyampaikan, tentang pentingnya seorang guide Geowisata untuk menguasai lingkungan sekitar destinasi yang berada di wilayahnya. "Pemandu Geowisata, wajib mengupdate tentang ilmu geologi dan bisa menjelaskan secara utuh kepada wisatan tentang jenis batuan, struktur dan proses terjadinya bentangan alam karst dan unsur-unsur pembentuknya serta manfaatnya kepada masyarakat sekitar". Kata Dosen Geologi ini. Deddy juga menyinggung tentang potensi keaneragaman hayati yang terdapat di dalam kawasan TN. Aketajawe Lolobata, yang kalau di delenasaikan menjadi satu kawasan yang utuh dengan geosite Bokimaruru. Maka, ini adalah suatu hal yang sangat luar biasa apabila diusulkan menjadi kawasan Geopark di kabupaten Halmahera Tengah. Di hari ketiga sekaligus hari terahir pelatihan. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek lapangan. Oleh panitia, Semua peserta diajak mengunjungi beberapa Geosite yang berada di Kabupaten Halmahera Tengah. Dalam praktek lapangan, peserta dibagi mejadi 4 kelompok yang ditugaskan menjadi pemandu geowisata dan bisa menjelaskan semua informasi yang berada disetiap titik Geosite yang akan dikunjungi sesuai dengan materi yang telah disampaikan oleh para pemateri. Geosite Gua Bokimoruru yang terletak di Desa Sagea, menjadi titik terahir kunjungan. Di Gua Bokimaruru, semua peserta terlihat santai dan sangat menikmati keindahan alam yang sangat memanjakan mata itu. Banyak hal bisa dilakukan di destinasi ini. Mulai dari, mandi di air sungai yang begitu jernih, bermain tubing, berkano, susur gua dan berkemah. Selain peserta pelatihan, terdapat juga wisatawan lain yang sedang berwisata di Geosite ini. Nampak ramai dengan berbagai aktifitas di destinasi yang saat sedang diusulkan menjadi satu-satunya Taman Bumi (Geopark) di Pulau Halmahera, Maluku Utara. "Bokimaruru akan menghipnotis kalian yang berkunjung kesini. Semua beban yang ada dipikiran pasti hilang seketika setelah melihat keindahan bentangan alam yang sangat menakjubkan. Kata salah satu pengunjung yang berasal dari Ternate. Kegiatan pelatihan diahiri dengan dideklarasikan Himpunan Paramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Halmahera Tengah oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Halmahera Tengah dan disaksikan oleh Ketua umum Pengurus Daerah HPI Provinsi Maluku Utara, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata beserta panitia pelaksana. Sumber: Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Gaung “Nagara Rimba Nusa” di TWA Angke Kapuk

Jakarta, 10 Agustus 2020. Tema peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020 yaitu “Nagara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam”. Road to HKAN tahun ini, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar “Aksi Bersih Kawasan Konservasi dan penanaman pohon di TWA Angke Kapuk”. Pak Wakil Menteri LHK Dr. Alue Dohong memimpin aksi bersih bersama jajaran KLHK dan Pemprov DKI Jakarta serta sekitar 226 peserta. “Nagara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam” menggambarkan bahwa semangat konservasi alam di era peradaban maju menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk generasi masa kini ketika kemajuan teknologi, pola hidup, berpikir terbuka, terbatasnya waktu, dan tuntutan kualitas hidup semakin meningkat dan menjadi suatu kebanggaan dan kebutuhan untuk melaksanakannya. Kawasan konservasi dengan pariwisata alamnya menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia untuk dapat pulih pasca COVID-19 dalam tatanan baru (new normal). Konservasi alam tidak hanya sebatas di kawasan konservasi tapi dimulai dari lingkungan kita masing-masing melalui hal-hal yang paling sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan sungai, mengendalikan sampah plastik, menanam pohon, dan lain sebagainya. Mari kita jadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup kita sehari-hari agar selanjutnya berkembang menjadi budaya bangsa yang dapat kita wariskan kepada generasi-generasi penerus kita. Sumber : Direktorat Jenderal KSDAE
Baca Berita

Aksi Bersih Sampah di TWA Teluk Youtefa dalam Rangka Road to HKAN 2020

Senin, 10 Agustus 2020 - Balai Besar KSDA Papua melakukan aksi bersih sampah di kawasan konservasi, tepatnya di Pantai Cyberi pada kawasan TWA Teluk Youtefa. Kegiatan ini digelar dalam rangka Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2020. Perayaan HKAN setiap tahunnya dirayakan pada tanggal 10 Agustus namun tahun 2020 ini, Puncak Acara ditunda pelaksanaanya karena adanya Pandemi Covid-19. Aksi bersih sampah di kawasan TWA Teluk Youtefa dimulai pada pukul 10.00 WIT, melibatkan sekitar 100 orang. Di antara pihak-pihak yang terlibat adalah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, BPDASHL Mamberamo, BPHP Wilayah XV Jayapura, BPKH Wilayah X Jayapura, BPPHLHK Maluku Papua Seksi Wilayah III Jayapura, Dinas Lingkungan Hidup Kota jayapura, Lantamal X Jayapura, Polsek dan Koramil Jayapura Selatan, Pemerintah Distrik Jayapura Selatan, Pemerintah Kampung Enggros, Tobati, dan Nafri, juga ondoafi, berbagai instansi dan komunitas yang memiliki visi misi menjaga lingkungan. Dari penimbangan yang ditangani oleh Bank Sampah Jayapura, aksi bersih sampah di TWA Teluk Youtefa berhasil mengumpulkan 87 kg sampah plastik, 300 kg sampah botol kaca, dan 361 kg sampah campuran. Total sampah yang terkumpul sebanyak 748 kg. Pihak Bank Sampah Jayapura menyampaikan bahwa aksi bersih sampah ini sangat bagus. Mereka menyampaikan, dalam kebijakan dan strategi pengelolaan sampah daerah ada program pengurangan 30% dan penanganan 70%. Aksi bersih sampah di kawasan konservasi ini termasuk melakukan pengurangan dan penanganan sekaligus. Sampah plastik yang masih bisa didaur ulang dikategorikan ke dalam pengurangan. Sementara sampah yang tidak dapat didaur ulang dan akan dibuang ke TPA merupakan proses penanganan. Pihak Bank Sampah Jayapura mengharapkan kegiatan semacam ini dapat dilakukan secara rutin. Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa aksi bersih sampah ini lebih mengarah ke proses edukasi kepada masyarakat. Dengan melihat aksi secara langsung, ia mengharapkan akan muncul kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. “Banyak pihak yang berkontribusi atas menumpuknya sampah di kawasan TWA Teluk Youtefa. Sampah di sini bukan hanya dari masyarakat sekitar, tetapi warga di sekitar sungai-sungai yang bermuara di Teluk Youtefa juga menyumbangkan sampah ke sini. Saya berharap aksi bersih sampah seperti ini dapat menjadi suatu pelajaran untuk masyarakat, bahwa alam atau lingkungan wajib kita jaga,” ungkap Edward. Selanjutnya Edward mengatakan, betapa pentingnya memulihkan kehidupan dan peradaban manusia yang harmoni dengan alam dalam rangka menyongsong era baru (New Normal) paska pandemi Covid-19. Hal ini menjadi semangat dalam peringatan HKAN Tahun 2020. Perayaan HKAN menjadi momentum keteladanan dan aksi nyata memasyarakatkan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia, khususnya di Papua. Tema HKAN Tahun 2020 adalah “Nagara Rimba Nusa - Merawat Peradaban Menjaga Alam” menggambarkan bahwa semangat konservasi alam era peradaban maju menjadi tanggung jawab semua pihak. Generasi muda milenial pun tidak dapat lepas dari tanggung jawab menjaga alam ketika kemajuan teknologi, pola hidup, berfikir terbuka, terbatasnya waktu, dan tuntutan kualitas hidup semakin meningkat. Perilaku menjaga alam adalah suatu kebanggaan bersama, sekaligus kebutuhan untuk melaksanakannya. Aksi bersih sampah dilaksanakan secara serentak di seluruh kawasan konservasi di Indonesia. Acara dilaksanakan dengan tetap memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19, antara lain, menggunakan masker, menggunakan sarung tangan, pembatasan jumlah peserta, dan menjaga jarak antarpeserta. Sekitar pukul 11.10-12.00 WIT berlangsung virtual conference dengan Bapak Wakil Menteri LHK dan Direktur Jenderal KSDAE yang hadir di TWA Angke Kapuk, Jakarta, bersama seluruh UPT KSDA se-Indonesia. Aksi bersih sampah di TWA Teluk Youtefa merupakan satu dari sekian rangkaian kegiatan yang dicanangkan dalam peringatan HKAN 2020. Sebelumnya, BBKSDA Papua juga telah melakukan kegiatan pelepasliaran 31 satwa di SKW II Timika. Satwa terdiri dari 23 ekor nuri kepala hitam (Lorius lory), dua ekor kakatua koki (Cacatua galerita), dua ekor perkici pelangi (Tricoglossus haematodus), tiga ekor nuri kelas (Pseudeus fuscata), dan satu ekor ular patola (Morelia amethistina). Adapun puncak HKAN 2020 akan digelar pada November 2020 mendatang di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. (djr) Sumber: Balai Besar KSDA Papua

Menampilkan 3.249–3.264 dari 11.141 publikasi